Karya: Gutamining Saida
Minggu pagi menjadi hari yang menyenangkan. Saya bersama beberapa teman berkesempatan mengunjungi Kracaan Sungai Ketuwan. Tujuannya untuk menikmati keindahan alam yang masih asri. Udara segar, gemericik air, serta suasana pedesaan yang tenang menjadi obat bagi penatnya rutinitas sehari-hari.
Perjalanan menuju lokasi terasa istimewa karena kami diantar oleh Mbak Nafi. Beliau asli Ketuwan sehingga sangat mengenal daerah tersebut. Rumahnya pun tidak jauh dari lokasi wisata yang kami tuju. Selain ramah, Mbak Nafi juga memiliki jiwa melayani yang luar biasa.
Sejak awal, beliau sudah menunjukkan perhatian yang membuat kami merasa nyaman. Beliau mengantar kami menuju lokasi, menunjukkan jalan-jalan yang harus dilalui, sekaligus menceritakan berbagai hal menarik tentang daerah Ketuwan.
Sesampainya di Kracaan, perhatian Mbak Nafi tidak berhenti sampai di situ. Ia membawa tas kresek berisi berbagai jajanan untuk kami nikmati bersama di tepi sungai. Suasana menjadi semakin hangat. Di tengah rindangnya pepohonan dan suara air yang mengalir, kami bercengkerama sambil menikmati makanan ringan yang telah dipersiapkannya. Aneka sunduk an, ada rasa pedas, asin.
Tidak hanya itu, Mbak Nafi juga dengan sabar mengabadikan berbagai momen. Ia memotret kami dari berbagai sudut. Sesekali ia mengambil video agar kenangan indah hari itu dapat tersimpan lebih lengkap. Ia tampak begitu sibuk memastikan semua orang mendapatkan dokumentasi terbaik.
Kami tersenyum, berpose, dan menikmati setiap momen tanpa banyak berpikir. Semua berjalan begitu alami. Mungkin karena terlalu menikmati suasana, kami tidak menyadari satu hal yang ternyata cukup penting. Hari itu hampir semua orang memiliki foto. Kecuali satu orang. Yaitu orang yang memotret.
Keesokan harinya, Mbak Nafi mengirimkan hasil dokumentasi melalui pesan WhatsApp. Foto-foto dan video yang dikirim sangat bagus. Berbagai sudut keindahan Kracaan berhasil ia abadikan dengan apik. Kami pun merasa senang melihat kembali kenangan yang baru saja terjadi sehari sebelumnya.
Setelah melihat satu per satu dokumentasi tersebut, Mbak Nafi tiba-tiba mengirim pesan.
"Lho, saya kok nggak kepikiran ikut foto ya?"
Kalimat itu sederhana, tetapi seolah mengandung sedikit penyesalan yang baru disadari. Rupanya setelah semua dokumentasi selesai dibagikan, beliau baru menyadari bahwa tidak ada satu pun foto dirinya bersama kami. Tidak ada foto saat menikmati jajanan. Tidak ada foto saat duduk di tepi sungai. Tidak ada foto saat menikmati pemandangan. Tidak ada foto kebersamaan yang melibatkan dirinya.
Beliau hadir sepanjang perjalanan, tetapi tidak terekam dalam kenangan visual yang dibuatnya sendiri. Kemudian beliau menambahkan pesan lagi.
"Kalau tahu, saya ikut foto."
Saya bisa memahami perasaannya. Kadang saat sedang sibuk melayani orang lain, seseorang lupa memberi ruang bagi dirinya sendiri. Ia terlalu fokus membuat orang lain bahagia hingga lupa menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Untuk menenangkan hati beliau, saya menjawab dengan santai.
"Kapan-kapan kalau ada kesempatan lagii ya. Saya juga nggak kepikiran mengajak Mbak Nafi nimbrung foto."
Jawaban itu bukan sekadar hiburan. Memang benar adanya. Saat itu tidak ada seorang pun yang terpikir bahwa fotografernya belum ikut masuk ke dalam bingkai. Lalu muncul sebuah kalimat yang membuat saya merenung cukup lama.
"Oh iya, kecewa itu datang belakangan ya." benar sekali. ucap mbak Nafi.
Kecewa sering kali tidak datang saat peristiwa terjadi. Kecewa justru muncul setelah semuanya selesai. Saat seseorang mulai membandingkan. Saat seseorang mulai mengingat. Saat seseorang mulai melihat apa yang terlewat. Bukankah banyak hal dalam kehidupan seperti itu?
Ketika masih sehat, kita tidak merasa kehilangan apa pun. Saat sakit datang, barulah kita menyadari betapa berharganya kesehatan. Ketika orang tua masih ada, kita menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang biasa. Setelah mereka tiada, kerinduan datang perlahan dan menghadirkan penyesalan. Ketika kesempatan masih terbuka, kita sering menundanya. Setelah kesempatan berlalu, barulah rasa kecewa muncul. Kecewa memang sering datang belakangan. Dari situlah Allah mengajarkan hikmah kepada manusia.
Bahwa tidak semua hal harus disesali. Ada beberapa hal yang cukup dijadikan pelajaran. Mbak Nafi mengajarkan sesuatu yang sangat berharga kepada kami. Beliau memberi pelayanan terbaik tanpa mengharapkan balasan apa pun. Semua dilakukan dengan tulus dan penuh kebahagiaan.
Fotonya tidak ada , ama dan kebaikannya justru tersimpan dalam hati kami. Foto bisa hilang. Video bisa terhapus. File bisa rusak. Tetapi kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang menerimanya.
Saya yakin Allah tidak pernah lupa mencatat setiap bentuk pelayanan, perhatian, dan kebaikan yang dilakukan seorang hamba. Allah melihat seluruh kebaikan yang ia lakukan sejak awal hingga akhir perjalanan. Dan itu jauh lebih sempurna daripada sekadar sebuah foto. Semoga suatu saat nanti kami dapat kembali berkunjung ke Kracaan Sungai Ketuwan.
Orang yang selalu mengabadikan kebahagiaan orang lain juga pantas untuk diabadikan dalam kebersamaan. Dari peristiwa sederhana itu saya belajar satu hal. Kecewa kadang datang belakangan, tetapi bila disikapi dengan bijaksana, ia akan berubah menjadi pembelajaran yang mendewasakan
Cepu, 2 Juni 2026






