Karya: Gutamining Saida
Jum'at sore sudah berlalu. Matahari perlahan tenggelam, suara tawa ibu-ibu di Bumool sudah berganti dengan suasana malam yang lebih tenang. Cerita sore belum benar-benar selesai. Bagi saya ada sesuatu yang masih tertinggal di kepala. Bukan suara air, bukan gerakan renang, bukan pula instruksi Pak Gun.
Tawa yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, tetapi bagi kami saat di Bumool justru menjadi obat setelah menjalani rutinitas masing-masing. Malam hari saya mencoba menulis. Bukan karena mempunyai tujuan yang muluk-muluk. Saya hanya ingin merefresh kejadian sore hari yang penuh tawa dan bahagia.
Saya ingin mengabadikannya dalam aksara. Siapa tahu tulisan sederhana itu bisa menjadi hiburan bagi ibu-ibu sambil leyeh-leyeh setelah aktivitas seharian. Bisa dibaca sambil tersenyum, dibaca sambil tertawa. Suatu hari nanti, ketika waktu sudah berjalan begitu jauh, bisa dibuka kembali sebagai sebuah kenangan indah.
“Dulu kita pernah seperti ini…” Betapa bahagianya jika sebuah tulisan mampu mengembalikan kita pada sebuah sore yang sudah lama berlalu. Maka saya menulis, ceritakan apa yang terjadi, tuliskan tingkah ibu-ibu, masukkan sedikit kelucuan serta abadikan suasana Bumool.
Tidak berselang lama, ternyata ada yang membuka. Waaah! Hati saya langsung senang. Ternyata ada yang tertarik. Bagi seorang yang suka menulis, ada pembaca pertama itu rasanya seperti mendapat tepukan kecil di pundak. Apalagi tidak hanya membaca. Tapi ada komentar. Komentar di grup pertama dari Pak Gun.
“Luar biasa.”
“Pokoke jos jis.”komentar dari bu Isna selanjutnya.
Saya semakin tersenyum. Lalu pak Gun menuliskan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak. “Setiap kata yang muncul bisa jadi tulisan, bisa menjadi sebuah karya istimewa.” Saya membaca kalimat itu berulang-ulang.
Kemudian Bu Pur juga tidak mau ketinggalan. Ikut memberikan komentar di grup. Saya membaca satu demi satu. Saya sengaja tidak langsung membalas. Saya hanya membaca lalu tersenyum. Bahkan beberapa kali senyum-senyum sendiri. Mungkin kalau ada orang melihat saya malam itu, dia akan bertanya, “Bu Saida kenapa tersenyum sendirian?”
Jawabannya sederhana. Saya sedang menikmati kebahagiaan yang berasal dari sebuah tulisan.
Tiba-tiba Pak Gun kembali membuat suasana menjadi semakin menarik. Beliau menulis, “Saya besok mingkem.” Saya langsung membayangkan kejadian esok sore. Mingkem? Benarkah? Pak Gun akan mingkem? Saya mulai berimajinasi. Nanti sore Pak Gun berdiri di pinggir kolam. Ibu-ibu berkumpul. Biasanya suara Pak Gun terdengar memberikan instruksi. “Ayo meluncur…”“Tangan digerakkan…”“Tarik napas…” “Gerakkan kaki…”
Saya membayangkan suasana Bumool nanti sore. Mungkin akan lebih heboh, seru. Mungkin juga akan menjadi cerita baru yang kembali saya tulis malam berikutnya. Karena di Bumool, satu kejadian belum selesai diceritakan, sudah muncul kejadian berikutnya. Begitulah kebersamaan kami. Cukup kolam, air, teman-teman, dan sedikit humor. Tetapi semakin saya memikirkan semuanya, tiba-tiba hati saya terasa sedikit berbeda.
Suatu saat nanti, yang tersisa hanyalah kenangan dan cerita. Maka biarlah Bumool menyimpan banyak cerita. Biarlah air kolam menjadi saksi. Biarlah tawa kita menjadi bagian dari sore-sore yang pernah indah. Biarlah tulisan-tulisan kecil ini menjadi rumah bagi kenangan. Agar suatu hari nanti, ketika kita membacanya kembali.
Semoga siapa pun yang telah meluangkan waktu membaca tulisan ini diberi kesehatan, umur panjang, kebahagiaan, dan kesempatan menikmati sore bersama orang-orang yang dicintai. Karena mungkin kita tidak pernah tahu…kisah berikut yang kita alami.
Untuk sore nanti… Pak Gun katanya mingkem. Ibu-ibu diperintah tutup mata. Apakah benar? Apakah Pak Gun kuat menahan bicara? Sampai jumpa di Bumool. Mingkemnya Pak Gun, tutup matanya ibu-ibu, dan kejutan apa yang akan terjadi… kita buktikan nanti sore. Bersambung…
Cepu, 5 September 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar