Jumat, 03 Juli 2026

Ketika Mimpi Menjadi Nyata

 

Karya: Gutamining Saida

Ada kalanya sebuah mimpi terlihat begitu jauh. Kita hanya mampu memandangnya dari kejauhan, membayangkannya dalam angan, lalu menyimpannya rapat-rapat di dalam hati.  Allah Subhanahu Wata'alla memiliki cara yang begitu indah untuk mewujudkan harapan hamba-Nya. Bukan menurut waktu yang kita inginkan, melainkan pada saat yang paling tepat menurut kehendak-Nya.

Sejak lama saya sering melihat keindahan bawah laut melalui media sosial. Berbagai video dan foto memperlihatkan hamparan terumbu karang yang berwarna-warni, ikan-ikan kecil yang berenang bebas, serta air laut yang begitu jernih hingga dasar laut tampak jelas. Setiap kali melihatnya, saya hanya mampu berkata dalam hati, "Betapa indah ciptaan Allah." Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari saya akan menyaksikan semua itu secara langsung dengan mata kepala sendiri.

Dengan perlengkapan snorkeling yang sudah dikenakan, saya berdiri di atas perahu. Deburan ombak terdengar lembut, sementara angin laut berembus menyentuh wajah. Di hadapan saya terbentang lautan biru yang seolah tidak berujung. Di balik keindahan itu tersimpan sedikit rasa takut. Pikiran mulai bertanya-tanya, "Apakah saya berani? Bagaimana jika saya panik? Bagaimana jika tidak bisa menikmati keindahan itu?"

Saya memilih menenangkan hati. Saya mengucapkan basmalah, memohon perlindungan Allah Subhanahu Wata'alla, lalu menguatkan keyakinan bahwa setiap langkah yang disertai doa akan mendapatkan penjagaan-Nya.

Dengan satu tarikan napas, saya menceburkan diri ke laut bebas. Sesaat tubuh saya menyentuh air, rasa gugup perlahan berubah menjadi rasa kagum. Air laut yang jernih membuat pandangan begitu luas. Ketika wajah menghadap ke bawah, saya seakan memasuki dunia lain yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Masya Allah... Di dasar laut terbentang pemandangan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kedalamannya lebih dari tiga meter, tetapi air yang begitu bening membuat dasar laut tetap terlihat jelas. Hamparan terumbu karang menghiasi dasar laut bagaikan taman yang disusun langsung oleh Sang Maha Pencipta.

Tidak ada seorang pun manusia yang mampu menciptakan keindahan seperti itu. Karang-karang tumbuh dengan bentuk yang unik. Ada yang menyerupai bunga, ada yang bercabang seperti pepohonan, dan ada pula yang membentuk gugusan menyerupai istana kecil di dasar laut. Semuanya berpadu dalam warna-warna yang begitu memesona.

Di sela-sela karang itu, ratusan ikan berenang dengan bebas. Ada ikan berukuran kecil yang bergerak lincah berkelompok. Ada pula ikan yang lebih besar berenang tenang tanpa rasa takut. Warna tubuh mereka sungguh luar biasa. Ada yang berwarna kuning cerah, biru, hitam bergaris putih, jingga, hingga perpaduan warna yang begitu indah. Mereka berenang seolah sedang menari mengikuti irama ombak yang tidak pernah berhenti.

Selama ini saya hanya melihat gambar di layar telepon genggam. Ketika menyaksikan langsung, keindahannya berkali-kali lipat lebih menakjubkan. Tidak ada kamera yang mampu menangkap seluruh keagungan ciptaan-Nya. Tidak ada kata-kata yang benar-benar mampu menggambarkan rasa takjub yang memenuhi hati.

Saya hanya mampu mengucapkan, "Subhanallah." Sering kali kita membatasi diri oleh rasa takut sebelum mencoba. Kita lebih sibuk memikirkan kemungkinan gagal daripada kesempatan untuk menikmati pengalaman baru. Di balik keberanian melangkah, Allah telah menyiapkan pelajaran yang luar biasa.

Seandainya hari itu saya memilih tetap berada di atas perahu karena takut, tentu saya tidak akan pernah melihat keajaiban bawah laut secara langsung. Saya hanya akan menjadi penonton yang terus membayangkan keindahan tanpa pernah merasakannya.

Banyak mimpi yang gagal bukan karena mustahil dicapai, melainkan karena kita menyerah sebelum mencoba. Rasa takut sering kali lebih besar daripada kenyataan yang akan kita hadapi. Pengalaman snorkeling itu menjadi pengingat bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun hati masih diliputi keraguan, sambil terus menggantungkan harapan kepada Allah.

Laut yang luas bukan sekadar hamparan air. Di dalamnya tersimpan kehidupan yang begitu menakjubkan. Setiap ikan memiliki rezekinya sendiri. Setiap terumbu karang menjalankan perannya menjaga keseimbangan ekosistem. Semua bergerak sesuai ketetapan Allah tanpa pernah saling berebut kedudukan.

Bukankah manusia pun seharusnya demikian? Kita tidak perlu iri terhadap perjalanan orang lain. Allah telah menentukan rezeki, kesempatan, dan waktu terbaik bagi setiap hamba-Nya. Tugas kita hanyalah terus berusaha, berdoa, dan percaya bahwa pertolongan-Nya akan datang pada saat yang paling tepat.

Ketika saya kembali naik ke perahu, hati terasa penuh dengan rasa syukur. Allah telah mengizinkan saya menyaksikan salah satu tanda kebesaran-Nya secara langsung. Pengalaman, perjalanan iman yang menguatkan keyakinan bahwa seluruh alam semesta adalah bukti nyata kekuasaan Sang Pencipta.

Kini saya semakin percaya bahwa mimpi tidak boleh berhenti hanya menjadi angan. Selama masih disertai ikhtiar, doa, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah, tidak ada yang mustahil. Jalan menuju impian memang tidak selalu mudah. Kadang harus melewati rasa takut, keraguan, bahkan tantangan yang membuat kita ingin menyerah. Ketika keberanian bertemu dengan tawakal, Allah akan membuka pintu-pintu yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa tidak ada doa yang sia-sia, tidak ada harapan yang terlalu tinggi bagi Allah, dan tidak ada mimpi yang terlalu jauh jika kita terus melangkah dengan ikhtiar, doa, serta tawakal kepada-Nya. Setiap ciptaan sebagai tanda kebesaran Allah, lalu menjadikannya sumber syukur, motivasi, dan semangat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin

Cepu, 3 Juli 2026


Kardus dan Kalender Bekas


Karya: Gutamining Saida

Tidak semua proses belajar harus berlangsung di dalam ruang kelas. Tidak semua ilmu harus disampaikan melalui media yang mahal. Kadang. Belajar yang paling membekas justru lahir dari benda-benda sederhana yang disentuh oleh tangan penuh cinta dan hati yang tulus.

Liburan sekolah tahun ini menjadi momen yang sangat saya syukuri. Rumah kami di Cepu kembali dipenuhi suara tawa cucu-cucu yang datang dari Kota Tegal. Kehadiran mereka menghidupkan setiap sudut rumah. Langkah kaki kecil yang berlarian, canda yang tak pernah habis, dan wajah-wajah polos yang selalu ingin mencoba hal baru menjadi anugerah yang tak ternilai.

Sejak mereka datang, saya memiliki satu harapan sederhana. Saya ingin mereka pulang membawa kenangan indah yang akan tetap tinggal di hati hingga mereka dewasa. Saya percaya, anak-anak mungkin akan lupa hadiah yang pernah diterima, tetapi mereka akan selalu mengingat siapa yang meluangkan waktu untuk menemani mereka.

Saya juga tidak membeli alat peraga yang mahal. Saya membuka tumpukan kardus bekas yang masih layak digunakan. Di sudut rumah masih tersimpan kalender tahun lalu yang sudah tidak terpakai. Dengan gunting sederhana, saya memotong angka demi angka. Lembaran-lembaran yang tadinya dianggap tidak berguna perlahan berubah menjadi media belajar penjumlahan dan pengurangan.

Saat menyusun potongan-potongan angka itu, hati saya dipenuhi rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa setiap nikmat patut dihargai. Sesuatu yang dianggap usang masih dapat menghadirkan manfaat jika berada di tangan yang mau berikhtiar. Kardus bekas itu seolah mengingatkan bahwa manusia pun akan selalu bernilai ketika mampu memberi manfaat bagi orang lain.

Tidak lama kemudian, cucu-cucu saya yang masih duduk di bangku TK dan SD berkumpul mengelilingi saya. Mata mereka berbinar melihat permainan baru yang belum pernah mereka coba. Mereka tidak peduli bahwa semua dibuat dari barang bekas. Yang mereka lihat hanyalah sebuah permainan yang mengasyikkan bersama nenek yang mereka cintai..

Saya mengambil beberapa angka untuk memberi contoh. Lalu meminta mereka menghitung hasil penjumlahan. Setelah itu saya mengganti dengan soal pengurangan. Suasana langsung berubah menjadi riuh. Mereka saling berebut menjawab. Ada yang menghitung dengan jari-jari mungilnya, ada yang menjawab dengan penuh percaya diri, dan ada pula yang tertawa ketika ternyata jawabannya masih keliru.

Saya tidak pernah mengatakan mereka salah dengan nada yang membuat mereka takut. Saya memilih mendampingi, memberi petunjuk sedikit demi sedikit, hingga mereka menemukan sendiri jawaban yang benar. Saat itulah senyum bangga muncul di wajah mereka. Bukan karena diberi hadiah, melainkan karena berhasil mengalahkan rasa ragu dalam dirinya.

Di tengah-tengah permainan saya tersadar, ternyata anak-anak belajar jauh lebih cepat ketika hati mereka bahagia. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang melatih kemampuan berhitung. Yang mereka rasakan hanyalah bermain bersama neneknya. Yang mereka sapa dengan "TIMMI"

Di sela-sela permainan saya mengajak mereka mengucapkan basmalah sebelum memulai. Setelah berhasil menjawab beberapa soal, kami bersama-sama mengucapkan hamdalah. Saya ingin mereka memahami bahwa ilmu adalah karunia Allah Subhanahu Wata'alla. Kepandaian bukan alasan untuk sombong, tetapi jalan untuk semakin bersyukur kepada-Nya.

Saya pun berkata kepada mereka dengan bahasa yang mudah dipahami, "Kalau rajin belajar, Allah akan sayang. Kalau ilmunya dipakai untuk membantu orang lain, pahalanya akan terus mengalir." Saya semakin yakin bahwa mendidik bukan hanya soal mengajarkan angka dan huruf. Mendidik adalah menanamkan rasa percaya diri, kesabaran, rasa syukur, kepedulian, dan cinta kepada Allah  Subhanahu Wata'alla melalui pengalaman-pengalaman kecil yang menyenangkan.

Permainan pun usai. Potongan angka kembali dikumpulkan. Kertas bekas itu mungkin tampak biasa bagi orang lain. Bagi saya, benda-benda sederhana tersebut telah menjadi saksi lahirnya tawa, semangat belajar, dan kasih sayang yang mengalir tanpa syarat.

"Ya Allah, jadikan setiap detik kebersamaan ini sebagai amal jariyah. Tanamkan kecintaan kepada ilmu dalam hati cucu-cucu kami. Jadikan mereka anak-anak yang saleh dan salehah, rendah hati ketika berilmu, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama." Aamiin.

Cepu, 3 Juli 2026


Rabu, 01 Juli 2026

Kreativitas Bersama


Karya: Gutamining Saida

Liburan sekolah selalu menjadi waktu yang paling dinanti oleh anak-anak. Liburan adalah kesempatan untuk bermain sepuasnya, bertemu keluarga, dan mencoba berbagai pengalaman baru. Bagi saya, liburan memiliki makna yang penting. Liburan adalah kesempatan emas untuk menanamkan kasih sayang, nilai-nilai kehidupan, serta mempererat ikatan keluarga yang telah Allah Subhanahu Wata'alla  anugerahkan.

Alhamdulillah, liburan kali ini cucu-cucu tercinta datang dari Kota Tegal menuju Cepu. Rumah yang biasanya terasa tenang mendadak berubah menjadi penuh canda, tawa, dan langkah-langkah kecil yang berlarian ke sana kemari. Kehadiran mereka menjadi nikmat yang tak ternilai. Saya menyadari bahwa tidak semua kakek atau nenek diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu Wata'alla  untuk menemani tumbuh kembang cucunya. Karena itulah, setiap detik kebersamaan menjadi amanah yang harus disyukuri.

Sejak beberapa hari sebelumnya, saya telah mempersiapkan sebuah kegiatan sederhana. Saya ingin mereka tidak hanya menonton televisi, tetapi juga belajar berkreasi menggunakan tangan mereka sendiri. Saya percaya kenangan masa kecil yang paling indah bukanlah tentang mainan yang mahal, melainkan tentang waktu yang diberikan oleh orang-orang yang mencintai mereka.

Saya menyiapkan beberapa lembar kertas bergambar buah-buahan, yaitu stroberi, mangga, dan apel. Saya juga memotong sedotan warna merah dan hijau menjadi potongan-potongan kecil sebagai bahan hiasan. Semua perlengkapan saya tata dengan rapi. Mungkin bagi orang lain benda-benda itu tampak sederhana, tetapi di mata saya, semua itu adalah sarana untuk menghadirkan kebahagiaan sekaligus menanamkan kreativitas kepada cucu-cucu.

Mereka bertiga memiliki usia yang berbeda. Elmira, si bungsu, sebentar lagi akan masuk taman kanak-kanak. Wajahnya masih begitu polos dan penuh rasa ingin tahu. Hamzah, sang kakak, akan memasuki bangku sekolah dasar. Ia mulai belajar berpikir lebih mandiri dan senang mencoba hal-hal baru. Sementara Zaskia, cucu pertama, telah naik ke kelas tiga sekolah dasar. Ia tampak lebih teliti, lebih sabar, dan mampu memahami instruksi dengan baik.

Perbedaan usia ternyata bukan penghalang untuk berkarya bersama. Justru saya melihat betapa indahnya Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda. Masing-masing memiliki kelebihan sesuai tahap perkembangannya. Hal itu mengingatkan saya pada firman Allah bahwa Dia meninggikan sebagian manusia atas sebagian yang lain dalam berbagai derajat agar mereka saling belajar dan saling melengkapi.

Saat saya mempersilakan mereka memilih gambar, tidak ada sedikit pun pertengkaran. Mereka memilih gambar stroberi, mangga, ataupun apel dengan tenang. Hati saya dipenuhi rasa syukur melihat mereka saling menghargai. Betapa indah jika sikap seperti ini terus tumbuh hingga dewasa nanti.

Setelah semua memperoleh gambar, saya memberikan contoh cara menempel potongan-potongan sedotan mengikuti bentuk buah yang telah tersedia. Mereka memperhatikan dengan baik. Tidak lama kemudian, tangan-tangan mungil itu mulai bekerja. Ada yang menempel perlahan-lahan, ada yang sesekali bertanya, bahkan ada yang tersenyum bangga setiap kali berhasil menempel satu demi satu potongan sedotan.

Saya hanya mengamati, sesekali memberikan semangat, lalu membiarkan mereka berimajinasi. Saya ingin mereka belajar bahwa sebuah karya membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan usaha. Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla juga mengajarkan kepada manusia bahwa setiap hasil yang baik lahir dari ikhtiar yang sungguh-sungguh?

Melihat mereka berkarya, hati saya dipenuhi rasa haru. Waktu seolah berjalan begitu cepat. Anak-anak yang dahulu masih digendong orang tuanya, kini mulai belajar menciptakan sesuatu dengan tangannya sendiri. Saya pun teringat bahwa kehidupan di dunia hanyalah perjalanan singkat. Anak-anak akan tumbuh besar, memiliki cita-cita, keluarga, dan kehidupan mereka masing-masing. Karena itulah, saya ingin meninggalkan jejak kenangan yang baik dalam hati mereka.

Saya berharap suatu hari nanti, ketika mereka telah dewasa, mereka akan mengenang masa kecilnya di Cepu. Mungkin mereka akan berkata, "Dulu saat liburan, kami sering membuat karya bersama Timmi." Kenangan seperti itulah yang tidak dapat dibeli dengan uang. Ia lahir dari waktu, perhatian, dan kasih sayang yang tulus.

Tidak membutuhkan waktu lama, satu per satu karya mereka selesai. Hasilnya sungguh luar biasa. Walaupun bentuknya berbeda-beda, semuanya tampak indah. Saya tidak membandingkan hasil karya mereka, sebab setiap anak memiliki keunikan yang Allah Subhanahu Wata'alla  titipkan. Yang terpenting bukanlah siapa yang paling bagus, tetapi siapa yang berani mencoba, belajar, dan menikmati prosesnya.

Saya memuji setiap karya mereka. Senyum bahagia langsung menghiasi wajah-wajah mungil itu. Betapa mudahnya membuat anak merasa dihargai. Cukup dengan kata-kata yang baik dan perhatian yang tulus, semangat mereka tumbuh semakin besar.

"Ya Allah, jadikanlah cucu-cucu saya menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada ilmu, akhlak yang mulia, rasa hormat kepada orang tua, serta semangat untuk selalu berkarya demi kebaikan. Lindungilah mereka di mana pun mereka berada, mudahkan langkah mereka dalam menuntut ilmu, dan jadikan mereka generasi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan sesama manusia."

Semoga setiap tawa yang terukir di rumah menjadi saksi rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla Semoga setiap karya sederhana yang mereka buat menjadi awal tumbuhnya kreativitas, kesabaran, dan rasa percaya diri. Semoga setiap detik kebersamaan selama liburan menjadi amal saleh yang bernilai ibadah. Semoga kenangan indah ini tersimpan dalam hati cucu-cucu saya hingga mereka dewasa kelak, menjadi pengingat bahwa cinta keluarga yang dilandasi iman adalah salah satu nikmat terbesar yang patut disyukuri. Aamiin

Cepu, 2 Juli 2026

Keindahan Pantai Boby


Karya: Gutamining Saida

Setiap jengkal bumi yang Allah Subhanahu Wata'alla ciptakan menyimpan keindahan dan pelajaran bagi manusia yang mau merenungkan. Gunung menjulang mengajarkan keteguhan, sungai yang mengalir mengajarkan keikhlasan, sedangkan laut yang luas mengajarkan kebesaran Sang Pencipta yang tiada berbatas. Salah satu tempat yang membuat hati saya benar-benar merasakan hal itu adalah Pantai Boby di Karimunjawa.

Begitu menginjakkan kaki di pantai ini, rasa lelah selama lima jam perjalanan dengan kapal seolah hilang begitu saja. Mata langsung dimanjakan oleh hamparan laut yang membentang luas dengan gradasi warna biru yang begitu memikat. Airnya tampak sangat jernih hingga dari tepian pantai dasar laut masih terlihat jelas. Sesekali ombak kecil datang menyapa bibir pantai dengan suara yang lembut, seakan sedang melantunkan tasbih memuji kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla.

Keindahan yang selama ini hanya saya lihat melalui foto dan video ternyata jauh lebih menakjubkan ketika disaksikan secara langsung. Tidak ada kamera yang mampu menggambarkan seluruh pesona ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla dengan sempurna. Mata, hati, dan rasa syukur harus hadir bersamaan agar keindahan itu benar-benar dapat dinikmati.

Pasir Pantai Boby berwarna putih bersih dan terasa sangat lembut ketika dipijak. Setiap langkah seolah mengajak saya untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. Tidak ada kebisingan kendaraan, tidak ada suara klakson, hanya desir angin, deburan ombak, dan kicauan burung yang berpadu menjadi lantunan alam yang menenangkan jiwa.

Saya teringat bahwa Allah menciptakan alam bukan sekadar untuk dipandang, tetapi juga agar manusia mengambil pelajaran darinya. Betapa sering kita sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa menikmati tanda-tanda kebesaran-Nya yang telah terbentang di hadapan mata.

Di sepanjang pantai tumbuh beberapa pohon kelapa yang menjulang tinggi. Pohon-pohon itu bukan hanya mempercantik pemandangan, tetapi juga memberikan keteduhan bagi para pengunjung. Di antara pohon-pohon tersebut dipasang tali yang kuat sehingga membentuk ayunan sederhana. Ayunan itu menjadi salah satu daya tarik Pantai Boby.

Banyak wisatawan bergantian duduk di atas ayunan sambil menikmati angin laut yang berembus lembut. Ada yang tersenyum bahagia, ada yang tertawa bersama keluarga, ada pula yang sekadar memejamkan mata menikmati suasana. Saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati ternyata tidak selalu berasal dari sesuatu yang mahal. Sebuah ayunan sederhana di bawah pohon kelapa, ditemani semilir angin dan pemandangan laut yang indah, mampu menghadirkan ketenangan yang sulit dibeli dengan harta.

Di sudut pantai berdiri papan bertuliskan "Pantai Boby" yang menjadi ikon tempat tersebut. Hampir setiap pengunjung ingin mengabadikan momen di depan papan itu. Tidak sedikit yang rela mengantre dengan sabar demi memperoleh foto terbaik sebagai kenang-kenangan.

Pemandangan itu memberikan pelajaran tersendiri bagi saya. Dalam kehidupan, sering kali kita harus belajar menunggu giliran. Tidak semua keinginan dapat dipenuhi seketika. Kesabaran adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu Wata'alla. Orang yang mampu bersabar akan lebih mudah menikmati setiap proses kehidupan dibandingkan mereka yang selalu ingin didahulukan.

Di sekitar lokasi terdapat masyarakat setempat yang menawarkan jasa foto dan video. Dengan ramah mereka membantu wisatawan mendapatkan hasil gambar terbaik. Mereka mengetahui sudut-sudut pantai yang paling indah sehingga mampu mengabadikan momen yang berkesan.

Melihat mereka bekerja dengan penuh semangat membuat saya semakin menghargai pentingnya mencari rezeki yang halal. Keindahan alam yang Allah anugerahkan ternyata juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Dari jasa fotografi, penyewaan perlengkapan, hingga usaha kecil lainnya, semuanya menjadi jalan rezeki yang telah Allah atur dengan penuh hikmah.

Saya teringat bahwa setiap rezeki datang melalui sebab-sebab yang Allah bukakan. Karena itu, tidak pantas bagi manusia meremehkan pekerjaan orang lain. Selama dilakukan dengan cara yang baik dan halal, setiap pekerjaan memiliki nilai kemuliaan di sisi Allah.

Tidak jauh dari bibir pantai berdiri beberapa warung sederhana. Meskipun bangunannya tidak mewah, suasananya terasa hangat dan bersahabat. Warung-warung tersebut menyediakan berbagai makanan ringan, mi instan, hidangan laut, minuman dingin, hingga es segar yang sangat nikmat disantap setelah bermain di pantai.

Yang paling menggoda tentu saja kelapa muda segar. Air kelapa yang manis alami terasa begitu menyegarkan tenggorokan. Daging kelapanya yang lembut menambah kenikmatan saat disantap sambil memandang laut yang tenang.

Betapa Allah  Subhanahu Wata'alla telah mencukupkan kebutuhan manusia melalui alam. Dari satu pohon kelapa saja manusia memperoleh air yang menyegarkan, buah yang bergizi, daun untuk berbagai keperluan, batang yang bermanfaat, hingga serabut yang dapat diolah menjadi berbagai produk. Tidak ada ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla  yang sia-sia.

Perjalanan wisata bukan hanya tentang berpindah tempat atau mengumpulkan foto untuk media sosial. Perjalanan yang sesungguhnya adalah perjalanan hati. Setiap langkah seharusnya semakin mendekatkan manusia kepada Sang Pencipta.

Saya juga melihat banyak wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, menikmati keindahan pantai dengan penuh kekaguman. Keindahan alam memang menjadi bahasa yang dipahami oleh semua manusia tanpa memandang suku, bangsa, maupun bahasa. Alam menyatukan hati dalam rasa kagum kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita.

Terima kasih ya Allah, Engkau telah mempertemukan saya dengan salah satu sudut keindahan bumi-Mu. Semoga setiap perjalanan yang saya lakukan tidak hanya menambah koleksi foto, tetapi juga menambah keimanan, rasa syukur, dan kecintaan kepada-Mu. Semoga hati ini selalu mampu melihat bahwa di balik setiap debur ombak, hembusan angin, hijaunya pepohonan, dan luasnya samudra, tersimpan tanda-tanda kebesaran-Mu yang mengajak manusia untuk semakin mengenal dan mengagungkan-Mu.

Semoga tulisan ini dapat menjadi catatan perjalanan yang tidak hanya menceritakan keindahan Pantai Boby, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan kebesaran Allah melalui setiap keindahan alam yang diciptakan-Nya. Aamiin

Cepu, 30 Juni 2026

Snorkling Di Karang Bintang


Karya: Gutamining Saida

Setiap manusia memiliki pengalaman pertama yang sulit dilupakan. Ada yang pertama kali naik gunung, pertama kali naik pesawat, atau pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang selama ini hanya bisa dilihat melalui layar televisi dan telepon genggam. Bagi saya, salah satu pengalaman yang akan selalu tersimpan rapi dalam memori kehidupan adalah saat pertama kali melakukan snorkling di laut lepas.

Sejujurnya, sejak kecil saya bukanlah orang yang akrab dengan dunia air. Laut yang luas selalu menghadirkan rasa kagum sekaligus takut. Gelombang yang datang silih berganti, kedalaman yang tak terlihat, serta kehidupan bawah laut yang penuh misteri membuat saya hanya bisa menikmati keindahannya dari kejauhan. Selama ini saya hanya menyaksikan keindahan bawah laut melalui foto-foto, video perjalanan wisata, atau tayangan dokumenter. Dalam hati sering terlintas pertanyaan, "Benarkah pemandangan bawah laut seindah itu?"

Allah Subhanahu Wata'alla ternyata memiliki cara-Nya sendiri untuk menjawab rasa penasaran itu. Beberapa bulan sebelum perjalanan ini, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan Pak Gun yang dengan sabar mengenalkan dasar-dasar dunia air. Kami berlatih di kolam renang, tempat yang jauh lebih aman dibandingkan laut lepas. Beliau mengajarkan bagaimana mengatur napas, menjaga keseimbangan tubuh di dalam air, serta tetap tenang ketika berada di permukaan air. 

Yang paling saya ingat bukan hanya tekniknya, melainkan nasihat beliau tentang sifat manusia saat berada di air. Ada orang yang terlalu panik sehingga tubuh menjadi tegang. Ada yang terlalu percaya diri hingga mengabaikan keselamatan. Ada pula yang mampu bersikap tenang sehingga tubuh mengikuti aliran air dengan lebih baik. Dari pelajaran sederhana itu saya belajar bahwa air bukan hanya menguji kemampuan fisik, tetapi juga menguji keadaan hati.

Ketika hari yang dinanti tiba, kapal membawa kami menuju lautan yang begitu luas. Hamparan air biru membentang tanpa batas. Angin laut berembus lembut menyapa wajah. Langit tampak cerah seolah ikut menyambut perjalanan hari itu.

Awalnya saya telah meyakinkan diri. Saya berkata dalam hati, "Insyaallah saya bisa. Bukankah saya sudah berlatih?" Kalimat itu terus saya ulang-ulang untuk menguatkan keberanian. Ternyata kenyataan tidak semudah bayangan.

Saat kapal berhenti dan peserta mulai bergantian turun ke laut, tiba-tiba rasa takut datang begitu saja. Jantung berdegup lebih cepat. Pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Tangan saya menggenggam erat tangga kapal. Saya hanya berdiri memandang permukaan laut yang bergerak perlahan mengikuti ombak.

Saat itulah saya benar-benar merasakan bahwa keberanian manusia sangatlah terbatas. Sering kali kita merasa kuat sebelum menghadapi kenyataan. Ketika ujian benar-benar datang, barulah kita sadar bahwa kekuatan sejati berasal dari Allah Subhanahu Wata'alla semata.

Saya mencoba menenangkan hati. Dalam lirih saya mengucapkan basmalah, istigfar, dan tasbih. Saya memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar diberikan ketenangan, keselamatan, dan keberanian. Saya menyadari bahwa setiap langkah dalam kehidupan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.

Perlahan saya mulai menuruni tangga kapal. Air laut menyentuh tubuh. Rasa dingin langsung terasa. Napas saya atur seperti yang pernah diajarkan. Sedikit demi sedikit rasa panik mulai berkurang. Saya mencoba memandang ke bawah melalui masker snorkeling. Subhanallah... Kalimat itu spontan keluar dari bibir saya.

Pemandangan di bawah permukaan laut sungguh jauh melebihi apa yang pernah saya lihat di layar ponsel. Hamparan terumbu karang dengan berbagai bentuk menghiasi dasar laut. Ikan-ikan kecil berenang bebas tanpa rasa takut. Ada yang berwarna kuning cerah, biru, hitam bergaris putih, bahkan ada yang berwarna-warni seperti lukisan. Air yang begitu jernih membuat semuanya tampak begitu jelas.

Saya seakan sedang memasuki dunia lain yang selama ini tersembunyi. Betapa Maha Hebat Sang Pencipta. Makhluk-makhluk kecil itu hidup dalam keteraturan yang luar biasa. Tidak ada yang saling bertabrakan. Tidak ada yang saling berebut tempat. Semua bergerak mengikuti sunnatullah yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan.

Saya kemudian teringat firman Allah bahwa di langit dan di bumi terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang mau berpikir. Selama ini saya sering membaca ayat tersebut, tetapi hari itu saya benar-benar merasakan maknanya. Laut bukan sekadar tempat wisata. Laut adalah salah satu ayat kauniyah, bukti nyata kekuasaan Allah yang dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

Beberapa saat saya hanya mengapung sambil menikmati keindahan ciptaan-Nya. Rasanya seperti mimpi. Saya berkali-kali memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata. Keindahan yang selama ini hanya saya lihat melalui gambar akhirnya saya saksikan secara langsung.

Hati saya dipenuhi rasa syukur yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Saya menyadari bahwa tidak semua orang diberi kesempatan menikmati pemandangan seindah ini. Semua adalah karunia Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada yang pantas disombongkan. Jika Allah Subhanahu Wata'alla tidak mengizinkan, mungkin saya hanya akan menjadi penonton yang melihat keindahan laut dari kejauhan.

Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa banyak ketakutan hanya hidup di dalam pikiran. Ketika kita berani melangkah dengan tetap bertawakal kepada Allah Subhanahu Wata'alla dan mengikuti petunjuk yang benar, sering kali ketakutan itu berubah menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Kini setiap kali melihat foto atau video bawah laut di layar ponsel, saya tersenyum. Saya tidak lagi sekadar membayangkan keindahannya, tetapi pernah merasakan sendiri berada di tengah-tengahnya. Pengalaman pertama itu menjadi kenangan yang tak ternilai dan semakin menguatkan keyakinan saya bahwa di mana pun kita memandang, selalu ada tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla.

Alhamdulillahirabbil 'alamin. Terima kasih ya Allah atas kesempatan yang begitu indah. Semoga setiap nikmat yang Engkau berikan menjadikan hati ini semakin bersyukur, semakin rendah hati, dan semakin dekat kepada-Mu. Semoga setiap langkah perjalanan hidup selalu menjadi jalan untuk mengenal-Mu lebih dalam melalui keindahan ciptaan-Mu yang tiada habisnya. Aamiin.

Cepu, 30 Juni 2026

Selasa, 30 Juni 2026

Lelah yang Bernilai Ibadah


Karya: Gutamining saida

Rabu, 1 Juli 2026, menjadi hari yang terasa berbeda bagi seluruh keluarga besar guru di sekolah kami. Awal tahun ajaran 2026–2027 bukan sekadar pergantian kalender pendidikan, tetapi juga menjadi awal perjalanan baru yang penuh harapan, tantangan, sekaligus amanah. Sejak pagi, para guru mulai berdatangan dengan wajah yang beragam. Ada yang tampak santai, ada yang penuh rasa penasaran, dan ada pula yang menyimpan kecemasan mengenai pembagian tugas mengajar. Semua berkumpul dengan satu tujuan, mendengarkan pembagian tugas sekaligus mempersiapkan diri menjalani amanah baru.

Suasana ruang guru terasa hangat. Obrolan kecil terdengar di berbagai sudut ruangan. Ada yang saling bertanya tentang guru baru, ada yang memperkirakan mata pelajaran yang akan diampu, dan ada pula yang sekadar bercanda untuk mengurangi ketegangan. Ketika Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum mulai menyampaikan sambutan, seluruh ruangan mendadak hening. Semua perhatian tertuju kepada beliau.

Kalimat demi kalimat yang beliau sampaikan tidak hanya berisi informasi teknis, tetapi juga suntikan semangat yang begitu bermakna. Salah satu kalimat yang paling membekas adalah bahwa tahun ajaran ini merupakan tahun yang berat. Bukan karena sekolah mengalami kemunduran, melainkan karena setiap guru memperoleh tanggung jawab mengajar yang lebih besar. Jika sebelumnya batas minimal beban mengajar adalah 24 jam pelajaran, kini tidak ada guru yang hanya mengajar sebanyak itu. Sebagian besar memperoleh sedikitnya 28 jam pelajaran, bahkan ada yang lebih.

Sesaat ruangan kembali sunyi. Mungkin setiap guru sedang menghitung-hitung tenaga, waktu, dan tanggung jawab yang harus dipikul selama satu tahun ke depan. Keheningan itu segera berubah menjadi semangat ketika beliau melanjutkan dengan sebuah kalimat sederhana tetapi sangat dalam maknanya, "Lebih baik lelah bekerja daripada lelah mencari lowongan kerja."

Kalimat itu seperti mengetuk hati setiap guru. Benar adanya, tidak semua orang diberi kesempatan untuk mengabdi sebagai pendidik. Di luar sana masih banyak orang yang berjuang mencari pekerjaan, mengirim lamaran ke berbagai tempat, mengikuti seleksi berkali-kali, namun belum memperoleh kesempatan. Sementara kami masih diberi amanah untuk berdiri di depan kelas, membimbing generasi muda, dan memperoleh rezeki yang halal. Bukankah itu adalah nikmat yang patut disyukuri?

Sebagai orang yang beriman, kami menyadari bahwa setiap rezeki telah diatur oleh Allah. Tidak ada satu pun amanah yang datang tanpa izin-Nya. Jika Allah Subhanahu Wata'alla mempercayakan lebih banyak tugas kepada seseorang, berarti Allah Subhanahu Wata'alla juga telah menyiapkan kemampuan untuk menjalaninya. Firman Allah mengajarkan bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ayat tersebut menjadi penyejuk hati bagi siapa pun yang mulai merasa berat dengan beban mengajar tahun ini.

Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pelajaran. Menjadi guru adalah jalan ibadah. Setiap huruf yang diajarkan, setiap kesabaran menghadapi karakter siswa yang berbeda-beda, setiap doa yang dipanjatkan agar murid menjadi anak yang saleh dan sukses, semuanya bernilai pahala apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Lelah memang tidak dapat dihindari. Tubuh akan merasakan capai setelah berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya. Suara akan mulai serak setelah menjelaskan pelajaran berkali-kali. Pikiran akan dipenuhi dengan penyusunan rencana pembelajaran, penilaian, administrasi, dan berbagai kegiatan sekolah lainnya. Kelelahan itu akan terasa ringan apabila hati selalu mengingat bahwa semua adalah bagian dari ibadah.

Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Bukankah guru setiap hari berusaha memberikan manfaat kepada puluhan bahkan ratusan peserta didik? Ilmu yang diajarkan hari ini mungkin akan menjadi bekal mereka puluhan tahun mendatang. Bisa jadi ada dokter, guru, polisi, tentara, pengusaha, pemimpin, atau ulama masa depan yang pernah duduk di bangku kelas kita. Betapa besar pahala yang mengalir apabila ilmu yang kita ajarkan menjadi jalan kebaikan bagi mereka.

Hari itu kami juga belajar tentang kebersamaan menjadi kekuatan utama. Beban yang berat akan terasa  ringan jika dipikul bersama. Senyum rekan sejawat, saling membantu menyusun administrasi, berbagi media pembelajaran, hingga saling menyemangati ketika rasa lelah datang merupakan bentuk kebersamaan yang indah. Sekolah bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga tempat bertumbuh sebagai keluarga besar yang saling menguatkan.

Di sela-sela kegiatan, hati ini terus berdoa semoga Allah Subhanahu Wata'alla memberikan kesehatan kepada seluruh guru. Sebab amanah sebesar apa pun tidak akan mampu dijalankan tanpa tubuh yang sehat dan hati yang kuat. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menjaga langkah kami setiap pagi menuju sekolah, memudahkan lisan kami saat menjelaskan pelajaran, melapangkan kesabaran ketika menghadapi berbagai persoalan, serta menjadikan setiap aktivitas sebagai amal saleh yang diterima di sisi-Nya.

Pembagian tugas hari itu akhirnya selesai. Masing-masing guru telah mengetahui tanggung jawabnya. Tidak semua memperoleh jumlah jam yang sama, tetapi semuanya memperoleh amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Tidak terdengar keluhan yang berlebihan. Yang tampak justru wajah-wajah yang siap melangkah, meskipun menyadari bahwa perjalanan satu tahun ke depan tidak akan selalu mudah.

Kehidupan bukan tentang mencari pekerjaan yang paling ringan, melainkan bagaimana menjadikan setiap pekerjaan sebagai ladang ibadah. Selama pekerjaan itu halal, dilakukan dengan penuh tanggung jawab, dan diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla, maka setiap tetes keringat akan berubah menjadi pahala.

Semoga tahun ajaran 2026–2027 menjadi tahun yang penuh keberkahan bagi seluruh guru Esmega. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla melimpahkan kekuatan dalam setiap langkah, kesabaran dalam setiap ujian, keikhlasan dalam setiap pengabdian, serta keberhasilan dalam mendidik generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan bertakwa. Karena pada akhirnya, bukan banyaknya jam mengajar yang akan dikenang, melainkan seberapa besar manfaat yang telah kita berikan kepada anak-anak bangsa sebagai bentuk pengabdian kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin

Cepu, 1 Juli 2026

Minggu, 28 Juni 2026

Trio AL Fath Berkarya


Karya : Gutamining Saida

Tidak semua kebahagiaan harus dicari di tempat yang jauh. Tidak selalu harus hadir dalam bentuk perjalanan wisata atau hadiah yang mahal. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh dari kegiatan sederhana di rumah bersama orang-orang yang kita cintai. Itulah yang saya rasakan ketika merencanakan sebuah kegiatan berkarya bersama cucu-cucu tercinta.

Sejak beberapa hari sebelumnya saya sudah menyiapkan berbagai bahan. Saya membuat potongan kertas karton berbentuk menyerupai kue donat. Bentuknya sederhana, tetapi cukup menarik perhatian anak-anak. Selain itu saya juga menyiapkan berbagai bahan sebagai hiasan atau topping, di antaranya tepung, beras yang sudah saya beri warna merah, tepung roti, lem dobel tape, gunting, sendok, dan beberapa mangkuk kecil sebagai wadah. Semua saya tata dengan rapi agar mudah dijangkau oleh tangan-tangan mungil mereka.

Saya menyiapkan sembilan donat dari karton. Masing-masing anak mendapatkan tiga buah. Saya tidak memberikan contoh yang harus ditiru. Saya juga tidak menentukan warna apa yang harus dipilih atau pola seperti apa yang harus dibuat. Saya hanya mengatakan kepada mereka, "Silakan berkreasi sesuai keinginan kalian."

Mendengar itu, mata mereka berbinar-binar. Mereka segera mengambil bahan yang disukai. Ada yang memilih beras berwarna terlebih dahulu, ada yang lebih tertarik pada tepung roti, ada pula yang sibuk membuka lem agar bisa segera menempelkan hiasannya.

Yang menarik perhatian saya, masing-masing begitu fokus dengan pekerjaannya. Mereka tidak sibuk memperhatikan hasil karya saudaranya. Tidak ada yang berkata, "Punyaku harus lebih bagus." Tidak ada pula yang sibuk membandingkan. Mereka larut dalam dunianya sendiri, menikmati proses dengan penuh kegembiraan.

Saya tersenyum melihat pemandangan itu. Betapa anak-anak sering kali mengajarkan sesuatu yang mulai hilang dari kehidupan orang dewasa. Anak-anak berkarya karena ingin bergembira. Sementara orang dewasa kadang berkarya karena ingin dipuji, ingin diakui, atau ingin lebih hebat daripada orang lain.

Di antara ketiga cucu itu, si kecil Elmira memberikan kejutan yang luar biasa. Usianya yang paling kecil tidak membuatnya tertinggal. Justru dialah yang paling cepat menyelesaikan ketiga donat buatannya.

Tangannya bergerak lincah mengambil sendok kecil, menaburkan beras warna-warni, lalu menambahkan tepung roti tanpa banyak berpikir. Sesekali ia menekan perlahan agar semua bahan menempel dengan baik. Wajahnya tampak ceria. Ia tidak terlihat bingung memilih warna. Ia tidak terlalu banyak mempertimbangkan apakah hasilnya akan dipuji atau tidak.

Begitu selesai, ia segera memperlihatkan hasil karyanya. Saya memandang karya kecil itu dengan penuh rasa syukur. Mungkin jika dilihat oleh orang lain, hiasannya belum tentu sempurna. Bagi saya, hasil itu luar biasa. Di balik karya sederhana itu tersimpan keberanian untuk mencoba, rasa percaya diri, dan kegembiraan yang muncul dari hati yang masih bersih.

Saat itu saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Ternyata terlalu banyak pertimbangan sering kali justru membuat seseorang lambat memulai. Terlalu banyak berpikir kadang membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berkarya. Sebaliknya, hati yang sederhana akan lebih mudah melangkah.

Saya teringat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla mencintai hamba yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Kesempurnaan bukanlah syarat utama dalam beramal. Yang paling penting adalah keikhlasan dan kesungguhan hati. Bukankah Allah Subhanahu Wata'alla lebih melihat ketakwaan dan niat daripada penampilan lahiriah semata?

Kegiatan sederhana bersama cucu-cucu itu kemudian berubah menjadi ruang kecil yang penuh pelajaran. Saya melihat bagaimana mereka menikmati setiap proses tanpa mengeluh. Jika beras tumpah, mereka memungutnya kembali. Jika tepung berceceran, mereka tertawa. Tidak ada wajah yang murung hanya karena hasilnya belum sesuai harapan.

Betapa berbeda dengan kehidupan orang dewasa. Sedikit kesalahan saja kadang membuat semangat menjadi hilang. Sedikit kritikan sudah cukup membuat seseorang enggan berkarya lagi. Anak-anak justru mengajarkan bahwa proses jauh lebih penting daripada rasa takut gagal.

Saya pun merenung bahwa kehidupan ini sebenarnya mirip dengan menghias donat dari karton itu. Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan kepada setiap manusia "media" yang sama berupa kehidupan. Hasil akhirnya akan berbeda-beda sesuai dengan pilihan, usaha, dan amal yang dilakukan masing-masing.

Ada yang menghiasi hidupnya dengan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, ilmu, dan ibadah. Ada pula yang mengisinya dengan kesombongan, iri hati, dan kemalasan. Pada akhirnya, setiap manusia akan mempersembahkan hasil karyanya kepada Sang Pencipta.

Karena itulah, hidup ini hendaknya dipenuhi dengan warna-warna kebaikan. Setiap ucapan yang lembut adalah hiasan. Setiap sedekah adalah hiasan. Setiap senyum yang tulus adalah hiasan. Setiap doa yang dipanjatkan adalah hiasan yang akan memperindah perjalanan menuju akhirat.

Saya juga belajar dari sikap Elmira yang tidak banyak berpikir rumit. Kesederhanaannya mengingatkan saya pada pentingnya bertawakal. Setelah berusaha, jangan terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia. Serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Tugas kita adalah melakukan yang terbaik dengan hati yang ikhlas.

Rasulullah, mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah  Subhanahu Wata'allaadalah amal yang dilakukan dengan ikhlas dan terus-menerus, meskipun tampak kecil. Maka kegiatan sederhana menghias donat karton bersama cucu-cucu pun dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menumbuhkan kasih sayang, melatih kreativitas, mengajarkan kesabaran, serta mengenalkan bahwa setiap kemampuan adalah karunia dari Allah Subhanahu Wata'alla.

Suasana rumah dipenuhi tawa. Tangan-tangan kecil yang masih dipenuhi sisa tepung menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Saya tidak hanya melihat tiga anak yang sedang membuat karya, tetapi juga menyaksikan bagaimana Allah sedang mengajarkan banyak hikmah melalui kepolosan mereka.

Saya bersyukur diberi kesempatan menikmati masa-masa indah bersama cucu-cucu tercinta. Semoga kebersamaan seperti ini menjadi kenangan yang kelak tetap hidup dalam ingatan mereka. Semoga dari kegiatan sederhana ini tumbuh jiwa-jiwa yang kreatif, percaya diri, saling menyayangi, serta senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla anugerahkan.

Semoga setiap detik kebersamaan, setiap senyum yang terukir, setiap karya kecil yang lahir dari tangan-tangan mungil mereka, dicatat sebagai amal kebaikan. Sebab dalam pandangan Allah Subhanahu Wata'alla, tidak ada kebaikan yang sia-sia apabila dilakukan dengan niat yang tulus. Semoga keluarga kami senantiasa dipenuhi keberkahan, dipersatukan dalam kasih sayang, dan kelak dipertemukan kembali di surga-Nya yang penuh kenikmatan. Aamiin.

Cepu, 29 Juni 2026

Bekal Kata Dari Karimunjawa


Karya: Gutamining Saida

Beberapa hari saya tidak menghasilkan karya tulis. Biasanya hampir setiap hari ada saja kisah yang saya abadikan melalui rangkaian kata. Terkadang kisah itu berasal dari pengalaman pribadi, percakapan sederhana dengan teman, tingkah lucu cucu, atau peristiwa kecil yang terjadi di sekitar saya. Bagi sebagian orang mungkin hal itu biasa saja, tetapi bagi saya setiap kejadian menyimpan hikmah yang layak dikenang.

Saya percaya bahwa setiap saat Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan pembelajaran dan hikmah. Tugas manusialah membuka mata, telinga, dan hati untuk menemukannya. Karena itulah, ketika ide terasa mulai menipis, saya tidak memilih mengeluh. Saya memutuskan melakukan perjalanan ke sebuah pulau yang selama ini hanya saya kenal melalui buku, internet, media sosial dan cerita para pelancong. Pulau itu adalah Karimunjawa.

Perjalanan ini bukan sekadar untuk berlibur. Saya membawa niat yang lebih banyak, yaitu mengumpulkan bekal untuk melahirkan tulisan-tulisan yang bermanfaat. Saya ingin pulang bukan hanya membawa foto-foto indah, melainkan juga membawa ide yang dapat menginspirasi banyak orang.

Saya selalu meyakini bahwa sebuah tulisan yang baik bukan hanya menghibur, tetapi juga mampu mengajak pembacanya semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Jika suatu saat nanti usia saya telah berakhir, saya berharap tulisan-tulisan itu tetap hidup, dibaca orang, menghadirkan manfaat, dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Betapa indahnya jika rangkaian huruf yang kita susun dengan niat ikhlas menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla.

Sesampainya di Karimunjawa, saya benar-benar dibuat kagum. Hamparan laut berwarna biru jernih seolah memantulkan langit. Ombak kecil berkejaran menuju bibir pantai. Pasir putih yang lembut memanjakan setiap langkah kaki. Pepohonan kelapa melambai perlahan mengikuti tiupan angin. Burung-burung sesekali melintas di atas laut, menambah indah pemandangan yang terbentang.

Saya berdiri memandangi lautan. Tidak banyak kata yang keluar dari mulut saya. Hanya ucapan, "Subhanallah." Begitu luas ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla. Begitu indah karya-Nya. Semua tersusun dengan sangat sempurna tanpa bantuan manusia sedikit pun. Laut mengetahui batasnya. Ombak datang dan kembali sesuai ketetapan-Nya. Matahari terbit dan tenggelam tepat pada waktunya. Semua tunduk kepada Sang Pencipta.

Saat itulah saya sadar bahwa selama ini saya hanya mengenal Karimunjawa dari gambar dan tulisan. Kini menyaksikannya secara langsung menghadirkan rasa syukur yang jauh lebih besar. Benarlah, melihat sendiri kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla akan menambah keimanan dibanding hanya mendengarnya dari cerita.

Di sela-sela perjalanan, saya bertemu berbagai macam orang. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang menikmati perjalanan bersama sahabat, bahkan ada pula yang datang seorang diri. Masing-masing memiliki tujuan berbeda. Saya berharap tujuan utama saya tidak berubah, yaitu semakin mengenal kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla melalui ciptaan-Nya.

Saya teringat firman Allah yang mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, gunung, laut, dan seluruh isi alam sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Alam bukan sekadar tempat wisata. Alam adalah kitab terbuka yang mengajarkan manusia tentang kebesaran Sang Khalik. Sayangnya, tidak semua orang mampu membacanya dengan hati yang bersyukur.

Semakin lama berada di Karimunjawa, semakin saya merasa kecil. Manusia sering kali bangga dengan jabatan, harta, atau kepandaiannya. Padahal di hadapan luasnya samudra, kita hanyalah setitik debu. Ombak yang tenang bisa berubah besar atas izin Allah Subhanahu Wata'alla. Angin yang sejuk dapat menjadi badai jika Dia menghendaki. Semua mengingatkan bahwa tidak ada kekuatan selain milik-Nya.

Pasang surut air laut mengingatkan bahwa kehidupan pun demikian. Kadang kita berada di atas, kadang berada di bawah. Ada saatnya tertawa, ada saatnya menangis. Semua itu akan terasa ringan jika hati selalu bersandar kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya paham bahwa mencari inspirasi bukan hanya tentang menemukan cerita yang menarik. Inspirasi sejati adalah ketika hati mampu menangkap hikmah dari setiap peristiwa. Batu karang mengajarkan keteguhan. Ombak mengajarkan semangat yang tidak pernah berhenti. Pasir mengajarkan kerendahan hati karena selalu diinjak tetapi tetap memberi kenyamanan. Langit mengajarkan keluasan harapan kepada siapa pun yang memandangnya.

Perjalanan ke Karimunjawa menjadi pengingat bahwa manusia tidak boleh berhenti belajar. Semakin jauh melangkah, semakin banyak pelajaran yang diperoleh. Semakin banyak melihat ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, semakin bertambah rasa syukur dalam hati.

Saya merasa sudah mendapatkan bekal. Bukan berupa oleh-oleh mahal atau barang berharga, melainkan kumpulan inspirasi yang akan saya tuangkan menjadi tulisan. Saya ingin setiap kisah yang tertulis dari perjalanan ini menjadi pengingat bahwa dunia begitu indah karena Allah Subhanahu Wata'alla menciptakannya dengan penuh kesempurnaan.

Semoga tulisan-tulisan yang lahir setelah perjalanan ke Karimunjawa mampu menjadi jendela bagi para pembaca untuk lebih mencintai alam, menjaga lingkungan, serta semakin mengagungkan kebesaran Allah Subhanahu Wata'alla. Saya berharap setiap kalimat yang saya tulis menjadi jalan hadirnya senyum, semangat, dan keimanan bagi siapa saja yang membacanya.

Sesungguhnya perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang menghasilkan banyak foto, melainkan perjalanan yang membuat hati semakin mengenal Sang Pencipta. Tulisan terbaik bukanlah yang paling indah bahasanya, melainkan yang mampu mengajak manusia semakin bersyukur kepada Allah.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menerima setiap langkah yang diniatkan karena-Nya, memberkahi setiap huruf yang saya tulis dengan keikhlasan. Serta menjadikan karya-karya sederhana ini sebagai amal jariyah yang terus mengalir pahalanya, bahkan ketika penulisnya telah kembali menghadap-Nya. Aamiin.

Cepu, 29 Juni 2026

Pembelajaran Kehidupan Di atas Kapal


Karya : Gutamining Saida 
Perjalanan menuju Karimunjawa menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan dalam hidup saya. Bukan semata-mata karena indahnya laut yang terbentang luas atau karena saya akan mengunjungi sebuah pulau yang terkenal akan pesona pantainya. Lebih dari itu, perjalanan ini menghadirkan banyak pelajaran kehidupan yang menyentuh hati. Saya merasa seolah Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajak saya belajar melalui sebuah ruang kelas yang sangat luas, yaitu sebuah kapal yang mengarungi lautan.

Sejak berada di pelabuhan hingga akhirnya kapal bergerak meninggalkan dermaga, mata saya tidak berhenti memperhatikan berbagai peristiwa di sekitar. Hiruk pikuk penumpang begitu terasa. Ada yang berjalan tergesa-gesa karena khawatir tertinggal kapal. Ada keluarga yang saling menggenggam tangan agar tidak terpisah. Ada anak-anak yang berlarian penuh kegembiraan. Ada pula orang tua yang melangkah perlahan sambil dibantu anak atau cucunya.

Semua bergerak menuju tujuan yang sama, meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Saya melihat bayi yang masih berada dalam gendongan ibunya. Bayi itu belum memahami ke mana ia akan dibawa. Ia hanya merasa aman karena berada dalam pelukan orang tuanya. Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa manusia pun seharusnya selalu merasa aman dalam pelukan kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla. Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, tetapi orang yang bertawakal akan selalu merasa tenang karena yakin Allah adalah sebaik-baik Penjaga.

Di sudut lain terlihat anak-anak yang begitu ceria. Mereka tertawa, menunjuk laut, melambaikan tangan kepada burung-burung yang terbang rendah. Hati mereka masih bersih. Mereka menikmati perjalanan tanpa memikirkan beban kehidupan. Saya pun berpikir, alangkah indahnya jika hati orang dewasa tetap dipenuhi rasa syukur dan kegembiraan sebagaimana anak-anak yang menikmati setiap nikmat Allah tanpa banyak mengeluh. 

Tidak jauh dari tempat saya duduk, tampak para remaja yang sibuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka. Mereka tersenyum, saling bercanda, dan mengambil gambar laut yang membentang luas. 

Semoga setiap nikmat yang diabadikan disertai ucapan syukur, dan setiap keindahan yang terlihat berasal dari kemurahan Allah semata. Kemudian pandangan saya tertuju kepada para orang tua. Sebagian duduk tenang sambil memandang laut. Wajah mereka menyimpan banyak pengalaman hidup. Keriput yang menghiasi wajah seakan menjadi saksi panjangnya perjalanan kehidupan yang telah mereka lalui. Saya membayangkan, suatu hari nanti saya pun akan berada pada usia itu. Yang akan menemani bukan lagi kekuatan fisik, melainkan amal saleh yang telah dikumpulkan selama hidup.

Di atas kapal itu saya juga melihat beragam manusia. Ada masyarakat lokal, wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, hingga wisatawan mancanegara. Ada yang berkulit sawo matang, ada yang berkulit putih, bahkan ada yang berambut pirang. Bahasa yang terdengar pun bermacam-macam. Semuanya berada di kapal yang sama, menempuh lautan yang sama, menuju tujuan yang sama.

Saya teringat firman Allah bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling membanggakan diri. Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh warna kulit, bahasa, atau asal negaranya, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Keberagaman pakaian yang dikenakan para penumpang juga menarik perhatian saya. Ada petugas kapal yang mengenakan seragam rapi sebagai tanda tanggung jawabnya. Ada wisatawan yang memakai pakaian santai karena ingin menikmati liburan. Ada pula saudara-saudara muslim yang mengenakan busana yang menutup aurat dengan baik.

Perbedaan penampilan itu mengingatkan saya bahwa kelak ketika manusia meninggal dunia, semua pakaian kebanggaan akan ditinggalkan. Tidak ada lagi pakaian mahal atau sederhana yang membedakan manusia. Semua akan dibalut kain kafan yang sama. Yang membedakan hanyalah amal yang dibawa menghadap Allah Subhanahu Wata'alla.

Ketika kendaraan mulai memasuki kapal, perhatian saya kembali tertuju pada pemandangan lain. Sepeda motor, mobil pribadi, truk besar, hingga kendaraan pengangkut barang semuanya masuk secara bergantian. Kendaraan yang di darat tampak gagah, di dalam kapal harus mengikuti aturan. Tidak ada yang boleh mendahului sesuka hati. Semua harus tertib sesuai arahan petugas. Betapa pun hebatnya manusia di dunia, semuanya tetap berada di bawah aturan Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada seorang pun yang mampu melawan ketetapan-Nya. Jabatan, kekayaan, maupun kekuasaan tidak akan mampu mengubah takdir ketika ajal telah tiba.

Saat kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan, perlahan daratan semakin menjauh. Bangunan-bangunan yang semula tampak besar berubah menjadi titik-titik kecil. Saya merasakan sebuah pelajaran yang sangat mendalam. Begitulah kehidupan dunia. Yang hari ini terlihat besar, megah, dan penting, suatu saat akan tampak kecil ketika kita telah meninggalkannya. Angin laut bertiup lembut menerpa wajah. Ombak terus bergerak tanpa mengenal lelah. Laut yang luas menghampar sejauh mata memandang seolah mengajak saya berdialog. Di hadapan kebesaran ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, manusia hanyalah makhluk kecil yang tidak memiliki apa-apa tanpa pertolongan-Nya.

Perjalanan di atas kapal ini juga mengingatkan saya pada perjalanan hidup menuju akhirat. Dunia hanyalah tempat singgah, sebagaimana kapal hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Tidak ada penumpang yang ingin tinggal selamanya di atas kapal. Semua ingin sampai di tempat tujuan. Demikian pula kehidupan di dunia. Kita hanya singgah sementara sebelum menuju kampung akhirat yang kekal. Karena itu, selama perjalanan hidup ini, kita hendaknya memperbanyak bekal. Bekal itu bukan berupa harta yang melimpah atau kedudukan yang tinggi, melainkan iman, takwa, amal saleh, kejujuran, kesabaran, serta kepedulian kepada sesama.

Semoga setiap langkah perjalanan yang saya lakukan tidak hanya menambah pengalaman dunia, tetapi juga menambah bekal untuk kehidupan akhirat. Sebab pada akhirnya, tujuan terindah bukanlah tiba di Karimunjawa, melainkan tiba dengan selamat di surga yang dijanjikan Allah Subhanahu Wata'alla bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan senantiasa bersyukur. Aamiin.
Cepu, 29 Juni 2026 

Rabu, 24 Juni 2026

Lima menit Kuhapus Rindu



Karya: Gutamining Saida

Di tengah kesibukan yang terus berputar, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Dia bukan sekadar teman biasa, melainkan seseorang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup, seseorang yang sudah seperti saudara sendiri.

Kadang kita berpikir bahwa kebersamaan akan selalu ada. Namun kenyataannya, waktu mempunyai jalannya sendiri. Kesibukan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan jarak yang memisahkan membuat pertemuan menjadi semakin jarang. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tanpa terasa bulan pun berganti tahun. Komunikasi masih terjalin sesekali, tetapi tentu berbeda rasanya dengan bertemu secara langsung.

Tanpa direncanakan jauh-jauh hari, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan kami bertemu kembali. Hanya sebentar, mungkin tidak sampai lima menit. Pertemuan yang nilainya tidak diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kehangatan yang dibawanya.

Ketika mata kami saling bertemu, senyum spontan langsung mengembang. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada jarak. Tidak ada pertanyaan tentang mengapa lama tidak menghubungi atau mengapa jarang bertemu. Semua seolah hilang dalam satu momen yang sangat singkat.

"Sudah lama tidak ketemu," ucap bu Didik.

"Iya.."jawab saya singkat

Kalimat sederhana itu justru membuka pintu kerinduan yang selama ini tersimpan. Kami saling berjabat tangan dengan erat. Di saat itulah saya merasakan betapa berharganya sebuah persaudaraan yang dibangun karena kebaikan dan ketulusan.

Dalam hati saya teringat sebuah pesan bahwa orang-orang yang saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata'allaakan mendapatkan naungan-Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Persaudaraan yang dibangun bukan karena kepentingan dunia semata akan tetap terasa hangat meskipun waktu dan jarak memisahkan.

Sungguh benar bahwa rindu adalah salah satu nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada manusia. Dengan rindu, kita belajar menghargai kebersamaan. Dengan rindu, kita menyadari bahwa kehadiran seseorang dalam hidup ternyata begitu berarti. Dan dengan rindu pula, kita belajar bahwa setiap pertemuan adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.

Percakapan kami mengalir begitu saja. Tidak perlu mencari topik pembicaraan. Tidak perlu menyusun kalimat yang indah. Semua berjalan alami seperti air yang mengalir dari hulu menuju hilir. Kami saling bertanya kabar keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan berbagai cerita sederhana yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Yang membuat saya terharu adalah perasaan yang muncul seolah waktu tidak pernah berlalu. Meskipun sekian lama tidak bertemu, hubungan itu tetap sama. Tidak ada perubahan dalam rasa hormat, rasa sayang, maupun rasa persaudaraan yang selama ini terjalin.

Saya kemudian menyadari bahwa hubungan yang dibangun dengan ketulusan memang berbeda. Ketika hubungan dibangun atas dasar manfaat dunia, sering kali akan pudar ketika kepentingan itu hilang. Jika dibangun karena Allah, karena saling menghargai dan saling mendoakan, maka hubungan itu akan tetap hidup meskipun jarang bertemu.

Dalam kehidupan ini, kita sering mengejar banyak hal. Kita mengejar pekerjaan, jabatan, harta, dan berbagai pencapaian lainnya. Terkadang kita lupa bahwa salah satu rezeki terbesar adalah dipertemukan dengan orang-orang baik yang membawa kebahagiaan dalam hidup kita.

Pertemuan singkat pagi ini menjadi pengingat bahwa sahabat sejati adalah nikmat yang sangat berharga. Mereka hadir bukan hanya ketika kita tertawa, tetapi juga ketika kita menghadapi kesulitan. Mereka mungkin tidak selalu berada di dekat kita, tetapi doa-doa mereka tetap mengalir meskipun terpisah jarak.

Saya teringat bahwa dalam Islam, seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Persaudaraan tidak selalu lahir dari hubungan darah.  Allah  Subhanahu Wata'alla mempertemukan dua orang yang tidak memiliki hubungan keluarga, tetapi memiliki ikatan hati yang begitu kuat. Ikatan itu tumbuh dari saling menghormati, saling membantu, dan saling mendoakan dalam kebaikan.

Ketika waktu perpisahan kembali tiba, kami sadar bahwa masing-masing masih memiliki aktivitas yang harus dijalankan. Kali ini perasaan berbeda. Jika sebelumnya ada kerinduan yang menumpuk, kini hati terasa lebih lega. Rindu yang selama ini membuncah seolah telah menemukan tempat untuk berlabuh.

Kami saling mendoakan sebelum berpisah.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan.

Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada keluarga.

Semoga Allah memudahkan segala urusan.

Semoga Allah menjaga persaudaraan ini sampai kapan pun.

Langkah kami kemudian kembali menuju arah masing-masing. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pertemuan yang mungkin hanya berlangsung lima menit ternyata mampu menghadirkan ketenangan yang luar biasa.

Pagi itu saya belajar bahwa kebahagiaan hadir melalui sebuah senyum, jabat tangan, dan percakapan singkat dengan sahabat yang sudah seperti saudara. Lima menit perjumpaan memang tidak mampu menggantikan tahun-tahun yang telah berlalu. Lima menit cukup untuk menghapus rindu yang menumpuk, menghangatkan kembali kenangan indah, dan mengingatkan bahwa persaudaraan karena Allah tidak akan pernah lekang oleh waktu. Barokallah fii keluarga bapak Didik. Sampai jumpa di lain kesempatan. 

Cepu, 24 Juni 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Three G



Karya: Gutamining Saida

Bagi umat Islam, Jumat dikenal sebagai sayyidul ayyam, penghulu segala hari. Pada hari ini, banyak orang berlomba-lomba melakukan kebaikan, memperbanyak sedekah, membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, serta memohon ampunan kepada Allah Swt.

Suasana seperti ini juga terasa di ruang guru. Meskipun sebagian guru sibuk dengan tugas masing-masing, menata data raport, melengkapi administrasi untuk besok pagi, tetap ada ruang untuk berbagi kebahagiaan sederhana.

Bu Ning datang membawa beberapa tandan pisang raja yang sudah matang. Warnanya kuning kecoklatan dan tampak menggugah selera. Tidak lama kemudian Bu Nikmah datang membawa jamur yang sudah dikemas plastik. Tanpa banyak kata, keduanya mempersilakan teman-teman untuk mengambil.

"Silakan, Bu, diambil saja," kata mereka dengan ramah.

Tidak ada transaksi, tidak ada perhitungan untung rugi. Semuanya dilakukan dengan ikhlas. Dalam kesederhanaan, tersimpan nilai sedekah yang luar biasa. Rasulullah mengajarkan bahwa senyum adalah sedekah, apalagi berbagi makanan kepada sesama.

Betapa indahnya kebersamaan di antara rekan-rekan guru. Terkadang kebahagiaan tidak datang dari sesuatu yang besar dan mahal. Satu pisang atau sekantong plastik jamur yang dibagikan dengan ikhlas justru mampu menghadirkan rasa syukur yang mendalam.

Di ruang guru kami memang sering muncul istilah-istilah baru. Kadang istilah itu berasal dari dunia pendidikan, kadang dari pengalaman sehari-hari, bahkan tidak jarang muncul dari candaan spontan yang membuat suasana semakin hidup.

Interaksi sesama rekan guru menjadi semakin seru dan menarik. Selain menambah wawasan, juga mempererat tali persaudaraan. Di tengah kesibukan mengajar dan berbagai tanggung jawab, tawa menjadi penyegar yang membuat hati lebih ringan.

Saat menikmati suasana tersebut, tiba-tiba Bu Wiwik nyeletuk.

"Saya punya istilah Three G."

Mendengar istilah itu, saya langsung teringat materi IPS tentang penjelajahan samudra yang terkenal dengan 3G yaitu Gospel, Glory, dan Gold.

"Wah, apa itu, Bu?" tanya saya penasaran.

Bu Wiwik tersenyum sambil menahan tawa.

"G yang pertama gedang."

Sebagian guru langsung tersenyum memahami maksudnya. Dalam bahasa Jawa, gedang berarti pisang.

"G yang kedua goreng."

Kini beberapa guru mulai menebak-nebak arah pembicaraan.

"G yang ketiga gosong."

Mendengar jawaban itu, saya semakin penasaran.

"Lho, kok bisa sampai gosong, Bu?"

Dengan wajah penuh kelucuan, Bu Wiwik menjawab singkat,

"Karena ditinggal WhatsApp-an."

Seketika ruang guru pecah oleh gelak tawa. Guru-guru yang sedang memasukkan dokumen raport, membaca berkas, ikut tersenyum. Bahkan ada yang tertawa cukup keras hingga harus menutup mulutnya.

Suasana yang semula tenang berubah menjadi hangat dan penuh keceriaan. Saya pun ikut tertawa. Memang sederhana, tetapi candaan seperti itu mampu mencairkan suasana. Dari sebuah pisang, lahirlah istilah baru yaitu Thee G, Gedang, Goreng, dan Gosong.

Di balik candaan tersebut, saya justru memperoleh pelajaran berharga. Betapa sering manusia kehilangan fokus karena terlalu larut dengan telepon genggamnya. Niat awal ingin menggoreng pisang agar matang dan nikmat, tetapi karena asyik membaca pesan atau membalas WhatsApp, akhirnya pisang menjadi gosong.

Bukankah hal serupa juga dapat terjadi dalam kehidupan? Terkadang Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan banyak nikmat kepada kita. Waktu, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan kesempatan berbuat baik sudah berada di depan mata. Karena terlalu sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, kita lalai mensyukuri nikmat tersebut.

Pisang yang gosong mungkin hanya kerugian kecil. Jika yang gosong adalah kesempatan beramal, kesempatan berbakti kepada orang tua, kesempatan mendidik anak dengan baik, atau kesempatan memperbaiki diri, tentu kerugiannya jauh lebih besar.

Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla. bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Waktu yang terbuang tidak akan pernah kembali.

Karena itulah, candaan Bu Wiwik sebenarnya mengandung hikmah. Teknologi memang memudahkan kehidupan, tetapi jangan sampai membuat kita lalai terhadap tugas dan tanggung jawab. WhatsApp, media sosial, dan berbagai aplikasi hanyalah alat. Kitalah yang harus mengendalikan alat tersebut, bukan sebaliknya.

Suasana ruang guru pagi itu semakin akrab. Pisang raja dari Bu Ning dinikmati bersama. Jamur dari Bu Nikmah dibawa pulang dengan penuh rasa syukur. Di sela-sela tawa dan percakapan ringan, ada pelajaran tentang berbagi, kebersamaan, dan pentingnya menjaga waktu.

Saya menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering menghadirkan pelajaran hidup melalui cara-cara yang sederhana.  Kadang hikmah datang dari obrolan santai, candaan teman, atau sepotong pisang yang hampir gosong karena ditinggal membaca pesan.

Jumat pagi itu ruang guru bukan hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi tempat belajar  kehidupan. Belajar berbagi dari Bu Ning dan Bu Nikmah. Belajar mencairkan suasana dari Bu Wiwik. Belajar mensyukuri nikmat kebersamaan yang mungkin suatu saat akan menjadi kenangan indah.

Semoga keberkahan hari Jumat senantiasa menyertai kami semua. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menjaga persaudaraan di antara rekan-rekan guru, melapangkan rezeki mereka yang gemar berbagi, menghadirkan kesehatan dan kebahagiaan bagi keluarga mereka, serta menjadikan setiap canda sebagai perekat ukhuwah dan penyejuk hati. Dari kisah hari ini tersimpan pelajaran  tentang syukur, kebersamaan, dan pentingnya menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk meraih ridha Allah.

Cepu, 19 Juni 2026

Kamis, 18 Juni 2026

Gantungan Kunci


Karya: Gutamining Saida
Hari Jumat siang suasana ruang guru SMPN 3 Cepu terasa berbeda. Biasanya pada jam-jam tertentu terdengar percakapan ringan, candaan, atau diskusi tentang pembelajaran. Kali itu suasana relatif sepi. Masing-masing guru tampak sibuk dengan tumpukan raport. Masa pembagian rapor semakin dekat sehingga banyak guru fokus memasukkan lembaran nilai ke dalam dokumen rapor.

Beberapa guru sesekali mengecek data, mencocokkan nilai, lalu kembali tanda tangan. Semua larut dalam pekerjaan masing-masing. Di tengah kesunyian itu, tiba-tiba muncul sosok Bu Putri yang berjalan dari depan menuju bagian belakang ruang guru. Di tangannya terdapat sebuah kresek besar yang tampak penuh berisi sesuatu. Langkahnya perlahan sambil sesekali berhenti di meja guru.
"Hayoo... apa itu, Bu?" tanya salah seorang guru yang baru saja menerima sebuah bingkisan kecil.
"Kiriman oleh-oleh dari Mekah," jawab Bu Putri sambil tersenyum.

Mendengar kata "Mekah", suasana yang tadinya tenang mendadak berubah. Guru-guru yang berada di deretan belakang spontan menghentikan pekerjaannya. Beberapa mengangkat kepala, sementara yang lain berdiri untuk melihat isi kresek yang dibawa Bu Putri. Oleh-oleh dari Tanah Suci memang selalu menghadirkan rasa bahagia tersendiri. Bukan semata-mata karena bentuk atau nilainya, melainkan karena benda itu datang dari tempat yang setiap hari disebut dalam doa dan salat umat Islam di seluruh dunia.

Satu per satu bingkisan dibagikan. Mereka yang telah menerima langsung membuka bungkusnya karena penasaran. "Wah, gantungan kunci!" seru salah seorang guru. Salah satu isi bingkisan yang paling menarik perhatian adalah gantungan kunci khas Arab. Bentuknya beraneka ragam. Ada yang berbentuk unta, dan ada pula yang menampilkan ciri khas budaya Timur Tengah.

Seketika ruang guru yang semula hening berubah menjadi penuh tawa. "Eeeeeh... biar bisa naik unta," kata Bu Indri sambil memperlihatkan gantungan kunci miliknya. Guru-guru lain tertawa mendengar celetukan tersebut. Tak lama kemudian muncul pertanyaan yang semakin membuat suasana meriah.
"Onta saya ini laki-laki apa perempuan? Saya pingin onta yang laki-laki," ujar seorang guru sambil mengamati gantungan kunci yang diterimanya.
Yang lain ikut memperhatikan.
"Yang naik perempuan ya?"
"Iya, ini pakai jilbab putih," jawabnya disambut gelak tawa rekan-rekan yang lain.
Candaan sederhana itu membuat ruang guru terasa hidup. Sesaat mereka melupakan kesibukan memasukkan nilai dan menyusun rapor.

Di tengah suasana riang tersebut terdengar suara Bu Wiwik.
"Lhooo... saya kok tidak dapat gantungan kunci?"
Semua langsung menoleh ke arahnya.
"Lha diganti apa, Bu?" tanya salah seorang guru.
"Parfum," jawab Bu Wiwik sambil menunjukkan botol kecil yang diterimanya.
"Ayooo... siapa yang ingin mencoba, boleh," tambahnya dengan ramah.
Beberapa guru mendekat. Aroma parfum khas Arab yang lembut dan harum segera memenuhi sebagian ruang guru. Keharuman itu seakan membawa imajinasi mereka menuju kota suci yang selama ini hanya mereka lihat melalui televisi, buku, atau cerita para jamaah haji dan umrah.

Di balik canda dan tawa itu, teringat akan kebesaran Allah. Rezeki memang datang dengan cara yang tidak pernah disangka-sangka. Hari itu tidak ada seorang pun yang datang ke sekolah dengan harapan memperoleh oleh-oleh. Tidak ada yang meminta. Tidak ada yang menunggu. Allah Subhanahu Wata'alla  menghadirkan kebahagiaan melalui tangan seorang hamba-Nya.

Saya teringat firman Allah bahwa Dia memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Rezeki bukan hanya berupa uang atau harta benda. Senyuman, persaudaraan, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, bahkan oleh-oleh dari Tanah Suci pun termasuk bagian dari rezeki yang patut disyukuri.

Hari Jumat dikenal sebagai hari yang penuh keberkahan. Pada hari itu umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, bersedekah, dan melakukan berbagai amal saleh. Mungkin pembagian oleh-oleh itu hanyalah peristiwa sederhana, tetapi Allah Subhanahu Wata'alla menjadikannya sarana untuk menumbuhkan rasa syukur dan mempererat tali persaudaraan di antara kami.

Melihat wajah-wajah guru yang tersenyum menerima bingkisan kecil tersebut, saya semakin yakin bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang kebahagiaan hadir melalui hal-hal sederhana yang dibagikan dengan ikhlas. Pekerjaan menata raport yang semula terasa berat seakan menjadi lebih ringan. Ruang guru yang tadi sunyi berubah menjadi hangat oleh percakapan, tawa, dan rasa syukur bersama.

"Ya Allah, betapa banyak nikmat-Mu yang sering kami abaikan. Engkau hadirkan kebahagiaan melalui cara-cara yang tidak kami duga." Benarlah bahwa rezeki tidak akan tertukar. Apa yang menjadi bagian kita akan sampai kepada kita dengan izin Allah. Tidak perlu iri terhadap rezeki orang lain, karena Allah telah mengatur bagian masing-masing dengan sangat adil.

Rezeki tidak akan lari ke mana. Ia akan datang tepat waktu kepada pemiliknya, melalui jalan yang telah Allah tentukan. Tugas kita hanyalah bersyukur, menjaga hati tetap baik, dan terus berikhtiar sambil meyakini bahwa setiap nikmat berasal dari Allah Yang Maha Pemurah.
Cepu, 19 Juni 2026

Ketenangan Jiwa

Karya: Gutamining Saida 
Saya berkesempatan menginap di Hotel Citradream Bandung. Hotel ini berada di kawasan yang cukup strategis dan nyaman. Bangunannya menjulang dengan delapan lantai yang tertata rapi. Dari luar tampak modern dan bersih. Ketika memasuki lobi, suasana sejuk langsung terasa. Para petugas menyambut tamu dengan ramah dan sopan.

Proses check-in berlangsung lancar sehingga kami dapat segera beristirahat setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Saya mendapatkan kamar di lantai satu dengan nomor 109. Kamar tersebut cukup nyaman untuk ditempati dua orang. Di dalamnya tersedia dua tempat tidur yang empuk, pendingin ruangan yang bekerja dengan baik, meja, kursi, televisi, serta kamar mandi yang bersih dan tertata rapi. Air mengalir lancar, perlengkapan mandi tersedia, dan pencahayaan kamar juga cukup baik.Secara umum, pelayanan yang diberikan hotel ini memuaskan. Kebersihan terjaga dan para petugas siap membantu apabila diperlukan.

Sebagai orang yang sehari-hari tinggal di rumah sederhana di kampung, tentu fasilitas seperti ini terasa  mewah dibandingkan kamar yang saya miliki di rumah. Kasurnya empuk, ruangan lebih sejuk karena AC, dan suasananya tampak modern. Secara logika, seharusnya saya dapat tidur lebih nyenyak di tempat yang nyaman seperti itu.

Ternyata kenyataannya berbeda. Malam itu saya tidak bisa langsung tertidur. Tubuh memang lelah, tetapi mata terasa sulit terpejam. Saya berbaring cukup lama sambil memandangi langit-langit kamar. Sesekali terdengar suara kendaraan dari luar hotel. Saya membolak-balikkan badan mencari posisi yang nyaman. Kasur yang empuk ternyata tidak otomatis membuat tidur menjadi nyenyak.

Pikiran saya melayang jauh ke rumah. Di rumah, kamar saya jauh lebih sederhana. Tidak ada AC yang membuat ruangan terasa dingin. Kasurnya biasa saja, bahkan mungkin tidak semewah yang tersedia di hotel. Anehnya, ketika sampai di rumah dan merebahkan badan, saya biasanya dapat langsung tertidur.  Terkadang terlalu nyenyak hingga sulit bangun saat pagi hari.

Allah Subhanahu Wata'alla memberikan pelajaran yang sangat berharga melalui pengalaman sederhana tersebut. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa kemewahan adalah sumber kebahagiaan dan ketenangan. Kenyataannya tidak selalu demikian. Tempat yang nyaman belum tentu membuat hati tenang. Kasur yang mahal belum tentu membuat seseorang tidur nyenyak. Bangunan yang megah belum tentu menghadirkan rasa damai. Ketenangan sejati ternyata bukan berasal dari fasilitas yang dimiliki, melainkan dari hati yang dekat dengan Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya teringat firman Allah bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Ayat tersebut terasa begitu nyata malam itu. Ketika hati dipenuhi berbagai pikiran, rasa khawatir, dan berbagai pertimbangan, maka kemewahan di sekitar tidak mampu menghilangkan kegelisahan. Sebaliknya, ketika hati berserah diri kepada Allah Subhanahu Wata'alla rasa tenang dapat hadir meskipun berada di tempat yang sangat sederhana.

Saya membayangkan kehidupan Rasulullah yang begitu sederhana. Tempat tidur beliau jauh dari kata mewah. Beliau memiliki ketenangan yang luar biasa karena kedekatan dengan Allah Subhanahu Wata'alla. Dari situlah saya menyadari bahwa ukuran kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya fasilitas, tetapi pada kualitas rasa syukur yang ada di dalam hati.

Malam di Bandung menjadi malam perenungan. Saya bersyukur masih diberi kesempatan melihat berbagai keadaan kehidupan. Ada orang yang tinggal di rumah sederhana tetapi hidupnya penuh kebahagiaan. Ada pula yang memiliki segala kemewahan namun hatinya tetap gelisah. Semua itu mengajarkan bahwa nikmat terbesar bukanlah harta benda, melainkan ketenangan jiwa.

Ketika pagi tiba, saya bangun dengan rasa syukur dibandingkan saat pertama kali memasuki hotel. Saya menyadari bahwa kemewahan hanyalah sarana, bukan tujuan hidup. Fasilitas yang baik patut disyukuri, tetapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa sumber ketenangan sesungguhnya berasal dari Allah Subhanahu Wata'alla. 

Perjalanan ke Bandung akhirnya bukan hanya menjadi perjalanan wisata. Saya membawa pelajaran berharga bahwa manusia sering mengejar kenyamanan lahiriah, padahal yang lebih penting adalah kenyamanan batin. Semoga Allah selalu menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, tidak silau oleh kemewahan dunia, dan senantiasa merasa cukup atas nikmat yang telah diberikan. Karena pada akhirnya, ketenangan bukanlah tentang di mana kita tidur, tetapi tentang kepada siapa hati kita bersandar. Aamiin.
Cepu, 18 Juni 2026