Karya : Gutamining Saida
Selasa, 21 April 2026, suasana sekolah tampak tidak biasa. Riuh rendah suara siswa dan sapaan para guru terdengar lebih hangat di tengah warna-warni kain kebaya yang dikenakan ibu-ibu guru. Para bapak guru dan siswa laki-laki pun tampak gagah dengan seragam Samin yang bersahaja, mencerminkan identitas akar rumput yang kuat. Pemandangan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah simfoni nasionalisme yang dibalut dengan rasa syukur mendalam kepada Sang Pencipta.
Di sela-sela kesibukan jempol saya menari di atas layar ponsel. Di media sosial, story teman-teman sejawat dari sekolah lain mulai bermunculan. Mereka mengunggah momen kebersamaan, senyum sumringah dalam balutan busana kebaya. Meski sekolah kami belum sempat melakukan foto bersama karena padatnya agenda pagi, geliat peringatan Hari Kartini ini terasa sangat kental di dalam sanubari. Ucapan-ucapan selamat hari Kartini pun berseliweran di grup WhatsApp, menjadi pengingat kolektif akan jasa seorang perempuan pingit yang pemikirannya melampaui zaman.
Perjuangan Raden Ajeng Kartini dapat kita maknai sebagai manifestasi dari perintah Allah SWT untuk menuntut ilmu tanpa memandang kasta atau gender. Jika kita menarik benang merah ke belakang, Kartini adalah sosok yang gelisah karena keterbatasan akses pendidikan bagi kaumnya. Kegelisahan ini sejalan dengan spirit wahyu pertama, Iqra’ (Bacalah).
Seandainya Allah Subhanahu Wata'alla tidak menggerakkan hati Kartini untuk berjuang demi emansipasi dan pendidikan perempuan di tanah Jawa, mungkin hari ini saya tidak akan berdiri di sini sebagai seorang pendidik. Betapa besar skenario Allah Subhanahu Wata'alla melalui perjuangan beliau. Tanpa pena dan surat-surat Kartini yang mengguncang pemikiran kolonial, akses perempuan untuk menjadi guru, dokter, atau ilmuwan mungkin masih menjadi mimpi yang terkunci rapat di balik tembok pingitan.
Islam sangat memuliakan perempuan berilmu. Sebagaimana Siti Aisyah r.a. yang menjadi rujukan ilmu hadits dan hukum bagi para sahabat, Kartini pun menjadi wasilah bagi terbukanya pintu ilmu bagi perempuan Indonesia. Kebebasan yang saya rasakan hari ini untuk mengajar, bersosialisasi, dan berkontribusi bagi bangsa adalah nikmat yang harus disyukuri dengan tindakan nyata, bukan sekadar perayaan busana.
Rasa syukur atas jasa Kartini tidak cukup hanya dengan mengenakan kebaya yang indah. Bagi saya, syukur yang paling hakiki adalah dengan mewakafkan diri, ilmu, dan tenaga untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Setiap butir ilmu yang saya bagikan kepada siswa adalah bentuk terima kasih saya kepada sejarah.
Setiap sesi di kelas, saya tidak hanya mentransfer pengetahuan tekstual. Lebih dari itu, saya berusaha menyelipkan nilai-nilai kebaikan dan budi pekerti. Mengajak siswa untuk mencintai ilmu adalah cara saya menjaga api perjuangan Kartini tetap menyala. Di hadapan Tuhan, pekerjaan sebagai pendidik ini saya niatkan sebagai amal jariyah.
Rasulullah bersabda bahwa salah satu amalan yang tidak akan putus pahalanya meski manusia telah wafat adalah ilmu yang bermanfaat. Inilah misi utama saya untuk menebarkan manfaat bagi lingkungan sekolah dan masyarakat. Ketika saya melihat seorang siswi memiliki cita-cita tinggi dan semangat belajar yang membara, saya melihat jejak Kartini di matanya. Dan di saat itulah, doa-doa saya lantunkan agar ilmu yang mereka dapatkan menjadi cahaya bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat.
Peringatan Hari Kartini dengan seragam adat samin dan kebaya ini memberikan pesan simbolis tentang kesahajaan dan keberanian. Sebagai wanita muslimah, saya memandang peran emansipasi ini sebagai tanggung jawab untuk menjadi rahmatan lil 'alamin. Memberi manfaat tidak harus dengan melakukan perubahan besar dalam sekejap, namun bisa dimulai dari hal kecil: memberikan senyuman semangat kepada siswa yang lesu, memberikan nasihat bijak saat mereka buntu, hingga menjadi teladan dalam bersikap.
Saya berharap, segala lelah dan peluh dalam menjalankan tugas ini dicatat oleh Allah Subhanahu Wata'alla sebagai bagian dari ibadah. Kita bergerak bukan hanya karena tuntutan profesi atau instruksi kedinasan, melainkan karena panggilan jiwa untuk memperbaiki umat. Kartini telah membuka jalannya, dan tugas kitalah untuk melanjutkan perjalanan itu dengan kompas keimanan.
Melihat foto-foto teman yang berseliweran di grup, saya tersenyum. Biarlah kami belum sempat berfoto bersama hari ini, karena potret yang paling abadi bukanlah yang tersimpan di memori ponsel, melainkan potret kebaikan yang terukir di hati para siswa. Biarlah kesibukan kami menjaga tes PSAJ hari ini menjadi saksi di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla bahwa kami menghargai pahlawan dengan cara bekerja keras demi masa depan generasi penerus.







