Rabu, 09 September 2026

Juna Arya Sismanto

 


Karya: Gutamining Saida

"Mimpi boleh jauh. Langkah boleh perlahan. Yang penting, terus bergerak menuju tujuan."

Setiap anak memiliki mimpi. Ada yang sudah tahu ingin menjadi apa, ada pula yang masih mencari arah. Tugas orang dewasa bukan menentukan mimpi mereka, tetapi membantu agar mimpi itu memiliki jalan untuk diwujudkan.

Juna Arya Sismanto nama lengkap dari kedua orang tuanya. Saya biasa menyapanya dengan nama Juna. Saya mengenalnya cukup dekat karena ketika kelas tujuh, saya mendapat amanah sebagai wali kelasnya. Selama menjadi wali kelas, saya melihat Juna sebagai anak yang memiliki semangat belajar dan kelebihan yang cukup menonjol, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Kemampuannya dalam Bahasa Inggris tidak datang begitu saja. Juna mengikuti kursus di kampung Inggris saat liburan. Tujuannya agar semakin mampu menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Ia tidak hanya ingin mendapatkan nilai yang bagus di sekolah, tetapi juga ingin memiliki kemampuan yang bisa digunakan dalam kehidupan nyata.

Menurut saya, hal tersebut merupakan sesuatu yang baik. Belajar bahasa bukan sekadar menghafalkan kosakata atau mengerjakan soal. Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi. Dengan menguasai bahasa asing, seseorang memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dengan lebih banyak orang dan mengenal dunia yang lebih luas.

Juna pernah bercerita tentang mimpinya untuk pergi ke Negeri Sakura, Jepang. Mimpi itu mungkin terdengar sederhana bagi sebagian orang.  Sebuah mimpi yang diucapkan seorang anak adalah sesuatu yang patut dihargai.

Saya masih teringat ketika sedang mengajar materi tentang negara maju. Saat pembelajaran sampai pada pembahasan Jepang, Juna langsung bertanya kepada saya,

“Bu, apakah harus bisa bahasa Jepang?”

“Iya,” jawab saya singkat.

“Saya sudah bisa Bahasa Inggris, Bu.”kata Juna dengan percaya diri, 

“Bagus!” jawab saya.

Saya kemudian menjelaskan kepadanya Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang banyak digunakan di berbagai negara. Dengan kemampuan Bahasa Inggris, seseorang akan lebih mudah berkomunikasi ketika berada di luar negeri.

Jika tujuan Juna benar-benar ingin pergi ke Jepang, tentu akan lebih baik jika ia juga memiliki bekal Bahasa Jepang. Jepang memiliki bahasa nasional sendiri. Masyarakatnya tentu lebih nyaman menggunakan Bahasa Jepang dalam kehidupan sehari-hari.

Saya mengatakan kepadanya, tidak ada salahnya mempersiapkan diri sejak sekarang. Kalau suatu saat benar-benar mendapatkan kesempatan pergi ke Jepang, kemampuan Bahasa Inggris akan menjadi bekal yang baik, sedangkan Bahasa Jepang akan menjadi bekal tambahan yang sangat berguna.

Saya melihat Juna cukup antusias ketika membicarakan hal tersebut. Dari pertanyaan sederhananya, saya menangkap bahwa ia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia tidak hanya belajar untuk hari ini, tetapi sudah mulai memikirkan kebutuhan di masa depan.

Di situlah pentingnya sebuah mimpi. Mimpi membuat seseorang memiliki tujuan. Ketika seseorang memiliki tujuan, ia akan lebih mudah menentukan langkah yang harus dilakukan. Juna tinggal di Sambong. Di daerah tempat tinggalnya sebenarnya terdapat sekolah tingkat SMP. Dia memilih bersekolah di SMP yang berada di Cepu. Pilihan itu tentu memiliki pertimbangan tersendiri.

Setiap hari setelah sekolah, Juna pulang ke rumah neneknya yang berada di Cepu. Jarak dan aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari perjuangannya dalam mendapatkan pendidikan yang ia inginkan. Cepu sebagai daerah perkotaan memiliki berbagai fasilitas yang dapat menunjang kegiatan belajar. Tidak hanya sekolah, tetapi juga tersedia berbagai tempat kursus dan kegiatan pengembangan diri. Anak-anak dapat mengikuti les mata pelajaran untuk membantu meningkatkan kemampuan akademiknya. Selain itu, ada pula berbagai kegiatan lain seperti kursus musik, renang, dan keterampilan lainnya.

Lingkungan seperti itu tentu memberikan banyak pilihan untuk mengembangkan kemampuan. Saya melihat pilihannya untuk bersekolah di Cepu bukan sekadar memilih tempat belajar. Ada keinginan untuk mendapatkan lingkungan yang lebih luas dan kesempatan yang lebih banyak. Ia ingin memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan.

Saat ini mimpi pergi ke Jepang masih sebatas cerita seorang anak kepada gurunya. Belum tentu kapan mimpi itu akan terwujud. Saya percaya bahwa setiap mimpi yang disertai usaha memiliki kemungkinan untuk menjadi kenyataan.

Tidak ada yang tahu seperti apa perjalanan Juna beberapa tahun mendatang. Bisa jadi ia benar-benar menginjakkan kaki di Jepang. Bisa jadi ia melanjutkan pendidikan di tempat yang jauh dari rumah. Bisa jadi kemampuan Bahasa Inggris yang sekarang dipelajarinya menjadi bekal penting dalam pekerjaannya kelak.

Atau mungkin jalan hidupnya membawa Juna kepada sesuatu yang saat ini belum pernah ia bayangkan. Sebagai seorang guru, saya tidak memiliki kuasa untuk menentukan masa depannya. Saya hanya bisa memberikan dorongan, menjawab pertanyaannya, dan menanamkan keyakinan bahwa belajar adalah salah satu jalan untuk membuka kesempatan.

Anak yang hari ini duduk di bangku kelas delapan. Beberapa tahun lagi akan menjadi orang dewasa yang menentukan jalan hidupnya sendiri. Maka, jangan pernah meremehkan mimpi seorang anak. Bisa jadi pertanyaan sederhana yang ia sampaikan di dalam kelas adalah awal dari perjalanan yang panjang. Semoga Juna terus belajar, terus berusaha, dan tidak takut memiliki mimpi yang tinggi. Masa depan memang belum terlihat. Tetapi masa depan dapat dipersiapkan mulai dari hari ini. Semoga tercapai cita-citamu. Semangat...

Cepu, 10 September 2026





1 komentar:

  1. MasyaAllah keren...bismillah semoga mimpi itu terwujud ya mas.tetap berdoa,semangat belajar.

    BalasHapus