Karya : Gutamining Saida
Sebagian anak, pergi ke sekolah mungkin hanyalah rutinitas biasa. Bangun pagi, mandi, sarapan, mengenakan seragam, lalu berangkat. Tetapi bagi Naila, setiap perjalanan menuju sekolah seperti sebuah langkah kecil yang sedang mengantarkannya menuju sebuah impian besar.
Ia siswi kelas 8B Esmega. Ia berasal dari Kedungtuban, sebuah daerah yang cukup jauh jika perjalanan itu harus ditempuh oleh seorang anak usia SMP setiap hari. Jarak bukanlah sesuatu yang membuatnya mundur. Justru dari perjalanan itulah tampaknya tumbuh sebuah keteguhan dalam dirinya.
Ia memilih Esmega, sekolah yang oleh sebagian orang sering disebut sebagai sekolah sultan. Sebutan itu tentu membawa konsekuensi. Bersekolah di tempat yang memiliki banyak siswa berprestasi berarti harus siap bersaing, siap belajar lebih giat, dan siap menunjukkan kemampuan terbaik.
Ia datang ke Esmega tidak sekadar untuk menjadi bagian dari banyak siswa. Ia datang dengan keyakinan bila jarak rumah dan sekolah bukan alasan untuk membatasi langkah. Ada sesuatu yang menarik dari dirinya. Ia bukan hanya anak yang pandai. Ia juga memiliki kebiasaan yang sederhana, tetapi sebenarnya sangat luar biasa. Ketika mendapatkan tugas mata pelajaran IPS, ia segera mengerjakannya. Tidak ada kata, "Nanti saja, nanti nanti." Tidak ada kebiasaan menunda, menunggu sampai batas waktu hampir habis. Jika tugas diberikan, ia kerjakan. Setelah selesai, ia kumpulkan. Sederhana, bukan?
Banyak orang memiliki kecerdasan. Banyak siswa memiliki kemampuan yang tidak kalah hebat. Tetapi terkadang kemampuan itu berhenti pada niat.
"Besok saja."
"Nanti kalau sudah sempat."
"Masih lama."
"Masih ada waktu."
Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar tetapi diam-diam bisa menjadi penghambat kesuksesan.
Naila memilih jalan yang berbeda. Ia memahami jika tugas bukan sekadar kewajiban dari guru. Tugas adalah kesempatan untuk belajar. Maka ketika tugas datang, ia menyambutnya dengan tindakan, bukan dengan penundaan. Kebiasaan itu akhirnya menjadi karakter. Karakter yang dilakukan berulang-ulang akan melahirkan hasil. Tidak mengherankan jika kemudian Naila mampu meraih peringkat pertama.
Prestasi itu tentu membanggakan. Lebih menarik bukan hanya angka atau posisi yang tertulis di daftar peringkat. Di balik peringkat pertama itu ada perjalanan panjang, ada waktu yang digunakan dengan baik, ada tugas-tugas yang diselesaikan, ada kesungguhan belajar, dan ada kemauan untuk terus berusaha. Peringkat pertama bukanlah hadiah yang tiba-tiba jatuh dari langit. Tapi buah dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.
Naila ternyata tidak hanya unggul dalam bidang akademik. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan. Inilah yang membuat sosoknya semakin menarik. Ada siswa yang pintar tetapi cenderung menutup diri. Ada yang aktif tetapi kurang mampu mengatur waktu belajar. Ada pula yang berprestasi tetapi kesulitan bergaul dengan teman-temannya.
Naila seolah mampu memadukan semuanya. Ia mudah bergaul, mampu beradaptasi, tidak membatasi pertemanan hanya dengan kelompok tertentu. Di lingkungan sekolah, ia bisa menemukan teman. Ia mampu menyesuaikan diri dengan suasana baru. Ia bisa bekerja sama dan menjadi bagian dari berbagai kegiatan. Kemampuan beradaptasi seperti ini sangat penting. Sebab kehidupan tidak selalu membawa kita ke tempat yang nyaman. Kadang kita harus berada di lingkungan baru, bertemu orang baru, menghadapi karakter yang berbeda, dan bekerja bersama orang yang tidak selalu memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Orang yang mampu beradaptasi akan lebih mudah menemukan jalan.
Naila menunjukkan dirinya menjadi anak pintar tidak berarti harus menjauh dari teman. Justru kepandaian bisa menjadi cahaya yang menerangi sekitar. Prestasi bisa berjalan bersama keramahan. Kesibukan bisa berjalan bersama pertemanan. Belajar bisa berjalan bersama kegiatan. Semua itu membutuhkan satu hal, yaitu kemampuan mengatur diri.
Kadang seseorang tinggal jauh dari sekolah, tetapi memiliki cita-cita yang sangat dekat di hati. Kadang seseorang harus menempuh perjalanan panjang setiap hari, tetapi justru perjalanan itulah yang mengajarkan arti ketekunan. Kadang seseorang memulai dari tempat yang sederhana, tetapi mampu berdiri di posisi yang membanggakan. Yang menentukan bukan hanya dari mana kita berasal. Yang lebih penting adalah ke mana kita ingin pergi dan seberapa sungguh-sungguh kita berjalan menuju ke sana.
Naila masih sebagai siswi SMP. Usianya masih sangat muda. Perjalanannya masih panjang. Prestasi hari ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah tanda bahwa ia berada di jalan yang baik. Kelak ketika ia semakin dewasa. Semoga kesuksesan selalu menyertai perjalanan mu. Aamiin.
Cepu, 4 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar