gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Selasa, 01 April 2025
Cobaan Membawaku Mendekat
Jumat, 28 Maret 2025
Hikmah Menjengguk Bu Eli
Saya bersama empat ibu-ibu
berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk teman. Bu Eli teman kami yang
sedang sakit. Kami mendengar bahwa Bu Eli habis dioperasi dan dirawat membuat
kami merasa perlu segera menjenguknya. Kami sebagai perwakilan atas nama
keluarga besar esmega. Kami tidak membawa buah tangan berupa makanan atau
minuman, hanya sebuah amplop sebagai tanda kepedulian dan doa agar Bu Eli lekas
sembuh.
Sesampainya di rumah sakit kota
Bojonegoro, kami berjalan melewati lorong-lorong. Suasana rumah sakit selalu
menghadirkan rasa haru, melihat orang-orang yang sedang berjuang melawan
penyakit mereka. Suara perawat yang sibuk bekerja, bau khas rumah sakit, serta
wajah-wajah penuh harapan di setiap sudut mengingatkan kami bahwa sehat adalah
anugerah yang sangat berharga.
Saat kami sampai di depan kamar
perawatan Bu Eli. Kami melirik ke dalam sebelum membuka pintu. Tak seperti
kebanyakan pasien yang ditemani keluarganya, Bu Eli hanya sendirian. Tidak ada
sanak saudara atau kerabat yang menemaninya. Hanya ada segelas susu, buah, air
mineral di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Hati kami langsung
terasa nyeri melihatnya dalam keadaan seperti itu. Bu Eli terbaring di tempat
tidur hanya ditemani televisi untuk menghilangkan kesunyian.
Begitu melihat kami masuk, Bu Eli
tersenyum lemah. Wajahnya tampak pucat, tapi matanya berbinar seakan bahagia
karena ada yang datang menemuinya.
"Masya Allah, kalian
datang!" katanya dengan suara pelan tetapi penuh kehangatan.
Kami segera mendekat dan duduk di
sekitar tempat tidurnya. Kami saling berjabat tangan bergantian, menggenggam
tangannya dengan lembut.
"Bagaimana kabarnya, Bu
Eli?" tanya bu Yanti.
Bu Eli tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, sedikit lebih baik. Tapi masih harus banyak
istirahat."
Kami melirik sekeliling kamar,
memastikan apakah ada keluarganya di luar. Tidak ada. Hanya kesunyian yang
terasa.
"Bu Eli, kenapa sendirian?
Mana keluarga?" tanya Bu Fitri dengan lembut.
Bu Eli menarik napas pelan.
"Suamiku kemarin pulang. Anak-anak di rumah Cepu. Mereka bilang akan
datang, tapi mungkin belum bisa saat ini. Sejak kemarin, aku hanya ditemani
perawat yang sesekali masuk untuk mengecek kondisiku."
Kami semua terdiam. Ada perasaan
haru yang menyelimuti hati kami.
"Apa selama ini keluarga
tidak ada yang datang menjenguk?" tanya Bu Isna pelan.
Bu Eli menggeleng. "Tidak
ada. Tapi tidak apa-apa, aku mengerti. Mereka pasti sibuk."
Saya merasakan dada sesak.
Sungguh, tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya sakit dan sendirian di rumah
sakit tanpa ada keluarga yang menemani. Rasa sepi dan rindu pasti bercampur
menjadi satu.
Bu Ning menggenggam tangan Bu Eli
erat. "Bu Eli, sekarang kami di sini. Anggap saja kami keluarga. Kami akan
mendoakan selama yang kami bisa."
Air mata Bu Eli tampak
menggenang, tapi ia cepat-cepat tersenyum. "Terima kasih. Kehadiran kalian
benar-benar menghangatkan hatiku."
Kami pun mengobrol ringan untuk
menghiburnya. Bu Eli bercerita tentang awal sakitnya, bagaimana ia mulai merasa
linu hingga akhirnya harus dioperasi. Ia mengaku sangat merindukan hari-hari
sehatnya, saat bisa beraktivitas bebas tanpa harus bergantung pada orang lain.
"Ternyata sakit itu
benar-benar ujian," katanya lirih. "Saya baru sadar betapa
berharganya bisa berjalan tanpa rasa sakit, bisa makan tanpa kesulitan, bisa
tidur nyenyak tanpa harus terbangun karena nyeri. Dulu, hal-hal kecil itu saya
anggap biasa saja. Sekarang saya sadar bahwa sehat adalah nikmat yang sering
terlupakan."
Kami semua mengangguk setuju. Memang benar, ketika sehat
kita sering kali lupa bersyukur kapada Allah Subhanahu Wata’alla. Saat tubuh
diuji, kita menyadari betapa berharganya kesehatan.
Bu Ning kemudian berkata, "Itulah sebabnya kita harus
selalu bersyukur. Kadang kita baru menyadari nikmat saat sudah kehilangannya.
Sehat itu mahal, Bu Eli, dan sakit ini mungkin cara Allah Subhanahu Wata’alla mengingatkan
kita untuk lebih mendekat kepada-Nya."
Bu Eli mengangguk pelan.
"Iya, selama di sini aku jadi lebih banyak berdoa, lebih banyak mengingat
Allah. Aku sadar bahwa sakit ini bukan hanya cobaan, tapi juga jalan untuk
semakin dekat kepada-Nya."
Kami pun menghiburnya dengan
kata-kata semangat dan doa. Sebelum berpamitan, kami menyerahkan amplop yang
sudah kami siapkan.
"Ini sedikit bantuan dari keluarga
esmega, Bu Eli. Semoga bisa membantu keperluan selama di rumah sakit,"
kata Bu Yanti.
Bu Eli tampak terharu. Ia
menggenggam amplop itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih banyak. Bukan
hanya karena ini, tapi karena kalian sudah datang, sudah menyempatkan waktu
untuk menjengukku. Kehadiran kalian lebih berharga dari apa pun."
Kami semua tersenyum dan
menggenggam tangannya satu per satu sebelum berpamitan. Saat berjalan keluar
kamar, kami merasa lega bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada Bu Eli.
Di lorong rumah sakit, aku
melihat banyak pasien lain. Beberapa hanya ditemani perawat, beberapa tampak
termenung menatap langit-langit. Pemandangan itu membuat hatiku semakin sedih.
Di depan rumah sakit, kami
berlima duduk sejenak. Banyak motor terparkir dan mobil-m0bil berjajar
sepanjang jalan. Tempat parkir penuh.
"Aku jadi berpikir, kita
harus lebih sering menjenguk orang sakit," kata Bu Fitri.
"Iya," sahut Bu Ning.
"Menjenguk bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita sendiri. Agar
kita bisa belajar bersyukur dan tidak menyia-nyiakan kesehatan."
"Kita juga harus lebih peka
terhadap orang-orang di sekitar kita," tambah Bu Isna. "Mungkin ada
tetangga atau saudara yang sakit, tapi tak ada yang menemani. Jangan sampai
mereka merasa sendirian."
Kami semua mengangguk setuju.
Dengan perasaan penuh hikmah, kami pun melangkah pulang, membawa pelajaran
berharga dari kunjungan hari ini. Saya berjanji dalam hati, mulai sekarang akan
lebih sering menjenguk orang sakit, bukan hanya sebagai bentuk kepedulian, tapi
juga sebagai pengingat bahwa sehat adalah anugerah yang tak boleh disia-siakan.
Salam selat.
Cepu, 28 Maret 2025
Amplop di Bulan Suci
Selepas tarawih di musala, saya
berjalan pulang dengan hati yang tenteram. Udara Ramadan begitu sejuk, bulan
bersinar terang dan suara tadarus masih menggema di kejauhan. Dalam perjalanan
menuju kamar, saya merasakan ada yang mengikuti dari belakang.
Saya menoleh sekilas dan benar
saja, anak perempuan saya dengan senyum yang tersungging di bibirnya, berjalan
mendekati saya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di tangannya dan tatapan
matanya penuh makna.
Sesampainya di kamar sebelum saya
sempat bertanya. Dia menyelipkan sebuah amplop putih ke tangan saya dengan
gerakan cepat.
"Ini untuk Umi. Tidak
boleh ditolak. Titik!" katanya tegas, lalu segera berbalik dan pergi
ke kamarnya.
Saya hanya terpaku, memandangi
punggungnya yang menghilang di balik pintu. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba
menyeruak. Apa yang sedang anakku lakukan? Kenapa harus ada amplop dan kenapa
harus dengan kata-kata seperti itu?
Dengan hati yang berdebar, saya
duduk di tepi tempat tidur, memegang amplop putih itu dengan jemari yang
sedikit gemetar. Rasanya amplop itu cukup tebal. Seakan berisi sesuatu yang
sangat berarti.
Saya menarik napas dalam-dalam,
lalu mulai membuka lipatan kertas yang ada di dalamnya. Begitu mata saya
menangkap deretan tulisan tangan yang sudah tak asing, air mata langsung
menggenang di pelupuk.
Membaca surat itu, dada saya
terasa sesak oleh haru. Air mata jatuh tanpa bisa saya tahan, membasahi pipi yang
sudah berkerut oleh usia. Saya membaca pelan-pelan dengan meresapi maknanya.
Saya melirik ke dalam amplop dan
menemukan sejumlah uang. Anak saya telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk
saya. Ini bukan tentang jumlahnya, tetapi tentang ketulusan yang saya rasakan
begitu mendalam.
Saya terisak, bukan karena jumlah
uang yang diberikan, tetapi karena rasa syukur yang meluap-luap dalam hati.
Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan anak-anak yang bukan hanya tumbuh
menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tetapi juga penuh kasih sayang.
Saya ingin langsung menemuinya,
memeluknya erat dan mengatakan bahwa saya bangga padanya. Saya tahu, jika saya
lakukan itu sekarang, mungkin dia akan malah menangis juga.
Saya hanya duduk diam dalam
kamar, merenungi betapa besar nikmat yang Allah Subhanahu Wata’alla berikan
kepada saya. Saya tidak pernah meminta balasan atas apa yang telah saya lakukan
untuk anak-anak. Allah Subhanahu Wata’alla membalasnya dengan cara-Nya yang
indah. Allah Subhanahu Wata’alla lewatkan hati dan kasih sayang anak-anak tercinta.
Saya sujud syukur dalam doa yang
lebih lama dari biasanya. Saya meminta kepada Allah Subhanahu Wata’alla agar
selalu menjaga anak-anak saya, memberikan mereka kebahagiaan, melindungi mereka
dari segala kesulitan dan menjadikan mereka anak-anak yang istiqamah di
jalan-Nya.
Ketika saya bangkit dari sujud,
hati saya terasa lebih ringan, lebih penuh dengan rasa syukur. Ramadan ini
terasa begitu istimewa, bukan karena materi, tetapi karena cinta yang terjalin
dalam keluarga kami.
Saya akan melihat anak saya
dengan senyum yang berbeda. Senyum seorang ibu yang bangga, yang bersyukur kepada
Allah Subhanahu Wata’alla dan yang merasa dicintai dengan begitu tulus.
Saya sengaja mengabadikan momen
ini dalam tulisan bukan maksud pamer. Melainkan sebagai kenangan, menginspirasi
generasi akan datang. Semoga catatan ini bukan sekedar catatan pribadi tapi
sebagai dorongan bagi siapapun yang membaca untuk selalu mengingat, menghormati
dan membahagiakan orang tua selagi kesempatan itu masih ada. Semoga anak-anakku
menjadi anak sholeh dan sholehah. Aamiin.
Cepu. 28 Maret 2025
Kamis, 27 Maret 2025
Materi IPS kelas VII
Jodohkan pernyataan di Kolom A dengan jawaban yang sesuai di Kolom B.
Kolom A (Pernyataan) | Kolom B (Jawaban) |
---|---|
1. Permintaan adalah... | A. Harga yang terbentuk ketika jumlah barang yang diminta sama dengan jumlah barang yang ditawarkan. |
2. Penawaran adalah... | B. Jumlah barang atau jasa yang ingin dibeli konsumen pada tingkat harga tertentu. |
3. Harga keseimbangan adalah... | C. Jumlah barang atau jasa yang ingin dijual produsen pada tingkat harga tertentu. |
4. Faktor utama yang memengaruhi permintaan adalah... | D. Harga barang itu sendiri. |
5. Faktor utama yang memengaruhi penawaran adalah... | E. Harga barang yang ditawarkan. |
6. Jika harga suatu barang naik, maka permintaan akan... | F. Menurun. |
7. Jika harga suatu barang naik, maka penawaran akan... | G. Meningkat. |
8. Hukum permintaan menyatakan bahwa... | H. Jika harga turun, permintaan akan naik, dan jika harga naik, permintaan akan turun. |
9. Hukum penawaran menyatakan bahwa... | I. Jika harga naik, penawaran akan naik, dan jika harga turun, penawaran akan turun. |
10. Faktor yang dapat meningkatkan permintaan adalah... | J. Peningkatan pendapatan masyarakat. |
11. Faktor yang dapat meningkatkan penawaran adalah... | K. Kemajuan teknologi dalam produksi. |
12. Jika harga suatu barang berada di atas harga keseimbangan, maka terjadi... | L. Surplus atau kelebihan barang. |
13. Jika harga suatu barang berada di bawah harga keseimbangan, maka terjadi... | M. Kekurangan barang (shortage). |
14. Perubahan selera konsumen dapat memengaruhi... | N. Permintaan suatu barang atau jasa. |
15. Faktor eksternal yang memengaruhi permintaan adalah... | O. Iklan dan promosi produk. |
16. Biaya produksi yang meningkat akan menyebabkan... | P. Penawaran barang menurun. |
17. Jika harga barang substitusi meningkat, maka permintaan barang utama akan... | Q. Meningkat. |
18. Jika harga barang komplementer meningkat, maka permintaan barang utama akan... | R. Menurun. |
19. Jika pemerintah memberikan subsidi kepada produsen, maka penawaran akan... | S. Bertambah. |
20. Jika terjadi bencana alam yang merusak bahan baku, maka penawaran akan... | T. Berkurang. |
Materi Agama Islam Kelas VII
Petunjuk:
Jodohkan pernyataan di Kolom A dengan jawaban yang sesuai di Kolom B.
Kolom A (Pernyataan) | Kolom B (Jawaban) |
---|---|
1. Gibah adalah... | A. Memeriksa atau mencari kejelasan suatu informasi sebelum mempercayainya. |
2. Tabayun adalah... | B. Menceritakan keburukan orang lain yang benar terjadi tanpa sepengetahuan orang tersebut. |
3. Salah satu dampak negatif gibah adalah... | C. Menyebabkan perpecahan dan permusuhan dalam masyarakat. |
4. Orang yang suka gibah disebut... | D. Penyebar fitnah atau penggunjing. |
5. Hukum gibah dalam Islam adalah... | E. Haram, kecuali dalam keadaan darurat seperti memberikan kesaksian di pengadilan. |
6. Perintah untuk bertabayun terdapat dalam surat... | F. Al-Hujurat ayat 6. |
7. Lawan dari gibah adalah... | G. Menjaga lisan dan berkata yang baik. |
8. Salah satu cara menghindari gibah adalah... | H. Mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih bermanfaat. |
9. Jika mendengar berita yang belum jelas kebenarannya, kita harus... | I. Bertabayun atau mencari klarifikasi lebih dahulu. |
10. Orang yang tidak bertabayun dalam menerima berita bisa menyebabkan... | J. Penyebaran hoaks dan kesalahpahaman. |
11. Dampak positif tabayun dalam kehidupan bermasyarakat adalah... | K. Mencegah kesalahpahaman dan menjaga persatuan. |
12. Gibah sering dilakukan ketika... | L. Seseorang membicarakan keburukan orang lain tanpa manfaat yang jelas. |
13. Berita hoaks banyak menyebar karena... | M. Kurangnya sikap tabayun dan terlalu cepat menyebarkan informasi. |
14. Seseorang yang bertabayun sebelum berbicara akan... | N. Terhindar dari dosa menyebarkan fitnah dan menjaga keharmonisan. |
15. Gibah bisa menjadi dosa besar jika... | O. Dilakukan dengan niat jahat untuk menjatuhkan orang lain. |
Kehebohan di grup TPG Esmega
Karya: Gutamining Saida
Sekitar pukul 14.23 WIB, suasana
di grup TPG Esmega mulai ramai. Beberapa hari terakhir, grup ini memang terasa
sunyi. Tidak ada percakapan seru seperti biasanya, hanya sesekali ada pesan
informasi resmi yang langsung tenggelam tanpa tanggapan.
Tiba-tiba sebuah pesan singkat
muncul dari Bu Wiwik yaitu "TPG Klunting."
Pesan itu hanya terdiri dari dua
kata yang tampak sederhana, namun efeknya luar biasa. Seketika, notifikasi
mulai berdatangan. Anggota grup yang biasanya pasif tiba-tiba ikut berkomentar.
"Alhamdulillah!" komen
bu Indri
"Alhamdulillah!" komen
bu Sus
"Alhamdulillah!" komen
bu Endang
"Serius nih? Sajen ne bisa
ambil di Sambong.”ujar pak Jum
“Gak usah ikut-ikut.” Jawab bu
Sus
"Wah, akhirnya! Sudah lama
ditunggu!"komen pak Di
“Puji Tuhan.” Komen Miss Lee
Balasan demi balasan terus
berdatangan. Grup yang sebelumnya sunyi mendadak menjadi ramai. Seakan pesan
singkat dari Bu Wiwik itu menjadi pemantik semangat yang luar biasa bagi semua
anggota.
Beberapa anggota bahkan
mengirimkan stiker dan emoji bahagia. Ada yang mengirim gambar orang berjoget.
Ada pula yang mengirim meme bertuliskan "Akhirnyaaa cair juga!"
"Bu Wiwik, ini sudah masuk
rekening?" tanya salah satu anggota.
"Hehehe, cek aja sendiri di
rekening masing-masing," balas Bu Wiwik dengan nada bercanda.
Kami semua tertawa membaca
balasan itu. Beberapa anggota langsung buru-buru membuka aplikasi mobile
banking untuk mengecek apakah benar dana TPG (Tunjangan Profesi Guru) sudah
masuk. Ada yang mengabarkan saldo mereka masih kosong, sementara yang lain sudah
memastikan dana benar-benar cair.
"Yes! Sudah masuk!
Alhamdulillah!" tulis salah satu anggota dengan penuh semangat.
"Wah, akhirnya kita bisa
bernapas lega!"
"Bu Wiwik memang paling bisa
bikin heboh!"
Beberapa anggota grup yang
biasanya hanya menjadi 'silent reader' juga mulai muncul. Bahkan, ada
satu anggota yang biasanya tidak pernah terlihat aktif di grup tiba-tiba
berkomentar:
"Saya baru buka HP Ada apa
ini?"
Sontak, anggota lain langsung
menggoda.
"Hahaha, akhirnya muncul
juga!"
"Biasanya tidak pernah
komentar, sekarang ikut heboh juga ya!"
Canda tawa semakin memenuhi ruang
obrolan. Grup yang beberapa hari lalu terasa dingin kini berubah menjadi ajang
bercanda dan berbagi kebahagiaan.
Di sela-sela euforia itu, ada
juga yang mulai menanyakan untuk P3K ? Harapannya klunting bersama. Merasa bahagia
bersama.
“Aamiin." Komen bu Indri
“Alhamdulillah detik-detik libur
cair.”komen bu Chus
“PPG 2024 harap bersabar bu
Wiwik.” Komen bu Sry
“Barang siapa sungguh-sungguh
berusaha untuk bersabar, niscaya Allah Subhanahu Wata’alla akan mudahkan
kesabaran baginya, sabar itu Cahaya bu Sry.” jawab bu Wiwik
“Tak barengi.”ujar bu Nikmah
Semua anggota grup tambak saling
menguatkan, membahagiakan. Saya bersyukur berada ditengah-tengah mereka, banyak
hal yang bisa saja dapatkan di grup keluarga Esmega.
Tak terasa, obrolan di grup
berlangsung lebih dari satu jam. Kehebohan ini benar-benar membawa suasana baru
di grup WhatsApp yang sebelumnya terasa hening.
Bu Wiwik yang awalnya hanya ingin
menyampaikan informasi singkat ternyata tanpa sengaja berhasil menciptakan
gelombang kebahagiaan di antara anggota grup.
"Bu Wiwik, pesan
singkatmu hari ini sungguh legendaris! Mungkin ini chat paling bersejarah di
grup!" tulis salah satu anggota dengan candaan.
Bu Wiwik hanya membalas dengan
emoji tertawa.
Berkat dua kata singkat "TPG
Klunting," grup WhatsApp kami kembali hidup, penuh canda, tawa, dan
kebersamaan. Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, hanya
dengan pesan sederhana, kebersamaan bisa kembali terjalin dengan hangat. Semoga
selalu terjalin kekeluargaan yang erat saklawase. Aamiin.
Cepu, 28 Maret 2025
Senin, 24 Maret 2025
Tempe Godong Jati
Karya: Gutamining Saida
Saya memutuskan untuk berjalan
kaki sendirian menikmati udara segar. Biasanya, suasana masih sepi dan belum
banyak orang beraktivitas. Kali ini saya pulang agak siang sekitar pukul 08.00
WIB. Jalanan sudah mulai ramai, rumah-rumah pun banyak yang membuka pintunya,
menandakan bahwa hari benar-benar telah dimulai aktivitas.
Saat melewati sebuah lorong
tempat yang biasa menjadi lokasi penjual berhenti. Penjual tempe, tahu, dan
brambang dan lain sebagainya. Saya melihat beberapa orang sedang berbelanja.
Saya mengenali salah satu dari mereka yaitu Bu Eli, seorang kenalan yang selama
ini saya tahu sebagai orang yang murah senyum dan suka berbagi.
Bu Eli sedang memegang dua
bungkus tempe. Tempe memang makanan yang umum di daerah kamidan uniknya. Di
Cepu tempe memiliki berbagai macam bungkus. Ada yang dibungkus dengan plastik,
ada yang menggunakan daun pisang, dan ada juga yang memakai daun jati. Setiap
bungkus memiliki keunikan tersendiri. Bungkus plastik lebih praktis dan tahan
lama, tetapi tempe yang dibungkus daun pisang atau daun jati memiliki aroma
khas yang lebih sedap saat dimasak.
Saya menyapa Bu Eli dengan ramah,
sekadar bertanya kabar dan berbasa-basi seperti biasanya. Selanjutnya membuat
saya bingung. Tanpa banyak bicara, Bu Eli tiba-tiba mengulurkan dua bungkus
tempe yang dipegangnya kepada saya.
Saya kaget dan langsung berusaha
menolak dengan halus. "Wah, saya masih punya stok tahu dan tempe di rumah,
Bu. Baru kemarin saya beli di pasar." Bu Eli hanya tersenyum dan berkata
singkat, "Ini buat Umi. Mosok tidak mau terima?"
Saya terdiam sejenak. Ada
perasaan sungkan, tetapi juga terselip rasa haru. Saya menyadari bahwa ini
bukan sekadar pemberian biasa, melainkan sebuah bentuk kebaikan yang tulus.
Mungkin bagi Bu Eli, dua bungkus tempe ini tidak seberapa, tetapi bagi saya,
ada makna yang lebih dalam di baliknya.
Akhirnya, saya menerima tempe itu
dengan penuh syukur. Saya menghormati niat baik Bu Eli dan menganggapnya
sebagai rezeki dari Allah Subhanahu Wata’alla yang diberikan melalui tangan
orang baik. “Saya terima ya.”ucap saya singkat.
Dengan perasaan campur aduk yaitu
antara bahagia, terharu, dan sedikit malu. Tak lupa ucapkan terimakasih pada bu
Eli saat akan melanjutkan langkah kaki. Saya melanjutkan jalan kaki menuju
rumah. Di tangan saya, ada sebuah kantong plastik berisi tempe yang diberikan
dengan penuh keikhlasan.
Dalam perjalanan, saya bertemu
dengan seorang tetangga yang juga sedang berjalan kaki. Ia menyapa saya lebih
dulu. Saya pun membalas sapaan itu dengan ramah. Tiba-tiba, terlintas dalam
pikiran saya untuk meneruskan kebaikan yang baru saja saya terima. Saya ingin
berbagi, sebagaimana Bu Eli baru saja berbagi dengan saya.
Saya lalu mengulurkan tempe itu
kepada tetangga saya dan berkata, "Ini ada tempe, silakan diambil. Saya
baru saja diberi, dan saya ingin berbagi juga." Tetangga saya tampak
terkejut, lalu tersenyum. "Wah, terima kasih, tapi saya tidak mau ambil
semua. Satu saja cukup."
Saya tersenyum dan menyerahkan
satu bungkus tempe kepadanya. Ada rasa lega dan bahagia yang menghangatkan hati
saya. Malaikat sudah membagikan rezeki kepada semua manusia, termasuk saya,
dalam bentuk tempe. Dan kini, saya juga telah ikut menjadi bagian dari rantai
kebaikan itu.
Makna Di Balik Pohon Pepaya
Sering kali, hal-hal sederhana di
sekitar kita tampak biasa saja. Bahkan mungkin dianggap tidak berarti. Bagi
saya, ada momen-momen tertentu yang membuat sesuatu yang sederhana menjadi
sangat istimewa dan penuh makna. Salah satunya adalah pengalaman saya dengan
sebuah pohon pepaya.
Semua bermula ketika saya mampir
ke rumah seorang teman kantor setelah jalan-jalan pagi. Beliau adalah guru
senior di SMPN 3 Cepu, sosok yang sangat berdedikasi dan memiliki banyak
pengalaman dalam dunia pendidikan. Saya cukup sering berbincang dengannya dan
setiap percakapan selalu memberikan wawasan serta inspirasi baru.
Kali ini ada sesuatu yang
berbeda. Ketika saya tiba di rumahnya, saya disambut dengan suasana asri. Meski
lahannya tidak terlalu luas, beliau berhasil mengelola pekarangannya dengan
sangat baik. Ada berbagai jenis tanaman tumbuh di sana. Mulai dari pepaya,
terong, cabai, kemangi, dan masih banyak lagi. Saya begitu kagum melihat
bagaimana lahan yang terbatas bisa dimanfaatkan untuk berkebun. Bukan hanya
sebagai hobi, tetapi juga sebagai bentuk kemandirian dalam memenuhi kebutuhan
dapur.
Kami pun mengobrol panjang
tentang kegiatan berkebun, manfaat menanam sendiri, hingga bagaimana cara
merawat tanaman agar tetap subur. Saya merasa sangat nyaman berbicara
dengannya, karena selain memiliki wawasan luas, beliau juga orang yang sangat
ramah dan tulus.
Ketika saya hendak pamit pulang,
tiba-tiba beliau mencabut pohon papaya. Beliau menyodorkan pohon papaya kepada
saya. Pohon pepaya kecil dan Beliau kemudian
mencari tas kresek kecil. Awalnya saya terkejut, karena tidak menyangka akan
mendapat buah tangan yang begitu unik. "Ini untuk njenengan, tanam di
rumah, semoga tumbuh subur dan berbuah lebat," katanya sambil tersenyum.
Saya terdiam sejenak. Rasa haru
dan bahagia bercampur menjadi satu. Bagi sebagian orang, mungkin pohon pepaya
ini hanyalah tanaman biasa. Bagi saya, ini adalah sebuah simbol kebaikan,
persahabatan, dan rezeki yang tidak terduga. Rezeki tak terduga adalah segala
bentuk pemberian yang datang tanpa direncanakan atau diharapkan sebelumnya.
Rezeki tidak selalu berupa uang atau benda. Setiap kebaikan yang datang pada
kita adalah rezeki dari Allah Subhanahu Wata’alla.
Tidak semua orang yang mampir ke
rumahnya akan diberi pohon pepaya. Itu berarti, pemberian ini bukan sekadar
hadiah, tetapi ada makna lebih dalam di baliknya. Mungkin ini adalah bentuk
kepercayaan dan rasa sayang dari seorang teman yang ingin berbagi sesuatu yang
bermanfaat. Jika sudah menjadi rezeki kita, maka ia tidak akan tertukar.
Saat perjalanan pulang dengan
berjalan kaki. Ada sedikit rasa canggung dan senang. Sepanjang perjalanan banyak
yang melihat dan menanyakan. Beberapa tetangga yang berpapasan sedikit melirik
kantong kresek saya. Ada yang langsung
bertanya dengan nada penasaran. “Bawa apa bu?”Dari mana?” Saya tersenyum dan
menjawab ringan. “ Pohon papaya, tadi diberi teman.” Di gang dua bebpapasan
dengan bapak-bapak spontan berkata, ”wah, bawa papaya bu?Nanti bila sudah
berbuah jangan lupa berbagi ya!” Sayaa tersenyum dan menjawab, “Insya Allah,
nanti datang ke rumah kalau sudah berbuah ya.”
Saya merasa beruntung bisa
mengalami kejadian ini. Setiap kali melihat pohon pepaya di halaman rumah saya,
saya selalu teringat akan kebaikan teman saya. Saya pun bertekad untuk
merawatnya dengan baik hingga tumbuh besar dan berbuah lebat.Kelak, ketika
pohon ini mulai menghasilkan buah, saya ingin membagikannya kepada orang lain.
Saya ingin meneruskan kebaikan yang sudah diberikan kepada saya, sebagaimana
teman saya melakukannya untuk saya.
Karena pada akhirnya, kebaikan
itu seperti sebuah tanaman yaitu jika dirawat dengan baik, ia akan tumbuh, berkembang,
dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Semoga menginspirasi
Cepu, 25 Maret 2025
Minggu, 23 Maret 2025
Takdir Yang Tertulis
Sabtu, 22 Maret 2025
Amplop buat Zaskia
Ulang tahun Zaskia yang ke-7 kali
ini dirayakan secara sederhana bersama keluarga inti. Abah, umi, uti, timmi, serta adik-adiknya. Semua
untuk memberikan doa dan kebahagiaan bagi gadis kecil itu. Saya yang tinggal di
Cepu berusaha datang ke Tegal.
Ada satu hal yang membuat Zaskia
sedikit sedih yaitu Akung, kakek tercintanya tidak bisa hadir. Uminya tersenyum
lembut dan mengusap kepala putri kecilnya. “Kakak Zaskia, Akung ingin sekali
datang. Tapi ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Akung tetap ingat ulang
tahunmu, lho.” Mendengar itu, mata Zaskia sedikit berbinar. “Benarkah?”
tanyanya penuh harap.
Saya yang datang dari perjalanan kota
Cepu mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tas. “Zaskia, Akung menitipkan
sesuatu untukmu,” kataku sambil menyodorkan amplop itu.
Mata Zaskia membesar penuh rasa
ingin tahu. Dengan penuh semangat, ia meraih amplop itu dan mulai membolak balik dan mencoba membaca tulisan di
amplop. Di dalamnya, terdapat sebuah kado yang sedikit tebal.
Zaskia segera membaca tulisan di amplop
itu dengan lantang. Namun, seketika ia mengerutkan kening.
“Metriultah cuku Zaskia,” baca
Zaskia dengan suara pelan. Ia lalu menoleh kepadaku dengan ekspresi bingung.
“Timmi, metriultah cuku itu apa?”
Aku menahan tawa. “Mungkin maksud
Akung adalah ‘Selamat Hari Ulang Tahun cucuku,’ kak.”
“Oh….” Zaskia melanjutkan
membaca, tapi kali ini ekspresinya semakin bingung. “Kaya kata moga sebenarnya semoga.
Moga kurang kata ‘se’ ya kan timmi? tanya Zaskia sambil ngomong sendiri. Akung
ini nulis kok tidak lengkap dan gak bener.
Terus “cerdaz.” Kok pakai hurus “Z”
bukannya yang benar huruf “S”
Ia kembali menoleh kepadaku
dengan wajah penuh pertanyaan. “Akung kok tulisannya aneh, ya!”
“Sepertinya Akung terburu-buru
menulisnya atau mungkin sedang bercanda dengan kakak Zaskia.”jawabku
“Terkadang, orang dewasa juga
bisa salah menulis, kak,” kataku sambil tersenyum. “Atau mungkin Akung ingin
mengujimu apakah kamu bisa menemukan kesalahannya.”
Zaskia terkekeh. “Berarti aku
lebih pintar dari Akung dalam menulis!” katanya bangga. “Aku mau ajari Akung
menulis yang benar nanti.”
Kami semua tertawa mendengar
celotehnya. Kemudian, Zaskia membuka amplop kecil yang lebih tebal. Begitu
melihat isinya, matanya langsung berbinar.
“Wah, uang!” serunya penuh
kegembiraan. “Akung tahu aku ingin membeli buku cerita baru.”
Ia segera menunjukkan uang itu
kepada uminya. “Mii, bolehkah aku membeli buku dongeng yang kemarin kita lihat
di toko?”
Uminya tersenyum dan mengangguk.
“Tentu saja, kak. Itu hadiah dari Akung untukmu. Kamu bisa memilih buku yang
kamu suka.”
Zaskia tampak sangat bahagia. Ia
mencium amplop itu dan berkata, “Terima kasih, Akung! Aku akan pilih buku yang
bagus dan nanti aku bacakan untuk Akung kalau kita bertemu.”
Meskipun Akung tidak hadir secara
fisik, kehadirannya tetap terasa melalui amplop putih kecil itu. Setelah
membaca amplop dan menerima hadiah dari Akung. Zaskia menangkupkan kedua
tangannya dan berdoa dengan mata terpejam.
“Selamat ulang tahun,kak!” seru adik-adiknya
sambil memberi pelukan.
Sore itu penuh dengan tawa dan
kebahagiaan. Tidak ada pesta besar, tidak ada banyak tamu, tetapi kehangatan
keluarga membuat segalanya terasa sempurna.
“Timmi,” panggilnya pelan. “Aku
belajar sesuatu hari ini.”
Aku duduk di samping tempat
tidurnya. “Belajar apa,kak?”
Zaskia berpikir sejenak. “Aku
belajar bahwa tulisan itu penting. Kalau kita menulis dengan benar, orang bisa
membacanya dengan mudah.”
Aku tersenyum. “Benar sekali.
Menulis dengan baik itu penting agar pesan kita bisa dimengerti orang lain.”
Zaskia mengangguk pelan. “Aku
akan bantu Akung belajar menulis yang benar nanti.”
Aku tertawa kecil dan mencium
keningnya. “Itu ide yang bagus, Zaskia.”
Beberapa saat kemudian, Zaskia
sudah tertidur dengan senyum di wajahnya. Malam itu, ia tidur nyenyak, memeluk
amplop putih dari Akung seolah itu adalah harta paling berharga.
Saya tahu bahwa meskipun Akung
tidak bisa hadir hari ini. Akung tetap ada di hati Zaskia. Dan cinta seorang
kakek kepada cucunya tidak selalu harus terlihat. Namun bisa dirasakan dalam
setiap kata dan setiap hadiah sederhana yang penuh makna. Semoga menjadi anak
sholehah.
Cepu, 23 Maret 2025
Bintek Di Saat Jam Rawan Ngantuk
Bimbingan teknis sesi terakhir
selalu menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika berlangsung pada pukul 13.00
WIB hingga 15.00 WIB. Waktu yang dikenal sebagai jam rawan mengantuk, terlebih
di bulan suci Ramadan. Peserta harus
berjuang melawan kantuk dan tetap fokus mengikuti materi yang disampaikan.
Namun, sesi kali ini berbeda. Narasumber yang dihadirkan adalah seorang
perempuan cantik dan berkarisma. Beliau Bernama ibu Tri Yuli Setyaningrum, M.
Pd. Beliau tidak hanya memiliki wawasan yang luas. Beliau menggunakan metode
penyampaian yang luar biasa agar para peserta tetap terjaga dan antusias.
Narasumber tidak langsung
menyampaikan materi. Ia justru memberikan instruksi unik kepada para peserta.
“Bapak dan Ibu sekalian, sebelum kita mulai, silakan cari tiga orang yang belum
Anda kenal sebelumnya. Pastikan setiap kelompok terdiri dari penggiat literasi,
pustakawan, siswa, dan mahasiswa. Setelah itu, silakan berdiskusi selama
beberapa menit,” ujarnya dengan senyum hangat.
Para peserta awalnya tampak
bingung, tetapi mereka segera beranjak dari tempat duduk dan mulai mencari
rekan baru. Termasuk saya, saya berjalan mendekati peserta yang masih muda. Dia
peserta dari mahasiswa Poltekes jurusan perawat semester empat. Saat kami
berdua berbincang ada peserta lain mendekat ikut bergabung. Seorang penggiat
literasi wakil dari desa Panolan kecamatan Cepu. Ruangan yang semula sunyi
mendadak berubah menjadi ramai. Suara perkenalan dan tawa kecil terdengar di
berbagai sudut ruangan. Dalam waktu singkat, kami mulai berdiskusi, berbagi
pengalaman, dan mengungkapkan ketertarikan masing-masing terhadap dunia
literasi.
Setelah beberapa menit berlalu,
narasumber kembali mengambil alih suasana. “Sekarang, kita akan membagi peserta
ke dalam tiga kelompok,” katanya. “Silakan berbaris. Baris pertama untuk
peserta yang belum memiliki karya, baris kedua untuk peserta yang sudah
memiliki karya tetapi belum dipublikasikan, dan baris ketiga bagi mereka yang
karyanya sudah terbit.”
Para peserta pun segera bergerak
sesuai dengan kategori mereka. Ada yang tampak ragu-ragu memilih posisi, tetapi
setelah saling bertanya satu sama lain, mereka akhirnya menemukan tempat yang
tepat. Narasumber tersenyum melihat antusiasme yang mulai muncul.
“Sekarang, saya akan memilih
beberapa orang secara acak untuk menceritakan karyanya,” ujarnya. “Jangan
khawatir, ini bukan ujian. Kita saling berbagi pengalaman.”
Seorang peserta dari kelompok
kedua maju ke depan. Ia adalah seorang guru yang sudah menulis beberapa cerpen
tetapi belum pernah menerbitkannya. Dengan semangat, ia menceritakan bagaimana
ide-ide cerpennya berasal dari pengamatan sehari-hari terhadap siswa di
sekolahnya. “Saya sering melihat interaksi mereka dan berpikir, ini bisa
menjadi cerita yang menarik,” katanya. “Tetapi saya masih ragu untuk
menerbitkannya.”
Di kelompok ketiga, seorang
mahasiswa berdiri dan berbagi pengalamannya menerbitkan artikel di media
daring. Seorang siswa SMK sudah memiliki banyak karya. Dia pandai berbicara
tentang literasi yang sudah dilaluinya. Saya mendengarnya menjadi kagum.
Narasumber kemudian mulai
memaparkan materi tentang artikel ilmiah dan artikel populer. Beliau menjelaskan
perbedaan mendasar antara keduanya, bagaimana menulis artikel yang baik, serta
cara menyesuaikan tulisan dengan target pembaca. Materinya disampaikan dengan
gaya yang interaktif dan menyenangkan. Sesekali, ia menyisipkan humor dan kisah
inspiratif yang membuat peserta tetap fokus.
“Saya tahu ini adalah jam-jam
mengantuk,” katanya sambil tersenyum. “Tapi ingat, menulis adalah perjalanan
panjang. Jika kita tidak memulainya sekarang, kapan lagi?”
Menurut beliau ciri-ciri artikel
ilmiah adalah objektif, rasional, kritis, gaya bahasa formal, pengutipan sumber
jelas disertai daftar Pustaka. Struktur artikel popuer yaitu Judul,
pendahuluan, isi dan penutup. Adapun Langkah-langkah Menyusun karya ilmiah
popular sebagai berikut Setelah mendapat data kemudian diolah. Bahasa yang
digunakan mudah dipahami dilanjutkan
membuat kerangka dan disusunlah karya.
Ketika sesi akhirnya berakhir,
para peserta memberikan tepuk tangan meriah. “Terima kasih atas sesi yang luar
biasa ini,” ujar salah satu peserta. “Saya benar-benar mendapatkan banyak ilmu
dan motivasi.”Narasumber tersenyum. “Ingat, menulis adalah proses. Jangan takut
untuk memulai. Saya menantikan karya-karya para peserta.”
Sebelum ditutup panitia mengajak foto bersama para narasumber dengan menggunakan kaos seragam yang berwarna biru. Beberapa detik kemudia para peserta sudah berubah memakai kaos dan sudah siap dengan berbagai posisi untuk difoto. Dengan semangat yang menyala para peserta meninggalkan ruangan. Semoga berkah ilmunya terimakasih DPK kab. Blora atas kesempatannya bisa bergabung.
Cepu, 23 Maret 2025
Materi IPS kelas VII
- Maharaja Kudungga. Diperkirakan sebagai pendiri Kerajaan Kutai. Awalnya ia adalah kepala suku, lalu berubah menjadi raja setelah mendapat pengaruh Hindu.
- Maharaja AswawarmanAnak dari Kudungga yang dianggap sebagai raja sesungguhnya karena memperkenalkan sistem pemerintahan kerajaan.Dikenal sebagai "Wangsakarta" atau pendiri dinasti kerajaan.
- Maharaja Mulawarman . Raja terbesar Kutai yang dikenal sebagai pemimpin bijaksana dan kuat. Ia memberikan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana sebagai tanda kesejahteraan kerajaannya. Pemerintahannya menjadi masa kejayaan Kerajaan Kutai
- Prasasti Yupa. Batu bertulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.Merupakan sumber utama sejarah Kutai yang menceritakan silsilah raja dan pemberian hadiah kepada para Brahmana. Ditemukan di Muara Kaman dan berjumlah tujuh buah.
- Lingga Yoni. Simbol penyembahan kepada Dewa Siwa, menunjukkan bahwa masyarakat Kutai beragama Hindu.
- Arca dan Manik-ManikBerbagai peninggalan berupa arca Hindu dan manik-manik yang ditemukan di sekitar Muara Kaman.
Jumat, 21 Maret 2025
Dua Hati Satu Rasa
Ada yang unik dari persaudaraan
kami ini. Sesuatu yang tak direncanakan sering kali terjadi begitu saja.
Seperti kebetulan yang terlalu sering muncul hingga tak lagi terasa sebagai
kebetulan. Kami berdua yaitu saya dan mbak Rini (sapaan yang saya berikan
untuknya). Walau dia teman guru namun dulu beliau murid saya. Sewaktu dia
sekolah di SMA. Jadi saya lebih enak menyapa dengan mbak. Dia memiliki tanggal
dan bulan lahir yang sama, hanya berbeda tahun. Bukan hanya itu, kami juga
sering mengenakan pakaian dengan warna atau motif yang sama, tanpa pernah
berjanji sebelumnya.
Hari Kamis, kami bertemu dalam
sebuah acara bimtek. Biasanya tanpa sadar, ada saja hal yang kami kenakan
secara serupa, entah itu jilbab, baju, atau bahkan aksesori kecil seperti bros.
Namun kali ini, ada perbedaan yang mencolok. Jilbab yang saya kenakan berwarna
biru polos, sedangkan dia memakai jilbab oren polos. Sekilas, tak ada kesamaan
di antara kami hari ini.
Saya sempat berpikir, mungkin
kali ini tidak ada hal yang "serasi" di antara kami. Tapi entah
mengapa, naluri saya mengatakan pasti ada sesuatu yang tetap menyatukan kami.
Saya pun mencoba mengingat barang-barang yang saya bawa hari itu. Saat dari
tempat parker menuju Gedung saya berbincang dengannya. Ingatan saya tertuju
pada rukuh yang saya bawa di dalam tas, saya tersenyum kecil.
"Eh, tahu nggak, hari ini saya
bawa rukuh pemberian njenengan," kata saya, mencoba mencari kesamaan kecil
di antara kami.
Mbak Rini menoleh dan tersenyum.
Lalu, dengan nada yang tak kalah ceria, dia menjawab, "Hahaha, Saya juga
bawa rukuh warna hijau dari ibu."
Kami saling menatap sejenak, lalu
tertawa. Lagi-lagi ada kesamaan, meskipun kali ini bukan dalam bentuk pakaian
yang kami kenakan, tetapi sesuatu yang lebih dalam yaitu benda yang kami bawa,
yang punya makna bagi kami masing-masing.
Kami pernah satu tempat instansi
yang sama sebagai guru di SMPN 1
Kedungtuban. Awalnya, saya sebagai gurunya sewaktu sekolah. Saat sama-sama jadi
guru baru sadar bahwa kami lahir di tanggal dan bulan yang sama. Itu menjadi
titik awal keakraban kami.
Seiring waktu, persaudaraan kami
semakin erat. Yang menarik, kami sering kali mengenakan pakaian yang senada
tanpa pernah merencanakannya. Saat ada acara sekolah, tiba-tiba saja kami
sama-sama memakai jilbab warna senada. Sering juga ketika memiliki ide,
pemikiran terhadap suatu permasalahan. Kejadian-kejadian ini sering kali
membuat kami tertawa dan merasa seperti ibu dan anak yang terpisah tahun
lahirnya.
Ada satu momen yang masih
membekas dalam ingatan saya. Suatu ketika, kami di hari Jum’at sehatdi sekolah
dengan seragam olah raga bebas. Kami datang dari rumah masing-masing, tanpa
berdiskusi soal pakaian yang akan dikenakan. Tapi begitu bertemu di lokasi,
kami sama-sama terkejut.
"Ya Allah, kok kaos olah raga kita sama?" komentarku spontan.
Dia pun menatap seragam olah raga
dan tertawa. "Iya, ya! Ini benar-benar nggak direncanakan!"
Kami berdua sama-sama mengenakan kaos
berwarna merah. Jilbab yang kami kenakan pun memiliki warna yang hampir serupa,
hanya beda sedikit dalam warna agak terang dan gelap. Sejak saat itu, kami tak
lagi merasa heran jika tanpa sengaja memakai sesuatu yang serasi. Entah itu
warna, motif, atau bahkan ide. Kami pun mulai menganggapnya sebagai sesuatu
yang wajar, bagian dari ikatan batin yang kuat.
Namun, bukan hanya dalam hal
pakaian dan benda-benda kecil, kesamaan kami juga terasa dalam cara berpikir
dan melihat kehidupan. Kami sama-sama lebih suka ketenangan dibanding
keramaian. Jika menghadiri acara yang penuh sesak, biasanya kami akan mencari sudut
yang tenang untuk berbincang berdua.
Kami juga sering merasakan hal
yang sama dalam satu situasi. Pernah suatu kali, dalam sebuah pertemuan, kami
mendengar seseorang berbicara dengan cara yang menurut kami berlebihan. Tanpa
perlu berkata-kata, kami saling menoleh dan tersenyum kecil, seakan mengerti
isi pikiran masing-masing. Setelah acara selesai, kami pun tertawa bersama
karena tahu bahwa kami berpikir hal yang sama saat itu.
Selain itu dalam berbagai fase
kehidupan, kami selalu mendukung satu sama lain. Ketika saya mengalami
kesulitan, dia selalu hadir dengan nasihat yang menenangkan. Begitu pula
sebaliknya, ketika dia menghadapi masalah, saya selalu berusaha menjadi
tempatnya bersandar.
Meskipun kami memakai jilbab
dengan warna yang berbeda, tetap ada sesuatu yang menyatukan kami yaitu rukuh
yang kami bawa. Hal kecil ini kembali mengingatkan saya bahwa ikatan batin kami
bukan sekadar tentang kebetulan dalam berpakaian, tetapi lebih dari itu.
Kesamaan-kesamaan ini mungkin
bukan hal besar bagi orang lain. Bagi kami, ini adalah simbol dari ikatan yang
sudah terjalin lama. Bahwa tanpa perlu berjanji, tanpa perlu menyusun rencana
ada sesuatu yang selalu membuat kami berada di gelombang yang sama.
Persaudaraan kami bukan hanya
tentang pakaian yang sering serasi, tetapi tentang hati yang selalu seirama.
Ada pemahaman tanpa perlu banyak kata, ada kebersamaan tanpa perlu banyak
alasan. Saya menyadari satu hal yaitu persaudaraan sejati adalah dia yang,
tanpa perlu berkata atau berjanji, selalu ada dalam ritme yang sama dengan
kita. Saudara sak lawase ya mbak. Aamiin
Cepu, 22 Maret 2025