Selasa, 06 Januari 2026

Tahun Baru.

 


Karya: Gutamining Saida

Hari kedua masuk sekolah pada semester genap itu jatuh di hari Selasa. Pagi hingga siang hari suasana di Esmega perlahan kembali hidup. Setelah libur yang cukup panjang, langkah-langkah kecil siswa terdengar menyusuri jalanan sekolah, sebagian masih canggung, sebagian lagi tampak bersemangat menyambut lembaran waktu yang baru. Di balik hiruk pikuk itu, tersimpan banyak rasa bahwa rindu, harap, cemas, dan juga kegelisahan yang belum sepenuhnya reda.

Pembelajaran sudah mulai berjalan sebagaimana mestinya. Jadwal mengajar saya berada di jam ke-7 dan ke-8, tepatnya di kelas 7G. Kelas yang bagi saya bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang aman untuk bertumbuh bersama. Saya menyadari sejak awal bahwa suasana kelas belum sepenuhnya kondusif. Rolling kelas yang terjadi di pagi ini, menyisakan berbagai emosi di hati siswa. Ada yang masih mencari teman lamanya, ada yang diam memendam rindu, dan ada pula yang mencoba beradaptasi dengan wajah-wajah baru.

Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, bimbinglah langkahku hari ini. Jadikan pertemuan ini sebagai awal yang menenangkan, bukan menambah luka atau kegelisahan.” Saya tidak ingin langsung memaksa materi pelajaran masuk ke pikiran mereka, sementara hati mereka masih berantakan. Saya percaya, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga soal menyentuh jiwa.

Sebelum masuk kelas, sebenarnya saya sudah merancang sebuah kegiatan sederhana. Kegiatan itu saya niatkan sebagai refleksi atas semester yang telah berlalu sekaligus harapan untuk tahun yang baru. Saya ingin anak-anak belajar menata kembali perasaan mereka, menyadari perjalanan yang sudah dilewati, dan menuliskan harapan dengan cara yang menyenangkan.

Saat bel berbunyi, saya melangkah masuk ke kelas 7G. Saya melihat sorot mata siswa-siswi saya ada yang lelah, ada yang gelisah, namun juga ada yang penuh rasa ingin tahu. Saya membuka pelajaran dengan senyum dan sapaan hangat, lalu mengajak mereka sejenak untuk diam dan menenangkan diri.

“Anak-anak,” ucap saya perlahan, “kita sudah sampai di semester genap dan memasuki tahun baru, 2026. Banyak hal telah kita lewati di tahun sebelumnya. Ada yang menyenangkan, ada pula yang mungkin berat. Hari ini, Ibu tidak akan langsung memberi materi. Kita akan belajar dari diri kita sendiri.”

Saya lalu memberi contoh sebuah karya sederhana yaitu angka tahun 2026 yang saya tulis dan hias secara kreatif. Saya menjelaskan bahwa setiap angka bisa dimaknai sebagai perjalanan hidup, harapan, dan doa. Saya memberi mereka kebebasan penuh bebas bentuk, bebas warna, bebas hiasan sesuai dengan kemampuan dan imajinasi masing-masing.

“Tidak harus bagus menurut orang lain,” kata saya menegaskan, “yang penting kalian membuatnya dengan hati, dengan niat baik, dan dengan harapan yang positif.”

Saya kembali berdoa, “Ya Allah, jadikan kegiatan kecil ini sebagai jalan bagi mereka untuk bangkit, untuk percaya diri, dan untuk menemukan kembali semangat belajar.”

Anak-anak pun mulai bekerja. Suasana kelas yang sebelumnya terasa kaku perlahan berubah. Tangan-tangan kecil mulai bergerak, pensil dan pulpen menari di atas kertas. Ada yang menghias dengan bunga, ada yang memberi warna cerah, ada yang menambahkan kata-kata motivasi, bahkan ada yang menyelipkan doa sederhana di sudut kertasnya. Namun sebagian besar warna hitam putih.

Saya berjalan pelan mengelilingi kelas, memperhatikan satu per satu karya mereka. Di setiap coretan, saya melihat cerita. Ada harapan untuk menjadi lebih rajin, ada keinginan membanggakan orang tua, ada cita-cita sederhana namun tulus. Saya terharu menyadari bahwa di balik kegaduhan dan kenakalan khas remaja, tersimpan hati-hati yang ingin didengar dan dihargai.

Tak terasa waktu berlalu. Ketika satu per satu siswa selesai, mereka menunjukkan hasil karyanya dengan wajah berbinar. Saya benar-benar terkejut sekaligus bersyukur. Hasil karya siswa kelas 7G sangat bagus-bagus bahkan banyak yang melampaui contoh yang saya berikan. Kreativitas mereka tumbuh ketika diberi ruang, dan kepercayaan diri mereka muncul ketika tidak dibatasi oleh rasa takut salah.

Saat itu, lisan saya spontan mengucap, “Alhamdulillah.” Sebuah syukur yang lahir dari hati terdalam. Saya menyadari bahwa Allah selalu memberi jalan indah bagi hamba-Nya yang mau bersabar dan berikhtiar. Di tengah keterbatasan, selalu ada kebaikan yang bisa tumbuh.

Saya menutup pelajaran dengan pesan sederhana, “Anak-anak, seperti angka 2026 yang kalian buat hari ini, hidup kalian juga sedang dibentuk. Hiasi dengan hal-hal baik, isi dengan doa, dan jalani dengan usaha. Jangan lupa libatkan Allah dalam setiap langkah.”

Saya pulang dengan hati yang hangat. Saya belajar kembali bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menemani. Bukan hanya mendidik akal, tetapi juga merawat jiwa. Semoga langkah kecil di kelas 7G ini menjadi amal jariyah, dan semoga anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan selalu dekat dengan Allah SWT. Aamiin.

Cepu, 6 Januari 2026

Ikhlas Dan Takdir

Karya : Gutamining Saida 
Hari kedua masuk sekolah membawa suasana yang berbeda dari hari sebelumnya. Selasa pagi  udara terasa sama, langit pun masih menaungi halaman sekolah dengan warna yang tak berubah. Namun hati banyak orang terutama para siswa tidak lagi berada pada keadaan yang sama. Ada sesuatu yang bergeser, sesuatu yang membuat langkah-langkah kecil mereka terasa lebih berat dari biasanya.

Siswa-siswi Esmega kelas tujuh yang semula berjumlah tujuh kelas kini berubah menjadi delapan kelas. Sebuah kebijakan yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, baik kepada siswa maupun wali murid. Setelah bel masuk berbunyi, seluruh kelas dikumpulkan di area outdoor sekolah. Mereka berdiri berjejer rapi, sebagian masih sempat bercanda kecil, namun lebih banyak yang terdiam, menunggu dengan rasa penasaran bercampur cemas.

Pengarahan pun dimulai oleh waka kurikulum. Nama siswa disebut satu per satu, lalu diarahkan menuju wali kelas yang telah berdiri di barisan depan. Di sanalah pembagian kelas baru dilakukan. Saya berdiri, masih dengan amanah yang sama yaitu menjadi wali kelas tujuh G. Namun susunan siswa di depan saya tak sepenuhnya sama seperti enam bulan sebelumnya. Ada wajah-wajah lama yang masih setia di kelas tujuh G, tetapi lebih banyak wajah baru yang datang dari kelas lain. Di sisi lain halaman, saya melihat beberapa anak tujuh G lama melangkah menjauh, menuju wali kelas yang lain.

Beberapa menit kemudian, perintah pun disampaikan agar siswa mengambil tas masing-masing dan segera menempati kelas baru. Saat itulah suasana berubah drastis. Tidak ada sorak kegembiraan, tidak ada celoteh riang seperti biasanya. Langkah kaki terdengar pelan, bahkan terasa berat. Anak-anak berjalan dengan wajah datar, sebagian menunduk, sebagian lagi menatap kosong ke depan.
Di mata mereka tersimpan tanya yang tak terucap. Di balik diam itu, ada kehilangan kecil yang sedang mereka rasakan. Kehilangan teman sebangku, teman bermain, teman bercanda, bahkan teman berbagi cerita. Enam bulan bukan waktu yang singkat bagi anak-anak seusia mereka. Enam bulan cukup untuk membangun kebersamaan, kekompakan, dan rasa memiliki satu sama lain.

Ketika telah duduk di dalam kelas baru, suasana masih hening. Bangku-bangku terasa asing, dinding kelas seolah belum bersahabat. Ada seorang siswa yang mengangkat tangan dengan suara lirih, “Kenapa diacak, Bu?” Pertanyaan sederhana, namun sarat makna. Ada pula yang tak bertanya apa-apa, namun matanya berkaca-kaca, menyimpan air mata yang siap jatuh kapan saja. Saya melangkah mendekat. Sebagai wali kelas, saya tahu bahwa tugas saya bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga menenangkan hati. Saya mengajak mereka untuk menarik napas sejenak, menenangkan diri, dan membuka hati. Dengan suara pelan, saya sampaikan bahwa dalam hidup, tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita.

Ada kalanya Allah mengatur jalan yang berbeda dari rencana kita.
“Anak-anakku,” ucap saya perlahan.
“Berpisah kelas bukan berarti berpisah selamanya. Kalian hanya dipisahkan ruang dan waktu saat belajar. Saat istirahat, saat pulang, kalian masih bisa bertemu, bercanda, dan bersama kembali.” 
Saya melihat beberapa wajah mulai menoleh, mencoba memahami. Saya lanjutkan, bahwa setiap ketentuan yang terjadi pasti mengandung hikmah. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, meski terkadang hati kita belum siap menerimanya. Mungkin dengan susunan kelas yang baru, Allah ingin memperluas pertemanan mereka, melatih keberanian untuk beradaptasi, dan mengajarkan arti ikhlas sejak dini.

Saya katakan pula bahwa perpisahan adalah bagian dari kehidupan. Sejak kecil hingga dewasa, manusia akan terus belajar tentang berpisah dan bertemu kembali dalam bentuk yang berbeda. Sekolah adalah tempat belajar bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kehidupan, tentang menerima, tentang sabar, dan tentang percaya kepada takdir Allah.

Perlahan suasana mulai mencair. Meski belum sepenuhnya hilang, ketegangan di wajah anak-anak mulai berkurang. Ada yang mulai menyeka matanya, ada yang mengangguk pelan. Saya mengajak mereka untuk saling menyapa teman baru di sebelahnya, meski hanya dengan senyum kecil.

Saya mohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar anak-anak ini diberi kelapangan hati, agar tidak menyimpan luka berkepanjangan, dan agar kebersamaan baru yang terbentuk kelak membawa kebaikan. Saya yakin, tidak ada doa yang sia-sia, terlebih doa seorang guru untuk murid-muridnya.

Hari Selasa menjadi pelajaran berharga, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi saya. Bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, melainkan menemani proses tumbuh, termasuk saat anak-anak belajar menerima kenyataan yang tidak selalu manis. Di balik perubahan yang membuat perih, Allah selalu menyimpan rencana yang indah.

Di kelas tujuh G yang baru, saya kembali melanjutkan amanah. Menjadi saksi bahwa dari perpisahan kecil, Allah sedang menyiapkan pertemuan-pertemuan yang lebih luas, lebih dewasa, dan lebih bermakna. Semoga anak-anak ini kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan mampu menerima setiap takdir dengan penuh keimanan. Aamiin.
Cepu, 6 Januari 2026

Senin, 05 Januari 2026

Kejutan

 


Karya: Gutamining Saida

Selasa yang masih menyisakan embun di dedaunan, siswa siswi kelas tujuh dikumpulkan di area outdoor sekolah. Matahari belum sepenuhnya meninggi, sinarnya lembut menembus sela pepohonan, seakan ikut menjadi saksi atas peristiwa yang akan terjadi. Barisan siswa berdiri rapi, seragam mereka tampak kontras dengan hamparan lapangan yang masih basah oleh sisa hujan malam. Beberapa siswa bercanda pelan, namun sebagian lain memilih diam, menunggu dengan rasa penasaran.

Tak lama kemudian, wakil kepala sekolah bidang kurikulum bersama wakil kepala sekolah bidang humas melangkah ke depan. Suasana mendadak hening. Ada aura keseriusan yang terasa, seolah pagi itu bukan sekadar apel biasa. Dengan suara yang tenang namun tegas, disampaikanlah sebuah pengumuman bahwa adanya penambahan kelas dan pelaksanaan rolling kelas bagi siswa kelas tujuh. Kalimat demi kalimat meluncur pelan, namun maknanya mengguncang hati banyak anak kelas tujuh.

Sebagian siswa tampak tertegun. Wajah-wajah polos itu menyimpan beragam rasa kaget, cemas, bahkan takut. Mereka yang selama ini merasa nyaman bersama teman sebangku, teman bercanda, dan teman berbagi bekal, kini harus bersiap menerima perubahan. Perubahan yang tidak mereka minta, tetapi harus mereka jalani.

Menurut agama Islam, perubahan adalah sunnatullah. Allah berfirman bahwa tidak ada satu pun keadaan yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri. Namun, memahami hikmah di balik perubahan sering kali lebih sulit daripada sekadar menerimanya. Itulah yang dirasakan anak-anak pagi itu.

Satu per satu nama siswa mulai disebutkan. Mereka diminta berjalan menuju wali kelas masing-masing, yang telah berdiri berjajar di deretan depan. Langkah kaki kecil itu terdengar pelan di atas tanah lapangan, seolah setiap langkah membawa beban perasaan yang tak terlihat. Ada yang berjalan cepat tanpa menoleh, ada yang melangkah ragu, menoleh ke belakang, mencari wajah teman yang selama ini menemani hari-harinya.

Tiba-tiba, suasana yang tadinya tertib pecah oleh isak tangis seorang siswi. Air matanya mengalir deras. Ia harus berpisah dengan sahabat yang selalu duduk di sampingnya sejak hari pertama masuk sekolah. Tangis itu bukan sekadar tangis anak-anak, melainkan luapan rasa kehilangan. Kehilangan ruang aman, kehilangan tempat berbagi cerita, dan kehilangan rasa “bersama” yang telah terbangun.

Raut wajah sedih pun menyelinap di antara barisan siswa lainnya. Ada mata yang berkaca-kaca, bibir yang digigit menahan tangis, dan kepala yang tertunduk pasrah. Di sudut lain, tampak pula wajah-wajah bahagia. Ada siswa yang tersenyum lebar karena kembali bertemu teman dekatnya dari kelas lain. Ada pula yang merasa bersyukur karena bisa satu kelas dengan teman yang dulu hanya bisa ditemui saat istirahat.

Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Tak satu pun perasaan itu luput dari pengawasan-Nya. Tangis dan tawa, sedih dan bahagia, semuanya tercatat rapi dalam catatan amal. Bahkan air mata seorang anak yang jatuh karena perpisahan pun bernilai doa, jika ia berserah dan percaya bahwa Allah sedang menyiapkan kebaikan.

Sementara itu, siswa laki-laki tampak lebih datar. Hampir tak ada ekspresi yang mencolok di wajah mereka. Mereka berdiri tegak, melangkah sesuai arahan, seolah semua baik-baik saja. Bukan berarti mereka tidak merasakan apa-apa, melainkan mereka pandai menyembunyikan perasaan. Sejak kecil, banyak anak laki-laki diajarkan untuk tegar, untuk tidak mudah menunjukkan air mata. Di balik wajah yang tampak biasa saja itu, mungkin ada kegelisahan yang sama, hanya disimpan rapi di dalam hati.

Wali kelas yang berdiri di depan memperhatikan semua itu dengan perasaan haru. Mereka memahami bahwa keputusan rolling kelas bukanlah perkara mudah, baik bagi siswa maupun guru.  Kebijakan ini diambil dengan harapan terbaik adalah agar siswa belajar beradaptasi, memperluas pertemanan, dan membangun karakter yang lebih kuat. Bukankah hidup pun demikian? Kita tidak selalu berada di lingkungan yang sama, bersama orang-orang yang sama. Kadang Allah Subhanahu wata'alla memindahkan kita agar kita belajar tumbuh.

Dalam hati, para wali kelas berdoa. Semoga anak-anak ini diberi kelapangan dada. Semoga Allah menanamkan rasa ikhlas dan sabar di hati mereka. Sebab ikhlas bukan berarti tidak sedih, tetapi tetap melangkah meski hati terasa berat. Sabar bukan berarti tidak menangis, tetapi percaya bahwa setelah tangis ada hikmah yang menunggu.

Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan lainnya, tetapi juga tempat belajar kehidupan. Belajar tentang perpisahan, pertemuan, kehilangan, dan penerimaan. Semua itu adalah bekal penting untuk masa depan mereka.

Ketika barisan mulai bubar dan siswa menuju kelas masing-masing, matahari semakin terang. Seolah Allah ingin menyampaikan pesan sederhana bahwa setelah gelap dan sendu, selalu ada cahaya. Setelah tangis, akan ada senyum. Di balik setiap perubahan, selalu tersimpan rencana-Nya yang terbaik.

Anak-anak itu mungkin belum sepenuhnya memahami hikmah hari itu. Suatu saat, ketika mereka dewasa, mereka akan mengingat Selasa pagi di lapangan sekolah adalah sebagai hari ketika mereka pertama kali belajar menerima takdir kecil dalam hidup, dan belajar berserah kepada Allah dengan hati yang sederhana. Semoga kalian segera beradaptasi dan sukses buat kalian semuanya.

Cepu, 6 Januari 2026

Minggu, 04 Januari 2026

Persiapan Hari Pertama Semester Genap



Karya : Gutamining Saida

Semester genap tahun 2026 menjadi momentum yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan ini tidak hanya dirasakan dari suasana sekolah yang kembali ramai setelah masa libur, tetapi juga dari adanya himbauan resmi yang disampaikan oleh Bapak Menteri Pendidikan pada hari pertama masuk sekolah. Himbauan tersebut menjadi arah bersama bagi seluruh satuan pendidikan dalam mengawali semester genap dengan semangat baru, kebersamaan, serta optimisme untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Pada hari pertama masuk sekolah, siswa diajak untuk melaksanakan beberapa kegiatan utama. Kegiatan tersebut meliputi Senam Anak Indonesia Hebat, upacara bendera, berdoa bersama, serta menyanyikan lagu “Hari Baru”. Rangkaian kegiatan ini dirancang bukan semata-mata sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai upaya membangun karakter peserta didik, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan sekolah sejak awal semester.

Seiring dengan beredarnya himbauan tersebut, di berbagai media sosial ramai berseliweran panduan singkat bagi para guru terkait pelaksanaan hari pertama masuk sekolah semester genap. Panduan tersebut disusun secara ringkas dan praktis agar mudah dipahami serta diterapkan oleh seluruh satuan pendidikan. Tujuan utamanya adalah agar pelaksanaan kegiatan berjalan seragam dan selaras dengan kebijakan kementerian, sekaligus mampu menciptakan suasana awal semester yang positif dan membangun.

Sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum turut berperan aktif dalam menyampaikan informasi kepada seluruh guru. Melalui grup resmi sekolah, beliau membagikan pengumuman terkait persiapan hari Senin sebagai hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Dalam pengumuman tersebut disertakan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pagi Ceria yang menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan awal semester genap. Selain itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum juga membagikan tautan YouTube berisi lagu “Hari Baru” yang akan dinyanyikan bersama oleh seluruh siswa. Penyampaian informasi ini bertujuan agar seluruh guru memiliki pemahaman yang sama, dapat mempersiapkan diri dengan baik, serta mampu mendampingi siswa secara optimal dalam mengikuti rangkaian kegiatan pada hari pertama masuk sekolah.

Kemendikdasmen secara resmi mengajak seluruh satuan pendidikan, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk mengawali semester genap dengan kegiatan “Pagi Ceria” dan upacara bendera. Ajakan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik sebagai generasi penerus bangsa yang sehat, berdisiplin, dan berjiwa nasionalis.

Kegiatan Pagi Ceria diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat. Senam ini dirancang dengan gerakan yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik usia peserta didik. Melalui senam bersama, siswa diajak untuk menggerakkan tubuh, menyegarkan pikiran, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jasmani. Selain itu, senam bersama juga melatih kedisiplinan, kekompakan, dan kerja sama antarsiswa maupun antara siswa dan guru.

Setelah kegiatan senam, seluruh warga sekolah mengikuti upacara bendera. Upacara bendera memiliki makna penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, serta penghormatan terhadap jasa para pahlawan. Melalui upacara, siswa diajak untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Pelaksanaan upacara bendera pada hari pertama semester genap menjadi simbol kesiapan seluruh warga sekolah dalam memulai kembali proses pembelajaran dengan semangat dan komitmen yang kuat.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Doa menjadi wujud rasa syukur sekaligus harapan agar seluruh kegiatan pembelajaran di semester genap dapat berjalan dengan lancar, aman, dan membawa keberkahan. Melalui doa bersama, siswa dibimbing untuk menumbuhkan sikap religius, rendah hati, serta kesadaran bahwa setiap usaha perlu diiringi dengan doa dan keikhlasan.

Kegiatan menyanyikan lagu “Hari Baru” menjadi penutup rangkaian Pagi Ceria. Lagu ini dipilih sebagai simbol optimisme dan semangat baru dalam mengawali semester genap. Lirik dan irama lagu diharapkan mampu membangkitkan motivasi siswa untuk menatap hari-hari ke depan dengan sikap positif, penuh harapan, dan percaya diri. Lagu ini juga menjadi pengingat bahwa setiap hari merupakan kesempatan baru untuk belajar, memperbaiki diri, dan meraih prestasi.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan yang dianjurkan oleh Kemendikdasmen bertujuan untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, kebersamaan, serta optimisme di lingkungan sekolah. Guru memiliki peran strategis dalam menyukseskan pelaksanaan kegiatan ini, tidak hanya sebagai pelaksana teknis, tetapi juga sebagai teladan bagi peserta didik. Keteladanan guru dalam bersikap disiplin, antusias, dan bertanggung jawab akan sangat memengaruhi bagaimana siswa memaknai kegiatan tersebut.

Semester genap tahun 2026 diharapkan menjadi momentum penguatan karakter dan semangat belajar seluruh warga sekolah. Dengan adanya koordinasi yang baik, dukungan pimpinan sekolah, serta kesiapan guru dan siswa, kegiatan hari pertama masuk sekolah dapat berlangsung dengan tertib dan bermakna. Melalui Pagi Ceria dan upacara bendera, diharapkan tercipta suasana sekolah yang kondusif, harmonis, dan penuh semangat untuk menjalani proses pembelajaran di semester genap.

Dengan demikian, semester genap 2026 tidak hanya menjadi kelanjutan dari kalender akademik, tetapi juga menjadi langkah awal yang kuat dalam membangun budaya sekolah yang positif, berkarakter, dan berorientasi pada masa depan bangsa.

Cepu, 4 Januari 2026

Antara Anggan dan Kenyataan


 

Karya: Gutamining Saida

Sudah pernah menikmati bakso iga? Kalau saya pribadi, sejujurnya belum pernah. Selama ini, bayangan tentang bakso iga hanya berputar-putar di kepala, sebatas angan-angan yang terbentuk dari cerita orang dan foto-foto di media sosial. Di benak saya, bakso iga itu pasti berupa potongan iga sapi yang diletakkan begitu saja di dalam mangkuk, berdampingan dengan mie kuning, pentol bakso, bihun, lalu disiram kuah panas yang gurih. Sebuah sajian yang tampak lazim dan tidak jauh berbeda dari bakso pada umumnya hanya saja ditambah iga sapi sebagai pelengkap.

Siang ini anggapan itu runtuh seketika.  Siang ini kami berenam berburu bakso yang sedang viral di media sosial. Entah bagaimana awalnya, satu unggahan muncul, lalu disusul unggahan lain. Komentar demi komentar bermunculan, memuji rasa, harga, dan porsinya. Rasa penasaran pun tumbuh. Bukan sekadar ingin ikut tren, tetapi lebih pada keinginan untuk membuktikan bahwa benarkah bakso ini memang layak diburu?

Ketika kami tiba di warung bakso, suasana sudah ramai. Dari kejauhan terlihat antrean yang cukup panjang. Beberapa orang berdiri sabar, sebagian lainnya duduk di teras depan warung. Penjualnya bahkan hampir tidak terlihat, tertutup oleh banyaknya pembeli dan kesibukan melayani pesanan. Sebagian besar pembeli memilih dibungkus untuk dibawa pulang, mungkin agar bisa dinikmati bersama keluarga di rumah. Sementara pembeli yang ingin makan di tempat, baru bisa masuk ke dalam warung dan duduk lesehan di tikar. 

Pembeli sabar dengan aturan yang ada. Tidak ada keluhan, tidak ada wajah kesal. Justru suasana terasa tertib. Mungkin karena semua orang punya tujuan yang sama yaitu menikmati semangkuk bakso yang katanya istimewa, dengan harga yang terjangkau bahkan bisa dibilang murah.

Pilihan menu terpampang jelas. Ada bakso iga, bakso urat, bakso lava, dan beberapa pilihan lain. Setiap orang bebas memilih sesuai selera. Ada yang mantap memilih bakso iga karena penasaran, ada yang setia dengan bakso urat, dan ada pula yang tertantang mencoba bakso lava yang terkenal dengan sensasi pedasnya. Saya sendiri memperhatikan satu per satu pilihan itu sambil membayangkan rasa dan porsinya.

Ketika pesanan bakso iga bu Wiwik disajikan, saya terdiam sejenak. Ternyata bakso iga tidak seperti yang selama ini saya bayangkan. Iga sapi itu tidak diletakkan begitu saja di dalam mangkuk. Ia dibalut dengan adonan pentol bakso, membungkus daging dan tulangnya. Tulang iga dibiarkan terlihat sebagian, seolah sengaja diperlihatkan sebagai penanda keistimewaan. Akibatnya, pentol bakso itu tampak besar sekali bahkan sangat besar. Sekilas melihatnya saja, saya sudah merasa kenyang.

Mangkuk bakso itu seperti menantang logika perut. “Apa ini bisa dihabiskan?” batin saya bertanya. Kuahnya bening, mengepul, aroma kaldu sapi tercium kuat. Di dalamnya tetap ada mie putih, taoge dan pelengkap lain, namun fokus mata langsung tertuju pada bakso iga raksasa itu. Kami memiliki selera berbeda sehingga pesan bakso yang farian berbeda juga.

Saya perhatikan wajah-wajah di sekitar. Ada yang tersenyum puas begitu mangkuknya datang, ada yang langsung sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, dan ada pula yang tertawa kecil melihat ukuran bakso yang tidak biasa. Siang itu, warung bakso tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, rasa syukur spontan terucap. Alhamdulillah, enak. Kuahnya gurih, tidak berlebihan. Daging baksonya terasa, tidak didominasi tepung. Iga di dalamnya empuk, mudah dilepaskan dari tulang. Tidak heran jika banyak orang rela antre. Harga yang ditawarkan terasa sepadan, bahkan lebih murah dibanding porsi dan kualitas yang didapatkan.

Saya pun menyadari satu hal penting yaitu rasa nikmat itu bukan hanya soal makanan. Ia hadir karena banyak faktor yang menyertainya. Ada kesehatan yang Allah berikan sehingga kita bisa menikmati. Ada rezeki yang cukup sehingga kita bisa membeli tanpa rasa berat. Ada waktu luang untuk duduk, mengunyah perlahan, dan berbincang. Ada pula kebersamaan yang membuat rasa bakso menjadi berlipat nikmatnya.

Di tengah hiruk pikuk media sosial yang sering memamerkan kemewahan, pengalaman menikmati bakso sederhana ini justru terasa menenangkan. Makanan rakyat, harga terjangkau, rasa yang memuaskan. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang mahal. Terkadang, ia hadir dalam mangkuk bakso hangat di siang hari, ditemani antrean panjang dan senyum orang-orang yang sama-sama menunggu giliran.

Ketika melihat mangkuk mulai kosong, saya kembali berpikir. Benar kata orang, sering kali angan-angan kita berbeda dengan kenyataan. Tidak semua perbedaan berujung kekecewaan. Ada kalanya, kenyataan justru melampaui bayangan. Seperti bakso iga hari ini yang tidak sesuai dengan gambaran di kepala, tetapi justru memberikan pengalaman baru yang mengesankan.

Kami pulang dengan perut kenyang dan hati yang ringan. Viral atau tidak, bakso ini telah memberi pelajaran sederhana yaitu tentang kesabaran saat mengantre, tentang rasa syukur atas nikmat yang ada, dan tentang menikmati hidup apa adanya. Karena selama masih bisa makan dengan lahap dan tersenyum puas setelahnya, itu sudah lebih dari cukup. 

Cepu, 4 Januari 2026

MBG (Makan Bersama Guru-guru)


 

Karya: Gutamining Saida

Sehari sebelum masuk sekolah semester genap, tepatnya hari Minggu, suasana  terasa berbeda. Ada semacam jeda yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan sebelum kembali pada rutinitas mengajar, mendidik, dan membersamai para siswa. Jeda itu tidak diisi dengan tidur panjang atau bepergian jauh, tetapi dengan sesuatu yang sederhana yaitu MBG

MBG di sini bukanlah MBG seperti yang sering terdengar dari program pemerintah. MBG versi kami memiliki kepanjangan yang jauh lebih hangat dan penuh rasa: Makan Bersama Guru-guru.  Memang benar, kata guru-guru sengaja saya tulis dengan tanda hubung, karena yang hadir bukan satu dua orang, melainkan lebih dari dua. Kebersamaan inilah yang justru menjadi inti dari cerita ini.

Semua bermula dari sebuah ajakan sederhana di grup WhatsApp. Bu Wiwik, guru mata pelajaran Bahasa Inggris, menuliskan pesan singkat 
“Jadi nggak nanti?”chats bu Wiwik

Pesan singkat itu seolah mengetuk hati satu per satu anggota grup. Tidak lama, tanggapan pun bermunculan.
“Iya ikut,” jawab Bu Indri.
"Saya ada acara." balas pak Bambang.
"Insya Allah, ikut."chat saya.
“Saya nggak ikut ya?” tulis Bu Isna, dengan gaya khas yang mengundang senyum.
“Lho… gimana kok ....?” timpal Bu Wiwik.

Percakapan sederhana, candaan ringan, namun di situlah terasa keakraban yang Allah tanamkan di antara kami. Bukan semata karena lapar, tetapi karena ada kerinduan untuk bertemu, bercengkerama, dan menguatkan satu sama lain sebelum kembali ke dunia kelas yang penuh dinamika.

Tujuan utama kami siang itu adalah makan bakso bareng. Bakso, makanan rakyat yang sederhana, namun memiliki rasa yang mampu menyatukan banyak orang dari berbagai latar belakang. Di warung bakso itu, pilihan menu begitu menggoda. Ada bakso biasa, bakso urat, bakso kribo, bakso telur, tetelan, iga, lava, hingga urat jumbo. Setiap mangkuk bakso seolah menjadi simbol pilihan hidup yaitu berbeda-beda, namun sama-sama mengenyangkan dan membahagiakan.

Kami memilih sesuai selera masing-masing. Tidak ada paksaan, tidak ada aturan rumit. Yang penting satu yaitu duduk bersama, makan bersama, dan menikmati kebersamaan. Siang itu kami MBG dengan menu pilihan sendiri dan bayar sendiri. Sederhana, mandiri, dan penuh keikhlasan.

Di sela kepulan uap bakso yang hangat, obrolan pun mengalir. Tentang sekolah, tentang murid, tentang keluarga, bahkan tentang harapan di semester genap yang akan segera dimulai. Tawa sesekali pecah, diselingi cerita ringan dan candaan yang membuat hati terasa lapang. Dalam kebersamaan itu, saya merasakan nikmat Allah yang sering kali luput kita sadari.

Betapa tidak, ketika tubuh sehat, menu apa pun terasa nikmat. Bakso yang mungkin biasa saja, hari itu terasa luar biasa. Bukan karena isinya, tetapi karena suasananya. Karena Allah menghadirkan kesehatan, waktu luang, dan teman-teman yang baik. Nikmat ini sungguh patut direnungkan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya diantaranya adalah,
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat ini terlintas kuat di benak saya. Sering kali kita menunggu nikmat besar untuk bersyukur, padahal nikmat kecil yang hadir setiap hari justru lebih banyak jumlahnya. Sehat, bisa makan, bisa tertawa, bisa berkumpul dengan orang-orang baik semua itu adalah nikmat yang jika dihitung satu per satu, niscaya kita tak akan mampu mengingkarinya.

MBG hari itu bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah sumber kekuatan. Sebagai guru, kami sering dituntut untuk kuat di depan siswa. Namun sesungguhnya, kami pun manusia biasa yang membutuhkan penguatan dari sesama. Dalam kebersamaan seperti inilah, hati dikuatkan, semangat diperbarui, dan niat diluruskan kembali.

Saya menyadari, sebelum masuk semester genap, Allah menghadirkan momen ini sebagai bekal batin. Bekal untuk kembali mengajar dengan hati yang lebih lapang, dengan rasa syukur yang lebih dalam. Karena mendidik bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi juga tentang menularkan nilai diantaranya adalah kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur.

Ketika akhirnya kami beranjak pulang, perut kenyang dan hati pun hangat. Tidak ada kemewahan, tidak ada acara besar. Justru dalam kesederhanaan itulah, nikmat Allah terasa begitu dekat. MBG telah usai, tetapi maknanya tinggal dan mengendap dalam hati.

Semoga kebersamaan kecil seperti ini terus Allah jaga. Semoga kami, para guru, selalu diberi kesehatan, keikhlasan, dan kekuatan dalam menjalankan amanah. Semoga kami tidak termasuk golongan orang-orang yang mendustakan nikmat-Nya, sekecil apa pun nikmat itu. Aamiin.

Cepu, 4 Januari 2026

Jumat, 02 Januari 2026

Langkah Kecil Menuju Ketaatan

Karya : Gutamining Saida 
Jum’at pertama di tahun 2026 hadir dengan suasana yang istimewa. Bukan karena cuaca, bukan pula karena tempat, melainkan karena ada rasa haru yang menyelinap di hati. Hari itu menjadi pengingat bahwa seorang cucu laki-laki akhirnya diajak berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat Jum’at. Sebuah momen sederhana, penuh doa, dan harapan yang tak terucap dengan kata-kata.

Kesempatan ini terbilang jarang. Sang cucu tinggal di kota Tegal, sementara akungnya berada di tempat yang berbeda yaitu Cepu. Jarak dan kesibukan membuat kebersamaan tak selalu bisa terwujud. Biasanya, salat Jum’at dilaksanakan di tempat masing-masing, dengan rutinitas yang berjalan sendiri-sendiri. Liburan semester mempertemukan kembali langkah-langkah yang sempat berjauhan. Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan waktu, tempat, dan niat baik dalam satu hari yang istimewa.

Sebelum berangkat ke masjid, ada satu permintaan kecil yang lahir dari hati yaitu berpose sejenak untuk diabadikan. Bukan sekadar foto, melainkan kenangan. Foto itu kelak akan menjadi saksi bahwa di awal tahun 2026, seorang cucu pernah berjalan menuju rumah Allah bersama akungnya. Sebuah potret sederhana, namun memiliki nilai spiritual yang kelak bisa diceritakan kembali tentang langkah kecil menuju ketaatan.

Sejak kecil, cucu laki-laki itu memang sudah sering diajak ke masjid. Tidak selalu untuk salat wajib, kadang hanya duduk sebentar, mendengarkan azan, atau melihat orang-orang beribadah. Tujuannya bukan pamer kesalehan, melainkan melatih hati. Menanamkan kebiasaan. Membiasakan langkah menuju tempat ibadah agar kelak, saat dewasa, masjid bukanlah tempat asing baginya.

Mendidik anak dan cucu dalam urusan agama bukanlah perkara instan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan doa yang terus dipanjatkan. Mengajak ke masjid sejak kecil adalah salah satu cara paling sederhana, namun sangat bermakna. Anak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari apa yang ia lihat dan rasakan. Ketika ia melihat orang dewasa bergegas memenuhi panggilan azan, hatinya perlahan belajar bahwa Allah Subhanahu Wata'alla adalah prioritas utama dalam hidup.

Perjalanan menuju masjid, akung berjalan di samping cucunya. Langkahnya mungkin tak lagi secepat dulu, namun niatnya tetap teguh. Di dalam hati, terselip doa-doa lirih. “Ya Allah, jadikan cucuku anak yang saleh. Tanamkan iman di hatinya. Jadikan ia hamba-Mu yang taat, yang mencintai ibadah, dan istiqamah di jalan-Mu.”

Salat Jum’at bukan sekadar kewajiban mingguan bagi kaum laki-laki muslim. Ia adalah pertemuan iman, pengingat akan kebesaran Allah, dan momentum memperbaiki diri. Duduk berdampingan di masjid, mendengarkan khotbah, lalu menunaikan salat bersama, menjadi pengalaman berharga bagi sang cucu. Mungkin ia belum sepenuhnya memahami makna setiap kata dalam khotbah, namun kebiasaan baik sedang ditanamkan. Dan benih iman itu, insyaallah, akan tumbuh seiring waktu.

Belajar beribadah sejatinya adalah belajar berproses menjadi manusia yang taat kepada Tuhannya. Tidak semua langsung sempurna. Ada kalanya malas, lupa, atau lalai. Selama lingkungan keluarga memberikan contoh dan dukungan, jalan menuju ketaatan akan selalu terbuka. Akung menyadari betul bahwa tugas orang tua dan kakek-nenek bukan hanya mencukupi kebutuhan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal akhirat.

Dalam Islam, anak saleh adalah investasi abadi. Doanya akan terus mengalir meski orang tua telah tiada. Bahkan disebutkan bahwa anak saleh kelak bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah harapan terbesar yang tersimpan dalam hati akung: semoga cucunya kelak tumbuh menjadi muslim sejati, yang menjaga salatnya, akhlaknya, dan imannya. Bukan hanya membanggakan di dunia, tetapi juga menjadi penolong di akhirat.

Usai salat Jum’at, ada rasa lega dan syukur yang mendalam. Bukan karena telah menunaikan kewajiban semata, tetapi karena Allah masih memberi kesempatan untuk membersamai generasi penerus dalam kebaikan. Momen Jum’at pertama di tahun 2026 itu menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang warisan nilai yang kita tinggalkan.

Semoga langkah kecil menuju masjid itu menjadi langkah panjang menuju surga. Semoga foto yang diabadikan bukan hanya tersimpan di galeri, tetapi juga tertanam dalam ingatan dan hati. Semoga Allah meridai setiap usaha kecil dalam mendidik anak dan cucu agar menjadi hamba-Nya yang taat, beriman, dan berakhlak mulia. Aamiin.
Cepu, 3 Januari 2026

Rabu, 31 Desember 2025

Sepincuk Nasi Pecel

Karya : Gutamining Saida 
Nasi pecel merupakan menu favorit saya. Makanan sederhana, merakyat, dan enak di lidah. Bisa dinikmati kapan saja yaitu pagi terasa cocok, siang tetap enak, sore mantap, dan malam pun masih nikmat. Dalam kesederhanaan sepincuk  nasi pecel, saya sering menemukan rasa syukur yang dalam. Ia bukan sekadar makanan, melainkan pengingat bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla tidak selalu hadir dalam kemewahan, tetapi justru dalam hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Suatu hari, saya mendengar informasi tentang nasi pecel yang sedang viral. Tempatnya tidak jauh dari rumah. Banyak yang membagikan pengalaman mereka di media sosial, lengkap dengan promosi menarik yang membuat siapa saja tergoda. Dalam hati saya berkata, “Kalau memang dekat dan ramai, tentu ada sesuatu yang istimewa.” Maka saya berusaha menyempatkan waktu untuk mencoba, bukan sendiri, melainkan bersama anak dan cucu. Bagi saya, menikmati makanan bersama keluarga adalah salah satu bentuk syukur yang nyata.

Pagi itu, kami berangkat sejak pukul 06.30 WIB. Udara masih segar, matahari belum terlalu tinggi. Sesampainya di lokasi, ternyata pembeli sudah mulai berdatangan. Antrian tampak tertib, masing-masing menunggu giliran sesuai urutan. Saya memperhatikan wajah-wajah di sekitar ada yang datang berdua, berkelompok, bahkan membawa keluarga besar. Tidak sedikit yang datang dengan wajah cerah, seolah sarapan ini bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi juga mengisi hati.

Nasi dan minuman disiapkan penjual. Pembeli memilih tempat duduk sendiri. Ada yang duduk di kursi, ada pula yang menggelar tikar kecil atau tikar besar, menyesuaikan jumlah anggota keluarga yang dibawa. Suasana terasa akrab meski banyak yang tidak saling mengenal. Inilah keindahan kebersamaan dalam hal sederhana. Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa manusia diciptakan bersuku-suku agar saling mengenal. Di tempat itu, perbedaan usia, latar belakang, dan kebiasaan seakan menyatu oleh satu hal: sepiring nasi pecel. 

Semakin siang, suasana semakin ramai. Antrian kian panjang, suara obrolan semakin terdengar, dan aroma sambal pecel yang khas terus menguar. Saya duduk bersama anak dan cucu, memperhatikan mereka menikmati makanan dengan lahap. Melihat cucu makan dengan gembira membuat hati saya hangat. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kebersamaan sederhana ini sebagai kenangan baik bagi mereka. Jadikan rezeki yang kami makan hari ini membawa keberkahan.”

Bagi saya, nasi pecel ini terasa sangat istimewa. Perpaduan nasi hangat, sayuran rebus, sambal kacang yang pas, dan pelengkap sederhana seperti tempe goreng menghadirkan rasa yang lengkap. Namun, menariknya, suami saya tidak terlalu menyukai nasi pecel. Dahulu, mungkin perbedaan selera ini terasa sepele, bahkan kadang memunculkan keinginan agar semua sama. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya belajar bahwa perbedaan adalah bagian dari warna-warni kehidupan.Dalam keluarga, tidak semua harus sama. Selera makan saja bisa berbeda, apalagi cara berpikir, kebiasaan, dan pilihan hidup. 

Islam mengajarkan kita untuk saling menghargai, saling memahami, dan tidak memaksakan kehendak. Selama tidak melanggar nilai kebaikan, perbedaan justru menjadi ladang pahala jika disikapi dengan lapang dada. Saya bersyukur, “Ya Allah, terima kasih atas pasangan hidup yang Engkau berikan. Meski tidak selalu sejalan dalam hal kecil, kami masih bisa duduk bersama dalam satu tempat, satu waktu, satu tujuan yaitu menikmati nikmat-Mu.” Bukankah itu yang terpenting?

Di tengah keramaian, saya merenung. Betapa Allah Maha Adil dalam membagi rezeki. Ada yang mampu makan di tempat sederhana ini dengan penuh kegembiraan, ada pula yang mungkin hari itu hanya bisa berharap. Makan sepincuk  nasi pecel yang saya nikmati bukan hanya soal rasa, tetapi juga amanah untuk bersyukur dan tidak berlebihan. 

Saya teringat pesan bahwa setiap suapan akan dimintai pertanggungjawaban dari mana ia diperoleh dan untuk apa tenaga yang dihasilkan darinya digunakan. Pagi itu mengajarkan saya banyak hal. Tentang kesabaran dalam antri, tentang kebersamaan tanpa sekat, tentang perbedaan selera dalam satu keluarga, dan tentang syukur atas rezeki yang sering kita anggap biasa. 

Nasi pecel yang viral itu mungkin akan berlalu dari perbincangan, tetapi makna yang saya petik darinya semoga menetap dalam hati. Kami pun pulang dengan perasaan kenyang, bukan hanya di perut, tetapi juga di jiwa. Semoga setiap kebersamaan sederhana seperti ini menjadi amal kebaikan, menjadi penguat ikatan keluarga, dan menjadi pengingat bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla hadir di mana saja bahkan di sepincuk nasi pecel yang disantap bersama orang-orang tercinta.
Cepu, 31 Desember 2025 

Selasa, 30 Desember 2025

Nikmati Pagi Di Akhir Tahun



Karya: Gutamining Saida 
Sarapan adalah awal dari sebuah hari. Ia bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan pintu pembuka untuk menjalani kehidupan dengan tenaga, pikiran jernih, dan hati yang lebih siap menerima takdir Allah. Sarapan bisa dilakukan di rumah dengan hidangan sederhana, di warung pinggir jalan dengan menu khas daerah, atau di tempat mana pun yang diinginkan, selama di dalamnya ada rasa syukur dan kebersamaan. 

Menu sarapan pun beraneka ragam, mengikuti selera, kebiasaan, dan kemampuan masing-masing keluarga. Hakikat sarapan sejatinya sama yaitu menguatkan raga agar mampu menjalankan amanah hidup. Pagi di akhir tahun 2025 itu terasa istimewa. Bukan karena hidangan yang mewah, melainkan karena kebersamaan yang Allah anugerahkan. Kami bersama anak dan cucu menikmati sarapan nasi pecel di pinggir waduk. 

Suasana yang berbeda dari biasanya. Angin pagi berhembus pelan, membawa kesejukan dan aroma alam yang masih murni. Burung-burung kecil beterbangan, air waduk tampak tenang memantulkan cahaya matahari yang baru terbit. Dalam keheningan pagi itu, hati kami terasa lapang. Nasi pecel yang kami santap adalah makanan sederhana, khas Nusantara. Sepincuk nasi hangat, sayuran rebus seperti bayam, kacang panjang, tauge,  disiram sambal kacang yang gurih dan pedasnya pas. Ditambah tempe goreng yang sederhana. Tidak ada menu mahal, tidak ada hidangan modern, tetapi justru di situlah letak kenikmatannya. 

Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa nikmat tidak selalu hadir dalam kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan yang disyukuri. Sebelum menyantap sarapan, kami membiasakan diri untuk berdoa. Anak-anak dan cucu-cucu menengadahkan tangan kecil mereka, menirukan doa yang kami ucapkan. “Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina ‘adzaban nar.” Doa yang sederhana, tetapi sarat makna. Kami memohon keberkahan atas rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan dan perlindungan dari siksa-Nya. 

Di momen itu, hati terasa tersentuh. Betapa besar amanah mendidik generasi agar selalu mengingat Allah, bahkan dalam perkara makan dan minum. Sarapan di pinggir waduk memberi pelajaran kehidupan. Air yang tenang mengingatkan kami bahwa hidup tidak selalu bergelombang. Ada masa-masa damai yang patut disyukuri. Anak-anak bercanda ringan, cucu-cucu tertawa polos, saling berbagi lauk dan cerita. Tidak ada gawai yang mendominasi, tidak ada kesibukan dunia yang mengganggu. Hanya kebersamaan dan rasa cukup. 

Dalam Islam, kebersamaan keluarga adalah nikmat besar yang sering terlupakan. Padahal Rasulullah  mencontohkan kehidupan keluarga yang hangat, penuh kasih sayang, dan saling menghargai. Akhir tahun sering kali menjadi waktu untuk merenung. Sarapan pagi itu pun berubah menjadi momen muhasabah. Kami menyadari bahwa sepanjang tahun 2025, Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan begitu banyak nikmat yaitu kesehatan, kesempatan berkumpul, rezeki yang cukup, serta perlindungan dalam berbagai keadaan. Mungkin tidak semua keinginan tercapai, tetapi Allah selalu memberikan apa yang kami butuhkan. 

Sarapan sederhana ini seakan menjadi simbol bahwa hidup tidak harus selalu mengejar lebih, melainkan belajar menerima dan mensyukuri yang ada. Anak-anak mendengarkan cerita ringan tentang masa lalu, ketika sarapan di pagi hari sering kali dilakukan dengan menu yang jauh lebih sederhana. Nasi dengan lauk seadanya, bahkan terkadang hanya dengan sambal dan sayur. 

Kebahagiaan tetap hadir karena hati orang-orang saat itu lebih dekat kepada Allah. Kami berharap cerita-cerita ini menjadi pelajaran bagi cucu-cucu, agar kelak mereka tidak mudah mengeluh dan selalu mensyukuri nikmat sekecil apa pun. Dalam Islam, makan bersama dianjurkan karena membawa keberkahan. Rasulullah bersabda bahwa makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu akan membawa berkah. Sarapan di pinggir waduk itu kami rasakan benar keberkahannya. Makanan terasa lebih nikmat, obrolan mengalir hangat, dan hati dipenuhi rasa tenteram. Tidak ada yang terburu-buru, seolah waktu pun melambat untuk memberi ruang bagi rasa syukur.

Setelah sarapan, kami duduk sejenak memandangi air waduk. Beberapa cucu bertanya tentang ikan, tentang alam, tentang ciptaan Allah yang begitu luas. Pertanyaan-pertanyaan polos itu menjadi pengingat bahwa tugas orang tua dan kakek-nenek bukan hanya memberi makan, tetapi juga menanamkan tauhid dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Alam sekitar adalah ayat-ayat Allah yang terbentang, mengajak manusia untuk berpikir dan bersyukur.

Sarapan pagi di akhir tahun 2025 itu akhirnya kami tutup dengan senyum dan doa. Kami memohon agar Allah mempertemukan kami kembali di hari-hari berikutnya dalam keadaan sehat dan penuh iman. Kami sadar, tidak ada jaminan usia, tidak ada kepastian esok hari. Selama masih diberi kesempatan untuk berkumpul, menikmati sarapan sederhana bersama keluarga, itulah nikmat besar yang tidak boleh diabaikan.

Sarapan bukan sekadar makan pagi. Ia adalah ibadah jika diawali dengan niat yang baik, doa, dan rasa syukur. Di pinggir waduk, dengan nasi pecel sederhana, kami belajar bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika hati dekat dengan Allah dan keluarga menjadi tempat bertumbuhnya cinta, iman, dan rasa cukup. Semoga sarapan-sarapan sederhana seperti itu terus menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah, dimulai dari pagi hari yang penuh syukur.
Cepu, 31 Desember 2025 

Senin, 29 Desember 2025

Rahasia Allah

Karya : Gutamining Saida 
Setelah pulang dari jama’ah subuh, kebiasaan yang sering saya lakukan, saya mengaktifkan handphone. Waktu subuh selalu terasa istimewa yaitu udara masih sejuk, hati relatif lebih tenang, dan pikiran belum terlalu dipenuhi hiruk-pikuk urusan dunia. Biasanya saya hanya sekadar mengecek pesan, barangkali ada kabar penting dari keluarga atau kerabat dekat. 

Tidak saya sangka, pagi itu justru datang sebuah kabar yang begitu mengejutkan dan mengaduk perasaan.
Sebuah pesan masuk dari Pak Mansur. Singkat, padat, serta  sarat makna duka. “Assalamualaikum. Lek Ning lahiran dan bayinya meninggal.” Membaca pesan itu, saya terdiam cukup lama. Mata saya kembali membaca kalimat yang sama, seolah berharap ada kesalahan penulisan atau salah kirim pesan. Hati saya diliputi kebingungan. Selama ini saya tidak pernah mendengar kabar bahwa Lek Ning sedang hamil. Sekitar sebulan lalu kami sempat bertemu, berbincang seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda hamil atau cerita tentang kehamilan.
Dalam kondisi masih terbengong-bengong, saya menekan tombol panggilan. Saya ingin mendengar langsung penjelasan dari Pak Mansur, agar tidak salah paham. Alhamdulillah, panggilan saya langsung diterima. Suaranya terdengar jelas meski berada di seberang jauh.
“Lek Ning siapa, Pak?” tanya saya singkat, karena benar-benar belum mengaitkan kabar itu dengan siapa pun dalam ingatan saya.
“Lek Ning saudara sendiri, Bu,” jawab beliau dengan nada yakin.
Saya masih belum sepenuhnya mengerti. “Lho, memang hamil?” tanya saya lagi, spontan dan jujur.
Pak Mansur menjawab ringan namun tegas, “Ya iyalah, melahirkan ya hamil.”
Jawaban itu justru membuat saya semakin terdiam. Ada rasa kaget, sedih. Kehidupan memang sering kali menyimpan kejutan yang tak pernah kita duga. Saya hanya mampu mengucap, “Oh ya, terima kasih infonya, Pak.” Setelah itu pembicaraan kami akhiri dengan salam.

Handphone saya letakkan kembali. Saya duduk memandangi pagi yang mulai terang. Pikiran saya melayang pada peristiwa yang baru saja saya dengar. Seorang bayi yang baru saja hadir ke dunia, namun tak sempat merasakan hangatnya pelukan ibu, tak sempat melihat wajah ayahnya, bahkan tak sempat menangis lama di dunia. Ia datang hanya sebentar, lalu kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Di situlah hati saya mulai belajar satu hal penting bahwa usia manusia adalah rahasia Allah Subhanahu Wata'alla. 

Tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan hidupnya dimulai dan kapan hidupnya diakhiri. Ada yang meninggal di dalam kandungan, tanpa sempat melihat dunia. Ada yang baru lahir, hanya sebentar menghirup udara dunia, lalu kembali ke hadirat-Nya. Ada pula yang hidup panjang umur, melewati berbagai fase kehidupan, sehat, sakit, susah, senang, silih berganti.
Ada orang yang terlihat sehat, bugar, tidak pernah mengeluh sakit, namun Allah Subhanahu Wata'alla memanggilnya lebih dahulu. Sebaliknya, ada yang bertahun-tahun terbaring sakit, keluar masuk rumah sakit, namun Allah Subhanahu Wata'alla masih memberinya kesempatan hidup lebih lama. 

Semua itu bukan kebetulan, bukan pula semata-mata karena ikhtiar manusia, melainkan karena kehendak dan ketetapan Allah Subhanahu Wata'alla semata.
Peristiwa ini menjadi pengingat yang sangat kuat bagi saya. Betapa sering kita merasa hidup masih panjang, merasa aman dengan rencana-rencana dunia, menunda amal, menunda kebaikan, bahkan menunda taubat. Padahal, tidak ada satu pun jaminan bahwa esok hari kita masih diberi kesempatan bernafas. Bahkan bayi yang belum berdosa pun bisa dipanggil kapan saja, apalagi manusia dewasa yang penuh dengan khilaf dan kesalahan.

Saya teringat sebuah hadits bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah, sementara akhirat adalah tempat tinggal yang sesungguhnya. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal. Bagi seorang bayi yang meninggal, ia adalah titipan Allah Subhanahu Wata'alla yang suci. Ia tidak membawa dosa, bahkan kelak bisa menjadi penolong bagi orang tuanya di akhirat, dengan izin Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya pun mendoakan Lek Ning dan keluarganya. Semoga diberi kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan iman. Tidak mudah menerima kenyataan kehilangan, apalagi kehilangan seorang bayi yang mungkin telah lama dinanti.  Dalam Islam, setiap musibah selalu mengandung hikmah, meski sering kali hikmah itu baru terasa setelah waktu berlalu.

Setelah cukup lama, saya mengangkat tangan dan berdoa. Saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup, diberi kesehatan, dan diberi waktu untuk memperbaiki diri. Saya memohon agar Allah Subhanahu Wata'alla tidak mencabut nyawa saya kecuali dalam keadaan husnul khatimah. Peristiwa ini mengajarkan saya untuk tidak sombong dengan umur, tidak lalai dengan waktu, dan senantiasa mengingat bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam genggaman Allah Subhanahu Wata'alla.

Begitulah rahasia dan kehendak Allah. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menebaknya. Tugas kita hanyalah menjalani hidup dengan penuh iman, sabar, dan syukur, serta mempersiapkan bekal terbaik untuk perjalanan pulang menuju-Nya.
Cepu, 29 Desember 2025 

Minggu, 28 Desember 2025

Menjelang Akhir Tahun




Karya: Gutamining Saida

Akhir tahun selalu datang dengan cara yang tenang, namun mengetuk hati paling dalam. Tidak ada suara gaduh, tidak ada perayaan yang benar-benar mampu menandingi suara batin yang tiba-tiba bertanya, “Sudah sejauh mana aku berjalan menuju Allah?” Di antara pergantian angka kalender, ada jeda yang seharusnya kita gunakan untuk merenung, bermuhasabah, dan menata kembali arah hidup. Bukan untuk menyesali masa lalu semata, tetapi untuk memperbaiki langkah agar tahun depan menjadi lebih bermakna di hadapan-Nya.

Beberapa hari menjelang akhir tahun aku memilih berjalan pelan menuju makam. Bukan karena sedang berduka, melainkan karena rindu yang tak pernah benar-benar usai. Makam orang tua dan sanak saudara menjadi tujuan langkah kaki. Tempat ini bukan sekadar hamparan tanah dan batu nisan, tetapi ruang pengingat paling jujur tentang hakikat kehidupan. Di sinilah dunia seakan kehilangan daya tariknya, dan segala yang tampak besar berubah menjadi kecil.

Saat melangkah di antara makam-makam, aku menyadari satu hal yaitu semua yang pernah hidup di dunia ini memiliki cerita. Mereka pernah tertawa, menangis, berharap, kecewa, dan berjuang. Ada yang pernah memiliki harta berlimpah, jabatan tinggi, rumah megah, dan nama yang disegani. Kini, semuanya sama. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Semua berbaring dalam sunyi, menunggu hari kebangkitan.

Aku duduk bersimpuh, menundukkan kepala, dan melantunkan doa. Bukan hanya untuk mereka yang telah mendahului, tetapi juga untuk diriku sendiri. Di tempat seperti ini, manusia diajak jujur kepada dirinya. Tidak ada topeng, tidak ada pencitraan, dan tidak ada pujian manusia yang bisa diharapkan. Semua amal, baik yang terlihat maupun tersembunyi, akan diperhitungkan di hadapan Allah.

Sering kali dalam hidup, kita terlalu berharap kepada manusia. Kita bekerja keras ingin dipuji, berbuat baik agar dikenang, beribadah supaya dianggap saleh. Padahal, berharap kepada manusia sering berujung kecewa, penyesalan, dan luka hati. Manusia memiliki keterbatasan. Pujian bisa berubah menjadi celaan, penghargaan bisa berganti dengan pengabaian. Hanya Allah yang Maha Setia menerima amal hamba-Nya, sekecil apa pun, selama dilakukan dengan ikhlas.

Di depan makam orang tua, ingatan masa kecil kembali hadir. Nasihat sederhana mereka dahulu kini terasa sangat dalam maknanya. Tentang hidup yang tidak boleh sombong, tentang rezeki yang harus disyukuri, dan tentang ibadah yang harus dijaga. Orang tua telah pergi, anak-anak pun suatu hari akan memiliki jalan hidupnya sendiri. Mereka tidak akan membersamai kita di alam kubur. Tidak ada yang bisa menggantikan amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia.

Harta yang selama ini kita kejar dengan penuh ambisi tidak akan ikut terbawa. Jabatan yang dibanggakan akan kita tinggalkan. Rumah megah yang menjadi simbol keberhasilan duniawi akan diganti dengan rumah yang sangat sederhana, bahkan mungkin hanya berukuran dua kali satu. Di sanalah kita tinggal sendiri, tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa sorotan manusia. Yang menemani hanyalah amal baik atau sebaliknya, penyesalan yang tiada guna.

Ziarah kubur mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan akan kembali tanpa membawa apa pun. Yang membedakan hanyalah bekal amal. Salat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, doa yang tulus, sabar dalam ujian, serta kebaikan yang dilakukan tanpa berharap balasan manusia. Semua itulah yang kelak menjadi cahaya di alam kubur.

Akhir tahun bukan tentang pesta atau perayaan berlebihan.  Merupakan undangan dari Allah agar kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan melihat ke depan dengan lebih jernih. Sudahkah ibadah kita meningkat? Sudahkah amal kita lebih banyak daripada kelalaian? Sudahkah niat kita lurus hanya untuk Allah semata?

Dalam doa yang lirih, terucap harapan sederhana namun sangat besar maknanya. Semoga Allah memberi kesempatan untuk memperbaiki diri di tahun mendatang. Semoga setiap langkah hidup diarahkan untuk mencari ridho-Nya, bukan sekadar pujian manusia. Semoga ketika waktu kembali itu tiba, kita dipanggil dalam keadaan husnul khotimah, dengan hati yang tenang dan wajah yang berseri.

Makam menjadi saksi bahwa kehidupan dunia akan berakhir. Di sanalah pula tumbuh harapan. Harapan agar kita menjadi hamba yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah. Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan bagaimana kita pulang kepada Sang Pencipta dengan membawa amal terbaik dan ridho-Nya.

Cepu, 29 Desember 2025

Sabtu, 27 Desember 2025

Makam, Rumah Sakit dan Silaturahim

Karya : Gutamining Saida 
Minggu tanggal 28 Desember 2025 menjadi hari yang sangat bermakna dalam perjalanan hidup saya. Dalam satu hari, Allah Subhanahu Wata'alla memperlihatkan begitu banyak pelajaran kehidupan melalui tiga tempat yang berbeda, namun saling melengkapi maknanya. Tempat-tempat itu adalah makam, rumah sakit, dan pertemuan silaturahmi keluarga besar di Kudus. Ketiganya seakan menjadi ruang belajar kehidupan yang nyata, tanpa perlu banyak teori, namun langsung menyentuh hati.

Pelajaran pertama saya dapatkan di makam. Di tempat itulah kesadaran tentang kefanaan hidup terasa begitu kuat. Makam adalah sekolah kejujuran paling sunyi. Tidak ada suara tepuk tangan, tidak ada pujian, dan tidak ada pengakuan manusia. Semua yang pernah hidup di dunia, baik kaya maupun miskin, terpandang atau biasa saja, akhirnya berakhir di tempat yang sama. Di sana, manusia diajak jujur pada dirinya sendiri tentang hakikat hidup yang sesungguhnya.

Di hadapan makam, saya merenung bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Jabatan yang pernah dibanggakan akan ditinggalkan, harta yang dikumpulkan tidak ikut terbawa, dan keluarga yang dicintai tidak bisa membersamai hingga ke liang lahat. Yang setia menemani hanyalah amal perbuatan. Makam mengajarkan bahwa sebaik-baik bekal adalah iman dan amal saleh. Dari makam, saya belajar untuk tidak berlebihan mencintai dunia dan tidak lalai dalam menyiapkan bekal akhirat.

Pelajaran kedua saya dapatkan di rumah sakit. Tempat ini mengajarkan satu hal yang sering kali terlupakan saat tubuh dalam keadaan sehat, yaitu bahwa kesehatan adalah nikmat yang sangat mahal harganya. Di rumah sakit, saya melihat banyak manusia yang diuji dengan sakit. Ada yang terbaring lemah, ada yang hanya bisa terdiam, dan ada pula yang berjuang melawan rasa sakit dengan penuh kesabaran.

Dari rumah sakit, saya belajar bahwa ketika sehat, manusia sering lupa bersyukur. Waktu terasa cepat berlalu tanpa makna, ibadah sering ditunda, dan kesempatan berbuat baik disia-siakan. Padahal, saat sakit datang, semua terasa begitu berharga. Gerak tubuh yang sederhana, napas yang lega, dan rasa nyaman menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.

Kesehatan bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk digunakan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Sehat adalah kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah, memperluas amal kebaikan, dan bersedekah baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Di rumah sakit, saya menyadari bahwa sedekah bukan hanya soal materi, tetapi juga senyum, doa, dan perhatian kepada sesama. Bahkan kehadiran yang tulus pun bisa menjadi sedekah yang bernilai di sisi Allah.

Pelajaran ketiga saya peroleh dari silaturahmi keluarga besar di Kudus. Di tengah pertemuan itu, saya merasakan kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Silaturahmi mengajarkan tentang saling memahami, saling menghargai, dan menerima perbedaan dengan lapang dada. Setiap anggota keluarga datang dengan latar belakang, pengalaman, dan perjalanan hidup yang berbeda, namun disatukan oleh ikatan darah dan iman.

Dalam silaturahmi, saya belajar bahwa kebersamaan bukan berarti selalu sepakat, tetapi mampu saling menghormati. Ada canda, ada cerita, ada perbedaan pendapat, namun semuanya dibingkai dengan niat baik dan rasa kekeluargaan. Silaturahmi menjadi ruang untuk saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Pertemuan keluarga juga memberikan dampak yang besar dalam kehidupan. Ia mempererat hubungan yang mungkin mulai renggang karena jarak dan kesibukan. Ia melunakkan hati yang sempat keras oleh ego. Ia menghidupkan kembali kenangan indah yang menjadi sumber kekuatan. Silaturahmi menjadikan hati lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih tenang.

Dari makam, rumah sakit, dan silaturahmi, saya menyadari bahwa kehidupan adalah rangkaian pelajaran yang Allah hadirkan melalui berbagai peristiwa. Tidak semua pelajaran datang dari kebahagiaan. Sebagian justru hadir melalui kesunyian, sakit, dan perenungan. Namun semua itu mengandung hikmah bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran.

Saya belajar bahwa hidup harus dijalani dengan penuh kesadaran. Kesadaran bahwa waktu terbatas, kesehatan tidak selalu ada, dan keluarga adalah amanah yang harus dijaga. Saya belajar untuk lebih banyak bersyukur, memperbaiki niat, dan meningkatkan amal.

Semoga pelajaran hari ini tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi menjadi perubahan nyata dalam kehidupan. Semoga Allah menuntun langkah untuk memanfaatkan sehat sebelum sakit, hidup sebelum mati, dan kesempatan sebelum penyesalan. Semoga kita semua kelak dipertemukan kembali dalam keadaan husnul khotimah, membawa bekal amal terbaik dan hati yang ridho kepada ketetapan-Nya.
Cepu, 28 Desember 2025 

Dari Makam ke Makam


Karya : Gutamining Saida 

Sejak saya memiliki anak dan sekarang cucu-cucu masih kecil. Saya berusaha mengenalkan mereka pada satu kenyataan hidup yang sering dihindari banyak orang yaitu tentang makam. Bukan untuk menakut-nakuti, apalagi menanamkan rasa takut yang berlebihan, tetapi untuk mengenalkan kebenaran bahwa hidup di dunia ini tidaklah abadi. 

Ada awal, ada akhir, dan ada perjalanan panjang setelahnya menuju akhirat. Banyak orang dewasa masih enggan membicarakan kematian, seolah dengan menghindarinya hidup akan terasa lebih panjang. Padahal, mengenalkan kematian sejak dini justru dapat menumbuhkan iman, kesadaran, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, saya memilih jalan tersebut. 

Dengan bahasa yang sederhana, lembut, dan penuh kasih, saya mulai menjelaskan kepada anak dan cucu apa itu makam. Saya sampaikan kepada mereka bahwa makam adalah tempat peristirahatan terakhir manusia di dunia. Di sanalah jasad dikembalikan ke tanah, sebagaimana Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dari tanah dan akan mengembalikannya kembali ke tanah.  Saya juga menekankan bahwa yang kembali menghadap Allah Subhanahu Wata'alla bukan hanya jasad, melainkan ruh yang akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan selama hidup di dunia.

Tidak cukup hanya dengan penjelasan lisan, saya mengajak mereka datang langsung ke lokasi makam. Kami berjalan bersama dengan langkah pelan dan penuh adab. Saya ajarkan kepada mereka untuk menjaga sikap, menundukkan suara, serta tidak berlarian. Saya ingin sejak kecil mereka memahami bahwa makam adalah tempat yang mulia, tempat perenungan, bukan tempat bermain.

Di depan makam orang tua, nenek, kakek, serta saudara-saudara kakek dan nenek yang telah meninggal dunia, saya mengenalkan satu per satu. Saya sebutkan nama mereka, silsilah keluarga, dan sedikit cerita tentang kebaikan yang pernah mereka lakukan semasa hidup. Walaupun mereka sudah tiada di dunia, saya ingin anak dan cucu tetap mengenali, menghormati, dan mendoakan mereka.

“Ini makam ayut,” saya katakan dengan suara pelan. “Beliau dulu bekerja keras, menyayangi keluarga, dan berusaha menjalankan perintah Allah Subhanahu Wata'alla.” Cucu-cucu mendengarkan dengan penuh perhatian. Wajah mereka polos, tanpa rasa takut. Yang terlihat justru rasa ingin tahu dan penghormatan. Dari situ saya semakin yakin bahwa mengenalkan makam sejak kecil bukanlah hal yang keliru, selama dilakukan dengan niat baik dan cara yang benar.

Saya ajarkan mereka untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal. Doa yang sederhana, pendek, namun penuh makna. Saya ingin mereka memahami bahwa kasih sayang tidak terputus oleh kematian. Doa adalah jembatan antara yang hidup dan yang telah tiada. Dengan doa, anak-anak belajar empati, cinta, dan kepedulian kepada keluarga yang telah mendahului.

Di sela ziarah, saya juga menanamkan iman tentang adanya hari akhir. Bahwa kehidupan tidak berhenti di dunia saja. Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Suatu hari nanti, setiap manusia akan menuju tempat tinggal terakhirnya di alam kubur. Makam adalah rumah masa depan manusia sebelum menuju kehidupan akhirat dan bertemu dengan Tuhannya.

Saya jelaskan kepada mereka bahwa di alam kubur tidak ada mainan, tidak ada harta, tidak ada jabatan, dan tidak ada kemewahan. Yang menemani hanyalah amal perbuatan. Salat yang dikerjakan dengan ikhlas, kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih, kejujuran, kesabaran, serta sikap hormat kepada orang tua dan sesama manusia.

Dengan cara tersebut, saya ingin anak dan cucu memahami bahwa berbuat baik bukan sekadar karena disuruh atau takut dimarahi, melainkan karena sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla. Makam mengajarkan kejujuran hidup. Di sanalah tidak ada yang bisa disembunyikan, tidak ada yang bisa dipamerkan, dan tidak ada yang bisa dipalsukan.

Saya berharap, sejak kecil mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang bermain, memiliki, dan menikmati dunia. Hidup adalah amanah. Setiap hari adalah kesempatan untuk menanam kebaikan sebagai bekal di akhirat. Makam menjadi pengingat paling nyata bahwa dunia ini fana dan akan ditinggalkan.

Selesai berziarah, saya selalu mengajak mereka berbincang dengan lembut. Saya katakan bahwa selama masih diberi umur, mari kita perbanyak amal baik. Berbakti kepada orang tua, menyayangi saudara, membantu sesama, dan menjaga ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena kesempatan hidup adalah nikmat yang sangat berharga.

Ketika kelak anak dan cucu telah dewasa, ingatan tentang makam tidak menjadi sesuatu yang menakutkan, tetapi menjadi pengingat yang menenangkan. Pengingat agar mereka tidak sombong ketika berhasil, tidak putus asa ketika gagal, dan selalu ingat bahwa tujuan akhir kehidupan adalah kembali kepada Allah.

Mengenalkan makam sejak kecil adalah bagian dari pendidikan iman yang sederhana. Serta menanamkan keyakinan tentang adanya hari akhir dan kesadaran bahwa setiap manusia akan menempati rumah terakhirnya di alam kubur. Semoga anak dan cucu tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi kehidupan dengan bekal amal saleh. Dan semoga kelak, ketika tiba saatnya kembali, mereka dipanggil oleh Allah dalam keadaan husnul khotimah, menuju kehidupan abadi dengan ridho-Nya.
Cepu, 28 Desember 2025