Jumat, 23 Januari 2026

IPS Bersama AdiK SamBa

 

Karya: Gutamining Saida

Pembelajaran mata pelajaran IPS di kelas 8H pada materi Penjelajahan Samudra saya rancang dengan tujuan agar siswa tidak hanya mengenal tokoh-tokoh besar dari sekadar nama dan tahun, tetapi benar-benar memahami cerita, latar belakang, serta dampak dari penjelajahan tersebut. Selama ini, saya menyadari bahwa ketika siswa diberi tugas “mencari tokoh”, sebagian besar langsung membuka internet, menyalin informasi, lalu selesai. Pengetahuan yang diperoleh sering kali tidak bertahan lama karena tidak melalui proses membaca dan memahami secara mendalam.

Berangkat dari kondisi tersebut, saya mencoba menggunakan sebuah teknik sederhana namun bermakna, yaitu AdiK SamBa, agar pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Saya berharap dengan teknik ini, siswa kelas 8H dapat belajar berpikir runtut, teliti, dan bertanggung jawab terhadap informasi yang mereka peroleh.

Pada awal pembelajaran, saya membuka kelas dengan apersepsi ringan. Saya mengajak siswa membayangkan bagaimana rasanya hidup pada masa ratusan tahun lalu, saat teknologi belum secanggih sekarang. Saya bertanya, “Bagaimana perasaan kalian jika harus berlayar berbulan-bulan di lautan luas tanpa peta modern, tanpa GPS, dan tanpa alat komunikasi?” Pertanyaan tersebut langsung menarik perhatian siswa. Beberapa siswa tersenyum, ada yang menggelengkan kepala, dan ada pula yang berkomentar bahwa hal itu pasti sangat menakutkan.

Dari situ, saya menjelaskan bahwa tokoh-tokoh penjelajahan samudra adalah orang-orang yang berani mengambil risiko besar. Mereka berlayar jauh meninggalkan negerinya demi tujuan tertentu, seperti mencari rempah-rempah, kejayaan, kekayaan, dan pengaruh. Setelah suasana kelas mulai fokus, saya menyampaikan tugas utama pembelajaran hari itu.

Setiap siswa kelas 8H diminta untuk mencari dan mempelajari satu tokoh penjelajahan samudra. Tokoh tersebut bebas dipilih, bisa berasal dari Portugis, Spanyol, Belanda, atau Inggris. Namun, saya menekankan bahwa tugas ini tidak boleh dikerjakan dengan cara menyalin data begitu saja. Untuk itu, saya memperkenalkan teknik AdiK SamBa.

Saya menuliskan kata AdiK SamBa di papan tulis, lalu bertanya, “Siapa yang tahu apa maksud AdiK SamBa?” Sebagian siswa terlihat bingung, sebagian lainnya mencoba menebak. Kemudian saya mulai menjelaskan bahwa AdiK SamBa merupakan singkatan dari kata tanya penting yang digunakan untuk memahami sebuah peristiwa atau tokoh secara utuh, yaitu:

  • Apa: Apa yang dilakukan tokoh tersebut? Apa peristiwa penting yang berkaitan dengannya?

  • di mana: Di mana penjelajahan itu terjadi? Wilayah mana saja yang dijelajahi?

  • kapan: Kapan peristiwa penjelajahan itu berlangsung?

  • siapa: Siapa tokoh tersebut dan siapa saja pihak yang terlibat?

  • mengapa: Mengapa tokoh itu melakukan penjelajahan samudra?

  • bagaimana: Bagaimana proses penjelajahan itu berlangsung dan bagaimana dampaknya?

Saya menegaskan kepada siswa kelas 8H bahwa dengan menjawab pertanyaan AdiK SamBa, mereka tidak hanya mengadopsi data, tetapi melewati proses belajar yang sesungguhnya, yaitu membaca, memahami, lalu menjawab dengan baik dan benar. Teknik ini membantu mereka menyusun informasi secara runtut sehingga materi lebih mudah dipahami dan tidak cepat dilupakan.

Setelah penjelasan selesai, siswa mulai mengerjakan tugas. Suasana kelas 8H terlihat lebih hidup dan kondusif. Mereka membuka buku paket, membaca artikel, dan mencari sumber informasi lainnya. Yang membuat saya merasa bersyukur, sebagian besar siswa tidak langsung menulis. Mereka membaca terlebih dahulu, lalu berhenti sejenak untuk memahami isi bacaan sebelum menuliskan jawabannya.

Saya berkeliling kelas untuk memantau proses belajar mereka. Seorang siswa yang memilih tokoh Ferdinand Magellan tampak serius membaca perjalanan pelayaran mengelilingi dunia. Ia kemudian menuliskan jawabannya satu per satu sesuai AdiK SamBa. Siswa lain memilih Vasco da Gama dan sempat bertanya, “Bu, kalau bagian mengapa, boleh ditulis lebih dari satu alasan?” Pertanyaan itu menunjukkan bahwa siswa mulai berpikir kritis dan tidak sekadar menyalin.

Ada pula siswa yang menyadari bahwa penjelajahan samudra tidak hanya membawa dampak positif bagi bangsa Eropa, tetapi juga membawa dampak besar bagi wilayah yang mereka datangi, termasuk penjajahan dan penderitaan bagi bangsa lain. Dari sini terlihat bahwa siswa kelas 8H mulai memahami materi secara lebih mendalam dan luas.

Menjelang akhir pembelajaran, saya meminta beberapa siswa untuk menyampaikan hasil temuan mereka secara lisan. Mereka menjelaskan tokoh pilihannya dengan urutan AdiK SamBa. Penjelasan yang disampaikan terdengar lebih runtut, jelas, dan menggunakan bahasa mereka sendiri. Rasa percaya diri pun terlihat karena mereka benar-benar memahami apa yang disampaikan.

Pembelajaran IPS di kelas 8H pada materi penjelajahan samudra hari itu menjadi pengalaman yang berkesan. Teknik AdiK SamBa terbukti membantu siswa belajar secara lebih bermakna. Mereka tidak hanya menyalin informasi, tetapi melalui proses membaca, memahami, dan menjawab dengan baik dan benar. Dari pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa pembelajaran yang bermakna akan tumbuh ketika siswa diajak berpikir, bukan sekadar mencari jawaban. Semoga 8H semakin sukses dalam menyongsong masa depan.

Cepu, 24 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar