Karya : Gutamining Saida
Rabu siang itu datang tanpa terasa. Jam dinding di ruang guru sudah menunjukkan waktu jam ke 7-8 pembelajaran. Biasanya, jam ini menjadi ujian kesabaran bagi saya sebagai guru IPS. Wajah-wajah lelah, mata yang mulai sayu, dan beberapa kepala yang perlahan merebah di atas meja sering menjadi pemandangan yang nyaris tak terelakkan. Siang itu berbeda dan sangat berbeda.
Ketika saya melangkah masuk kelas 8F, suasana terasa hidup. Ada sorot mata yang berbinar, ada senyum yang masih tersisa, dan tak terlihat tanda-tanda malas ataupun mengantuk. Dalam hati saya berucap lirih, Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih titipkan semangat pada anak-anak, meski matahari sedang terik dan jam pelajaran sudah di penghujung.
Materi siang itu adalah tentang Revolusi Industri. Sebuah materi sejarah yang sering dianggap berat oleh sebagian siswa karena penuh dengan istilah, tahun, dan perubahan besar yang terjadi di Eropa. Saya mencoba menyampaikannya dengan bahasa sederhana, mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari mereka tentang perubahan alat, pekerjaan, dan dampaknya bagi manusia. Saya melempar beberapa pertanyaan ringan, dan tanpa saya duga, tangan-tangan terangkat dengan penuh percaya diri. Mereka menjawab dengan antusias, bahkan saling menambahkan jawaban teman-temannya.
Saya tersenyum. Hati saya terasa hangat. Ya Allah, batin saya, inilah nikmat menjadi guru. Bukan seberapa hebat saya mengajar, tetapi bagaimana Engkau membukakan hati mereka untuk menerima ilmu.
Saya melangkah perlahan menuju bangku belakang, melihat catatan siswa-siswa perempuan yang tertulis rapi. Ada garis-garis warna, poin-poin penting yang disusun dengan teliti. Di situ saya melihat kesungguhan. Saya sadar, ilmu tidak hanya masuk lewat telinga, tetapi juga lewat kesungguhan hati. Dan saat ini, saya menyaksikan sendiri kesungguhan itu.
Saya menoleh, mencari sumber suara. Ternyata berasal dari seorang siswi yang duduk di sebelah Syifa. Nadira namanya. Wajahnya terlihat sedikit gugup, namun matanya berbinar penuh keberanian.
“Ada apa, Nak?” tanya saya singkat sambil mendekat.
“Ii lho Bu…” ucapnya sambil menyodorkan sesuatu ke arah saya.
Seketika mata saya terbelalak. Di telapak tangannya ada sebuah bulatan kecil berwarna pink. Sekilas tampak seperti donat mini. Refleks saya terkejut. Dalam benak saya sempat berpikir, Ini donat sungguhan? Dari mana?
Ketika saya perhatikan lebih dekat, ternyata donat itu tidak bisa dimakan. Donat mini itu adalah hasil karya tangan. Persis seperti donat sungguhan lengkap dengan misis, bentuk, warna, dan detailnya. Saya terdiam sejenak. Ada rasa kagum yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
“Ini… buatan kamu?” tanya saya pelan.
Nadira mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Teman-temannya langsung bersorak kecil. Seolah tak mau kalah, mereka pun menunjukkan hasil karya masing-masing. Ada yang berbentuk biskuit cokelat, ada yang berwarna-warni, bentuk daun. Kelas yang tadinya fokus pada Revolusi Industri, kini dipenuhi karya kreativitas yang menakjubkan dibuat saat istirahat kedua.
Saya menahan haru. Bukan karena bentuk donatnya, tetapi karena niat dan usaha di baliknya. Anak-anak ini, di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, mampu menciptakan sesuatu dengan penuh ketekunan. Dalam hati saya kembali berucap, Ya Allah, betapa sering aku lupa bahwa setiap anak adalah anugerah-Mu, masing-masing dengan potensi yang Engkau titipkan.
Saya menerima donat mini itu dengan penuh rasa syukur. Bukan sebagai benda, tetapi sebagai simbol kepercayaan dan kasih sayang murid kepada gurunya. Sebuah hadiah kecil yang nilainya jauh lebih besar dari harga materi apa pun.
Dalam refleksi momen itu mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang menanamkan nilai. Tentang menumbuhkan rasa percaya diri, menghargai proses, dan mensyukuri setiap usaha kecil. Revolusi industri mengajarkan perubahan besar dalam sejarah, tetapi di kelas 8F siang itu, saya menyaksikan “revolusi kecil” dalam hati anak-anak revolusi semangat, kreativitas, dan keberanian untuk menunjukkan karya.
Ketika bel pulang berbunyi, saya menutup pelajaran dengan doa singkat. Saya berharap, ilmu yang kami pelajari hari itu menjadi ilmu yang bermanfaat, dan setiap kebaikan kecil yang mereka lakukan dicatat sebagai amal. Saya melangkah keluar kelas dengan hati yang penuh bahagia. Donat mini pink itu masih saya genggam, menjadi pengingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering menghadirkan kebahagiaan lewat cara yang sederhana.
Cepu, 22 Januari 2026

bagusss buu lucuuuu
BalasHapus