Sabtu, 17 Januari 2026

Es Teler

Karya: Gutamining Saida 
Hari libur memang selalu terasa berbeda. Udara pagi seolah lebih ramah, waktu berjalan lebih pelan, dan hati terasa lebih longgar untuk menerima apa pun yang datang. Tidak ada dering bel masuk sekolah, tidak ada tumpukan tugas, dan tidak ada keharusan terburu-buru. Di sela suasana itulah sebuah ajakan sederhana datang. Tidak panjang, tidak pula bertele-tele. Hanya satu kalimat singkat yang langsung saya sambut dengan satu kata penuh makna, “oke”.
Ajakan itu seperti angin segar di sela rutinitas. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, bukan karena tujuannya, melainkan karena kebersamaan yang menyertainya. Sebelum melangkah keluar rumah, tanggung jawab tetap harus ditunaikan. Saya menyelesaikan pekerjaan dapur terlebih dahulu. Memasak dengan niat ibadah, memastikan keluarga tidak kekurangan. Setelah itu, saya beres-beres rumah, merapikan yang perlu dirapikan, menyapu sisa-sisa debu yang menempel, seolah membersihkan bukan hanya lantai, tetapi juga hati.

Setelah semuanya selesai, saya pun siap berangkat. Saya membonceng motor, duduk di belakang, menikmati perjalanan dengan penuh rasa syukur. Angin menyentuh wajah, mata memandang kanan dan kiri jalan raya. Pemandangan sederhana seperti pepohonan, warung kecil di pinggir jalan, orang-orang yang berlalu-lalang, semuanya tampak begitu bermakna. Dalam hati saya berpikir, betapa banyak nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering luput dari perhatian karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
Motor terus melaju hingga akhirnya kami tiba di tempat yang dicari, sebuah warung sederhana penjual es teler. Tidak mewah, tidak besar, namun terlihat ramai dan hidup.

Saya turun dari motor dan melangkah masuk. Pandangan saya langsung menyapu ruangan, mencari kursi kosong. Setelah menemukan tempat duduk, kami pun duduk berdampingan. Suasana warung terasa akrab, ada suara sendok beradu dengan gelas, suara penjual yang ramah melayani pembeli, dan tawa kecil pelanggan yang menikmati hidangan.
Sang anak segera memesan es teler dan beberapa menu lainnya. Saya memperhatikannya dengan senyum kecil. Ada kebahagiaan tersendiri melihat anak menikmati hal-hal sederhana. Sambil menunggu pesanan datang, kami berdua mulai membayangkan rasa nikmatnya es teler. Bayangan itu seperti doa kecil yang terucap dalam hati, berharap kesegaran dan kebahagiaan sederhana dari segelas minuman dingin.
Tidak menunggu lama, pesanan pun datang. Dua gelas es teler diletakkan di hadapan kami. Warnanya begitu menggoda mata. Campuran buah alpukat yang lembut, potongan kelapa muda yang segar, durian dengan aroma khasnya, susu yang menyatu dengan es batu, serta taburan biji selasih yang menambah keindahan tampilan. Segelas es teler itu bukan hanya cantik dipandang, tetapi juga terasa seperti hadiah kecil dari Allah Subhanahu Wata'alla di hari libur.

Sebelum menyentuhnya, saya mengaduk-aduk perlahan. Sendok berputar di dalam gelas, menyatukan semua isi yang ada. Bersamaan dengan gerakan itu, lisan saya tak henti mengucap syukur, “Alhamdulillah.” Syukur atas nikmat yang sederhana namun terasa begitu lengkap. Syukur atas kesehatan yang masih Allah Subhanahu Wata'alla beri, sehingga bisa menikmati makanan dan minuman. Syukur atas waktu luang yang jarang hadir. Syukur atas kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Setiap suapan, setiap tegukan, terasa lebih nikmat karena disertai rasa syukur. Dingin es batu menyegarkan tenggorokan, manis alpukat dan susu berpadu sempurna, sementara durian memberikan rasa khas yang menguatkan. Di sela menikmati es teler, hati saya kembali merenung.
Betapa sering manusia mengejar kebahagiaan yang jauh, padahal Allah telah menyiapkan kebahagiaan kecil di sekitar kita. Segelas es teler di warung sederhana pun bisa menjadi sumber bahagia jika hati mampu mensyukurinya.
Saya memandang sang anak yang menikmati es telernya dengan penuh semangat. Ada tawa kecil, ada cerita ringan, dan ada kebersamaan yang terasa hangat. Momen itu terasa begitu berharga. Saya sadar, kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk perjalanan jauh atau barang mahal. Terkadang ia hadir dalam bentuk ajakan sederhana, perjalanan singkat, dan segelas es teler yang dinikmati bersama orang tercinta.

Hari libur akhirnya menjadi lebih dari sekadar hari tanpa kerja. Ia menjadi hari penuh makna, hari belajar tentang syukur, tentang menikmati yang ada, dan tentang menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu menghadirkan nikmat-Nya dengan cara yang lembut. Dari dapur rumah, perjalanan motor, hingga warung es teler, semuanya tersambung dalam satu rangkaian rasa yaitu rasa cukup.

Saya pulang dengan hati yang ringan, jiwa yang terasa disirami ketenangan. Dalam diam saya berdoa, semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu mengajarkan saya untuk mensyukuri nikmat sekecil apa pun, karena dari situlah kebahagiaan sejati bermula.
Cepu, 18 Pebruari 2026 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar