Rabu, 21 Januari 2026

Kursi Pelaminan

Karya : Gutamining Saida 
Pulang dari kegiatan MGMP di SMPN 2 Blora, langkah saya terasa ringan meski tubuh sedikit lelah. Hari ini penuh dengan diskusi, dan saling menguatkan antar sesama guru IPS. Dalam perjalanan pulang, hati saya tergerak untuk mampir sejenak ke sebuah acara tasyakuran resepsi pernikahan. Seorang teman sejawat, guru SMPN 1 Kedungtuban bernama Pak Angga, tengah melangsungkan hajatan bahagia. Niat saya sederhana yaitu memenuhi undangan, mendoakan, dan ikut berbagi kebahagiaan, meski hanya sebentar.

Setibanya di lokasi, suasana resepsi sudah ramai. Tamu-tamu berdatangan silih berganti. Menikmati hidangan yang sudah ada dibeberapa meja. Suara percakapan bercampur dengan alunan sang biduan yang memakai baju warna hijau berkilau musik lembut yang menenangkan. Sebagian besar kursi telah terisi, hanya tersisa beberapa kursi kosong yang tersebar di sudut-sudut. 

Di serambi depan, saya disambut oleh seorang bapak dari pak Angga dengan wajah teduh. Dari raut mukanya, terpancar ketulusan dan kebahagiaan seorang ayah yang sedang melepas anaknya menuju kehidupan baru. Beliau tersenyum ramah lalu bertanya dengan logat khas yang hangat, “Saking Kedungtuban, nggih?”
Spontan saya menjawab, “Nggih,” sambil menganggukkan kepala. Jawaban itu meluncur begitu saja, meski secara administratif saya sudah tidak lagi bertugas di Kedungtuban. Namun, Kedungtuban tetap memiliki ruang tersendiri di hati saya. Banyak kenangan, pelajaran hidup, dan ikatan persaudaraan yang tumbuh di sana. Kadang, sebuah tempat bukan sekadar soal alamat, melainkan tentang rasa memiliki.

Bapak tersebut kemudian menunjuk ke arah seseorang yang duduk di barisan depan sambil berkata, “Niku, priyayi  saking Kedungtuban.” Sambil mengikuti arah telunjuknya, saya melangkah mendekat. Ternyata yang dimaksud adalah Ibu pengawas yang bernama ibu Fatma beliau pengawas SMPN 1 Kedungtuban. Kami pun saling menyapa dengan penuh keakraban. Di tengah keramaian, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan kembali kami dalam suasana yang penuh berkah.

Kami dipersilakan menikmati sajian yang telah tertata rapi di beberapa meja. Saya mengambil seporsi nasi rawon, makanan sederhana namun sarat rasa, lalu memilih air putih sebagai minuman. Di sela suapan, saya merenung. Dalam agama Islam, walimah bukan sekadar pesta, melainkan wujud syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas amanah pernikahan. Makanan yang disajikan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi sarana berbagi rezeki dan mempererat silaturahmi.

Pandangan saya kemudian tertuju ke arah pelaminan. Kursi pengantin masih kosong. Saya pun bertanya pelan kepada Ibu Fatma, “Manten belum dikeluarkan, Bu?”
Beliau tersenyum lalu menjawab, “Kemanten masih perjalanan.”
Jawaban itu sederhana, tetapi menghadirkan makna mendalam di hati saya. Dalam hidup, sering kali kita berada di sebuah acara, sebuah proses, namun belum melihat hasil akhirnya. Seperti halnya pelaminan yang masih kosong, kita diajarkan untuk bersabar menunggu waktu yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Tidak semua hal harus disaksikan dari awal hingga akhir. Yang terpenting adalah niat baik dan doa yang tulus.

Saya menikmati rawon tanpa kehadiran pengantin di pelaminan. Tidak ada jabat tangan dengan Pak Angga dan istrinya, tidak ada foto bersama, tidak pula menyaksikan senyum bahagia mereka duduk berdampingan. Saya yakin doa tidak harus menunggu momen sempurna. Doa dapat dipanjatkan kapan saja, bahkan dalam keheningan dan keterbatasan waktu.

Dalam hati saya berucap, “Mohon maaf, Pak Angga. Saya tidak bisa menunggu sampai njenengan duduk di pelaminan.” Bukan karena tidak ingin, tetapi karena waktu dan kondisi yang tidak memungkinkan. Saya percaya Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Doa yang lirih, meski tanpa disaksikan manusia, tetap sampai ke langit.

Saya memanjatkan doa semoga Pak Angga dan pasangan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Semoga mereka rukun sampai menua, saling menguatkan dalam suka dan duka, serta diberi kemampuan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan dunia, tetapi juga tentang perjalanan bersama menuju ridha Allah Subhanahu Wata'alla . Semoga rumah tangga mereka menjadi ladang pahala, tempat tumbuhnya iman, dan ruang pendidikan pertama bagi generasi yang saleh dan salehah.

Langkah saya meninggalkan lokasi resepsi diiringi rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk menghadiri undangan, menjaga silaturahmi, dan menyaksikan secuil kebahagiaan orang lain. Hidup ini adalah rangkaian pertemuan dan perpisahan. Ada yang bisa kita saksikan sampai tuntas, ada pula yang hanya sebentar kita singgahi. Selama niatnya baik dan diiringi doa, semuanya bernilai ibadah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Cepu, 22 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar