Senin, 07 September 2026

Refresing Tipis-tipis

 


Karya: Gutamining Saida

Senin, 31 Agustus 2026, seharusnya menjadi hari biasa seperti hari-hari lainnya. Ternyata  hari  Senin kali ini  memiliki cara sendiri untuk menghadirkan cerita. Kami mendapat undangan makan siang di Warung Makan Jendil, milik Pak Pin, yang terkenal dengan menu iwak gawan. Undangan makan siang tentu menyenangkan. Kami menemukan satu keseruan lain yang justru menjadi pembuka cerita hari itu.

Kami melihat sebuah perahu yang siap membawa siapa saja menyusuri aliran Bengawan Solo. Tanpa banyak berpikir, kami berempat sepakat memanfaatkan kesempatan tersebut. Kapan lagi bisa menikmati Bengawan Solo dari atas perahu dengan suasana yang masih begitu alami?

Perahu itu terlihat sederhana. Tidak ada kemewahan, tidak ada fasilitas yang berlebihan. Kesederhanaan itulah yang membuatnya menarik. Perahu akan berangkat setelah ada penumpang. Berapa pun jumlahnya, tetap siap mengantar siapa saja yang ingin menikmati perjalanan menyusuri air bengawan Solo.

Kami pun naik. Perahu mulai bergerak perlahan meninggalkan tepian. Suara mesin terdengar menemani perjalanan. Air Bengawan Solo terbelah oleh laju perahu, menciptakan riak-riak kecil yang bergerak ke belakang. Perlahan suasana di daratan terasa menjauh.

Ada sensasi berbeda ketika melihat alam dari atas air. Jika selama ini kita hanya melihat Bengawan Solo dari pinggir. Kami bisa merasakan bagaimana rasanya berada di tengah alirannya. Pemandangan yang selama ini mungkin luput dari perhatian tiba-tiba menjadi begitu menarik.

Pepohonan tumbuh menghijau di tepian. Beberapa bagian masih terlihat alami, seolah belum banyak tersentuh tangan manusia. Hamparan alam itu menghadirkan kesejukan tersendiri. Tidak ada hiruk-pikuk kendaraan. Tidak ada suara bising perkotaan yang mendominasi. Yang ada hanyalah aliran air, hembusan angin, pepohonan, dan suara kami berempat yang sesekali pecah oleh tawa.

Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kamera dan ponsel mulai diarahkan ke berbagai sudut. Ada yang berfoto sendiri, berfoto berdua, kemudian tentu saja foto bersama. Bukan karena kami ingin terlihat hebat, tetapi karena kami ingin mengabadikan sebuah kebersamaan sederhana yang suatu hari nanti mungkin akan sangat dirindukan.

Bukankah kenangan sering kali lahir dari hal-hal sederhana? Bukan dari perjalanan mahal. Bukan dari tempat mewah. Bukan pula dari sesuatu yang harus direncanakan berbulan-bulan. Terkadang kebahagiaan justru muncul ketika kita mau berhenti sejenak dari rutinitas, melihat sekeliling, kemudian berkata, “Mengapa tidak kita coba?”

Perjalanan dengan perahu itu menjadi pengingat bagi kami  menikmati hidup tidak harus selalu mahal. Dengan ongkos yang sangat ramah di kantong, cukup Rp10.000 per orang, kami sudah bisa mendapatkan pengalaman yang mungkin nilainya jauh lebih besar daripada uang yang kami keluarkan.

Sepuluh ribu rupiah berubah menjadi perjalanan. Perjalanan berubah menjadi pemandangan. Pemandangan berubah menjadi cerita. Cerita berubah menjadi kenangan. Itulah yang membuat sebuah pengalaman terasa mahal, meskipun harganya murah.

Semakin jauh perahu bergerak, semakin kami menikmati suasananya. Angin yang menerpa wajah seperti membawa pergi sejenak kepenatan yang selama ini menumpuk. Rasanya seperti diberi kesempatan untuk menarik napas lebih panjang.

Kami akhirnya kembali menuju tepian. Perahu perlahan merapat. Perjalanan selesai, tetapi cerita belum berakhir. Setelah turun dari perahu, kami melanjutkan perjalanan menuju Warung Makan Jendil Pak Pin untuk memenuhi undangan makan siang.

Ikan gawan sudah menunggu. Sebelum menikmati hidangan, kami sudah mendapatkan “menu pembuka” yang tidak kalah istimewa yaitu kebersamaan dan pemandangan Bengawan Solo dari atas perahu.

Saya semakin percaya, hidup ini bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi atau seberapa mahal tempat yang kita kunjungi. Hidup adalah tentang bagaimana kita mampu menemukan makna dari setiap perjalanan. Perahu sederhana itu mengajarkan satu hal penting "jangan terlalu sibuk mengejar tujuan sampai lupa menikmati perjalanan."

Kami pulang dengan rasa syukur pernah menikmati satu hari yang sederhana dengan cara yang begitu istimewa. Bengawan Solo mengalir membawa airnya. Kami mengalir membawa cerita serta bahagia.

Cepu, 31 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar