gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Minggu, 06 April 2025
Nikmat Pertemuan Singkat
Sabtu, 05 April 2025
Teguran Cinta Dari Allah
Karya: Gutamining Saida
Delapan bulan lalu, saya diuji
oleh Allah Subhanahu Wata’alla dengan rasa sakit yang tak terduga. Tubuh terasa
lemah, ada bagian yang seolah tak bisa lagi diajak kompromi. Awalnya saya
merasa cemas dan khawatir. Sejumlah dugaan dan rasa sakit mulai membayangi
pikiran. Namun justru dari titik itulah, saya kembali bersimpuh dalam
keheningan malam. Saya mencari, mendekat, berlari kepada Allah Subhanahu
Wata’alla yang selama ini mungkin telah saya abaikan dalam hiruk-pikuk dunia.
Sakit ini bukan hanya menyentuh
fisik, tapi juga hati. Setiap kali rasa nyeri, panas itu datang, saya menangis.
Tapi tangisan itu bukan semata karena rasa sakitnya, melainkan karena saya
sadar. Saya telah terlalu lama lalai. Saya telah terlalu jauh dari Allah
Subhanahu Wata’alla . Padahal hanya kepada-Nya saya bergantung hidup.
Di sepertiga malam, saya mulai
membangun kembali hubungan yang dulu sempat renggang. Saya duduk dalam gelap,
bersujud dengan hati yang penuh luka. Lisan yang tak berhenti memohon. Saya
menangis, bukan hanya karena sakit yang menyesakkan. Tapi karena saya merasa
begitu hina telah melupakan Allah
Subhanahu Wata’alla yang selama ini menjaga saya tanpa pamrih.
"Ya Allah... maafkan saya.
Saya kembali pada-Mu. Saya tidak kuat tanpa pertolongan-Mu..."
Itulah kalimat yang sering saya
bisikkan di sela-sela sujud panjang. Malam-malam tak lagi sepi, karena kini
penuh tangisan dan curahan hati. Saya menceritakan segalanya kepada-Nya.
Tentang lelah, kesakitan, penyesalan, dan keinginan saya untuk sembuh yaitu bukan
hanya secara jasmani, tetapi juga ruhani.
Ajaibnya, semakin saya dekat
kepada-Nya, semakin ringan pula sakit yang saya rasakan. Saya mulai bisa tidur
lebih nyenyak. Nafas terasa lebih lega. Hati jauh lebih tenang. Sakit itu
perlahan-lahan mereda, dan bahkan nyaris hilang.
Saya tahu itu bukan semata karena
obat dan terapi. Itu karena Allah Subhanahu Wata’alla mendengarkan saya. Itu
karena Allah Subhanahu Wata’alla menjawab jerit hati saya. Seperti manusia pada
umumnya, saat rasa sakit itu perlahan menghilang, saya mulai sibuk kembali
dengan rutinitas. Saya lupa bagaimana rasanya menangis dalam sujud. Saya mulai
jarang curhat kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Saya kembali lalai, padahal
saya telah merasakan betapa indahnya saat hati begitu dekat dengan-Nya.
Seperti sebuah tamparan kasih
sayang dari Allah Subhanahu Wata’alla rasa sakit itu datang lagi. Kali ini,
berbeda tempat di bagian tubuh yang laim. Rasa sakitknya sama. Saya kembali
merasa tersayat. Saya merasa seperti ditarik lagi ke tempat semula, tempat di
mana saya benar-benar merasa membutuhkan Allah Subhanahu Wata’alla.
Awalnya saya bertanya,
"Kenapa lagi, Ya Allah?"
Kemudian hatiku menjawab,
"Karena engkau mulai menjauh lagi,"
Tersentak, saya kembali menangis.
Bukan karena rasa sakit yang baru saja datang, tapi karena saya sadar, Allah Subhanahu
Wata’alla masih sayang kepada saya. Allah Subhanahu Wata’alla tidak membiarkan
saya terlalu lama larut dalam kesibukan yang menjauhkan diri dari-Nya. Allah
Subhanahu Wata’alla memberiku teguran, sebuah sentilan lembut namun sangat
berarti yaitu melalui rasa sakit.
Seketika, saya merasa begitu
dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’alla. Sakit ini bukan kutukan. Ini adalah
jalan untuk kembali. Sebuah undangan agar saya datang lagi ke pelukan Allah
Subhanahu Wata’alla.
Saya mencoba untuk tidak lagi
lalai. Saya menyadari bahwa sehat ataupun sakit, lapang ataupun sempit, saya
harus tetap dekat kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Bukan hanya saat butuh,
bukan hanya saat tubuh lemah dan hati goyah. Tapi juga saat bahagia, saat
segalanya tampak baik-baik saja.
Teguran Allah Subhanahu Wata’alla
melalui sakit membuat saya lebih peka terhadap betapa rapuhnya saya tanpa
pertolongan-Nya. Saya belajar bahwa kesehatan bukan hanya anugerah, tapi juga
pengingat agar saya tak pernah menyombongkan diri. Bahwa sakit bukan hukuman,
melainkan panggilan kasih yang penuh cinta.
Kini di setiap sujud menjadi
lebih bermakna. Setiap sakit yang datang, saya syukuri. Karena hal ini menjadi
jalan untuk saya kembali kepada yang Maha Penyayang. Selama saya terus
melangkah mendekat kepada-Nya, saya tak akan pernah benar-benar sendiri.
Cepu, 6 April 2025
Jumat, 04 April 2025
Zaskia Nisa Al Fathur
Zain Hamzah Al Fathur
Elmerra Yukika Al Fathur
Temu Keluarga Besar
Lebaran hari kedua selalu menjadi
momen istimewa bagi keluarga besar dari pihak bapak saya. Tahun 2025, reuni
keluarga berlangsung di rumah Pak dhe Dali di Genjit. Sebuah rumah sederhana di
pedesaan yang tetap menjadi saksi kebersamaan keluarga kami tahun ini . Dari
lima bersaudara, kini hanya tersisa tiga, yaitu pak Dhe Pandi, pak Dhe Dali dan
bulik Ti. Meskipun begitu, semangat berkumpul tidak pernah luntur.
Kami berangkat bersama suami dan
dua anak dari rumah. Jalanan menuju
Genjit cukup lengang, hanya beberapa kendaraan yang melintas. Begitu tiba,
suasana pedesaan yang asri langsung menyapa. Udara segar, pohon-pohon rindang
dan rumah-rumah khas desa menambah kehangatan pertemuan kali ini.
Begitu masuk ke halaman rumah Pak
dhe Dali, beberapa saudara sudah berkumpul. Para laki-laki duduk lesehan di
serambi rumah, berbincang santai sambil menikmati hidangan kecil. Sementara
itu, kaum perempuan berkumpul di ruang dalam, bercengkerama dengan hangat.
Anak-anak berlarian di halaman, tertawa ceria tanpa beban.
Hidangan khas sudah tersaji di
atas tikar. Berbagai makanan kecil seperti kue kering, keripik ketela, kacang
dan buah pisang tersusun rapi. Yang paling khas dan selalu dinantikan adalah
tape ketan hitam dan jadah ketan hitam, hidangan spesial yang hanya bisa kami
temui di rumah Pak dhe Dali. Aroma khasnya langsung menggoda selera,
mengingatkan pada tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Menjelang siang, makanan berat
mulai dihidangkan. Nasi jagung lengkap dengan sayur dan lauk-pauk menjadi
pilihan bagi yang ingin merasakan cita rasa pedesaan yang autentik. Selain itu,
ada juga nasi putih dengan opor ayam yang gurih, oseng-oseng sayur, mie goreng
dan kerupuk sebagai pelengkap. Tak ketinggalan, es dingin yang menyegarkan
tenggorokan di tengah teriknya siang berwarna pink.
Kami duduk memenuhi tikar,
menikmati makanan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar tawa pecah karena
cerita-cerita lama yang diulang kembali. Nostalgia tentang masa kecil,
kenakalan saat masih kecil, hingga kisah perjuangan orang tua menjadi topik
yang tidak pernah habis dibahas.
Uang arisan sudah terkumpul,
bendahara mengumumkan perolehan uang dan tahun yang akan datang bertempat di
keluarga pak dhe Pandi. Menurut rencana akan dilangsungkan di rumah anaknya
yang di Baureno. Sumbangan uang musala juga diumumkan.
Salah satu momen yang selalu
ditunggu adalah sesi foto keluarga. Masing-masing keluarga berpose,
mengabadikan kebersamaan yang hanya terjadi setahun sekali. Keluarga Pak dhe
Yadi menjadi pusat perhatian karena memiliki anggota terbanyak. Saat sesi foto
berlangsung, berbagai komentar dan canda tawa pun bermunculan, membuat suasana
semakin riuh dan penuh kehangatan.
"Waaah, keluarga Pak dhe
Yadi ini kalau kumpul, bisa buat satu RT sendiri," canda salah satu
saudara yang langsung disambut tawa lepas.
"Anak, cucu, cicit tambah
besar semua, tahun depan pasti tambah ramai lagi!" tambah yang lain.
Setelah sesi foto selesai, kami
kembali berbincang. Anak-anak mulai bermain di halaman, beberapa orang tua
menikmati sisa hidangan sambil berbagi cerita. Tak terasa, waktu semakin siang
dan satu per satu mulai berpamitan. Meski hanya bertemu sebentar, kebersamaan
ini menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat kembali.
Setelah selesai. Kami bersama
melaksanakan salat dhuhur di musala. Saat perjalanan pulang, saya tersenyum
sendiri mengingat riuh rendah suasana tadi. Meskipun hanya setahun sekali,
reuni ini selalu membawa kebahagiaan yang tak tergantikan. Dan tentu saja, saya
sudah tidak sabar menantikan pertemuan tahun depan dengan kehangatan yang sama.
Cepu, 4 April 2025
Kamis, 03 April 2025
Tukar Snak
Acara tukar snack yang tanpa direncanakan
secara matang sebelumnya akhirnya tiba. Pagi sebelum berangkat, di grup WhatsApp, mbak Fatim mengajak
tukar snak. Setiap orang harus membawa snack dengan huruf awal sesuai inisial
nama dan sejumlah peserta reoni kelas “D”. Seperti biasa, tidak semua orang
benar-benar membaca pengumuman dengan saksama. Bahkan ada juga yang tidak
membacanya sama sekali.
Saya, Mbak Fatim dan Mbak Endah
sudah berkumpul di tempat acara. Kami memperhatikan satu per satu teman-teman
yang datang. Mereka membawa kresek berisi snack dengan beragam merek. Tiba-tiba
mata kami tertuju pada dua orang teman
yang datang sudah duduk-duduk tanpa membawa apa pun. Spontan, kami saling
berpandangan dan tersenyum. Mbak Fatim, yang memang terkenal ceplas-ceplos,
langsung nyeletuk, “Loh, kresek kamu mana, kamu bawa apa, nggak bawa apa-apa?”
Teman kami yang datang tanpa
snack hanya bisa tersenyum kaku. “Aku nggak nemu, nama aku huruf Z,” katanya
sambil mengeluarkan ponselnya. “Aku cari di HP juga nggak ada yang cocok.”
Kami bertiga langsung tertawa.
Memang, mencari snack dengan huruf Z tidaklah mudah. Tentu saja ada alternatif
lain.
“Kamu mana, Pri? Huruf S gampang,
banyak,” ujar Mbak Fatim tanpa henti sambil tetap tertawa.
Teman kami hanya diam, mungkin
kebingungan atau mungkin merasa sedikit bersalah karena tidak membawa snack.
Melihat situasi ini, Mbak Endah mencoba membantu mencari solusi.
“Kalau susah cari Z, permen juga
bisa. Permen “ZINGY” Atau kalau benar-benar nggak ada, ya cari yang huruf A.
Contohnya Astor,” katanya dengan nada menenangkan.
Kami semua mengangguk setuju.
Namun, masalahnya teman kami ini tidak membawa snack sama sekali, jadi harus
segera membeli sebelum acara dimulai. Dengan sedikit bercanda, Mbak Fatim
berkata, “Kalau nggak sanggup cari, saya aja yang belikan. Nanti uangnya ganti
ya.”
Teman kami yang baru datang, namanya mbak Harti, menaruh kresek snak di pojok. Karena kreseknya tampak
kecil. Mbak Fatim langsung menanya, “Kresekmu kok kecil bawa apa?
“Aku bawa dua.” Jawab mbak Harti
dengan tenang
Kami bertiga tertawa. Mbak Harti
semakin binggung. Kemudian melangkah mengambil kreseknya mengeluarkan serta
menunjukkan kotak kadonya pada kami. Kami pun tertawa kembali. ”Memangnya
kenapa, ada yang kliru?” Tanya mbak Harti tanpa ekspresi. Dia tampak semakin
binggung.
“Harusnya kamu membawa kado ini
sejumlah 13.”ujar Mbak Fatim.
“Oooooh, baru paham sekarang.”
Kami tertawa kembali. Akhirnya,
setelah sedikit diskusi mbak Harti ditemani mbak Fatim keluar untuk membeli di
toko terdekat. Teman lain setuju untuk pergi membeli snack. Kami pun
menyuruhnya berangkat berdua dengan teman lain agar lebih cepat. Selagi mereka
pergi, kami kembali mengobrol dan membahas betapa seringnya kejadian seperti
ini terjadi. Ada saja yang kurang teliti dalam membaca informasi di grup.
Sementara di depan Indomaret,
Lukiyanto bertemu dengan Mbak Fatim. “Beli snack ya, jumlahnya harus 13,” kata
Mbak Fatim.
Lukiyanto mengangguk paham,
tetapi ia hanya menangkap informasi tentang jumlahnya. Bukan inisial nama. Ia
pun masuk ke dalam toko dan mulai mengambil berbagai macam snack. Setelah
merasa cukup, ia pun melanjutkan ke tempat acara dengan menenteng kantong plastic
transparan.
Beberapa menit kemudian, mbak
Fatim dan lainnya kembali dengan senyum kemenangan di wajah mereka. Rupanya,
mereka berhasil menemukan snak dengan merek berawalan huruf “A”. Kami pun
langsung bertepuk tangan dan tertawa bersama.
Ketika kami melihat isi kantong
plastik Lukiyanto, tawa kami semakin pecah. Di dalamnya ada aneka macam yaitu susu Bear Brand,
vitamin C, dua bungkus sosis, Good Time, dan beberapa snack lainnya. Mbak Fatim
pun langsung menepuk dahinya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ini salah, Luk!” kata Mbak Fatim.
“Kenapa?” tanya Lukiyanto polos.
“Ini sudah 13 jumlahnya,”
imbuhnya.
“Iya, jumlahnya sudah betul. Tapi
tidak sesuai dengan namamu!” kata Mbak Fatim sambil tertawa.
Kami semua kembali tertawa lebih
keras. Betapa lucunya kesalahpahaman ini. Lukiyanto hanya fokus pada jumlah,
tanpa menghiraukan inisial namanya.
Acara tukar snack pun dimulai.
Setiap orang mengambil giliran memberikan dengan cara menyuktak snack sesuai dengan huruf inisial
namanya. Teman lain mengeroyok snak teman lain yang mendapat bagian. Suasana penuh canda tawa,
terutama saat melihat ekspresi beberapa teman yang mendapatkan snack yang
mungkin tidak mereka harapkan.
Kami semua tertawa lebih keras.
“Hadeeeh, tadi aja panik!” ujar Mbak Fatim sambil tertawa geli.
Acara hari itu benar-benar penuh
dengan keceriaan. Dari hal yang sepele seperti tukar snack saja bisa
menciptakan banyak tawa dan kehebohan. Kami pun belajar satu hal penting yaitu
membaca informasi di grup itu penting, biar nggak panik di saat-saat terakhir!
Cepu, 4 April 2025
Momen Kebersamaan
Karya: Gutamining Saida
Lebaran hari keempat yang dinantikan akhirnya tiba. Hari ini adalah momen spesial karena aku akan berkumpul dengan teman-teman semasa SMP. Sejak pagi, perasaanku sudah dipenuhi antusiasme, membayangkan kembali bertemu wajah-wajah lama yang dulu selalu menghiasi masa remajaku.
Pertemuan ini sudah direncanakan
jauh-jauh hari dan semua teman menyambutnya dengan penuh semangat. Mereka
menunjuk dan memilih di rumah saya sebagai tempat reuni kecil ini. Suasana
lebaran masih terasa kental, jalanan ramai dengan orang-orang yang
bersilaturahmi dan aroma kue kering serta ketupat masih tercium di setiap sudut
rumah.
Beberapa jam sebelum acara
dimulai, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke grup WhatsApp kami. Pesan itu datang
dari mbak Fatim, salah satu teman dekatku sejak SMP.
"Gimana kalau kita buat
acara tukar snack? Tapi ada syaratnya, snack yang dibawa harus sesuai dengan
huruf awal nama kita masing-masing! Bawa sejumlah anggota yang hadir!"
tulisnya di grup whatshap.
Pesan itu masuk di grup sekitar
pukul 06.00 WIB. “Ayo segera belanja dulu.” Imbuhnya. Serta dilengkapi dengan video
youtube yang lagi viral agar peserta mengetahui caranya nanti.
“Reuni kalau tidak ada tantangan
dan perjuangan terasa hambar yaaa.” Tulis mbak Fatim selanjutnya.
Ide itu langsung disambut meriah.
Semua merasa tertantang dan mulai berpikir keras snack apa yang cocok dengan
huruf depan nama mereka. Aku sendiri langsung berpikir tentang snack yang
berawalan dengan huruf “G” namaku.
“Wah, ide seru! Kayak tukar kado
yang viral di medsos itu ya, tapi ini versi tukar snack. Walau kita sudah
nenek-nenek, jiwa muda tetap ada!” balas salah satu teman di grup, diikuti oleh
emoji tertawa.
Selanjutnya grup sepi tanpa ada
respon dari anggota. Barangkali peserta mulai mencari-cari snak yang akan
dibawa sesuai inisial nama di handphone. Atau sibuk persiapan yang lain.
Sekitar pukul 06.30 WIB ada
sebuah pesan masuk. “Aku sarapan dan makan siang di Balun aja, sekarang terasa lapar
tak tahan.”chat dari Supri.
Aku pun segera menuju toko
terdekat untuk mencari snack yang sesuai. Setelah melihat-lihat, akhirnya aku
memilih sesuatu yang pas. Semua teman juga berburu snack pilihan mereka, dan
percakapan di grup semakin sepi dengan candaan.
Ketika waktu pertemuan tiba, satu
per satu kami datang dengan waktu yang telah disepakati. Tak lupa menenteng tas
kresek ada yang berwarna merah, hitam, putih. Begitu bertemu, suasana langsung
berubah menjadi penuh tawa dan kegembiraan. Kami saling bertanya kabar, dan
tentu saja, mengabadikan momen dengan banyak foto.
Setelah puas berbincang dan
menikmati makanan, tibalah saat yang paling ditunggu yaitu acara tukar snack.
Fatim sebagai penggagas ide ini mengatur prosesnya. Mbak Endah sebagai MC
mengatur semua yang hadir dan mempersiapkan untuk berjajar urut sesuai abjad
nama yang hadir.
“Kita mulai dari aku ya! Aku
huruf “E” karena nama aku Endah,” katanya sambil mengangkat tas kresek berisi snack
pilihannya. Semua pun tertawa dan bertepuk tangan. Satu per satu teman mulai berjalan
menenteng tas snack yang mereka bawa.
“Aku nggak membaca chat di grup,
jadi akhirnya aku beli aneka snak dengan jumlah peserta. Kan nama aku Lukiyanto,
jadi huruf depannya kututup masih nyambung ya!” ujar Lukiyanto sambil tertawa.
Semua peserta mendengar kontan tertawa. Peserta berusaha membawa snak yang
sesuai inisial namanya seperti Energen,
French Fries, Slai O’lai, GufiBee, Sarimi, Mie ABC,
GoodTime dan banyak lagi. Ada juga yang membawa snack yang sedikit
dipaksakan agar sesuai dengan namanya, yang tentu saja membuat kami semakin
terhibur.
Kami pun mulai saling bertukar
snack. Meskipun ini hanyalah hal sederhana, peserta yang datang sedikit tapi
kebahagiaan yang tercipta luar biasa. Seperti yang sudah diprediksi, begitu
acara berlangsung, semua terasa seperti kembali ke masa kecil. Kami tertawa
lepas, bercanda seperti anak-anak dan sejenak lupa bahwa sekarang sebagian dari
kami sudah menjadi nenek-nenek dan kakek-kakek. “Lihat kita sekarang, sudah
punya cucu, tapi tetap saja kalau ngumpul kayak anak SMP lagi!” celetuk seorang
teman yang disambut gelak tawa.
Selain acara tukar snack, kami
juga berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Ada yang bercerita tentang
anak-anak mereka, ada yang berbagi kisah tentang cucu, dan ada juga yang
mengenang masa-masa sekolah dulu. Tak lupa, kami juga mengenang teman-teman
yang sudah berpulang lebih dulu yaitu ada enam. Enam teman itu bernama Karno, Saekoni, Luluk
Fajar Alova, Siti Patonah, Kasti dan Ahmad Suharianto (AY). Kami mendoakan
mereka dengan penuh keikhlasan.
Waktu terasa berjalan begitu
cepat. Tanpa sadar, hari sudah mulai sore. Kami akhirnya harus mengakhiri
pertemuan ini, meskipun rasanya masih ingin terus bersama. Sebelum pulang, kami
berjanji untuk lebih sering mengadakan pertemuan seperti ini, tidak hanya saat
Lebaran tetapi juga di momen-momen lainnya.
Hari ini benar-benar berkesan.
Dari sekadar ide spontan tentang tukar snack dalam hitungan jam, kami
mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai. Ternyata, kebersamaan dengan teman
lama memiliki kekuatan luar biasa untuk menghidupkan kembali jiwa muda yang ada
dalam diri kami. Lebaran hari keempat ini akan selalu aku kenang sebagai hari
yang penuh tawa, kebersamaan, dan kenangan indah.
Cepu, 4 April 2025
Selasa, 01 April 2025
Cobaan Membawaku Mendekat
Jumat, 28 Maret 2025
Hikmah Menjengguk Bu Eli
Saya bersama empat ibu-ibu
berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk teman. Bu Eli teman kami yang
sedang sakit. Kami mendengar bahwa Bu Eli habis dioperasi dan dirawat membuat
kami merasa perlu segera menjenguknya. Kami sebagai perwakilan atas nama
keluarga besar esmega. Kami tidak membawa buah tangan berupa makanan atau
minuman, hanya sebuah amplop sebagai tanda kepedulian dan doa agar Bu Eli lekas
sembuh.
Sesampainya di rumah sakit kota
Bojonegoro, kami berjalan melewati lorong-lorong. Suasana rumah sakit selalu
menghadirkan rasa haru, melihat orang-orang yang sedang berjuang melawan
penyakit mereka. Suara perawat yang sibuk bekerja, bau khas rumah sakit, serta
wajah-wajah penuh harapan di setiap sudut mengingatkan kami bahwa sehat adalah
anugerah yang sangat berharga.
Saat kami sampai di depan kamar
perawatan Bu Eli. Kami melirik ke dalam sebelum membuka pintu. Tak seperti
kebanyakan pasien yang ditemani keluarganya, Bu Eli hanya sendirian. Tidak ada
sanak saudara atau kerabat yang menemaninya. Hanya ada segelas susu, buah, air
mineral di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Hati kami langsung
terasa nyeri melihatnya dalam keadaan seperti itu. Bu Eli terbaring di tempat
tidur hanya ditemani televisi untuk menghilangkan kesunyian.
Begitu melihat kami masuk, Bu Eli
tersenyum lemah. Wajahnya tampak pucat, tapi matanya berbinar seakan bahagia
karena ada yang datang menemuinya.
"Masya Allah, kalian
datang!" katanya dengan suara pelan tetapi penuh kehangatan.
Kami segera mendekat dan duduk di
sekitar tempat tidurnya. Kami saling berjabat tangan bergantian, menggenggam
tangannya dengan lembut.
"Bagaimana kabarnya, Bu
Eli?" tanya bu Yanti.
Bu Eli tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, sedikit lebih baik. Tapi masih harus banyak
istirahat."
Kami melirik sekeliling kamar,
memastikan apakah ada keluarganya di luar. Tidak ada. Hanya kesunyian yang
terasa.
"Bu Eli, kenapa sendirian?
Mana keluarga?" tanya Bu Fitri dengan lembut.
Bu Eli menarik napas pelan.
"Suamiku kemarin pulang. Anak-anak di rumah Cepu. Mereka bilang akan
datang, tapi mungkin belum bisa saat ini. Sejak kemarin, aku hanya ditemani
perawat yang sesekali masuk untuk mengecek kondisiku."
Kami semua terdiam. Ada perasaan
haru yang menyelimuti hati kami.
"Apa selama ini keluarga
tidak ada yang datang menjenguk?" tanya Bu Isna pelan.
Bu Eli menggeleng. "Tidak
ada. Tapi tidak apa-apa, aku mengerti. Mereka pasti sibuk."
Saya merasakan dada sesak.
Sungguh, tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya sakit dan sendirian di rumah
sakit tanpa ada keluarga yang menemani. Rasa sepi dan rindu pasti bercampur
menjadi satu.
Bu Ning menggenggam tangan Bu Eli
erat. "Bu Eli, sekarang kami di sini. Anggap saja kami keluarga. Kami akan
mendoakan selama yang kami bisa."
Air mata Bu Eli tampak
menggenang, tapi ia cepat-cepat tersenyum. "Terima kasih. Kehadiran kalian
benar-benar menghangatkan hatiku."
Kami pun mengobrol ringan untuk
menghiburnya. Bu Eli bercerita tentang awal sakitnya, bagaimana ia mulai merasa
linu hingga akhirnya harus dioperasi. Ia mengaku sangat merindukan hari-hari
sehatnya, saat bisa beraktivitas bebas tanpa harus bergantung pada orang lain.
"Ternyata sakit itu
benar-benar ujian," katanya lirih. "Saya baru sadar betapa
berharganya bisa berjalan tanpa rasa sakit, bisa makan tanpa kesulitan, bisa
tidur nyenyak tanpa harus terbangun karena nyeri. Dulu, hal-hal kecil itu saya
anggap biasa saja. Sekarang saya sadar bahwa sehat adalah nikmat yang sering
terlupakan."
Kami semua mengangguk setuju. Memang benar, ketika sehat
kita sering kali lupa bersyukur kapada Allah Subhanahu Wata’alla. Saat tubuh
diuji, kita menyadari betapa berharganya kesehatan.
Bu Ning kemudian berkata, "Itulah sebabnya kita harus
selalu bersyukur. Kadang kita baru menyadari nikmat saat sudah kehilangannya.
Sehat itu mahal, Bu Eli, dan sakit ini mungkin cara Allah Subhanahu Wata’alla mengingatkan
kita untuk lebih mendekat kepada-Nya."
Bu Eli mengangguk pelan.
"Iya, selama di sini aku jadi lebih banyak berdoa, lebih banyak mengingat
Allah. Aku sadar bahwa sakit ini bukan hanya cobaan, tapi juga jalan untuk
semakin dekat kepada-Nya."
Kami pun menghiburnya dengan
kata-kata semangat dan doa. Sebelum berpamitan, kami menyerahkan amplop yang
sudah kami siapkan.
"Ini sedikit bantuan dari keluarga
esmega, Bu Eli. Semoga bisa membantu keperluan selama di rumah sakit,"
kata Bu Yanti.
Bu Eli tampak terharu. Ia
menggenggam amplop itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih banyak. Bukan
hanya karena ini, tapi karena kalian sudah datang, sudah menyempatkan waktu
untuk menjengukku. Kehadiran kalian lebih berharga dari apa pun."
Kami semua tersenyum dan
menggenggam tangannya satu per satu sebelum berpamitan. Saat berjalan keluar
kamar, kami merasa lega bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada Bu Eli.
Di lorong rumah sakit, aku
melihat banyak pasien lain. Beberapa hanya ditemani perawat, beberapa tampak
termenung menatap langit-langit. Pemandangan itu membuat hatiku semakin sedih.
Di depan rumah sakit, kami
berlima duduk sejenak. Banyak motor terparkir dan mobil-m0bil berjajar
sepanjang jalan. Tempat parkir penuh.
"Aku jadi berpikir, kita
harus lebih sering menjenguk orang sakit," kata Bu Fitri.
"Iya," sahut Bu Ning.
"Menjenguk bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita sendiri. Agar
kita bisa belajar bersyukur dan tidak menyia-nyiakan kesehatan."
"Kita juga harus lebih peka
terhadap orang-orang di sekitar kita," tambah Bu Isna. "Mungkin ada
tetangga atau saudara yang sakit, tapi tak ada yang menemani. Jangan sampai
mereka merasa sendirian."
Kami semua mengangguk setuju.
Dengan perasaan penuh hikmah, kami pun melangkah pulang, membawa pelajaran
berharga dari kunjungan hari ini. Saya berjanji dalam hati, mulai sekarang akan
lebih sering menjenguk orang sakit, bukan hanya sebagai bentuk kepedulian, tapi
juga sebagai pengingat bahwa sehat adalah anugerah yang tak boleh disia-siakan.
Salam selat.
Cepu, 28 Maret 2025
Amplop di Bulan Suci
Selepas tarawih di musala, saya
berjalan pulang dengan hati yang tenteram. Udara Ramadan begitu sejuk, bulan
bersinar terang dan suara tadarus masih menggema di kejauhan. Dalam perjalanan
menuju kamar, saya merasakan ada yang mengikuti dari belakang.
Saya menoleh sekilas dan benar
saja, anak perempuan saya dengan senyum yang tersungging di bibirnya, berjalan
mendekati saya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di tangannya dan tatapan
matanya penuh makna.
Sesampainya di kamar sebelum saya
sempat bertanya. Dia menyelipkan sebuah amplop putih ke tangan saya dengan
gerakan cepat.
"Ini untuk Umi. Tidak
boleh ditolak. Titik!" katanya tegas, lalu segera berbalik dan pergi
ke kamarnya.
Saya hanya terpaku, memandangi
punggungnya yang menghilang di balik pintu. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba
menyeruak. Apa yang sedang anakku lakukan? Kenapa harus ada amplop dan kenapa
harus dengan kata-kata seperti itu?
Dengan hati yang berdebar, saya
duduk di tepi tempat tidur, memegang amplop putih itu dengan jemari yang
sedikit gemetar. Rasanya amplop itu cukup tebal. Seakan berisi sesuatu yang
sangat berarti.
Saya menarik napas dalam-dalam,
lalu mulai membuka lipatan kertas yang ada di dalamnya. Begitu mata saya
menangkap deretan tulisan tangan yang sudah tak asing, air mata langsung
menggenang di pelupuk.
Membaca surat itu, dada saya
terasa sesak oleh haru. Air mata jatuh tanpa bisa saya tahan, membasahi pipi yang
sudah berkerut oleh usia. Saya membaca pelan-pelan dengan meresapi maknanya.
Saya melirik ke dalam amplop dan
menemukan sejumlah uang. Anak saya telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk
saya. Ini bukan tentang jumlahnya, tetapi tentang ketulusan yang saya rasakan
begitu mendalam.
Saya terisak, bukan karena jumlah
uang yang diberikan, tetapi karena rasa syukur yang meluap-luap dalam hati.
Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan anak-anak yang bukan hanya tumbuh
menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tetapi juga penuh kasih sayang.
Saya ingin langsung menemuinya,
memeluknya erat dan mengatakan bahwa saya bangga padanya. Saya tahu, jika saya
lakukan itu sekarang, mungkin dia akan malah menangis juga.
Saya hanya duduk diam dalam
kamar, merenungi betapa besar nikmat yang Allah Subhanahu Wata’alla berikan
kepada saya. Saya tidak pernah meminta balasan atas apa yang telah saya lakukan
untuk anak-anak. Allah Subhanahu Wata’alla membalasnya dengan cara-Nya yang
indah. Allah Subhanahu Wata’alla lewatkan hati dan kasih sayang anak-anak tercinta.
Saya sujud syukur dalam doa yang
lebih lama dari biasanya. Saya meminta kepada Allah Subhanahu Wata’alla agar
selalu menjaga anak-anak saya, memberikan mereka kebahagiaan, melindungi mereka
dari segala kesulitan dan menjadikan mereka anak-anak yang istiqamah di
jalan-Nya.
Ketika saya bangkit dari sujud,
hati saya terasa lebih ringan, lebih penuh dengan rasa syukur. Ramadan ini
terasa begitu istimewa, bukan karena materi, tetapi karena cinta yang terjalin
dalam keluarga kami.
Saya akan melihat anak saya
dengan senyum yang berbeda. Senyum seorang ibu yang bangga, yang bersyukur kepada
Allah Subhanahu Wata’alla dan yang merasa dicintai dengan begitu tulus.
Saya sengaja mengabadikan momen
ini dalam tulisan bukan maksud pamer. Melainkan sebagai kenangan, menginspirasi
generasi akan datang. Semoga catatan ini bukan sekedar catatan pribadi tapi
sebagai dorongan bagi siapapun yang membaca untuk selalu mengingat, menghormati
dan membahagiakan orang tua selagi kesempatan itu masih ada. Semoga anak-anakku
menjadi anak sholeh dan sholehah. Aamiin.
Cepu. 28 Maret 2025
Kamis, 27 Maret 2025
Materi IPS kelas VII
Jodohkan pernyataan di Kolom A dengan jawaban yang sesuai di Kolom B.
Kolom A (Pernyataan) | Kolom B (Jawaban) |
---|---|
1. Permintaan adalah... | A. Harga yang terbentuk ketika jumlah barang yang diminta sama dengan jumlah barang yang ditawarkan. |
2. Penawaran adalah... | B. Jumlah barang atau jasa yang ingin dibeli konsumen pada tingkat harga tertentu. |
3. Harga keseimbangan adalah... | C. Jumlah barang atau jasa yang ingin dijual produsen pada tingkat harga tertentu. |
4. Faktor utama yang memengaruhi permintaan adalah... | D. Harga barang itu sendiri. |
5. Faktor utama yang memengaruhi penawaran adalah... | E. Harga barang yang ditawarkan. |
6. Jika harga suatu barang naik, maka permintaan akan... | F. Menurun. |
7. Jika harga suatu barang naik, maka penawaran akan... | G. Meningkat. |
8. Hukum permintaan menyatakan bahwa... | H. Jika harga turun, permintaan akan naik, dan jika harga naik, permintaan akan turun. |
9. Hukum penawaran menyatakan bahwa... | I. Jika harga naik, penawaran akan naik, dan jika harga turun, penawaran akan turun. |
10. Faktor yang dapat meningkatkan permintaan adalah... | J. Peningkatan pendapatan masyarakat. |
11. Faktor yang dapat meningkatkan penawaran adalah... | K. Kemajuan teknologi dalam produksi. |
12. Jika harga suatu barang berada di atas harga keseimbangan, maka terjadi... | L. Surplus atau kelebihan barang. |
13. Jika harga suatu barang berada di bawah harga keseimbangan, maka terjadi... | M. Kekurangan barang (shortage). |
14. Perubahan selera konsumen dapat memengaruhi... | N. Permintaan suatu barang atau jasa. |
15. Faktor eksternal yang memengaruhi permintaan adalah... | O. Iklan dan promosi produk. |
16. Biaya produksi yang meningkat akan menyebabkan... | P. Penawaran barang menurun. |
17. Jika harga barang substitusi meningkat, maka permintaan barang utama akan... | Q. Meningkat. |
18. Jika harga barang komplementer meningkat, maka permintaan barang utama akan... | R. Menurun. |
19. Jika pemerintah memberikan subsidi kepada produsen, maka penawaran akan... | S. Bertambah. |
20. Jika terjadi bencana alam yang merusak bahan baku, maka penawaran akan... | T. Berkurang. |
Materi Agama Islam Kelas VII
Petunjuk:
Jodohkan pernyataan di Kolom A dengan jawaban yang sesuai di Kolom B.
Kolom A (Pernyataan) | Kolom B (Jawaban) |
---|---|
1. Gibah adalah... | A. Memeriksa atau mencari kejelasan suatu informasi sebelum mempercayainya. |
2. Tabayun adalah... | B. Menceritakan keburukan orang lain yang benar terjadi tanpa sepengetahuan orang tersebut. |
3. Salah satu dampak negatif gibah adalah... | C. Menyebabkan perpecahan dan permusuhan dalam masyarakat. |
4. Orang yang suka gibah disebut... | D. Penyebar fitnah atau penggunjing. |
5. Hukum gibah dalam Islam adalah... | E. Haram, kecuali dalam keadaan darurat seperti memberikan kesaksian di pengadilan. |
6. Perintah untuk bertabayun terdapat dalam surat... | F. Al-Hujurat ayat 6. |
7. Lawan dari gibah adalah... | G. Menjaga lisan dan berkata yang baik. |
8. Salah satu cara menghindari gibah adalah... | H. Mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih bermanfaat. |
9. Jika mendengar berita yang belum jelas kebenarannya, kita harus... | I. Bertabayun atau mencari klarifikasi lebih dahulu. |
10. Orang yang tidak bertabayun dalam menerima berita bisa menyebabkan... | J. Penyebaran hoaks dan kesalahpahaman. |
11. Dampak positif tabayun dalam kehidupan bermasyarakat adalah... | K. Mencegah kesalahpahaman dan menjaga persatuan. |
12. Gibah sering dilakukan ketika... | L. Seseorang membicarakan keburukan orang lain tanpa manfaat yang jelas. |
13. Berita hoaks banyak menyebar karena... | M. Kurangnya sikap tabayun dan terlalu cepat menyebarkan informasi. |
14. Seseorang yang bertabayun sebelum berbicara akan... | N. Terhindar dari dosa menyebarkan fitnah dan menjaga keharmonisan. |
15. Gibah bisa menjadi dosa besar jika... | O. Dilakukan dengan niat jahat untuk menjatuhkan orang lain. |