Rabu, 18 Februari 2026

Pesantrean Ramadhan

 


Karya: Gutamining Saida

Suasana di Diniyah Masjid Al Mujahidin tampak berbeda dari biasanya. Sejak pukul 08.00 WIB, satu per satu anak-anak datang dengan wajah ceria. Ada yang memakai baju muslim rapi lengkap dengan peci dan jilbab warna-warni. Rabu adalah hari pertama kegiatan Pesantren Ramadhan yang diadakan oleh Madin Masjid Al Mujahidin, Jadwalnya hari Rabu sampai hari Jum’at.

Tepat pukul 08.00 WIB, kegiatan resmi dimulai. Sebanyak 32 anak hadir, terdiri dari laki-laki dan perempuan, mulai dari usia TK hingga SMP. Perpaduan usia ini justru membuat suasana semakin hidup. Anak-anak TK tampak duduk paling depan dengan wajah polos penuh rasa ingin tahu. Sementara anak-anak SMP duduk di bagian belakang, mencoba terlihat lebih dewasa, meski sesekali masih tertawa kecil ketika bercanda dengan teman sebaya.

Acara diawali dengan membaca basmalah bersama-sama. Suara kecil dan besar berpadu, ada yang lantang, ada yang masih malu-malu. Semuanya terasa indah. Ramadhan memang selalu membawa suasana berbeda lebih khusyuk, lebih hangat, dan penuh semangat untuk belajar.

Ustadz pertama yang mengisi materi adalah Ustadz Eka. Beliau menyampaikan materi tentang Adab menuntut ilmu. Dengan suara yang tenang dan jelas, beliau menjelaskan tentang pengertian adab mencari ilmu, contoh karakter seorang anak. Agar mudah dipahami anak-anak, Ustadz Eka tidak hanya berceramah, tetapi juga memberikan contoh sederhana.

Ustadz Eka membuka dengan sebuah pertanyaan, “Kenapa kita harus punya adab saat belajar?”

Anak-anak saling berpandangan. Ada yang menjawab, “Supaya dapat pahala.” Ada pula yang menjawab, “Supaya ilmunya berkah.”

“Masya Allah, benar sekali,” jawab beliau sambil tersenyum.

Beliau menjelaskan bahwa dalam Islam, adab lebih didahulukan sebelum ilmu. Menghormati guru, mendengarkan dengan baik, tidak memotong pembicaraan, dan bersungguh-sungguh saat belajar adalah bagian dari adab. Ilmu tanpa adab bisa membuat seseorang sombong. Tetapi ilmu dengan adab akan membawa keberkahan.

Anak-anak pun diminta mempraktikkan cara duduk yang baik saat menuntut ilmu. Ada yang tadinya bersandar santai, langsung memperbaiki posisi duduknya. Ada pula yang semula bercanda, menjadi lebih tenang.

Ustadz Eka juga menyampaikan kisah para ulama terdahulu yang sangat menghormati gurunya. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian. Beberapa terlihat kagum mendengar cerita tentang betapa besar perjuangan dalam menuntut ilmu pada zaman dahulu.

Menariknya, karena pesertanya beragam usia, ustadz juga menyesuaikan bahasa penyampaian. Untuk anak TK, digunakan bahasa yang sederhana dan contoh konkret. Untuk anak SMP, diberikan penjelasan yang lebih mendalam, termasuk pentingnya menjaga niat saat belajar agar bukan sekadar mencari nilai, tetapi mencari ridha Allah.

Setelah istirahat sejenak, materi kedua disampaikan oleh Ustadz Faiz. Materinya tentang fiqih puasa. Tema ini sangat tepat untuk anak-anak yang sedang dalam proses belajar.

“Kalau sengaja makan saat puasa, bagaimana?” tanya beliau.

“Batal!” jawab anak-anak serempak.

“Kalau lupa makan?” lanjutnya lagi.

Beberapa anak terlihat ragu. Ada yang menjawab pelan, “Tidak batal, Ustadz…”

Ustadz Faiz tersenyum. “Betul. Kalau lupa, tidak batal. Tapi begitu ingat, harus langsung berhenti.”

Di sela-sela materi, terdengar suara tawa kecil ketika ada anak yang menjawab polos. Suasana tetap terkendali. Panitia madin dengan sigap membantu mengatur barisan dan memastikan semua anak merasa nyaman. Anak-anak pun manggut-manggut. Penjelasan yang sederhana membuat materi terasa ringan. Bahkan anak-anak TK pun tampak memperhatikan, meski mungkin belum memahami seluruhnya. Sesekali Ustadz Faiz melempar pertanyaan, dan siapa yang bisa menjawab diberi pujian. Suasana pun menjadi hidup dan interaktif.

Beliau juga menjelaskan hikmah puasa. Bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi, menjaga lisan, dan memperbanyak amal kebaikan. Di sinilah anak-anak mulai merenung. Beberapa anak SMP tampak lebih serius, mungkin mengingat kembali kebiasaan mereka sehari-hari.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama. Anak-anak mengangkat tangan kecil mereka, memohon agar diberikan kemudahan menjalankan puasa dan diberi ilmu yang bermanfaat. Suasana terasa haru dan penuh harapan. Pesantren Ramadhan ini bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi wadah pembentukan karakter. Anak-anak tidak hanya belajar teori tentang puasa, tetapi juga belajar tentang kesabaran. 

Pagi ini menjadi awal yang baik. Semangat anak-anak, kesungguhan para ustadz dan ustadhah, serta dukungan lingkungan masjid menjadi bukti bahwa pendidikan bisa dimulai dari mana saja dari ruang sederhana, dengan karpet yang digelar, dengan suara lantang penuh ketulusan. Ramadhan benar-benar menjadi bulan belajar. Belajar menahan diri, belajar memperbaiki akhlak, dan belajar mencintai ilmu. Di Diniyah Masjid Al Mujahidin, langkah kecil itu telah dimulai. Semoga berjalan dengan lancar sampai hari terakhir Aamiin.

Cepu, 18 Pebruari 2026

Selasa, 17 Februari 2026

Permaianan Tali Ukhuwah



Karya : Gutamining Saida 

Pesantren Ramadhan di Diniyah masjid Al Mujahidin Balun menjadi momen yang dinanti. Suasananya berbeda dari hari-hari biasa, tetapi karena di dalamnya ada sentuhan ruhani yang lebih terasa. Sejak pagi, anak-anak sudah datang. Sebagian membawa buku catatan kecil untuk mencatat materi. Saya ikut bangga melihat semangat mereka.

Saya meyakini bahwa belajar tidak harus selalu dengan ceramah panjang. Dalam suasana menyambut Ramadhan, justru nilai-nilai kebersamaan dan ukhuwah perlu ditanamkan melalui pengalaman yang menyentuh hati. Maka dirancang sebuah permainan sederhana yaitu membuat tali ukhuwah dari satu lembar kertas HVS.

Satu kelompok terdiri dari tiga anak. Seluruhnya ada sepuluh kelompok. Setiap kelompok diberi satu lembar kertas HVS yang sama ukuran, warna sama, tanpa perbedaan. Salah satu ustadah mengatakan bahwa: “Anak-anak, hidup ini seperti kertas. Terlihat sederhana, tipis, dan mudah sobek. Jika kita tahu caranya, sesuatu yang sederhana bisa menjadi kuat dan panjang manfaatnya.”

Mereka mulai memperhatikan dengan saksama. Ustadah Dewi melanjutkan penjelasan, bahwa setiap kelompok harus menyobek kertas tersebut kira-kira satu sentimeter secara memutar, tanpa terputus, hingga membentuk tali panjang. Tali itu harus cukup untuk mengelilingi seluruh anggota kelompoknya.

Awalnya terdengar mudah. Ketika praktik dimulai, barulah terlihat tantangannya. Ada yang terlalu lebar menyobek sehingga cepat habis. Ada yang terlalu sempit hingga mudah putus. Ada pula yang terlalu terburu-buru sehingga tali terputus di tengah jalan.

Di sinilah pelajaran pertama muncul yaitu kesabaran. Saya teringat firman Allah dalam QS. Al-‘Ashr, bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran. Permainan ini seperti miniatur kehidupan. Jika ingin berhasil, mereka harus saling menasihati dan sabar satu sama lain.

Beberapa kelompok mulai berdiskusi serius. “Pelan-pelan saja, jangan ditarik keras,” ujar salah satu anak. “Kita gantian ya, biar tidak capek,” sahut yang lain.

Ada kelompok yang sempat berselisih kecil karena merasa temannya kurang hati-hati. Saya mendekat dan berkata lembut, “Dalam ukhuwah, yang diuji bukan hanya kekompakan, tapi juga kelapangan dada.”

Ramadhan memang bulan latihan. Latihan menahan lapar, menahan emosi, dan menahan ego. Saya melihat bagaimana permainan sederhana ini perlahan mengikis sifat ingin menang sendiri. Mereka mulai belajar mendengar dan menghargai.

Beberapa menit kemudian terdengar sorakan kecil. “Bu, sudah jadi!”

Kelompok pertama yang berhasil adalah Arum, Salam, dan Merisa. Wajah mereka berseri-seri. Dengan hati-hati mereka membuka lingkaran tali kertas itu dan mengelilingkannya pada tubuh mereka bertiga. Ternyata cukup! Anak-anak lain bertepuk tangan. Saya tersenyum bangga.

Tak lama kemudian, kelompok kedua menyusul yaitu Destin, Rania, dan Lisa. Mereka tampak lebih tenang sejak awal, bekerja rapi dan teratur. Tali mereka pun terbentuk dengan baik dan cukup panjang untuk melingkari ketiganya.

Kelompok ketiga adalah Zaki, Alfin, dan Alma. Mereka sempat hampir menyerah karena tali mereka sempat terputus. Namun mereka tidak putus asa. Dengan penuh ketelitian, mereka menyambung kembali dari bagian yang tersisa dan akhirnya berhasil.

Sebagian kelompok belum berhasil membuat tali yang cukup panjang. Ustadah Dewi tegaskan, dalam ukhuwah tidak ada yang kalah. Semua telah belajar. Selanjutnya Ustadah Dewi mengangkat satu tali kertas dan berkata, “Anak-anak, lihatlah. Kertas ini tipis dan mudah sobek. Tapi ketika kita menyobeknya dengan strategi dan kesabaran, ia bisa menjadi panjang dan mengikat kita bersama. Begitulah ukhuwah Islamiyah. Kita ini manusia yang lemah. Jika sendiri, mudah goyah. Jika bersatu, kita menjadi kuat.”

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan. Permainan itu ternyata menjadi cermin. Kelompok yang sabar dan saling mendukung berhasil. Kelompok yang tergesa-gesa dan kurang kompak mengalami kesulitan. Semua mendapat pelajaran tanpa merasa digurui.

“Karena dalam Islam, kita diajarkan berjamaah. Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendiri. Puasa pun terasa ringan jika kita saling menyemangati. Bahkan surga pun digambarkan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang beriman.”

Ramadhan memang waktu terbaik untuk menanamkan nilai. Anak-anak tidak hanya mendengar materi tetapi merasakannya. Mereka mengalami sendiri bagaimana rasanya bekerja sama, menahan emosi, dan berbagi peran. “Semoga hati kalian terikat bukan hanya oleh kertas ini,” saya berkata pelan, “tetapi oleh iman dan takwa. Semoga persahabatan kalian bukan hanya sampai di kelas ini, tetapi sampai Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan kita kembali di surga-Nya.” Diantara sobekan-sobekan kertas yang tipis itu, saya melihat terjalinnya benang-benang ukhuwah yang semoga kelak menjadi tali yang mengikat mereka dalam kebaikan, dunia dan akhirat. Aamiin

Cepu, 18 Pebruari 2026

Napak Tilas di Kota Cepu



Karya : Gutamining Saida 

Napak tilas kaum Tionghoa. Awalnya saya pun bertanya dalam hati, apa itu sebenarnya? Napak tilas berarti menelusuri jejak sejarah, menyusuri kembali perjalanan masa lalu untuk memahami siapa hari ini. Sedangkan kaum Tionghoa adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia, yang kisahnya telah terukir sejak ratusan tahun silam.

Sebagai guru IPS, hati saya selalu tertarik ketika mendengar kata sejarah. Sejarah bukan sekadar deretan tahun dan peristiwa, tetapi kisah manusia dengan segala perjuangan, air mata, doa, dan harapan. Ketika komunitas sejarah mengadakan kegiatan napak tilas jejak Tionghoa di kota Cepu, saya merasa terpanggil. Kesempatan tidak datang dua kali. Kebetulan pula hari itu bertepatan dengan hari libur. Saya yakin, ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari rencana Allah Subhanahu Wata'alla agar saya belajar dari sudut pandang yang lebih luas.

Perjalanan napak tilas itu dimulai dari kawasan Masjid Jami Cepu terus menuju pecinan tua. Saya membayangkan bagaimana dahulu para pedagang Tionghoa datang ke Nusantara. Mereka berlayar menembus ombak, membawa barang dagangan, budaya, dan tradisi. Sejak masa kerajaan-kerajaan hingga era kolonial, komunitas Tionghoa sudah menjadi bagian penting dalam roda ekonomi dan sosial. Bahkan pada masa pergerakan nasional, banyak tokoh keturunan Tionghoa yang turut berkontribusi bagi Indonesia, seperti Liem Koen Hian yang memperjuangkan persatuan dan kebangsaan, atau Oei Tiong Ham yang dikenal sebagai pengusaha besar pada masanya.

Indonesia ini dibangun oleh banyak tangan. Tidak hanya satu suku, tidak hanya satu golongan. Sejarah Tionghoa di Indonesia juga mencatat masa-masa sulit. Tragedi dan diskriminasi pernah terjadi, termasuk peristiwa kelam pada Kerusuhan Mei 1998 yang meninggalkan luka mendalam bagi bangsa ini. Saat mendengar penjelasan dari pemandu sejarah, hati saya terasa berat. 

Sebagai orang beriman, saya percaya bahwa setiap peristiwa menyimpan hikmah. Luka sejarah seharusnya menjadi pengingat agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Islam mengajarkan keadilan dan kasih sayang. Rasulullah pun hidup berdampingan dengan berbagai kelompok di Madinah. Piagam Madinah menjadi bukti bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi dasar untuk membangun kebersamaan.

Sebagai guru IPS, saya merasa mendapat “bekal ruhani” yang sangat berharga. Selama ini saya mengajarkan materi tentang keberagaman, interaksi sosial, dan dinamika masyarakat. Kali ini, saya tidak hanya membaca dari buku teks. Saya melihat langsung, menyentuh bangunan tua itu, mendengar kisah dari para pelaku sejarah, dan merasakan atmosfernya. Ilmu yang didapat dengan pengalaman langsung terasa lebih hidup dan membekas.

Saya teringat prinsip hidup saya yaitu belajar bisa dilakukan kapan saja dan kepada siapa saja. Bahkan dalam Al-Qur’an, perintah pertama yang turun adalah “Iqra” bacalah. Membaca bukan hanya huruf di atas kertas, tetapi membaca tanda-tanda zaman, membaca sejarah, membaca kehidupan. Selama napak tilas, saya merasa sedang membaca lembaran-lembaran sejarah yang Allah Subhanahu Wata'allla bentangkan.

Saya membayangkan wajah siswa-siswa saya di kelas. Kelak ketika saya menceritakan pengalaman ini, saya ingin mereka tidak hanya memahami fakta sejarah, tetapi juga menumbuhkan empati. Saya ingin mereka belajar bahwa menjadi bangsa besar berarti mampu menghargai perbedaan. Saya ingin mereka tahu bahwa Indonesia berdiri di atas fondasi keberagaman.

Kegiatan ini adalah bentuk syukur. Syukur karena diberi kesempatan hidup di zaman yang relatif damai. Syukur karena bisa belajar tanpa harus menghadapi diskriminasi seperti yang dialami sebagian orang di masa lalu. Syukur karena Allah masih memberi saya umur, kesehatan, dan kesempatan untuk terus menuntut ilmu.

Belajar adalah kewajiban manusia sejak lahir hingga liang lahat. Ilmu bukan untuk disombongkan, tetapi untuk diamalkan dan dibagikan. Saya berharap cerita ini menjadi motivasi bagi siapa pun yang membacanya, terutama siswa-siswa saya. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan batasi diri hanya pada buku pelajaran. Datangi tempat-tempat bersejarah, dengarkan cerita orang-orang tua, bergabunglah dengan komunitas yang mencintai ilmu.

Karena sejatinya, setiap langkah napak tilas bukan hanya menelusuri jejak orang lain, tetapi juga menapaki perjalanan diri sendiri. Kita belajar memahami masa lalu agar lebih bijak melangkah ke masa depan. Dan pada akhirnya, semua perjalanan ilmu itu akan kembali kepada Allah, Sang Pemilik Sejarah yang sesungguhnya. Semoga setiap langkah kita dalam mencari ilmu dicatat sebagai ibadah. Semoga ilmu yang kita dapat menjadi cahaya, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi generasi yang kita didik. Aamiin.

Cepu, 17 Pebruai 2026

Senin, 16 Februari 2026

Domino IPS di Kelas 7F


Karya : Gutamining Saida

Hari Jum'at saya melangkah menuju kelas 7F dengan perasaan berbeda. Di tangan saya ada setumpuk kartu sederhana yang sudah saya siapkan sejak malam sebelumnya. Kartu-kartu itu bukan kartu biasa, melainkan media pembelajaran yang saya beri nama “Domino IPS”. Saya membuatnya sendiri di kartu Domino yang saya beli kemudian diberi tulisan sesuai materi IPS. Sederhana memang, tetapi penuh harapan.

Sebagai guru IPS, saya sering berpikir bagaimana caranya agar materi tidak terasa berat di kepala siswa. IPS sering dianggap hafalan tentang istilah, konsep, nama tokoh, peristiwa, dan berbagai istilah ekonomi, sejarah, sosiologi atau geografi. Padahal jika dikemas dengan cara yang tepat, IPS bisa sangat menyenangkan. Saya teringat pengalaman ketika menggunakan kartu domino untuk materi nasionalisme di kelas lain, dan siswa terlihat jauh lebih hidup. Dari situlah ide Domino IPS untuk 7F semakin matang.

Sebelum pelajaran dimulai, saya menjelaskan aturan permainan. Siswa saya bagi menjadi kelompok yang masing-masing berjumlah empat orang. Mereka bebas memilih anggota kelompok. Boleh campuran laki-laki dan perempuan, boleh juga sesama perempuan atau sesama laki-laki. Kebebasan ini membuat suasana awal kelas riuh rendah. Ada yang langsung berlari menghampiri sahabatnya, ada yang masih ragu mencari anggota, ada pula yang ditarik-tarik oleh temannya agar bergabung.

Setelah terbentuk delapan kelompok, saya mengeluarkan delapan set Domino IPS yang berbeda model. Setiap set berisi pasangan kata yang harus dicocokkan. Misalnya, satu kartu bertuliskan “Sumber Daya Alam” dan kartu pasangannya “Pertanian, Perikanan, Hutan”. Ada juga “Bahan tambang” dengan pasangannya “Emas, Batu bara, Minyak, Nikel”. Untuk materi geografi, ada “Indonesia” yang harus dipasangkan dengan “Kekayaan alam melimpah”. Semua sudah saya sesuaikan dengan materi yang sedang mereka pelajari.

Saya menjelaskan bahwa mereka harus menyusun kartu seperti bermain domino. Kartu harus saling berhubungan antara satu sisi dengan sisi lainnya. Tidak boleh asal menempel. Jika salah mencocokkan, rangkaian akan terhenti. Di sinilah kerja sama dan ketelitian diuji.

Begitu saya berkata, “Mulai!”, kelas langsung berubah menjadi arena kompetisi kecil yang seru. Setiap kelompok membagi tugas. Ada yang membaca kartu dengan suara keras, ada yang mencatat, ada yang langsung mencari pasangan. Beberapa siswa terlihat serius menekuni setiap kata. Ada yang berdebat kecil, “Ini cocoknya ke sini, bukan ke situ!” Yang lain menyanggah, “Bukan, definisinya beda.”

Saya tersenyum melihat dinamika itu. Tanpa mereka sadari, mereka sedang mengulang materi. Mereka membaca berulang-ulang istilah dan pengertiannya. Mereka berdiskusi, mengoreksi, dan saling meyakinkan. Tidak ada wajah mengantuk. Tidak ada yang sekadar menatap kosong ke papan tulis. Semua terlibat.

Karena ada delapan kelompok, saya memang menyiapkan delapan model Domino IPS yang berbeda. Ketika satu kelompok selesai, mereka boleh menukar dengan set milik kelompok lain. Aturan ini membuat permainan semakin menantang. Tidak cukup hanya memahami satu set; mereka harus siap menghadapi variasi soal lainnya.

Kelompok pertama yang selesai langsung bersorak kecil, “Bu, sudah!” Saya mengecek susunannya dengan teliti. Ada satu pasangan yang kurang tepat. Mereka sempat kecewa, tetapi justru semakin semangat memperbaiki. Di sisi lain, kelompok lain mulai menyusul. Suara kelas semakin riuh, tetapi riuh yang produktif.

Agar motivasi mereka semakin tinggi, sejak awal saya memang mengumumkan bahwa permainan ini dilombakan. Saya akan mengambil tiga kelompok tercepat dengan susunan paling tepat sebagai pemenang. Mendengar kata “lomba”, mata mereka berbinar. Ada energi berbeda yang terasa.

Beberapa kelompok tampak sangat kompak. Mereka duduk melingkar, kartu diletakkan di tengah, semua anggota aktif. Tidak ada yang diam saja. Ada juga kelompok yang awalnya kurang solid. Satu anak terlihat dominan, sementara yang lain hanya memperhatikan. Saya mendekat dan memberi arahan, “Semua harus terlibat, ya. Ini kerja tim.”

Perlahan mereka mulai berbagi peran. Anak yang tadinya diam mulai berani membaca kartu. Yang biasanya kurang percaya diri, kini ikut menyumbang pendapat. Saya merasa inilah tujuan pembelajaran sesungguhnya yaitu bukan hanya memahami materi, tetapi juga belajar bekerja sama, menghargai pendapat, dan mengatur strategi.

Setelah waktu hampir habis, tiga kelompok berhasil menyelesaikan delapan set domino dengan waktu tercepat dan hasil paling tepat. Saya umumkan pemenangnya. Kelas langsung bertepuk tangan. Wajah-wajah ceria terpancar. Tidak ada hadiah besar, hanya apresiasi dan nilai tambahan. Tetapi bagi mereka, pengakuan itu sudah sangat membahagiakan.

Sebelum pelajaran berakhir, saya melakukan refleksi singkat. Saya bertanya, “Lebih mudah memahami materi dengan cara ini atau hanya membaca buku?” Hampir semua menjawab serempak, “Main domino, Bu!” Beberapa bahkan meminta agar permainan seperti ini diadakan lagi.

Saya bersyukur. Media sederhana dari kartu Domino ternyata mampu mengubah suasana belajar. Domino IPS bukan sekadar permainan. Ia menjadi jembatan antara konsep dan pemahaman, antara teori dan pengalaman. Anak-anak belajar tanpa merasa sedang belajar.

Sebagai guru, kebahagiaan saya sederhana. Melihat siswa bersemangat, saling bekerja sama, dan memahami materi dengan cara yang menyenangkan sudah lebih dari cukup. Kelas 7F bukan hanya belajar IPS, tetapi juga belajar tentang kekompakan, strategi, dan sportivitas.

Saya perasaan lega. Lelah memang, karena harus mengawasi delapan kelompok sekaligus. Lelah itu terbayar lunas oleh suara tawa dan semangat mereka. Domino IPS buatan tangan saya mampu mengubah suasana bahagia. Semoga menginspirasi dan bermanfaat. Selamat mencoba.

Cepu, 16 Pebruari 2026

Wajah Ditusuk Jarum

 


Karya: Gutamining Saida

Hari libur bagi sebagian orang adalah waktu untuk beristirahat. Bagi saya, hari libur justru menjadi ruang untuk melakukan hal-hal yang selama hari kerja sulit saya sentuh. Setelah urusan rumah selesai, saya duduk sejenak memegang ponsel. Terlintas keinginan untuk membantu anak saya yang sedang merintis jalan sebagai terapis akupunktur.

Akupunktur. Sebuah kata yang bagi sebagian orang masih terdengar asing, bahkan menyeramkan. Padahal terapi ini sudah dikenal ribuan tahun dan menjadi bagian dari pengobatan tradisional di Tiongkok. Di Indonesia sendiri, praktik akupunktur juga telah diakui dan berada di bawah pembinaan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tetap saja, pemahaman masyarakat belum merata.

Saya mulai membuat story promo sederhana. Tidak muluk-muluk, hanya penjelasan singkat tentang akupunktur. Akupungtur adalah terapi tanpa obat yang menggunakan jarum halus pada titik-titik tertentu tubuh untuk membantu meredakan nyeri, memperbaiki sirkulasi, hingga meningkatkan keseimbangan energi tubuh. Saya sertakan vidio ruang praktik yang bersih, rapi, dan nyaman serta sebuah foto. Saya ingin orang-orang melihat bahwa ini bukan sesuatu yang menakutkan.

Setiap unggahan di media sosial selalu mengundang beragam tanggapan. Ada yang bertanya dengan tulus, “Itu sakit nggak, Bu?” Ada yang penasaran, “Bisa untuk asam lambung?” Ada pula yang langsung bercanda, “Jarumnya segede paku ya?” Bahkan ada komentar negatif yang bernada meremehkan, “Ah, paling cuma sugesti.” "Ngeri , wajahe dicoblosi jarum." Bisa di wajah juga , bu?"

Saya membaca satu per satu dengan hati yang mencoba tetap lapang. Memang tidak semua orang memahami. Banyak yang membayangkan jarum akupunktur sebesar jarum suntik di rumah sakit. Padahal jarumnya sangat tipis, jauh lebih halus dari jarum suntik biasa. Saat dimasukkan pun sebagian besar pasien hanya merasakan sensasi ringan kadang seperti digigit semut, kadang hanya rasa hangat atau kesemutan kecil.

Saya teringat cerita anak saya. Pasien yang datang biasanya bukan orang yang benar-benar baru mengenal akupunktur. Mereka datang karena sudah pernah merasakan manfaatnya. Ada yang datang dengan keluhan nyeri punggung menahun, sudah minum obat ke sana kemari. Ada yang sulit tidur. Ada yang sering migrain. Setelah beberapa kali terapi, mereka merasakan perubahan. Dari situlah kabar menyebar dari mulut ke mulut.

Yang belum pernah mencoba justru sering kali takut duluan. Takut karena membayangkan jarum besar. Takut karena belum tahu. Takut karena mendengar cerita yang belum tentu benar. Saya memahami ketakutan itu. Bahkan dulu, pertama kali mendengar kata “akupunktur”, saya juga membayangkan sesuatu yang ngeri.

Dalam story berikutnya, saya mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana. Saya tulis bahwa akupunktur bukan sekadar menusukkan jarum sembarangan. Ada titik-titik tertentu di tubuh yang sudah dipelajari secara ilmiah maupun tradisional. Terapis pun tidak boleh sembarangan; harus memiliki pendidikan dan sertifikasi yang jelas. Saya ingin orang tahu bahwa ini bukan praktik asal-asalan.

Komentar pun terus berdatangan. Ada teman lama yang bertanya serius tentang terapi untuk nyeri lutut. Ada wali murid yang mengirim pesan pribadi, menanyakan apakah aman untuk lansia. Bahkan ada yang awalnya bercanda, kemudian menghubungi lebih lanjut karena ternyata ibunya sering sakit kepala.

Tentu tetap ada yang iseng. Ada yang sengaja menulis komentar untuk memancing perdebatan. Dahulu mungkin saya mudah tersinggung. Kali ini saya memilih melihatnya sebagai bagian dari proses. Setiap usaha pasti ada ujiannya. Setiap niat baik pasti akan disertai tantangan.

Saya belajar satu hal yaitu promosi bukan hanya soal menawarkan jasa, tetapi juga soal edukasi. Masyarakat perlu diberi pemahaman perlahan-lahan. Tidak bisa instan. Tidak bisa sekali posting langsung semua percaya. Bahkan perlu berkali-kali penjelasan agar rasa takut berubah menjadi rasa ingin tahu.

Hari libur terasa berbeda. Bukan hanya karena saya membuat story promo, tetapi karena saya ikut membersamai perjuangan anak saya. Saya tahu merintis usaha di bidang kesehatan tidak mudah. Kepercayaan adalah kunci. Kepercayaan tidak dibangun dalam sehari.

Setiap komentar baik yang positif maupun negatif adalah tanda bahwa orang membaca, bahwa mereka mulai memperhatikan. Dari yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Dari yang awalnya takut menjadi bertanya. Dari yang awalnya ragu mungkin suatu saat akan mencoba.

Saya percaya, rezeki tidak akan tertukar. Tugas kami hanya berikhtiar dan memberikan informasi yang benar. Soal siapa yang akhirnya datang terapi, itu adalah bagian dari perjalanan masing-masing.

Saya belajar bahwa di balik jarum kecil yang sering dibayangkan menakutkan, ada harapan besar untuk kesembuhan. Ada doa seorang ibu untuk anaknya agar langkahnya dimudahkan, usahanya diberkahi, dan ilmunya bermanfaat bagi banyak orang. Membantu kesembuhan pasien. Semoga bermanfaat.

Cepu, 16 Pebruari 2026

Minggu, 15 Februari 2026

Kunci Motor

 


Karya: Gutamining Saida

Jam terakhir pada hari Sabtu saya mengajar di kelas 8H terasa berbeda. Seperti biasa, setelah saya menutup pembelajaran dan kami berdoa bersama, suasana kelas langsung berubah. Anak-anak yang sejak tadi duduk rapi mulai bersiap menyambut bel pulang. Ada yang sigap mengangkat kursi ke atas meja, ada yang menyapu lantai, ada pula yang menata kembali buku-buku di rak kelas.

Saya berdiri di depan, mengamati mereka satu per satu. Dalam hati saya bersyukur, kebiasaan menjaga kebersihan kelas mulai tumbuh menjadi budaya. Bukankah kebersihan sebagian dari iman? Hal sederhana seperti menyapu dan menata meja ternyata bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Di antara keramaian kecil itu, mata saya tertuju pada seorang siswi yang duduk di barisan depan. Wajahnya manis, tubuhnya kecil mungil. Anak itu biasa dipanggil Pipit. Raut wajahnya tidak seperti biasanya. Ia tampak gelisah. Celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Tangannya membuka tas, lalu menutupnya lagi. Berdiri, duduk kembali. Wajahnya murung.

Saya mendekati salah satu sahabat dekatnya. “Ada apa dengan Pipit?” tanya saya pelan.

Teman dekatnya menjawab singkat, seolah sudah hafal dengan situasi seperti ini. “Itu, Bu… kebiasaan Pipit.”

“Kebiasaan bagaimana?” tanya saya penasaran.

“Lupa naruh kunci motor, Bu,” jawab Early cepat sambil melangkah keluar kelas.

Saya tersenyum kecil. Anak seusia mereka memang sering ceroboh. Di balik kecerobohan, selalu ada pelajaran. “Tolong dibantu cari ya,” pinta saya.

Salma langsung sigap membongkar tas Pipit. Buku-buku pelajaran dikeluarkan, tempat pensil dibuka, lembaran-lembaran kertas diperiksa. Saya ikut mengamati dari dekat. Pipit mendekati tasnya dengan wajah makin murung. Sepertinya ia sudah membayangkan akan dimarahi orang tua karena ceroboh.

Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, mudahkan urusan anak ini.”

Beberapa detik suasana menjadi hening. Anak-anak lain mulai ikut memperhatikan. Ada yang menahan tawa, ada yang ikut membantu mencari di bawah meja dan kursi.

Tiba-tiba terdengar suara Pipit,
“Ooooo…”

Kami semua menoleh. Pipit justru tertawa kecil, wajahnya berubah cerah.

“Ada apa, Pit?” tanya saya heran.

Dengan nada sedikit malu ia berkata, “Saya tadi berangkat diantar ayah, Bu… baru ingat.”

Sejenak kelas hening, lalu pecah oleh tawa ringan. Saya pun ikut tersenyum lebar. Ternyata dari tadi ia sibuk mencari sesuatu yang memang tidak ia bawa.

“Aduuuh, Pipit… Pipit…” celetuk salah satu temannya.

Saya mendekatinya dan berkata lembut, “Nah, itu namanya manusia tempatnya lupa. Tapi jangan lupa belajar dari kejadian ini ya.”

Pipit mengangguk, masih dengan wajah kemerahan menahan malu.  Betapa sering kita, bukan hanya anak-anak, mencari sesuatu dengan gelisah padahal sebenarnya tidak pernah kita miliki sejak awal. Kita panik, kita cemas, bahkan kadang menyalahkan keadaan. Padahal jika kita tenang dan mengingat kembali dengan jernih, masalah itu mungkin sederhana.

Saya kemudian mengajak mereka ngobrol sejenak sebelum mereka pulang.
“Anak-anak, kita boleh  diambil satu pelajaran dari kejadian Pipit hari ini?”

Mereka serempak menjawab, “Boleh, Bu.” “Saat kita merasa panik, jangan langsung cemas berlebihan. Tenanglah dulu. Istighfar. Ingat Allah Subhanahu Wata'alla. Kadang solusi itu muncul setelah hati kita tenang.”

Saya melihat beberapa anak mengangguk. Pipit pun tersenyum kecil.

“Satu lagi,” lanjut saya, “Biasakan berdoa sebelum berangkat dari rumah. Minta pada Allah SubhanahuWata'alla supaya dijaga dari lupa, dari kecerobohan, dan dari hal-hal yang tidak baik.”

Saya teringat doa yang sering diajarkan para ulama, agar Allah Subhanahu Wata'alla.melindungi dari sifat lalai dan lupa. Lupa memang manusiawi, tetapi jika terlalu sering bisa merugikan diri sendiri.

Anak-anak bersiap keluar kelas. Pipit berjalan di samping saya. “Maaf ya, Bu, bikin ribet,” katanya pelan. Saya tersenyum dan menepuk bahunya lembut.

“Tidak apa-apa, Pit.”

“Kita ini sering seperti itu. Mencari-cari sesuatu dengan gelisah, padahal Allah Subhanahu Wata'alla sudah mengatur semuanya dengan baik. Yang penting kita tetap tidak panik berlebihan, dan mau belajar.”

Pipit mengangguk pelan. Saya bersyukur bisa menyaksikan kepolosan anak-anak setiap hari. Dari mereka, saya belajar sabar. Belajar menahan tawa. Belajar menasihati tanpa menyakiti. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai tentang ketenangan, kejujuran, dan kesadaran bahwa Allah selalu bersama kita dalam setiap kejadian kecil sekalipun.

Cepu, 15 Pebruari 2026

Rabu, 11 Februari 2026

Materi IPS kelas 7 Semester Genap


Karya : Gutamining Saida

SUMBER DAYA ALAM (SDA)

Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari alam dan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Contohnya: air, tanah, tumbuhan, hewan, hasil tambang, angin, sinar matahari, dan sebagainya.

JENIS SUMBER DAYA ALAM 

A. BERDASAR DAPAT DAN TIDAK DAPAT DIPERBAHARUI

1. Sumber Daya Alam yang Dapat Diperbarui (Renewable)

SDA yang bisa diperbaharui kembali dalam waktu relatif cepat.
Contoh:

  • Hutan (pohon dapat tumbuh kembali)
  • Hewan ternak dan ikan
  • Air
  • Tanah
  • Angin
  • Sinar matahari

2. Sumber Daya Alam yang Tidak Dapat Diperbarui (Non-renewable)

SDA yang tidak dapat diganti dalam waktu singkat..
Contoh:

  • Bahan tambang: minyak bumi, batu bara, gas alam
  • Logam: emas, perak, tembaga, nikel
  • Bahan mineral lainnya

B. BERDASARKAN TEMPATNYA

1. SDA Kehutanan

 ·         Meliputi berbagai jenis hutan dan hasilnya.

Contoh: kayu, rotan, getah, bambu, satwa liar.

2. SDA Pertambangan

·         Segala hasil dari perut bumi.

Contoh: emas, perak, minyak bumi, batu bara, bauksit, gas alam.

3. SDA Kemaritiman

·         Sumber daya yang berasal dari laut.

Contoh: ikan, rumput laut, garam, terumbu karang, energi gelombang laut.

C. JENIS SDA BERDASARKAN BENTUKNYA

1. SDA Hayati (Biotik)

Berasal dari makhluk hidup.
Contoh:

  • Tumbuhan: padi, jagung, pohon jati, karet
  • Hewan: ayam, kambing, ikan, sapi

2. SDA Non-Hayati (Abiotik)

Berasal dari benda mati.
Contoh:

  • Air
  • Udara
  • Tanah
  • Batu bara
  • Minyak bumi
  • Gas alam
  • Logam

 

 JAWAB DAN LENGKAPI TABEL DI BAWAH INI!

BIDANG

PENGERTIAN

CONTOH

SUMBER DAPAT  DIPERBAHARUI

 

 

SUMBER TIDAK DAPAT DIPERBAHARUI

 

 

SUMBER DAYA ALAM INDONESIA

 

 

 

BIDANG

PENGERTIAN

CONTOH

KEHUTANAN

 

 

PERTAMBANGAN

 

 

KEMARITIMAN

 

 

 

BIDANG

PENGERTIAN

CONTOH

SUMBER DAYA HAYATI

 

 

SUMBER DAYA NON HAYATI

 

 

 

SELAMAT MENGERJAKAN

EKSTRA KURIKULER OSN IPS

 

Karya : Gutamining Saida

Kamis siang, pukul 13.30–15.00 WIB, saya sudah menyiapkan waktu khusus untuk menemani beberapa siswa bimbingan. Sejak pagi, hati saya terasa lebih bersemangat dari biasanya. Ada kepuasan tersendiri ketika bisa membersamai anak-anak belajar dalam kelompok kecil, lebih fokus, lebih intens, dan lebih leluasa berdialog. Materi yang akan kami bahas hari ini adalah masa praaksara materi yang bagi sebagian siswa terasa jauh dan abstrak, tetapi sesungguhnya sangat menarik jika dikupas dengan cara yang tepat.

Saya sudah membuka kembali silabus. Saya memilih dan memilah materi yang paling esensial yaitu  pengertian masa praaksara, pembabakan zaman berdasarkan geologi dan arkeologi, jenis-jenis manusia purba di Indonesia, serta corak kehidupan masyarakat berburu-meramu hingga bercocok tanam. Saya juga menyiapkan beberapa soal latihan yang menuntut pemahaman, bukan sekadar hafalan. 

Ada tujuh belas siswa yang mendaftar bimbingan. Jumlah yang cukup banyak, tetapi masih memungkinkan untuk diskusi aktif. Saya membayangkan wajah-wajah mereka ada yang pendiam, ada yang kritis, ada yang sering kali baru paham setelah dijelaskan dengan contoh konkret. Karena itu, saya menyiapkan cara menjelaskan yang lebih sederhana, bahkan mencoba mengaitkan masa praaksara dengan kehidupan mereka sekarang.

Ketika waktu menunjukkan pukul 13.30, satu per satu siswa mulai datang. Beberapa terlihat masih lelah setelah kegiatan sekolah, tetapi tetap menyempatkan hadir. Itu saja sudah membuat saya bangga. Kami memulai dengan doa singkat, lalu saya membuka sesi dengan pertanyaan ringan, “Menurut kalian, kenapa disebut masa praaksara?” 

Saya jelaskan perbedaan zaman Arkaikum, Paleozoikum, Mesozoikum, dan Neozoikum secara runtut namun santai. Sesekali saya menyelipkan cerita tentang kehidupan dinosaurus atau perubahan alam agar mereka tidak merasa sedang menghafal istilah sulit. Ketika masuk pada pembahasan manusia purba seperti Pithecanthropus erectus dan Homo sapiens, beberapa siswa terlihat lebih antusias. 

Kami lalu membedah beberapa soal latihan. Saya minta mereka tidak langsung menjawab, tetapi membaca soal dengan cermat dan menggarisbawahi kata kunci. Saya ingin mereka belajar strategi, bukan hanya hasil. Saat ada jawaban yang kurang tepat, saya tidak langsung menyalahkan, melainkan mengajak mereka menelusuri kembali konsepnya. 

Sebelum mengakhiri bimbingan, saya memberikan sedikit refleksi. Saya katakan bahwa belajar sejarah bukan sekadar mengingat masa lalu, tetapi memahami proses panjang perjalanan manusia hingga menjadi seperti sekarang. Masa praaksara mengajarkan kita tentang ketahanan, adaptasi, dan kreativitas manusia.

SOAL OSN IPS

1. Periodisasi Geologis
Zaman di mana tanda-tanda kehidupan mulai muncul dengan adanya binatang kecil tak bertulang punggung, jenis ikan, dan reptil, dikenal dengan istilah...

  • A. Arkaikum
  • B. Paleozoikum
  • C. Mesozoikum
  • D. Neozoikum

2. Corak Kehidupan Arkeologis
Penemuan Kjokkenmoddinger (sampah dapur berupa kulit kerang) dan Abris Sous Roche (gua sebagai tempat tinggal) merupakan ciri khas kehidupan manusia pada masa...

  • A. Paleolitikum
  • B. Mesolitikum
  • C. Neolitikum
  • D. Megalitikum

3. Revolusi Kebudayaan
Transisi dari masa food gathering (berburu dan meramu) ke masa food producing (bercocok tanam) dianggap sebagai revolusi besar dalam sejarah manusia karena...

  • A. Manusia mulai menggunakan logam untuk alat pertanian.
  • B. Adanya perubahan pola hidup dari nomaden menjadi menetap (sedenter).
  • C. Ditemukannya tulisan sebagai alat komunikasi.
  • D. Munculnya sistem kepercayaan animisme secara mendadak.

4. Peninggalan Budaya
Manakah dari artefak berikut yang termasuk dalam peninggalan zaman perundagian (logam) di Indonesia?

  • A. Kapak Persegi dan Kapak Lonjong
  • B. Nekara, Moko, dan Candrasa
  • C. Menhir dan Sarkofagus
  • D. Chopper dan Flakes

Korelasi Kebudayaan dan Sosial
5. Munculnya tradisi Megalitikum (kebudayaan batu besar) seperti Sarkofagus dan Punden Berundak menunjukkan adanya lompatan struktur sosial yang signifikan dibandingkan masa sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa...

  • A. Manusia saat itu sudah mengenal sistem kasta seperti di India.
  • B. Telah tercipta sistem pembagian kerja dan kepemimpinan (Primus Inter Pares) yang mampu menggerakkan massa.
  • C. Ketersediaan alat logam yang sangat melimpah untuk memahat batu besar.
  • D. Hilangnya tradisi berburu karena fokus pada pemujaan roh nenek moyang

6. Perbandingan Teknologi (Komparatif)
Perhatikan tabel berikut!

Masa

Ciri Teknologi

Paleolitikum

Kapak Perimbas (kasar)

Neolitikum

Kapak Persegi (dihaluskan)

Perubahan teknik pengerjaan dari kasar menjadi halus pada masa Neolitikum secara sosiologis  mencerminkan....

  • A. Adanya keinginan untuk estetika murni tanpa memperhatikan fungsi.
  • B. Perubahan pola pikir manusia yang mulai menetap sehingga memiliki waktu luang untuk mengasah alat.
  • C. Punahnya bahan baku batu yang keras sehingga manusia menggunakan batu yang lebih lunak.
  • D. Pengaruh migrasi bangsa Proto Melayu yang membawa teknologi besi ke Nusantara.

 

……………………….SAIDA………………….


LEMBAGA KEUANGAN

 



 1. Pengertian Lembaga Keuangan

Lembaga keuangan adalah badan atau institusi yang bergerak di bidang jasa keuangan, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat.

Contoh Lembaga Keuangan:

  • Bank
  • Koperasi simpan pinjam
  • Pegadaian
  • Asuransi
  • Pasar modal

📘 BANK

2. Pengertian Bank

Menurut UU Perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya untuk meningkatkan taraf hidup rakyat.

3. Manfaat Bank

No

Manfaat Bank

Penjelasan

1

Tempat menyimpan uang

Uang lebih aman daripada disimpan di rumah

2

Mempermudah transaksi

Bisa transfer, bayar listrik, belanja online

3

Memberi pinjaman (kredit)

Membantu modal usaha

4

Menabung untuk masa depan

Untuk pendidikan, rumah, dll

5

Mendukung pertumbuhan ekonomi

Dana disalurkan untuk usaha dan pembangunan


4. Produk-Produk Perbankan

No

Produk Bank

Penjelasan

1

Tabungan

Simpanan yang bisa diambil kapan saja

2

Giro

Simpanan untuk transaksi bisnis (menggunakan cek/bilyet giro)

3

Deposito

Simpanan berjangka dengan bunga lebih tinggi

4

Kredit

Pinjaman dana yang harus dikembalikan dengan bunga

5

Kartu ATM/Debit

Untuk menarik uang dan transaksi


 5. Jasa-Jasa Bank

No

Jasa Bank

Penjelasan

1

Transfer uang

Mengirim uang antar rekening

2

Pembayaran tagihan

Listrik, air, internet, sekolah

3

Penukaran uang (valas)

Tukar rupiah dengan mata uang asing

4

Safe deposit box

Penyimpanan barang berharga

5

Kliring

Penyelesaian pembayaran antarbank


 

Lembaga Keuangan Bukan Bank

Pengertian

Lembaga keuangan bukan bank (LKBB) adalah lembaga yang bergerak di bidang jasa keuangan tetapi tidak menghimpun dana masyarakat dalam bentuk giro seperti bank.

Lembaga ini tetap membantu masyarakat dalam hal keuangan, namun kegiatannya tidak sama seperti bank.


 Fungsi Lembaga Keuangan Bukan Bank

  • Memberikan pembiayaan
  • Memberikan perlindungan risiko
  • Membantu kegiatan usaha masyarakat
  • Meningkatkan kesejahteraan anggota

 Contoh Lembaga Keuangan Bukan Bank

No

Jenis

Penjelasan Sederhana

Contoh

1

Asuransi

Memberikan perlindungan terhadap risiko (sakit, kecelakaan, kebakaran) dengan membayar premi

Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, Asuransi Kendaraan

2

Koperasi Simpan Pinjam

Menghimpun dan menyalurkan dana untuk anggota

Koperasi sekolah, Koperasi desa

3

Pegadaian

Memberikan pinjaman dengan jaminan barang

PT Pegadaian

4

Leasing (Sewa Guna Usaha)

Memberikan pembiayaan pembelian kendaraan/barang secara cicilan

Perusahaan pembiayaan motor/mobil

5

Pasar Modal

Tempat jual beli saham dan obligasi

Bursa Efek Indonesia


 Perbedaan Singkat dengan Bank

Bank

Lembaga Keuangan Bukan Bank

Menghimpun dana dalam bentuk tabungan, giro, deposito

Tidak menghimpun dana seperti bank

Menyalurkan kredit

Fokus pada pembiayaan, perlindungan, atau jasa tertentu


Bottom of Form