Karya: Gutamining Saida
Siang hari saya sedang membuka ponsel, sekadar melihat-lihat kabar teman di media sosial. Di antara foto anak-anak, status kegiatan sekolah, dan promosi teman. Mata saya tertumbuk pada satu unggahan yang sederhana yaitu vidio pembuatan serundeng dengan kata-kata “Serundeng fresh, siap kirim. Ada pilihan daging sapi lho!”
Yang memasak adalah mama Fara. Saya tahu, dia telaten dan rapi dalam urusan dapur. Foto yang diunggahnya membuat hati saya bergetar. Parutan kelapa yang berwarna cokelat keemasan, tampak kering sempurna, berpadu dengan suwiran daging sapi. Seketika itu juga, pikiran saya melayang jauh ...jauh sekali ke masa kuliah di Surabaya.
Dulu, setiap kali hendak kembali ke kota Surabaya ibu selalu sibuk di dapur sejak pagi. Aroma kelapa disangrai memenuhi rumah. Wajan besar diletakkan di atas tungku, kayu bakar menyala pelan, dan ibu duduk di bangku kecil sambil terus mengaduk agar kelapa tidak gosong. Tangannya cekatan, wajahnya tenang.
Bekal andalan dari rumah bukanlah lauk mewah. Hanya serundeng, sambal pecel, dan peyek. Bagi saya yang akan kembali ke kos-kosan, itu adalah harta yang sangat berharga. Serundeng buatan ibu bisa bertahan lama. Ia menjadi penyelamat dompet biar bisa berhemat. Ketika saya malas memasak lauk . Ketika ingin membeli buku bacaan.
Saya masih ingat, di kamar kos saya makan nasi tim hangat dengan taburan serundeng. Kadang hanya itu lauknya. Namun rasanya… nikmat sekali. Gurihnya kelapa berpadu dengan manis dan pedas yang pas. Jika yang dibawakan adalah serundeng daging sapi, saya akan menyimpannya sedikit demi sedikit, agar tidak cepat habis.
Makan serundeng bukan sekadar mengisi perut. Ia menghadirkan rasa rumah. Setiap suapan seperti menghadirkan wajah ibu yang tersenyum, suara ayah yang bertanya kabar kuliah, dan suasana dapur sederhana di kampung. Di tengah hiruk pikuk kehidupan mahasiswa, serundeng adalah penguat hati.
Kini, bertahun-tahun berlalu. Saya sudah bukan lagi mahasiswa. Saya sudah menjadi seorang ibu dan nenek. Saya sering berdiri di dapur, memasak untuk keluarga. Setiap pagi dan sore selepas maghrib, saya terbiasa menyiapkan makan malam sebagai rasa syukur atas rezeki hari itu. Cabe, bawang, tomat, aneka sayur dan lauk saya olah dengan penuh semangat.
Anehnya, dari sekian banyak masakan yang pernah saya buat, saya belum pernah memasak serundeng sendiri. Bukan karena tidak bisa, mungkin lebih karena belum pernah benar-benar mencoba. Membayangkan prosesnya saja sudah terasa panjang. Kelapa harus diparut, dibumbui, lalu disangrai lama dengan kesabaran ekstra. Harus terus diaduk agar tidak gosong. Ibu dulu melakukannya dengan penuh ketelatenan. Saya menyadari, mungkin di situlah letak cinta seorang ibu pada proses yang panjang dan tak terlihat.
Melihat tawaran serundeng mama Fara, saya tergoda. Rasanya ingin sekali membeli, lalu menyantapnya bersama nasi hangat untuk buka puasa. Sekalian bernostalgia, sekaligus “kembali muda” barang sebentar. Kembali ke masa kuliah, masa penuh perjuangan dan harapan.
Saya membayangkan duduk bersama keluarga, menyajikan serundeng di meja makan. Lalu saya akan bercerita, “Dulu waktu umi kuliah, ini lauk favorit dari rumah.” Mungkin mereka tidak sepenuhnya mengerti, tetapi cerita itu akan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Tiba-tiba saya tersenyum sendiri. Betapa makanan sederhana bisa membawa perjalanan waktu begitu jauh. Serundeng bukan hanya campuran kelapa dan daging. Ia adalah kenangan, perjuangan, doa, dan kasih sayang ibu.
Saya jadi teringat bagaimana ibu membungkus bekal itu dengan rapi. Disimpan dalam toples plastik besar. Diselipkan pesan sederhana, “Hemat-hemat ya makannya.” Bukan sekadar tentang menghemat lauk, tetapi juga tentang belajar hidup sederhana, bersyukur, dan bertanggung jawab.
Sekarang, ketika saya telah menjadi ibu, saya mulai memahami sepenuhnya. Dulu mungkin saya hanya menikmati hasilnya. Kini saya mengerti prosesnya. Ibu tidak hanya memasak serundeng tapi Beliau sedang mempersiapkan anaknya untuk bertahan di perantauan.
Sore itu saya akhirnya mengirim pesan untuk memesan satu. Untuk nostalgia. Untuk mengobati rindu. Untuk mengenang masa kuliah yang penuh cerita. Untuk menjadi dewasa bukan berarti meninggalkan masa lalu. Kadang kita justru kembali ke sana, lewat rasa, lewat aroma, lewat makanan sederhana yang bernama serundeng. Selamat membaca. Semoga menghibur.
Cepu, 27 Pebruari 2026

MasyaAllah.terimakasih sudah berkenan mencicipi serundeng kami ibu🙏
BalasHapusSemangat Mama Fara
BalasHapus