Karya : Gutamining Saida
Setelah bel berbunyi menandakan jam pelajaran berakhir, saya meminta anak-anak kelas 8H segera mengumpulkan tugas. Suasana kelas mendadak berubah. Kursi yang semula bergeser ke sana-sini kini kembali rapat, buku-buku ditutup, dan kertas tugas digenggam erat seolah menjadi benda paling berharga. Satu demi satu mereka maju ke depan meja guru. Ada yang melangkah penuh percaya diri, ada pula yang menunduk sambil sesekali melirik ke arah teman.
Saya menerima hasil karya mereka dengan senyum, membolak-balik kertas, membaca sekilas judul dan isi. Sebagian besar sudah sesuai dengan instruksi yaitu tokoh penjelajah samudra lengkap dengan asal negara, tujuan pelayaran, serta dampak penjelajahannya. Hati saya terasa hangat melihat usaha mereka. Ada yang menulis tentang Vasco da Gama, ada yang memilih Christopher Columbus, bahkan ada pula yang berani mengulas Ferdinand Magellan meski tulisannya masih sederhana.
Ketika Azka Ayu Sabila maju ke depan, perasaan saya mendadak berubah. Mata saya seakan salah lihat. Pikiran saya pun menolak untuk yakin dengan apa yang disodorkan di hadapan saya. Nama tokoh yang tertulis di kertas adalah Sisimangaraja. Saya hafal betul tokoh tersebut, bahkan di luar kepala. Tanpa sadar, saya mengangkat wajah, menatap Azka, lalu kembali menatap tugasnya.
Wajah saya berganti-ganti arah, dari Azka ke kertas, dari kertas ke Azka. “Betul ini tugasmu?” tanya saya, berusaha menahan nada agar tetap terdengar biasa saja.
“Iya, Bu,” jawabnya singkat, nyaris tanpa ragu.
Saya menarik napas sejenak. “Ini siapa dan dari mana asalnya?” saya melanjutkan, sambil menunjuk nama yang tertulis di sana.
“Ini Sisimangaraja, Bu, yang melawan penjajah,” jawab Azka dengan suara yakin..
Saya mengangguk pelan. “Betul sekali,” jawab saya jujur. “Ibu tidak menyangkal itu. Sisimangaraja adalah pahlawan yang luar biasa.” Saya kemudian melanjutkan dengan nada lebih lembut, “Tapi untuk tugas yang kau kumpulkan ini, ada yang keliru. Maksud Ibu, kita sedang membahas penjelajahan samudra.”
Kalimat itu seolah menjadi garis batas antara keyakinan dan kenyataan bagi Azka. Wajahnya yang semula cerah mendadak berubah. Sorot matanya meredup, bibirnya terkatup rapat. Ia menunduk, menatap lantai kelas yang tiba-tiba terasa begitu luas. Saya bisa melihat kesedihan di wajahnya, bukan karena dimarahi, melainkan karena merasa salah dan kecewa pada dirinya sendiri.
Saat itu, kelas terasa hening. Anak-anak lain yang masih mengantri pengumpulan tugas ikut terdiam. Saya tahu, momen ini bukan hanya tentang satu tugas yang keliru, tetapi tentang proses belajar seorang anak.
Saya mempersilakan Azka kembali ke bangkunya. Saya bergulat dengan perasaan. Ada keinginan untuk langsung menegur, tetapi ada pula dorongan kuat untuk memahami. Saya sadar, tidak semua kesalahan lahir dari kemalasan. Kadang, kesalahan muncul karena ketidaktelitian, salah paham, atau bahkan keterbatasan pemahaman.
Pelajaran hari itu sebenarnya bukan sekadar tentang penjelajahan samudra. Saya ingin anak-anak memahami perbedaan antara tokoh pahlawan nasional dan tokoh penjelajahan Samudra. Sisimangaraja adalah simbol perlawanan, keberanian, dan cinta tanah air. Sementara penjelajahan samudra adalah tokoh yang berlayar melintasi lautan dengan berbagai tujuan, baik ekonomi, politik, maupun agama. Dua hal ini berbeda, namun sama-sama penting untuk dipelajari.
Setelah semua tugas terkumpul, saya berdiri di depan kelas. Saya tidak langsung menyinggung kesalahan Azka. Saya memilih menjelaskan kembali materi secara umum. Saya ulangi apa yang dimaksud dengan penjelajah samudra, kapan peristiwa itu terjadi, dan siapa saja tokoh-tokohnya. Saya sampaikan dengan bahasa sederhana, diselingi contoh-contoh agar mudah dipahami.
Sesekali, saya melirik ke arah Azka. Ia duduk diam, mendengarkan dengan serius. Saya bisa melihat ia berusaha mencocokkan kembali pemahamannya. Dalam hati saya berkata, inilah proses belajar yang sesungguhnya. Bukan tentang selalu benar, tetapi tentang berani menyadari kesalahan dan mau memperbaikinya.
Usai penjelasan, saya mendekati bangkunya. Dengan suara pelan, saya berkata, “Azka, Ibu senang kamu mengenal Sisimangaraja. Itu artinya kamu punya pengetahuan sejarah yang baik. Tapi lain kali, coba baca lagi soal tugasnya, ya.”
Ia mengangguk pelan. “Iya, Bu,” jawabnya lirih.
Saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang memberi nilai benar atau salah. Menjadi guru adalah tentang menemani proses, memahami kegelisahan anak, dan memberi ruang untuk tumbuh. Kesalahan Azka menjadi pengingat bagi saya bahwa setiap anak belajar dengan caranya sendiri, dan tugas saya adalah membimbing, bukan menghakimi.
Bagi Azka, mungkin hari itu terasa berat. Saya berharap, suatu saat nanti ia akan mengingatnya sebagai titik belajar. Bahwa dari kesalahan kecil di kelas, ia belajar untuk lebih teliti, lebih memahami, dan tidak takut untuk mencoba lagi. Bagi saya, hari itu kembali menegaskan satu hal bahwa di balik setiap tugas yang keliru, selalu ada anak yang sedang berproses menjadi lebih baik.
Cepu, 30 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar