Sabtu, 05 September 2026

Masa Kecil Kurang Bahagia


Karya : Gutamining Saida 

Sabtu sore, Bumool seolah sedang mengenakan pakaian terbaiknya. Matahari perlahan condong ke barat. Cahayanya tidak lagi menyengat seperti siang hari. Angin berembus lembut, sementara permukaan kolam berkilauan diterpa cahaya sore.

Air kolam seperti sedang tersenyum. Mungkin ia tahu, sebentar lagi akan datang sekelompok ibu-ibu yang tidak hanya ingin berenang, tetapi juga ingin menitipkan lelahnya kepada air. Satu per satu ibu-ibu datang. Ada wajah-wajah lama yang sudah akrab dengan suasana kolam. Ada pula wajah baru yang membuat rombongan semakin ramai.

Bumool semakin penuh. Suara salam bersahutan. Tawa mulai terdengar. Canda mulai beterbangan.Seolah-olah rasa lelah dari rumah tertinggal di pintu masuk dan tidak diperbolehkan ikut masuk ke kolam.

Sore itu kami berbaris panjang. Dari ujung sampai ujung. Kalau ada yang melihat dari kejauhan, mungkin akan mengira kami sedang mengikuti upacara penting. Padahal kami sedang mempersiapkan diri untuk berperang. Bukan perang melawan manusia. Bukan pula perang melawan musuh. Kami sedang berperang melawan rasa takut, malas, pegal, dan mungkin juga berbagai pikiran yang selama ini memenuhi kepala.

Komandan kami tentu saja Pak Gun. Dengan penuh semangat, aba-aba pun diberikan. Kami bergerak. Gaya bebas dicoba. Gaya dada dicoba, mengapung pun dicoba. Tangan bergerak, kaki menendang, tubuh meluncur, air bergoyang ke sana kemari.

Kolam yang semula tenang berubah menjadi arena penuh gerakan. Seolah-olah air berkata, "Ayo, jangan takut. Percayalah kepadaku."

Kami pun menurut, ada yang meluncur dengan penuh percaya diri, masih ragu-ragu,  gerakannya begitu semangat sampai air pun mungkin kebingungan harus mengalir ke mana. Kami semua tetap mencoba. Kami tahu, tidak ada orang yang langsung pandai hanya dengan sekali mencoba. 

Burung pun harus belajar mengepakkan sayap sebelum mampu terbang. Begitu pula kami, sedang belajar mengalahkan rasa takut sedikit demi sedikit. Tanpa kami sadari, sebenarnya bukan hanya tubuh yang sedang dilatih.  Hati juga sedang dilatih. Belajar percaya, sabar, menerima bahwa setiap orang mempunyai kemampuan dan proses yang berbeda. Ada yang cepat, perlahan, sudah bisa berenang, masih belajar mengapung. Semuanya tetap berada dalam satu kolam yang sama.

Bukankah kehidupan juga demikian? Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan jalan yang berbeda-beda. Ada yang hidupnya terlihat mudah. Ada yang harus berjuang lebih keras. Ada yang cepat mendapatkan apa yang diinginkan. Ada yang harus menunggu bertahun-tahun. Kita tetap berada dalam kolam kehidupan yang sama. Masing-masing mempunyai cerita, mempunyai perjuangan.

Masing-masing mempunyai waktu terbaik yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Sore semakin berjalan. Latihan semakin seru. Suara tawa semakin sering terdengar. Rasa malu mulai hilang. Yang tersisa hanyalah kegembiraan. Sampai akhirnya kami sampai di penghujung latihan.

Kami pikir, setelah sampai di ujung kolam berarti petualangan selesai. Ternyata kami salah. Pak Gun kembali memberikan instruksi.

"Merapat!" 

Kami pun mendekat. Semakin rapat. Semakin dekat. Air kolam mulai terlihat mencurigakan. Seolah-olah ia sedang menyimpan sebuah rahasia. Kemudian terdengar perintah berikutnya. Kami diminta menepuk-nepuk air. Satu kali. Dua kali. Kemudian semakin ramai. Tangan kami menghantam permukaan kolam. Plak! Plak! Plak!

Air pun seperti terkejut. Ia meloncat-loncat ke udara. Cipratan air mengenai wajah kami. Bukannya marah, kami justru tertawa. Wajah-wajah yang tadinya serius berubah menjadi ceria. Ada yang menghindar. Ada yang terkena cipratan. Ada yang malah sengaja membuat air semakin tinggi. Kolam seolah berubah menjadi taman bermain. Dan tiba-tiba... kami seperti kembali menjadi anak-anak. Tidak ada usia. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada jabatan. Tidak ada masalah.Yang ada hanya tawa.

Kemudian Pak Gun kembali memberikan instruksi. Tangan diminta mengambil air. Setelah itu tangan ditarik ke atas.

Byurrrrr! Air jatuh ke wajah. Tawa pun pecah. Bumool sore itu seolah-olah tidak lagi menjadi kolam renang. Ia berubah menjadi mesin waktu. Mengembalikan kami puluhan tahun ke belakang. Ke masa ketika bermain air adalah kebahagiaan.

"Ibu-ibu masa kecil kurang bahagia."ucap Pak Gun

Kami langsung tertawa. Entah itu sindiran. Entah itu candaan. Tetapi mungkin ada benarnya juga. Sebab setelah tua, kita terlalu sibuk mengejar banyak hal. Mengejar pekerjaan, kebutuhan, mengurus keluarga, memikirkan anak. Sampai terkadang lupa bagaimana caranya menikmati hari ini.

Selama Allah Subhanahu Wata'alla masih memberikan kesehatan, teman untuk berbagi, dan kesempatan untuk tertawa, sesungguhnya hidup ini masih menyimpan begitu banyak alasan untuk disyukuri. Bahagia tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang ia hanya berjarak beberapa langkah, menunggu kita berani mencelupkan tangan ke dalam air dan tertawa bersama. Alhamdulillah...

Cepu, 6 September 2026 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar