Karya: Gutamining Saida
Peringatan Isra Mi’raj di Esmega pagi itu berlangsung dengan lancar dan penuh kekhidmatan. Sejak langkah pertama memasuki gerbang sekolah, suasana religius sudah terasa begitu kental. Seluruh warga sekolah yaitu siswa, bapak ibu guru, serta karyawan tampak serasi mengenakan baju muslim. Siswa laki-laki mengenakan koko dan celana panjang rapi, sementara siswa perempuan tampil anggun dengan gamis dan kerudung sederhana. Bapak ibu guru dan karyawan pun tak kalah mengenakan busana muslim yang bersih dan rapi, seolah menjadi satu barisan besar yang siap meneladani perjalanan agung Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Tidak ada kemewahan berlebihan dalam peringatan Isra Mi’raj kali ini. Persiapan telah dilaksanakan sehari sebelum acara dengan penuh kebersamaan. Guru, karyawan, dan siswa saling membantu sesuai tugas masing-masing. Ada yang menata tempat, menyiapkan pengeras suara, membersihkan halaman, hingga memastikan acara berjalan tertib. Semua dilakukan dengan niat ibadah. Kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama, menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.
Pagi itu, lantunan shalawat menggema lembut, mengiringi duduk rapi para siswa. Busana muslim yang dikenakan bukan sekadar pakaian seragam acara, tetapi menjadi simbol kesiapan hati untuk menerima nasihat dan hikmah. Seolah setiap helai kain yang menutup aurat adalah pengingat akan perintah Allah Subhanahu Wata'alla untuk menjaga kesucian diri, baik lahir maupun batin.
Yang menjadi keistimewaan dalam peringatan Isra Mi’raj kali ini adalah adanya imbauan kepada siswa untuk membawa bekal dari rumah dengan menggunakan takir. Takir adalah wadah makanan tradisional dari lipatan daun pisang yang menjadi pusat perhatian. Sebuah benda sederhana yang kini terasa asing bagi sebagian generasi. Bahkan ketika pengumuman disampaikan di grup paguyuban orang tua siswa, muncul beberapa pertanyaan polos, “Takir itu apa?” "Bagaimana bentuknya?" Pertanyaan itu menggugah kesadaran bersama bahwa ada nilai budaya yang perlahan mulai terlupakan.
Di tengah kemajuan zaman, wadah makanan kini didominasi oleh plastik, kertas, dan tempat makan modern yang praktis. Kali ini takir hadir membawa pesan berbeda. Ia terbuat dari daun pisang yang dilipat dengan rapi dan disemat lidi kecil. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Takir bukan sekadar tempat nasi, tetapi simbol kearifan lokal, kesederhanaan, dan kedekatan manusia dengan alam.
Peringatan Isra Mi’raj sendiri adalah peristiwa agung yang mengingatkan umat Islam pada perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Dari peristiwa itulah umat Islam menerima perintah shalat langsung dari Allah . Shalat yang menjadi tiang agama, penopang kehidupan seorang muslim, dan penghubung paling intim antara hamba dan Tuhannya.
Kesederhanaan takir seolah merefleksikan hakikat shalat itu sendiri. Tidak membutuhkan kemewahan, tetapi menuntut keikhlasan dan ketaatan. Seperti shalat yang tidak dinilai dari mahalnya sajadah atau indahnya pakaian, melainkan dari khusyuknya hati. Pagi itu, takir-takir yang dibawa siswa menjadi simbol kecil dari ajaran besar tentang hidup sederhana, bersyukur, dan taat.
Saat waktu makan tiba, siswa duduk lesehan di atas karpet. Semua sama-sama membuka bekal dari takir masing-masing. Ada yang berisi nasi dengan lauk sederhana, ada pula yang hanya nasi dan sambal. Dari mereka tak satu pun mengeluh. Senyum-senyum kecil merekah, terutama bagi siswa yang baru pertama kali melihat dan menggunakan takir. Aroma daun pisang yang khas menghadirkan kenangan masa lalu tentang dapur-dapur sederhana, tentang kebersamaan keluarga, dan tentang hidup yang apa adanya.
Ada hal lain yang tak kalah penting yaitu kepedulian terhadap lingkungan. Setelah acara selesai, tidak ada sampah daun, plastik berserakan. Daun pisang bekas takir mudah dikumpulkan dan kembali menyatu dengan tanah. Sebuah pelajaran tentang menjaga alam tersampaikan tanpa kata-kata panjang. Islam memang mengajarkan kebersihan dan keseimbangan hidup, termasuk dalam memperlakukan lingkungan.
Peringatan Isra Mi’raj di Esmega pagi ini tampak sederhana, namun sesungguhnya sarat makna. Dari busana muslim yang dikenakan bersama, tumbuh rasa persaudaraan dan kesetaraan. Dari takir yang nyaris terlupakan, lahir pengingat tentang budaya, kesederhanaan, dan rasa syukur. Dari kebersamaan siswa, guru, dan karyawan, tercermin nilai ukhuwah yang indah.
Semoga peringatan Isra Mi’raj ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar membekas dalam hati. Menjadi pengingat bahwa iman harus dirawat, tradisi harus dijaga, dan kesederhanaan adalah jalan menuju keberkahan. Dengan begitu, generasi Esmega kelak tumbuh tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakar pada nilai luhur agama dan budaya.
Cepu, 19 Januari 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar