Rabu, 09 April 2025

Halal Bihalal SMPN 3 Cepu 1446H/2025 M



Karya : Gutamining Saida 

Rabu, 9 April 2025 menjadi hari yang penuh makna bagi keluarga besar SMP Negeri 3 Cepu. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa begitu kental saat seluruh guru, karyawan, serta suami dan istri mereka berkumpul dalam acara Halal Bihalal yang dilaksanakan di ruang Suasana Krida. Acara tersebut tidak hanya dihadiri oleh civitas sekolah saat ini, namun juga turut mengundang para alumni guru dan kepala sekolah, serta unsur komite sekolah sebagai bagian dari keluarga besar pendidikan di lingkungan SMPN 3 Cepu.

Acara dimulai tepat pukul 10.00 WIB sesuai jadwal yang tertera dalam undangan resmi. Ruang Suasana Krida yang digunakan sebagai lokasi kegiatan tampak tertata rapi dan menyenangkan. Meskipun dekorasi dibuat secara sederhana, namun keindahan tetap terpancar melalui sentuhan estetika yang bijak yaitu meja-meja yang berderet dengan taplak berwarna merah yang dipadukan dengan motif batik menampilkan keanggunan yang tidak berlebihan. Kehadiran taman bunga hidup yang ditata di depan meja panjang  menambah kesegaran serta menghadirkan nuansa natural dan damai dalam ruangan tersebut.

Acara dibuka dengan bacaan basmalah, diikuti oleh lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh siswa kelas delapan yang bernama Panji dengan khidmat dan menyentuh hati para hadirin. Ayat-ayat suci tersebut menjadi pembuka yang mengingatkan hadirin akan nilai-nilai spiritual dan pentingnya saling memaafkan di bulan Syawal yang penuh keberkahan ini.

Setelah pembacaan Al-Qur’an, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia Halal Bihalal yaitu wakil kepala sekolah bidang Humas yaitu biasa disapa dengan bapak Wahyudi yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan acara ini. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya merawat tali silaturahmi, terutama dalam konteks lingkungan kerja yang harmonis dan mendukung.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Sekolah SMPN 3 Cepu yaitu bapak Suyitno, S Pd, M. Pd yang mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan momentum ini sebagai awal yang baik dalam melanjutkan aktivitas belajar mengajar pasca ramadan. Beliau juga mengapresiasi semangat kebersamaan yang tercipta di antara guru, karyawan, dan seluruh keluarga besar sekolah. Tak lupa, beliau mengajak semua pihak untuk menerapkan nilai-nilai kebajikan dari bulan Ramadan ke dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga maupun di sekolah.

Ketua komite sekolah yang hadir juga memberikan sambutannya. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur dan bahagia dapat hadir dan bersilaturahmi langsung dengan keluarga besar SMPN 3 Cepu. Beliau menegaskan bahwa hubungan baik antara pihak sekolah dan komite adalah kunci dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif dan mendidik siswa menjadi pribadi yang unggul, baik secara akademik maupun akhlaknya.

Acara pun memasuki bagian inti, yaitu tausiah agama yang disampaikan oleh Ustadz Efendi Ibrahim. Dalam tausiahnya, Ustadz Efendi Ibrahim mengingatkan pentingnya menjaga hati dan menjalin hubungan sesama manusia dengan penuh kasih dan maaf. Ia menyampaikan bahwa momen Halal Bihalal bukan hanya sekadar formalitas, melainkan bentuk nyata dari ikhtiar untuk membersihkan hati dari dendam dan prasangka. Tausiah yang disampaikan dengan gaya santai namun mendalam ini menggugah hati para hadirin, banyak di antara mereka yang tampak terharu dan larut dalam perenungan.

Setelah tausiah selesai, acara dilanjutkan dengan sesi bersalaman sebagai simbol saling memaafkan. Yang berjajar di depan yaitu Kepala sekolah beserta istri, komite, ustadz. Satu per satu, tamu undangan, guru dan karyawan berjabat tangan, diiringi dengan senyum dan pelukan hangat. Suasana haru namun bahagia menyelimuti ruangan. Tak lupa, sesi foto bersama juga dilakukan sebagai dokumentasi kebersamaan yang akan menjadi kenangan indah di kemudian hari.

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, tibalah saat yang paling dinanti yaitu makan siang bersama. Menu yang disajikan sangat menggugah selera, mencerminkan kekayaan kuliner khas Indonesia. Tersaji nasi putih yang pulen, lontong yang lembut, sayur lodeh yang gurih dan kaya rasa, serta opor ayam yang empuk dan lezat. Sambal goreng kentang yang pedas manis, mie kuning yang mengenyangkan, serta aneka kerupuk dan peyek menjadi pelengkap yang sempurna. Untuk pencuci mulut, tersedia buah pisang yang manis dan es kuwut yang segar, cocok untuk menutup sajian makan siang dengan kepuasan.

Kegiatan Halal Bihalal ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga menjadi sarana spiritual untuk menyegarkan kembali semangat kebersamaan, kekompakan, serta rasa saling memiliki di antara warga sekolah. Diharapkan, nilai-nilai yang disampaikan dalam tausiah dapat diresapi dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya untuk pribadi masing-masing, namun juga dalam mendidik siswa-siswa agar menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, namun juga berkarakter kuat dan berakhlak mulia.

Dengan berakhirnya acara ini, keluarga besar SMPN 3 Cepu menatap hari-hari ke depan dengan semangat baru. Semoga semangat silaturahmi dan ketulusan dalam memaafkan terus tumbuh dalam setiap langkah, menjadikan sekolah sebagai tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu, namun juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang hakiki.
Cepu, 10 April 2025 



Semangat Baru Setelah Idul Fitri

Karya: Gutamining Saida

Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang Lebaran selalu membawa nuansa yang hangat dan penuh semangat. Seluruh siswa, karyawan dan guru berkumpul di lapangan untuk mengikuti apel pagi. Wajah-wajah ceria menghiasi barisan, menyambut hari baru dengan penuh antusiasme. Setelah menjalani ibadah di Bulan Suci Ramadhan dan menikmati libur Idul fitri bersama keluarga, kini saatnya kembali ke sekolah untuk menimba ilmu dan merajut kembali semangat belajar.

Salah satu agenda penting yang dilaksanakan pada pagi hari itu adalah salam salaman disisipkan pengumuman pemenang lomba. Lomba vlog ramadhan yang telah digelar sebelum libur Lebaran. Lomba vlog ini merupakan bagian dari kegiatan ramadhan yang rutin diadakan sekolah, namun tahun ini dibuat lebih menarik dan menantang. Setiap kelas diwajibkan mengikuti lomba ini. Harapannya semua kelas mengikuti dari kelas tujuh sampai kelas sembilan.

Tujuan utama dari lomba ini adalah untuk menumbuhkan semangat berkarya di kalangan siswa, serta melatih kemampuan mereka dalam bidang teknologi informasi yang semakin berkembang pesat di era saat ini. Melalui vlog, siswa diajak untuk tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan dengan menarik, informatif, dan inspiratif.

Setelah apel dibuka oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Dilanjutkan sambutan disampaikan oleh Kepala Sekolah, tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa. Yaitu pengumuman juara lomba vlog Ramadhan. Pembacaan juara diawali dengan menyampaikan maksud dan tujuan dari lomba, yang kemudian dilanjutkan dengan pengumuman tiga kelas terbaik yang berhasil menjadi pemenang.

Juara ketiga diraih oleh kelas 8H. Juara kedua kelas 9F serta pemenang pertama 9D. Pemenang ini mendapatkan hadiah berupa seperangkat alat kebersihan, seperti sapu lidi, sapu lantai, tempat sampah, dan pel lantai. Khususnya juara satu dan dua ditambah kipas angin. Hadiah diharapkan dapat digunakan untuk menjaga kebersihan kelas.

Kelas pemenang mengirimkan dua siswa sebagai perwakilan untuk maju ke depan menerima hadiah secara langsung dari Bapak Kepala Sekolah. Suasana penuh semangat dan kebanggaan terasa saat nama-nama kelas pemenang disebutkan. Para siswa yang maju tampak tersenyum bahagia, tidak hanya karena membawa pulang hadiah, tetapi juga karena telah menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya secara mandiri dan kreatif.

Bapak Kepala Sekolah dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh siswa dan wali kelas yang telah mendukung kegiatan ini. Beliau berharap ke depan akan semakin banyak karya-karya siswa yang muncul, baik dalam bentuk video, tulisan, maupun bentuk ekspresi lain yang menggambarkan semangat belajar, kerja sama, dan kepedulian sosial.

Keterampilan seperti membuat vlog, mengedit video, menyampaikan pesan melalui media sosial secara bijak dan positif, adalah bagian dari proses pembelajaran yang harus didorong bersama. Kita ingin siswa-siswi  tidak hanya menjadi penonton perkembangan zaman, tetapi pelaku aktif yang membawa perubahan lingkungannya.

Acara pengumuman dan penyerahan hadiah ditutup dengan tepuk tangan meriah dari seluruh siswa. Para pemenang kembali ke barisan dengan membawa hadiah yang akan digunakan di kelas mereka masing-masing. Kegiatan pagi itu tidak hanya menjadi ajang penghargaan atas kreativitas, tetapi juga menjadi penyemangat untuk terus belajar dan berkembang dalam segala bidang.

Dengan semangat baru, siswa-siswi melanjutkan kegiatan di kelas dengan senyum yang masih menghiasi wajah mereka. Hari pertama setelah lebaran pun terasa lebih hidup dan bermakna, membuka lembaran baru dalam proses pembelajaran yang penuh inspirasi.

Cepu, 9 April 2025

 


 

Menjadi Pribadi Yang Lebih Baik




Karya : Gutamining Saida 

Acara halal bihalal bukan hanya sekadar ajang untuk saling memaafkan, tetapi juga merupakan momentum berharga untuk mendapatkan siraman rohani dan memperkuat tekad dalam memperbaiki diri. Dalam tauziah yang disampaikan oleh ustadz Efendi Ibrahim saat acara halal bihalal di SMPN 3 Cepu, ada tiga poin penting yang sangat menyentuh hati dan layak untuk direnungkan serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga hal tersebut adalah memberi kepada orang yang tidak pernah memberi kita atau orang yang pelit pada kita, menyambung tali silaturahmi kepada orang yang memutus, dan memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita. Meskipun sederhana, pesan ini memiliki makna yang dalam dan menjadi pijakan untuk menuju pribadi yang lebih baik.

Pertama, memberi kepada orang yang pelit terhadap kita dan tidak mengharapkan balasan dari manusia. Namun hanya berharap balasan dari  Allah Subhanahu Wata'ala. 

Memberi merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Namun, memberi kepada orang yang pelit bisa jadi terasa berat. Mengapa? Karena secara naluriah, manusia cenderung ingin berbuat baik kepada mereka yang juga baik padanya. Tapi ajaran Islam mengajarkan kita untuk melampaui logika duniawi itu. Memberi kepada orang pelit justru bisa menjadi ujian keikhlasan. Kita diajarkan untuk berharap hanya kepada Allah Subhanahu Wata'ala , bukan kepada manusia. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa apa pun yang kita infakkan di jalan Allah Subhanahu Wata'ala tidak akan pernah sia-sia. Meskipun orang yang kita beri tidak tahu berterima kasih, bahkan cenderung pelit dan tidak mau membalas kebaikan, kita tidak perlu kecewa. Sebab pahala kita tetap tercatat di sisi Allah Subhanahu Wata'ala . Semakin ikhlas seseorang dalam memberi, semakin tinggi pula derajatnya di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala .

Kedua, menyambung tali silaturahmi.

Silaturahmi adalah pintu keberkahan. Dalam hadits disebutkan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Namun dalam praktiknya, menjaga silaturahmi tidak selalu mudah. Kadang ada perasaan gengsi, sakit hati, atau bahkan perselisihan lama yang membuat hubungan renggang. Tapi tauziah tadi mengingatkan bahwa menyambung silaturahmi bukanlah sekadar pilihan, melainkan kewajiban bagi seorang muslim. Terlebih bagi kita yang hidup dalam lingkungan kerja dan pendidikan seperti di SMPN 3 Cepu, menjaga hubungan baik antar sesama guru, siswa, dan warga sekolah adalah fondasi terciptanya suasana yang harmonis dan penuh keberkahan. Jangan menunggu orang lain memulai, jadilah yang pertama mengulurkan tangan. Insya Allah, keberkahan akan mengikuti setiap langkah silaturahmi yang kita lakukan.

Ketiga, memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita.

Memaafkan adalah salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Memaafkan bukan berarti lemah, tetapi justru menunjukkan kekuatan hati dan kelapangan jiwa. Allah Subhanahu Wata'ala pun Maha Pemaaf, dan Dia mencintai orang-orang yang memaafkan. Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita tidak lepas dari kesalahan, baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Bisa jadi ada teman kerja yang pernah menyakiti, siswa yang berbuat tidak sopan, atau sesama warga sekolah yang pernah menyebarkan kabar tak sedap. Semua itu menggores hati. Namun jika kita mampu memaafkan dengan ikhlas, hati kita menjadi lebih ringan, damai, dan tenang. Kita pun akan terhindar dari dendam yang merusak ketenangan batin.

Ketiga nilai yang disampaikan dalam tauziah tersebut memiliki benang merah yang kuat yaitu semua mengarah pada pembentukan pribadi yang luhur dan berakhlak mulia . Di tengah dinamika kehidupan di sekolah, baik sebagai pendidik maupun bagian dari komunitas, kita dihadapkan pada berbagai situasi yang menuntut kesabaran, ketulusan, dan kebesaran hati. Jika kita mampu menerapkan ketiga prinsip tersebut, maka bukan hanya diri kita yang berubah menjadi lebih baik, tapi juga lingkungan sekitar akan ikut terpengaruh secara positif.

Sebagai bagian dari keluarga besar SMPN 3 Cepu, sudah seharusnya kita bersama-sama menciptakan lingkungan yang islami, penuh kasih sayang, dan saling menghargai. Budaya memberi, menjaga silaturahmi, dan saling memaafkan harus terus ditanamkan, baik melalui teladan para guru, pembiasaan dalam kegiatan sekolah, maupun dalam interaksi sehari-hari. Keteladanan ini akan berdampak besar bagi para siswa yang sedang berada dalam proses pembentukan karakter.

Mari jadikan momen halal bihalal ini sebagai awal baru dalam hidup kita. Awal untuk memperbaiki niat, memperhalus akhlak, dan memperkuat tali persaudaraan. Semoga dengan berbekal ilmu yang telah disampaikan ustadz Efendi Ibrahim , kita dapat menjadi pribadi yang lebih bijak, sabar, dan ikhlas. Semoga SMPN 3 Cepu semakin dikenal sebagai sekolah yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga dalam akhlak dan keislaman. 
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
Cepu, 9 April 2025 




Senin, 07 April 2025

Hari Pertama Masuk





Karya : Gutamining Saida 
Hari Selasa pagi, suasana sekolah terasa berbeda. Setelah libur panjang lebaran, para guru dan karyawan mulai kembali menjalani rutinitas. Hari pertama ini berlangsung tanpa kehadiran siswa. Sekolah hanya diisi oleh para tenaga pendidik dan kependidikan yang mengenakan seragam Keki. Wajah-wajah sumringah dan penuh semangat memenuhi lingkungan sekolah sejak pagi.

Di ruang guru, suasana penuh kehangatan. Ucapan “minal aidzin wal faidzin” menggema dari sudut ke sudut, disambut dengan senyuman dan pelukan hangat. Ada yang bercerita tentang mudik ke kampung halaman, ada pula yang menunjukkan oleh-oleh. Momen ini menjadi kesempatan untuk saling mempererat silaturahmi dan berbagi kabar setelah sekian lama tak bersua.

Sekitar pukul 07.30 WIB, para guru dan karyawan diarahkan menuju ruang pertemuan. Pertemuan pagi itu dipimpin oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Humas, Pak Wahyudi, dengan agenda utama yaitu persiapan kegiatan halal bihalal yang akan dilaksanakan pada hari Rabu esok.

"Terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu. Semoga semangat baru ini membawa keberkahan untuk kita semua," buka Pak Wahyudi sambil tersenyum. "Hari ini kita akan bermusyawarah tentang pelaksanaan halal bihalal, mulai dari tempat, konsumsi, ustadz pengisi tausiyah, hingga dresscode."

Rapat pun dimulai dengan pembahasan tempat. Beberapa usulan mengemukakan ada yang menyebut ruang suasana krida, halaman, bahkan kelas. Setelah mempertimbangkan jumlah undangan dan potensi cuaca yang tak menentu, disepakati bahwa acara akan dilangsungkan di sasana krida. Ruangan cukup luas, nyaman, dan representatif untuk menampung seluruh peserta.

Berikutnya, diskusi beralih ke konsumsi. Beberapa peserta mengusulkan untuk memesan dari katering, Setelah itu, rapat memasuki sesi yang tak kalah penting, yakni pemilihan ustadz pengisi tausiyah. Diputuskan dari daerah Cepu lingkungan sekolah. Lalu, salah satu topik yang biasanya menimbulkan senyum-senyum kecil pun dibahas yaitu dresscode halal bihalal.

"Supaya tampil rapi dan sedap dipandang saat difoto bersama, kita perlu menyepakati busana yang dikenakan," ujar Pak Wahyudi dengan gaya santainya yang khas.

Ibu-ibu guru langsung antusias memberikan ide. Disepakati bahwa untuk acara halal bihalal yaitu Bapak-bapak mengenakan baju koko putih dan celana kain hitam. Ibu-ibu mengenakan busana muslimah bernuansa putih dipadu jilbab coklat.

Setelah semua unsur penting dibahas, rapat ditutup dengan pembagian tugas. Ada tim konsumsi, tim dekorasi, tim penerima tamu, serta tim dokumentasi. Semua guru dan karyawan menunjukkan semangat dan kesediaan untuk terlibat demi suksesnya acara.

"Halal bihalal ini bukan hanya seremoni. Ini momen yang kita tunggu tiap tahun untuk saling memaafkan, menguatkan kebersamaan, dan mempererat silaturahmi antar warga Sekolah yaitu termasuk komite, pasangan guru/karyawan, serta keluarga kantin," tutup Pak Wahyudi. 
Meski belum ada aktivitas belajar mengajar karena siswa belum hadir, suasana sekolah sudah kembali hidup. Senyum mengembang di wajah para guru dan karyawan. Persiapan untuk hari Rabu pun segera digerakkan yaitu mulai dari memesan konsumsi, menata ruang sasana krida, hingga menyiapkan undangan secara internal.

Hari pertama masuk ini menjadi penanda semangat baru, tidak hanya sebagai awal pelajaran setelah libur Lebaran, tetapi juga awal langkah kebersamaan untuk menghadapi penilaian akhir jenjang semester ini tahun 2024 - 2025.Dan dengan halal bihalal yang akan dilangsungkan esok hari, harapan besar tumbuh yaitu  semoga kerja sama dan rasa kekeluargaan di lingkungan sekolah ini semakin erat dan harmonis.
Cepu, 8 April 2025 

 

Kenangan di Mega Bintang



Karya: Gutamining Saida

Langit Cepu hari itu cerah seakan turut menyambut kebahagiaan yang akan segera berlangsung. Suasana Hotel Mega Bintang terasa hangat sejak saya menginjakkan kaki di sana. Saya datang menghadiri halal bihalal keluarga besar SMPN 1 Kedungtuban yaitu tempat yang dulu pernah menjadi bagian besar dari hidup dan perjalanan saya.

Meskipun saya sudah tidak lagi bertugas di SMPN 1 Kedungtuban karena mutasi, saya merasa sangat terhormat karena masih diberikan undangan dan kesempatan untuk hadir. Undangan ini bukan hanya bentuk formalitas, tapi merupakan simbol bahwa ikatan kebersamaan yang pernah terjalin tidak mudah luntur oleh waktu maupun jarak. Ini adalah rumah kedua, tempat saya tumbuh, belajar, dan banyak menerima kebaikan.

Ketika saya melangkah ke ruang pertemuan, mata saya langsung menangkap wajah-wajah yang sangat familiar. Teman-teman lama yang dulu selalu menjadi bagian dari keseharian saya. Ada yang masih sama seperti dulu, ada yang tampak lebih matang, namun senyum mereka tetap hangat, dan sambutannya tetap tulus. Rasanya seperti pulang ke pelukan masa lalu yang penuh kehangatan.

Saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan satu per satu. Kami tertawa mengenang masa-masa sibuk menyusun perangkat pembelajaran, berjuang mengatur jadwal ujian, merancang acara sekolah, sampai hal-hal kecil seperti membagi camilan saat istirahat atau menertawakan kejadian lucu di kelas. Semua kenangan itu menyeruak begitu saja, hidup kembali di antara percakapan dan tawa kami.

Momen paling berkesan bagi saya dalam halal bihalal ini adalah saat sesi foto bersama. Di tengah keramaian, saya mengajak beberapa teman yang dulu begitu dekat, yang menjadi bagian penting dari perjalanan saya selama bertugas di Kedungtuban. Mereka adalah orang-orang yang penuh makna dalam hidup saya, bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi juga sahabat, penolong, guru, sekaligus keluarga.

Kami berdiri berdampingan, tersenyum lebar ke arah kamera. Klik. Jepretan kamera seolah membekukan waktu dan menyimpan kenangan itu dalam bingkai yang tak akan lekang. Tapi di balik senyum itu, ada begitu banyak cerita. Saya teringat betapa mereka pernah mendampingi saya melewati masa-masa sulit yaitu saat saya bingung dalam penyesuaian, saat kepercayaan diri saya goyah, atau saat saya harus mengambil keputusan penting. Mereka ada, membantu, mendengar tanpa menghakimi, mengulurkan tangan tanpa diminta.

Tanpa mereka, saya bukanlah saya yang sekarang. Setiap pengalaman yang saya dapatkan selama di Kedungtuban, setiap tantangan dan pencapaian, semua tidak mungkin terwujud tanpa peran mereka. Di balik keberhasilan saya, ada banyak nama yang tak pernah lelah mendukung, menyemangati, bahkan mendoakan dalam diam.

Saya merasa sangat bersyukur telah dipertemukan dengan mereka. Di tempat itu, saya tidak hanya menemukan rekan kerja, tapi juga pembimbing kehidupan. Mereka mengajarkan saya untuk lebih sabar, untuk lebih terbuka, dan untuk lebih percaya pada kekuatan kerja sama. Dari mereka, saya belajar bahwa keberhasilan bukan hasil kerja individu semata, tetapi buah dari kebersamaan dan saling percaya.

Usai berfoto, saya menyampaikan terima kasih pada mereka, Meski saya tahu, tak semua bisa saya ungkapkan lewat kata. Beberapa dari mereka hanya tersenyum dan menjawab singkat, “Ah, kita kan sudah seperti keluarga.” Dan memang benar. Kami adalah keluarga yang disatukan oleh pengalaman dan rasa hormat satu sama lain.

Momen itu membuat saya sadar, betapa berharganya hubungan yang pernah terjalin. Bukan sekadar karena jabatan atau kewajiban, tapi karena ketulusan yang membentuk ikatan yang tidak mudah pudar. Saya merasa beruntung pernah berada di lingkungan yang penuh dengan orang baik, penuh dedikasi, dan mau berjalan bersama dalam suka maupun duka.

Acara terus berlanjut dengan tausiah, makan siang, dan hiburan. Namun hati saya sudah penuh sejak sesi foto tadi. Setiap detik yang saya habiskan bersama mereka terasa seperti hadiah dari Allah Subhanahu Wata’alla. Dan saya berdoa dalam hati, semoga kebaikan mereka akan dibalas dengan berlipat-lipat kebaikan, dan semoga silaturahmi ini tetap terjaga meski langkah kaki kita sudah menempuh arah yang berbeda.

Saya pulang dengan hati yang ringan dan senyum yang tak henti terlukis. Di ponsel saya, ada beberapa foto yang saya simpan baik-baik. Bukan sekadar gambar, tapi saksi bisu dari sebuah perjalanan hidup yang penuh makna. Suatu saat, ketika saya merasa lelah atau rindu, saya tahu saya hanya perlu membuka foto itu dan mengingat kembali bahwa saya pernah dikelilingi oleh orang-orang luar biasa yang membantu saya menjadi versi terbaik dari diri saya.

Terima kasih, sahabat-sahabatku. Terima kasih atas semua kenangan, pelajaran, dan kebersamaan yang tak ternilai. Kalian selalu ada di hati saya yaitu lebih dari sekadar rekan kerja, kalian adalah cahaya dalam perjalanan hidup saya.

Cepu, 7 April 2025

 

 

 

 

Halal Bihalal Di Mega Bintang

 

Karya : Gutamining Saida

Hari itu terasa sangat istimewa. Sebuah undangan telah tiba beberapa hari sebelumnya, mengabarkan akan diadakannya acara halal bihalal keluarga besar SMPN 1 Kedungtuban. Yang membuat hati saya tergetar haru, meskipun saya sudah tidak lagi bertugas di sekolah tersebut karena mutasi, saya tetap diberi kesempatan untuk hadir dan berkumpul kembali bersama keluarga besar yang telah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya.

Acara diselenggarakan di Hotel Mega Bintang, salah satu tempat yang cukup megah dan representatif di Kota Cepu. Sejak pagi, semangat saya membuncah. Saya mempersiapkan diri sebaik mungkin Ini bukan sekadar acara halal bihalal, tapi lebih dari itu yaitu  ini adalah momen temu kangen, ajang silaturahmi yang mempertemukan kembali wajah-wajah yang pernah bersama dalam suka dan duka di lingkungan SMPN 1 Kedungtuban.

Sesampainya di lokasi, suasana keakraban langsung terasa. Para guru, baik yang masih aktif maupun yang sudah berpindah tugas, hadir dengan semangat. Kepala sekolah saat ini maupun kepala sekolah yang pernah memimpin sebelumnya juga hadir dengan wajah berseri-seri. Komite sekolah, camat, perwakilan dari kepolisian dan koramil, pengawas dinas kab. Blora, semua turut serta. Hampir seluruh undangan hadir, hanya beberapa yang tidak bisa datang karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan. Namun, semangat kebersamaan tetap utuh terasa.

Saya melangkah masuk ke ruangan dengan perasaan hangat. Tangan-tangan saling berjabat erat, pelukan singkat diiringi sapaan hangat dan senyum tulus menyambut setiap pertemuan. “Wah, lama tak jumpa!” “Kangen, Bu!” “Senang sekali bisa bertemu lagi!” Kalimat-kalimat seperti itu bergema di sepanjang ruangan, membuktikan betapa kuatnya tali silaturahmi yang telah terjalin.

Acara dibuka dengan sambutan dari kepala sekolah, dilanjutkan sambutan dari perwakilan komite dan camat. Kata-kata mereka mengandung pesan persatuan dan semangat kebersamaan, serta pentingnya menjaga hubungan baik, baik dalam lingkup sekolah maupun dalam kehidupan sosial. Kemudian, hadirin disuguhi siraman rohani oleh seorang ustadz yang menyampaikan tausiah penuh makna. Beliau mengingatkan bahwa halal bihalal bukan hanya soal maaf-memaafkan secara lisan, tetapi juga tentang meluruskan niat, mempererat silaturahmi, dan memperbaiki hubungan antarsesama.

Tausiah itu membuat banyak dari kami merenung sejenak. Ada yang menunduk khusyuk, ada pula yang mengangguk pelan menyetujui setiap nasihat yang disampaikan. Momen tersebut membawa suasana menjadi lebih tenang dan penuh makna. Dalam hati saya bersyukur bisa hadir dalam kesempatan ini. Betapa tidak, di tengah kesibukan dan jarak yang memisahkan, Allah Subhanahu Wata’alla masih memberikan ruang dan waktu bagi kami untuk berkumpul kembali.

Setelah siraman rohani, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Hidangan yang tersaji cukup beragam dan menggoda selera . Mulai dari nasi, ayam, capjay, oseng daun papaya, , sayur asam, hingga aneka kue dan buah-buahan segar. Kami menikmati makanan sambil terus berbincang dan tertawa. Tak ada sekat, tak ada jarak, hanya ada persaudaraan yang semakin menguat.

Suasana semakin meriah ketika sesi hiburan dimulai. Beberapa guru maju ke depan untuk menyumbangkan suara mereka. Lagu-lagu pilihan, baik yang bertema kebersamaan maupun nostalgia masa lalu, mengalun dengan semangat. Bahkan beberapa guru yang biasanya pendiam pun tampak menikmati, ada yang ikut bernyanyi. Tawa riuh mengisi ruangan, suasana benar-benar hidup dan penuh kegembiraan.

Saya sendiri tak kuasa menahan senyum. Melihat semua yang hadir begitu bahagia membuat hati ini terasa hangat. Saya sempat terlibat obrolan dengan beberapa teman sejawat yang dulu sering berbagi cerita dan perjuangan. Kami bernostalgia tentang masa-masa mendampingi siswa, mengikuti lomba, hingga kenangan unik saat sarapan bersama usai senam pagi. Semua terbingkai indah dalam ingatan.

Bagi saya ini bukan sekadar halal bihalal biasa. Ini adalah pembuktian bahwa keluarga besar SMPN 1 Kedungtuban memiliki semangat kekeluargaan yang luar biasa. Saya merasa sangat terhormat diundang dalam acara ini. Walau saya telah mutasi, mereka masih menganggap saya bagian dari keluarga. Hal ini memberikan pelajaran besar bagi saya.  Bahwa nilai sebuah kebersamaan tidak akan pudar hanya karena perubahan status atau tempat kerja.

Ketika acara mulai berakhir dan satu per satu peserta berpamitan. Betapa beruntungnya saya pernah menjadi bagian dari sekolah ini. Saya bersyukur atas segala kebersamaan, pelajaran, dan kenangan yang telah terukir. Halal bihalal kali ini telah menjadi penyambung rindu, penghangat jiwa, sekaligus pengingat bahwa tali silaturahmi harus selalu dijaga.

Saya pulang dengan hati yang penuh syukur, penuh cinta, dan penuh semangat untuk terus menjaga hubungan baik dengan siapa pun yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Terima kasih, SMPN 1 Kedungtuban. Terima kasih atas undangannya, atas sambutannya, dan atas kenangannya yang tak terlupakan. Semoga SMPN 1 Kedungtuban semakin jaya.

Cepu, 7 April 2025

 


Minggu, 06 April 2025

Heboh Saat Akan Datang Resepsi

Karya: Gutamining Saida

Minggu pagi yang sejuk terasa biasa saja. Di grup WhatsApp  buwoh beberapa pesan mulai bermunculan. Suasana terlihat santai, namun ada semacam semangat yang menggantung di antara candaan dan obrolan ringan. Hari itu memang bukan hari kerja, tapi tetap saja ada agenda penting yaitu resepsi pernikahan salah satu teman sekantor yang rumahnya di desa Kebon kecamatan Paron.

Sudah beberapa hari sebelumnya, rencana berangkat bersama dari sekolah telah dirancang dengan matang. Jadwal keberangkatan ditetapkan pukul 11.00 siang dari halaman parkir sekolah. Kendaraan sudah disiapkan beberapa rekan dan semangat untuk berangkat dan hadir bersama terasa begitu menggebu.

Pagi itu, sekitar pukul 09.00, sebagian besar rekan sudah mulai menyapa di grup.

“Pagi-pagi jangan lupa mandi ya,” tulis Bu Wiwik sambil menambahkan emot tertawa.

“Iya dong… masa datang ke resepsi bau,” balas Bu Indri cepat, seperti biasa dengan gaya ceplas-ceplosnya yang khas.

Di tengah kehebohan itu, satu nama belum juga muncul. Pak Jum, yang biasanya jarang pegang handphone tidak ada muncul membalas pesan, masih diam seribu bahasa. Bahkan, tanda centang dua biru pun belum muncul.

“Pak Jum mana ya? Kok belum kelihatan?” tulis Bu Wiwik lagi.

“Ssstt… mungkin masih di sawah,” seloroh Bu Ning

Semua tertawa. Namun kekhawatiran kecil mulai muncul karena waktu terus berjalan.

“Pokoknya jangan sampai telat ya. Berangkat tetap jam 11,” lanjut Bu Wiwik mengingatkan.

“Saya gak pernah telat ya, Bu,” balas Bu Indri dengan gaya yakin.

“Gimana Pak Jum? Gak ada kabar lho…” tambahnya, mulai khawatir bercampur geli.

“Jangan molor lho. Yang biasa pakai celana kolor, hhhh,” celetuk Bu Indri lagi, dan sontak membuat grup meledak dengan emoji tertawa.

Canda tawa semakin ramai. Pak  Bambang menimpali, “Wah, jangan-jangan Pak Jum masih mikir cocok nggak pakai dasi.”

Tak lama kemudian, salah satu guru lain yang tinggal dekat rumah Pak Jum memberikan info, “Tadi subuh lampunya masih nyala. Tapi sekarang sunyi senyap.”

“Pak Jum disabotase istrinya mungkin, biar nggak dandan terlalu ganteng,” sambung Bu Indri yang sepertinya sudah dalam mode humor penuh pagi itu.

Pukul 10.30, grup makin ramai. Foto-foto mulai dikirim. Ada yang memamerkan kemeja batik terbaru, ada yang bingung memilih kerudung yang cocok, bahkan ada yang bertanya: “Pakai sandal atau sepatu ya?”

Namun tetap, Pak Jum belum terlihat online. Grup mulai bercampur antara kekhawatiran dan rasa geli. Bu Wiwik akhirnya menelepon langsung ke nomor Pak Jum, tapi masih tidak aktif.

“Yah, mati lagi. Jangan-jangan HP-nya ikut tidur,” kata Pak Budi, guru matematika yang biasanya kalem tapi kali ini ikutan nyenggol.

Akhirnya, sekitar pukul 10.20, sebuah notifikasi muncul. Tanda online! Semua mata tertuju ke layar.

Pak Jum akhirnya muncul dengan kalimat pendek yaitu “Maaf…hpku tidak bisa dibuka.”

Langsung grup meledak. “Waaahhh akhirnyapak Jum muncul!” Selamat datang kembali di dunia nyata, Pak!” “Buruan siap-siap ya…”Semoga kolor sudah diganti!”

Satu per satu mulai bersiap menuju sekolah. Ketika akhirnya semua berkumpul, kehebohan masih berlanjut secara langsung. Pak Jum datang dengan jaket menutupi batik, dengan senyum yang khas.

“Maaf ya, HP nggak bisa dibuka.”

“Udah, yang penting nggak pakai kolor ke kondangan,” celetuk Bu Indri yang langsung disambut gelak tawa.

Perjalanan menuju lokasi resepsi menjadi penuh cerita. Di dalam mobil, canda tawa tak berhenti. Bu Wiwik mengingatkan rute, sementara Pak Jum, yang akhirnya duduk paling belakang, tak lepas dari godaan.

Sesampainya di lokasi, rombongan guru disambut dengan hangat oleh si pengantin dan keluarganya. Mereka tampak rapi, kompak, dan terlihat begitu solid sebagai satu keluarga besar.

Kebersamaan itu terasa istimewa. Tidak hanya karena acara resepsi teman sekantor yang begitu berbahagia, tapi juga karena kisah sebelum berangkat yang penuh warna. Kadang dari hal-hal sederhana seperti kesiangan, HP mati, atau canda soal celana kolor, justru tercipta tawa yang mempererat rasa kebersamaan. Hari Minggu  bukan sekadar tentang datang ke resepsi. Tapi tentang tawa, kekeluargaan, dan kenangan yang akan terus menjadi cerita lucu di hari-hari kerja berikutnya.

Cepu, 7 April 2025

 


 

Nikmat Pertemuan Singkat


Karya : Gutamining Saida 
Hari Minggu tanggal 6 April 2025 terasa berbeda dari biasanya. Sejak semalam, saya sudah menata niat di dalam hati. Rencana menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Paron bukan sekadar perjalanan biasa. Di balik acara itu, ada harapan lain yang saya semayamkan dalam diam yaitu harap bertemu dengan saudara yang tinggal tak jauh dari lokasi resepsi. Sudah lama kami tak bersua. Waktu, jarak, dan kesibukan membuat pertemuan seperti mimpi yang terus tertunda.

Perjalanan ke Paron adalah kesempatan langka. Maka, dalam hati saya berdoa dengan  sungguh-sungguh. “Ya Allah, jika Engkau ridha, berilah saya kesempatan bertemu dengan saudara yang bernama dik Anik walau sejenak. Saya rindu  ingin bersilaturahmi.”

Pagi itu, langit cerah seolah mengamini niat baik saya. Bersama teman-teman kantor, kami berangkat dari sekolah menuju lokasi resepsi. Perjalanan penuh canda tawa, menyenangkan dan hangat. Namun di tengah semua kegembiraan itu, hati ini masih menyimpan harapan sederhana yaitu pertemuan dengan dik Anik. 

Sesampainya di lokasi resepsi, suasana ramai. Musik menyambut tamu, pengantin terlihat bahagia dengan senyum yang tak lepas dari wajah. Kami bersalaman, mengucap selamat, dan menyantap hidangan yang disediakan tak lupa foto bersama. Semuanya terasa indah, namun jujur saja, pikiran masih tertambat pada satu hal yaitu mungkinkah nanti Allah berkenan mempertemukan saya dengan saudara yang bernama dik Anik. 

Waktu berjalan cepat. Di sela-sela acara, saya memberanikan diri mengirim pesan. “Saya sudah ada di lokasi resepsi desa Paron. Sudah berangkat dik? Kita bisa bertemu sebentar? saya tahu waktu tidak panjang…”

Tak lama, balasan datang. “Iya tapi hanya bisa sebentar. Kita ketemu di perempatan dekat patung gading ya?”

Hati ini bergetar bahagia. Allah Subhanahu Wata'ala benar-benar mengabulkan doa saya. Dalam keterbatasan waktu dan keadaan, Dia membuka jalan untuk pertemuan yang telah lama tertunda.

Selesai acara, pamit pada manten dan melanjutkan perjalanan cepat menuju titik temu. Perempatan patung gading bukan tempat yang istimewa. Ramai lalu lintas, kendaraan lalu lalang, hiruk pikuk pasar terdengar dari kejauhan. Namun hari itu, perempatan itu menjadi saksi satu pertemuan yang sangat berarti.

Kami bertemu. Peluk hangat seketika menyatu. Mata kami berbinar. Tak banyak yang bisa diucap. Hanya cerita singkat, tanya kabar dan senyum yang menyimpan rindu lama. Tak ada bangku nyaman, tak ada kopi, teh yang menemani. Tapi di tengah lalu lintas yang padat dan suara klakson yang bersahutan, hatiku damai.

Pertemuan itu hanya sekitar sepuluh menit. Namun rasanya seperti meneguk seteguk air setelah lama kehausan. Rindu yang mengendap perlahan luruh. Bahkan dalam singkatnya waktu, kami sempat saling mendoakan. “Semoga sehat terus ya. Jangan lupa saling mendoakan. Meski jarang bertemu, hati kita tetap dekat.”

Saat berpamitan, sejenak  menatap wajah berpelukan dengan saudara dan mulai berpisah berjalan menjauh. Ada haru yang mengalir diam-diam.  Kami akan kembali berjauhan. Tapi saya juga tahu, bahwa hari itu Allah Subhanahu Wata'ala telah memberikan hadiah besar yang tak ternilai harganya: nikmat kesempatan untuk bertemu. 

Di perjalanan pulang diam dalam mobil saya tenggelam dalam rasa syukur. Betapa Allah Maha Mendengar. Dia tahu isi hati hamba-Nya. Bahkan untuk niat yang hanya terucap dalam doa malam, Dia mampu jawab dengan cara yang indah.

Saya belajar hari itu bahwa pertemuan tidak harus lama. Tidak harus di tempat istimewa. Yang terpenting adalah maknanya. Kadang Allah Subhanahu Wata'ala tidak memberikan semua yang kita minta, tapi Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan.

Pertemuan di perempatan itu sederhana, tapi bagi saya sangat luar biasa. Saya bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'ala memberi izin. Saya bersyukur karena walau sebentar, rindu sedikit terobati. Bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'ala masih sayang pada saya mempertemukan dengan bagian dari keluarga besar saya. 

Perempatan patung gading sebagai tempat di mana Allah Subhanahu Wata'ala menurunkan rahmat-Nya, menjawab doa diam saya dan mengajarkan tentang nikmat waktu, tentang syukur, dan tentang pentingnya menjaga silaturahmi meski hanya sekejap. Terima kasih dik Anik sudah menyempatkan waktu bertemu dan oleh-olehnya. Semoga diberikan rizeki yang barokah. 
Cepu, 6 April 2025 



Sabtu, 05 April 2025

Teguran Cinta Dari Allah

 Karya: Gutamining Saida

Delapan bulan lalu, saya diuji oleh Allah Subhanahu Wata’alla dengan rasa sakit yang tak terduga. Tubuh terasa lemah, ada bagian yang seolah tak bisa lagi diajak kompromi. Awalnya saya merasa cemas dan khawatir. Sejumlah dugaan dan rasa sakit mulai membayangi pikiran. Namun justru dari titik itulah, saya kembali bersimpuh dalam keheningan malam. Saya mencari, mendekat, berlari kepada Allah Subhanahu Wata’alla yang selama ini mungkin telah saya abaikan dalam hiruk-pikuk dunia.

Sakit ini bukan hanya menyentuh fisik, tapi juga hati. Setiap kali rasa nyeri, panas itu datang, saya menangis. Tapi tangisan itu bukan semata karena rasa sakitnya, melainkan karena saya sadar. Saya telah terlalu lama lalai. Saya telah terlalu jauh dari Allah Subhanahu Wata’alla . Padahal hanya kepada-Nya saya bergantung hidup.

Di sepertiga malam, saya mulai membangun kembali hubungan yang dulu sempat renggang. Saya duduk dalam gelap, bersujud dengan hati yang penuh luka. Lisan yang tak berhenti memohon. Saya menangis, bukan hanya karena sakit yang menyesakkan. Tapi karena saya merasa begitu hina telah melupakan  Allah Subhanahu Wata’alla yang selama ini menjaga saya tanpa pamrih.

"Ya Allah... maafkan saya. Saya kembali pada-Mu. Saya tidak kuat tanpa pertolongan-Mu..."

Itulah kalimat yang sering saya bisikkan di sela-sela sujud panjang. Malam-malam tak lagi sepi, karena kini penuh tangisan dan curahan hati. Saya menceritakan segalanya kepada-Nya. Tentang lelah, kesakitan, penyesalan, dan keinginan saya untuk sembuh yaitu bukan hanya secara jasmani, tetapi juga ruhani.

Ajaibnya, semakin saya dekat kepada-Nya, semakin ringan pula sakit yang saya rasakan. Saya mulai bisa tidur lebih nyenyak. Nafas terasa lebih lega. Hati jauh lebih tenang. Sakit itu perlahan-lahan mereda, dan bahkan nyaris hilang.

Saya tahu itu bukan semata karena obat dan terapi. Itu karena Allah Subhanahu Wata’alla mendengarkan saya. Itu karena Allah Subhanahu Wata’alla menjawab jerit hati saya. Seperti manusia pada umumnya, saat rasa sakit itu perlahan menghilang, saya mulai sibuk kembali dengan rutinitas. Saya lupa bagaimana rasanya menangis dalam sujud. Saya mulai jarang curhat kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Saya kembali lalai, padahal saya telah merasakan betapa indahnya saat hati begitu dekat dengan-Nya.

Seperti sebuah tamparan kasih sayang dari Allah Subhanahu Wata’alla rasa sakit itu datang lagi. Kali ini, berbeda tempat di bagian tubuh yang laim. Rasa sakitknya sama. Saya kembali merasa tersayat. Saya merasa seperti ditarik lagi ke tempat semula, tempat di mana saya benar-benar merasa membutuhkan Allah Subhanahu Wata’alla.

Awalnya saya bertanya, "Kenapa lagi, Ya Allah?"

Kemudian hatiku menjawab, "Karena engkau mulai menjauh lagi,"

Tersentak, saya kembali menangis. Bukan karena rasa sakit yang baru saja datang, tapi karena saya sadar, Allah Subhanahu Wata’alla masih sayang kepada saya. Allah Subhanahu Wata’alla tidak membiarkan saya terlalu lama larut dalam kesibukan yang menjauhkan diri dari-Nya. Allah Subhanahu Wata’alla memberiku teguran, sebuah sentilan lembut namun sangat berarti yaitu  melalui rasa sakit.

Seketika, saya merasa begitu dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’alla. Sakit ini bukan kutukan. Ini adalah jalan untuk kembali. Sebuah undangan agar saya datang lagi ke pelukan Allah Subhanahu Wata’alla.

Saya mencoba untuk tidak lagi lalai. Saya menyadari bahwa sehat ataupun sakit, lapang ataupun sempit, saya harus tetap dekat kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Bukan hanya saat butuh, bukan hanya saat tubuh lemah dan hati goyah. Tapi juga saat bahagia, saat segalanya tampak baik-baik saja.

Teguran Allah Subhanahu Wata’alla melalui sakit membuat saya lebih peka terhadap betapa rapuhnya saya tanpa pertolongan-Nya. Saya belajar bahwa kesehatan bukan hanya anugerah, tapi juga pengingat agar saya tak pernah menyombongkan diri. Bahwa sakit bukan hukuman, melainkan panggilan kasih yang penuh cinta.

Kini di setiap sujud menjadi lebih bermakna. Setiap sakit yang datang, saya syukuri. Karena hal ini menjadi jalan untuk saya kembali kepada yang Maha Penyayang. Selama saya terus melangkah mendekat kepada-Nya, saya tak akan pernah benar-benar sendiri.

Cepu, 6 April 2025


Jumat, 04 April 2025

Zaskia Nisa Al Fathur

Karya: Gutamining Saida

Zat-Mu sumber segala cahaya
Aku bersyukur atas hidup dan segala upaya
Setiap nafas nikmat tak terkira
Kehidupan ini penuh berkah dan cinta
Iman di dada harta yang tiada tara
Alangkah indah saat hati selalu bersyukur pada-Nya

Nikmat-Mu hadir bahkan tanpa aku minta
Inginku menjadi hamba yang taat dan setia
Saat senang sedih kuingat hanya Engkau
Arah hidupku semoga selalu dalam lindung-Mu yang teduh

Aku pasrahkan langkah pada kehendak-Mu yang luhur
Langkah kecilku pun Kau jaga tanpa kendur

Fajar-Mu membuka hari penuh harapan
Aku bersujud dalam syukur dan pengharapan
Tiada hari tanpa kasih-Mu yang menyentuh
Hati ini pun luluh saat melihat semua karunia yang jatuh
Untuk segala yang Kau beri ya Rabbi
Rasa syukur ini akan terus hidup dalam sanubari
Cepu, 5 April 2025

Zain Hamzah Al Fathur


Karya : Gutamining Saida 

Zikir lirih jadi pengingat dalam senyap
Alangkah hati penuh syukur tiap tapak
Ingat selalu kasih-Nya yang tak pernah lelah
Nikmat kecil pun patut disambut dengan ramah

Hari-hari hadiah yang tak ternilai
Apa yang ada, itulah yang terbaik dari Yang Maha Baik
Melangkah dalam ridha menjauh dari angkuh
Zona nyaman pun tak lupa untuk bersujud penuh
Aku hanyalah debu yang dijaga oleh-Nya
Hingga detik ini hidup penuh anugerah

Aku bersyukur untuk cinta dan waktu
Langit yang biru hingga hujan yang syahdu

Fajar menyingsing memberi harapan baru
Ayat-ayat Tuhan terus menenangkan kalbu
Terima kasih ya Rabb untuk semua yang Kau atur
Hati ini akan terus belajar jujur
Untuk mencintai-Mu dalam suka dan getir
Rasa syukur ini akan terus kupelihara hingga akhir
Cepu, 5 April 2025

Elmerra Yukika Al Fathur


Karya: Gutamining Saida 

Engkau Maha Memberi tak henti limpahkan nikmat
Lembut kasih-Mu menyusup dalam tiap detik yang hangat
Matahari bersinar hujan turun penuh rahmat
Eratnya cinta-Mu menjelma dalam hidup penuh hikmat
Rasa syukur ini tak cukup dilukis kata
Rela hati tunduk bersujud dalam cinta
Aku hanya hamba lemah tak punya daya

Yakin semua telah Kau atur sebaik-baiknya
Ujian datang pun jadi sebab bertumbuh jiwa
Kadang tangis tawa semua dalam rencana-Nya
Ingat selalu janji-Mu yang tak pernah dusta
Karena syukur kunci bahagia
Aku belajar ikhlas walau tak selalu mudah terasa

Alangkah indah hidup saat hati penuh syukur
Lapang dada meski jalan terasa berliku dan kabur

Fajar menyapa dengan harapan baru
Alangkah elok jika dimulai doa yang syahdu
Tiap hela napas pun karunia
Hidup ini anugerah bukan sekadar cerita
Untuk semua baik dan buruk
Rasa syukur ini akan terus kupeluk
Cepu, 5 April 2025



Temu Keluarga Besar


Karya: Gutamining Saida

Lebaran hari kedua selalu menjadi momen istimewa bagi keluarga besar dari pihak bapak saya. Tahun 2025, reuni keluarga berlangsung di rumah Pak dhe Dali di Genjit. Sebuah rumah sederhana di pedesaan yang tetap menjadi saksi kebersamaan keluarga kami tahun ini . Dari lima bersaudara, kini hanya tersisa tiga, yaitu pak Dhe Pandi, pak Dhe Dali dan bulik Ti. Meskipun begitu, semangat berkumpul tidak pernah luntur.

Kami berangkat bersama suami dan dua anak dari rumah.  Jalanan menuju Genjit cukup lengang, hanya beberapa kendaraan yang melintas. Begitu tiba, suasana pedesaan yang asri langsung menyapa. Udara segar, pohon-pohon rindang dan rumah-rumah khas desa menambah kehangatan pertemuan kali ini.

Begitu masuk ke halaman rumah Pak dhe Dali, beberapa saudara sudah berkumpul. Para laki-laki duduk lesehan di serambi rumah, berbincang santai sambil menikmati hidangan kecil. Sementara itu, kaum perempuan berkumpul di ruang dalam, bercengkerama dengan hangat. Anak-anak berlarian di halaman, tertawa ceria tanpa beban.

Hidangan khas sudah tersaji di atas tikar. Berbagai makanan kecil seperti kue kering, keripik ketela, kacang dan buah pisang tersusun rapi. Yang paling khas dan selalu dinantikan adalah tape ketan hitam dan jadah ketan hitam, hidangan spesial yang hanya bisa kami temui di rumah Pak dhe Dali. Aroma khasnya langsung menggoda selera, mengingatkan pada tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Menjelang siang, makanan berat mulai dihidangkan. Nasi jagung lengkap dengan sayur dan lauk-pauk menjadi pilihan bagi yang ingin merasakan cita rasa pedesaan yang autentik. Selain itu, ada juga nasi putih dengan opor ayam yang gurih, oseng-oseng sayur, mie goreng dan kerupuk sebagai pelengkap. Tak ketinggalan, es dingin yang menyegarkan tenggorokan di tengah teriknya siang berwarna pink.

Kami duduk memenuhi tikar, menikmati makanan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar tawa pecah karena cerita-cerita lama yang diulang kembali. Nostalgia tentang masa kecil, kenakalan saat masih kecil, hingga kisah perjuangan orang tua menjadi topik yang tidak pernah habis dibahas.

Uang arisan sudah terkumpul, bendahara mengumumkan perolehan uang dan tahun yang akan datang bertempat di keluarga pak dhe Pandi. Menurut rencana akan dilangsungkan di rumah anaknya yang di Baureno. Sumbangan uang musala juga diumumkan.

Salah satu momen yang selalu ditunggu adalah sesi foto keluarga. Masing-masing keluarga berpose, mengabadikan kebersamaan yang hanya terjadi setahun sekali. Keluarga Pak dhe Yadi menjadi pusat perhatian karena memiliki anggota terbanyak. Saat sesi foto berlangsung, berbagai komentar dan canda tawa pun bermunculan, membuat suasana semakin riuh dan penuh kehangatan.

"Waaah, keluarga Pak dhe Yadi ini kalau kumpul, bisa buat satu RT sendiri," canda salah satu saudara yang langsung disambut tawa lepas.

"Anak, cucu, cicit tambah besar semua, tahun depan pasti tambah ramai lagi!" tambah yang lain.

Setelah sesi foto selesai, kami kembali berbincang. Anak-anak mulai bermain di halaman, beberapa orang tua menikmati sisa hidangan sambil berbagi cerita. Tak terasa, waktu semakin siang dan satu per satu mulai berpamitan. Meski hanya bertemu sebentar, kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat kembali.

Setelah selesai. Kami bersama melaksanakan salat dhuhur di musala. Saat perjalanan pulang, saya tersenyum sendiri mengingat riuh rendah suasana tadi. Meskipun hanya setahun sekali, reuni ini selalu membawa kebahagiaan yang tak tergantikan. Dan tentu saja, saya sudah tidak sabar menantikan pertemuan tahun depan dengan kehangatan yang sama.

Cepu, 4 April 2025