Karya: Gutamining Saida
Pagi, siang, sore, bahkan malam bagi saya, nasi pecel selalu punya tempat tersendiri di hati. Tidak ada waktu yang terasa salah untuk menikmatinya. Seperti halnya rezeki dari Allah Subhanahu Wata'alla, ia bisa datang kapan saja, dengan cara yang sederhana namun mengenyangkan jiwa. Begitulah kira-kira perasaan saya setiap kali berjumpa dengan sepiring, sepincuk, sebungkus nasi pecel.
Hari itu, langkah motor terhenti ketika melewati sebuah warung nasi pecel di dekat rel kereta api. Warung sederhana, namun selalu ramai. Asap tipis dari dapur kecilnya mengepul pelan, seakan mengirimkan pesan: “Di sini ada kehangatan.” Tanpa banyak pertimbangan, ajakan dalam hati untuk berhenti langsung saya iyakan. “Kenapa tidak?” batin saya. Bukankah ini juga bagian dari nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan di tengah perjalanan?
Anak saya yang menemani langsung sigap memesan dua porsi nasi pecel. Wajahnya tampak berbinar, mungkin sama seperti saya yang sudah membayangkan lezatnya sambal kacang yang khas itu. Tidak lama, satu per satu pesanan datang. Ada yang menarik perhatian saya dua pincuk daun pisang yang kami terima tampil berbeda di kanan kiri tangan anak saya.
Yang satu, nasi tampak lebih banyak dengan sayur diguyur sambal kacang dengan tumpukan beberapa tempe serta ditaburi kriuk tepung. Sedangkan yang satu lagi tampak lebih sederhana dengan taburan melanding tampak hijau segar. Saya hanya tersenyum kecil. Dalam hati, saya berkata, “Inilah kehidupan. Tidak selalu sama, tidak selalu seimbang, tapi selalu ada hikmah di dalamnya.”
Saya melirik ke arah penjual. Seorang nenek tua dengan wajah penuh keriput namun memancarkan ketulusan. Tangannya bergerak lincah, penuh ketelitian. Di sampingnya, dua remaja membantu seorang perempuan dan seorang laki-laki, mungkin cucunya. Mereka berbagi tugas. Yang perempuan tampak menyemat pincuk, sementara yang laki-laki melayani minuman untuk pembeli dan mengoreng tempe.
Pemandangan itu membuat hati saya hangat. Di tengah kesederhanaan, mereka bekerja sama, saling membantu, tanpa keluhan yang terdengar. Saya jadi teringat bahwa dalam Islam, bekerja adalah ibadah. Setiap keringat yang jatuh, setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang lurus, akan bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu Wata'alla..
Antrian pembeli terlihat cukup panjang. Ada ibu-ibu, para remaja, bahkan beberapa orang laki-laki yang tampak seperti baru pulang dari sawah. Mereka semua berdiri dengan sabar, tanpa protes, tanpa desakan. Sungguh pemandangan yang jarang saya temui di tempat lain.
“Sabar itu indah,” gumam saya pelan. Bukankah dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wata'alla telah menjanjikan bahwa bersama kesabaran akan datang pertolongan? Di warung kecil ini, saya justru melihat praktik nyata dari nilai-nilai kesabaran.
Ketika saya mulai menyantap nasi pecel, rasa syukur tiba-tiba mengalir deras dalam hati. Sambal kacangnya terasa begitu nikmat, sayur kangkung, kecambah segar, dan tempe gorengnya renyah. Tapi lebih dari itu, saya merasakan sesuatu yang berbeda yaitu sebuah keikhlasan yang seolah ikut tersaji dalam setiap suapan.
Saya teringat bahwa makanan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang keberkahan. Dari siapa kita membeli, bagaimana cara mendapatkannya, hingga bagaimana kita menikmatinya semuanya akan mempengaruhi hati.
Melihat nenek penjual itu, saya membayangkan betapa besar perjuangannya. Di usia senja, ia masih berdiri, melayani pembeli, dibantu cucu-cucunya. Tidak mengeluh, tidak menyerah pada keadaan. Saya jadi malu pada diri sendiri, yang kadang masih mengeluh atas hal-hal kecil.
“Ya Allah, berkahilah rezeki mereka,” doa saya dalam hati.
Saya juga belajar satu hal penting hari itu tentang bisa menerima keadaan dengan ikhlas. Dua pincuk nasi pecel yang berbeda tadi mengajarkan bahwa hidup memang tidak selalu sama rata. Bukan berarti tidak adil. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.
Mungkin porsi yang berbeda itu justru menjadi pengingat agar kita tidak terlalu sibuk membandingkan. Karena bisa jadi, apa yang terlihat lebih sedikit justru lebih berkah. Dan apa yang tampak lebih banyak, belum tentu membawa ketenangan.
Suara kereta api yang melintas di dekat warung itu seakan menjadi latar yang pas untuk renungan saya. Hidup ini berjalan seperti rel kereta sudah ada jalurnya, sudah ada takdirnya. Tugas kita hanyalah menjalani dengan sabar, syukur, dan tawakal.
Selesai makan, saya menatap kembali warung itu sebelum pergi. Tempat sederhana, namun penuh pelajaran berharga. Saya datang untuk makan, tapi pulang membawa lebih dari sekadar kenyang. Saya membawa rasa syukur yang lebih dalam, kesadaran untuk lebih sabar, dan tekad untuk lebih ikhlas dalam menjalani hidup.
Ternyata, sepincuk nasi pecel bukan hanya soal rasa di lidah. Ia bisa menjadi wasilah untuk mengingat Allah Subhanahu Wata'alla, merenungi kehidupan, dan memperbaiki hati. Sejak hari itu, setiap kali saya makan nasi pecel, saya tidak hanya berkata, “Enak,” tetapi juga berbisik dalam hati, “Alhamdulillah enak.”
Cepu, 5 April 2026








