Senin, 20 April 2026

Terapi Di Air


Karya: Gutamining Saida

Di sudut perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tepatnya jalan miring Dengok yang tenang, terdapat sebuah oase kejernihan bernama kolam Bumool. Di sanalah, setiap akhir pekan mulai dari hari Jumat yang penuh berkah hingga Minggu yang cerah sosok bersahaja yang akrab disapa Pak Gun mendedikasikan waktunya. Pak Gun bukan sekadar pelatih renang biasa, beliau adalah pemandu bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari ketenangan, kesembuhan, dan keberanian di balik riak air.

Murid-murid Pak Gun adalah cerminan dari keberagaman. Mulai dari anak-anak kecil yang ceria, remaja yang penuh energi, ibu-ibu rumah tangga, hingga para lansia yang semangatnya tak kunjung padam. Hebatnya, ada seorang nenek berusia 74 tahun yang masih rutin turun ke air. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa dalam Islam, menuntut ilmu dan menjaga kesehatan tidak mengenal batasan usia. Tubuh adalah amanah dari Allah Subhanahu Wata'alla, dan merawatnya melalui olahraga renang adalah bentuk syukur atas nikmat fisik yang diberikan.

Bagi sebagian orang, tujuan berlatih bersama Pak Gun adalah untuk menguasai berbagai gaya renang. Namun bagi sebagian lainnya, kolam renang adalah tempat terapi kesehatan. Secara religius, air memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa Dia menciptakan segala sesuatu yang hidup dari air.

Terapi di air yang diajarkan Pak Gun bukan sekadar menggerakkan lengan dan kaki. Ini adalah proses penyembuhan multidimensi. Manfaatnya mencakup:

  • Menghilangkan Stres dan Kepenatan: Air memiliki sifat menenangkan (calming effect) yang mampu meluruhkan beban pikiran.

  • Penyembuhan Gangguan Hati dan Perasaan: Kesunyian di dalam air membantu seseorang untuk bermuhasabah (introspeksi diri).

  • Mengatasi Jantung Berdebar: Keteraturan napas saat berenang melatih ritme jantung, menjadikannya lebih tenang dan stabil, sejalan dengan zikir yang mengalun dalam hati.

Saya adalah salah satu dari sekian banyak murid Pak Gun yang membawa "beban" ke dalam kolam. Tujuan utama saya bukanlah medali atau kecepatan, melainkan melawan rasa takut. Sebuah insiden di masa lalu tercebur ke dalam kolam hingga tenggelam telah menyisakan luka trauma yang mendalam. Dalam pandangan spiritual, rasa takut yang berlebihan adalah belenggu yang menghalangi kita untuk melihat kebesaran ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla.

Berlatih renang berulang kali tanpa kunjung mahir karena dihantui rasa takut adalah sebuah ujian kesabaran. Pak Gun dengan sabar meyakinkan bahwa air bukanlah musuh. Air adalah sahabat kita.  Melawan trauma ini adalah sebuah bentuk ikhtiar dalam diri sendiri. Menaklukkan rasa takut di air berarti memperkuat keterpautan hati kepada Sang Pencipta, bahwa tidak ada satu pun musibah yang terjadi tanpa izin-Nya, dan tidak ada kesembuhan kecuali dari-Nya.

Kehidupan seorang pelatih tidak hanya berhenti di tepi kolam. Di luar jadwal Bumool, Pak Gun juga bersiaga di Kolam Segara Biru. Komunikasi pun terjalin intens melalui grup WhatsApp. Layaknya ujian kesabaran untuk pak Gun adakalanya pesan-pesan yang dikirimkan tidak langsung berbalas.

Suatu kali, Pak Gun mengirimkan ajakan: "Ayo, Minggu ada yang mau ke kolam? Pak Gun siap menemani."

Menit demi menit berlalu tanpa satu pun centang biru yang berubah menjadi tanggapan. Keheningan di grup tersebut sempat menimbulkan tanya di hati beliau. "Kok tidak ada yang merespon? Apa tidak ada yang latihan?" chat dari pak Gun berikutnya. Di sini kita belajar tentang adab berkomunikasi dan prasangka baik (husnuzan). Barangkali para anggota grup sedang berkhidmat pada keluarga, sedang sujud di atas sajadah, atau sedang berjihad mencari nafkah sehingga belum sempat menyentuh gawai.

Allah Subhanahu Wata'alla tidak membiarkan niat baik Pak Gun menggantung tanpa jawaban. Tak berselang lama, satu per satu jawaban muncul menghiasi layar. "Ada Pak. Insya Allah hadir." "Insya Allah latihan, Pak." Kata "Insya Allah" yang terucap bukan sekadar basa-basi, melainkan pengakuan jujur bahwa manusia hanya bisa berencana, sementara ketetapan mutlak berada di tangan Allah Subhanahu Wata'alla. Kalimat ini menghidupkan kembali semangat grup. Suasana yang tadinya sepi berubah menjadi riuh penuh kekeluargaan.

Kegairahan grup ini mencapai puncaknya bukan hanya saat jadwal latihan tiba, tetapi saat hasil latihan diposting. Ketika foto atau video progress murid diunggah, semangat itu seolah memancar menembus layar ponsel. Melihat seorang nenek berusia 74 tahun tetap tangguh di air, atau melihat seorang mulai berlatih gaya bebas, dada, berani melepas pegangan di pinggir kolam, memberikan inspirasi bagi yang lain.

Menyebarkan berita baik dan kemajuan diri yang positif adalah bagian dari mensyukuri dan menceritakan nikmat Allah. Hal ini bertujuan untuk memotivasi orang lain agar ikut bergerak menuju kebaikan. Grup tersebut menjadi lebih hidup, bukan karena pamer, melainkan karena rasa syukur yang kolektif.

Bersama Pak Gun, renang bukan lagi sekadar urusan fisik. Ia adalah perjalanan spiritual. Di kolam Bumool kita belajar bahwa air bisa menjadi kawan, sahabat yang menyembuhkan. Jika kita mendekatinya dengan kerendahan hati. Kita belajar bahwa ketakutan adalah bayangan yang akan hilang saat cahaya keberanian masuk ke dalam hati.

Mari kita luruskan niat. Setiap napas yang kita atur, dan setiap hambatan yang kita lalui, semoga dicatat sebagai amal ibadah. Kesembuhan jantung yang berdebar, pikiran yang tenang, dan hati yang lapang adalah hadiah dari Allah atas ikhtiar kita yang sungguh-sungguh. Sampai jumpa di hari Minggu, di bawah bimbingan Pak Gun, kita jemput sehat jasmani dan ketenangan rohani. Barakallah

Cepu, 20 April 2026

Minggu, 19 April 2026

Rindu Yang Menjelma


Karya : Gutamining Saida

Minggu sore, langit di atas Kedungtuban berwarna jingga keemasan, sebuah lukisan alam yang selalu berhasil menggetarkan dawai-dawai di relung jiwa. Saya melaju pelan, membiarkan kaca mobil sedikit terbuka agar angin sore yang sejuk dapat menyentuh wajah, membawa serta aroma tanah dan kenangan yang tiba-tiba menyeruak. Di depan sana, berdiri sebuah bangunan yang tak asing, namun terasa berbeda yaitu SMPN 1 Kedungtuban.

Seketika, laju mobil seolah melambat bukan karena injakan rem, melainkan karena tarikan memori yang begitu kuat. Mata saya terpaku pada gerbang berwarna oren. Ingatan saya melayang, melompati sekat-sekat tahun yang telah terlewati, kembali ke masa di mana setiap sudut bangunan itu adalah saksi dari tawa, diskusi, dan pengabdian yang tulus.

Banyak yang telah berubah. Halaman yang kini tampak lebih rapi, deretan kelas dengan cat baru yang lebih segar, serta berbagai ornamen fisik yang menandakan bahwa waktu memang tidak pernah berhenti berputar. Saya tersadar bahwa perubahan fisik adalah Sunnatullah. “Kullu man ‘alaiha faan”segala sesuatu yang ada di bumi ini akan fana, akan berubah, dan akan menua. Bangunan boleh bersalin rupa, namun esensi dari tempat itu tetaplah sama adalah sebuah kawah candradimuka bagi jiwa-jiwa muda.

Ada rasa rindu yang membuncah untuk turun, memijakkan kaki di ubin sekolah itu, dan melangkah masuk menghirup aroma ruang kelas yang khas. Saya ingin menyapa setiap sudut yang dulu pernah akrab. Namun, takdir sore itu berbicara lain. Pintu pagar terkunci rapat. Hari Minggu adalah waktu bagi dunia pendidikan untuk beristirahat dari hiruk-pikuk aktivitas manusia.

Terkuncinya pagar itu seolah menjadi pesan bisu dari Sang Khaliq. Seolah Dia berbisik, "Cukuplah engkau memandang dari jauh, biarkan rindu ini menjadi dzikir yang sunyi." Kadang, Allah Subhanahu Wata'alla menghalangi langkah kita bukan untuk mengecewakan, melainkan agar kita belajar menghargai sebuah perjumpaan melalui ketiadaannya.

Mobil terus melaju menembus angin sore, sementara leher saya tetap menoleh, menatap sisa-sisa bayangan sekolah yang kian menjauh. Di saat itulah, hati saya berdialog dengan-Nya. Saya teringat akan saudara-saudara, rekan sejawat, dan pejuang pendidikan yang hingga detik ini masih aktif menjalankan tugas di sana.

Mereka adalah orang-orang pilihan yang dititipkan amanah oleh Allah Subhanahu Wata'alla untuk menjaga lenteranya agar tetap menyala. Di dalam kelas-kelas yang kini sunyi karena hari libur itu, doa-doa mereka terangkat ke langit setiap hari melalui ilmu-ilmu yang bermanfaat. Saya membayangkan mereka sedang beristirahat di rumah masing-masing, menyiapkan energi untuk kembali berjihad melawan kebodohan di hari esok.

Rindu ini bukan hanya rindu pada tembok dan atap, melainkan rindu pada persaudaraan yang pernah terjalin erat. Persaudaraan karena tugas mulia adalah salah satu ikatan yang paling dicintai Allah. Kita dipersatukan bukan oleh darah, melainkan oleh satu cita-cita: mencetak generasi yang beradab dan berilmu.

Melihat pagar yang terkunci rapat itu, saya merenung tentang "pintu-pintu" dalam kehidupan. Seringkali kita ingin kembali ke masa lalu, ingin membuka kembali masa-masa indah pengabdian terdahulu. Namun, sebagaimana pagar SMPN 1 Kedungtuban di hari Minggu, ada pintu-pintu masa lalu yang memang harus terkunci agar kita fokus pada apa yang ada di depan mata.

Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan kita melalui momen singkat tentang dunia dan segala kenangannya hanyalah tempat persinggahan. Kerinduan yang menyesak dada ini sesungguhnya adalah sinyal bahwa jiwa kita merindukan keabadian. Jika di dunia saja perpisahan terasa begitu menyesakkan, maka betapa indahnya nanti saat pintu-pintu Surga dibuka bagi mereka yang ikhlas dalam pengabdiannya.

Harapan itu masih ada, berharap akan ada momen yang pas, sebuah timing ilahi, di mana saya bisa kembali datang. Bukan sekadar melintas, melainkan duduk melingkar, berbagi cerita, dan melepas rindu dengan mereka yang masih setia di sana. Saya ingin mendengar kisah perjuangan mereka di era yang baru ini, ingin melihat bagaimana mereka tetap teguh di tengah badai perubahan zaman.

Sore itu, perjalanan menembus angin Kedungtuban memberi saya sebuah hikmah besar. Hidup adalah tentang bergerak maju, namun tidak melupakan akar. Sekolah itu adalah akar dari banyak kebaikan yang tersebar sekarang. Ketika mobil saya semakin jauh meninggalkan kawasan Kedungtuban, rindu itu tidak lantas hilang. Ia menjelma menjadi rasa syukur. Syukur karena pernah menjadi bagian dari sejarah tempat itu. Syukur karena masih diberikan perasaan lembut untuk bisa merindu. 

Biarlah angin sore itu membawa pesan saya kepada penghuni sekolah bahwa di jalan raya ini, ada seseorang yang melintas dengan doa yang tulus, berharap agar setiap lelah mereka dicatat sebagai ibadah, dan setiap langkah mereka dihitung sebagai langkah menuju jannah. Sampai jumpa di waktu yang tepat, duhai tempat penuh berkah. Sesungguhnya, di sisi Allah Subhanahu Wata'alla, tiada pengabdian yang sia-sia dan tiada rindu yang tak berbalas. Salam rindu kawan.

Cepu, 20 April 2026

Seribu Kisah Tercipta



Karya : Gutamining Saida

Saat kemarin sore melewati jalan raya Cepu-Kedungtuban, ingatanku melayang saat hari-hari harus saya lewati, saya tempuh setiap hari. Jalan raya Cepu-Kedungtuban bukanlah sekadar hamparan aspal yang menghubungkan dua titik di peta. Bagiku, ia adalah saksi bisu atas sebuah perjumpaan antara hamba dan takdir-Nya. Setiap pagi, ketika embun masih bergelayut manja di pucuk-pucuk daun jati, saya harus menyalakan mesin motor menuju Kedungtuban. Suaranya bukan sekadar deru mesin, melainkan detak jantung perjuangan yang saya persembahkan sebagai bentuk ibadah kepada Sang Pemilik Ilmu.

Di atas roda dua ini, saya membawa amanah yang berat namun mulia yaitu mencerdaskan anak bangsa. Setiap putaran roda adalah langkah menuju sebuah bangunan sekolah, tempat di mana wajah-wajah suci menanti untuk merajai cakrawala pengetahuan.

Menyusuri jalanan ini adalah sebuah tadabbur alam yang nyata. Di kanan dan kiri jalan, hutan jati berdiri kokoh sebagai guru yang tak bersuara. Ada kalanya mereka menghijau rimbun, melambangkan masa kejayaan dan keberkahan yang melimpah. Ada kalanya pula pohon-pohon itu meranggas, menyisakan ranting-ranting kering yang pasrah pada kehendak musim.

Di sanalah saya belajar tentang hakikat kehidupan manusia. Kita tidak selamanya berada di atas, ada kalanya Allah Subhanahu Wata'alla menarik "dedaunan" kenyamanan kita agar kita sadar bahwa tanpa perlindungan-Nya, kita hanyalah batang kering yang rapuh. Gugurnya daun jati mengajarkan tentang keikhlasan bahwa melepaskan sesuatu yang kita cintai adalah jalan untuk bertunas kembali menjadi pribadi yang lebih kuat dan baru.

Begitu pula dengan persawahan yang membentang luas. Saat ia hijau royo-royo, hati ini tenang melihat harapan yang tumbuh. Saat ia menguning, ada rasa syukur atas rezeki yang hampir tiba. Namun, saat sawah itu gersang dan kosong menanti pengolahan lahan, saya diingatkan bahwa hati manusia pun perlu "dibajak" dengan ujian dan kesabaran agar siap ditanami benih-benih iman yang baru.

Kehidupan di jalan raya Cepu-Kedungtuban tidak selalu mulus. Ada kalanya saya harus bergelut dengan waktu. Ketika jam dinding di rumah seolah berlari lebih cepat dan berangkat kesiangan, ada rasa sesak yang menghimpit. Di antara riuhnya kendaraan lain, saya terpaksa memacu kecepatan. Di sinilah letak ujian tawakal.

Di atas motor, dalam kecepatan yang mendebarkan, lisan ini tak henti berdzikir. Saya sadar, antara keselamatan dan musibah hanya dibatasi oleh seutas benang tipis rahmat-Nya. Jalanan yang bergelombang dan berlubang adalah metafora dari ujian hidup. Jika kita tidak hati-hati dan waspada, kita akan jatuh terperosok. Jika kita melaluinya dengan kesabaran dan perhitungan yang matang, lubang-lubang itu hanyalah rintangan kecil menuju tujuan yang mulia.

Setibanya di sekolah, rasa lelah akibat debu jalanan seolah menguap saat melihat binar mata para siswa. Mereka adalah ladang pahala. Sebagai guru IPS, saya tidak sekadar mengajarkan tentang peta, sejarah, atau interaksi sosial. Saya sedang mengajarkan mereka bagaimana membaca tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi ini. Ada kebahagiaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata saat melihat mereka mampu memahami materi. Saat pertanyaan demi pertanyaan terjawab dengan benar, saya melihat masa depan yang cerah bagi mereka. 

Inilah bentuk syukur. Bukan dengan kata-kata semata, melainkan dengan dedikasi memberikan yang terbaik bagi generasi penerus. Setiap senyuman siswa adalah penawar lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Matahari mulai condong ke barat saat saya kembali menyusuri jalan raya yang sama. Kali ini, tujuannya adalah rumah. Jika pagi hari adalah waktu untuk menebar manfaat, maka sore hari adalah waktu untuk menjemput ketenangan. Di rumah, keluarga tercinta telah menanti.

Perjalanan pulang seringkali menjadi momen refleksi paling dalam. Di bawah langit senja yang mulai memerah, aku menyadari betapa Allah Subhanahu Wata'alla sangat menyayangi. Saya diberikan kesehatan untuk berkendara, diberikan pekerjaan yang mulia, dan diberikan keluarga yang menjadi pelipur lara.

Rumah adalah tempat peristirahatan setelah seharian "berperang" di medan pendidikan. Berkumpul bersama keluarga adalah bentuk nikmat yang seringkali lupa disyukuri. Di sana, saya melepaskan semua beban, menggantinya dengan canda tawa bersama pasangan dan anak-anak.

Seribu kisah mungkin tercipta di sepanjang jalur Cepu-Kedungtuban. Kita semua adalah musafir di dunia ini. Jalan raya ini hanyalah perantara, sementara tujuan akhirnya adalah ridha Ilahi. Semoga setiap aspal yang  saya pijak, setiap debu yang saya hirup, dan setiap tetes bensin yang terbakar menjadi saksi di hari perhitungan kelak saat berusaha menjalankan amanah-Nya dengan sebaik-baiknya.

Terima kasih, jalan raya Cepu-Kedungtuban. Engkau bukan sekadar rute, engkau adalah guru, sahabat, dan saksi bisu atas perjalanan menjemput cahaya-Nya. Di atas motor saya akan terus melaju, selama nafas masih dikandung badan, demi sebuah janji pada masa depan dan sebuah pengabdian pada Sang Pencipta. Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa di mana pun kita berada bahkan di jalan raya sekalipun Tuhan selalu hadir melalui tanda-tanda alam-Nya. Kini  kau menjadi kenangan yang tak terlupan.

Cepu, 20 April 2026


Berbagi Dengan Sesama Makhluk


Karya: Gutamining Saida

Berbagi itu indah. Kalimat tersebut sederhana, memiliki arti yang begitu dalam jika benar-benar direnungi. Banyak orang memaknai berbagi hanya sebatas kepada sesama manusia yaitu memberi kepada yang membutuhkan, membantu teman, atau menyantuni fakir miskin. Padahal, jika hati kita lebih peka, berbagi bisa meluas kepada seluruh makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, termasuk hewan yang sering kali luput dari perhatian.

Kamis roda motor kami terhenti di sebuah rumah makan sederhana bernama Mekar Sari. Tempatnya tidak terlalu besar, namun terasa teduh dan nyaman. Di beberapa sudut halaman, terdapat kolam yang cukup luas, dihuni oleh ikan-ikan yang begitu cantik. Airnya berwarna hijau, panntulan pepohonan dengan cahaya matahari yang menari di permukaan, seolah mengundang siapa saja untuk mendekat dan memperhatikan kehidupan di dalamnya.

Saya bersama teman duduk sejenak di pinggir kolam. Awalnya hanya ingin melepas lelah, namun pandangan kami tertuju pada ikan-ikan yang berenang dengan lincah. Subhanallah… warna mereka begitu beragam. Ada yang kuning cerah seperti sinar mentari, ada yang oranye menyala, hitam pekat, hingga krem lembut yang menenangkan. Ukurannya pun berbeda-beda yaitu ada yang besar dan tampak dominan, ada yang sedang, dan ada pula yang kecil, berenang gesit di sela-sela yang lebih besar.

Betapa Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan makhluk-Nya dengan penuh keindahan dan kesempurnaan. Tidak ada yang sia-sia. Bahkan seekor ikan pun memiliki warna, gerak, dan peran yang begitu indah untuk disaksikan. Saat itulah terlintas keinginan sederhana yaiti berbagi dengan mereka.

Teman membeli satu bungkus pakan ikan yang disediakan di sana. Bukan sesuatu yang besar nilainya, namun cukup untuk membuat hati ini merasa ingin berbagi. Ketika butiran pakan mulai kami taburkan ke permukaan air, seketika suasana berubah. Ikan-ikan yang sebelumnya berenang santai, tiba-tiba bergerak cepat mendekat. Mereka datang dari berbagai arah, seolah telah mengetahui bahwa rezeki sedang diturunkan untuk mereka.

Subhanallah… pemandangan itu begitu menggetarkan hati. Ikan-ikan itu saling berebut, namun bukan dalam arti permusuhan. Lebih seperti semangat untuk mendapatkan bagian rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Air yang tadinya tenang menjadi riuh oleh percikan kecil. Warna-warni tubuh mereka saling berkelindan, menciptakan lukisan hidup yang sangat indah.

Di balik pemandangan itu, hati ini seakan diajak berbicara. Bukankah kita juga seperti ikan-ikan itu? Sama-sama makhluk Allah yang menanti rezeki dari-Nya. Bedanya, kita sering lupa bahwa rezeki itu datang dari Allah, bukan semata hasil usaha kita. Ikan-ikan itu tidak bekerja seperti manusia, namun Allah tetap mencukupi mereka. Mereka hanya bergerak, berusaha, dan Allah Subhanahu Wata'alla yang mengatur segalanya.

Saat melihat mereka berebut pakan, saya teringat bahwa dalam kehidupan manusia pun demikian. Kita berlomba-lomba mencari rezeki, mengejar dunia, terkadang sampai lupa berbagi. Padahal, dengan berbagi, justru rezeki itu tidak berkurang bahkan bisa bertambah, baik secara nyata maupun dalam bentuk keberkahan.

Memberi makan ikan mungkin terlihat sederhana, namun dalam pandangan Allah, bisa jadi itu bernilai ibadah. Rasulullah pernah mengajarkan bahwa berbuat baik kepada hewan pun mendapatkan pahala. Bahkan, ada kisah seseorang yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Dari sana kita belajar, bahwa kasih sayang kepada makhluk Allah adalah jalan menuju rahmat-Nya.

Saya memandangi ikan-ikan itu lebih lama. Ada yang berhasil mendapatkan pakan, ada yang terlambat dan harus mencari sisa. Namun tidak ada yang menyerah. Mereka tetap berenang, tetap berusaha. Hati ini kembali diingatkan bahwa dalam hidup, kita juga harus terus berikhtiar, namun tetap bersandar kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Teman di samping saya tersenyum, mungkin merasakan hal yang sama. Kami tidak banyak bicara, karena suasana sudah cukup “bercerita.” Kadang, tanpa kata pun, hati bisa saling memahami. Setelah pakan habis, perlahan ikan-ikan itu kembali menyebar. Air kolam kembali tenang, seolah tidak pernah terjadi keramaian sebelumnya. Namun bagi kami, momen itu meninggalkan jejak yang dalam.

Saya menarik napas pelan, lalu dalam hati berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang ringan tangan untuk berbagi. Tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk-Mu. Lembutkan hati kami agar mampu merasakan kehadiran-Mu dalam setiap ciptaan-Mu.”

Perjalanan hari itu terasa berbeda. Kami datang silaturahmi, halal bihalal dan untuk menikmati makan siang. pulang dengan membawa pelajaran. Bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya, tidak harus menunggu sempurna. Bahkan dari hal kecil seperti memberi makan ikan, kita bisa belajar tentang keikhlasan, kepedulian, dan keimanan. Pada akhirnya, yang Allah lihat bukan seberapa besar yang kita beri, tetapi seberapa tulus hati kita saat memberi. Jika kita mampu melihatnya dengan hati, maka di mana pun kita berada, selalu ada jalan untuk mendekat kepada-Nya. Berbagi itu indah… dan keindahan itu akan semakin terasa ketika dilakukan karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Cepu, 20 April 2026

Selasa, 14 April 2026

Nasi Gandul Pati



Karya : Gutamining Saida
Setiap perjalanan selalu menyimpan cerita. Salah satu cerita yang paling berkesan adalah tentang sepiring nasi gandul. Bukan sekadar makanan, tetapi juga tentang rasa, kenangan, dan perjalanan yang penuh kenengan. Nasi gandul, kuliner khas kota Pati, seakan memiliki daya tarik tersendiri yang sulit untuk diabaikan. Setiap kali saya melewati Pati, rasanya ada panggilan yang tak terucap.

Perjalanan menuju Pati memiliki berbagai tujuan. Kadang untuk urusan keluarga, tak jarang hanya sekadar melepas penat. Satu hal yang pasti, setiap melewati kota tersebut, saya hampir tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati nasi gandul. Seolah-olah, perjalanan belum lengkap tanpa menyantap hidangan khas ini.

Aroma nasi gandul begitu khas. Kuahnya yang gurih, berpadu dengan rempah-rempah yang meresap sempurna, langsung menggugah selera sejak pertama kali disajikan. Disajikan dengan daun pisang sebagai alas, memberikan sentuhan alami yang menambah kenikmatan tersendiri. Nasi putih yang pulen disiram kuah berwarna cokelat kehitaman, dilengkapi potongan daging sapi yang empuk, terkadang serta tak lupa kecap, sambal dan perkedel sebagai pelengkap.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, rasa gurih dan sedikit manis langsung menyatu di lidah. Ada kehangatan yang terasa, bukan hanya dari kuahnya, tetapi juga dari kenangan yang ikut hadir. Makan nasi gandul bukan sekadar mengisi perut, tetapi juga mengisi hati.

Di Cepu, tempat saya tinggal, ada hidangan yang sekilas mirip dengan nasi gandul, yaitu nasi rawon. Keduanya sama-sama menggunakan kuah berwarna gelap dan berbahan dasar daging sapi. Namun, jika dicermati lebih dalam, keduanya memiliki karakter yang berbeda.

Nasi rawon memiliki rasa yang lebih kuat dan khas karena penggunaan kluwek yang dominan. Aroma rawon lebih tajam, dengan rasa yang cenderung lebih pekat dan sedikit pahit khas kluwek. Penyajiannya pun biasanya dilengkapi dengan tauge kecil, sambal serta kerupuk udang, yang menambah variasi rasa dalam satu piring.

Sementara itu, nasi gandul memiliki rasa yang lebih ringan dan cenderung manis. Kuahnya tidak sepekat rawon, tetapi tetap kaya akan rempah. Penyajiannya yang menggunakan daun pisang juga memberikan pengalaman makan yang berbeda. Jika rawon terasa lebih “tegas”, maka nasi gandul terasa lebih “ramah” di lidah.

Perbedaan inilah yang justru membuat saya semakin menghargai keberagaman kuliner di sekitar kita. Dua hidangan yang tampak serupa, ternyata memiliki identitas yang berbeda. Hal ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan pun demikian. Kita mungkin terlihat sama di luar, tetapi setiap orang memiliki karakter dan keunikan masing-masing.

Ada satu momen yang sangat saya ingat. Suatu siang, setelah perjalanan yang cukup melelahkan, saya memutuskan untuk berhenti di salah satu warung nasi gandul sederhana di pinggir jalan. Tidak ada kemewahan di tempat itu, hanya bangku kayu panjang dan meja seadanya. Di situlah saya merasakan kenikmatan yang luar biasa.

Angin malam berhembus pelan, suara kendaraan sesekali terdengar, dan di hadapan saya tersaji sepiring nasi gandul yang hangat. Saya menikmatinya perlahan, tanpa terburu-buru. Setiap suapan, saya merasakan rasa syukur yang mendalam. Betapa Allah telah memberikan begitu banyak nikmat, bahkan melalui hal sederhana seperti sepiring makanan.

Saya teringat bahwa dalam kehidupan, sering kali kita terlalu sibuk mengejar hal-hal besar hingga lupa menikmati hal-hal kecil. Kebahagiaan justru sering hadir dalam bentuk yang sederhana. Seperti nasi gandul ini yang tidak mewah, tidak mahal, tetapi mampu menghadirkan rasa bahagia.

Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dinikmati. Setiap daerah memiliki kekhasan, setiap rasa memiliki cerita. Tugas kita adalah menghargai serta mensyukurinya. Perbedaan rasa, dan pelajaran hidup yang begitu berharga.
Cepu, 15 April 2026

Minggu, 12 April 2026

Keadaan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin

Karya: Gutamining Saida 

Masa Ekonomi Terpimpin (1959–1966) di bawah Presiden Soekarno merupakan periode di mana sistem ekonomi berubah dari liberal menjadi Etatisme, di mana negara memegang kendali penuh atas semua kegiatan ekonomi.

Berikut adalah rincian mengenai sebab, akibat, dan upaya yang dilakukan pemerintah pada masa tersebut.


1. Sebab Terjadinya Krisis Ekonomi

Kondisi ekonomi pada masa ini sangat tidak stabil karena beberapa faktor fundamental:

  • Gejolak Politik dan Keamanan: Adanya pemberontakan di berbagai daerah (seperti PRRI/Permesta) menguras anggaran negara untuk operasi militer.

  • Sistem Etatisme yang Tidak Efisien: Pengalihan kendali ekonomi ke tangan pemerintah pusat membuat inisiatif swasta mati dan birokrasi menjadi sangat gemuk.

  • Proyek Mercusuar: Ambisi Presiden Soekarno untuk membangun bangunan-bangunan megah (seperti Gelora Bung Karno, Monas, dan Wisma Nusantara) demi prestise internasional di tengah kondisi keuangan yang rapuh.

  • Konfrontasi Militer: Kebijakan luar negeri seperti Konfrontasi dengan Malaysia dan pembebasan Irian Barat membutuhkan biaya yang sangat besar.


2. Upaya Pemerintah dalam Memperbaiki Ekonomi

Pemerintah melakukan beberapa langkah drastis untuk menekan inflasi dan menata ulang ekonomi, namun sebagian besar menemui kegagalan.

A. Devaluasi Mata Uang (1959)

Pemerintah menurunkan nilai mata uang melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 2 Tahun 1959.

  • Uang kertas Rp500 diturunkan nilainya menjadi Rp50.

  • Uang kertas Rp1.000 diturunkan nilainya menjadi Rp100.

  • Semua simpanan di bank yang melebihi Rp25.000 dibekukan.

B. Pembentukan Depernas dan Bappenas

  • Depernas (Dewan Perancang Nasional): Dipimpin Mohammad Yamin pada 1959 untuk menyusun pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana.

  • Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional): Menggantikan Depernas pada 1963 untuk menyusun rencana pembangunan jangka panjang dan pendek.

C. Deklarasi Ekonomi (Dekon)

Pada 28 Maret 1963, pemerintah mengeluarkan Dekon sebagai strategi dasar ekonomi. Tujuannya adalah menciptakan ekonomi yang bersifat nasional, demokratis, dan bebas dari sisa-sisa imperialisme. Namun, Dekon gagal karena pemerintah tidak mampu menahan diri dari pengeluaran militer dan proyek politik.

D. Revaluasi Mata Uang (1965)

Pemerintah melakukan "Sanering" atau pemotongan nilai uang kembali pada Desember 1965.

  • Uang Rp1.000 (lama) diganti dengan Rp1 (baru).

  • Kebijakan ini justru memicu kepanikan masyarakat dan membuat harga barang melonjak drastis.


3. Akibat dari Kebijakan Ekonomi Terpimpin

Alih-alih membaik, kebijakan ekonomi pada masa ini berujung pada kekacauan finansial:

  • Hiperinflasi: Tingkat inflasi melonjak hingga 600% pada tahun 1966. Hal ini menyebabkan harga kebutuhan pokok melambung tinggi dan tak terjangkau.

  • Defisit Anggaran: Belanja negara jauh lebih besar daripada pendapatan, terutama karena biaya militer dan proyek prestise.

  • Kelangkaan Barang: Terjadi antrean panjang untuk mendapatkan beras, minyak goreng, dan gula karena produksi dalam negeri menurun drastis dan impor terhambat devisa yang tipis.

  • Kemiskinan Meluas: Penurunan daya beli masyarakat secara ekstrem yang memicu ketegangan sosial dan menjadi salah satu faktor runtuhnya kekuasaan Orde Lama.


Catatan: Kegagalan ekonomi masa Demokrasi Terpimpin membuktikan bahwa kebijakan ekonomi yang terlalu terpusat dan mengabaikan prinsip-prinsip pasar tanpa didukung cadangan devisa yang kuat dapat menyebabkan keruntuhan sistemik.

Cepu, 13 April 2026 

Jumat, 10 April 2026

Jalan Kenangan



Karya : Gutamining Saida

Siang itu, roda motor melaju lebih pelan dari biasanya. Bukan karena bensin akan menipis, tetapi karena hati sedang diajak kembali menyusuri jejak-jejak lama yang penuh kenangan. Saya sengaja memilih jalan ini. Jalan yang selama kurang lebih tujuh belas tahun menjadi saksi perjalanan hidup saya. Jalan yang setiap pagi dan siang saya lewati dengan berbagai rasa yaitu semangat, lelah, harap, bahkan kadang linangan air mata.

Di sepanjang jalan itu, begitu banyak kenangan yang seolah hidup kembali. Terbayang bagaimana dulu saya bergegas mengejar waktu agar tidak terlambat, kadang dengan langkah ngegas, kadang hampir gaspol. Sinar matahari yang menyengat pernah menjadi teman setia, begitu pula hujan deras yang tak jarang mengguyur tanpa ampun. Pernah roda depan ini terjerembab di genangan air, basah kuyup, namun tetap harus bangkit dan melanjutkan perjalanan. Semua itu kini terasa indah untuk dikenang.

Di kanan kiri jalan, pepohonan hijau masih berdiri, seakan menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Daunnya bergoyang pelan tertiup angin, seperti menyapa dan berkata, “Kamu pernah lewat sini, kamu pernah berjuang di sini.” Hati ini pun bergetar. Betapa banyak nikmat yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan selama perjalanan panjang itu. Suka dan duka silih berganti, namun semuanya adalah bagian dari takdir yang telah digariskan.

Saya pun berbisik dalam hati, “Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah membersamai setiap langkahku. Engkau yang menguatkan saat lemah, Engkau yang menenangkan saat gelisah.” Tanpa pertolongan-Nya, mungkin saya tidak akan mampu melewati semua itu.

Tujuan siang ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ada undangan yang harus dipenuhi sebuah acara makan bersama sambil menyaksikan pentas ketoprak. Namun lebih dari itu, perjalanan ini terasa seperti  kenangan, mengunjungi masa lalu yang penuh pelajaran hidup.

Setibanya di lokasi, suasana sudah ramai. Warga berkumpul dengan wajah ceria. Anak-anak berlarian dengan riang, orang dewasa berbincang hangat, sementara para orang tua duduk santai menikmati suasana. Tikar-tikar digelar di tanah, kursi-kursi disusun rapi, menciptakan suasana kebersamaan yang sederhana namun penuh kehangatan.

Di tengah keramaian itu, pentas ketoprak menjadi pusat perhatian. Ketoprak adalah salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa yang mengisahkan cerita kehidupan, sejarah, maupun legenda, biasanya dibalut dengan dialog, musik gamelan, dan sentuhan humor. Lebih dari sekadar hiburan, ketoprak mengandung pesan moral, nasihat kehidupan, serta nilai-nilai kebijaksanaan yang dapat diambil oleh penontonnya.

Melihat pentas itu, saya berpikir betapa indahnya budaya yang Allah izinkan tumbuh di tengah masyarakat Jawa. Seni ketoprak bukan hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan kebaikan, mengingatkan manusia tentang nilai kehidupan, bahkan kadang menyelipkan pesan religius tentang kejujuran, kesabaran, dan keikhlasan.

Para pemain tampil dengan penuh penghayatan. Dialog mereka mengalir, sesekali diselingi tawa penonton yang pecah karena humor yang ringan namun mengena. Anak-anak terlihat antusias, sementara orang dewasa menikmati dengan santai. Semua larut dalam suasana kebersamaan.

Di sela-sela pertunjukan, para pedagang makanan dan minuman hilir mudik menawarkan dagangan. Suara mereka terdengar bersahutan, namun tidak mengganggu, justru menambah hidup suasana. Ada yang menjajakan es teh, sosis, kacang godok, gorengan, hingga makanan ringan lainnya. Mereka tetap semangat, berharap rezeki dari Allah melalui keramaian hari itu.

“Begitulah Allah mengatur rezeki hamba-Nya. Ada yang datang sebagai penonton, ada yang datang sebagai pedagang, ada pula yang tampil sebagai penghibur. Semua memiliki peran masing-masing, dan semua sedang menjemput rezekinya.”

Makan bersama pun menjadi bagian yang tak kalah hangat. Sederhana, penuh rasa syukur. Setiap suapan, saya menyadari bahwa nikmat sekecil apa pun adalah pemberian dari Allah yang patut disyukuri. Kebersamaan ini juga menjadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain.

Di tengah suasana itu, hati terasa damai. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan yang dipermasalahkan. Duduk bersama, menikmati momen yang sama. Inilah keindahan kebersamaan yang sering kali terlupakan di tengah kesibukan hidup.

Perjalanan siang ini bukan hanya tentang memenuhi undangan, tetapi juga tentang mengingat kembali perjalanan hidup, mensyukuri nikmat Allah, serta menikmati kebersamaan yang sederhana namun bermakna.

“Ya Allah, terima kasih atas setiap kenangan yang Engkau berikan. Jadikan setiap langkah kami bernilai ibadah, setiap pertemuan membawa keberkahan, dan setiap kenangan menjadi pengingat untuk selalu bersyukur kepada-Mu.”

Di sepanjang jalan kenangan, kehidupan terasa begitu hangat dan sederhana. Deretan penjual kecil berjajar dengan penuh keramahan, seolah menyapa setiap orang yang melintas. Aroma gorengan yang baru diangkat dari wajan menyebar menggoda, renyah di luar dan lembut di dalam, apalagi harganya begitu bersahabat membuat siapa saja sulit menolak untuk berhenti sejenak.

Tak jauh dari situ, tampak penjual es degan dengan tumpukan kelapa muda yang segar. Airnya yang jernih dan dagingnya yang lembut menjadi pelepas dahaga di tengah teriknya siang. Rasanya manis alami, menenangkan, seperti hadiah kecil dari alam.

Di sisi lain, ada penjual peyek ketumbar yang tak kalah menarik. Peyeknya tipis, gurih, dengan aroma khas ketumbar yang menggugah selera. Setiap gigitan menghadirkan sensasi kriuk yang membuat ingin menambah lagi. Sementara itu, potongan buah nanas kuning keemasan tersusun rapi, tampak segar dan menggoda. Rasanya manis sedikit asam, sangat pas untuk menyegarkan tenggorokan.

Alhamdulillah, siang itu menjadi momen yang sederhana namun penuh makna. Berhenti sejenak, membeli, dan menikmati hidangan dari tangan-tangan sederhana itu menghadirkan rasa syukur yang mendalam. Di balik kesederhanaan, tersimpan kenikmatan dan kebahagiaan yang tak ternilai. Siang ini berakhir dengan senyum bahagia. Kenangan bersama akan tetap hidup, tersimpan rapi dalam hati, menjadi bagian dari perjalanan panjang yang penuh hikmah. 

Cepu, 10 April 2026

Rabu, 08 April 2026

KMB (Konfrensi Meja Bundar)

 


Konferensi Meja Bundar (KMB) 

adalah perundingan antara Indonesia dan Belanda yang dilakukan di Den Haag pada tahun 1949.

Tujuannya adalah untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia dan Belanda setelah Indonesia merdeka.

👉 Singkatnya:
KMB adalah perundingan untuk mengakui kemerdekaan Indonesia secara resmi oleh Belanda.


 Isi Konferensi Meja Bundar

Isi utama KMB antara lain:

  1. Belanda mengakui kedaulatan Indonesia
    → Indonesia diakui sebagai negara merdeka.
  2. Indonesia menjadi negara berbentuk RIS (Republik Indonesia Serikat)
  3. Dibentuk Uni Indonesia-Belanda
    → semacam kerja sama antara Indonesia dan Belanda.
  4. Masalah Irian Barat ditunda
    → belum langsung diserahkan ke Indonesia.
  5. Indonesia harus membayar hutang Belanda
    → peninggalan masa penjajahan.

⚖️ Dampak KMB bagi Indonesia dan Belanda

Bagi Indonesia

Dampak positif:

  • Kemerdekaan Indonesia diakui dunia 
  • Perjuangan diplomasi berhasil
  • Indonesia menjadi negara berdaulat

Dampak negatif:

  • Bentuk negara jadi RIS (bukan NKRI)
  • Harus menanggung hutang Belanda
  • Irian Barat belum kembali

Bagi Belanda

Dampak:

  • Harus mengakui Indonesia merdeka
  • Kehilangan wilayah jajahan
  • Masih punya pengaruh lewat Uni Indonesia-Belanda
  • Mendapat keuntungan dari pembayaran hutang

Keuntungan bagi Indonesia

Beberapa keuntungan utama:

  • Diakui sebagai negara merdeka secara internasional
  • ✅ Konflik dengan Belanda berakhir
  • ✅ Bisa membangun pemerintahan sendiri
  • ✅ Mendapat dukungan dari negara lain

    Soal Isian Singkat KMB

    1. Konferensi Meja Bundar dilaksanakan di kota ________.
    2. KMB dilaksanakan pada tahun ________.
    3. Tujuan utama KMB adalah untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia dan ________.
    4. Hasil utama KMB adalah pengakuan ________ Indonesia oleh Belanda.
    5. Setelah KMB, bentuk negara Indonesia menjadi ________.
    6. Salah satu isi KMB adalah pembentukan Uni antara Indonesia dan ________.
    7. Masalah wilayah ________ belum diselesaikan dalam KMB.
    8. Indonesia setuju untuk membayar ________ peninggalan Belanda.
    9. KMB merupakan salah satu bentuk perjuangan melalui jalur ________.
    10. Setelah KMB, Indonesia diakui sebagai negara yang ________ dan berdaulat  
    11. SELAMAT MENGERJAKAN 

Atas Kuasa-Mu


Karya: Gutamining Saida 

Pukul 14.12 WIB, di tengah perjalanan menuju Sambong, sebuah notifikasi masuk ke ponsel saya. Pesan dari panitia seleksi naskah artikel konten budaya lokal. Hati saya seketika berdebar. Pesan singkat itu berbunyi sederhana, “Bagaimana, sudah ada?”

Saya terdiam sejenak. Beberapa menit sebelumnya, saya sempat membuka akun Perpustakaan Kabupaten Blora di Instagram. Belum ada tanda-tanda pengumuman. Rasa penasaran yang sejak pagi saya tahan, kini kembali muncul.

Dalam hati, saya bergumam, “Ya Allah, apakah ini pertanda?”

Saya pun mencoba menenangkan diri. Sebagai manusia biasa, rasa ingin tahu tetap menguat. Saya akhirnya mencari nomor salah satu panitia yang pernah saya simpan beberapa waktu silam. Dengan sedikit ragu, saya memberanikan diri menghubungi, berharap mendapatkan kepastian.

Sambil menunggu jawaban, tangan ini tak berhenti membuka Instagram Perpustakaan. Berkali-kali saya refresh, berharap ada kabar terbaru. Perasaan saat itu benar-benar bercampur aduk antara harap, cemas, dan doa yang terus saya panjatkan dalam diam.

Di tengah perjalanan itu, saya mencoba mengalihkan pikiran. Saya melihat jalanan, pepohonan, dan langit yang seolah ikut menjadi saksi kegelisahan hati. Saya menarik napas perlahan dan beristighfar.

“Ya Allah, saya sudah berusaha. Jika ini baik untuk saya, mudahkanlah. Jika belum, kuatkanlah hati saya untuk menerima.”

Tak lama kemudian, mata saya kembali tertuju pada layar ponsel. Saat itulah sebuah unggahan baru muncul. Pengumuman Seleksi Konten Budaya Lokal. Tanpa sadar, saya langsung mengucap, “Alhamdulillah…”

Ucapan itu keluar begitu saja, bahkan sebelum saya mengetahui hasilnya. Entah mengapa, hati ini merasa lega hanya karena pengumuman akhirnya muncul. Seolah penantian panjang sejak pagi tadi mulai menemukan ujungnya.

Pengumuman itu hanya berupa sebuah tautan yang harus dibuka. Tidak langsung terlihat hasilnya. Sementara saya masih dalam perjalanan menuju Sambong, kondisi tidak memungkinkan untuk membuka dengan tenang dan fokus.

Rasa penasaran kembali memuncak. Saya ingin segera tahu, tetapi juga tidak ingin tergesa-gesa. Dalam situasi seperti itu, saya teringat seseorang rekan, sahabat, yang sudah saya anggap seperti anak sendiri. Tanpa berpikir panjang, saya menghubunginya. “Bisa tolong lihatkan pengumumannya?”chats saya singkat.

"Saya tidak punya IG bu, bisa dikirim linknya?" balasnya.

"Iya bisa." Jawab saya.

Saya kirim link dengan segera. Pesan itu saya kirim dengan penuh harap. Dalam hati, saya berdoa agar apa pun hasilnya, saya diberi kekuatan untuk menerimanya. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Setiap detik seperti memiliki makna. Saya mencoba menenangkan diri dengan dzikir. Mengingat bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata'alla jauh sebelum saya merencanakannya.

Tak berapa lama, balasan pun datang. Sebuah daftar nama. Lima puluh peserta yang lolos seleksi.

Jantung saya berdegup lebih kencang. Mata saya berusaha mencari satu nama di antara puluhan nama lainnya. Namun sebelum saya benar-benar menemukan nama saya sendiri, pesan berikutnya masuk.

“Alhamdulillah kita lolos lagi bu.”

Saya terdiam. Sejenak, dunia terasa hening. Lalu, perlahan, senyum mengembang di wajah saya. Air mata hampir menetes, bukan karena sedih, tetapi karena haru yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Saya membalas dengan singkat, “Alhamdulillah.”

Ucapan itu mungkin sederhana, tetapi di dalamnya ada rasa syukur yang begitu dalam. Saya sadar, ini bukan semata-mata hasil dari usaha saya. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah, yang memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar.

Dalam hati, saya berkata, “Ya Allah, terima kasih atas kesempatan ini.”

Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk belajar bersama para pakar di Perpustakaan Kabupaten Blora. Kesempatan yang tidak semua orang dapatkan. Kesempatan untuk menimba ilmu, memperluas wawasan, dan memperdalam kemampuan menulis, khususnya dalam bidang konten budaya lokal.

Saya menyadari, tanpa kuasa dan ridho Allah, saya tidak mungkin sampai di titik ini. Banyak orang yang mungkin lebih hebat, lebih berpengalaman.  Allah memilih saya untuk ikut dalam perjalanan ini. Di sinilah saya memahami satu hal bahwa  rezeki tidak selalu tentang materi. Rezeki bisa berupa kesempatan, pengalaman, dan ilmu. 

Perjalanan menuju Sambong hari itu terasa berbeda. Angin yang berhembus seolah membawa ketenangan. Langit tampak lebih cerah. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Betapa indahnya cara Allah mengatur segalanya. Dari rasa cemas di pagi hari, penantian panjang di siang hari, hingga kebahagiaan yang datang di sore hari. Semua tersusun begitu rapi.

Hari ini bukan hanya tentang lolos atau tidak. Tetapi tentang perjalanan hati belajar sabar, belajar tawakal, dan akhirnya belajar bersyukur. Saya pun berjanji pada diri sendiri, bahwa kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan. Saya ingin belajar dengan sungguh-sungguh, menggali ilmu sebanyak mungkin, dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena saya percaya, ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan. Setiap langkah yang diniatkan karena Allah, akan selalu menemukan jalan menuju keberkahan. Aamiin.

Cepu, 8 April 2026

Berburu Harta Karun

 


Karya: Gutamining Saida

Dua jam terakhir pelajaran IPS di kelas 7H sering menjadi waktu yang paling menantang. Rasa lelah mulai datang, kantuk perlahan menyerang, dan semangat belajar siswa biasanya menurun. Bagi saya, setiap waktu adalah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Saya teringat bahwa dalam setiap aktivitas, termasuk mengajar, ada nilai ibadah jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Siang itu, saya sudah menyiapkan sesuatu yang berbeda: permainan “pencarian harta karun”. Bukan sekadar permainan biasa, tetapi saya ingin menyelipkan pelajaran tentang usaha, kejujuran, kerja sama, dan semangat. Harta karun yang akan mereka cari bukan emas atau perhiasan, melainkan uang rupiah dengan berbagai nominal diantaranya adalah seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu, hingga seratus ribu rupiah.

Sebelum masuk kelas, saya sudah menyiapkan 35 lembar uang dari berbagai jenis nominal tersebut. Di balik setiap uang, saya tempelkan pertanyaan-pertanyaan terkait materi IPS tentang permasalahan sosial budaya. Saya juga sudah menyusun strategi tempat persembunyian di serambi kelas, di balik pot bunga, di sela tanaman, di bawah kursi, bahkan di dekat gasebo.

Ketika saya masuk kelas, beberapa siswa terlihat lesu. Saya tersenyum dan mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” jawab mereka serempak, meski belum sepenuhnya bersemangat.

Saya memulai dengan mengajak mereka meluruskan niat.
“Anak-anak, belajar hari ini kita niatkan karena Allah ya. Semoga apa yang kita lakukan menjadi ilmu yang bermanfaat.”

Mereka mengangguk. Saya kemudian menjelaskan bahwa hari ini mereka akan melakukan pencarian harta karun. Seketika suasana kelas berubah. Mata yang tadinya sayu menjadi berbinar.

Saya membagi mereka menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri dari empat, lima siswa. Saya tekankan bahwa dalam Islam, kerja sama adalah hal yang dianjurkan. “Kalau bekerja sama dengan baik, InsyaAllah hasilnya juga baik,” pesan saya.

Permainan pun dimulai. Dengan penuh semangat, mereka keluar menuju serambi kelas untuk mencari “harta karun” yang telah saya sembunyikan. Ada yang berlari kecil, ada yang tertawa, ada yang saling memberi petunjuk.

Di tengah keceriaan itu, saya mengingatkan,
“Ingat, jangan berebut ya. Rezeki setiap kelompok sudah Allah atur.” Kalimat itu sederhana, tetapi saya berharap tertanam dalam hati mereka bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wata'alla, dan kita hanya perlu berusaha dengan cara yang baik.

Satu per satu mereka menemukan uang-uang tersebut. “Bu, dapat seratus ribu!” teriak salah satu siswa dengan wajah sumringah. Yang lain tak kalah semangat, “Kami dapat lima puluh ribu, Bu!”

Saya kembali mengingatkan,
“Yang penting bukan besar kecilnya uang, tapi bagaimana kalian menjawab pertanyaannya.”

Setelah semua kelompok mendapatkan beberapa uang, saya memberikan kebebasan kepada mereka untuk menentukan tempat berdiskusi.
“Silakan kalian memilih tempat yang nyaman. Bisa di gazebo, di kelas, atau di lapangan. Yang penting tetap tertib dan fokus.”

Mendengar itu, siswa tampak semakin senang. Ada kelompok yang memilih duduk santai di gazebo sambil berdiskusi, menikmati angin sepoi-sepoi. Ada yang tetap di dalam kelas karena merasa lebih fokus. Ada pula yang memilih di lapangan, duduk melingkar di lapangan sambil saling bertukar pendapat.

Pemandangan itu begitu indah. Mereka belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman. Saya berjalan mengamati setiap kelompok. Di gazebo, saya melihat siswa berdiskusi dengan serius, sesekali tersenyum. Di lapangan, ada yang sempat bercanda, tetapi tetap kembali fokus saat mengerjakan. Di kelas, suasana lebih tenang, penuh konsentrasi.

Saya merasa bahagia melihat mereka belajar dengan cara yang menyenangkan namun tetap bermakna. Dalam hati saya berdoa, semoga ilmu yang mereka dapatkan hari itu benar-benar melekat. Diskusi pun berjalan. Saya melihat ada kelompok yang saling berbagi tugas, ada yang membaca, ada yang menulis, ada yang memberi pendapat. Ada juga yang sempat berselisih kecil karena perbedaan jawaban. Di situlah saya mendekat dan mengingatkan dengan lembut.

“Perbedaan itu biasa. Yang penting diselesaikan dengan musyawarah.”

Saya teringat bahwa dalam ajaran Islam, musyawarah adalah cara terbaik untuk mencapai keputusan bersama. Saya merasa inilah momen yang tepat untuk menanamkan nilai tersebut secara langsung. Setelah waktu diskusi selesai, saya meminta semua kelompok kembali ke kelas. Satu per satu mereka masuk kembali dengan membawa hasil kerja kelompok masing-masing. Wajah mereka terlihat puas, meskipun sebagian tampak lelah setelah beraktivitas di luar.

Di dalam kelas, suasana kembali tertata. Saya meminta mereka mengumpulkan hasil diskusi. Saya melihat wajah-wajah bahagia. Bukan hanya karena menemukan “harta karun”, tetapi karena mereka berhasil bekerja sama dan menyelesaikan tantangan bersama.

Sebelum menutup pelajaran, saya mengajak mereka untuk mengambil hikmah. “Anak-anak, hari ini kita belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha. Tapi ingat, usaha harus dibarengi dengan semangat, kejujuran, kerja sama, dan doa.”

Saya melanjutkan, “Uang yang kalian temukan hanyalah simbol. Harta yang sebenarnya adalah ilmu. Kalau kalian bersungguh-sungguh mencari ilmu, InsyaAllah itu akan menjadi bekal dunia dan akhirat.”

Suasana kelas menjadi lebih tenang. Beberapa siswa terlihat merenung dan berpikir. Saya menutup dengan doa, berharap apa yang kami lakukan hari itu menjadi amal kebaikan. “Semoga ilmu hari ini bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua.”

Ketika bel berbunyi, saya melihat senyum di wajah mereka. Dua jam terakhir yang biasanya melelahkan, hari itu berubah menjadi penuh makna. Saya bersyukur. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan. Saya percaya, sekecil apa pun usaha yang dilakukan dengan niat karena Allah, akan bernilai ibadah. Aamiin, semoga menginspirasi.

Cepu, 8 April 2026

Menunggu

 Karya: Gutamining Saida

Tanggal 8 April 2026 menjadi hari yang begitu saya nantikan. Sejak beberapa hari sebelumnya, hati ini sudah berdebar menunggu saat pengumuman hasil seleksi naskah. Bukan sekadar pengumuman biasa, tetapi sebuah penentu apakah tulisan yang saya kirimkan akan lolos atau tidak.

Saya teringat proses panjang yang telah berlalu. Menyusun kata demi kata, merangkai kalimat menjadi paragraf, hingga menjadi sebuah naskah yang layak dikirimkan. Tidak mudah. Ada waktu yang harus dikorbankan, ada tenaga yang dikeluarkan, bahkan ada keraguan yang sempat datang. Saya terus menguatkan diri bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan sia-sia di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya berbisik, “Ya Allah, saya sudah berusaha. Untuk hasilnya, saya serahkan sepenuhnya kepada-Mu.”

Saya sadar, sebagai manusia, tugas saya hanyalah berikhtiar. Sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Jika Allah SubhanahuWata'alla berkehendak, sesuatu yang sulit pun bisa menjadi mudah. Sebaliknya, jika Allah belum mengizinkan, maka apa pun usaha yang telah dilakukan bisa saja belum membuahkan hasil sesuai harapan.

Hari Rabu pun tiba. Tanggal 8 April. Sejak pagi, hati ini terasa berbeda. Ada harap, ada cemas, ada doa yang terus dipanjatkan. Setiap selesai salat, saya sisipkan doa agar diberikan hasil yang terbaik bukan hanya menurut keinginan saya, tetapi menurut kehendak Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Waktu terus berjalan. Jam demi jam berlalu. Saya tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tetapi pikiran sesekali melayang pada pengumuman yang dinanti. Hingga akhirnya jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB.

Namun, belum ada tanda-tanda pengumuman. Hati mulai gelisah. Rasa tidak sabar perlahan muncul. Saya mencoba menenangkan diri, tetapi tetap saja ada rasa ingin segera mengetahui hasilnya. Dalam kondisi seperti itu, saya kembali mengingatkan diri sendiri, “Sabar adalah bagian dari iman.”

Sebagai manusia biasa, rasa penasaran tetap ada. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada panitia. Saya berharap mendapatkan kepastian.

Jawaban yang saya terima sederhana, "Silakan dipantau berita di IG Perpusda."
"Belum ada." balas saya selanjutnya.
“Masih proses, oleh tim.”
"Terima kasih."

Hanya dua kata, tetapi cukup membuat saya terdiam sejenak. Saya menyadari bahwa ternyata saya harus belajar satu hal lagi hari itu: menunggu dengan sabar.

Menunggu bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika yang ditunggu adalah sesuatu yang sangat diharapkan. Dalam penantian itu, saya merenung. Bukankah dalam kehidupan ini, kita sering diminta untuk menunggu? Menunggu doa dikabulkan, menunggu rezeki datang, menunggu hasil dari usaha yang telah dilakukan.

Dan di situlah letak ujian kesabaran. Saya pun mencoba berdamai dengan keadaan. Saya menarik napas panjang, lalu beristighfar. Saya ingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu bersama orang-orang yang sabar. Saya juga percaya bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap usaha yang telah dilakukan.

Dalam hati, saya kembali berdoa,
“Ya Allah, jika naskah ini memang baik untuk saya, mudahkanlah jalannya untuk lolos. Namun jika belum, kuatkanlah hati saya untuk menerima dan jadikan ini sebagai jalan untuk saya belajar lebih baik lagi.”

Saya menyadari bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kemungkinan yaitu lolos atau tidak. Keduanya adalah takdir yang harus diterima dengan lapang dada. Jika lolos, itu adalah bentuk karunia dan nikmat yang patut disyukuri. Jika tidak, itu pun tetap merupakan kebaikan, meskipun mungkin belum saya pahami saat ini.

Saya mencoba melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Jika tidak lolos, mungkin Allah sedang mengajari saya untuk lebih giat belajar, lebih banyak membaca, lebih dalam menggali ide, dan lebih tekun dalam menulis. Mungkin Allah ingin saya naik ke level yang lebih tinggi melalui proses yang tidak instan.

Bukankah sering kali kegagalan justru menjadi pintu menuju keberhasilan yang lebih besar? Saya tersenyum kecil. Hati ini mulai terasa lebih tenang. Saya tidak lagi terlalu gelisah seperti sebelumnya. Saya mulai menikmati proses menunggu itu sendiri sebagai bagian dari pembelajaran hidup.

Waktu terus berjalan, tetapi kali ini saya tidak lagi memandangnya sebagai beban. Saya mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Saya yakin, ketika waktunya tiba, pengumuman itu akan datang dengan sendirinya.

Hari itu mengajarkan saya banyak hal. Tentang ikhtiar, tentang tawakal, dan tentang sabar. Saya semakin yakin bahwa sebagai manusia, kita hanya bisa merencanakan dan berusaha. Selebihnya, Allah yang menentukan.

Di penghujung hari, saya kembali berdoa,
“Ya Allah, berikanlah saya hasil yang terbaik menurut-Mu. Jika hari ini belum, maka siapkanlah saya untuk hari esok yang lebih baik.”

Saya pun menutup hari itu dengan perasaan yang lebih damai. Tidak lagi dikuasai rasa cemas, tetapi dipenuhi keyakinan bahwa apa pun hasilnya nanti, itu adalah bagian dari rencana terbaik Allah. Karena saya percaya, apa yang ditetapkan Allah tidak pernah salah, dan apa yang ditunda Allah tidak pernah sia-sia. Aamiin.

Cepu,8 April 2026

Selasa, 07 April 2026

Kera

                                         

Karya: Gutamining Saida

Saya  sore ini mendapat ide cerita dari hal sederhana. Sebuah percakapan ringan di grup Muda Swimming Squad 2. Di sana, saya lebih sering menjadi pengamat.  Saya membaca chats, tersenyum sendiri, kadang ikut merasakan hangatnya kebersamaan meski hanya lewat layar.

Paginya, grup tersebut tampak lebih ramai dari biasanya. Pak Gun, yang dikenal sebagai instruktur terapi sekaligus pelatih renang yang sabar dan telaten, mengirim sebuah foto. Bukan foto kolam, bukan pula aktivitas terapi, melainkan seekor kera kecil.

Sontak saja, anggota grup langsung ada chats masuk serta berkomentar.

“Kok punya monyet, Pak?” tulis bu Ika

Balasan pun cepat muncul, khas candaan akrab di antara mereka.

“Ya, mau dipinang?” jawab Pak Gun.

“Gak pak!” sahut Bu Ika dengan emotikon tertawa.

Obrolan pun berlanjut. Ternyata kera itu dibeli oleh anak Pak Gun saat masih bayi, dengan harga tujuh ratus ribu rupiah. Kini usianya sudah satu tahun. Menurut cerita dari Pak Gun, kera itu sudah “manut”, sudah pintar, bahkan tampak jinak. Namun ada satu kekhawatiran yang beliau sampaikan, “Kalau saya tinggal, tidak ada yang merawat.”

Percakapan sederhana itu membuat saya terdiam sejenak. Entah mengapa, foto kera itu membuka kembali pintu kenangan yang sudah lama terkunci dalam ingatan saya.

Kenangan masa kecil. Saat itu saya masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Setiap sore, saya pergi ke sekolah diniyah. Suasana sore hari terasa hangat, jalanan tidak terlalu ramai, dan langkah kecil saya selalu diiringi semangat untuk belajar mengaji.

Ada satu hal yang selalu membuat saya waspada. Ustadz yang mengajar kami memiliki seekor kera. Kera itu tidak dikurung dalam kandang, hanya diikat dengan tali panjang di halaman. Kadang terlihat tenang, kadang juga bergerak lincah, membuat kami anak-anak sedikit takut namun juga penasaran.

Suatu sore, kejadian itu terjadi. Saya datang seperti biasa, berjalan pelan menuju tempat belajar bersama teman-teman. Tapi entah bagaimana, kera itu tiba-tiba lepas dari kendalinya. Tali yang mengikatnya tidak lagi membatasi geraknya. Dalam sekejap, suasana berubah tegang.

Kera itu berlari ke arah saya. Saya panik. Jantung berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, saya berlari sekencang yang saya bisa. Langkah kecil saya terasa berat, napas tersengal, dan ketakutan memenuhi seluruh tubuh saya. 

Saya tidak ingat persis apa yang terjadi setelah itu. Yang saya ingat hanyalah rasa takut yang luar biasa… lalu gelap. Saat saya membuka mata, saya sudah berada di rumah. Dikelilingi keluarga yang cemas. Ternyata saya pingsan.

Sejak kejadian itu, saya menyimpan trauma. Setiap kali melihat kera, hati saya langsung berdebar. Rasa takut itu muncul begitu saja, bahkan hingga saya dewasa. Saya selalu berusaha menghindar jika melihat hewan tersebut.

Hari ini, melalui foto sederhana yang dikirim oleh Pak Gun, Allah  Subhanahu Wata'alla seperti mengajak saya untuk merenung. Saya berpikir… apakah rasa takut itu masih harus saya pelihara? Bukankah kera itu juga makhluk ciptaan Allah?

Bukankah semua yang Allah  Subhanahu Wata'alla ciptakan memiliki peran dan tempatnya masing-masing di dunia ini? Saya mulai mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Kera itu bukanlah makhluk yang harus ditakuti secara berlebihan. Ia hanyalah hewan, yang bertindak sesuai nalurinya. Mungkin dulu ia lepas bukan karena ingin mencelakai, tetapi karena tidak terkontrol.

Dalam Al-Qur’an dan ajaran agama islam, manusia diajarkan untuk menjadi khalifah di bumi. Artinya, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melindungi seluruh ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, termasuk hewan.

Rasulullah pun mengajarkan kasih sayang kepada semua makhluk. Bahkan kepada hewan sekalipun. Ada kisah tentang seseorang yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Ada pula kisah tentang seseorang yang mendapat azab karena menyiksa hewan.

Dari sana saya sadar, bahwa ketakutan saya selama ini mungkin berlebihan. Trauma masa kecil memang tidak mudah hilang, tetapi bukan berarti harus terus dipelihara. Perlahan, saya belajar menerima. Saya mulai mengubah cara pandang saya. Jika suatu saat melihat kera, saya tidak lagi ingin langsung menjauh dengan rasa panik. Saya ingin belajar melihatnya sebagai makhluk Allah yang juga berhak hidup, berhak dirawat, dan berhak dilindungi.

Percakapan di grup itu ternyata bukan sekadar candaan. Di balik itu, ada pelajaran yang Allah sisipkan untuk saya. Bahwa setiap kenangan, bahkan yang menyakitkan sekalipun, bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Bahwa setiap makhluk memiliki hikmah. Rasa takut pun bisa berubah menjadi pemahaman, jika kita mau merenung. Saya tersenyum sendiri sambil menatap kembali foto kera yang dikirim Pak Gun. Kali ini, tidak ada lagi rasa takut yang berlebihan. Yang ada justru rasa iba dan kesadaran.

Mungkin, kera itu tidak harus ditakuti. Tetapi membutuhkan untuk dipahami. Saya pun berdoa dalam hati, semoga Allah melembutkan hati saya, menghilangkan sisa-sisa ketakutan, dan menggantinya dengan rasa kasih sayang kepada seluruh ciptaan-Nya. Karena pada akhirnya, kita semua hidup di bumi yang sama, sebagai makhluk yang sama-sama bergantung pada kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin

Cepu, 7 April 2026

Pertemuan Singkat


Karya: Gutamining Saida

Saat saya sedang santai di masjid Esmega, menikmati suasana yang tenang selepas aktivitas pagi, tiba-tiba terdengar suara dari seberang. Awalnya samar, seperti orang memanggil dari kejauhan. Saya tidak terlalu menghiraukan, hingga suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Irama langkahnya pelan tapi pasti, seolah membawa kabar yang tidak biasa.

“Bu Saida, ini ada yang nyari,” ujar seseorang dari arah seberang.

Saya sedikit terkejut. Siapa ya yang mencari saya di saat seperti ini? Dengan rasa penasaran, saya langsung melonggok ke arah suara, sedikit mencondongkan badan ke luar untuk memastikan siapa gerangan.

Dari kejauhan, tampak sosok yang berjalan mendekat. Semakin jelas, semakin terasa ada sesuatu yang familiar. Lalu… senyum itu. Senyum yang hangat, yang rasanya sudah lama sekali tidak saya lihat. Bahkan mungkin sudah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali kami bertemu.

“Oh… Bu Pengawas?” spontan saya berkata, hampir tidak percaya.

Beliau tersenyum lebar, langkahnya dipercepat sedikit. Saya pun segera bangkit dari tempat duduk, menyambut beliau dengan perasaan campur aduk antara kaget, senang, dan haru.

“Bu Saida… masih ingat saya?” tanyanya dengan nada lembut.

“MasyaAllah, tentu saja ingat, Bu. Bagaimana kabarnya?” jawab saya sambil menyalami beliau dengan hangat.

Pertemuan itu terasa seperti membuka kembali lembaran lama. Dulu,  sering bersama di sekolah untuk melakukan kegiatan bersama. Sosoknya tegas penuh perhatian. Banyak cerita yang dilalui bersama, yang hingga kini masih saya ingat.

Kini, ada yang terasa berbeda. Dulu beliau sebagai teman mengajar satu sekolah, sementara beliau sekarang  adalah sebagai pengawas. Ada jarak profesional yang secara tidak langsung tercipta. Tapi hari ini, di serambi masjid yang sederhana ini, semua terasa begitu cair. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Kami duduk berdampingan, berbincang layaknya dua sahabat lama yang dipertemukan kembali oleh waktu.

Kami pun larut dalam cerita-cerita masa lalu. Tentang hari-hari ketika kami sama-sama berjuang mendidik anak bangsa. Tentang kelas-kelas yang penuh dinamika, siswa-siswa dengan berbagai karakter, dan tantangan yang kadang membuat lelah namun selalu ada kebahagiaan di dalamnya. Kami tersenyum, bahkan tertawa kecil, mengingat momen-momen yang dulu terasa biasa, tetapi kini menjadi kenangan yang sangat berharga.

Saya memandang beliau dengan rasa hormat yang sama, bahkan mungkin lebih dalam. Kini saya menyadari, setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing. Beliau diberi amanah sebagai pengawas, sebuah posisi yang tentu penuh tanggung jawab. Itu adalah rezeki yang Allah kehendaki untuk beliau. Tidak ada yang keliru, tidak ada yang tertukar.

Dan saya… tetap di jalan saya sebagai seorang guru. Awalnya mungkin pernah terlintas pertanyaan dalam hati, namun hari ini semua terasa begitu jelas. Menjadi guru pun adalah rezeki, kesempatan yang luar biasa untuk terus berjuang di dunia pendidikan. Setiap hari bertemu siswa, membimbing mereka, menanamkan nilai, dan melihat mereka tumbuh itulah kebahagiaan yang tidak ternilai.

“Ya Allah, terima kasih atas jalan yang Engkau pilihkan.” Saya merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk memberi manfaat, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi lingkungan sekitar. Semua ini semoga menjadi bekal di akhirat kelak.

Obrolan kami semakin hangat, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hingga akhirnya beliau berpamitan. Sebelum beranjak, beliau berkata, “Tetap semangat mengajar ya, Bu. Guru seperti panjenengan ini sangat dibutuhkan.” Saya tersenyum, kali ini dengan perasaan yang lebih mantap. “InsyaAllah, Bu. Mohon doanya selalu.”

Kami saling berpandangan sejenak, seolah saling memahami tanpa perlu banyak kata. Pertemuan ini bukan sekadar temu kangen, tetapi juga pengingat bahwa setiap langkah dalam hidup sudah diatur dengan sebaik-baiknya.

Saat beliau melangkah pergi, saya kembali duduk di serambi masjid. Angin berhembus pelan, membawa ketenangan yang berbeda. Hati saya terasa lebih lapang. Pertemuan singkat ini benar-benar menjadi penguat langkah saya. Bahwa di manapun posisi kita, selama itu dijalani dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, maka semuanya akan bernilai ibadah. Saya pun kembali yakin, bahwa jalan saya sebagai guru adalah bagian dari perjuangan yang tidak boleh saya sia-siakan.

Cepu, 7 April 2026