Kebijakan pak Gun sore itu memang tidak bisa ditawar:
gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Minggu, 08 November 2026
Sabtu, 07 November 2026
Tertawamu Tertawaku
Karya: Gutamining Saida
Suasana di kolam renang mendadak dipenuhi canda dan tawa. Latihan renang bersama Pak Gun terasa begitu istimewa. Bukan hanya karena kami mendapatkan pengalaman baru dalam belajar menguasai air, melainkan juga karena ada banyak kejadian lucu yang mengundang gelak tawa. Di tengah proses belajar, ternyata selalu ada cerita menarik yang sulit dilupakan.
Satu per satu ibu-ibu mendapatkan giliran untuk berlatih merebahkan diri di atas air. Latihan kali ini membutuhkan keberanian, ketenangan, dan rasa percaya diri. Bagi sebagian orang, mengambang dengan posisi telentang mungkin terlihat mudah. Tinggal merebahkan badan, bebas napas, merilekskan tubuh, lalu membiarkan air menopang berat badan. Bagi saya yang masih dalam tahap belajar, praktiknya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Ada yang sudah berani, tetapi tubuhnya masih kaku. Ada pula yang masih ragu-ragu ketika punggung mulai menyentuh permukaan air. Di sinilah kesabaran Pak Gun benar-benar terlihat. Beliau dengan setia mendampingi, memandu, dan menjaga ibu-ibu dari dekat. Tidak dibiarkan begitu saja, terutama bagi mereka yang belum mampu melakukannya sendiri.
Pak Gun selalu memberikan arahan dengan tenang. Tidak ada bentakan, tidak ada wajah kesal, apalagi ucapan yang membuat peserta merasa malu. Beliau memahami bahwa setiap orang mempunyai kemampuan dan keberanian yang berbeda. Ada yang cepat bisa, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar.
Siapa sangka, setelah berhasil merebahkan diri dan mengambang dengan posisi telentang, muncul persoalan baru yang tidak kalah menarik. Ternyata, mengembalikan posisi tubuh seperti semula bukanlah perkara mudah.
Salah satu ibu yang sedang berlatih mulai kebingungan. Tubuhnya sudah telentang di atas air, tetapi ketika hendak membalikkan badan, gerakannya justru ke sana kemari. Badannya bergoyang-goyang berusaha mencari keseimbangan. Wajahnya terlihat panik, sementara tubuhnya masih mengambang.
"Pak ... Pak Gun, bagaimana ini?" teriaknya.
" Tolong ... tolong, Pak Gun!"
Mendengar suara tersebut, ibu-ibu yang sedang menunggu giliran langsung menoleh ke arah sumber suara. Pemandangan yang terlihat benar-benar mengundang tawa. Bagaimana tidak? Sudah berhasil mengambang, tetapi justru kebingungan sendiri ketika hendak kembali ke posisi semula.
Tawa spontan pun pecah. Bukan hanya satu atau dua orang, hampir semua yang menyaksikan ikut tertawa. Bahkan, suasana semakin ramai karena ibu yang sedang mengalami kejadian lucu itu juga ikut tertawa di tengah kebingungannya.
Pak Gun, yang dikenal sebagai pelatih dengan pembawaan tenang, tetap menunjukkan sikap santainya. Beliau tidak ikut panik menghadapi situasi tersebut. Dengan senyum ramah, beliau justru melontarkan selorohan yang membuat suasana semakin meriah.
"Bu-ibu, seharian posisi begini tidak apa-apa, nggih. Sambil makan pisang goreng pun tak apa-apa."
Sontak gelak tawa kembali pecah. Kalimat sederhana itu berhasil mencairkan suasana. Bayangan ibu-ibu yang mengambang seharian sambil menikmati pisang goreng tentu menjadi sesuatu yang lucu dan menghibur. Bahkan, mungkin ada yang membayangkan kolam renang berubah menjadi tempat bersantai sambil menikmati kudapan.
Di balik kelucuan tersebut, ada hal menarik yang saya rasakan. Ternyata, belajar renang bukan hanya tentang menguasai teknik gerakan tangan, kaki, mengatur napas, atau mempertahankan keseimbangan tubuh. Ada proses membangun keberanian, mengalahkan rasa takut, dan belajar mempercayai diri sendiri.
Lebih dari itu, ada pelajaran tentang kebersamaan yang tumbuh secara alami di antara kami. Tertawa bukan berarti mengejek. Inilah hal yang terasa begitu indah dalam kebersamaan kami. Ketika ada teman yang mengalami kejadian lucu, kami tertawa bersama, bukan menertawakan untuk merendahkan. Ibu yang menjadi pusat perhatian pun ikut tertawa. Tidak ada yang merasa tersinggung, tidak ada yang merasa dipermalukan, dan tidak ada yang kemudian menjauh karena malu. Justru, kejadian tersebut menjadi bahan cerita yang menambah keakraban.
Ketika satu dari ibu-ibu berhasil, yang lain ikut memberikan semangat. Ketika ada yang kesulitan, yang lain berusaha menguatkan. Ketika ada yang melakukan gerakan lucu, kami tertawa bersama. Setelah itu, latihan dilanjutkan kembali dengan semangat yang baru. Begitulah kebersamaan yang sesungguhnya.
Air kolam menjadi saksi bahwa kami tidak hanya sedang belajar berenang. Kami sedang belajar saling menerima, menghargai perbedaan kemampuan, dan memberikan dukungan tanpa harus membandingkan satu sama lain.
Sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat, tetapi juga hati yang bahagia dan lingkungan yang penuh dukungan. Alhamdulillah, melalui kegiatan renang, saya mendapatkan lebih dari sekadar latihan fisik. Ada persahabatan, kenangan manis yang semakin memperkaya perjalanan ikhtiar sehat ini.
Semoga kebersamaan ini terus terjaga. Semoga kami tetap diberi kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk belajar bersama. Tidak masalah jika hari ini masih belum bisa, tidak masalah jika sesekali melakukan gerakan yang mengundang tawa. Yang penting jangan berhenti mencoba, mencoba dan mencoba.
Cepu, 8 November 2026
TMP Nusa Bhakti Cepu
Suasana pagi di Kota Cepu terasa begitu sejuk ketika matahari mulai merambat naik pada Minggu pukul 08.30 WIB. Hari itu bukan sekadar akhir pekan biasa, melainkan sebuah perjalanan melintasi waktu untuk memperingati Hari Pahlawan melalui langkah-langkah kecil dalam alur wisata sejarah "Jejak Sejarah Pahlawan Di Kota Cepu".
Titik kumpul dipusatkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nusa Bhakti Cepu, sebuah tempat peraduan terakhir bagi para jiwa yang telah menyerahkan seluruh hidupnya demi kedaulatan bangsa. Perjalanan edukatif ini dipandu langsung oleh Mohammad Davin Pratama, salah satu tim dari Cepu Walking Tour, yang dengan tutur kata runtut dan komunikatif berhasil membawa seluruh peserta menyusuri lembaran sejarah yang tersembunyi di sudut kota minyak ini.
Langkah awal memasuki gerbang TMP Nusa Bhakti disambut oleh jajaran batu nisan putih yang berjejer rapi bersih yang terawat. Di tempat penghormatan ini, terbaring 56 pahlawan yang menghembuskan napas terakhir mereka pada masa-masa awal kemerdekaan Indonesia, tepatnya dalam rentang tahun 1946 hingga 1947.
Mohammad Davin Pratama membuka narasinya dengan memaparkan dinamika Cepu pada fase pasca-Proklamasi. Kota Cepu, yang sejak zaman kolonial Hindia Belanda dikenal sebagai salah satu pusat industri minyak bumi terpenting di Jawa Tengah, menjadi magnet pertempuran sekaligus perebutan kekuasaan. Para pejuang yang dimakamkan di TMP Nusa Bhakti. ini terdiri dari tentara Republik, polisi negara , pejuang, perintis kemerdekaan dari etnis Tionghua, dokter.
Berdiri di hadapan puluhan pusara tersebut menyadarkan para peserta bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini dibayar mahal oleh darah dan nyawa. Mereka berjuang dalam keterbatasan, memastikan barisan pertahanan Republik di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tetap berdiri kokoh.
Narasi sejarah berlanjut pembahasannya memasuki kurun waktu 1948 hingga 1949, periode di mana Aksi Polisionil Belanda (Agresi Militer) mengancam kedaulatan Indonesia. Di sinilah kisah heroic Peristiwa Bumi Hangus Cepu diceritakan kembali dengan detail yang memikat.
Sebagai kota strategis dengan kilang minyak dan deposit bahan bakar yang sangat vital, Cepu menjadi sasaran utama pasukan Belanda yang ingin menguasai kembali pasokan energi. Memahami situasi geopolitik dan ketimpangan kekuatan militer, para pejuang dan pekerja kilang mengambil keputusan paling memilukan sekaligus pemberani: membumihanguskan fasilitas minyak Cepu.
Mohammad Davin menggambarkan bagaimana kobaran api memerah membakar langit Cepu kala itu. Instalasi penyulingan, tangki penyimpan bahan bakar, hingga infrastruktur penting dihancurkan dan dibakar agar tidak jatuh ke tangan musuh. Langkah radikal ini merupakan bukti ketegasan prinsip para pejuang Cepu lebih baik melihat aset vital hancur menjadi abu daripada dimanfaatkan oleh pihak penjajah untuk menindas rakyat Indonesia. Peristiwa bumi hangus ini menjadi simbol pengorbanan tertinggi masyarakat Cepu demi kepentingan strategi pertahanan nasional yang lebih luas.
Berikutnya, mengulas dimensi perjuangan lainnya
Jejak Pejuang Digoel di Cepu
Narasumber mengungkap kisah para pejuang pergerakan nasional yang pernah merasakan pahitnya pembuangan ke Boven Digoel, Papua oleh Pemerintah Hindia Belanda. Tempat pengasingan di Papua tersebut dirancang untuk mematahkan semangat para aktivis kemerdekaan. Namun, sekembalinya mereka dari pengasingan, beberapa tokoh pejuang ini terus melanjutkan pengabdiannya di wilayah Cepu, membawa semangat perlawanan yang tak pernah padam dan menginspirasi generasi muda di daerah.
Pengabdian Tenaga Medis: Pahlawan Masa Kini
Menutup perjumpaan di TMP Nusa Bhakti, dialog interaktif bergeser ke pemaknaan pahlawan modern. Makna pahlawan ditarik ke masa kontemporer dengan mengenang pengorbanan para tenaga medis pada masa pandemi COVID-19. Para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan di Cepu diibaratkan sebagai garda terdepan di medan perang modern. Mereka bertaruh nyawa menghadapi bahaya virus yang tak kasat mata demi menyelamatkan sesama.
Melalui panduan cerita yang mengalir dari Mohammad Davin Pratama bersama Cepu Walking Tour, sejarah peringatan Hari Pahlawan ini berhasil menghidupkan kembali memori kolektif Kota Cepu. Perjalanan ini menyadarkan kita bahwa di balik setiap sudut tenang Kota Cepu hari ini, tersimpan keteladanan, keberanian, dan derap langkah para pahlawan yang pantang menyerah.
Cepu, 8 November 2026
Jumat, 06 November 2026
Figur Sang Pelatih
Suasana di kolam BOOMALL bukan
sekadar tempat untuk melatih fisik dengan menggerakkan tubuh di
air. Tempat ini menjelma menjadi ruang yang hidup, di mana
sekat-sekat yang biasa memenjarakan kehidupan modern dilebur tanpa sisa. Di
luar dinding kolam, masyarakat sering kali terkotak-kotak oleh
status, jabatan, tingkat ekonomi, hingga usia. Begitu melangkah
ke area BOOMALL, seluruh atribut duniawi tersebut ditanggalkan di ambang pintu.
Kehidupan modern ada atasan dan
bawahan, si kaya dan si miskin, tua dan muda, serta terpelajar dan
masyarakat awam. Pembedaan ini sering terbawa hingga ke ruang publik,
menciptakan jarak antar individu.
Ketika berada di dalam air, tidak
ada karpet merah, tidak ada perlakuan istimewa dari sang pelatih. Sang pelatih
menjadi motor utama terciptanya kondisi ini. Melalui teladan sikapnya,
beliau menunjukkan bahwa keringat sehat tidak mengenal jabatan. Kita
memiliki hak dan kedudukan yang sama. Peleburan ini menciptakan kenyamanan
anggota. Bahkan bagi pendatang baru melebur menyatu.
Di BOOMALL, mentalitas kurang
sehat dienyahkan. Sang pelatih memandang anggota yang sudah bergabung selama
bertahun-tahun diperlakukan sama seperti mereka yang baru hari pertama
menceburkan diri ke kolam. Tidak ada junior atau senior yang ada hanyalah
satu tujuan sama.
Kesehatan manusia tidak hanya
ditentukan oleh kebugaran fisik semata. Ketika sesi latihan dimulai, fokus
ibu-ibu dialihkan pada ikhtiar menjaga kesehatan tubuh melalui olahraga air.
Air memberikan, menyehatkan sendi sekaligus menyegarkan pikiran. Tawa bersama
yang meledak di antara sesi latihan. Gelak tawa bisa meruntuhkan beban stres,
kecemasan dan kelelahan peserta dari luar. Di kolam ini, ibu-ibu tidak
sedang berlomba untuk saling mengalahkan. Mereka berjuang bersama untuk
sehat.
Dalam tradisi Nusantara,
khususnya masyarakat Jawa, figur seorang guru "Guru digugu lan
ditiru" (Guru harus didengar nasehatnya digugu dan
dijadikan teladan, perilaku perbuatannya ditiru). Sang pelatih
BOOMALL sosok guru yang berbeda. Beliau tidak perlu banyak bicara yang
rumit Keteladanan beliau terpancar melalui tindakan di kolam. Memperlakukan
semua anggota yang sama, tanpa memandang status sosial. Setiap
peserta dibimbing dengan kesabaran.
Figur inilah yang membuat para anggota tidak hanya merasa "dilatih", melainkan "dididik". Nilai-nilai keteladanan sang pelatih secara tidak sadar meresap ke dalam diri setiap peserta, membuat mereka turut membawa semangat, kerendahan hati, dan kepedulian sosial.
Cepu, 7 November 2026
Di Balik Hitungan Sepuluh
Jum'at sore kembali menjadi waktu yang menyenangkan bagi saya. Seperti biasanya, setelah menyelesaikan aktivitas di sekolah, saya menyempatkan diri mengikuti ikhtiar sehat di Bumool Dengok, Padangan. Di tempat ini, saya tidak hanya belajar berenang. Saya mendapatkan banyak pengalaman dan makna kehidupan. Ada kebersamaan, kesabaran, keberanian, dan tentu saja tawa yang terkadang muncul dari hal-hal sederhana.
Di bawah bimbingan Pak Gun, kegiatan berenang bersama Muda Swimming Squad2 selalu memiliki cerita tersendiri. Setiap pertemuan menghadirkan pengalaman yang berbeda. Kadang kami dibuat serius, kadang harus berjuang mengatasi rasa takut, dan tidak jarang suasana kolam berubah menjadi gelak tawa.
Ada satu aktivitas yang cukup menarik perhatian saya. Pak Gun memberikan instruksi agar kami semua mencoba melayang di atas air secara bersama-sama. Posisi tubuh diatur sedemikian rupa agar bisa mengapung. Setelah peluit berbunyi, kami harus tetap berada di dalam air dan menunggu hitungan sampai sepuluh. Barulah setelah hitungan selesai, kepala boleh muncul ke permukaan dan kami bisa mengubah posisi.
"Ayo, Bu Ibu semua! Setelah peluit berbunyi, saya hitung sampai sepuluh. Njenengan semua baru boleh muncul kepalanya," instruksi Pak Gun.
Kami pun bersiap mengikuti arahan. Masing-masing berusaha mengambil posisi yang nyaman. Ada yang terlihat sudah percaya diri, ada yang masih sibuk menyesuaikan tubuh, dan mungkin ada pula yang diam-diam bertanya dalam hati, sanggup tidak ya menunggu sampai sepuluh? Tak lama kemudian terdengarlah bunyi peluit.
Priiiiiit!
Hitungan pun dimulai.
"Satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan... sembilan..."
Kami semua masih menunggu. Kepala tetap berada di dalam air. Pikiran mulai memperhatikan hitungan berikutnya. Namun, tiba-tiba Pak Gun memberikan jeda setelah angka sembilan. Tidak langsung menyebutkan angka sepuluh. Saya yang sedang mengikuti instruksi mulai bertanya-tanya dalam hati.
"Kok lama, ya? Bukankah tinggal satu hitungan lagi?"
Saya tetap menunggu. Rasanya hitungan sepuluh itu sudah sangat dekat, tetapi mengapa belum juga diucapkan? Mungkin hanya beberapa detik, tetapi terasa cukup lama. Saya mulai menyadari bahwa bukan hanya saya yang menunggu. Rupanya teman-teman yang lain juga merasakan hal yang sama. Kami semua menanti satu angka yang belum kunjung terdengar. Sembilan sudah disebutkan, tetapi sepuluh masih disimpan oleh Pak Gun.
Akhirnya, setelah memberikan jeda yang membuat kami penasaran, Pak Gun melanjutkan hitungannya dengan suara yang cukup khas.
"Sembilaaaan setengaaaah..." ucapnya
Barulah kemudian terdengar, "Sepuluuuuh!"
Seketika kepala kami muncul ke permukaan air. Masing-masing mengambil napas dan mengubah posisi. Saat kepala pada muncul dari air. Kami semua spontan tertawa. Tawa yang muncul begitu saja, tanpa perlu direncanakan. Seolah-olah ada kesepakatan diam-diam. Jeda hitungan Pak Gun tadi memang berhasil membuat kami penasaran.
Saya pun ikut tertawa. Ternyata hal sederhana seperti menunggu angka sepuluh bisa menjadi pengalaman yang menghibur. Setelah kejadian itu, saya mencoba memikirkan apa sebenarnya yang membuat kami tertawa. Bukankah hitungan satu sampai sepuluh sudah sering kita dengar? Sejak kecil kita mengenal angka tersebut. Tidak ada yang istimewa dari urutan hitungannya.
Ketika hitungan itu dilakukan di dalam air, dengan posisi tubuh melayang dan kepala harus tetap berada di bawah permukaan, suasananya menjadi berbeda. Kami tidak hanya mendengarkan angka. Kami sedang menunggu kesempatan untuk bernapas, mengubah posisi, dan melanjutkan aktivitas. Ternyata, menunggu beberapa detik bisa terasa begitu panjang ketika kita sedang mengharapkan sesuatu.
Dari kejadian kecil itu, saya mendapatkan beberapa pelajaran kehidupan. Pertama, tentang kesabaran. Tidak semua yang kita harapkan harus datang secepat yang kita inginkan. Kadang kita sudah merasa tinggal selangkah lagi, tetapi masih harus menunggu. Seperti hitungan Pak Gun tadi, angka sepuluh sebenarnya sudah dekat. Namun, ada jeda sebelum sampai pada tujuan.
Begitu pula kehidupan. Kita sering berharap segala sesuatu berjalan sesuai keinginan. Ketika berusaha, kita ingin segera berhasil. Ketika berdoa, kita ingin segera mendapatkan jawaban. Ketika menghadapi kesulitan, kita ingin segera menemukan jalan keluar.
Allah Subhanahu Wata'alla memiliki waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153,
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesabaran bukan sekadar kemampuan menahan diri, melainkan kekuatan untuk tetap berusaha dan percaya kepada ketentuan Sang Pencipta.
Kedua, belajar tentang pentingnya mengikuti arahan. Dalam latihan berenang, kami tidak boleh bertindak semaunya. Ada instruksi yang harus diperhatikan dan dipatuhi. Jika belum waktunya mengubah posisi, kami harus menunggu. Jika peluit sudah berbunyi dan hitungan selesai, barulah kami melakukan gerakan berikutnya.
Ketiga, belajar kebersamaan bisa menghadirkan kebahagiaan. Coba bayangkan jika kegiatan tadi dilakukan sendirian. Mungkin tidak akan ada tawa bersama. Justru jika dilakukan bersama-sama, pengalaman tersebut menjadi lebih menyenangkan.
Beliau sebenarnya bisa saja menghitung satu sampai sepuluh dengan cepat dan biasa-biasa saja. Dengan memberikan jeda setelah angka sembilan, suasana berubah menjadi lebih menarik. Saya melihat sebagai salah satu bentuk kreativitas seorang pembimbing. Beliau mampu membuat latihan yang mungkin terasa berat menjadi menyenangkan.
Sebagai seorang guru, saya merasa mendapatkan inspirasi berharga dari pak Gun. Seperti hitungan sembilan setengah tadi. Angka yang sebenarnya biasa, tetapi ketika ditempatkan pada situasi yang tepat, mampu menciptakan pengalaman yang berkesan.
Allah telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita. Salah satunya adalah kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang baik, bergerak, tertawa, dan belajar sesuatu yang bermanfaat.
Terima kasih, Pak Gun, atas bimbingan dan suasana latihan yang selalu memiliki cerita. Mungkin bagi beliau, jeda setelah hitungan sembilan hanyalah bagian kecil dari aktivitas latihan. Namun, bagi kami, kejadian itu menjadi hiburan. Kami berenang untuk ikhtiar sehat, tertawa untuk menghadirkan bahagia, dan belajar untuk memperkaya makna kehidupan.
Cepu, 6 November 2026
Selasa, 03 November 2026
Gelak Tawamu
Karya: Gutamining Saida
Percakapan di grup Muda
Swimming Squad2 tidak pernah kehilangan daya pikatnya. Setelah sempat
menggoyahkan niat sebagian anggota untuk latihan di Bumool, suasana sore itu
kembali menemukan hangatnya.
Di tengah gelak tawa di kolam,
Pak Gun malam hari meluncurkan barisan doa yang begitu tulus di dalam grup
disertai dokumentasi sore tadi.
"Lapangkan dada,
memohonlah kepada-NYA, semoga diberi umur panjang, sehat jasmani dan
rohani..."
Deretan kalimat doa itu terajut
indah, melayang di antara baris-baris pesan singkat sebelumnya. Itu bukan
sekadar untaian kata biasa, melainkan pengingat yang menyentuh sanubari di
waktu sore yang sejuk.
Membaca untaian doa dari sang
pelatih, jemari ibu-ibu yang tadinya ragu langsung bergerak cepat. Tanpa
komando, satu per satu ibu-ibu menyambutnya dengan kalimat seruan yang sama.
"Aamiin..."
"Aamiin ya Rabbal
'Alamin..."
“Aamiin Ya Allah…”
Kolom percakapan yang sempat sepi
mendadak dipenuhi gelombang amalan doa. Satu demi satu anggota grup menampakkan
diri. Mereka yang tadinya hanya menjadi pengamat pasif, termasuk yang ragu-ragu,
mendadak kembali aktif memberikan komentar dan emoji hangat. Doa yang
dipanjatkan Pak Gun seolah menjadi magnet yang menarik kita semua.
Pak Gun memang sosok pelatih yang
punya daya tarik tersendiri. Beliau sangat pandai memancing suasana agar tetap
hidup dan komunikatif. Pendekatannya tidak kaku seperti instruktur pada
umumnya, melainkan luwes dan penuh kehangatan. Beliau tahu persis bagaimana
cara mencairkan kebekuan, menyapa anggota dengan sapaan akrab, serta memberi
semangat di saat yang tepat.
Gaya komunikasinya yang humoris
berhasil membangun suasana kekeluargaan yang erat. Di bawah bimbingan dan
kehangatan caranya menyapa, ibu-ibu merasa dirangkul, dihargai, dan sangat
betah menjadi bagian dari kelompok ini. Berenang bukan lagi sekadar kegiatan
fisik untuk mengolah tubuh atau sekadar membasahi diri di kolam Bumool,
melainkan sudah menjadi ruang silaturahmi yang penuh warna dan keceriaan.
Kehadiran sosok pelatih yang
komunikatif seperti ini menyatukan berbagai latar belakang dan karakter ibu-ibu.
Dalam grup selalu konsisten terjaga. Gurauan kecil, perhatian sederhana, dan
doa tulus yang saling bertukar membuat ikatan di antara mereka terasa makin
kokoh setiap harinya.
Sore yang tadinya dibayangi rasa
enggan, akhirnya ditutup dengan rasa syukur. Ungkapan doa dari Pak Gun tak
hanya melapangkan dada, tetapi juga meluruskan kembali niat. Di kolam renang,
ada kebersamaan dan kesehatan yang patut terus dirawat bersama.
Cepi, 3 November 2026
Basah Kuyub
Karya: Gutamining Saida
Hujan yang turun beberapa hari
terakhir rasanya seperti penawar dahaga bagi bumi yang sudah terlalu lama
merana. Setelah didera kemarau panjang yang menguras sumber air dan
meninggalkan debu-debu beterbangan. Tetes-tetes air dari langit hadir membawa
berkah yang tak terhingga. Suasana berubah drastic. Hawa panas yang biasanya
menyengat perlahan menguap, berganti dengan aroma tanah basah yang khas dan
suhu udara yang terasa sedikit dingin menyejukkan. Suasana sejuk ini menjadi
pengingat betapa besarnya nikmat Allah Subhanahu Wata’alla yang wajib kita
syukuri. Terlebih lagi jika membayangkan saudara-saudara kita di daerah lain
yang saat ini masih harus berjuang keras demi mendapatkan setetes air bersih.
Datangnya musim hujan selalu
membawa cerita tersendiri dalam dinamika kehidupan sehari-hari, termasuk di
dalam grup percakapan digital. Riak-riak semangat mulai menghiasi layar ponsel
melalui grup Muda Swimming Squad2. Sebuah pesan berhembus, memecah
keheningan siang.
"Bu ibu, ayo nanti sore
latihan!" tulis salah seorang anggota grup dengan penuh semangat.
Tak butuh waktu lama, ajakan
tersebut langsung menyulut respons dari ibu-ibu lainnya. Wacana berenang di
Bumool pun mendadak riuh.
"Nich edisi cari teman. Ayo
dilist ya!" lanjutnya singkat, mengajak siapa saja yang siap meluncur ke
kolam sore nanti.
Respons demi respons mulai
berdatangan mengisi kolom obrolan. Bu Rini menjadi orang pertama yang menyambar
ajakan tersebut dengan keyakinan penuh. "Saya rencana datang," tulis
beliau tegas, menetapkan namanya di barisan teratas daftar.
Namanya juga musim hujan,
kepastian cuaca selalu menjadi fenomena yang sulit ditebak. Keraguan mulai
merayap saat bu Isna ikut bersuara. "Insya Allah datang bila gak
hujan," saut beliau dengan nada hati-hati.
Kekhawatiran itu bukan tanpa
alasan. Tak lama kemudian, bu Nafia membagikan kabar situasi terkini dari
wilayahnya. "Kedungtuban awan gelap, Bu! Tapi Insya Allah hadir,"
lapornya. Laporan cuaca dari berbagai tempat pun mulai memenuhi ruang
percakapan, menggambarkan mendungnya langit sore.
Sementara percakapan di grup
semakin hangat, saya memilih bertindak sebagai pengamat saja dari balik layar. Membaca setiap baris pesan yang masuk membawa
keunikan tersendiri. Dalam hati, timbul sebuah pertanyaan yang agak menggelitik.
Kenapa ya orang-orang begitu khawatir
hujan turun saat hendak berenang? Bukankah tanpa hujan pun, begitu menceburkan
diri ke kolam, kita juga bakal basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki?
Logika yang sering kali terlupakan saat kita berhadapan dengan rasa enggan
menembus gerimis.
Prediksi awan gelap akhirnya terbukti. Bu Lyna menjadi orang pertama yang membatalkan niatnya karena realitas cuaca sudah menghadang di depan mata. "Saya tidak jadi datang, Cepu sudah gerimis," tulisnya, memilih untuk berada di zona aman dan hangat di rumah. Di tengah pembatalan dan keraguan yang mulai meluas, tiba-tiba sebuah pesan masuk memecah suasana. Pak Gun mengirimkan sebuah foto beserta komentar singkat, "Nich saya basah kuyup."
Melihat foto dan membaca pesan
dari pak Gun, saya tak sanggup menahan senyum. Saya tertawa geli. Bagaimana
tidak? Pak Gun adalah seorang pelatih renang. Bagi seorang pelatih renang saat di
tepi maupun di dalam kolam, basah kuyup adalah pakaian sehari-harinya. Ada atau
tidak ada hujan turun dari langit, air kolam renang pasti akan selalu
membuatnya basah kuyup dari sore ke sore. Kehadiran foto pak Gun seolah menjadi
penutup drama cuaca dan niat berenang ibu-ibu sore itu.
Begitulah warna-warni kecil dalam
komunitas Muda Swimming Squad2. Hujan mungkin membuat sebagian rencana
berenang terhenti dan membasahi jalanan, tetapi kehangatan silaturahmi, gurauan
ringan, dan rasa syukur atas rezeki air dari-Nya selalu berhasil menghangatkan grup.
Salam Sehat bu ibu dan pak Gun.
Cepu, 3 November 2026
Senin, 02 November 2026
Yang Mana Diriku?
Karya: Gutamining Saida
Kolam renang Bumool mendadak menjadi panggung keajaiban arena tempat kebahagiaan. Di tempat ini, sekumpulan ibu-ibu perkasa melebur dalam spontan yang melampaui batas-batas gerak tangan yang meraup air, mengangkatnya ke angkasa, lalu membantingnya
turun demi menutupi wajah masing-masing dalam tirai cair.
Tidak ada satu pun manusia di muka bumi yang mampu menemukan gaya tangan yang sama persis dalam
detik-detik. Ada yang meraup air dengan jemari terkembang bagai
kipas merak, ada yang menggenggamnya erat-erat seolah sedang menggenggam takdir, ada pula yang menciduknya dengan kepalan setengah hati yang justru
memercikkan ke segala penjuru arah angin. Raut wajah
mereka? Dari bibir yang merekah lebar membentuk kebahagiaan tanpa ujung, mata yang terpejam rapat hingga
kerutan dahi yang meleleh pasrah karena gelombang tawa yang teramat
dahsyat.
Dalam satu komando tangan-tangan itu bergerak serempak. Air kehidupan diangkat tinggi-tinggi,
membubung megah menantang matahari, sebelum akhirnya diguyurkan deras
menutupi seluruh wajah. Seketika itu pula, dunia luar yang penuh hiruk-pikuk,
kebisingan rutinitas, dan beban hidup yang menindih pundak mendadak lenyap
tanpa jejak, tertelan oleh kepekatan air yang menyegarkan.
Wajah-wajah tertutup air. Di
balik tabir air yang mengalir turun di dahi, pipi, dan dagu, tercipta sebuah
dimensi tanpa rupa dan tanpa topeng sosial. Kami mendadak menjadi
makhluk tanpa identitas duniawi. Betapa luar biasa sensasi ketika mata terpejam
di balik guyuran air, di mana kita tidak lagi perlu melihat wajah satu sama
lain. Tidak ada lagi penilaian, tidak ada lagi standar kecantikan yang fana,
tidak ada lagi sekat usia atau jabatan. Di dalam air yang membasahi sekujur
raga, kami semua sama.
Di dalam kolam yang ada di dalam cekungan keramik berair biru itu hanyalah
ledakan-ledakan kegembiraan yang membahana, menggetarkan permukaan air hingga
menciptakan riak-riak kebahagiaan yang menjalar sampai ke pusat bumi.
Setiap kali tawa meledak dari mulut-mulut yang tersembunyi di balik guyuran air, suaranya melengking tinggi, menembus awan, menampar angin dengan gelombang energi positif. Tawa itu bukan sekadar pelampiasan. Suara tawa yang berderai-derai itu berbenturan dengan dinding-dinding kolam, memantul berkali-kali lipat, menciptakan gema sukacita . Siap menaklukkan sisa hari dengan senyum yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh badai apa pun di dunia luar.
Cepu, 2 November 2026
Bahagia Milik Siapa Saja
Karya: Gutamining Saida
Suara kecipak air memecah pelan
di tepi kolam. Sekelompok ibu-ibu yang hadir, gemercik air bukan sekadar tempat
berolahraga biasa. Tempat itu telah menjelma menjadi panggung tempat
kegembiraan dilepaskan tanpa sekat. Setiap kali langkah kaki menapaki lantai
kolam ada rasa riang yang meletup begitu saja. Di tempat inilah senyum
mengembang bebas, gelak tawa pecah tanpa ragu, dan suara keras membahana
menembus area renang.
Di tengah keseruan itu, sosok Pak
Gun berdiri penuh energi di tepi kolam. Tatapannya tajam mengamati setiap
gerakan bu ibu yang antusias. Meski terkadang geraknya masih perlu dibenahi.
Ketika aba-aba gerakan belum pas, dorongan semangat dari sang pelatih pun
langsung berkumandang.
"Ayo ibu-ibu, diulang! Suara
yang keras sambil bawa air ke arah atas!" perintah Pak Gun tegas namun
berbalut keakraban.
Tak berhenti di situ, beliau
segera menimpali aba-aba dengan kalimat sarat doa. "Ucap sehaaaaat... gitu
nggih!" tambah Pak Gun sembari mencontohkan tangannya menepis air ke atas,
membumbungkan cipratan jernih.
Seketika itu ibu-ibu menyambut
instruksi dengan tawa lepas. Tangan-tangan meraup air, mendorong tinggi ke
udara, diiringi teriakan bersahut-sahutan yang membahana "Sehaaaaat!"
Suara itu tidak sekadar keluar dari tenggorokan, melainkan meluncur deras dari
dalam dada yang penuh kepuasan. Teriakan melengking menyatu bersama riakan air
yang terangkat ke atas.
Bukan berarti ketika berada di
luar area kolam renang, ibu-ibu kehilangan senyum dan tawa. Tentu saja tidak.
Jangan sampai ada salah paham mengira hidup mereka di rumah sepi dari
kebahagiaan. Ada aura berbeda yang tercipta saat berkumpul ramai-ramai di air.
Atmosfer kebersamaan itu melipatgandakan energi. Beban rutinitas harian,
kepenatan mengurus rumah tangga, hingga lelahnya urusan pekerjaan seolah
meluruh begitu saja saat tubuh menyentuh air dan tawa bersama meledak.
Kehadiran teman yang sama-sama
berjuang menggerakkan badan, serta pelatih yang tak henti memberi dorongan
positif membuat suasana kolam riuh. Kolam renang berubah menjadi ruang rekreasi
jiwa, sebuah Oase tempat melepaskan segelintir kepenatan hidup.
Di sela-sela jeda latihan, sambil
mengelap sisa-sisa air di wajah, Pak Gun sering kali menyelipkan pesan-pesan sederhana.
Beliau mengingatkan bahwa kesehatan fisik dan kedamaian pikiran dua hal yang erat.
Kesehatan adalah pondasi utama, dan dari sanalah rasa bahagia terpancar.
"Sehat adalah bagian dari
bahagia. Gunakan dan manfaatkan kebahagiaan dengan versi dan cara panjenengan
merasa nyaman," tutur Pak Gun kepada ibu-ibu yang sedang menyandarkan
badan di tepi kolam. Beliau melanjutkan dengan penekanan yang mendalam,
"Bahagia itu hak semua orang."
Pesannya begitu mengena.
Kebahagiaan tidak memiliki standar baku yang kaku. Bagi ibu-ibu wujud bahagia sangat
sederhana berteriak lepas. Tidak perlu syarat yang rumit berlebih untuk hidup.
Cukuplah menciptakan momen di mana hati merasa nyaman dan tenang.
Ketika sesi berakhir dan air
kolam kembali tenang, riak-riak kecil bekas kecipak gerakan perlahan menyurut. Gema
teriakan "Sehaaaaat!" dan gelak tawa hangat itu tidak ikut
surut. Energi positif terbawa pulang dan bahagia milik siapa saja yang pandai
bersyukur dan nyaman dengan versinya sendiri. Sampai jumpa!
Cepu, 2 November 2026
Minggu, 01 November 2026
Keunikan Muda Swimming Squat2
Karya: Gutamining Saida
Tidak semua rezeki datang dalam bentuk materi. Terkadang, Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan rezeki melalui pertemuan dengan orang-orang baik, lingkungan yang menyenangkan, dan kesempatan untuk belajar sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan. Salah satu nikmat yang saya rasakan ketika menjadi bagian dari keluarga besar Muda Swimming Squad2.
Awalnya, kehadiran saya di kolam renang memiliki tujuan sederhana, yaitu berikhtiar menjaga kesehatan. Saya menyadari tubuh membutuhkan perhatian dan perawatan. Usia yang terus bertambah mengingatkan bila kesehatan merupakan amanah Allah Subhanahu Wata'alla yang harus dijaga. Salah satu ikhtiar yang saya pilih belajar berenang dan membiasakan diri bergerak di dalam air.
Perjalanan ini ternyata memberikan lebih banyak daripada yang saya bayangkan. Saya tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk belajar berenang, tetapi juga dipertemukan dengan banyak orang yang membawa semangat dan energi positif.
Muda Swimming Squad2 merupakan kelompok yang cukup unik. Anggotanya didominasi oleh mereka yang berusia tiga puluh sampai ltujuh puluh lima tahun. Meskipun demikian, semangat untuk berolahraga dan menjaga kesehatan tidak kalah dengan mereka yang masih muda.
Keberagaman menjadi salah satu keistimewaan kelompok ini. Ada anggota yang datang bersama tiga generasi, dua generasi. Ada pula yang terdiri atas anak, cucu dan ibu, empat bersaudara. Sebagian berasal dari satu instansi, ada yang bertetangga, teman dekat, dan berbagai hubungan lainnya.
Sungguh menarik melihat bagaimana orang-orang dengan latar belakang berbeda dapat berkumpul dalam satu tempat dengan tujuan yang sama. Ada yang datang bersama keluarga, ada yang mengajak saudara, ada yang bersama rekan kerja, dan ada pula yang awalnya mungkin hanya ingin mencoba. Lama-kelamaan, kegiatan ini menjadi bagian dari aktivitas yang dinantikan.
Masing-masing memiliki cerita, pengalaman, kemampuan, dan kondisi tubuh yang berbeda. Akan tetapi, semuanya mempunyai kesamaan, yaitu keinginan untuk menjaga kesehatan. Tidak ada persaingan untuk menjadi yang paling hebat. Tidak ada tuntutan semua harus bisa berenang dengan kemampuan yang sama. Setiap orang mempunyai proses dan perkembangan masing-masing.
Berbeda usia, berbeda latar belakang, berbeda kemampuan, tetapi mempunyai satu tujuan ikhtiar sehat. Kegiatan latihan secara khusus dijadwalkan setiap hari Sabtu dan Minggu sore. Kedua hari tersebut menjadi waktu yang dinantikan oleh anggota Muda Swimming Squad2.
Setelah menjalani kesibukan masing-masing, akhir pekan menjadi kesempatan untuk berkumpul, berolahraga, dan belajar bersama. Ada semangat tersendiri ketika mengetahui bahwa hari latihan telah tiba. Karena antusiasme anggota yang terkadang begitu besar, ada kesempatan tambahan atau bonus latihan pada Rabu dan Jumat sore.
Tentu saja, kesempatan ini tidak selalu tersedia. Sifatnya situasional, bergantung pada banyaknya anggota yang hadir dan kesempatan Pak Gun untuk membersamai kami. Ketika banyak anggota datang, Pak Gun memberikan kesempatan untuk berlatih bersama. Wah, tentu saja ini menjadi kebahagiaan tersendiri!
Rasanya seperti mendapatkan bonus yang tidak terduga. Bukan bonus berupa uang atau barang, melainkan tambahan kesempatan untuk belajar, memperbaiki gerakan, dan mendapatkan bimbingan. Bagi saya, kesempatan seperti ini sangat berharga. Sebab, dalam belajar berenang, pengulangan dan latihan sangat diperlukan. Tidak cukup hanya melihat orang lain melakukan gerakan, tetapi kita juga harus berani mempraktikkannya.
Kadang gerakan sudah dicontohkan, tetapi ketika dipraktikkan sendiri hasilnya belum sesuai harapan. Ada yang masih kesulitan mengatur pernapasan, menggerakkan kaki, menjaga keseimbangan, atau menghilangkan rasa takut terhadap air.
Di sinilah pentingnya kesempatan belajar bersama secara berulang. Saya semakin memahami bahwa keberhasilan membutuhkan proses. Tidak ada hasil yang benar-benar baik tanpa kesungguhan dan kesabaran.
Di balik kegiatan Muda Swimming Squad2, ada sosok pembimbing yang mempunyai peran penting, Beliau bernama Pak Gun. Sebagai guru yang profesional, beliau tidak hanya memberikan contoh gerakan, tetapi juga membimbing, mengarahkan, dan memberikan motivasi kepada para anggota.
Setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda. Ada yang sudah mahir, ada yang sedang mengembangkan teknik, dan ada pula yang masih berada pada tahap awal belajar. Menghadapi keberagaman tersebut tentu membutuhkan kesabaran dan kemampuan tersendiri.
Karena itu, pendampingan dan arahan yang tepat sangat dibutuhkan. Seorang guru bukan hanya mengajarkan bagaimana melakukan gerakan, tetapi juga membantu murid membangun keberanian. Tidak semua orang bisa langsung berhasil. Ada yang harus mencoba berkali-kali sebelum akhirnya mendapatkan hasil yang diharapkan.
Saya sendiri merasakan proses belajar membutuhkan mental yang kuat. Ketika belum berhasil, terkadang muncul rasa malu atau kecewa. Saat melihat anggota lain tetap bersemangat, saya kembali mendapatkan dorongan untuk mencoba.
Kehadiran teman-teman di kolam memberikan suasana yang menyenangkan. Ada sapaan, senyuman, canda, dan cerita yang membuat suasana terasa lebih akrab. Terkadang, hal sederhana seperti saling menyapa sudah cukup membuat hati bahagia. Melihat orang lain tetap bersemangat meskipun memiliki keterbatasan juga menjadi motivasi tersendiri.
Saya bersyukur karena berada di tengah orang-orang yang memberikan energi positif. Mereka menjadi bagian dari perjalanan saya dalam menjaga kesehatan, baik secara fisik maupun mental.
Menjaga kesehatan merupakan bentuk ikhtiar sekaligus rasa syukur atas amanah yang diberikan Allah. Masih diberi kesempatan untuk datang ke kolam, bertemu teman-teman, belajar bersama, dan menggerakkan tubuh merupakan hal yang patut disyukuri.
Bagi saya, berenang bukan sekadar olahraga. Ada pembelajaran tentang kesabaran, keberanian, kedisiplinan, dan keyakinan bahwa setiap proses membutuhkan waktu. Saya tidak pernah menyangka bahwa ikhtiar menjaga kesehatan akan mempertemukan saya dengan begitu banyak orang yang membawa kebaikan.
Terima kasih kepada Pak Gun yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan untuk terus belajar. Terima kasih kepada seluruh anggota yang telah menghadirkan suasana hangat dan menyenangkan. Semoga jadwal Sabtu dan Minggu tetap menjadi kesempatan yang membawa manfaat. Begitu pula kesempatan bonus pada Rabu dan Jumat sore, semoga menjadi tambahan kebahagiaan ketika Allah memberikan kelapangan waktu dan kesempatan.
Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan saya dengan orang-orang baik. Jagalah kesehatan kami, kuatkan tubuh kami, lapangkan hati kami, dan jadikan kebersamaan ini sebagai jalan untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Semoga usia yang terus bertambah tidak mengurangi semangat kami untuk beraktivitas, belajar, dan beribadah. Semoga setiap ikhtiar menjadi amal kebaikan dan setiap pertemuan membawa keberkahan. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Cepu, 1 November 2026
Jumat, 30 Oktober 2026
Ular Tangga IPSku
Karya: Gutamining Saida
Suasana kelas 8D pada hari Kamis siang menjelang akhir pembelajaran selalu memiliki ritme tersendiri. Pukul 5-6 biasanya menjadi jam-jam yang rawan bagi konsentrasi siswa. Rasa lelah setelah seharian digempur berbagai mata pelajaran membuat energi anak-anak terkuras. Nuansa yang berbeda di sudut ruangan kelas 8D. Udara berhembus melalui jendela-jendela kelas yang terbuka, menambah semangat mereka. Di depan dekat papan tulis, belakang meja formasi kelompok, terdampar papan permainan ular tangga menanti untuk dijelajahi.
Pekan lalu, instruksi telah saya diberikan dengan jelas. Setiap kelompok mendapat tantangan menyiapkan dadu, pion, serta daftar pertanyaan IPS buatan mereka sendiri untuk diintegrasikan ke dalam permainan ular tangga IPS. Ini bukan sekadar permainan ular tangga biasa yang dibeli di toko mainan. Namun sebuah media edukatif di mana materi IPS yang kerap dianggap penuh hafalan, kini menjadi arena petualangan.
Sejak bel tanda pergantian jam berbunyi saya memasuki ruangan. Wajah-wajah yang tadinya tampak lesu seketika berbinar cerah. Mereka menagih janji. Suatu janji yang sudah dinanti sejak pekan lalu untuk segera mencoba dan bermain papan permainan ular tangga.
Mereka terbagi menjadi enam kelompok. Pembentukan kelompok secara bebas. Tanpa campur tangan saya. Mereka memilih teman yang mencerminkan kedekatan pertemanan. Sejak awal sudah terlihat sibuk merapikan perlengkapan tulis, mencatat skor, dan memastikan kartu soal tertata rapi. Ada pula kelompok yang diisi sepenuhnya oleh siswa laki-laki, yang langsung memamerkan dadu berukuran agak besar dengan gelak tawa. Mereka saling berbalas candaan mengenai siapa yang paling jago melempar dadu nanti. Tidak ketinggalan, kelompok campuran antara laki-laki dan perempuan turut menghiasi suasana.
Sebelum melangkah di atas kotak start, sebuah ritual kecil yang tak ditinggalkan oleh mereka yaitu hompimpah. Suara riuh tangan dengan ayunan serentak. "Hompimpah alaium gambreng!" suara mereka Tawa langsung pecah ketika mereka kalah dan harus rela urutan lemparan terakhir. Sementara pemenang hompimpah bersorak memegang dadu untuk giliran pertama. Ritual sederhana ini bukan sekadar penentu urutan, melainkan sebuah pencair suasana.
Begitu permainan dimulai, suasana kelas berubah menjadi lautan energi positif. Papan ular tangga IPS mendadak hidup. Setiap kali dadu dilemparkan mata seluruh anggota kelompok langsung tertuju tajam pada angka yang muncul. Keseruan bukan terletak pada siapa yang paling cepat mencapai kotak finish, melainkan pada momen ketika pion mendarat di kotak tangga dan ular.
Di sinilah proses belajar IPS tanpa terasa sebagai beban. Lembaran kertas berisi soal-soal seputar materi dibacakan dengan nada serius. Jika mampu menjawab dengan tepat, mereka berhak tetap berada di posisinya atau bahkan menaiki tangga keberuntungan. Jika tepat di gambar ular mereka harus meliuk ke bawah.
Waktu berjalan begitu cepat. Jarum jam dinding kelas bergerak merangkak, mendekati detik-detik berakhirnya jam pelajaran. Waktu istirahat telah tiba. Biasanya, pada jam-jam seperti ini, mereka bersiap menyambut suara bel.
Suara bel panjang tanda pergantian jam berdering nyarin. Suara bel seakan menguap begitu saja, kalah gaung oleh riuhnya permainan ular tangga. Tidak ada satu pun kelompok yang bergegas merapikan alat permainan. Tangan mereka masih sibuk memegang pion, mata masih mengawasi jalannya giliran kawan sekelompok.
"Ayo sudah, belnya sudah berbunyi."ucap saya singkat.
Kalimat itu, yang biasanya menjadi komando para siswa untuk berhamburan keluar kelas, hari ini mendatفقkan respons yang sama sekali di luar kebiasaan. Tanpa dikomando, jawaban serempak memenuhi seisi ruangan.
"Bentar, Bu..."
Jawaban itu diucapkan begitu kompak, oleh anak-anak kelas 8D. Mereka menolak untuk istirahat. Pikiran mereka sepenuhnya terkunci pada guliran dadu berikutnya, pada pertanyaan IPS yang belum terjawab. Seolah-olah, jajanan favorit di kantin, dan rasa lelah seharian menguap begitu saja, tergantikan oleh kepuasan batin belajar bersama melalui permainan.
Ketika materi pelajaran dikemas dengan kreativitas yang menyentuh dunia mereka. IPS tidak lagi membosankan. Ruang kelas bukan lagi tempat di mana siswa duduk pasif mengantuk. Pemahaman konsep IPS berpadu dalam tawa. Bel boleh berdering, waktu boleh saja menuntut pergantian jam, tetapi kenangan tentang bagaimana pelajaran IPS mampu membuat mereka lupa waktu. Sampai jumpa kembali.
Cepu, 30 Oktober 2026
Kamis, 29 Oktober 2026
Uang Membuat Membara
Belajar tidak harus menggunakan buku paket dan papan tulis. Terkadang, dengan sesuatu yang sederhana
dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mampu menghadirkan
kejutan, rasa penasaran, dan semangat belajar yang luar biasa. Salah satunya
dengan media uang kertas.
Uang merupakan benda yang menarik
bagi semua orang, tidak terkecuali siswa. Melihat uang, siapa yang tidak
tertarik? Apalagi jika uang tersebut memiliki beragam pecahan. Dari
ketertarikan itulah saya mendapatkan ide untuk menjadikan uang kertas sebagai media
pembelajaran IPS. Harapannya, siswa tidak hanya tertarik pada uang sebagai alat
pembayaran, siswa semakin semangat mempelajari materi IPS. Saya ingin
menumbuhkan minat IPS bukan sebagai pelajaran yang membosankan.
Hari Kamis, saatnya pembelajaran IPS di kelas 8A di jam terakhir. Waktu yang cukup menantang bagi seorang guru. Setelah mengikuti berbagai pelajaran sejak pagi, biasanya energi siswa mulai berkurang. Ada yang mulai mengantuk, berbicara dengan teman sebangku, bahkan pikirannya sudah tertuju waktu pulang.
Saya tidak ingin suasana pembelajaran kehilangan semangat. Saya berusaha menghadirkan perhatian mereka kembali tertuju pada pelajaran. Materi yang saya sampaikan berkaitan dengan aktivitas manusia dan hubungannya dengan toponimi. Saya terlebih dahulu menjelaskan materi, memberikan contoh, serta mengajak siswa memahami bagaimana aktivitas manusia, kondisi lingkungan, sejarah, dan kebiasaan masyarakat dapat memengaruhi penamaan suatu tempat.
Setelah penjelasan materi selesai, saya sudah menyiapkan sebuah tantangan. Bukan sekadar soal yang harus dijawab seperti biasanya, melainkan pertanyaan-pertanyaan yang saya tempelkan pada media uang kertas. Saya membawa beberapa pecahan uang rupiah. Ada uang seribu, dua ribu, lima ribu, dua puluh ribu, hingga seratus ribu rupiah. Setiap lembar memiliki pertanyaan yang harus diselesaikan siswa dalam buku tugas masing-masing.
Saatnya memberikan kejutan! Saya mulai mengeluarkan uang satu per satu saya letakkan di atas meja. Kemudian saya jajar hingga memenuhi permukaan meja. Berbagai pecahan uang terlihat jelas. Pemandangan yang tidak biasa dalam pembelajaran IPS.
Seketika perhatian siswa tertuju kepada saya. Mereka memperhatikan dengan ekspresi yang beragam. Ada yang tersenyum, ada yang tampak heran, bahkan ada yang seakan tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.
"Bu, buat apa uangnya?" tanya Atta dengan penuh rasa penasaran.
"Bagi-bagi uang ya, Bu?" sahut Kenzi.
"Uang benerankah Bu?"tanya Galih
Pertanyaan itu disambut perhatian teman-temannya. Untuk sementara, saya memilih diam. Saya ingin melihat reaksi mereka lebih dahulu. Ada rasa penasaran yang sengaja saya biarkan tumbuh. Saya merasa senang. Ternyata, hanya dengan meletakkan uang di atas meja, perhatian siswa yang semula mulai berkurang kembali terpusat.
Mereka mengira akan mendapatkan uang secara cuma-cuma. Padahal, ada misi belajar yang sudah menunggu. Setelah beberapa saat, saya mulai memberikan instruksi.
"Silakan pilih satu lembar uang yang kalian sukai. Perhatikan pertanyaan yang ada dibaliknya, kemudian kerjakan jawabannya di buku tugas IPS."ucap saya.
Mendengar instruksi tersebut, mereka mulai bergerak. Ada yang langsung berdiri dan mendekati meja. Ada yang memperhatikan pecahan uang sebelum menentukan pilihan. Ada pula yang terlihat membandingkan satu lembar dengan lembar lainnya.
Masing-masing mempunyai selera. Ada yang tertarik dengan uang pecahan seribu, ada yang memilih dua ribu, lima ribu, bahkan ada yang langsung mengincar uang seratus ribu. Saya membiarkan mereka memilih. Tidak ada paksaan untuk mengambil pecahan tertentu. Semua mempunyai kesempatan yang sama untuk mengikuti tantangan.
Ada satu hal yang perlu mereka pahami. Uang yang mereka pilih bukan hadiah untuk dibawa pulang. Uang tersebut merupakan media yang berisi soal-soal IPS. Hadiah sesungguhnya adalah ilmu dan pengalaman belajar yang mereka dapatkan.
Setelah mengambil satu lembar uang, siswa kembali ke tempat duduk masing-masing. Mereka mulai membaca pertanyaan dan menuliskan jawabannya di buku tugas. Suasana kelas perlahan berubah. Siswa yang sebelumnya mungkin terlihat kurang bersemangat kini mulai sibuk dengan tugasnya. Ada yang membaca pertanyaan berulang kali, ada yang berpikir mencari jawaban, dan ada pula yang berdiskusi kecil dengan teman di dekatnya.
Saya mengamati pekerjaan mereka. Sesekali saya mendekati siswa yang terlihat kebingungan. Saya memberikan arahan tanpa langsung membocorkan jawabannya. Saya ingin mereka berusaha menemukan jawaban berdasarkan pemahaman materi yang telah dipelajari.
Setelah menyelesaikan satu pertanyaan, mereka kembali untuk memilih uang berikutnya. Begitu seterusnya sampai batas waktu yang sudah saya tentukan. Aktivitas sederhana itu ternyata mampu menghadirkan suasana belajar yang berbeda. Siswa tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan guru. Mereka bergerak, memilih, membaca, berpikir, menulis, dan menyelesaikan tantangan.
Inilah salah satu bentuk pembelajaran aktif. Siswa dilibatkan secara langsung dalam proses belajar. Mereka mempunyai kesempatan untuk menentukan pilihan sekaligus bertanggung jawab menyelesaikan tugasnya.
Oleh karena itu, uang sangat tepat dijadikan media untuk menghubungkan pembelajaran IPS dengan kehidupan nyata. Dari uang, siswa dapat belajar banyak hal. Mereka dapat mengenal berbagai pecahan rupiah, memahami fungsi uang, belajar mengelola keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membangun kebiasaan menggunakan uang secara bijak.
Materi toponimi mengajak siswa memahami hubungan antara manusia dan tempat tinggalnya. Penamaan suatu wilayah tidak muncul begitu saja. Ada sejarah, kondisi alam, aktivitas masyarakat, serta kebudayaan yang menjadi latar belakangnya.
Saya ingin menunjukkan yang mereka sukai dapat dijadikan pintu masuk untuk mengenal IPS dari dekat dan keberhasilan. Pembelajaran bukan hanya ketika seluruh soal selesai dikerjakan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat siswa yang awalnya kurang memperhatikan berubah menjadi aktif. Ketika mereka berani bertanya, mau mencoba, dan bersemangat menyelesaikan tantangan.
Saya berharap pengalaman belajar ini meninggalkan kesan di hati mereka. Kelak, ketika mendengar kata IPS, mereka mengingat pengalaman memilih uang di atas meja, membaca pertanyaan, berpikir, dan menyelesaikan tantangan bersama teman-temannya.
Tugas seorang guru bukan sekadar menyampaikan materi sampai selesai. Lebih dari itu, guru harus menyalakan rasa ingin tahu, membangun keberanian untuk mencoba, dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Yang diperlukan adalah kemauan untuk terus berkreasi agar IPS semakin dekat dengan kehidupan dan semakin dicintai siswa. Semoga menginspirasi guru lain.
Cepu, 30 Oktober 2026








.jpeg)

