Minggu, 06 April 2025

Nikmat Pertemuan Singkat


Karya : Gutamining Saida 
Hari Minggu tanggal 6 April 2025 terasa berbeda dari biasanya. Sejak semalam, saya sudah menata niat di dalam hati. Rencana menghadiri resepsi pernikahan teman sekantor di Paron bukan sekadar perjalanan biasa. Di balik acara itu, ada harapan lain yang saya semayamkan dalam diam yaitu harap bertemu dengan saudara yang tinggal tak jauh dari lokasi resepsi. Sudah lama kami tak bersua. Waktu, jarak, dan kesibukan membuat pertemuan seperti mimpi yang terus tertunda.

Perjalanan ke Paron adalah kesempatan langka. Maka, dalam hati saya berdoa dengan  sungguh-sungguh. “Ya Allah, jika Engkau ridha, berilah saya kesempatan bertemu dengan saudara yang bernama dik Anik walau sejenak. Saya rindu  ingin bersilaturahmi.”

Pagi itu, langit cerah seolah mengamini niat baik saya. Bersama teman-teman kantor, kami berangkat dari sekolah menuju lokasi resepsi. Perjalanan penuh canda tawa, menyenangkan dan hangat. Namun di tengah semua kegembiraan itu, hati ini masih menyimpan harapan sederhana yaitu pertemuan dengan dik Anik. 

Sesampainya di lokasi resepsi, suasana ramai. Musik menyambut tamu, pengantin terlihat bahagia dengan senyum yang tak lepas dari wajah. Kami bersalaman, mengucap selamat, dan menyantap hidangan yang disediakan tak lupa foto bersama. Semuanya terasa indah, namun jujur saja, pikiran masih tertambat pada satu hal yaitu mungkinkah nanti Allah berkenan mempertemukan saya dengan saudara yang bernama dik Anik. 

Waktu berjalan cepat. Di sela-sela acara, saya memberanikan diri mengirim pesan. “Saya sudah ada di lokasi resepsi desa Paron. Sudah berangkat dik? Kita bisa bertemu sebentar? saya tahu waktu tidak panjang…”

Tak lama, balasan datang. “Iya tapi hanya bisa sebentar. Kita ketemu di perempatan dekat patung gading ya?”

Hati ini bergetar bahagia. Allah Subhanahu Wata'ala benar-benar mengabulkan doa saya. Dalam keterbatasan waktu dan keadaan, Dia membuka jalan untuk pertemuan yang telah lama tertunda.

Selesai acara, pamit pada manten dan melanjutkan perjalanan cepat menuju titik temu. Perempatan patung gading bukan tempat yang istimewa. Ramai lalu lintas, kendaraan lalu lalang, hiruk pikuk pasar terdengar dari kejauhan. Namun hari itu, perempatan itu menjadi saksi satu pertemuan yang sangat berarti.

Kami bertemu. Peluk hangat seketika menyatu. Mata kami berbinar. Tak banyak yang bisa diucap. Hanya cerita singkat, tanya kabar dan senyum yang menyimpan rindu lama. Tak ada bangku nyaman, tak ada kopi, teh yang menemani. Tapi di tengah lalu lintas yang padat dan suara klakson yang bersahutan, hatiku damai.

Pertemuan itu hanya sekitar sepuluh menit. Namun rasanya seperti meneguk seteguk air setelah lama kehausan. Rindu yang mengendap perlahan luruh. Bahkan dalam singkatnya waktu, kami sempat saling mendoakan. “Semoga sehat terus ya. Jangan lupa saling mendoakan. Meski jarang bertemu, hati kita tetap dekat.”

Saat berpamitan, sejenak  menatap wajah berpelukan dengan saudara dan mulai berpisah berjalan menjauh. Ada haru yang mengalir diam-diam.  Kami akan kembali berjauhan. Tapi saya juga tahu, bahwa hari itu Allah Subhanahu Wata'ala telah memberikan hadiah besar yang tak ternilai harganya: nikmat kesempatan untuk bertemu. 

Di perjalanan pulang diam dalam mobil saya tenggelam dalam rasa syukur. Betapa Allah Maha Mendengar. Dia tahu isi hati hamba-Nya. Bahkan untuk niat yang hanya terucap dalam doa malam, Dia mampu jawab dengan cara yang indah.

Saya belajar hari itu bahwa pertemuan tidak harus lama. Tidak harus di tempat istimewa. Yang terpenting adalah maknanya. Kadang Allah Subhanahu Wata'ala tidak memberikan semua yang kita minta, tapi Dia selalu memberi apa yang kita butuhkan.

Pertemuan di perempatan itu sederhana, tapi bagi saya sangat luar biasa. Saya bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'ala memberi izin. Saya bersyukur karena walau sebentar, rindu sedikit terobati. Bersyukur karena Allah Subhanahu Wata'ala masih sayang pada saya mempertemukan dengan bagian dari keluarga besar saya. 

Perempatan patung gading sebagai tempat di mana Allah Subhanahu Wata'ala menurunkan rahmat-Nya, menjawab doa diam saya dan mengajarkan tentang nikmat waktu, tentang syukur, dan tentang pentingnya menjaga silaturahmi meski hanya sekejap. Terima kasih dik Anik sudah menyempatkan waktu bertemu dan oleh-olehnya. Semoga diberikan rizeki yang barokah. 
Cepu, 6 April 2025 



Sabtu, 05 April 2025

Teguran Cinta Dari Allah

 Karya: Gutamining Saida

Delapan bulan lalu, saya diuji oleh Allah Subhanahu Wata’alla dengan rasa sakit yang tak terduga. Tubuh terasa lemah, ada bagian yang seolah tak bisa lagi diajak kompromi. Awalnya saya merasa cemas dan khawatir. Sejumlah dugaan dan rasa sakit mulai membayangi pikiran. Namun justru dari titik itulah, saya kembali bersimpuh dalam keheningan malam. Saya mencari, mendekat, berlari kepada Allah Subhanahu Wata’alla yang selama ini mungkin telah saya abaikan dalam hiruk-pikuk dunia.

Sakit ini bukan hanya menyentuh fisik, tapi juga hati. Setiap kali rasa nyeri, panas itu datang, saya menangis. Tapi tangisan itu bukan semata karena rasa sakitnya, melainkan karena saya sadar. Saya telah terlalu lama lalai. Saya telah terlalu jauh dari Allah Subhanahu Wata’alla . Padahal hanya kepada-Nya saya bergantung hidup.

Di sepertiga malam, saya mulai membangun kembali hubungan yang dulu sempat renggang. Saya duduk dalam gelap, bersujud dengan hati yang penuh luka. Lisan yang tak berhenti memohon. Saya menangis, bukan hanya karena sakit yang menyesakkan. Tapi karena saya merasa begitu hina telah melupakan  Allah Subhanahu Wata’alla yang selama ini menjaga saya tanpa pamrih.

"Ya Allah... maafkan saya. Saya kembali pada-Mu. Saya tidak kuat tanpa pertolongan-Mu..."

Itulah kalimat yang sering saya bisikkan di sela-sela sujud panjang. Malam-malam tak lagi sepi, karena kini penuh tangisan dan curahan hati. Saya menceritakan segalanya kepada-Nya. Tentang lelah, kesakitan, penyesalan, dan keinginan saya untuk sembuh yaitu bukan hanya secara jasmani, tetapi juga ruhani.

Ajaibnya, semakin saya dekat kepada-Nya, semakin ringan pula sakit yang saya rasakan. Saya mulai bisa tidur lebih nyenyak. Nafas terasa lebih lega. Hati jauh lebih tenang. Sakit itu perlahan-lahan mereda, dan bahkan nyaris hilang.

Saya tahu itu bukan semata karena obat dan terapi. Itu karena Allah Subhanahu Wata’alla mendengarkan saya. Itu karena Allah Subhanahu Wata’alla menjawab jerit hati saya. Seperti manusia pada umumnya, saat rasa sakit itu perlahan menghilang, saya mulai sibuk kembali dengan rutinitas. Saya lupa bagaimana rasanya menangis dalam sujud. Saya mulai jarang curhat kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Saya kembali lalai, padahal saya telah merasakan betapa indahnya saat hati begitu dekat dengan-Nya.

Seperti sebuah tamparan kasih sayang dari Allah Subhanahu Wata’alla rasa sakit itu datang lagi. Kali ini, berbeda tempat di bagian tubuh yang laim. Rasa sakitknya sama. Saya kembali merasa tersayat. Saya merasa seperti ditarik lagi ke tempat semula, tempat di mana saya benar-benar merasa membutuhkan Allah Subhanahu Wata’alla.

Awalnya saya bertanya, "Kenapa lagi, Ya Allah?"

Kemudian hatiku menjawab, "Karena engkau mulai menjauh lagi,"

Tersentak, saya kembali menangis. Bukan karena rasa sakit yang baru saja datang, tapi karena saya sadar, Allah Subhanahu Wata’alla masih sayang kepada saya. Allah Subhanahu Wata’alla tidak membiarkan saya terlalu lama larut dalam kesibukan yang menjauhkan diri dari-Nya. Allah Subhanahu Wata’alla memberiku teguran, sebuah sentilan lembut namun sangat berarti yaitu  melalui rasa sakit.

Seketika, saya merasa begitu dicintai oleh Allah Subhanahu Wata’alla. Sakit ini bukan kutukan. Ini adalah jalan untuk kembali. Sebuah undangan agar saya datang lagi ke pelukan Allah Subhanahu Wata’alla.

Saya mencoba untuk tidak lagi lalai. Saya menyadari bahwa sehat ataupun sakit, lapang ataupun sempit, saya harus tetap dekat kepada Allah Subhanahu Wata’alla. Bukan hanya saat butuh, bukan hanya saat tubuh lemah dan hati goyah. Tapi juga saat bahagia, saat segalanya tampak baik-baik saja.

Teguran Allah Subhanahu Wata’alla melalui sakit membuat saya lebih peka terhadap betapa rapuhnya saya tanpa pertolongan-Nya. Saya belajar bahwa kesehatan bukan hanya anugerah, tapi juga pengingat agar saya tak pernah menyombongkan diri. Bahwa sakit bukan hukuman, melainkan panggilan kasih yang penuh cinta.

Kini di setiap sujud menjadi lebih bermakna. Setiap sakit yang datang, saya syukuri. Karena hal ini menjadi jalan untuk saya kembali kepada yang Maha Penyayang. Selama saya terus melangkah mendekat kepada-Nya, saya tak akan pernah benar-benar sendiri.

Cepu, 6 April 2025


Jumat, 04 April 2025

Zaskia Nisa Al Fathur

Karya: Gutamining Saida

Zat-Mu sumber segala cahaya
Aku bersyukur atas hidup dan segala upaya
Setiap nafas nikmat tak terkira
Kehidupan ini penuh berkah dan cinta
Iman di dada harta yang tiada tara
Alangkah indah saat hati selalu bersyukur pada-Nya

Nikmat-Mu hadir bahkan tanpa aku minta
Inginku menjadi hamba yang taat dan setia
Saat senang sedih kuingat hanya Engkau
Arah hidupku semoga selalu dalam lindung-Mu yang teduh

Aku pasrahkan langkah pada kehendak-Mu yang luhur
Langkah kecilku pun Kau jaga tanpa kendur

Fajar-Mu membuka hari penuh harapan
Aku bersujud dalam syukur dan pengharapan
Tiada hari tanpa kasih-Mu yang menyentuh
Hati ini pun luluh saat melihat semua karunia yang jatuh
Untuk segala yang Kau beri ya Rabbi
Rasa syukur ini akan terus hidup dalam sanubari
Cepu, 5 April 2025

Zain Hamzah Al Fathur


Karya : Gutamining Saida 

Zikir lirih jadi pengingat dalam senyap
Alangkah hati penuh syukur tiap tapak
Ingat selalu kasih-Nya yang tak pernah lelah
Nikmat kecil pun patut disambut dengan ramah

Hari-hari hadiah yang tak ternilai
Apa yang ada, itulah yang terbaik dari Yang Maha Baik
Melangkah dalam ridha menjauh dari angkuh
Zona nyaman pun tak lupa untuk bersujud penuh
Aku hanyalah debu yang dijaga oleh-Nya
Hingga detik ini hidup penuh anugerah

Aku bersyukur untuk cinta dan waktu
Langit yang biru hingga hujan yang syahdu

Fajar menyingsing memberi harapan baru
Ayat-ayat Tuhan terus menenangkan kalbu
Terima kasih ya Rabb untuk semua yang Kau atur
Hati ini akan terus belajar jujur
Untuk mencintai-Mu dalam suka dan getir
Rasa syukur ini akan terus kupelihara hingga akhir
Cepu, 5 April 2025

Elmerra Yukika Al Fathur


Karya: Gutamining Saida 

Engkau Maha Memberi tak henti limpahkan nikmat
Lembut kasih-Mu menyusup dalam tiap detik yang hangat
Matahari bersinar hujan turun penuh rahmat
Eratnya cinta-Mu menjelma dalam hidup penuh hikmat
Rasa syukur ini tak cukup dilukis kata
Rela hati tunduk bersujud dalam cinta
Aku hanya hamba lemah tak punya daya

Yakin semua telah Kau atur sebaik-baiknya
Ujian datang pun jadi sebab bertumbuh jiwa
Kadang tangis tawa semua dalam rencana-Nya
Ingat selalu janji-Mu yang tak pernah dusta
Karena syukur kunci bahagia
Aku belajar ikhlas walau tak selalu mudah terasa

Alangkah indah hidup saat hati penuh syukur
Lapang dada meski jalan terasa berliku dan kabur

Fajar menyapa dengan harapan baru
Alangkah elok jika dimulai doa yang syahdu
Tiap hela napas pun karunia
Hidup ini anugerah bukan sekadar cerita
Untuk semua baik dan buruk
Rasa syukur ini akan terus kupeluk
Cepu, 5 April 2025



Temu Keluarga Besar


Karya: Gutamining Saida

Lebaran hari kedua selalu menjadi momen istimewa bagi keluarga besar dari pihak bapak saya. Tahun 2025, reuni keluarga berlangsung di rumah Pak dhe Dali di Genjit. Sebuah rumah sederhana di pedesaan yang tetap menjadi saksi kebersamaan keluarga kami tahun ini . Dari lima bersaudara, kini hanya tersisa tiga, yaitu pak Dhe Pandi, pak Dhe Dali dan bulik Ti. Meskipun begitu, semangat berkumpul tidak pernah luntur.

Kami berangkat bersama suami dan dua anak dari rumah.  Jalanan menuju Genjit cukup lengang, hanya beberapa kendaraan yang melintas. Begitu tiba, suasana pedesaan yang asri langsung menyapa. Udara segar, pohon-pohon rindang dan rumah-rumah khas desa menambah kehangatan pertemuan kali ini.

Begitu masuk ke halaman rumah Pak dhe Dali, beberapa saudara sudah berkumpul. Para laki-laki duduk lesehan di serambi rumah, berbincang santai sambil menikmati hidangan kecil. Sementara itu, kaum perempuan berkumpul di ruang dalam, bercengkerama dengan hangat. Anak-anak berlarian di halaman, tertawa ceria tanpa beban.

Hidangan khas sudah tersaji di atas tikar. Berbagai makanan kecil seperti kue kering, keripik ketela, kacang dan buah pisang tersusun rapi. Yang paling khas dan selalu dinantikan adalah tape ketan hitam dan jadah ketan hitam, hidangan spesial yang hanya bisa kami temui di rumah Pak dhe Dali. Aroma khasnya langsung menggoda selera, mengingatkan pada tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Menjelang siang, makanan berat mulai dihidangkan. Nasi jagung lengkap dengan sayur dan lauk-pauk menjadi pilihan bagi yang ingin merasakan cita rasa pedesaan yang autentik. Selain itu, ada juga nasi putih dengan opor ayam yang gurih, oseng-oseng sayur, mie goreng dan kerupuk sebagai pelengkap. Tak ketinggalan, es dingin yang menyegarkan tenggorokan di tengah teriknya siang berwarna pink.

Kami duduk memenuhi tikar, menikmati makanan sambil bercengkerama. Sesekali terdengar tawa pecah karena cerita-cerita lama yang diulang kembali. Nostalgia tentang masa kecil, kenakalan saat masih kecil, hingga kisah perjuangan orang tua menjadi topik yang tidak pernah habis dibahas.

Uang arisan sudah terkumpul, bendahara mengumumkan perolehan uang dan tahun yang akan datang bertempat di keluarga pak dhe Pandi. Menurut rencana akan dilangsungkan di rumah anaknya yang di Baureno. Sumbangan uang musala juga diumumkan.

Salah satu momen yang selalu ditunggu adalah sesi foto keluarga. Masing-masing keluarga berpose, mengabadikan kebersamaan yang hanya terjadi setahun sekali. Keluarga Pak dhe Yadi menjadi pusat perhatian karena memiliki anggota terbanyak. Saat sesi foto berlangsung, berbagai komentar dan canda tawa pun bermunculan, membuat suasana semakin riuh dan penuh kehangatan.

"Waaah, keluarga Pak dhe Yadi ini kalau kumpul, bisa buat satu RT sendiri," canda salah satu saudara yang langsung disambut tawa lepas.

"Anak, cucu, cicit tambah besar semua, tahun depan pasti tambah ramai lagi!" tambah yang lain.

Setelah sesi foto selesai, kami kembali berbincang. Anak-anak mulai bermain di halaman, beberapa orang tua menikmati sisa hidangan sambil berbagi cerita. Tak terasa, waktu semakin siang dan satu per satu mulai berpamitan. Meski hanya bertemu sebentar, kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa keluarga adalah tempat kembali.

Setelah selesai. Kami bersama melaksanakan salat dhuhur di musala. Saat perjalanan pulang, saya tersenyum sendiri mengingat riuh rendah suasana tadi. Meskipun hanya setahun sekali, reuni ini selalu membawa kebahagiaan yang tak tergantikan. Dan tentu saja, saya sudah tidak sabar menantikan pertemuan tahun depan dengan kehangatan yang sama.

Cepu, 4 April 2025

 

 

Kamis, 03 April 2025

Tukar Snak

Karya : Gutamining Saida

Acara tukar snack yang tanpa direncanakan secara matang sebelumnya akhirnya tiba. Pagi sebelum berangkat, di grup WhatsApp, mbak Fatim mengajak tukar snak. Setiap orang harus membawa snack dengan huruf awal sesuai inisial nama dan sejumlah peserta reoni kelas “D”. Seperti biasa, tidak semua orang benar-benar membaca pengumuman dengan saksama. Bahkan ada juga yang tidak membacanya sama sekali.

Saya, Mbak Fatim dan Mbak Endah sudah berkumpul di tempat acara. Kami memperhatikan satu per satu teman-teman yang datang. Mereka membawa kresek berisi snack dengan beragam merek. Tiba-tiba mata kami tertuju pada  dua orang teman yang datang sudah duduk-duduk tanpa membawa apa pun. Spontan, kami saling berpandangan dan tersenyum. Mbak Fatim, yang memang terkenal ceplas-ceplos, langsung nyeletuk, “Loh, kresek kamu mana, kamu bawa apa, nggak bawa apa-apa?”

Teman kami yang datang tanpa snack hanya bisa tersenyum kaku. “Aku nggak nemu, nama aku huruf Z,” katanya sambil mengeluarkan ponselnya. “Aku cari di HP juga nggak ada yang cocok.”

Kami bertiga langsung tertawa. Memang, mencari snack dengan huruf Z tidaklah mudah. Tentu saja ada alternatif lain.

“Kamu mana, Pri? Huruf S gampang, banyak,” ujar Mbak Fatim tanpa henti sambil tetap tertawa.

Teman kami hanya diam, mungkin kebingungan atau mungkin merasa sedikit bersalah karena tidak membawa snack. Melihat situasi ini, Mbak Endah mencoba membantu mencari solusi.

“Kalau susah cari Z, permen juga bisa. Permen “ZINGY” Atau kalau benar-benar nggak ada, ya cari yang huruf A. Contohnya Astor,” katanya dengan nada menenangkan.

Kami semua mengangguk setuju. Namun, masalahnya teman kami ini tidak membawa snack sama sekali, jadi harus segera membeli sebelum acara dimulai. Dengan sedikit bercanda, Mbak Fatim berkata, “Kalau nggak sanggup cari, saya aja yang belikan. Nanti uangnya ganti ya.”

Teman kami yang baru datang, namanya mbak Harti, menaruh kresek snak di pojok. Karena kreseknya tampak kecil. Mbak Fatim langsung menanya, “Kresekmu kok kecil bawa apa?

“Aku bawa dua.” Jawab mbak Harti dengan tenang

Kami bertiga tertawa. Mbak Harti semakin binggung. Kemudian melangkah mengambil kreseknya mengeluarkan serta menunjukkan kotak kadonya pada kami. Kami pun tertawa kembali. ”Memangnya kenapa, ada yang kliru?” Tanya mbak Harti tanpa ekspresi. Dia tampak semakin binggung.

“Harusnya kamu membawa kado ini sejumlah 13.”ujar Mbak Fatim.

“Oooooh, baru paham sekarang.”

Kami tertawa kembali. Akhirnya, setelah sedikit diskusi mbak Harti ditemani mbak Fatim keluar untuk membeli di toko terdekat. Teman lain setuju untuk pergi membeli snack. Kami pun menyuruhnya berangkat berdua dengan teman lain agar lebih cepat. Selagi mereka pergi, kami kembali mengobrol dan membahas betapa seringnya kejadian seperti ini terjadi. Ada saja yang kurang teliti dalam membaca informasi di grup.

Sementara di depan Indomaret, Lukiyanto bertemu dengan Mbak Fatim. “Beli snack ya, jumlahnya harus 13,” kata Mbak Fatim.

Lukiyanto mengangguk paham, tetapi ia hanya menangkap informasi tentang jumlahnya. Bukan inisial nama. Ia pun masuk ke dalam toko dan mulai mengambil berbagai macam snack. Setelah merasa cukup, ia pun melanjutkan ke tempat acara dengan menenteng kantong plastic transparan.

Beberapa menit kemudian, mbak Fatim dan lainnya kembali dengan senyum kemenangan di wajah mereka. Rupanya, mereka berhasil menemukan snak dengan merek berawalan huruf “A”. Kami pun langsung bertepuk tangan dan tertawa bersama.

Ketika kami melihat isi kantong plastik Lukiyanto, tawa kami semakin pecah. Di dalamnya ada aneka macam yaitu susu Bear Brand, vitamin C, dua bungkus sosis, Good Time, dan beberapa snack lainnya. Mbak Fatim pun langsung menepuk dahinya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ini salah, Luk!” kata Mbak Fatim.

“Kenapa?” tanya Lukiyanto polos.

“Ini sudah 13 jumlahnya,” imbuhnya.

“Iya, jumlahnya sudah betul. Tapi tidak sesuai dengan namamu!” kata Mbak Fatim sambil tertawa.

Kami semua kembali tertawa lebih keras. Betapa lucunya kesalahpahaman ini. Lukiyanto hanya fokus pada jumlah, tanpa menghiraukan inisial namanya.

Acara tukar snack pun dimulai. Setiap orang mengambil giliran memberikan dengan cara menyuktak snack sesuai dengan huruf inisial namanya. Teman lain mengeroyok snak teman lain yang mendapat bagian. Suasana penuh canda tawa, terutama saat melihat ekspresi beberapa teman yang mendapatkan snack yang mungkin tidak mereka harapkan.

Kami semua tertawa lebih keras. “Hadeeeh, tadi aja panik!” ujar Mbak Fatim sambil tertawa geli.

Acara hari itu benar-benar penuh dengan keceriaan. Dari hal yang sepele seperti tukar snack saja bisa menciptakan banyak tawa dan kehebohan. Kami pun belajar satu hal penting yaitu membaca informasi di grup itu penting, biar nggak panik di saat-saat terakhir!

Cepu, 4 April 2025

 

 

Momen Kebersamaan


 Karya: Gutamining Saida

Lebaran hari keempat yang dinantikan akhirnya tiba. Hari ini adalah momen spesial karena aku akan berkumpul dengan teman-teman semasa SMP. Sejak pagi, perasaanku sudah dipenuhi antusiasme, membayangkan kembali bertemu wajah-wajah lama yang dulu selalu menghiasi masa remajaku.

Pertemuan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dan semua teman menyambutnya dengan penuh semangat. Mereka menunjuk dan memilih di rumah saya sebagai tempat reuni kecil ini. Suasana lebaran masih terasa kental, jalanan ramai dengan orang-orang yang bersilaturahmi dan aroma kue kering serta ketupat masih tercium di setiap sudut rumah.

Beberapa jam sebelum acara dimulai, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke grup WhatsApp kami. Pesan itu datang dari mbak Fatim, salah satu teman dekatku sejak SMP.

"Gimana kalau kita buat acara tukar snack? Tapi ada syaratnya, snack yang dibawa harus sesuai dengan huruf awal nama kita masing-masing! Bawa sejumlah anggota yang hadir!" tulisnya di grup whatshap.

Pesan itu masuk di grup sekitar pukul 06.00 WIB. “Ayo segera belanja dulu.” Imbuhnya. Serta dilengkapi dengan video youtube yang lagi viral agar peserta mengetahui caranya nanti.

“Reuni kalau tidak ada tantangan dan perjuangan terasa hambar yaaa.” Tulis mbak Fatim selanjutnya.

Ide itu langsung disambut meriah. Semua merasa tertantang dan mulai berpikir keras snack apa yang cocok dengan huruf depan nama mereka. Aku sendiri langsung berpikir tentang snack yang berawalan dengan huruf  “G” namaku.

“Wah, ide seru! Kayak tukar kado yang viral di medsos itu ya, tapi ini versi tukar snack. Walau kita sudah nenek-nenek, jiwa muda tetap ada!” balas salah satu teman di grup, diikuti oleh emoji tertawa.

Selanjutnya grup sepi tanpa ada respon dari anggota. Barangkali peserta mulai mencari-cari snak yang akan dibawa sesuai inisial nama di handphone. Atau sibuk persiapan yang lain.

Sekitar pukul 06.30 WIB ada sebuah pesan masuk. “Aku sarapan dan makan siang di Balun aja, sekarang terasa lapar tak tahan.”chat dari Supri.

Aku pun segera menuju toko terdekat untuk mencari snack yang sesuai. Setelah melihat-lihat, akhirnya aku memilih sesuatu yang pas. Semua teman juga berburu snack pilihan mereka, dan percakapan di grup semakin sepi dengan candaan.  

Ketika waktu pertemuan tiba, satu per satu kami datang dengan waktu yang telah disepakati. Tak lupa menenteng tas kresek ada yang berwarna merah, hitam, putih. Begitu bertemu, suasana langsung berubah menjadi penuh tawa dan kegembiraan. Kami saling bertanya kabar, dan tentu saja, mengabadikan momen dengan banyak foto.

Setelah puas berbincang dan menikmati makanan, tibalah saat yang paling ditunggu yaitu acara tukar snack. Fatim sebagai penggagas ide ini mengatur prosesnya. Mbak Endah sebagai MC mengatur semua yang hadir dan mempersiapkan untuk berjajar urut sesuai abjad nama yang hadir.

“Kita mulai dari aku ya! Aku huruf “E” karena nama aku Endah,” katanya sambil mengangkat tas kresek berisi snack pilihannya. Semua pun tertawa dan bertepuk tangan. Satu per satu teman mulai berjalan menenteng tas snack yang mereka bawa.

“Aku nggak membaca chat di grup, jadi akhirnya aku beli aneka snak dengan jumlah peserta. Kan nama aku Lukiyanto, jadi huruf depannya kututup masih nyambung ya!” ujar Lukiyanto sambil tertawa. Semua peserta mendengar kontan tertawa. Peserta berusaha membawa snak yang sesuai inisial namanya seperti  Energen, French Fries, Slai O’lai, GufiBee, Sarimi, Mie ABC, GoodTime dan banyak lagi. Ada juga yang membawa snack yang sedikit dipaksakan agar sesuai dengan namanya, yang tentu saja membuat kami semakin terhibur.

Kami pun mulai saling bertukar snack. Meskipun ini hanyalah hal sederhana, peserta yang datang sedikit tapi kebahagiaan yang tercipta luar biasa. Seperti yang sudah diprediksi, begitu acara berlangsung, semua terasa seperti kembali ke masa kecil. Kami tertawa lepas, bercanda seperti anak-anak dan sejenak lupa bahwa sekarang sebagian dari kami sudah menjadi nenek-nenek dan kakek-kakek. “Lihat kita sekarang, sudah punya cucu, tapi tetap saja kalau ngumpul kayak anak SMP lagi!” celetuk seorang teman yang disambut gelak tawa.

Selain acara tukar snack, kami juga berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Ada yang bercerita tentang anak-anak mereka, ada yang berbagi kisah tentang cucu, dan ada juga yang mengenang masa-masa sekolah dulu. Tak lupa, kami juga mengenang teman-teman yang sudah berpulang lebih dulu yaitu ada enam.  Enam teman itu bernama Karno, Saekoni, Luluk Fajar Alova, Siti Patonah, Kasti dan Ahmad Suharianto (AY). Kami mendoakan mereka dengan penuh keikhlasan.

Waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa sadar, hari sudah mulai sore. Kami akhirnya harus mengakhiri pertemuan ini, meskipun rasanya masih ingin terus bersama. Sebelum pulang, kami berjanji untuk lebih sering mengadakan pertemuan seperti ini, tidak hanya saat Lebaran tetapi juga di momen-momen lainnya.

Hari ini benar-benar berkesan. Dari sekadar ide spontan tentang tukar snack dalam hitungan jam, kami mendapatkan kebahagiaan yang tak ternilai. Ternyata, kebersamaan dengan teman lama memiliki kekuatan luar biasa untuk menghidupkan kembali jiwa muda yang ada dalam diri kami. Lebaran hari keempat ini akan selalu aku kenang sebagai hari yang penuh tawa, kebersamaan, dan kenangan indah.

Cepu, 4 April 2025

 

Selasa, 01 April 2025

Cobaan Membawaku Mendekat

Karya : Gutamining Saida 
Manusia hidup di dunia tidak akan pernah terlepas dari ujian dan cobaan. Setiap orang pasti memiliki kisahnya sendiri dalam menghadapi berbagai peristiwa yang mengguncang hati dan perasaan. Demikian juga dengan saya. Ujian demi ujian datang silih berganti, seolah tanpa jeda.  Saya yakin bahwa semua ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang telah Allah Subhanahu Wata'ala tetapkan untuk saya. Tidak ada satu pun ujian yang tertukar, karena semuanya telah diukur sesuai dengan kemampuan masing-masing hamba-Nya.

Dulu saya merasa hidup saya cukup nyaman. Kesibukan duniawi begitu menyita waktu dan perhatian. Pagi hingga malam, saya berlarian mengejar kewajiban, memenuhi tugas-tugas dunia yang seolah tak pernah habis. Saya merasa bahagia dengan pencapaian yang saya raih. Tanpa saya sadari, perlahan-lahan saya mulai menjauh dari-Nya. Waktu-waktu yang dahulu sering saya habiskan untuk bermunajat, kini semakin jarang saya lakukan. Sepertiga malam yang dulu menjadi tempat saya mengadu, kini tergantikan oleh lelah yang membawa saya terlelap.

Kemudian, datanglah ujian. Sebuah cobaan yang mengguncang dan menyadarkan saya dari kelalaian. Saya merasa seolah dunia runtuh, dan tidak ada yang bisa saya jadikan tempat bersandar. Saya mencoba mencari solusi dengan kekuatan sendiri, namun semakin saya berusaha, semakin saya merasa terjebak dalam lingkaran yang sama. Saya merasa kehilangan arah, bingung, dan tak berdaya.

Di titik inilah, saya mulai menyadari bahwa saya telah jauh dari Allah Subhanahu Wata'ala. Ujian ini adalah panggilan lembut dari-Nya, mengajak saya kembali mendekat. Saya teringat firman Allah dalam Al-Qur'an:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman', dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)

Saya pun mulai kembali menghidupkan malam-malam saya dengan munajat. Saya menangis di hadapan-Nya, mengadukan segala kesedihan dan ketakutan yang menghantui hati. Saya membaca kembali ayat-ayat-Nya, mencoba menemukan ketenangan dalam kalam suci-Nya. Dan perlahan-lahan, saya mulai merasakan kedamaian yang selama ini hilang. Saya menyadari bahwa ujian ini bukanlah hukuman, melainkan cara Allah untuk mengembalikan saya kepada jalan yang benar.

Sejak saat itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menjauh. Saya ingin selalu dekat dengan-Nya, tidak hanya ketika dalam kesulitan, tetapi juga dalam setiap kebahagiaan yang saya rasakan. Saya ingin menjadikan sepertiga malam sebagai waktu terindah, di mana saya bisa berbicara dengan Allah Subhanahu Wata'ala tanpa gangguan. Saya ingin menjadikan doa sebagai kekuatan utama dalam menghadapi setiap ujian yang datang.

Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Justru sering kali, kita sendirilah yang menjauh tanpa sadar. Dia selalu memberikan jalan untuk kembali, entah melalui kesulitan, kehilangan, atau ujian yang menyesakkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi cobaan tersebut. Apakah kita akan tenggelam dalam kesedihan, atau justru menjadikannya sebagai jembatan untuk semakin mendekat kepada-Nya?

Sekarang, saya bersyukur atas setiap ujian yang datang. Saya ridho dengan segala takdir yang telah ditentukan untuk saya. Sebab saya yakin, Allah Subhanahu Wata'ala tidak akan membebani saya di luar kemampuan. Setiap air mata yang jatuh, setiap doa yang terucap, setiap sujud yang dilakukan, semuanya akan menjadi saksi di hadapan-Nya kelak. Saya berdoa agar bisa terus istiqamah, agar tidak kembali terlena dalam kesibukan duniawi yang bisa menjauhkan saya dari-Nya.

Mungkin saat ini, saya belum sepenuhnya pulih dari cobaan yang saya alami. Namun, saya merasa lebih kuat dari sebelumnya. Saya percaya bahwa setelah kesulitan, pasti akan ada kemudahan. Seperti janji Allah Subhanahu Wata'ala dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)

Saya akan terus melangkah dengan keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata'ala selalu bersama saya. Setiap langkah yang saya ambil, saya ingin selalu dalam ridha-Nya. Saya ingin setiap ujian yang datang tidak lagi menjadi beban, tetapi justru menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada-Nya.  Kini saya tersenyum. Bukan karena ujian itu telah usai, tetapi karena saya tahu, saya tidak pernah sendirian dalam menghadapinya. Allah Subhanahu Wata'ala selalu ada, mendengar setiap doa, melihat setiap usaha dan memberikan ketenangan bagi siapa pun yang kembali kepada-Nya dengan hati yang penuh keikhlasan.
Cepu, 2 April 2025 



Jumat, 28 Maret 2025

Hikmah Menjengguk Bu Eli

Karya: Gutamining Saida

Saya bersama empat ibu-ibu berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk teman. Bu Eli teman kami yang sedang sakit. Kami mendengar bahwa Bu Eli habis dioperasi dan dirawat membuat kami merasa perlu segera menjenguknya. Kami sebagai perwakilan atas nama keluarga besar esmega. Kami tidak membawa buah tangan berupa makanan atau minuman, hanya sebuah amplop sebagai tanda kepedulian dan doa agar Bu Eli lekas sembuh.

Sesampainya di rumah sakit kota Bojonegoro, kami berjalan melewati lorong-lorong. Suasana rumah sakit selalu menghadirkan rasa haru, melihat orang-orang yang sedang berjuang melawan penyakit mereka. Suara perawat yang sibuk bekerja, bau khas rumah sakit, serta wajah-wajah penuh harapan di setiap sudut mengingatkan kami bahwa sehat adalah anugerah yang sangat berharga.

Saat kami sampai di depan kamar perawatan Bu Eli. Kami melirik ke dalam sebelum membuka pintu. Tak seperti kebanyakan pasien yang ditemani keluarganya, Bu Eli hanya sendirian. Tidak ada sanak saudara atau kerabat yang menemaninya. Hanya ada segelas susu, buah, air mineral di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Hati kami langsung terasa nyeri melihatnya dalam keadaan seperti itu. Bu Eli terbaring di tempat tidur hanya ditemani televisi untuk menghilangkan kesunyian.

Begitu melihat kami masuk, Bu Eli tersenyum lemah. Wajahnya tampak pucat, tapi matanya berbinar seakan bahagia karena ada yang datang menemuinya.

"Masya Allah, kalian datang!" katanya dengan suara pelan tetapi penuh kehangatan.

Kami segera mendekat dan duduk di sekitar tempat tidurnya. Kami saling berjabat tangan bergantian, menggenggam tangannya dengan lembut.

"Bagaimana kabarnya, Bu Eli?" tanya bu Yanti.

Bu Eli tersenyum tipis. "Alhamdulillah, sedikit lebih baik. Tapi masih harus banyak istirahat."

Kami melirik sekeliling kamar, memastikan apakah ada keluarganya di luar. Tidak ada. Hanya kesunyian yang terasa.

"Bu Eli, kenapa sendirian? Mana keluarga?" tanya Bu Fitri dengan lembut.

Bu Eli menarik napas pelan. "Suamiku kemarin pulang. Anak-anak di rumah Cepu. Mereka bilang akan datang, tapi mungkin belum bisa saat ini. Sejak kemarin, aku hanya ditemani perawat yang sesekali masuk untuk mengecek kondisiku."

Kami semua terdiam. Ada perasaan haru yang menyelimuti hati kami.

"Apa selama ini keluarga tidak ada yang datang menjenguk?" tanya Bu Isna pelan.

Bu Eli menggeleng. "Tidak ada. Tapi tidak apa-apa, aku mengerti. Mereka pasti sibuk."

Saya merasakan dada sesak. Sungguh, tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya sakit dan sendirian di rumah sakit tanpa ada keluarga yang menemani. Rasa sepi dan rindu pasti bercampur menjadi satu.

Bu Ning menggenggam tangan Bu Eli erat. "Bu Eli, sekarang kami di sini. Anggap saja kami keluarga. Kami akan mendoakan selama yang kami bisa."

Air mata Bu Eli tampak menggenang, tapi ia cepat-cepat tersenyum. "Terima kasih. Kehadiran kalian benar-benar menghangatkan hatiku."

Kami pun mengobrol ringan untuk menghiburnya. Bu Eli bercerita tentang awal sakitnya, bagaimana ia mulai merasa linu hingga akhirnya harus dioperasi. Ia mengaku sangat merindukan hari-hari sehatnya, saat bisa beraktivitas bebas tanpa harus bergantung pada orang lain.

"Ternyata sakit itu benar-benar ujian," katanya lirih. "Saya baru sadar betapa berharganya bisa berjalan tanpa rasa sakit, bisa makan tanpa kesulitan, bisa tidur nyenyak tanpa harus terbangun karena nyeri. Dulu, hal-hal kecil itu saya anggap biasa saja. Sekarang saya sadar bahwa sehat adalah nikmat yang sering terlupakan."

Kami semua mengangguk setuju. Memang benar, ketika sehat kita sering kali lupa bersyukur kapada Allah Subhanahu Wata’alla. Saat tubuh diuji, kita menyadari betapa berharganya kesehatan.

Bu Ning kemudian berkata, "Itulah sebabnya kita harus selalu bersyukur. Kadang kita baru menyadari nikmat saat sudah kehilangannya. Sehat itu mahal, Bu Eli, dan sakit ini mungkin cara Allah Subhanahu Wata’alla mengingatkan kita untuk lebih mendekat kepada-Nya."

Bu Eli mengangguk pelan. "Iya, selama di sini aku jadi lebih banyak berdoa, lebih banyak mengingat Allah. Aku sadar bahwa sakit ini bukan hanya cobaan, tapi juga jalan untuk semakin dekat kepada-Nya."

Kami pun menghiburnya dengan kata-kata semangat dan doa. Sebelum berpamitan, kami menyerahkan amplop yang sudah kami siapkan.

"Ini sedikit bantuan dari keluarga esmega, Bu Eli. Semoga bisa membantu keperluan selama di rumah sakit," kata Bu Yanti.

Bu Eli tampak terharu. Ia menggenggam amplop itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih banyak. Bukan hanya karena ini, tapi karena kalian sudah datang, sudah menyempatkan waktu untuk menjengukku. Kehadiran kalian lebih berharga dari apa pun."

Kami semua tersenyum dan menggenggam tangannya satu per satu sebelum berpamitan. Saat berjalan keluar kamar, kami merasa lega bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada Bu Eli.

Di lorong rumah sakit, aku melihat banyak pasien lain. Beberapa hanya ditemani perawat, beberapa tampak termenung menatap langit-langit. Pemandangan itu membuat hatiku semakin sedih.

Di depan rumah sakit, kami berlima duduk sejenak. Banyak motor terparkir dan mobil-m0bil berjajar sepanjang jalan. Tempat parkir penuh.

"Aku jadi berpikir, kita harus lebih sering menjenguk orang sakit," kata Bu Fitri.

"Iya," sahut Bu Ning. "Menjenguk bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita sendiri. Agar kita bisa belajar bersyukur dan tidak menyia-nyiakan kesehatan."

"Kita juga harus lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita," tambah Bu Isna. "Mungkin ada tetangga atau saudara yang sakit, tapi tak ada yang menemani. Jangan sampai mereka merasa sendirian."

Kami semua mengangguk setuju. Dengan perasaan penuh hikmah, kami pun melangkah pulang, membawa pelajaran berharga dari kunjungan hari ini. Saya berjanji dalam hati, mulai sekarang akan lebih sering menjenguk orang sakit, bukan hanya sebagai bentuk kepedulian, tapi juga sebagai pengingat bahwa sehat adalah anugerah yang tak boleh disia-siakan. Salam selat.

Cepu, 28 Maret 2025

 



 

Amplop di Bulan Suci

Karya: Gutamining Saida

Selepas tarawih di musala, saya berjalan pulang dengan hati yang tenteram. Udara Ramadan begitu sejuk, bulan bersinar terang dan suara tadarus masih menggema di kejauhan. Dalam perjalanan menuju kamar, saya merasakan ada yang mengikuti dari belakang.

Saya menoleh sekilas dan benar saja, anak perempuan saya dengan senyum yang tersungging di bibirnya, berjalan mendekati saya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di tangannya dan tatapan matanya penuh makna.

Sesampainya di kamar sebelum saya sempat bertanya. Dia menyelipkan sebuah amplop putih ke tangan saya dengan gerakan cepat.

"Ini untuk Umi. Tidak boleh ditolak. Titik!" katanya tegas, lalu segera berbalik dan pergi ke kamarnya.

Saya hanya terpaku, memandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak. Apa yang sedang anakku lakukan? Kenapa harus ada amplop dan kenapa harus dengan kata-kata seperti itu?

Dengan hati yang berdebar, saya duduk di tepi tempat tidur, memegang amplop putih itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Rasanya amplop itu cukup tebal. Seakan berisi sesuatu yang sangat berarti.

Saya menarik napas dalam-dalam, lalu mulai membuka lipatan kertas yang ada di dalamnya. Begitu mata saya menangkap deretan tulisan tangan yang sudah tak asing, air mata langsung menggenang di pelupuk.

Membaca surat itu, dada saya terasa sesak oleh haru. Air mata jatuh tanpa bisa saya tahan, membasahi pipi yang sudah berkerut oleh usia. Saya membaca pelan-pelan dengan meresapi maknanya. 

Saya melirik ke dalam amplop dan menemukan sejumlah uang. Anak saya telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk saya. Ini bukan tentang jumlahnya, tetapi tentang ketulusan yang saya rasakan begitu mendalam.

Saya terisak, bukan karena jumlah uang yang diberikan, tetapi karena rasa syukur yang meluap-luap dalam hati. Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan anak-anak yang bukan hanya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tetapi juga penuh kasih sayang.

Saya ingin langsung menemuinya, memeluknya erat dan mengatakan bahwa saya bangga padanya. Saya tahu, jika saya lakukan itu sekarang, mungkin dia akan malah menangis juga.

Saya hanya duduk diam dalam kamar, merenungi betapa besar nikmat yang Allah Subhanahu Wata’alla berikan kepada saya. Saya tidak pernah meminta balasan atas apa yang telah saya lakukan untuk anak-anak. Allah Subhanahu Wata’alla membalasnya dengan cara-Nya yang indah. Allah Subhanahu Wata’alla lewatkan hati dan kasih sayang anak-anak tercinta.

Saya sujud syukur dalam doa yang lebih lama dari biasanya. Saya meminta kepada Allah Subhanahu Wata’alla agar selalu menjaga anak-anak saya, memberikan mereka kebahagiaan, melindungi mereka dari segala kesulitan dan menjadikan mereka anak-anak yang istiqamah di jalan-Nya.

Ketika saya bangkit dari sujud, hati saya terasa lebih ringan, lebih penuh dengan rasa syukur. Ramadan ini terasa begitu istimewa, bukan karena materi, tetapi karena cinta yang terjalin dalam keluarga kami.

Saya akan melihat anak saya dengan senyum yang berbeda. Senyum seorang ibu yang bangga, yang bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla dan yang merasa dicintai dengan begitu tulus.

Saya sengaja mengabadikan momen ini dalam tulisan bukan maksud pamer. Melainkan sebagai kenangan, menginspirasi generasi akan datang. Semoga catatan ini bukan sekedar catatan pribadi tapi sebagai dorongan bagi siapapun yang membaca untuk selalu mengingat, menghormati dan membahagiakan orang tua selagi kesempatan itu masih ada. Semoga anak-anakku menjadi anak sholeh dan sholehah. Aamiin.

Cepu. 28 Maret 2025


 

Kamis, 27 Maret 2025

Materi IPS kelas VII

 Jodohkan pernyataan di Kolom A dengan jawaban yang sesuai di Kolom B.

Kolom A (Pernyataan)Kolom B (Jawaban)
1. Permintaan adalah...A. Harga yang terbentuk ketika jumlah barang yang diminta sama dengan jumlah barang yang ditawarkan.
2. Penawaran adalah...B. Jumlah barang atau jasa yang ingin dibeli konsumen pada tingkat harga tertentu.
3. Harga keseimbangan adalah...C. Jumlah barang atau jasa yang ingin dijual produsen pada tingkat harga tertentu.
4. Faktor utama yang memengaruhi permintaan adalah...D. Harga barang itu sendiri.
5. Faktor utama yang memengaruhi penawaran adalah...E. Harga barang yang ditawarkan.
6. Jika harga suatu barang naik, maka permintaan akan...F. Menurun.
7. Jika harga suatu barang naik, maka penawaran akan...G. Meningkat.
8. Hukum permintaan menyatakan bahwa...H. Jika harga turun, permintaan akan naik, dan jika harga naik, permintaan akan turun.
9. Hukum penawaran menyatakan bahwa...I. Jika harga naik, penawaran akan naik, dan jika harga turun, penawaran akan turun.
10. Faktor yang dapat meningkatkan permintaan adalah...J. Peningkatan pendapatan masyarakat.
11. Faktor yang dapat meningkatkan penawaran adalah...K. Kemajuan teknologi dalam produksi.
12. Jika harga suatu barang berada di atas harga keseimbangan, maka terjadi...L. Surplus atau kelebihan barang.
13. Jika harga suatu barang berada di bawah harga keseimbangan, maka terjadi...M. Kekurangan barang (shortage).
14. Perubahan selera konsumen dapat memengaruhi...N. Permintaan suatu barang atau jasa.
15. Faktor eksternal yang memengaruhi permintaan adalah...O. Iklan dan promosi produk.
16. Biaya produksi yang meningkat akan menyebabkan...P. Penawaran barang menurun.
17. Jika harga barang substitusi meningkat, maka permintaan barang utama akan...Q. Meningkat.
18. Jika harga barang komplementer meningkat, maka permintaan barang utama akan...R. Menurun.
19. Jika pemerintah memberikan subsidi kepada produsen, maka penawaran akan...S. Bertambah.
20. Jika terjadi bencana alam yang merusak bahan baku, maka penawaran akan...T. Berkurang.

Materi Agama Islam Kelas VII

 

Petunjuk:

Jodohkan pernyataan di Kolom A dengan jawaban yang sesuai di Kolom B.

Kolom A (Pernyataan)Kolom B (Jawaban)
1. Gibah adalah...A. Memeriksa atau mencari kejelasan suatu informasi sebelum mempercayainya.
2. Tabayun adalah...B. Menceritakan keburukan orang lain yang benar terjadi tanpa sepengetahuan orang tersebut.
3. Salah satu dampak negatif gibah adalah...C. Menyebabkan perpecahan dan permusuhan dalam masyarakat.
4. Orang yang suka gibah disebut...D. Penyebar fitnah atau penggunjing.
5. Hukum gibah dalam Islam adalah...E. Haram, kecuali dalam keadaan darurat seperti memberikan kesaksian di pengadilan.
6. Perintah untuk bertabayun terdapat dalam surat...F. Al-Hujurat ayat 6.
7. Lawan dari gibah adalah...G. Menjaga lisan dan berkata yang baik.
8. Salah satu cara menghindari gibah adalah...H. Mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih bermanfaat.
9. Jika mendengar berita yang belum jelas kebenarannya, kita harus...I. Bertabayun atau mencari klarifikasi lebih dahulu.
10. Orang yang tidak bertabayun dalam menerima berita bisa menyebabkan...J. Penyebaran hoaks dan kesalahpahaman.
11. Dampak positif tabayun dalam kehidupan bermasyarakat adalah...K. Mencegah kesalahpahaman dan menjaga persatuan.
12. Gibah sering dilakukan ketika...L. Seseorang membicarakan keburukan orang lain tanpa manfaat yang jelas.
13. Berita hoaks banyak menyebar karena...M. Kurangnya sikap tabayun dan terlalu cepat menyebarkan informasi.
14. Seseorang yang bertabayun sebelum berbicara akan...N. Terhindar dari dosa menyebarkan fitnah dan menjaga keharmonisan.
15. Gibah bisa menjadi dosa besar jika...O. Dilakukan dengan niat jahat untuk menjatuhkan orang lain.