Rabu, 25 Februari 2026

Tantangan Terapi Menulis



Karya: Gutamining Saida

Tantangan itu datang tanpa saya duga. Dalam hati saya sempat bertanya, “Mampukah saya mengajak satu kelas untuk menulis bersama dalam gerakan terapi menulis demi Indonesia yang lebih baik?” Sebagai seorang guru, yang setiap hari membersamai anak-anak dengan segala dinamika mereka, saya merasa tertantang sekaligus terpanggil.

Saya teringat pesan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Satu guru, satu kelas. Satu kelas, puluhan jiwa. Jika setiap jiwa disentuh dengan tulisan yang baik, bukankah itu bisa menjadi bagian dari ikhtiar memperbaiki bangsa?

Hari Selasa saya masuk kelas di kelas 7C dengan niat yang berbeda. Bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi mengajak anak-anak menyelami hati mereka sendiri. Saya sampaikan bahwa kita akan belajar menulis sebagai terapi. Bukan untuk dinilai, bukan untuk lomba, tetapi untuk membersihkan hati dan menata pikiran.

Saya awali dengan basmalah. Saya katakan kepada mereka, “Menulis itu bukan hanya tentang kata-kata. Menulis adalah cara kita berbicara kepada Allah Subhanahu Wata'alla tentang apa yang tidak selalu bisa kita ucapkan.”

Beberapa anak terlihat antusias, beberapa bingung, ada pula yang tampak ragu. Maklum, bagi mereka menulis sering kali identik dengan tugas, dengan nilai, dengan kewajiban yang terasa berat. Apalagi ini gerakan baru, yang belum pernah mereka lakukan.

Saya membagikan instruksi sederhana menulis beberapa kalimat yang saya contohkan d papan tulis. Tentang rasa syukur, tentang harapan yaitu " Every day in every way. I am getting better and better. Setiap hari dalam segala hal saya membaik dan terus menerus membaik."

Hambatan pun mulai terasa. Ada yang menulis asal-asalan. Ada yang bertanya, “Bu, ini buat apa sih?” Bahkan ada yang mengeluh, “Bu, susah kalau disuruh nulis bagus.”

Di situlah saya belajar bahwa mendidik bukan sekadar memberi perintah, tetapi memberi pemahaman. Saya jelaskan perlahan, bahwa hati manusia seperti kaca. Jika sering dibersihkan, ia akan bening. Jika dibiarkan, ia akan berdebu. Menulis adalah salah satu cara membersihkan debu itu.

Saya pun ikut menulis bersama mereka. Agar mereka tahu, guru pun berproses. Guru pun belajar. Guru pun punya luka dan harapan. Hari pertama memang belum terlihat perubahan berarti. Tulisan mereka masih asal, masih amburadul. Saya tidak ingin tergesa-gesa. Bukankah segala sesuatu butuh proses? Bukankah bahkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi adalah perintah membaca, yang kemudian mengantarkan pada tradisi menulis dan peradaban?

Saya teringat pada Al-Qur'an yang diturunkan secara bertahap. Tidak sekaligus. Ada proses 23 tahun penuh hikmah. Maka saya pun belajar sabar dalam membersamai anak-anak. Setelah terlaksana, saya melaporkan kepada mentor bahwa saya telah menyelesaikan tantangan: mengajak satu kelas menulis bersama. Hati saya campur aduk. Ada rasa lega, ada rasa haru, ada pula rasa belum puas.

Mentor saya bertanya, “Bagaimana rasanya setelah mencoba?”

Pertanyaan itu seperti mengetuk relung hati saya sendiri. Bagaimana rasanya?

Saya jawab dengan jujur yaitu rasanya tidak mudah. Banyak hambatan. Belum terlihat hasil yang luar biasa. Ada kedamaian kecil di dalam hati. Seperti menanam benih yang belum tumbuh, tetapi kita yakin ia sedang berproses di dalam tanah.

Mentor kemudian mendoakan agar siswa-siswa saya kelak memiliki karakter yang lebih baik. Doa itu membuat mata saya berkaca-kaca. Sebab sejatinya, tujuan utama saya bukan sekadar menyelesaikan tantangan. Saya ingin anak-anak saya menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih sadar diri, lebih dekat kepada Tuhannya.

Saya mulai melihat perubahan kecil. Ada siswa yang awalnya hanya menulis satu kali, kini mulai menulis satu halaman.  Ada yang menulis setengah halaman Tulisan-tulisan itu mungkin sederhana. Bagi saya, itu adalah tanda hati mereka mulai terbuka.

Hikmah besar tidak selalu datang di awal. Kadang Allah Subhanahu Wata'alla menyimpan keindahan proses agar kita tidak mudah menyerah. Gerakan terapi menulis ini bukan sekadar program, tetapi jalan sunyi memperbaiki diri.

Sebagai bonus, saya diberi kesempatan melihat YouTube dari mentor. Bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan. Saya menontonnya dengan hati yang lebih terbuka. Saya belajar bahwa menulis bukan hanya terapi psikologis, tetapi juga ibadah jika diniatkan karena Allah.

Bukankah setiap huruf yang baik bisa bernilai pahala? Bukankah pena adalah saksi amal manusia? Saya teringat bahwa dalam Islam, ada malaikat yang mencatat setiap amal perbuatan. Jika Allah saja “menuliskan” amal kita, mengapa kita tidak menuliskan refleksi diri kita sendiri?

Perjalanan ini baru dimulai. Hambatan masih ada. Konsistensi masih diuji. Anak-anak kadang semangat, kadang menurun. Saya percaya, perubahan karakter tidak lahir dari ceramah panjang, melainkan dari kesadaran yang tumbuh perlahan.

Menulis telah menjadi jembatan antara hati saya dan hati siswa-siswa saya. Saya lebih memahami kegelisahan mereka. Mereka pun perlahan belajar memahami diri sendiri.

Yaa Allah... kuatkanlah kami untuk istiqamah. Jadikan pena ini saksi kebaikan, bukan saksi kelalaian. Indonesia yang lebih baik tidak lahir dalam sehari. Ia lahir dari ruang-ruang kelas kecil, dari guru-guru yang tidak lelah menanam nilai, dari anak-anak yang belajar mengenal dirinya.

Cepu, 25 Pebruari 2026







Tidak ada komentar:

Posting Komentar