Karya: Gutamining Saida
Hari Sabtu itu terasa berbeda sejak pagi. Udara sekolah masih sejuk, langkah kaki siswa terdengar ringan, dan wajah-wajah polos kelas 8G memancarkan semangat akhir pekan. Bagi saya, Sabtu bukan sekadar hari penutup pekan, melainkan ladang amal dan kesempatan menanamkan nilai. Di jam pembelajaran ke-2 sampai ke-3, saya memasuki kelas 8G dengan niat yang saya rapalkan pelan dalam hati: Ya Allah, jadikan ilmu hari ini bermanfaat dan menjadi jalan kebaikan.
Pelajaran IPS sering kali dianggap berat oleh sebagian siswa. Materi nasionalisme, jati diri bangsa, dan penjelajahan dunia terdengar serius, bahkan kaku. Saya percaya, jika disampaikan dengan cara yang tepat, ilmu tidak hanya masuk ke kepala, melainkan juga meresap ke hati. Sejak beberapa hari sebelumnya saya menyiapkan tujuh media pembelajaran. Kartu domino yang saya modifikasi sendiri, menyesuaikan dengan materi yang akan dipelajari. Setiap kartu bukan sekadar pasangan angka, tetapi pasangan tentang sejarah, identitas, dan perjalanan bangsa-bangsa di dunia.
Sebelum pembelajaran dimulai, saya berdiri sejenak di depan kelas. Anak-anak memperhatikan dengan rasa penasaran. Saya membuka pelajaran dengan basmalah, mengajak mereka menyadari bahwa belajar adalah bagian dari ibadah. “Anak-anak,” kata saya pelan, “menuntut ilmu itu perintah Allah Subhanahu Wata'alla. Setiap langkah, setiap usaha, insyaallah bernilai pahala.” Kalimat sederhana itu saya lihat membuat beberapa siswa mengangguk kecil, seolah menyimpan pesan itu dalam hati.
Kelas kemudian saya bagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat anak, dan masing-masing kelompok mendapatkan delapan kartu domino. Ada kelompok yang seluruh anggotanya perempuan, ada pula yang campuran antara laki-laki dan perempuan. Saya sengaja menyusun demikian agar mereka belajar bekerja sama, saling menghargai, dan menyadari bahwa perbedaan bukan penghalang untuk mencapai tujuan bersama seperti halnya bangsa Indonesia yang berdiri di atas keberagaman.
Begitu kartu dibagikan, suasana kelas langsung berubah. Mata-mata yang tadi mengantuk kini berbinar. Tangan-tangan kecil mulai sibuk membolak-balik kartu, membaca tulisan, mencocokkan konsep nasionalisme dengan peristiwa sejarah, atau menghubungkan jati diri bangsa dengan nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Tawa kecil terdengar ketika ada kartu yang tak kunjung menemukan pasangan. Ada pula ekspresi serius saat mereka berdiskusi, berdebat ringan, lalu menemukan kesepakatan.
Saya berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain. Hati saya hangat melihat antusiasme mereka. Anak-anak yang biasanya pasif, hari itu ikut bersuara. Mereka saling bertanya, saling mengingatkan, bahkan saling menyemangati. Di salah satu kelompok campuran, saya melihat seorang siswa laki-laki dengan sabar mendengarkan pendapat temannya yang perempuan, lalu mengangguk dan berkata, “Oh iya, masuk akal.” Pemandangan sederhana itu terasa begitu bermakna. Di situlah nilai nasionalisme dan jati diri bangsa tidak hanya dibaca, tetapi dipraktikkan.
Setelah satu set domino selesai, saya memberi instruksi untuk berpindah ke domino kelompok lain. Tantangan baru dimulai. Mereka harus beradaptasi lagi dengan kartu yang berbeda, konsep yang mungkin belum sepenuhnya dipahami. Namun justru di situlah letak keseruannya. Saya melihat semangat mereka tidak surut, malah bertambah. Kelas yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Seru, semangat, dan bahagia tiga kata yang terasa pas menggambarkan suasana saat berlangsungnya pembelajaran.
Di sela-sela kegiatan, saya sesekali mengingatkan bahwa bangsa ini lahir dari perjuangan panjang. Penjelajahan dunia yang mereka pelajari bukan sekadar cerita kapal dan samudra, tetapi juga awal pertemuan bangsa-bangsa, awal ujian bagi jati diri, dan awal kesadaran untuk mempertahankan martabat. Saya sampaikan dengan bahasa sederhana, sambil mengaitkan dengan nilai keimanan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling merendahkan.
Menjelang akhir jam pelajaran, saya meminta setiap kelompok menyampaikan satu pelajaran yang mereka dapatkan. Jawaban mereka sederhana, tetapi jujur. Ada yang berkata belajar jadi menyenangkan. Ada yang merasa lebih paham tentang nasionalisme. Ada pula yang mengatakan senang bisa bekerja sama dengan teman yang berbeda. Mendengar itu, saya terdiam sejenak. Dalam hati saya bersyukur, karena tujuan pembelajaran hari itu tidak hanya tercapai secara akademis.
Saya menutup pelajaran dengan refleksi singkat. Saya ajak mereka menyadari bahwa semangat belajar, kebersamaan, dan rasa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Saya kembali mengajak mereka berdoa, memohon agar ilmu yang dipelajari hari itu menjadi cahaya dalam hidup mereka kelak.
Saat bel berbunyi untuk jam istirahat. Anak-anak masih tersenyum. Beberapa bahkan berkata, “Bu, IPS hari ini seru.” Kalimat singkat itu terasa seperti hadiah besar bagi saya. Dalam langkah keluar kelas, saya kembali berucap syukur Alhamdulillah. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menghadirkan kebahagiaan. Di kelas 8G, saya merasakan kebahagiaan sederhana melihat ilmu, iman, dan kegembiraan bertemu dalam satu ruang yang penuh berkah.Aamiin.
Cepu, 7 Pebruari 2026


