Karya : Gutamining Saida
Minggu pagi udara terasa lebih ramah dari biasanya. Jam tangan baru saja menunjuk pukul 09.30 WIB ketika saya duduk santai di tepi sebuah waduk, ditemani anak putri saya. Kami menikmati pemandangan yang menenangkan mata. Ada perahu kecil dengan dua penumpang sedang menayuh sampan. Dua bebek air yang masing-masing ada dua cewek di atasnya.Tidak ada agenda khusus, tidak pula janji dengan siapa pun. Hanya keinginan sederhana yaitu mengistirahatkan hati setelah hari-hari yang penuh dengan rutinitas dan tanggung jawab.
Entah dorongan dari mana, tangan saya meraih handphone. Saya memotret suasana di depan mata perahu kecil dengan dua penumpang, langit yang cerah, pepohonan yang bergoyang pelan, dan sudut tempat yang terasa damai. Tanpa banyak berpikir, saya unggah foto itu ke story WhatsApp dengan satu kalimat singkat, “Ayo siapa yang mau menyusul, aku di sini.”
Tidak sampai beberapa menit, handphone saya mulai bergetar. Satu notifikasi masuk, disusul yang lain, lalu bertubi-tubi. Saya tersenyum kecil. Pesan pertama berbunyi, “Dimana iki, Mi?” Tak lama kemudian muncul pesan lain, “Dimana bu?”, “Dimana itu?”, “Kok kayaknya sejuk banget?”
Saya terdiam sejenak. Ada rasa hangat yang perlahan menyusup ke dalam hati. Ternyata, satu story sederhana mampu membuka kembali pintu komunikasi yang mungkin selama ini tertutup oleh jarak, kesibukan, dan perubahan keadaan. Teman-teman lama, sahabat seperjuangan, bahkan rekan kerja dari sekolah yang kini sudah tidak lagi satu atap dengan saya, masih peduli. Mereka masih menyapa, masih ingin tahu kabar, masih meluangkan waktu untuk bertanya, meski hari itu bukan hari kerja, meski kami sudah tidak berada di lingkungan yang sama.
Dalam hati saya beristighfar pelan. betapa sering manusia merasa sendirian, padahal Allah Subhanahu Wata'alla masih menitipkan kepedulian melalui orang-orang di sekelilingnya. Kadang bukan karena kita benar-benar sendiri, tetapi karena kita lupa membuka ruang untuk disapa.
Pertanyaan demi pertanyaan terus masuk. Saya menjawab satu per satu dengan santai, diselingi senyum dan rasa syukur. Beberapa di antara mereka mengira saya sedang pergi jauh, ke tempat wisata terkenal, atau bahkan ke luar kota. Padahal, tempat itu tidaklah jauh dari rumah. Sangat dekat, bahkan selama ini terlewatkan begitu saja.
Di situlah saya tersadar. Allah Subhanahu Wata'alla sering menyimpan keindahan di tempat-tempat yang tidak kita sangka. Kita kerap berpikir bahwa ketenangan harus dicari jauh, mahal, dan penuh rencana. Padahal, bisa jadi Allah Subhanahu Wata'alla telah menyiapkannya dekat dengan kita, hanya menunggu waktu yang tepat untuk kita temukan.
Tempat itu begitu tenang. Tidak bising oleh suara kendaraan, tidak sesak oleh polusi, tidak riuh oleh keramaian yang melelahkan. Hanya suara alam yang jujur: desir angin, kicau burung, dan dedaunan yang saling berbisik. Mata dimanjakan oleh hijaunya pepohonan, hati dilapangkan oleh suasana yang seolah mengajak untuk berdzikir tanpa kata.
Saya duduk lebih lama. Menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Di saat seperti itu, doa terasa mengalir dengan sendirinya. Tidak terucap keras, namun menggema di dalam hati. Saya mengingat betapa Allah Maha Baik, memberikan ruang bagi hamba-Nya untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan merapikan niat.
Story sederhana itu ternyata bukan hanya tentang pancingan candaan kepada teman-teman. Kalimat menjadi jalan silaturahmi. Ia menjadi pengingat bahwa hubungan baik tidak selalu harus intens bertemu, cukup dijaga dengan sapaan dan perhatian kecil. Dalam Islam, menjaga silaturahmi adalah amalan yang Allah Subhanahu Wata'alla janjikan keberkahan umur dan kelapangan rezeki. Hari itu saya merasakannya, bukan dalam bentuk materi, tetapi dalam bentuk ketenteraman batin.
Saya membatin, mungkin inilah salah satu cara Allah Subhanahu Wata'alla menghibur hamba-Nya. Di saat kita merasa lelah, Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan ketenangan. Di saat kita merasa sendiri, Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan kepedulian. Di saat kita merasa jauh, Allah Subhanahu Wata'alla dekatkan kembali melalui hal-hal sederhana.
Setelah merasa cukup saya pulang dengan hati yang lebih ringan. Bukan karena tempatnya semata, tetapi karena makna yang saya petik. Bahwa rezeki tidak selalu berupa uang atau jabatan. Rezeki bisa berupa waktu luang, udara sejuk, teman yang masih menyapa, dan hati yang mampu bersyukur.
Saya belajar dari pemandangan alam yang indah. Cukup disyukuri, dijaga, dan dimaknai. Dari sebuah story singkat, saya kembali diingatkan bahwa hidup akan terasa lebih ringan jika dijalani dengan rasa syukur, silaturahmi, dan kesadaran bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu menyediakan tempat pulang bagi hati yang lelah.
Cepu, 25 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar