gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Minggu, 24 Mei 2026
Sapaan pak Gun
Rabu, 20 Mei 2026
Dua Foto
Karya : Gutamining Saida
Siang suasana matahari memancarkan cahaya hangatnya menyentuh dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin. Di tengah kesibukan masing-masing, sebuah notifikasi muncul dari grup WhatsApp "muda swimming". Nama Pak Gun tampak muncul di layar. Sosok pelatih renang yang selama ini dikenal bukan hanya mengajarkan gerakan tubuh di air. Beliau sering menyisipkan pengetahuan renang, nasihat kehidupan.
Tanpa banyak tulisan panjang, beliau langsung mengirim dua foto. Foto pertama memperlihatkan posisi tubuh terlentang di atas air. Wajah menghadap ke langit, badan mengapung dengan tenang mengikuti gerakan air kolam. Air tampak begitu damai, seolah mengajarkan bahwa manusia kadang perlu berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menenangkan hati.
Di bawah foto itu, Pak Gun menuliskan komentar singkat tentang keseimbangan hati, perasaan, dan pikiran. Kalimat sederhana, tetapi mampu membuat banyak anggota grup diam merenung. Posisi terlentang dengan pandangan ke atas ternyata bukan hanya soal teknik berenang. Ada makna yang lebih dalam. Saat wajah menatap langit, manusia seakan diingatkan untuk melihat kebesaran Allah. Langit luas tanpa tiang, awan berjalan teratur, cahaya matahari datang tepat waktunya. Semua bergerak atas kuasa Sang Pencipta.
Dalam kehidupan, hati manusia sering tidak seimbang. Kadang pikiran terlalu penuh dengan urusan dunia. Perasaan dipenuhi kecewa, marah, takut, atau iri. Akibatnya hidup terasa berat. Padahal, seperti tubuh yang harus seimbang agar bisa mengapung di air, hati manusia juga perlu keseimbangan agar tidak tenggelam dalam masalah kehidupan.
Renang ternyata bukan sekadar olahraga fisik. Air mengajarkan ketenangan. Tubuh yang terlalu tegang justru sulit mengapung. Semakin panik, tubuh semakin mudah tenggelam. Begitu pula hidup manusia. Ketika hati terlalu dipenuhi kecemasan, semuanya terasa gelap. Saat manusia berserah diri kepada Allah, hati menjadi lebih ringan seperti tubuh yang mengapung di permukaan air.
Foto kedua pun tak kalah menarik. Posisi tubuh menghadap ke bawah. Kepala masuk ke air dengan tenang. Pak Gun memberi komentar bahwa keadaan seperti itu membuat hati damai dan tidak membutuhkan obat penenang.
Kalimat itu langsung memancing balasan dari Bu Hermin. Dengan gaya bercanda beliau menulis bahwa kalau minum obat penenang malah bisa ketiduran di kolam, paaak. Grup WhatsApp pun terasa hangat. Candaan sederhana itu membuat suasana hidup. Pak Gun membalas dengan emoji tersenyum disertai tulisan, “he he nggih.”
Meski terlihat sederhana dan lucu, percakapan itu sebenarnya menyimpan hikmah yang mendalam. Banyak manusia hari ini mencari ketenangan dengan berbagai cara. Ada yang mencari hiburan berlebihan, ada yang sibuk mengejar kesenangan dunia, bahkan ada yang bergantung pada obat penenang karena hati terlalu lelah menghadapi tekanan hidup. Padahal ketenangan sejati tidak selalu datang dari obat. Ketenangan paling dalam lahir dari hati yang dekat kepada Allah.
Saat tubuh berada di dalam air, suara dunia terasa samar. Gerakan menjadi pelan. Nafas diatur dengan hati-hati. Semua itu seperti latihan untuk belajar hening. Dalam keheningan itulah manusia sering lebih mudah mendengar suara hati sendiri.
Air juga mengingatkan manusia tentang asal kehidupan. Allah menciptakan segala sesuatu dari air. Air menjadi sumber kehidupan bagi tumbuhan, hewan, dan manusia. Ketika seseorang berada di dalam air dengan penuh kesadaran, sebenarnya ia sedang belajar tentang kelembutan ciptaan Allah.
Pak Gun mungkin hanya mengirim dua foto sederhana. Bagi kita yang mau berpikir, dua foto itu seperti pelajaran kehidupan. Posisi terlentang mengajarkan tawakal. Pandangan ke atas mengingatkan manusia agar tidak lupa berdoa dan berharap hanya kepada Allah. Sedangkan posisi menghadap ke bawah mengajarkan ketenangan dan kerendahan hati. Manusia diingatkan bahwa sehebat apa pun dirinya, tetaplah makhluk kecil di hadapan Sang Pencipta.
Kadang Allah menghadirkan pelajaran hidup bukan melalui ceramah panjang di mimbar, tetapi lewat percakapan ringan di grup WhatsApp, lewat olahraga, lewat canda sederhana, bahkan lewat gerakan tubuh di kolam renang. Orang yang hatinya peka akan mampu mengambil hikmah dari mana saja.
Belajar tenang di air ternyata bisa menjadi latihan tenang dalam menghadapi kehidupan. Ketika tubuh rileks di kolam, hati pun perlahan belajar ikhlas. Ketika nafas diatur dengan baik, pikiran menjadi lebih jernih. Ketika wajah menatap langit saat mengapung, manusia diingatkan bahwa pertolongan Allah selalu ada di atas sana.
Renang bukan hanya tentang menggerakkan tangan dan kaki. Ada latihan kesabaran, keberanian, keseimbangan, dan ketenangan jiwa. Bercanda pun bisa menjadi ibadah jika menghadirkan kebahagiaan tanpa menyakiti orang lain. Candaan Bu Hermin dan balasan santai Pak Gun membuat grup terasa hangat penuh persaudaraan.
Begitulah indahnya kebersamaan dalam jalan kebaikan. Saling mengingatkan tanpa menggurui, saling menyemangati tanpa merendahkan. Dari kolam renang, mereka bukan hanya belajar sehat jasmani, tetapi juga belajar menyehatkan hati.
Dua foto sederhana berubah menjadi nasihat kehidupan. Air kolam seakan menjadi cermin bagi hati manusia. Bahwa hidup perlu keseimbangan, perlu ketenangan, dan yang paling penting perlu kedekatan dengan Allah agar jiwa tidak mudah tenggelam oleh gelombang dunia.
Cepu, 21 Mei 2026
Kamis, 14 Mei 2026
Jalan-jalan pagi
Karya : Gutamining Saida
Jumat pagi menyapa dengan kehangatan. Libur nasional seolah menjadi peluit panjang. Waktu yang menandakan saat istirahat telah tiba. Angin segar pagi membisikkan undangan, rasa sayang bila terlewatkan. Ajakan untuk keluar rumah, menggerakkan badan, dan menghirup oksigen bersih. Harapan menggebu-gebu, membayangkan ritme langkah kaki santai yang akan memecah keheningan pagi. Rencana awal mengajak sang anak tercinta. Apa daya, rasa malas dia kambuh dengan sukses. Dia menyisakan gelengan kepala. Dia menolak halus yang seketika membuat rencana saya sedikit goyah.
Di titik inilah, pertempuran batin mulai berkecamuk. Ada sebersit keraguan yang menyergap dada. Berjalan sendirian menyusuri rute jalanan kadang terasa aneh. Rasa minder tiba-tiba muncul bagai kabut tipis. Saya membayangkan orang yang berpapasan dan bertanya-tanya. Saya berjalan tanpa kawan di hari libur. Ego dan keinginan untuk sehat segera berontak keras. Pagi terlalu indah untuk dilewatkan hanya dengan rebahan di rumah. Tekad pun dibulatkan. Membangun kepercayaan diri memang bukan hal yang mudah. Ia harus dimulai dari satu langkah dengan keberanian. Saya sambil mengikat tali sepatu dengan mantap. Saya meyakinkan diri sendiri.
Hati ini berusaha tegar berangkat sendiri. Jemari rupanya memiliki kehendak lain. Naluri untuk berbagi momen tetap meronta. Sambil merapikan pakaian, kuambil gawai dan mulai membuka aplikasi whatshap. Satu demi satu, nama-nama saya berikan sapaan. Mengirimkan pesan berisi ajakan spontan. Menit demi menit berlalu, layar ponsel tak kunjung memunculkan balasan. Menunggu jawaban di era digital kadang memang menguji kesabaran. Ada pesan yang hanya terkirim dengan centang satu, ada yang centang dua namun tak kunjung berubah biru. Semangat saya sama sekali tak surut. Kaki terus melangkah mendekati pintu rumah. Saya bersiap menembus pagi.
Sebuah nada dering singkat memecah kesunyian. Layar ponsel menyala, menampilkan pesan balasan. Ternyata dari Bu Wiwik. Tanpa membuang waktu satu detik pun, jemariku langsung menari lincah membalas pesannya.
"Ayo jalan-jalan di Nglajo!" chats saya cepat.
Tak berselang lama, Bu Wiwik membalas dengan sebuah pertanyaan.
"Njenengan dengan Mbak Faiz?"
"Tidak..., sendirian. Saya cari teman nih ceritanya," balas saya jujur.
"Saya mau bersihkan gudang, Bu," tulisnya.
"Ooh, ya sudah," balas saya singkat.
Seolah semesta sedang senang menulis skenario kejutan, tak sampai beberapa menit berselang, ponsel ini kembali bergetar. Nama Bu Wiwik kembali muncul di layar. Kali ini, pesannya membawa angin segar.
"Jalan-jalan di embung ya, nanti saya temani," tulisnya.
"Ya , saya berangkat sekarang," balas saya dengan semangat
"Motor taruh di rumah saya aja," tambahnya lagi.
"Ya," jawab saya mengakhiri percakapan.
Di luar dugaan, ternyata rentetan kejutan pagi ini belum benar-benar usai. Melalui obrolan chat lanjutan. Bu Wiwik sedang mengajak Bu Isna untuk ikut bergabung. Saya awalnya bersiap sendirian menepis rasa sepi. Kini rombongan menjadi sebuah trio (Saida, Wiwik, Isna). Trio melangkah putar embung untuk ikhtiar sehat.
Cepu, 15 Mei 2026
Sabtu, 09 Mei 2026
Panggung Uji Nyali
Karya: Gutamining Saida
Setiap kali kaki ini melangkah masuk area kolam renang, ada semacam energi baru yang meresap ke dalam dada. Air yang tenang seolah menawarkan lembaran pelajaran baru yang siap untuk dituliskan dalam catatan perjalanan hidup. Usia rasanya hanyalah deretan angka ketika semangat untuk menaklukkan ketakutan dan belajar hal baru terus menyala terang. Di sinilah, bersama rekan-rekan yang tergabung dalam semangat kebersamaan, rasa gentar terhadap air perlahan luntur, berganti dengan semangat yang tak pernah padam.
Suasana di sekitar kolam selalu menyimpan kesegaran. Permukaan air bagaikan panggung tempat kami menguji nyali. Para siswa penuh semangat, sang pelatih yang berdedikasi tinggi, semuanya larut dalam harmoni proses belajar yang tak kenal lelah.
Sosok yang kami hormati dan senantiasa kami sapa dengan panggilan yang terdiri dari enam huruf yaitu "PAK GUN". Beliau bukan sekadar pelatih, melainkan seorang pembimbing, motivator kami.
Kami mulai konsentrasi. Suara gemercik air beradu dengan dinding kolam menjadi musik latar yang mengiringi instruksi Pak Gun.
"Silakan semuanya berdiri berjajar di pinggir kolam, rapatkan barisan!" serunya dengan suara lantang yang memecah riuhnya suasana.
Kami segera mengatur posisi membentuk satu garis lurus yang rapi, berdiri di dalam air sambil menghadap lurus ke arah beliau. Tubuh kami yang separuhnya sudah terendam air merasakan sensasi dingin yang menyegarkan. Instruksi selanjutnya terdengar sederhana, sebuah teknik dasar yang esensial.
"Semua menenggelamkan tubuh perlahan ke dalam air," instruksi Pak Gun memecah keheningan sesaat, "kemudian, saat muncul kembali ke permukaan, ucapkan hitungan dengan suara yang jelas!" Namun, ada satu syarat khusus ya.
"Saat muncul di permukaan, pastikan mata kalian tetap terbuka! Ingat, telapak tangan tidak boleh digunakan untuk mengusap air yang menempel di wajah. Biarkan air itu turun dengan sendirinya!" ucap pak Gun.
Sebuah ilmu yang secara teori terdengar sangat sederhana. Hanya menenggelamkan diri, lalu muncul sambil membuka mata dan menghitung. Kenyataan di lapangan sungguh berbeda. Refleks manusiawi, segera memejamkan mata rapat-rapat saat air menyentuh wajah, dan tangan secara otomatis akan bergerak mengusap mata setelah kepala menembus permukaan.
Satu... Dua... Tiga... Suara hitungan terdengar bersahutan saat kepala-kepala mulai bermunculan dari air. Pemandangan yang tercipta mengundang senyum. Ada saja yang belum sesuai instruksi. Beberapa tangan tanpa sadar langsung bergerak cepat mengusap wajah yang basah kuyup. Beberapa yang lain muncul ke permukaan dengan mata yang masih terpejam rapat, menahan rasa tidak nyaman atau sekadar menuruti insting. Pak Gun mengamati setiap gerakan kami dengan saksama, tersenyum kecil melihat tingkah polah siswanya yang tengah berjuang melawan refleks alami.
Melihat banyaknya gerakan yang belum sempurna, Pak Gun tiba-tiba menghentikan latihan sejenak. Suasana menjadi hening, hanya tersisa suara napas kami yang sedikit terengah dan bunyi kepakan air yang perlahan mereda.
"Ibu-ibu..." panggil beliau
"Ada yang tahu apa sebenarnya fungsi dari alis dan bulu mata kita?"
Pak Gun mulai memberikan penjelasan. Beliau menjabarkan bahwa Allah SSubhanahu Wata'alla menciptakan alis dan bulu mata, ada manfaat dan fungsinya . Dari sudut pandang agama, tidak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia. Alis diciptakan melengkung di atas pelipis bertugas bagaikan talang alami, menahan tetesan keringat atau guyuran air dari dahi agar tidak langsung mengalir deras menembus mata. Begitu pula dengan bulu mata, yang difungsikan layaknya tirai pelindung dari air dan debu. Memastikan mata tetap bisa berkedip dan melihat dengan jelas.
"Itulah mengapa ibu-ibu tidak perlu panik dan buru-buru mengusap wajah," tambah Pak Gun "Percayakan pada desain sempurna yang telah Allah Subhanahu Wata'alla berikan pada raga kita. Bersyukurlah atas keberadaan alis dan bulu mata.
Pak Gun kembali menyuruh kami mengulang gerakan tersebut berulang kali. Ajaibnya, kali ini perbedaannya sangat terasa. Saat tubuh kembali ditenggelamkan dan memecah permukaan air untuk bangkit, tangan-tangan ini menjadi jauh lebih tenang dan bisa ditahan untuk tidak menyentuh wajah. Mata kami berusaha keras untuk menatap lurus ke depan dengan kelopak yang terbuka, membiarkan butiran air mengalir secara alami mengikuti jalur yang telah diciptakan Sang Maha Kuasa melewati rintangan alis dan bulu mata. Hitungan demi hitungan diteriakkan dengan lebih lantang, lebih lepas, dan penuh keyakinan.
Kisah-kisah di kolam tidak akan kami biarkan menguap begitu saja, akan rangkai dan abadikan sebagai jejak langkah yang kelak bisa dibaca, dinikmati, dan direnungkan oleh anak, saudara, hingga cucu di masa depan. Sebuah warisan cerita tentang keberanian, rasa syukur, dan semangat belajar yang tak pernah mengenal kata usai. Aamiin
Cepu, 9 Mei 2026
Angkuk-angkuk en
Siswa Tertua
Karya : Gutamining Saida
Sinar matahari memantul di permukaan air yang beriak tenang. Di antara riuh rendah suara cipratan air dan canda tawa para siswa. Ada sebuah pemandangan yang selalu berhasil membuat hati saya menghangat. Di sanalah ibu saya berada, seorang wanita tangguh yang kini telah menginjak usia 75 tahun. Garis-garis halus di wajahnya adalah peta perjalanan hidup yang panjang, binar matanya menceritakan hal yang berbeda yaitu semangat menolak untuk menua.
Di kelas terapi air, ibu saya menyandang predikat sebagai siswa paling senior, dipandang dari usia di antara yang lainnya. Hal itu tidak sedikit pun menyurutkan langkahnya. Beliau memiliki tekad yang kuat, sebuah ikhtiar sehat dengan menceburkan diri ke kolam. Tujuannya sederhana untuk merawat kebugaran tubuh, memperpanjang usia yang barokah, dan yang terpenting, untuk menemukan kebahagiaan di setiap hela napasnya. Bagi ibu, air sebagai terapi yang menyegarkan raga dan menenangkan jiwa.
Sesi pertemuan sore dimulai, di area yang paling membuat ibu merasa aman dan nyaman, yakni kolam anak-anak. Airnya yang dangkal, hanya sebatas paha orang dewasa, memberikan rasa aman bagi siapa saja yang baru beradaptasi. Ibu melakukan gerakan-gerakan pemanasan ringan. Mengayunkan tangan, memutar bahu, dan melangkah perlahan membelah air. Senyum sesekali mengembang di bibirnya ketika ia berhasil menyeimbangkan diri. Bagi orang lain, mungkin itu hanya gerakan sederhana, tetapi bagi seorang lansia berusia 75 tahun, itu adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan.
Waktu berlalu, tubuh sudah cukup beradaptasi dengan suhu air. Pemanasan di kolam anak-anak dirasa sudah cukup. Saat itulah, sang pelatih yang mendampingi kami, berjalan menghampiri dengan senyum ramahnya. Beliau adalah sosok pelatih yang sabar dan sangat memahami psikologis para siswanya, terutama para lansia.
"Monggo, pindah sana, Yang-ti," ucap Pak Gun dengan nada suara yang lembut namun penuh dorongan. Ia menunjuk ke arah kolam dewasa yang membentang di sisi lain, dengan air kebiruan yang tampak lebih tenang namun menyembunyikan kedalaman yang berbeda.
Mendengar ajakan itu, raut wajah ibu seketika berubah. Senyumnya tertahan, digantikan oleh sorot mata yang menyiratkan keraguan dan kecemasan. Bagi seseorang yang tidak terbiasa, kedalaman air adalah sebuah ketakutan yang sangat nyata. Imajinasi tentang kaki yang tidak menjejak dasar kolam cukup untuk membuat nyali ciut.
"Di sini saja, Pak," jawab ibu saya dengan cepat. Tangannya secara refleks memegang pinggiran kolam anak-anak. Suaranya terdengar sedikit bergetar. "Takuuuut di sana, lebih dalam."
Pak Gun terkekeh pelan, tawa yang menenangkan dan tidak menghakimi. Beliau sangat mengerti bahwa ketakutan itu wajar. "Tidak apa-apa, Yang-ti. Tidak akan kelelep, Yang-ti," bujuk Pak Gun dengan nada meyakinkan, memberikan garansi keamanan bahwa semuanya akan berada di bawah kendalinya.
Melihat ibu yang masih ragu-ragu mematung di tempat, saya pun mengambil inisiatif. Saya berjalan mendekat, menyusulnya ke pinggir kolam. Saya pegang tangan kiri ibu. Sentuhan itu adalah bentuk transfer keberanian, sebuah pesan tanpa kata bahwa ia tidak sendirian.
"Ayo Bu, pelan-pelan saja," bisik saya.
Dengan tangan kiri yang terus saya genggam erat, kami berdua melangkah meninggalkan kolam anak-anak menuju area kolam dewasa. Setibanya di bibir kolam yang baru, ibu menatap tangga besi yang menjorok ke dalam air. Satu per satu, dengan sangat hati-hati, ibu mulai menuruni tangga tersebut. Kakinya meraba dasar kolam pada setiap pijakan. Semakin turun, air terasa semakin naik menyelimuti tubuhnya, dari pinggang, perut, hingga sebatas dada.
"Coba jalan-jalan dulu di sekitar sini, Yang-ti. Rasakan airnya," instruksi Pak Gun yang sudah bersiap di dalam air, menjaga jarak aman di dekat kami.
Ibu mulai melangkahkan kakinya perlahan. Air di kolam dewasa memberikan daya apung yang berbeda. Awalnya langkahnya kaku, namun perlahan-lahan ritmenya mulai terbentuk. Ketenangan mulai menggantikan ketegangan di wajahnya.
"Gimana, masih takut Yang-ti?" tanya Pak Gun memecah konsentrasi ibu, mencoba mengevaluasi kondisi psikologis murid tertuanya itu.
Ibu menoleh ke arah Pak Gun, kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Senyum kecil, senyum kemenangan atas ketakutannya sendiri, mulai terukir di wajahnya yang basah oleh air. Kata 'tidak' terwakili dengan sempurna oleh gelengan kepala tersebut. Kekhawatiran akan 'kelelep' perlahan sirna seiring dengan keyakinannya bahwa kakinya masih menjejak kuat dan ada tangan-tangan yang siap menjaganya.
"Bagus. Kalau sudah tidak takut, sambil latihan napas, nggih," lanjut Pak Gun memberikan instruksi berikutnya. Beliau mengajarkan cara mengambil udara dari mulut dan membuangnya perlahan di dalam air. Ibu mengikuti dengan saksama. Wajahnya menunduk ke permukaan air, meniupkan gelembung-gelembung kecil, lalu mengangkat wajahnya kembali untuk meraup oksigen. Ibu tampak begitu bersemangat, aura kesehatannya memancar menembus batasan usianya.
Waktu latihan akhirnya usai. Sebelum kami benar-benar mengakhiri sesi dan naik ke tepian untuk pulang, Pak Gun meminta seluruh peserta untuk berkumpul sejenak. Beliau menginstruksikan kami untuk membentuk sebuah formasi saling berpegangan tangan dalam bentuk melingkar di tengah kolam.
Tangan ibu menggenggam tangan teman-teman seperjuangannya. Di tengah lingkaran itu, terjalin sebuah ikatan solidaritas yang tak terlihat. Pak Gun kemudian mengambil perangkat kameranya dan mengabadikan momen kebersamaan tersebut. Jepretan kamera dan rekaman video singkat itu merekam senyum-senyum sumringah para siswa, dengan ibu.
Momen tersebut diabadikan bukan tanpa alasan. Dokumentasi itu memiliki tujuan yang sangat penting. Ke depannya, saat sedang bersantai di rumah, video dan foto itu bisa dilihat kembali. Dari sanalah, ibu dan peserta lainnya bisa melihat rekam jejak perjuangan di kolam. Mereka bisa melihat secara visual kemajuan yang telah dicapai hari demi hari.
Sebuah pepatah kembali terngiang yaitu "Bisa karena biasa." Pepatah itulah yang selama ini sering dipakai sebagai motivasi utama. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai, tidak ada kata terlalu tua untuk belajar, dan bahwa setiap langkah kecil yang diulang secara konsisten akan membuahkan hasil yang luar biasa. Ibu saya, di usianya yang ke-75, telah membuktikan bahwa kebiasaan melawan rasa takut dan kebiasaan berikhtiar adalah kunci menuju hidup yang sehat dan bahagia. Aamiin.
Cepu, 9 Mei 2026
Jumat, 08 Mei 2026
Berdoalah
Karya: Gutamining Saida
Bu Emy, yang kini tengah berada di tanah yang paling dirindukan oleh setiap jiwa yang bersyahadat. Tanah suci Mekkah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, saya menjawab panggilan tersebut.
“Assalamualaikum,” sapa Emy.
“Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh,” balas saya dengan suara sedikit tertahan di tenggorokan.
Layar handphone seketika berubah. Bukan lagi wajah bu Emy yang memenuhi layar, melainkan sebuah pemandangan yang menggetarkan seluruh hati. Di sana, bangunan suci Ka'bah. Bangunan berbentuk kubus yang diselimuti Kiswah hitam pekat, dihiasi kaligrafi emas. Saya tertegun, mulut terkunci. Mata ini terpaku pada layar kecil berukuran beberapa inci itu, jiwa ini seolah tersedot ribuan kilometer melintasi benua dan samudra, langsung menuju pelataran Masjidil Haram.
"Berdoalah," suara bu Emy memecah keheningan.
"Mumpung saya ada di depan Ka'bah. Biar saya yang aamiin-kan."
Kata-kata itu bagaikan anak panah yang meluncur menembus relung hati terdalam. Di sana, di depan kiblat jutaan umat Islam, bu Emy menawarkan diri menjadi penyambung lidah doa-doa saya. Saya mencoba mengatur napas, mengumpulkan serpihan doa yang selama ini tersimpan rapat dalam dada. Sepatah kata pun terucap, pertahanan diri runtuh.
Air mata, yang entah sejak kapan menggenang di pelupuk mata, akhirnya tumpah tak tertahankan. Bulir-bulir hangat itu mengalir membasahi pipi. Tangisan ini bukan tangisan kesedihan, melainkan luapan kerinduan yang membuncah, rasa syukur yang tak terhingga, dan kepasrahan seorang hamba di hadapan kebesaran Tuhannya.
Melalui layar handphone, saya melihat dengan jelas lautan manusia dari berbagai penjuru dunia, bersatu dalam satu tujuan, satu arah. Mereka tawaf mengelilingi Ka'bah, menengadahkan tangan, merapalkan doa-doa dengan penuh khusyuk. Ada yang menangis, ada yang menempelkan dahi ke lantai marmer, memohon ampunan dan pertolongan Sang Pencipta.
Pemandangan menyayat hati, mengingatkan sebagai hamba yang penuh dosa dan khilaf. Di saat yang sama, pemandangan itu juga menumbuhkan secercah harapan. “Ya Allah,“Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Engkaulah yang menuntun hati hamba-hamba-Mu.” Saya mulai memanjatkan doa. Doa yang tak pernah putus, doa yang selalu mengalir dalam setiap sujud. Saya memohon ampunan, kesehatan, keberkahan hidup, dan kebaikan untuk diri sendiri, keluarga, serta seluruh umat Islam.
Saya dengar suara bu Emy dari seberang sana, “Aamiin... Ya Allah, aamiin.”
Suaranya, yang berpadu dengan gema lantunan talbiyah dari ribuan jamaah lainnya, menciptakan harmoni yang menyayat hati. Doa-doa saya ikut terbawa terbang, melesat menembus langit, menembus hijab, dan sampai ke hadapan Arsy-Nya.
Tetes air mata yang jatuh, terukir kesaksian. Kesaksian bahwa jiwa ini benar-benar terhubung dengan Ka'bah, meskipun secara fisik masih terpisahkan oleh jarak yang teramat jauh. Layar handphone hanyalah perantara, rindu dan imananyang menjadi jembatannya.
“Alhamdulillah,” gumam saya lirih. “Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah mengizinkanku menatap baitullah-Mu, meski hanya melalui sebidang layar.”
Saya menyadari, pengalaman ini adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Sebuah pengingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah tidur, dan rahmat-Nya senantiasa mengalir kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Sebuah tekad terpatri kuat. Sebuah keyakinan yang tak terbantahkan. “Apa yang tidak bisa?” tanya saya pada diri sendiri, sebuah pertanyaan yang menggema dalam relung kalbu.
“Jika Allah telah berkehendak, tak ada yang tak mungkin,” jawab saya yakin.
Saya sangat berharap, dengan izin dan ridho Allah, suatu saat nanti kaki ini akan melangkah menapaki pelataran Masjidil Haram. Bahwa dahi ini akan sujud di atas marmer putih yang dingin, dan lisan ini akan merapalkan talbiyah secara langsung di hadapan Ka'bah. Setelahnya, merajut rindu di kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah.
Saya yakin, jika Allah telah menetapkan waktunya, tidak ada satu kekuatan pun di alam semesta ini yang bisa menghalanginya. Dia adalah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Kun Fayakun. Jadilah, maka terjadilah. Panggilan video berakhir. Layar handphone kembali gelap. Bayangan Ka'bah dan gema talbiyah terus menari-nari dalam pikiran.
Kehadiran Allah Subhanahu Wata'alla sangat dekat. Betapa besar cinta-Nya kepada setiap hamba-Nya. Saya menyadari bahwa kerinduan pada Ka'bah adalah sebuah anugerah, sebuah pengingat akan tujuan hakiki dari perjalanan hidup ini akan kembali kepada-Nya dalam keadaan berserah diri seutuhnya. SEMOGA BU EMY SEKALIAN DIBERIKAN KELANCARAN IBADAH, KESEHATAN. PULANG MEMBAWA PREDIKAT HAJI YANG MABRUR. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.
Cepu, 10 Mei 2026
Rabu, 06 Mei 2026
3 Generasi
Njeplaplang
Karya: Gutamining Saida
Di pagi yang masih menyisakan embun, obrolan di grup komunitas renang mendadak riuh hanya karena satu kata yang dilemparkan oleh sang pelatih kebanggaan kami, Pak Gun. Pak Gun, tiba-tiba mengirimkan sebuah foto dokumentasi latihan sore kemarin. Di layar ponsel, saya melihat sosok yang sedang mempraktikkan posisi njepaplang di atas permukaan air. Melihat foto itu, saya tersenyum sendiri. Foto itu bagi saya, adalah sebuah "pancingan". Tujuannya untuk membakar semangat para pejuang air yang usianya di atas lima puluh tahun, nyalinya harus terus diasah.
Dalam teori renang, posisi ini sebenarnya adalah inti dari kepercayaan diri. Pelaku harus memiliki hati yang tenang, pikiran yang hening, serta tubuh yang rileks sepenuhnya. Pandangan mata harus lurus ke atas menatap langit kedua kaki lurus merapat, dan telapak tangan menelungkup. Kedengarannya sangat sederhana, bukan? Hanya diam dan membiarkan air menopang kita. Bagi saya yang sedang berjuang melawan trauma dan rasa takut pada air, teori ini adalah ujian yang nyata.
Saya ingat betul momen ketika saya mencoba mempraktikkan posisi njepaplang tersebut. Begitu tubuh menyentuh air, niat hati ingin meluncur indah. Apa daya, baru beberapa detik meluncur, tubuh saya justru langsung "nyungsep" ke dasar kolam. Saya tenggelam cukup untuk membuat hidung terasa perih terkena air. Mengapa saya gagal? Mengapa teman saya yang lain bisa begitu tenang bak kayu yang hanyut, sementara saya justru seperti gaya batu?
Kesimpulannya yaitu hati saya belum tenang. Ada ketakutan yang masih bersembunyi, ada kecemasan bahwa air akan menelan saya jika saya lepas kendali. Dalam renang, musuh terbesar kita bukanlah kedalaman air, melainkan kekakuan otot yang dipicu oleh pikiran yang berisik. Ketika hati belum ikhlas "menyerah" pada air, maka tubuh akan menegang, dan tubuh yang tegang secara fisik akan menjadi lebih berat sehingga lebih mudah tenggelam.
Di sinilah peran Pak Gun menjadi sangat penting. Beliau bukan sekadar pelatih yang mengajarkan gerakan tangan atau kaki. Beliau adalah motivator ulung. Beliau paham bahwa bagi kami, belajar renang hanya untuk menaklukkan diri sendiri. Beliau sering berkata dengan nada guyon kuncinya pada kemauan untuk mencoba.
Di grup "Muda Swimming Squad" Yang memotivasi saya yaitu postur tubuhnya jauh lebih berisi daripada saya bisa sukses njeplaplang. Kenyataannya, mereka justru mengapung dengan begitu indahnya, sangat rileks, seolah-olah air adalah kasur empuk bagi mereka. Melihat hal itu, saya merasa terinspirasi. Jika mereka bisa, mengapa saya tidak? Jadi, faktor kegagalan saya murni karena faktor psikologis. Saya bertekad tidak akan patah semangat. Saya belajar untuk berusaha menyinkronkan antara pikiran dan gerakan. Saya mulai menyadari bahwa posisi njepaplang harus pasrah, tetap terjaga.
Puncaknya adalah kepuasan batin yang tak ternilai harganya. Ketika saya berhasil tidak tenggelam dalam beberapa detik rasanya kebahagiaan itu meledak-ledak. Meski hasilnya belum maksimal, meski posisi tangan saya belum sepenuhnya sempurna. Kaki terkadang masih goyah, fakta bahwa saya "tidak tenggelam" saja sudah merupakan kemenangan besar. Bahagia itu sederhana yaitu cukup dengan melihat tubuh kita tidak lagi ditolak oleh air. Hal itu sudah cukup untuk membuat tersenyum dan tertawa.
Hidup itu mirip dengan posisi njepaplang. Kadang kita terlalu keras mencoba mengendalikan segala sesuatu sehingga kita menjadi tegang dan akhirnya "tenggelam" dalam masalah. Padahal, jika kita sedikit lebih rileks, memiliki hati yang tenang, dan pandangan yang selalu menatap kepada Tuhan, hidup akan terasa lebih ringan. Masalah tidak akan menenggelamkan kita jika kita tahu cara "mengapung" di atasnya dengan kepasrahan.
Saya sudah tidak sabar untuk kembali bertemu Pak Gun dan teman-teman. Saya akan kembali mencoba posisi njepaplang. Saya akan menikmati setiap proses belajar tanpa rasa takut yang menghalangi kebahagiaan kita. Sampai jumpa di hari Jum'at mendatang.
Cepu, 7 Mei 2026
Selasa, 05 Mei 2026
Rindu kepada-Mu
Karya: Gutamining Saida
Para Calon Jamaah Haji (Calhaj) melangkah, meninggalkan zona nyaman demi memenuhi panggilan yang telah bergema sejak zaman Nabi Ibrahim AS: Labbaykallahumma Labbayk. Menyaksikan keberangkatan ini, terlebih ketika ada sahabat dekat dan tetangga yang ikut di dalamnya, adalah sebuah pengalaman batin yang menguras emosi. Meski raga ini tak sempat berjabat tangan langsung di depan pintu rumahnya karena kendala jarak, doa-doa tulus telah saya terbangkan melalui langit-langit harapan. Saya memilih hadir dalam upacara pemberangkatan di dekat rumah sebuah titik temu antara doa saksi bisu perjuangan iman.
Prosesi pamitan haji adalah salah satu drama kemanusiaan paling murni dalam ajaran Islam. Di sana, batas antara kesedihan dan kebahagiaan menjadi sangat tipis, bahkan melebur menjadi satu aliran air mata yang tak terbendung.
Sedih karena Berpisah: Ada rasa haru melepaskan orang-orang tercinta menuju tanah yang jauh. Di balik lambaian tangan, ada rasa khawatir sekaligus rasa kehilangan sementara. Lingkungan akan terasa lebih sepi.
Bahagia karena Terpilih: Di atas rasa sedih itu, membuncah kebahagiaan yang tak terlukiskan. Menjadi tamu Allah bukanlah soal kekayaan materi, melainkan soal "undangan" (ma'unah). Banyak orang kaya yang belum tergerak, dan banyak orang sederhana yang justru diberangkatkan dengan cara-cara ajaib. Melihat sahabat berangkat adalah melihat bukti nyata kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla..
Setiap tetesan air mata yang jatuh saat azan dikumandangkan untuk melepas keberangkatan mereka adalah saksi bahwa hati kita masih memiliki iman. Tangisan itu adalah bentuk pengakuan bahwa kita ikut merasakan getaran keagungan Allah yang memanggil hamba-hamba-Nya untuk bersujud di depan Ka’bah.
Melihat mereka berangkat, memicu alarm rindu dalam dada saya sendiri. Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah bukanlah sekadar titik koordinat di atas peta dunia. Bagi seorang muslim, keduanya adalah tanah suci.
Makkah: Membayangkan diri berdiri di depan Ka'bah, melihat bangunan hitam yang megah di tengah kerumunan manusia dari berbagai bangsa, adalah impian tertinggi. Di sana, identitas duniawi luruh. Tidak ada pejabat, tidak ada rakyat jelata, yang ada hanyalah hamba yang merintih memohon ampunan.
Madinah: Kerinduan pada Madinah adalah kerinduan pada ketenangan. Membayangkan melangkah di Raudhah, menyampaikan salam secara langsung di depan makam Rasulullah SAW, membawa rasa damai yang tak bisa ditawarkan oleh kemewahan kota mana pun di dunia.
Rindu ini seringkali terasa sesak. Ada semacam rasa "iri" melihat sahabat dekat bisa segera mencium aroma tanah haram, sementara kita di sini masih harus bergulat dengan persiapan waktu. Rindu inilah yang menjadi bahan bakar doa agar suatu saat nanti, nama kita pun akan dipanggil.
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini terngiang-ngiang saat bus mulai bergerak perlahan. Saya menyadari bahwa setiap langkah kaki Calhaj pagi ini adalah penggenapan dari janji Allah ribuan tahun yang lalu. Saya menyelipkan sebuah munajat kecil yang sangat personal. Sebuah harapan agar Allah tidak membiarkan kerinduan ini hanya menjadi mimpi yang tak berujung.
"Ya Allah, hari ini aku melepas sahabatku dengan doa. Jika Engkau izinkan, di waktu yang paling tepat menurut-Mu, gerakkanlah kakiku, mudahkanlah urusanku, dan cukupkanlah rezekiku untuk bisa bersimpuh di Baitullah."
Saya percaya bahwa setiap niat baik yang ditanam hari ini, meski hanya melalui kehadiran di upacara pemberangkatan. Hadirnya saya adalah bentuk penghormatan. Saya ingin atmosfer suci itu menular, ingin aroma keberangkatan itu melekat dalam ingatan, sehingga semangat memperbaiki diri semakin berkobar.
Untukmu, sahabat dan saudara saya yang kini sedang dalam perjalanan menuju embarkasi, ketahuilah bahwa meski jarak memisahkan kita, hatiku tertaut pada setiap doa yang kau panjatkan nanti di depan Multazam.
Titip salam saya pada Baginda Rasulullah. Sebutkan nama saya di antara ribuan doa yang kau panjatkan. Katakan pada Sang Pemilik Ka'bah bahwa di sebuah sudut kecil di wilayah Cepu, ada seorang hamba yang sangat merindukan rumah-Nya.
Selamat jalan, para tamu Allah. Semoga perjalanan ini menjadi safar yang penuh berkah, menjadi jembatan menuju perubahan hidup yang lebih takwa, dan semoga kembalinya nanti membawa cahaya yang menyinari lingkungan sekitar. Makkah dan Madinah, tunggu kami. Kami akan datang, cepat atau lambat, atas izin-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin.
Cepu, 6 Mei 2026
Keberangkatan Calhaj
Karya Gutamining Saida
Fajar di ufuk timur menyisakan rona merah yang membelah kegelapan langit di atas musala Miftahul Falah. Suara zikir pelan masih terdengar di dalam musala, namun ada getaran yang berbeda pagi ini. Jamaah tidak langsung membubarkan diri ke rumah masing-masing. Ada sebuah magnet yang menarik langkah kaki mereka menuju satu titik yaitu kediaman Bapak Puji Utomo.
Bapak Puji Utomo bukan sekadar tetangga. Beliau adalah jamaah dari Musala Miftahul Falah, sosok yang biasa disapa dengan "Pak Ut, Lek Ut". Rumahnya telah berubah menjadi pintu gerbang menuju Tanah Suci. Kekhusyukan doa memenuhi udara, menciptakan suasana yang seolah-olah menghubungkan tanah Jawa dengan padang pasir di Mekah.
Suasana haru langsung menyergap. Bapak Puji Utomo duduk bersimpuh di tengah ruangan, mengenakan pakaian seragam batik haji rapi nan bersih, wajahnya memancarkan cahaya ketenangan sekaligus kegelisahan rindu yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ini adalah puncak dari penantian belasan tahun sebuah kesabaran yang akhirnya dijawab oleh Allah Subhanahu Wata'alla melalui undangan resmi menjadi tamu-Nya.
Prosesi upacara pelepasan dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Setiap lantunan ayat yang dibacakan seolah menjadi pengingat bahwa perjalanan ini bukanlah perjalanan biasa. Ini bukan perjalanan wisata untuk melihat keindahan dunia, melainkan perjalanan "pulang" ke rumah asal bagi setiap jiwa, yaitu Baitullah.
Saat tiba pada sesi yang paling dinanti, yakni acara pamitan, suasana berubah menjadi sangat hening. Beliau tidak kuasa lagi untuk berkata-kata sendiri, Bapak Puji Utomo hanya mampu menunduk. Prosesi pamitan tersebut diwakilkan kepada salah seorang tokoh masyarakat setempat. Hatinya terlalu penuh oleh rasa syukur hingga lidahnya kelu untuk berucap. Beliau menitipkan permohonan maaf atas segala khilaf, baik sengaja maupun tidak, agar langkahnya menuju Tanah Suci menjadi ringan dan suci," ujar sang tokoh masyarakat. Mendengar itu, tangisan jamaah yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah. Ruangan itu dipenuhi oleh tetesan air mata dari para sahabat dan tetangga yang hadir.
Bapak Utomo dan ibu melangkah keluar pintu rumahnya. Di ambang pintu, seorang muazin yaitu bapak Joko berdiri tegap dengan tangan menempel di telinga. Suara Adzan pun berkumandang. Dilanjut iqomah di sebelah kiri. Biasanya, adzan memanggil orang untuk menunaikan salat. Kali ini, adzan itu terasa seperti pengumuman kepada alam semesta bahwa seorang hamba Allah sedang memulai langkah kakinya menuju pusat bumi, pusat kiblat. Suara Allahu Akbar yang melengking di pagi itu membuat bulu kuduk merinding. Seolah-olah langit ikut bertasbih menyaksikan keberangkatan seorang calon haji. Disusul kemudian dengan Iqomah, yang menandakan bahwa waktu keberangkatan telah tiba. Tidak ada lagi waktu untuk menoleh ke belakang, fokus hanya pada satu titik yaitu Allah dan Rasul-Nya.
Saat beliau melangkah menuju kendaraan, seluruh tamu yang berderet di dekat pintu mulai mengumandangkan Talbiyah secara serentak, dengan suara yang mantap
Labbaykallahumma labbayk, labbayka laa syariika laka labbayk. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak.
Suara ini bergemuruh, membelah keheningan. Kalimat "Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah" bukan lagi sekadar hafalan manasik, melainkan jeritan kerinduan dari setiap jiwa yang hadir. Air mata tumpah tak terbendung bukan tangis kesedihan karena perpisahan, melainkan tangis haru atas kebesaran Allah. Menyaksikan Bapak Utomo sekalian berangkat. Bukti nyata bahwa Allah memampukan orang-orang yang Ia panggil dengan kesabaran dan keikhlasan.
Betapa rasa syukur ini meluap-luap. Kini beliau berangkat untuk menjadi tamu Rasulullah di Madinah dan tamu Allah di Makkah. Kebahagiaan hati ini sungguh tiada tandingan. Ada rasa iri yang mulia di hati setiap orang yang melihatnya. Sebuah keinginan kuat agar suatu saat nanti kami juga dipanggil untuk bersujud di tempat yang sama.
Rombongan kendaraan perlahan bergerak menjauh, meninggalkan debu yang beterbangan dan suara talbiyah yang semakin sayup di telinga. Kami kembali ke rumah masing-masing dengan hati yang dipenuhi doa, berharap suatu saat nanti, kami pun akan berdiri di posisi yang sama yaitu mengenakan kain ihram putih, melupakan dunia, dan hanya berseru dengan penuh cinta, "Labbayk, ya Allah..." Selamat jalan, wahai tamu Allah. Semoga menjadi haji yang mabrur, yang tiada balasannya di sisi Allah Subhanahu Wata'alla kecuali surga-Nya yang abadi. Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.
Cepu, 5 Mei 2026
Senin, 04 Mei 2026
Sapaan Pagi
Karya : Gutamining Saida
Sinar mentari bukan sekadar tanda dimulainya hari, melainkan sebuah undangan dari Sang Khalik untuk merayakan kehidupan. Di sebuah grup percakapan digital yang biasanya riuh dengan obrolan ringan, foto dan vidio, muncul sebuah sapaan hangat dari Pak Gun. "Salam sehat lahir dan batin," tulisnya. Kalimat sederhana itu seketika mengubah layar ponsel menjadi lebih sejuk, layaknya tetesan embun yang jatuh di atas tanah yang gersang.
Pak Gun bukan sedang sekadar menjalankan formalitas pagi. Bagi beliau, menjaga kesehatan adalah sebuah bentuk amanah yang paling mendasar. Mengapa demikian? Karena tubuh manusia untuk dijaga sebaik-baiknya
Pak Gun sangat memahami bahwa jiwa yang tenang dan hati yang bersinar membutuhkan wadah yang kuat. Bagaimana mungkin seorang hamba bisa bersujud dengan khusyuk jika punggungnya didera linu karena kurang gerak? Bagaimana mungkin seorang siswa bisa menyerap ilmu jika otaknya tumpul akibat aliran darah yang tidak lancar?
Anjuran Pak Gun untuk bergerak badan selama lima belas menit sebelum memulai aktivitas bukan sekadar tips kebugaran dari majalah kesehatan. Itu adalah sebuah rasa syukur pada Sang Pencipta. Setiap tarikan napas saat kita melakukan peregangan adalah dzikir tanpa kata. Setiap detak jantung yang mengencang saat kita melompat atau berjalan cepat adalah tasbih yang mengalir dalam darah.
Lima belas menit tersebut adalah waktu di mana kita "melaporkan diri" kepada Pencipta bahwa kita siap menggunakan raga ini untuk menebar kebaikan hari ini. Bergerak adalah cara kita berterima kasih atas engsel sendi yang masih berfungsi, otot yang masih lentur, dan paru-paru yang masih mampu menghirup oksigen secara baik.
Lebih dari sekadar olahraga, anjuran Pak Gun untuk "nyemplung" di kolam minimal seminggu sekali. Air adalah unsur yang melunakkan kekakuan dan membasuh kotoran, baik yang tampak maupun yang tersembunyi di dalam batin.
Saat seorang siswa membiarkan tubuhnya tenggelam dalam dekapan air kolam, sebenarnya ia sedang melakukan proses introspeksi diri. Di dalam air, suara bising dunia luar meredup. Yang terdengar hanyalah detak jantung sendiri dan gemericik air yang menenangkan.
Keheningan: Di bawah permukaan air, kita belajar untuk diam dan mendengarkan suara hati.
Ketertundukan: Air mengajarkan kita untuk tidak keras kepala, dan selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah sebuah simbol kerendahhatian.
Kekuatan: Berenang melatih napas, dan napas adalah jembatan antara ruh dan jasad.
Pak Gun ingin para siswanya tidak hanya memiliki otot yang kuat, tetapi juga batin yang sebening air kolam di pagi hari. Dengan berenang, beban pikiran yang menumpuk selama seminggu seolah luruh bersama riak air, menyisakan kesegaran yang baru untuk menghadapi hari esok.
"Sehat dan bahagia selalu," Dua kata ini adalah sepasang sayap. Sehat tanpa bahagia akan terasa hambar. Bahagia tanpa sehat akan terasa rapuh dan terbatas. Seorang mukmin yang bahagia adalah ia yang ridha atas ketetapan Tuhannya dan optimis menatap masa depan. Pak Gun ingin menanamkan mindset bahwa menjadi sehat adalah bagian dari ibadah, dan menjadi bahagia adalah bentuk ketaatan.
Bayangkan jika seluruh siswa menjalankan dengan penuh kesadaran,
Pagi: Bangun dengan hati penuh syukur, melakukan gerak badan 15 menit sebagai bentuk pemanasan.
Sepanjang Hari: Belajar fokus karena oksigen mengalir lancar ke otak, memandang teman dan guru dengan senyum karena hati yang bahagia.
Akhir Pekan: Membersihkan stres dengan berenang, merasakan kuasa Tuhan lewat air yang menyegarkan.
Pak Gun sedang membangun "peradaban sehat" di tengah generasi yang mungkin lebih sering menunduk menatap layar daripada menatap langit. Semoga bermanfaat.
Cepu, 5 Mei 2026
Minggu, 03 Mei 2026
Lembaran Lima Puluh Ribu
Karya : Gutamining Saida
Momen perpisahan sering kali identik dengan suasana haru, isak tangis, dan untaian kata-kata puitis yang menyayat hati. Sabtu pagi di lapangan SMPN 3 Cepu, narasi perpisahan ditulis dengan tinta yang berbeda. Tidak ada awan mendung kesedihan yang menggelayut; yang ada justru pancaran sinar dengan binar kebahagiaan di wajah ratusan siswa. Purna tugas Bapak Bambang, sosok guru Ilmu Pengetahuan Sosial yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi SMPN 3 Cepu.
Sesi pamitan Pak Bambang dimulai. Lapangan sekolah yang biasanya menjadi saksi ketegasan disiplin, mendadak berubah menjadi panggung keakraban, keseruan yang hangat. Pak Bambang, dengan senyum khas yang selalu menyapa siapa pun di koridor sekolah, berdiri di depan mikrofon. Bukan untuk mengajarkan tentang geografi atau sejarah, ekonomi, melainkan untuk merayakan akhir masa baktinya dengan cara yang paling unik.
Alih-alih memberikan pidato perpisahan yang formal. Pak Bambang memilih untuk menghidupkan suasana melalui interaksi langsung. Beliau memahami bahwa cara terbaik untuk dikenang adalah dengan meninggalkan jejak kegembiraan. Setelah sepatah kata pamit yang tulus, beliau mengejutkan semua orang dengan mengeluarkan "amunisi" perpisahan yang tidak biasa sejumlah lembaran uang kertas lima puluh ribuan yang telah disiapkan rapi dari rumah.
"Siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya, silakan maju ke depan!" seru beliau dengan suara yang masih lantang, memecah rasa penasaran para siswa.
Seketika, atmosfer lapangan berubah menjadi riuh. Tantangan tersebut disambut dengan antusiasme yang luar biasa. Bagi para siswa, ini bukan sekadar tentang nilai nominal uang yang ditawarkan, melainkan tentang momen kedekatan terakhir dengan sang guru tercinta. Pak Bambang mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang selama ini beliau ampu. Pertanyaan-pertanyaan seputar wawasan kebangsaan, perkembangan teknologi handphone, letak astronomis Indonesia, hingga tokoh-tokoh sejarah meluncur satu per satu.
Suasana kompetisi yang sehat pun tercipta. Siswa-siswi saling berebut berlari menuju ke pak Bambang yang berada di tengah lapangan. Setiap kali seorang siswa berhasil menjawab dengan tepat, mereka langsung mendapat lima puluh ribu rupiah. Di tengah lapangan yang panas terasa sejuk karena tawa, Pak Bambang menyerahkan selembar uang kertas dengan tangan terbuka.
Pemandangan itu sungguh menyentuh. Ada binar kebanggaan di mata siswa yang berhasil menjawab, bukan hanya karena hadiahnya. Mereka berhasil memberikan "hadiah" terakhir bagi Pak Bambang berupa pembuktian bahwa ilmu yang diajarkan selama ini telah terserap dengan baik. Senyum bahagia terpancar luas, tidak hanya dari para pemenang kuis dadakan itu, tetapi juga dari Pak Bambang sendiri. Beliau seolah sedang memanen hasil tanamannya selama puluhan tahun mengajar: kebahagiaan anak didik.
Bagi kalangan rekan sejawat, aksi Pak Bambang ini adalah cerminan kepribadian beliau selama ini. Beliau dikenal sebagai sosok yang ringan tangan, komunikatif, dan selalu punya cara untuk mencairkan suasana. Purna tugas baginya bukanlah sebuah akhir yang menyedihkan, melainkan garis finis yang dicapai dengan rasa syukur yang meluap. Beliau memilih untuk "membeli" kenangan terakhir para siswanya dengan keceriaan, memastikan bahwa nama "Pak Bambang" akan selalu diingat sebagai guru yang menyenangkan hingga detik terakhir masa jabatannya.
Jika ditelisik lebih jauh, aksi pak Bambang simbol dari kemurahan hati seorang pendidik. Guru IPS ini ingin mengajarkan satu pelajaran terakhir yang tidak ada di buku teks. Pelajaran tentang berbagi kebahagiaan di saat kita melepaskan sesuatu yang berharga.
Lapangan SMPN 3 Cepu hari itu menjadi saksi bahwa pendidikan tidak selalu tentang duduk diam di dalam kelas dan mendengarkan ceramah. Pendidikan juga tentang membangun memori, tentang bagaimana seorang manusia menyentuh hidup manusia lainnya. Pak Bambang membuktikan bahwa seorang guru purna tugas tetap bisa menjadi pusat energi positif.
Sisa-sisa kegembiraan masih terasa di udara. Para siswa mengerumuni beliau untuk bersalaman dan berfoto bersama. Uang kertas yang mereka terima mungkin akan habis dalam sehari untuk membeli jajan di kantin, namun momen berdiri di depan Pak Bambang, menjawab pertanyaannya, dan melihat senyum tulus beliau di hari purna tugasnya adalah memori yang akan bertahan selamanya.
Pak Bambang meninggalkan lapangan dengan langkah yang ringan, meninggalkan warisan berupa tawa dan semangat belajar yang meledak-ledak. SMPN 3 Cepu mungkin kehilangan salah satu guru IPS terbaiknya namun semangat "Pak Bambang" akan tetap hidup di koridor-koridor kelas dan di dalam hati setiap siswa yang pernah beliau ajar.
Kepada Pak Bambang, selamat memasuki masa purna tugas. Terima kasih telah mengajarkan bahwa perpisahan tidak harus selalu dibasahi air mata. Perpisahan bisa dirayakan dengan kuis kecil, tawa yang lepas, dan lembaran-lembaran kebaikan yang dibagikan dengan penuh cinta di tengah lapangan sekolah. Keikhlasan Bapak untuk tetap memberi di hari terakhir adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang paling nyata yaitu bahwa manusia adalah makhluk sosial yang paling indah ketika mereka mampu membahagiakan sesamanya. Aamiin.
Cepu, 4 Mei 2026





