Jumat, 14 Agustus 2026

Teriakan Sehat

 


Karya: Gutamining Saida

Ada sebuah tempat yang selalu menghadirkan fenomena menarik. Setiap kali datang ke sana, rasanya seperti memasuki ruang yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Tempat itu adalah kolam. Entah mengapa, kesedihan seolah kehilangan tempat untuk bersembunyi. Kesusahan yang mungkin dibawa dari rumah, persoalan pekerjaan yang belum selesai, kelelahan menghadapi kehidupan, pikiran yang sempat penuh dengan berbagai masalah, perlahan seperti dilarungkan bersama air.

Bukan berarti orang-orang yang datang ke kolam tidak memiliki masalah. Mereka tetap manusia. Mereka memiliki cerita masing-masing. Ada yang datang dengan tubuh lelah,  sedang berjuang menjaga kebugaran, ingin menghilangkan rasa takut, ingin belajar berenang, dan  sekadar membutuhkan teman untuk berbagi cerita.

Begitu kaki menginjak area kolam, sesuatu seperti berubah. Wajah-wajah yang semula tampak serius perlahan berubah menjadi senyum. Sapaan mulai terdengar. Tawa mulai pecah. Saling menggoda menjadi hal biasa. Kesalahan dalam melakukan gerakan pun bisa menjadi bahan tertawaan bersama.

Di situlah keindahan kolam.Tidak harus selalu sempurna untuk bisa bahagia. Salah gerakan, tertawa. Salah posisi, tertawa. Saling bertabrakan ketika latihan, tertawa. Bahkan ketika tidak sengaja saling menendang pun, bukannya marah, justru tertawa.

Suasana semakin meriah ketika Pak Gun memberikan instruksi. Gaya khasnya yang penuh semangat, ia mengajak semua peserta menikmati latihan bukan sebagai beban, melainkan sebagai kegembiraan bersama.

Ayo, Bu Ibu, masuk! Tenggelamkan kepala, terus muncul ke atas! Tangan ambil air, lalu lemparkan sambil sorak... sehat!

Seketika ibu-ibu mengikuti aba-aba tersebut. “Sehaaaat!” Suara itu menggema di sekitar kolam. Kepala masuk ke dalam air, kemudian muncul lagi. Tangan mengambil air dan melemparkannya ke udara. Air berhamburan. Wajah-wajah basah justru semakin ceria. Ada yang gerakannya tepat, ada yang terlambat, ada yang terlalu bersemangat hingga air mengenai teman di sebelahnya.

Pak Gun pun terus memberikan semangat. Instruksinya bukan sekadar mengajak tubuh bergerak, tetapi seperti mengajak hati untuk ikut bergerak. Di kolam, olahraga tidak terasa seperti kewajiban. Ia berubah menjadi permainan. Terapi berubah menjadi kebersamaan. Latihan berubah menjadi kesempatan untuk tertawa.

Salah satu rahasia mengapa orang-orang betah datang kembali. Bayangkan, dalam kehidupan sehari-hari, tersenggol sedikit saja terkadang bisa membuat seseorang kesal. Tetapi di kolam, ketika kaki seseorang tidak sengaja mengenai kaki teman di sebelahnya, yang muncul justru tawa. “Eh, ngapunten!” Lalu disambut dengan senyum. Tidak ada dendam. Tidak ada kemarahan. Semuanya kembali seperti biasa.

Barangkali karena air mengajarkan satu hal penting: jangan terlalu serius menghadapi kesalahan. Air tidak pernah marah ketika seseorang jatuh ke dalamnya. Air menerima. Air tidak menertawakan ketika seseorang belum bisa melakukan gerakan dengan baik. Air tetap menjadi tempat untuk belajar.

Ada yang gerakannya sudah bagus. Ada yang masih kaku. Ada yang sudah berani meluncur. Ada yang masih takut. Ada yang bisa mengapung dengan tenang. Ada pula yang masih berjuang mengendalikan napas. Tetapi semuanya berada dalam satu tempat. Tidak ada yang merasa lebih tinggi. Mereka belajar bersama.

Kolam bukan sekadar tempat untuk menggerakkan tubuh. Kolam juga menjadi tempat untuk menggerakkan hati. Tawa yang muncul bukan sekadar suara. Tawa itu seperti pelepasan. Pelepasan dari ketegangan, kekhawatiran, dan beban yang selama ini mungkin dipendam sendirian.

Menariknya lagi, setiap pertemuan hampir selalu memiliki penutup yang sama: foto dan video. Setelah latihan selesai, orang-orang berkumpul. Ada yang masih basah, ada yang rambutnya berantakan, ada yang kelelahan, ada yang baru selesai melakukan gerakan tertentu. Namun ketika kamera diarahkan, hampir semuanya tersenyum.

Foto-foto itu kemudian menjadi bukti bahwa pernah ada sebuah pertemuan yang penuh kebahagiaan. Mungkin beberapa jam sebelumnya masing-masing membawa masalah. Tetapi ketika kamera mengambil gambar, yang tersimpan adalah senyum.

Bukankah hidup juga seperti itu? Kita tidak bisa memilih agar kehidupan selalu bebas dari masalah. Kita tidak bisa meminta agar setiap hari berjalan sesuai keinginan. Kesedihan pasti datang. Kegagalan mungkin terjadi. Tubuh bisa lelah. Hati bisa kecewa.

Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana menghadapi semuanya. Kolam memberikan contoh yang sederhana.

Datanglah. Bergeraklah. Tersenyumlah. Berbagilah.

Senyum sederhana dari kita adalah obat bagi seseorang yang sedang menyembunyikan kesedihan. Mereka datang untuk mengingat bahwa kebahagiaan masih bisa ditemukan di tengah berbagai persoalan.

Kesedihan tidak benar-benar hilang. Kesusahan tidak benar-benar selesai. Tetapi untuk sementara, semuanya dititipkan kepada air.

ketika pertemuan selesai, masing-masing kembali membawa kehidupan masing-masing. Namun mereka pulang dengan sesuatu yang berbeda: hati yang sedikit lebih ringan. Pak Gun, dengan aba-abanya yang sederhana, seolah mengingatkan bahwa kesehatan pun bisa dirayakan dengan kegembiraan.

Ayo, Bu Ibu! Tenggelamkan kepala... muncul lagi... ambil air... lemparkan... dan sorak bersama! Sehat!

SEHAAAAT!

Teriakan itu bukan sekadar suara. Ia seperti doa. Doa agar tubuh tetap diberi kekuatan, hati diberi kebahagiaan, persahabatan tetap terjaga, dan setiap langkah dalam kehidupan selalu mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin

Cepu, 15 Agustus 2026.


Kue Bikang Unggu

Karya : Gutamining Saida

Jum'at malam, sekitar pukul 18.45, suasana grup Muda Swimming Squad yang biasanya dipenuhi obrolan tentang kesehatan, terapi, renang, dan berbagai pengalaman sehari-hari tiba-tiba menjadi ramai. Bukan karena ada informasi penting tentang latihan. Bukan pula karena ada pengumuman mengenai terapi. Kali ini penyebabnya sederhana, tetapi justru mampu menghadirkan kehangatan yang luar biasa.

Pak Gun mengirimkan sebuah foto kue bikang berwarna ungu. Kue tradisional yang bentuknya sederhana tampak begitu menggoda. Di bawah foto tersebut, Pak Gun menuliskan kalimat:

“Alhamdulillah rezeki Tan Keno Kiniro.”

Kalimat pendek itu ternyata menjadi pemantik obrolan panjang. Grup yang semula tenang mendadak hidup. Satu per satu ibu-ibu mulai memberikan komentar. Ada yang singkat, lucu, ada pula yang seolah-olah sedang berebut kesempatan untuk mendapatkan bagian dari kue tersebut.

Salah satu komentar datang dari Bu Rini, "Alhamdulllah".

“Uwun, Pak 😂.” komentar bu Sulikah

Pendek. Padat. Jelas. Di balik dua kata tersebut tersimpan sebuah harapan yang sangat manusiawi: siapa tahu ada bagian rezeki yang bisa ikut dinikmati.

Tidak lama kemudian, Bu Asih kembali mengirim pesan ke grup.

“Ngapunten, namung kedik, Pak.”

Artinya, mohon maaf, hanya sedikit, Pak. Kalimat sederhana itu justru terasa begitu akrab. Tidak ada tuntutan. Tidak ada permintaan berlebihan. Hanya gurauan kecil di antara orang-orang yang sudah terbiasa berbagi cerita dan tawa.

Bu Rini kemudian ikut menanggapi. “Wes enthek.”

Wah, ternyata sudah habis!

Sontak suasana semakin ramai. Seolah-olah kue bikang yang jumlahnya mungkin tidak seberapa itu menjadi barang paling berharga malam tersebut. Padahal sebenarnya bukan kue itulah yang membuat grup ramai. Ada sesuatu yang jauh lebih berharga yaitu rasa kebersamaan.

Bu Sulikah pun ikut nimbrungi lagi. “Komentar sesuk uwun sing gawe ae.”

Seolah memberikan pesan, kalau besok ada lagi, yang membuat jangan lupa berbagi.

Bu Asih membalas dengan penuh canda, “Besok kalau ada lebihan tak kirimi incip-incip hhhhh.”

Bu Rini langsung menyambut, “Aseeeek.”

Hanya beberapa kalimat pendek. Hanya percakapan ringan. Malam itu, grup Muda Swimming Squad terasa benar-benar hidup.

Begitulah rezeki. Kadang ia datang bukan dalam bentuk sesuatu yang besar. Tidak selalu berupa uang banyak, rumah megah, kendaraan baru, atau keberhasilan yang luar biasa. Terkadang rezeki hadir dalam bentuk sekotak kue bikang yang mampu membuat banyak orang tersenyum.

Rezeki juga bukan hanya tentang apa yang masuk ke dalam rumah kita. Rezeki bisa berupa teman yang baik, saudara yang peduli, tubuh yang masih diberi kesempatan untuk bergerak, hati yang masih bisa tertawa, serta lingkungan yang membuat kita merasa diterima.

Kue bikang itu mungkin hanya makanan biasa. Harganya pun mungkin tidak seberapa. Tetapi ketika diterima dengan rasa syukur, ia berubah menjadi sesuatu yang istimewa. Lebih indah lagi ketika rezeki tidak berhenti pada diri sendiri.

Dalam kehidupan, sering kali kita terlalu sibuk mengejar rezeki sampai lupa bahwa salah satu bentuk rezeki terbesar adalah memiliki orang-orang yang bisa diajak tertawa. Grup Muda Swimming Squad bukan sekadar tempat bertukar informasi tentang kolam renang. Di dalamnya ada cerita kesehatan, pengalaman terapi, perjuangan untuk menjadi lebih sehat, saling menyemangati, dan sesekali muncul humor-humor sederhana yang membuat suasana menjadi ringan.

Kesehatan memang menjadi salah satu alasan mereka berkumpul. Perjalanan, tumbuh sesuatu yang lebih luas yaitu persaudaraan. Mereka belajar bahwa sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat juga tentang hati yang bahagia. Hati yang bisa tertawa. Hati yang mampu bersyukur. Hati yang senang melihat orang lain mendapatkan rezeki.

Terasa sederhana, kebahagiaan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Cukup sebuah foto kue, lalu disambut komentar lucu dari sahabat-sahabat. Jika dilihat dari luar, percakapan tersebut hanyalah candaan ibu-ibu dan Pak Gun tentang kue bikang. Sebab sesungguhnya yang sedang dibagikan malam itu bukan sekadar kue. Yang dibagikan adalah kebahagiaan.

Semoga setiap rezeki yang datang kepada kita, sekecil apa pun bentuknya, selalu membuat kita semakin dekat kepada Allah. Semoga kita tidak hanya pandai menikmati rezeki, tetapi juga pandai mensyukurinya dan membagikannya kepada orang lain.

Sebuah rezeki yang disyukuri akan menghadirkan ketenangan, sedangkan rezeki yang dibagikan akan menghadirkan keberkahan. Sesungguhnya, yang membuat grup itu hidup bukanlah kue bikangnya. Yang menghidupkan adalah rasa syukur, persaudaraan, kepedulian, dan tawa yang dibagikan bersama. Semoga selalu ada rezeki yang datang tan keno kiniro, rezeki yang tidak disangka-sangka, rezeki yang membawa berkah, dan rezeki yang membuat hati semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.

Cepu, 15 Agustus 2026


Jum'at Pon


Karya: Gutamining Saida

Jumat sore selalu memiliki suasana yang seru. Ada ketenangan yang perlahan turun bersama sinar matahari yang mulai condong ke ufuk barat. Ketenangan berpadu dengan semangat beberapa ibu-ibu yang datang ke kolam renang untuk menjalani terapi.

Mereka datang bukan sekadar ingin bermain air atau belajar berenang. Ada tujuan yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat bermakna yaitu ingin menjadi lebih sehat dan bahagia bersama. Dengan bekal sehat dan semangat yang dibawa dari rumah, langkah mereka menuju kolam terasa begitu ringan. Tidak peduli usia, tidak peduli kemampuan berenang yang masih terbatas. Yang penting adalah kemauan untuk bergerak, belajar, mencoba dan menikmati setiap proses.

Bagi sebagian orang, meluncur di air mungkin terlihat sebagai hal sederhana. Tinggal mendorong tubuh, meluruskan tangan, mengatur napas, kemudian membiarkan tubuh bergerak mengikuti air. Bagi mereka yang sedang belajar mengatasi rasa takut, meluncur membutuhkan keberanian. Di situlah latihan dimulai.

Pak Gun memberikan arahan dengan sabar. Teori demi teori disampaikan. Bagaimana posisi tubuh, bagaimana menenangkan diri, bagaimana mengatur napas, dan bagaimana percaya kepada air. Semua teori dapat dilewati dengan baik dan lancar.

Ketika teori harus diterapkan dalam praktik, ternyata tidak selalu semudah yang dibayangkan. Gerakannya belum sempurna, masih ragu, belum mampu melakukan seperti contoh yang diberikan pak Gun. Bahkan ada yang dalam hati berkata, “Kok sulit, ya?”

Sukses membutuhkan proses. Tidak ada sesuatu yang benar-benar besar yang bisa diperoleh secara instan.

Hari ini belum berhasil, bukan berarti selamanya tidak akan berhasil. Gerakan yang masih salah hari ini bisa diperbaiki pada latihan berikutnya. Rasa takut yang masih muncul hari ini perlahan dapat dikalahkan dengan keberanian yang terus dilatih.

Kita sering kali ingin hasil yang cepat. Ingin sekali mencoba langsung berhasil. Ingin sekali belajar langsung mahir. Padahal kehidupan tidak bekerja seperti itu. Ada proses, ada kesalahan, ada kegagalan, ada pengulangan, dan ada kesabaran.

Menurut pak Gun, yang terpenting bukan siapa yang paling cepat bisa meluncur. Bukan siapa yang paling bagus gerakannya. Tetapi siapa yang mau terus mencoba meskipun hasilnya belum sesuai harapan.

Di sela-sela latihan, Pak Gun kemudian melontarkan sebuah pertanyaan sederhana. “Bu ibu, ini Jumat apa?” 

Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Bu Sulikah langsung menjawab secara spontan tanpa sedikit pun keraguan.

Jumat Pon!

Mendengar jawaban itu, Pak Gun langsung tersenyum. Entah apa yang ada di dalam pikiran beliau. Mungkin beliau berharap jawaban yang muncul adalah “Jumat Sehat”, “Jumat Ceria”, atau istilah lain yang biasa muncul di grup. Tetapi yang keluar justru jawaban yang sangat khas dan tidak terduga yaitu Jumat Pon.

Pak Gun kemudian berkata sambil tersenyum, “Walah... kalau Jumat Pon, Kliwon... saya nggak hafal, Bu.”

Sontak ibu-ibu tertawa. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang memimpin untuk tertawa. Semuanya tertawa bersama karena pertanyaan sederhana itu berhasil mencairkan suasana. Kebahagiaan memang tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Kadang cukup dengan sebuah pertanyaan sederhana, sebuah jawaban spontan, lalu tawa yang muncul bersama-sama.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa terapi dilakukan bersama. Ketika satu orang mengalami kesulitan, yang lain memberikan semangat. Ketika ada yang salah gerakan, tidak langsung ditertawakan dengan maksud merendahkan, tetapi menjadi bagian dari cerita yang membuat suasana semakin hangat. Ketika ada yang berhasil, keberhasilan itu terasa seperti keberhasilan bersama.

Sehat menjadi lebih menyenangkan ketika dijalani bersama. Latihan pun kembali dilanjutkan. Meluncur lagi. Menenangkan diri lagi. Mencoba lagi. Mengatur napas lagi. Terkadang berhasil, terkadang belum. Tetapi semuanya tetap dijalani dengan semangat.

Waktu ternyata berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Sore mulai beranjak menuju petang. Latihan pun harus diakhiri. Sebelum benar-benar meninggalkan kolam, ada satu kebiasaan yang rasanya tidak boleh dilewatkan: foto bersama.

“Pak Gun, saya tolong dividio ya. Mau saya pakai story,” ucap Bu Nanik.

Permintaan sederhana itu kembali menunjukkan bahwa kegiatan di kolam bukan hanya tentang terapi fisik. Ada kenangan yang ingin disimpan. Ada kebersamaan yang ingin diabadikan. Ada cerita yang suatu saat mungkin akan dilihat kembali dan membuat tersenyum.

Foto dan video menjadi bukti bahwa sore itu pernah terjadi. Bukti bahwa pernah ada sekelompok ibu-ibu yang memilih meluangkan waktu untuk menjaga kesehatan. Bukti bahwa mereka pernah berjuang melawan rasa takut. Bukti bahwa mereka pernah belajar meluncur, belajar menenangkan diri, belajar bernapas, dan belajar menikmati proses. Lebih dari itu, dokumentasi menjadi pengingat bahwa kebahagiaan ternyata bisa ditemukan di tempat yang sederhana.

Jumat sore itu mungkin hanya berlangsung satu jam. Tetapi pesan yang dibawanya jauh lebih panjang. Sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat juga tentang hati yang bahagia, pikiran yang tenang, dan lingkungan yang membuat kita merasa tidak sendirian. Sampai berjumpa nanti sore kawan.

Cepu, 15 Agustus 2026


Kamis, 13 Agustus 2026

Senyum Di Balik Kamera

Karya: Gutamining Saida 
Di Esmega, ada tata tertib yang sangat jelas tentang penggunaan handphone. Setiap siswa yang datang ke sekolah tidak diperbolehkan membawa handphone dan menggunakannya secara bebas. Ia hanya boleh digunakan dalam kondisi tertentu, misalnya ketika ada guru yang memang membutuhkannya sebagai alat bantu dari pembelajaran atau ketika digunakan untuk keperluan tes.

Itupun bukan berarti siswa bebas membawa dan menyimpan handphone sepanjang hari di dalam kelas. Ada aturan yang harus ditaati. Jika ia diperlukan untuk pembelajaran, sejak berada di pintu gerbang harus dititipkan terlebih dahulu kepada guru yang memberikan instruksi. Setelah pembelajaran atau tes selesai, dikumpulkan kembali. Siswa baru boleh mengambilnya ketika hendak pulang untuk kemudian dibawa kembali ke rumah.

Aturan itu bukan sekadar tertulis di papan tata tertib. Ia benar-benar hidup dalam keseharian siswa. Saya bangga, anak-anak Esmega mampu mematuhinya. Tidak ada keberanian untuk sembunyi-sembunyi membawanya ke kelas. Tidak ada cerita siswa bermain handphone secara diam-diam di bawah meja ketika guru sedang mengajar. Mereka memahami bahwa aturan dibuat bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk mendidik kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan mengendalikan diri. Itulah salah satu bentuk pendidikan karakter yang sering kali tidak terlihat dalam nilai rapor.

Ada satu hal yang menarik. Di tengah keterbatasan membawa handphone ke sekolah, ternyata anak-anak tetap memiliki keinginan sederhana yang sangat manusiawi yaitu mengabadikan kenangan. Mereka ingin mempunyai foto ketika mengenakan seragam sekolah. Mereka ingin berfoto bersama sahabat. Mereka ingin menyimpan kenangan ketika masih menjadi siswa Esmega, berdiri di halaman sekolah, di depan ruang kelas, atau di tempat-tempat yang suatu hari nanti mungkin akan mereka rindukan.

Mereka tidak membawa handphone sendiri. Lalu kepada siapa mereka meminta bantuan? Kepada guru. Pemandangan seperti itu sudah menjadi sesuatu yang biasa. Seorang siswa menghampiri guru sambil berkata,
“Bu, boleh minta tolong difoto?”
Guru mengambil handphone, kemudian membantu memotret. Sederhana sekali. Tidak ada pembelajaran tentang interaksi sosial yang harus dituliskan di papan. Tidak ada teori panjang tentang komunikasi. Tidak ada definisi yang harus dihafalkan. Sesungguhnya, di situlah interaksi sosial terjadi. Ada siswa yang meminta bantuan. Ada guru yang memberikan bantuan, komunikasi, kepercayaan, senyum. dan  kebahagiaan.

Ketika saya sedang berada di sekitar ruang guru, beberapa siswi kelas 8A berjalan menuju ruang guru. Mereka berpapasan dengan saya. Karena saya adalah wali kelas mereka, tentu saja saya mengenali mereka. Mereka berhenti dan berjabat tangan.
“Bu, minta foto sama teman-teman, ya.”
“Boleh.”
Mereka pun bergantian berdiri bersama teman-temannya. Ada yang berdiri di samping, merapatkan bahu, tersenyum lebar, bergaya dengan ekspresi khas anak seusianya. Saya mengarahkan kamera.
“Sudah siap?”
“Sudah, Bu!”
Jepret! Satu foto selesai.
“Bu, lihat dulu!”
Mereka kemudian melihat hasil fotonya. Senyum mereka langsung mengembang.
“Bagus, Bu!”
“Foto lagi, Bu!”
Saya pun kembali mengambil gambar. Jepret! Satu lagi.

Kemudian mereka bergantian melihat hasilnya. Saya memperhatikan wajah mereka. Ada kebahagiaan yang sangat sederhana di sana. Foto itu mungkin memiliki arti yang jauh lebih besar bagi mereka. Barangkali beberapa tahun lagi, ketika mereka sudah lulus dan melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, foto itu akan menjadi bagian dari kenangan masa SMP. Mungkin suatu saat mereka membuka galeri foto dan melihat wajah mereka ketika masih mengenakan seragam Esmega.
Mereka mungkin akan berkata,
“Dulu kita pernah seperti ini.”
“Dulu kita sering bersama.”
“Dulu Bu Saida pernah memfoto kita.”

Saya tiba-tiba berpikir, ternyata guru tidak selalu memberikan kebahagiaan melalui materi pelajaran. Kadang kebahagiaan itu hadir melalui hal yang sangat kecil. Sebuah senyuman, sapaan, tepukan di bahu. Saya ikut bahagia melihat mereka bahagia.

Barangkali beginilah salah satu cara Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan kepada kita tentang arti berbagi kebahagiaan. Kita sering berpikir bahwa untuk membuat orang lain bahagia, kita harus memiliki sesuatu yang besar. Padahal tidak selalu demikian. Terkadang Allah hanya meminta kita memberikan sedikit waktu. Sedikit perhatian. Sedikit tenaga. Tetapi bagi orang lain, pemberian kecil itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Saya teringat sebuah keyakinan sederhana. Orang yang berusaha membahagiakan orang lain, Insyaallah akan dibahagiakan Allah melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Bukan berarti setiap kebaikan harus segera dibalas. Bukan pula berarti kita berbuat baik agar mendapatkan balasan manusia. Tidak.

Kebaikan seharusnya dilakukan karena Allah. Jika kemudian Allah menghadirkan kebahagiaan melalui orang lain, itu bonus kasih sayang-Nya. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rahman ayat 60, “Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan.”

Saya hanya membantu beberapa anak mendapatkan foto kenangan. Saya sendiri mendapatkan hadiah yang jauh lebih berharga dengan melihat senyum mereka. Saya belajar bahwa kebahagiaan itu menular. Ketika kita membuat seseorang tersenyum, hati kita pun sering ikut tersenyum.

Ketika kita membantu seseorang, ada ketenangan yang hadir di dalam diri. Ketika kita memberikan sedikit waktu untuk orang lain, Allah bisa memberikan ketenteraman yang tidak dapat dibeli dengan uang. Barangkali inilah salah satu keindahan menjadi guru. Guru bukan hanya seseorang yang berdiri di depan kelas dan menjelaskan materi. Guru juga menjadi bagian dari perjalanan hidup siswa.

“Ya Allah, jika melalui tangan saya Engkau menitipkan sedikit kebahagiaan untuk anak-anak 8A  jadikanlah itu sebagai kebaikan yang Engkau terima. Jika suatu hari saya membutuhkan kebahagiaan, kirimkanlah ia melalui tangan siapa pun yang Engkau kehendaki.”

Semoga setiap kebahagiaan yang kita berikan kepada orang lain, Allah Subhanahu Wata'alla kembalikan kepada kita dalam bentuk kebahagiaan yang lebih indah, lebih luas, dan datang dari arah yang tidak pernah kita sangka. Karena boleh jadi, ketika kita membuat orang lain bahagia, sesungguhnya saat itu Allah sedang menyiapkan kebahagiaan untuk kita melalui tangan orang lain. Aamiin.
Cepu, 14 Agustus 2026 

Fani

Karya: Gutamining Saida

Setiap saya masuk ke kelas 8C, selalu saja ada yang menarik perhatian. Anak-anaknya aktif, ramai, penuh energi, dan masing-masing memiliki keunikan. Kadang saya menemukan tingkah lucu, jawaban spontan, kreativitas, benda-benda sederhana yang ternyata menyimpan cerita.

Ketika saya sedang mengajar, pandangan saya tertuju pada meja salah satu siswa perempuan bernama Fani. Saya melihat beberapa lembar kertas putih yang bentuknya agak berbeda. Kertas-kertas itu dibuat seperti contongan, digulung atau dibentuk menyerupai kerucut.

Entah mengapa, benda sederhana itu langsung membuat rasa penasaran saya muncul. Saya pun mendekati meja Fani.

“Ini apa, Fani?”tanya saya sambil mengambil salah satu kertas tersebut dan memperhatikannya.

Fani menjawab singkat,“Untuk membuat buket, Bu.”

Jawaban sangat singkat. Tetapi bagi saya justru mengundang pertanyaan berikutnya. “Buket?”

“Iya, Bu.”

“Buket bunga?”

Fani mengangguk.

Saya semakin penasaran. “Buat sendiri?”

“Iya.”

“Dari kertas ini?”

“Iya, Bu.”

Saya tersenyum. Dalam hati saya berpikir, ternyata anak-anak memiliki kreativitas yang sering kali tidak terlihat ketika mereka duduk mengikuti pembelajaran di kelas. Saya pun mulai kepo.

“Belajarnya dari mana?”

“Lihat tutorial.”

“Tutorial di mana?”

“HP, Bu.”

“Berarti kamu suka membuat kerajinan?”

Fani mengangguk lagi.

Saya kemudian memperhatikan kertas-kertas putih itu lebih teliti. Bentuknya memang sederhana. Hanya kertas putih yang dibuat menyerupai contongan. Namun, di tangan seorang anak yang kreatif, benda sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang bernilai. Saya membayangkan kertas-kertas itu nantinya tersusun menjadi buket yang cantik.

Saya lalu bertanya lagi,“Buketnya nanti untuk siapa?”

Fani tersenyum. Saya menunggu jawabannya. Ternyata, dari sebuah pertanyaan sederhana, saya justru menemukan sisi lain dari seorang siswa yang selama ini saya kenal hanya sebagai bagian dari kelas 8C. Di depan guru, Fani adalah seorang siswa.

Tetapi di luar pembelajaran, ia memiliki dunia kreativitasnya sendiri. Ia mau menghasilkan sesuatu dengan tangannya sendiri. Saya pun semakin menyadari bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda.

Tugas guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga perlu melihat, memperhatikan, dan menemukan potensi yang tersembunyi dalam diri siswa. Kadang potensi itu tidak muncul ketika kita memberikan soal di papan tulis.

Jangan pernah menganggap sesuatu yang sederhana itu tidak berarti. Mungkin hari ini Fani hanya membuat buket dari kertas. Tetapi siapa tahu, kelak kreativitas sederhana itu menjadi keterampilan yang menghasilkan karya, bahkan menjadi jalan kehidupannya.

“Ternyata anak-anak bukan hanya belajar dari guru. Guru pun harus mau belajar membaca keunikan anak-anaknya.”

Dan Fani, dengan kertas putih berbentuk contongan, telah mengingatkan saya sekali lagi yaitu Setiap anak mempunyai cerita. Tugas guru adalah mau mendekat, bertanya, dan menemukan cerita itu. Semoga kesuksesan menyertai langkah kakimu. Aamiin.

Cepu, 13 Agustus 2026

AL dan EL

Karya: Gutamining Saida 
Menjadi guru IPS di Esmega memberi saya banyak pengalaman. Ada materi tentang interaksi sosial, sumber daya manusia, keberagaman, mobilitas sosial, dan berbagai konsep kehidupan masyarakat. Ternyata, menjadi guru juga mengajarkan saya satu pelajaran yang sangat sederhana, dan membutuhkan perjuangan luar biasa tentang menghafal nama siswa.

Sudah kurang lebih satu bulan saya bersama anak-anak. Saya mengajar tujuh kelas dengan jumlah siswa sekitar 256 anak. Jika hanya melihat wajah, perlahan saya mulai mengenali mereka. Saya sudah mulai bisa membedakan, “Oh, anak ini kelas 7A,” atau “Ini anak 7B,” atau “Sepertinya ini anak 7C.” 

Wajah mulai tersimpan dalam ingatan. Tetapi nama? Nah, ini yang menjadi perjuangan tersendiri. Saya harus jujur kepada mereka bahwa kemampuan saya dalam menghafal nama memang tidak secepat yang mereka harapkan. Terkadang, ketika berpapasan di halaman sekolah, ada siswa yang sengaja menghentikan langkah saya.

“Bu Saida!”ucap dia
Saya menoleh.
“Saya siapa, Bu?”tanya dia

Pertanyaan sederhana. Bagi saya, pertanyaan itu seperti sebuah ujian mendadak. Saya memandang wajahnya. Saya mencoba mengingat. Saya membuka kembali “lemari” ingatan yang ada di kepala. Kadang saya berhasil.

“Eh... kamu Bagus!” ucap saya.
Wajahnya langsung tersenyum.
“Benar, Bu!”jawab dia
Ada kebahagiaan kecil di wajahnya. Tidak jarang saya justru salah.
“Afif?”
“Bukan, Bu!”jawab dia
“Lho... siapa?”tanya saya.
Anak itu tertawa.
“Ya saya, Bu...”

Kemudian saya ikut tertawa. Kami sama-sama menyadari bahwa menghafal nama 256 anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Yang lebih lucu lagi adalah ketika saya bertemu dengan dua anak di kelas 7A yang memiliki nama panggilan sangat mirip yaitu Al dan El. Kalau hanya melihat postur tubuh, sebenarnya sangat mudah membedakan mereka. Yang satu bertubuh kecil, sementara yang satunya jauh lebih tinggi. Seharusnya tidak sulit. Tetapi ternyata otak saya memiliki cara sendiri untuk menguji kesabaran.

“Al!”ucap saya
Anak yang saya panggil justru tersenyum sambil menggeleng.
“Bukan..., Bu. Saya El.”
Saya terdiam. “Oh iya... El.”

Pertemuan berikutnya saya mencoba lebih hati-hati. Saya melihat anak yang lain. “Kalau kamu Al, ya?”
Dia menjawab, “Iya, Bu.”jawabnya. Saya merasa menang. Akhirnya saya berhasil! Tetapi beberapa hari kemudian, kejadian yang sama terulang lagi. Saya salah lagi. Anak-anak tentu saja tertawa.

“Bu Saida kok masih ketuker?”
Saya pun tertawa bersama mereka.
“Maaf, Nak. Ibu sedang berjuang menghafal kalian semua.”

Sebenarnya, di balik tawa itu ada perasaan yang cukup dalam. Saya tahu bagi seorang siswa, dipanggil dengan nama sendiri oleh gurunya adalah sesuatu yang menyenangkan. Nama adalah identitas. Nama adalah bagian dari diri mereka. Ketika seorang guru mampu menyebut nama murid dengan tepat, ada perasaan bahwa dirinya diperhatikan, dikenal, dan dianggap penting. Karena itu, saya memahami ketika mereka sering bertanya,

“Bu, saya siapa?”
Mungkin pertanyaan itu bukan sekadar ingin menguji saya. 
Mungkin mereka sedang berkata, “Bu, kenali saya.”
“Bu, ingat saya.”
“Bu, saya juga ingin dianggap berarti.”

Dari situlah saya belajar. Menjadi guru ternyata bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga sedang belajar mengenal manusia. Setiap anak memiliki nama, wajah, karakter, keluarga, kebiasaan, kelebihan, kekurangan, mimpi, dan perjalanan hidup masing-masing. 
Ada anak yang cerewet, pendiam,  selalu menjawab pertanyaan, lebih suka tersenyum, aktif bergerak,  duduk tenang tetapi sebenarnya menyimpan banyak potensi, senang menggoda gurunya hanya untuk mendapatkan perhatian.

Semua itu menjadi warna dalam perjalanan saya mengajar. Saya pun mulai memiliki cara sederhana untuk membantu diri sendiri. Ketika bertemu dengan siswa di luar kelas dan saya lupa namanya, terkadang saya berkata, “Coba sebutkan nama kalian.”

Mereka menyebutkan nama masing-masing. Saya tersenyum. “Terima kasih. Ibu jadi ingat lagi.” Saya tidak ingin berpura-pura hafal jika memang belum hafal. Saya memilih jujur kepada mereka.
Ternyata, meminta mereka menyebutkan nama justru menjadi sebuah proses belajar yang menyenangkan. Mereka membantu saya. Saya membantu mereka. Kami sama-sama belajar.

Saya kemudian menyadari  menghafal nama siswa bukan hanya persoalan daya ingat. Ada proses membangun kedekatan di dalamnya. Saya teringat dalam kehidupan ini, manusia diberikan begitu banyak nama dan wajah untuk dikenali. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing. Tidak ada dua manusia yang benar-benar sama.

Dua anak yang memiliki nama panggilan hampir mirip pun tetap memiliki karakter yang berbeda. Al adalah Al. El adalah El. Mereka bukan sekadar nama dalam daftar presensi. Mereka adalah pribadi yang sedang tumbuh. Mereka adalah anak-anak yang kelak akan menjadi bagian dari masyarakat.

Mungkin suatu hari nanti mereka sudah dewasa. Mereka mungkin menjadi dokter, guru, pengusaha, polisi, tentara, petani, teknisi, seniman, atau profesi lain yang hari ini belum mereka bayangkan. Saya salah satu guru yang pernah hadir dalam perjalanan hidup mereka. Karena itu saya berusaha untuk tidak merasa malu ketika salah menyebut nama.

Saya justru menjadikannya sebagai pengingat bahwa saya harus terus belajar. Bukankah belajar tidak mengenal usia? Guru pun tetap seorang pembelajar. Saya belajar IPS dari buku. Saya belajar teknologi dari perkembangan zaman. Saya belajar kesabaran dari tingkah laku siswa.Saya belajar ketulusan dari anak-anak yang tetap menyapa meskipun terkadang nama mereka masih tertukar. Saya belajar kerendahan hati dari kesalahan-kesalahan kecil saya sendiri. 

Kadang saya berpikir, mungkin Allah Subhanahu Wata'alla sedang memberikan saya sebuah latihan melalui 256 anak ini. Latihan untuk lebih sabar. lebih teliti, lebih dekat dengan anak-anak, memahami bahwa setiap manusia ingin dihargai.

Mungkin saya belum mampu menghafal seluruh nama mereka dengan cepat. Saya tidak ingin berhenti berusaha. Setiap hari saya mencoba menyimpan satu nama lagi. Satu wajah lagi. Satu karakter lagi. Satu cerita lagi. Sedikit demi sedikit. Hari ini mungkin saya masih berkata, “Maaf, kamu siapa?”

Besok mungkin saya sudah mampu menyebut namanya. Ketika suatu hari seorang siswa datang lalu saya menyapanya lebih dulu, “Eh, Al!” atau “El, bagaimana kabarmu?” Saya yakin akan ada senyum kecil di wajah mereka. Bagi saya mungkin itu hanya keberhasilan mengingat sebuah nama. Tetapi bagi mereka, mungkin itu adalah pesan sederhana yaitu “Bu Saida mengingat saya.”

Betapa indah jika seorang guru bukan hanya diingat karena nilai, tugas, atau materi pelajaran yang pernah disampaikan, tetapi juga karena pernah membuat seorang anak merasa dikenal dan dihargai. Maka saya akan terus belajar, terus menghafal serta meminta mereka menyebutkan namanya jika saya lupa.

Saya akan terus memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar diberi kemudahan dalam menjalankan amanah sebagai seorang guru. Sebab pada akhirnya, menjadi guru bukan tentang seberapa cepat kita mampu menghafal 256 nama.

Lebih dari itu, menjadi guru adalah bagaimana kita mampu mengenal, menghargai, menyayangi, dan mendoakan 256 anak yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan dalam perjalanan pengabdian kita. Jika hari ini saya masih sering keliru antara Al dan El. semoga kesalahan kecil itu tidak mengurangi ketulusan saya dalam mendidik mereka. Karena saya percaya, setiap nama yang saya coba hafalkan adalah bagian dari doa.

Setiap wajah yang saya kenali adalah bagian dari amanah. Setiap anak yang saya temui adalah kesempatan dari Allah Subhanahu Wata'alla untuk belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih penuh kasih.

Terima kasih, anak-anakku. Kalian bukan sekadar nama dalam daftar presensi. Kalian adalah bagian dari cerita panjang perjalanan saya sebagai seorang guru. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla memudahkan saya mengingat nama kalian, memahami karakter kalian, membimbing langkah kalian, dan menjaga kalian hingga menjadi pribadi-pribadi hebat yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. Aamiin

Cepu, 13 Agustus 2026 

Rabu, 12 Agustus 2026

Minggu Membara


Karya : Gutamining Saida

Minggu Sore, air kolam renang Bumool Dengok Padangan menjadi saksi sebuah perjuangan kecil yang ternyata menyimpan makna kehidupan begitu besar. Hari demi hari, kolam ini semakin ramai. Bukan hanya oleh anak-anak yang bermain air atau mereka yang datang untuk belajar berenang. Aktivitas olahraga pun semakin beragam.

Ada renang yang pesertanya mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Ada terapi untuk ibu-ibu yang ingin menjaga dan memulihkan kebugaran. Ada zumba yang dipenuhi ibu-ibu dengan gerakan penuh semangat. Ada pula aerobik yang membuat suasana semakin hidup.

Sore ini terasa berbeda. Para ibu tidak hanya diajak menggerakkan tubuh. Mereka diajak berdamai dengan ketakutan. Mereka dibawa ke kolam dengan kedalaman sekitar 200 sentimeter. Bagi orang yang sudah terbiasa berenang, mungkin angka itu biasa saja. Tetapi bagi seseorang yang takut air, kedalaman dua meter bisa terasa seperti jurang yang sangat dalam.

Di sinilah perjuangan itu dimulai. Saya melihat tangan-tangan yang terus berpegangan pada bibir kolam, Kuat bahkan sangat kuat.  Seolah-olah jika tangan itu terlepaskan, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Wajah-wajah tampak tegang. Ada rasa takut. Ada keraguan. Ada kecemasan. Tetapi bukankah kita semua pernah seperti itu? Bukankah dalam kehidupan, kita juga sering berpegangan pada sesuatu karena takut kehilangan?

Kita berpegangan pada keluarga. Berpegangan pada pekerjaan. Berpegangan pada harta. Berpegangan pada orang yang kita cintai. Berpegangan pada sesuatu yang membuat kita merasa aman. Padahal hidup mengajarkan bahwa tidak ada yang benar-benar kekal. Semua yang kita miliki hanyalah titipan. 

“Coba Tenggelam...” Instruksi diberikan oleh pak Gun

“Coba tenggelam, kemudian muncul kembali.”tambahnya

Sejenak suasana menjadi tegang. Tenggelam? Di kedalaman dua meter?

Bagi mereka yang takut, perintah itu tentu bukan perkara mudah. Satu demi satu mulai mencoba. Tubuh diturunkan. Wajah menyentuh air. Tenggelam. Kemudian muncul. Menarik napas. Mencoba lagi. Tenggelam. Muncul. Lagi. Dan lagi.

Pada awalnya tangan masih mencari pegangan. Kaki masih tegang. Napas belum teratur. Tetapi sesuatu mulai berubah. Rasa takut yang semula begitu besar, perlahan mulai mengecil. Bukankah ketakutan memang sering kali menjadi besar karena kita belum pernah mencoba menghadapinya?

Ketika kita berani mendekatinya, ternyata tidak selalu seburuk yang kita bayangkan. Ketika berani mencobanya, kita mulai berkata dalam hati,

"Ternyata saya bisa."

Kalimat sederhana. Bagi seseorang yang sedang berjuang melawan rasa takut, kalimat itu sangat berarti.

Sampai Tangan Itu Berani Lepas. Kemudian datang tahap yang lebih menggetarkan hati.

“Tangannya dilepas.”

Inilah saat yang mungkin paling sulit. Tangan yang sejak awal menjadi tempat bergantung harus dilepaskan. Perlahan. Pelan-pelan. Jari-jari mulai membuka. Pegangan dilepas. Tubuh tenggelam. Kemudian muncul. Tenggelam. Muncul. Berulang kali.

Setiap kali berhasil, ada sedikit keberanian yang tumbuh. Saya membayangkan, mungkin bukan hanya air yang sedang mereka lawan. Mungkin mereka sedang melawan suara di dalam hati yang selama ini berkata:

"Saya tidak bisa."

"Saya takut."

"Saya tidak berani."

"Bagaimana kalau saya gagal?"

Tetapi sore itu suara-suara itu perlahan dikalahkan oleh suara yang lain:

"Saya bisa."

"Saya berani."

"Saya mencoba."

Betapa indahnya sebuah keberanian yang lahir dari ketakutan. Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Berani adalah tetap melangkah meskipun rasa takut masih ada.

Air Mengajarkan Tentang Kehidupan. Di dalam air, kita belajar bahwa tubuh tidak selalu harus melawan. Ada saatnya kita harus rileks, saatnya kita harus mengatur napas, saatnya kita harus percaya bahwa tubuh kita mampu bertahan.

Bukankah kehidupan juga demikian? Terlalu banyak melawan terkadang membuat kita semakin lelah. Terlalu banyak mencemaskan masa depan membuat hati kehilangan ketenangan. Terlalu kuat menggenggam sesuatu membuat kita lupa bahwa segala sesuatu adalah milik Allah.

Allah Subhanahu Wata'alla sedang mengajarkan melalui air,

Belajarlah tenang.

Belajarlah percaya.

Belajarlah melepaskan.

Ketika kita menyerahkan segala sesuatu kepada Allah Subhanahu Wata'alla setelah melakukan ikhtiar terbaik, hati menjadi lebih ringan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Insyirah ayat 5:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Minggu sore saya melihat ayat tersebut seakan hadir dalam bentuk nyata.

Ada kesulitan.

Ada ketakutan.

Ada perjuangan.

Kemudian sedikit demi sedikit datang kemudahan.

Dari Takut Menjadi Percaya Diri

Setelah keberanian mulai tumbuh, latihan dilanjutkan. Gaya bebas dipraktikkan. Gaya dada dicoba. Gaya punggung dipelajari. Bahkan gaya dolphin pun diperkenalkan. Lengkap sudah ilmu sore itu. Tetapi sebenarnya bukan hanya teknik berenang yang didapat. Ada ilmu yang jauh lebih penting.

Ilmu tentang keberanian.

Ilmu tentang mengendalikan rasa takut.

Ilmu tentang percaya kepada kemampuan diri.

Yang paling penting, ilmu tentang bersyukur.

Tubuh KITA yang masih bisa bergerak adalah nikmat. Napas yang masih bisa diatur adalah nikmat. Kaki yang masih mampu menendang air adalah nikmat. Tangan yang masih mampu mengayuh adalah nikmat.

Kesempatan untuk berkumpul, belajar, tertawa dan menjaga kesehatan bersama adalah nikmat yang sering kali kita lupa syukuri.

Lingkaran yang Menenangkan Hati

Menjelang akhir kegiatan, semua peserta diminta membuat formasi lingkaran. Tubuh sudah lelah. Tetapi hati terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih tenang. Lingkaran itu seperti mengajarkan satu hal,

Tidak ada manusia yang harus berjalan sendirian.

Kita membutuhkan orang lain. Kita saling menguatkan. Saling menyemangati. Saling mendoakan. Di atas semua itu, kita membutuhkan Allah Subhanahu Wata'alla.

Minggu sore ada ibu yang datang membawa ketakutan. Tetapi ia pulang membawa keberanian. Ada yang datang dengan keraguan. Pulang dengan kepercayaan diri. Ada yang datang dengan kecemasan. Pulang dengan ketenangan.

Saya yakin, pengalaman sederhana di dalam kolam itu akan terbawa ke luar kolam. Ketika suatu hari menghadapi persoalan hidup, mungkin mereka akan teringat:

"Dulu saya takut masuk ke air sedalam dua meter. Tetapi saya mencoba. Saya berani melepaskan pegangan. Saya ternyata bisa."

Maka ketika menghadapi masalah kehidupan, semoga muncul keyakinan yang sama: "Saya pernah melewati ketakutan. Saya pasti bisa melewati ini. Dengan ikhtiar dan pertolongan Allah."

Semoga setiap tetes air menjadi saksi sebuah ikhtiar. Ikhtiar untuk sehat. Ikhtiar untuk berani. Ikhtiar untuk berdamai dengan diri sendiri. Ikhtiar untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Bismillah dalam setiap langkah.
Tawakal setelah berusaha.
Syukur atas setiap nikmat yang Allah berikan.

Cepu, 10 Agustus 2026

Ilmu Yang Luar Biasa

 

Karya: Gutamining Saida

Kurang lebih sejak pukul 09.45 WIB Pak Gun membagikan sebuah video tentang ibu saya di grup Muda Swimming Squad 2. Saat itu saya hanya sempat melihat sekilas. Beberapa komentar teman-teman juga saya baca sambil lalu. Bukan karena tidak tertarik, tetapi hari Rabu memang menjadi hari yang cukup padat bagi saya.

Sejak jam pertama sampai jam terakhir, saya harus mengajar. Fokus saya tertuju pada tugas dan tanggung jawab di sekolah. Di sela-sela istirahat, sesekali saya membuka ponsel. Bukan untuk membaca semua percakapan di grup, tetapi hanya melihat pesan-pesan yang saya anggap penting.

Saya berpikir, nanti kalau sudah selesai mengajar, saya bisa membaca lebih tenang. Menjelang sore, setelah tugas mengajar selesai, saya mulai membuka kembali beberapa chat di grup Muda Swimming Squad 2.

Wiiiiih...

Ternyata banyak sekali ilmu yang dibagikan Pak Gun!

Saya yang tadi pagi hanya melihat sekilas, sore harinya justru mendapatkan banyak hal yang membuat saya berhenti sejenak untuk membaca. Ternyata, di balik obrolan sederhana di grup, ada banyak pesan tentang kesehatan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pak Gun memang hampir setiap saat berbagi ilmu kesehatan di grup. Tidak hanya sekadar memberikan nasihat, tetapi mengajak kami memahami tubuh sendiri. Lebih menarik lagi, ketika berada di kolam, Pak Gun tidak banyak memberikan teori panjang. Ia lebih suka mengarahkan kami langsung untuk praktik.

“Begini gerakannya...”

Kemudian beliau memberikan contoh.

Kami tinggal mengikuti. Menurut saya, cara seperti ini justru membuat ilmu lebih mudah diterima. Tidak perlu terlalu banyak istilah rumit. Tidak harus mendengarkan teori waktu lama. Tubuh langsung bergerak, mencoba, merasakan, lalu belajar.

Banyak orang yang datang ke kolam membawa keluhan kesehatan masing-masing. Ada yang keluhannya ringan, ada pula yang cukup berat. Sebagian besar adalah ibu-ibu yang memiliki keinginan sederhana. Ingin sehat.

Tidak ada yang lebih mahal daripada kesehatan. Ketika tubuh sehat, kita bisa melakukan banyak hal. Bisa bekerja, mengajar, mengurus keluarga, berkumpul dengan teman, bepergian, bahkan sekadar menikmati pagi dengan perasaan tenang.

Ketika kesehatan terganggu, banyak hal yang sebelumnya terasa biasa menjadi sangat berarti. Berjalan terasa berat, tidur tidak nyaman, bekerja tidak maksimal. Bahkan tersenyum pun kadang membutuhkan perjuangan.

Pesan-pesan Pak Gun tentang kesehatan terasa begitu dekat. Dalam penuturannya, berbagai keluhan yang kita rasakan tidak selalu datang begitu saja. Ada hubungan antara kondisi tubuh dengan hati, pikiran, dan perasaan.

Kadang tubuh terasa lelah bukan semata-mata karena aktivitas fisik. Pikiran yang terlalu penuh juga bisa membuat tubuh ikut lelah. Hati yang tidak tenang bisa membuat tidur terganggu. Perasaan yang terus dipendam bisa membuat kita kehilangan semangat. Di sinilah saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan ternyata bukan hanya soal obat atau terapi, menjaga kesehatan berarti belajar menjaga pikiran, menjaga hati, mengelola perasaan. Tentu saja menjaga pola hidup.

Pak Gun selalu mengingatkan agar kita banyak bergerak, berolahraga, menjaga makan dan minum, serta memberikan tubuh waktu yang cukup untuk beristirahat. Sederhana. Tetapi sering kali justru hal-hal sederhana itulah yang paling sulit kita lakukan. Kita tahu olahraga itu penting, tetapi sering malas bergerak. Kita tahu makanan harus dijaga, tetapi godaan makanan enak begitu besar. Kita tahu istirahat cukup itu penting, tetapi sering kali kita masih sibuk dengan pekerjaan.

Kita tahu pikiran harus tenang, tetapi masalah kehidupan terus datang silih berganti. Maka pesan Pak Gun sebenarnya bukan sekadar tentang berenang. Lebih jauh dari itu, beliau sedang mengajak kami mengubah kebiasaan, mengajak kami lebih peduli kepada tubuh sendiri.

Salah satu bagian chat yang saya baca berisi beberapa keluhan yang sering dialami banyak orang. Sakit gigi, linu-linu, nyeri karena otot kaku, sampai leher yang terasa “cengeng” karena salah posisi tidur atau bantal. 

Saya membaca pelan-pelan. Sampai akhirnya tiba pada kalimat terakhir. Saya langsung tersenyum. “Eh...” Rasanya seperti membaca promosi seorang tukang jamu! Hahaha... Ada saja cara Pak Gun menyampaikan pesan kesehatan yang membuat pembacanya tidak merasa sedang digurui.

Saya sebenarnya ingin ikut berkomentar di grup. Namun ketika melihat jam, ternyata sudah malam. Saya pun berpikir, kalau sekarang baru ikut berkomentar, rasanya berita serunya sudah kedaluwarsa

Akhirnya saya hanya tersenyum sendiri sambil membaca kembali beberapa pesan. Terlambat membaca, tetapi tidak terlambat mendapatkan ilmu. Itulah yang saya rasakan .Kadang sebuah pesan memang tidak harus langsung kita respons. Yang lebih penting, pesan tersebut sampai kepada kita pada waktu yang tepat.

Dari Pak Gun saya belajar berbagi ilmu tidak harus selalu melalui ruang kelas, seminar, atau buku tebal. Ilmu bisa datang dari kolam renang, percakapan sederhana, gerakan yang dicontohkan, sebuah chat di grup yang kita baca setelah pekerjaan selesai.

Dan yang paling penting, ilmu tersebut akan menjadi berarti apabila kita mau mempraktikkannya. Saya pun kembali teringat pada teman-teman di kolam. Mereka datang dengan cerita kesehatan masing-masing, ingin mengurangi rasa sakit, ingin tubuh lebih kuat, ingin kembali aktif, ingin menjaga kesehatan agar tetap bisa mendampingi keluarga.

Tujuannya berbeda-beda, tetapi ada satu kesamaan yaitu Kami ingin sehat. Mungkin itulah alasan mengapa kolam renang terasa begitu istimewa. Di sana kami tidak hanya belajar menggerakkan tangan dan kaki, belajar mendengarkan tubuh, belajar bersabar, belajar konsisten, belajar kesehatan tidak bisa diperoleh hanya dalam satu atau dua kali latihan. Kesehatan membutuhkan kebiasaan, kemauan,  kesadaran dari dalam diri sendiri.

Mungkin benar apa yang sering disampaikan Pak Gun, bahwa tubuh kita perlu diajak bergerak. Jangan menunggu sakit baru mulai peduli. Jangan menunggu tubuh memberi tanda keras baru kita memperhatikan pola hidup.

Mulailah dari hal kecil, bergerak, berolahraga, menjaga makanan dan minuman. Beristirahat, menjaga pikiran, menjaga hati, menjaga perasaan. Saya mungkin terlambat membaca pesan Pak Gun. Tetapi saya justru mendapatkan pelajaran yang lebih dalam.

Terlambat membaca bukan berarti terlambat belajar. Dan sebuah pesan sederhana di grup WhatsApp ternyata bisa menjadi pengingat besar, kesehatan adalah investasi yang harus dijaga setiap hari. Terima kasih, Pak Gun. Terima kasih sudah tidak bosan berbagi ilmu. Terima kasih sudah mengajarkan kesehatan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan gerakan.

Semoga kami semua bukan hanya rajin membaca pesan kesehatan di grup, tetapi juga rajin mempraktikkannya. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan sekadar pengetahuan. Kesehatan adalah kebiasaan yang kita lakukan setiap hari.

Malam ini sambil tersenyum merasa ketinggalan “berita seru” di grup, saya kembali menyadari satu hal yaitu Tidak apa-apa menjadi pembaca terakhir, selama kita tetap menjadi pelaku yang tidak pernah berhenti menjaga kesehatan.

Cepu, 13 Agustus 2026

Sebuah Tawa

Karya: Gutamining Saida

Ada kalanya sebuah pertemuan tidak perlu dirancang dengan istimewa untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Tidak harus ada acara besar, permainan yang meriah, atau pembelajaran dengan media yang penuh warna. Kadang-kadang, sebuah kalimat sederhana yang terlontar tanpa sengaja justru mampu membuka kembali pintu kenangan yang sempat tertutup.

Kamis saya mendapat tugas piket di kelas 8F. Saya masuk ke kelas bukan sebagai guru yang membawa jadwal pembelajaran seperti biasanya. Saya datang untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir. Mata pelajaran yang kosong adalah Seni Budaya. Ada sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar menggantikan guru yang tidak hadir.

Saya kembali bertemu dengan anak-anak kelas 8F. Sudah sebulan saya tidak pernah berdiri di depan mereka. Sejak awal tahun pembelajaran 2026–2027, saya memang tidak mendapatkan jadwal mengajar di kelas 8F. Hari-hari berlalu begitu saja. Saya hanya sesekali bertemu dengan mereka ketika berpapasan di halaman sekolah.

Kadang ada yang menyapa. Kadang hanya saling melempar senyum. Kadang saya melihat mereka dari kejauhan ketika sedang berjalan menuju kelas masing-masing. Pertemuan di halaman tentu berbeda dengan pertemuan di dalam kelas. Di halaman, kami hanya bertemu beberapa detik. Tidak ada kesempatan untuk bertanya, bercanda, atau melihat ekspresi mereka lebih lama.

Ketika kaki saya melangkah masuk ke kelas 8F, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti kembali ke sebuah ruang yang pernah begitu akrab. Mereka tampak menyadari kehadiran saya. Saya melihat wajah-wajah yang sebenarnya masih saya kenali. Ada yang langsung tersenyum,  memperhatikan, mungkin masih menyimpan kebiasaan-kebiasaan kecil mereka ketika saya mengajar dahulu.

Bertemu di halaman berbeda banget sama ketemu di kelas. Di halaman cuma sebentar. Kami tidak sempat ngobrol, bercanda, atau lihat ekspresi mereka lebih lama. Jadi waktu saya melangkah masuk ke kelas 8F pagi itu, rasanya  balik ke tempat yang dulu akrab banget, tapi belakangan menjadi agak jauh. 

Saya kemudian bertanya kepada mereka,

“Bagaimana kabar kalian?”

Ada satu suara yang nyeletuk dari salah satu sudut kursi belakang. Saya langsung mengenali suara itu. "Zio" menjawab dengan suara lantang, Anak yang memang sering komentar spontan. Kadang jawabannya membuat kelas jadi hidup. 

“Sehat, Paak!”

Sejenak kelas hening. Lalu…Hahaha!

Seketika satu kelas tertawa. Tidak ada aba-aba. Tidak ada yang memimpin. Tidak ada komando. Tawa itu muncul begitu saja, seperti air yang tiba-tiba mengalir setelah bendungan dibuka. Zio sendiri ikut tertawa. Wajahnya tampak santai. Tidak terlihat sedikit pun ekspresi bersalah. Seolah-olah ia tidak merasa salah. Saya pun tidak bisa menahan senyum. Saya memandang ke arah Zio.

“Lho… memangnya saya lelaki?” tanya saya.

Zio tersenyum. “Maaf, Bu,” jawabnya sambil tetap tersenyum.

Jawaban sederhana itu justru semakin membuat suasana kelas hangat. Saya ikut tertawa. Anak-anak pun kembali tertawa. Saya sedang menemukan kembali sebuah kebersamaan yang sempat hilang. Sebulan tidak bertemu dalam pembelajaran ternyata membuat pertemuan terasa begitu berarti. Saya melihat wajah-wajah mereka yang dahulu setiap minggu ada di depan saya. Saya mendengar kembali suara-suara khas mereka. Saya melihat senyum yang mungkin selama ini hanya saya jumpai sekilas di halaman sekolah.

Ada aura bahagia yang tiba-tiba tercipta. Tawa Zio menjadi pemantik. Kalimat “Sehat, Paak!” yang sebenarnya salah sebut justru menjadi pintu pembuka sebuah pertemuan yang hangat. Betapa seringnya kita sebagai guru terlalu sibuk mengejar target pembelajaran, menyelesaikan materi, memberikan tugas. Mengoreksi pekerjaan siswa. Mengisi administrasi. Semua itu memang penting.

Tetapi terkadang kita lupa bahwa di balik semua proses tersebut ada manusia-manusia kecil yang sedang bertumbuh, membutuhkan ruang untuk tertawa, membutuhkan guru yang bisa tersenyum bersama mereka, membutuhkan suasana kelas yang membuat mereka merasa diterima.

Bagi saya, tawa mereka adalah hadiah. Ada rasa kangen yang sedikit terobati. Mungkin Zio bakal lupa tugas yang saya berikan. Teman-temannya juga mungkin nggak ingat detail obrolan setelahnya. Saya berharap mereka nggak lupa satu hal, pagi itu kita pernah ketawa bareng. Kamis pagi yang paling terasa bukan cuma sehat, tapi bahagia. Sampai jumpa lagi.

Cepu, 13 Agustus 2026


Senin, 10 Agustus 2026

Telur Ceplok



Karya: Gutamining Saida

Jam pertama sampai kedua adalah waktunya saya menjalankan tugas mengajar IPS. Bagi sebagian siswa, dua jam pelajaran mungkin terasa biasa saja. Bagi saya, setiap pertemuan selalu memiliki kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.

Saya sadar betul IPS sering kali masih dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang penting. Bahkan tidak sedikit siswa yang menganggap IPS sebagai mata pelajaran yang membosankan. Mereka lebih mudah mengatakan, “IPS mata pelajaran kurang keren, tidak penting, hafalan.”

Anggapan seperti itulah yang membuat saya tertantang. Sebagai guru IPS sekaligus wali kelas mereka, saya tidak ingin hanya menyampaikan materi, memberikan tugas, lalu selesai. Saya ingin mengubah cara pandang mereka. Saya ingin membuat mereka merasakan IPS bukan sekadar tulisan di buku, bukan sekadar nama tokoh, tempat, tahun, peta, atau teori yang harus dihafalkan.

IPS adalah kehidupan. Setiap hari kita bersentuhan dengan IPS. Ketika kita berbicara dengan teman, bekerja sama dalam kelompok, berinteraksi dengan guru, berbelanja di kantin, menggunakan uang, mengikuti aturan sekolah, mengenal lingkungan, memahami perbedaan karakter teman, bahkan ketika kita menentukan cita-cita dan mempersiapkan masa depan semuanya memiliki hubungan dengan ilmu pengetahuan sosial.

Manusia adalah makhluk sosial. Itulah yang ingin saya tanamkan kepada mereka. Bagaimana caranya agar pesan itu tidak hanya berhenti sebagai nasihat? Saya pun mencoba menghadirkan sesuatu yang sederhana.

Telor ceplok.

Ya, telor ceplok!

Mungkin terdengar lucu. Apa hubungannya IPS dengan telor ceplok?  Saya siapkan media pembelajaran berupa gambar telor ceplok. Saya ingin mengajak mereka seolah-olah sedang sarapan pagi bersama. Bukan sarapan biasa, menu sarapan telor ceplok spesial.

Telor ceplok itu saya jadikan simbol. Putih telurnya mengingatkan tentang ketulusan. Kuning telurnya menjadi simbol semangat yang harus terus menyala. Keseluruhan telor ceplok menjadi gambaran  sesuatu yang sederhana bisa menjadi luar biasa apabila dikemas dengan kreativitas.

Saya masuk kelas VIIIA sebagai guru IPS sekaligus wali kelas dengan membawa media yang sudah siap. Saya bisa membayangkan rasa penasaran mereka.

“Mau belajar apa, Bu?”

“Mengapa ada telor ceplok?”

“Mau sarapan, Bu?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang saya harapkan muncul. Saya ingin menciptakan rasa penasaran sebelum materi dimulai. Menurut saya, pembelajaran yang menyenangkan tidak selalu membutuhkan media yang mahal. Tidak harus menggunakan teknologi canggih. Tidak harus menggunakan alat yang rumit.

Kadang-kadang sebuah telor ceplok yang sederhana mampu membuka pintu perhatian siswa. Saya pun mengajak mereka untuk “sarapan pagi”. 

"Ayo kita sarapan pagi bersama dengan telor ceplok."ucap saya sambil menata telor ceplok di meja. "Saya sudah sarapan di rumah, bu." jawab Rangga. Suasana kelas menjadi lebih hidup.

"Wah baguus bila sudah sarapan!"jawab saya

"Sarapan pagi ini tidak membuat kalian kenyang."

"Kalau tidak kenyang, lalu bagaimana bu?"tanya Dika

"Kalian menjadi haus."jawab saya singkat

"Koook bisa bu?"tanya Mustofa

"Ya iyalah, haus ilmu pengetahuan maksudnya!"

"Oooooh begitu."jawab Atta

"Membuat kalian sehat dan melek pikiran."jawab saya

Bukan sekadar sarapan makanan, tetapi sarapan semangat. Saya ingin mereka sehat jasmani sekaligus sehat pikiran. Sebab masa depan tidak cukup hanya dibangun dengan tubuh yang sehat. Pikiran juga harus sehat. Cara berpikir harus berkembang. Hati harus memiliki semangat. Pengetahuan harus terus bertambah.

Saya ingin setiap siswa memiliki keyakinan bahwa mereka mampu mencapai kesuksesan di masa depan. Kesuksesan itu tidak datang tiba-tiba. Kesuksesan membutuhkan proses. Belajar. Berlatih. Bekerja sama. Menghargai orang lain. Mampu berkomunikasi. Mampu memahami lingkungan. Mampu mengambil keputusan. Semua itu ada di IPS.

Saya sering berpikir, mungkin selama ini yang membuat IPS terasa membosankan bukan karena materinya tidak menarik. Bisa jadi cara menyampaikannya yang perlu terus diperbarui. Guru IPS harus memiliki seribu cara. Ketika siswa bosan dengan buku, kita hadirkan gambar. Ketika mereka jenuh dengan tulisan, kita hadirkan permainan.

Sebuah benda sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari saya ubah menjadi pintu masuk pembelajaran. Saya ingin mereka memahami belajar tidak harus selalu dalam suasana tegang. Belajar boleh tertawa. Belajar sambil bermain. 

Ada perubahan kecil dalam cara mereka memandang pelajaran. Sebagai wali kelas, saya mempunyai tanggung jawab yang lebih dari sekadar mengajar materi. Saya ingin mengenal mereka. Saya ingin memahami karakter mereka. Saya ingin melihat kelebihan mereka. Saya ingin membangun kepercayaan diri mereka.

Saya ingin kelas menjadi tempat yang membuat mereka merasa aman untuk belajar, bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan. Saya percaya, anak-anak tidak hanya membutuhkan guru yang pintar menjelaskan materi. Mereka membutuhkan guru yang mampu menyalakan api semangat di dalam dirinya.

Api kecil itu mungkin hari ini hanya berupa rasa senang mengikuti pembelajaran. Besok berubah menjadi rasa ingin tahu. Lusa menjadi kebiasaan belajar. Suatu hari nanti mungkin berubah menjadi kesuksesan.

Saya tidak pernah tahu siswa mana yang kelak menjadi dokter, guru, pengusaha, polisi, tentara, pejabat, ilmuwan, seniman, atau profesi lainnya. Tetapi saya tahu satu hal. Mereka adalah generasi masa depan.

Karena itu, setiap pertemuan dengan mereka adalah kesempatan untuk menanam sesuatu. Bukan hanya materi pelajaran. Tetapi juga karakter. Semangat. Kemandirian. Kerja sama. Tanggung jawab. Serta kecintaan terhadap proses belajar.

Telor ceplok pagi itu akhirnya bukan sekadar media pembelajaran. Ia menjadi sebuah pesan. Sesuatu yang dianggap sederhana bisa memiliki makna besar. Pelajaran yang dianggap tidak penting bisa menjadi sangat dekat dengan kehidupan.

IPS yang dianggap kurang keren ternyata ada di mana-mana, di rumah, sekolah, pasar, lingkungan masyarakat, media sosial, dunia kerja. Hubungan kita dengan sesama manusia. IPS mengajarkan kita memahami manusia, lingkungan, perubahan, perbedaan dan memahami  hidup bersama sebagai bagian dari masyarakat.

Maka saya ingin mengubah satu kalimat di dalam kelas saya. Bukan lagi, “IPS itu membosankan.” Tetapi, “IPS itu kehidupan kita.” “IPS membantu kita memahami kehidupan.”

Sabtu pagi dua jam pelajaran. Saya berharap dua jam dapat meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar catatan di buku. Saya berharap ada semangat yang tumbuh, senyum yang hadir dan  kecintaan baru terhadap IPS.

Telor ceplok bisa berubah menjadi sarapan semangat, sarapan ilmu, dan sarapan harapan untuk masa depan. Guru berusaha membuat siswa percaya dirinya mampu belajar, mampu berkembang, dan mampu menjadi manusia hebat di masa depan. Semangat  kecil hari ini, kelak bisa menjadi cahaya besar dalam perjalanan hidup mereka. Aamiin.

Cepu, 8 Agustus 2026


Rabu, 05 Agustus 2026

Salah Nama

 

Karya: Gutamining Saida

Tahun ajaran 2026–2027 menjadi babak baru dalam perjalanan saya sebagai guru IPS. Kini saya kembali menyambut siswa-siswi kelas VII yang baru memasuki dunia SMP. Rasanya seperti kembali ke titik awal. Mereka datang dengan wajah-wajah penuh harapan, rasa ingin tahu, dan semangat yang meluap-luap. Salah satu kelas yang menjadi tempat saya berbagi adalah kelas 7C.

Sejak pertemuan pertama, saya sudah bisa merasakan bahwa kelas ini berbeda. Suasananya hidup, ramai, penuh energi, bahkan terkadang terasa sangat heboh. Di balik keramaian itu tersimpan semangat belajar yang luar biasa. Mereka aktif bertanya, antusias menjawab, tidak takut mengemukakan pendapat, dan selalu membuat pembelajaran terasa lebih berwarna. Kelas 7C benar-benar menjadi ruang belajar yang seru.

Saya sering bercanda kepada mereka. "Wah, kelas ini cowok-cowoknya ganteng semua, cewek-ceweknya cantik-cantik, ditambah lagi kreatif." Mendengar ucapan itu, mereka langsung tertawa. Ada yang malu-malu, ada yang tersenyum bangga, bahkan ada yang saling menunjuk temannya sambil bercanda. Suasana kelas pun menjadi semakin akrab.

Ketua kelas 7C bernama Jonathan. Dia berasal dari Merah Molyorejo. Agar terdengar lebih unik dan mudah saya ingat, saya sering menggodanya dengan menyebut, "Jonathan rumahnya Blok M." Anak-anak langsung tertawa karena mereka tahu yang saya maksud bukan Blok M di Jakarta, melainkan singkatan yang saya buat sendiri dari Desa Merah. Candaan sederhana itu justru membuat suasana kelas menjadi lebih cair.

Meski demikian, ada satu tantangan yang selalu hadir di awal tahun ajaran, yaitu menghafalkan nama seluruh siswa. Bagi saya yang mengajar tujuh kelas, mengingat ratusan nama dalam waktu singkat bukanlah perkara mudah. Saya baru berhasil menghafal beberapa nama saja.

Di antara siswi yang mulai saya kenal ada Kia, Yunior, Zahwa, Jihan, dan tentu saja Muna. Muna adalah siswi yang paling mudah saya ingat. Bukan karena  karena duduk di barisan belakang, melainkan karena ia sangat aktif berbicara. Hampir setiap kesempatan selalu ada saja yang ingin ia sampaikan. Wajahnya manis, kulit sawo matang, senyumnya ceria, dan ia berasal dari Sambong. Kehadirannya membuat suasana kelas selalu hidup.

Sementara itu, dari siswa laki-laki saya mulai mengenal Bagus, Afif, Alvaro, dan Saka. Walaupun beberapa nama sudah saya hafal, tidak jarang saya masih tertukar ketika memanggil mereka.

"Bambang... eh, maaf, ternyata Bagus."

"Afif... eh, ternyata Alvaro."

Begitulah yang sering terjadi. Setiap kali saya salah menyebut nama, ekspresi mereka berubah. Ada yang langsung tersenyum malu, ada yang tertawa, tetapi ada juga yang memasang wajah kecewa seolah berkata, "Bu..., masa nama saya belum hafal juga?"

Melihat wajah-wajah itu saya selalu meminta maaf sambil berkata, "Sabar ya, Bu Saida masih proses menghafal. Nanti pasti hafal semuanya." Mereka pun akhirnya tersenyum lagi. Saya menyadari bahwa memanggil siswa dengan nama yang benar bukan sekadar formalitas. Nama adalah identitas. Ketika seorang guru mengingat nama muridnya, mereka merasa dihargai, diperhatikan, dan diakui keberadaannya. Karena itulah saya terus berusaha menghafalkan nama satu per satu.

Ternyata, bukan hanya saya yang sering keliru. Mereka pun pernah melakukan kesalahan yang hingga kini selalu mengundang tawa. Suatu hari, saat saya berjalan di lingkungan kelas tujuh, tiba-tiba terdengar suara keras dari kejauhan.

"Bu Peniiiiii...!"

Saya tetap berjalan tanpa menoleh. Dalam hati saya berpikir, "Itu pasti memanggil guru PKn. Beberapa langkah kemudian suara itu terdengar lagi, bahkan lebih keras.

"Bu Peniiiiii...!"

Saya masih tidak merasa dipanggil. Tidak lama kemudian terdengar untuk ketiga kalinya.

"Bu Peniiiiii...!"

Karena penasaran, saya menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang siswi yang melambaikan tangan sambil tertawa lebar. Ia adalah Muna. Saya pun ikut tertawa.

"Muna... itu bukan nama saya."

Wajahnya langsung berubah malu. Sambil tersenyum ia berkata, "Maaf, Bu... mirip bu Peni."

Sejak kejadian itu, setiap kali kami berpapasan di sekolah, Muna selalu tersenyum, sering tertawa sendiri. Mungkin ia masih teringat kekeliruannya memanggil saya dengan nama guru lain. Saya pun selalu membalas senyumnya. Kesalahan kecil itu justru menjadi kenangan yang menyenangkan.

Peristiwa sederhana tersebut mengajarkan saya proses saling mengenal membutuhkan waktu. Guru sedang belajar mengenal siswanya, sementara siswa juga sedang belajar mengenal guru-gurunya. Tidak ada yang perlu ditertawakan dengan rasa malu, karena semua itu merupakan bagian dari perjalanan membangun kedekatan.

Saya percaya, hubungan yang baik antara guru dan siswa tidak selalu dibangun melalui pelajaran yang rumit. Justru sering kali lahir dari percakapan ringan, candaan sederhana, atau bahkan kekeliruan yang mengundang tawa. Momen-momen seperti itulah yang membuat kelas terasa hangat dan penuh kenangan.

Setiap kali memasuki kelas 7C, saya semakin bersemangat. Sedikit demi sedikit nama mereka mulai saya hafal. Saya yakin suatu hari nanti saya akan mengenal mereka bukan hanya dari namanya, tetapi juga dari karakter, cita-cita, bakat, dan impian yang mereka miliki.

Kelas 7C telah mengingatkan saya bila menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi. Menjadi guru juga membangun hubungan, menumbuhkan rasa percaya, dan menciptakan kenangan indah yang akan selalu dikenang. Siapa sangka, sebuah kesalahan memanggil nama justru menjadi awal lahirnya kedekatan, tawa, dan cerita yang akan selalu tersimpan dalam ingatan, baik bagi guru maupun bagi siswanya. Semoga selalu ingat pada guru IPS kalian.

Cepu, 6 Agustus 2026

Selasa, 04 Agustus 2026

Batu


Karya: Gutamining Saida

Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa hikmah. Langit yang membentang, pepohonan yang tumbuh, air yang mengalir, hingga tumpukan batu yang tampak diam sekalipun, semuanya menyimpan pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.

Saat menatap tumpukan batu di alam, saya terpaku sejenak. Batu-batu itu memiliki ukuran yang berbeda. Ada yang besar, sedang, dan kecil. Namun, ketika tersusun secara alami, semuanya tampak serasi. Tidak saling berebut tempat. Tidak saling menjatuhkan. Justru perbedaan itulah yang melahirkan keindahan.

Saya membayangkan, batu-batu itu telah berada di sana bertahun-tahun, bahkan mungkin puluhan atau ratusan tahun. Hujan datang silih berganti, panas matahari menyengat, angin bertiup kencang, tetapi mereka tetap berdiri pada tempatnya. Alam telah mengajarkan keseimbangan yang begitu indah.

Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran dan ketentuan yang sempurna. Tidak ada yang sia-sia. Batu besar memiliki fungsinya, demikian pula batu kecil. Semua saling melengkapi dalam harmoni ciptaan-Nya.

Keindahan itu dapat berubah dalam waktu singkat ketika tangan manusia mulai ikut campur tanpa rasa tanggung jawab. Batu-batu yang semula tersusun rapi dipindahkan sesuka hati, dipecah, diambil, atau dirusak demi kepentingan sesaat. Alam yang indah perlahan kehilangan pesonanya karena ulah manusia sendiri.

Bukankah Allah telah mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi karena perbuatan tangan manusia? Ayat itu menjadi pengingat bahwa manusia diberi amanah sebagai khalifah di bumi, bukan sebagai perusaknya. Menjaga alam berarti menjaga titipan Allah, sedangkan merusaknya berarti mengkhianati amanah yang telah diberikan.

Tumpukan batu itu akhirnya mengajarkan saya sebuah pelajaran yang sangat berharga. Kehidupan akan indah apabila setiap orang mampu menempatkan diri sesuai porsinya. Yang kuat melindungi yang lemah. Yang besar tidak meremehkan yang kecil. Perbedaan bukan alasan untuk saling menjatuhkan, tetapi kesempatan untuk saling menguatkan.

Semoga setiap langkah tadabur kepada alam semakin menambah keimanan kepada Allah.. Semoga mata kita tidak hanya melihat keindahan ciptaan-Nya, tetapi juga mampu menangkap hikmah di balik setiap ciptaan. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang menjaga bumi dengan penuh rasa syukur, sehingga alam tetap indah untuk dinikmati oleh generasi yang akan datang. Aamiin.

Cepu, 4 Agustus 2026