Rabu, 31 Desember 2025

Sepincuk Nasi Pecel

Karya : Gutamining Saida 
Nasi pecel merupakan menu favorit saya. Makanan sederhana, merakyat, dan enak di lidah. Bisa dinikmati kapan saja yaitu pagi terasa cocok, siang tetap enak, sore mantap, dan malam pun masih nikmat. Dalam kesederhanaan sepincuk  nasi pecel, saya sering menemukan rasa syukur yang dalam. Ia bukan sekadar makanan, melainkan pengingat bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla tidak selalu hadir dalam kemewahan, tetapi justru dalam hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Suatu hari, saya mendengar informasi tentang nasi pecel yang sedang viral. Tempatnya tidak jauh dari rumah. Banyak yang membagikan pengalaman mereka di media sosial, lengkap dengan promosi menarik yang membuat siapa saja tergoda. Dalam hati saya berkata, “Kalau memang dekat dan ramai, tentu ada sesuatu yang istimewa.” Maka saya berusaha menyempatkan waktu untuk mencoba, bukan sendiri, melainkan bersama anak dan cucu. Bagi saya, menikmati makanan bersama keluarga adalah salah satu bentuk syukur yang nyata.

Pagi itu, kami berangkat sejak pukul 06.30 WIB. Udara masih segar, matahari belum terlalu tinggi. Sesampainya di lokasi, ternyata pembeli sudah mulai berdatangan. Antrian tampak tertib, masing-masing menunggu giliran sesuai urutan. Saya memperhatikan wajah-wajah di sekitar ada yang datang berdua, berkelompok, bahkan membawa keluarga besar. Tidak sedikit yang datang dengan wajah cerah, seolah sarapan ini bukan hanya tentang mengisi perut, tetapi juga mengisi hati.

Nasi dan minuman disiapkan penjual. Pembeli memilih tempat duduk sendiri. Ada yang duduk di kursi, ada pula yang menggelar tikar kecil atau tikar besar, menyesuaikan jumlah anggota keluarga yang dibawa. Suasana terasa akrab meski banyak yang tidak saling mengenal. Inilah keindahan kebersamaan dalam hal sederhana. Saya teringat firman Allah Subhanahu Wata'alla bahwa manusia diciptakan bersuku-suku agar saling mengenal. Di tempat itu, perbedaan usia, latar belakang, dan kebiasaan seakan menyatu oleh satu hal: sepiring nasi pecel. 

Semakin siang, suasana semakin ramai. Antrian kian panjang, suara obrolan semakin terdengar, dan aroma sambal pecel yang khas terus menguar. Saya duduk bersama anak dan cucu, memperhatikan mereka menikmati makanan dengan lahap. Melihat cucu makan dengan gembira membuat hati saya hangat. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kebersamaan sederhana ini sebagai kenangan baik bagi mereka. Jadikan rezeki yang kami makan hari ini membawa keberkahan.”

Bagi saya, nasi pecel ini terasa sangat istimewa. Perpaduan nasi hangat, sayuran rebus, sambal kacang yang pas, dan pelengkap sederhana seperti tempe goreng menghadirkan rasa yang lengkap. Namun, menariknya, suami saya tidak terlalu menyukai nasi pecel. Dahulu, mungkin perbedaan selera ini terasa sepele, bahkan kadang memunculkan keinginan agar semua sama. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya belajar bahwa perbedaan adalah bagian dari warna-warni kehidupan.Dalam keluarga, tidak semua harus sama. Selera makan saja bisa berbeda, apalagi cara berpikir, kebiasaan, dan pilihan hidup. 

Islam mengajarkan kita untuk saling menghargai, saling memahami, dan tidak memaksakan kehendak. Selama tidak melanggar nilai kebaikan, perbedaan justru menjadi ladang pahala jika disikapi dengan lapang dada. Saya bersyukur, “Ya Allah, terima kasih atas pasangan hidup yang Engkau berikan. Meski tidak selalu sejalan dalam hal kecil, kami masih bisa duduk bersama dalam satu tempat, satu waktu, satu tujuan yaitu menikmati nikmat-Mu.” Bukankah itu yang terpenting?

Di tengah keramaian, saya merenung. Betapa Allah Maha Adil dalam membagi rezeki. Ada yang mampu makan di tempat sederhana ini dengan penuh kegembiraan, ada pula yang mungkin hari itu hanya bisa berharap. Makan sepincuk  nasi pecel yang saya nikmati bukan hanya soal rasa, tetapi juga amanah untuk bersyukur dan tidak berlebihan. 

Saya teringat pesan bahwa setiap suapan akan dimintai pertanggungjawaban dari mana ia diperoleh dan untuk apa tenaga yang dihasilkan darinya digunakan. Pagi itu mengajarkan saya banyak hal. Tentang kesabaran dalam antri, tentang kebersamaan tanpa sekat, tentang perbedaan selera dalam satu keluarga, dan tentang syukur atas rezeki yang sering kita anggap biasa. 

Nasi pecel yang viral itu mungkin akan berlalu dari perbincangan, tetapi makna yang saya petik darinya semoga menetap dalam hati. Kami pun pulang dengan perasaan kenyang, bukan hanya di perut, tetapi juga di jiwa. Semoga setiap kebersamaan sederhana seperti ini menjadi amal kebaikan, menjadi penguat ikatan keluarga, dan menjadi pengingat bahwa nikmat Allah Subhanahu Wata'alla hadir di mana saja bahkan di sepincuk nasi pecel yang disantap bersama orang-orang tercinta.
Cepu, 31 Desember 2025 

Selasa, 30 Desember 2025

Nikmati Pagi Di Akhir Tahun



Karya: Gutamining Saida 
Sarapan adalah awal dari sebuah hari. Ia bukan sekadar aktivitas mengisi perut, melainkan pintu pembuka untuk menjalani kehidupan dengan tenaga, pikiran jernih, dan hati yang lebih siap menerima takdir Allah. Sarapan bisa dilakukan di rumah dengan hidangan sederhana, di warung pinggir jalan dengan menu khas daerah, atau di tempat mana pun yang diinginkan, selama di dalamnya ada rasa syukur dan kebersamaan. 

Menu sarapan pun beraneka ragam, mengikuti selera, kebiasaan, dan kemampuan masing-masing keluarga. Hakikat sarapan sejatinya sama yaitu menguatkan raga agar mampu menjalankan amanah hidup. Pagi di akhir tahun 2025 itu terasa istimewa. Bukan karena hidangan yang mewah, melainkan karena kebersamaan yang Allah anugerahkan. Kami bersama anak dan cucu menikmati sarapan nasi pecel di pinggir waduk. 

Suasana yang berbeda dari biasanya. Angin pagi berhembus pelan, membawa kesejukan dan aroma alam yang masih murni. Burung-burung kecil beterbangan, air waduk tampak tenang memantulkan cahaya matahari yang baru terbit. Dalam keheningan pagi itu, hati kami terasa lapang. Nasi pecel yang kami santap adalah makanan sederhana, khas Nusantara. Sepincuk nasi hangat, sayuran rebus seperti bayam, kacang panjang, tauge,  disiram sambal kacang yang gurih dan pedasnya pas. Ditambah tempe goreng yang sederhana. Tidak ada menu mahal, tidak ada hidangan modern, tetapi justru di situlah letak kenikmatannya. 

Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa nikmat tidak selalu hadir dalam kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan yang disyukuri. Sebelum menyantap sarapan, kami membiasakan diri untuk berdoa. Anak-anak dan cucu-cucu menengadahkan tangan kecil mereka, menirukan doa yang kami ucapkan. “Allahumma barik lana fima razaqtana wa qina ‘adzaban nar.” Doa yang sederhana, tetapi sarat makna. Kami memohon keberkahan atas rezeki yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan dan perlindungan dari siksa-Nya. 

Di momen itu, hati terasa tersentuh. Betapa besar amanah mendidik generasi agar selalu mengingat Allah, bahkan dalam perkara makan dan minum. Sarapan di pinggir waduk memberi pelajaran kehidupan. Air yang tenang mengingatkan kami bahwa hidup tidak selalu bergelombang. Ada masa-masa damai yang patut disyukuri. Anak-anak bercanda ringan, cucu-cucu tertawa polos, saling berbagi lauk dan cerita. Tidak ada gawai yang mendominasi, tidak ada kesibukan dunia yang mengganggu. Hanya kebersamaan dan rasa cukup. 

Dalam Islam, kebersamaan keluarga adalah nikmat besar yang sering terlupakan. Padahal Rasulullah  mencontohkan kehidupan keluarga yang hangat, penuh kasih sayang, dan saling menghargai. Akhir tahun sering kali menjadi waktu untuk merenung. Sarapan pagi itu pun berubah menjadi momen muhasabah. Kami menyadari bahwa sepanjang tahun 2025, Allah Subhanahu Wata'alla telah memberikan begitu banyak nikmat yaitu kesehatan, kesempatan berkumpul, rezeki yang cukup, serta perlindungan dalam berbagai keadaan. Mungkin tidak semua keinginan tercapai, tetapi Allah selalu memberikan apa yang kami butuhkan. 

Sarapan sederhana ini seakan menjadi simbol bahwa hidup tidak harus selalu mengejar lebih, melainkan belajar menerima dan mensyukuri yang ada. Anak-anak mendengarkan cerita ringan tentang masa lalu, ketika sarapan di pagi hari sering kali dilakukan dengan menu yang jauh lebih sederhana. Nasi dengan lauk seadanya, bahkan terkadang hanya dengan sambal dan sayur. 

Kebahagiaan tetap hadir karena hati orang-orang saat itu lebih dekat kepada Allah. Kami berharap cerita-cerita ini menjadi pelajaran bagi cucu-cucu, agar kelak mereka tidak mudah mengeluh dan selalu mensyukuri nikmat sekecil apa pun. Dalam Islam, makan bersama dianjurkan karena membawa keberkahan. Rasulullah bersabda bahwa makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu akan membawa berkah. Sarapan di pinggir waduk itu kami rasakan benar keberkahannya. Makanan terasa lebih nikmat, obrolan mengalir hangat, dan hati dipenuhi rasa tenteram. Tidak ada yang terburu-buru, seolah waktu pun melambat untuk memberi ruang bagi rasa syukur.

Setelah sarapan, kami duduk sejenak memandangi air waduk. Beberapa cucu bertanya tentang ikan, tentang alam, tentang ciptaan Allah yang begitu luas. Pertanyaan-pertanyaan polos itu menjadi pengingat bahwa tugas orang tua dan kakek-nenek bukan hanya memberi makan, tetapi juga menanamkan tauhid dan kecintaan kepada Sang Pencipta. Alam sekitar adalah ayat-ayat Allah yang terbentang, mengajak manusia untuk berpikir dan bersyukur.

Sarapan pagi di akhir tahun 2025 itu akhirnya kami tutup dengan senyum dan doa. Kami memohon agar Allah mempertemukan kami kembali di hari-hari berikutnya dalam keadaan sehat dan penuh iman. Kami sadar, tidak ada jaminan usia, tidak ada kepastian esok hari. Selama masih diberi kesempatan untuk berkumpul, menikmati sarapan sederhana bersama keluarga, itulah nikmat besar yang tidak boleh diabaikan.

Sarapan bukan sekadar makan pagi. Ia adalah ibadah jika diawali dengan niat yang baik, doa, dan rasa syukur. Di pinggir waduk, dengan nasi pecel sederhana, kami belajar bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika hati dekat dengan Allah dan keluarga menjadi tempat bertumbuhnya cinta, iman, dan rasa cukup. Semoga sarapan-sarapan sederhana seperti itu terus menjadi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah, dimulai dari pagi hari yang penuh syukur.
Cepu, 31 Desember 2025 

Senin, 29 Desember 2025

Rahasia Allah

Karya : Gutamining Saida 
Setelah pulang dari jama’ah subuh, kebiasaan yang sering saya lakukan, saya mengaktifkan handphone. Waktu subuh selalu terasa istimewa yaitu udara masih sejuk, hati relatif lebih tenang, dan pikiran belum terlalu dipenuhi hiruk-pikuk urusan dunia. Biasanya saya hanya sekadar mengecek pesan, barangkali ada kabar penting dari keluarga atau kerabat dekat. 

Tidak saya sangka, pagi itu justru datang sebuah kabar yang begitu mengejutkan dan mengaduk perasaan.
Sebuah pesan masuk dari Pak Mansur. Singkat, padat, serta  sarat makna duka. “Assalamualaikum. Lek Ning lahiran dan bayinya meninggal.” Membaca pesan itu, saya terdiam cukup lama. Mata saya kembali membaca kalimat yang sama, seolah berharap ada kesalahan penulisan atau salah kirim pesan. Hati saya diliputi kebingungan. Selama ini saya tidak pernah mendengar kabar bahwa Lek Ning sedang hamil. Sekitar sebulan lalu kami sempat bertemu, berbincang seperti biasa, tanpa ada tanda-tanda hamil atau cerita tentang kehamilan.
Dalam kondisi masih terbengong-bengong, saya menekan tombol panggilan. Saya ingin mendengar langsung penjelasan dari Pak Mansur, agar tidak salah paham. Alhamdulillah, panggilan saya langsung diterima. Suaranya terdengar jelas meski berada di seberang jauh.
“Lek Ning siapa, Pak?” tanya saya singkat, karena benar-benar belum mengaitkan kabar itu dengan siapa pun dalam ingatan saya.
“Lek Ning saudara sendiri, Bu,” jawab beliau dengan nada yakin.
Saya masih belum sepenuhnya mengerti. “Lho, memang hamil?” tanya saya lagi, spontan dan jujur.
Pak Mansur menjawab ringan namun tegas, “Ya iyalah, melahirkan ya hamil.”
Jawaban itu justru membuat saya semakin terdiam. Ada rasa kaget, sedih. Kehidupan memang sering kali menyimpan kejutan yang tak pernah kita duga. Saya hanya mampu mengucap, “Oh ya, terima kasih infonya, Pak.” Setelah itu pembicaraan kami akhiri dengan salam.

Handphone saya letakkan kembali. Saya duduk memandangi pagi yang mulai terang. Pikiran saya melayang pada peristiwa yang baru saja saya dengar. Seorang bayi yang baru saja hadir ke dunia, namun tak sempat merasakan hangatnya pelukan ibu, tak sempat melihat wajah ayahnya, bahkan tak sempat menangis lama di dunia. Ia datang hanya sebentar, lalu kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan.
Di situlah hati saya mulai belajar satu hal penting bahwa usia manusia adalah rahasia Allah Subhanahu Wata'alla. 

Tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan hidupnya dimulai dan kapan hidupnya diakhiri. Ada yang meninggal di dalam kandungan, tanpa sempat melihat dunia. Ada yang baru lahir, hanya sebentar menghirup udara dunia, lalu kembali ke hadirat-Nya. Ada pula yang hidup panjang umur, melewati berbagai fase kehidupan, sehat, sakit, susah, senang, silih berganti.
Ada orang yang terlihat sehat, bugar, tidak pernah mengeluh sakit, namun Allah Subhanahu Wata'alla memanggilnya lebih dahulu. Sebaliknya, ada yang bertahun-tahun terbaring sakit, keluar masuk rumah sakit, namun Allah Subhanahu Wata'alla masih memberinya kesempatan hidup lebih lama. 

Semua itu bukan kebetulan, bukan pula semata-mata karena ikhtiar manusia, melainkan karena kehendak dan ketetapan Allah Subhanahu Wata'alla semata.
Peristiwa ini menjadi pengingat yang sangat kuat bagi saya. Betapa sering kita merasa hidup masih panjang, merasa aman dengan rencana-rencana dunia, menunda amal, menunda kebaikan, bahkan menunda taubat. Padahal, tidak ada satu pun jaminan bahwa esok hari kita masih diberi kesempatan bernafas. Bahkan bayi yang belum berdosa pun bisa dipanggil kapan saja, apalagi manusia dewasa yang penuh dengan khilaf dan kesalahan.

Saya teringat sebuah hadits bahwa dunia ini hanyalah tempat singgah, sementara akhirat adalah tempat tinggal yang sesungguhnya. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang kekal. Bagi seorang bayi yang meninggal, ia adalah titipan Allah Subhanahu Wata'alla yang suci. Ia tidak membawa dosa, bahkan kelak bisa menjadi penolong bagi orang tuanya di akhirat, dengan izin Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya pun mendoakan Lek Ning dan keluarganya. Semoga diberi kesabaran, keikhlasan, dan kekuatan iman. Tidak mudah menerima kenyataan kehilangan, apalagi kehilangan seorang bayi yang mungkin telah lama dinanti.  Dalam Islam, setiap musibah selalu mengandung hikmah, meski sering kali hikmah itu baru terasa setelah waktu berlalu.

Setelah cukup lama, saya mengangkat tangan dan berdoa. Saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup, diberi kesehatan, dan diberi waktu untuk memperbaiki diri. Saya memohon agar Allah Subhanahu Wata'alla tidak mencabut nyawa saya kecuali dalam keadaan husnul khatimah. Peristiwa ini mengajarkan saya untuk tidak sombong dengan umur, tidak lalai dengan waktu, dan senantiasa mengingat bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam genggaman Allah Subhanahu Wata'alla.

Begitulah rahasia dan kehendak Allah. Tidak ada satu pun manusia yang mampu menebaknya. Tugas kita hanyalah menjalani hidup dengan penuh iman, sabar, dan syukur, serta mempersiapkan bekal terbaik untuk perjalanan pulang menuju-Nya.
Cepu, 29 Desember 2025 

Minggu, 28 Desember 2025

Menjelang Akhir Tahun




Karya: Gutamining Saida

Akhir tahun selalu datang dengan cara yang tenang, namun mengetuk hati paling dalam. Tidak ada suara gaduh, tidak ada perayaan yang benar-benar mampu menandingi suara batin yang tiba-tiba bertanya, “Sudah sejauh mana aku berjalan menuju Allah?” Di antara pergantian angka kalender, ada jeda yang seharusnya kita gunakan untuk merenung, bermuhasabah, dan menata kembali arah hidup. Bukan untuk menyesali masa lalu semata, tetapi untuk memperbaiki langkah agar tahun depan menjadi lebih bermakna di hadapan-Nya.

Beberapa hari menjelang akhir tahun aku memilih berjalan pelan menuju makam. Bukan karena sedang berduka, melainkan karena rindu yang tak pernah benar-benar usai. Makam orang tua dan sanak saudara menjadi tujuan langkah kaki. Tempat ini bukan sekadar hamparan tanah dan batu nisan, tetapi ruang pengingat paling jujur tentang hakikat kehidupan. Di sinilah dunia seakan kehilangan daya tariknya, dan segala yang tampak besar berubah menjadi kecil.

Saat melangkah di antara makam-makam, aku menyadari satu hal yaitu semua yang pernah hidup di dunia ini memiliki cerita. Mereka pernah tertawa, menangis, berharap, kecewa, dan berjuang. Ada yang pernah memiliki harta berlimpah, jabatan tinggi, rumah megah, dan nama yang disegani. Kini, semuanya sama. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Semua berbaring dalam sunyi, menunggu hari kebangkitan.

Aku duduk bersimpuh, menundukkan kepala, dan melantunkan doa. Bukan hanya untuk mereka yang telah mendahului, tetapi juga untuk diriku sendiri. Di tempat seperti ini, manusia diajak jujur kepada dirinya. Tidak ada topeng, tidak ada pencitraan, dan tidak ada pujian manusia yang bisa diharapkan. Semua amal, baik yang terlihat maupun tersembunyi, akan diperhitungkan di hadapan Allah.

Sering kali dalam hidup, kita terlalu berharap kepada manusia. Kita bekerja keras ingin dipuji, berbuat baik agar dikenang, beribadah supaya dianggap saleh. Padahal, berharap kepada manusia sering berujung kecewa, penyesalan, dan luka hati. Manusia memiliki keterbatasan. Pujian bisa berubah menjadi celaan, penghargaan bisa berganti dengan pengabaian. Hanya Allah yang Maha Setia menerima amal hamba-Nya, sekecil apa pun, selama dilakukan dengan ikhlas.

Di depan makam orang tua, ingatan masa kecil kembali hadir. Nasihat sederhana mereka dahulu kini terasa sangat dalam maknanya. Tentang hidup yang tidak boleh sombong, tentang rezeki yang harus disyukuri, dan tentang ibadah yang harus dijaga. Orang tua telah pergi, anak-anak pun suatu hari akan memiliki jalan hidupnya sendiri. Mereka tidak akan membersamai kita di alam kubur. Tidak ada yang bisa menggantikan amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia.

Harta yang selama ini kita kejar dengan penuh ambisi tidak akan ikut terbawa. Jabatan yang dibanggakan akan kita tinggalkan. Rumah megah yang menjadi simbol keberhasilan duniawi akan diganti dengan rumah yang sangat sederhana, bahkan mungkin hanya berukuran dua kali satu. Di sanalah kita tinggal sendiri, tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa sorotan manusia. Yang menemani hanyalah amal baik atau sebaliknya, penyesalan yang tiada guna.

Ziarah kubur mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan akan kembali tanpa membawa apa pun. Yang membedakan hanyalah bekal amal. Salat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, doa yang tulus, sabar dalam ujian, serta kebaikan yang dilakukan tanpa berharap balasan manusia. Semua itulah yang kelak menjadi cahaya di alam kubur.

Akhir tahun bukan tentang pesta atau perayaan berlebihan.  Merupakan undangan dari Allah agar kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan melihat ke depan dengan lebih jernih. Sudahkah ibadah kita meningkat? Sudahkah amal kita lebih banyak daripada kelalaian? Sudahkah niat kita lurus hanya untuk Allah semata?

Dalam doa yang lirih, terucap harapan sederhana namun sangat besar maknanya. Semoga Allah memberi kesempatan untuk memperbaiki diri di tahun mendatang. Semoga setiap langkah hidup diarahkan untuk mencari ridho-Nya, bukan sekadar pujian manusia. Semoga ketika waktu kembali itu tiba, kita dipanggil dalam keadaan husnul khotimah, dengan hati yang tenang dan wajah yang berseri.

Makam menjadi saksi bahwa kehidupan dunia akan berakhir. Di sanalah pula tumbuh harapan. Harapan agar kita menjadi hamba yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah. Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan bagaimana kita pulang kepada Sang Pencipta dengan membawa amal terbaik dan ridho-Nya.

Cepu, 29 Desember 2025

Sabtu, 27 Desember 2025

Makam, Rumah Sakit dan Silaturahim

Karya : Gutamining Saida 
Minggu tanggal 28 Desember 2025 menjadi hari yang sangat bermakna dalam perjalanan hidup saya. Dalam satu hari, Allah Subhanahu Wata'alla memperlihatkan begitu banyak pelajaran kehidupan melalui tiga tempat yang berbeda, namun saling melengkapi maknanya. Tempat-tempat itu adalah makam, rumah sakit, dan pertemuan silaturahmi keluarga besar di Kudus. Ketiganya seakan menjadi ruang belajar kehidupan yang nyata, tanpa perlu banyak teori, namun langsung menyentuh hati.

Pelajaran pertama saya dapatkan di makam. Di tempat itulah kesadaran tentang kefanaan hidup terasa begitu kuat. Makam adalah sekolah kejujuran paling sunyi. Tidak ada suara tepuk tangan, tidak ada pujian, dan tidak ada pengakuan manusia. Semua yang pernah hidup di dunia, baik kaya maupun miskin, terpandang atau biasa saja, akhirnya berakhir di tempat yang sama. Di sana, manusia diajak jujur pada dirinya sendiri tentang hakikat hidup yang sesungguhnya.

Di hadapan makam, saya merenung bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Jabatan yang pernah dibanggakan akan ditinggalkan, harta yang dikumpulkan tidak ikut terbawa, dan keluarga yang dicintai tidak bisa membersamai hingga ke liang lahat. Yang setia menemani hanyalah amal perbuatan. Makam mengajarkan bahwa sebaik-baik bekal adalah iman dan amal saleh. Dari makam, saya belajar untuk tidak berlebihan mencintai dunia dan tidak lalai dalam menyiapkan bekal akhirat.

Pelajaran kedua saya dapatkan di rumah sakit. Tempat ini mengajarkan satu hal yang sering kali terlupakan saat tubuh dalam keadaan sehat, yaitu bahwa kesehatan adalah nikmat yang sangat mahal harganya. Di rumah sakit, saya melihat banyak manusia yang diuji dengan sakit. Ada yang terbaring lemah, ada yang hanya bisa terdiam, dan ada pula yang berjuang melawan rasa sakit dengan penuh kesabaran.

Dari rumah sakit, saya belajar bahwa ketika sehat, manusia sering lupa bersyukur. Waktu terasa cepat berlalu tanpa makna, ibadah sering ditunda, dan kesempatan berbuat baik disia-siakan. Padahal, saat sakit datang, semua terasa begitu berharga. Gerak tubuh yang sederhana, napas yang lega, dan rasa nyaman menjadi sesuatu yang sangat dirindukan.

Kesehatan bukan hanya untuk dinikmati, tetapi untuk digunakan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Sehat adalah kesempatan emas untuk memperbanyak ibadah, memperluas amal kebaikan, dan bersedekah baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Di rumah sakit, saya menyadari bahwa sedekah bukan hanya soal materi, tetapi juga senyum, doa, dan perhatian kepada sesama. Bahkan kehadiran yang tulus pun bisa menjadi sedekah yang bernilai di sisi Allah.

Pelajaran ketiga saya peroleh dari silaturahmi keluarga besar di Kudus. Di tengah pertemuan itu, saya merasakan kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Silaturahmi mengajarkan tentang saling memahami, saling menghargai, dan menerima perbedaan dengan lapang dada. Setiap anggota keluarga datang dengan latar belakang, pengalaman, dan perjalanan hidup yang berbeda, namun disatukan oleh ikatan darah dan iman.

Dalam silaturahmi, saya belajar bahwa kebersamaan bukan berarti selalu sepakat, tetapi mampu saling menghormati. Ada canda, ada cerita, ada perbedaan pendapat, namun semuanya dibingkai dengan niat baik dan rasa kekeluargaan. Silaturahmi menjadi ruang untuk saling menguatkan, saling mendoakan, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Pertemuan keluarga juga memberikan dampak yang besar dalam kehidupan. Ia mempererat hubungan yang mungkin mulai renggang karena jarak dan kesibukan. Ia melunakkan hati yang sempat keras oleh ego. Ia menghidupkan kembali kenangan indah yang menjadi sumber kekuatan. Silaturahmi menjadikan hati lebih lapang, pikiran lebih jernih, dan jiwa lebih tenang.

Dari makam, rumah sakit, dan silaturahmi, saya menyadari bahwa kehidupan adalah rangkaian pelajaran yang Allah hadirkan melalui berbagai peristiwa. Tidak semua pelajaran datang dari kebahagiaan. Sebagian justru hadir melalui kesunyian, sakit, dan perenungan. Namun semua itu mengandung hikmah bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran.

Saya belajar bahwa hidup harus dijalani dengan penuh kesadaran. Kesadaran bahwa waktu terbatas, kesehatan tidak selalu ada, dan keluarga adalah amanah yang harus dijaga. Saya belajar untuk lebih banyak bersyukur, memperbaiki niat, dan meningkatkan amal.

Semoga pelajaran hari ini tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi menjadi perubahan nyata dalam kehidupan. Semoga Allah menuntun langkah untuk memanfaatkan sehat sebelum sakit, hidup sebelum mati, dan kesempatan sebelum penyesalan. Semoga kita semua kelak dipertemukan kembali dalam keadaan husnul khotimah, membawa bekal amal terbaik dan hati yang ridho kepada ketetapan-Nya.
Cepu, 28 Desember 2025 

Dari Makam ke Makam


Karya : Gutamining Saida 

Sejak saya memiliki anak dan sekarang cucu-cucu masih kecil. Saya berusaha mengenalkan mereka pada satu kenyataan hidup yang sering dihindari banyak orang yaitu tentang makam. Bukan untuk menakut-nakuti, apalagi menanamkan rasa takut yang berlebihan, tetapi untuk mengenalkan kebenaran bahwa hidup di dunia ini tidaklah abadi. 

Ada awal, ada akhir, dan ada perjalanan panjang setelahnya menuju akhirat. Banyak orang dewasa masih enggan membicarakan kematian, seolah dengan menghindarinya hidup akan terasa lebih panjang. Padahal, mengenalkan kematian sejak dini justru dapat menumbuhkan iman, kesadaran, dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, saya memilih jalan tersebut. 

Dengan bahasa yang sederhana, lembut, dan penuh kasih, saya mulai menjelaskan kepada anak dan cucu apa itu makam. Saya sampaikan kepada mereka bahwa makam adalah tempat peristirahatan terakhir manusia di dunia. Di sanalah jasad dikembalikan ke tanah, sebagaimana Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dari tanah dan akan mengembalikannya kembali ke tanah.  Saya juga menekankan bahwa yang kembali menghadap Allah Subhanahu Wata'alla bukan hanya jasad, melainkan ruh yang akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan selama hidup di dunia.

Tidak cukup hanya dengan penjelasan lisan, saya mengajak mereka datang langsung ke lokasi makam. Kami berjalan bersama dengan langkah pelan dan penuh adab. Saya ajarkan kepada mereka untuk menjaga sikap, menundukkan suara, serta tidak berlarian. Saya ingin sejak kecil mereka memahami bahwa makam adalah tempat yang mulia, tempat perenungan, bukan tempat bermain.

Di depan makam orang tua, nenek, kakek, serta saudara-saudara kakek dan nenek yang telah meninggal dunia, saya mengenalkan satu per satu. Saya sebutkan nama mereka, silsilah keluarga, dan sedikit cerita tentang kebaikan yang pernah mereka lakukan semasa hidup. Walaupun mereka sudah tiada di dunia, saya ingin anak dan cucu tetap mengenali, menghormati, dan mendoakan mereka.

“Ini makam ayut,” saya katakan dengan suara pelan. “Beliau dulu bekerja keras, menyayangi keluarga, dan berusaha menjalankan perintah Allah Subhanahu Wata'alla.” Cucu-cucu mendengarkan dengan penuh perhatian. Wajah mereka polos, tanpa rasa takut. Yang terlihat justru rasa ingin tahu dan penghormatan. Dari situ saya semakin yakin bahwa mengenalkan makam sejak kecil bukanlah hal yang keliru, selama dilakukan dengan niat baik dan cara yang benar.

Saya ajarkan mereka untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal. Doa yang sederhana, pendek, namun penuh makna. Saya ingin mereka memahami bahwa kasih sayang tidak terputus oleh kematian. Doa adalah jembatan antara yang hidup dan yang telah tiada. Dengan doa, anak-anak belajar empati, cinta, dan kepedulian kepada keluarga yang telah mendahului.

Di sela ziarah, saya juga menanamkan iman tentang adanya hari akhir. Bahwa kehidupan tidak berhenti di dunia saja. Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Suatu hari nanti, setiap manusia akan menuju tempat tinggal terakhirnya di alam kubur. Makam adalah rumah masa depan manusia sebelum menuju kehidupan akhirat dan bertemu dengan Tuhannya.

Saya jelaskan kepada mereka bahwa di alam kubur tidak ada mainan, tidak ada harta, tidak ada jabatan, dan tidak ada kemewahan. Yang menemani hanyalah amal perbuatan. Salat yang dikerjakan dengan ikhlas, kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih, kejujuran, kesabaran, serta sikap hormat kepada orang tua dan sesama manusia.

Dengan cara tersebut, saya ingin anak dan cucu memahami bahwa berbuat baik bukan sekadar karena disuruh atau takut dimarahi, melainkan karena sadar bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla. Makam mengajarkan kejujuran hidup. Di sanalah tidak ada yang bisa disembunyikan, tidak ada yang bisa dipamerkan, dan tidak ada yang bisa dipalsukan.

Saya berharap, sejak kecil mereka tumbuh dengan kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang bermain, memiliki, dan menikmati dunia. Hidup adalah amanah. Setiap hari adalah kesempatan untuk menanam kebaikan sebagai bekal di akhirat. Makam menjadi pengingat paling nyata bahwa dunia ini fana dan akan ditinggalkan.

Selesai berziarah, saya selalu mengajak mereka berbincang dengan lembut. Saya katakan bahwa selama masih diberi umur, mari kita perbanyak amal baik. Berbakti kepada orang tua, menyayangi saudara, membantu sesama, dan menjaga ibadah kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena kesempatan hidup adalah nikmat yang sangat berharga.

Ketika kelak anak dan cucu telah dewasa, ingatan tentang makam tidak menjadi sesuatu yang menakutkan, tetapi menjadi pengingat yang menenangkan. Pengingat agar mereka tidak sombong ketika berhasil, tidak putus asa ketika gagal, dan selalu ingat bahwa tujuan akhir kehidupan adalah kembali kepada Allah.

Mengenalkan makam sejak kecil adalah bagian dari pendidikan iman yang sederhana. Serta menanamkan keyakinan tentang adanya hari akhir dan kesadaran bahwa setiap manusia akan menempati rumah terakhirnya di alam kubur. Semoga anak dan cucu tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi kehidupan dengan bekal amal saleh. Dan semoga kelak, ketika tiba saatnya kembali, mereka dipanggil oleh Allah dalam keadaan husnul khotimah, menuju kehidupan abadi dengan ridho-Nya.
Cepu, 28 Desember 2025 

Jumat, 26 Desember 2025

Kelas Berkarya

Karya : Gutamining Saida 
Hujan turun deras sejak sore, seakan langit sengaja menumpahkan rahmatnya tiada henti. Suara air yang menghantam genting, tanah, dan dedaunan menjadi irama alami yang menenangkan hati. Di saat banyak orang memilih mengeluh karena rencana tertunda, saya merasakan panggilan lembut untuk mensyukuri waktu. Waktu yang jarang, waktu yang mahal, waktu untuk membersamai cucu dan keponakan-keponakan dalam kebersamaan yang sederhana. 

Cuaca hujan deras membuat kami semua tetap di dalam rumah. Anak-anak dari jenjang usia, mulai PAUD hingga SMP, berkumpul dalam satu ruang.  Ada Hamzah laki sendiri, Zaskia yang duduk di kelas dua, Elmira menginjak usia empat tahun,  Salsa kelas tujuh, Kaila yang duduk kelas tiga, serta Merva masih TK kecil. Perbedaan usia tidak menjadi penghalang, justru menjadi warna indah dalam kebersamaan.

Saya menyiapkan kertas-kertas bergambar. Tidak ada paksaan memilih jenis gambar, tidak ada batasan kreativitas. Saya persilakan mereka memilih sesuai selera. Ada gambar hewan, tumbuhan, dan bentuk-bentuk sederhana yang bisa dikembangkan sesuai imajinasi masing-masing. Saya juga menyediakan berbagai media diantaranya pensil warna, tepung roti, dan biji ketumbar. Bagi sebagian anak, bahan-bahan itu terasa asing. Justru di situlah letak pembelajaran bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan begitu banyak hal di sekitar kita yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan dan keindahan.

Hamzah tampak antusias. Tangannya bergerak cepat, memilih warna-warna cerah. Sesekali ia bertanya, lalu melanjutkan dengan penuh semangat. Zaskia terlihat lebih tenang. Ia memegang sendok untuk mengambil tepung roti  dengan hati-hati, memberi sentuhan lembut pada setiap bagian gambar. Elmira memilih memadukan tepung roti, kacang tanah, kacang hijau pada bagian tertentu, membuat tekstur yang unik. Salsa tertawa kecil ketika mewarnai sapi. Sementara Kaila sibuk menyusun ketumbar satu per satu dengan kesabaran yang tak disangka. Merva usianya yang lebih kecil mewarna dengan pensil warna. 

Saya memperhatikan mereka dengan rasa haru. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, terima kasih atas kesempatan ini. Terima kasih Engkau masih memberi waktu, kesehatan, dan kebersamaan.” Di tengah hujan deras yang mungkin dianggap penghalang oleh sebagian orang, Allah Subhanahu Wata'alla justru menghadirkan ruang belajar yang penuh cinta. Saya teringat bahwa dalam Islam, setiap waktu luang adalah amanah. Sebagaimana kita mengisinya akan menjadi saksi di hadapan-Nya kelak.

Anak-anak ini belajar lebih dari sekadar mewarnai. Mereka belajar kesabaran saat warna keluar dari garis. Mereka belajar menerima ketika hasilnya tidak sempurna. Mereka belajar berbagi alat, menunggu giliran, dan menghargai karya satu sama lain. Nilai-nilai kecil yang kelak akan tumbuh menjadi karakter besar. Bukankah Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama? Hari itu, saya belajar tentang manfaat bisa dimulai dari rumah, dari keluarga, dari hal yang sangat sederhana.

Setelah semua karya selesai, kami menempelkannya di tembok. Dinding rumah yang semula biasa saja kini berubah menjadi galeri penuh cerita. Setiap gambar memiliki kisah, memiliki proses, memiliki kenangan. Hamzah menunjuk karyanya dengan bangga. Zaskia tersenyum malu-malu. Elmira memperbaiki posisi kertasnya agar terlihat rapi. Salsa bertepuk tangan, Kaila mengajak berfoto, dan Merva memandangi hasilnya dengan senyum puas.

Saya berjalan perlahan melewati dinding itu. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Setiap kali nanti saya melintas, saya tahu saya akan mengingat hari ini hari ketika hujan deras menjadi saksi kebersamaan, hari ketika anak-anak tumbuh bukan hanya dalam keterampilan, tetapi juga dalam nilai. Dalam Islam, kenangan baik adalah nikmat. Ia menenangkan hati dan menguatkan iman, karena kita tahu semua itu terjadi atas izin Allah.

Saya juga menyadari bahwa mendampingi anak-anak adalah ladang pahala. Senyum mereka, tawa mereka, bahkan kekacauan kecil yang terjadi, semuanya bernilai ibadah ketika diniatkan karena Allah. Mengajarkan kreativitas, kesabaran, dan rasa syukur adalah bagian dari pendidikan yang tidak selalu harus formal, tetapi hidup dalam keseharian.

Hujan masih turun ketika hari mulai beranjak malam.  Di  dalam rumah, suasana terasa hangat. Saya memandang anak-anak itu dan kembali berdoa, semoga kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Semoga karya-karya kecil hari ini menjadi langkah awal bagi karya-karya besar di masa depan, dan semoga kebersamaan ini dicatat sebagai amal kebaikan. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa megah rencana kita, tetapi seberapa ikhlas kita mengisi waktu yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan.
Cepu, 26 Desember 2025 

Wisata Naik Dokar

Karya : Gutamining Saida 

Liburan akhir tahun kali ini saya lalui dengan cara yang sederhana. Saya memilih menemani cucu-cucu  menikmati waktu libur tanpa harus pergi jauh. Bagi saya, kebahagiaan tidak selalu terletak pada tempat wisata megah atau perjalanan ke luar kota. Kebahagiaan sering kali hadir justru dari hal-hal sederhana yang menghidupkan kenangan, menumbuhkan rasa syukur, dan mempererat ikatan keluarga.

Di Cepu, kota kecil yang sarat kenangan masa kecil saya, masih ada satu moda transportasi tradisional yang sesekali muncul menghiasi sore hari, yaitu kereta kuda atau yang oleh orang Jawa disebut dokar. Dulu, ketika saya masih kecil, dokar adalah transportasi andalan. Jika pergi ke kota Cepu bersama orang tua dari Padangan (Jatim), naik dokar sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Bunyi tapak kaki kuda di jalan, derit roda kayu, serta hembusan angin yang menerpa wajah adalah pengalaman yang begitu membekas dalam ingatan.

Kini, zaman telah berubah. Dokar tidak lagi menjadi pilihan utama. Transportasi modern mengambil alih, dan dokar perlahan tersisih. Ia hanya muncul di waktu-waktu tertentu, biasanya sore hari, sekadar berkeliling kota dengan hiasan lampu warna-warni yang menarik perhatian. Meski peminatnya tidak sebanyak dulu, dokar tetap bertahan, seolah menjadi saksi bisu perjalanan zaman dan perubahan peradaban.

Setiap kali cucu-cucu saya berlibur ke Cepu, mereka selalu meminta satu hal yang Sama yaitu naik dokar. Permintaan sederhana itu selalu saya sambut dengan senyum dan rasa syukur. Saya merasa Allah Subhanahu Wata'alla masih memberi kesempatan kepada saya untuk membersamai mereka, mengenalkan pengalaman masa lalu yang mungkin tidak mereka jumpai di tempat mereka tinggal yaitu Tegal. 

Pagi menjelang siang, kami pun naik dokar. Saya sengaja memilih jurusan ke arah Jawa Timur agar perjalanan terasa lebih panjang. Saya ingin cucu-cucu saya benar-benar menikmati suasana, melihat jalanan, pepohonan, rumah-rumah warga, dan merasakan pelan-pelan laju kehidupan yang tidak tergesa-gesa. Dokar berjalan dengan ritme tenang, seolah mengajak kami untuk ikut memperlambat langkah, menenangkan hati, dan menikmati detik demi detik yang Allah Subhanahu Wata'alla anugerahkan.

Beberapa menit perjalanan, cucu ketiga Elmira nama panggilannya mulai mengantuk. Kepalanya bersandar, matanya terpejam, tertidur pulas di tengah goyangan dokar yang lembut. Saya memandangnya dengan penuh kasih. Semoga tidurnya menjadi ibadah, serta Allah menjaga setiap helaan napasnya, dan kelak ia tumbuh menjadi anak yang salehah, sehat, dan berakhlak baik.

Sementara itu, cucu pertama dan kedua justru terlihat sangat menikmati perjalanan. Mereka sibuk berkomentar ke sana kemari. Ada yang menunjuk lampu-lampu, ada yang bertanya tentang kuda, tentang suara lonceng kecil, tentang jalan yang kami lewati. Tawa mereka mengalir begitu saja, tanpa beban. Saya pun ikut bercerita, mengenang masa kecil saya, bagaimana dulu dokar menjadi alat transportasi utama, bagaimana orang-orang bertegur sapa di jalan, dan bagaimana kesederhanaan terasa begitu cukup.

Di sela-sela cerita, saya mengingatkan mereka untuk bersyukur. Saya berkata bahwa tidak semua anak bisa merasakan naik dokar, tidak semua orang diberi kesempatan liburan bersama keluarga, dan tidak semua nenek atau kakek masih diberi kesehatan untuk menemani cucu-cucunya. Semua ini adalah nikmat Allah Subhanahu Wata'alla yang patut disyukuri dengan ucapan hamdalah dan perilaku yang baik.

Hati saya terasa hangat. Duduk di atas dokar, dikelilingi cucu-cucu, saya merasakan betapa besar kasih sayang Allah. Di usia yang tidak lagi muda, saya masih diberi waktu, tenaga, dan kebahagiaan untuk membersamai generasi penerus keluarga kami. Saya sadar, kebahagiaan ini tidak datang begitu saja. Ia adalah buah dari kesabaran, doa, dan izin Allah semata.

Perjalanan itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Hanya naik dokar, berkeliling kota, tanpa tujuan wisata yang mewah. Bagi saya, perjalanan itu adalah pelajaran iman. Bahwa hidup tidak harus selalu cepat. Kebahagiaan sejati sering kali hadir saat kita mau berhenti sejenak, menoleh ke sekitar, dan mensyukuri apa yang ada.

Ketika dokar akhirnya berhenti dan perjalanan usai, cucu-cucu turun dengan wajah ceria. Yang terkecil tertidur bangun dengan mata masih setengah mengantuk. Saya tersenyum, lalu mengucap hamdalah dalam hati. Alhamdulillah, Allah Subhanahu Wata'alla telah memberi saya kesempatan untuk membersamai cucu-cucu dengan bahagia, mengenalkan nilai kesederhanaan, dan menanamkan rasa syukur sejak dini.

Harapannya kenangan naik dokar ini kelak tersimpan di hati mereka. Bukan sekadar ingatan tentang kereta kuda, tetapi tentang kebersamaan, kasih sayang keluarga, dan pelajaran bahwa setiap nikmat, sekecil apa pun, adalah tanda cinta Allah Subhanahu Wata'alla kepada hamba-Nya.
Cepu, 26 Desember 2025 

Kamis, 25 Desember 2025

Kebersamaan


Karya : Gutamining Saida 
Liburan akhir tahun sering kali identik dengan perjalanan jauh, koper besar, tiket mahal, dan unggahan foto-foto indah di media sosial. Layar ponsel saya dipenuhi story teman-teman: ada yang ke Semarang menikmati hiruk-pikuk kota, ada yang ke Surabaya menjelajah sudut-sudut kota modern, bahkan ada pula yang berlibur hingga ke luar negeri. Senyum mereka terlihat bahagia, latar belakang foto tampak megah, penuh warna dan cahaya. Saya ikut tersenyum melihatnya. Tidak ada rasa iri, hanya sebuah jeda untuk merenung dan mengingat kembali arti cukup dalam hidup.

Liburan saya tidak perlu ke luar kota yang jauh. Cukup yang dekat-dekat saja. Bahkan, hanya dengan melintas jembatan pembatas antar provinsi, saya sudah sampai di Provinsi Jawa Timur. Begitulah enaknya bagi orang yang tinggal di wilayah perbatasan. Tidak perlu waktu lama, tidak perlu biaya besar, sudah bisa merasakan suasana yang berbeda. 

Sejatinya, tujuan utama liburan saya bukanlah tempat, melainkan kebersamaan yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. Saya bersyukur tinggal di tempat yang sederhana, tidak bising, tidak penuh tuntutan gaya hidup. Dari rumah, saya bisa melihat anak-anak dan cucu-cucu berlarian dengan wajah ceria. Tawa mereka menjadi musik terindah yang tidak bisa dibeli dengan uang berapa pun. Dalam hati saya berucap, “Ya Allah, inikah yang dinamakan cukup?” Dan jawabannya terasa jelas yaitu iya, ini lebih dari cukup.

Salah satu momen yang paling saya syukuri adalah ketika kami berhenti di pinggir waduk. Airnya tenang, angin berhembus pelan, memantulkan cahaya matahari sore yang lembut. Kami duduk berdampingan, anak, cucu, dan saya, tanpa sekat kesibukan. Di situlah kami mengambil foto bersama, bukan untuk pamer, tetapi untuk mengabadikan kebersamaan. Wajah-wajah sederhana itu tersenyum apa adanya, tanpa pose berlebihan, tanpa latar mewah.

Kami hanya berjalan santai, menikmati udara, sesekali berhenti, termasuk di pinggir waduk itu, untuk berbincang dan berfoto bersama. Sambil duduk di pinggir waduk, kami menikmati makanan kecil yang dibawa dari rumah. Ada jajanan sederhana, minuman hangat, dan tawa yang mengalir begitu saja. Anak-anak bercerita tentang hal-hal ringan, cucu-cucu menyela dengan pertanyaan polos, sementara saya lebih banyak mendengar.

Dari cerita-cerita kecil itulah saya belajar bahwa kebahagiaan sejati sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Tidak megah, tidak mahal, tetapi menghangatkan hati. Bahwa setiap hari, sekecil apa pun nikmatnya, pantas disyukuri. Kami tidak pergi ke tempat wisata terkenal. Tidak ada antrean panjang, tidak ada tiket masuk mahal.  Foto-foto itu mungkin tidak akan viral, tetapi kelak akan menjadi kenangan berharga. Sebab waktu tidak bisa diulang, dan kebersamaan tidak selalu datang dua kali.

Saya memandangi wajah anak-anak saya. Dulu mereka kecil, kini sudah dewasa, sebagian telah menjadi orang tua. Waktu begitu cepat berlalu. Kini giliran cucu-cucu yang memenuhi hidup dengan keriuhan dan tanya yang tiada habisnya. Saya belajar satu hal penting bahwa  kebahagiaan tidak selalu bertambah dengan banyaknya tempat yang dikunjungi, tetapi dengan banyaknya rasa syukur yang dirasakan.

Saya beristighfar betapa sering kita manusia merasa kurang hanya karena membandingkan hidupnya dengan orang lain. Padahal Allah Subhanahu Wata'alla telah membagi rezeki dengan sangat adil, sesuai kebutuhan masing-masing hamba. Ada yang diberi rezeki berupa harta berlimpah, ada yang diberi rezeki berupa perjalanan jauh, dan ada pula yang diberi rezeki berupa keluarga yang rukun dan saling menyayangi.  

Saya merasa, Allah Subhanahu Wata'alla menitipkan pada saya rezeki yang sangat mahal yaitu kebersamaan. Liburan ini mengajarkan kembali makna qana’ah, merasa cukup atas apa yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Bahagia bagi saya tidak harus pergi jauh, tidak harus mengeluarkan banyak uang. Bahagia bagi saya adalah bisa duduk bersama anak dan cucu di pinggir waduk, berbagi cerita, menikmati makanan kecil, dan tertawa tanpa beban. Itu adalah kebahagiaan yang tenang, tidak riuh, tetapi mengendap lama di hati.

Saat sore menjelang, matahari perlahan turun, langit berubah warna. Saya mengajak anak-anak untuk sejenak diam, merenungi hari. Saya berkata pelan, “Liburan bukan tentang ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita pulang membawa kenangan.” Mereka mengangguk, mungkin belum sepenuhnya memahami, tetapi saya yakin suatu hari kalimat itu akan menemukan maknanya sendiri.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar kebersamaan ini diberkahi, dipanjangkan umurnya, dan ditanamkan rasa syukur yang tidak mudah goyah. Saya berdoa agar anak dan cucu saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak silau oleh dunia, tetapi kuat imannya dan lapang hatinya.

Liburan ini sederhana, tetapi penuh makna. Tidak ada yang istimewa, tetapi sangat istimewa di mata hati. Dan saya percaya, kebahagiaan yang lahir dari rasa syukur akan selalu terasa cukup, meski tanpa jarak yang jauh dan biaya yang besar. Karena sejatinya, bahagia adalah ketika hati merasa dekat dengan Allah Subhanahu Wata'alla dan keluarga.
Cepu, 25 Desember 2025 

Kura-kura

Karya : Gutamining Saida 
Saya mengajak cucu-cucu keluar, bukan untuk jalan jauh  tetapi untuk melihat satu makhluk kecil ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla yang sering luput dari perhatian yaitu kura-kura. Kegiatan sederhana, namun saya berharap dari hal kecil ini akan tumbuh rasa kagum, keberanian, dan syukur dalam hati mereka.

Beberapa hari sebelumnya, salah satu cucu sempat memilih mewarnai gambar kura-kura. Warnanya hijau, dengan tempurung coklat. Saat itu kura-kura hanya hadir dalam bentuk gambar, imajinasi, dan cerita. Kini berbeda. Mereka bisa melihat langsung, merasakan tekstur tempurungnya, dan menyadari bahwa apa yang dulu hanya ada di kertas, ternyata benar-benar hidup dan bernapas.

Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan makhluk-Nya tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dipelajari sebagai tanda kebesaran-Nya. Saat kura-kura dikeluarkan dari tempatnya, cucu-cucu mendekat dengan jarak aman. Mata mereka berbinar, namun tubuh sedikit mundur. Rasa ingin tahu bercampur takut. Ada yang berani melangkah satu langkah, ada pula yang memilih diam sambil mengamati. Tidak semua keberanian harus dipaksa. Keberanian sejati tumbuh perlahan, sebagaimana iman yang juga tumbuh setahap demi setahap.

Hamzah berdiri paling depan. Awalnya tangan hanya menggantung di udara. Ia memperhatikan kura-kura dengan saksama. Geraknya pelan, kepalanya keluar masuk tempurung. Hamzah menelan ludah, lalu bertanya pelan, “Ini kura-kura ya?” Saya mengangguk sambil menjawab, “Iya, Nak. Salah satu ciptaan Allah yang sabar dan tenang.” Kata “sabar” sengaja saya pilih, agar ia tidak hanya melihat hewan kura-kura, tetapi juga menangkap nilai.

Perlahan, tangan kecil Hamzah mendekat. Awalnya hanya ujung jari yang menyentuh tempurung. Ia tersentak sedikit, lalu tertawa kecil. Tidak sakit, tidak menakutkan. Dari ujung jari, tangannya semakin berani. Hingga akhirnya ia memegang dan mengangkat kura-kura dengan hati-hati. Saya mengingatkan, “Pelan-pelan, Nak. Semua makhluk Allah harus diperlakukan dengan kasih sayang.” Hamzah mengangguk. Di wajahnya terlihat rasa bangga. Bukan karena berhasil mengangkat kura-kura, tetapi karena ia berhasil mengalahkan rasa takutnya sendiri.

Cucu-cucu yang lainnya Zaskia dan Emira belum berani memegang. Mereka memilih mengamati dari dekat. Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia dengan keberanian dan kecepatan yang berbeda-beda. Ada yang cepat melangkah, ada yang perlu waktu lebih lama. Yang penting adalah niat untuk belajar dan tidak menertawakan yang lain. Saya bersyukur mereka saling menghargai.

Pertanyaan demi pertanyaan pun bermunculan. “Ada berapa kura-kuranya?” “Makannya apa?” “Yang besar ada lagi tidak?” Pertanyaan polos itu saya jawab satu per satu. Saya jelaskan bahwa kura-kura makan sayur, buah, dan makanan tertentu. Ada yang besar karena usianya lebih lama. 

Ada yang kecil karena masih muda. Saya sengaja menyelipkan pesan, bahwa semua makhluk Allah tumbuh sesuai waktu-Nya. Tidak perlu iri, tidak perlu tergesa-gesa.
Saya katakan pada mereka, “Kura-kura ini bergeraknya pelan, tapi umurnya panjang. Allah mengajarkan kita bahwa hidup tidak harus cepat, yang penting istiqamah dan sabar.” Mereka mungkin belum sepenuhnya paham, tetapi benih makna sudah saya titipkan. InsyaAllah suatu hari akan tumbuh.

Warna kura-kura kami perhatikan. Ada yang hijau, ada yang coklat. Ada yang tempurungnya lebih gelap, ada yang lebih terang. Saya mengaitkan dengan kehidupan manusia. “Lihat, nich. Warnanya berbeda-beda, tapi semuanya kura-kura. Seperti manusia, meski berbeda rupa, tetap sama-sama ciptaan Allah.” Mereka mengangguk, mungkin sambil mencerna dengan cara mereka sendiri.
Kegiatan itu berlangsung singkat, namun sarat makna. Tidak ada teriakan, tidak ada paksaan. Yang ada hanya dialog, sentuhan keberanian, dan rasa ingin tahu yang terjawab. Saya menutup kegiatan dengan mengajak mereka mengucap hamdalah. “Alhamdulillah, Allah memberi kita ilmu baru.” Mereka mengikuti, meski dengan logat anak-anak yang masih lucu.

Di dalam hati saya berdoa, semoga pengalaman sederhana ini menjadi bagian dari perjalanan iman mereka. Semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang berani, penyayang, dan selalu melihat alam sebagai ayat-ayat Allah yang hidup. Karena sejatinya, pendidikan tidak selalu tentang buku dan kelas. Kadang ia hadir lewat kura-kura kecil yang bergerak pelan, namun mengajarkan kesabaran, keberanian, dan syukur yang dalam.
Cepu, 25 Desember 2025 

Rabu, 24 Desember 2025

Buah Jeruk Rasa Ketumbar

Karya : Gutamining Saida
 
Rabu sore, 24 Desember 2025, matahari mulai condong ke barat. Cahayanya turun perlahan, lembut, seakan menjadi tirai rahmat yang menaungi bumi. Di sore yang tenang itu, saya mengajak cucu pertama saya, Zaskia yang oleh adik-adiknya dan seluruh keluarga disapa kakak untuk melakukan kegiatan sederhana namun sarat pembelajaran: menghias kertas bergambar buah jeruk.

Biasanya, kegiatan seperti ini cukup dengan mewarnai menggunakan pensil warna. Dia akan memilih warna cerah, lalu selesai. Sore itu saya ingin memberi pengalaman yang berbeda. Saya ingin Zaskia  tidak hanya berkarya, tetapi juga belajar mengenal ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla melalui hal-hal kecil yang sering dijumpai di dapur rumah.

Saya meminta dia memilih gambar terlebih dahulu. Lembar kertas bergambar buah jeruk saya letakkan di hadapannya. Dia memperhatikan satu per satu dengan saksama. Hingga akhirnya ia menunjuk gambar jeruk yang tampak lebih detail di dalamnya terlihat bagian-bagian kecil menyerupai sel.
“Yang ini saja, Timmi ,” ucapnya yakin.

Saya tersenyum dan bersyukur. Allah telah menanamkan keberanian memilih dan ketertarikan pada hal yang tidak mudah. Seperti hidup, Allah Subhanahu Wata'alla tidak selalu memberi jalan yang sederhana, tetapi selalu ada hikmah di balik setiap detail yang Allah ciptakan.

Sebelum memulai, saya mengajak membaca basmalah. Suaranya lirih, namun penuh ketulusan. Saya yakin, Allah Maha Mendengar, bahkan doa yang terucap dari lisan kecil seorang anak. Buah jeruk tidak dihias dengan krayon atau cat air. Saya menyiapkan biji-bijian ketumbar. Saya perlihatkan padanya sambil menjelaskan pelan-pelan. Ketumbar adalah salah satu bumbu dapur yang biasa dipakai untuk memasak. Ia termasuk golongan rempah-rempah kering, ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla yang memberi rasa, aroma, dan manfaat bagi kesehatan.

“Kecil ya, Timmi,” kata kakak sambil memegang biji ketumbar di telapak tangannya.
“Iya, Kak. Walaupun kecil, ketumbar punya banyak manfaat. Bisa membuat masakan lebih sedap, bisa menghangatkan tubuh, dan menyehatkan,” jawab saya. Dia pun mulai menempelkan biji ketumbar satu per satu pada gambar jeruknya. Tangannya bergerak pelan. Tidak tergesa-gesa. Dia belajar bahwa untuk menyelesaikan sesuatu yang detail dibutuhkan kesabaran. Seperti hidup, tidak bisa dikerjakan dengan terburu-buru. 

Saya memperhatikan sambil merenung. Allah menciptakan rempah-rempah dengan ukuran kecil, bentuk sederhana, namun manfaatnya besar. Begitu pula manusia. Tidak perlu menjadi besar di mata manusia tapi untuk menjadi bermanfaat. Cukup menjadi pribadi yang memberi kebaikan di sekelilingnya.

Sore itu terasa hening dan damai. Angin semilir seakan ikut menjadi saksi. Gambar jeruk perlahan berubah, bukan hanya menjadi karya seni, tetapi juga media belajar. Kakak mengenal jenis rempah, mengenal fungsi bumbu dapur, dan tanpa sadar sedang diajak mengenal kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.

Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, naungilah cucuku Zaskia dengan rahmat-Mu. Jadikan dia anak yang peka, mau belajar, dan mampu melihat hikmah dari hal-hal kecil. Tumbuhkan dalam dirinya rasa syukur atas setiap nikmat yang Engkau ciptakan.” Ketika kakak memandang hasil karyanya dengan senyum puas, saya kembali bersyukur. 

Sore itu bukan sekadar menghias gambar buah jeruk. Sore itu adalah tentang menanam pengetahuan, kesabaran, dan rasa takzim pada ciptaan Allah. Di bawah langit yang mulai meredup, saya yakin satu hal yaitu selama setiap aktivitas disertai niat baik dan menyebut nama-Nya, maka kegiatan sekecil apa pun akan selalu berada dalam naungan kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla.
Cepu, 24 Desember 2025 

Selasa, 23 Desember 2025

Rumah Impian Hamzah

Karya : Gutamining Saida 

Si cowok ganteng bernama Hamzah duduk bersila di lantai ruang tamu. Di hadapannya berserakan stik es krim. Sejak pagi, Hamzah sudah tampak sibuk dengan dunianya sendiri. Tangannya cekatan menyusun satu per satu stik es krim, sementara matanya berbinar penuh imajinasi. Rumah yang ia buat bukan rumah biasa.

Menurut Hamzah, ini adalah rumah impiannya, rumah lantai dua, lengkap dengan pemiliknya.
Sebelum memulai, Hamzah sempat berhenti sejenak. Ia menengadah, lalu mengucapkan basmalah dengan suara lirih. Kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali hendak memulai sesuatu. Ia pernah diajari bahwa setiap pekerjaan yang diawali dengan menyebut nama Allah akan membawa keberkahan. Meski masih kecil, Hamzah berusaha mengamalkan apa yang ia dengar dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

Stik demi stik disusun membentuk rumah. Sesekali Hamzah mengernyitkan dahi ketika satu bagian tidak sesuai dengan bayangannya. Namun ia tidak menyerah. “Pelan-pelan, yang penting sabar,” gumamnya, seolah sedang menasihati diri sendiri. Dalam hatinya, ia teringat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menyukai hamba-Nya yang bersabar dan bersungguh-sungguh dalam berusaha.

Menurut Hamzah, rumah itu harus bertingkat dua. Lantai bawah digunakan untuk berkumpul bersama keluarga, tempat makan, tempat salat berjamaah, dan tempat bercengkerama. Sementara lantai dua adalah tempat istirahat dan ruang khusus untuk berdoa. Ia pernah mendengar bahwa sebaik-baik rumah adalah rumah yang di dalamnya sering disebut nama Allah. Maka dalam imajinasinya, rumah kecil dari stik es krim itu harus menjadi rumah yang penuh doa.

Setelah dinding lantai pertama selesai, Hamzah mulai membuat tangga kecil dari potongan stik yang lebih pendek. Tangga itu menurutnya penting. “Kalau mau naik ke atas, harus lewat tangga, nggak bisa loncat,” katanya polos. Ucapannya sederhana, tetapi sarat makna. Dalam kehidupan pun demikian. Untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, manusia harus melalui proses, tahap demi tahap, tidak bisa instan.

Hamzah kemudian membuat lantai dua dengan penuh kehati-hatian. Tangannya sedikit gemetar, tetapi ia terus mencoba. Namun setiap kali merasa kesal, ia menarik napas dan kembali mengingat pesan yang sering ia dengar, bahwa Allah Maha Melihat usaha hamba-Nya, sekecil apa pun itu. Maka Hamzah kembali tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Rumah itu tidak hanya berdiri kosong. Hamzah merasa perlu melengkapinya dengan pemilik rumah. Ia mengambil potongan kertas kecil dan menggambar sosok manusia sederhana. Menurut Hamzah, pemilik rumah itu adalah keluarga yang rukun, saling menyayangi, dan taat kepada Allah. Ada ayah, ibu, dan anak-anak yang hidup bersama dalam damai. Mereka saling mengingatkan untuk salat, saling berbagi, dan saling mendoakan.

“Kalau rumahnya bagus tapi orangnya nggak baik, rumahnya jadi sedih,” ujar Hamzah dengan nada yakin. Kalimat itu membuat siapa pun yang mendengarnya tersenyum sekaligus merenung. Betapa sering manusia sibuk membangun rumah yang megah, tetapi lupa membangun akhlak penghuninya. Padahal rumah sejati bukan hanya soal bangunan, melainkan suasana iman di dalamnya.

Setelah rumah dua lantai itu berdiri, Hamzah menambahkan atap sederhana. Menurutnya, atap adalah pelindung. Ia pernah mendengar bahwa Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Maka atap rumah itu ia anggap sebagai simbol perlindungan Allah atas keluarga yang tinggal di dalamnya. Selama mereka berbuat baik dan mengingat-Nya, Allah akan menaungi mereka dengan rahmat-Nya.

Ketika karya itu hampir selesai, Hamzah memandangnya dengan rasa bangga. Namun ia tidak langsung bersorak. Ia diam sejenak, lalu mengucapkan hamdalah. Ia tahu, apa pun yang berhasil ia lakukan hari itu bukan semata karena kepintarannya, tetapi karena izin Allah. Stik es krim yang sederhana bisa berubah menjadi rumah indah karena Allah memberi akal, kesabaran, dan kesempatan.

Dalam diamnya, Hamzah seolah belajar tentang kehidupan. Bahwa membangun rumah dari stik es krim saja membutuhkan ketelatenan, apalagi membangun kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan membutuhkan niat yang baik, usaha yang sungguh-sungguh, kesabaran saat gagal, dan doa yang tidak pernah putus.

Rumah dua lantai buatan Hamzah mungkin kecil dan rapuh. Namun nilai yang tersimpan di dalamnya sangat besar. Ia mengajarkan bahwa mimpi boleh tinggi, seperti rumah bertingkat dua, tetapi harus dibangun dengan dasar iman. Ia juga mengajarkan bahwa setiap karya, sekecil apa pun, bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan karena Allah.

Rumah kecilnya telah selesai. Bukan sekadar mainan, melainkan simbol harapan. Harapan agar kelak ia bisa membangun rumah yang sesungguhnya, rumah yang penuh cinta, penuh doa, dan penuh keberkahan. Rumah yang penghuninya selalu ingat kepada Allah, dalam suka maupun duka. Dan semoga, rumah kecil dari stik es krim itu menjadi saksi bahwa sejak dini, Hamzah telah belajar menautkan karya, mimpi, dan iman dalam satu bangunan yang indah.
Cepu, 23 Desember 2025 

Senin, 22 Desember 2025

Semangat Berkarya

 

Karya: Gutamining Saida

Siang itu rumah terasa tenang. Matahari berada tepat di atas kepala, cahayanya jatuh lembut di ruang tengah. Udara memang terasa hangat, tetapi suasana hati terasa sejuk karena tawa kecil Kakak Zaskia yang sibuk menyiapkan diri untuk membuat sebuah karya. Saya sengaja memilih waktu siang, saat aktivitas rumah mulai melambat, agar anak bisa belajar fokus dan menikmati proses tanpa tergesa-gesa.

Kakak Zaskia siang ini sedang membuat karya. Sebuah karya sederhana, namun sarat makna yaitu  gambar ikan yang akan diberi taburan tepung roti. Sebelum memulai, saya sudah memilihkan gambar ikan hias. Ada ikan yang berwarna kuning cerah, mengingatkan pada keindahan ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla yang hidup di dalam air. Saya ingin Zaskia mengenal bahwa makhluk Allah tidak hanya hidup di darat, tetapi juga di lautan luas yang menyimpan banyak keajaiban.

Saya sengaja menyediakan gambar ikan dan bahan taburnya adalah tepung roti. Pertimbangannya sederhana yaitu memanfaatkan bahan yang murah, mudah didapat, dan selama ini mungkin hanya dikenal sebagai pelengkap makanan. Saya menduga cucu saya belum pernah menggunakan tepung roti sebagai media berkarya. Saya ingin memberikan pengalaman baru, karena belajar tidak harus selalu dengan alat mahal. Dari hal sederhana pun, kita bisa mengajarkan banyak hal.

Sebelum memulai, saya mengajak Kakak Zaskia membaca basmalah. Saya ingin menanamkan kebiasaan bahwa setiap aktivitas yang baik seharusnya dimulai dengan mengingat Allah Subhanahu Wata'alla. Berkarya pun bisa menjadi bagian dari ibadah jika diniatkan untuk belajar, bersyukur, dan mengasah kesabaran. Saya menjelaskan bahwa ikan adalah makhluk Allah Subhanahu Wata'alla yang hidupnya teratur, berenang tanpa pernah bertabrakan, seolah selalu patuh pada aturan Sang Pencipta.

Proses pembuatan karya itu sangat sederhana. Kakak Zaskia hanya perlu mengoleskan perekat di bagian gambar ikan, lalu menaburkan tepung roti di atasnya. Dalam kesederhanaan itu, tersimpan pelajaran besar. Tepung roti harus ditaburkan perlahan agar menempel dengan baik. Jika terlalu cepat, hasilnya akan berantakan. Saya melihat Zaskia mencoba menahan tangannya, meski sesekali terlihat ingin cepat selesai.

Saya teringat bahwa anak kecil memang mudah bosan. Mereka ingin cepat selesai agar bisa segera beralih ke kegiatan lain. Dugaan saya pun demikian. Namun kali ini, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Kakak Zaskia justru menunjukkan semangat yang berbeda. Ia menikmati setiap taburan tepung roti, memperhatikan bagian-bagian kecil gambar ikan, dan sesekali bertanya apakah sudah rapi.

Saya tidak banyak mencampuri. Saya hanya menemani dari dekat, memberi arahan seperlunya. Saya ingin Zaskia belajar bertanggung jawab atas karyanya sendiri. Saya bersyukur melihat kesungguhan itu. Allah Maha Membolak-balikkan hati. Di usia yang masih sangat belia, Allah  Subhanahu Wata'alla sudah menitipkan potensi sabar dan tekun dalam diri cucu saya.

Saat karya hampir selesai, ikan hias berwarna kuning itu tampak semakin hidup. Tekstur tepung roti memberi kesan unik, berbeda dari gambar biasa. Wajah Kakak Zaskia tampak puas. Ia tersenyum, matanya berbinar melihat hasil tangannya sendiri. Saya memuji usahanya, bukan hanya karena hasilnya terlihat bagus, tetapi karena ia mampu menyelesaikan proses sampai akhir.

Saya lalu menyampaikan pelajaran kecil kepadanya. Bahwa hidup juga seperti membuat karya ini. Jika kita tergesa-gesa, hasilnya kurang maksimal. Tetapi jika dikerjakan dengan sabar dan sungguh-sungguh, Allah Subhanahu Wata'allaakan memberikan hasil yang indah. Saya ingin Zaskia memahami bahwa kesabaran adalah kunci dalam belajar. 

Saya bersyukur kepada Allah bukan karena karya itu semata, tetapi karena siang ini memberi pelajaran berharga melalui tepung roti yang sederhana. Dari bahan murah, lahir pengalaman baru. Dari aktivitas kecil, tumbuh nilai besar.

Saya berharap, kelak Kakak Zaskia akan mengingat momen ini. Bahwa belajar tidak selalu harus cepat, tidak selalu harus berganti-ganti. Ada kalanya kita perlu bertahan, menyelesaikan satu hal dengan penuh tanggung jawab. Semoga dari karya ikan bertabur roti ini, Allah tanamkan syukur, dan cinta pada  hati cucu saya, hingga kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat iman dan akhlaknya.

Cepu, 22 Desember 2025