Karya: Gutamining Saida
Jumat sore kembali menjadi waktu yang saya tunggu. Bukan untuk mengejar sesuatu yang besar, bukan pula untuk mencari kesempurnaan. Saya ingin berikhtiar menjaga kesehatan dengan cara sederhana datang ke kolam, bergerak bersama, belajar berenang, dan menikmati kebersamaan.
Kolam renang bukan sekadar tempat untuk bermain air. Ada ikhtiar di dalamnya, keberanian untuk melawan rasa takut, kemauan untuk belajar, dan yang tidak kalah penting, ada kebahagiaan yang tumbuh karena bertemu dengan teman-teman seperjuangan.
Ibu-ibu yang datang lumayan banyak. Suasana kolam pun terasa lebih ramai. Suara air bercampur dengan suara tawa dan sapaan. Belum mulai latihan saja, suasana sudah terasa menyenangkan. Setelah kami berkumpul, Pak Gun menyapa dan mulai memantau kami satu per satu. Beliau kemudian memandu berbagai gerakan yang harus kami lakukan. Sebelum meminta kami mempraktikkan gerakan, Pak Gun selalu memberikan contoh terlebih dahulu.
“Bu ibu, ayo lihat diriku dulu ya,” kata Pak Gun.
Kami harus melihat contoh gerakannya agar tidak salah ketika mempraktikkannya. Namanya juga ibu-ibu. Kadang saking semangatnya, belum selesai Pak Gun memperagakan gerakan, beberapa sudah mulai bergerak sendiri. Ada yang mungkin merasa sudah paham. Ada pula yang terlalu bersemangat sehingga tubuh lebih cepat bereaksi daripada telinga menerima instruksi. Baru saja Pak Gun bersiap memperagakan gerakan, beberapa ibu sudah mulai melakukan gerakan.
“Lho... lho... lihat dulu diriku!” seru Pak Gun sambil tersenyum.
Seketika suasana pecah oleh tawa. Kami saling melihat. Ibu yang ketahuan bergerak lebih dahulu langsung menjadi sasaran candaan teman-temannya. Lucunya, ibu yang ditertawakan tidak merasa tersinggung. Ia justru ikut tertawa bersama. Itulah yang membuat suasana di kolam terasa berbeda.
Di sini tidak ada istilah sakit hati karena ditertawakan. Tidak ada marah karena menjadi bahan candaan. Semua terjadi dalam suasana akrab. Tawa menjadi perekat kebersamaan. Kami seperti belajar satu hal penting tertawa bersama jauh lebih menyenangkan daripada menertawakan seseorang.
Setelah suasana kembali tenang, Pak Gun mulai memberikan contoh gerakan berikutnya. Kali ini gaya terlentang. Tubuh berada di permukaan air. Kepala diletakkan di atas air seolah-olah sedang menggunakan bantal. Tangan diluruskan, sementara kaki digerakkan untuk membantu tubuh meluncur. Punggung dibuat sedikit ndegek (istilah yang sering kami gunakan dalam bahasa Jawa).
Saya pun memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Namun masih ada satu hal yang membuat saya penasaran.
“Pak, kaki agar tidak tenggelam bagaimana caranya?” tanya saya.
Pak Gun menjawab dengan sederhana, “Kaki diluruskan, jangan tegak ke atas.”
Kadang dalam belajar sesuatu, kita tidak membutuhkan teori yang rumit. Kita hanya membutuhkan satu penjelasan sederhana yang tepat, kemudian berani mencoba. Setelah memberikan penjelasan, Pak Gun kembali mengajak kami mempraktikkannya.
“Ayo, sekarang ibu-ibu mencoba teori yang sudah saya berikan dan meniru praktik gerakan saya.”
Kami pun bersiap. Pak Gun berada di sisi kanan. Dengan telunjuknya ia menunjuk ibu-ibu yang mendapat giliran. Peluit pun terdengar.
Priiit!
Satu per satu mulai bergerak. Ada yang langsung meluncur dengan percaya diri. Ada yang masih ragu-ragu. Ada yang berusaha menjaga keseimbangan tubuh. Ada pula yang mungkin dalam hati sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri, “Bisa tidak ya?” Tetapi semua mencoba. Itulah bagian yang paling berharga.
Ketika gerakan belum sempurna, tidak ada wajah murung. Tidak ada rasa malu yang berlebihan. Sebaliknya, selalu ada tawa yang membuat suasana menjadi ringan. Saya semakin memahami bila proses belajar tidak harus selalu serius dan menegangkan. Belajar bisa dilakukan dengan senyum, tawa, dan kebersamaan.
Begitu pula dengan menjaga kesehatan. Tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang mahal. Tidak selalu harus menggunakan cara yang rumit. Kadang cukup dengan menyediakan waktu, menggerakkan tubuh, belajar dari orang yang lebih paham, lalu menjalaninya dengan hati yang bahagia.
Di kolam saya menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar latihan berenang, keberanian untuk mencoba, kerendahan hati untuk menerima arahan, dan kebahagiaan karena memiliki teman-teman yang bisa tertawa bersama. Pak Gun mungkin hanya melihat kami sebagai ibu-ibu yang sedang belajar berbagai gaya berenang. Bagi saya, setiap gerakan memiliki cerita. Semoga setiap langkah kecil dalam ikhtiar menjaga kesehatan menjadi jalan menuju tubuh yang lebih kuat, hati yang lebih bahagia, dan kehidupan yang lebih penuh syukur. Aamiin
Cepu, 11 September 2026





