Karya: Gutamining Saida
Suasana di Diniyah Masjid Al Mujahidin tampak berbeda dari biasanya. Sejak pukul 08.00 WIB, satu per satu anak-anak datang dengan wajah ceria. Ada yang memakai baju muslim rapi lengkap dengan peci dan jilbab warna-warni. Rabu adalah hari pertama kegiatan Pesantren Ramadhan yang diadakan oleh Madin Masjid Al Mujahidin, Jadwalnya hari Rabu sampai hari Jum’at.
Tepat pukul 08.00 WIB, kegiatan resmi dimulai. Sebanyak 32 anak hadir, terdiri dari laki-laki dan perempuan, mulai dari usia TK hingga SMP. Perpaduan usia ini justru membuat suasana semakin hidup. Anak-anak TK tampak duduk paling depan dengan wajah polos penuh rasa ingin tahu. Sementara anak-anak SMP duduk di bagian belakang, mencoba terlihat lebih dewasa, meski sesekali masih tertawa kecil ketika bercanda dengan teman sebaya.
Acara diawali dengan membaca basmalah bersama-sama. Suara kecil dan besar berpadu, ada yang lantang, ada yang masih malu-malu. Semuanya terasa indah. Ramadhan memang selalu membawa suasana berbeda lebih khusyuk, lebih hangat, dan penuh semangat untuk belajar.
Ustadz pertama yang mengisi materi adalah Ustadz Eka. Beliau menyampaikan materi tentang Adab menuntut ilmu. Dengan suara yang tenang dan jelas, beliau menjelaskan tentang pengertian adab mencari ilmu, contoh karakter seorang anak. Agar mudah dipahami anak-anak, Ustadz Eka tidak hanya berceramah, tetapi juga memberikan contoh sederhana.
Ustadz Eka membuka dengan sebuah pertanyaan, “Kenapa kita harus punya adab saat belajar?”
Anak-anak saling berpandangan. Ada yang menjawab, “Supaya dapat pahala.” Ada pula yang menjawab, “Supaya ilmunya berkah.”
“Masya Allah, benar sekali,” jawab beliau sambil tersenyum.
Beliau menjelaskan bahwa dalam Islam, adab lebih didahulukan sebelum ilmu. Menghormati guru, mendengarkan dengan baik, tidak memotong pembicaraan, dan bersungguh-sungguh saat belajar adalah bagian dari adab. Ilmu tanpa adab bisa membuat seseorang sombong. Tetapi ilmu dengan adab akan membawa keberkahan.
Anak-anak pun diminta mempraktikkan cara duduk yang baik saat menuntut ilmu. Ada yang tadinya bersandar santai, langsung memperbaiki posisi duduknya. Ada pula yang semula bercanda, menjadi lebih tenang.
Ustadz Eka juga menyampaikan kisah para ulama terdahulu yang sangat menghormati gurunya. Anak-anak mendengarkan dengan penuh perhatian. Beberapa terlihat kagum mendengar cerita tentang betapa besar perjuangan dalam menuntut ilmu pada zaman dahulu.
Menariknya, karena pesertanya beragam usia, ustadz juga menyesuaikan bahasa penyampaian. Untuk anak TK, digunakan bahasa yang sederhana dan contoh konkret. Untuk anak SMP, diberikan penjelasan yang lebih mendalam, termasuk pentingnya menjaga niat saat belajar agar bukan sekadar mencari nilai, tetapi mencari ridha Allah.
Setelah istirahat sejenak, materi kedua disampaikan oleh Ustadz Faiz. Materinya tentang fiqih puasa. Tema ini sangat tepat untuk anak-anak yang sedang dalam proses belajar.
“Kalau sengaja makan saat puasa, bagaimana?” tanya beliau.
“Batal!” jawab anak-anak serempak.
“Kalau lupa makan?” lanjutnya lagi.
Beberapa anak terlihat ragu. Ada yang menjawab pelan, “Tidak batal, Ustadz…”
Ustadz Faiz tersenyum. “Betul. Kalau lupa, tidak batal. Tapi begitu ingat, harus langsung berhenti.”
Di sela-sela materi, terdengar suara tawa kecil ketika ada anak yang menjawab polos. Suasana tetap terkendali. Panitia madin dengan sigap membantu mengatur barisan dan memastikan semua anak merasa nyaman. Anak-anak pun manggut-manggut. Penjelasan yang sederhana membuat materi terasa ringan. Bahkan anak-anak TK pun tampak memperhatikan, meski mungkin belum memahami seluruhnya. Sesekali Ustadz Faiz melempar pertanyaan, dan siapa yang bisa menjawab diberi pujian. Suasana pun menjadi hidup dan interaktif.
Beliau juga menjelaskan hikmah puasa. Bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan emosi, menjaga lisan, dan memperbanyak amal kebaikan. Di sinilah anak-anak mulai merenung. Beberapa anak SMP tampak lebih serius, mungkin mengingat kembali kebiasaan mereka sehari-hari.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama. Anak-anak mengangkat tangan kecil mereka, memohon agar diberikan kemudahan menjalankan puasa dan diberi ilmu yang bermanfaat. Suasana terasa haru dan penuh harapan. Pesantren Ramadhan ini bukan sekadar kegiatan rutin tahunan. Lebih dari itu, ia menjadi wadah pembentukan karakter. Anak-anak tidak hanya belajar teori tentang puasa, tetapi juga belajar tentang kesabaran.
Pagi ini menjadi awal yang baik. Semangat anak-anak, kesungguhan para ustadz dan ustadhah, serta dukungan lingkungan masjid menjadi bukti bahwa pendidikan bisa dimulai dari mana saja dari ruang sederhana, dengan karpet yang digelar, dengan suara lantang penuh ketulusan. Ramadhan benar-benar menjadi bulan belajar. Belajar menahan diri, belajar memperbaiki akhlak, dan belajar mencintai ilmu. Di Diniyah Masjid Al Mujahidin, langkah kecil itu telah dimulai. Semoga berjalan dengan lancar sampai hari terakhir Aamiin.
Cepu, 18 Pebruari 2026




