Rabu, 09 April 2025
Halal Bihalal SMPN 3 Cepu 1446H/2025 M
Semangat Baru Setelah Idul Fitri
Hari pertama masuk sekolah
setelah libur panjang Lebaran selalu membawa nuansa yang hangat dan penuh
semangat. Seluruh siswa, karyawan dan guru berkumpul di lapangan untuk
mengikuti apel pagi. Wajah-wajah ceria menghiasi barisan, menyambut hari baru
dengan penuh antusiasme. Setelah menjalani ibadah di Bulan Suci Ramadhan dan
menikmati libur Idul fitri bersama keluarga, kini saatnya kembali ke sekolah
untuk menimba ilmu dan merajut kembali semangat belajar.
Salah satu agenda penting yang dilaksanakan pada pagi hari itu adalah salam salaman disisipkan pengumuman pemenang lomba. Lomba vlog ramadhan yang telah digelar sebelum libur Lebaran. Lomba vlog ini merupakan bagian dari kegiatan ramadhan yang rutin diadakan sekolah, namun tahun ini dibuat lebih menarik dan menantang. Setiap kelas diwajibkan mengikuti lomba ini. Harapannya semua kelas mengikuti dari kelas tujuh sampai kelas sembilan.
Tujuan utama dari lomba ini
adalah untuk menumbuhkan semangat berkarya di kalangan siswa, serta melatih
kemampuan mereka dalam bidang teknologi informasi yang semakin berkembang pesat
di era saat ini. Melalui vlog, siswa diajak untuk tidak hanya pandai berbicara,
tetapi juga mampu menyampaikan gagasan dengan menarik, informatif, dan
inspiratif.
Setelah apel dibuka oleh wakil
kepala sekolah bidang kesiswaan. Dilanjutkan sambutan disampaikan oleh Kepala
Sekolah, tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa. Yaitu pengumuman
juara lomba vlog Ramadhan. Pembacaan juara diawali dengan menyampaikan maksud
dan tujuan dari lomba, yang kemudian dilanjutkan dengan pengumuman tiga kelas
terbaik yang berhasil menjadi pemenang.
Juara ketiga diraih oleh kelas 8H.
Juara kedua kelas 9F serta pemenang pertama 9D. Pemenang ini mendapatkan hadiah
berupa seperangkat alat kebersihan, seperti sapu lidi, sapu lantai, tempat
sampah, dan pel lantai. Khususnya juara satu dan dua ditambah kipas angin.
Hadiah diharapkan dapat digunakan untuk menjaga kebersihan kelas.
Kelas pemenang mengirimkan dua
siswa sebagai perwakilan untuk maju ke depan menerima hadiah secara langsung
dari Bapak Kepala Sekolah. Suasana penuh semangat dan kebanggaan terasa saat
nama-nama kelas pemenang disebutkan. Para siswa yang maju tampak tersenyum bahagia,
tidak hanya karena membawa pulang hadiah, tetapi juga karena telah menunjukkan
bahwa mereka mampu berkarya secara mandiri dan kreatif.
Bapak Kepala Sekolah dalam
sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh siswa dan wali kelas
yang telah mendukung kegiatan ini. Beliau berharap ke depan akan semakin banyak
karya-karya siswa yang muncul, baik dalam bentuk video, tulisan, maupun bentuk
ekspresi lain yang menggambarkan semangat belajar, kerja sama, dan kepedulian
sosial.
Keterampilan seperti membuat
vlog, mengedit video, menyampaikan pesan melalui media sosial secara bijak dan
positif, adalah bagian dari proses pembelajaran yang harus didorong bersama.
Kita ingin siswa-siswi tidak hanya menjadi penonton perkembangan zaman,
tetapi pelaku aktif yang membawa perubahan lingkungannya.
Acara pengumuman dan penyerahan
hadiah ditutup dengan tepuk tangan meriah dari seluruh siswa. Para pemenang
kembali ke barisan dengan membawa hadiah yang akan digunakan di kelas mereka
masing-masing. Kegiatan pagi itu tidak hanya menjadi ajang penghargaan atas
kreativitas, tetapi juga menjadi penyemangat untuk terus belajar dan berkembang
dalam segala bidang.
Dengan semangat baru, siswa-siswi
melanjutkan kegiatan di kelas dengan senyum yang masih menghiasi wajah mereka.
Hari pertama setelah lebaran pun terasa lebih hidup dan bermakna, membuka
lembaran baru dalam proses pembelajaran yang penuh inspirasi.
Cepu, 9 April 2025
Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik
Senin, 07 April 2025
Hari Pertama Masuk
Kenangan di Mega Bintang
Karya: Gutamining Saida
Langit Cepu hari itu cerah seakan
turut menyambut kebahagiaan yang akan segera berlangsung. Suasana Hotel Mega
Bintang terasa hangat sejak saya menginjakkan kaki di sana. Saya datang
menghadiri halal bihalal keluarga besar SMPN 1 Kedungtuban yaitu tempat yang
dulu pernah menjadi bagian besar dari hidup dan perjalanan saya.
Meskipun saya sudah tidak lagi
bertugas di SMPN 1 Kedungtuban karena mutasi, saya merasa sangat terhormat
karena masih diberikan undangan dan kesempatan untuk hadir. Undangan ini bukan
hanya bentuk formalitas, tapi merupakan simbol bahwa ikatan kebersamaan yang
pernah terjalin tidak mudah luntur oleh waktu maupun jarak. Ini adalah rumah
kedua, tempat saya tumbuh, belajar, dan banyak menerima kebaikan.
Ketika saya melangkah ke ruang
pertemuan, mata saya langsung menangkap wajah-wajah yang sangat familiar.
Teman-teman lama yang dulu selalu menjadi bagian dari keseharian saya. Ada yang
masih sama seperti dulu, ada yang tampak lebih matang, namun senyum mereka
tetap hangat, dan sambutannya tetap tulus. Rasanya seperti pulang ke pelukan
masa lalu yang penuh kehangatan.
Saya menyempatkan diri untuk
berbincang dengan satu per satu. Kami tertawa mengenang masa-masa sibuk
menyusun perangkat pembelajaran, berjuang mengatur jadwal ujian, merancang
acara sekolah, sampai hal-hal kecil seperti membagi camilan saat istirahat atau
menertawakan kejadian lucu di kelas. Semua kenangan itu menyeruak begitu saja,
hidup kembali di antara percakapan dan tawa kami.
Momen paling berkesan bagi saya
dalam halal bihalal ini adalah saat sesi foto bersama. Di tengah keramaian,
saya mengajak beberapa teman yang dulu begitu dekat, yang menjadi bagian
penting dari perjalanan saya selama bertugas di Kedungtuban. Mereka adalah
orang-orang yang penuh makna dalam hidup saya, bukan hanya sebagai rekan kerja,
tapi juga sahabat, penolong, guru, sekaligus keluarga.
Kami berdiri berdampingan,
tersenyum lebar ke arah kamera. Klik. Jepretan kamera seolah membekukan waktu
dan menyimpan kenangan itu dalam bingkai yang tak akan lekang. Tapi di balik
senyum itu, ada begitu banyak cerita. Saya teringat betapa mereka pernah
mendampingi saya melewati masa-masa sulit yaitu saat saya bingung dalam
penyesuaian, saat kepercayaan diri saya goyah, atau saat saya harus mengambil
keputusan penting. Mereka ada, membantu, mendengar tanpa menghakimi,
mengulurkan tangan tanpa diminta.
Tanpa mereka, saya bukanlah saya
yang sekarang. Setiap pengalaman yang saya dapatkan selama di Kedungtuban,
setiap tantangan dan pencapaian, semua tidak mungkin terwujud tanpa peran
mereka. Di balik keberhasilan saya, ada banyak nama yang tak pernah lelah
mendukung, menyemangati, bahkan mendoakan dalam diam.
Saya merasa sangat bersyukur
telah dipertemukan dengan mereka. Di tempat itu, saya tidak hanya menemukan
rekan kerja, tapi juga pembimbing kehidupan. Mereka mengajarkan saya untuk
lebih sabar, untuk lebih terbuka, dan untuk lebih percaya pada kekuatan kerja
sama. Dari mereka, saya belajar bahwa keberhasilan bukan hasil kerja individu
semata, tetapi buah dari kebersamaan dan saling percaya.
Usai berfoto, saya menyampaikan
terima kasih pada mereka, Meski saya tahu, tak semua bisa saya ungkapkan lewat
kata. Beberapa dari mereka hanya tersenyum dan menjawab singkat, “Ah, kita kan
sudah seperti keluarga.” Dan memang benar. Kami adalah keluarga yang disatukan
oleh pengalaman dan rasa hormat satu sama lain.
Momen itu membuat saya sadar,
betapa berharganya hubungan yang pernah terjalin. Bukan sekadar karena jabatan
atau kewajiban, tapi karena ketulusan yang membentuk ikatan yang tidak mudah
pudar. Saya merasa beruntung pernah berada di lingkungan yang penuh dengan
orang baik, penuh dedikasi, dan mau berjalan bersama dalam suka maupun duka.
Acara terus berlanjut dengan
tausiah, makan siang, dan hiburan. Namun hati saya sudah penuh sejak sesi foto
tadi. Setiap detik yang saya habiskan bersama mereka terasa seperti hadiah dari
Allah Subhanahu Wata’alla. Dan saya berdoa dalam hati, semoga kebaikan mereka
akan dibalas dengan berlipat-lipat kebaikan, dan semoga silaturahmi ini tetap
terjaga meski langkah kaki kita sudah menempuh arah yang berbeda.
Saya pulang dengan hati yang
ringan dan senyum yang tak henti terlukis. Di ponsel saya, ada beberapa foto
yang saya simpan baik-baik. Bukan sekadar gambar, tapi saksi bisu dari sebuah
perjalanan hidup yang penuh makna. Suatu saat, ketika saya merasa lelah atau
rindu, saya tahu saya hanya perlu membuka foto itu dan mengingat kembali bahwa
saya pernah dikelilingi oleh orang-orang luar biasa yang membantu saya menjadi
versi terbaik dari diri saya.
Terima kasih, sahabat-sahabatku.
Terima kasih atas semua kenangan, pelajaran, dan kebersamaan yang tak ternilai.
Kalian selalu ada di hati saya yaitu lebih dari sekadar rekan kerja, kalian
adalah cahaya dalam perjalanan hidup saya.
Cepu, 7 April 2025
Halal Bihalal Di Mega Bintang
Hari itu terasa sangat istimewa.
Sebuah undangan telah tiba beberapa hari sebelumnya, mengabarkan akan
diadakannya acara halal bihalal keluarga besar SMPN 1 Kedungtuban. Yang membuat
hati saya tergetar haru, meskipun saya sudah tidak lagi bertugas di sekolah
tersebut karena mutasi, saya tetap diberi kesempatan untuk hadir dan berkumpul
kembali bersama keluarga besar yang telah menjadi bagian penting dari
perjalanan hidup saya.
Acara diselenggarakan di Hotel
Mega Bintang, salah satu tempat yang cukup megah dan representatif di Kota
Cepu. Sejak pagi, semangat saya membuncah. Saya mempersiapkan diri sebaik
mungkin Ini bukan sekadar acara halal bihalal, tapi lebih dari itu yaitu ini adalah momen temu kangen, ajang
silaturahmi yang mempertemukan kembali wajah-wajah yang pernah bersama dalam
suka dan duka di lingkungan SMPN 1 Kedungtuban.
Sesampainya di lokasi, suasana
keakraban langsung terasa. Para guru, baik yang masih aktif maupun yang sudah
berpindah tugas, hadir dengan semangat. Kepala sekolah saat ini maupun kepala
sekolah yang pernah memimpin sebelumnya juga hadir dengan wajah berseri-seri.
Komite sekolah, camat, perwakilan dari kepolisian dan koramil, pengawas dinas
kab. Blora, semua turut serta. Hampir seluruh undangan hadir, hanya beberapa
yang tidak bisa datang karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Namun,
semangat kebersamaan tetap utuh terasa.
Saya melangkah masuk ke ruangan
dengan perasaan hangat. Tangan-tangan saling berjabat erat, pelukan singkat
diiringi sapaan hangat dan senyum tulus menyambut setiap pertemuan. “Wah, lama
tak jumpa!” “Kangen, Bu!” “Senang sekali bisa bertemu lagi!” Kalimat-kalimat
seperti itu bergema di sepanjang ruangan, membuktikan betapa kuatnya tali
silaturahmi yang telah terjalin.
Acara dibuka dengan sambutan dari
kepala sekolah, dilanjutkan sambutan dari perwakilan komite dan camat.
Kata-kata mereka mengandung pesan persatuan dan semangat kebersamaan, serta
pentingnya menjaga hubungan baik, baik dalam lingkup sekolah maupun dalam
kehidupan sosial. Kemudian, hadirin disuguhi siraman rohani oleh seorang ustadz
yang menyampaikan tausiah penuh makna. Beliau mengingatkan bahwa halal bihalal
bukan hanya soal maaf-memaafkan secara lisan, tetapi juga tentang meluruskan
niat, mempererat silaturahmi, dan memperbaiki hubungan antarsesama.
Tausiah itu membuat banyak dari
kami merenung sejenak. Ada yang menunduk khusyuk, ada pula yang mengangguk
pelan menyetujui setiap nasihat yang disampaikan. Momen tersebut membawa
suasana menjadi lebih tenang dan penuh makna. Dalam hati saya bersyukur bisa
hadir dalam kesempatan ini. Betapa tidak, di tengah kesibukan dan jarak yang
memisahkan, Allah Subhanahu Wata’alla masih memberikan ruang dan waktu bagi
kami untuk berkumpul kembali.
Setelah siraman rohani, acara
dilanjutkan dengan makan siang bersama. Hidangan yang tersaji cukup beragam dan
menggoda selera . Mulai dari nasi, ayam, capjay, oseng daun papaya, , sayur asam,
hingga aneka kue dan buah-buahan segar. Kami menikmati makanan sambil terus
berbincang dan tertawa. Tak ada sekat, tak ada jarak, hanya ada persaudaraan
yang semakin menguat.
Suasana semakin meriah ketika
sesi hiburan dimulai. Beberapa guru maju ke depan untuk menyumbangkan suara
mereka. Lagu-lagu pilihan, baik yang bertema kebersamaan maupun nostalgia masa
lalu, mengalun dengan semangat. Bahkan beberapa guru yang biasanya pendiam pun
tampak menikmati, ada yang ikut bernyanyi. Tawa riuh mengisi ruangan, suasana
benar-benar hidup dan penuh kegembiraan.
Saya sendiri tak kuasa menahan
senyum. Melihat semua yang hadir begitu bahagia membuat hati ini terasa hangat.
Saya sempat terlibat obrolan dengan beberapa teman sejawat yang dulu sering
berbagi cerita dan perjuangan. Kami bernostalgia tentang masa-masa mendampingi
siswa, mengikuti lomba, hingga kenangan unik saat sarapan bersama usai senam
pagi. Semua terbingkai indah dalam ingatan.
Bagi saya ini bukan sekadar halal
bihalal biasa. Ini adalah pembuktian bahwa keluarga besar SMPN 1 Kedungtuban
memiliki semangat kekeluargaan yang luar biasa. Saya merasa sangat terhormat
diundang dalam acara ini. Walau saya telah mutasi, mereka masih menganggap saya
bagian dari keluarga. Hal ini memberikan pelajaran besar bagi saya. Bahwa nilai sebuah kebersamaan tidak akan
pudar hanya karena perubahan status atau tempat kerja.
Ketika acara mulai berakhir dan
satu per satu peserta berpamitan. Betapa beruntungnya saya pernah menjadi
bagian dari sekolah ini. Saya bersyukur atas segala kebersamaan, pelajaran, dan
kenangan yang telah terukir. Halal bihalal kali ini telah menjadi penyambung
rindu, penghangat jiwa, sekaligus pengingat bahwa tali silaturahmi harus selalu
dijaga.
Saya pulang dengan hati yang
penuh syukur, penuh cinta, dan penuh semangat untuk terus menjaga hubungan baik
dengan siapa pun yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Terima
kasih, SMPN 1 Kedungtuban. Terima kasih atas undangannya, atas sambutannya, dan
atas kenangannya yang tak terlupakan. Semoga SMPN 1 Kedungtuban semakin jaya.
Cepu, 7 April 2025
Minggu, 06 April 2025
Heboh Saat Akan Datang Resepsi
Minggu pagi yang sejuk terasa
biasa saja. Di grup WhatsApp buwoh beberapa
pesan mulai bermunculan. Suasana terlihat santai, namun ada semacam semangat
yang menggantung di antara candaan dan obrolan ringan. Hari itu memang bukan
hari kerja, tapi tetap saja ada agenda penting yaitu resepsi pernikahan salah
satu teman sekantor yang rumahnya di desa Kebon kecamatan Paron.
Sudah beberapa hari sebelumnya,
rencana berangkat bersama dari sekolah telah dirancang dengan matang. Jadwal
keberangkatan ditetapkan pukul 11.00 siang dari halaman parkir sekolah.
Kendaraan sudah disiapkan beberapa rekan dan semangat untuk berangkat dan hadir
bersama terasa begitu menggebu.
Pagi itu, sekitar pukul 09.00,
sebagian besar rekan sudah mulai menyapa di grup.
“Pagi-pagi jangan lupa mandi ya,”
tulis Bu Wiwik sambil menambahkan emot tertawa.
“Iya dong… masa datang ke resepsi
bau,” balas Bu Indri cepat, seperti biasa dengan gaya ceplas-ceplosnya yang
khas.
Di tengah kehebohan itu, satu
nama belum juga muncul. Pak Jum, yang biasanya jarang pegang handphone tidak
ada muncul membalas pesan, masih diam seribu bahasa. Bahkan, tanda centang dua
biru pun belum muncul.
“Pak Jum mana ya? Kok belum
kelihatan?” tulis Bu Wiwik lagi.
“Ssstt… mungkin masih di sawah,”
seloroh Bu Ning
Semua tertawa. Namun kekhawatiran
kecil mulai muncul karena waktu terus berjalan.
“Pokoknya jangan sampai telat ya.
Berangkat tetap jam 11,” lanjut Bu Wiwik mengingatkan.
“Saya gak pernah telat ya, Bu,”
balas Bu Indri dengan gaya yakin.
“Gimana Pak Jum? Gak ada kabar
lho…” tambahnya, mulai khawatir bercampur geli.
“Jangan molor lho. Yang biasa
pakai celana kolor, hhhh,” celetuk Bu Indri lagi, dan sontak membuat grup
meledak dengan emoji tertawa.
Canda tawa semakin ramai. Pak Bambang menimpali, “Wah, jangan-jangan Pak Jum
masih mikir cocok nggak pakai dasi.”
Tak lama kemudian, salah satu
guru lain yang tinggal dekat rumah Pak Jum memberikan info, “Tadi subuh
lampunya masih nyala. Tapi sekarang sunyi senyap.”
“Pak Jum disabotase istrinya
mungkin, biar nggak dandan terlalu ganteng,” sambung Bu Indri yang sepertinya
sudah dalam mode humor penuh pagi itu.
Pukul 10.30, grup makin ramai.
Foto-foto mulai dikirim. Ada yang memamerkan kemeja batik terbaru, ada yang
bingung memilih kerudung yang cocok, bahkan ada yang bertanya: “Pakai sandal
atau sepatu ya?”
Namun tetap, Pak Jum belum
terlihat online. Grup mulai bercampur antara kekhawatiran dan rasa geli. Bu
Wiwik akhirnya menelepon langsung ke nomor Pak Jum, tapi masih tidak aktif.
“Yah, mati lagi. Jangan-jangan
HP-nya ikut tidur,” kata Pak Budi, guru matematika yang biasanya kalem tapi
kali ini ikutan nyenggol.
Akhirnya, sekitar pukul 10.20,
sebuah notifikasi muncul. Tanda online! Semua mata tertuju ke layar.
Pak Jum akhirnya muncul dengan
kalimat pendek yaitu “Maaf…hpku tidak bisa dibuka.”
Langsung grup meledak. “Waaahhh
akhirnyapak Jum muncul!” Selamat datang kembali di dunia nyata, Pak!” “Buruan siap-siap
ya…”Semoga kolor sudah diganti!”
Satu per satu mulai bersiap
menuju sekolah. Ketika akhirnya semua berkumpul, kehebohan masih berlanjut
secara langsung. Pak Jum datang dengan jaket menutupi batik, dengan senyum yang
khas.
“Maaf ya, HP nggak bisa dibuka.”
“Udah, yang penting nggak pakai
kolor ke kondangan,” celetuk Bu Indri yang langsung disambut gelak tawa.
Perjalanan menuju lokasi resepsi
menjadi penuh cerita. Di dalam mobil, canda tawa tak berhenti. Bu Wiwik
mengingatkan rute, sementara Pak Jum, yang akhirnya duduk paling belakang, tak
lepas dari godaan.
Sesampainya di lokasi, rombongan
guru disambut dengan hangat oleh si pengantin dan keluarganya. Mereka tampak
rapi, kompak, dan terlihat begitu solid sebagai satu keluarga besar.
Kebersamaan itu terasa istimewa.
Tidak hanya karena acara resepsi teman sekantor yang begitu berbahagia, tapi
juga karena kisah sebelum berangkat yang penuh warna. Kadang dari hal-hal
sederhana seperti kesiangan, HP mati, atau canda soal celana kolor, justru
tercipta tawa yang mempererat rasa kebersamaan. Hari Minggu bukan sekadar tentang datang ke resepsi. Tapi
tentang tawa, kekeluargaan, dan kenangan yang akan terus menjadi cerita lucu di
hari-hari kerja berikutnya.
Cepu, 7 April 2025
Nikmat Pertemuan Singkat
Sabtu, 05 April 2025
Teguran Cinta Dari Allah
Karya: Gutamining Saida
Delapan bulan lalu, saya diuji
oleh Allah Subhanahu Wata’alla dengan rasa sakit yang tak terduga. Tubuh terasa
lemah, ada bagian yang seolah tak bisa lagi diajak kompromi. Awalnya saya
merasa cemas dan khawatir. Sejumlah dugaan dan rasa sakit mulai membayangi
pikiran. Namun justru dari titik itulah, saya kembali bersimpuh dalam
keheningan malam. Saya mencari, mendekat, berlari kepada Allah Subhanahu
Wata’alla yang selama ini mungkin telah saya abaikan dalam hiruk-pikuk dunia.
Sakit ini bukan hanya menyentuh
fisik, tapi juga hati. Setiap kali rasa nyeri, panas itu datang, saya menangis.
Tapi tangisan itu bukan semata karena rasa sakitnya, melainkan karena saya
sadar. Saya telah terlalu lama lalai. Saya telah terlalu jauh dari Allah
Subhanahu Wata’alla . Padahal hanya kepada-Nya saya bergantung hidup.
Di sepertiga malam, saya mulai
membangun kembali hubungan yang dulu sempat renggang. Saya duduk dalam gelap,
bersujud dengan hati yang penuh luka. Lisan yang tak berhenti memohon. Saya
menangis, bukan hanya karena sakit yang menyesakkan. Tapi karena saya merasa
begitu hina telah melupakan Allah
Subhanahu Wata’alla yang selama ini menjaga saya tanpa pamrih.
"Ya Allah... maafkan saya.
Saya kembali pada-Mu. Saya tidak kuat tanpa pertolongan-Mu..."
Itulah kalimat yang sering saya
bisikkan di sela-sela sujud panjang. Malam-malam tak lagi sepi, karena kini
penuh tangisan dan curahan hati. Saya menceritakan segalanya kepada-Nya.
Tentang lelah, kesakitan, penyesalan, dan keinginan saya untuk sembuh yaitu bukan
hanya secara jasmani, tetapi juga ruhani.
Ajaibnya, semakin saya dekat
kepada-Nya, semakin ringan pula sakit yang saya rasakan. Saya mulai bisa tidur
lebih nyenyak. Nafas terasa lebih lega. Hati jauh lebih tenang. Sakit itu
perlahan-lahan mereda, dan bahkan nyaris hilang.
Saya tahu itu bukan semata karena
obat dan terapi. Itu karena Allah Subhanahu Wata’alla mendengarkan saya. Itu
karena Allah Subhanahu Wata’alla menjawab jerit hati saya. Seperti manusia pada
umumnya, saat rasa sakit itu perlahan menghilang, saya mulai sibuk kembali
dengan rutinitas. Saya lupa bagaimana rasanya menangis dalam sujud. Saya mulai
jarang curhat kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Saya kembali lalai, padahal
saya telah merasakan betapa indahnya saat hati begitu dekat dengan-Nya.
Seperti sebuah tamparan kasih
sayang dari Allah Subhanahu Wata’alla rasa sakit itu datang lagi. Kali ini,
berbeda tempat di bagian tubuh yang laim. Rasa sakitknya sama. Saya kembali
merasa tersayat. Saya merasa seperti ditarik lagi ke tempat semula, tempat di
mana saya benar-benar merasa membutuhkan Allah Subhanahu Wata’alla.
Awalnya saya bertanya,
"Kenapa lagi, Ya Allah?"
Kemudian hatiku menjawab,
"Karena engkau mulai menjauh lagi,"
Tersentak, saya kembali menangis.
Bukan karena rasa sakit yang baru saja datang, tapi karena saya sadar, Allah Subhanahu
Wata’alla masih sayang kepada saya. Allah Subhanahu Wata’alla tidak membiarkan
saya terlalu lama larut dalam kesibukan yang menjauhkan diri dari-Nya. Allah
Subhanahu Wata’alla memberiku teguran, sebuah sentilan lembut namun sangat
berarti yaitu melalui rasa sakit.
Seketika, saya merasa begitu
dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’alla. Sakit ini bukan kutukan. Ini adalah
jalan untuk kembali. Sebuah undangan agar saya datang lagi ke pelukan Allah
Subhanahu Wata’alla.
Saya mencoba untuk tidak lagi
lalai. Saya menyadari bahwa sehat ataupun sakit, lapang ataupun sempit, saya
harus tetap dekat kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Bukan hanya saat butuh,
bukan hanya saat tubuh lemah dan hati goyah. Tapi juga saat bahagia, saat
segalanya tampak baik-baik saja.
Teguran Allah Subhanahu Wata’alla
melalui sakit membuat saya lebih peka terhadap betapa rapuhnya saya tanpa
pertolongan-Nya. Saya belajar bahwa kesehatan bukan hanya anugerah, tapi juga
pengingat agar saya tak pernah menyombongkan diri. Bahwa sakit bukan hukuman,
melainkan panggilan kasih yang penuh cinta.
Kini di setiap sujud menjadi
lebih bermakna. Setiap sakit yang datang, saya syukuri. Karena hal ini menjadi
jalan untuk saya kembali kepada yang Maha Penyayang. Selama saya terus
melangkah mendekat kepada-Nya, saya tak akan pernah benar-benar sendiri.
Cepu, 6 April 2025
Jumat, 04 April 2025
Zaskia Nisa Al Fathur
Zain Hamzah Al Fathur
Elmerra Yukika Al Fathur
Temu Keluarga Besar
Lebaran hari kedua selalu menjadi
momen istimewa bagi keluarga besar dari pihak bapak saya. Tahun 2025, reuni
keluarga berlangsung di rumah Pak dhe Dali di Genjit. Sebuah rumah sederhana di
pedesaan yang tetap menjadi saksi kebersamaan keluarga kami tahun ini . Dari
lima bersaudara, kini hanya tersisa tiga, yaitu pak Dhe Pandi, pak Dhe Dali dan
bulik Ti. Meskipun begitu, semangat berkumpul tidak pernah luntur.
Kami berangkat bersama suami dan
dua anak dari rumah. Jalanan menuju
Genjit cukup lengang, hanya beberapa kendaraan yang melintas. Begitu tiba,
suasana pedesaan yang asri langsung menyapa. Udara segar, pohon-pohon rindang
dan rumah-rumah khas desa menambah kehangatan pertemuan kali ini.
Begitu masuk ke halaman rumah Pak
dhe Dali, beberapa saudara sudah berkumpul. Para laki-laki duduk lesehan di
serambi rumah, berbincang santai sambil menikmati hidangan kecil. Sementara
itu, kaum perempuan berkumpul di ruang dalam, bercengkerama dengan hangat.
Anak-anak berlarian di halaman, tertawa ceria tanpa beban.
Hidangan khas sudah tersaji di
atas tikar. Berbagai makanan kecil seperti kue kering, keripik ketela, kacang
dan buah pisang tersusun rapi. Yang paling khas dan selalu dinantikan adalah
tape ketan hitam dan jadah ketan hitam, hidangan spesial yang hanya bisa kami
temui di rumah Pak dhe Dali. Aroma khasnya langsung menggoda selera,
mengingatkan pada tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Menjelang siang, makanan berat
mulai dihidangkan. Nasi jagung lengkap dengan sayur dan lauk-pauk menjadi
pilihan bagi yang ingin merasakan cita rasa pedesaan yang autentik. Selain itu,
ada juga nasi putih dengan opor ayam yang gurih, oseng-oseng sayur, mie goreng
dan kerupuk sebagai pelengkap. Tak ketinggalan, es dingin yang menyegarkan
tenggorokan di tengah teriknya siang berwarna pink.
Kami duduk memenuhi tikar,
menikmati makanan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar tawa pecah karena
cerita-cerita lama yang diulang kembali. Nostalgia tentang masa kecil,
kenakalan saat masih kecil, hingga kisah perjuangan orang tua menjadi topik
yang tidak pernah habis dibahas.
Uang arisan sudah terkumpul,
bendahara mengumumkan perolehan uang dan tahun yang akan datang bertempat di
keluarga pak dhe Pandi. Menurut rencana akan dilangsungkan di rumah anaknya
yang di Baureno. Sumbangan uang musala juga diumumkan.
Salah satu momen yang selalu
ditunggu adalah sesi foto keluarga. Masing-masing keluarga berpose,
mengabadikan kebersamaan yang hanya terjadi setahun sekali. Keluarga Pak dhe
Yadi menjadi pusat perhatian karena memiliki anggota terbanyak. Saat sesi foto
berlangsung, berbagai komentar dan canda tawa pun bermunculan, membuat suasana
semakin riuh dan penuh kehangatan.
"Waaah, keluarga Pak dhe
Yadi ini kalau kumpul, bisa buat satu RT sendiri," canda salah satu
saudara yang langsung disambut tawa lepas.
"Anak, cucu, cicit tambah
besar semua, tahun depan pasti tambah ramai lagi!" tambah yang lain.
Setelah sesi foto selesai, kami
kembali berbincang. Anak-anak mulai bermain di halaman, beberapa orang tua
menikmati sisa hidangan sambil berbagi cerita. Tak terasa, waktu semakin siang
dan satu per satu mulai berpamitan. Meski hanya bertemu sebentar, kebersamaan
ini menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat kembali.
Setelah selesai. Kami bersama
melaksanakan salat dhuhur di musala. Saat perjalanan pulang, saya tersenyum
sendiri mengingat riuh rendah suasana tadi. Meskipun hanya setahun sekali,
reuni ini selalu membawa kebahagiaan yang tak tergantikan. Dan tentu saja, saya
sudah tidak sabar menantikan pertemuan tahun depan dengan kehangatan yang sama.
Cepu, 4 April 2025

.jpeg)





