Jumat, 04 September 2026

Dibalik Diamnya Medina


Karya: Gutamining Saida

Ada siswa siswi datang ke sekolah dengan suara riuh, tawa yang memenuhi kelas, dan keberanian tampil di depan banyak orang. Ada pula yang hadir dengan cara yang berbeda. Dia datang dengan tenang. Duduk manis di bangku depan. Tidak banyak bicara. Tidak sibuk mencari perhatian. Bahkan terkadang keberadaannya hampir tidak terdengar di tengah riuhnya suasana kelas.

Di balik diamnya seorang anak, tersimpan potensi besar yang belum sempat ditemukan. Itulah yang saya rasakan ketika mengenal Medina.

“Medina,” begitu biasanya saya menyapanya.

Ia adalah siswa kelas 8B Esmega. Setiap pembelajaran IPS, Medina duduk di bangku depan bersama Alicia. Dari tempat duduknya itu, saya mengenalnya sebagai anak yang pendiam. Tidak banyak bicara, tidak banyak tingkah, dan lebih sering memperhatikan daripada menjadi pusat perhatian. Semakin lama saya mengenalnya, semakin saya menyadari bahwa diamnya Medina bukanlah kekosongan. Diamnya berisi.

Ada satu hal yang membuat saya cukup terkejut ketika mengetahui tentang Medina. Ternyata ayahnya, ketika masih duduk di bangku SMA, pernah menjadi siswa saya. Betapa panjang perjalanan seorang guru. Dahulu saya berdiri di depan kelas dan mengajar ayahnya. Waktu berjalan. Tahun berganti. Anak-anak yang dahulu siswa saya, kini telah menjadi orang tua.

Kemudian, tanpa pernah disangka, saya kembali bertemu dengan generasi berikutnya. Rasanya seperti sebuah pesan kecil dari kehidupan bahwa jejak seorang guru tidak pernah benar-benar berhenti ketika seorang siswa meninggalkan sekolah. Mungkin kita lupa sebagian nama siswa yang pernah kita ajar. Mungkin kita lupa tugas apa yang pernah mereka kumpulkan. Tetapi ternyata, ada sesuatu yang tetap tinggal. Kenangan indah.

Ketika tugas saya diberikan, Medina langsung bergerak. Teman-temannya mungkin masih berbicara, masih memikirkan mau mengerjakan dari mana, atau bahkan ada yang berkata, “Nanti saja, Bu.” Medina sudah mulai menulis. Tangannya bergerak. Pikirannya bekerja. Tugas diselesaikan.

Saya sering berpikir, bukankah sebenarnya seperti itulah karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan? Tidak banyak bicara tentang apa yang akan dilakukan. Tetapi langsung melakukan. Tidak sibuk mengatakan dirinya rajin. Tetapi kerajinannya terlihat dari pekerjaannya. Tidak perlu mengatakan ingin berprestasi. Hasilnya sudah berbicara.

Tulisan Medina juga bagus. Rapi dan enak dibaca. Saat ulangan IPS, ia pun hampir selalu memperoleh nilai yang bagus. Di sana saya belajar satu hal,  kadang-kadang mereka hanya memilih berbicara melalui karya.

Ada hal sederhana lain dari Medina yang diam-diam membuat saya kagum. Setiap berangkat sekolah, Medina masih menggunakan sepeda pancal. Di zaman ketika sepeda listrik semakin banyak digunakan anak-anak sekolah, Medina tetap setia mengayuh sepedanya.

Sekarang banyak anak yang merasa lebih nyaman menggunakan sepeda listrik atau diantar orang tua. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setiap keluarga memiliki pilihan masing-masing. Tetapi melihat Medina mengayuh sepeda menuju sekolah, saya seperti melihat sebuah gambaran tentang kemandirian dan kesederhanaan.

Kisah Medina belum selesai. Ada kejutan yang sampai sekarang masih saya ingat. Ketika menjadi siswa baru, Medina pernah menyumbangkan suara emas di indoor sekolah. Ia membawakan sebuah lagu berbahasa Inggris.

Awalnya saya mungkin tidak memiliki bayangan bahwa anak yang sehari-hari begitu pendiam itu memiliki kemampuan vokal yang istimewa. Tetapi ketika suara itu mulai terdengar...penonton pun terpukau. Suara Medina mengalun dengan percaya diri. Nada demi nada keluar dengan indah.

Peristiwa itu mengingatkan saya sebagai seorang guru terkadang kita terlalu cepat mengenal anak hanya dari apa yang terlihat di kelas. Padahal masih banyak anak yang potensinya tersembunyi. Tetapi ketika seorang guru memberikan ruang dan kesempatan, tiba-tiba sesuatu yang luar biasa muncul. Itulah Medina.

Semoga suara itu kelak menjadi jalan kebaikan, menginspirasi banyak orang, dan membuat namamu dikenang bukan karena seberapa keras kamu bersuara, tetapi seberapa banyak kebahagiaan yang kamu hadirkan melalui suara itu.

Seorang guru hanya ingin melihat satu hal yaitu muridnya tumbuh menjadi manusia baik, menemukan potensinya, berani bermimpi, dan bahagia menjalani hidupnya. Salam sukses selalu buat semua murid-murid saya. Aamiin.

Cepu, 4 September 2026

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar