Jumat, 16 Januari 2026

Lihat Delima Ingat Arab

 


Karya: Gutamining Saida

Buah delima merah adalah buah yang selalu membawa saya pada kenangan yang tak pernah pudar. Kenangan tentang rasa penasaran, tentang keberanian kecil dalam mengambil keputusan, dan tentang perjalanan batin yang perlahan menguatkan iman. Pertama kali saya melihat buah delima merah, ada getaran aneh di hati saya. Warnanya merah menyala, kulitnya keras namun mengilap, seolah menyimpan rahasia besar di dalamnya. Tanpa banyak berpikir tentang harga mahal atau murah, tangan ini spontan mengambilnya. Bukan karena gengsi, bukan pula karena ingin pamer, tetapi murni karena rasa ingin tahu yang Allah Subhanahu Wata'alla tanamkan di hati saya saat itu.

Tahun 2011 menjadi tahun yang istimewa. Tahun ketika akhirnya saya benar-benar menikmati buah delima merah. Maklum, saya hanyalah orang desa yang sejak kecil akrab dengan pisang, pepaya, singkong, dan buah-buahan lokal lainnya. Delima bagi saya bukan sekadar buah, tetapi sesuatu yang terasa jauh, asing, dan hanya sering disebut dalam cerita atau bacaan bernuansa Timur Tengah. Saat biji-biji merah itu masuk ke mulut, saya terdiam sejenak. Rasanya manis, segar, dan sama sekali tidak asam seperti yang saya bayangkan. Cocok di lidah saya. Sejak saat itu, delima bukan lagi buah asing, melainkan buah yang memiliki tempat khusus di hati.

Seiring waktu, saya semakin memahami bahwa delima bukan sekadar buah lezat. Dalam Islam, buah delima disebut sebagai salah satu buah surga. Setiap kali mengingatnya, hati saya terasa hangat. Ada rasa syukur yang mengalir pelan. Allah Subhanahu Wata'alla memperkenalkan saya pada delima bukan tanpa makna. Mungkin melalui hal sederhana seperti buah, Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajak saya merenung tentang nikmat-Nya yang begitu luas dan sering kali kita remehkan.

Kini, delima merah tidak lagi sulit ditemukan. Di penjual buah pinggir jalan pun saya sering menjumpainya. Setiap kali mata ini menangkap warna merahnya, pikiran saya langsung melayang jauh, menembus jarak dan waktu. Terbayang tanah Arab, tanah yang diberkahi, tanah para nabi, tanah tempat jutaan doa dipanjatkan setiap hari. Entah mengapa, delima selalu membawa saya pada kerinduan yang dalam akan Arab. Kerinduan yang tidak sekadar rindu tempat, tetapi rindu suasana, rindu ketenangan, rindu rasa dekat dengan Allah .

Di sana, di tanah suci, hati terasa begitu ringan. Pikiran tidak dipenuhi daftar pekerjaan, tidak disesaki urusan rumah tangga, dan tidak dibebani kekhawatiran duniawi. Saat itu, saya benar-benar merasakan makna hidup yang sesungguhnya. Tidak ada target dunia, tidak ada tuntutan selain satu: beribadah. Fokus ibadah. Salat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, semuanya mengalir begitu saja tanpa paksaan. Seakan jiwa ini kembali ke fitrahnya.

Di tanah Arab, saya belajar tentang ikhlas. Ikhlas meninggalkan sejenak urusan dunia, ikhlas melepas peran sebagai pekerja, sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai manusia yang biasanya sibuk mengejar ini dan itu. Di sana, saya hanyalah hamba. Hamba yang kecil, lemah, dan penuh dosa. Namun justru dalam posisi itulah saya merasa sangat dekat dengan Allah. Tidak ada beban yang terasa berat, karena semuanya saya serahkan kepada-Nya.

Setiap butir delima yang saya nikmati kini seperti menjadi pengingat lembut dari Allah Subhanahu Wata'alla. Pengingat bahwa dunia ini hanya persinggahan. Sebagaimana rasa manis delima yang tidak bertahan lama di lidah, demikian pula kenikmatan dunia yang cepat berlalu. Yang abadi hanyalah amal dan keikhlasan. Delima mengajarkan saya untuk tidak silau pada kulit luar. Kulitnya keras, tebal, dan tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan ratusan biji kecil yang manis dan menyehatkan. Bukankah itu seperti kehidupan seorang mukmin? Terlihat biasa, bahkan sederhana, namun di dalamnya penuh nilai kebaikan dan pahala jika dijalani dengan niat yang lurus.

Kerinduan saya pada Arab bukan sekadar rindu perjalanan fisik, tetapi rindu suasana batin. Rindu pada momen ketika hati begitu tenang, pikiran begitu jernih, dan jiwa begitu fokus menghadap Allah Subhanahu Wata'alla. Setiap kali kehidupan terasa berat, setiap kali masalah datang bertubi-tubi, ingatan tentang delima dan tanah suci menjadi penguat. Allah Subhanahu Wata'alla pernah memberi saya kesempatan merasakan ketenangan itu, dan saya yakin, jika Allah menghendaki, Dia akan memanggil saya kembali.

Buah delima merah akhirnya menjadi lebih dari sekadar buah. Ia adalah simbol. Simbol rasa syukur, simbol kerinduan, dan simbol pengingat bahwa tujuan hidup ini bukanlah sekadar bekerja, mengumpulkan harta, atau memenuhi keinginan dunia. Tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah Subhanahu Wata'alla dengan sebaik-baiknya, di mana pun kita berada.

Semoga suatu hari nanti, ketika saya kembali menikmati delima merah, Allah Subhanahu Wata'alla juga kembali mengizinkan kaki ini menjejak tanah yang diberkahi. Tanah tempat doa-doa terasa begitu dekat dengan langit. Hingga saat itu tiba, biarlah delima menjadi pengingat bahwa surga itu nyata, janji Allah Subhanahu Wata'alla itu pasti, dan setiap kerinduan yang disertai doa tidak akan pernah sia-sia.

Cepu, 17 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar