Karya : Gutamining Saida
Ketika saya mendapat tugas MGMP di SMPN 1 Jiken, hati dan perasaan saya langsung tertuju pada keluarga besar SMP Triji. Entah mengapa, setiap kali nama Jiken disebut, ingatan saya selalu berjalan lebih cepat dari langkah kaki. Ingatan tentang kebersamaan, tentang tawa sederhana di sela-sela tugas, dan tentang persaudaraan yang terjalin bukan karena kepentingan, melainkan karena ketulusan.
Saya bersyukur, karena dalam satu perjalanan hari itu, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan saya membawa dua niat sekaligus. Pertama, menjalankan amanah sebagai guru IPS dengan mengikuti MGMP. Kedua, menjaga silaturahmi dengan teman-teman lama. Saya meyakini betul, silaturahmi adalah jalan kebaikan yang sering kali menghadirkan kejutan tak terduga. Ia tidak selalu datang dalam bentuk pertemuan besar, kadang justru hadir melalui hal-hal kecil yang menghangatkan hati.
Di zaman sekarang, silaturahmi memang tidak selalu harus bertatap muka. Bisa lewat pesan singkat, panggilan video, atau sekadar saling menyapa di media sosial. Saya tetap percaya, silaturahmi secara langsung memiliki rasa yang berbeda. Ada energi yang mengalir, ada doa yang diam-diam terucap, dan ada kedekatan yang tak bisa digantikan oleh layar ponsel.
Saat berada di lokasi MGMP, saya teringat Bu Peni. Rumah beliau berada di pinggir jalan raya, tepat di jalur yang saya lewati menuju Jiken. Tanpa berpikir panjang, saya mengirim pesan singkat, sekadar memberi kabar.
“Bu, hari ini saya MGMP di Jiken 1.”
Balasan sederhana itu membuat hati saya hangat. Rasanya seperti disambut sebelum benar-benar datang. MGMP pun berlangsung lancar. Diskusi berjalan hidup, ide-ide dibagikan, dan semangat belajar antar guru terasa nyata. Di sela-sela kegiatan itu, hati saya menyimpan niat kecil bahwa jika waktu mengizinkan, saya ingin benar-benar mampir, meski hanya sebentar.
Ketika kegiatan MGMP selesai dan saya bersiap pulang, saya kembali memberi kabar kepada Bu Peni bahwa agenda saya sudah usai. Tak perlu menunggu lama, pesan itu segera terbalas.
“Iya bu, saya masih di posyandu.”
Saya tersenyum membaca balasan tersebut. Tidak apa-apa, pikir saya. Yang penting niat silaturahmi sudah ada. Saya pun memutuskan tetap mampir, sekadar menyapa dan menunjukkan bahwa janji kecil itu saya usahakan untuk ditepati.
Sesampainya di rumah Bu Peni, suasana tampak tenang. Saya disambut oleh suaminya yang biasa disapa dengan panggilan Pak Bandi. Dengan senyum ramah, beliau mempersilakan saya duduk. Obrolan ringan pun mengalir, tentang kesibukan masing-masing. Tidak ada obrolan yang berat, namun cukup untuk membuat suasana terasa akrab.
Tak lama kemudian, Pak Bandi masuk ke dalam rumah. Saya kira beliau hendak mengambil minum. Beliau keluar sambil membawa sebuah tas tentengan berwarna kuning. Saya sedikit terkejut ketika tas itu disodorkan kepada saya.
“Ini, Bu… dibawa pulang,” ucap beliau dengan nada sederhana.
Saya sempat terdiam. Eh… ternyata isinya juga serba kuning. Di dalam tas itu terdapat buah pisang emas dan pisang raja. Warnanya cerah, segar, dan terlihat begitu menggoda. Saya tersenyum lebar, bukan semata karena buahnya, melainkan karena ketulusan yang menyertainya.
Dalam hati langsung terucap syukur. Alhamdulillah...MasyaAllah… rezeki memang sudah ada yang mengatur. Kadang ia datang lewat jalan yang sama sekali tidak kita rencanakan. Saya tidak berniat mampir untuk membawa apa-apa pulang. Saya hanya ingin menyambung silaturahmi. Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan rezeki itu lewat tangan siapa saja yang Dia kehendaki.
Bu Peni belum pulang dari posyandu, namun pertemuan singkat dengan Pak Bandi saja sudah cukup menjadi penguat rasa persaudaraan. Saya berpamitan dengan hati yang hangat dan tangan yang membawa amanah berupa buah pisang. Dalam perjalanan pulang, pikiran saya dipenuhi rasa syukur yang dalam.
Hari ini benar-benar terasa lengkap. Tugas MGMP terselesaikan dengan baik. Silaturahmi terjaga, meski tidak sepenuhnya bertemu. Rezeki datang tanpa diminta. Semua seolah menjadi pengingat bahwa ketika kita meluruskan niat, Allah Subhanahu Wata'alla akan mencukupkan hasilnya.
Saya belajar kembali bahwa silaturahmi bukan soal lama bertemu atau seberapa sering bertatap muka. Silaturahmi adalah soal niat, soal usaha, dan soal keikhlasan. Bahkan ketika hanya bertemu dengan suami sahabat, kebaikan tetap mengalir. Bahkan ketika hanya mampir sebentar, keberkahan tetap hadir.
Saya pulang dengan perasaan lapang. Bukan karena tas kuning berisi pisang, melainkan karena keyakinan bahwa hidup ini selalu punya cara indah untuk mengajarkan kita tentang syukur. Rezeki sudah ditakar, waktu sudah diatur, dan pertemuan sudah dituliskan. Tugas kita hanyalah melangkah dengan niat baik dan percaya penuh kepada Sang Pencipta alam semesta. Satu perjalanan kembali mengajarkan saya bahwa ketika niat bekerja dan niat menyambung silaturahmi disatukan, Allah Subhanahu Wata'alla menghadiahkan lebih dari yang kita bayangkan.
Cepu, 29 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar