Selasa, 23 September 2025

Tic Tac Toe

Karya : Gutamining Saida 

Hari Selasa, di jam kedua pelaksanaan Penilaian Tengah Semester (PTS), suasana ruang PTS terasa lebih santai dibanding jam pertama. Mata pelajaran yang diujikan adalah informatika. Begitu masuk ke ruang dua, saya langsung bisa merasakan perbedaannya. Jika di jam pertama, pada mata pelajaran matematika, banyak wajah yang terlihat tegang, bahkan ada yang menunduk lama menatap soal sambil menggigit ujung pulpen, kali ini atmosfernya jauh lebih ringan.

Sejak bel tanda dimulainya ujian dibunyikan, para peserta tampak langsung fokus. Ada yang menunduk, menulis dengan cepat, ada pula yang sesekali berhenti berpikir sambil menatap ke atas. Sebagai pengawas, saya  memastikan suasana tetap tertib.

Tidak terasa waktu berjalan 45 menit. Anehnya, sebagian besar siswa sudah selesai. Mereka duduk santai, ada yang menutup mata sejenak, ada pula yang memegang kertas sekadar untuk mencorat-coret. Saya sadar, memang benar bahwa ujian informatika memberi rasa percaya diri lebih bagi mereka. Berbeda dengan matematika yang sering dianggap momok menakutkan, soal-soal informatika rupanya lebih bisa mereka jangkau.

Saat sedang mengawasi PTS, perhatian saya tertuju pada dua peserta di sudut belakang ruangan. Pulpen mereka bergerak cepat di atas kertas. Awalnya saya mengira mereka masih serius mengerjakan soal atau bahkan sedang bekerja sama, memberi kode satu sama lain. Rasa penasaran mendorong saya melangkah mendekat.

Sesampainya di dekat meja mereka, saya mendapati sesuatu yang tak terduga. Mereka tidak sedang mencontek, melainkan asyik bermain sebuah permainan sederhana dengan coretan kotak-kotak kecil. Saya mengernyit lalu bertanya singkat,
“Sudah selesai?”
“Sudah, Bu,” jawab salah satu dari mereka dengan nada yakin.

Saya pun tersenyum. Rupanya, setelah menyelesaikan soal, mereka mencari cara untuk mengisi waktu sambil menunggu bel tanda berakhirnya PTS. Permainan yang mereka mainkan adalah Tic-Tac-Toe, atau dalam bahasa mereka disebut Tik Tak Toe.

Apa itu Tic-Tac-Toe?
Tic-Tac-Toe adalah permainan klasik yang sangat sederhana namun terkenal di seluruh dunia. Bidangnya berupa kotak 3 x 3 yang dibentuk di atas kertas. Dua pemain bergantian mengisi kotak dengan simbol yang berbeda: pemain pertama memakai X, pemain kedua memakai O.

Aturan mainnya sederhana yaitu siapa yang berhasil menyusun tiga simbolnya dalam satu garis lurus baik horizontal, vertikal, maupun diagonal dialah pemenangnya. Jika semua kotak sudah penuh tetapi tidak ada yang berhasil menyusun tiga simbol berderet, maka permainan berakhir seri.

Meski sederhana, permainan ini menyimpan keseruan tersendiri. Hampir semua orang pernah memainkannya di masa kecil, entah saat menunggu guru datang, di waktu istirahat, atau bahkan diam-diam di sela pelajaran.

Bagaimana keseruannya?
Keseruan permainan Tic-Tac-Toe terletak pada beberapa hal yaitu :
1. Cepat dan singkat
Satu ronde permainan biasanya hanya butuh waktu 1–2 menit. Itulah sebabnya permainan ini cocok dimainkan ketika waktu senggang terbatas, seperti menunggu ujian berakhir.

2. Sarat strategi
Walau terlihat sederhana, pemain dituntut cermat. Mereka harus bisa membaca gerakan lawan, menutup peluang kemenangan, sekaligus mencari celah untuk menang. Ada rasa tegang setiap kali dua simbol sudah berjajar, tinggal menunggu satu kotak kosong untuk menentukan pemenang.

3. Menghibur tanpa ribet
Tidak perlu alat khusus selain kertas dan pulpen. Dengan media sederhana, suasana bisa langsung berubah jadi seru. Itulah yang membuat dua peserta tadi tampak begitu antusias hingga lupa sekitar.

4. Membangun interaksi
Walaupun hanya dua orang yang bermain, sering kali yang lain ikut mengamati. Mereka memberi komentar, menebak siapa yang akan menang, bahkan sesekali tertawa jika ada yang salah langkah.

Berbeda dengan mapel lain
Kejadian ini membuat saya merenungkan perbedaan suasana antar mata pelajaran saat PTS. Pada ujian matematika, ruang kelas dipenuhi ketegangan. Banyak peserta tampak cemas, ada yang lama tidak menulis, hanya menatap kosong, bahkan ada yang berulang kali menghela napas berat. Seolah setiap soal menjadi beban besar yang menekan pikiran mereka.

Sebaliknya, saat PTS informatika, rasa percaya diri siswa lebih terlihat. Sebagian besar tampak yakin dengan jawabannya. Hasilnya, dalam waktu singkat banyak yang sudah menuntaskan pekerjaannya. Situasi ruang pun menjadi lebih santai. Bahkan, muncul kreativitas kecil berupa permainan sederhana.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa tiap mata pelajaran memberi pengalaman psikologis yang berbeda bagi siswa. Ada yang memicu kecemasan, ada pula yang menghadirkan rasa percaya diri. Tugas guru adalah melihat sisi lain itu dan mencari cara agar semua mata pelajaran bisa lebih ramah bagi peserta didik.

Melihat dua peserta yang asyik bermain Tik Tak Toe, justru merasa penasaran. Saya mengingatkan untuk meneliti hasil pekerjaan sekali lagi. "Coba kalian baca lagi soalnya.," perintah saya. "Iya baik bu," jawabnya singkat. Mereka membolak balik lembar soal dan sesekali melihat lembar jawaban. Sebenarnya mereka hanya mencari cara untuk mengisi waktu dengan hal sederhana. Dari sini saya belajar bahwa anak-anak selalu punya cara kreatif untuk membuat suasana lebih ringan.

Permainan kecil itu juga memberi saya gambaran, bahwa belajar bukan sekadar soal serius dan tegang. Dalam ruang PTS sekalipun, ada sisi manusiawi yang muncul yaitu rasa bosan, keinginan bermain, hingga kreativitas mencari kesenangan sederhana.

Ketika bel tanda PTS berakhir berbunyi, mereka mengumpulkan lembar jawaban dengan wajah lega. Saya sempat melirik kertas  mereka yang penuh dengan coretan kotak 3x3 berisi simbol X dan O. Rasanya seperti menemukan cerita kecil di balik keseriusan PTS.

PTS tidak hanya mengukur kemampuan akademik, tetapi juga membuka mata kita untuk melihat bagaimana siswa menghadapi tekanan, mengekspresikan diri, dan menemukan cara mereka bertahan dalam suasana ujian. Permainan sederhana seperti Tic-Tac-Toe bisa menjadi bagian dari kisah hari Selasa. 
Cepu, 24 September 2025 

Senin, 22 September 2025

Ku Jawab Dengan Basmalah

 


Karya: Gutamining Saida

Hari kedua pelaksanaan penilaian tengah semester berlangsung dengan suasana yang cukup tenang. Saya mendapat tugas mengawasi jalannya Penilain Tengah Semester. Kali ini saya ditempatkan di ruang dua, dengan mata pelajaran yang terkenal cukup menakutkan bagi sebagian besar siswa yaitu  matematika.

Sejak awal memasuki ruang ujian, saya sudah bisa merasakan bagaimana raut wajah siswa-siswa di hadapan saya. Ada yang penuh percaya diri, duduk tegak sambil memegang pensil seolah siap menghadapi soal apa pun. Ada juga yang terlihat lesu, menunduk bahkan sebelum lembar soal dibagikan. Matematika, bagi sebagian besar mereka, bukanlah pelajaran yang menyenangkan. Justru menjadi momok yang menakutkan, membuat hati ciut sebelum mencoba.

Setelah soal dan lembar jawab dibagikan, saya lanjut memberikan kertas buram agar siswa bisa mencoret-coret, menghitung, atau sekadar menuliskan rumus yang masih mereka ingat. Kertas buram itu biasanya menjadi sahabat bagi mereka yang berusaha keras menaklukkan soal. Rupanya tidak semua memanfaatkannya demikian.

Di tengah-tengah pengawasan, perhatian saya tertuju pada seorang siswa di pojok ruangan. Saya memperhatikan dengan seksama, namun tidak langsung menegur. Gerak-geriknya menarik perhatian. Ia tampak membuka soal, lalu tanpa membaca dengan serius, ia langsung memandang opsi pilihan ganda. Saya sempat heran. Bukankah seharusnya siswa membaca soal terlebih dahulu sebelum menentukan jawaban? Tetapi yang saya saksikan justru berbeda.

Siswa itu membacakan lafal basmalah perlahan. Saat kalimat bacaan itu berhenti, di situlah ia menentukan pilihan. Misalnya jika berhenti di opsi C, maka C itulah yang ia silang. Begitu terus cara ia menjawab. Awalnya saya hanya memperhatikan sambil menahan senyum, berpikir mungkin hanya sekali saja ia melakukannya. Setelah saya cermati, rupanya sebagian soal ia kerjakan dengan cara yang sama.

Saya pun mendekat. Dengan nada lembut saya bertanya, “Kenapa soalnya tidak dibaca dulu?” Ia mendongak sambil tersenyum, wajahnya polos tanpa beban. Jawabannya singkat, “Tidak bisa, Bu.” Saya kembali menegaskan, “Coba dibaca dulu soalnya.” Tetapi ia menggeleng sambil berkata lirih, “Saya tidak bisa matematika, Bu.”

Kalimat itu seakan menohok hati saya. Bukan karena ia tidak bisa, melainkan karena sikap pasrahnya seolah-olah menandakan sudah tidak ada lagi semangat untuk mencoba. Saya menatap kertas buram yang ada di mejanya. Bukan penuh dengan angka, coretan rumus, atau perhitungan, melainkan gambar-gambar yang ia buat entah sekadar mengisi waktu atau melampiaskan rasa bosannya. Ada bentuk-bentuk abstrak, ada wajah kartun, bahkan coretan seperti ikan. Semua itu seolah menjadi bukti bahwa ia tidak menaruh minat sama sekali pada soal yang ada di hadapannya.

Sebagai guru, saya tentu merasa miris. Begitulah potret sebagian anak zaman sekarang. Tidak takut mendapat nilai jelek, bahkan ada yang cenderung santai menghadapinya. Mereka lebih memilih cara instan baik lewat doa tanpa usaha, ataupun menghibur diri dengan menggambar di kertas buram daripada berjuang memahami soal.

Pendidikan hari ini tidak hanya sekadar soal menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan sikap mental yang benar dalam menghadapi kesulitan. Siswa yang saya lihat tadi sebenarnya memberi pesan yang dalam. Ia seolah berkata: “Saya sudah menyerah sebelum bertanding.” Inilah tantangan besar yang dihadapi oleh banyak guru, khususnya dalam pelajaran yang dianggap sulit seperti matematika.

Di sisi lain, saya juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya. Bisa jadi anak itu mengalami pengalaman buruk dengan matematika sejak lama, sehingga rasa takut dan tidak percaya diri menumpuk sampai akhirnya ia benar-benar menutup pintu untuk mencoba. Atau mungkin ia belum menemukan cara belajar yang sesuai dengan gayanya. Setiap anak memang unik. Ada yang cepat paham dengan angka, ada pula yang lebih menonjol di bidang seni, olahraga, atau bahasa.

Ketika saya mengingat kembali senyumnya saat menjawab “tidak bisa, Bu”, saya melihat ada kejujuran dan kepolosan. Ia tidak berpura-pura sibuk, tidak pula mencoba mencontek. Ia hanya menunjukkan dirinya apa adanya, meskipun caranya tentu tidak tepat.

Pengalaman kecil itu membuka mata saya. Tugas guru tidak hanya mengajarkan rumus dan soal, melainkan juga membangkitkan semangat, mengajarkan bahwa mencoba itu penting, meskipun hasilnya belum sempurna. Nilai jelek memang bisa mempermalukan sementara, tetapi menyerah tanpa usaha akan merugikan sepanjang hidup.

Saya membayangkan, alangkah indahnya jika setiap anak berani berkata: “Saya akan mencoba, walaupun saya tidak tahu hasilnya.” Dengan begitu, setiap ujian bukan lagi menjadi beban, melainkan kesempatan untuk mengukur kemampuan diri.

Kejadian di ruang dua pada hari itu menjadi catatan tersendiri bagi saya. Mungkin terlihat sepele, hanya seorang siswa yang memilih jawaban dengan membaca basmalah. Tetapi di balik itu, ada pelajaran besar tentang mentalitas, usaha, dan sikap menghadapi kesulitan. Saya berharap suatu saat, siswa-siswa seperti dia bisa menemukan keberanian baru. Bahwa doa memang penting, tetapi usaha adalah jalan yang harus dilalui. Karena sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka sendiri yang mau berusaha mengubahnya.

Cepu, 23 September 2025

Minggu, 21 September 2025

Cerita Sabtu Malam


Karya :Gutamining Saida 

Sabtu malam biasanya terasa lengang. Setelah seharian penuh dengan aktivitas mengajar, memeriksa tugas, atau mengurus keluarga, sebagian besar guru memilih untuk menikmati waktu istirahat di rumah. Ada yang menonton televisi, ada yang bercengkerama dengan anak dan cucu, ada pula yang sekadar merebahkan badan sambil menggulir layar ponsel. Namun, malam itu terasa berbeda. Grup WhatsApp bernama “Suka-Suka Gue”, yang dibuat oleh Bu Wiwik beberapa waktu lalu, mendadak ramai.

Grup ini sebenarnya berisi sebagian besar guru IPS, ditambah beberapa guru lain yang sudah akrab dan sering bercanda. Nama grupnya memang terdengar nyeleneh, “Suka-Suka Gue”, hasil ide spontan Bu Wiwik yang terkenal jenaka sekaligus penuh semangat. Biasanya, grup ini hanya ramai saat ada informasi penting tentang jadwal rapat, kegiatan sekolah, atau undangan mendadak. Tetapi kalau sudah Bu Wiwik yang mulai melempar topik, suasana langsung berubah menjadi penuh canda tawa.

Malam itu, Bu Wiwik membuka obrolan dengan topik yang sedang viral di media sosial. Ia menuliskan, “ Memuliakan murid". Kalimat itu langsung mengundang perhatian. Dalam hitungan menit, notifikasi pun berdering bertubi-tubi.

Salah satu anggota grup langsung menimpali dengan komentar singkat, “Yang mulia hah!” Spontan Bu Indri. 
“Walah, kok mengingatkan masa lalu.”
“Lha teringat je, wkwkwk,” sahut anggota lain. Tak lama kemudian, Bu Wiwik mengirimkan gambar orang ketawa terbahak-bahak, membuat suasana makin cair.

Saya pun ikut berkomentar, “Masa lalu tak boleh dilupakan.” Sebagai guru IPS, tentu kalimat itu terasa pas, mengingat sejarah selalu mengajarkan untuk tidak melupakan jejak masa lampau. Segera Bu Wiwik menimpali, “Jas Merah ya!”  singkatan dari “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” yang populer dari Bung Karno.
“Betul...” jawab Bu Indri

Obrolan tidak berhenti di situ. Justru semakin melebar ke mana-mana. Pak Bambang tiba-tiba muncul dengan komentar yang membuat semua orang tertawa. “Aku ingat masa lalu, istriku malah marah ke aku, hhhh.”
Seakan tak mau kalah, Bu Wiwik langsung menimpali, “Lho, malah ingat pacar saat SMP!”
Tawa pun pecah. Saya sendiri spontan menambahkan komentar, “Bukannya sampai saat ini kita masih SMP?”
“Iya, SMPN 3 Cepu.” komentar bu Indri.
Semua yang membaca tak kuasa menahan senyum pastinya.

Pak Jum, yang memang sebentar lagi memasuki masa pensiun, ada di grup namun tidak ikut nimbrung malam ini. Saya menulis di grup, “Pak Jum yang sebentar lagi lulus.” Membaca itu, Bu Indri cepat-cepat menambahkan, “Lulus cumlaude!” Lengkap sudah suasana keakraban malam itu.

Walaupun hanya lewat layar ponsel, kebersamaan terasa begitu hangat. Seakan-akan kami sedang duduk di ruang guru SMPN 3, bercanda sambil menikmati air minum dan jajanan pasar. Obrolan ngalor-ngidul, saling melempar canda, diselingi gurauan khas yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang akrab satu sama lain.

Saya merasa, ada sesuatu yang istimewa dalam percakapan itu. Biasanya, obrolan di grup hanya singkat, sering kali kaku dan seperlunya. Tetapi malam itu berbeda. Seakan ada energi kebersamaan yang menyatukan, membuat semua merasa dekat. Bahkan, nama grup “Suka-Suka Gue” benar-benar terasa sesuaiyaitu obrolan mengalir tanpa beban, sesuka hati, penuh warna.
\
Malam semakin larut, tetapi percakapan tak kunjung reda. Notifikasi tetap berbunyi satu demi satu. Ada yang menambahkan stiker, ada yang mengirim emotikon tertawa, ada pula yang hanya menuliskan “wkwkwk” berkali-kali. Bagi saya, momen seperti ini adalah salah satu bentuk kebersamaan yang langka. Tidak ada tekanan, tidak ada formalitas, hanya tawa yang tulus dan rasa persaudaraan.

Saya jadi teringat, betapa kebersamaan guru bukan hanya dibangun di ruang kelas atau saat rapat resmi. Justru lewat momen sederhana seperti ini, ikatan itu terasa kuat. Malam itu, kami seakan sedang berbagi ruang yang sama, walau dipisahkan oleh jarak rumah masing-masing.

Sabtu malam itu akhirnya terasa seperti malam yang penuh hangat, meskipun hanya melalui layar kecil ponsel. Saya merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga besar yang selalu punya cara untuk menciptakan keceriaan. Kebersamaan di grup WhatsApp “Suka-Suka Gue” malam itu seperti menghadirkan kembali suasana ruang guru Esmega yaitu penuh canda, gurauan, dan cerita yang mengalir begitu saja. Sebuah bukti bahwa persaudaraan tidak selalu harus bertatap muka. Kadang, lewat pesan singkat di dunia maya pun, kehangatan bisa hadir nyata dan membuat hati terasa lebih ringan.
Cepu, 21 September 2025 

Rabu, 17 September 2025

Belajar Tanpa Batas

 


Karya: Gutamining Saida

Suasana sekolah terasa cukup lengang. Saya sedang kosong jam, dan kebetulan Bu Wiwik juga tampak memiliki waktu longgar. Pikiran saya langsung teringat pada satu hal yang sejak beberapa waktu lalu ingin saya coba yaitu belajar cara menggunakan printer sekolah. Selama ini saya sering merasa sungkan karena belum terlalu paham bagaimana proses mencetak dokumen dengan baik, apalagi kalau harus menyambungkan laptop dengan perangkat yang ada di ruang guru.

Saya memberanikan diri menghampiri Bu Wiwik. “Bu Wiwik, tolong saya diajari ngeprint,” ucap saya singkat sambil tersenyum, berharap beliau bersedia meluangkan waktu. Beliau menoleh sambil tersenyum kecil. “Mau ngeprint apa? Sudah disetting laptopnya?” tanyanya dengan nada ramah namun tegas.

Saya agak bingung harus menjawab apa. “Pakai WhatsApp aja, Bu,” jawab saya cepat, maksudnya file yang ingin saya print sebenarnya sudah tersimpan di WhatsApp, tinggal dipindahkan ke laptop.

“Segera nyalakan dulu komputernya,” kata Bu Wiwik sambil mengisyaratkan agar saya mendekat ke meja komputer yang terhubung dengan printer sekolah.

“Siap,” jawab saya singkat dengan semangat.

Sambil saya mencoba menyalakan komputer, Bu Wiwik tiba-tiba nyeloteh dengan candaannya yang khas, “Bu Saida, jangan ngeprintah lho… tidak ya…”

Saya tertawa mendengarnya. Rupanya beliau sedang bermain kata antara ngeprint dengan ngeprintah. “Iya, Bu, saya cuma mau ngeprint lembar kerja siswa,” jawab saya sambil tersenyum malu-malu.

Suasana menjadi cair. Awalnya saya agak canggung, takut merepotkan beliau. Candaan itu membuat saya merasa lebih santai. Kami pun mulai belajar bersama. Bu Wiwik menunjukkan cara membuka file dari WhatsApp. Ternyata, saya harus lebih teliti memindahkan dokumen ke folder komputer agar mudah ditemukan. Beliau juga menjelaskan bahwa printer sekolah memiliki aturan tertentu tidak boleh mencetak file sembarangan, tinta harus digunakan dengan hemat, dan setiap guru sebaiknya bertanggung jawab atas dokumen yang ia cetak.

“Kalau lembar kerja siswa jumlahnya banyak, usahakan sudah disetting rapi di rumah,” kata Bu Wiwik memberi nasihat. “Biar waktu mencetak tidak terlalu lama.” Saya mengangguk-angguk tanda mengerti.  Kali ini saya benar-benar merasa beruntung bisa belajar langsung dari teman yang sabar menjelaskan. 

Tak butuh waktu lama, printer mulai berbunyi. Kertas demi kertas keluar dengan rapi, berisi lembar kerja siswa yang saya persiapkan untuk pertemuan esok. Rasanya seperti sebuah keberhasilan kecil. Dari hal yang tampak sederhana memencet tombol print saya belajar bahwa setiap orang punya proses. Ada yang cepat menguasai teknologi, ada pula yang perlu waktu dan bantuan orang lain.

Saya memandangi kertas-kertas itu sambil tersenyum. “Alhamdulillah, akhirnya bisa juga, Bu.” Bu Wiwik tersenyum balik. “Nah, kan. Tinggal sering dicoba saja, lama-lama pasti terbiasa.” Ada rasa hangat dalam hati saya. Ternyata, belajar tidak harus selalu di ruang kelas dengan murid-murid. Belajar juga bisa terjadi di ruang guru, antar rekan kerja, bahkan dalam hal-hal kecil seperti mengoperasikan printer. 

Dari pengalaman singkat itu, saya menyadari satu hal belajar sesama teman memang tidak mengenal batas. Kadang kita merasa malu mengakui bahwa kita belum bisa sesuatu, padahal justru dengan jujur meminta bantuan, kita membuka jalan untuk tumbuh. Teman-teman di sekolah adalah sumber ilmu yang luar biasa. Ada yang mahir teknologi, ada yang pintar mengatur administrasi, ada pula yang ahli dalam membimbing siswa dengan sabar.

Saya juga teringat, betapa indahnya jika setiap guru saling melengkapi. Bukan hanya dalam urusan pelajaran, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ada yang pandai memasak lalu berbagi bekal, ada yang rajin menulis lalu menginspirasi teman lainnya, atau seperti Bu Wiwik hari itu, yang dengan sabar mengajari saya cara ngeprint. 

Ketika saya kembali duduk di kursi, saya termenung sejenak. Waktu yang tadinya kosong kini terisi dengan pembelajaran berharga. Saya merasa tidak ada waktu yang sia-sia selama kita mau memanfaatkannya. Bahkan waktu senggang bisa menjadi kesempatan emas untuk menambah keterampilan baru.

Saya membatin dalam hati, inilah indahnya kebersamaan di sekolah. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah, semua punya kesempatan untuk berbagi. Saya yang belajar dari Bu Wiwik. Besok lusa, mungkin saya yang bisa membantu beliau dalam hal lain. Lingkaran kebaikan semacam ini yang membuat suasana sekolah tetap hidup dan penuh makna. 

Sambil merapikan lembar kerja siswa, saya berkata, “Terima kasih banyak, Bu. Berkat bimbingan panjenengan, saya jadi bisa.” Bu Wiwik hanya tersenyum sambil berucap, “Sama-sama, Bu. Yang penting, jangan kapok mencoba. Kalau lupa, tanya lagi saja.”

Saya tersenyum lebar, merasa dikuatkan oleh kalimat sederhana itu. Betapa menyenangkannya punya teman yang tidak pelit ilmu, tidak menghakimi, dan mau berbagi pengalaman. Saya belajar dua hal sekaligus yaitu cara mencetak dokumen di printer sekolah, dan arti pentingnya saling membantu antar teman. Belajar ternyata bukan hanya soal teori atau teknologi, tapi juga soal kebersamaan, kerendahan hati, dan keberanian untuk bertanya.

Sejak saat itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak malu lagi jika belum bisa sesuatu. Karena belajar memang tidak mengenal batas usia, waktu, maupun tempat. Selama kita mau membuka diri, selalu ada ruang untuk tumbuh bersama. Dan siapa sangka, sebuah permintaan singkat untuk diajari ngeprint bisa menjadi momen penuh makna tentang persahabatan, kerendahan hati, dan pembelajaran tanpa batas.

Cepu, 18 September 2025

Kebersamaan Rabu Pagi

                     

Karya: Gutamining Saida

Rabu pagi itu udara terasa segar. Mentari mulai menampakkan sinarnya di balik pepohonan halaman Esmega. Hiruk pikuk suara siswa yang datang berlarian menuju kelas masing-masing terdengar bersahut-sahutan. Di sudut lain, ruang guru sudah mulai terisi dengan aktivitas khas pagi yaitu ada yang membuka buku catatan, ada yang sibuk memeriksa berkas, ada pula yang sekadar duduk sarapan pagi dan minum teh hangat sambil bercakap ringan.

Di tengah suasana itu, Bu Warti muncul dengan langkah pelan namun penuh semangat. Di tangannya terlihat sebuah tas berisi kotak bekal ukuran besar yang ditutup rapat. Tidak seperti biasanya, pagi itu beliau membawa bekal istimewa, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dinikmati bersama para guru. Wajahnya tampak sumringah, seakan ada kebahagiaan yang ingin dibagi.

“Assalamu’alaikum," sapanya sambil meletakkan tas di meja.
"Waalaikum salam." jawab ibu-ibu terasa kompak.
Rasa penasaran pun langsung muncul. Beberapa ibu guru mulai melirik, bertanya-tanya apa isi tas bekal besar itu. Tanpa menunggu lama, Bu Warti membuka tutupnya. Aroma harum khas tumisan mie goreng langsung menyeruak memenuhi ruangan. Wanginya begitu menggoda, membuat siapa pun yang menghirupnya ingin segera mencicipi.

“Silakan, bapak-ibu. Ini ada sedikit rezeki, tadi pagi saya sengaja masak lebih banyak. Mari kita nikmati bersama,” ucap Bu Warti dengan tulus. Tawaran itu tentu saja disambut dengan gembira. Sebagian guru yang sudah duduk, langsung bangkit dan menghampiri. Ada yang membawa piring, ada yang mengambil mangkok kecil, bahkan ada yang seadanya menggunakan kertas minyak. Semua tampak antusias, wajah mereka memancarkan kebahagiaan sederhana.

Tampilan mie goreng buatan Bu Warti sungguh mengundang selera. Mie berwarna kuning keemasan berpadu dengan irisan kol, sawi, dan wortel, ditambah taburan bawang goreng di atasnya. Namun yang paling mencolok adalah potongan cabe rawit hijau yang tersebar merata di antara helai-helai mie. Dari warnanya saja sudah bisa ditebak, masakan ini tidak hanya gurih tapi juga pedas menyengat.

Tak lama kemudian, sendok dan garpu mulai beradu dengan semangat. Suara gelak tawa pun mengiringi. Saat itu, Bu Indri yang baru saja menyuapkan mie ke mulutnya, spontan bersuara lantang.
“Waduh… mie-nya pedes banget, Bu Warti!” katanya sambil mengipas-ngipas mulutnya.

Ucapan itu sontak membuat suasana makin ramai. Belum sempat semua guru tertawa, Pak Bambang dengan nada tenang tapi penuh kepastian langsung menimpali,
“Bukan, Bu. Yang pedas itu bukan mienya, tapi cabenya!”

Kalimat sederhana itu justru mengundang reaksi beragam. Ada yang hanya tersenyum simpul, ada yang menahan tawa, dan ada juga yang langsung tertawa terbahak-bahak. Suasana ruang guru seketika menjadi lebih hangat.

“Pedes tapi enak, Bu Warti,” komentar salah satu guru lain sambil tetap melahap suap demi suap.
“Betul! Pedes cabe enak, asal jangan sepedas bicaramu, heheee…” celetuk guru lainnya dengan nada bercanda.

Canda itu semakin membuat suasana cair. Gelak tawa bersahut-sahutan, seakan-akan ruang guru berubah menjadi tempat kumpul keluarga besar yang penuh keakraban. Beberapa guru yang memang sedang lapar, tidak begitu peduli dengan percakapan jenaka yang terjadi. Mereka lebih memilih fokus menikmati setiap suapan mie goreng dengan penuh syukur.

Di tengah riuh itu, tampak jelas bagaimana kebersamaan tercipta. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Semua larut dalam rasa yang sama yaitu syukur dan kebahagiaan. Makanan sederhana yang disajikan dengan ketulusan mampu menghadirkan momen istimewa yang akan diingat dalam waktu lama.

Bu Warti sendiri hanya tersenyum melihat tingkah laku rekan-rekannya. Hatinya lega, bahagia karena masakannya membawa keceriaan bagi banyak orang. Ia tidak pernah menyangka mie goreng buatannya bisa menciptakan suasana seperti itu.

“Alhamdulillah, kalau bapak-ibu semua suka. Walau pedas, semoga tetap berkesan,” katanya sambil menatap kotak bekal yang mulai kosong.

Guru-guru lain pun saling melempar komentar ringan. Ada yang membandingkan mie goreng itu dengan buatan rumahnya sendiri, ada yang meminta resep, bahkan ada yang berseloroh kalau setiap Rabu sebaiknya Bu Warti rutin membawa bekal untuk kita semua. Semua tawa itu membuktikan satu hal yaitu rasa kebersamaan yang tulus mampu menghapus penat rutinitas pekerjaan.

Seiring waktu berjalan, kegiatan sarapan bersama itu perlahan usai. Piring dan mangkok yang tadi penuh kini sudah kosong, hanya menyisakan aroma pedas yang masih terasa di lidah. Guru-guru kembali ke meja masing-masing, melanjutkan aktivitas sebelum bel tanda masuk berbunyi. Suasana hati mereka berbeda. Ada semangat baru, ada energi positif yang lahir dari sekedar kebersamaan sederhana.

Ruang guru pagi itu bukan hanya tempat singgah untuk bekerja, melainkan menjadi ruang kebahagiaan bersama. Dari sekotak bekal mie goreng yang dibagi dengan ikhlas, lahirlah senyum, canda, dan rasa syukur.

Kebersamaan, itulah yang sebenarnya paling mahal. Bukan soal siapa yang membawa makanan, bukan juga soal seberapa enaknya masakan, melainkan tentang niat baik untuk berbagi. Di balik pedasnya cabai yang sempat diperdebatkan, ada manisnya persaudaraan yang terjalin semakin erat.

Rabu pagi yang sederhana berubah menjadi kenangan indah bagi guru-guru esmega. Di benak mereka, mie goreng Bu Warti bukan hanya makanan, melainkan simbol kasih, persaudaraan, dan rasa syukur atas rezeki yang Allah kirimkan lewat tangan yang ikhlas. Semoga semakin lancar dan  berkah rezekinya. Aamiin

Renungan Kehidupan

Karya : Gutamining Saida
Hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh warna. Ada tawa, ada tangis. Ada suka, ada duka. Ada keberhasilan yang membuat kita bangga, dan ada kegagalan yang membuat kita merasa jatuh begitu dalam. Di balik semua itu, hidup selalu memberi kita kesempatan untuk belajar. Belajar menerima, belajar melepaskan, belajar bersyukur, dan belajar melangkah dengan hati yang lebih kuat dari sebelumnya.

Sering kali kita terjebak dalam lingkaran kekhawatiran. Pikiran kita melayang jauh ke depan, membayangkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Kita cemas akan masa depan, takut gagal, takut tidak mampu, takut kehilangan, takut tidak bahagia. Padahal, kecemasan itu hanyalah bayangan pikiran yang melemahkan hati. Allah yang Maha Mengatur sudah menyiapkan takdir terbaik untuk setiap hamba-Nya, meskipun jalan yang ditempuh terkadang terasa sulit untuk dimengerti. Maka, berhentilah mencemaskan apa yang belum terjadi. Bukankah masa depan bukan milik kita? Bukankah masa depan sepenuhnya rahasia Allah?

Hidup akan terasa lebih ringan jika kita mau menerima apa yang sudah Allah Subhanahu Wata'alla beri. Apa yang ada dalam genggaman kita hari ini adalah anugerah, meski mungkin tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Kita sering menuntut sesuatu yang lebih, ingin keadaan selalu sesuai dengan harapan, tanpa menyadari bahwa apa yang sudah Allah titipkan jauh lebih berharga daripada yang kita pinta. Lihatlah napas yang masih bisa kita hirup, tubuh yang masih bisa bergerak, keluarga yang masih membersamai, rezeki yang masih bisa kita nikmati, dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Bukankah semua itu sudah cukup untuk disyukuri?

Berlatihlah untuk menerima takdir dengan lapang dada, meski terkadang hati menolak. Karena di balik setiap kejadian, selalu ada hikmah. Mungkin hari ini kita kecewa, tetapi kelak kita akan menyadari bahwa kekecewaan itulah yang membawa kita pada sesuatu yang lebih indah. Mungkin hari ini kita merasa kehilangan, tetapi sejatinya Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan arti keteguhan dan penguatan iman. Mungkin hari ini kita merasa tidak adil, tetapi Allah  Subhanahu Wata'alla sedang mendidik kita untuk sabar dan percaya pada rencana-Nya.

Dan yang tak kalah penting, maafkanlah diri sendiri. Terlalu sering kita menyalahkan diri atas kesalahan masa lalu. Terlalu keras kita menghukum hati dengan penyesalan yang tak berkesudahan. Padahal, manusia memang tempat salah dan lupa. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Allah pun Maha Pengampun dan selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya. Maka, mengapa kita tidak berani memaafkan diri kita sendiri? Biarkan kesalahan itu menjadi pelajaran, bukan jerat yang membuat kita terpuruk selamanya.

Melangkahlah dengan senang hati. Jangan biarkan masa lalu mengikat kaki kita, jangan biarkan masa depan yang belum pasti menggelisahkan pikiran kita. Nikmati setiap langkah yang Allah Subhanahu Wata'alla izinkan hari ini. Bersyukur atas yang sudah dicapai, bersabar atas yang belum tercapai, dan terus berusaha tanpa putus asa. Hargailah setiap proses yang kita lalui, karena proses itulah yang membentuk siapa diri kita sesungguhnya. Proses itulah yang menguatkan, yang mendewasakan, yang menjadikan kita lebih arif dalam memandang kehidupan.

Ingatlah, hidup bukan hanya tentang hasil. Hidup adalah tentang perjalanan. Tentang bagaimana kita jatuh, bangkit, lalu belajar berjalan lebih tegap. Tentang bagaimana kita gagal, mencoba lagi, lalu akhirnya tersenyum saat berhasil. Tentang bagaimana kita kehilangan, lalu belajar menemukan kembali arti syukur. Tentang bagaimana kita menangis, lalu menemukan kebahagiaan dari hal-hal sederhana. Semua proses itu tidak sia-sia. Semua itu adalah cara Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan kita arti kehidupan.

Maka, jangan sia-siakan hari-hari yang kita punya dengan mengeluh dan merasa tidak cukup. Waktu berjalan begitu cepat. Apa yang sudah berlalu tidak bisa kita ulang. Apa yang akan datang belum tentu kita miliki. Yang kita punya hanyalah hari ini, detik ini, dan momen ini. Gunakanlah sebaik mungkin untuk berbuat kebaikan, membahagiakan orang lain, menebarkan senyum, dan tentu saja, mendekatkan diri pada Allah.

Percayalah, setiap orang punya jalannya sendiri. Tidak perlu iri pada kehidupan orang lain, tidak perlu membandingkan diri dengan mereka. Apa yang Allah Subhanahu Wata'alla beri untuk orang lain adalah bagian dari rezekinya, dan apa yang Allah  Subhanahu Wata'alla beri untuk kita adalah bagian dari rezeki kita. Tidak akan tertukar, tidak akan tersalah. Yang terpenting adalah bagaimana kita mensyukuri setiap bagian perjalanan itu dengan hati yang ikhlas.

Hidup akan lebih indah jika kita memandangnya dengan kacamata syukur. Segala sesuatu yang kita jalani, meski berat, akan terasa ringan. Segala sesuatu yang kita terima, meski sedikit, akan terasa cukup. Dan segala sesuatu yang kita lalui, meski penuh luka, akan tetap meninggalkan kenangan manis. Karena hati yang penuh syukur tidak pernah merasa kekurangan.

Maka jalani hidup ini dengan sepenuh hati. Berhentilah mencemaskan apa yang belum terjadi. Berlatihlah menerima dan mensyukuri yang sudah Allah Subhanahu Wata'alla beri. Maafkan diri, melangkah dengan senang hati, dan hargai setiap proses yang akan kau lalui. Hidup ini singkat, jangan biarkan ia berlalu tanpa makna. Jadikan setiap detik sebagai ibadah, setiap langkah sebagai doa, dan setiap nafas sebagai bentuk syukur pada Allah yang Maha Pengasih.
Cepu, 17 September 2025

Selasa, 16 September 2025

Latihan soal Pendidikan Pancasila kelas 7 Semester Ganjil

 Pilihlah Jawaban Yang Paling Benar

KELAHIRAN  DAN PERUMUSAN PANCASILA

1. Kapan pertama kali gagasan dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila dikemukakan?
a. 17 Agustus 1945
b. 22 Juni 1945
c. 29 Mei 1945
d. 1 Juni 1945

2. Siapa tokoh yang pertama kali mengusulkan gagasan dasar negara pada sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945?
a. Ir. Soekarno
b. Moh. Yamin
c. Dr. Radjiman Wedyodiningrat
d. Supomo

3. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang berisi gagasan dasar negara. Apa nama yang diberikan Soekarno pada lima gagasan tersebut?
a. Dasar Republik
b. Lima Sila
c. Pancasila
d. Piagam Jakarta

4. Apa isi utama dari Piagam Jakarta yang disusun pada 22 Juni 1945?
a. Rancangan UUD
b. Rancangan Pembukaan UUD yang memuat dasar negara
c. Proklamasi Kemerdekaan
d. Piagam Persatuan

5. Salah satu perbedaan antara Pancasila versi Piagam Jakarta dan Pancasila versi UUD 1945 adalah….
a. Jumlah silanya
b. Rumusan sila pertama
c. Rumusan sila kedua
d. Rumusan sila kelima

6. Piagam Jakarta pada awalnya memuat sila pertama dengan bunyi….
a. Ketuhanan Yang Maha Esa
b. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya
c. Ketuhanan dengan kebebasan beragama
d. Ketuhanan sebagai landasan negara

7. Perubahan sila pertama dari Piagam Jakarta ke UUD 1945 dilakukan untuk….
a. Menghindari perpecahan bangsa
b. Memperkuat pengaruh satu golongan
c. Menolak agama lain
d. Membatasi kebebasan beragama

8. Apa peran Panitia Sembilan dalam perumusan dasar negara?
a. Menyusun rancangan undang-undang ekonomi
b. Menyusun Piagam Jakarta sebagai kompromi dasar negara
c. Membacakan Proklamasi
d. Membubarkan BPUPKI

9. Mengapa peristiwa 1 Juni 1945 dianggap sebagai hari lahir Pancasila?
a. Karena pada hari itu Soekarno mengusulkan dasar negara Pancasila
b. Karena pada hari itu Proklamasi dibacakan
c. Karena pada hari itu BPUPKI dibubarkan
d. Karena pada hari itu Piagam Jakarta ditandatangani

10. Nilai penting dari proses perumusan Pancasila adalah….
a. Menunjukkan kompromi politik antar golongan demi persatuan bangsa
b. Menunjukkan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain
c. Menunjukkan dominasi budaya tertentu
d. Menunjukkan kekuasaan pemerintah kolonial


BPUPKI dan PPKI

1. BPUPKI dibentuk oleh Jepang pada tanggal….
a. 1 Maret 1945
b. 29 April 1945
c. 17 Agustus 1945
d. 7 Agustus 1945

2. Ketua BPUPKI adalah….
a. Dr. Radjiman Wedyodiningrat
b. Ir. Soekarno
c. Drs. Moh. Hatta
d. Mr. Moh. Yamin

3. Sidang pertama BPUPKI berlangsung pada tanggal….
a. 29 Mei – 1 Juni 1945
b. 10 – 17 Juli 1945
c. 22 Juni 1945
d. 7 Agustus 1945

4. Tokoh yang mengusulkan dasar negara pada sidang BPUPKI 29 Mei 1945 adalah….
a. Ir. Soekarno
b. Moh. Yamin
c. Supomo
d. Drs. Moh. Hatta

5. Panitia Sembilan menghasilkan sebuah naskah kompromi yang dikenal dengan nama….
a. UUD 1945
b. Piagam Jakarta
c. Pancasila
d. Proklamasi

6. PPKI dibentuk sebagai pengganti BPUPKI pada tanggal….
a. 7 Agustus 1945
b. 17 Agustus 1945
c. 18 Agustus 1945
d. 22 Juni 1945

7. Ketua PPKI adalah….
a. Ir. Soekarno
b. Drs. Moh. Hatta
c. Radjiman Wedyodiningrat
d. Supomo

8. Keputusan penting PPKI pada sidang 18 Agustus 1945 adalah….
a. Membentuk BPUPKI
b. Mengesahkan UUD 1945 dan memilih presiden serta wakil presiden
c. Membentuk Panitia Sembilan
d. Membacakan teks Proklamasi

9. Presiden dan wakil presiden pertama Republik Indonesia yang dipilih PPKI adalah….
a. Soekarno dan Supomo
b. Soekarno dan Moh. Hatta
c. Soekarno dan Moh. Yamin
d. Soekarno dan Radjiman

10. Selain mengesahkan UUD 1945, PPKI juga membentuk….
a. KNIP sebagai lembaga legislatif sementara
b. BPUPKI sebagai lembaga penasihat
c. Panitia Persiapan Pembangunan Nasional
d. Partai Politik pertama di Indonesia

Cepu, 17 September 2025

PETA



Pengertian Peta

Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu, dilengkapi dengan simbol-simbol untuk menunjukkan objek atau kenampakan yang ada di permukaan bumi.


Komponen Peta (Unsur-unsur Peta)

  1. Judul Peta → Menunjukkan isi atau tema peta.

  2. Skala Peta → Perbandingan jarak pada peta dengan jarak sebenarnya di lapangan.

  3. Legenda → Keterangan tentang arti simbol-simbol pada peta.

  4. Simbol Peta → Gambar sederhana untuk mewakili objek nyata, misalnya gunung, sungai, jalan.

  5. Garis Astronomis → Garis lintang dan garis bujur sebagai penunjuk letak.

  6. Arah Mata Angin → Penunjuk arah, biasanya ditandai dengan panah ke utara.

  7. Garis Tepi Peta (Frame) → Batas luar peta agar terlihat rapi.

  8. Sumber Peta → Menunjukkan asal data peta.

  9. Inset → Peta kecil tambahan yang menjelaskan lokasi tertentu dari peta utama.


Letak Komponen Peta dan Penjelasan

  1. Judul Peta

    • Letaknya: Bagian atas peta (tengah atau kiri atas).

    • Menjelaskan isi atau tema peta, misalnya “Peta Provinsi Jawa Tengah”.

  2. Skala Peta

    • Letaknya: Bagian bawah judul atau di tepi peta.

    • Menunjukkan perbandingan jarak peta dengan jarak sebenarnya.

  3. Legenda

    • Letaknya: Bagian bawah atau samping peta.

    • Berisi keterangan simbol-simbol yang dipakai pada peta.

  4. Simbol Peta

    • Letaknya: Menyebar di dalam bidang peta sesuai objek yang digambarkan.

    • Misalnya simbol gunung, sungai, kota.

  5. Garis Astronomis (Lintang & Bujur)

    • Letaknya: Membentang horizontal (lintang) dan vertikal (bujur) di bidang peta.

    • Untuk menunjukkan koordinat lokasi.

  6. Arah Mata Angin

    • Letaknya: Umumnya di pojok atas peta.

    • Simbol panah menunjuk ke utara (N).

  7. Garis Tepi (Frame)

    • Letaknya: Mengelilingi seluruh peta di bagian paling luar.

    • Berfungsi membatasi bidang peta agar rapi.

  8. Sumber Peta

    • Letaknya: Bagian bawah peta.

    • Menunjukkan asal data atau pembuat peta.

  9. Inset

    • Letaknya: Di pojok peta (biasanya kanan bawah).

    • Berupa peta kecil tambahan untuk memperjelas lokasi tertentu.

Fungsi Peta

  1. Menunjukkan lokasi suatu tempat di permukaan bumi.

  2. Menunjukkan jarak antar tempat.

  3. Menunjukkan arah antar lokasi.

  4. Menyajikan informasi spasial (persebaran fenomena alam dan sosial).

  5. Sebagai alat analisis dalam perencanaan pembangunan, transportasi, atau pertahanan.

  6. Sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan data dan informasi geografi secara visual.

Cepu, 17 September 2025

Latihan Soal IPS kelas 7 Semester Ganjil

 

Soal Pilihan Ganda Materi Keluarga

1. Apa arti keluarga secara umum?
a. Sekumpulan orang yang tinggal di satu rumah tanpa hubungan darah
b. Sekumpulan orang yang terikat hubungan darah, perkawinan, atau adopsi
c. Sekumpulan orang yang bekerja di satu tempat
d. Sekumpulan orang yang memiliki hobi sama

2. Keluarga inti terdiri atas….
a. Ayah, ibu, anak
b. Ayah, ibu, kakek, nenek
c. Ayah, ibu, paman, bibi
d. Ayah, ibu, sepupu

3. Keluarga besar biasanya melibatkan….
a. Ayah, ibu, dan anak
b. Ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, sepupu
c. Ayah, ibu, dan anak angkat
d. Teman dan sahabat dekat

4. Fungsi utama keluarga adalah….
a. Mengatur ekonomi negara
b. Memberikan perlindungan, kasih sayang, dan pendidikan
c. Menjadi pemimpin masyarakat
d. Mencari keuntungan pribadi

5. Salah satu tujuan keluarga adalah….
a. Membentuk kelompok politik
b. Membentuk kebersamaan, kasih sayang, dan kesejahteraan
c. Menciptakan persaingan antaranggota
d. Membuat aturan hukum negara

6. Yang termasuk jenis keluarga adalah….
a. Keluarga inti dan keluarga besar
b. Keluarga inti dan keluarga kantor
c. Keluarga besar dan keluarga sekolah
d. Keluarga inti dan keluarga negara

7. Keluarga inti juga dikenal dengan istilah….
a. Nuclear family
b. Extended family
c. Step family
d. Single parent

8. Keluarga besar dalam bahasa Inggris disebut….
a. Single family
b. Extended family
c. Nuclear family
d. Modern family

9. Mengapa keluarga disebut sebagai lingkungan pertama bagi anak?
a. Karena anak pertama kali berinteraksi dan belajar di dalam keluarga
b. Karena keluarga selalu memberi hadiah
c. Karena keluarga tempat mencari uang
d. Karena keluarga adalah tempat bermain

10. Salah satu tujuan dibentuknya keluarga adalah….
a. Membentuk kesejahteraan lahir dan batin bagi anggota keluarga
b. Menjadi organisasi politik
c. Menjadi pengusaha sukses
d. Menjadi pemimpin desa


Soal Pilihan Ganda Materi Letak Indonesia

1. Letak geografis Indonesia berada di antara dua benua, yaitu….
a. Asia dan Eropa
b. Asia dan Australia
c. Eropa dan Afrika
d. Afrika dan Amerika

2. Indonesia terletak di antara dua samudra besar, yaitu….
a. Pasifik dan Atlantik
b. Hindia dan Pasifik
c. Atlantik dan Arktik
d. Hindia dan Arktik

3. Letak astronomis Indonesia berada pada garis lintang….
a. 6° LU – 11° LS
b. 6° LU – 11° LU
c. 95° BT – 141° BT
d. 10° LS – 10° LU

4. Letak astronomis Indonesia pada garis bujur adalah….
a. 6° LU – 11° LS
b. 95° BT – 141° BT
c. 0° – 90° BT
d. 120° BT – 150° BT

5. Letak astronomis Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki….
a. 2 zona iklim
b. 3 zona waktu
c. 4 zona waktu
d. 5 zona waktu

6. Letak geologis Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng besar, yaitu….
a. Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik
b. Lempeng Atlantik, Pasifik, dan Eurasia
c. Lempeng Afrika, Pasifik, dan Eurasia
d. Lempeng Indo-Australia, Afrika, dan Arktik

7. Akibat letak geologis Indonesia, negara ini memiliki banyak….
a. Tambang emas
b. Gunung api dan rawan gempa
c. Sungai panjang
d. Gurun pasir

8. Salah satu keuntungan letak geografis Indonesia adalah….
a. Mudah terkena bencana alam
b. Menjadi jalur lalu lintas perdagangan internasional
c. Menjadi tempat paling dingin di dunia
d. Terisolasi dari negara lain

9. Karena letak geografisnya, Indonesia memiliki iklim….
a. Subtropis
b. Tropis
c. Kutub
d. Gurun

10. Letak geologis Indonesia yang berada di “Ring of Fire” menyebabkan….
a. Indonesia tidak memiliki gunung berapi
b. Indonesia memiliki banyak gunung berapi aktif
c. Indonesia menjadi daerah gurun
d. Indonesia tidak pernah mengalami gempa bumi



Senin, 15 September 2025

Semangat Siswa 8H

 

Karya : Gutamining Saida

Jam pembelajaran ke-5 samapi ke-6 selalu terasa berbeda bagi saya, terutama ketika berhadapan dengan kelas 8H. Suasana yang biasanya mulai lelah setelah beberapa jam belajar, hari itu justru berubah menjadi penuh antusiasme. Agenda pembelajaran kali ini adalah praktik membuat pop up book IPS, sebuah kegiatan yang menggabungkan kreativitas dengan pemahaman materi. Sejak awal, saya sudah merasakan energi semangat yang luar biasa dari mereka.

Begitu memasuki kelas, saya melihat meja-meja sudah dipenuhi alat dan bahan. Ada kertas manila warna-warni, lem, gunting, kertas origami, penggaris, hingga potongan gambar yang dipersiapkan dari rumah. Anak-anak tampak tidak sabar untuk memulai. Saya pun memberikan sedikit arahan, bagaimana langkah-langkah membuat pop up book, lalu mempersilakan mereka bekerja sesuai imajinasi dan tema yang dipilih.

Tak butuh waktu lama, suasana kelas seakan berubah menjadi bengkel seni. Ada yang serius mengukur lipatan kertas, ada yang sibuk menggunting gambar, ada pula yang berdiskusi dengan teman sebangku. Lantai kelas penuh dengan sisa potongan kertas, tangan mereka belepotan lem, tetapi wajah-wajah itu memancarkan kebahagiaan. Saya berjalan mengitari kelas, memperhatikan satu per satu, kadang memberi masukan kecil, kadang hanya tersenyum melihat kreativitas mereka.

Tiba-tiba, suara Vano memecah konsentrasi seluruh kelas. Dengan nada heboh ia berteriak, “Bu… Bu… sini, tombol ini tolong pencet!” Saya pun mendekat dengan penasaran. Ternyata, pada karya pop up book yang sedang ia buat, Vano menempelkan sebuah kertas berbentuk seperti tombol. Ia ingin saya ikut serta merasakan efek kejutan yang ia siapkan.

Saya menunduk, lalu menaruh jari telunjuk di atas “tombol” itu. Dengan gaya bercanda, saya ucapkan, “Theng… thong…” sambil pura-pura menekan tombol tersebut. Anak-anak di sekitar Vano langsung tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi saya. Tapi momen itu justru menjadi semakin menarik ketika Vano ikut menambahkan, “Assalamu’alaikum…” sambil membuka bagian pop up yang ia rancang.

Ternyata di balik lipatan kertas itu muncul tampilan pop up dengan beberapa gambar dan keterangan tema yang ia pilih. Sungguh kreatif! Vano bukan hanya sekadar membuat pop up book, tetapi juga menyisipkan unsur interaktif seolah bukunya memiliki tombol ajaib yang bisa “dibuka” dengan salam. Saya pun ikut kagum dan tak segan memberikan apresiasi. “MasyaAllah, bagus sekali, Vano! Ide kamu keren, bisa bikin orang penasaran dulu baru terbuka isinya.”

Momen itu membuat saya merasa bangga sekaligus bahagia. Anak-anak tidak hanya menjalankan instruksi, tetapi benar-benar berusaha berkreasi sesuai kemampuan dan imajinasi mereka. Pop up book yang dihasilkan pun menjadi lebih hidup, penuh variasi, dan tidak monoton.

Saya kembali berkeliling kelas. Beberapa siswa sedang sibuk menempel gambar pahlawan, ada yang menampilkan peta interaktif, bahkan ada yang mencoba membuat efek tiga dimensi sederhana dengan lipatan kertas. Kreativitas mereka sungguh luar biasa, walaupun belum sempurna. Ada yang kertasnya miring, ada yang lemnya menetes terlalu banyak, ada pula yang salah menempel sehingga harus diulang. Tapi di balik itu semua, saya melihat kegigihan. Tidak ada yang mengeluh atau berhenti. Mereka mencoba lagi dan lagi sampai berhasil.

Di sisi lain kelas, beberapa siswa asyik berdiskusi, saling memberi ide. Saya mendengar ada yang berkata, “Kalau ditempel di sini jadi kurang jelas, coba pindah ke bagian ini aja.” Yang lain menimpali, “Iya, biar nanti pas dibuka kelihatan semua gambarnya.” Diskusi kecil itu membuat suasana kelas semakin hidup. Ada semangat kerja sama yang tumbuh secara alami.

Saya menyadari bahwa kegiatan sederhana ini memberikan banyak manfaat. Anak-anak belajar menggabungkan teori IPS dengan praktik seni, mereka belajar bertanggung jawab menyelesaikan tugas, belajar sabar menghadapi kesulitan, sekaligus belajar menghargai karya teman.

Menjelang akhir jam pelajaran, sebagian karya mulai terlihat utuh. Saya meminta mereka untuk memperlihatkan hasil sementara. Satu per satu mereka mengangkat pop up book masing-masing dengan wajah bangga. Ada yang karyanya penuh warna, ada yang rapi dan sederhana, ada juga yang unik karena menambahkan ide-ide kreatif seperti “tombol” buatan Vano tadi.

Saya merasa haru melihat itu semua. Betapa luar biasanya perjuangan anak-anak ini. Mereka bukan hanya mengerjakan tugas karena kewajiban, tetapi benar-benar menaruh hati dalam prosesnya. Sebagai guru, momen seperti ini membuat saya menyadari betapa berharganya setiap usaha siswa, sekecil apa pun itu.

Sebelum bel berbunyi, saya sempat menyampaikan pesan singkat, “Anak-anak, hari ini Ibu sangat bangga dengan kalian. Pop up book yang kalian buat bukan hanya karya seni, tapi juga bukti bahwa kalian bisa belajar dengan cara menyenangkan. Ingat, kesalahan bukanlah hal yang harus ditakuti. Justru dari kesalahan itu kita bisa belajar lebih baik. Teruslah semangat, karena orang sukses lahir dari proses panjang, bukan dari hasil instan.”

Anak-anak pun menyambut dengan tepuk tangan meriah. Wajah mereka ceria, meski tangan masih belepotan lem dan meja penuh potongan kertas. Namun justru dari keceriaan itu terlihat nilai yang jauh lebih dalam: semangat, tanggung jawab, kreativitas, dan kebersamaan.

Jam pembelajaran 5–6 bersama kelas 8H telah menjadi salah satu momen berharga. Vano dengan tombol ajaibnya, anak-anak lain dengan karya penuh warna, dan tawa yang mengisi ruangan, semua itu menjadi kenangan indah. Saya yakin, suatu hari nanti ketika mereka sudah dewasa, pengalaman kecil membuat pop up book ini akan tetap teringat sebagai bagian dari perjalanan belajar mereka.

Bagi saya, ini adalah hadiah terindah: melihat murid-murid belajar dengan bahagia, berproses dengan semangat, dan menunjukkan bahwa ilmu bisa dirangkai dengan kreativitas serta kebersamaan.

Cepu, 16 September 2025

Semangat di Balik Pop Up Book IPS


Karya: Gutamining Saida

Suasana di kelas 8F di jam pembelajaran 3-4 berbeda dari biasanya. Bukan suara guru yang mendominasi, melainkan riuh rendah siswa yang sibuk dengan alat dan bahan yang mereka bawa. Tugas hari ini adalah membuat pop up book IPS, sebuah proyek kreatif yang menggabungkan pengetahuan dengan keterampilan seni. Sejak pagi, wajah mereka sudah memancarkan antusiasme. Ada yang membawa kertas manila warna-warni, ada pula yang menenteng kertas origami, lem, gunting, dan gambar-gambar pendukung yang diprint, dipotong rapi dari majalah.

Saya memulai kelas dengan sedikit pengarahan tentang apa itu pop up book dan bagaimana caranya menggabungkan materi IPS dengan desain menarik. Setelah itu, saya membiarkan mereka bereksperimen. Suasana kelas pun berubah menjadi bengkel kerja mini. Meja-meja penuh dengan potongan kertas, sisa lem yang menempel di tangan, dan tumpukan gambar yang siap ditempel.

Di tengah keseriusan mereka, terdengar suara Satria yang memecah keheningan. Dengan nada bingung ia berseru, “Dewa ku kemana ini?” Semua siswa yang mendengar langsung menoleh, lalu tertawa serempak. Rupanya Satria kehilangan gambar tokoh dewa yang tadi sudah ia gunting untuk ditempel di pop up book. Ia celingukan ke kiri, ke bawah meja dan ke kanan, mencari-cari dengan wajah panik, sementara teman-temannya menertawakan tingkahnya. Saya pun ikut tersenyum, karena suasana yang tadinya hening berubah hangat oleh candaan spontan.

Tak lama kemudian, giliran Afrei yang membuat kegaduhan kecil. Ia menepuk meja sambil tertawa, “Aduh, bendera saya terbalik! Seharusnya bendera di depan siswa, malah saya tempel di belakang.” Teman-temannya kembali tergelak, beberapa bahkan menirukan gayanya. Saya pun mendekat untuk melihat karyanya. Benar saja, posisi bendera yang ia tempel memang keliru. Afrei menatap saya dengan ekspresi bingung campur malu, lalu bertanya, “Gimana, Bu, caranya biar nggak terbalik?”

Saya pun memberikan arahan sambil mencontohkan, “Kalau posisinya dipindah ke depan begini, akan lebih pas. Coba lepaskan perlahan lalu tempel ulang.” Afrei menanggapi dengan cepat, “Oh iya, iya, Bu. Terima kasih banyak!” katanya sambil kembali semangat memperbaiki karyanya. Melihat kesungguhan itu, hati saya bahagia. Kesalahan kecil justru menjadi bahan belajar yang berarti bagi mereka.

Di sisi lain kelas, Motika yang duduk di tengah hanya senyum-senyum sejak tadi. Saya mendekat dan bertanya, “Kenapa senyum-senyum, Motika?” Dengan malu-malu ia menjawab, “Ini Bu, milik saya juga kebalik!” Ia menunjukkan kertas yang ditempel terbalik arahnya. Saya tertawa kecil lalu menenangkan, “Tidak apa-apa, Orang sukses itu pasti melalui proses panjang. Tetap semangat, ya. Jangan takut salah.” Wajahnya pun kembali berbinar, tampak lebih percaya diri untuk melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu, Mario yang biasanya pendiam justru tampil berbeda hari itu. Tanpa banyak bicara, ia fokus pada kertasnya. Gunting di tangan kirinya bekerja cekatan, sementara lem di tangan kanannya merapikan potongan gambar. Satu demi satu tempelan ia pasang dengan teliti. Saya yang mengamati dari kejauhan sampai takjub, karena Mario benar-benar larut dalam pekerjaannya. Karyanya terlihat rapi dan penuh ide. Dari balik diamnya, ia menunjukkan bahwa dirinya punya kemampuan besar yang kadang tak terlihat saat pembelajaran biasa.

Melihat seluruh kelas, saya merasa bangga. Meskipun ada tawa karena kesalahan, semua siswa tetap menunjukkan tanggung jawab. Mereka tidak menyerah meski sempat salah tempel atau kehilangan gambar. Justru dari situ, muncul keceriaan, canda, dan rasa saling membantu. Siswa yang lebih cepat selesai membantu temannya yang masih bingung. Ada yang meminjamkan lem, ada pula yang rela berbagi gambar cadangan.

Di sela kegiatan, saya sempat berkeliling dari bangku ke bangku. Saya melihat bagaimana mereka mengatur tata letak, memilih warna kertas, hingga memutuskan gambar mana yang pantas ditempel. Setiap anak punya gaya tersendiri. Ada yang rapi, ada yang penuh warna, ada juga yang sederhana tapi jelas maknanya. Dari sini saya belajar, kreativitas tidak bisa disamakan. Setiap anak punya ciri khas yang patut dihargai.

Ketika jam pelajaran hampir usai, karya mereka mulai terlihat jelas. Ada pop up book dengan tema agama hindu, ada pula yang menampilkan keberagaman alam. Walau ada yang masih setengah jadi, semangat mereka tidak padam. Saya melihat wajah mereka penuh kepuasan. Hasilnya mungkin belum sempurna, tetapi prosesnya sangat berarti. Mereka belajar bukan hanya tentang IPS, melainkan juga tentang kerja sama, tanggung jawab, dan pentingnya kesabaran.

Sebelum menutup pelajaran, saya memberi mereka pesan singkat, “Ingat ya, anak-anak. Orang yang hebat bukan berarti tidak pernah salah, tetapi orang hebat adalah yang terus mau belajar dari kesalahannya. Karya kalian hari ini adalah bukti bahwa dengan semangat dan tanggung jawab, kalian bisa menciptakan sesuatu yang membanggakan.”

Selasa pagi di balik tawa dan kesalahan, selalu ada ruang untuk tumbuh, belajar, dan berproses. Kelas 8F hari itu bukan sekadar kelas biasa. Ia adalah panggung kecil tempat siswa belajar tentang arti tanggung jawab, kerja keras, dan kebersamaan dalam mencipta karya.

Cepu, 16 September 2025

Rezeki Selasa Pagi

Karya : Gutamining Saida 
Selasa pagi udara terasa sejuk, embun masih melekat di dedaunan. Saya melangkahkan kaki menuju sekolah dengan hati biasa saja, tidak membawa ekspektasi apa pun selain rutinitas mengajar. Namun, siapa sangka, pagi itu Allah Subhanahu Wata'alla mengirimkan rezeki yang begitu manis dan indah lewat teman-teman kerja di sekolah esmega.

Begitu memasuki ruang guru, sambutan hangat langsung terasa. Beberapa rekan guru yang sudah duduk lebih dahulu menyapa dengan senyum yang tulus. Senyum itu sederhana, tetapi mampu menghadirkan suasana nyaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Rasanya seperti sedang pulang ke rumah kedua, tempat di mana ada rasa kebersamaan yang tulus dan ikhlas. Dalam hati saya berbisik, “Ya Allah, betapa indahnya Engkau kirimkan kebahagiaan lewat wajah-wajah bersahabat ini.”
Mereka adalah bu Wiwik, bu Indri, bu Lala dan bu Peni. 

Tidak lama kemudian, bu Wiwik menawarkan sukun godok yang sudah tersedia di meja. Potongannya cukup besar, . aromanya khas, membuat perut yang sejak pagi hanya diisi sarapan ringan terasa kembali lapar. Saya pun tersenyum dan menerima dengan senang hati. Rezeki kecil yang terlihat sederhana itu justru membuat saya merasa sangat diperhatikan. Betapa nikmatnya berbagi, apalagi jika datangnya tanpa diminta.

Saya melanjutkan langkah menuju meja kerja. Rupanya di sana sudah ada kejutan lain. Sebuah arem-arem dengan ukuran besar terletak manis di atas meja. Bu Peni yang meletakkannya, dengan tulus membagikan bekal. Arem-arem itu tidak hanya makanan, melainkan simbol kasih sayang, bentuk kepedulian yang tidak bisa dibeli dengan uang. Saya jadi teringat pepatah Jawa, “Sopo sing nandur bakal ngunduh,” barang siapa menanam kebaikan, kelak akan menuai kebaikan pula.

Seolah belum cukup, masih ada stok krai godok yang di tas bekal . Saya hanya bisa terkekeh, karena rezeki pagi itu datang bertubi-tubi, seakan tidak memberi jeda. Dari satu tangan ke tangan lain, Allah Subhanahu Wata'alla mengalirkan nikmat-Nya lewat cara yang tidak pernah saya bayangkan. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Bukankah ini bukti nyata bahwa rezeki Allah tidak hanya berupa uang atau materi, melainkan juga perhatian, kebersamaan, dan makanan sederhana yang mampu menghangatkan hati. 

Waktu berjalan, bel masuk pelajaran hampir berbunyi. Ketika saya sedang merapikan buku di meja, seorang teman kembali menghampiri. Dengan nada ringan bu Mimin berkata sambil menyodorkan kotak bekalnya, “silakan ambil tahu pentol.” Saya hampir tidak percaya, dalam satu pagi saya mendapatkan begitu banyak suguhan. Sukun godok, arem-arem besar, krai godok, dan kini tahu pentol pun menambah daftar rezeki pagi. 

Saya terdiam sejenak. Dalam hati saya merenung, betapa Allah Subhanahu Wata'alla memiliki cara indah untuk mengajarkan saya tentang rasa syukur. Rezeki tidak selalu hadir dengan bentuk yang kita bayangkan. Terkadang, ia datang lewat hal-hal kecil yang kita temui sehari-hari. Senyum tulus seorang teman, sepotong sukun hangat, satu arem-arem yang kenyang hingga siang, bahkan sekadar kabar tentang tahu pentol yang bisa dinikmati bersama. Semua itu adalah wujud cinta Allah Subhanahu Wata'alla yang tidak boleh saya sia-siakan.

Syukur saya tiada henti. Lidah ini berulang kali mengucap Alhamdulillah. Saya sadar, kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh atau lewat hal-hal besar. Justru kebahagiaan itu dekat sekali, ada di sekitar kita, lewat rekan-rekan kerja yang selalu hadir dengan ketulusan. Allah yang Maha Pengasih menurunkan nikmat-Nya dari arah yang tidak disangka-sangka, sesuai dengan janji-Nya.

Betapa rezeki bukan sekadar soal makanan atau minuman. Rezeki adalah saat Allah Subhanahu Wata'alla menempatkan kita di lingkungan yang baik, bersama orang-orang yang membawa kebaikan. Rezeki adalah ketika hati masih diberi kelembutan untuk merasakan syukur. Rezeki adalah ketika tubuh masih sehat untuk beraktivitas, pikiran masih jernih untuk belajar dan mengajar, serta iman masih terjaga untuk hanya berharap kepada-Nya.

Momen pagi itu seolah menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah lalai dalam memberi. Kadang manusia yang sering lupa, lebih sibuk menghitung kekurangan daripada menghargai nikmat yang sudah tersedia. Saya jadi teringat sebuah hadis Nabi, “Barang siapa di antara kalian bangun di pagi hari dalam keadaan aman di rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.”

Bukankah itu benar adanya? Pagi itu saya merasa dunia ini sudah begitu lengkap. Ada keamanan, kesehatan, kebersamaan, dan makanan yang berlimpah. Tidak ada alasan lagi untuk mengeluh, sebab apa yang saya terima lebih dari cukup.

Akhirnya bel sekolah berbunyi, tanda semua guru yang memiliki jam pertama harus bergegas ke kelas. Saya membawa serta rasa syukur itu, berharap dapat menularkannya kepada para siswa. Saya ingin mengajarkan bahwa hidup ini indah jika kita mampu melihat dengan kacamata syukur. Tidak perlu menunggu kaya untuk merasa cukup, karena cukup itu hadir ketika hati kita ridha dengan pemberian Allah.

Sambil menunggu jam ke tiga, saya berdoa dalam hati: “Ya Allah, limpahkanlah keberkahan bagi teman-teman yang telah Engkau jadikan perantara rezeki-Mu pagi ini. Jadikanlah hati kami selalu lapang untuk berbagi, ringan tangan ini dalam memberi, dan penuh syukur dalam menerima. Hanya kepada-Mu kami berharap, dan hanya kepada-Mu kami kembali.”

Pagi itu berakhir dengan senyum yang masih terpatri. Sebuah pelajaran sederhana namun berharga: bahwa rezeki memang rahasia Allah Subhanahu Wata'alla , datang sesuai kehendak-Nya, lewat jalan yang tidak pernah kita sangka. Yang terpenting, hati kita selalu siap untuk menyambut dengan rasa syukur.
Cepu, 16 September 2025 

Kebersamaan di Madrasah Diniyah

Karya : Gutamining Saida 
Malam ini suasana Madrasah Diniyah tampak berbeda. Biasanya, ketika saya datang, anak-anak sudah rapi duduk melingkari meja panjang dengan iqro di tangan masing-masing. Suara bacaan mereka bersahut-sahutan, ada yang masih terbata, ada pula yang lancar membaca ayat demi ayat. Sesekali terdengar canda kecil dari mulut mereka, atau percakapan singkat dengan teman sebangku. Walaupun sederhana, suasana seperti itu selalu menghadirkan kehangatan.

Malam ini tidak sama. Sejak memasuki pintu madrasah, saya sudah melihat tanda-tanda ada sesuatu yang istimewa. Saya segera tahu bahwa malam ini ada acara syukuran. Rupanya keluarga Bapak Haji Samsuri, salah satu ustadz di Madrasah Diniyah mengadakan jamuan makan bersama untuk seluruh anak-anak diniyah.

Anak-anak yang biasanya langsung membuka iqro atau Al-Qur’an, malam ini diarahkan ustadz untuk duduk berkelompok. Sudah ada tujuh kelompok yang dibentuk, masing-masing terdiri dari lima anak. Menariknya, kelompok ini tidak disusun berdasarkan usia atau kelas, melainkan dicampur. Anak-anak yang masih kecil disatukan dengan kakak-kakaknya yang lebih besar. Tujuannya jelas yaitu agar ada kebersamaan, saling mengenal, dan terjalin ikatan kekeluargaan antara mereka.

Saya perhatikan wajah anak-anak begitu ceria. Mereka tahu malam ini ada acara khusus, dan ustadz-ustadzah memperhatikan tingkah laku mereka. Tak lama, hidangan mulai dibuka. Bukan nasi putih seperti biasanya, melainkan nasi kuning yang harum, disusun cantik di atas nampan bulat. Di sekeliling nasi, tertata lauk-pauk yang menggugah selera yaitu kering tempe yang renyah, serundeng gurih berwarna cokelat keemasan, telur puyuh bumbu kecap yang ditusuk dengan lidi, irisan telur dadar tipis-tipis, serta mie kuning yang melengkapi tampilan meriah itu. Setiap kelompok mendapat satu nampan yang sama persis.

Anal-anak yang lebih besar membantu ustadz membagikan nampan ke tiap lingkaran kelompok. Begitu nampan diletakkan di tengah, mata anak-anak langsung berbinar. Mereka menatap lauk-lauk yang tersusun rapi itu dengan antusias. Ada yang menelan ludah pelan-pelan, ada pula yang tersenyum sambil menatap teman sebelahnya.

“Wah, nasi kuningnya harum sekali…” ucap seorang anak kecil sambil menghirup aroma.
"Ayo, kita makan sama-sama, jangan berebut. Ini rezeki dari Allah Subhanahu Wata'alla lewat keluarga Pak Haji Samsuri.”

Anak-anak diajak berdoa makan terlebih dahulu. Bapak haji Samsuri memimpin doa makan, anak-anak menirukan. Mulailah menyantap makanan. Dengan duduk lesehan membentuk lingkaran, mereka mengambil secukupnya dari nampan yang sama. Ada yang memilih kering tempe lebih dulu, ada yang suka telur dadar, dan ada yang mengincar mie kuning. Sesekali terdengar tawa kecil ketika tangan mereka hampir bersentuhan karena mengambil lauk di waktu bersamaan.

Suasana makan malam itu sungguh indah. Kebersamaan terasa begitu nyata, tanpa sekat antara yang kecil dan yang besar. Mereka menikmati nasi kuning dari nampan bulat itu dengan penuh rasa syukur.  Wajah mereka memancarkan kepuasan dan kebahagiaan. Saya bisa merasakan betapa makan bersama ini bukan hanya membuat perut mereka kenyang, tetapi juga hati mereka gembira.

Beliau mengharapkan bahwa kebersamaan dan kekeluargaan adalah salah satu nikmat besar dari Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk merasakannya. Karena itu, kita mengajak dan mengarahkan anak-anak menjaga ukhuwah, saling menolong, saling menghormati, dan terus semangat belajar agama.

Kebersamaan malam ini bukan hanya tentang kenyang karena makan bersama, melainkan tentang rasa persaudaraan yang makin kuat. Anak-anak belajar bahwa berbagi rezeki membawa kebahagiaan, dan kebersamaan membawa kekuatan serta semangat.

Saat acara berakhir, saya merasa malam ini bukan sekadar syukuran, melainkan sebuah pelajaran hidup. Bahwa kebahagiaan datang dari kehangatan sederhana yaitu duduk bersama, makan dari nampan yang sama, dan saling mendoakan.

Malam itu, Madrasah Diniyah bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca  iqra dan Al-Qur’an, melainkan juga sekolah kehidupan. Di sinilah mereka belajar arti syukur, kebersamaan, keakraban, dan kekeluargaan. Saya bersyukur bisa menjadi saksi dari suasana indah malam ini. barakallah bapak haji Samsuri sekeluarga. Semoga senantiasa diberi sehat dan keberkahan. Aamiin.
Cepu, 15 September 2025