Jumat, 11 September 2026

Ambyar


Karya: Gutamining Saida

Kadang sebuah tulisan tidak lahir dari kejadian yang luar biasa. Tidak harus dari perjalanan jauh, tempat yang indah, atau peristiwa besar yang menggemparkan. Sebuah tulisan bisa saja lahir dari satu kata sederhana yang terdengar sepele.

Seperti Jumat sore ini, Saya mendapatkan ide menulis dari sebuah ucapan Pak Gun yang sangat singkat, padat, dan jelas. Satu kata “Ambyar.”

Entah mengapa kata itu terus terngiang di pikiran saya. Kata yang sebenarnya sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari, terutama ketika menggambarkan sesuatu yang berantakan, tidak sesuai rencana, atau keadaan yang tiba-tiba kacau.

 “Ambyar” memiliki cerita tersendiri. Semua bermula ketika kami sudah mulai melakukan berbagai gerakan di dalam kolam. Untuk mempermudah memantau kemampuan peserta, Pak Gun kemudian mengelompokkan ibu-ibu sesuai dengan kemampuannya.

Kali ini kami diarahkan untuk melakukan praktik secara bergantian. “Empat peserta dulu,” begitu kira-kira instruksinya. Yang lainnya melihat terlebih dahulu. Empat peserta dari sebelah kanan bersiap mengambil posisi. Kami yang menunggu giliran memperhatikan dari belakang. Ada rasa penasaran, ada juga rasa ingin tahu apakah gerakan yang selama ini dilatih bisa dilakukan dengan baik.

Pak Gun berada di posisi yang memungkinkan dirinya melihat gerakan kami dengan jelas. Peluit menjadi tanda.

Priiiiiit!

Empat peserta mulai bergerak. Mereka berusaha melakukan gerakan sesuai arahan yang sudah diberikan. Beberapa detik kemudian terdengar peluit kedua.

Priiiiiit!

Itulah tanda untuk berhenti. Namun sesuatu yang tidak direncanakan justru terjadi. Bukannya berhenti dengan rapi di tempat yang diharapkan, empat peserta itu malah... ambyar!

Satu bergerak serong ke kanan. Satu lagi serong ke kiri. Yang satu meluncur lurus semakin menjauh. Satu lagi justru menabrak temannya. Pemandangan yang sebenarnya sederhana itu langsung membuat suasana kolam pecah. Kami yang menyaksikan tidak mampu menahan tawa. Ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Ada yang sampai memegangi tubuh karena terlalu geli.

Yang melakukan gerakan pun tidak bisa marah. Mereka justru ikut tertawa melihat posisi masing-masing yang sudah tidak beraturan. Sementara Pak Gun hanya tersenyum, tidak panik, tidak menyalahkan, serta tidak memarahi.

Ia hanya memberikan satu komentar yang singkat, tetapi tepat sasaran.

“Ambyar.”

Satu kata itu sudah cukup menjelaskan semuanya. Gerakan yang seharusnya berjalan teratur ternyata berakhir ke mana-mana. Kejadian lucu itulah saya mendapatkan bahan untuk berpikir. Bukankah kehidupan manusia juga terkadang seperti itu?

Kita sudah memiliki arah, sudah mempunyai tujuan, sudah diberi petunjuk. Kita bahkan sudah berusaha mengikuti arahan. Tetapi dalam perjalanan, terkadang kita bisa saja kehilangan keseimbangan. Akhirnya arah menjadi tidak jelas.

Sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang bisa “ambyar”?

Setidaknya ada beberapa hal diantaranya adalah Pertama, terlalu tergesa-gesa. Kedua, tumpuan hanya pada satu kaki. Ketiga, hati sedang resah. Keempat, kurang percaya diri. Sebuah gerakan  “ambyar” justru menjadi kenangan yang menyenangkan. Mungkin itulah salah satu alasan saya senang berada di kolam. Sampai Jumpa di lain kesempatan.

Cepu, 11 September 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar