Rabu, 09 September 2026

Sabya Indah Listiyani

 

Karya: Gutamining Saida

Lingkungan sekolah selalu memiliki warna dan nadanya sendiri. Udara yang masih menyisakan kesejukan sisa malam seolah berpadu dengan derap langkah kaki-kaki kecil yang berlarian menyusuri selasar kelas. Menjadi seorang pendidik, rutinitas pagi ini adalah sebuah kanvas kehidupan yang senantiasa dinikmati dengan penuh rasa syukur. Setelah menempuh perjalanan membelah angin pagi, memacu kendaraan melintasi rute menuju sekolah. Rasa lelah terkadang sempat singgah sejenak di pundak. 

Segala penat itu selalu memiliki cara ajaib untuk menguap, terhapus seketika oleh semaraknya kehidupan khas anak-anak usia menengah pertama yang begitu murni dan jujur. Di antara ratusan wajah yang menghiasi lorong-lorong dan ruang kelas itu, ada satu presensi yang selalu berhasil mencuri perhatian dan menghangatkan hati. 

Sabya Indah Listiyani adalah salah satu siswi yang duduk di bangku kelas VIIIB. Kehadirannya di sekolah tidak pernah luput dari pandangan, bukan semata-mata karena ia berada di lingkungan kelas tempat saya berbagi ilmu.  Energi luar biasa yang selalu ia bawa ke mana pun ia melangkah. Apabila harus merangkum sosok Sabya, kata pertama yang paling pantas untuk mendeskripsikannya  'lincah'. 

Ia seolah memiliki pegas tak kasat mata di kedua kakinya, selalu bergerak dengan kelincahan seorang anak yang sedang merayakan indahnya kehidupan itu sendiri. Tidak pernah sekalipun saya menangkap gurat kesedihan, keluhan, atau kemurungan di wajahnya. Dunia di mata Sabya sepertinya adalah sebuah taman bermain yang luas, penuh dengan hal-hal menakjubkan yang patut disambut dengan gegap gempita dan antusiasme tanpa batas.

Rutinitas pertemuan kami di sekolah pun selalu memiliki koreografinya sendiri yang unik dan mengesankan. Tidak peduli di sudut mana kami berpapasan entah itu di ujung kelas yang ramai, di dekat gerbang sekolah saat senyum pagi merekah, atau di lapangan tatkala jam istirahat tiba. 

Sabya selalu menjadi pihak yang pertama kali menyapa. Ia tidak sekadar mengangguk pelan atau tersenyum malu-malu sambil menunduk seperti kebanyakan anak seusianya. Sebaliknya, ia akan setengah berlari menghampiri, melambaikan tangannya dengan semangat yang meluap-luap, dan berteriak nyaring memanggil-manggil nama saya dari kejauhan.

Panggilannya yang penuh suka cita itu bukan sekadar formalitas seorang murid kepada gurunya, melainkan sebuah sapaan tulus yang merambat bagai gelombang hangat, menembus keriuhan sekolah dan langsung menyentuh relung hati.

Penampilan fisik Sabya juga memiliki daya tarik dan keunikan yang membuatnya semakin istimewa di mata siapa saja yang memandangnya. Ia memiliki rona kulit sawo matang yang eksotis, tipikal kecantikan sejati anak-anak Nusantara yang bersahabat dengan hangatnya sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan. 

Warna kulitnya itu tampak begitu sehat dan berseri-seri, membingkai wajahnya yang selalu memancarkan binar kegembiraan. Di atas hidungnya, bertengger sebuah kacamata minus yang seolah menjadi ciri khas tak terpisahkan dari identitasnya. Bingkai kacamata tersebut sering kali sedikit melorot manakala ia sedang tertawa terbahak-bahak atau bergerak cepat, memaksanya untuk mendorong kacamata itu kembali ke atas dengan gerakan yang teramat natural dan menggemaskan. Kacamata itu sama sekali tidak menutupi keceriaannya, justru memberikan kesan cerdas yang berpadu apik dengan sifat jenakanya.

Pesona yang paling memukau dari seorang Sabya Indah Listiyani adalah senyumannya. Setiap kali ia menyapa, merespons pertanyaan, atau sekadar mendengarkan sebuah cerita di kelas, bibirnya akan melengkung membentuk senyuman paling lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih dan terawat dengan baik. Kontras antara kulit sawo matangnya dan kilau gigi yang seputih mutiara itu menciptakan sebuah harmoni visual yang membuat penampilannya semakin menarik dan tak terlupakan. Senyuman seolah memancarkan cahaya tersendiri. Sebuah sinyal tak bersuara yang menegaskan  hari ini adalah hari yang baik dan tidak ada ruang untuk berkeluh kesah.

Di dalam ruang kelas VIIIB, semangat sekolahnya benar-benar terasa menghidupkan suasana. Ketika pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tengah berlangsung, membahas dinamika masyarakat hingga sejarah masa lampau, Sabya bukanlah tipe siswa yang pasif. Matanya di balik lensa kacamata itu selalu berbinar-binar menyiratkan rasa ingin tahu yang besar. 

Kelincahannya bukan sekadar gerak fisik, melainkan cerminan dari kelincahan berpikirnya. Ia merespons segala hal dengan semangat yang sering kali menular kepada teman-temannya yang lain. Bagi seorang pendidik yang telah menyaksikan pergantian generasi dan berbagai macam karakter murid, menemukan seorang anak yang tangguh secara mental dan dibalut dalam keceriaan murni seperti Sabya adalah sebuah oase yang sangat menyegarkan.

Menatap wajahnya yang selalu riang dan mendengarkan suaranya yang melengking ceria saat memanggil dari ujung selasar, diam-diam menjadi semacam pengingat personal. Anak-anak seperti Sabya adalah alasan utama mengapa profesi mendidik ini begitu indah. Mereka bukan sekadar hadir untuk menimba ilmu. Ia membawa energi positif yang mampu mengusir kepenatan orang dewasa di sekitarnya. 

Kelak, ketika lembaran-lembaran ingatan ini dirajut dan dikumpulkan menjadi sebuah naskah tulisan utuh untuk diwariskan kepada anak cucu, nama Sabya Indah Listiyani pasti akan menempati satu ruang cerita tersendiri. Ia akan abadi sebagai sebuah memori manis. Ia dengan langkah lincah dan senyum putih bersihnya, selalu berhasil merayakan sekolah layaknya sebuah panggung kegembiraan yang tak pernah sepi.

Cepu, 10 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar