Jumat, 06 Februari 2026

Domino IPS


Karya: Gutamining Saida 

Hari Sabtu itu terasa berbeda sejak pagi. Udara sekolah masih sejuk, langkah kaki siswa terdengar ringan, dan wajah-wajah polos kelas 8G memancarkan semangat akhir pekan. Bagi saya, Sabtu bukan sekadar hari penutup pekan, melainkan ladang amal dan kesempatan menanamkan nilai. Di jam pembelajaran ke-2 sampai ke-3, saya memasuki kelas 8G dengan niat yang saya rapalkan pelan dalam hati: Ya Allah, jadikan ilmu hari ini bermanfaat dan menjadi jalan kebaikan.

Pelajaran IPS sering kali dianggap berat oleh sebagian siswa. Materi nasionalisme, jati diri bangsa, dan penjelajahan dunia terdengar serius, bahkan kaku. Saya percaya, jika disampaikan dengan cara yang tepat, ilmu tidak hanya masuk ke kepala, melainkan juga meresap ke hati. Sejak beberapa hari sebelumnya saya menyiapkan tujuh media pembelajaran. Kartu domino yang saya modifikasi sendiri, menyesuaikan dengan materi yang akan dipelajari. Setiap kartu bukan sekadar pasangan angka, tetapi pasangan tentang sejarah, identitas, dan perjalanan bangsa-bangsa di dunia.

Sebelum pembelajaran dimulai, saya berdiri sejenak di depan kelas. Anak-anak memperhatikan dengan rasa penasaran. Saya membuka pelajaran dengan basmalah, mengajak mereka menyadari bahwa belajar adalah bagian dari ibadah. “Anak-anak,” kata saya pelan, “menuntut ilmu itu perintah Allah Subhanahu Wata'alla. Setiap langkah, setiap usaha, insyaallah bernilai pahala.” Kalimat sederhana itu saya lihat membuat beberapa siswa mengangguk kecil, seolah menyimpan pesan itu dalam hati.

Kelas kemudian saya bagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat anak, dan masing-masing kelompok mendapatkan delapan kartu domino. Ada kelompok yang seluruh anggotanya perempuan, ada pula yang campuran antara laki-laki dan perempuan. Saya sengaja menyusun demikian agar mereka belajar bekerja sama, saling menghargai, dan menyadari bahwa perbedaan bukan penghalang untuk mencapai tujuan bersama seperti halnya bangsa Indonesia yang berdiri di atas keberagaman.

Begitu kartu dibagikan, suasana kelas langsung berubah. Mata-mata yang tadi mengantuk kini berbinar. Tangan-tangan kecil mulai sibuk membolak-balik kartu, membaca tulisan, mencocokkan konsep nasionalisme dengan peristiwa sejarah, atau menghubungkan jati diri bangsa dengan nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Tawa kecil terdengar ketika ada kartu yang tak kunjung menemukan pasangan. Ada pula ekspresi serius saat mereka berdiskusi, berdebat ringan, lalu menemukan kesepakatan.

Saya berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain. Hati saya hangat melihat antusiasme mereka. Anak-anak yang biasanya pasif, hari itu ikut bersuara. Mereka saling bertanya, saling mengingatkan, bahkan saling menyemangati. Di salah satu kelompok campuran, saya melihat seorang siswa laki-laki dengan sabar mendengarkan pendapat temannya yang perempuan, lalu mengangguk dan berkata, “Oh iya, masuk akal.” Pemandangan sederhana itu terasa begitu bermakna. Di situlah nilai nasionalisme dan jati diri bangsa tidak hanya dibaca, tetapi dipraktikkan.

Setelah satu set domino selesai, saya memberi instruksi untuk berpindah ke domino kelompok lain. Tantangan baru dimulai. Mereka harus beradaptasi lagi dengan kartu yang berbeda, konsep yang mungkin belum sepenuhnya dipahami. Namun justru di situlah letak keseruannya. Saya melihat semangat mereka tidak surut, malah bertambah. Kelas yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang belajar yang hidup. Seru, semangat, dan bahagia tiga kata yang terasa pas menggambarkan suasana saat berlangsungnya pembelajaran.

Di sela-sela kegiatan, saya sesekali mengingatkan bahwa bangsa ini lahir dari perjuangan panjang. Penjelajahan dunia yang mereka pelajari bukan sekadar cerita kapal dan samudra, tetapi juga awal pertemuan bangsa-bangsa, awal ujian bagi jati diri, dan awal kesadaran untuk mempertahankan martabat. Saya sampaikan dengan bahasa sederhana, sambil mengaitkan dengan nilai keimanan bahwa Allah Subhanahu Wata'alla menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, bukan saling merendahkan.

Menjelang akhir jam pelajaran, saya meminta setiap kelompok menyampaikan satu pelajaran yang mereka dapatkan. Jawaban mereka sederhana, tetapi jujur. Ada yang berkata belajar jadi menyenangkan. Ada yang merasa lebih paham tentang nasionalisme. Ada pula yang mengatakan senang bisa bekerja sama dengan teman yang berbeda. Mendengar itu, saya terdiam sejenak. Dalam hati saya bersyukur, karena tujuan pembelajaran hari itu tidak hanya tercapai secara akademis.

Saya menutup pelajaran dengan refleksi singkat. Saya ajak mereka menyadari bahwa semangat belajar, kebersamaan, dan rasa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Saya kembali mengajak mereka berdoa, memohon agar ilmu yang dipelajari hari itu menjadi cahaya dalam hidup mereka kelak.

Saat bel berbunyi untuk jam istirahat. Anak-anak masih tersenyum. Beberapa bahkan berkata, “Bu, IPS hari ini seru.” Kalimat singkat itu terasa seperti hadiah besar bagi saya. Dalam langkah keluar kelas, saya kembali berucap syukur Alhamdulillah. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menghadirkan kebahagiaan. Di kelas 8G, saya merasakan kebahagiaan sederhana melihat ilmu, iman, dan kegembiraan bertemu dalam satu ruang yang penuh berkah.Aamiin.

Cepu, 7 Pebruari 2026

Kamis, 05 Februari 2026

Roti Sisir


Karya: Gutamining Saida

Roti sisir. Hanya dua kata, tetapi ketika saya mengucapkannya, ingatan saya seketika berlari jauh ke masa kecil. Sebuah masa yang sederhana, apa adanya, dan jauh dari hiruk-pikuk pilihan seperti hari ini. Pada masa itu, roti sisir adalah satu-satunya roti yang saya kenal sebagai roti terenak. Tidak ada roti lain yang menyainginya, baik dari rasa maupun bentuknya. Roti sederhana, tetapi begitu istimewa.

Waktu kecil, roti bukanlah makanan yang bisa kami nikmati setiap hari. Roti adalah sesuatu yang datang pada waktu-waktu tertentu, biasanya saat ada acara, saat orang tua pulang dari bepergian, atau saat ada rezeki lebih. Tidak ada toko yang etalase penuh roti berwarna-warni seperti sekarang. Tidak ada pilihan rasa cokelat, keju, stroberi, apalagi matcha atau tiramisu. Yang ada hanyalah roti sisir roti panjang berwarna cokelat keemasan, dengan belahan-belahannya yang khas, seperti disisir rapi dari ujung ke ujung.

Roti sisir selalu dibungkus plastik bening sederhana. Saat dibuka, aroma manisnya langsung menyeruak. Bukan aroma yang kuat, tetapi lembut dan menenangkan. Kesederhanaan itulah yang membuatnya begitu nikmat. Setiap gigitan terasa pas, tidak berlebihan, tidak pula mengecewakan.

Saya masih ingat bagaimana cara kami menikmati roti sisir. Roti itu jarang langsung habis dalam sekali makan. Orang tua akan membaginya dengan hati-hati. Setiap sisir dipisahkan satu per satu, dibagikan kepada anak-anak dengan adil. Tidak ada yang protes, tidak ada yang berebut. Kami belajar menikmati apa yang ada, sekecil apa pun porsinya. Makan roti sisir bukan sekadar mengisi perut, tetapi menjadi momen kebersamaan yang hangat.

Waktu berlalu. Dunia berubah. Saya tumbuh sampai menua hari ini. Pilihan makanan semakin banyak. Toko-toko roti bermunculan di mana-mana. Etalase penuh dengan aneka bentuk dan rasa. Roti dengan topping melimpah, roti berlapis krim, roti impor dengan harga yang tidak murah, hingga camilan modern yang tampilannya menggoda. Kini, ratusan bahkan ribuan jenis roti dan snack bisa diperoleh dengan mudah, asal memiliki uang.

Kemarin, saat saya masuk ke sebuah toko, mata saya tertumbuk pada sesuatu yang terasa tidak asing sekaligus akrab. Di antara roti-roti modern itu, saya melihat roti sisir. Bentuknya hampir sama seperti yang dulu saya kenal. Seketika, ingatan saya melayang ke masa lalu. Ke dapur kecil di rumah, ke wajah orang tua, almarhum bapak. Suasana sederhana kami saat menikmati roti bersama.

Tanpa banyak berpikir, saya membelinya. Ada rasa penasaran yang kuat. Apakah roti sisir itu masih seenak waktu dulu? Atau jangan-jangan, rasa enaknya hanya tinggal dalam ingatan, dibungkus nostalgia masa kecil? Sesampainya di rumah, saya membuka bungkusnya perlahan. Aromanya tidak jauh berbeda. Masih ada wangi manis yang familiar. Saya memisahkan satu sisir, lalu menggigitnya. Rasanya…tidak berbeda, sama. Berbeda karena lidah saya kini telah terbiasa dengan banyak rasa, banyak pilihan, dan banyak kemewahan. Sama karena ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan, rasa yang membawa kembali kenangan lama.

Saat itu saya menyadari sesuatu. Yang membuat roti sisir dulu terasa sangat enak bukan semata rasanya, tetapi suasananya. Keterbatasan membuat segalanya terasa istimewa. Pilihan yang sedikit membuat kami belajar bersyukur. Makan roti bukan soal kenyang, tetapi soal rasa cukup.

Berbeda dengan sekarang. Makanan mudah didapat. Pilihan melimpah. Sering kali, rasa puas justru sulit ditemukan. Kita makan banyak, mencoba berbagai rasa, tetapi tetap merasa ada yang kurang. Barangkali karena yang berkurang bukan makanannya, melainkan rasa syukur pada Sang Pencipta

Roti sisir mengajarkan saya tentang waktu. Tentang bagaimana masa kecil membentuk cara kita memandang kebahagiaan. Tentang betapa sederhana hidup dulu, tetapi penuh makna. Kami tidak punya banyak pilihan, tetapi kami menikmati apa yang ada. Kami menunggu waktu-waktu tertentu untuk bisa makan roti, dan penantian itu membuat rasanya semakin berharga.

Kini, ketika saya bisa membeli roti kapan saja, rasa itu tidak lagi sama. Bukan karena rotinya berubah, tetapi karena hidup saya telah berubah. Di situlah pelajaran yang kita dapatkan. Bahwa kebahagiaan sejati sering kali tersembunyi dalam kesederhanaan yang pernah kita jalani.

Roti sisir hari ini menjadi pengingat bagi saya. Pengingat bahwa tidak semua yang dulu sederhana itu kalah oleh zaman. Beberapa di antaranya justru menang karena maknanya. Ia mengingatkan saya untuk sesekali melambat, mengenang, dan bersyukur. Mengingat masa lalu bukan untuk meratapi kekurangan, tetapi untuk menghargai perjalanan.

Roti sisir mungkin kini hanya salah satu dari ribuan pilihan roti di pasaran. Tetapi bagi saya, ia tetap istimewa. Bukan sekadar roti. Ia adalah kenangan, pelajaran, dan pengingat bahwa hidup tidak selalu harus penuh pilihan untuk bisa terasa nikmat. Kadang, satu roti sederhana, dinikmati dengan hati yang bersyukur, jauh lebih bermakna daripada segala kemewahan yang tersedia.

Cepu, 6 Pebruari 2026

Bilta Khoirunnisa


Karya: Gutamining Saida

Nama adalah sebuah doa yang dibungkus cinta, dirangkai dengan harap, lalu dititipkan kepada langit agar kelak turun sebagai keberkahan. Begitulah saya memaknai nama anak pertama saya, seorang perempuan yang kami beri nama Bilta Khoirunnisa. Nama ini bukan sekadar identitas, melainkan jejak cinta dua orang tua, doa panjang, dan harapan hidup yang luhur.

Sebagai anak pertama, Bilta hadir membawa perasaan yang tidak pernah terlupakan. Ia adalah awal dari segalanya. Awal belajar menjadi orang tua, awal mengenal rasa khawatir, sekaligus awal merasakan cinta yang begitu luas dan dalam. Maka tidak heran jika nama yang kami sematkan kepadanya benar-benar dipikirkan dengan sungguh-sungguh.

Nama Bilta adalah gabungan dari kedua orang tuanya. Sebuah simbol kebersamaan dan kesatuan. “Bi” berasal dari kata Sudarbi, diambil dari kata terakhir. Sementara “L” berasal dari kata “lan” dalam bahasa Jawa yang berarti "dan". Kata kecil yang sederhana. Kata "dan" menjadi penghubung, penanda kebersamaan, dan simbol persatuan. Lalu “Ta” berasal dari nama ibu, Guta, diambil dari kata keduanya.

Bilta, dengan demikian, bukan hanya sebuah nama. Ia adalah representasi cinta ayah dan ibu yang dipersatukan dalam satu jiwa kecil. Nama itu seakan berkata bahwa anak ini lahir dari dua insan yang saling terhubung, saling melengkapi, dan bersama-sama menitipkan doa terbaik mereka.

Dalam perspektif iman, kebersamaan suami istri adalah amanah Allah Subhanahu Wata'alla. Anak yang lahir dari ikatan itu adalah titipan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Maka Bilta menjadi pengingat bahwa ia adalah buah cinta yang disatukan oleh kehendak-Nya.

Nama kedua, Khoirunnisa, berasal dari bahasa Arab. Khoir berarti yang terbaik, sementara nisa berarti perempuan. Maka Khoirunnisa bermakna sebaik-baiknya perempuan. Sebuah nama yang sangat mulia, religius. Dalam sejarah Islam, istilah ini sering dilekatkan pada perempuan-perempuan salehah mereka yang menjaga iman, akhlak, dan perannya sebagai penyejuk kehidupan.

Khoirunnisa bukan hanya tentang menjadi baik dalam satu aspek, tetapi menjadi baik secara utuh yaitu baik akhlaknya, baik lisannya, baik hatinya, dan baik amalnya. Ia adalah doa agar anak perempuan ini tumbuh menjadi perempuan yang memberi kebaikan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Ketika nama Bilta Khoirunnisa digabungkan, maknanya menjadi sangat hebat dan mendalam adalah 
Seorang perempuan terbaik yang lahir dari persatuan cinta kedua orang tuanya, membawa kebaikan, dan menjadi kebanggaan keluarga.

Makna ini bukan sekadar indah dalam kata, tetapi juga berat dalam tanggung jawab. Sebab nama yang baik menuntut upaya agar doa di dalamnya benar-benar terwujud. Saya menyadari, menyematkan nama Khoirunnisa berarti saya harus berusaha membimbingnya menjadi perempuan yang baik, bukan hanya pintar, bukan hanya berhasil, tetapi juga berakhlak mulia.

Dalam Islam, perempuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan perempuan adalah madrasah pertama bagi generasi. Maka doa agar anak perempuan menjadi Khoirunnisa sejatinya adalah doa agar ia kelak menjadi sumber kebaikan yang luas, penerang bagi sekitarnya, dan penjaga nilai-nilai iman.

Sebagai anak pertama, Bilta juga menjadi contoh bagi adik-adiknya. Tanpa disadari, setiap sikapnya kelak akan ditiru, setiap ucapannya akan didengar, dan setiap langkahnya akan menjadi referensi. Karena itulah, nama ini menjadi pengingat bagi saya sebagai orang tua untuk lebih berhati-hati dalam mendidik, menasihati dengan lembut, dan memberi teladan yang baik.

Saya percaya, tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Termasuk nama. Allah Subhanahu Wata'alla  menggerakkan hati orang tua untuk memilih nama tertentu karena di sanalah tersimpan potensi dan jalan hidup yang akan ditempuh anak. Ketika saya memanggil namanya, saya seperti sedang mengulang doa: “Ya Allah, jadikan anakku sebagai perempuan terbaik. Baik hatinya, baik jalannya, dan baik akhirnya.”

Dalam perjalanan waktu, saya berharap Bilta Khoirunnisa tumbuh menjadi perempuan yang kuat namun lembut, tegas namun penuh kasih, cerdas namun rendah hati. Perempuan yang mampu menjaga dirinya, menghormati orang tua, menyayangi saudara, dan bermanfaat bagi sesama. Perempuan yang menjadikan imannya sebagai pegangan, bukan sekadar pengetahuan.

Nama ini juga menjadi pengingat bagi saya sendiri. Bahwa anak bukan milik sepenuhnya, melainkan titipan Allah Subhanahu Wata'alla. Tugas saya hanyalah merawat, membimbing, dan mendoakan. Hasil akhirnya adalah kehendak-Nya. Selama doa orang tua terus mengalir, saya yakin Allah Subhanahu Wata'alla.tidak akan menyia-nyiakannya.

Di balik namanya ada harapan agar ia menjadi perempuan terbaik menurut versi Allah Subhanahu Wata'alla.  bukan menurut ukuran dunia, tetapi menurut nilai iman dan akhlak. Semoga nama Bilta Khoirunnisa benar-benar menjadi cahaya dalam hidupnya. Cahaya yang menuntunnya pada kebaikan, menguatkannya saat lelah, dan mengantarkannya kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla. dengan hati yang tenang dan penuh syukur.  Semoga menjadi anak dan istri sholehah. Aamiin.

Cepu, 6 Pebruari 2026

Sumber Daya Alam Materi Ips Kelas 7

 Karya: Gutamining Saida

CARI JAWABAN DI BAWAH INI DENGAN MENARIK GARIS, BISA KE ATAS BAWAH, KE SAMPING KANAN-KIRI, MIRING.

1.     Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari __________ dan dapat  dimanfaatkan             manusia.
2.    Sumber daya alam yang dapat diperbarui adalah sumber daya yang bisa __________ dalam                     waktu       relatif cepat.
3.       Contoh sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui adalah __________.
4.       Hutan yang berfungsi menjaga kelestarian lingkungan disebut hutan __________.
5.       Hutan produksi digunakan untuk menghasilkan __________ bagi kebutuhan manusia.
6.       Hutan yang digunakan untuk melindungi tumbuhan atau hewan langka disebut hutan __________.
7.       Contoh hasil hutan berupa kayu adalah __________.
8.       Contoh hasil hutan bukan kayu adalah __________.
9.       Tempat tumbuh berbagai jenis flora dan fauna adalah __________.
10.   Hutan membantu mencegah bencana __________.
11.   Hutan dapat menyerap karbon dioksida dan menghasilkan __________.
12.   Hutan memberikan manfaat ekonomi berupa bahan baku seperti kayu, damar, dan __________.
13.   Hutan lindung berfungsi untuk menjaga kualitas __________.
14.   Hutan produksi biasanya dikelola untuk kegiatan __________.
15.   Hewan langka seperti orangutan dilindungi di kawasan __________.
16.   Salah satu manfaat hutan adalah menjaga keseimbangan __________ di bumi.
17.   Hutan mangrove berfungsi untuk mencegah abrasi di daerah __________.
18.   Hutan menjadi tempat tinggal bagi berbagai __________.
19.   Aktivitas penebangan liar dapat menyebabkan kerusakan __________.
20.   Hutan hujan tropis banyak terdapat di pulau __________ di Indonesia.
 

H

U

I

C

E

K

A

L

I

M

A

N

T

A

N

L

A

G

A

S

L

U

A

Z

A

K

I

K

I

L

A

S

A

T

I

N

H

L

A

G

S

E

T

C

R

N

A

G

N

A

B

E

N

E

P

A

N

J

A

I

F

I

N

A

S

D

F

B

G

I

T

E

G

H

J

K

K

J

K

M

Z

U

A

G

N

G

U

A

E

K

O

S

I

S

T

E

M

U

J

I

V

I

P

A

Y

L

A

H

E

R

U

T

I

S

A

M

A

L

I

K

D

U

A

R

I

N

I

A

C

I

T

C

A

C

A

A

N

Y

O

N

S

I

L

A

R

U

I

N

O

B

A

H

A

N

E

L

I

A

N

O

M

A

H

L

U

B

E

T

D

F

M

U

I

G

R

A

S

I

H

K

S

I

T

A

D

I

H

A

N

U

A

G

R

G

N

S

I

S

G

S

E

K

E

M

R

Y

M

M

I

T

N

U

N

U

M

A

H

A

U

I

S

U

P

R

I

F

A

B

U

D

N

G

U

N

I

G

U

R

U

G

C

U

A

R

Y

A

N

A

N

I

A

D

U

D

E

R

A

A

V

E

Z

I

O

V

I

T

A

N

A

H

S

U

Y

I

X

I

B

B

N

N

L

I

N

G

K

U

N

G

A

N

I

T

I

K

U

J

B

U

A

J

J

I

H

A

N

F

U

A

D

R

O

T

A

N

T

A

I

T

W

K

K

A

B

P

A

N

T

A

I

V

N

A

N

A

I

I

B

A

E

J

Z

A

T

S

D

C

Z

C

V

V

A

Y

U

K

Y

R

J

B

H

J

X

S

D

F

S

U

S

A

N

B

L

H

U

S

N

A

D

I

K

A

CS

M

I

N

Y

A

K

B

U

M

I

R

I

S

B

A

N

J

I

R


Selamat Mengerjakan