Selasa, 27 Januari 2026

Presentasi Di Kelas 7C




Karya: Gutamining Saida

Selasa jam pelajaran ke-1 dan ke-2 selalu memiliki tantangan tersendiri. Sebagian siswa pikiran  melayang belum sarapan. Suasana di luar kelas diiringi hujan rintik-rintik yang jatuh perlahan. Bunyi tetesan air di atap dan jendela seolah menjadi pengantar keheningan. Saat itu saya belajar, bahwa dalam setiap keadaan Allah Subhanahu Wata'alla selalu menyelipkan pelajaran, sekecil apa pun suasananya.

Saya mengajar di kelas 7C. Setelah menyampaikan materi tentang potensi negara Indonesia meliputi  kekayaan alam, sumber daya manusia, letak geografis, serta keberagaman budaya. Kemudian saya melanjutkan pembelajaran dengan metode diskusi kelompok. Anak-anak saya bagi menjadi delapan kelompok kecil, masing-masing beranggotakan tiga sampai empat siswa. Tujuannya sederhana, agar mereka belajar bekerja sama, berani menyampaikan pendapat, dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan.

Hujan di luar semakin menambah suasana kelas terasa syahdu. Sebelum diskusi dimulai, saya mengingatkan mereka bahwa ilmu adalah amanah. Apa yang mereka pelajari bukan sekadar untuk nilai, tetapi untuk bekal menjadi manusia yang bermanfaat. Saya sampaikan dengan pelan, “Anak-anak, apa pun yang kalian lakukan hari ini, niatkan karena Allah .

Semua kelompok mulai berdiskusi. Ada yang serius membaca, ada yang saling bertanya, ada pula yang masih perlu diingatkan agar fokus. Saya bersyukur, perlahan mereka larut dalam tugas masing-masing. Setelah waktu diskusi selesai, tibalah saat presentasi. Saya persilakan kelompok yang sudah siap untuk maju terlebih dahulu.

Kelompok pertama yang maju adalah kelompok Reni, Revan, dan Alifa. Baru saja mereka berdiri di depan kelas dan menempatkan diri, suasana kelas langsung pecah oleh tawa. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa spontan karena ada pemandangan yang tidak seperti biasanya. Revan, satu-satunya siswa laki-laki di kelompok itu, berdiri agak menjauh dari dua temannya yang perempuan.

Saya memperhatikan dengan seksama. Wajah Revan terlihat sedikit tegang, ada rasa malu yang jelas terpancar. Reni dan Alifa pun tampak saling melirik sambil tersenyum kecil. Saya membiarkan mereka menenangkan diri sejenak. Dalam hati saya berdoa, semoga suasana ini tidak menjatuhkan keberanian mereka, melainkan justru menjadi latihan mental.

Presentasi pun dimulai. Reni membuka pemaparan tentang potensi alam Indonesia dengan suara yang cukup jelas. Alifa melanjutkan dengan menjelaskan peran sumber daya manusia. Revan, meski berdiri agak jauh, tetap menjalankan tugasnya dengan menyampaikan bagian tentang letak sumber daya alam  Indonesia. Saya melihat usaha yang luar biasa dari anak-anak ini. Di balik rasa malu, mereka tetap bertanggung jawab.

Setelah pemaparan materi selesai, dibuka sesi tanya jawab. Beberapa siswa mengangkat tangan. Saya persilakan kelompok Fabiel untuk bertanya. Fabiel berdiri dan dengan nada polos bertanya, “Bu, saya mau bertanya. Mengapa Revan berdiri menjauh dari teman-temannya?”

Pertanyaan itu sontak membuat kelas kembali tertawa. Bahkan sebelum ada yang menanggapi, tawa itu sudah pecah tanpa komando. Saya tersenyum, lalu mengangkat tangan memberi isyarat agar mereka tenang. Dalam momen sederhana itu, saya melihat betapa alami dunia anak-anak, jujur tanpa banyak filter.

Saya menoleh ke arah Revan. Revan menjawab pelan, “Soalnya kelompok saya, perempuan semua. Jadi saya berdiri agak jauh.” Jawaban itu disambut senyum dan tawa kecil, namun kali ini lebih terkontrol.

Saya lalu mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Saya sampaikan kepada seluruh kelas bahwa rasa malu itu wajar, terlebih dalam menjaga adab. Islam mengajarkan kesopanan, menjaga sikap, dan tahu batas. Di sisi lain, keberanian untuk tampil dan bekerja sama juga penting. Keduanya harus berjalan seimbang.

Diskusi materi pun dilanjutkan. Pertanyaan tentang potensi Indonesia mengalir lancar. Anak-anak saling menanggapi, belajar menghargai pendapat, dan berlatih menyampaikan jawaban dengan santun. Saya melihat perubahan suasana kelas. Dari yang semula riuh karena tawa, menjadi lebih tenang dan penuh perhatian.

Hujan rintik di luar seakan menjadi saksi bahwa hari itu bukan hanya materi IPS yang tersampaikan, tetapi juga nilai-nilai kehidupan. Presentasi sederhana itu melatih tanggung jawab, karena setiap anak harus menguasai bagiannya. Melatih keberanian, karena berdiri di depan teman-temannya bukan hal mudah. Latihan kerja sama, karena tanpa saling mendukung, presentasi tidak akan berjalan baik.

Saya menutup pelajaran dengan refleksi singkat. Saya ingatkan mereka bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak menilai siapa yang paling pintar berbicara, tetapi siapa yang paling bersungguh-sungguh berusaha. Setiap langkah kecil berani maju, berani bertanya, berani menjawab adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih baik.

Ketika bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi, hujan masih turun rintik-rintik. Anak-anak kembali ke tempat duduk masing-masing dengan wajah yang lebih cerah. Saya menatap mereka satu per satu, sambil berdoa dalam hati, semoga ilmu hari itu menjadi amal jariyah, dan pengalaman kecil di kelas 7C menjadi kenangan yang menumbuhkan karakter hingga kelak dewasa nanti.

Cepu, 27 Januari 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar