Karya : Gutamining Saida
Sepuluh hari berjalan saya melakukan ikhtiar. Sebagian orang terdengar sederhana, tetapi bagi saya terasa penting. Pilihan saya untuk terapi menulis secara online dengan sistem berbayar. Awalnya bukan karena ikut-ikutan tren, bukan pula karena ingin sekadar mencoba hal baru. Motivasinya sederhana rasa penasaran. Di zaman sekarang, begitu banyak terapi ditawarkan. Ada terapi untuk kesehatan fisik, terapi untuk kebahagiaan, terapi untuk ketenangan batin. Saya pun bertanya dalam hati, benarkah menulis bisa menjadi jalan penyembuhan?
Saya teringat bagaimana wahyu pertama yang turun kepada Nabi kita adalah perintah membaca. Perintah itu diabadikan dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Ketika Malaikat Jibril menyampaikan kepada Nabi Muhammad kalimat agung: “Iqra’.” Bacalah. Bahkan dalam ayat tersebut Allah juga menyebut tentang pena sebagai alat untuk menulis. Dari situlah saya merasa, menulis bukan sekadar aktivitas duniawi. Ia memiliki jejak spiritual yang panjang dalam sejarah peradaban Islam.
Tema terapi menulis adalah Cinta Diri dan Hubungan berlangsung satu bulan. Setiap pagi dan sore, kami diminta menulis beberapa kalimat tertentu sesuai panduan mentor. Saya menulis empat lembar. lembar. Justru di situlah tantangannya untuk menyempatkan waktu diantara kesibukan. Konsisten. tertib dan disiplin pada waktu. Setelah selesai, tulisan itu disetor melalui grup WhatsApp. Mentor akan membaca dan memberi koreksi. Jika ada yang kurang tepat, kami diarahkan untuk membuka tautan YouTube yang sudah disediakan, lalu memperbaiki tulisan sesuai arahan.
Sekilas tampak sederhana. Tetapi dalam praktiknya, saya merasakan ada proses pengendapan jiwa. Menulis di pagi hari seperti menanam benih niat. Menulis di sore hari seperti memanen evaluasi diri. Di sela-sela kesibukan sebagai guru, sebagai ibu, sebagai anggota masyarakat, saya berusaha menyediakan waktu. Tidak selalu mudah. Ada hari-hari ketika tubuh terasa lelah, pikiran penat, dan waktu begitu sempit. Setiap kali saya duduk dan mulai menulis, ada rasa hening yang turun perlahan.
Saya mulai menyadari, menulis bukan hanya tentang rangkaian kata. Ia adalah cermin hati. Saat saya menulis kalimat-kalimat afirmasi atau refleksi, saya seperti sedang berdialog dengan diri sendiri dan pada akhirnya dengan Allah. Ada rasa diingatkan. Ada rasa ditegur. Ada pula rasa dikuatkan.
Dalam Islam, kita diajarkan tentang muhasabah atau evaluasi diri. Terapi menulis ini, bagi saya, menjadi salah satu bentuk muhasabah modern. Ketika menuliskan perasaan, saya belajar jujur pada diri sendiri. Ketika menuliskan harapan, saya belajar menggantungkan doa hanya kepada-Nya. Ketika menuliskan rasa syukur, saya diingatkan bahwa nikmat Allah begitu luas, bahkan pada hal-hal kecil yang sering terlewat.
Hasilnya memang berbeda-beda pada setiap peserta. Ada yang merasa lebih bahagia. Ada yang merasa lebih tenang. Ada yang mengaku menjadi lebih jujur pada diri sendiri. Saya pun merasakan efeknya, meski belum maksimal karena kendala waktu. Setidaknya saya merasakan satu perubahan yaitu hati saya menjadi lebih sadar.
Saya menyadari bahwa selama ini mungkin saya terlalu sering berbicara, terlalu sering berpikir, tetapi jarang benar-benar menuliskan apa yang ada di dalam hati. Padahal, ketika sesuatu ditulis, ia menjadi lebih nyata. Ia tidak lagi samar dalam pikiran. Ia menjadi bukti bahwa kita pernah merasakan, pernah berharap, pernah berserah.
Ada satu momen ketika mentor meminta kami menulis testimoni setelah beberapa waktu menjalani terapi. Apa yang sebenarnya berubah dalam diri saya? Saya belum menjadi pribadi yang sempurna. Saya masih sering tergesa-gesa. Saya masih kadang kurang sabar. Saya merasakan ada ruang sunyi yang mulai terisi. Ada jeda yang dulu tidak pernah saya beri pada diri sendiri.
Menulis membuat saya lebih sadar waktu. Pagi bukan lagi sekadar awal aktivitas, tetapi awal niat. Sore bukan sekadar penutup hari, tetapi waktu evaluasi. Saya teringat firman Allah dalam Surah Al-‘Asr, bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Menulis menjadi salah satu cara saya menasihati diri sendiri dalam kebenaran dan kesabaran.
Saya juga belajar bahwa ikhtiar tidak selalu harus besar dan terlihat hebat. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: duduk, mengambil pena, dan menuliskan beberapa kalimat dengan niat yang lurus. Jika diniatkan karena Allah, aktivitas sekecil apa pun bisa bernilai ibadah.
Setiap bulan terapi ini hadir dengan tema yang berbeda. Seperti bab-bab dalam perjalanan jiwa. Saya belum tahu akan sejauh mana perjalanan ini membawa saya. Saya bersyukur telah diberi kesempatan untuk mencicipinya. Bersyukur atas rasa penasaran yang menggerakkan langkah. Bersyukur atas waktu yang masih Allah berikan. Bersyukur atas hati yang masih mau belajar.
Kini saya memahami bahwa terapi bukan hanya tentang metode atau mentor. Ia tentang kesediaan hati untuk berubah. Tentang kerendahan hati untuk mengakui kekurangan. Tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dan menulis menjadi salah satu jalan yang Allah pertemukan kepada saya untuk proses itu.
Semoga setiap huruf yang saya tulis menjadi saksi di hadapan-Nya. Bahwa saya pernah berusaha memperbaiki diri. Bahwa saya pernah mencoba mendekat. Bahwa di sela kesibukan dunia, saya masih menyediakan ruang untuk berbicara dengan hati dan dengan Tuhan.
Jika suatu hari nanti saya merasa lelah atau kehilangan arah, mungkin saya akan kembali pada cara sederhana ini yaitu menulis. Karena dari tulisan, saya belajar membaca diri. Dari membaca diri, saya belajar mengenal kebesaran Ilahi.
Cepu, 25 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar