Minggu, 01 Februari 2026

Langkah Kakiku


Karya : Gutamining Saida

Minggu pagi di awal bulan Februari 2026 saya awali dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Udara masih menyisakan dingin malam, embun belum sepenuhnya menguap, dan langit perlahan berubah warna dari hitam pekat menuju biru pucat. Sehabis menunaikan salat Subuh berjamaah, saya melangkahkan kaki menuju Masjid Al Mujahidin. Hati saya sudah menetapkan satu tujuan utama yaitu menuntut ilmu sebagai bekal perjalanan panjang menuju akhirat.

Masjid Al Mujahidin pagi itu tampak berbeda. Dari kejauhan, lampu-lampu masih menyala lembut, seolah menyambut setiap jamaah yang datang dengan niat tulus. Saya melihat ibu-ibu berjalan beriringan, sebagian menggandeng anak, sebagian lagi membawa tas kecil. Bapak-bapak tampak duduk rapi di serambi, bercengkerama pelan, menjaga adab pagi yang penuh berkah. Di sudut lain, tampak anak-anak yatim yang akan menerima santunan, duduk tertib dengan wajah polos yang menenangkan hati siapa saja yang memandang.

Kegiatan pengajian ini bukanlah hal baru. Santunan untuk anak-anak yatim rutin diberikan sebulan sekali, tepat pada hari Minggu Wage. Setiap pertemuan selalu menghadirkan rasa yang berbeda. Ada getar haru, ada rasa syukur, dan ada pengingat halus bahwa hidup bukan sekadar tentang diri sendiri.

Sebelum acara inti berupa tausiah dimulai, jamaah disuguhi sebuah pertunjukan yang meneduhkan jiwa yaitu tarian sufi. Alunan hadroh mulai terdengar, ritmenya perlahan, menghentak lembut, seolah mengetuk pintu-pintu hati yang mungkin selama ini tertutup oleh kesibukan dunia. Penari tampil anggun mengenakan kostum putih bersih, simbol kesucian dan keikhlasan. Jilbab marun yang dikenakan menambah kesan khidmat dan elegan, seakan melambangkan cinta dan pengorbanan dalam perjalanan spiritual seorang hamba.

Gerakan mereka berputar perlahan, konsisten, penuh penghayatan. Tidak ada kata yang terucap, setiap putaran seolah mengajarkan makna: bahwa hidup adalah perjalanan kembali kepada Sang Pencipta. Bahwa sekeras apa pun badai kehidupan, poros hidup seorang manusia seharusnya tetap Allah Subhanahu Wata'alla. Saya merasakan dada ini menghangat, mata terasa berat, dan hati bergetar. Tanpa sadar, doa-doa pendek meluncur lirih dari bibir.

Masjid semakin penuh. Jamaah ibu-ibu dan bapak-bapak memenuhi setiap saf, ditambah anak-anak yatim yang duduk rapi di barisan depan. Pemandangan itu menjadi pengingat nyata bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kepedulian, persaudaraan, dan cinta kasih. Di sanalah iman dipupuk, dan empati ditumbuhkan.

Setelah tarian sufi usai, suasana kembali hening. Hadroh perlahan berhenti, digantikan oleh lantunan salawat yang menggema serempak. Tak lama kemudian, Bapak Jalal naik ke mimbar untuk menyampaikan tausiah. Beliau membuka dengan salam dan pujian kepada Allah Subhanahu Wata'alla. , lalu mengajak jamaah untuk sejenak menundukkan hati, bukan sekadar mendengarkan dengan telinga, tetapi juga menyimak dengan jiwa.

Isi tausiah pagi itu terasa sederhana, namun menghunjam. Tentang pentingnya ilmu sebagai cahaya kehidupan. Tentang waktu yang sering kita sia-siakan, padahal setiap detiknya adalah amanah. Tentang anak-anak yatim yang hadir di hadapan kami, bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai ladang pahala dan pengingat bahwa dunia tidak selalu adil, tetapi Allah Maha Adil.

Saya tersentuh ketika beliau menyampaikan bahwa menyantuni anak yatim bukan hanya tentang memberi materi, tetapi juga tentang menghadirkan rasa aman, cinta, dan perhatian. “Bisa jadi,” kata beliau, “doa tulus dari anak yatim itulah yang kelak menjadi sebab Allah Subhanahu Wata'alla  memudahkan urusan hidup kita.”

Saat santunan dibagikan, suasana menjadi sangat haru. Satu per satu anak yatim maju, menerima dengan wajah polos dan senyum yang tulus. Ada yang menunduk malu, ada yang tersenyum lebar, ada pula yang menggenggam amplop itu erat-erat seolah memegang harapan. Di momen itu, saya merasa Allah Subhanahu Wata'alla.  sedang mengajarkan makna syukur secara nyata. Bahwa apa yang kita keluhkan hari ini, mungkin adalah impian bagi orang lain.

Acara pun ditutup dengan doa bersama. Tangan-tangan terangkat, suara lirih mengalun, memohon ampun, kesehatan, keberkahan, dan husnul khatimah. Saya pulang dengan langkah yang sama seperti saat datang, namun hati yang jauh berbeda. Ada ketenangan yang menetap, ada rasa cukup yang sulit dijelaskan, dan ada tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.

Cepu, 2 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar