Karya: Gutamining Saida
Ada siswa siswi datang ke sekolah
dengan suara riuh, tawa yang memenuhi kelas, dan keberanian tampil di depan
banyak orang. Ada pula yang hadir dengan cara yang berbeda.
Dia datang dengan tenang. Duduk manis di bangku depan. Tidak banyak bicara.
Tidak sibuk mencari perhatian. Bahkan terkadang keberadaannya hampir tidak
terdengar di tengah riuhnya suasana kelas.
Di balik diamnya seorang anak,
tersimpan potensi besar yang belum sempat ditemukan. Itulah yang saya rasakan
ketika mengenal Medina.
“Medina,” begitu biasanya saya
menyapanya.
Ia adalah siswa kelas 8B Esmega.
Setiap pembelajaran IPS, Medina duduk di bangku depan bersama Alicia. Dari
tempat duduknya itu, saya mengenalnya sebagai anak yang pendiam. Tidak banyak
bicara, tidak banyak tingkah, dan lebih sering memperhatikan daripada menjadi
pusat perhatian. Semakin lama saya mengenalnya, semakin saya menyadari bahwa
diamnya Medina bukanlah kekosongan. Diamnya berisi.
Ada satu hal yang membuat saya
cukup terkejut ketika mengetahui tentang Medina. Ternyata ayahnya, ketika masih
duduk di bangku SMA, pernah menjadi siswa saya. Betapa panjang perjalanan
seorang guru. Dahulu saya berdiri di depan kelas dan mengajar ayahnya. Waktu
berjalan. Tahun berganti. Anak-anak yang dahulu siswa saya, kini telah menjadi
orang tua.
Kemudian, tanpa pernah disangka,
saya kembali bertemu dengan generasi berikutnya. Rasanya seperti sebuah pesan
kecil dari kehidupan bahwa jejak seorang guru tidak pernah benar-benar
berhenti ketika seorang siswa meninggalkan sekolah. Mungkin kita lupa sebagian
nama siswa yang pernah kita ajar. Mungkin kita lupa tugas apa yang pernah
mereka kumpulkan. Tetapi ternyata, ada sesuatu yang tetap tinggal. Kenangan indah.
Ketika tugas saya diberikan, Medina
langsung bergerak. Teman-temannya mungkin masih berbicara, masih memikirkan mau
mengerjakan dari mana, atau bahkan ada yang berkata, “Nanti saja, Bu.” Medina
sudah mulai menulis. Tangannya bergerak. Pikirannya bekerja. Tugas
diselesaikan.
Saya sering berpikir, bukankah
sebenarnya seperti itulah karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan? Tidak
banyak bicara tentang apa yang akan dilakukan. Tetapi langsung melakukan. Tidak
sibuk mengatakan dirinya rajin. Tetapi kerajinannya terlihat dari pekerjaannya.
Tidak perlu mengatakan ingin berprestasi. Hasilnya sudah berbicara.
Tulisan Medina juga bagus. Rapi
dan enak dibaca. Saat ulangan IPS, ia pun hampir selalu memperoleh nilai yang
bagus. Di sana saya belajar satu hal, kadang-kadang
mereka hanya memilih berbicara melalui karya.
Ada hal sederhana lain dari
Medina yang diam-diam membuat saya kagum. Setiap berangkat sekolah, Medina
masih menggunakan sepeda pancal. Di zaman ketika sepeda listrik semakin
banyak digunakan anak-anak sekolah, Medina tetap setia mengayuh sepedanya.
Sekarang banyak anak yang merasa
lebih nyaman menggunakan sepeda listrik atau diantar orang tua. Tentu tidak ada
yang salah dengan itu. Setiap keluarga memiliki pilihan masing-masing. Tetapi
melihat Medina mengayuh sepeda menuju sekolah, saya seperti melihat sebuah
gambaran tentang kemandirian dan kesederhanaan.
Kisah Medina belum selesai. Ada
kejutan yang sampai sekarang masih saya ingat. Ketika menjadi siswa baru,
Medina pernah menyumbangkan suara emas di indoor sekolah. Ia membawakan sebuah
lagu berbahasa Inggris.
Awalnya saya mungkin tidak
memiliki bayangan bahwa anak yang sehari-hari begitu pendiam itu memiliki
kemampuan vokal yang istimewa. Tetapi ketika suara itu mulai terdengar...penonton
pun terpukau. Suara Medina mengalun dengan percaya diri. Nada demi nada keluar
dengan indah.
Peristiwa itu mengingatkan saya
sebagai seorang guru terkadang kita terlalu cepat mengenal anak hanya dari apa
yang terlihat di kelas. Padahal masih banyak anak yang potensinya tersembunyi. Tetapi
ketika seorang guru memberikan ruang dan kesempatan, tiba-tiba sesuatu yang
luar biasa muncul. Itulah Medina.
Semoga suara itu kelak menjadi
jalan kebaikan, menginspirasi banyak orang, dan membuat namamu dikenang bukan
karena seberapa keras kamu bersuara, tetapi seberapa banyak kebahagiaan
yang kamu hadirkan melalui suara itu.
Seorang guru hanya ingin melihat
satu hal yaitu muridnya tumbuh menjadi manusia baik, menemukan potensinya,
berani bermimpi, dan bahagia menjalani hidupnya. Salam sukses selalu buat semua murid-murid saya. Aamiin.
Cepu, 4 September 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar