Minggu, 04 Januari 2026

Persiapan Hari Pertama Semester Genap



Karya : Gutamining Saida

Semester genap tahun 2026 menjadi momentum yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan ini tidak hanya dirasakan dari suasana sekolah yang kembali ramai setelah masa libur, tetapi juga dari adanya himbauan resmi yang disampaikan oleh Bapak Menteri Pendidikan pada hari pertama masuk sekolah. Himbauan tersebut menjadi arah bersama bagi seluruh satuan pendidikan dalam mengawali semester genap dengan semangat baru, kebersamaan, serta optimisme untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Pada hari pertama masuk sekolah, siswa diajak untuk melaksanakan beberapa kegiatan utama. Kegiatan tersebut meliputi Senam Anak Indonesia Hebat, upacara bendera, berdoa bersama, serta menyanyikan lagu “Hari Baru”. Rangkaian kegiatan ini dirancang bukan semata-mata sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai upaya membangun karakter peserta didik, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan sekolah sejak awal semester.

Seiring dengan beredarnya himbauan tersebut, di berbagai media sosial ramai berseliweran panduan singkat bagi para guru terkait pelaksanaan hari pertama masuk sekolah semester genap. Panduan tersebut disusun secara ringkas dan praktis agar mudah dipahami serta diterapkan oleh seluruh satuan pendidikan. Tujuan utamanya adalah agar pelaksanaan kegiatan berjalan seragam dan selaras dengan kebijakan kementerian, sekaligus mampu menciptakan suasana awal semester yang positif dan membangun.

Sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum turut berperan aktif dalam menyampaikan informasi kepada seluruh guru. Melalui grup resmi sekolah, beliau membagikan pengumuman terkait persiapan hari Senin sebagai hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Dalam pengumuman tersebut disertakan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pagi Ceria yang menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan awal semester genap. Selain itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum juga membagikan tautan YouTube berisi lagu “Hari Baru” yang akan dinyanyikan bersama oleh seluruh siswa. Penyampaian informasi ini bertujuan agar seluruh guru memiliki pemahaman yang sama, dapat mempersiapkan diri dengan baik, serta mampu mendampingi siswa secara optimal dalam mengikuti rangkaian kegiatan pada hari pertama masuk sekolah.

Kemendikdasmen secara resmi mengajak seluruh satuan pendidikan, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk mengawali semester genap dengan kegiatan “Pagi Ceria” dan upacara bendera. Ajakan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik sebagai generasi penerus bangsa yang sehat, berdisiplin, dan berjiwa nasionalis.

Kegiatan Pagi Ceria diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat. Senam ini dirancang dengan gerakan yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik usia peserta didik. Melalui senam bersama, siswa diajak untuk menggerakkan tubuh, menyegarkan pikiran, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jasmani. Selain itu, senam bersama juga melatih kedisiplinan, kekompakan, dan kerja sama antarsiswa maupun antara siswa dan guru.

Setelah kegiatan senam, seluruh warga sekolah mengikuti upacara bendera. Upacara bendera memiliki makna penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, serta penghormatan terhadap jasa para pahlawan. Melalui upacara, siswa diajak untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Pelaksanaan upacara bendera pada hari pertama semester genap menjadi simbol kesiapan seluruh warga sekolah dalam memulai kembali proses pembelajaran dengan semangat dan komitmen yang kuat.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Doa menjadi wujud rasa syukur sekaligus harapan agar seluruh kegiatan pembelajaran di semester genap dapat berjalan dengan lancar, aman, dan membawa keberkahan. Melalui doa bersama, siswa dibimbing untuk menumbuhkan sikap religius, rendah hati, serta kesadaran bahwa setiap usaha perlu diiringi dengan doa dan keikhlasan.

Kegiatan menyanyikan lagu “Hari Baru” menjadi penutup rangkaian Pagi Ceria. Lagu ini dipilih sebagai simbol optimisme dan semangat baru dalam mengawali semester genap. Lirik dan irama lagu diharapkan mampu membangkitkan motivasi siswa untuk menatap hari-hari ke depan dengan sikap positif, penuh harapan, dan percaya diri. Lagu ini juga menjadi pengingat bahwa setiap hari merupakan kesempatan baru untuk belajar, memperbaiki diri, dan meraih prestasi.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan yang dianjurkan oleh Kemendikdasmen bertujuan untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, kebersamaan, serta optimisme di lingkungan sekolah. Guru memiliki peran strategis dalam menyukseskan pelaksanaan kegiatan ini, tidak hanya sebagai pelaksana teknis, tetapi juga sebagai teladan bagi peserta didik. Keteladanan guru dalam bersikap disiplin, antusias, dan bertanggung jawab akan sangat memengaruhi bagaimana siswa memaknai kegiatan tersebut.

Semester genap tahun 2026 diharapkan menjadi momentum penguatan karakter dan semangat belajar seluruh warga sekolah. Dengan adanya koordinasi yang baik, dukungan pimpinan sekolah, serta kesiapan guru dan siswa, kegiatan hari pertama masuk sekolah dapat berlangsung dengan tertib dan bermakna. Melalui Pagi Ceria dan upacara bendera, diharapkan tercipta suasana sekolah yang kondusif, harmonis, dan penuh semangat untuk menjalani proses pembelajaran di semester genap.

Dengan demikian, semester genap 2026 tidak hanya menjadi kelanjutan dari kalender akademik, tetapi juga menjadi langkah awal yang kuat dalam membangun budaya sekolah yang positif, berkarakter, dan berorientasi pada masa depan bangsa.

Cepu, 4 Januari 2026

Antara Anggan dan Kenyataan


 

Karya: Gutamining Saida

Sudah pernah menikmati bakso iga? Kalau saya pribadi, sejujurnya belum pernah. Selama ini, bayangan tentang bakso iga hanya berputar-putar di kepala, sebatas angan-angan yang terbentuk dari cerita orang dan foto-foto di media sosial. Di benak saya, bakso iga itu pasti berupa potongan iga sapi yang diletakkan begitu saja di dalam mangkuk, berdampingan dengan mie kuning, pentol bakso, bihun, lalu disiram kuah panas yang gurih. Sebuah sajian yang tampak lazim dan tidak jauh berbeda dari bakso pada umumnya hanya saja ditambah iga sapi sebagai pelengkap.

Siang ini anggapan itu runtuh seketika.  Siang ini kami berenam berburu bakso yang sedang viral di media sosial. Entah bagaimana awalnya, satu unggahan muncul, lalu disusul unggahan lain. Komentar demi komentar bermunculan, memuji rasa, harga, dan porsinya. Rasa penasaran pun tumbuh. Bukan sekadar ingin ikut tren, tetapi lebih pada keinginan untuk membuktikan bahwa benarkah bakso ini memang layak diburu?

Ketika kami tiba di warung bakso, suasana sudah ramai. Dari kejauhan terlihat antrean yang cukup panjang. Beberapa orang berdiri sabar, sebagian lainnya duduk di teras depan warung. Penjualnya bahkan hampir tidak terlihat, tertutup oleh banyaknya pembeli dan kesibukan melayani pesanan. Sebagian besar pembeli memilih dibungkus untuk dibawa pulang, mungkin agar bisa dinikmati bersama keluarga di rumah. Sementara pembeli yang ingin makan di tempat, baru bisa masuk ke dalam warung dan duduk lesehan di tikar. 

Pembeli sabar dengan aturan yang ada. Tidak ada keluhan, tidak ada wajah kesal. Justru suasana terasa tertib. Mungkin karena semua orang punya tujuan yang sama yaitu menikmati semangkuk bakso yang katanya istimewa, dengan harga yang terjangkau bahkan bisa dibilang murah.

Pilihan menu terpampang jelas. Ada bakso iga, bakso urat, bakso lava, dan beberapa pilihan lain. Setiap orang bebas memilih sesuai selera. Ada yang mantap memilih bakso iga karena penasaran, ada yang setia dengan bakso urat, dan ada pula yang tertantang mencoba bakso lava yang terkenal dengan sensasi pedasnya. Saya sendiri memperhatikan satu per satu pilihan itu sambil membayangkan rasa dan porsinya.

Ketika pesanan bakso iga bu Wiwik disajikan, saya terdiam sejenak. Ternyata bakso iga tidak seperti yang selama ini saya bayangkan. Iga sapi itu tidak diletakkan begitu saja di dalam mangkuk. Ia dibalut dengan adonan pentol bakso, membungkus daging dan tulangnya. Tulang iga dibiarkan terlihat sebagian, seolah sengaja diperlihatkan sebagai penanda keistimewaan. Akibatnya, pentol bakso itu tampak besar sekali bahkan sangat besar. Sekilas melihatnya saja, saya sudah merasa kenyang.

Mangkuk bakso itu seperti menantang logika perut. “Apa ini bisa dihabiskan?” batin saya bertanya. Kuahnya bening, mengepul, aroma kaldu sapi tercium kuat. Di dalamnya tetap ada mie putih, taoge dan pelengkap lain, namun fokus mata langsung tertuju pada bakso iga raksasa itu. Kami memiliki selera berbeda sehingga pesan bakso yang farian berbeda juga.

Saya perhatikan wajah-wajah di sekitar. Ada yang tersenyum puas begitu mangkuknya datang, ada yang langsung sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, dan ada pula yang tertawa kecil melihat ukuran bakso yang tidak biasa. Siang itu, warung bakso tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, rasa syukur spontan terucap. Alhamdulillah, enak. Kuahnya gurih, tidak berlebihan. Daging baksonya terasa, tidak didominasi tepung. Iga di dalamnya empuk, mudah dilepaskan dari tulang. Tidak heran jika banyak orang rela antre. Harga yang ditawarkan terasa sepadan, bahkan lebih murah dibanding porsi dan kualitas yang didapatkan.

Saya pun menyadari satu hal penting yaitu rasa nikmat itu bukan hanya soal makanan. Ia hadir karena banyak faktor yang menyertainya. Ada kesehatan yang Allah berikan sehingga kita bisa menikmati. Ada rezeki yang cukup sehingga kita bisa membeli tanpa rasa berat. Ada waktu luang untuk duduk, mengunyah perlahan, dan berbincang. Ada pula kebersamaan yang membuat rasa bakso menjadi berlipat nikmatnya.

Di tengah hiruk pikuk media sosial yang sering memamerkan kemewahan, pengalaman menikmati bakso sederhana ini justru terasa menenangkan. Makanan rakyat, harga terjangkau, rasa yang memuaskan. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang mahal. Terkadang, ia hadir dalam mangkuk bakso hangat di siang hari, ditemani antrean panjang dan senyum orang-orang yang sama-sama menunggu giliran.

Ketika melihat mangkuk mulai kosong, saya kembali berpikir. Benar kata orang, sering kali angan-angan kita berbeda dengan kenyataan. Tidak semua perbedaan berujung kekecewaan. Ada kalanya, kenyataan justru melampaui bayangan. Seperti bakso iga hari ini yang tidak sesuai dengan gambaran di kepala, tetapi justru memberikan pengalaman baru yang mengesankan.

Kami pulang dengan perut kenyang dan hati yang ringan. Viral atau tidak, bakso ini telah memberi pelajaran sederhana yaitu tentang kesabaran saat mengantre, tentang rasa syukur atas nikmat yang ada, dan tentang menikmati hidup apa adanya. Karena selama masih bisa makan dengan lahap dan tersenyum puas setelahnya, itu sudah lebih dari cukup. 

Cepu, 4 Januari 2026

MBG (Makan Bersama Guru-guru)


 

Karya: Gutamining Saida

Sehari sebelum masuk sekolah semester genap, tepatnya hari Minggu, suasana  terasa berbeda. Ada semacam jeda yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan sebelum kembali pada rutinitas mengajar, mendidik, dan membersamai para siswa. Jeda itu tidak diisi dengan tidur panjang atau bepergian jauh, tetapi dengan sesuatu yang sederhana yaitu MBG

MBG di sini bukanlah MBG seperti yang sering terdengar dari program pemerintah. MBG versi kami memiliki kepanjangan yang jauh lebih hangat dan penuh rasa: Makan Bersama Guru-guru.  Memang benar, kata guru-guru sengaja saya tulis dengan tanda hubung, karena yang hadir bukan satu dua orang, melainkan lebih dari dua. Kebersamaan inilah yang justru menjadi inti dari cerita ini.

Semua bermula dari sebuah ajakan sederhana di grup WhatsApp. Bu Wiwik, guru mata pelajaran Bahasa Inggris, menuliskan pesan singkat 
“Jadi nggak nanti?”chats bu Wiwik

Pesan singkat itu seolah mengetuk hati satu per satu anggota grup. Tidak lama, tanggapan pun bermunculan.
“Iya ikut,” jawab Bu Indri.
"Saya ada acara." balas pak Bambang.
"Insya Allah, ikut."chat saya.
“Saya nggak ikut ya?” tulis Bu Isna, dengan gaya khas yang mengundang senyum.
“Lho… gimana kok ....?” timpal Bu Wiwik.

Percakapan sederhana, candaan ringan, namun di situlah terasa keakraban yang Allah tanamkan di antara kami. Bukan semata karena lapar, tetapi karena ada kerinduan untuk bertemu, bercengkerama, dan menguatkan satu sama lain sebelum kembali ke dunia kelas yang penuh dinamika.

Tujuan utama kami siang itu adalah makan bakso bareng. Bakso, makanan rakyat yang sederhana, namun memiliki rasa yang mampu menyatukan banyak orang dari berbagai latar belakang. Di warung bakso itu, pilihan menu begitu menggoda. Ada bakso biasa, bakso urat, bakso kribo, bakso telur, tetelan, iga, lava, hingga urat jumbo. Setiap mangkuk bakso seolah menjadi simbol pilihan hidup yaitu berbeda-beda, namun sama-sama mengenyangkan dan membahagiakan.

Kami memilih sesuai selera masing-masing. Tidak ada paksaan, tidak ada aturan rumit. Yang penting satu yaitu duduk bersama, makan bersama, dan menikmati kebersamaan. Siang itu kami MBG dengan menu pilihan sendiri dan bayar sendiri. Sederhana, mandiri, dan penuh keikhlasan.

Di sela kepulan uap bakso yang hangat, obrolan pun mengalir. Tentang sekolah, tentang murid, tentang keluarga, bahkan tentang harapan di semester genap yang akan segera dimulai. Tawa sesekali pecah, diselingi cerita ringan dan candaan yang membuat hati terasa lapang. Dalam kebersamaan itu, saya merasakan nikmat Allah yang sering kali luput kita sadari.

Betapa tidak, ketika tubuh sehat, menu apa pun terasa nikmat. Bakso yang mungkin biasa saja, hari itu terasa luar biasa. Bukan karena isinya, tetapi karena suasananya. Karena Allah menghadirkan kesehatan, waktu luang, dan teman-teman yang baik. Nikmat ini sungguh patut direnungkan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya diantaranya adalah,
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat ini terlintas kuat di benak saya. Sering kali kita menunggu nikmat besar untuk bersyukur, padahal nikmat kecil yang hadir setiap hari justru lebih banyak jumlahnya. Sehat, bisa makan, bisa tertawa, bisa berkumpul dengan orang-orang baik semua itu adalah nikmat yang jika dihitung satu per satu, niscaya kita tak akan mampu mengingkarinya.

MBG hari itu bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah sumber kekuatan. Sebagai guru, kami sering dituntut untuk kuat di depan siswa. Namun sesungguhnya, kami pun manusia biasa yang membutuhkan penguatan dari sesama. Dalam kebersamaan seperti inilah, hati dikuatkan, semangat diperbarui, dan niat diluruskan kembali.

Saya menyadari, sebelum masuk semester genap, Allah menghadirkan momen ini sebagai bekal batin. Bekal untuk kembali mengajar dengan hati yang lebih lapang, dengan rasa syukur yang lebih dalam. Karena mendidik bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi juga tentang menularkan nilai diantaranya adalah kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur.

Ketika akhirnya kami beranjak pulang, perut kenyang dan hati pun hangat. Tidak ada kemewahan, tidak ada acara besar. Justru dalam kesederhanaan itulah, nikmat Allah terasa begitu dekat. MBG telah usai, tetapi maknanya tinggal dan mengendap dalam hati.

Semoga kebersamaan kecil seperti ini terus Allah jaga. Semoga kami, para guru, selalu diberi kesehatan, keikhlasan, dan kekuatan dalam menjalankan amanah. Semoga kami tidak termasuk golongan orang-orang yang mendustakan nikmat-Nya, sekecil apa pun nikmat itu. Aamiin.

Cepu, 4 Januari 2026

Jumat, 02 Januari 2026

Langkah Kecil Menuju Ketaatan

Karya : Gutamining Saida 
Jum’at pertama di tahun 2026 hadir dengan suasana yang istimewa. Bukan karena cuaca, bukan pula karena tempat, melainkan karena ada rasa haru yang menyelinap di hati. Hari itu menjadi pengingat bahwa seorang cucu laki-laki akhirnya diajak berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat Jum’at. Sebuah momen sederhana, penuh doa, dan harapan yang tak terucap dengan kata-kata.

Kesempatan ini terbilang jarang. Sang cucu tinggal di kota Tegal, sementara akungnya berada di tempat yang berbeda yaitu Cepu. Jarak dan kesibukan membuat kebersamaan tak selalu bisa terwujud. Biasanya, salat Jum’at dilaksanakan di tempat masing-masing, dengan rutinitas yang berjalan sendiri-sendiri. Liburan semester mempertemukan kembali langkah-langkah yang sempat berjauhan. Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan waktu, tempat, dan niat baik dalam satu hari yang istimewa.

Sebelum berangkat ke masjid, ada satu permintaan kecil yang lahir dari hati yaitu berpose sejenak untuk diabadikan. Bukan sekadar foto, melainkan kenangan. Foto itu kelak akan menjadi saksi bahwa di awal tahun 2026, seorang cucu pernah berjalan menuju rumah Allah bersama akungnya. Sebuah potret sederhana, namun memiliki nilai spiritual yang kelak bisa diceritakan kembali tentang langkah kecil menuju ketaatan.

Sejak kecil, cucu laki-laki itu memang sudah sering diajak ke masjid. Tidak selalu untuk salat wajib, kadang hanya duduk sebentar, mendengarkan azan, atau melihat orang-orang beribadah. Tujuannya bukan pamer kesalehan, melainkan melatih hati. Menanamkan kebiasaan. Membiasakan langkah menuju tempat ibadah agar kelak, saat dewasa, masjid bukanlah tempat asing baginya.

Mendidik anak dan cucu dalam urusan agama bukanlah perkara instan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan doa yang terus dipanjatkan. Mengajak ke masjid sejak kecil adalah salah satu cara paling sederhana, namun sangat bermakna. Anak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari apa yang ia lihat dan rasakan. Ketika ia melihat orang dewasa bergegas memenuhi panggilan azan, hatinya perlahan belajar bahwa Allah Subhanahu Wata'alla adalah prioritas utama dalam hidup.

Perjalanan menuju masjid, akung berjalan di samping cucunya. Langkahnya mungkin tak lagi secepat dulu, namun niatnya tetap teguh. Di dalam hati, terselip doa-doa lirih. “Ya Allah, jadikan cucuku anak yang saleh. Tanamkan iman di hatinya. Jadikan ia hamba-Mu yang taat, yang mencintai ibadah, dan istiqamah di jalan-Mu.”

Salat Jum’at bukan sekadar kewajiban mingguan bagi kaum laki-laki muslim. Ia adalah pertemuan iman, pengingat akan kebesaran Allah, dan momentum memperbaiki diri. Duduk berdampingan di masjid, mendengarkan khotbah, lalu menunaikan salat bersama, menjadi pengalaman berharga bagi sang cucu. Mungkin ia belum sepenuhnya memahami makna setiap kata dalam khotbah, namun kebiasaan baik sedang ditanamkan. Dan benih iman itu, insyaallah, akan tumbuh seiring waktu.

Belajar beribadah sejatinya adalah belajar berproses menjadi manusia yang taat kepada Tuhannya. Tidak semua langsung sempurna. Ada kalanya malas, lupa, atau lalai. Selama lingkungan keluarga memberikan contoh dan dukungan, jalan menuju ketaatan akan selalu terbuka. Akung menyadari betul bahwa tugas orang tua dan kakek-nenek bukan hanya mencukupi kebutuhan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal akhirat.

Dalam Islam, anak saleh adalah investasi abadi. Doanya akan terus mengalir meski orang tua telah tiada. Bahkan disebutkan bahwa anak saleh kelak bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah harapan terbesar yang tersimpan dalam hati akung: semoga cucunya kelak tumbuh menjadi muslim sejati, yang menjaga salatnya, akhlaknya, dan imannya. Bukan hanya membanggakan di dunia, tetapi juga menjadi penolong di akhirat.

Usai salat Jum’at, ada rasa lega dan syukur yang mendalam. Bukan karena telah menunaikan kewajiban semata, tetapi karena Allah masih memberi kesempatan untuk membersamai generasi penerus dalam kebaikan. Momen Jum’at pertama di tahun 2026 itu menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang warisan nilai yang kita tinggalkan.

Semoga langkah kecil menuju masjid itu menjadi langkah panjang menuju surga. Semoga foto yang diabadikan bukan hanya tersimpan di galeri, tetapi juga tertanam dalam ingatan dan hati. Semoga Allah meridai setiap usaha kecil dalam mendidik anak dan cucu agar menjadi hamba-Nya yang taat, beriman, dan berakhlak mulia. Aamiin.
Cepu, 3 Januari 2026