Karya: Gutamining Saida
Refleksi sering kali dianggap sebagai kegiatan pembuka, sehingga muncul pertanyaan: apakah refleksi harus dilaksanakan di awal semester? Jawabannya tentu tidak harus. Refleksi sangat baik jika dilaksanakan di awal semester, karena di situlah hati dan pikiran siswa masih berada pada masa transisi. Dari libur menuju rutinitas, dari santai menuju tanggung jawab. Refleksi menjadi jembatan yang lembut agar siswa tidak merasa terpaksa kembali belajar, tetapi diajak dengan kesadaran dan kesiapan batin.
Keyakinan itulah yang saya pegang saat memasuki kelas 7C pada awal semester genap. Anak-anak kelas tujuh adalah anak-anak yang masih mencari bentuk. Mereka sedang belajar mengenali diri, emosi, dan lingkungan baru. Sebelum mengajak mereka berlari mengejar target materi, ada baiknya saya mengajak mereka berhenti sejenak, menata niat, dan menyelaraskan hati. Karena dalam Islam, segala sesuatu bermula dari niat. Niat yang baik akan menuntun pada proses yang baik pula.
Di kelas 7C, saya memilih kata “BARU” sebagai media refleksi. Kata yang sederhana, dekat dengan dunia mereka, dan penuh makna positif. Saya meminta mereka menuliskan kata “BARU” dengan ukuran besar di kertas buku. Model huruf saya bebaskan, tidak ada ketentuan. Mereka boleh menulis dengan gaya apa pun, sesuai karakter masing-masing. Saya ingin mereka merasa merdeka berekspresi, tanpa takut salah, tanpa takut dinilai.
Setiap huruf dalam kata “BARU” harus dijawab dengan dua pertanyaan reflektif. Pertanyaan-pertanyaan itu saya susun bukan untuk menguji pengetahuan, melainkan untuk menggugah kesadaran. Di antaranya: Bagaimana perasaan di awal semester genap ini? Bagaimana sikap kalian saat rasa malas menyerang? Apa upaya yang akan dilakukan untuk meraih mimpi yang belum tercapai? dan Sikap apa saja yang seharusnya mulai dihilangkan? Sikap baik apa yang harus dipertahankan?Apa harapanmu saat pembelajaran IPS?
Sebelum mereka mulai menulis, saya kembali menjelaskan apa itu refleksi. Refleksi adalah upaya berdialog dengan diri sendiri. Mengajak hati untuk jujur, mengajak pikiran untuk sadar. Refleksi adalah bentuk muhasabah, sebagaimana ajaran agama mengajarkan kita untuk selalu mengevaluasi diri sebelum Allah Subhanahu Wata'alla mengevaluasi kita. Saya sampaikan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menyukai hamba-Nya yang mau belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaiki diri.
Dua jam pelajaran pun dimulai dengan suasana yang berbeda. Kelas tidak riuh, tidak gaduh, tetapi hidup. Pena-pena bergerak, sesekali berhenti, lalu bergerak lagi. Ada siswa yang tampak tersenyum ketika menuliskan perasaannya, ada pula yang terdiam cukup lama, mungkin sedang berjuang melawan rasa malas yang ia tuliskan sendiri. Saya melihat kejujuran tumbuh perlahan di wajah-wajah mereka.
Hasilnya sungguh di luar dugaan. Kata “BARU” yang saya kira hanya akan menjadi tulisan biasa, berubah menjadi karya penuh makna. Ada huruf yang dihias dengan warna cerah, ada yang diberi ornamen kecil, ada pula yang sederhana namun sarat isi. Di balik tulisan mereka, tersimpan kejujuran yang tidak bisa dibuat-buat. Ada siswa yang menulis bahwa ia sebenarnya masih malas, tetapi ingin berubah. Mereka mengaku sering menunda tugas, namun berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih disiplin. Ada pula yang menuliskan mimpi sederhana, namun disertai doa agar Allah Subhanahu Wata'alla memudahkan jalannya.
Melihat dan membaca hasil karya siswa 7C membuat hati saya bergetar. Saya merasa sangat bangga. Bukan karena tulisan mereka rapi atau penuh warna, tetapi karena keberanian mereka untuk jujur pada diri sendiri. Di usia yang masih sangat muda, mereka sudah belajar mengenali kelemahan dan harapan. Itu adalah bekal yang sangat berharga dalam hidup.
Saya sadar, jerih payah selama dua jam pelajaran itu tidak sia-sia. Mungkin tidak langsung terlihat dalam nilai ujian, tetapi tertanam dalam kesadaran mereka. Bahwa belajar bukan sekadar kewajiban, tetapi perjalanan. Bahwa rasa malas bukan musuh yang harus ditakuti, melainkan tantangan yang harus dihadapi. Sebuah mimpi tidak cukup hanya dituliskan, tetapi perlu diupayakan dengan sungguh-sungguh dan disertai doa.
Sebagai guru IPS, saya belajar banyak dari kegiatan ini. Saya belajar bahwa anak-anak membutuhkan ruang untuk didengar, bukan hanya diperintah. Mereka membutuhkan kepercayaan agar berani membuka hati. Refleksi menjadi cara sederhana namun bermakna untuk mendekatkan guru dan siswa, bukan sebagai pengajar dan pelajar semata, tetapi sebagai manusia yang sama-sama sedang bertumbuh.
Saya memanjatkan doa. Semoga tulisan “BARU”menjadi pengingat ketika mereka kembali merasa malas. Semoga kata-kata yang mereka tulis dengan jujur itu menjadi saksi bahwa mereka pernah berjanji pada diri sendiri untuk berubah. Semoga Allah membimbing langkah kecil mereka, menjadikan mereka pribadi yang tangguh, berakhlak, dan tidak mudah menyerah.
Akhirnya saya semakin yakin, refleksi tidak harus menunggu momen tertentu. Ketika refleksi dilakukan di awal semester, ia menjadi pondasi. Menjadi arah. Menjadi cahaya kecil yang menuntun perjalanan panjang mereka dalam menuntut ilmu. Kelas 7C telah membuktikan, bahwa dengan pendekatan hati dan sentuhan iman, pembelajaran bisa menjadi benar-benar baru, bermakna, dan penuh harapan.
Cepu, 7 Januari 2026

kgn 7c☹️
BalasHapus