Selasa, 27 Januari 2026

Roudhoh



Karya : Gutamining Saida

Senin sore itu langkah saya terasa lebih pelan dari biasanya. Ada agenda yang sejak siang sudah terpatri di hati yaitu menjenguk Mbak Rini di PKU berdua dengan dik Faiz. Kabar yang kami terima sebelumnya menyebutkan bahwa Mbak Rini dirawat di ruang Raudhoh. Satu kata itu saja sudah menghadirkan getar yang berbeda di dada saya.

Raudhoh. Sebuah kata yang tidak asing bagi umat Islam. Dalam benak saya, Raudhoh adalah taman surga, tempat mustajabnya doa, ruang di antara mimbar dan makam Rasulullah di Masjid Nabawi. Banyak umat muslim bermimpi, berdoa, dan menabung bertahun-tahun agar bisa menginjakkan kaki di Raudhoh, memanjatkan doa-doa terbaik, mencurahkan harap dan rindu kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Maka ketika mendengar Mbak Rini berada di ruang bernama Raudhoh, hati saya spontan berdoa, “Ya Allah, semoga Mbak Rini dan keluarganya benar-benar Engkau izinkan suatu hari nanti menginjakkan kaki di Raudhoh yang sesungguhnya.”

Perjalanan menuju PKU sore itu terasa syahdu. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya lembut, seolah ikut menemani niat baik kami. Dalam hati saya terus melafalkan doa, semoga kunjungan ini membawa kebahagiaan, bukan hanya bagi yang dijenguk, tetapi juga bagi kami yang datang.

Kami tiba di PKU menjelang waktu besuk. Jam di dinding menunjukkan pukul 16.40 WIB. Ternyata jam besuk baru dimulai pukul 17.00 WIB. Dua puluh menit yang singkat, tetapi cukup untuk melatih kesabaran. Kami duduk sejenak, menunggu dengan tenang. Dalam momen menunggu itu, saya kembali merenung. Ternyata dalam hidup pun sering terjadi kita tahu tujuan, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla.meminta kita menunggu sebentar, agar hati belajar sabar dan yakin.

Saat menunggu, saya mengirim pesan kepada suami. “Ruang berapa?” tanya saya singkat. Tidak lama kemudian balasan masuk. Sebuah foto muncul di layar ponsel, tertulis jelas: Ruangan 3. Hati saya mantap. Saya yakin melangkah. Dalam pikiran saya, inilah ruang Raudhoh yang dimaksud.

Dengan langkah penuh keyakinan, saya menuju ruang 3. Pintu terbuka, beberapa pasien terlihat beristirahat. Saya mengamati satu per satu wajah di dalam ruangan. Hati saya mulai bertanya-tanya. Tidak ada Mbak Rini di sana. Sekilas rasa ragu muncul. Apa saya salah ruang? Saya masih berusaha menenangkan diri, mungkin Mbak Rini sedang di balik tirai atau baru saja keluar.

Beberapa menit berlalu, dan keyakinan saya mulai goyah. Akhirnya saya memutuskan untuk menelepon suami Mbak Rini. Nada sambung terdengar, lalu suaranya menjawab dengan lembut. Dari percakapan singkat itu, barulah jelas bahwa Mbak Rini berada di ruang Raufidah, bukan Raudhoh. Saya tersenyum kecil. Ternyata keyakinan yang terlalu cepat pun bisa mengantarkan kita ke ruang yang keliru.

Suami Mbak Rini kemudian meminta kami menunggu di dekat lift untuk bersama-sama menuju ke ruangan. Kami pun melangkah ke arah lift. Di sana, saya berdiri sambil kembali merenung. Betapa hidup ini sering mengajarkan bahwa niat baik saja tidak cukup, kita juga perlu memastikan arah. Namun di balik kekeliruan kecil, Allah Subhanahu Wata'alla.selalu menyelipkan hikmah.

Tak lama kemudian, Mbak Rini tampak dengan senyum yang menenangkan. Wajahnya tampak lelah, tetapi bahagia. Di pelukannya, ada seorang bayi mungil yang tidur dengan damai. Hati saya langsung diliputi rasa haru. Bahagia yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Melihat seorang ibu dan bayinya dalam keadaan sehat adalah nikmat besar yang sering kali baru terasa ketika kita menyaksikannya langsung.

Kami saling menyapa, bertanya kabar, dan saling mendoakan. Ruangan Raufidah sore itu terasa hangat. Bukan hanya karena cahaya lampu atau suasana rumah sakit, tetapi karena rasa syukur yang memenuhi hati kami semua. Saya menatap bayi itu dengan penuh kasih. Dalam hati, doa pun mengalir tanpa diminta.

“Ya Allah, jadikanlah anak ini anak yang sholehah. Sehatkan jasadnya, lembutkan hatinya, dan terangilah hidupnya dengan iman.”

Doa itu terucap lirih, namun penuh harap. Saya yakin, setiap doa yang keluar dari hati yang tulus tidak pernah sia-sia. Mungkin tidak langsung terwujud, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla.selalu mendengarnya.

Sebelum berpamitan, saya kembali teringat kata Raudhoh. Meski hari itu kami tidak benar-benar berada di Raudhoh yang ada di Masjid Nabawi, saya merasa telah menginjakkan kaki di “raudhoh”  ruang penuh harap, doa, dan rasa syukur. Sebuah tempat di mana hati terasa dekat dengan-Nya.

Senin sore itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam bentuk sederhana. Semoga Mbak Rini dan keluarganya selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata'alla. dan suatu hari benar-benar diizinkan-Nya menginjakkan kaki di Raudhoh yang sesungguhnya. Aamiin.

Cepu, 27 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar