Jumat, 16 Januari 2026

Lihat Delima Ingat Arab

 


Karya: Gutamining Saida

Buah delima merah adalah buah yang selalu membawa saya pada kenangan yang tak pernah pudar. Kenangan tentang rasa penasaran, tentang keberanian kecil dalam mengambil keputusan, dan tentang perjalanan batin yang perlahan menguatkan iman. Pertama kali saya melihat buah delima merah, ada getaran aneh di hati saya. Warnanya merah menyala, kulitnya keras namun mengilap, seolah menyimpan rahasia besar di dalamnya. Tanpa banyak berpikir tentang harga mahal atau murah, tangan ini spontan mengambilnya. Bukan karena gengsi, bukan pula karena ingin pamer, tetapi murni karena rasa ingin tahu yang Allah Subhanahu Wata'alla tanamkan di hati saya saat itu.

Tahun 2011 menjadi tahun yang istimewa. Tahun ketika akhirnya saya benar-benar menikmati buah delima merah. Maklum, saya hanyalah orang desa yang sejak kecil akrab dengan pisang, pepaya, singkong, dan buah-buahan lokal lainnya. Delima bagi saya bukan sekadar buah, tetapi sesuatu yang terasa jauh, asing, dan hanya sering disebut dalam cerita atau bacaan bernuansa Timur Tengah. Saat biji-biji merah itu masuk ke mulut, saya terdiam sejenak. Rasanya manis, segar, dan sama sekali tidak asam seperti yang saya bayangkan. Cocok di lidah saya. Sejak saat itu, delima bukan lagi buah asing, melainkan buah yang memiliki tempat khusus di hati.

Seiring waktu, saya semakin memahami bahwa delima bukan sekadar buah lezat. Dalam Islam, buah delima disebut sebagai salah satu buah surga. Setiap kali mengingatnya, hati saya terasa hangat. Ada rasa syukur yang mengalir pelan. Allah Subhanahu Wata'alla memperkenalkan saya pada delima bukan tanpa makna. Mungkin melalui hal sederhana seperti buah, Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajak saya merenung tentang nikmat-Nya yang begitu luas dan sering kali kita remehkan.

Kini, delima merah tidak lagi sulit ditemukan. Di penjual buah pinggir jalan pun saya sering menjumpainya. Setiap kali mata ini menangkap warna merahnya, pikiran saya langsung melayang jauh, menembus jarak dan waktu. Terbayang tanah Arab, tanah yang diberkahi, tanah para nabi, tanah tempat jutaan doa dipanjatkan setiap hari. Entah mengapa, delima selalu membawa saya pada kerinduan yang dalam akan Arab. Kerinduan yang tidak sekadar rindu tempat, tetapi rindu suasana, rindu ketenangan, rindu rasa dekat dengan Allah .

Di sana, di tanah suci, hati terasa begitu ringan. Pikiran tidak dipenuhi daftar pekerjaan, tidak disesaki urusan rumah tangga, dan tidak dibebani kekhawatiran duniawi. Saat itu, saya benar-benar merasakan makna hidup yang sesungguhnya. Tidak ada target dunia, tidak ada tuntutan selain satu: beribadah. Fokus ibadah. Salat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, semuanya mengalir begitu saja tanpa paksaan. Seakan jiwa ini kembali ke fitrahnya.

Di tanah Arab, saya belajar tentang ikhlas. Ikhlas meninggalkan sejenak urusan dunia, ikhlas melepas peran sebagai pekerja, sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai manusia yang biasanya sibuk mengejar ini dan itu. Di sana, saya hanyalah hamba. Hamba yang kecil, lemah, dan penuh dosa. Namun justru dalam posisi itulah saya merasa sangat dekat dengan Allah. Tidak ada beban yang terasa berat, karena semuanya saya serahkan kepada-Nya.

Setiap butir delima yang saya nikmati kini seperti menjadi pengingat lembut dari Allah Subhanahu Wata'alla. Pengingat bahwa dunia ini hanya persinggahan. Sebagaimana rasa manis delima yang tidak bertahan lama di lidah, demikian pula kenikmatan dunia yang cepat berlalu. Yang abadi hanyalah amal dan keikhlasan. Delima mengajarkan saya untuk tidak silau pada kulit luar. Kulitnya keras, tebal, dan tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan ratusan biji kecil yang manis dan menyehatkan. Bukankah itu seperti kehidupan seorang mukmin? Terlihat biasa, bahkan sederhana, namun di dalamnya penuh nilai kebaikan dan pahala jika dijalani dengan niat yang lurus.

Kerinduan saya pada Arab bukan sekadar rindu perjalanan fisik, tetapi rindu suasana batin. Rindu pada momen ketika hati begitu tenang, pikiran begitu jernih, dan jiwa begitu fokus menghadap Allah Subhanahu Wata'alla. Setiap kali kehidupan terasa berat, setiap kali masalah datang bertubi-tubi, ingatan tentang delima dan tanah suci menjadi penguat. Allah Subhanahu Wata'alla pernah memberi saya kesempatan merasakan ketenangan itu, dan saya yakin, jika Allah menghendaki, Dia akan memanggil saya kembali.

Buah delima merah akhirnya menjadi lebih dari sekadar buah. Ia adalah simbol. Simbol rasa syukur, simbol kerinduan, dan simbol pengingat bahwa tujuan hidup ini bukanlah sekadar bekerja, mengumpulkan harta, atau memenuhi keinginan dunia. Tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah Subhanahu Wata'alla dengan sebaik-baiknya, di mana pun kita berada.

Semoga suatu hari nanti, ketika saya kembali menikmati delima merah, Allah Subhanahu Wata'alla juga kembali mengizinkan kaki ini menjejak tanah yang diberkahi. Tanah tempat doa-doa terasa begitu dekat dengan langit. Hingga saat itu tiba, biarlah delima menjadi pengingat bahwa surga itu nyata, janji Allah Subhanahu Wata'alla itu pasti, dan setiap kerinduan yang disertai doa tidak akan pernah sia-sia.

Cepu, 17 Januari 2026

Kamis, 15 Januari 2026

Pertemuan Singkat

 


Karya: Gutamining Saida

Kamis siang, langit tampak muram. Awan hitam bergantungan rendah, seolah ikut menunduk menyaksikan perjalanan hidup manusia. Rintik hujan turun perlahan, rimis-rimis kecil yang tidak deras namun cukup membasahi bumi. Dalam suasana seperti itulah saya melangkahkan kaki menuju rumah Bu Peni, sahabat sekaligus teman mengajar sewaktu di SMP Triji. Hati saya terasa berdebar, bukan karena cuaca, melainkan oleh rindu yang lama tersimpan dan harapan akan pertemuan yang telah lama saya niatkan.

Kedatangan saya benar-benar di luar dugaan Bu Peni. Wajahnya yang semula terkejut perlahan berubah menjadi penuh haru. Ia tidak menyangka, di siang yang sendu itu, Allah Subhanahu Wata'alla  mempertemukan kami kembali secara langsung. Bagi Bu Peni, pertemuan ini datang tiba-tiba. Bagi saya, pertemuan ini adalah rencana yang telah lama saya simpan dalam doa. Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan langkah saya sampai di rumahnya, membuka jalan silaturahmi yang sempat terputus oleh jarak, waktu, dan kesibukan masing-masing.

Begitu kami saling berhadapan, hujan rintik-rintik di luar rumah seolah menjadi gambaran hati kami berdua. Tanpa banyak kata, air mata mengalir begitu saja. Tangis itu tidak bisa dicegah, seakan seluruh rindu, lelah, dan kerinduan pada masa lalu tumpah dalam satu waktu. Kami berpelukan erat, meneteskan air mata bersama. Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena hati kami saling memahami. Sudah sekian lama kami terpisahkan oleh waktu dan kesibukan, oleh tuntutan kehidupan yang sering kali membuat manusia lupa untuk sekadar berhenti dan menyapa.

Dalam pelukan itu, saya merasakan betapa hangatnya kasih sayang yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan melalui persahabatan. Saya sungguh bahagia, karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk berjumpa, melepas rindu, dan merasakan kembali ikatan yang pernah terjalin erat. Pertemuan ini mengingatkan saya bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan pertemuan hati yang disatukan oleh kehendak Allah Subhanahu Wata'alla .

Setelah air mata mereda, kami duduk berdampingan. Obrolan pun mengalir pelan namun dalam. Kami mengenang masa-masa mengajar bersama di SMP Triji, berbagi cerita tentang murid-murid, tentang perjuangan sebagai pendidik, dan tentang jalan hidup yang ternyata membawa kami ke arah yang berbeda. Dari cerita Bu Peni, saya mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga, khususnya tentang rezeki yang datang tanpa disangka-sangka dan tentang panggilan Allah Subhanahu Wata'alla kepada hamba-Nya.

Bu Peni bercerita bahwa rezeki tidak selalu berbentuk materi. Terkadang rezeki datang dalam wujud ketenangan hati, kesempatan bertemu orang baik, atau peristiwa yang membuka mata dan hati kita untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Ia meyakini bahwa setiap pertemuan, termasuk pertemuan kami siang ini, adalah bagian dari panggilan AllahSubhanahu Wata'alla. Allah Subhanahu Wata'alla memanggil hamba-Nya dengan cara yang lembut, melalui silaturahmi, melalui air mata, dan melalui percakapan yang menyejukkan jiwa.

Masya Allah, ilmu yang saya dapatkan hari ini terasa sangat mahal. Ilmu tersebut tidak bisa dibeli di pasar, tidak bisa ditukar dengan uang sebanyak apa pun. Ilmu itu adalah hikmah kehidupan, yang hanya bisa diperoleh melalui pengalaman, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah Subhanahu Wata'alla . Saya menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering kali mengajarkan kita lewat orang-orang baik yang Dia pertemukan dalam hidup kita, tanpa kita duga sebelumnya.

Pertemuan dengan Bu Peni menjadi pengingat bagi saya bahwa Allah Maha Mengatur segalanya. Apa yang kita anggap kebetulan, sejatinya adalah rencana Allah Subhanahu Wata'alla yang sudah tertulis dengan rapi. Hujan rintik-rintik siang, air mata yang mengalir, dan pelukan penuh haru adalah bagian dari skenario Ilahi yang mengandung pesan mendalam. Allah Subhanahu Wata'alla ingin mengajarkan tentang syukur, tentang sabar, dan tentang pentingnya menjaga tali silaturahmi.

Saya bersyukur Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan orang-orang baik, agar saya bisa mengambil hikmah dan menjadikannya petunjuk dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Semoga pertemuan ini menjadi amal kebaikan, memperpanjang silaturahmi, dan menjadi sebab turunnya keberkahan dalam hidup kami masing-masing.

Ya Allah, terima kasih atas pertemuan yang Engkau atur dengan indah. Jadikanlah setiap langkah kami bernilai ibadah, setiap silaturahmi mendatangkan rahmat, dan setiap air mata yang jatuh menjadi penghapus dosa serta penguat iman. Aamiin.

Cepu, 16 Januari 2026







Selasa, 13 Januari 2026

Esmega Bertaburan Bintang

Karya: Gutamining Saida

Hari Senin, tanggal 12 Januari 2026, menjadi pagi yang istimewa bagi keluarga besar Esmega. Mentari pagi bersinar lembut, seolah ikut menyambut langkah para siswa, guru, dan karyawan yang berbaris rapi di lapangan sekolah. Upacara bendera berjalan khidmat seperti biasa, penuh kedisiplinan dan rasa hormat kepada Sang Merah Putih. Pagi itu ada getar kebahagiaan yang berbeda, terselip di antara barisan dan tatapan mata para peserta upacara.

Setelah rangkaian upacara selesai, tibalah agenda yang dinanti yaitu penyerahan piala pemenang berbagai lomba. Satu per satu piala diangkat, diumumkan, dan diserahkan. Kilau logam piala memantulkan cahaya matahari, seakan menjadi simbol cahaya prestasi yang terus menyinari Esmega. Sekolah ini seolah tidak pernah kehabisan bintang. Hari demi hari, bintang-bintang itu terus menampakkan diri dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Prestasi Esmega tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah sendiri. Para siswa berani melangkah keluar dari zona nyaman, menantang diri untuk bersaing di tingkat yang lebih luas. Dari kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, nama Esmega terus disebut. Setiap piala bukanlah hasil keberuntungan semata, melainkan buah dari kerja keras, latihan tanpa lelah, dan doa yang tak pernah putus dipanjatkan.

Perjuangan itu tentu tidak mudah. Ada keringat yang menetes, waktu bermain yang dikorbankan, rasa lelah yang harus ditahan, bahkan kegagalan yang sempat menyapa. Semua itu menjadi proses pembentukan karakter. Dalam nilai-nilai religius, setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik dan kesungguhan adalah ibadah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan jerih payah hamba-Nya.

Wajah-wajah bahagia tampak jelas. Para siswa tersenyum bangga, bukan karena piala semata, tetapi karena usaha mereka dihargai. Guru-guru tersenyum penuh haru, menyaksikan anak didiknya tumbuh dan berani bermimpi besar. Karyawan sekolah pun ikut merasakan kebanggaan, karena mereka adalah bagian dari roda kecil yang ikut menggerakkan keberhasilan besar ini. Semua menyatu dalam rasa syukur yang mendalam.

Upacara pagi itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari piala dan piagam, tetapi dari akhlak, kejujuran, dan semangat untuk terus berbuat baik.Prestasi yang diraih Esmega hari itu bukanlah garis akhir. Justru sebaliknya, ia adalah titik awal perjalanan panjang di tahun 2026. Upacara Senin ini menjadi langkah pembuka, penanda bahwa perjuangan harus terus dilanjutkan. Dalam setiap langkah ke depan, dibutuhkan kerendahan hati agar tidak terlena, serta keikhlasan agar prestasi tidak melahirkan kesombongan.

Esmega telah menunjukkan bahwa syukur itu diwujudkan dengan terus berusaha menjadi lebih baik, bukan berpuas diri. Setiap prestasi adalah amanah yang harus dijaga dengan sikap dan perilaku yang terpuji. Harapan pun menggema di hati setiap warga sekolah. Semoga Esmega semakin berkibar, tidak hanya dikenal karena prestasinya, tetapi juga karena karakter religius dan budaya positif yang melekat. Semoga para siswa tumbuh menjadi generasi yang cerdas, beriman, dan berakhlak mulia. Semoga para guru senantiasa diberi kekuatan dan keikhlasan dalam mendidik, karena mendidik adalah ladang amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Angin berhembus sejuk, seakan membawa doa dan harapan yang melangit. Di lapangan sederhana itu, Esmega kembali meneguhkan langkahnya. Dengan izin Allah, dengan kerja keras dan doa yang menyertai, Esmega akan terus bersinar. Bintang-bintangnya akan terus bertambah, dan cahayanya akan menerangi masa depan yang lebih gemilang.

Cepu, 13 Januari 2026

 

Palu Gada

 


Karya: Gutamining Saida

Halaman sekolah Esmega mulai ramai oleh langkah kaki bapak dan ibu guru yang datang silih berganti. Udara masih segar, sisa embun seolah menyapa dengan lembut. Ada yang datang dengan wajah cerah, ada pula yang datang sambil membawa tas besar berisi buku dan map, tanda tanggung jawab yang selalu dipanggul setiap hari. Sebagian besar dari mereka berangkat menunaikan tugas dengan satu kebiasaan sederhana namun bermakna yaitu membawa bekal sarapan dari rumah.

Bekal itu beragam. Ada nasi dengan lauk sederhana buatan tangan sendiri, ada sayur bening, tempe goreng, sambal seadanya, dan tak jarang pula hanya roti atau pisang godok. Bekal-bekal itu bukan sekadar makanan, tetapi wujud cinta, doa, dan keikhlasan dari rumah yang mengiringi langkah pengabdian. Dalam kesederhanaan itu tersimpan niat ibadah, sebab bekerja dengan niat yang benar adalah bagian dari amal saleh.

Tidak semua guru sempat membawa bekal. Ada kalanya pagi datang terlalu cepat, atau urusan rumah belum sepenuhnya selesai. Bagi mereka yang tidak membawa sarapan, kantin Bang Midid menjadi tempat tujuan. Kantin sederhana yang penuh kehangatan itu seakan tidak pernah sepi dari keberkahan.

Bang Midid, dengan senyum khasnya, selalu siap melayani. Pilihan yang tersedia di kantinnya bukan main-main diantaranya adalah jajanan gorengan, nasi sayur, nasi pecel, minuman dingin hingga panas. Teh, kopi, es, hingga minuman hangat yang menenangkan tenggorokan. Yang membuat banyak orang terkesan bukan hanya ragam pilihannya, tetapi sikapnya yang tulus dalam melayani.

Di suatu pagi, ada guru yang memesan minuman jahe panas minuman yang tidak biasa dijual. Bang Midid tidak menolak, tidak pula mengeluh. Dengan ringan ia berkata, “Nggih, Bu. Ditunggu sebentar.” Padahal stok jahe tidak ada. Ia pun pergi ke warung sebentar, membeli jahe terlebih dahulu, lalu kembali meraciknya dengan penuh kesungguhan. Tidak lama kemudian, minuman jahe panas itu sudah terhidang, diantar langsung sampai ke meja pemesan. Hangatnya bukan hanya terasa di lidah, tetapi juga di hati.

Pelayanan seperti itulah yang membuat Bang Midid berkali-kali keluar masuk ruang guru. Setiap kali datang membawa pesanan, selalu ada guru lain yang tergoda. Awalnya hanya melihat, lalu mencium aroma, kemudian tergerak untuk memesan. Tak berselang lama, Bang Midid kembali lagi dengan pesanan baru. Cepat, ramah, harganya murah, dan rasanya enak. Semua terasa pas, tanpa berlebihan.

Suatu hari, terdengarlah komentar spontan dari salah satu guru, “Wah, ini namanya Palu Gada.” Ucapan itu langsung disambut tawa ringan. Saya yang mendengar hanya terdiam, mengeja ulang dalam hati, “Palu Gada… Palu Gada…”. Rasa penasaran pun muncul. Apa sebenarnya maksudnya?

Saya mencoba menebak-nebak sendiri, tetapi tetap tidak menemukan jawaban yang pasti. Akhirnya saya mendekat ke Bu Wiwik, sosok yang dikenal penuh cerita. “Apa an itu, Bu Wiwik?” tanya saya singkat.

Bu Wiwik langsung menertawakan saya, tawa yang penuh kehangatan dan kekeluargaan. Lalu beliau menjelaskan bahwa Palu Gada adalah singkatan dari kalimat kreatif: “Apa mau lu, gue ada.” Sebuah istilah sederhana. Artinya, apa pun yang dibutuhkan pelanggan, sebisa mungkin disediakan. Mendengar penjelasan itu, saya tersenyum terasa pas di telinga.

Agama Islam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Bang Midid mungkin tidak berdiri di mimbar, tidak menyampaikan ceramah, tetapi sikapnya adalah dakwah yang nyata. Kejujuran dalam berdagang, keikhlasan dalam melayani, kesungguhan dalam memenuhi kebutuhan orang lain semua itu adalah nilai-nilai agama yang hidup dalam keseharian. Ia bekerja bukan hanya mencari rezeki, tetapi juga menanam kebaikan.

Setiap saat Allah Subhanahu Wata'alla menambah perbendaharaan kata, istilah, ide, dan cerita. Semua itu menjadi pengingat bahwa hidup tidak pernah lepas dari pelajaran, asal kita mau membuka mata dan hati. Dari ruang guru, dari kantin sekolah, dari tawa ringan bersama rekan kerja semuanya bisa menjadi ladang amal dan sumber hikmah. Cerita ini saya abadikan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk direnungkan. Bahwa di balik rutinitas, Allah Subhanahu Wata'alla selalu menyelipkan keberkahan. Aamiin.

Cepu, 13 Januari 2026

Senin, 12 Januari 2026

Kerupuk Klenteng

Karya : Gutamining Saida 
Bicara soal kerupuk, memang seolah tidak pernah ada ujungnya. Dari pagi hingga malam, dari hidangan sederhana sampai sajian istimewa, kerupuk selalu menemukan tempatnya sendiri di hati masyarakat. Kerupuk bukan sekadar pelengkap, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya makan orang Indonesia. Bunyi “kriuk” saat digigit seakan memberi isyarat bahwa sebuah hidangan telah mencapai kesempurnaannya. Tanpa kerupuk, nasi terasa kurang lengkap, rujak terasa sepi, lontong kurang ramai, bakso seperti kehilangan sahabat setianya. Bahkan tanpa apa-apa pun, kerupuk tetap enak dinikmati, menemani obrolan santai atau sekadar mengganjal lapar.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita dan kebanggaan tersendiri tentang kerupuk. Begitu pula Bojonegoro, sebuah kabupaten yang dikenal dengan kesederhanaan warganya, kekayaan budaya, dan kuliner khas yang sarat makna. Di antara sekian banyak makanan yang tumbuh dan berkembang, ada satu kerupuk legendaris yang namanya terus hidup lintas generasi yaitu Kerupuk Klenteng Rasa Asli. Kerupuk ini bukan kerupuk biasa. Ia menyimpan sejarah panjang, rasa khas, serta kisah ketekunan yang patut diteladani.

Kerupuk Klenteng Rasa Asli pertama kali diproduksi sejak tahun 1928. Pada masa itu, usaha ini dirintis oleh Tan Tjian Liem, seorang perajin kerupuk yang tekun dan telaten. Di tengah keterbatasan zaman, ketika teknologi belum semaju sekarang, proses pembuatan kerupuk dilakukan secara tradisional. Bahan-bahan dipilih dengan cermat, adonan diolah dengan tangan, dan proses pengeringan memanfaatkan sinar matahari. Semua dilakukan dengan penuh kesabaran dan rasa cinta terhadap pekerjaan. Dari sanalah lahir kerupuk dengan cita rasa yang kaya, gurih, dan berbeda dari kerupuk kebanyakan.

Nama “kerupuk klenteng” tidak muncul begitu saja. Lokasi produksinya yang berada di sebelah timur klenteng menjadikan masyarakat mudah mengenali dan menyebutnya. Lambat laun, sebutan itu melekat dan menjadi identitas. Bagi warga Bojonegoro, menyebut kerupuk klenteng berarti merujuk pada kerupuk rasa asli yang legendaris, yang sudah menemani perjalanan hidup banyak orang, dari masa kanak-kanak hingga usia senja.
Seiring berjalannya waktu, usaha ini mengalami pergantian generasi. 

Pada tahun 1978, Kerupuk Klenteng Rasa Asli diteruskan oleh Tan Lan Nio. Di tangan generasi penerus, kerupuk ini tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Resep tidak banyak diubah, proses tetap dijaga, dan kualitas menjadi prioritas utama. Di tengah arus modernisasi dan persaingan industri makanan yang semakin ketat, keputusan untuk mempertahankan keaslian rasa ini bukanlah hal mudah. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.

Yang menarik, kerupuk ini tidak hanya terkenal karena rasanya, tetapi juga karena kemasannya. Pembelian kerupuk bisa dilakukan setengah kilogram atau satu kilogram. Bungkusnya pun berbeda dengan kerupuk pada umumnya. Jika kebanyakan kerupuk dibungkus plastik tipis dan polos, kerupuk klenteng justru dibungkus dengan plastik tebal menyerupai karung kecil. Bentuk ini memberi kesan khas, sederhana, namun kokoh. Seakan menyampaikan pesan bahwa isi di dalamnya adalah kerupuk yang “berisi” rasa dan sejarah.

Saat plastik dibuka, aroma kerupuk mentah yang khas langsung tercium. Setelah digoreng, kerupuk akan mengembang sempurna, renyah, dan menghadirkan rasa gurih yang tidak berlebihan. Rasanya kaya, tidak sekadar asin, tetapi memiliki kedalaman yang membuat orang ingin mengambil lagi dan lagi. Kerupuk ini cocok dimakan dengan nasi hangat, sambal, sayur lodeh, atau bahkan hanya sebagai teman minum teh di sore hari.

Walaupun kini banyak pabrik kerupuk bermunculan, dengan berbagai varian rasa, warna, dan bentuk, Kerupuk Klenteng Rasa Asli tetap bertahan. Ia tidak tergoda untuk mengikuti tren berlebihan. Tidak perlu pewarna mencolok atau rasa buatan yang kuat. Kerupuk ini percaya diri dengan jati dirinya. Justru di situlah kekuatannya: rasa yang konsisten dan kepercayaan pelanggan yang terjaga puluhan tahun.

Bagi para perantau asal Bojonegoro, kerupuk klenteng sering menjadi buah tangan wajib. Setiap pulang kampung, kerupuk ini dibawa sebagai oleh-oleh untuk keluarga, teman, atau tetangga. Bukan hanya membawa rasa, tetapi juga kenangan. Setiap gigitan seolah membawa kembali ingatan masa kecil, suasana dapur rumah, atau momen makan bersama keluarga besar.

Kerupuk Klenteng Rasa Asli bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah saksi sejarah, simbol ketekunan, dan bukti bahwa kualitas dan kejujuran dalam berkarya akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Dari tahun 1928 hingga hari ini, kerupuk ini tetap berdiri, renyah dalam rasa, kuat dalam identitas, dan kaya dalam cerita. Di tengah perubahan zaman, ia mengajarkan bahwa menjaga warisan bukan berarti menolak kemajuan, melainkan merawat nilai agar tetap hidup dan bermakna.
Cepu, 12 Januari 2026

Minggu, 11 Januari 2026

Bojonegoro



Karya : Gutamining Saida 
Bojonegoro adalah kota kelahiran saya. Sebuah nama yang tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan, meski raga sudah lama berpindah tempat. Saya lahir di pelosok desa, jauh dari hiruk-pikuk kota kabupaten. Desa yang sunyi, jalan masih sederhana, dan kehidupan berjalan perlahan mengikuti irama alam. Ketika, pergi ke kota Bojonegoro bukan perkara sepele. Ada jarak, biaya, persiapan. Setiap perjalanan ke kota kabupaten memiliki makna tersendiri.

Ketika anak saya sekolah di Al Fatimah Bojonegoro, minimal satu kali pasti ke kota Bojonegoro. Terkadang lebih, jika ada kepentingan lain. Penyebabnya adalah mengurus administrasi sekolah, membeli perlengkapan, atau sekadar menemui sang buah hati. Perjalanan itu selalu saya nanti. Kota terasa megah di mata anak desa. Gedung-gedung, toko-toko, kendaraan yang lalu lalang, semuanya tampak luar biasa. Saya sering berpikir, betapa luasnya dunia di luar desa kecil saya.

Waktu terus berjalan tidak terasa, saya menikah. Takdir membawa saya berpindah tempat tinggal sekaligus sebagai tempat mengabdi. Kini saya menetap di Kabupaten Blora, tepatnya Kecamatan Cepu. Di sinilah saya menjalani hari-hari, mengajar, mengabdi, dan membangun cerita perjalanan hidup. Cepu menjadi rumah kedua, tempat saya belajar arti tanggung jawab, kesabaran, dan pengabdian.

Lalu bagaimana dengan Bojonegoro sekarang? Jawabannya sederhana,sekitar tiga tahun berlalu saya hampir tidak pernah ke Bojonegoro. Bukan karena lupa, bukan pula karena tidak cinta. Melainkan karena tidak ada kepentingan. Segala urusan bisa diselesaikan di tempat tinggal sekarang. Kadang muncul keinginan untuk sekadar berkunjung, bernostalgia, menghirup kembali udara kota kabupaten. Ketika saya bertanya pada diri sendiri, “Apa tujuan ke sana?” jawabannya kosong. Akhirnya niat itu pun menguap. Tidak ada tujuan, tidak ada motivasi.

Hingga Minggu pagi tanggal 11 Januari 2026, Allah Subhanahu Wata'alla seolah memanggil kembali ingatan saya. Hari ini saya meluncur ke Bojonegoro. Entah mengapa langkah terasa ringan, meski hati sedikit berdebar. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Saya ada kepentingan menemui ibu tercinta.

Sesampainya di Bojonegoro, saya terdiam. Banyak sekali perubahan. Jalan raya kini lebar, mulus dan rapi. Aspal hitam terbentang mulus, berbeda jauh dengan jalan sempit yang dulu sering saya lewati. Bangunan-bangunan berdiri megah, modern, dan tertata. Lalu lintas ramai, kendaraan datang silih berganti. Di pinggir jalan raya, taman-taman tertata indah, hijau, dan bersih. Kota ini hidup, bergerak, dan terus bertumbuh.

Dalam keheningan, saya merenung. Allah Maha Kuasa Tidak ada yang benar-benar tetap di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. Kota berubah, manusia berubah, bahkan perasaan pun berubah. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa dunia adalah tempat ujian, bukan tempat menetap. Apa yang hari ini megah, esok bisa saja pudar. Apa yang hari ini sederhana, kelak bisa menjadi luar biasa.

Saya sadar, selama ini terlalu sibuk dengan rutinitas di tempat pengabdian, hingga lupa menengok ibu tercinta. Islam mengajarkan pentingnya mengingat dan menghormati serta berbakti orang tua, dan bersyukur atas perjalanan hidup. Bukan untuk terikat pada masa lalu, tetapi untuk mengambil hikmah darinya.

Jika kota bisa berkembang, mengapa diri saya tidak? Jika jalan-jalan diperbaiki agar lebih nyaman, mengapa jalan hati tidak dibersihkan dari iri, sombong, dan lalai? Jika taman-taman dirawat agar indah, mengapa iman tidak dirawat agar tetap hidup?

Perjalanan singkat ke Bojonegoro hari ini mengajarkan saya tentang tujuan. Ternyata, tidak semua perjalanan harus diawali kepentingan duniawi. Ada perjalanan yang Allah rancang hanya untuk mengingatkan. Mengingatkan bahwa kita berasal dari orang tua, sudah sejauh kita berbakti, sejauh apa melangkah, dan ke mana seharusnya kembali.

Saya bersyukur pernah lahir di pelosok desa. Dari sanalah saya belajar kesederhanaan. Saya bersyukur pernah mengenal Bojonegoro di masa lalu, agar saya bisa menghargai Bojonegoro hari ini. Saya bersyukur kini mengabdi di Cepu, karena di sanalah Allah menitipkan amanah .

Semua tempat hanyalah persinggahan. Desa, kota, kabupaten, semuanya akan kita tinggalkan. Yang akan kita bawa pulang kepada Allah hanyalah amal dan niat. Semoga setiap langkah, termasuk langkah  ke kota Bojonegoro, menjadi jalan kebaikan, syukur dan jalan dzikir. Karena sejauh apa pun kita pergi, sejatinya kita sedang berjalan menuju Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kesehatan semakin baik.
Cepu, 11 Januari 2026

Foto Kenangan



Karya: Gutamining Saida

Zaman sekarang, hampir semua hal ingin diabadikan. Makanan baru datang ke meja, belum sempat disantap, sudah lebih dulu difoto. Minuman disajikan cantik, tangan reflek mengangkat gawai. Apalagi orangnya dari gaya paling sederhana sampai pose paling bergaya, dari wajah polos bangun tidur hingga riasan lengkap, semuanya layak masuk galeri. Di rumah, teras, sekolah, tempat wisata, bahkan di jalanan pun tak luput dari bidikan kamera. Cucu-cucu saya yang masih kecil pun sudah pandai bergaya. Senyum mereka seolah otomatis muncul begitu melihat kamera. Kadang saya tersenyum sendiri, kadang terdiam, tenggelam dalam kenangan masa lalu yang jauh berbeda.

Saya berasal dari zaman ketika foto bukanlah hal yang mudah. Alat potret masih jarang dimiliki orang. Kamera bukan benda biasa di rumah, melainkan barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang berada. Jika ingin memiliki foto kenangan, kami harus pergi ke studio foto yang letaknya di kota. Jaraknya tidak dekat, ongkosnya tidak murah, dan persiapannya pun tidak sederhana. Berfoto bukan perkara iseng atau spontan, melainkan sebuah peristiwa yang direncanakan.

Saya masih ingat betul, sebelum ke studio foto, ibu akan menyiapkan pakaian terbaik. Biasanya baju baru yang dibeli setahun sekali, menjelang hari raya. Baju itu disimpan rapi, bahkan kadang tidak boleh dipakai sebelum hari yang ditentukan. Ketika akhirnya dikenakan untuk foto, rasanya istimewa sekali. Hati berdebar, tangan dingin, dan senyum terasa kaku. Di studio, fotografer akan mengatur posisi, menyuruh kami diam, menatap lurus, dan tidak banyak bergerak. Sekali jepret, selesai. Tidak ada istilah mengulang berkali-kali. Tidak ada memilih foto terbaik. Yang ada hanyalah pasrah dan doa agar hasilnya bagus.

Setelah itu, kami harus menunggu. Seminggu, kadang lebih. Menunggu dengan harap-harap cemas. Saat foto akhirnya diambil, rasanya seperti menerima hadiah besar. Foto itu kemudian disimpan rapi, dimasukkan ke album, atau dipajang di ruang tamu. Foto menjadi saksi waktu, bukan sekadar koleksi, melainkan kenangan yang dijaga.

Kini, semuanya berubah. Foto bisa diambil kapan saja, dihapus kapan saja, dan disimpan ribuan jumlahnya. Kadang saya bertanya dalam hati, apakah kenangan masih punya makna yang sama? Ataukah ia justru menjadi sesuatu yang mudah dilupakan karena terlalu banyak?

Sebagai orang yang semakin menua, saya melihat perubahan ini dari sudut pandang iman. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa setiap nikmat adalah amanah. Waktu, penglihatan, usia, bahkan momen-momen kecil dalam hidup, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan. Maka saya merenung, di tengah mudahnya memotret dan memamerkan, apakah kita masih menyadari kehadiran Allah Subhanahu Wata'alladalam setiap momen?

Saya tidak menolak kemajuan. Saya bersyukur atas teknologi yang memudahkan. Dengan foto, kita bisa menyimpan wajah orang-orang tercinta, mengenang mereka yang telah tiada, dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga jauh. Saya juga belajar untuk mengingatkan diri sendiri dan cucu-cucuku bahwa hidup bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi untuk dijalani dengan penuh kesadaran.

Ada kalanya saya melihat cucu-cucu sibuk bergaya. Saya ceritakan bagaimana dulu satu foto bisa menjadi kenangan seumur hidup. Saya ajarkan mereka mengucap hamdalah sebelum makan, bukan hanya memotret makanannya. Saya ajarkan mereka bahwa senyum yang tulus kepada sesama lebih indah daripada senyum yang dibuat demi kamera. Saya ingin mereka tumbuh sebagai generasi yang bukan hanya pandai bergaya, tetapi juga pandai bersyukur.

Dalam doa-doa malam saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'allaagar kami tidak lalai. Agar mata yang sering memandang layar tetap basah oleh dzikir. Agar tangan yang sibuk memegang gawai tetap ringan untuk bersedekah. Agar setiap foto yang diambil tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa semua keindahan berasal dari-Nya.

Zaman boleh berubah, alat boleh canggih, gaya hidup boleh bergeser. Namun nilai iman seharusnya tetap menjadi penuntun. Foto hanyalah sarana, bukan tujuan. Kenangan sejati bukan hanya yang tersimpan di galeri ponsel, tetapi yang terukir di hati tentang kesederhanaan, kesabaran, dan rasa syukur.

Saya bersyukur pernah hidup di dua zaman yaitu zaman serba terbatas dan zaman serba mudah. Dari keduanya, saya belajar satu hal penting bahwa yang paling berharga bukan seberapa banyak momen yang kita abadikan, tetapi seberapa banyak momen yang kita isi dengan kebaikan dan keikhlasan. Karena kelak, bukan foto-foto itulah yang akan ditanya, melainkan amal perbuatan kita di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui.

Cepu, 11 Januari 2026

Peran Anak Sulung



Karya:  Guytamining Saida

Saya adalah anak pertama di keluarga besar kami. Dari empat bersaudara, hanya saya yang perempuan. Sejak kecil, saya sering bercanda dan kadang diam-diam merasa bahwa saya adalah yang paling cantik di antara adik-adik. Bukan semata karena rupa, tetapi karena saya belajar lebih dulu tentang tanggung jawab, tentang mengalah, dan tentang menahan keinginan. Menjadi anak pertama ternyata bukan hanya soal urutan lahir, tetapi juga harus bisa menerima peran yang tidak selalu ringan.

Ayah dan ibu membesarkan kami dengan penuh kesederhanaan. Sebagai anak sulung, saya sering dijadikan contoh. Jika saya salah, maka kesalahan itu seolah menjadi pelajaran bagi adik-adik. Jika saya benar, maka kebenaran itu dijadikan standar. Adik-adik saya langkahnya lebih gesit, lebih berani, dan lebih cepat menentukan pilihan karena mereka laki-laki.

Seiring waktu berjalan, kami menapaki jalan hidup masing-masing. Adik-adik saya terlihat lebih tegas  dalam menyikapi kehidupan. Mereka mudah bergerak, cepat datang jika disuruh berkumpul, menjengguk ibu, dan sigap ketika dibutuhkan. Sementara saya, meski niat di hati selalu ingin segera hadir, sering kali terhalang oleh keadaan. Bukan karena tidak mau, melainkan karena peran hidup saya telah bertambah.

Saya kini berstatus sebagai seorang istri. Sebuah amanah besar yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada saya melalui pernikahan. Dalam status ini, saya belajar bahwa hidup tidak lagi tentang “saya” semata, tetapi tentang “kami”. Setiap langkah yang akan saya ambil, setiap keputusan yang akan saya buat, ada prosedur yang harus saya lalui yaitu meminta izin dan atas ridho suami.

Tidak jarang hati saya diuji. Ketika keluarga berkumpul, atau ketika ada kebutuhan mendesak, saya tidak selalu bisa datang secepat adik-adik saya. Ada rasa tidak enak, ada rasa bersalah, bahkan ada bisikan kecil di hati yang bertanya, “Apakah saya anak yang kurang berbakti?” Saya mencoba menenangkan diri dengan keyakinan bahwa agama islam telah mengatur semuanya dengan sangat sempurna.

Islam mengajarkan bahwa setelah seorang perempuan menikah, maka surga dan ridhonya terletak pada keridhoan suami. Bukan berarti cinta kepada orang tua berkurang, melainkan bentuk pengabdian itu kini berjalan beriringan dengan tanggung jawab baru. Saya tetap seorang anak, tetapi juga seorang istri. Dua peran yang sama-sama mulia, namun harus dijalani dengan bijak.

Saya bersyukur memiliki suami yang mau diajak berdiskusi. Saya tidak sekadar meminta izin, tetapi juga menyampaikan isi hati. Saya yakin, ketika niat kita baik ingin berbakti kepada orang tua dan menjaga silaturahmi Allah Subhanahu Wata'alla akan membuka jalan. Saya meyakini bahwa ridho Allah Subhanahu Wata'alla terletak pada ridho suami, dan saya tidak ingin melangkah tanpa keberkahan itu.

Menjadi perempuan, menjadi anak pertama, dan menjadi istri adalah tiga peran besar yang Allah Subhanahu Wata'alla  titipkan kepada saya. Tidak mudah menjalani semuanya dengan sempurna. Namun saya percaya, selama saya berusaha berjalan sesuai tuntunan agama, menjaga adab, dan mengutamakan ridho AllahSubhanahu Wata'alla, maka setiap langkah yang pelan pun tetap bernilai ibadah.

Saya memilih berjalan sesuai kapasitas dan peran yang Allah Subhanahu Wata'alla  tetapkan untuk saya. Saya yakin, bukan siapa yang paling cepat datang yang paling mulia, tetapi siapa yang paling ikhlas menjalani perannya. Saya selalu memohon  semoga Allah Subhanahu Wata'alla  meridhoi saya sebagai anak, sebagai kakak, dan sebagai istri. Ketika ridho Allah Subhanahu Wata'alla dan ridho suami telah saya dapatkan, maka di situlah ketenangan hati saya bersemayam.

Cepu, 11 Januari 2026

Sabtu, 10 Januari 2026

Sapaan Baruku

 


Karya: Gutamining Saida

Tiba-tiba saya mendapat sapaan baru. Sebuah panggilan yang lahir tanpa rencana, tanpa musyawarah resmi, dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Beberapa guru nyeletuk, saling melempar ide, lalu tertawa kecil. Entah awalnya bagaimana dan dari siapa, saya kurang begitu memahami. Saat itu pikiran saya mempersiapan mengajar materi dengan tema baru di awal semester. Semester baru selalu menghadirkan harapan, sekaligus tantangan yang tidak ringan.

Kami berada di ruang guru. Ruangan yang menjadi saksi banyak cerita diantaranya diskusi serius, keluh kesah, tawa, doa, bahkan kelelahan yang kadang tak terucap. Ruang guru ramai membahas rolling kelas. Sebuah kebijakan yang mau tidak mau harus diterima dan dijalani bersama. Ada siswa yang bahagia, ada yang sedih, ada yang terdiam menahan air mata. Semua itu menjadi tanggung jawab kami para guru untuk menenangkan, menguatkan, dan mengarahkan.

Di tengah obrolan yang bersahutan itu, terdengar celetukan-celetukan ringan. Nama-nama baru bermunculan. Ada yang disapa Burik, Buly, Budel, dan masih banyak lagi. Sapaan itu terdengar sederhana, bahkan terkesan main-main. Saya percaya, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar terjadi secara kebetulan. Semua ada dalam kehendak dan izin Allah Subhanahu Wata'alla.

Ketika akhirnya saya mendengar sapaan yang diarahkan kepada diri saya, “BUSA”, saya terdiam sejenak. Ada rasa kaget, heran, sekaligus senyum yang tertahan.Ssaya bertanya pada diri sendiri, mengapa Busa? Saya segera teringat satu hal penting yang sering saya yakini bahwa sebuah nama adalah doa dan harapan. Setiap kata yang terucap, apalagi yang melekat sebagai panggilan, sesungguhnya mengandung makna yang bisa menjadi pengingat.

Saat itu saya memilih untuk tidak menolak, tidak pula menertawakan secara berlebihan. Saya justru mengajak diri saya untuk merenung. Jika Allah Subhanahu Wata'alla. mengizinkan saya dipanggil “BUSA”, pasti ada hikmah yang bisa saya petik. Busa mungkin terlihat sepele, ringan, dan mudah hilang. Namun di balik kesederhanaannya, busa memiliki peran yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa busa, peralatan makan tidak akan bersih. Tanpa busa, noda membandel sulit dihilangkan. Busa membantu membersihkan, menjernihkan, dan mengangkat kotoran yang tak kasatmata. Dari situ, hati saya tersentuh. Saya pun berdoa dalam diam, Ya Allah, jika aku diibaratkan sebagai busa, jadikanlah aku busa yang bermanfaat.

Saya berharap keberadaan saya di lingkungan Esmega tidak hanya sekadar hadir secara fisik, tetapi juga membawa kebersihan hati, pikiran, dan suasana. Membersihkan prasangka, meredam emosi, dan membantu mengangkat beban sesama, baik guru maupun siswa. Saya ingin menjadi pribadi yang ringan dalam membantu, tidak memberatkan, tidak merasa paling penting, namun tetap memberi dampak.

Busa juga mengingatkan saya pada ayat Al-Qur’an tentang perumpamaan kebaikan dan keburukan. Allah Subhanahu Wata'alla.menggambarkan bahwa sesuatu yang tampak mengapung dan berbuih akan hilang, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi. Maka dari itu, saya tidak ingin menjadi busa yang hanya berbuih tanpa makna. Saya ingin busa yang hadir karena ada proses, ada sabun, ada air, ada usaha sehingga manfaatnya nyata.

Sebagai seorang guru, tugas saya bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, saya ingin mengajak pada kebaikan, menularkan “virus kebaikan” dengan cara sederhana: senyum yang tulus, kata yang menenangkan, dan sikap yang menumbuhkan. Busa tidak bekerja sendiri. Ia muncul karena ada air yang mengalir dan sabun yang digerakkan. Begitu pula saya, saya sadar tidak bisa berbuat apa-apa tanpa pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla.dan tanpa kebersamaan dengan rekan-rekan guru dan karyawan Esmega serta Bapak Kepala Sekolah.

Bersyukur atas kebersamaan, canda yang lahir di ruang guru, dan  sapaan yang tanpa sadar mengajarkan makna mendalam. Saya percaya, selama niat dijaga dan hati diluruskan, Allah Subhanahu Wata'alla.akan menjadikan sekecil apa pun peran kita bernilai ibadah.

Semoga saya mampu menjadi “BUSA” yang membawa manfaat, membersihkan, menenangkan, dan mengajak pada kebaikan. Untuk Esmega, untuk para guru, untuk para karyawan untuk siswa-siswi, dan untuk diri saya sendiri khususnya. Semoga setiap langkah dalam dunia pendidikan ini selalu berada dalam ridha-Nya. Aamiin. Terimakasih Teman-teman.

Cepu, 10 Januari 2026

Tantangan Kecil

 


Karya: Gutamining Saida

Suasana kembali santai, saya sengaja membuka media sosial dan mengunggah sebuah foto. Foto sederhana kebersamaan keluarga besar Esmega. Foto itu diambil setelah makan siang bersama di Klotok, dalam rangka syukuran. Bukan sekadar dokumentasi, tetapi kenangan tentang rasa yaitu tawa, kebersamaan, dan nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan.

Di bawah foto tersebut, saya menuliskan kalimat singkat, nyaris seperti permainan kecil yaitu
“Ayo carikan diriku.”
Sebuah tantangan ringan, tanpa maksud apa pun selain ingin berbagi keceriaan.

Di luar dugaan, beberapa detik kemudian, notifikasi mulai berdatangan. Satu pesan masuk, disusul pesan lain, lalu semakin banyak. Hati saya yang semula tenang, perlahan terasa hangat. Saya membaca satu per satu komentar yang muncul. Ada rasa syukur yang tiba-tiba membuncah, karena ternyata foto sederhana itu mampu mengetuk banyak hati.

Yang mengomentari bukan hanya rekan kerja yang masih satu lingkungan. Ada siswa-siswi yang sudah tidak saya ajar lagi. Ada tetangga. Bahkan ada teman semasa kecil yang sudah lama tidak berjumpa. Mereka semua hadir lewat kata-kata sederhana di layar ponsel. Saat itu saya tersadar, bahwa silaturahmi tidak selalu harus bertatap muka.  Allah Subhanahu Wata'alla memberikan jalan lain, lewat media sosial, untuk menjaga rasa peduli dan saling mengingatkan.

Pesan-pesan chats yang masuk diantaranya tertulis,

“Tau dong. Di belakang guru yang baju warna ungu,” tulis Bu Rini.
“Belakang Bu Sus,” sahut yang lain.
“Depan Pak Bambang,” jawab Bu Isna.
“Saya tahu, Bu,” kata Novia singkat namun penuh keyakinan.
“Acara apa, Umi?” tanya Bu Parno.

Masih banyak lagi pesan yang masuk, beragam gaya dan nada, namun satu makna yang sama bahwa  mereka masih mengingat saya. Mereka masih peduli. Mereka meluangkan waktu untuk sekadar menjawab tantangan kecil yang saya buat.

Saya terdiam sejenak. Dalam hati, saya berucap, “Ya Allah, ternyata Engkau masih menitipkan namaku di ingatan banyak orang.” Sebuah nikmat yang sering kali luput disadari. Bukankah salah satu bentuk rezeki yang besar adalah ketika kita masih diingat dengan baik oleh orang lain?

Saya sadar, waktu telah membawa kami ke jalan masing-masing. Ada yang sudah tidak satu tempat kerja. Ada siswa yang telah naik jenjang, bahkan mungkin sudah lupa pada sebagian pelajaran yang pernah saya sampaikan. Perhatian kecil itu menjadi bukti bahwa hubungan manusia tidak selalu terputus oleh jarak dan waktu. Jika niatnya baik, Allah Subhanahu Wata'alla yang akan menjaga benangnya.

Rasa bahagia perlahan hadir. Bukan bahagia yang meledak-ledak, melainkan bahagia yang tenang. Bahagia karena merasa tidak sendiri. Bahagia karena masih dianggap ada. Bahagia karena kebaikan kecil yang pernah ditanam, rupanya tumbuh menjadi ingatan yang hangat di hati orang lain.

Saya merenung. Mungkin selama ini saya mengira bahwa pengaruh seorang guru hanya berhenti di ruang kelas. Ternyata tidak. Kadang pengaruh itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu  sapaan, komentar, atau sekadar keinginan untuk menjawab sebuah tantangan kecil. Semua itu adalah anugerah dari Allah Subhanahu Wata'alla, bukan karena kehebatan diri, melainkan karena izin-Nya.

Dalam keheningan sore, saya kembali bersyukur. Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kebahagiaan lewat cara yang tidak saya rencanakan. Saat hati berharap, Allah Subhanahu Wata'alla mengirimkannya lewat banyak tangan dan banyak kata. Tidak megah, tidak besar, tetapi cukup untuk menguatkan.

Saya teringat satu doa: “Ya Allah, jadikanlah aku pribadi yang kehadiranku dirindukan dan ketiadaannya dicari.” Dan hari itu, lewat media sosial, saya merasakan sedikit dari jawaban doa tersebut. Bukan untuk berbangga, tetapi untuk semakin rendah hati.

Saya pun belajar satu hal bahwa bahagia  hadir lewat komentar singkat, lewat sapaan lama yang muncul kembali, lewat perhatian yang tak disangka-sangka. Semua itu adalah tanda kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali datang diam-diam.

Saya menutup ponsel dengan senyum kecil. Hati terasa lebih ringan. Rasa bahagia yang saya harapkan, ternyata Allah Subhanahu Wata'alla kabulkan dengan cara-Nya sendiri. Saya mengucap syukur, semoga perhatian itu menjadi pengingat agar saya tetap menjaga niat, tetap berbuat baik, dan tetap menyambung silaturahmi, baik secara nyata maupun lewat ruang maya. Ketika manusia saling mengingat dalam kebaikan, di situlah Allah Subhanahu Wata'alla sedang membuka hati kita.

Cepu, 10 Januari 2026


Bahagia Sedih Tiada Sekat

 


Karya: Gutamining Saida

Sabtu siang itu terasa berbeda. Matahari bersinar terang, seolah ikut menyambut kebersamaan keluarga besar Esmega yang berkumpul dalam satu meja, satu ruang, satu rasa. Kami menghadiri acara makan siang bersama dalam rangka syukuran enam rekan baru yang resmi menyandang status PPPK. Sebuah nikmat yang patut dirayakan, sebuah pencapaian yang lahir dari doa panjang, kesabaran, dan perjuangan yang tak selalu mudah.

Saya duduk di kursi meja bertanda huruf “I”, bersama beberapa teman. Dari luar, saya tampak seperti yang lain: tersenyum, menyantap hidangan, ikut larut dalam obrolan ringan. Namun sesungguhnya, hanya raga saya yang hadir sepenuhnya di sana. Hati dan pikiran saya melayang jauh, menempuh jarak batin menuju Bojonegoro. Entah mengapa, hari itu rasa di dada begitu penuh, seakan Allah sedang menumpahkan berbagai warna takdir dalam satu waktu.

Beberapa kali tangan saya meraih ponsel. Bukan untuk sekadar berselancar, tetapi untuk membuka pesan yang membuat dada saya bergetar. Hingga akhirnya, Bu Wiwik menegur dengan suara lembut namun tegas, penuh kepedulian.

“Hayoo… makan tidak boleh sambil HP-an,” ujar beliau sambil tersenyum.

Saya hanya mengangguk pelan. Senyum saya berusaha bertahan, sementara hati saya berjuang menahan air mata agar tidak jatuh. Bu Wiwik memang sosok yang penuh perhatian. Satu per satu yang duduk di meja “I” tak luput dari pengamatannya. Teguran beliau bukan sekadar soal etika makan, tetapi wujud kasih sayang agar kami benar-benar hadir di momen kebersamaan itu.

“Ikan Bu Lala kok tidak dimakan?” tanya Bu Wiwik lagi, dengan nada heran namun penuh empati.

“Bu Lala ingat suaminya,” jawab Bu Indri singkat.

"Nasinya dihabiskan."ujar bu Wiwik

"Iya siap, biar keberkahan tidak hilang ya."saut bu Yanti.

"Ayo, kalau makan jangan ngomong terus."sela saya.

Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Saya semakin menyadari, bahwa di meja yang sama, dalam suasana yang sama, setiap orang membawa cerita hidupnya masing-masing. Ada yang sedang merayakan kebahagiaan, ada yang menyimpan luka, ada pula yang belajar ikhlas atas kehilangan. Benarlah firman Allah Subhanahu Wata'alla, bahwa hidup ini adalah percampuran antara ujian dan nikmat. Keduanya datang silih berganti, bahkan sering kali bersamaan.

Saya pun mengalaminya hari itu. Senang dan sedih tanpa sekat. Bahagia karena bisa berkumpul, bersyukur karena rekan-rekan mendapatkan amanah baru sebagai PPPK, namun di saat yang sama hati saya digelayuti rasa sedih mendalam. Kabar tentang ibu datang di saat yang tak terduga. Di tengah riuh tawa dan suara sendok beradu dengan piring, Allah Subhanahu Wata'alla menyisipkan ujian kecil namun terasa berat di dada.

Saya terdiam sejenak, menundukkan kepala. Dalam hati saya berbisik, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak mampu aku ucapkan.” Saya teringat bahwa setiap takdir, baik yang manis maupun pahit, tidak pernah hadir tanpa izin-Nya. Bahkan air mata pun adalah bahasa doa yang paling jujur.

Makanan di hadapan saya terasa tetap nikmat, namun ada rasa haru yang menyertainya. Saya belajar bahwa bersyukur bukan berarti meniadakan kesedihan. Bersyukur adalah menerima bahwa Allah Subhanahu Wata'alla memberi nikmat di satu sisi, dan menguji di sisi lain. Keduanya sama-sama tanda cinta-Nya. Bukankah Rasulullah mengajarkan, bahwa urusan orang beriman itu sungguh menakjubkan? Ketika mendapat nikmat ia bersyukur, ketika ditimpa musibah ia bersabar, dan keduanya bernilai kebaikan.

Di meja “I” itu, saya belajar tentang empati, tentang kebersamaan yang tidak selalu harus riuh. Kadang, cukup dengan duduk bersama, saling menegur dengan lembut, saling memahami tanpa banyak tanya. Saya merasa dikuatkan oleh kehadiran mereka, meski mungkin mereka tak sepenuhnya tahu isi hati saya.

Acara makan siang itu pun perlahan usai. Pelajaran hidup yang saya petik tidak berhenti di sana. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah dua sahabat perjalanan iman. Keduanya mengingatkan kita untuk selalu kembali pada-Nya. Bahwa di tengah tawa, jangan lupa berdoa. Di tengah air mata, jangan lupa berharap.

Saya pulang dengan hati yang lebih lapang. Masih ada sedih, tentu. Ada pula rasa syukur yang tumbuh lebih dalam. Saya bersyukur atas kebersamaan, atas perhatian Bu Wiwik, atas kejujuran rasa Bu Lala, dan atas pengingat halus dari Allah Subhanahu Wata'alla bahwa hidup ini bukan tentang memilih bahagia atau sedih, melainkan tentang tetap beriman di keduanya. Allah Subhanahu Watalla selalu hadir, bahkan di antara suapan nasi dan air mata yang hampir jatuh.

Cepu, 10 Januari 2026

Rabu, 07 Januari 2026

Kembar Tapi Beda


Karya: Gutamining Saida
Saat saya melangkahkan kaki masuk ke kelas 7C, suasana pagi itu terasa berbeda. Bukan hiruk-pikuk riang seperti biasanya, melainkan hening yang menyimpan banyak rasa. Saya berdiri sejenak di ambang pintu, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kelas. Satu per satu wajah siswa-siswi saya amati. Ada yang sudah terasa akrab, ada pula yang masih tampak asing, seolah membawa cerita sendiri-sendiri dari kelas sebelumnya.

Di dekat pintu, perhatian saya tertuju pada dua siswi yang duduk berdampingan. Mereka duduk rapat, seakan ingin saling menguatkan. Yang pertama adalah Natasya. Saya mengenalnya sebagai siswa yang sebelumnya tergabung di kelas 7F dan 7G sebelum akhirnya masuk ke 7C setelah proses pengacakan kelas. Di sampingnya duduk Nuraini dan Nur. Dua pasang anak ini bukanlah kembar secara biologis, namun memiliki kesamaan yang sering membuat orang tersenyum yaitu kembar nama. Sebuah kebetulan yang indah, pagi ini belum sepenuhnya mampu menghadirkan senyum di wajah mereka.

Raut muka keempatnya tampak sendu. Mata mereka menyimpan kegamangan, seperti sedang bertanya dalam hati, “Mengapa harus berpisah?” Saya tahu betul, bagi anak-anak seusia mereka, perpisahan dengan teman yang sudah akrab bukan perkara sepele. Teman bukan sekadar kawan belajar, melainkan tempat berbagi cerita, tawa, dan rasa aman. Ketika lingkungan berubah secara tiba-tiba, hati pun perlu waktu untuk menata ulang.

Saya mendekat perlahan, lalu bertanya, “Kenapa kalian tidak semangat hari ini?”
Mereka saling berpandangan. Tidak ada jawaban panjang. Hanya senyum tipis dan anggukan kecil. Dari sorot mata mereka, saya membaca satu kata yang sama yaitu belajar adaptasi.

Saya sadar, perubahan ini bukan hanya soal administrasi kelas, melainkan juga ujian batin bagi anak-anak. Di sinilah saya kembali diingatkan bahwa setiap peristiwa, sekecil apa pun, selalu berada dalam rencana Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada satu pun yang kebetulan. Pengacakan kelas, pertemuan dengan teman baru, bahkan rasa sedih yang menyelinap di pagi hari, semuanya adalah bagian dari skenario-Nya untuk mendewasakan jiwa.

Saya lalu mengajak mereka untuk sejenak menundukkan kepala. “Anak-anak, mari kita berdoa,” ujar saya. Suasana kelas mendadak lebih tenang. Dalam doa, saya memohon agar Allah Subhanahu Wata'alla melembutkan hati mereka, menenangkan jiwa yang gundah, dan menanamkan rasa ikhlas atas ketetapan-Nya. Saya berdoa agar mereka diberi kemampuan untuk beradaptasi, sebagaimana Rasulullah mengajarkan umatnya untuk selalu siap menghadapi perubahan dengan sabar dan tawakal.

Saya sampaikan kepada mereka bahwa hidup ini adalah madrasah panjang. Allah Subhanahu Wata'alla seringkali memindahkan kita dari satu “kelas” ke kelas yang lain bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menguatkan. Jika hari ini mereka dipertemukan dengan teman-teman baru, itu artinya Allah Subhanahu Wata'alla sedang membuka pintu rezeki berupa pengalaman, persahabatan, dan pelajaran hidup yang lebih luas.

“Nak,” kata saya pelan, “boleh jadi hari ini terasa berat karena kalian harus berpisah dengan teman lama. Tapi percayalah, Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah mengambil sesuatu kecuali Dia sudah menyiapkan pengganti yang lebih baik, atau pelajaran yang lebih bermakna.”

Saya melihat Natasya mulai mengusap matanya. Nuraini dan Nur mengangguk perlahan. Ada cahaya kecil yang mulai tumbuh di wajah mereka, meski belum sepenuhnya menghapus kesedihan. Saya tahu, proses adaptasi tidak bisa instan. Bahkan orang dewasa pun sering kali memerlukan waktu untuk menerima perubahan.

Saya kemudian mengajak seluruh kelas untuk saling mengenal. Saya tekankan bahwa kelas 7C bukan sekadar kumpulan siswa yang dipertemukan secara acak, melainkan keluarga baru yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan untuk saling belajar, menguatkan, dan menumbuhkan prestasi. Saya mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kelebihan masing-masing, dan tugas kita adalah saling melengkapi, bukan saling menutup diri.

Di akhir jam pelajaran, saya kembali melihat ke arah mereka. Kini, meski senyum belum sepenuhnya merekah, ada keteguhan yang mulai tumbuh. Semoga doa-doa yang terucap pagi itu menjadi energi kebaikan. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menanamkan kesabaran dalam hati mereka, mengganti rasa sedih dengan semangat, dan menjadikan kelas 7C sebagai ladang amal, ladang prestasi, dan ladang tumbuhnya karakter yang kuat.

Saya percaya, suatu hari nanti, mereka akan mengenang momen ini bukan sebagai hari kesedihan, melainkan sebagai titik awal perjuangan. Awal dari proses pendewasaan, pembelajaran tentang ikhlas, dan keyakinan bahwa bersama Allah Subhanahu Wata'alla, setiap langkah adaptasi akan selalu bermuara pada kebaikan

Cepu, 7 Januari 2026

Selasa, 06 Januari 2026

Tahun Baru.

 


Karya: Gutamining Saida

Hari kedua masuk sekolah pada semester genap itu jatuh di hari Selasa. Pagi hingga siang hari suasana di Esmega perlahan kembali hidup. Setelah libur yang cukup panjang, langkah-langkah kecil siswa terdengar menyusuri jalanan sekolah, sebagian masih canggung, sebagian lagi tampak bersemangat menyambut lembaran waktu yang baru. Di balik hiruk pikuk itu, tersimpan banyak rasa bahwa rindu, harap, cemas, dan juga kegelisahan yang belum sepenuhnya reda.

Pembelajaran sudah mulai berjalan sebagaimana mestinya. Jadwal mengajar saya berada di jam ke-7 dan ke-8, tepatnya di kelas 7G. Kelas yang bagi saya bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang aman untuk bertumbuh bersama. Saya menyadari sejak awal bahwa suasana kelas belum sepenuhnya kondusif. Rolling kelas yang terjadi di pagi ini, menyisakan berbagai emosi di hati siswa. Ada yang masih mencari teman lamanya, ada yang diam memendam rindu, dan ada pula yang mencoba beradaptasi dengan wajah-wajah baru.

Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, bimbinglah langkahku hari ini. Jadikan pertemuan ini sebagai awal yang menenangkan, bukan menambah luka atau kegelisahan.” Saya tidak ingin langsung memaksa materi pelajaran masuk ke pikiran mereka, sementara hati mereka masih berantakan. Saya percaya, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga soal menyentuh jiwa.

Sebelum masuk kelas, sebenarnya saya sudah merancang sebuah kegiatan sederhana. Kegiatan itu saya niatkan sebagai refleksi atas semester yang telah berlalu sekaligus harapan untuk tahun yang baru. Saya ingin anak-anak belajar menata kembali perasaan mereka, menyadari perjalanan yang sudah dilewati, dan menuliskan harapan dengan cara yang menyenangkan.

Saat bel berbunyi, saya melangkah masuk ke kelas 7G. Saya melihat sorot mata siswa-siswi saya ada yang lelah, ada yang gelisah, namun juga ada yang penuh rasa ingin tahu. Saya membuka pelajaran dengan senyum dan sapaan hangat, lalu mengajak mereka sejenak untuk diam dan menenangkan diri.

“Anak-anak,” ucap saya perlahan, “kita sudah sampai di semester genap dan memasuki tahun baru, 2026. Banyak hal telah kita lewati di tahun sebelumnya. Ada yang menyenangkan, ada pula yang mungkin berat. Hari ini, Ibu tidak akan langsung memberi materi. Kita akan belajar dari diri kita sendiri.”

Saya lalu memberi contoh sebuah karya sederhana yaitu angka tahun 2026 yang saya tulis dan hias secara kreatif. Saya menjelaskan bahwa setiap angka bisa dimaknai sebagai perjalanan hidup, harapan, dan doa. Saya memberi mereka kebebasan penuh bebas bentuk, bebas warna, bebas hiasan sesuai dengan kemampuan dan imajinasi masing-masing.

“Tidak harus bagus menurut orang lain,” kata saya menegaskan, “yang penting kalian membuatnya dengan hati, dengan niat baik, dan dengan harapan yang positif.”

Saya kembali berdoa, “Ya Allah, jadikan kegiatan kecil ini sebagai jalan bagi mereka untuk bangkit, untuk percaya diri, dan untuk menemukan kembali semangat belajar.”

Anak-anak pun mulai bekerja. Suasana kelas yang sebelumnya terasa kaku perlahan berubah. Tangan-tangan kecil mulai bergerak, pensil dan pulpen menari di atas kertas. Ada yang menghias dengan bunga, ada yang memberi warna cerah, ada yang menambahkan kata-kata motivasi, bahkan ada yang menyelipkan doa sederhana di sudut kertasnya. Namun sebagian besar warna hitam putih.

Saya berjalan pelan mengelilingi kelas, memperhatikan satu per satu karya mereka. Di setiap coretan, saya melihat cerita. Ada harapan untuk menjadi lebih rajin, ada keinginan membanggakan orang tua, ada cita-cita sederhana namun tulus. Saya terharu menyadari bahwa di balik kegaduhan dan kenakalan khas remaja, tersimpan hati-hati yang ingin didengar dan dihargai.

Tak terasa waktu berlalu. Ketika satu per satu siswa selesai, mereka menunjukkan hasil karyanya dengan wajah berbinar. Saya benar-benar terkejut sekaligus bersyukur. Hasil karya siswa kelas 7G sangat bagus-bagus bahkan banyak yang melampaui contoh yang saya berikan. Kreativitas mereka tumbuh ketika diberi ruang, dan kepercayaan diri mereka muncul ketika tidak dibatasi oleh rasa takut salah.

Saat itu, lisan saya spontan mengucap, “Alhamdulillah.” Sebuah syukur yang lahir dari hati terdalam. Saya menyadari bahwa Allah selalu memberi jalan indah bagi hamba-Nya yang mau bersabar dan berikhtiar. Di tengah keterbatasan, selalu ada kebaikan yang bisa tumbuh.

Saya menutup pelajaran dengan pesan sederhana, “Anak-anak, seperti angka 2026 yang kalian buat hari ini, hidup kalian juga sedang dibentuk. Hiasi dengan hal-hal baik, isi dengan doa, dan jalani dengan usaha. Jangan lupa libatkan Allah dalam setiap langkah.”

Saya pulang dengan hati yang hangat. Saya belajar kembali bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menemani. Bukan hanya mendidik akal, tetapi juga merawat jiwa. Semoga langkah kecil di kelas 7G ini menjadi amal jariyah, dan semoga anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan selalu dekat dengan Allah SWT. Aamiin.

Cepu, 6 Januari 2026