Kamis, 03 September 2026

Oblelix Sea View

 


Karya: Gutamining Saida

Rutinitas di sekolah terkadang membuat kita lupa bila tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda. Setiap hari ada tugas yang harus diselesaikan, siswa yang harus dibimbing, administrasi yang harus dikerjakan, rapat yang harus diikuti, dan berbagai tanggung jawab lain yang menunggu. Sebagai keluarga besar Esmega, kami terbiasa dengan kesibukan itu. Hari-hari berjalan cepat, dipenuhi aktivitas dan tanggung jawab.

Di balik kesibukan itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan iyalah kebersamaan. Karena itulah, sebuah perjalanan sederhana menjadi begitu berarti. Kali ini, keluarga besar Esmega memilih Obelix Sea View sebagai tempat untuk sejenak meninggalkan rutinitas sekolah. Bukan sekadar perjalanan untuk melihat tempat indah, tetapi sebuah kesempatan untuk mengistirahatkan pikiran, menyegarkan hati, dan menikmati waktu bersama.

Dari terminal, kami melanjutkan perjalanan menggunakan sebuah kendaraan yang berisi tujuh penumpang. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan terminal. Suasana perjalanan pun perlahan berubah menjadi ruang kecil penuh cerita. Ada percakapan, canda, tawa, dan sesekali saling menggoda. Perjalanan yang sebenarnya hanya menjadi sarana menuju tujuan, justru terasa seperti bagian paling menyenangkan.

Suasana berbeda langsung terasa setelah sampai di lokasi. Pemandangan alam terbuka menyambut kami. Laut terbentang luas di bawah sana. Dari ketinggian, warna laut tampak putih berkilauan diterpa cahaya matahari sore. Mata seakan mendapatkan hadiah setelah sekian lama lebih banyak memandang layar komputer, buku, dokumen, dan aktivitas di dalam ruang kelas.

Kami berkesempatan untuk duduk, berbincang, tertawa, menikmati pemandangan, dan merasakan  hidup ternyata tidak selalu harus berjalan tergesa-gesa. Area tempat duduk pun dibuat begitu nyaman. Di salah satu sudut, tersedia tempat duduk lesehan di alam terbuka. Bantal-bantal warna-warni tersusun rapi, seolah mengajak setiap pengunjung untuk duduk santai dan melupakan sejenak kepenatan. Bunga-bunga berwarna magenta dan kuning menghiasinya. Warna-warni itu memberikan kesan ceria, seolah alam sedang ikut tersenyum menyambut kedatangan kami.

Ada pula berbagai bentuk kursi santai yang bisa dipilih. Ada yang ingin duduk bersama teman, ada yang ingin menikmati pemandangan seorang diri, ada pula yang memilih bercengkerama sambil sesekali tertawa lepas. Di tempat lain tersedia kedai makanan dan minuman. Menikmati makanan bersama ternyata bukan sekadar soal rasa. Ada percakapan yang muncul di sela-sela makan, ada cerita yang sebelumnya belum sempat disampaikan, ada candaan yang membuat suasana semakin hangat. Begitulah kebersamaan.

Menjelang Maghrib, suasana semakin menarik. Sebuah pentas seni telah dipersiapkan. Para pengunjung dapat menikmati berbagai penampilan seni yang disuguhkan. Tidak perlu menjadi bagian dari rombongan tertentu untuk menikmatinya. Siapa pun boleh duduk di sekitar area pertunjukan dan menyaksikan pagelaran tersebut.

Seni kembali mengingatkan kita manusia tidak hanya membutuhkan pekerjaan dan pencapaian. Manusia juga membutuhkan keindahan. Alunan musik, penampilan para seniman, suasana sore yang mulai beranjak menuju malam, serta para pengunjung yang duduk menikmati pertunjukan menciptakan suasana yang sulit digambarkan hanya dengan kata-kata.

Di tengah segala fasilitas yang tersedia, terdapat pula musala. Keberadaan tempat ibadah itu menjadi pengingat bahwa menikmati keindahan dunia tidak berarti melupakan kewajiban kepada Sang Pencipta. Waktu untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, mengingat Allah Subhanahu Wata'alla, serta mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan.

Pemandangan laut yang luas di bawah sana pun seolah memberikan pelajaran tersendiri. Laut tidak pernah terlihat kecil meskipun dipandang dari kejauhan. Ombaknya terus bergerak, kadang tenang, kadang bergelombang. Begitu pula kehidupan kita. Kehidupan harus terus bergerak. Yang penting bukan bagaimana kita menghindari gelombang, tetapi bagaimana kita tetap mampu menjaga diri agar tidak kehilangan arah.

Perjalanan keluarga besar Esmega ke Obelix Sea View akhirnya bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi sebuah ruang untuk mengisi kembali energi kebersamaan. Sekolah bukan hanya tentang gedung, ruang kelas, guru, siswa, dan pekerjaan. Sekolah juga tentang manusia-manusia yang di dalamnya saling membutuhkan, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Kebersamaan seperti ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi kenangannya bisa tinggal jauh lebih lama. Ketika esok kembali ke sekolah, mungkin pekerjaan akan kembali menunggu. Administrasi kembali harus diselesaikan. Siswa kembali memenuhi ruang kelas dengan berbagai karakter dan cerita. Kesibukan akan kembali datang.

Setelah menikmati sore di Obelix Sea View, ada sesuatu yang ikut kita bawa pulang. Hati yang lebih ringan, pikiran yang lebih segar, dan semangat yang kembali menyala. Sesekali kita memang perlu meninggalkan rutinitas, bukan karena kita ingin lari dari tanggung jawab, tetapi karena kita ingin kembali dengan tenaga yang lebih kuat.

“Terima kasih, Ya Allah. Di tengah kesibukan hidup, Engkau masih memberi kami kesempatan untuk berhenti sejenak, menikmati keindahan, dan merasakan hangatnya kebersamaan.”

Obelix Sea View menjadi saksi  keluarga besar Esmega tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga belajar menikmati kebersamaan. Sampai jumpa pada cerita yang lain.

Cepu, 4 September 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar