Jumat, 23 Januari 2026

5W dan 1H di kelas 8G



Karya : Gutamining Saida

Pembelajaran mata pelajaran IPS di kelas 8G pada materi Penjelajahan Samudra berlangsung dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Sejak awal saya sudah menanamkan niat agar pembelajaran tidak sekadar menjadi aktivitas mencari jawaban cepat di internet, lalu menyalinnya tanpa pemahaman. Materi penjelajahan samudra sejatinya kaya akan cerita, tokoh, semangat zaman, serta dampak besar bagi dunia, termasuk Indonesia. Karena itu, saya ingin siswa benar-benar mengenal tokoh-tokoh penjelajahan samudra, bukan hanya hafal nama dan tahun.

Pada pertemuan itu, saya membuka pelajaran dengan pengantar singkat tentang latar belakang penjelajahan samudra yaitu bagaimana bangsa-bangsa Eropa terdorong untuk berlayar jauh menembus lautan luas, meninggalkan negerinya, demi mencari rempah-rempah, kejayaan, dan pengaruh. Setelah itu, saya menyampaikan bahwa setiap siswa akan mendapat tugas untuk mencari informasi tentang satu tokoh penjelajahan samudra. Tokoh tersebut bisa berasal dari Portugis, Spanyol, Belanda, atau Inggris, seperti Vasco da Gama, Christopher Columbus, Ferdinand Magellan, Bartholomeus Diaz, atau Cornelis de Houtman.

Ada hal yang saya tekankan sejak awal. Tugas ini tidak boleh dikerjakan dengan cara “asal cari di internet lalu salin”. Saya memperkenalkan kembali sebuah teknik berpikir yang sederhana, tetapi sangat bermakna, yaitu 5W dan 1H. Sebelum mereka mulai mencari, saya bertanya kepada siswa, “Siapa yang pernah mendengar istilah 5W dan 1H?” Beberapa siswa mengangkat tangan, sebagian lainnya hanya saling menoleh. Dari situ saya mulai menjelaskan.

Saya sampaikan bahwa 5W dan 1H adalah singkatan dari kata tanya dalam bahasa Inggris yang sangat penting untuk memahami sebuah peristiwa atau tokoh secara utuh. 5W terdiri dari:

  1. What (apa): Apa peristiwa yang terjadi? Apa yang dilakukan tokoh tersebut?

  2. Who (siapa): Siapa tokohnya? Siapa saja yang terlibat?

  3. Where (di mana): Di mana peristiwa itu terjadi? Wilayah mana yang dijelajahi?

  4. When (kapan): Kapan peristiwa itu berlangsung?

  5. Why (mengapa): Mengapa tokoh tersebut melakukan penjelajahan?

Sedangkan 1H adalah:
6. How (bagaimana): Bagaimana proses penjelajahan itu terjadi? Bagaimana cara tokoh tersebut berlayar, rintangan apa yang dihadapi, dan bagaimana hasil akhirnya?

Saya menjelaskan kepada siswa bahwa dengan menjawab keenam pertanyaan ini, mereka tidak hanya mendapatkan data, tetapi juga pemahaman. Mereka akan belajar berpikir runtut, kritis, dan tidak mudah puas dengan jawaban singkat. Teknik ini juga melatih mereka membaca lebih teliti, karena satu sumber biasanya tidak langsung menjawab semua pertanyaan.

Setelah penjelasan itu, saya membagi tugas. Setiap siswa memilih satu tokoh penjelajahan samudra dan menuliskan jawabannya berdasarkan 5W dan 1H. Suasana kelas mulai berubah. Jika biasanya saat diberi tugas mencari informasi siswa cenderung pasif atau sekadar menunduk di layar gawai, kali ini terlihat berbeda. Mereka mulai membuka berbagai sumber bacaan, baik dari buku paket, artikel daring, maupun catatan yang sudah mereka miliki.

Beberapa siswa tampak berdiskusi kecil dengan teman sebangku. Ada yang bertanya, “Bu, kalau why itu alasannya karena mencari rempah-rempah boleh ditulis panjang?” Ada pula yang penasaran, “Kalau how, boleh ditulis tentang kapal dan rute perjalanannya?” Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi tanda bahwa mereka mulai berpikir lebih dalam, bukan sekadar menyalin.

Saya berkeliling kelas, melihat lembar kerja mereka satu per satu. Ada siswa yang memilih Christopher Columbus dan menuliskan dengan runtut siapa Columbus, kapan ia berlayar, ke mana tujuannya, mengapa ia berlayar, serta bagaimana dampak penjelajahannya bagi dunia. Ada pula yang memilih Vasco da Gama dan mulai memahami jalur pelayaran ke India melalui Tanjung Harapan. Dari raut wajah mereka, terlihat kesungguhan dan semangat belajar.

Yang membuat saya bersyukur, siswa terlihat tekun membaca. Mereka tidak langsung menulis, tetapi membaca terlebih dahulu, kemudian mencocokkan informasi dengan pertanyaan 5W dan 1H. Secara tidak langsung, mereka belajar memilah informasi dan menyusunnya menjadi jawaban yang bermakna. Beberapa siswa bahkan menyadari bahwa satu tokoh bisa memiliki dampak positif dan negatif, terutama bagi bangsa-bangsa yang dijajah.

Di akhir pembelajaran, saya mengajak beberapa siswa untuk menyampaikan hasil temuan mereka secara lisan. Dengan percaya diri, mereka menjelaskan tokoh pilihannya menggunakan pola 5W dan 1H. Penjelasan mereka terdengar lebih runtut dan mudah dipahami. Saya pun menegaskan kembali bahwa tujuan pembelajaran hari itu bukan hanya mengetahui nama tokoh penjelajahan samudra, tetapi memahami cerita di baliknya dan melatih cara berpikir kritis.

Pembelajaran di kelas 8G hari itu menjadi pengalaman yang berkesan. Teknik 5W dan 1H terbukti membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam. Mereka tidak hanya “tahu”, tetapi juga “mengerti”. Semangat belajar yang terlihat di wajah mereka menjadi pengingat bagi saya bahwa pembelajaran yang bermakna tidak selalu membutuhkan metode yang rumit, cukup dengan mengajak siswa berpikir dan membaca dengan tujuan yang jelas. Semoga kalian semakin sukses. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar