Karya : Gutamining Saida
Kelas 8F memiliki keunikan tersendiri saat mengikuti pembelajaran IPS. Setiap masuk ke ruang kelas itu, saya selalu merasa ada energi yang berbeda. Bukan hanya karena jumlah siswanya, tetapi karena warna-warna karakter yang mereka miliki. Ada yang pendiam namun penuh pemikiran, ada yang ceria dan suka berbagi cerita, ada pula yang kreatif dan inovatif, sering kali menghadirkan ide-ide di luar dugaan. Semua berpadu menjadi satu mozaik yang indah, sebagaimana Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Awal semester genap menjadi momentum penting. Setelah liburan usai, saya menyadari bahwa siswa tidak hanya perlu kembali pada rutinitas belajar, tetapi juga perlu disapa hatinya. Liburan panjang sering kali membawa banyak cerita yaitu kebahagiaan, kelelahan, bahkan luka kecil yang tak terlihat. Maka saya mengawali pembelajaran IPS dengan sebuah kegiatan refleksi. Saya ingin mereka menengok ke belakang sejenak, lalu melangkah ke depan dengan hati yang lebih siap.
Saya mengajak mereka untuk menulis sebuah refleksi dengan tema besar “TAHUN”. Kata sederhana, namun sarat makna. Saya meminta mereka menuliskan kata “TAHUN” dengan huruf besar di kertas buku tulis, sepanjang dua halaman. Setiap huruf tidak sekadar menjadi tulisan, tetapi menjadi pintu perenungan. Pada setiap huruf, saya berikan dua pertanyaan yang harus mereka jawab. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu mudah, karena sebagian menuntut kejujuran pada diri sendiri: tentang apa yang telah dilalui, apa yang disyukuri, apa yang disesali, dan apa yang diharapkan.
Sebelum mereka mulai menulis, saya menjelaskan terlebih dahulu apa itu refleksi. Refleksi bukan sekadar mengingat kejadian, tetapi merenungi makna di baliknya. Refleksi adalah proses bercermin, melihat diri sendiri dengan jujur, lalu menyadari bahwa setiap langkah hidup tidak pernah lepas dari kehendak Allah Subhanahu Wata'alla. Saya sampaikan kepada mereka bahwa refleksi membantu kita belajar dari masa lalu, agar hari esok menjadi lebih baik. Dalam refleksi, kita diajak bersyukur atas nikmat, bersabar atas ujian, dan bertekad memperbaiki diri.
Tujuan refleksi ini pun saya sampaikan dengan sederhana yaitu agar mereka merasa nyaman, merasa dihargai, dan merasa didengarkan. Saya ingin mereka bahagia menyongsong semester genap, dengan harapan prestasi meningkat dan akhlak semakin baik. Saya ingin mereka menyadari bahwa belajar bukan hanya tentang angka dan nilai, tetapi juga tentang membentuk pribadi yang bertanggung jawab dan beriman.
Saat kegiatan dimulai, suasana kelas berubah menjadi lebih tenang. Pena mulai bergerak perlahan. Beberapa siswa tampak berpikir lama sebelum menulis, menatap kosong sejenak, lalu kembali menunduk. Ada yang tersenyum kecil saat menuliskan kenangan indah, ada pula yang diam lebih lama, mungkin sedang bergulat dengan perasaan yang belum sempat terucap.
Yang membuat hati saya tersentuh adalah kreativitas mereka. Tidak sedikit siswa yang menambahkan hiasan pada tulisannya. Ada yang menggambar bunga kecil di sudut huruf, ada yang memberi garis warna-warni, ada pula yang menambahkan ilustrasi sederhana sesuai makna jawaban mereka. Ide-ide itu mereka tuangkan di setiap celah yang ada, seolah ingin berkata bahwa hidup pun penuh dengan ruang untuk diperindah, meski di sela-sela kesibukan.
Saya merasa sangat bangga, terutama kepada siswa perempuan. Ketelitian, kepekaan rasa, dan keberanian mereka menuangkan isi hati terlihat jelas dalam setiap tulisan. Mereka menulis dengan jujur, lembut, dan penuh harap. Ada doa-doa sederhana yang mereka sisipkan bahwa harapan agar lebih rajin salat, agar lebih patuh kepada orang tua, agar lebih giat belajar, dan agar Allah Subhanahu Wata'alla memudahkan cita-cita mereka. Membaca tulisan-tulisan itu membuat saya sadar, betapa besar potensi kebaikan yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan dalam diri mereka.
Dalam hati, saya berdoa semoga kegiatan refleksi ini menjadi amal jariyah kecil. Semoga tulisan-tulisan itu kelak menjadi pengingat ketika mereka lelah, ketika mereka hampir menyerah. Semoga mereka ingat bahwa pernah ada satu momen di kelas 8F, di mana mereka diajak berhenti sejenak, merenung, dan mengenal diri sendiri lebih dekat.
Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar materi, tetapi tentang menemani perjalanan. Tentang menjadi saksi tumbuhnya kesadaran, doa, dan harapan dalam diri anak-anak. Kelas 8F mengajarkan saya bahwa di balik keceriaan dan kenakalan usia remaja, tersimpan hati-hati yang tulus, yang sedang belajar memahami hidup.
Semoga Allah Subhanahu Wata'alla meridai setiap langkah kecil ini. Semoga kelas 8F tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, dan penuh rasa syukur. Semoga refleksi sederhana ini menjadi awal dari tahun yang lebih bermakna, bukan hanya bagi mereka, tetapi juga bagi saya sebagai pendidik yang terus belajar memperbaiki niat dan ikhtiar. Aamiin
Cepu, 6 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar