Jumat, 23 Januari 2026

IPS Bersama AdiK SamBa

 

Karya: Gutamining Saida

Pembelajaran mata pelajaran IPS di kelas 8H pada materi Penjelajahan Samudra saya rancang dengan tujuan agar siswa tidak hanya mengenal tokoh-tokoh besar dari sekadar nama dan tahun, tetapi benar-benar memahami cerita, latar belakang, serta dampak dari penjelajahan tersebut. Selama ini, saya menyadari bahwa ketika siswa diberi tugas “mencari tokoh”, sebagian besar langsung membuka internet, menyalin informasi, lalu selesai. Pengetahuan yang diperoleh sering kali tidak bertahan lama karena tidak melalui proses membaca dan memahami secara mendalam.

Berangkat dari kondisi tersebut, saya mencoba menggunakan sebuah teknik sederhana namun bermakna, yaitu AdiK SamBa, agar pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna. Saya berharap dengan teknik ini, siswa kelas 8H dapat belajar berpikir runtut, teliti, dan bertanggung jawab terhadap informasi yang mereka peroleh.

Pada awal pembelajaran, saya membuka kelas dengan apersepsi ringan. Saya mengajak siswa membayangkan bagaimana rasanya hidup pada masa ratusan tahun lalu, saat teknologi belum secanggih sekarang. Saya bertanya, “Bagaimana perasaan kalian jika harus berlayar berbulan-bulan di lautan luas tanpa peta modern, tanpa GPS, dan tanpa alat komunikasi?” Pertanyaan tersebut langsung menarik perhatian siswa. Beberapa siswa tersenyum, ada yang menggelengkan kepala, dan ada pula yang berkomentar bahwa hal itu pasti sangat menakutkan.

Dari situ, saya menjelaskan bahwa tokoh-tokoh penjelajahan samudra adalah orang-orang yang berani mengambil risiko besar. Mereka berlayar jauh meninggalkan negerinya demi tujuan tertentu, seperti mencari rempah-rempah, kejayaan, kekayaan, dan pengaruh. Setelah suasana kelas mulai fokus, saya menyampaikan tugas utama pembelajaran hari itu.

Setiap siswa kelas 8H diminta untuk mencari dan mempelajari satu tokoh penjelajahan samudra. Tokoh tersebut bebas dipilih, bisa berasal dari Portugis, Spanyol, Belanda, atau Inggris. Namun, saya menekankan bahwa tugas ini tidak boleh dikerjakan dengan cara menyalin data begitu saja. Untuk itu, saya memperkenalkan teknik AdiK SamBa.

Saya menuliskan kata AdiK SamBa di papan tulis, lalu bertanya, “Siapa yang tahu apa maksud AdiK SamBa?” Sebagian siswa terlihat bingung, sebagian lainnya mencoba menebak. Kemudian saya mulai menjelaskan bahwa AdiK SamBa merupakan singkatan dari kata tanya penting yang digunakan untuk memahami sebuah peristiwa atau tokoh secara utuh, yaitu:

  • Apa: Apa yang dilakukan tokoh tersebut? Apa peristiwa penting yang berkaitan dengannya?

  • di mana: Di mana penjelajahan itu terjadi? Wilayah mana saja yang dijelajahi?

  • kapan: Kapan peristiwa penjelajahan itu berlangsung?

  • siapa: Siapa tokoh tersebut dan siapa saja pihak yang terlibat?

  • mengapa: Mengapa tokoh itu melakukan penjelajahan samudra?

  • bagaimana: Bagaimana proses penjelajahan itu berlangsung dan bagaimana dampaknya?

Saya menegaskan kepada siswa kelas 8H bahwa dengan menjawab pertanyaan AdiK SamBa, mereka tidak hanya mengadopsi data, tetapi melewati proses belajar yang sesungguhnya, yaitu membaca, memahami, lalu menjawab dengan baik dan benar. Teknik ini membantu mereka menyusun informasi secara runtut sehingga materi lebih mudah dipahami dan tidak cepat dilupakan.

Setelah penjelasan selesai, siswa mulai mengerjakan tugas. Suasana kelas 8H terlihat lebih hidup dan kondusif. Mereka membuka buku paket, membaca artikel, dan mencari sumber informasi lainnya. Yang membuat saya merasa bersyukur, sebagian besar siswa tidak langsung menulis. Mereka membaca terlebih dahulu, lalu berhenti sejenak untuk memahami isi bacaan sebelum menuliskan jawabannya.

Saya berkeliling kelas untuk memantau proses belajar mereka. Seorang siswa yang memilih tokoh Ferdinand Magellan tampak serius membaca perjalanan pelayaran mengelilingi dunia. Ia kemudian menuliskan jawabannya satu per satu sesuai AdiK SamBa. Siswa lain memilih Vasco da Gama dan sempat bertanya, “Bu, kalau bagian mengapa, boleh ditulis lebih dari satu alasan?” Pertanyaan itu menunjukkan bahwa siswa mulai berpikir kritis dan tidak sekadar menyalin.

Ada pula siswa yang menyadari bahwa penjelajahan samudra tidak hanya membawa dampak positif bagi bangsa Eropa, tetapi juga membawa dampak besar bagi wilayah yang mereka datangi, termasuk penjajahan dan penderitaan bagi bangsa lain. Dari sini terlihat bahwa siswa kelas 8H mulai memahami materi secara lebih mendalam dan luas.

Menjelang akhir pembelajaran, saya meminta beberapa siswa untuk menyampaikan hasil temuan mereka secara lisan. Mereka menjelaskan tokoh pilihannya dengan urutan AdiK SamBa. Penjelasan yang disampaikan terdengar lebih runtut, jelas, dan menggunakan bahasa mereka sendiri. Rasa percaya diri pun terlihat karena mereka benar-benar memahami apa yang disampaikan.

Pembelajaran IPS di kelas 8H pada materi penjelajahan samudra hari itu menjadi pengalaman yang berkesan. Teknik AdiK SamBa terbukti membantu siswa belajar secara lebih bermakna. Mereka tidak hanya menyalin informasi, tetapi melalui proses membaca, memahami, dan menjawab dengan baik dan benar. Dari pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa pembelajaran yang bermakna akan tumbuh ketika siswa diajak berpikir, bukan sekadar mencari jawaban. Semoga 8H semakin sukses dalam menyongsong masa depan.

Cepu, 24 Januari 2026

5W dan 1H di kelas 8G



Karya : Gutamining Saida

Pembelajaran mata pelajaran IPS di kelas 8G pada materi Penjelajahan Samudra berlangsung dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Sejak awal saya sudah menanamkan niat agar pembelajaran tidak sekadar menjadi aktivitas mencari jawaban cepat di internet, lalu menyalinnya tanpa pemahaman. Materi penjelajahan samudra sejatinya kaya akan cerita, tokoh, semangat zaman, serta dampak besar bagi dunia, termasuk Indonesia. Karena itu, saya ingin siswa benar-benar mengenal tokoh-tokoh penjelajahan samudra, bukan hanya hafal nama dan tahun.

Pada pertemuan itu, saya membuka pelajaran dengan pengantar singkat tentang latar belakang penjelajahan samudra yaitu bagaimana bangsa-bangsa Eropa terdorong untuk berlayar jauh menembus lautan luas, meninggalkan negerinya, demi mencari rempah-rempah, kejayaan, dan pengaruh. Setelah itu, saya menyampaikan bahwa setiap siswa akan mendapat tugas untuk mencari informasi tentang satu tokoh penjelajahan samudra. Tokoh tersebut bisa berasal dari Portugis, Spanyol, Belanda, atau Inggris, seperti Vasco da Gama, Christopher Columbus, Ferdinand Magellan, Bartholomeus Diaz, atau Cornelis de Houtman.

Ada hal yang saya tekankan sejak awal. Tugas ini tidak boleh dikerjakan dengan cara “asal cari di internet lalu salin”. Saya memperkenalkan kembali sebuah teknik berpikir yang sederhana, tetapi sangat bermakna, yaitu 5W dan 1H. Sebelum mereka mulai mencari, saya bertanya kepada siswa, “Siapa yang pernah mendengar istilah 5W dan 1H?” Beberapa siswa mengangkat tangan, sebagian lainnya hanya saling menoleh. Dari situ saya mulai menjelaskan.

Saya sampaikan bahwa 5W dan 1H adalah singkatan dari kata tanya dalam bahasa Inggris yang sangat penting untuk memahami sebuah peristiwa atau tokoh secara utuh. 5W terdiri dari:

  1. What (apa): Apa peristiwa yang terjadi? Apa yang dilakukan tokoh tersebut?

  2. Who (siapa): Siapa tokohnya? Siapa saja yang terlibat?

  3. Where (di mana): Di mana peristiwa itu terjadi? Wilayah mana yang dijelajahi?

  4. When (kapan): Kapan peristiwa itu berlangsung?

  5. Why (mengapa): Mengapa tokoh tersebut melakukan penjelajahan?

Sedangkan 1H adalah:
6. How (bagaimana): Bagaimana proses penjelajahan itu terjadi? Bagaimana cara tokoh tersebut berlayar, rintangan apa yang dihadapi, dan bagaimana hasil akhirnya?

Saya menjelaskan kepada siswa bahwa dengan menjawab keenam pertanyaan ini, mereka tidak hanya mendapatkan data, tetapi juga pemahaman. Mereka akan belajar berpikir runtut, kritis, dan tidak mudah puas dengan jawaban singkat. Teknik ini juga melatih mereka membaca lebih teliti, karena satu sumber biasanya tidak langsung menjawab semua pertanyaan.

Setelah penjelasan itu, saya membagi tugas. Setiap siswa memilih satu tokoh penjelajahan samudra dan menuliskan jawabannya berdasarkan 5W dan 1H. Suasana kelas mulai berubah. Jika biasanya saat diberi tugas mencari informasi siswa cenderung pasif atau sekadar menunduk di layar gawai, kali ini terlihat berbeda. Mereka mulai membuka berbagai sumber bacaan, baik dari buku paket, artikel daring, maupun catatan yang sudah mereka miliki.

Beberapa siswa tampak berdiskusi kecil dengan teman sebangku. Ada yang bertanya, “Bu, kalau why itu alasannya karena mencari rempah-rempah boleh ditulis panjang?” Ada pula yang penasaran, “Kalau how, boleh ditulis tentang kapal dan rute perjalanannya?” Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi tanda bahwa mereka mulai berpikir lebih dalam, bukan sekadar menyalin.

Saya berkeliling kelas, melihat lembar kerja mereka satu per satu. Ada siswa yang memilih Christopher Columbus dan menuliskan dengan runtut siapa Columbus, kapan ia berlayar, ke mana tujuannya, mengapa ia berlayar, serta bagaimana dampak penjelajahannya bagi dunia. Ada pula yang memilih Vasco da Gama dan mulai memahami jalur pelayaran ke India melalui Tanjung Harapan. Dari raut wajah mereka, terlihat kesungguhan dan semangat belajar.

Yang membuat saya bersyukur, siswa terlihat tekun membaca. Mereka tidak langsung menulis, tetapi membaca terlebih dahulu, kemudian mencocokkan informasi dengan pertanyaan 5W dan 1H. Secara tidak langsung, mereka belajar memilah informasi dan menyusunnya menjadi jawaban yang bermakna. Beberapa siswa bahkan menyadari bahwa satu tokoh bisa memiliki dampak positif dan negatif, terutama bagi bangsa-bangsa yang dijajah.

Di akhir pembelajaran, saya mengajak beberapa siswa untuk menyampaikan hasil temuan mereka secara lisan. Dengan percaya diri, mereka menjelaskan tokoh pilihannya menggunakan pola 5W dan 1H. Penjelasan mereka terdengar lebih runtut dan mudah dipahami. Saya pun menegaskan kembali bahwa tujuan pembelajaran hari itu bukan hanya mengetahui nama tokoh penjelajahan samudra, tetapi memahami cerita di baliknya dan melatih cara berpikir kritis.

Pembelajaran di kelas 8G hari itu menjadi pengalaman yang berkesan. Teknik 5W dan 1H terbukti membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam. Mereka tidak hanya “tahu”, tetapi juga “mengerti”. Semangat belajar yang terlihat di wajah mereka menjadi pengingat bagi saya bahwa pembelajaran yang bermakna tidak selalu membutuhkan metode yang rumit, cukup dengan mengajak siswa berpikir dan membaca dengan tujuan yang jelas. Semoga kalian semakin sukses. 

Kamis, 22 Januari 2026

Donat Pink



Karya : Gutamining Saida

Rabu siang itu datang tanpa terasa. Jam dinding di ruang guru sudah menunjukkan waktu jam ke 7-8 pembelajaran. Biasanya, jam ini menjadi ujian kesabaran bagi saya sebagai guru IPS. Wajah-wajah lelah, mata yang mulai sayu, dan beberapa kepala yang perlahan merebah di atas meja sering menjadi pemandangan yang nyaris tak terelakkan. Siang itu berbeda dan sangat berbeda.

Ketika saya melangkah masuk kelas 8F, suasana terasa hidup. Ada sorot mata yang berbinar, ada senyum yang masih tersisa, dan tak terlihat tanda-tanda malas ataupun mengantuk. Dalam hati saya berucap lirih, Alhamdulillah ya Allah, Engkau masih titipkan semangat pada anak-anak, meski matahari sedang terik dan jam pelajaran sudah di penghujung.

Materi siang itu adalah tentang Revolusi Industri. Sebuah materi sejarah yang sering dianggap berat oleh sebagian siswa karena penuh dengan istilah, tahun, dan perubahan besar yang terjadi di Eropa. Saya mencoba menyampaikannya dengan bahasa sederhana, mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari mereka tentang perubahan alat, pekerjaan, dan dampaknya bagi manusia. Saya melempar beberapa pertanyaan ringan, dan tanpa saya duga, tangan-tangan terangkat dengan penuh percaya diri. Mereka menjawab dengan antusias, bahkan saling menambahkan jawaban teman-temannya.

Saya tersenyum. Hati saya terasa hangat. Ya Allah, batin saya, inilah nikmat menjadi guru. Bukan  seberapa hebat saya mengajar, tetapi bagaimana Engkau membukakan hati mereka untuk menerima ilmu.

Saya melangkah perlahan menuju bangku belakang, melihat catatan siswa-siswa perempuan yang tertulis rapi. Ada garis-garis warna, poin-poin penting yang disusun dengan teliti. Di situ saya melihat kesungguhan. Saya sadar, ilmu tidak hanya masuk lewat telinga, tetapi juga lewat kesungguhan hati. Dan saat ini, saya menyaksikan sendiri kesungguhan itu.

Tiba-tiba terdengar suara memanggil, agak ragu tapi jelas ditujukan kepada saya.
“Bu… bu Saida…”

Saya menoleh, mencari sumber suara. Ternyata berasal dari seorang siswi yang duduk di sebelah Syifa. Nadira namanya. Wajahnya terlihat sedikit gugup, namun matanya berbinar penuh keberanian.

“Ada apa, Nak?” tanya saya singkat sambil mendekat.

“Ii lho Bu…” ucapnya sambil menyodorkan sesuatu ke arah saya.

Seketika mata saya terbelalak. Di telapak tangannya ada sebuah bulatan kecil berwarna pink. Sekilas tampak seperti donat mini. Refleks saya terkejut. Dalam benak saya sempat berpikir, Ini donat sungguhan? Dari mana?

Ketika saya perhatikan lebih dekat, ternyata donat itu tidak bisa dimakan. Donat mini itu adalah hasil karya tangan. Persis seperti donat sungguhan lengkap dengan misis, bentuk, warna, dan detailnya. Saya terdiam sejenak. Ada rasa kagum yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Ini… buatan kamu?” tanya saya pelan.

Nadira mengangguk sambil tersenyum malu-malu. Teman-temannya langsung bersorak kecil. Seolah tak mau kalah, mereka pun menunjukkan hasil karya masing-masing. Ada yang berbentuk biskuit  cokelat, ada yang berwarna-warni, bentuk daun. Kelas yang tadinya fokus pada Revolusi Industri, kini dipenuhi karya kreativitas yang menakjubkan dibuat saat istirahat kedua.

Saya menahan haru. Bukan karena bentuk donatnya, tetapi karena niat dan usaha di baliknya. Anak-anak ini, di tengah kesederhanaan dan keterbatasan, mampu menciptakan sesuatu dengan penuh ketekunan. Dalam hati saya kembali berucap, Ya Allah, betapa sering aku lupa bahwa setiap anak adalah anugerah-Mu, masing-masing dengan potensi yang Engkau titipkan.

Saya menerima donat mini itu dengan penuh rasa syukur. Bukan sebagai benda, tetapi sebagai simbol kepercayaan dan kasih sayang murid kepada gurunya. Sebuah hadiah kecil yang nilainya jauh lebih besar dari harga materi apa pun.

Dalam refleksi momen itu mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang menanamkan nilai. Tentang menumbuhkan rasa percaya diri, menghargai proses, dan mensyukuri setiap usaha kecil. Revolusi industri mengajarkan perubahan besar dalam sejarah, tetapi di kelas 8F siang itu, saya menyaksikan “revolusi kecil” dalam hati anak-anak revolusi semangat, kreativitas, dan keberanian untuk menunjukkan karya.

Ketika bel pulang berbunyi, saya menutup pelajaran dengan doa singkat. Saya berharap, ilmu yang kami pelajari hari itu menjadi ilmu yang bermanfaat, dan setiap kebaikan kecil yang mereka lakukan dicatat sebagai amal. Saya melangkah keluar kelas dengan hati yang penuh bahagia. Donat mini pink itu masih saya genggam, menjadi pengingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering menghadirkan kebahagiaan lewat cara yang sederhana.

Cepu, 22 Januari 2026

Rabu, 21 Januari 2026

Kursi Pelaminan

Karya : Gutamining Saida 
Pulang dari kegiatan MGMP di SMPN 2 Blora, langkah saya terasa ringan meski tubuh sedikit lelah. Hari ini penuh dengan diskusi, dan saling menguatkan antar sesama guru IPS. Dalam perjalanan pulang, hati saya tergerak untuk mampir sejenak ke sebuah acara tasyakuran resepsi pernikahan. Seorang teman sejawat, guru SMPN 1 Kedungtuban bernama Pak Angga, tengah melangsungkan hajatan bahagia. Niat saya sederhana yaitu memenuhi undangan, mendoakan, dan ikut berbagi kebahagiaan, meski hanya sebentar.

Setibanya di lokasi, suasana resepsi sudah ramai. Tamu-tamu berdatangan silih berganti. Menikmati hidangan yang sudah ada dibeberapa meja. Suara percakapan bercampur dengan alunan sang biduan yang memakai baju warna hijau berkilau musik lembut yang menenangkan. Sebagian besar kursi telah terisi, hanya tersisa beberapa kursi kosong yang tersebar di sudut-sudut. 

Di serambi depan, saya disambut oleh seorang bapak dari pak Angga dengan wajah teduh. Dari raut mukanya, terpancar ketulusan dan kebahagiaan seorang ayah yang sedang melepas anaknya menuju kehidupan baru. Beliau tersenyum ramah lalu bertanya dengan logat khas yang hangat, “Saking Kedungtuban, nggih?”
Spontan saya menjawab, “Nggih,” sambil menganggukkan kepala. Jawaban itu meluncur begitu saja, meski secara administratif saya sudah tidak lagi bertugas di Kedungtuban. Namun, Kedungtuban tetap memiliki ruang tersendiri di hati saya. Banyak kenangan, pelajaran hidup, dan ikatan persaudaraan yang tumbuh di sana. Kadang, sebuah tempat bukan sekadar soal alamat, melainkan tentang rasa memiliki.

Bapak tersebut kemudian menunjuk ke arah seseorang yang duduk di barisan depan sambil berkata, “Niku, priyayi  saking Kedungtuban.” Sambil mengikuti arah telunjuknya, saya melangkah mendekat. Ternyata yang dimaksud adalah Ibu pengawas yang bernama ibu Fatma beliau pengawas SMPN 1 Kedungtuban. Kami pun saling menyapa dengan penuh keakraban. Di tengah keramaian, Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan kembali kami dalam suasana yang penuh berkah.

Kami dipersilakan menikmati sajian yang telah tertata rapi di beberapa meja. Saya mengambil seporsi nasi rawon, makanan sederhana namun sarat rasa, lalu memilih air putih sebagai minuman. Di sela suapan, saya merenung. Dalam agama Islam, walimah bukan sekadar pesta, melainkan wujud syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla atas amanah pernikahan. Makanan yang disajikan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi sarana berbagi rezeki dan mempererat silaturahmi.

Pandangan saya kemudian tertuju ke arah pelaminan. Kursi pengantin masih kosong. Saya pun bertanya pelan kepada Ibu Fatma, “Manten belum dikeluarkan, Bu?”
Beliau tersenyum lalu menjawab, “Kemanten masih perjalanan.”
Jawaban itu sederhana, tetapi menghadirkan makna mendalam di hati saya. Dalam hidup, sering kali kita berada di sebuah acara, sebuah proses, namun belum melihat hasil akhirnya. Seperti halnya pelaminan yang masih kosong, kita diajarkan untuk bersabar menunggu waktu yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Tidak semua hal harus disaksikan dari awal hingga akhir. Yang terpenting adalah niat baik dan doa yang tulus.

Saya menikmati rawon tanpa kehadiran pengantin di pelaminan. Tidak ada jabat tangan dengan Pak Angga dan istrinya, tidak ada foto bersama, tidak pula menyaksikan senyum bahagia mereka duduk berdampingan. Saya yakin doa tidak harus menunggu momen sempurna. Doa dapat dipanjatkan kapan saja, bahkan dalam keheningan dan keterbatasan waktu.

Dalam hati saya berucap, “Mohon maaf, Pak Angga. Saya tidak bisa menunggu sampai njenengan duduk di pelaminan.” Bukan karena tidak ingin, tetapi karena waktu dan kondisi yang tidak memungkinkan. Saya percaya Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Doa yang lirih, meski tanpa disaksikan manusia, tetap sampai ke langit.

Saya memanjatkan doa semoga Pak Angga dan pasangan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Semoga mereka rukun sampai menua, saling menguatkan dalam suka dan duka, serta diberi kemampuan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan dunia, tetapi juga tentang perjalanan bersama menuju ridha Allah Subhanahu Wata'alla . Semoga rumah tangga mereka menjadi ladang pahala, tempat tumbuhnya iman, dan ruang pendidikan pertama bagi generasi yang saleh dan salehah.

Langkah saya meninggalkan lokasi resepsi diiringi rasa syukur. Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk menghadiri undangan, menjaga silaturahmi, dan menyaksikan secuil kebahagiaan orang lain. Hidup ini adalah rangkaian pertemuan dan perpisahan. Ada yang bisa kita saksikan sampai tuntas, ada pula yang hanya sebentar kita singgahi. Selama niatnya baik dan diiringi doa, semuanya bernilai ibadah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Cepu, 22 Januari 2026

Senin, 19 Januari 2026

Isra Mi'raj dan Takir


Karya: Gutamining Saida

Peringatan Isra Mi’raj di Esmega pagi itu berlangsung dengan lancar dan penuh kekhidmatan. Sejak langkah pertama memasuki gerbang sekolah, suasana religius sudah terasa begitu kental. Seluruh warga sekolah yaitu siswa, bapak ibu guru, serta karyawan tampak serasi mengenakan baju muslim. Siswa laki-laki mengenakan koko dan celana panjang rapi, sementara siswa perempuan tampil anggun dengan gamis dan kerudung sederhana. Bapak ibu guru dan karyawan pun tak kalah mengenakan busana muslim yang bersih dan rapi, seolah menjadi satu barisan besar yang siap meneladani perjalanan agung Rasulullah Shalallahu  Alaihi Wasallam.

Tidak ada kemewahan berlebihan dalam peringatan Isra Mi’raj kali ini. Persiapan telah dilaksanakan sehari sebelum acara dengan penuh kebersamaan. Guru, karyawan, dan siswa saling membantu sesuai tugas masing-masing. Ada yang menata tempat, menyiapkan pengeras suara, membersihkan halaman, hingga memastikan acara berjalan tertib. Semua dilakukan dengan niat ibadah. Kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama, menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Pagi itu, lantunan shalawat menggema lembut, mengiringi duduk rapi para siswa. Busana muslim yang dikenakan bukan sekadar pakaian seragam acara, tetapi menjadi simbol kesiapan hati untuk menerima nasihat dan hikmah. Seolah setiap helai kain yang menutup aurat adalah pengingat akan perintah Allah Subhanahu Wata'alla untuk menjaga kesucian diri, baik lahir maupun batin.

Yang menjadi keistimewaan dalam peringatan Isra Mi’raj kali ini adalah adanya imbauan kepada siswa untuk membawa bekal dari rumah dengan menggunakan takir. Takir adalah wadah makanan tradisional dari lipatan daun pisang yang menjadi pusat perhatian. Sebuah benda sederhana yang kini terasa asing bagi sebagian generasi. Bahkan ketika pengumuman disampaikan di grup paguyuban orang tua siswa, muncul beberapa pertanyaan polos, “Takir itu apa?” "Bagaimana bentuknya?" Pertanyaan itu menggugah kesadaran bersama bahwa ada nilai budaya yang perlahan mulai terlupakan.

Di tengah kemajuan zaman, wadah makanan kini didominasi oleh plastik, kertas, dan tempat makan modern yang praktis. Kali ini takir hadir membawa pesan berbeda. Ia terbuat dari daun pisang yang dilipat dengan rapi dan disemat lidi kecil. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Takir bukan sekadar tempat nasi, tetapi simbol kearifan lokal, kesederhanaan, dan kedekatan manusia dengan alam.

Peringatan Isra Mi’raj sendiri adalah peristiwa agung yang mengingatkan umat Islam pada perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Dari peristiwa itulah umat Islam menerima perintah shalat langsung dari Allah . Shalat yang menjadi tiang agama, penopang kehidupan seorang muslim, dan penghubung paling intim antara hamba dan Tuhannya.

Kesederhanaan takir seolah merefleksikan hakikat shalat itu sendiri. Tidak membutuhkan kemewahan, tetapi menuntut keikhlasan dan ketaatan. Seperti shalat yang tidak dinilai dari mahalnya sajadah atau indahnya pakaian, melainkan dari khusyuknya hati. Pagi itu, takir-takir yang dibawa siswa menjadi simbol kecil dari ajaran besar tentang hidup sederhana, bersyukur, dan taat.

Saat waktu makan tiba, siswa duduk lesehan di atas karpet. Semua sama-sama membuka bekal dari takir masing-masing. Ada yang berisi nasi dengan lauk sederhana, ada pula yang hanya nasi dan sambal. Dari mereka  tak satu pun mengeluh. Senyum-senyum kecil merekah, terutama bagi siswa yang baru pertama kali melihat dan menggunakan takir. Aroma daun pisang yang khas menghadirkan kenangan masa lalu tentang dapur-dapur sederhana, tentang kebersamaan keluarga, dan tentang hidup yang apa adanya.

Ada hal lain yang tak kalah penting yaitu kepedulian terhadap lingkungan. Setelah acara selesai, tidak ada sampah daun, plastik berserakan. Daun pisang bekas takir mudah dikumpulkan dan kembali menyatu dengan tanah. Sebuah pelajaran tentang menjaga alam tersampaikan tanpa kata-kata panjang. Islam memang mengajarkan kebersihan dan keseimbangan hidup, termasuk dalam memperlakukan lingkungan.

Peringatan Isra Mi’raj di Esmega pagi ini tampak sederhana, namun sesungguhnya sarat makna. Dari busana muslim yang dikenakan bersama, tumbuh rasa persaudaraan dan kesetaraan. Dari takir yang nyaris terlupakan, lahir pengingat tentang budaya, kesederhanaan, dan rasa syukur. Dari kebersamaan siswa, guru, dan karyawan, tercermin nilai ukhuwah yang indah.

Semoga peringatan Isra Mi’raj ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar membekas dalam hati. Menjadi pengingat bahwa iman harus dirawat, tradisi harus dijaga, dan kesederhanaan adalah jalan menuju keberkahan. Dengan begitu, generasi Esmega kelak tumbuh tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakar pada nilai luhur agama dan budaya.

Cepu, 19 Januari 2025

Sabtu, 17 Januari 2026

Es Teler

Karya: Gutamining Saida 
Hari libur memang selalu terasa berbeda. Udara pagi seolah lebih ramah, waktu berjalan lebih pelan, dan hati terasa lebih longgar untuk menerima apa pun yang datang. Tidak ada dering bel masuk sekolah, tidak ada tumpukan tugas, dan tidak ada keharusan terburu-buru. Di sela suasana itulah sebuah ajakan sederhana datang. Tidak panjang, tidak pula bertele-tele. Hanya satu kalimat singkat yang langsung saya sambut dengan satu kata penuh makna, “oke”.
Ajakan itu seperti angin segar di sela rutinitas. Ada rasa senang yang sulit dijelaskan, bukan karena tujuannya, melainkan karena kebersamaan yang menyertainya. Sebelum melangkah keluar rumah, tanggung jawab tetap harus ditunaikan. Saya menyelesaikan pekerjaan dapur terlebih dahulu. Memasak dengan niat ibadah, memastikan keluarga tidak kekurangan. Setelah itu, saya beres-beres rumah, merapikan yang perlu dirapikan, menyapu sisa-sisa debu yang menempel, seolah membersihkan bukan hanya lantai, tetapi juga hati.

Setelah semuanya selesai, saya pun siap berangkat. Saya membonceng motor, duduk di belakang, menikmati perjalanan dengan penuh rasa syukur. Angin menyentuh wajah, mata memandang kanan dan kiri jalan raya. Pemandangan sederhana seperti pepohonan, warung kecil di pinggir jalan, orang-orang yang berlalu-lalang, semuanya tampak begitu bermakna. Dalam hati saya berpikir, betapa banyak nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang sering luput dari perhatian karena terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
Motor terus melaju hingga akhirnya kami tiba di tempat yang dicari, sebuah warung sederhana penjual es teler. Tidak mewah, tidak besar, namun terlihat ramai dan hidup.

Saya turun dari motor dan melangkah masuk. Pandangan saya langsung menyapu ruangan, mencari kursi kosong. Setelah menemukan tempat duduk, kami pun duduk berdampingan. Suasana warung terasa akrab, ada suara sendok beradu dengan gelas, suara penjual yang ramah melayani pembeli, dan tawa kecil pelanggan yang menikmati hidangan.
Sang anak segera memesan es teler dan beberapa menu lainnya. Saya memperhatikannya dengan senyum kecil. Ada kebahagiaan tersendiri melihat anak menikmati hal-hal sederhana. Sambil menunggu pesanan datang, kami berdua mulai membayangkan rasa nikmatnya es teler. Bayangan itu seperti doa kecil yang terucap dalam hati, berharap kesegaran dan kebahagiaan sederhana dari segelas minuman dingin.
Tidak menunggu lama, pesanan pun datang. Dua gelas es teler diletakkan di hadapan kami. Warnanya begitu menggoda mata. Campuran buah alpukat yang lembut, potongan kelapa muda yang segar, durian dengan aroma khasnya, susu yang menyatu dengan es batu, serta taburan biji selasih yang menambah keindahan tampilan. Segelas es teler itu bukan hanya cantik dipandang, tetapi juga terasa seperti hadiah kecil dari Allah Subhanahu Wata'alla di hari libur.

Sebelum menyentuhnya, saya mengaduk-aduk perlahan. Sendok berputar di dalam gelas, menyatukan semua isi yang ada. Bersamaan dengan gerakan itu, lisan saya tak henti mengucap syukur, “Alhamdulillah.” Syukur atas nikmat yang sederhana namun terasa begitu lengkap. Syukur atas kesehatan yang masih Allah Subhanahu Wata'alla beri, sehingga bisa menikmati makanan dan minuman. Syukur atas waktu luang yang jarang hadir. Syukur atas kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.
Setiap suapan, setiap tegukan, terasa lebih nikmat karena disertai rasa syukur. Dingin es batu menyegarkan tenggorokan, manis alpukat dan susu berpadu sempurna, sementara durian memberikan rasa khas yang menguatkan. Di sela menikmati es teler, hati saya kembali merenung.
Betapa sering manusia mengejar kebahagiaan yang jauh, padahal Allah telah menyiapkan kebahagiaan kecil di sekitar kita. Segelas es teler di warung sederhana pun bisa menjadi sumber bahagia jika hati mampu mensyukurinya.
Saya memandang sang anak yang menikmati es telernya dengan penuh semangat. Ada tawa kecil, ada cerita ringan, dan ada kebersamaan yang terasa hangat. Momen itu terasa begitu berharga. Saya sadar, kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk perjalanan jauh atau barang mahal. Terkadang ia hadir dalam bentuk ajakan sederhana, perjalanan singkat, dan segelas es teler yang dinikmati bersama orang tercinta.

Hari libur akhirnya menjadi lebih dari sekadar hari tanpa kerja. Ia menjadi hari penuh makna, hari belajar tentang syukur, tentang menikmati yang ada, dan tentang menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu menghadirkan nikmat-Nya dengan cara yang lembut. Dari dapur rumah, perjalanan motor, hingga warung es teler, semuanya tersambung dalam satu rangkaian rasa yaitu rasa cukup.

Saya pulang dengan hati yang ringan, jiwa yang terasa disirami ketenangan. Dalam diam saya berdoa, semoga Allah Subhanahu Wata'alla selalu mengajarkan saya untuk mensyukuri nikmat sekecil apa pun, karena dari situlah kebahagiaan sejati bermula.
Cepu, 18 Pebruari 2026 

Jumat, 16 Januari 2026

Lihat Delima Ingat Arab

 


Karya: Gutamining Saida

Buah delima merah adalah buah yang selalu membawa saya pada kenangan yang tak pernah pudar. Kenangan tentang rasa penasaran, tentang keberanian kecil dalam mengambil keputusan, dan tentang perjalanan batin yang perlahan menguatkan iman. Pertama kali saya melihat buah delima merah, ada getaran aneh di hati saya. Warnanya merah menyala, kulitnya keras namun mengilap, seolah menyimpan rahasia besar di dalamnya. Tanpa banyak berpikir tentang harga mahal atau murah, tangan ini spontan mengambilnya. Bukan karena gengsi, bukan pula karena ingin pamer, tetapi murni karena rasa ingin tahu yang Allah Subhanahu Wata'alla tanamkan di hati saya saat itu.

Tahun 2011 menjadi tahun yang istimewa. Tahun ketika akhirnya saya benar-benar menikmati buah delima merah. Maklum, saya hanyalah orang desa yang sejak kecil akrab dengan pisang, pepaya, singkong, dan buah-buahan lokal lainnya. Delima bagi saya bukan sekadar buah, tetapi sesuatu yang terasa jauh, asing, dan hanya sering disebut dalam cerita atau bacaan bernuansa Timur Tengah. Saat biji-biji merah itu masuk ke mulut, saya terdiam sejenak. Rasanya manis, segar, dan sama sekali tidak asam seperti yang saya bayangkan. Cocok di lidah saya. Sejak saat itu, delima bukan lagi buah asing, melainkan buah yang memiliki tempat khusus di hati.

Seiring waktu, saya semakin memahami bahwa delima bukan sekadar buah lezat. Dalam Islam, buah delima disebut sebagai salah satu buah surga. Setiap kali mengingatnya, hati saya terasa hangat. Ada rasa syukur yang mengalir pelan. Allah Subhanahu Wata'alla memperkenalkan saya pada delima bukan tanpa makna. Mungkin melalui hal sederhana seperti buah, Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajak saya merenung tentang nikmat-Nya yang begitu luas dan sering kali kita remehkan.

Kini, delima merah tidak lagi sulit ditemukan. Di penjual buah pinggir jalan pun saya sering menjumpainya. Setiap kali mata ini menangkap warna merahnya, pikiran saya langsung melayang jauh, menembus jarak dan waktu. Terbayang tanah Arab, tanah yang diberkahi, tanah para nabi, tanah tempat jutaan doa dipanjatkan setiap hari. Entah mengapa, delima selalu membawa saya pada kerinduan yang dalam akan Arab. Kerinduan yang tidak sekadar rindu tempat, tetapi rindu suasana, rindu ketenangan, rindu rasa dekat dengan Allah .

Di sana, di tanah suci, hati terasa begitu ringan. Pikiran tidak dipenuhi daftar pekerjaan, tidak disesaki urusan rumah tangga, dan tidak dibebani kekhawatiran duniawi. Saat itu, saya benar-benar merasakan makna hidup yang sesungguhnya. Tidak ada target dunia, tidak ada tuntutan selain satu: beribadah. Fokus ibadah. Salat, doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, semuanya mengalir begitu saja tanpa paksaan. Seakan jiwa ini kembali ke fitrahnya.

Di tanah Arab, saya belajar tentang ikhlas. Ikhlas meninggalkan sejenak urusan dunia, ikhlas melepas peran sebagai pekerja, sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai manusia yang biasanya sibuk mengejar ini dan itu. Di sana, saya hanyalah hamba. Hamba yang kecil, lemah, dan penuh dosa. Namun justru dalam posisi itulah saya merasa sangat dekat dengan Allah. Tidak ada beban yang terasa berat, karena semuanya saya serahkan kepada-Nya.

Setiap butir delima yang saya nikmati kini seperti menjadi pengingat lembut dari Allah Subhanahu Wata'alla. Pengingat bahwa dunia ini hanya persinggahan. Sebagaimana rasa manis delima yang tidak bertahan lama di lidah, demikian pula kenikmatan dunia yang cepat berlalu. Yang abadi hanyalah amal dan keikhlasan. Delima mengajarkan saya untuk tidak silau pada kulit luar. Kulitnya keras, tebal, dan tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan ratusan biji kecil yang manis dan menyehatkan. Bukankah itu seperti kehidupan seorang mukmin? Terlihat biasa, bahkan sederhana, namun di dalamnya penuh nilai kebaikan dan pahala jika dijalani dengan niat yang lurus.

Kerinduan saya pada Arab bukan sekadar rindu perjalanan fisik, tetapi rindu suasana batin. Rindu pada momen ketika hati begitu tenang, pikiran begitu jernih, dan jiwa begitu fokus menghadap Allah Subhanahu Wata'alla. Setiap kali kehidupan terasa berat, setiap kali masalah datang bertubi-tubi, ingatan tentang delima dan tanah suci menjadi penguat. Allah Subhanahu Wata'alla pernah memberi saya kesempatan merasakan ketenangan itu, dan saya yakin, jika Allah menghendaki, Dia akan memanggil saya kembali.

Buah delima merah akhirnya menjadi lebih dari sekadar buah. Ia adalah simbol. Simbol rasa syukur, simbol kerinduan, dan simbol pengingat bahwa tujuan hidup ini bukanlah sekadar bekerja, mengumpulkan harta, atau memenuhi keinginan dunia. Tujuan hidup adalah beribadah kepada Allah Subhanahu Wata'alla dengan sebaik-baiknya, di mana pun kita berada.

Semoga suatu hari nanti, ketika saya kembali menikmati delima merah, Allah Subhanahu Wata'alla juga kembali mengizinkan kaki ini menjejak tanah yang diberkahi. Tanah tempat doa-doa terasa begitu dekat dengan langit. Hingga saat itu tiba, biarlah delima menjadi pengingat bahwa surga itu nyata, janji Allah Subhanahu Wata'alla itu pasti, dan setiap kerinduan yang disertai doa tidak akan pernah sia-sia.

Cepu, 17 Januari 2026

Kamis, 15 Januari 2026

Pertemuan Singkat

 


Karya: Gutamining Saida

Kamis siang, langit tampak muram. Awan hitam bergantungan rendah, seolah ikut menunduk menyaksikan perjalanan hidup manusia. Rintik hujan turun perlahan, rimis-rimis kecil yang tidak deras namun cukup membasahi bumi. Dalam suasana seperti itulah saya melangkahkan kaki menuju rumah Bu Peni, sahabat sekaligus teman mengajar sewaktu di SMP Triji. Hati saya terasa berdebar, bukan karena cuaca, melainkan oleh rindu yang lama tersimpan dan harapan akan pertemuan yang telah lama saya niatkan.

Kedatangan saya benar-benar di luar dugaan Bu Peni. Wajahnya yang semula terkejut perlahan berubah menjadi penuh haru. Ia tidak menyangka, di siang yang sendu itu, Allah Subhanahu Wata'alla  mempertemukan kami kembali secara langsung. Bagi Bu Peni, pertemuan ini datang tiba-tiba. Bagi saya, pertemuan ini adalah rencana yang telah lama saya simpan dalam doa. Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wata'alla mengizinkan langkah saya sampai di rumahnya, membuka jalan silaturahmi yang sempat terputus oleh jarak, waktu, dan kesibukan masing-masing.

Begitu kami saling berhadapan, hujan rintik-rintik di luar rumah seolah menjadi gambaran hati kami berdua. Tanpa banyak kata, air mata mengalir begitu saja. Tangis itu tidak bisa dicegah, seakan seluruh rindu, lelah, dan kerinduan pada masa lalu tumpah dalam satu waktu. Kami berpelukan erat, meneteskan air mata bersama. Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena hati kami saling memahami. Sudah sekian lama kami terpisahkan oleh waktu dan kesibukan, oleh tuntutan kehidupan yang sering kali membuat manusia lupa untuk sekadar berhenti dan menyapa.

Dalam pelukan itu, saya merasakan betapa hangatnya kasih sayang yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan melalui persahabatan. Saya sungguh bahagia, karena Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan untuk berjumpa, melepas rindu, dan merasakan kembali ikatan yang pernah terjalin erat. Pertemuan ini mengingatkan saya bahwa silaturahmi bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan pertemuan hati yang disatukan oleh kehendak Allah Subhanahu Wata'alla .

Setelah air mata mereda, kami duduk berdampingan. Obrolan pun mengalir pelan namun dalam. Kami mengenang masa-masa mengajar bersama di SMP Triji, berbagi cerita tentang murid-murid, tentang perjuangan sebagai pendidik, dan tentang jalan hidup yang ternyata membawa kami ke arah yang berbeda. Dari cerita Bu Peni, saya mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga, khususnya tentang rezeki yang datang tanpa disangka-sangka dan tentang panggilan Allah Subhanahu Wata'alla kepada hamba-Nya.

Bu Peni bercerita bahwa rezeki tidak selalu berbentuk materi. Terkadang rezeki datang dalam wujud ketenangan hati, kesempatan bertemu orang baik, atau peristiwa yang membuka mata dan hati kita untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Ia meyakini bahwa setiap pertemuan, termasuk pertemuan kami siang ini, adalah bagian dari panggilan AllahSubhanahu Wata'alla. Allah Subhanahu Wata'alla memanggil hamba-Nya dengan cara yang lembut, melalui silaturahmi, melalui air mata, dan melalui percakapan yang menyejukkan jiwa.

Masya Allah, ilmu yang saya dapatkan hari ini terasa sangat mahal. Ilmu tersebut tidak bisa dibeli di pasar, tidak bisa ditukar dengan uang sebanyak apa pun. Ilmu itu adalah hikmah kehidupan, yang hanya bisa diperoleh melalui pengalaman, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah Subhanahu Wata'alla . Saya menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata'alla sering kali mengajarkan kita lewat orang-orang baik yang Dia pertemukan dalam hidup kita, tanpa kita duga sebelumnya.

Pertemuan dengan Bu Peni menjadi pengingat bagi saya bahwa Allah Maha Mengatur segalanya. Apa yang kita anggap kebetulan, sejatinya adalah rencana Allah Subhanahu Wata'alla yang sudah tertulis dengan rapi. Hujan rintik-rintik siang, air mata yang mengalir, dan pelukan penuh haru adalah bagian dari skenario Ilahi yang mengandung pesan mendalam. Allah Subhanahu Wata'alla ingin mengajarkan tentang syukur, tentang sabar, dan tentang pentingnya menjaga tali silaturahmi.

Saya bersyukur Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan orang-orang baik, agar saya bisa mengambil hikmah dan menjadikannya petunjuk dalam menjalani kehidupan selanjutnya. Semoga pertemuan ini menjadi amal kebaikan, memperpanjang silaturahmi, dan menjadi sebab turunnya keberkahan dalam hidup kami masing-masing.

Ya Allah, terima kasih atas pertemuan yang Engkau atur dengan indah. Jadikanlah setiap langkah kami bernilai ibadah, setiap silaturahmi mendatangkan rahmat, dan setiap air mata yang jatuh menjadi penghapus dosa serta penguat iman. Aamiin.

Cepu, 16 Januari 2026







Selasa, 13 Januari 2026

Esmega Bertaburan Bintang

Karya: Gutamining Saida

Hari Senin, tanggal 12 Januari 2026, menjadi pagi yang istimewa bagi keluarga besar Esmega. Mentari pagi bersinar lembut, seolah ikut menyambut langkah para siswa, guru, dan karyawan yang berbaris rapi di lapangan sekolah. Upacara bendera berjalan khidmat seperti biasa, penuh kedisiplinan dan rasa hormat kepada Sang Merah Putih. Pagi itu ada getar kebahagiaan yang berbeda, terselip di antara barisan dan tatapan mata para peserta upacara.

Setelah rangkaian upacara selesai, tibalah agenda yang dinanti yaitu penyerahan piala pemenang berbagai lomba. Satu per satu piala diangkat, diumumkan, dan diserahkan. Kilau logam piala memantulkan cahaya matahari, seakan menjadi simbol cahaya prestasi yang terus menyinari Esmega. Sekolah ini seolah tidak pernah kehabisan bintang. Hari demi hari, bintang-bintang itu terus menampakkan diri dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Prestasi Esmega tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah sendiri. Para siswa berani melangkah keluar dari zona nyaman, menantang diri untuk bersaing di tingkat yang lebih luas. Dari kecamatan, kabupaten, hingga provinsi, nama Esmega terus disebut. Setiap piala bukanlah hasil keberuntungan semata, melainkan buah dari kerja keras, latihan tanpa lelah, dan doa yang tak pernah putus dipanjatkan.

Perjuangan itu tentu tidak mudah. Ada keringat yang menetes, waktu bermain yang dikorbankan, rasa lelah yang harus ditahan, bahkan kegagalan yang sempat menyapa. Semua itu menjadi proses pembentukan karakter. Dalam nilai-nilai religius, setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik dan kesungguhan adalah ibadah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan jerih payah hamba-Nya.

Wajah-wajah bahagia tampak jelas. Para siswa tersenyum bangga, bukan karena piala semata, tetapi karena usaha mereka dihargai. Guru-guru tersenyum penuh haru, menyaksikan anak didiknya tumbuh dan berani bermimpi besar. Karyawan sekolah pun ikut merasakan kebanggaan, karena mereka adalah bagian dari roda kecil yang ikut menggerakkan keberhasilan besar ini. Semua menyatu dalam rasa syukur yang mendalam.

Upacara pagi itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari piala dan piagam, tetapi dari akhlak, kejujuran, dan semangat untuk terus berbuat baik.Prestasi yang diraih Esmega hari itu bukanlah garis akhir. Justru sebaliknya, ia adalah titik awal perjalanan panjang di tahun 2026. Upacara Senin ini menjadi langkah pembuka, penanda bahwa perjuangan harus terus dilanjutkan. Dalam setiap langkah ke depan, dibutuhkan kerendahan hati agar tidak terlena, serta keikhlasan agar prestasi tidak melahirkan kesombongan.

Esmega telah menunjukkan bahwa syukur itu diwujudkan dengan terus berusaha menjadi lebih baik, bukan berpuas diri. Setiap prestasi adalah amanah yang harus dijaga dengan sikap dan perilaku yang terpuji. Harapan pun menggema di hati setiap warga sekolah. Semoga Esmega semakin berkibar, tidak hanya dikenal karena prestasinya, tetapi juga karena karakter religius dan budaya positif yang melekat. Semoga para siswa tumbuh menjadi generasi yang cerdas, beriman, dan berakhlak mulia. Semoga para guru senantiasa diberi kekuatan dan keikhlasan dalam mendidik, karena mendidik adalah ladang amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Angin berhembus sejuk, seakan membawa doa dan harapan yang melangit. Di lapangan sederhana itu, Esmega kembali meneguhkan langkahnya. Dengan izin Allah, dengan kerja keras dan doa yang menyertai, Esmega akan terus bersinar. Bintang-bintangnya akan terus bertambah, dan cahayanya akan menerangi masa depan yang lebih gemilang.

Cepu, 13 Januari 2026

 

Palu Gada

 


Karya: Gutamining Saida

Halaman sekolah Esmega mulai ramai oleh langkah kaki bapak dan ibu guru yang datang silih berganti. Udara masih segar, sisa embun seolah menyapa dengan lembut. Ada yang datang dengan wajah cerah, ada pula yang datang sambil membawa tas besar berisi buku dan map, tanda tanggung jawab yang selalu dipanggul setiap hari. Sebagian besar dari mereka berangkat menunaikan tugas dengan satu kebiasaan sederhana namun bermakna yaitu membawa bekal sarapan dari rumah.

Bekal itu beragam. Ada nasi dengan lauk sederhana buatan tangan sendiri, ada sayur bening, tempe goreng, sambal seadanya, dan tak jarang pula hanya roti atau pisang godok. Bekal-bekal itu bukan sekadar makanan, tetapi wujud cinta, doa, dan keikhlasan dari rumah yang mengiringi langkah pengabdian. Dalam kesederhanaan itu tersimpan niat ibadah, sebab bekerja dengan niat yang benar adalah bagian dari amal saleh.

Tidak semua guru sempat membawa bekal. Ada kalanya pagi datang terlalu cepat, atau urusan rumah belum sepenuhnya selesai. Bagi mereka yang tidak membawa sarapan, kantin Bang Midid menjadi tempat tujuan. Kantin sederhana yang penuh kehangatan itu seakan tidak pernah sepi dari keberkahan.

Bang Midid, dengan senyum khasnya, selalu siap melayani. Pilihan yang tersedia di kantinnya bukan main-main diantaranya adalah jajanan gorengan, nasi sayur, nasi pecel, minuman dingin hingga panas. Teh, kopi, es, hingga minuman hangat yang menenangkan tenggorokan. Yang membuat banyak orang terkesan bukan hanya ragam pilihannya, tetapi sikapnya yang tulus dalam melayani.

Di suatu pagi, ada guru yang memesan minuman jahe panas minuman yang tidak biasa dijual. Bang Midid tidak menolak, tidak pula mengeluh. Dengan ringan ia berkata, “Nggih, Bu. Ditunggu sebentar.” Padahal stok jahe tidak ada. Ia pun pergi ke warung sebentar, membeli jahe terlebih dahulu, lalu kembali meraciknya dengan penuh kesungguhan. Tidak lama kemudian, minuman jahe panas itu sudah terhidang, diantar langsung sampai ke meja pemesan. Hangatnya bukan hanya terasa di lidah, tetapi juga di hati.

Pelayanan seperti itulah yang membuat Bang Midid berkali-kali keluar masuk ruang guru. Setiap kali datang membawa pesanan, selalu ada guru lain yang tergoda. Awalnya hanya melihat, lalu mencium aroma, kemudian tergerak untuk memesan. Tak berselang lama, Bang Midid kembali lagi dengan pesanan baru. Cepat, ramah, harganya murah, dan rasanya enak. Semua terasa pas, tanpa berlebihan.

Suatu hari, terdengarlah komentar spontan dari salah satu guru, “Wah, ini namanya Palu Gada.” Ucapan itu langsung disambut tawa ringan. Saya yang mendengar hanya terdiam, mengeja ulang dalam hati, “Palu Gada… Palu Gada…”. Rasa penasaran pun muncul. Apa sebenarnya maksudnya?

Saya mencoba menebak-nebak sendiri, tetapi tetap tidak menemukan jawaban yang pasti. Akhirnya saya mendekat ke Bu Wiwik, sosok yang dikenal penuh cerita. “Apa an itu, Bu Wiwik?” tanya saya singkat.

Bu Wiwik langsung menertawakan saya, tawa yang penuh kehangatan dan kekeluargaan. Lalu beliau menjelaskan bahwa Palu Gada adalah singkatan dari kalimat kreatif: “Apa mau lu, gue ada.” Sebuah istilah sederhana. Artinya, apa pun yang dibutuhkan pelanggan, sebisa mungkin disediakan. Mendengar penjelasan itu, saya tersenyum terasa pas di telinga.

Agama Islam mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Bang Midid mungkin tidak berdiri di mimbar, tidak menyampaikan ceramah, tetapi sikapnya adalah dakwah yang nyata. Kejujuran dalam berdagang, keikhlasan dalam melayani, kesungguhan dalam memenuhi kebutuhan orang lain semua itu adalah nilai-nilai agama yang hidup dalam keseharian. Ia bekerja bukan hanya mencari rezeki, tetapi juga menanam kebaikan.

Setiap saat Allah Subhanahu Wata'alla menambah perbendaharaan kata, istilah, ide, dan cerita. Semua itu menjadi pengingat bahwa hidup tidak pernah lepas dari pelajaran, asal kita mau membuka mata dan hati. Dari ruang guru, dari kantin sekolah, dari tawa ringan bersama rekan kerja semuanya bisa menjadi ladang amal dan sumber hikmah. Cerita ini saya abadikan bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk direnungkan. Bahwa di balik rutinitas, Allah Subhanahu Wata'alla selalu menyelipkan keberkahan. Aamiin.

Cepu, 13 Januari 2026

Senin, 12 Januari 2026

Kerupuk Klenteng

Karya : Gutamining Saida 
Bicara soal kerupuk, memang seolah tidak pernah ada ujungnya. Dari pagi hingga malam, dari hidangan sederhana sampai sajian istimewa, kerupuk selalu menemukan tempatnya sendiri di hati masyarakat. Kerupuk bukan sekadar pelengkap, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya makan orang Indonesia. Bunyi “kriuk” saat digigit seakan memberi isyarat bahwa sebuah hidangan telah mencapai kesempurnaannya. Tanpa kerupuk, nasi terasa kurang lengkap, rujak terasa sepi, lontong kurang ramai, bakso seperti kehilangan sahabat setianya. Bahkan tanpa apa-apa pun, kerupuk tetap enak dinikmati, menemani obrolan santai atau sekadar mengganjal lapar.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cerita dan kebanggaan tersendiri tentang kerupuk. Begitu pula Bojonegoro, sebuah kabupaten yang dikenal dengan kesederhanaan warganya, kekayaan budaya, dan kuliner khas yang sarat makna. Di antara sekian banyak makanan yang tumbuh dan berkembang, ada satu kerupuk legendaris yang namanya terus hidup lintas generasi yaitu Kerupuk Klenteng Rasa Asli. Kerupuk ini bukan kerupuk biasa. Ia menyimpan sejarah panjang, rasa khas, serta kisah ketekunan yang patut diteladani.

Kerupuk Klenteng Rasa Asli pertama kali diproduksi sejak tahun 1928. Pada masa itu, usaha ini dirintis oleh Tan Tjian Liem, seorang perajin kerupuk yang tekun dan telaten. Di tengah keterbatasan zaman, ketika teknologi belum semaju sekarang, proses pembuatan kerupuk dilakukan secara tradisional. Bahan-bahan dipilih dengan cermat, adonan diolah dengan tangan, dan proses pengeringan memanfaatkan sinar matahari. Semua dilakukan dengan penuh kesabaran dan rasa cinta terhadap pekerjaan. Dari sanalah lahir kerupuk dengan cita rasa yang kaya, gurih, dan berbeda dari kerupuk kebanyakan.

Nama “kerupuk klenteng” tidak muncul begitu saja. Lokasi produksinya yang berada di sebelah timur klenteng menjadikan masyarakat mudah mengenali dan menyebutnya. Lambat laun, sebutan itu melekat dan menjadi identitas. Bagi warga Bojonegoro, menyebut kerupuk klenteng berarti merujuk pada kerupuk rasa asli yang legendaris, yang sudah menemani perjalanan hidup banyak orang, dari masa kanak-kanak hingga usia senja.
Seiring berjalannya waktu, usaha ini mengalami pergantian generasi. 

Pada tahun 1978, Kerupuk Klenteng Rasa Asli diteruskan oleh Tan Lan Nio. Di tangan generasi penerus, kerupuk ini tetap mempertahankan cita rasa aslinya. Resep tidak banyak diubah, proses tetap dijaga, dan kualitas menjadi prioritas utama. Di tengah arus modernisasi dan persaingan industri makanan yang semakin ketat, keputusan untuk mempertahankan keaslian rasa ini bukanlah hal mudah. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.

Yang menarik, kerupuk ini tidak hanya terkenal karena rasanya, tetapi juga karena kemasannya. Pembelian kerupuk bisa dilakukan setengah kilogram atau satu kilogram. Bungkusnya pun berbeda dengan kerupuk pada umumnya. Jika kebanyakan kerupuk dibungkus plastik tipis dan polos, kerupuk klenteng justru dibungkus dengan plastik tebal menyerupai karung kecil. Bentuk ini memberi kesan khas, sederhana, namun kokoh. Seakan menyampaikan pesan bahwa isi di dalamnya adalah kerupuk yang “berisi” rasa dan sejarah.

Saat plastik dibuka, aroma kerupuk mentah yang khas langsung tercium. Setelah digoreng, kerupuk akan mengembang sempurna, renyah, dan menghadirkan rasa gurih yang tidak berlebihan. Rasanya kaya, tidak sekadar asin, tetapi memiliki kedalaman yang membuat orang ingin mengambil lagi dan lagi. Kerupuk ini cocok dimakan dengan nasi hangat, sambal, sayur lodeh, atau bahkan hanya sebagai teman minum teh di sore hari.

Walaupun kini banyak pabrik kerupuk bermunculan, dengan berbagai varian rasa, warna, dan bentuk, Kerupuk Klenteng Rasa Asli tetap bertahan. Ia tidak tergoda untuk mengikuti tren berlebihan. Tidak perlu pewarna mencolok atau rasa buatan yang kuat. Kerupuk ini percaya diri dengan jati dirinya. Justru di situlah kekuatannya: rasa yang konsisten dan kepercayaan pelanggan yang terjaga puluhan tahun.

Bagi para perantau asal Bojonegoro, kerupuk klenteng sering menjadi buah tangan wajib. Setiap pulang kampung, kerupuk ini dibawa sebagai oleh-oleh untuk keluarga, teman, atau tetangga. Bukan hanya membawa rasa, tetapi juga kenangan. Setiap gigitan seolah membawa kembali ingatan masa kecil, suasana dapur rumah, atau momen makan bersama keluarga besar.

Kerupuk Klenteng Rasa Asli bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah saksi sejarah, simbol ketekunan, dan bukti bahwa kualitas dan kejujuran dalam berkarya akan selalu menemukan jalannya sendiri.
Dari tahun 1928 hingga hari ini, kerupuk ini tetap berdiri, renyah dalam rasa, kuat dalam identitas, dan kaya dalam cerita. Di tengah perubahan zaman, ia mengajarkan bahwa menjaga warisan bukan berarti menolak kemajuan, melainkan merawat nilai agar tetap hidup dan bermakna.
Cepu, 12 Januari 2026

Minggu, 11 Januari 2026

Bojonegoro



Karya : Gutamining Saida 
Bojonegoro adalah kota kelahiran saya. Sebuah nama yang tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan, meski raga sudah lama berpindah tempat. Saya lahir di pelosok desa, jauh dari hiruk-pikuk kota kabupaten. Desa yang sunyi, jalan masih sederhana, dan kehidupan berjalan perlahan mengikuti irama alam. Ketika, pergi ke kota Bojonegoro bukan perkara sepele. Ada jarak, biaya, persiapan. Setiap perjalanan ke kota kabupaten memiliki makna tersendiri.

Ketika anak saya sekolah di Al Fatimah Bojonegoro, minimal satu kali pasti ke kota Bojonegoro. Terkadang lebih, jika ada kepentingan lain. Penyebabnya adalah mengurus administrasi sekolah, membeli perlengkapan, atau sekadar menemui sang buah hati. Perjalanan itu selalu saya nanti. Kota terasa megah di mata anak desa. Gedung-gedung, toko-toko, kendaraan yang lalu lalang, semuanya tampak luar biasa. Saya sering berpikir, betapa luasnya dunia di luar desa kecil saya.

Waktu terus berjalan tidak terasa, saya menikah. Takdir membawa saya berpindah tempat tinggal sekaligus sebagai tempat mengabdi. Kini saya menetap di Kabupaten Blora, tepatnya Kecamatan Cepu. Di sinilah saya menjalani hari-hari, mengajar, mengabdi, dan membangun cerita perjalanan hidup. Cepu menjadi rumah kedua, tempat saya belajar arti tanggung jawab, kesabaran, dan pengabdian.

Lalu bagaimana dengan Bojonegoro sekarang? Jawabannya sederhana,sekitar tiga tahun berlalu saya hampir tidak pernah ke Bojonegoro. Bukan karena lupa, bukan pula karena tidak cinta. Melainkan karena tidak ada kepentingan. Segala urusan bisa diselesaikan di tempat tinggal sekarang. Kadang muncul keinginan untuk sekadar berkunjung, bernostalgia, menghirup kembali udara kota kabupaten. Ketika saya bertanya pada diri sendiri, “Apa tujuan ke sana?” jawabannya kosong. Akhirnya niat itu pun menguap. Tidak ada tujuan, tidak ada motivasi.

Hingga Minggu pagi tanggal 11 Januari 2026, Allah Subhanahu Wata'alla seolah memanggil kembali ingatan saya. Hari ini saya meluncur ke Bojonegoro. Entah mengapa langkah terasa ringan, meski hati sedikit berdebar. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Saya ada kepentingan menemui ibu tercinta.

Sesampainya di Bojonegoro, saya terdiam. Banyak sekali perubahan. Jalan raya kini lebar, mulus dan rapi. Aspal hitam terbentang mulus, berbeda jauh dengan jalan sempit yang dulu sering saya lewati. Bangunan-bangunan berdiri megah, modern, dan tertata. Lalu lintas ramai, kendaraan datang silih berganti. Di pinggir jalan raya, taman-taman tertata indah, hijau, dan bersih. Kota ini hidup, bergerak, dan terus bertumbuh.

Dalam keheningan, saya merenung. Allah Maha Kuasa Tidak ada yang benar-benar tetap di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. Kota berubah, manusia berubah, bahkan perasaan pun berubah. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa dunia adalah tempat ujian, bukan tempat menetap. Apa yang hari ini megah, esok bisa saja pudar. Apa yang hari ini sederhana, kelak bisa menjadi luar biasa.

Saya sadar, selama ini terlalu sibuk dengan rutinitas di tempat pengabdian, hingga lupa menengok ibu tercinta. Islam mengajarkan pentingnya mengingat dan menghormati serta berbakti orang tua, dan bersyukur atas perjalanan hidup. Bukan untuk terikat pada masa lalu, tetapi untuk mengambil hikmah darinya.

Jika kota bisa berkembang, mengapa diri saya tidak? Jika jalan-jalan diperbaiki agar lebih nyaman, mengapa jalan hati tidak dibersihkan dari iri, sombong, dan lalai? Jika taman-taman dirawat agar indah, mengapa iman tidak dirawat agar tetap hidup?

Perjalanan singkat ke Bojonegoro hari ini mengajarkan saya tentang tujuan. Ternyata, tidak semua perjalanan harus diawali kepentingan duniawi. Ada perjalanan yang Allah rancang hanya untuk mengingatkan. Mengingatkan bahwa kita berasal dari orang tua, sudah sejauh kita berbakti, sejauh apa melangkah, dan ke mana seharusnya kembali.

Saya bersyukur pernah lahir di pelosok desa. Dari sanalah saya belajar kesederhanaan. Saya bersyukur pernah mengenal Bojonegoro di masa lalu, agar saya bisa menghargai Bojonegoro hari ini. Saya bersyukur kini mengabdi di Cepu, karena di sanalah Allah menitipkan amanah .

Semua tempat hanyalah persinggahan. Desa, kota, kabupaten, semuanya akan kita tinggalkan. Yang akan kita bawa pulang kepada Allah hanyalah amal dan niat. Semoga setiap langkah, termasuk langkah  ke kota Bojonegoro, menjadi jalan kebaikan, syukur dan jalan dzikir. Karena sejauh apa pun kita pergi, sejatinya kita sedang berjalan menuju Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kesehatan semakin baik.
Cepu, 11 Januari 2026

Foto Kenangan



Karya: Gutamining Saida

Zaman sekarang, hampir semua hal ingin diabadikan. Makanan baru datang ke meja, belum sempat disantap, sudah lebih dulu difoto. Minuman disajikan cantik, tangan reflek mengangkat gawai. Apalagi orangnya dari gaya paling sederhana sampai pose paling bergaya, dari wajah polos bangun tidur hingga riasan lengkap, semuanya layak masuk galeri. Di rumah, teras, sekolah, tempat wisata, bahkan di jalanan pun tak luput dari bidikan kamera. Cucu-cucu saya yang masih kecil pun sudah pandai bergaya. Senyum mereka seolah otomatis muncul begitu melihat kamera. Kadang saya tersenyum sendiri, kadang terdiam, tenggelam dalam kenangan masa lalu yang jauh berbeda.

Saya berasal dari zaman ketika foto bukanlah hal yang mudah. Alat potret masih jarang dimiliki orang. Kamera bukan benda biasa di rumah, melainkan barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang berada. Jika ingin memiliki foto kenangan, kami harus pergi ke studio foto yang letaknya di kota. Jaraknya tidak dekat, ongkosnya tidak murah, dan persiapannya pun tidak sederhana. Berfoto bukan perkara iseng atau spontan, melainkan sebuah peristiwa yang direncanakan.

Saya masih ingat betul, sebelum ke studio foto, ibu akan menyiapkan pakaian terbaik. Biasanya baju baru yang dibeli setahun sekali, menjelang hari raya. Baju itu disimpan rapi, bahkan kadang tidak boleh dipakai sebelum hari yang ditentukan. Ketika akhirnya dikenakan untuk foto, rasanya istimewa sekali. Hati berdebar, tangan dingin, dan senyum terasa kaku. Di studio, fotografer akan mengatur posisi, menyuruh kami diam, menatap lurus, dan tidak banyak bergerak. Sekali jepret, selesai. Tidak ada istilah mengulang berkali-kali. Tidak ada memilih foto terbaik. Yang ada hanyalah pasrah dan doa agar hasilnya bagus.

Setelah itu, kami harus menunggu. Seminggu, kadang lebih. Menunggu dengan harap-harap cemas. Saat foto akhirnya diambil, rasanya seperti menerima hadiah besar. Foto itu kemudian disimpan rapi, dimasukkan ke album, atau dipajang di ruang tamu. Foto menjadi saksi waktu, bukan sekadar koleksi, melainkan kenangan yang dijaga.

Kini, semuanya berubah. Foto bisa diambil kapan saja, dihapus kapan saja, dan disimpan ribuan jumlahnya. Kadang saya bertanya dalam hati, apakah kenangan masih punya makna yang sama? Ataukah ia justru menjadi sesuatu yang mudah dilupakan karena terlalu banyak?

Sebagai orang yang semakin menua, saya melihat perubahan ini dari sudut pandang iman. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa setiap nikmat adalah amanah. Waktu, penglihatan, usia, bahkan momen-momen kecil dalam hidup, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan. Maka saya merenung, di tengah mudahnya memotret dan memamerkan, apakah kita masih menyadari kehadiran Allah Subhanahu Wata'alladalam setiap momen?

Saya tidak menolak kemajuan. Saya bersyukur atas teknologi yang memudahkan. Dengan foto, kita bisa menyimpan wajah orang-orang tercinta, mengenang mereka yang telah tiada, dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga jauh. Saya juga belajar untuk mengingatkan diri sendiri dan cucu-cucuku bahwa hidup bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi untuk dijalani dengan penuh kesadaran.

Ada kalanya saya melihat cucu-cucu sibuk bergaya. Saya ceritakan bagaimana dulu satu foto bisa menjadi kenangan seumur hidup. Saya ajarkan mereka mengucap hamdalah sebelum makan, bukan hanya memotret makanannya. Saya ajarkan mereka bahwa senyum yang tulus kepada sesama lebih indah daripada senyum yang dibuat demi kamera. Saya ingin mereka tumbuh sebagai generasi yang bukan hanya pandai bergaya, tetapi juga pandai bersyukur.

Dalam doa-doa malam saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'allaagar kami tidak lalai. Agar mata yang sering memandang layar tetap basah oleh dzikir. Agar tangan yang sibuk memegang gawai tetap ringan untuk bersedekah. Agar setiap foto yang diambil tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa semua keindahan berasal dari-Nya.

Zaman boleh berubah, alat boleh canggih, gaya hidup boleh bergeser. Namun nilai iman seharusnya tetap menjadi penuntun. Foto hanyalah sarana, bukan tujuan. Kenangan sejati bukan hanya yang tersimpan di galeri ponsel, tetapi yang terukir di hati tentang kesederhanaan, kesabaran, dan rasa syukur.

Saya bersyukur pernah hidup di dua zaman yaitu zaman serba terbatas dan zaman serba mudah. Dari keduanya, saya belajar satu hal penting bahwa yang paling berharga bukan seberapa banyak momen yang kita abadikan, tetapi seberapa banyak momen yang kita isi dengan kebaikan dan keikhlasan. Karena kelak, bukan foto-foto itulah yang akan ditanya, melainkan amal perbuatan kita di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui.

Cepu, 11 Januari 2026