Sabtu, 22 Maret 2025

Materi IPS kelas VII


Kerajaan Kutai 
1. Letak Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai Martadipura merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi. Kerajaan ini terletak di tepi Sungai Mahakam, tepatnya di daerah Muara Kaman, Kalimantan Timur. Lokasi ini sangat strategis karena berada di jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai daerah di Nusantara.

2. Raja-Raja Kerajaan Kutai
Berikut beberapa raja terkenal dari Kerajaan Kutai:
  • Maharaja Kudungga. Diperkirakan sebagai pendiri Kerajaan Kutai. Awalnya ia adalah kepala suku, lalu berubah menjadi raja setelah mendapat pengaruh Hindu.
  • Maharaja AswawarmanAnak dari Kudungga yang dianggap sebagai raja sesungguhnya karena memperkenalkan sistem pemerintahan kerajaan.Dikenal sebagai "Wangsakarta" atau pendiri dinasti kerajaan.
  • Maharaja Mulawarman . Raja terbesar Kutai yang dikenal sebagai pemimpin bijaksana dan kuat. Ia memberikan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana sebagai tanda kesejahteraan kerajaannya. Pemerintahannya menjadi masa kejayaan Kerajaan Kutai
3. Bukti Keberadaan Kerajaan Kutai
Keberadaan Kerajaan Kutai dibuktikan oleh beberapa peninggalan sejarah, terutama prasasti dan artefak, antara lain:
  • Prasasti Yupa. Batu bertulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.Merupakan sumber utama sejarah Kutai yang menceritakan silsilah raja dan pemberian hadiah kepada para Brahmana. Ditemukan di Muara Kaman dan berjumlah tujuh buah.
  • Lingga Yoni. Simbol penyembahan kepada Dewa Siwa, menunjukkan bahwa masyarakat Kutai beragama Hindu.
  • Arca dan Manik-ManikBerbagai peninggalan berupa arca Hindu dan manik-manik yang ditemukan di sekitar Muara Kaman.
4. Kejayaan dan Kemunduran
Kejayaan Kerajaan Kutai terjadi pada masa pemerintahan Raja Mulawarman, di mana ekonomi berkembang pesat, perdagangan lancar, dan hubungan dengan India terjalin erat.
Kemunduran Kutai terjadi seiring dengan masuknya pengaruh Islam di Kalimantan. Pada abad ke-13 hingga 16, Kerajaan Kutai Martadipura akhirnya runtuh setelah digantikan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara.
Dengan bukti-bukti sejarah ini, Kerajaan Kutai diakui sebagai kerajaan tertua di Indonesia dan menjadi bagian penting dalam sejarah awal peradaban Hindu di Nusantara.

Jumat, 21 Maret 2025

Dua Hati Satu Rasa

Karya: Gutamining Saida

Ada yang unik dari persaudaraan kami ini. Sesuatu yang tak direncanakan sering kali terjadi begitu saja. Seperti kebetulan yang terlalu sering muncul hingga tak lagi terasa sebagai kebetulan. Kami berdua yaitu saya dan mbak Rini (sapaan yang saya berikan untuknya). Walau dia teman guru namun dulu beliau murid saya. Sewaktu dia sekolah di SMA. Jadi saya lebih enak menyapa dengan mbak. Dia memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama, hanya berbeda tahun. Bukan hanya itu, kami juga sering mengenakan pakaian dengan warna atau motif yang sama, tanpa pernah berjanji sebelumnya.

Hari Kamis, kami bertemu dalam sebuah acara bimtek. Biasanya tanpa sadar, ada saja hal yang kami kenakan secara serupa, entah itu jilbab, baju, atau bahkan aksesori kecil seperti bros. Namun kali ini, ada perbedaan yang mencolok. Jilbab yang saya kenakan berwarna biru polos, sedangkan dia memakai jilbab oren polos. Sekilas, tak ada kesamaan di antara kami hari ini.

Saya sempat berpikir, mungkin kali ini tidak ada hal yang "serasi" di antara kami. Tapi entah mengapa, naluri saya mengatakan pasti ada sesuatu yang tetap menyatukan kami. Saya pun mencoba mengingat barang-barang yang saya bawa hari itu. Saat dari tempat parker menuju Gedung saya berbincang dengannya. Ingatan saya tertuju pada rukuh yang saya bawa di dalam tas, saya tersenyum kecil.

"Eh, tahu nggak, hari ini saya bawa rukuh pemberian njenengan," kata saya, mencoba mencari kesamaan kecil di antara kami.

Mbak Rini menoleh dan tersenyum. Lalu, dengan nada yang tak kalah ceria, dia menjawab, "Hahaha, Saya juga bawa rukuh warna hijau dari ibu."

Kami saling menatap sejenak, lalu tertawa. Lagi-lagi ada kesamaan, meskipun kali ini bukan dalam bentuk pakaian yang kami kenakan, tetapi sesuatu yang lebih dalam yaitu benda yang kami bawa, yang punya makna bagi kami masing-masing.

Kami pernah satu tempat instansi yang sama  sebagai guru di SMPN 1 Kedungtuban. Awalnya, saya sebagai gurunya sewaktu sekolah. Saat sama-sama jadi guru baru sadar bahwa kami lahir di tanggal dan bulan yang sama. Itu menjadi titik awal keakraban kami.

Seiring waktu, persaudaraan kami semakin erat. Yang menarik, kami sering kali mengenakan pakaian yang senada tanpa pernah merencanakannya. Saat ada acara sekolah, tiba-tiba saja kami sama-sama memakai jilbab warna senada. Sering juga ketika memiliki ide, pemikiran terhadap suatu permasalahan. Kejadian-kejadian ini sering kali membuat kami tertawa dan merasa seperti ibu dan anak yang terpisah tahun lahirnya.

Ada satu momen yang masih membekas dalam ingatan saya. Suatu ketika, kami di hari Jum’at sehatdi sekolah dengan seragam olah raga bebas. Kami datang dari rumah masing-masing, tanpa berdiskusi soal pakaian yang akan dikenakan. Tapi begitu bertemu di lokasi, kami sama-sama terkejut.

"Ya Allah, kok kaos olah raga kita sama?" komentarku spontan.

Dia pun menatap seragam olah raga dan tertawa. "Iya, ya! Ini benar-benar nggak direncanakan!"

Kami berdua sama-sama mengenakan kaos berwarna merah. Jilbab yang kami kenakan pun memiliki warna yang hampir serupa, hanya beda sedikit dalam warna agak terang dan gelap. Sejak saat itu, kami tak lagi merasa heran jika tanpa sengaja memakai sesuatu yang serasi. Entah itu warna, motif, atau bahkan ide. Kami pun mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, bagian dari ikatan batin yang kuat.

Namun, bukan hanya dalam hal pakaian dan benda-benda kecil, kesamaan kami juga terasa dalam cara berpikir dan melihat kehidupan. Kami sama-sama lebih suka ketenangan dibanding keramaian. Jika menghadiri acara yang penuh sesak, biasanya kami akan mencari sudut yang tenang untuk berbincang berdua.

Kami juga sering merasakan hal yang sama dalam satu situasi. Pernah suatu kali, dalam sebuah pertemuan, kami mendengar seseorang berbicara dengan cara yang menurut kami berlebihan. Tanpa perlu berkata-kata, kami saling menoleh dan tersenyum kecil, seakan mengerti isi pikiran masing-masing. Setelah acara selesai, kami pun tertawa bersama karena tahu bahwa kami berpikir hal yang sama saat itu.

Selain itu dalam berbagai fase kehidupan, kami selalu mendukung satu sama lain. Ketika saya mengalami kesulitan, dia selalu hadir dengan nasihat yang menenangkan. Begitu pula sebaliknya, ketika dia menghadapi masalah, saya selalu berusaha menjadi tempatnya bersandar.

Meskipun kami memakai jilbab dengan warna yang berbeda, tetap ada sesuatu yang menyatukan kami yaitu rukuh yang kami bawa. Hal kecil ini kembali mengingatkan saya bahwa ikatan batin kami bukan sekadar tentang kebetulan dalam berpakaian, tetapi lebih dari itu.

Kesamaan-kesamaan ini mungkin bukan hal besar bagi orang lain. Bagi kami, ini adalah simbol dari ikatan yang sudah terjalin lama. Bahwa tanpa perlu berjanji, tanpa perlu menyusun rencana ada sesuatu yang selalu membuat kami berada di gelombang yang sama.

Persaudaraan kami bukan hanya tentang pakaian yang sering serasi, tetapi tentang hati yang selalu seirama. Ada pemahaman tanpa perlu banyak kata, ada kebersamaan tanpa perlu banyak alasan. Saya menyadari satu hal yaitu persaudaraan sejati adalah dia yang, tanpa perlu berkata atau berjanji, selalu ada dalam ritme yang sama dengan kita. Saudara sak lawase ya mbak. Aamiin

Cepu, 22 Maret 2025

 

 


 

Bimtek Bersama Sang Jurnalis


 

Karya: Gutamining Saida

Kamis yang cerah di Kabupaten Blora, sekelompok penulis, siswa, guru, dan pegiat literasi berkumpul di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) untuk menghadiri bimbingan teknis (bimtek) menulis konten budaya lokal. Acara ini diadakan sebagai bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal melalui tulisan, agar generasi mendatang tetap mengenal dan menghargai warisan budaya mereka.

Di antara para narasumber yang hadir, ada satu sosok yang mencuri perhatian yaitu Bapak Sugie Rusyono. Dengan gaya yang tenang namun penuh wibawa, beliau membawakan materi yang begitu kaya akan wawasan dan pengalaman. Tidak mengherankan, karena beliau merupakan seorang jurnalis yang telah lama berkecimpung dalam dunia pemberitaan dan literasi. Selain itu, beliau juga merupakan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Blora.  Pemahamannya tentang dunia pendidikan dan kebudayaan sangatlah mendalam.

Sejak awal sesi, beliau menegaskan bahwa menulis tentang budaya lokal bukan sekadar menuliskan apa yang diketahui secara sepintas, melainkan harus berdasarkan data yang valid. “Tulisan budaya harus memiliki deskripsi yang jelas, narasi yang mengalir, serta tulisan yang berbicara,” ujarnya dengan penuh semangat.

Menurut Sugie Rusyono, deskripsi adalah elemen utama dalam menulis tentang budaya lokal. Deskripsi yang baik akan membuat pembaca seolah-olah bisa melihat, merasakan, dan bahkan mengalami langsung budaya yang ditulis. Melibatkan enam panca Indera. Misalnya, saat menulis tentang tradisi Barongan di Blora, seorang penulis tidak cukup hanya menyebutkan bahwa itu adalah seni tari.

“Tuliskan bagaimana warna-warni topeng barongan yang mencolok, suara musik pengiring yang menghentak, serta gerakan penari yang penuh tenaga. Gambarkan ekspresi wajah mereka, detail pakaian yang mereka kenakan, dan bagaimana suasana penonton yang terhanyut dalam pertunjukan,” jelas beliau.

Sebagai seorang jurnalis, Sugie Rusyono terbiasa menyajikan informasi dengan cara yang menarik dan menggugah. Itulah yang ingin beliau bagikan kepada para peserta bimtek yaitu agar budaya lokal tidak hanya menjadi sekadar informasi, tetapi menjadi pengalaman yang bisa dirasakan oleh siapa pun yang membacanya.

Selain deskripsi, narasi juga memiliki peran yang sangat penting. Sugie Rusyono menjelaskan bahwa tulisan tentang budaya lokal akan lebih menarik jika disusun dalam bentuk cerita yang mengalir. Ia mencontohkan bagaimana menulis tentang tradisi Sedekah Bumi di desa-desa Blora.

“Jangan hanya menulis bahwa Sedekah Bumi adalah ritual tahunan untuk bersyukur atas hasil panen. Sebaiknya, ceritakan bagaimana suasana desa sebelum acara berlangsung. Bagaimana ibu-ibu menyiapkan tumpeng dengan lauk khas, bagaimana para pemuda sibuk menata panggung hiburan, hingga bagaimana para tetua desa mengatur jalannya prosesi,” ungkapnya.

Narasi yang kuat akan membuat budaya yang ditulis terasa lebih hidup dan mengundang emosi pembaca. Ini adalah teknik yang juga banyak digunakan dalam dunia jurnalistik—membawa pembaca masuk ke dalam cerita seolah-olah mereka ada di sana.

Sebagai seorang yang juga berperan dalam Dewan Pendidikan Kabupaten Blora, Sugie Rusyono memahami bahwa tulisan budaya lokal tidak boleh hanya menjadi dokumentasi semata. Tulisan itu harus memiliki "suara" yaitu mampu berbicara kepada pembaca, menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh budaya itu sendiri.

“Budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita memaknainya di masa sekarang dan masa depan,” katanya.

Sebagai contoh, jika seseorang menulis tentang kesenian Tayub di Blora, tulisan itu harus bisa menjawab pertanyaan: Apa makna tradisi ini bagi masyarakat sekitar? Bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi mereka? Dengan cara ini, tulisan tidak hanya sekadar menggambarkan budaya, tetapi juga memberikan refleksi bagi pembaca.

Jika menuliskan tentang keliner ungker, hendaknya tulisan harus memuat tentang bagaimana ungker saat mencarinya? Bagaimana cara mengolahnya? Mengapa rasanya enak? Bagaimana proses memasaknya agar tidak gatal? Kapan bisa diperoleh dan dinikmati?. Tulisan bisa dituliskan secara detail dan hidup.

Menulis tentang budaya lokal bukan berarti hanya mengandalkan ingatan atau cerita turun-temurun. Sugie Rusyono menegaskan pentingnya menggunakan data yang akurat dan terpercaya. Ia menyarankan beberapa sumber utama yang bisa digunakan, seperti riset, buku, internet, serta wawancara langsung dengan pelaku budaya atau tokoh masyarakat.

“Sebagai jurnalis, saya selalu memastikan bahwa informasi yang saya tulis memiliki sumber yang jelas. Jangan ragu untuk datang langsung ke lokasi, berbicara dengan orang-orang yang terlibat, dan mencatat detail yang mungkin tidak bisa ditemukan di sumber lain,” katanya.

Misalnya, saat menulis tentang pasar Blora, seorang penulis sebaiknya tidak hanya mengandalkan artikel di internet. Ia harus mengunjungi pasar, berbicara dengan pedagang, dan mengamati bagaimana transaksi jual beli dan perkembangan pasar dari masa ke masa. Dengan begitu, tulisannya akan lebih otentik dan memiliki nilai lebih dibandingkan sekadar rangkuman dari sumber lain.

Bapak Sugie Rusyono berpesan kepada para peserta bahwa menulis tentang budaya lokal adalah sebuah tanggung jawab. “Jika bukan kita yang menuliskannya, siapa lagi? Jika kita membiarkan budaya kita hilang begitu saja tanpa ada yang mendokumentasikan, bagaimana generasi mendatang akan mengenalnya?”

Sebagai jurnalis, beliau telah menyaksikan banyak perubahan dalam budaya lokal, baik yang bertahan maupun yang mulai memudar. Itulah mengapa ia sangat menekankan pentingnya menulis dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.

Pesan itu menginspirasi banyak peserta, termasuk saya. Menulis tentang budaya lokal bukan hanya soal mengisi halaman dengan kata-kata, tetapi tentang mengabadikan identitas, sejarah, dan kearifan yang telah diwariskan turun-temurun.

Dengan bimbingan dan wawasan yang diberikan oleh Sugie Rusyono, para peserta bimtek semakin memahami bahwa menulis tentang budaya lokal adalah sebuah seni tersendiri. Butuh ketelitian, riset, serta kemampuan menulis yang baik agar budaya yang kita miliki tetap lestari, tidak hanya di hati masyarakat, tetapi juga dalam lembaran sejarah yang tertulis.

Cepu, 22 Maret 2025

 

 


Kamis, 20 Maret 2025

Kunci Dari Segala Ilmu

Karya: Gutamining Saida

Bimbingan Teknis (Bimtek) kepenulisan berbasis konten budaya lokal yang sangat berkesan bagi saya. Bimtek diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK). Bimtek ini tidak hanya memberikan pengetahuan tentang teknik menulis, tetapi juga pengalaman berharga, terutama dari narasumber yang luar biasa, Bapak Dwiyanto, S.Pd, M.Pd.

Sejak awal, Bapak Dwiyanto memancarkan aura positif. Beliau tidak hanya ahli dalam menyampaikan materi, tetapi juga memiliki kerendahan hati yang menginspirasi. Ilmu yang beliau miliki seolah tak terbatas, namun beliau tetap bersikap sederhana dan ramah. Beliau benar-benar menerapkan pepatah "semakin berilmu, semakin merunduk," seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk.

Bapak Dwiyanto menekankan pentingnya esai sebagai sarana untuk menuangkan pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan. Beliau mengajarkan bahwa setiap orang memiliki sudut pandang unik yang layak diungkapkan dalam bentuk esai. Esai memiliki kekuatan untuk memberikan wawasan baru kepada pembaca. Beliau juga memberikan banyak resep tentang cara menulis esai yang efektif, mulai dari teknik memilih topik, membuat judul, menyusun argumen, hingga memaparkan manfaat esai.

Resep menulis menurut bapak Dwiyanto ada tiga yaitu, pertama ATM (amati, tiru, modifikasi. Kedua, 3T ( titeni, tirokne, tambahi). Ketiga, 3M (menulis, menulis, menulis). Esai letaknya berada ditengah-tengah antara penyair dan ilmuwan.

Salah satu hal yang paling saya kagumi dari Bapak Dwiyanto adalah kemampuannya untuk menjelaskan konsep-konsep esai yang kompleks dengan bahasa yang mudah dipahami. Beliau menggunakan contoh-contoh yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, dan sangat sabar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan peserta. Beliau memberikan hadiah buku kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan beliau.

Selain itu, Bapak Dwiyanto juga berbagi pengalamannya menulis esai. Beliau menceritakan tentang tantangan dan kepuasan dalam menulis esai, tentang bagaimana beliau mengatasi hambatan-hambatan dalam menuangkan ide. bagaimana beliau terus mengembangkan diri sebagai penulis esai. Cerita-cerita ini sangat memotivasi saya untuk terus belajar dan berlatih menulis esai.

Saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman berharga dari kegiatan in . Kami saling berbagi ide, pengalaman dan pengetahuan tentang dunia esai. Kami juga saling memberikan dukungan dan motivasi untuk terus menulis esai. Suasana kekeluargaan yang tercipta selama Bimtek ini membuat saya merasa sangat nyaman dan bersemangat.

Selama Bimtek, ada beberapa momen yang sangat berkesan bagi saya. Salah satunya adalah ketika komentar beliau terhadap peserta. Peserta bimtek kali ini selera nano nano karena peserta berasal dari kalangan yang berbeda yaitu ada siswa, mahasiswa, mahasiswa S-1 bahkan ada mahasiswa S-2.

Setelah mengikuti Bimtek ini, saya merasa memiliki semangat baru untuk terus menulis esai. Saya menyadari bahwa esai bukan hanya sekadar tugas, tetapi juga merupakan sarana untuk menyampaikan pemikiran dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Saya ingin terus belajar dan berlatih untuk menulis esai yang lebih baik, dan saya ingin menggunakan esai saya untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Saya sangat berterima kasih kepada DPK Kabupaten Blora yang telah menyelenggarakan Bimtek ini. Saya juga berterima kasih kepada Bapak Dwiyanto, S.Pd, M.Pd yang telah menjadi narasumber yang luar biasa. Ilmu dan pengalaman yang beliau bagikan akan selalu saya ingat dan saya terapkan dalam perjalanan menulis esai saya. Semoga ilmunya menjadi amal jariayah yang terus mengalir sampai di kehidupan selanjutnya.

Bimtek Menulis ini bukan hanya sekadar acara menulis konten budaya local. tetapi juga merupakan perjalanan intelektual bagi saya. Paling utama yang dipraktikkan dalam kehidupan yaitu kerendahan hati adalah sebagai kunci dari segala ilmu.

Cepu, 21 Maret 2025

 


 

Pertemuan Yang Unik

Karya: Gutamining Saida

Bimtek hari Kamis berlangsung cukup padat. Materi demi materi disampaikan oleh narasumber dengan penuh antusias, membuat peserta tetap fokus meskipun pikiran terkadang ingin melayang sejenak untuk beristirahat. Di sela-sela kepadatan jadwal, ada satu waktu yang selalu saya manfaatkan dengan baik yaitu waktu istirahat.

Waktu istirahat tiba, saya memilih untuk melaksanakan salat. Saya bergegas menuju tempat wudhu bersama beberapa peserta lain. Antrean cukup panjang, saya harus sabar dalam menunggu giliran. Satu per satu peserta mengambil air wudhu dan saya pun menyusul setelah beberapa orang selesai. Saat saya melangkah ke tempat salat, imam sudah memulai rakaat pertama. Saya tak punya pilihan selain mengikuti dari rakaat kedua dan menyempurnakan kekurangan setelah salam.

Selesai menunaikan salat, saya duduk sejenak untuk meresapi ketenangan setelah beribadah. Di sebelah saya, ada dua orang peserta lain yang juga baru saja selesai salat. Kami bertiga sama-sama masih melipat mukena ketika percakapan ringan mulai mengalir.

Kami bertiga, satu dari kami tersenyum ramah membuka obrolan lebih dahulu. "Ibu dari sekolah mana?" tanyanya sambil tersenyum.

Saya menyebutkan sekolah tempat saya mengajar yaitu SMPN 3 Cepu. Kemudian, saya balik bertanya, "Kalau ibu sendiri?" Dia menyebut nama sekolah SMAN 2 Cepu.

Perempuan di sebelah saya ikut menimpali, "Wah, sekolah itu sangat berkesan buat saya. Saya alumni dari sana."

"Tunggu… kita kan sudah berteman di face book.” tambahnya.

“Oh, gitu ya. Alhamdulillah sekarang baru bertemu di dunia nyata.?”komentar saya.

Mata kami bertiga membulat. Seakan tak percaya, kami saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa kecil. Dunia terasa begitu sempit.

Jadi, kami bertiga memiliki keterkaitan yang unik. Saya adalah mantan guru di sekolah tersebut, perempuan di sebelah saya adalah alumni yang pernah bersekolah di sana, sementara yang satu lagi masih aktif mengajar di sana. Tanpa sengaja, tiga generasi dari satu sekolah berkumpul dalam satu momen bimtek.

Percakapan pun semakin seru. Kami mulai membahas kenangan masing-masing. Saya bertanya kepada perempuan yang menjadi alumni, "Tahun berapa ya njenengan lulus dari sana?"

Sementara itu, guru yang masih aktif mengajar di sana menambahkan, "Sekarang banyak perubahan di sekolah itu, Bu. Gedungnya makin bagus, fasilitas juga lebih lengkap." Saya tersenyum. Mendengar perkembangan sekolah lama saya membuat hati terasa hangat. Meski sudah lama meninggalkan tempat itu, ada kebanggaan tersendiri mengetahui bahwa sekolah tersebut terus maju dan berkembang.

Obrolan kami semakin meluas. Kami membicarakan guru-guru lama, suasana sekolah dulu dan sekarang. Saya bercerita menjadi guru di SMAN 2 Cepu beberapa tahun lalu, lalu  saat harus pindah ke tempat lain. Alumni SMAN 2 Cepu yang kini menjadi peserta bimtek bersama kami menceritakan kenangan masa sekolahnya. Kenangan manis  masa sekolah masih diingatnya sampai sekarang. Guru yang masih aktif di sana pun berbagi cerita tentang keadaan sekolah saat ini, tentang siswa-siswa generasi sekarang.

Percakapan kami begitu mengalir hingga tak terasa waktu istirahat hampir habis. Perasaan yang muncul di hati kami begitu istimewa. Saya merasa seperti bertemu kembali dengan keluarga lama. Meskipun kami datang dari generasi yang berbeda, ada satu hal yang mengikat kami yaitu sekolah yang sama. Tempat itu bukan sekadar bangunan dengan ruang kelas dan koridor panjang, melainkan tempat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kami.

Saat kami berpisah untuk kembali ke ruangan masing-masing, salah satu dari mereka berkata sambil tersenyum, "Dunia memang sempit, ya. Tanpa sengaja kita dipertemukan di sini."Saya mengangguk setuju. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Kadang, hidup menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang begitu manis. Seperti pertemuan tak terduga ini, yang mengingatkan saya bahwa dalam perjalanan hidup, kita tak pernah benar-benar sendiri. Ada ikatan-ikatan tak terlihat yang akan selalu mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki kisah serupa. Sebuah bimtek yang biasa saja, saya menemukan momen luar biasa yang akan selalu saya ingat.

Cepu 21 Maret 2025


 

Rabu, 19 Maret 2025

Surat Cinta Zaskia

 Karya: Gutamining Saida



Mentari mulai meredup, menyisakan semburat jingga di langit barat. Di kamar, aku duduk santai sambil menunggu berbuka puasa. Tiba-tiba Zaskia cucu perempuanku yang baru duduk di kelas satu SD Insyaniah kota Tegal. Dia ungkapan perasaannya dituliskan di atas kertas kemudian disobek dan diberikan kepada saya. Saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla atas karunia diberikan cucu-cucu yang aktif dan pandai. Dia menghampiriku dengan wajah serius. Tangannya menggenggam selembar amplop kertas berwarna putih.

“Ini surat buat Timmi," katanya dengan suara kecil namun tegas.

"Dibaca ya,Timmi terus disimpan." lanjutnya

Aku tersenyum, menerima surat itu dengan hati berdebar. Zaskia memang anak yang istimewa. Di usianya yang masih belia ,  ia sudah pandai membaca dan menulis. Tulisan tangannya masih belum rapi, tapi setiap hurufnya terpancar ketulusan dan cinta.

Kubuka lipatan kertas itu, dan mataku langsung tertuju pada deretan kata yang tertulis dengan pulpen warna hitam.

"Timmi kakak sayang Timmi, Timmi kesayangan kakak selamanya. Timmi juga cantik Pokoknya Timmi cantik deh, kapan-kapan ke sini lagi ya kalau hari minggu, kalau tanggal merah. Timmi hati-hati ya.“

Kata-kata sederhana itu begitu menyentuh hatiku. Di tengah kesibukan dunia, Zaskia mampu mengungkapkan rasa sayangnya dengan cara yang begitu tulus. Aku merasa sangat bersyukur memiliki cucu seperti dia.

" Timmi juga sayang banget sama Zaskia," ucapku sambil memeluknya erat. "Terima kasih ya, sudah menulis surat yang indah ini."

Zaskia tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi susunya yang rapi. "Sama-sama,Timmi.

Kami pun menghabiskan sore itu dengan bercerita dan bermain bersama. Zaskia bercerita tentang teman-teman di sekolah, tentang pelajaran yang disukainya dan tentang cita-citanya kelak. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menyelipkan nasihat atau lelucon untuk membuatnya tertawa.

Malam harinya sebelum tidur, aku kembali membaca surat dari Zaskia. Setiap kata yang tertulis di sana terasa begitu berharga. Surat cinta menjadi pengingat akan cinta dan kebahagiaan yang sederhana. Aku berjanji pada diri sendiri untuk menyimpan surat itu baik-baik, sebagai harta karun yang tak ternilai.

Keesokan harinya, aku mengajak Zaskia bermain. Kami bermain tebak-tebakan dan tepuk-tepuk. Zaskia tertawa riang dan aku ikut merasakan kebahagiaannya. Di tengah tawa dan canda, aku menyadari betapa beruntungnya aku memiliki Zaskia dalam hidupku.

Ia adalah anugerah terindah, sumber kebahagiaan yang tak pernah habis. Setiap momen bersamanya adalah kenangan yang akan selalu kusimpan dalam hati. Surat kecil yang diberikannya adalah bukti cinta yang tulus, pengingat akan betapa berharganya hubungan antara seorang nenek dan cucu.

Aku berharap, kelak Zaskia akan tumbuh menjadi anak yang cerdas, mandiri, dan penuh kasih serta menjadi anak sholehah. Ia akan menjadi kebanggaan keluarga dan aku akan selalu berdoa untuknya.

Surat dari Zaskia bukan hanya sekadar lembaran kertas. Ia adalah simbol cinta, harapan, dan kebahagiaan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah kesibukan dan tantangan hidup, selalu ada cinta yang tulus dari keluarga yang akan menguatkan.

Cepu, 20 Maret 2025

 

 

 

 

 

 

Sebuah Perjalanan Dengan Rasa Syukur

Karya: Gutamining Saida
Sebelum fajar menyingsing, ponselku bergetar pelan. Sebuah pesan dari Bu Rini muncul di layar.
"Berangkat jam berapa nanti?" tanyanya singkat.
Aku yang masih melihat beberapa chat masuk langsung membaca dan membalas, "Setengah tujuh ya."
Sejak kemarin, kami memang sudah berjanji akan berangkat bersama. Aku ingin perjalanan kami tenang, tidak terburu-buru, dan tiba di lokasi dengan pikiran yang segar. Dengan niat mencari ilmu, perjalanan ini terasa lebih bermakna. Dalam hati, aku melantunkan rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'ala masih memberiku kesehatan, kesempatan, dan rezeki untuk belajar hari ini.
Udara pagi masih sejuk. Aku bersiap dengan pakaian yang rapi dan nyaman, memastikan semua perlengkapan sudah masuk ke dalam tas yaitu buku catatan, alat tulis, dan selembar undangan pelatihan. Setiap langkah pagi ini terasa begitu ringan, karena disertai dengan doa dan harapan agar ilmu yang kudapatkan nanti membawa manfaat.
"Semangat, Bu?" tanyaku.
"Pastilah! Kapan lagi bisa belajar bareng seperti ini," jawabnya penuh antusias.
Kami pun berangkat. Jalanan masih lengang. Matahari mulai menampakkan sinarnya, memberi kehangatan lembut di sepanjang perjalanan.
Aku kembali melantunkan rasa syukur dalam hati. Betapa nikmat Allah Subhanahu Wata'ala begitu banyak. Udara segar, perjalanan yang lancar, persahabatan yang baik, serta kesempatan untuk menuntut ilmu adalah karunia yang luar biasa. Kadang, dalam kesibukan, kita lupa untuk sekadar mengucap hamdalah atas hal-hal sederhana yang sering kita anggap biasa.
"Aku penasaran dengan narasumbernya, katanya beliau penulis produktif yang bukunya banyak diterbitkan," kata Bu Rini.
"Iya, aku juga ingin tahu trik menulisnya. Kadang ide banyak, tapi menuliskannya sulit," sahutku.
Obrolan kami terus mengalir, membuat perjalanan terasa singkat. Hingga akhirnya, dari kejauhan, gedung tempat pelatihan mulai terlihat. Beberapa peserta lain tampak sudah tiba lebih dulu.
Kami pun mencari tempat parkir dan bersiap memasuki ruangan. Dengan langkah penuh semangat, aku dan Bu Rini saling tersenyum. Hari ini akan menjadi hari yang penuh ilmu dan inspirasi. Aku kembali mengucap syukur dalam hati, atas nikmat Allah Subhanahu Wata'ala yang begitu luas.
Cepu, 20 Maret 2025 

Selasa, 18 Maret 2025

Materi Agama Islam Kelas VII

 

Rukhsah dalam Salat dan Puasa

1. Rukhsah dalam Salat

Dalam kondisi tertentu, Islam memberikan keringanan (rukhsah) dalam pelaksanaan salat, seperti:

a. Mengqashar Salat

  • Pengertian: Mengurangi jumlah rakaat salat fardu dari empat rakaat menjadi dua rakaat.
  • Salat yang boleh diqashar: Salat Zuhur, Asar, dan Isya.
  • Syarat:
    • Berada dalam perjalanan (safar) dengan jarak minimal sekitar 80 km.
    • Tidak berniat menetap lebih dari 4 hari di tempat tujuan.

b. Menjamak Salat

  • Pengertian: Menggabungkan dua salat dalam satu waktu.
  • Jenis Jamak:
    • Jamak Taqdim: Menggabungkan salat di waktu salat pertama (misalnya Zuhur dan Asar dikerjakan di waktu Zuhur).
    • Jamak Ta’khir: Menggabungkan salat di waktu salat kedua (misalnya Zuhur dan Asar dikerjakan di waktu Asar).
  • Syarat:
    • Dalam perjalanan jauh.
    • Saat hujan lebat atau kondisi darurat lainnya.

c. Tayamum sebagai Pengganti Wudhu

  • Dibolehkan bagi yang tidak bisa menggunakan air, misalnya karena sakit atau tidak ada air.

d. Salat dengan Duduk atau Berbaring

  • Dibolehkan bagi yang sakit dan tidak mampu berdiri saat salat.

e. Salat dengan Isyarat

  • Untuk orang yang sangat lemah, misalnya hanya mampu menggerakkan kepala atau mata.

2. Rukhsah dalam Puasa

Islam juga memberikan rukhsah bagi orang-orang yang mengalami kesulitan dalam menjalankan puasa Ramadan.

a. Boleh Tidak Berpuasa dengan Qadha’ (Mengganti di Hari Lain)

  • Bagi musafir (orang yang sedang bepergian jauh).
  • Bagi orang sakit yang masih bisa sembuh.
  • Bagi wanita hamil atau menyusui jika khawatir terhadap diri sendiri atau bayi.

b. Boleh Tidak Berpuasa dengan Membayar Fidyah

  • Orang tua renta yang tidak mampu berpuasa.
  • Orang sakit parah yang tidak ada harapan sembuh.
  • Wanita hamil atau menyusui jika hanya khawatir terhadap bayinya (menurut beberapa ulama).

c. Keringanan Berbuka Puasa

  • Jika seseorang merasa sangat lemah atau dalam kondisi darurat, boleh berbuka puasa dan menggantinya di lain waktu.

 

Soal Isian Singkat tentang Rukhsah

  1. Apa yang dimaksud dengan rukhsah dalam Islam?
  2. Sebutkan dua contoh rukhsah dalam ibadah salat!
  3. Sebutkan satu contoh rukhsah dalam ibadah puasa!
  4. Apa alasan utama seseorang diperbolehkan mengambil rukhsah dalam salat?
  5. Sebutkan satu syarat seseorang boleh menjamak salat!
  6. Dalam keadaan apa seseorang diperbolehkan untuk mengqashar salat?
  7. Apa hukum asal rukhsah dalam Islam, wajib atau mubah?
  8. Sebutkan satu contoh rukhsah yang berkaitan dengan makanan dan minuman!
  9. Apa perbedaan antara qashar dan jamak dalam rukhsah salat?
  10. Apa tujuan utama adanya rukhsah dalam syariat Islam? 

MATERi IPS KELAS VII

 

PASAR

A. Pengertian Pasar

Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi jual beli barang atau jasa. Dalam ekonomi, pasar tidak selalu merujuk pada tempat fisik, tetapi juga mencakup interaksi antara pembeli dan penjual, baik secara langsung maupun melalui media seperti internet.

B. Manfaat Pasar

Pasar memiliki berbagai manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat, di antaranya:

  • Sebagai tempat transaksi ekonomi: Memudahkan masyarakat dalam membeli kebutuhan sehari-hari.
  • Meningkatkan pendapatan masyarakat: Menyediakan lapangan kerja bagi pedagang, buruh, dan pekerja lainnya.
  • Menstabilkan harga barang dan jasa: Melalui mekanisme penawaran dan permintaan.
  • Meningkatkan produksi dan distribusi barang: Membantu produsen dalam menjual hasil produksi mereka.
  • Mendorong pertumbuhan ekonomi: Pasar yang berkembang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

3. Jenis-Jenis Pasar

A. Berdasarkan Wujudnya

  1. Pasar Tradisional
    • Tempat jual beli barang dengan sistem tawar-menawar.
    • Biasanya terdiri dari kios atau lapak sederhana.
    • Contoh: Pasar desa, pasar induk.
  2. Pasar Modern
    • Transaksi dilakukan dengan harga tetap (tanpa tawar-menawar).
    • Biasanya lebih bersih dan terorganisir.
    • Contoh: Supermarket, minimarket, mall.

B. Berdasarkan Jenis Barang yang Dijual

  1. Pasar Barang Konsumsi
    • Menjual barang yang langsung dikonsumsi masyarakat.
    • Contoh: Pasar sayur, pasar ikan, toko pakaian.
  2. Pasar Barang Produksi
    • Menjual bahan baku atau alat produksi untuk industri.
    • Contoh: Pasar mesin, pasar bahan bangunan.

C. Berdasarkan Cara Transaksi

  1. Pasar Fisik
    • Transaksi terjadi di tempat secara langsung.
    • Contoh: Pasar tradisional, pasar grosir.
  2. Pasar Digital (Online)
    • Transaksi dilakukan melalui internet.
    • Contoh: Shopee, Tokopedia, Amazon.

D. Berdasarkan Waktu Operasionalnya

  1. Pasar Harian
    • Beroperasi setiap hari.
    • Contoh: Pasar pagi, supermarket.
  2. Pasar Mingguan
    • Beroperasi pada hari tertentu dalam seminggu.
    • Contoh: Pasar hewan yang buka setiap Minggu.
  3. Pasar Musiman
    • Beroperasi pada waktu tertentu, seperti musim panen atau hari raya.
    • Contoh: Pasar Ramadan, pasar durian saat musim panen.
  4. Pasar Temporer
    • Dibuka pada acara khusus atau festival.
    • Contoh: Pasar malam, bazar buku.

Latihan soal

  1. Apa yang dimaksud dengan pasar?
    a. Tempat penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi
    b. Tempat hiburan dan rekreasi
    c. Tempat untuk menyimpan barang dagangan
    d. Tempat untuk memproduksi barang
  2. Dalam ilmu ekonomi, pasar tidak hanya berupa tempat fisik, tetapi juga...
    a. Tempat yang memiliki banyak toko
    b. Interaksi antara penjual dan pembeli
    c. Gudang penyimpanan barang dagangan
    d. Pusat distribusi barang
  1. Salah satu ciri pasar adalah...
    a. Tidak ada proses jual beli
    b. Harga barang selalu tetap
    c. Terdapat interaksi antara penjual dan pembeli
    d. Hanya menjual produk digital
  2. Manfaat utama pasar bagi masyarakat adalah...
    a. Meningkatkan hiburan masyarakat
    b. Menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan
    c. Mengurangi persaingan usaha
    d. Membatasi jumlah pedagang
  3. Salah satu manfaat pasar bagi produsen adalah...
    a. Menyimpan barang tanpa dijual
    b. Memperoleh keuntungan dari hasil penjualan
    c. Menurunkan permintaan barang
    d. Mengurangi interaksi dengan konsumen
  4. Berikut ini adalah manfaat pasar bagi pemerintah, kecuali...
    a. Menambah pendapatan daerah melalui pajak
    b. Meningkatkan perekonomian masyarakat
    c. Menyediakan lapangan pekerjaan
    d. Menghambat distribusi barang
  5. Salah satu cara pasar membantu dalam menstabilkan harga barang adalah...
    a. Menimbun barang dalam jumlah besar
    b. Mengatur persediaan barang sesuai permintaan
    c. Membatasi jumlah pembeli di pasar
    d. Mengurangi jumlah pedagang di setiap pasar
  1. Pasar di mana harga barang ditentukan secara tetap tanpa tawar-menawar disebut...
    a. Pasar tradisional
    b. Pasar modern
    c. Pasar harian
    d. Pasar temporer
  2. Pasar yang menjual barang-barang produksi seperti bahan baku dan alat industri disebut...
    a. Pasar barang konsumsi
    b. Pasar barang produksi
    c. Pasar modern
    d. Pasar temporer
  3. Contoh pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari seperti sayur dan buah adalah...
    a. Pasar digital
    b. Pasar barang produksi
    c. Pasar barang konsumsi
    d. Pasar tenaga kerja
  4. Contoh pasar yang hanya beroperasi pada waktu tertentu adalah...
    a. Pasar pagi
    b. Pasar musiman
    c. Pasar swalayan
    d. Pasar induk
  5. Pasar di mana transaksi dilakukan tanpa tatap muka dan menggunakan internet disebut...
    a. Pasar fisik
    b. Pasar online
    c. Pasar barang konsumsi
    d. Pasar musiman
  6. Berikut ini yang merupakan contoh pasar harian adalah...
    a. Pasar malam
    b. Pasar swalayan
    c. Pasar Ramadan
    d. Pasar hewan
  7. Pasar yang biasanya muncul pada saat panen atau hari raya disebut...
    a. Pasar digital
    b. Pasar musiman
    c. Pasar tradisional
    d. Pasar modern
  8. Contoh pasar yang menggunakan sistem tawar-menawar adalah...
    a. Minimarket
    b. Pasar swalayan
    c. Pasar tradisional
    d. Toko online
  9. Pasar yang menjual barang seperti alat pertanian dan mesin-mesin industri termasuk dalam kategori...
    a. Pasar barang konsumsi
    b. Pasar barang produksi
    c. Pasar tenaga kerja
    d. Pasar modern
  10. Pasar yang hanya berlangsung beberapa hari untuk tujuan khusus seperti bazar disebut...
    a. Pasar temporer
    b. Pasar online
    c. Pasar harian
    d. Pasar barang produksi
  11. Berikut ini yang termasuk pasar modern adalah...
    a. Pasar induk
    b. Pasar swalayan
    c. Pasar tradisional
    d. Pasar hewan
  12. Pasar yang tidak memiliki lokasi tetap dan bisa berpindah-pindah disebut...
    a. Pasar swalayan
    b. Pasar malam
    c. Pasar digital
    d. Pasar induk
  13. Contoh pasar yang beroperasi dengan harga tetap dan menggunakan kasir adalah...
    a. Pasar tradisional
    b. Pasar swalayan
    c. Pasar induk
    d. Pasar hewan

Selamat Mengerjakan

 

 


Usaha Dan Doa Yang Menghantarkanku

Karya: Gutamining Saida

Ketika kabar yang dinantikan akhirnya tiba, hati ini diliputi rasa syukur yang tak terhingga. Pengumuman yang selama ini saya nantikan telah keluar.  Semua harapan serta doa yang saya panjatkan dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’alla. Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan, karena saya diberikan kesempatan untuk menambah ilmu dalam bidang literasi di DPK (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan) Kabupaten Blora. Ini adalah anugerah besar yang tidak mungkin saya capai sendiri tanpa dukungan dari banyak pihak yaitu orang-orang terdekat, kepala sekolah, keluarga, serta tentunya pertolongan dari Allah yang Maha Pemurah.

Perjalanan menuju kesempatan ini tentu tidak mudah. Ada banyak tantangan, kekhawatiran, dan usaha yang harus saya lakukan. Semua itu menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membuat saya semakin memahami arti kesabaran, kerja keras dan doa yang tulus. Dalam setiap langkah, saya merasa bahwa Allah Subhanahu Wata’alla selalu memberikan yang terbaik, meskipun terkadang apa yang saya inginkan belum tentu diberikan saat itu juga. Kini saya menyadari bahwa segala sesuatu datang pada waktu yang tepat, dengan hikmah yang luar biasa di baliknya.

Keberhasilan ini bukan hanya tentang saya, tetapi juga tentang orang-orang yang selalu ada di samping saya. Kepala sekolah yang memberikan kesempatan dan kepercayaan, keluarga yang selalu memberikan doa dan dukungan moril, serta teman-teman yang ikut menyemangati di saat saya merasa ragu. Tanpa mereka, mustahil saya bisa mencapai titik ini.

Saya sangat bersyukur memiliki lingkungan yang positif, yang tidak hanya mendukung tetapi juga menginspirasi saya untuk terus belajar dan berkembang. Kepala sekolah yang selalu memberikan dorongan untuk terus meningkatkan kompetensi adalah salah satu faktor penting dalam pencapaian ini. Begitu pula dengan keluarga saya, mereka selalu menjadi tempat saya kembali, sumber energi yang tidak pernah habis dan pengingat bahwa setiap perjuangan yang saya lakukan adalah untuk kebaikan bersama.

Kesempatan untuk menambah ilmu di DPK (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan) Kabupaten Blora adalah amanah besar yang harus saya jalani dengan penuh tanggung jawab. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa memahami, menganalisis, dan memanfaatkan informasi secara efektif. Dalam dunia pendidikan, literasi menjadi kunci utama dalam mencerdaskan generasi penerus.

Saya percaya bahwa dengan meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam bidang literasi, saya bisa memberikan kontribusi yang lebih besar bagi siswa, sekolah, dan lingkungan sekitar. Ilmu yang saya dapatkan nantinya tidak hanya untuk saya sendiri, tetapi juga harus saya sebarkan kepada orang lain.

Saya berharap kesempatan ini bisa menjadi awal dari perjalanan baru yang lebih bermakna. Tidak hanya menambah wawasan pribadi, tetapi juga bisa membawa manfaat bagi orang lain. Sebab, ilmu yang berkah adalah ilmu yang bisa diamalkan dan dibagikan.

Saya ingin terus belajar, menggali lebih dalam tentang dunia literasi dan mengembangkan keterampilan yang bisa membantu saya menjadi pendidik yang lebih baik. Harapan saya, dengan semakin banyak ilmu yang saya miliki, saya bisa memberikan inspirasi kepada siswa untuk lebih mencintai dunia membaca dan menulis.

Kesempatan ini juga menjadi pengingat bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Setiap doa yang dipanjatkan dengan tulus, setiap langkah yang diiringi dengan keyakinan, akan selalu berbuah hasil yang baik pada waktunya.

Cepu, 19 Maret 2025


 

Literasi Ekonomi Dalam Genggaman Pasar Tiban

 

Karya: Gutamining Saida

Mentari pagi mulai merekah, sinarnya yang hangat membelai lembut hamparan sawah hijau di Desa Pilang Kecamatan Cepu.Di tengah keindahan alam pedesaan itu, sebuah keajaiban kecil mulai menggeliat yaitu pasar Tiban. Demikian warga setempat menyebutnya sebuah pasar dadakan yang hanya muncul setiap hari Minggu pagi mulai pukul 05.30 WIB sampai selesai.

Berbeda dengan pasar tradisional pada umumnya, pasar Tiban menawarkan pengalaman yang unik. Waktu seolah melambat dan kesederhanaan hidup pedesaan terasa begitu kental. Para pedagang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga mulai menata dagangan mereka di atas meja sederhana. Aroma harum masakan tradisional pun menguar, menggugah selera siapa saja yang melintas.

Pasar Tiban bukan sekadar tempat untuk sarapan. Ini adalah ruang interaksi sosial di mana warga desa berkumpul, bercengkerama dan berbagi cerita. Anak-anak berlarian riang, remaja asyik berfoto, orang tua menikmati sarapan pagi sambil mengawasi anak cucu bermain. Suasana hangat dan kekeluargaan terasa begitu kental, jauh dari hiruk pikuk kota.

Salah satu daya tarik utama Pasar Tiban adalah ragam kulinernya. Di sini bisa menemukan berbagai hidangan khas Cepu yang jarang ditemui di tempat lain. Nasi pecel dengan bumbu kacang yang pedas menggigit, nasi jagung lengkap, opor ayam kampung yang gurih, sate ayam,  sate jerohan, bubur, aneka minuman, roti dan aneka jajanan pasar tradisional seperti gethuk, cenil, dan pokis.

Tak hanya itu, pasar Tiban juga menawarkan pengalaman bersantap yang tak terlupakan. Pengunjung bisa menikmati sarapan lezat di tengah sawah, dengan pemandangan hamparan padi yang hijau dan suara gemericik air irigasi. Sesekali ada kereta api melintas. Ikan nila masih kecil-kecil di aliran air. Udara pagi yang segar dan sejuk menambah nikmatnya hidangan yang tersaji.

Selain kuliner, Pasar Tiban juga menjadi tempat bagi para pedagang untuk menjual mainan anak, ikan cupang ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Pengunjung juga bisa menemukan aneka baju yang murah.

Seiring berjalannya waktu, pasar Tiban semakin dikenal dan menjadi daya tarik wisata baru di Cepu. Tak hanya warga lokal, wisatawan dari luar kota pun mulai berdatangan untuk merasakan sensasi bersantap di tengah sawah dan berbelanja.

Di balik popularitasnya, pasar Tiban tetap mempertahankan kesederhanaan. Para pedagang tetap ramah dan bersahaja, harga-harga tetap terjangkau, dan suasana pedesaan tetap terjaga.

Pasar Tiban di mana alam dan manusia hidup berdampingan. Jika pengunjung mencari pengalaman wisata yang unik, Pasar Tiban di Desa Pilang Cepu adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi. Pasar Tiban mulai menggeliat, bukan sekadar pasar pagi biasa, melainkan sebuah ruang edukasi yang hidup dan dinamis. Di sini, literasi tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi tentang memahami kehidupan, tradisi, dan keterampilan.

Anak-anak kecil berkerumun di sekitar ibu-ibu yang sedang menggoreng tempe mendoan. Mata mereka berbinar-binar menyaksikan proses pembuatan gorengan yang renyah dan gurih. Mereka belajar tentang bahan-bahan yang digunakan, cara mencampur adonan, dan teknik menggoreng yang tepat. Inilah literasi praktis, belajar melalui pengalaman langsung.

Di sudut lain pasar, seorang ibu dengan cekatan menyajikan nasi jagung dengan sayur lodeh, bothok dan ikan asin. Gerakannya lincah, penataannya rapi, dan senyumnya ramah. Para pengunjung, baik muda maupun tua, memperhatikan dengan seksama. Mereka belajar tentang cara menyajikan makanan tradisional yang menggugah selera, tentang estetika, dan tentang pentingnya keramahan.

Seorang pedagang nasi pecel dengan sabar menjelaskan kepada seorang pengunjung tentang bumbu-bumbu yang digunakan, tentang cara membuat sambal kacang yang pedas dan gurih, dan tentang filosofi di balik hidangan sederhana ini. Inilah literasi budaya, memahami makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi kuliner.

Di tengah hiruk pikuk pasar, terjadi transaksi jual beli yang jujur dan transparan. Para pedagang dan pembeli saling berinteraksi, tawar-menawar, dan berbagi cerita. Inilah literasi ekonomi, belajar tentang nilai uang, tentang negosiasi, dan tentang pentingnya kepercayaan.

Para pengunjung yang datang ke pasar Tiban tidak hanya mencicipi kelezatan masakan desa, tetapi juga merasakan atmosfer pedesaan yang hangat dan bersahaja. Mereka belajar tentang kearifan lokal, tentang gotong royong, dan tentang kebahagiaan yang sederhana.

Pasar Tiban adalah sekolah kehidupan yang terbuka untuk semua orang. Di sini, setiap orang adalah guru dan setiap orang adalah murid. Setiap interaksi, setiap hidangan, dan setiap transaksi adalah pelajaran berharga.

Pasar Tiban contoh nyata bahwa literasi dapat ditemukan di mana saja, bahkan di tengah pasar tradisional. Ini adalah tempat di mana pendidikan dan kehidupan berpadu, menciptakan pengalaman yang tak terlupakan bagi siapa saja yang datang berkunjung.

Pasar Tiban adalah permata tersembunyi yang menawarkan pengalaman wisata kuliner dan budaya bagi pengunjung lokal. Daya tariknya terletak pada keunikan dan kesederhanaannya, yang mampu menghadirkan nostalgia dan ketenangan di tengah kesibukan modern.

Bagi pengunjung  lokal yang merindukan suasana pedesaan yang asri pasar Tiban adalah oase yang menyegarkan. Hamparan sawah hijau yang membentang luas, udara pagi yang sejuk, dan suara gemericik air irigasi menciptakan harmoni alam yang menenangkan. Di sini, pengunjung dapat melepaskan penat dan menikmati momen-momen sederhana yang berharga.

Pengunjung lokal yang ingin mencicipi cita rasa kuliner Cepu pasti akan dimanjakan oleh kelezatan hidangan-hidangan tersebut. Selain rasanya yang menggugah selera, cara penyajiannya pun unik. Wisatawan dapat menikmati sarapan langsung di dekat penjual, di atas tikar yang dihamparkan di belakang lapak atau di dekat kolam ikan nila di petak-petak sawah yang telah disiapkan khusus.

Pengalaman bersantap di tengah sawah ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal. Mereka dapat menikmati hidangan lezat sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan merasakan suasana pedesaan yang hangat.

Interaksi ini menciptakan suasana pasar yang hangat dan akrab, jauh dari kesan komersial yang kaku. Wisatawan lokal dapat merasakan keramahan dan kebersahajaan warga desa, yang menjadi salah satu daya tarik utama Pasar Tiban.

Pasar Tiban juga menjadi tempat yang tepat bagi wisatawan lokal untuk memperkenalkan tradisi dan budaya Cepu kepada generasi muda. Anak-anak dapat belajar tentang cara membuat hidangan tradisional, tentang nama-nama jajanan pasar, dan tentang nilai-nilai kehidupan yang luhur.

Dengan demikian, pasar Tiban tidak hanya menjadi destinasi wisata kuliner, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang hidup dan dinamis. Ini adalah tempat di mana tradisi dan modernitas berpadu, di mana alam dan manusia hidup berdampingan. Keindahan alam, kelezatan hidangan, keramahan warga, dan suasana pedesaan yang hangat menjadikan Pasar Tiban layak dikunjungi oleh siapa saja yang ingin menikmati cita rasa Cepu.

Cepu, 25 Februari 2025


Minggu, 16 Maret 2025

Air Mata Bahagia

Karya: Gutamining Saida

Dini hari masih sunyi. Di luar, suara angin berbisik pelan di sela-sela pepohonan. Lampu di ruang tamu menyala redup, menemani saya yang terjaga lebih awal. Seperti biasa, sebelum menyiapkan sahur, ada satu hal yang tak pernah saya lewatkan yaitu membangunkan anak-anak saya yang tinggal di Tegal dan Salatiga.
Sejak ia tinggal terpisah, setiap Ramadan saya selalu memastikan ia bangun tepat waktu. Bukan hanya karena khawatir ia kesiangan dan melewatkan sahur, tapi juga karena ada rindu yang selalu mengendap di hati. Betapa saya ingin bisa duduk bersama, menyendok nasi dan lauk sederhana, lalu berbincang ringan seperti dulu saat ia masih tinggal serumah.
Saya meraih ponsel dan mengirim pesan di grup keluarga.
"Assalamialaikum, sudah bangun? Sahur dulu biar kuat puasanya."
Pesan terkirim, tapi belum ada tanda dibaca. Saya menunggu beberapa menit, tetapi masih belum ada balasan. Perasaan cemas mulai muncul. Bagaimana kalau ia masih terlelap? Bagaimana kalau ia kecapekan setelah seharian beraktivitas?
Saya akhirnya menekan tombol panggilan. Setelah beberapa kali nada sambung, suara mengantuk terdengar di seberang.
“Assalamu'alaikum, Umi…”
“Nak, sudah sahur belum?”
“Belum, Umi… Baru bangun.”
Saya tersenyum lega.
“Ayo cepat makan sebelum imsak, jangan malas. Nanti lemas seharian.”
“Iya, Umi,” jawabnya dengan suara serak khas orang baru bangun.
Setelah panggilan berakhir, saya melanjutkan sahur sendiri di meja makan. Hati saya tenang karena tahu anak saya sudah bangun dan akan makan. Namun, tetap saja ada rasa rindu yang mengendap. Andaikan ia di sini, pasti lebih menyenangkan.
Saat tengah menikmati sahur, ponsel saya kembali bergetar. Saya mengira itu pesan dari anak saya yang memberi tahu bahwa ia sudah selesai makan. Namun, saat membuka layar, saya terkejut membaca pesannya.
"Umi, tolong carikan paspor saya."
Saya mengernyit. Paspor? Ada apa dengan paspornya? Saya pun membalas pesan itu.
"Memangnya rencana akan ke mana, Nak?"
Pikiran saya dipenuhi berbagai pertanyaan. Apakah ia akan pergi liburan? Atau ada urusan pekerjaan ke luar negeri? Apa ia akan pergi jauh?
Saya menunggu dengan jantung berdebar. Tak lama kemudian, pesannya masuk.
"Aku ingin ke Jepang, Mi."
Saat membaca kalimat itu, air mata saya langsung menetes. Hati saya mendadak penuh dengan rasa haru dan kebanggaan. Anak saya ingin pergi ke Jepang!
Tiba-tiba, kenangan masa lalu menyeruak. Saya ingat bagaimana saat masih merantau di Bali, ia selalu antusias setiap kali melihat anime atau mendengar cerita tentang budaya Jepang. Ia sering bercerita tentang keinginannya melihat bunga sakura bermekaran, mencoba makanan khas Jepang, dan mengunjungi studio film doremon. 
Dan kini, ia benar-benar ingin mewujudkan impiannya.
Saya segera membalas pesannya.
"MasyaAllah, Nak. Umi sangat bangga dan bahagia. Kapan rencananya?"
Pesan darinya kembali masuk.
"InsyaAllah bulan depan, Mi. Aku dapat kesempatan ke sana!"
Saya terisak. Rasanya baru kemarin saya mengajarinya menulis dan membaca, kini ia akan pergi ke negeri yang selama ini hanya ia impikan.
Saya segera mencari paspornya di laci tempat saya menyimpan dokumen penting. Begitu menemukannya, saya kembali mengirim pesan.
"Alhamdulillah, paspormu sudah ketemu. Umi doakan semuanya dimudahkan."
Di seberang sana, saya bisa membayangkan wajahnya yang penuh harap dan bahagia.
Malam itu, air mata saya mengalir bukan karena sedih, tetapi karena kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ramadan kali ini terasa lebih istimewa. Bukan hanya karena sahur bersama dalam jarak yang jauh, tetapi juga karena mengetahui bahwa anak saya akan pergi ke Jepang untuk meraih mimpinya.
Dan di dalam doa-doa saya setelah sahur, ada satu harapan yang saya panjatkan dengan penuh keikhlasan:
"Ya Allah, jaga anakku di perjalanan, lindungi langkahnya, dan izinkan aku suatu hari menyusulnya melihat dunia yang lebih luas."
Cepu, 17 Maret 2025

Sahur Bersama Tempat Berbeda

Karya: Gutamining Saida 
Dini hari yang sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak perlahan di ruang tamu. Setiap kali memasuki bulan Ramadan, ada kebiasaan yang tidak pernah saya tinggalkan yaitu membangunkan anak-anak untuk sahur.
Meskipun mereka tidak lagi tinggal serumah, kebiasaan itu tetap saya lakukan dengan penuh kasih sayang. Anak-anak saya tinggal di kota yang berbeda, satu di Tegal dan satu lagi di Salatiga. Tempat yang berjauhan tidak menjadi alasan bagi saya untuk berhenti menjalankan peran sebagai ibu. Apalagi di zaman yang serba canggih ini, teknologi menjembatani jarak dan membuat kami tetap dekat meski secara fisik terpisah.
Saya meraih ponsel dan segera mengirim pesan di grup keluarga.
Assalamualaikum... 
"Dik, ayo bangun! Jangan lupa sahur ya."
Pesan itu terkirim, tetapi belum ada tanda-tanda mereka membaca. Rasa cemas mulai muncul. Bagaimana kalau mereka tertidur lelap dan melewatkan sahur? Bagaimana kalau mereka kelelahan setelah seharian beraktivitas dan tidak mendengar suara alarm? Pikiran-pikiran itu membuat saya tidak bisa diam.
Saya menekan tombol panggilan ke anak pertama yang tinggal di Tegal. Suara nada sambung terdengar cukup lama sebelum akhirnya dia mengangkat.
“Assalamualaikum, Umi,” suaranya masih terdengar mengantuk.
“Sudah sahur belum?” tanyaku lembut.
“Belum, mi… Baru mau bangun,” jawabnya dengan suara serak.
“Hayo, jangan sampai telat."
“Iya mi, Siap,” katanya sambil terkekeh.
Saya tersenyum lega. Setelah menutup telepon, saya segera menghubungi anak kedua yang tinggal di Salatiga. Kali ini, butuh tiga kali panggilan sebelum akhirnya dia menjawab.
“Assalamialaikum umi, ada apa?” tanyanya dengan suara lirih.
“Ayo segera sahur.”
“Iya, iya… Aku bangun sekarang,” jawabnya sambil menguap.
Saya tertawa kecil. Saya bisa membayangkan wajahnya yang masih mengantuk, matanya yang setengah terbuka, dan usahanya untuk turun dari tempat tidur.
“Sudah siap makan apa di sana?” tanyaku.
“Ada nasi dan ayam goreng, mi. Aku beli di warung tadi sore.”
“Bagus, kalau begitu cepat makan dan minum yang cukup. Umi juga mau sahur sekarang.”
Kami mengakhiri panggilan, dan saya merasa lega. Meskipun berada di tempat yang berjauhan, ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa memastikan mereka tetap menjalankan sahur. Rasanya seperti kami sedang sahur bersama, meskipun hanya melalui suara dan pesan singkat.
Saya melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan sahur untuk diri sendiri. Aroma nasi hangat dan lauk sederhana memenuhi ruangan. Di tengah kesunyian, saya membayangkan saat-saat ketika anak-anak masih kecil, duduk di meja makan bersama saya, mengeluh masih mengantuk tapi tetap berusaha menghabiskan makanannya.
Waktu memang telah berubah. Mereka telah tumbuh dewasa dan menjalani kehidupan masing-masing di kota yang berbeda. Tapi sebagai seorang ibu, saya masih memiliki kebiasaan kecil ini yaitu membangunkan mereka untuk sahur, memastikan mereka makan dengan cukup, dan mengingatkan mereka untuk tetap menjaga kesehatan selama berpuasa.
Setelah selesai makan, saya duduk di ruang tamu sambil menyesap teh hangat. Ponsel saya bergetar, ada pesan dari anak pertama.
"Umi makasih ya udah bangunin. Sahurnya enak, jadi semangat puasanya."
Disusul pesan dari anak kedua:
"Mii, tadi aku hampir telat sahur kalau nggak ditelpon. Makasih udah selalu ingetin."
Saya tersenyum. Hati ini terasa penuh dengan kebahagiaan. Walaupun hanya sekadar membangunkan sahur, hal kecil ini mengingatkan saya bahwa kasih sayang ibu tak akan pernah luntur oleh jarak dan waktu.
Ramadan tahun ini mungkin sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi setiap sahur selalu membawa kebahagiaan tersendiri. Selama saya masih bisa memastikan anak-anak saya baik-baik saja, selama saya masih bisa mendengar suara mereka di pagi buta, saya tahu bahwa kebersamaan kami tetap ada yaitu walaupun dalam jarak yang terbentang.
Dan esok dini hari, saya akan melakukan hal yang sama lagi. Sebab, bagi seorang ibu, kebahagiaan terbesar adalah memastikan anak-anaknya tetap terjaga, sehat, dan merasa dicintai.
Cepu, 17 Maret 2025