Minggu, 04 Januari 2026

Persiapan Hari Pertama Semester Genap



Karya : Gutamining Saida

Semester genap tahun 2026 menjadi momentum yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan ini tidak hanya dirasakan dari suasana sekolah yang kembali ramai setelah masa libur, tetapi juga dari adanya himbauan resmi yang disampaikan oleh Bapak Menteri Pendidikan pada hari pertama masuk sekolah. Himbauan tersebut menjadi arah bersama bagi seluruh satuan pendidikan dalam mengawali semester genap dengan semangat baru, kebersamaan, serta optimisme untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Pada hari pertama masuk sekolah, siswa diajak untuk melaksanakan beberapa kegiatan utama. Kegiatan tersebut meliputi Senam Anak Indonesia Hebat, upacara bendera, berdoa bersama, serta menyanyikan lagu “Hari Baru”. Rangkaian kegiatan ini dirancang bukan semata-mata sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai upaya membangun karakter peserta didik, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan sekolah sejak awal semester.

Seiring dengan beredarnya himbauan tersebut, di berbagai media sosial ramai berseliweran panduan singkat bagi para guru terkait pelaksanaan hari pertama masuk sekolah semester genap. Panduan tersebut disusun secara ringkas dan praktis agar mudah dipahami serta diterapkan oleh seluruh satuan pendidikan. Tujuan utamanya adalah agar pelaksanaan kegiatan berjalan seragam dan selaras dengan kebijakan kementerian, sekaligus mampu menciptakan suasana awal semester yang positif dan membangun.

Sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum turut berperan aktif dalam menyampaikan informasi kepada seluruh guru. Melalui grup resmi sekolah, beliau membagikan pengumuman terkait persiapan hari Senin sebagai hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Dalam pengumuman tersebut disertakan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pagi Ceria yang menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan awal semester genap. Selain itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum juga membagikan tautan YouTube berisi lagu “Hari Baru” yang akan dinyanyikan bersama oleh seluruh siswa. Penyampaian informasi ini bertujuan agar seluruh guru memiliki pemahaman yang sama, dapat mempersiapkan diri dengan baik, serta mampu mendampingi siswa secara optimal dalam mengikuti rangkaian kegiatan pada hari pertama masuk sekolah.

Kemendikdasmen secara resmi mengajak seluruh satuan pendidikan, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk mengawali semester genap dengan kegiatan “Pagi Ceria” dan upacara bendera. Ajakan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik sebagai generasi penerus bangsa yang sehat, berdisiplin, dan berjiwa nasionalis.

Kegiatan Pagi Ceria diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat. Senam ini dirancang dengan gerakan yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik usia peserta didik. Melalui senam bersama, siswa diajak untuk menggerakkan tubuh, menyegarkan pikiran, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jasmani. Selain itu, senam bersama juga melatih kedisiplinan, kekompakan, dan kerja sama antarsiswa maupun antara siswa dan guru.

Setelah kegiatan senam, seluruh warga sekolah mengikuti upacara bendera. Upacara bendera memiliki makna penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, serta penghormatan terhadap jasa para pahlawan. Melalui upacara, siswa diajak untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Pelaksanaan upacara bendera pada hari pertama semester genap menjadi simbol kesiapan seluruh warga sekolah dalam memulai kembali proses pembelajaran dengan semangat dan komitmen yang kuat.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Doa menjadi wujud rasa syukur sekaligus harapan agar seluruh kegiatan pembelajaran di semester genap dapat berjalan dengan lancar, aman, dan membawa keberkahan. Melalui doa bersama, siswa dibimbing untuk menumbuhkan sikap religius, rendah hati, serta kesadaran bahwa setiap usaha perlu diiringi dengan doa dan keikhlasan.

Kegiatan menyanyikan lagu “Hari Baru” menjadi penutup rangkaian Pagi Ceria. Lagu ini dipilih sebagai simbol optimisme dan semangat baru dalam mengawali semester genap. Lirik dan irama lagu diharapkan mampu membangkitkan motivasi siswa untuk menatap hari-hari ke depan dengan sikap positif, penuh harapan, dan percaya diri. Lagu ini juga menjadi pengingat bahwa setiap hari merupakan kesempatan baru untuk belajar, memperbaiki diri, dan meraih prestasi.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan yang dianjurkan oleh Kemendikdasmen bertujuan untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, kebersamaan, serta optimisme di lingkungan sekolah. Guru memiliki peran strategis dalam menyukseskan pelaksanaan kegiatan ini, tidak hanya sebagai pelaksana teknis, tetapi juga sebagai teladan bagi peserta didik. Keteladanan guru dalam bersikap disiplin, antusias, dan bertanggung jawab akan sangat memengaruhi bagaimana siswa memaknai kegiatan tersebut.

Semester genap tahun 2026 diharapkan menjadi momentum penguatan karakter dan semangat belajar seluruh warga sekolah. Dengan adanya koordinasi yang baik, dukungan pimpinan sekolah, serta kesiapan guru dan siswa, kegiatan hari pertama masuk sekolah dapat berlangsung dengan tertib dan bermakna. Melalui Pagi Ceria dan upacara bendera, diharapkan tercipta suasana sekolah yang kondusif, harmonis, dan penuh semangat untuk menjalani proses pembelajaran di semester genap.

Dengan demikian, semester genap 2026 tidak hanya menjadi kelanjutan dari kalender akademik, tetapi juga menjadi langkah awal yang kuat dalam membangun budaya sekolah yang positif, berkarakter, dan berorientasi pada masa depan bangsa.

Cepu, 4 Januari 2026

Antara Anggan dan Kenyataan


 

Karya: Gutamining Saida

Sudah pernah menikmati bakso iga? Kalau saya pribadi, sejujurnya belum pernah. Selama ini, bayangan tentang bakso iga hanya berputar-putar di kepala, sebatas angan-angan yang terbentuk dari cerita orang dan foto-foto di media sosial. Di benak saya, bakso iga itu pasti berupa potongan iga sapi yang diletakkan begitu saja di dalam mangkuk, berdampingan dengan mie kuning, pentol bakso, bihun, lalu disiram kuah panas yang gurih. Sebuah sajian yang tampak lazim dan tidak jauh berbeda dari bakso pada umumnya hanya saja ditambah iga sapi sebagai pelengkap.

Siang ini anggapan itu runtuh seketika.  Siang ini kami berenam berburu bakso yang sedang viral di media sosial. Entah bagaimana awalnya, satu unggahan muncul, lalu disusul unggahan lain. Komentar demi komentar bermunculan, memuji rasa, harga, dan porsinya. Rasa penasaran pun tumbuh. Bukan sekadar ingin ikut tren, tetapi lebih pada keinginan untuk membuktikan bahwa benarkah bakso ini memang layak diburu?

Ketika kami tiba di warung bakso, suasana sudah ramai. Dari kejauhan terlihat antrean yang cukup panjang. Beberapa orang berdiri sabar, sebagian lainnya duduk di teras depan warung. Penjualnya bahkan hampir tidak terlihat, tertutup oleh banyaknya pembeli dan kesibukan melayani pesanan. Sebagian besar pembeli memilih dibungkus untuk dibawa pulang, mungkin agar bisa dinikmati bersama keluarga di rumah. Sementara pembeli yang ingin makan di tempat, baru bisa masuk ke dalam warung dan duduk lesehan di tikar. 

Pembeli sabar dengan aturan yang ada. Tidak ada keluhan, tidak ada wajah kesal. Justru suasana terasa tertib. Mungkin karena semua orang punya tujuan yang sama yaitu menikmati semangkuk bakso yang katanya istimewa, dengan harga yang terjangkau bahkan bisa dibilang murah.

Pilihan menu terpampang jelas. Ada bakso iga, bakso urat, bakso lava, dan beberapa pilihan lain. Setiap orang bebas memilih sesuai selera. Ada yang mantap memilih bakso iga karena penasaran, ada yang setia dengan bakso urat, dan ada pula yang tertantang mencoba bakso lava yang terkenal dengan sensasi pedasnya. Saya sendiri memperhatikan satu per satu pilihan itu sambil membayangkan rasa dan porsinya.

Ketika pesanan bakso iga bu Wiwik disajikan, saya terdiam sejenak. Ternyata bakso iga tidak seperti yang selama ini saya bayangkan. Iga sapi itu tidak diletakkan begitu saja di dalam mangkuk. Ia dibalut dengan adonan pentol bakso, membungkus daging dan tulangnya. Tulang iga dibiarkan terlihat sebagian, seolah sengaja diperlihatkan sebagai penanda keistimewaan. Akibatnya, pentol bakso itu tampak besar sekali bahkan sangat besar. Sekilas melihatnya saja, saya sudah merasa kenyang.

Mangkuk bakso itu seperti menantang logika perut. “Apa ini bisa dihabiskan?” batin saya bertanya. Kuahnya bening, mengepul, aroma kaldu sapi tercium kuat. Di dalamnya tetap ada mie putih, taoge dan pelengkap lain, namun fokus mata langsung tertuju pada bakso iga raksasa itu. Kami memiliki selera berbeda sehingga pesan bakso yang farian berbeda juga.

Saya perhatikan wajah-wajah di sekitar. Ada yang tersenyum puas begitu mangkuknya datang, ada yang langsung sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, dan ada pula yang tertawa kecil melihat ukuran bakso yang tidak biasa. Siang itu, warung bakso tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, rasa syukur spontan terucap. Alhamdulillah, enak. Kuahnya gurih, tidak berlebihan. Daging baksonya terasa, tidak didominasi tepung. Iga di dalamnya empuk, mudah dilepaskan dari tulang. Tidak heran jika banyak orang rela antre. Harga yang ditawarkan terasa sepadan, bahkan lebih murah dibanding porsi dan kualitas yang didapatkan.

Saya pun menyadari satu hal penting yaitu rasa nikmat itu bukan hanya soal makanan. Ia hadir karena banyak faktor yang menyertainya. Ada kesehatan yang Allah berikan sehingga kita bisa menikmati. Ada rezeki yang cukup sehingga kita bisa membeli tanpa rasa berat. Ada waktu luang untuk duduk, mengunyah perlahan, dan berbincang. Ada pula kebersamaan yang membuat rasa bakso menjadi berlipat nikmatnya.

Di tengah hiruk pikuk media sosial yang sering memamerkan kemewahan, pengalaman menikmati bakso sederhana ini justru terasa menenangkan. Makanan rakyat, harga terjangkau, rasa yang memuaskan. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang mahal. Terkadang, ia hadir dalam mangkuk bakso hangat di siang hari, ditemani antrean panjang dan senyum orang-orang yang sama-sama menunggu giliran.

Ketika melihat mangkuk mulai kosong, saya kembali berpikir. Benar kata orang, sering kali angan-angan kita berbeda dengan kenyataan. Tidak semua perbedaan berujung kekecewaan. Ada kalanya, kenyataan justru melampaui bayangan. Seperti bakso iga hari ini yang tidak sesuai dengan gambaran di kepala, tetapi justru memberikan pengalaman baru yang mengesankan.

Kami pulang dengan perut kenyang dan hati yang ringan. Viral atau tidak, bakso ini telah memberi pelajaran sederhana yaitu tentang kesabaran saat mengantre, tentang rasa syukur atas nikmat yang ada, dan tentang menikmati hidup apa adanya. Karena selama masih bisa makan dengan lahap dan tersenyum puas setelahnya, itu sudah lebih dari cukup. 

Cepu, 4 Januari 2026

MBG (Makan Bersama Guru-guru)


 

Karya: Gutamining Saida

Sehari sebelum masuk sekolah semester genap, tepatnya hari Minggu, suasana  terasa berbeda. Ada semacam jeda yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan sebelum kembali pada rutinitas mengajar, mendidik, dan membersamai para siswa. Jeda itu tidak diisi dengan tidur panjang atau bepergian jauh, tetapi dengan sesuatu yang sederhana yaitu MBG

MBG di sini bukanlah MBG seperti yang sering terdengar dari program pemerintah. MBG versi kami memiliki kepanjangan yang jauh lebih hangat dan penuh rasa: Makan Bersama Guru-guru.  Memang benar, kata guru-guru sengaja saya tulis dengan tanda hubung, karena yang hadir bukan satu dua orang, melainkan lebih dari dua. Kebersamaan inilah yang justru menjadi inti dari cerita ini.

Semua bermula dari sebuah ajakan sederhana di grup WhatsApp. Bu Wiwik, guru mata pelajaran Bahasa Inggris, menuliskan pesan singkat 
“Jadi nggak nanti?”chats bu Wiwik

Pesan singkat itu seolah mengetuk hati satu per satu anggota grup. Tidak lama, tanggapan pun bermunculan.
“Iya ikut,” jawab Bu Indri.
"Saya ada acara." balas pak Bambang.
"Insya Allah, ikut."chat saya.
“Saya nggak ikut ya?” tulis Bu Isna, dengan gaya khas yang mengundang senyum.
“Lho… gimana kok ....?” timpal Bu Wiwik.

Percakapan sederhana, candaan ringan, namun di situlah terasa keakraban yang Allah tanamkan di antara kami. Bukan semata karena lapar, tetapi karena ada kerinduan untuk bertemu, bercengkerama, dan menguatkan satu sama lain sebelum kembali ke dunia kelas yang penuh dinamika.

Tujuan utama kami siang itu adalah makan bakso bareng. Bakso, makanan rakyat yang sederhana, namun memiliki rasa yang mampu menyatukan banyak orang dari berbagai latar belakang. Di warung bakso itu, pilihan menu begitu menggoda. Ada bakso biasa, bakso urat, bakso kribo, bakso telur, tetelan, iga, lava, hingga urat jumbo. Setiap mangkuk bakso seolah menjadi simbol pilihan hidup yaitu berbeda-beda, namun sama-sama mengenyangkan dan membahagiakan.

Kami memilih sesuai selera masing-masing. Tidak ada paksaan, tidak ada aturan rumit. Yang penting satu yaitu duduk bersama, makan bersama, dan menikmati kebersamaan. Siang itu kami MBG dengan menu pilihan sendiri dan bayar sendiri. Sederhana, mandiri, dan penuh keikhlasan.

Di sela kepulan uap bakso yang hangat, obrolan pun mengalir. Tentang sekolah, tentang murid, tentang keluarga, bahkan tentang harapan di semester genap yang akan segera dimulai. Tawa sesekali pecah, diselingi cerita ringan dan candaan yang membuat hati terasa lapang. Dalam kebersamaan itu, saya merasakan nikmat Allah yang sering kali luput kita sadari.

Betapa tidak, ketika tubuh sehat, menu apa pun terasa nikmat. Bakso yang mungkin biasa saja, hari itu terasa luar biasa. Bukan karena isinya, tetapi karena suasananya. Karena Allah menghadirkan kesehatan, waktu luang, dan teman-teman yang baik. Nikmat ini sungguh patut direnungkan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya diantaranya adalah,
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat ini terlintas kuat di benak saya. Sering kali kita menunggu nikmat besar untuk bersyukur, padahal nikmat kecil yang hadir setiap hari justru lebih banyak jumlahnya. Sehat, bisa makan, bisa tertawa, bisa berkumpul dengan orang-orang baik semua itu adalah nikmat yang jika dihitung satu per satu, niscaya kita tak akan mampu mengingkarinya.

MBG hari itu bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah sumber kekuatan. Sebagai guru, kami sering dituntut untuk kuat di depan siswa. Namun sesungguhnya, kami pun manusia biasa yang membutuhkan penguatan dari sesama. Dalam kebersamaan seperti inilah, hati dikuatkan, semangat diperbarui, dan niat diluruskan kembali.

Saya menyadari, sebelum masuk semester genap, Allah menghadirkan momen ini sebagai bekal batin. Bekal untuk kembali mengajar dengan hati yang lebih lapang, dengan rasa syukur yang lebih dalam. Karena mendidik bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi juga tentang menularkan nilai diantaranya adalah kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur.

Ketika akhirnya kami beranjak pulang, perut kenyang dan hati pun hangat. Tidak ada kemewahan, tidak ada acara besar. Justru dalam kesederhanaan itulah, nikmat Allah terasa begitu dekat. MBG telah usai, tetapi maknanya tinggal dan mengendap dalam hati.

Semoga kebersamaan kecil seperti ini terus Allah jaga. Semoga kami, para guru, selalu diberi kesehatan, keikhlasan, dan kekuatan dalam menjalankan amanah. Semoga kami tidak termasuk golongan orang-orang yang mendustakan nikmat-Nya, sekecil apa pun nikmat itu. Aamiin.

Cepu, 4 Januari 2026

Jumat, 02 Januari 2026

Langkah Kecil Menuju Ketaatan

Karya : Gutamining Saida 
Jum’at pertama di tahun 2026 hadir dengan suasana yang istimewa. Bukan karena cuaca, bukan pula karena tempat, melainkan karena ada rasa haru yang menyelinap di hati. Hari itu menjadi pengingat bahwa seorang cucu laki-laki akhirnya diajak berangkat ke masjid untuk melaksanakan salat Jum’at. Sebuah momen sederhana, penuh doa, dan harapan yang tak terucap dengan kata-kata.

Kesempatan ini terbilang jarang. Sang cucu tinggal di kota Tegal, sementara akungnya berada di tempat yang berbeda yaitu Cepu. Jarak dan kesibukan membuat kebersamaan tak selalu bisa terwujud. Biasanya, salat Jum’at dilaksanakan di tempat masing-masing, dengan rutinitas yang berjalan sendiri-sendiri. Liburan semester mempertemukan kembali langkah-langkah yang sempat berjauhan. Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan waktu, tempat, dan niat baik dalam satu hari yang istimewa.

Sebelum berangkat ke masjid, ada satu permintaan kecil yang lahir dari hati yaitu berpose sejenak untuk diabadikan. Bukan sekadar foto, melainkan kenangan. Foto itu kelak akan menjadi saksi bahwa di awal tahun 2026, seorang cucu pernah berjalan menuju rumah Allah bersama akungnya. Sebuah potret sederhana, namun memiliki nilai spiritual yang kelak bisa diceritakan kembali tentang langkah kecil menuju ketaatan.

Sejak kecil, cucu laki-laki itu memang sudah sering diajak ke masjid. Tidak selalu untuk salat wajib, kadang hanya duduk sebentar, mendengarkan azan, atau melihat orang-orang beribadah. Tujuannya bukan pamer kesalehan, melainkan melatih hati. Menanamkan kebiasaan. Membiasakan langkah menuju tempat ibadah agar kelak, saat dewasa, masjid bukanlah tempat asing baginya.

Mendidik anak dan cucu dalam urusan agama bukanlah perkara instan. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran, keteladanan, dan doa yang terus dipanjatkan. Mengajak ke masjid sejak kecil adalah salah satu cara paling sederhana, namun sangat bermakna. Anak belajar bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari apa yang ia lihat dan rasakan. Ketika ia melihat orang dewasa bergegas memenuhi panggilan azan, hatinya perlahan belajar bahwa Allah Subhanahu Wata'alla adalah prioritas utama dalam hidup.

Perjalanan menuju masjid, akung berjalan di samping cucunya. Langkahnya mungkin tak lagi secepat dulu, namun niatnya tetap teguh. Di dalam hati, terselip doa-doa lirih. “Ya Allah, jadikan cucuku anak yang saleh. Tanamkan iman di hatinya. Jadikan ia hamba-Mu yang taat, yang mencintai ibadah, dan istiqamah di jalan-Mu.”

Salat Jum’at bukan sekadar kewajiban mingguan bagi kaum laki-laki muslim. Ia adalah pertemuan iman, pengingat akan kebesaran Allah, dan momentum memperbaiki diri. Duduk berdampingan di masjid, mendengarkan khotbah, lalu menunaikan salat bersama, menjadi pengalaman berharga bagi sang cucu. Mungkin ia belum sepenuhnya memahami makna setiap kata dalam khotbah, namun kebiasaan baik sedang ditanamkan. Dan benih iman itu, insyaallah, akan tumbuh seiring waktu.

Belajar beribadah sejatinya adalah belajar berproses menjadi manusia yang taat kepada Tuhannya. Tidak semua langsung sempurna. Ada kalanya malas, lupa, atau lalai. Selama lingkungan keluarga memberikan contoh dan dukungan, jalan menuju ketaatan akan selalu terbuka. Akung menyadari betul bahwa tugas orang tua dan kakek-nenek bukan hanya mencukupi kebutuhan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal akhirat.

Dalam Islam, anak saleh adalah investasi abadi. Doanya akan terus mengalir meski orang tua telah tiada. Bahkan disebutkan bahwa anak saleh kelak bisa menjadi sebab orang tuanya masuk surga. Inilah harapan terbesar yang tersimpan dalam hati akung: semoga cucunya kelak tumbuh menjadi muslim sejati, yang menjaga salatnya, akhlaknya, dan imannya. Bukan hanya membanggakan di dunia, tetapi juga menjadi penolong di akhirat.

Usai salat Jum’at, ada rasa lega dan syukur yang mendalam. Bukan karena telah menunaikan kewajiban semata, tetapi karena Allah masih memberi kesempatan untuk membersamai generasi penerus dalam kebaikan. Momen Jum’at pertama di tahun 2026 itu menjadi pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, melainkan tentang warisan nilai yang kita tinggalkan.

Semoga langkah kecil menuju masjid itu menjadi langkah panjang menuju surga. Semoga foto yang diabadikan bukan hanya tersimpan di galeri, tetapi juga tertanam dalam ingatan dan hati. Semoga Allah meridai setiap usaha kecil dalam mendidik anak dan cucu agar menjadi hamba-Nya yang taat, beriman, dan berakhlak mulia. Aamiin.
Cepu, 3 Januari 2026

Rabu, 31 Desember 2025

Sepincuk Nasi Pecel

Karya : Gutamining Saida 
Nasi pecel merupakan menu favorit saya. Makanan sederhana, merakyat, dan enak di lidah. Bisa dinikmati kapan saja yaitu pagi terasa cocok, siang tetap enak, sore mantap, dan malam pun masih nikmat. Dalam kesederhanaan sepincuk  nasi pecel, saya sering menemukan rasa syukur yang dalam. Ia bukan sekadar makanan, melainkan pengingat bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla tidak selalu hadir dalam kemewahan, tetapi justru dalam hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Suatu hari, saya mendengar informasi tentang nasi pecel yang sedang viral. Tempatnya tidak jauh dari rumah. Banyak yang membagikan pengalaman mereka di media sosial, lengkap dengan promosi menarik yang membuat siapa saja tergoda. Dalam hati saya berkata, “Kalau memang dekat dan ramai, tentu ada sesuatu yang istimewa.” Maka saya berusaha menyempatkan waktu untuk mencoba, bukan sendiri, melainkan bersama anak dan cucu. Bagi saya, menikmati makanan bersama keluarga adalah salah satu bentuk syukur yang nyata.

Pagi itu, kami berangkat sejak pukul 06.30 WIB. Udara masih segar, matahari belum terlalu tinggi. Sesampainya di lokasi, ternyata pembeli sudah mulai berdatangan. Antrian tampak tertib, masing-masing menunggu giliran sesuai urutan. Saya memperhatikan wajah-wajah di sekitar ada yang datang berdua, berkelompok, bahkan membawa keluarga besar. Tidak sedikit yang datang dengan wajah cerah, seolah sarapan ini bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi juga mengisi hati.

Nasi dan minuman disiapkan penjual. Pembeli memilih tempat duduk sendiri. Ada yang duduk di kursi, ada pula yang menggelar tikar kecil atau tikar besar, menyesuaikan jumlah anggota keluarga yang dibawa. Suasana terasa akrab meski banyak yang tidak saling mengenal. Inilah keindahan kebersamaan dalam hal sederhana. Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa manusia diciptakan bersuku-suku agar saling mengenal. Di tempat itu, perbedaan usia, latar belakang, dan kebiasaan seakan menyatu oleh satu hal: sepiring nasi pecel. 

Semakin siang, suasana semakin ramai. Antrian kian panjang, suara obrolan semakin terdengar, dan aroma sambal pecel yang khas terus menguar. Saya duduk bersama anak dan cucu, memperhatikan mereka menikmati makanan dengan lahap. Melihat cucu makan dengan gembira membuat hati saya hangat. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kebersamaan sederhana ini sebagai kenangan baik bagi mereka. Jadikan rezeki yang kami makan hari ini membawa keberkahan.”

Bagi saya, nasi pecel ini terasa sangat istimewa. Perpaduan nasi hangat, sayuran rebus, sambal kacang yang pas, dan pelengkap sederhana seperti tempe goreng menghadirkan rasa yang lengkap. Namun, menariknya, suami saya tidak terlalu menyukai nasi pecel. Dahulu, mungkin perbedaan selera ini terasa sepele, bahkan kadang memunculkan keinginan agar semua sama. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya belajar bahwa perbedaan adalah bagian dari warna-warni kehidupan.Dalam keluarga, tidak semua harus sama. Selera makan saja bisa berbeda, apalagi cara berpikir, kebiasaan, dan pilihan hidup. 

Islam mengajarkan kita untuk saling menghargai, saling memahami, dan tidak memaksakan kehendak. Selama tidak melanggar nilai kebaikan, perbedaan justru menjadi ladang pahala jika disikapi dengan lapang dada. Saya bersyukur, “Ya Allah, terima kasih atas pasangan hidup yang Engkau berikan. Meski tidak selalu sejalan dalam hal kecil, kami masih bisa duduk bersama dalam satu tempat, satu waktu, satu tujuan yaitu menikmati nikmat-Mu.” Bukankah itu yang terpenting?

Di tengah keramaian, saya merenung. Betapa Allah Maha Adil dalam membagi rezeki. Ada yang mampu makan di tempat sederhana ini dengan penuh kegembiraan, ada pula yang mungkin hari itu hanya bisa berharap. Makan sepincuk  nasi pecel yang saya nikmati bukan hanya soal rasa, tetapi juga amanah untuk bersyukur dan tidak berlebihan. 

Saya teringat pesan bahwa setiap suapan akan dimintai pertanggungjawaban dari mana ia diperoleh dan untuk apa tenaga yang dihasilkan darinya digunakan. Pagi itu mengajarkan saya banyak hal. Tentang kesabaran dalam antri, tentang kebersamaan tanpa sekat, tentang perbedaan selera dalam satu keluarga, dan tentang syukur atas rezeki yang sering kita anggap biasa. 

Nasi pecel yang viral itu mungkin akan berlalu dari perbincangan, tetapi makna yang saya petik darinya semoga menetap dalam hati. Kami pun pulang dengan perasaan kenyang, bukan hanya di perut, tetapi juga di jiwa. Semoga setiap kebersamaan sederhana seperti ini menjadi amal kebaikan, menjadi penguat ikatan keluarga, dan menjadi pengingat bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla hadir di mana saja bahkan di sepincuk nasi pecel yang disantap bersama orang-orang tercinta.
Cepu, 31 Desember 2025 

Selasa, 30 Desember 2025

Nikmati Pagi Di Akhir Tahun



Karya: Gutamining Saida 
Sarapan adalah awal dari sebuah hari. Ia bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan pintu pembuka untuk menjalani kehidupan dengan tenaga, pikiran jernih, dan hati yang lebih siap menerima takdir Allah. Sarapan bisa dilakukan di rumah dengan hidangan sederhana, di warung pinggir jalan dengan menu khas daerah, atau di tempat mana pun yang diinginkan, selama di dalamnya ada rasa syukur dan kebersamaan. 

Menu sarapan pun beraneka ragam, mengikuti selera, kebiasaan, dan kemampuan masing-masing keluarga. Hakikat sarapan sejatinya sama yaitu menguatkan raga agar mampu menjalankan amanah hidup. Pagi di akhir tahun 2025 itu terasa istimewa. Bukan karena hidangan yang mewah, melainkan karena kebersamaan yang Allah anugerahkan. Kami bersama anak dan cucu menikmati sarapan nasi pecel di pinggir waduk. 

Suasana yang berbeda dari biasanya. Angin pagi berhembus pelan, membawa kesejukan dan aroma alam yang masih murni. Burung-burung kecil beterbangan, air waduk tampak tenang memantulkan cahaya matahari yang baru terbit. Dalam keheningan pagi itu, hati kami terasa lapang. Nasi pecel yang kami santap adalah makanan sederhana, khas Nusantara. Sepincuk nasi hangat, sayuran rebus seperti bayam, kacang panjang, tauge,  disiram sambal kacang yang gurih dan pedasnya pas. Ditambah tempe goreng yang sederhana. Tidak ada menu mahal, tidak ada hidangan modern, tetapi justru di situlah letak kenikmatannya. 

Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa nikmat tidak selalu hadir dalam kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan yang disyukuri. Sebelum menyantap sarapan, kami membiasakan diri untuk berdoa. Anak-anak dan cucu-cucu menengadahkan tangan kecil mereka, menirukan doa yang kami ucapkan. “Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina ‘adzaban nar.” Doa yang sederhana, tetapi sarat makna. Kami memohon keberkahan atas rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan dan perlindungan dari siksa-Nya. 

Di momen itu, hati terasa tersentuh. Betapa besar amanah mendidik generasi agar selalu mengingat Allah, bahkan dalam perkara makan dan minum. Sarapan di pinggir waduk memberi pelajaran kehidupan. Air yang tenang mengingatkan kami bahwa hidup tidak selalu bergelombang. Ada masa-masa damai yang patut disyukuri. Anak-anak bercanda ringan, cucu-cucu tertawa polos, saling berbagi lauk dan cerita. Tidak ada gawai yang mendominasi, tidak ada kesibukan dunia yang mengganggu. Hanya kebersamaan dan rasa cukup. 

Dalam Islam, kebersamaan keluarga adalah nikmat besar yang sering terlupakan. Padahal Rasulullah  mencontohkan kehidupan keluarga yang hangat, penuh kasih sayang, dan saling menghargai. Akhir tahun sering kali menjadi waktu untuk merenung. Sarapan pagi itu pun berubah menjadi momen muhasabah. Kami menyadari bahwa sepanjang tahun 2025, Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan begitu banyak nikmat yaitu kesehatan, kesempatan berkumpul, rezeki yang cukup, serta perlindungan dalam berbagai keadaan. Mungkin tidak semua keinginan tercapai, tetapi Allah selalu memberikan apa yang kami butuhkan. 

Sarapan sederhana ini seakan menjadi simbol bahwa hidup tidak harus selalu mengejar lebih, melainkan belajar menerima dan mensyukuri yang ada. Anak-anak mendengarkan cerita ringan tentang masa lalu, ketika sarapan di pagi hari sering kali dilakukan dengan menu yang jauh lebih sederhana. Nasi dengan lauk seadanya, bahkan terkadang hanya dengan sambal dan sayur. 

Kebahagiaan tetap hadir karena hati orang-orang saat itu lebih dekat kepada Allah. Kami berharap cerita-cerita ini menjadi pelajaran bagi cucu-cucu, agar kelak mereka tidak mudah mengeluh dan selalu mensyukuri nikmat sekecil apa pun. Dalam Islam, makan bersama dianjurkan karena membawa keberkahan. Rasulullah bersabda bahwa makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu akan membawa berkah. Sarapan di pinggir waduk itu kami rasakan benar keberkahannya. Makanan terasa lebih nikmat, obrolan mengalir hangat, dan hati dipenuhi rasa tenteram. Tidak ada yang terburu-buru, seolah waktu pun melambat untuk memberi ruang bagi rasa syukur.

Setelah sarapan, kami duduk sejenak memandangi air waduk. Beberapa cucu bertanya tentang ikan, tentang alam, tentang ciptaan Allah yang begitu luas. Pertanyaan-pertanyaan polos itu menjadi pengingat bahwa tugas orang tua dan kakek-nenek bukan hanya memberi makan, tetapi juga menanamkan tauhid dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Alam sekitar adalah ayat-ayat Allah yang terbentang, mengajak manusia untuk berpikir dan bersyukur.

Sarapan pagi di akhir tahun 2025 itu akhirnya kami tutup dengan senyum dan doa. Kami memohon agar Allah mempertemukan kami kembali di hari-hari berikutnya dalam keadaan sehat dan penuh iman. Kami sadar, tidak ada jaminan usia, tidak ada kepastian esok hari. Selama masih diberi kesempatan untuk berkumpul, menikmati sarapan sederhana bersama keluarga, itulah nikmat besar yang tidak boleh diabaikan.

Sarapan bukan sekadar makan pagi. Ia adalah ibadah jika diawali dengan niat yang baik, doa, dan rasa syukur. Di pinggir waduk, dengan nasi pecel sederhana, kami belajar bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika hati dekat dengan Allah dan keluarga menjadi tempat bertumbuhnya cinta, iman, dan rasa cukup. Semoga sarapan-sarapan sederhana seperti itu terus menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah, dimulai dari pagi hari yang penuh syukur.
Cepu, 31 Desember 2025 

Senin, 29 Desember 2025

Rahasia Allah

Karya : Gutamining Saida 
Setelah pulang dari jama’ah subuh, kebiasaan yang sering saya lakukan, saya mengaktifkan handphone. Waktu subuh selalu terasa istimewa yaitu udara masih sejuk, hati relatif lebih tenang, dan pikiran belum terlalu dipenuhi hiruk-pikuk urusan dunia. Biasanya saya hanya sekadar mengecek pesan, barangkali ada kabar penting dari keluarga atau kerabat dekat. 

Tidak saya sangka, pagi itu justru datang sebuah kabar yang begitu mengejutkan dan mengaduk perasaan.
Sebuah pesan masuk dari Pak Mansur. Singkat, padat, serta  sarat makna duka. “Assalamualaikum. Lek Ning lahiran dan bayinya meninggal.” Membaca pesan itu, saya terdiam cukup lama. Mata saya kembali membaca kalimat yang sama, seolah berharap ada kesalahan penulisan atau salah kirim pesan. Hati saya diliputi kebingungan. Selama ini saya tidak pernah mendengar kabar bahwa Lek Ning sedang hamil. Sekitar sebulan lalu kami sempat bertemu, berbincang seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda hamil atau cerita tentang kehamilan.
Dalam kondisi masih terbengong-bengong, saya menekan tombol panggilan. Saya ingin mendengar langsung penjelasan dari Pak Mansur, agar tidak salah paham. Alhamdulillah, panggilan saya langsung diterima. Suaranya terdengar jelas meski berada di seberang jauh.
“Lek Ning siapa, Pak?” tanya saya singkat, karena benar-benar belum mengaitkan kabar itu dengan siapa pun dalam ingatan saya.
“Lek Ning saudara sendiri, Bu,” jawab beliau dengan nada yakin.
Saya masih belum sepenuhnya mengerti. “Lho, memang hamil?” tanya saya lagi, spontan dan jujur.
Pak Mansur menjawab ringan namun tegas, “Ya iyalah, melahirkan ya hamil.”
Jawaban itu justru membuat saya semakin terdiam. Ada rasa kaget, sedih. Kehidupan memang sering kali menyimpan kejutan yang tak pernah kita duga. Saya hanya mampu mengucap, “Oh ya, terima kasih infonya, Pak.” Setelah itu pembicaraan kami akhiri dengan salam.

Handphone saya letakkan kembali. Saya duduk memandangi pagi yang mulai terang. Pikiran saya melayang pada peristiwa yang baru saja saya dengar. Seorang bayi yang baru saja hadir ke dunia, namun tak sempat merasakan hangatnya pelukan ibu, tak sempat melihat wajah ayahnya, bahkan tak sempat menangis lama di dunia. Ia datang hanya sebentar, lalu kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Di situlah hati saya mulai belajar satu hal penting bahwa usia manusia adalah rahasia Allah Subhanahu Wata'alla. 

Tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan hidupnya dimulai dan kapan hidupnya diakhiri. Ada yang meninggal di dalam kandungan, tanpa sempat melihat dunia. Ada yang baru lahir, hanya sebentar menghirup udara dunia, lalu kembali ke hadirat-Nya. Ada pula yang hidup panjang umur, melewati berbagai fase kehidupan, sehat, sakit, susah, senang, silih berganti.
Ada orang yang terlihat sehat, bugar, tidak pernah mengeluh sakit, namun Allah Subhanahu Wata'alla memanggilnya lebih dahulu. Sebaliknya, ada yang bertahun-tahun terbaring sakit, keluar masuk rumah sakit, namun Allah Subhanahu Wata'alla masih memberinya kesempatan hidup lebih lama. 

Semua itu bukan kebetulan, bukan pula semata-mata karena ikhtiar manusia, melainkan karena kehendak dan ketetapan Allah Subhanahu Wata'alla semata.
Peristiwa ini menjadi pengingat yang sangat kuat bagi saya. Betapa sering kita merasa hidup masih panjang, merasa aman dengan rencana-rencana dunia, menunda amal, menunda kebaikan, bahkan menunda taubat. Padahal, tidak ada satu pun jaminan bahwa esok hari kita masih diberi kesempatan bernafas. Bahkan bayi yang belum berdosa pun bisa dipanggil kapan saja, apalagi manusia dewasa yang penuh dengan khilaf dan kesalahan.

Saya teringat sebuah hadits bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah, sementara akhirat adalah tempat tinggal yang sesungguhnya. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal. Bagi seorang bayi yang meninggal, ia adalah titipan Allah Subhanahu Wata'alla yang suci. Ia tidak membawa dosa, bahkan kelak bisa menjadi penolong bagi orang tuanya di akhirat, dengan izin Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya pun mendoakan Lek Ning dan keluarganya. Semoga diberi kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan iman. Tidak mudah menerima kenyataan kehilangan, apalagi kehilangan seorang bayi yang mungkin telah lama dinanti.  Dalam Islam, setiap musibah selalu mengandung hikmah, meski sering kali hikmah itu baru terasa setelah waktu berlalu.

Setelah cukup lama, saya mengangkat tangan dan berdoa. Saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup, diberi kesehatan, dan diberi waktu untuk memperbaiki diri. Saya memohon agar Allah Subhanahu Wata'alla tidak mencabut nyawa saya kecuali dalam keadaan husnul khatimah. Peristiwa ini mengajarkan saya untuk tidak sombong dengan umur, tidak lalai dengan waktu, dan senantiasa mengingat bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam genggaman Allah Subhanahu Wata'alla.

Begitulah rahasia dan kehendak Allah. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menebaknya. Tugas kita hanyalah menjalani hidup dengan penuh iman, sabar, dan syukur, serta mempersiapkan bekal terbaik untuk perjalanan pulang menuju-Nya.
Cepu, 29 Desember 2025 

Minggu, 28 Desember 2025

Menjelang Akhir Tahun




Karya: Gutamining Saida

Akhir tahun selalu datang dengan cara yang tenang, namun mengetuk hati paling dalam. Tidak ada suara gaduh, tidak ada perayaan yang benar-benar mampu menandingi suara batin yang tiba-tiba bertanya, “Sudah sejauh mana aku berjalan menuju Allah?” Di antara pergantian angka kalender, ada jeda yang seharusnya kita gunakan untuk merenung, bermuhasabah, dan menata kembali arah hidup. Bukan untuk menyesali masa lalu semata, tetapi untuk memperbaiki langkah agar tahun depan menjadi lebih bermakna di hadapan-Nya.

Beberapa hari menjelang akhir tahun aku memilih berjalan pelan menuju makam. Bukan karena sedang berduka, melainkan karena rindu yang tak pernah benar-benar usai. Makam orang tua dan sanak saudara menjadi tujuan langkah kaki. Tempat ini bukan sekadar hamparan tanah dan batu nisan, tetapi ruang pengingat paling jujur tentang hakikat kehidupan. Di sinilah dunia seakan kehilangan daya tariknya, dan segala yang tampak besar berubah menjadi kecil.

Saat melangkah di antara makam-makam, aku menyadari satu hal yaitu semua yang pernah hidup di dunia ini memiliki cerita. Mereka pernah tertawa, menangis, berharap, kecewa, dan berjuang. Ada yang pernah memiliki harta berlimpah, jabatan tinggi, rumah megah, dan nama yang disegani. Kini, semuanya sama. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Semua berbaring dalam sunyi, menunggu hari kebangkitan.

Aku duduk bersimpuh, menundukkan kepala, dan melantunkan doa. Bukan hanya untuk mereka yang telah mendahului, tetapi juga untuk diriku sendiri. Di tempat seperti ini, manusia diajak jujur kepada dirinya. Tidak ada topeng, tidak ada pencitraan, dan tidak ada pujian manusia yang bisa diharapkan. Semua amal, baik yang terlihat maupun tersembunyi, akan diperhitungkan di hadapan Allah.

Sering kali dalam hidup, kita terlalu berharap kepada manusia. Kita bekerja keras ingin dipuji, berbuat baik agar dikenang, beribadah supaya dianggap saleh. Padahal, berharap kepada manusia sering berujung kecewa, penyesalan, dan luka hati. Manusia memiliki keterbatasan. Pujian bisa berubah menjadi celaan, penghargaan bisa berganti dengan pengabaian. Hanya Allah yang Maha Setia menerima amal hamba-Nya, sekecil apa pun, selama dilakukan dengan ikhlas.

Di depan makam orang tua, ingatan masa kecil kembali hadir. Nasihat sederhana mereka dahulu kini terasa sangat dalam maknanya. Tentang hidup yang tidak boleh sombong, tentang rezeki yang harus disyukuri, dan tentang ibadah yang harus dijaga. Orang tua telah pergi, anak-anak pun suatu hari akan memiliki jalan hidupnya sendiri. Mereka tidak akan membersamai kita di alam kubur. Tidak ada yang bisa menggantikan amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia.

Harta yang selama ini kita kejar dengan penuh ambisi tidak akan ikut terbawa. Jabatan yang dibanggakan akan kita tinggalkan. Rumah megah yang menjadi simbol keberhasilan duniawi akan diganti dengan rumah yang sangat sederhana, bahkan mungkin hanya berukuran dua kali satu. Di sanalah kita tinggal sendiri, tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa sorotan manusia. Yang menemani hanyalah amal baik atau sebaliknya, penyesalan yang tiada guna.

Ziarah kubur mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan akan kembali tanpa membawa apa pun. Yang membedakan hanyalah bekal amal. Salat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, doa yang tulus, sabar dalam ujian, serta kebaikan yang dilakukan tanpa berharap balasan manusia. Semua itulah yang kelak menjadi cahaya di alam kubur.

Akhir tahun bukan tentang pesta atau perayaan berlebihan.  Merupakan undangan dari Allah agar kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan melihat ke depan dengan lebih jernih. Sudahkah ibadah kita meningkat? Sudahkah amal kita lebih banyak daripada kelalaian? Sudahkah niat kita lurus hanya untuk Allah semata?

Dalam doa yang lirih, terucap harapan sederhana namun sangat besar maknanya. Semoga Allah memberi kesempatan untuk memperbaiki diri di tahun mendatang. Semoga setiap langkah hidup diarahkan untuk mencari ridho-Nya, bukan sekadar pujian manusia. Semoga ketika waktu kembali itu tiba, kita dipanggil dalam keadaan husnul khotimah, dengan hati yang tenang dan wajah yang berseri.

Makam menjadi saksi bahwa kehidupan dunia akan berakhir. Di sanalah pula tumbuh harapan. Harapan agar kita menjadi hamba yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah. Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan bagaimana kita pulang kepada Sang Pencipta dengan membawa amal terbaik dan ridho-Nya.

Cepu, 29 Desember 2025

Sabtu, 27 Desember 2025

Makam, Rumah Sakit dan Silaturahim

Karya : Gutamining Saida 
Minggu tanggal 28 Desember 2025 menjadi hari yang sangat bermakna dalam perjalanan hidup saya. Dalam satu hari, Allah Subhanahu Wata'alla memperlihatkan begitu banyak pelajaran kehidupan melalui tiga tempat yang berbeda, namun saling melengkapi maknanya. Tempat-tempat itu adalah makam, rumah sakit, dan pertemuan silaturahmi keluarga besar di Kudus. Ketiganya seakan menjadi ruang belajar kehidupan yang nyata, tanpa perlu banyak teori, namun langsung menyentuh hati.

Pelajaran pertama saya dapatkan di makam. Di tempat itulah kesadaran tentang kefanaan hidup terasa begitu kuat. Makam adalah sekolah kejujuran paling sunyi. Tidak ada suara tepuk tangan, tidak ada pujian, dan tidak ada pengakuan manusia. Semua yang pernah hidup di dunia, baik kaya maupun miskin, terpandang atau biasa saja, akhirnya berakhir di tempat yang sama. Di sana, manusia diajak jujur pada dirinya sendiri tentang hakikat hidup yang sesungguhnya.

Di hadapan makam, saya merenung bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Jabatan yang pernah dibanggakan akan ditinggalkan, harta yang dikumpulkan tidak ikut terbawa, dan keluarga yang dicintai tidak bisa membersamai hingga ke liang lahat. Yang setia menemani hanyalah amal perbuatan. Makam mengajarkan bahwa sebaik-baik bekal adalah iman dan amal saleh. Dari makam, saya belajar untuk tidak berlebihan mencintai dunia dan tidak lalai dalam menyiapkan bekal akhirat.

Pelajaran kedua saya dapatkan di rumah sakit. Tempat ini mengajarkan satu hal yang sering kali terlupakan saat tubuh dalam keadaan sehat, yaitu bahwa kesehatan adalah nikmat yang sangat mahal harganya. Di rumah sakit, saya melihat banyak manusia yang diuji dengan sakit. Ada yang terbaring lemah, ada yang hanya bisa terdiam, dan ada pula yang berjuang melawan rasa sakit dengan penuh kesabaran.

Dari rumah sakit, saya belajar bahwa ketika sehat, manusia sering lupa bersyukur. Waktu terasa cepat berlalu tanpa makna, ibadah sering ditunda, dan kesempatan berbuat baik disia-siakan. Padahal, saat sakit datang, semua terasa begitu berharga. Gerak tubuh yang sederhana, napas yang lega, dan rasa nyaman menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.

Kesehatan bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk digunakan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Sehat adalah kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah, memperluas amal kebaikan, dan bersedekah baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Di rumah sakit, saya menyadari bahwa sedekah bukan hanya soal materi, tetapi juga senyum, doa, dan perhatian kepada sesama. Bahkan kehadiran yang tulus pun bisa menjadi sedekah yang bernilai di sisi Allah.

Pelajaran ketiga saya peroleh dari silaturahmi keluarga besar di Kudus. Di tengah pertemuan itu, saya merasakan kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Silaturahmi mengajarkan tentang saling memahami, saling menghargai, dan menerima perbedaan dengan lapang dada. Setiap anggota keluarga datang dengan latar belakang, pengalaman, dan perjalanan hidup yang berbeda, namun disatukan oleh ikatan darah dan iman.

Dalam silaturahmi, saya belajar bahwa kebersamaan bukan berarti selalu sepakat, tetapi mampu saling menghormati. Ada canda, ada cerita, ada perbedaan pendapat, namun semuanya dibingkai dengan niat baik dan rasa kekeluargaan. Silaturahmi menjadi ruang untuk saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Pertemuan keluarga juga memberikan dampak yang besar dalam kehidupan. Ia mempererat hubungan yang mungkin mulai renggang karena jarak dan kesibukan. Ia melunakkan hati yang sempat keras oleh ego. Ia menghidupkan kembali kenangan indah yang menjadi sumber kekuatan. Silaturahmi menjadikan hati lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih tenang.

Dari makam, rumah sakit, dan silaturahmi, saya menyadari bahwa kehidupan adalah rangkaian pelajaran yang Allah hadirkan melalui berbagai peristiwa. Tidak semua pelajaran datang dari kebahagiaan. Sebagian justru hadir melalui kesunyian, sakit, dan perenungan. Namun semua itu mengandung hikmah bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran.

Saya belajar bahwa hidup harus dijalani dengan penuh kesadaran. Kesadaran bahwa waktu terbatas, kesehatan tidak selalu ada, dan keluarga adalah amanah yang harus dijaga. Saya belajar untuk lebih banyak bersyukur, memperbaiki niat, dan meningkatkan amal.

Semoga pelajaran hari ini tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi menjadi perubahan nyata dalam kehidupan. Semoga Allah menuntun langkah untuk memanfaatkan sehat sebelum sakit, hidup sebelum mati, dan kesempatan sebelum penyesalan. Semoga kita semua kelak dipertemukan kembali dalam keadaan husnul khotimah, membawa bekal amal terbaik dan hati yang ridho kepada ketetapan-Nya.
Cepu, 28 Desember 2025 

Dari Makam ke Makam


Karya : Gutamining Saida 

Sejak saya memiliki anak dan sekarang cucu-cucu masih kecil. Saya berusaha mengenalkan mereka pada satu kenyataan hidup yang sering dihindari banyak orang yaitu tentang makam. Bukan untuk menakut-nakuti, apalagi menanamkan rasa takut yang berlebihan, tetapi untuk mengenalkan kebenaran bahwa hidup di dunia ini tidaklah abadi. 

Ada awal, ada akhir, dan ada perjalanan panjang setelahnya menuju akhirat. Banyak orang dewasa masih enggan membicarakan kematian, seolah dengan menghindarinya hidup akan terasa lebih panjang. Padahal, mengenalkan kematian sejak dini justru dapat menumbuhkan iman, kesadaran, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, saya memilih jalan tersebut. 

Dengan bahasa yang sederhana, lembut, dan penuh kasih, saya mulai menjelaskan kepada anak dan cucu apa itu makam. Saya sampaikan kepada mereka bahwa makam adalah tempat peristirahatan terakhir manusia di dunia. Di sanalah jasad dikembalikan ke tanah, sebagaimana Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dari tanah dan akan mengembalikannya kembali ke tanah.  Saya juga menekankan bahwa yang kembali menghadap Allah Subhanahu Wata'alla bukan hanya jasad, melainkan ruh yang akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan selama hidup di dunia.

Tidak cukup hanya dengan penjelasan lisan, saya mengajak mereka datang langsung ke lokasi makam. Kami berjalan bersama dengan langkah pelan dan penuh adab. Saya ajarkan kepada mereka untuk menjaga sikap, menundukkan suara, serta tidak berlarian. Saya ingin sejak kecil mereka memahami bahwa makam adalah tempat yang mulia, tempat perenungan, bukan tempat bermain.

Di depan makam orang tua, nenek, kakek, serta saudara-saudara kakek dan nenek yang telah meninggal dunia, saya mengenalkan satu per satu. Saya sebutkan nama mereka, silsilah keluarga, dan sedikit cerita tentang kebaikan yang pernah mereka lakukan semasa hidup. Walaupun mereka sudah tiada di dunia, saya ingin anak dan cucu tetap mengenali, menghormati, dan mendoakan mereka.

“Ini makam ayut,” saya katakan dengan suara pelan. “Beliau dulu bekerja keras, menyayangi keluarga, dan berusaha menjalankan perintah Allah Subhanahu Wata'alla.” Cucu-cucu mendengarkan dengan penuh perhatian. Wajah mereka polos, tanpa rasa takut. Yang terlihat justru rasa ingin tahu dan penghormatan. Dari situ saya semakin yakin bahwa mengenalkan makam sejak kecil bukanlah hal yang keliru, selama dilakukan dengan niat baik dan cara yang benar.

Saya ajarkan mereka untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal. Doa yang sederhana, pendek, namun penuh makna. Saya ingin mereka memahami bahwa kasih sayang tidak terputus oleh kematian. Doa adalah jembatan antara yang hidup dan yang telah tiada. Dengan doa, anak-anak belajar empati, cinta, dan kepedulian kepada keluarga yang telah mendahului.

Di sela ziarah, saya juga menanamkan iman tentang adanya hari akhir. Bahwa kehidupan tidak berhenti di dunia saja. Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Suatu hari nanti, setiap manusia akan menuju tempat tinggal terakhirnya di alam kubur. Makam adalah rumah masa depan manusia sebelum menuju kehidupan akhirat dan bertemu dengan Tuhannya.

Saya jelaskan kepada mereka bahwa di alam kubur tidak ada mainan, tidak ada harta, tidak ada jabatan, dan tidak ada kemewahan. Yang menemani hanyalah amal perbuatan. Salat yang dikerjakan dengan ikhlas, kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih, kejujuran, kesabaran, serta sikap hormat kepada orang tua dan sesama manusia.

Dengan cara tersebut, saya ingin anak dan cucu memahami bahwa berbuat baik bukan sekadar karena disuruh atau takut dimarahi, melainkan karena sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla. Makam mengajarkan kejujuran hidup. Di sanalah tidak ada yang bisa disembunyikan, tidak ada yang bisa dipamerkan, dan tidak ada yang bisa dipalsukan.

Saya berharap, sejak kecil mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang bermain, memiliki, dan menikmati dunia. Hidup adalah amanah. Setiap hari adalah kesempatan untuk menanam kebaikan sebagai bekal di akhirat. Makam menjadi pengingat paling nyata bahwa dunia ini fana dan akan ditinggalkan.

Selesai berziarah, saya selalu mengajak mereka berbincang dengan lembut. Saya katakan bahwa selama masih diberi umur, mari kita perbanyak amal baik. Berbakti kepada orang tua, menyayangi saudara, membantu sesama, dan menjaga ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena kesempatan hidup adalah nikmat yang sangat berharga.

Ketika kelak anak dan cucu telah dewasa, ingatan tentang makam tidak menjadi sesuatu yang menakutkan, tetapi menjadi pengingat yang menenangkan. Pengingat agar mereka tidak sombong ketika berhasil, tidak putus asa ketika gagal, dan selalu ingat bahwa tujuan akhir kehidupan adalah kembali kepada Allah.

Mengenalkan makam sejak kecil adalah bagian dari pendidikan iman yang sederhana. Serta menanamkan keyakinan tentang adanya hari akhir dan kesadaran bahwa setiap manusia akan menempati rumah terakhirnya di alam kubur. Semoga anak dan cucu tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi kehidupan dengan bekal amal saleh. Dan semoga kelak, ketika tiba saatnya kembali, mereka dipanggil oleh Allah dalam keadaan husnul khotimah, menuju kehidupan abadi dengan ridho-Nya.
Cepu, 28 Desember 2025 

Jumat, 26 Desember 2025

Kelas Berkarya

Karya : Gutamining Saida 
Hujan turun deras sejak sore, seakan langit sengaja menumpahkan rahmatnya tiada henti. Suara air yang menghantam genting, tanah, dan dedaunan menjadi irama alami yang menenangkan hati. Di saat banyak orang memilih mengeluh karena rencana tertunda, saya merasakan panggilan lembut untuk mensyukuri waktu. Waktu yang jarang, waktu yang mahal, waktu untuk membersamai cucu dan keponakan-keponakan dalam kebersamaan yang sederhana. 

Cuaca hujan deras membuat kami semua tetap di dalam rumah. Anak-anak dari jenjang usia, mulai PAUD hingga SMP, berkumpul dalam satu ruang.  Ada Hamzah laki sendiri, Zaskia yang duduk di kelas dua, Elmira menginjak usia empat tahun,  Salsa kelas tujuh, Kaila yang duduk kelas tiga, serta Merva masih TK kecil. Perbedaan usia tidak menjadi penghalang, justru menjadi warna indah dalam kebersamaan.

Saya menyiapkan kertas-kertas bergambar. Tidak ada paksaan memilih jenis gambar, tidak ada batasan kreativitas. Saya persilakan mereka memilih sesuai selera. Ada gambar hewan, tumbuhan, dan bentuk-bentuk sederhana yang bisa dikembangkan sesuai imajinasi masing-masing. Saya juga menyediakan berbagai media diantaranya pensil warna, tepung roti, dan biji ketumbar. Bagi sebagian anak, bahan-bahan itu terasa asing. Justru di situlah letak pembelajaran bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan begitu banyak hal di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan dan keindahan.

Hamzah tampak antusias. Tangannya bergerak cepat, memilih warna-warna cerah. Sesekali ia bertanya, lalu melanjutkan dengan penuh semangat. Zaskia terlihat lebih tenang. Ia memegang sendok untuk mengambil tepung roti  dengan hati-hati, memberi sentuhan lembut pada setiap bagian gambar. Elmira memilih memadukan tepung roti, kacang tanah, kacang hijau pada bagian tertentu, membuat tekstur yang unik. Salsa tertawa kecil ketika mewarnai sapi. Sementara Kaila sibuk menyusun ketumbar satu per satu dengan kesabaran yang tak disangka. Merva usianya yang lebih kecil mewarna dengan pensil warna. 

Saya memperhatikan mereka dengan rasa haru. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, terima kasih atas kesempatan ini. Terima kasih Engkau masih memberi waktu, kesehatan, dan kebersamaan.” Di tengah hujan deras yang mungkin dianggap penghalang oleh sebagian orang, Allah Subhanahu Wata'alla justru menghadirkan ruang belajar yang penuh cinta. Saya teringat bahwa dalam Islam, setiap waktu luang adalah amanah. Sebagaimana kita mengisinya akan menjadi saksi di hadapan-Nya kelak.

Anak-anak ini belajar lebih dari sekadar mewarnai. Mereka belajar kesabaran saat warna keluar dari garis. Mereka belajar menerima ketika hasilnya tidak sempurna. Mereka belajar berbagi alat, menunggu giliran, dan menghargai karya satu sama lain. Nilai-nilai kecil yang kelak akan tumbuh menjadi karakter besar. Bukankah Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama? Hari itu, saya belajar tentang manfaat bisa dimulai dari rumah, dari keluarga, dari hal yang sangat sederhana.

Setelah semua karya selesai, kami menempelkannya di tembok. Dinding rumah yang semula biasa saja kini berubah menjadi galeri penuh cerita. Setiap gambar memiliki kisah, memiliki proses, memiliki kenangan. Hamzah menunjuk karyanya dengan bangga. Zaskia tersenyum malu-malu. Elmira memperbaiki posisi kertasnya agar terlihat rapi. Salsa bertepuk tangan, Kaila mengajak berfoto, dan Merva memandangi hasilnya dengan senyum puas.

Saya berjalan perlahan melewati dinding itu. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Setiap kali nanti saya melintas, saya tahu saya akan mengingat hari ini hari ketika hujan deras menjadi saksi kebersamaan, hari ketika anak-anak tumbuh bukan hanya dalam keterampilan, tetapi juga dalam nilai. Dalam Islam, kenangan baik adalah nikmat. Ia menenangkan hati dan menguatkan iman, karena kita tahu semua itu terjadi atas izin Allah.

Saya juga menyadari bahwa mendampingi anak-anak adalah ladang pahala. Senyum mereka, tawa mereka, bahkan kekacauan kecil yang terjadi, semuanya bernilai ibadah ketika diniatkan karena Allah. Mengajarkan kreativitas, kesabaran, dan rasa syukur adalah bagian dari pendidikan yang tidak selalu harus formal, tetapi hidup dalam keseharian.

Hujan masih turun ketika hari mulai beranjak malam.  Di  dalam rumah, suasana terasa hangat. Saya memandang anak-anak itu dan kembali berdoa, semoga kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Semoga karya-karya kecil hari ini menjadi langkah awal bagi karya-karya besar di masa depan, dan semoga kebersamaan ini dicatat sebagai amal kebaikan. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa megah rencana kita, tetapi seberapa ikhlas kita mengisi waktu yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan.
Cepu, 26 Desember 2025 

Wisata Naik Dokar

Karya : Gutamining Saida 

Liburan akhir tahun kali ini saya lalui dengan cara yang sederhana. Saya memilih menemani cucu-cucu  menikmati waktu libur tanpa harus pergi jauh. Bagi saya, kebahagiaan tidak selalu terletak pada tempat wisata megah atau perjalanan ke luar kota. Kebahagiaan sering kali hadir justru dari hal-hal sederhana yang menghidupkan kenangan, menumbuhkan rasa syukur, dan mempererat ikatan keluarga.

Di Cepu, kota kecil yang sarat kenangan masa kecil saya, masih ada satu moda transportasi tradisional yang sesekali muncul menghiasi sore hari, yaitu kereta kuda atau yang oleh orang Jawa disebut dokar. Dulu, ketika saya masih kecil, dokar adalah transportasi andalan. Jika pergi ke kota Cepu bersama orang tua dari Padangan (Jatim), naik dokar sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Bunyi tapak kaki kuda di jalan, derit roda kayu, serta hembusan angin yang menerpa wajah adalah pengalaman yang begitu membekas dalam ingatan.

Kini, zaman telah berubah. Dokar tidak lagi menjadi pilihan utama. Transportasi modern mengambil alih, dan dokar perlahan tersisih. Ia hanya muncul di waktu-waktu tertentu, biasanya sore hari, sekadar berkeliling kota dengan hiasan lampu warna-warni yang menarik perhatian. Meski peminatnya tidak sebanyak dulu, dokar tetap bertahan, seolah menjadi saksi bisu perjalanan zaman dan perubahan peradaban.

Setiap kali cucu-cucu saya berlibur ke Cepu, mereka selalu meminta satu hal yang Sama yaitu naik dokar. Permintaan sederhana itu selalu saya sambut dengan senyum dan rasa syukur. Saya merasa Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan kepada saya untuk membersamai mereka, mengenalkan pengalaman masa lalu yang mungkin tidak mereka jumpai di tempat mereka tinggal yaitu Tegal. 

Pagi menjelang siang, kami pun naik dokar. Saya sengaja memilih jurusan ke arah Jawa Timur agar perjalanan terasa lebih panjang. Saya ingin cucu-cucu saya benar-benar menikmati suasana, melihat jalanan, pepohonan, rumah-rumah warga, dan merasakan pelan-pelan laju kehidupan yang tidak tergesa-gesa. Dokar berjalan dengan ritme tenang, seolah mengajak kami untuk ikut memperlambat langkah, menenangkan hati, dan menikmati detik demi detik yang Allah Subhanahu Wata'alla anugerahkan.

Beberapa menit perjalanan, cucu ketiga Elmira nama panggilannya mulai mengantuk. Kepalanya bersandar, matanya terpejam, tertidur pulas di tengah goyangan dokar yang lembut. Saya memandangnya dengan penuh kasih. Semoga tidurnya menjadi ibadah, serta Allah menjaga setiap helaan napasnya, dan kelak ia tumbuh menjadi anak yang salehah, sehat, dan berakhlak baik.

Sementara itu, cucu pertama dan kedua justru terlihat sangat menikmati perjalanan. Mereka sibuk berkomentar ke sana kemari. Ada yang menunjuk lampu-lampu, ada yang bertanya tentang kuda, tentang suara lonceng kecil, tentang jalan yang kami lewati. Tawa mereka mengalir begitu saja, tanpa beban. Saya pun ikut bercerita, mengenang masa kecil saya, bagaimana dulu dokar menjadi alat transportasi utama, bagaimana orang-orang bertegur sapa di jalan, dan bagaimana kesederhanaan terasa begitu cukup.

Di sela-sela cerita, saya mengingatkan mereka untuk bersyukur. Saya berkata bahwa tidak semua anak bisa merasakan naik dokar, tidak semua orang diberi kesempatan liburan bersama keluarga, dan tidak semua nenek atau kakek masih diberi kesehatan untuk menemani cucu-cucunya. Semua ini adalah nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri dengan ucapan hamdalah dan perilaku yang baik.

Hati saya terasa hangat. Duduk di atas dokar, dikelilingi cucu-cucu, saya merasakan betapa besar kasih sayang Allah. Di usia yang tidak lagi muda, saya masih diberi waktu, tenaga, dan kebahagiaan untuk membersamai generasi penerus keluarga kami. Saya sadar, kebahagiaan ini tidak datang begitu saja. Ia adalah buah dari kesabaran, doa, dan izin Allah semata.

Perjalanan itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Hanya naik dokar, berkeliling kota, tanpa tujuan wisata yang mewah. Bagi saya, perjalanan itu adalah pelajaran iman. Bahwa hidup tidak harus selalu cepat. Kebahagiaan sejati sering kali hadir saat kita mau berhenti sejenak, menoleh ke sekitar, dan mensyukuri apa yang ada.

Ketika dokar akhirnya berhenti dan perjalanan usai, cucu-cucu turun dengan wajah ceria. Yang terkecil tertidur bangun dengan mata masih setengah mengantuk. Saya tersenyum, lalu mengucap hamdalah dalam hati. Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wata'alla telah memberi saya kesempatan untuk membersamai cucu-cucu dengan bahagia, mengenalkan nilai kesederhanaan, dan menanamkan rasa syukur sejak dini.

Harapannya kenangan naik dokar ini kelak tersimpan di hati mereka. Bukan sekadar ingatan tentang kereta kuda, tetapi tentang kebersamaan, kasih sayang keluarga, dan pelajaran bahwa setiap nikmat, sekecil apa pun, adalah tanda cinta Allah Subhanahu Wata'alla kepada hamba-Nya.
Cepu, 26 Desember 2025 

Kamis, 25 Desember 2025

Kebersamaan


Karya : Gutamining Saida 
Liburan akhir tahun sering kali identik dengan perjalanan jauh, koper besar, tiket mahal, dan unggahan foto-foto indah di media sosial. Layar ponsel saya dipenuhi story teman-teman: ada yang ke Semarang menikmati hiruk-pikuk kota, ada yang ke Surabaya menjelajah sudut-sudut kota modern, bahkan ada pula yang berlibur hingga ke luar negeri. Senyum mereka terlihat bahagia, latar belakang foto tampak megah, penuh warna dan cahaya. Saya ikut tersenyum melihatnya. Tidak ada rasa iri, hanya sebuah jeda untuk merenung dan mengingat kembali arti cukup dalam hidup.

Liburan saya tidak perlu ke luar kota yang jauh. Cukup yang dekat-dekat saja. Bahkan, hanya dengan melintas jembatan pembatas antar provinsi, saya sudah sampai di Provinsi Jawa Timur. Begitulah enaknya bagi orang yang tinggal di wilayah perbatasan. Tidak perlu waktu lama, tidak perlu biaya besar, sudah bisa merasakan suasana yang berbeda. 

Sejatinya, tujuan utama liburan saya bukanlah tempat, melainkan kebersamaan yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Saya bersyukur tinggal di tempat yang sederhana, tidak bising, tidak penuh tuntutan gaya hidup. Dari rumah, saya bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu berlarian dengan wajah ceria. Tawa mereka menjadi musik terindah yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun. Dalam hati saya berucap, “Ya Allah, inikah yang dinamakan cukup?” Dan jawabannya terasa jelas yaitu iya, ini lebih dari cukup.

Salah satu momen yang paling saya syukuri adalah ketika kami berhenti di pinggir waduk. Airnya tenang, angin berhembus pelan, memantulkan cahaya matahari sore yang lembut. Kami duduk berdampingan, anak, cucu, dan saya, tanpa sekat kesibukan. Di situlah kami mengambil foto bersama, bukan untuk pamer, tetapi untuk mengabadikan kebersamaan. Wajah-wajah sederhana itu tersenyum apa adanya, tanpa pose berlebihan, tanpa latar mewah.

Kami hanya berjalan santai, menikmati udara, sesekali berhenti, termasuk di pinggir waduk itu, untuk berbincang dan berfoto bersama. Sambil duduk di pinggir waduk, kami menikmati makanan kecil yang dibawa dari rumah. Ada jajanan sederhana, minuman hangat, dan tawa yang mengalir begitu saja. Anak-anak bercerita tentang hal-hal ringan, cucu-cucu menyela dengan pertanyaan polos, sementara saya lebih banyak mendengar.

Dari cerita-cerita kecil itulah saya belajar bahwa kebahagiaan sejati sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Tidak megah, tidak mahal, tetapi menghangatkan hati. Bahwa setiap hari, sekecil apa pun nikmatnya, pantas disyukuri. Kami tidak pergi ke tempat wisata terkenal. Tidak ada antrean panjang, tidak ada tiket masuk mahal.  Foto-foto itu mungkin tidak akan viral, tetapi kelak akan menjadi kenangan berharga. Sebab waktu tidak bisa diulang, dan kebersamaan tidak selalu datang dua kali.

Saya memandangi wajah anak-anak saya. Dulu mereka kecil, kini sudah dewasa, sebagian telah menjadi orang tua. Waktu begitu cepat berlalu. Kini giliran cucu-cucu yang memenuhi hidup dengan keriuhan dan tanya yang tiada habisnya. Saya belajar satu hal penting bahwa  kebahagiaan tidak selalu bertambah dengan banyaknya tempat yang dikunjungi, tetapi dengan banyaknya rasa syukur yang dirasakan.

Saya beristighfar betapa sering kita manusia merasa kurang hanya karena membandingkan hidupnya dengan orang lain. Padahal Allah Subhanahu Wata'alla telah membagi rezeki dengan sangat adil, sesuai kebutuhan masing-masing hamba. Ada yang diberi rezeki berupa harta berlimpah, ada yang diberi rezeki berupa perjalanan jauh, dan ada pula yang diberi rezeki berupa keluarga yang rukun dan saling menyayangi.  

Saya merasa, Allah Subhanahu Wata'alla menitipkan pada saya rezeki yang sangat mahal yaitu kebersamaan. Liburan ini mengajarkan kembali makna qana’ah, merasa cukup atas apa yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Bahagia bagi saya tidak harus pergi jauh, tidak harus mengeluarkan banyak uang. Bahagia bagi saya adalah bisa duduk bersama anak dan cucu di pinggir waduk, berbagi cerita, menikmati makanan kecil, dan tertawa tanpa beban. Itu adalah kebahagiaan yang tenang, tidak riuh, tetapi mengendap lama di hati.

Saat sore menjelang, matahari perlahan turun, langit berubah warna. Saya mengajak anak-anak untuk sejenak diam, merenungi hari. Saya berkata pelan, “Liburan bukan tentang ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita pulang membawa kenangan.” Mereka mengangguk, mungkin belum sepenuhnya memahami, tetapi saya yakin suatu hari kalimat itu akan menemukan maknanya sendiri.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar kebersamaan ini diberkahi, dipanjangkan umurnya, dan ditanamkan rasa syukur yang tidak mudah goyah. Saya berdoa agar anak dan cucu saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak silau oleh dunia, tetapi kuat imannya dan lapang hatinya.

Liburan ini sederhana, tetapi penuh makna. Tidak ada yang istimewa, tetapi sangat istimewa di mata hati. Dan saya percaya, kebahagiaan yang lahir dari rasa syukur akan selalu terasa cukup, meski tanpa jarak yang jauh dan biaya yang besar. Karena sejatinya, bahagia adalah ketika hati merasa dekat dengan Allah Subhanahu Wata'alla dan keluarga.
Cepu, 25 Desember 2025