Minggu, 11 Januari 2026

Bojonegoro



Karya : Gutamining Saida 
Bojonegoro adalah kota kelahiran saya. Sebuah nama yang tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan, meski raga sudah lama berpindah tempat. Saya lahir di pelosok desa, jauh dari hiruk-pikuk kota kabupaten. Desa yang sunyi, jalan masih sederhana, dan kehidupan berjalan perlahan mengikuti irama alam. Ketika, pergi ke kota Bojonegoro bukan perkara sepele. Ada jarak, biaya, persiapan. Setiap perjalanan ke kota kabupaten memiliki makna tersendiri.

Ketika anak saya sekolah di Al Fatimah Bojonegoro, minimal satu kali pasti ke kota Bojonegoro. Terkadang lebih, jika ada kepentingan lain. Penyebabnya adalah mengurus administrasi sekolah, membeli perlengkapan, atau sekadar menemui sang buah hati. Perjalanan itu selalu saya nanti. Kota terasa megah di mata anak desa. Gedung-gedung, toko-toko, kendaraan yang lalu lalang, semuanya tampak luar biasa. Saya sering berpikir, betapa luasnya dunia di luar desa kecil saya.

Waktu terus berjalan tidak terasa, saya menikah. Takdir membawa saya berpindah tempat tinggal sekaligus sebagai tempat mengabdi. Kini saya menetap di Kabupaten Blora, tepatnya Kecamatan Cepu. Di sinilah saya menjalani hari-hari, mengajar, mengabdi, dan membangun cerita perjalanan hidup. Cepu menjadi rumah kedua, tempat saya belajar arti tanggung jawab, kesabaran, dan pengabdian.

Lalu bagaimana dengan Bojonegoro sekarang? Jawabannya sederhana,sekitar tiga tahun berlalu saya hampir tidak pernah ke Bojonegoro. Bukan karena lupa, bukan pula karena tidak cinta. Melainkan karena tidak ada kepentingan. Segala urusan bisa diselesaikan di tempat tinggal sekarang. Kadang muncul keinginan untuk sekadar berkunjung, bernostalgia, menghirup kembali udara kota kabupaten. Ketika saya bertanya pada diri sendiri, “Apa tujuan ke sana?” jawabannya kosong. Akhirnya niat itu pun menguap. Tidak ada tujuan, tidak ada motivasi.

Hingga Minggu pagi tanggal 11 Januari 2026, Allah Subhanahu Wata'alla seolah memanggil kembali ingatan saya. Hari ini saya meluncur ke Bojonegoro. Entah mengapa langkah terasa ringan, meski hati sedikit berdebar. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Saya ada kepentingan menemui ibu tercinta.

Sesampainya di Bojonegoro, saya terdiam. Banyak sekali perubahan. Jalan raya kini lebar, mulus dan rapi. Aspal hitam terbentang mulus, berbeda jauh dengan jalan sempit yang dulu sering saya lewati. Bangunan-bangunan berdiri megah, modern, dan tertata. Lalu lintas ramai, kendaraan datang silih berganti. Di pinggir jalan raya, taman-taman tertata indah, hijau, dan bersih. Kota ini hidup, bergerak, dan terus bertumbuh.

Dalam keheningan, saya merenung. Allah Maha Kuasa Tidak ada yang benar-benar tetap di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. Kota berubah, manusia berubah, bahkan perasaan pun berubah. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa dunia adalah tempat ujian, bukan tempat menetap. Apa yang hari ini megah, esok bisa saja pudar. Apa yang hari ini sederhana, kelak bisa menjadi luar biasa.

Saya sadar, selama ini terlalu sibuk dengan rutinitas di tempat pengabdian, hingga lupa menengok ibu tercinta. Islam mengajarkan pentingnya mengingat dan menghormati serta berbakti orang tua, dan bersyukur atas perjalanan hidup. Bukan untuk terikat pada masa lalu, tetapi untuk mengambil hikmah darinya.

Jika kota bisa berkembang, mengapa diri saya tidak? Jika jalan-jalan diperbaiki agar lebih nyaman, mengapa jalan hati tidak dibersihkan dari iri, sombong, dan lalai? Jika taman-taman dirawat agar indah, mengapa iman tidak dirawat agar tetap hidup?

Perjalanan singkat ke Bojonegoro hari ini mengajarkan saya tentang tujuan. Ternyata, tidak semua perjalanan harus diawali kepentingan duniawi. Ada perjalanan yang Allah rancang hanya untuk mengingatkan. Mengingatkan bahwa kita berasal dari orang tua, sudah sejauh kita berbakti, sejauh apa melangkah, dan ke mana seharusnya kembali.

Saya bersyukur pernah lahir di desa pelosok. Dari sanalah saya belajar kesederhanaan. Saya bersyukur pernah mengenal Bojonegoro di masa lalu, agar saya bisa menghargai Bojonegoro hari ini. Saya bersyukur kini mengabdi di Cepu, karena di sanalah Allah menitipkan amanah .

Semua tempat hanyalah persinggahan. Desa, kota, kabupaten, semuanya akan kita tinggalkan. Yang akan kita bawa pulang kepada Allah hanyalah amal dan niat. Semoga setiap langkah, termasuk langkah  ke kota Bojonegoro, menjadi jalan kebaikan, syukur dan jalan dzikir. Karena sejauh apa pun kita pergi, sejatinya kita sedang berjalan menuju Allah Subhanahu Wata'alla. Semoga kesehatan semakin baik.
Cepu, 11 Januari 2026

Foto Kenangan



Karya: Gutamining Saida

Zaman sekarang, hampir semua hal ingin diabadikan. Makanan baru datang ke meja, belum sempat disantap, sudah lebih dulu difoto. Minuman disajikan cantik, tangan reflek mengangkat gawai. Apalagi orangnya dari gaya paling sederhana sampai pose paling bergaya, dari wajah polos bangun tidur hingga riasan lengkap, semuanya layak masuk galeri. Di rumah, teras, sekolah, tempat wisata, bahkan di jalanan pun tak luput dari bidikan kamera. Cucu-cucu saya yang masih kecil pun sudah pandai bergaya. Senyum mereka seolah otomatis muncul begitu melihat kamera. Kadang saya tersenyum sendiri, kadang terdiam, tenggelam dalam kenangan masa lalu yang jauh berbeda.

Saya berasal dari zaman ketika foto bukanlah hal yang mudah. Alat potret masih jarang dimiliki orang. Kamera bukan benda biasa di rumah, melainkan barang mewah yang hanya dimiliki segelintir orang berada. Jika ingin memiliki foto kenangan, kami harus pergi ke studio foto yang letaknya di kota. Jaraknya tidak dekat, ongkosnya tidak murah, dan persiapannya pun tidak sederhana. Berfoto bukan perkara iseng atau spontan, melainkan sebuah peristiwa yang direncanakan.

Saya masih ingat betul, sebelum ke studio foto, ibu akan menyiapkan pakaian terbaik. Biasanya baju baru yang dibeli setahun sekali, menjelang hari raya. Baju itu disimpan rapi, bahkan kadang tidak boleh dipakai sebelum hari yang ditentukan. Ketika akhirnya dikenakan untuk foto, rasanya istimewa sekali. Hati berdebar, tangan dingin, dan senyum terasa kaku. Di studio, fotografer akan mengatur posisi, menyuruh kami diam, menatap lurus, dan tidak banyak bergerak. Sekali jepret, selesai. Tidak ada istilah mengulang berkali-kali. Tidak ada memilih foto terbaik. Yang ada hanyalah pasrah dan doa agar hasilnya bagus.

Setelah itu, kami harus menunggu. Seminggu, kadang lebih. Menunggu dengan harap-harap cemas. Saat foto akhirnya diambil, rasanya seperti menerima hadiah besar. Foto itu kemudian disimpan rapi, dimasukkan ke album, atau dipajang di ruang tamu. Foto menjadi saksi waktu, bukan sekadar koleksi, melainkan kenangan yang dijaga.

Kini, semuanya berubah. Foto bisa diambil kapan saja, dihapus kapan saja, dan disimpan ribuan jumlahnya. Kadang saya bertanya dalam hati, apakah kenangan masih punya makna yang sama? Ataukah ia justru menjadi sesuatu yang mudah dilupakan karena terlalu banyak?

Sebagai orang yang semakin menua, saya melihat perubahan ini dari sudut pandang iman. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa setiap nikmat adalah amanah. Waktu, penglihatan, usia, bahkan momen-momen kecil dalam hidup, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Subhanahu Wata'alla berfirman bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan. Maka saya merenung, di tengah mudahnya memotret dan memamerkan, apakah kita masih menyadari kehadiran Allah Subhanahu Wata'alladalam setiap momen?

Saya tidak menolak kemajuan. Saya bersyukur atas teknologi yang memudahkan. Dengan foto, kita bisa menyimpan wajah orang-orang tercinta, mengenang mereka yang telah tiada, dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga jauh. Saya juga belajar untuk mengingatkan diri sendiri dan cucu-cucuku bahwa hidup bukan hanya untuk ditampilkan, tetapi untuk dijalani dengan penuh kesadaran.

Ada kalanya saya melihat cucu-cucu sibuk bergaya. Saya ceritakan bagaimana dulu satu foto bisa menjadi kenangan seumur hidup. Saya ajarkan mereka mengucap hamdalah sebelum makan, bukan hanya memotret makanannya. Saya ajarkan mereka bahwa senyum yang tulus kepada sesama lebih indah daripada senyum yang dibuat demi kamera. Saya ingin mereka tumbuh sebagai generasi yang bukan hanya pandai bergaya, tetapi juga pandai bersyukur.

Dalam doa-doa malam saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'allaagar kami tidak lalai. Agar mata yang sering memandang layar tetap basah oleh dzikir. Agar tangan yang sibuk memegang gawai tetap ringan untuk bersedekah. Agar setiap foto yang diambil tidak melahirkan kesombongan, melainkan kesadaran bahwa semua keindahan berasal dari-Nya.

Zaman boleh berubah, alat boleh canggih, gaya hidup boleh bergeser. Namun nilai iman seharusnya tetap menjadi penuntun. Foto hanyalah sarana, bukan tujuan. Kenangan sejati bukan hanya yang tersimpan di galeri ponsel, tetapi yang terukir di hati tentang kesederhanaan, kesabaran, dan rasa syukur.

Saya bersyukur pernah hidup di dua zaman yaitu zaman serba terbatas dan zaman serba mudah. Dari keduanya, saya belajar satu hal penting bahwa yang paling berharga bukan seberapa banyak momen yang kita abadikan, tetapi seberapa banyak momen yang kita isi dengan kebaikan dan keikhlasan. Karena kelak, bukan foto-foto itulah yang akan ditanya, melainkan amal perbuatan kita di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui.

Cepu, 11 Januari 2026

Peran Anak Sulung



Karya:  Guytamining Saida

Saya adalah anak pertama di keluarga besar kami. Dari empat bersaudara, hanya saya yang perempuan. Sejak kecil, saya sering bercanda dan kadang diam-diam merasa bahwa saya adalah yang paling cantik di antara adik-adik. Bukan semata karena rupa, tetapi karena saya belajar lebih dulu tentang tanggung jawab, tentang mengalah, dan tentang menahan keinginan. Menjadi anak pertama ternyata bukan hanya soal urutan lahir, tetapi juga harus bisa menerima peran yang tidak selalu ringan.

Ayah dan ibu membesarkan kami dengan penuh kesederhanaan. Sebagai anak sulung, saya sering dijadikan contoh. Jika saya salah, maka kesalahan itu seolah menjadi pelajaran bagi adik-adik. Jika saya benar, maka kebenaran itu dijadikan standar. Adik-adik saya langkahnya lebih gesit, lebih berani, dan lebih cepat menentukan pilihan karena mereka laki-laki.

Seiring waktu berjalan, kami menapaki jalan hidup masing-masing. Adik-adik saya terlihat lebih tegas  dalam menyikapi kehidupan. Mereka mudah bergerak, cepat datang jika disuruh berkumpul, menjengguk ibu, dan sigap ketika dibutuhkan. Sementara saya, meski niat di hati selalu ingin segera hadir, sering kali terhalang oleh keadaan. Bukan karena tidak mau, melainkan karena peran hidup saya telah bertambah.

Saya kini berstatus sebagai seorang istri. Sebuah amanah besar yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan kepada saya melalui pernikahan. Dalam status ini, saya belajar bahwa hidup tidak lagi tentang “saya” semata, tetapi tentang “kami”. Setiap langkah yang akan saya ambil, setiap keputusan yang akan saya buat, ada prosedur yang harus saya lalui yaitu meminta izin dan atas ridho suami.

Tidak jarang hati saya diuji. Ketika keluarga berkumpul, atau ketika ada kebutuhan mendesak, saya tidak selalu bisa datang secepat adik-adik saya. Ada rasa tidak enak, ada rasa bersalah, bahkan ada bisikan kecil di hati yang bertanya, “Apakah saya anak yang kurang berbakti?” Saya mencoba menenangkan diri dengan keyakinan bahwa agama islam telah mengatur semuanya dengan sangat sempurna.

Islam mengajarkan bahwa setelah seorang perempuan menikah, maka surga dan ridhonya terletak pada keridhoan suami. Bukan berarti cinta kepada orang tua berkurang, melainkan bentuk pengabdian itu kini berjalan beriringan dengan tanggung jawab baru. Saya tetap seorang anak, tetapi juga seorang istri. Dua peran yang sama-sama mulia, namun harus dijalani dengan bijak.

Saya bersyukur memiliki suami yang mau diajak berdiskusi. Saya tidak sekadar meminta izin, tetapi juga menyampaikan isi hati. Saya yakin, ketika niat kita baik ingin berbakti kepada orang tua dan menjaga silaturahmi Allah Subhanahu Wata'alla akan membuka jalan. Saya meyakini bahwa ridho Allah Subhanahu Wata'alla terletak pada ridho suami, dan saya tidak ingin melangkah tanpa keberkahan itu.

Menjadi perempuan, menjadi anak pertama, dan menjadi istri adalah tiga peran besar yang Allah Subhanahu Wata'alla  titipkan kepada saya. Tidak mudah menjalani semuanya dengan sempurna. Namun saya percaya, selama saya berusaha berjalan sesuai tuntunan agama, menjaga adab, dan mengutamakan ridho AllahSubhanahu Wata'alla, maka setiap langkah yang pelan pun tetap bernilai ibadah.

Saya memilih berjalan sesuai kapasitas dan peran yang Allah Subhanahu Wata'alla  tetapkan untuk saya. Saya yakin, bukan siapa yang paling cepat datang yang paling mulia, tetapi siapa yang paling ikhlas menjalani perannya. Saya selalu memohon  semoga Allah Subhanahu Wata'alla  meridhoi saya sebagai anak, sebagai kakak, dan sebagai istri. Ketika ridho Allah Subhanahu Wata'alla dan ridho suami telah saya dapatkan, maka di situlah ketenangan hati saya bersemayam.

Cepu, 11 Januari 2026

Sabtu, 10 Januari 2026

Sapaan Baruku

 


Karya: Gutamining Saida

Tiba-tiba saya mendapat sapaan baru. Sebuah panggilan yang lahir tanpa rencana, tanpa musyawarah resmi, dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Beberapa guru nyeletuk, saling melempar ide, lalu tertawa kecil. Entah awalnya bagaimana dan dari siapa, saya kurang begitu memahami. Saat itu pikiran saya mempersiapan mengajar materi dengan tema baru di awal semester. Semester baru selalu menghadirkan harapan, sekaligus tantangan yang tidak ringan.

Kami berada di ruang guru. Ruangan yang menjadi saksi banyak cerita diantaranya diskusi serius, keluh kesah, tawa, doa, bahkan kelelahan yang kadang tak terucap. Ruang guru ramai membahas rolling kelas. Sebuah kebijakan yang mau tidak mau harus diterima dan dijalani bersama. Ada siswa yang bahagia, ada yang sedih, ada yang terdiam menahan air mata. Semua itu menjadi tanggung jawab kami para guru untuk menenangkan, menguatkan, dan mengarahkan.

Di tengah obrolan yang bersahutan itu, terdengar celetukan-celetukan ringan. Nama-nama baru bermunculan. Ada yang disapa Burik, Buly, Budel, dan masih banyak lagi. Sapaan itu terdengar sederhana, bahkan terkesan main-main. Saya percaya, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar terjadi secara kebetulan. Semua ada dalam kehendak dan izin Allah Subhanahu Wata'alla.

Ketika akhirnya saya mendengar sapaan yang diarahkan kepada diri saya, “BUSA”, saya terdiam sejenak. Ada rasa kaget, heran, sekaligus senyum yang tertahan.Ssaya bertanya pada diri sendiri, mengapa Busa? Saya segera teringat satu hal penting yang sering saya yakini bahwa sebuah nama adalah doa dan harapan. Setiap kata yang terucap, apalagi yang melekat sebagai panggilan, sesungguhnya mengandung makna yang bisa menjadi pengingat.

Saat itu saya memilih untuk tidak menolak, tidak pula menertawakan secara berlebihan. Saya justru mengajak diri saya untuk merenung. Jika Allah Subhanahu Wata'alla. mengizinkan saya dipanggil “BUSA”, pasti ada hikmah yang bisa saya petik. Busa mungkin terlihat sepele, ringan, dan mudah hilang. Namun di balik kesederhanaannya, busa memiliki peran yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa busa, peralatan makan tidak akan bersih. Tanpa busa, noda membandel sulit dihilangkan. Busa membantu membersihkan, menjernihkan, dan mengangkat kotoran yang tak kasatmata. Dari situ, hati saya tersentuh. Saya pun berdoa dalam diam, Ya Allah, jika aku diibaratkan sebagai busa, jadikanlah aku busa yang bermanfaat.

Saya berharap keberadaan saya di lingkungan Esmega tidak hanya sekadar hadir secara fisik, tetapi juga membawa kebersihan hati, pikiran, dan suasana. Membersihkan prasangka, meredam emosi, dan membantu mengangkat beban sesama, baik guru maupun siswa. Saya ingin menjadi pribadi yang ringan dalam membantu, tidak memberatkan, tidak merasa paling penting, namun tetap memberi dampak.

Busa juga mengingatkan saya pada ayat Al-Qur’an tentang perumpamaan kebaikan dan keburukan. Allah Subhanahu Wata'alla.menggambarkan bahwa sesuatu yang tampak mengapung dan berbuih akan hilang, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan tetap tinggal di bumi. Maka dari itu, saya tidak ingin menjadi busa yang hanya berbuih tanpa makna. Saya ingin busa yang hadir karena ada proses, ada sabun, ada air, ada usaha sehingga manfaatnya nyata.

Sebagai seorang guru, tugas saya bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, saya ingin mengajak pada kebaikan, menularkan “virus kebaikan” dengan cara sederhana: senyum yang tulus, kata yang menenangkan, dan sikap yang menumbuhkan. Busa tidak bekerja sendiri. Ia muncul karena ada air yang mengalir dan sabun yang digerakkan. Begitu pula saya, saya sadar tidak bisa berbuat apa-apa tanpa pertolongan Allah Subhanahu Wata'alla.dan tanpa kebersamaan dengan rekan-rekan guru dan karyawan Esmega serta Bapak Kepala Sekolah.

Bersyukur atas kebersamaan, canda yang lahir di ruang guru, dan  sapaan yang tanpa sadar mengajarkan makna mendalam. Saya percaya, selama niat dijaga dan hati diluruskan, Allah Subhanahu Wata'alla.akan menjadikan sekecil apa pun peran kita bernilai ibadah.

Semoga saya mampu menjadi “BUSA” yang membawa manfaat, membersihkan, menenangkan, dan mengajak pada kebaikan. Untuk Esmega, untuk para guru, untuk para karyawan untuk siswa-siswi, dan untuk diri saya sendiri khususnya. Semoga setiap langkah dalam dunia pendidikan ini selalu berada dalam ridha-Nya. Aamiin. Terimakasih Teman-teman.

Cepu, 10 Januari 2026

Tantangan Kecil

 


Karya: Gutamining Saida

Suasana kembali santai, saya sengaja membuka media sosial dan mengunggah sebuah foto. Foto sederhana kebersamaan keluarga besar Esmega. Foto itu diambil setelah makan siang bersama di Klotok, dalam rangka syukuran. Bukan sekadar dokumentasi, tetapi kenangan tentang rasa yaitu tawa, kebersamaan, dan nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan.

Di bawah foto tersebut, saya menuliskan kalimat singkat, nyaris seperti permainan kecil yaitu
“Ayo carikan diriku.”
Sebuah tantangan ringan, tanpa maksud apa pun selain ingin berbagi keceriaan.

Di luar dugaan, beberapa detik kemudian, notifikasi mulai berdatangan. Satu pesan masuk, disusul pesan lain, lalu semakin banyak. Hati saya yang semula tenang, perlahan terasa hangat. Saya membaca satu per satu komentar yang muncul. Ada rasa syukur yang tiba-tiba membuncah, karena ternyata foto sederhana itu mampu mengetuk banyak hati.

Yang mengomentari bukan hanya rekan kerja yang masih satu lingkungan. Ada siswa-siswi yang sudah tidak saya ajar lagi. Ada tetangga. Bahkan ada teman semasa kecil yang sudah lama tidak berjumpa. Mereka semua hadir lewat kata-kata sederhana di layar ponsel. Saat itu saya tersadar, bahwa silaturahmi tidak selalu harus bertatap muka.  Allah Subhanahu Wata'alla memberikan jalan lain, lewat media sosial, untuk menjaga rasa peduli dan saling mengingatkan.

Pesan-pesan chats yang masuk diantaranya tertulis,

“Tau dong. Di belakang guru yang baju warna ungu,” tulis Bu Rini.
“Belakang Bu Sus,” sahut yang lain.
“Depan Pak Bambang,” jawab Bu Isna.
“Saya tahu, Bu,” kata Novia singkat namun penuh keyakinan.
“Acara apa, Umi?” tanya Bu Parno.

Masih banyak lagi pesan yang masuk, beragam gaya dan nada, namun satu makna yang sama bahwa  mereka masih mengingat saya. Mereka masih peduli. Mereka meluangkan waktu untuk sekadar menjawab tantangan kecil yang saya buat.

Saya terdiam sejenak. Dalam hati, saya berucap, “Ya Allah, ternyata Engkau masih menitipkan namaku di ingatan banyak orang.” Sebuah nikmat yang sering kali luput disadari. Bukankah salah satu bentuk rezeki yang besar adalah ketika kita masih diingat dengan baik oleh orang lain?

Saya sadar, waktu telah membawa kami ke jalan masing-masing. Ada yang sudah tidak satu tempat kerja. Ada siswa yang telah naik jenjang, bahkan mungkin sudah lupa pada sebagian pelajaran yang pernah saya sampaikan. Perhatian kecil itu menjadi bukti bahwa hubungan manusia tidak selalu terputus oleh jarak dan waktu. Jika niatnya baik, Allah Subhanahu Wata'alla yang akan menjaga benangnya.

Rasa bahagia perlahan hadir. Bukan bahagia yang meledak-ledak, melainkan bahagia yang tenang. Bahagia karena merasa tidak sendiri. Bahagia karena masih dianggap ada. Bahagia karena kebaikan kecil yang pernah ditanam, rupanya tumbuh menjadi ingatan yang hangat di hati orang lain.

Saya merenung. Mungkin selama ini saya mengira bahwa pengaruh seorang guru hanya berhenti di ruang kelas. Ternyata tidak. Kadang pengaruh itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana yaitu  sapaan, komentar, atau sekadar keinginan untuk menjawab sebuah tantangan kecil. Semua itu adalah anugerah dari Allah Subhanahu Wata'alla, bukan karena kehebatan diri, melainkan karena izin-Nya.

Dalam keheningan sore, saya kembali bersyukur. Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kebahagiaan lewat cara yang tidak saya rencanakan. Saat hati berharap, Allah Subhanahu Wata'alla mengirimkannya lewat banyak tangan dan banyak kata. Tidak megah, tidak besar, tetapi cukup untuk menguatkan.

Saya teringat satu doa: “Ya Allah, jadikanlah aku pribadi yang kehadiranku dirindukan dan ketiadaannya dicari.” Dan hari itu, lewat media sosial, saya merasakan sedikit dari jawaban doa tersebut. Bukan untuk berbangga, tetapi untuk semakin rendah hati.

Saya pun belajar satu hal bahwa bahagia  hadir lewat komentar singkat, lewat sapaan lama yang muncul kembali, lewat perhatian yang tak disangka-sangka. Semua itu adalah tanda kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla yang sering kali datang diam-diam.

Saya menutup ponsel dengan senyum kecil. Hati terasa lebih ringan. Rasa bahagia yang saya harapkan, ternyata Allah Subhanahu Wata'alla kabulkan dengan cara-Nya sendiri. Saya mengucap syukur, semoga perhatian itu menjadi pengingat agar saya tetap menjaga niat, tetap berbuat baik, dan tetap menyambung silaturahmi, baik secara nyata maupun lewat ruang maya. Ketika manusia saling mengingat dalam kebaikan, di situlah Allah Subhanahu Wata'alla sedang membuka hati kita.

Cepu, 10 Januari 2026


Bahagia Sedih Tiada Sekat

 


Karya: Gutamining Saida

Sabtu siang itu terasa berbeda. Matahari bersinar terang, seolah ikut menyambut kebersamaan keluarga besar Esmega yang berkumpul dalam satu meja, satu ruang, satu rasa. Kami menghadiri acara makan siang bersama dalam rangka syukuran enam rekan baru yang resmi menyandang status PPPK. Sebuah nikmat yang patut dirayakan, sebuah pencapaian yang lahir dari doa panjang, kesabaran, dan perjuangan yang tak selalu mudah.

Saya duduk di kursi meja bertanda huruf “I”, bersama beberapa teman. Dari luar, saya tampak seperti yang lain: tersenyum, menyantap hidangan, ikut larut dalam obrolan ringan. Namun sesungguhnya, hanya raga saya yang hadir sepenuhnya di sana. Hati dan pikiran saya melayang jauh, menempuh jarak batin menuju Bojonegoro. Entah mengapa, hari itu rasa di dada begitu penuh, seakan Allah sedang menumpahkan berbagai warna takdir dalam satu waktu.

Beberapa kali tangan saya meraih ponsel. Bukan untuk sekadar berselancar, tetapi untuk membuka pesan yang membuat dada saya bergetar. Hingga akhirnya, Bu Wiwik menegur dengan suara lembut namun tegas, penuh kepedulian.

“Hayoo… makan tidak boleh sambil HP-an,” ujar beliau sambil tersenyum.

Saya hanya mengangguk pelan. Senyum saya berusaha bertahan, sementara hati saya berjuang menahan air mata agar tidak jatuh. Bu Wiwik memang sosok yang penuh perhatian. Satu per satu yang duduk di meja “I” tak luput dari pengamatannya. Teguran beliau bukan sekadar soal etika makan, tetapi wujud kasih sayang agar kami benar-benar hadir di momen kebersamaan itu.

“Ikan Bu Lala kok tidak dimakan?” tanya Bu Wiwik lagi, dengan nada heran namun penuh empati.

“Bu Lala ingat suaminya,” jawab Bu Indri singkat.

"Nasinya dihabiskan."ujar bu Wiwik

"Iya siap, biar keberkahan tidak hilang ya."saut bu Yanti.

"Ayo, kalau makan jangan ngomong terus."sela saya.

Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Saya semakin menyadari, bahwa di meja yang sama, dalam suasana yang sama, setiap orang membawa cerita hidupnya masing-masing. Ada yang sedang merayakan kebahagiaan, ada yang menyimpan luka, ada pula yang belajar ikhlas atas kehilangan. Benarlah firman Allah Subhanahu Wata'alla, bahwa hidup ini adalah percampuran antara ujian dan nikmat. Keduanya datang silih berganti, bahkan sering kali bersamaan.

Saya pun mengalaminya hari itu. Senang dan sedih tanpa sekat. Bahagia karena bisa berkumpul, bersyukur karena rekan-rekan mendapatkan amanah baru sebagai PPPK, namun di saat yang sama hati saya digelayuti rasa sedih mendalam. Kabar tentang ibu datang di saat yang tak terduga. Di tengah riuh tawa dan suara sendok beradu dengan piring, Allah Subhanahu Wata'alla menyisipkan ujian kecil namun terasa berat di dada.

Saya terdiam sejenak, menundukkan kepala. Dalam hati saya berbisik, “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak mampu aku ucapkan.” Saya teringat bahwa setiap takdir, baik yang manis maupun pahit, tidak pernah hadir tanpa izin-Nya. Bahkan air mata pun adalah bahasa doa yang paling jujur.

Makanan di hadapan saya terasa tetap nikmat, namun ada rasa haru yang menyertainya. Saya belajar bahwa bersyukur bukan berarti meniadakan kesedihan. Bersyukur adalah menerima bahwa Allah Subhanahu Wata'alla memberi nikmat di satu sisi, dan menguji di sisi lain. Keduanya sama-sama tanda cinta-Nya. Bukankah Rasulullah mengajarkan, bahwa urusan orang beriman itu sungguh menakjubkan? Ketika mendapat nikmat ia bersyukur, ketika ditimpa musibah ia bersabar, dan keduanya bernilai kebaikan.

Di meja “I” itu, saya belajar tentang empati, tentang kebersamaan yang tidak selalu harus riuh. Kadang, cukup dengan duduk bersama, saling menegur dengan lembut, saling memahami tanpa banyak tanya. Saya merasa dikuatkan oleh kehadiran mereka, meski mungkin mereka tak sepenuhnya tahu isi hati saya.

Acara makan siang itu pun perlahan usai. Pelajaran hidup yang saya petik tidak berhenti di sana. Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kesedihan adalah dua sahabat perjalanan iman. Keduanya mengingatkan kita untuk selalu kembali pada-Nya. Bahwa di tengah tawa, jangan lupa berdoa. Di tengah air mata, jangan lupa berharap.

Saya pulang dengan hati yang lebih lapang. Masih ada sedih, tentu. Ada pula rasa syukur yang tumbuh lebih dalam. Saya bersyukur atas kebersamaan, atas perhatian Bu Wiwik, atas kejujuran rasa Bu Lala, dan atas pengingat halus dari Allah Subhanahu Wata'alla bahwa hidup ini bukan tentang memilih bahagia atau sedih, melainkan tentang tetap beriman di keduanya. Allah Subhanahu Watalla selalu hadir, bahkan di antara suapan nasi dan air mata yang hampir jatuh.

Cepu, 10 Januari 2026

Rabu, 07 Januari 2026

Kembar Tapi Beda


Karya: Gutamining Saida
Saat saya melangkahkan kaki masuk ke kelas 7C, suasana pagi itu terasa berbeda. Bukan hiruk-pikuk riang seperti biasanya, melainkan hening yang menyimpan banyak rasa. Saya berdiri sejenak di ambang pintu, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kelas. Satu per satu wajah siswa-siswi saya amati. Ada yang sudah terasa akrab, ada pula yang masih tampak asing, seolah membawa cerita sendiri-sendiri dari kelas sebelumnya.

Di dekat pintu, perhatian saya tertuju pada dua siswi yang duduk berdampingan. Mereka duduk rapat, seakan ingin saling menguatkan. Yang pertama adalah Natasya. Saya mengenalnya sebagai siswa yang sebelumnya tergabung di kelas 7F dan 7G sebelum akhirnya masuk ke 7C setelah proses pengacakan kelas. Di sampingnya duduk Nuraini dan Nur. Dua pasang anak ini bukanlah kembar secara biologis, namun memiliki kesamaan yang sering membuat orang tersenyum yaitu kembar nama. Sebuah kebetulan yang indah, pagi ini belum sepenuhnya mampu menghadirkan senyum di wajah mereka.

Raut muka keempatnya tampak sendu. Mata mereka menyimpan kegamangan, seperti sedang bertanya dalam hati, “Mengapa harus berpisah?” Saya tahu betul, bagi anak-anak seusia mereka, perpisahan dengan teman yang sudah akrab bukan perkara sepele. Teman bukan sekadar kawan belajar, melainkan tempat berbagi cerita, tawa, dan rasa aman. Ketika lingkungan berubah secara tiba-tiba, hati pun perlu waktu untuk menata ulang.

Saya mendekat perlahan, lalu bertanya, “Kenapa kalian tidak semangat hari ini?”
Mereka saling berpandangan. Tidak ada jawaban panjang. Hanya senyum tipis dan anggukan kecil. Dari sorot mata mereka, saya membaca satu kata yang sama yaitu belajar adaptasi.

Saya sadar, perubahan ini bukan hanya soal administrasi kelas, melainkan juga ujian batin bagi anak-anak. Di sinilah saya kembali diingatkan bahwa setiap peristiwa, sekecil apa pun, selalu berada dalam rencana Allah Subhanahu Wata'alla. Tidak ada satu pun yang kebetulan. Pengacakan kelas, pertemuan dengan teman baru, bahkan rasa sedih yang menyelinap di pagi hari, semuanya adalah bagian dari skenario-Nya untuk mendewasakan jiwa.

Saya lalu mengajak mereka untuk sejenak menundukkan kepala. “Anak-anak, mari kita berdoa,” ujar saya. Suasana kelas mendadak lebih tenang. Dalam doa, saya memohon agar Allah Subhanahu Wata'alla melembutkan hati mereka, menenangkan jiwa yang gundah, dan menanamkan rasa ikhlas atas ketetapan-Nya. Saya berdoa agar mereka diberi kemampuan untuk beradaptasi, sebagaimana Rasulullah mengajarkan umatnya untuk selalu siap menghadapi perubahan dengan sabar dan tawakal.

Saya sampaikan kepada mereka bahwa hidup ini adalah madrasah panjang. Allah Subhanahu Wata'alla seringkali memindahkan kita dari satu “kelas” ke kelas yang lain bukan untuk menyakiti, tetapi untuk menguatkan. Jika hari ini mereka dipertemukan dengan teman-teman baru, itu artinya Allah Subhanahu Wata'alla sedang membuka pintu rezeki berupa pengalaman, persahabatan, dan pelajaran hidup yang lebih luas.

“Nak,” kata saya pelan, “boleh jadi hari ini terasa berat karena kalian harus berpisah dengan teman lama. Tapi percayalah, Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah mengambil sesuatu kecuali Dia sudah menyiapkan pengganti yang lebih baik, atau pelajaran yang lebih bermakna.”

Saya melihat Natasya mulai mengusap matanya. Nuraini dan Nur mengangguk perlahan. Ada cahaya kecil yang mulai tumbuh di wajah mereka, meski belum sepenuhnya menghapus kesedihan. Saya tahu, proses adaptasi tidak bisa instan. Bahkan orang dewasa pun sering kali memerlukan waktu untuk menerima perubahan.

Saya kemudian mengajak seluruh kelas untuk saling mengenal. Saya tekankan bahwa kelas 7C bukan sekadar kumpulan siswa yang dipertemukan secara acak, melainkan keluarga baru yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan untuk saling belajar, menguatkan, dan menumbuhkan prestasi. Saya mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kelebihan masing-masing, dan tugas kita adalah saling melengkapi, bukan saling menutup diri.

Di akhir jam pelajaran, saya kembali melihat ke arah mereka. Kini, meski senyum belum sepenuhnya merekah, ada keteguhan yang mulai tumbuh. Semoga doa-doa yang terucap pagi itu menjadi energi kebaikan. Semoga Allah Subhanahu Wata'alla menanamkan kesabaran dalam hati mereka, mengganti rasa sedih dengan semangat, dan menjadikan kelas 7C sebagai ladang amal, ladang prestasi, dan ladang tumbuhnya karakter yang kuat.

Saya percaya, suatu hari nanti, mereka akan mengenang momen ini bukan sebagai hari kesedihan, melainkan sebagai titik awal perjuangan. Awal dari proses pendewasaan, pembelajaran tentang ikhlas, dan keyakinan bahwa bersama Allah Subhanahu Wata'alla, setiap langkah adaptasi akan selalu bermuara pada kebaikan

Cepu, 7 Januari 2026

Selasa, 06 Januari 2026

Tahun Baru.

 


Karya: Gutamining Saida

Hari kedua masuk sekolah pada semester genap itu jatuh di hari Selasa. Pagi hingga siang hari suasana di Esmega perlahan kembali hidup. Setelah libur yang cukup panjang, langkah-langkah kecil siswa terdengar menyusuri jalanan sekolah, sebagian masih canggung, sebagian lagi tampak bersemangat menyambut lembaran waktu yang baru. Di balik hiruk pikuk itu, tersimpan banyak rasa bahwa rindu, harap, cemas, dan juga kegelisahan yang belum sepenuhnya reda.

Pembelajaran sudah mulai berjalan sebagaimana mestinya. Jadwal mengajar saya berada di jam ke-7 dan ke-8, tepatnya di kelas 7G. Kelas yang bagi saya bukan sekadar ruang belajar, tetapi juga ruang aman untuk bertumbuh bersama. Saya menyadari sejak awal bahwa suasana kelas belum sepenuhnya kondusif. Rolling kelas yang terjadi di pagi ini, menyisakan berbagai emosi di hati siswa. Ada yang masih mencari teman lamanya, ada yang diam memendam rindu, dan ada pula yang mencoba beradaptasi dengan wajah-wajah baru.

Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, bimbinglah langkahku hari ini. Jadikan pertemuan ini sebagai awal yang menenangkan, bukan menambah luka atau kegelisahan.” Saya tidak ingin langsung memaksa materi pelajaran masuk ke pikiran mereka, sementara hati mereka masih berantakan. Saya percaya, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tetapi juga soal menyentuh jiwa.

Sebelum masuk kelas, sebenarnya saya sudah merancang sebuah kegiatan sederhana. Kegiatan itu saya niatkan sebagai refleksi atas semester yang telah berlalu sekaligus harapan untuk tahun yang baru. Saya ingin anak-anak belajar menata kembali perasaan mereka, menyadari perjalanan yang sudah dilewati, dan menuliskan harapan dengan cara yang menyenangkan.

Saat bel berbunyi, saya melangkah masuk ke kelas 7G. Saya melihat sorot mata siswa-siswi saya ada yang lelah, ada yang gelisah, namun juga ada yang penuh rasa ingin tahu. Saya membuka pelajaran dengan senyum dan sapaan hangat, lalu mengajak mereka sejenak untuk diam dan menenangkan diri.

“Anak-anak,” ucap saya perlahan, “kita sudah sampai di semester genap dan memasuki tahun baru, 2026. Banyak hal telah kita lewati di tahun sebelumnya. Ada yang menyenangkan, ada pula yang mungkin berat. Hari ini, Ibu tidak akan langsung memberi materi. Kita akan belajar dari diri kita sendiri.”

Saya lalu memberi contoh sebuah karya sederhana yaitu angka tahun 2026 yang saya tulis dan hias secara kreatif. Saya menjelaskan bahwa setiap angka bisa dimaknai sebagai perjalanan hidup, harapan, dan doa. Saya memberi mereka kebebasan penuh bebas bentuk, bebas warna, bebas hiasan sesuai dengan kemampuan dan imajinasi masing-masing.

“Tidak harus bagus menurut orang lain,” kata saya menegaskan, “yang penting kalian membuatnya dengan hati, dengan niat baik, dan dengan harapan yang positif.”

Saya kembali berdoa, “Ya Allah, jadikan kegiatan kecil ini sebagai jalan bagi mereka untuk bangkit, untuk percaya diri, dan untuk menemukan kembali semangat belajar.”

Anak-anak pun mulai bekerja. Suasana kelas yang sebelumnya terasa kaku perlahan berubah. Tangan-tangan kecil mulai bergerak, pensil dan pulpen menari di atas kertas. Ada yang menghias dengan bunga, ada yang memberi warna cerah, ada yang menambahkan kata-kata motivasi, bahkan ada yang menyelipkan doa sederhana di sudut kertasnya. Namun sebagian besar warna hitam putih.

Saya berjalan pelan mengelilingi kelas, memperhatikan satu per satu karya mereka. Di setiap coretan, saya melihat cerita. Ada harapan untuk menjadi lebih rajin, ada keinginan membanggakan orang tua, ada cita-cita sederhana namun tulus. Saya terharu menyadari bahwa di balik kegaduhan dan kenakalan khas remaja, tersimpan hati-hati yang ingin didengar dan dihargai.

Tak terasa waktu berlalu. Ketika satu per satu siswa selesai, mereka menunjukkan hasil karyanya dengan wajah berbinar. Saya benar-benar terkejut sekaligus bersyukur. Hasil karya siswa kelas 7G sangat bagus-bagus bahkan banyak yang melampaui contoh yang saya berikan. Kreativitas mereka tumbuh ketika diberi ruang, dan kepercayaan diri mereka muncul ketika tidak dibatasi oleh rasa takut salah.

Saat itu, lisan saya spontan mengucap, “Alhamdulillah.” Sebuah syukur yang lahir dari hati terdalam. Saya menyadari bahwa Allah selalu memberi jalan indah bagi hamba-Nya yang mau bersabar dan berikhtiar. Di tengah keterbatasan, selalu ada kebaikan yang bisa tumbuh.

Saya menutup pelajaran dengan pesan sederhana, “Anak-anak, seperti angka 2026 yang kalian buat hari ini, hidup kalian juga sedang dibentuk. Hiasi dengan hal-hal baik, isi dengan doa, dan jalani dengan usaha. Jangan lupa libatkan Allah dalam setiap langkah.”

Saya pulang dengan hati yang hangat. Saya belajar kembali bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menemani. Bukan hanya mendidik akal, tetapi juga merawat jiwa. Semoga langkah kecil di kelas 7G ini menjadi amal jariyah, dan semoga anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan selalu dekat dengan Allah SWT. Aamiin.

Cepu, 6 Januari 2026

Ikhlas Dan Takdir

Karya : Gutamining Saida 
Hari kedua masuk sekolah membawa suasana yang berbeda dari hari sebelumnya. Selasa pagi  udara terasa sama, langit pun masih menaungi halaman sekolah dengan warna yang tak berubah. Namun hati banyak orang terutama para siswa tidak lagi berada pada keadaan yang sama. Ada sesuatu yang bergeser, sesuatu yang membuat langkah-langkah kecil mereka terasa lebih berat dari biasanya.

Siswa-siswi Esmega kelas tujuh yang semula berjumlah tujuh kelas kini berubah menjadi delapan kelas. Sebuah kebijakan yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya, baik kepada siswa maupun wali murid. Setelah bel masuk berbunyi, seluruh kelas dikumpulkan di area outdoor sekolah. Mereka berdiri berjejer rapi, sebagian masih sempat bercanda kecil, namun lebih banyak yang terdiam, menunggu dengan rasa penasaran bercampur cemas.

Pengarahan pun dimulai oleh waka kurikulum. Nama siswa disebut satu per satu, lalu diarahkan menuju wali kelas yang telah berdiri di barisan depan. Di sanalah pembagian kelas baru dilakukan. Saya berdiri, masih dengan amanah yang sama yaitu menjadi wali kelas tujuh G. Namun susunan siswa di depan saya tak sepenuhnya sama seperti enam bulan sebelumnya. Ada wajah-wajah lama yang masih setia di kelas tujuh G, tetapi lebih banyak wajah baru yang datang dari kelas lain. Di sisi lain halaman, saya melihat beberapa anak tujuh G lama melangkah menjauh, menuju wali kelas yang lain.

Beberapa menit kemudian, perintah pun disampaikan agar siswa mengambil tas masing-masing dan segera menempati kelas baru. Saat itulah suasana berubah drastis. Tidak ada sorak kegembiraan, tidak ada celoteh riang seperti biasanya. Langkah kaki terdengar pelan, bahkan terasa berat. Anak-anak berjalan dengan wajah datar, sebagian menunduk, sebagian lagi menatap kosong ke depan.
Di mata mereka tersimpan tanya yang tak terucap. Di balik diam itu, ada kehilangan kecil yang sedang mereka rasakan. Kehilangan teman sebangku, teman bermain, teman bercanda, bahkan teman berbagi cerita. Enam bulan bukan waktu yang singkat bagi anak-anak seusia mereka. Enam bulan cukup untuk membangun kebersamaan, kekompakan, dan rasa memiliki satu sama lain.

Ketika telah duduk di dalam kelas baru, suasana masih hening. Bangku-bangku terasa asing, dinding kelas seolah belum bersahabat. Ada seorang siswa yang mengangkat tangan dengan suara lirih, “Kenapa diacak, Bu?” Pertanyaan sederhana, namun sarat makna. Ada pula yang tak bertanya apa-apa, namun matanya berkaca-kaca, menyimpan air mata yang siap jatuh kapan saja. Saya melangkah mendekat. Sebagai wali kelas, saya tahu bahwa tugas saya bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi juga menenangkan hati. Saya mengajak mereka untuk menarik napas sejenak, menenangkan diri, dan membuka hati. Dengan suara pelan, saya sampaikan bahwa dalam hidup, tidak semua hal berjalan sesuai keinginan kita.

Ada kalanya Allah mengatur jalan yang berbeda dari rencana kita.
“Anak-anakku,” ucap saya perlahan.
“Berpisah kelas bukan berarti berpisah selamanya. Kalian hanya dipisahkan ruang dan waktu saat belajar. Saat istirahat, saat pulang, kalian masih bisa bertemu, bercanda, dan bersama kembali.” 
Saya melihat beberapa wajah mulai menoleh, mencoba memahami. Saya lanjutkan, bahwa setiap ketentuan yang terjadi pasti mengandung hikmah. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, meski terkadang hati kita belum siap menerimanya. Mungkin dengan susunan kelas yang baru, Allah ingin memperluas pertemanan mereka, melatih keberanian untuk beradaptasi, dan mengajarkan arti ikhlas sejak dini.

Saya katakan pula bahwa perpisahan adalah bagian dari kehidupan. Sejak kecil hingga dewasa, manusia akan terus belajar tentang berpisah dan bertemu kembali dalam bentuk yang berbeda. Sekolah adalah tempat belajar bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar tentang kehidupan, tentang menerima, tentang sabar, dan tentang percaya kepada takdir Allah.

Perlahan suasana mulai mencair. Meski belum sepenuhnya hilang, ketegangan di wajah anak-anak mulai berkurang. Ada yang mulai menyeka matanya, ada yang mengangguk pelan. Saya mengajak mereka untuk saling menyapa teman baru di sebelahnya, meski hanya dengan senyum kecil.

Saya mohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla agar anak-anak ini diberi kelapangan hati, agar tidak menyimpan luka berkepanjangan, dan agar kebersamaan baru yang terbentuk kelak membawa kebaikan. Saya yakin, tidak ada doa yang sia-sia, terlebih doa seorang guru untuk murid-muridnya.

Hari Selasa menjadi pelajaran berharga, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi saya. Bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, melainkan menemani proses tumbuh, termasuk saat anak-anak belajar menerima kenyataan yang tidak selalu manis. Di balik perubahan yang membuat perih, Allah selalu menyimpan rencana yang indah.

Di kelas tujuh G yang baru, saya kembali melanjutkan amanah. Menjadi saksi bahwa dari perpisahan kecil, Allah sedang menyiapkan pertemuan-pertemuan yang lebih luas, lebih dewasa, dan lebih bermakna. Semoga anak-anak ini kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan mampu menerima setiap takdir dengan penuh keimanan. Aamiin.
Cepu, 6 Januari 2026

Senin, 05 Januari 2026

Kejutan

 


Karya: Gutamining Saida

Selasa yang masih menyisakan embun di dedaunan, siswa siswi kelas tujuh dikumpulkan di area outdoor sekolah. Matahari belum sepenuhnya meninggi, sinarnya lembut menembus sela pepohonan, seakan ikut menjadi saksi atas peristiwa yang akan terjadi. Barisan siswa berdiri rapi, seragam mereka tampak kontras dengan hamparan lapangan yang masih basah oleh sisa hujan malam. Beberapa siswa bercanda pelan, namun sebagian lain memilih diam, menunggu dengan rasa penasaran.

Tak lama kemudian, wakil kepala sekolah bidang kurikulum bersama wakil kepala sekolah bidang humas melangkah ke depan. Suasana mendadak hening. Ada aura keseriusan yang terasa, seolah pagi itu bukan sekadar apel biasa. Dengan suara yang tenang namun tegas, disampaikanlah sebuah pengumuman bahwa adanya penambahan kelas dan pelaksanaan rolling kelas bagi siswa kelas tujuh. Kalimat demi kalimat meluncur pelan, namun maknanya mengguncang hati banyak anak kelas tujuh.

Sebagian siswa tampak tertegun. Wajah-wajah polos itu menyimpan beragam rasa kaget, cemas, bahkan takut. Mereka yang selama ini merasa nyaman bersama teman sebangku, teman bercanda, dan teman berbagi bekal, kini harus bersiap menerima perubahan. Perubahan yang tidak mereka minta, tetapi harus mereka jalani.

Menurut agama Islam, perubahan adalah sunnatullah. Allah berfirman bahwa tidak ada satu pun keadaan yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri. Namun, memahami hikmah di balik perubahan sering kali lebih sulit daripada sekadar menerimanya. Itulah yang dirasakan anak-anak pagi itu.

Satu per satu nama siswa mulai disebutkan. Mereka diminta berjalan menuju wali kelas masing-masing, yang telah berdiri berjajar di deretan depan. Langkah kaki kecil itu terdengar pelan di atas tanah lapangan, seolah setiap langkah membawa beban perasaan yang tak terlihat. Ada yang berjalan cepat tanpa menoleh, ada yang melangkah ragu, menoleh ke belakang, mencari wajah teman yang selama ini menemani hari-harinya.

Tiba-tiba, suasana yang tadinya tertib pecah oleh isak tangis seorang siswi. Air matanya mengalir deras. Ia harus berpisah dengan sahabat yang selalu duduk di sampingnya sejak hari pertama masuk sekolah. Tangis itu bukan sekadar tangis anak-anak, melainkan luapan rasa kehilangan. Kehilangan ruang aman, kehilangan tempat berbagi cerita, dan kehilangan rasa “bersama” yang telah terbangun.

Raut wajah sedih pun menyelinap di antara barisan siswa lainnya. Ada mata yang berkaca-kaca, bibir yang digigit menahan tangis, dan kepala yang tertunduk pasrah. Di sudut lain, tampak pula wajah-wajah bahagia. Ada siswa yang tersenyum lebar karena kembali bertemu teman dekatnya dari kelas lain. Ada pula yang merasa bersyukur karena bisa satu kelas dengan teman yang dulu hanya bisa ditemui saat istirahat.

Allah Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya. Tak satu pun perasaan itu luput dari pengawasan-Nya. Tangis dan tawa, sedih dan bahagia, semuanya tercatat rapi dalam catatan amal. Bahkan air mata seorang anak yang jatuh karena perpisahan pun bernilai doa, jika ia berserah dan percaya bahwa Allah sedang menyiapkan kebaikan.

Sementara itu, siswa laki-laki tampak lebih datar. Hampir tak ada ekspresi yang mencolok di wajah mereka. Mereka berdiri tegak, melangkah sesuai arahan, seolah semua baik-baik saja. Bukan berarti mereka tidak merasakan apa-apa, melainkan mereka pandai menyembunyikan perasaan. Sejak kecil, banyak anak laki-laki diajarkan untuk tegar, untuk tidak mudah menunjukkan air mata. Di balik wajah yang tampak biasa saja itu, mungkin ada kegelisahan yang sama, hanya disimpan rapi di dalam hati.

Wali kelas yang berdiri di depan memperhatikan semua itu dengan perasaan haru. Mereka memahami bahwa keputusan rolling kelas bukanlah perkara mudah, baik bagi siswa maupun guru.  Kebijakan ini diambil dengan harapan terbaik adalah agar siswa belajar beradaptasi, memperluas pertemanan, dan membangun karakter yang lebih kuat. Bukankah hidup pun demikian? Kita tidak selalu berada di lingkungan yang sama, bersama orang-orang yang sama. Kadang Allah Subhanahu wata'alla memindahkan kita agar kita belajar tumbuh.

Dalam hati, para wali kelas berdoa. Semoga anak-anak ini diberi kelapangan dada. Semoga Allah menanamkan rasa ikhlas dan sabar di hati mereka. Sebab ikhlas bukan berarti tidak sedih, tetapi tetap melangkah meski hati terasa berat. Sabar bukan berarti tidak menangis, tetapi percaya bahwa setelah tangis ada hikmah yang menunggu.

Sekolah bukan hanya tempat belajar matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan lainnya, tetapi juga tempat belajar kehidupan. Belajar tentang perpisahan, pertemuan, kehilangan, dan penerimaan. Semua itu adalah bekal penting untuk masa depan mereka.

Ketika barisan mulai bubar dan siswa menuju kelas masing-masing, matahari semakin terang. Seolah Allah ingin menyampaikan pesan sederhana bahwa setelah gelap dan sendu, selalu ada cahaya. Setelah tangis, akan ada senyum. Di balik setiap perubahan, selalu tersimpan rencana-Nya yang terbaik.

Anak-anak itu mungkin belum sepenuhnya memahami hikmah hari itu. Suatu saat, ketika mereka dewasa, mereka akan mengingat Selasa pagi di lapangan sekolah adalah sebagai hari ketika mereka pertama kali belajar menerima takdir kecil dalam hidup, dan belajar berserah kepada Allah dengan hati yang sederhana. Semoga kalian segera beradaptasi dan sukses buat kalian semuanya.

Cepu, 6 Januari 2026

Minggu, 04 Januari 2026

Persiapan Hari Pertama Semester Genap



Karya : Gutamining Saida

Semester genap tahun 2026 menjadi momentum yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan ini tidak hanya dirasakan dari suasana sekolah yang kembali ramai setelah masa libur, tetapi juga dari adanya himbauan resmi yang disampaikan oleh Bapak Menteri Pendidikan pada hari pertama masuk sekolah. Himbauan tersebut menjadi arah bersama bagi seluruh satuan pendidikan dalam mengawali semester genap dengan semangat baru, kebersamaan, serta optimisme untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Pada hari pertama masuk sekolah, siswa diajak untuk melaksanakan beberapa kegiatan utama. Kegiatan tersebut meliputi Senam Anak Indonesia Hebat, upacara bendera, berdoa bersama, serta menyanyikan lagu “Hari Baru”. Rangkaian kegiatan ini dirancang bukan semata-mata sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai upaya membangun karakter peserta didik, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan sekolah sejak awal semester.

Seiring dengan beredarnya himbauan tersebut, di berbagai media sosial ramai berseliweran panduan singkat bagi para guru terkait pelaksanaan hari pertama masuk sekolah semester genap. Panduan tersebut disusun secara ringkas dan praktis agar mudah dipahami serta diterapkan oleh seluruh satuan pendidikan. Tujuan utamanya adalah agar pelaksanaan kegiatan berjalan seragam dan selaras dengan kebijakan kementerian, sekaligus mampu menciptakan suasana awal semester yang positif dan membangun.

Sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum turut berperan aktif dalam menyampaikan informasi kepada seluruh guru. Melalui grup resmi sekolah, beliau membagikan pengumuman terkait persiapan hari Senin sebagai hari pertama masuk sekolah setelah liburan. Dalam pengumuman tersebut disertakan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pagi Ceria yang menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan awal semester genap. Selain itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum juga membagikan tautan YouTube berisi lagu “Hari Baru” yang akan dinyanyikan bersama oleh seluruh siswa. Penyampaian informasi ini bertujuan agar seluruh guru memiliki pemahaman yang sama, dapat mempersiapkan diri dengan baik, serta mampu mendampingi siswa secara optimal dalam mengikuti rangkaian kegiatan pada hari pertama masuk sekolah.

Kemendikdasmen secara resmi mengajak seluruh satuan pendidikan, mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk mengawali semester genap dengan kegiatan “Pagi Ceria” dan upacara bendera. Ajakan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik sebagai generasi penerus bangsa yang sehat, berdisiplin, dan berjiwa nasionalis.

Kegiatan Pagi Ceria diawali dengan Senam Anak Indonesia Hebat. Senam ini dirancang dengan gerakan yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik usia peserta didik. Melalui senam bersama, siswa diajak untuk menggerakkan tubuh, menyegarkan pikiran, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jasmani. Selain itu, senam bersama juga melatih kedisiplinan, kekompakan, dan kerja sama antarsiswa maupun antara siswa dan guru.

Setelah kegiatan senam, seluruh warga sekolah mengikuti upacara bendera. Upacara bendera memiliki makna penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, serta penghormatan terhadap jasa para pahlawan. Melalui upacara, siswa diajak untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Pelaksanaan upacara bendera pada hari pertama semester genap menjadi simbol kesiapan seluruh warga sekolah dalam memulai kembali proses pembelajaran dengan semangat dan komitmen yang kuat.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Doa menjadi wujud rasa syukur sekaligus harapan agar seluruh kegiatan pembelajaran di semester genap dapat berjalan dengan lancar, aman, dan membawa keberkahan. Melalui doa bersama, siswa dibimbing untuk menumbuhkan sikap religius, rendah hati, serta kesadaran bahwa setiap usaha perlu diiringi dengan doa dan keikhlasan.

Kegiatan menyanyikan lagu “Hari Baru” menjadi penutup rangkaian Pagi Ceria. Lagu ini dipilih sebagai simbol optimisme dan semangat baru dalam mengawali semester genap. Lirik dan irama lagu diharapkan mampu membangkitkan motivasi siswa untuk menatap hari-hari ke depan dengan sikap positif, penuh harapan, dan percaya diri. Lagu ini juga menjadi pengingat bahwa setiap hari merupakan kesempatan baru untuk belajar, memperbaiki diri, dan meraih prestasi.

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan yang dianjurkan oleh Kemendikdasmen bertujuan untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, kebersamaan, serta optimisme di lingkungan sekolah. Guru memiliki peran strategis dalam menyukseskan pelaksanaan kegiatan ini, tidak hanya sebagai pelaksana teknis, tetapi juga sebagai teladan bagi peserta didik. Keteladanan guru dalam bersikap disiplin, antusias, dan bertanggung jawab akan sangat memengaruhi bagaimana siswa memaknai kegiatan tersebut.

Semester genap tahun 2026 diharapkan menjadi momentum penguatan karakter dan semangat belajar seluruh warga sekolah. Dengan adanya koordinasi yang baik, dukungan pimpinan sekolah, serta kesiapan guru dan siswa, kegiatan hari pertama masuk sekolah dapat berlangsung dengan tertib dan bermakna. Melalui Pagi Ceria dan upacara bendera, diharapkan tercipta suasana sekolah yang kondusif, harmonis, dan penuh semangat untuk menjalani proses pembelajaran di semester genap.

Dengan demikian, semester genap 2026 tidak hanya menjadi kelanjutan dari kalender akademik, tetapi juga menjadi langkah awal yang kuat dalam membangun budaya sekolah yang positif, berkarakter, dan berorientasi pada masa depan bangsa.

Cepu, 4 Januari 2026

Antara Anggan dan Kenyataan


 

Karya: Gutamining Saida

Sudah pernah menikmati bakso iga? Kalau saya pribadi, sejujurnya belum pernah. Selama ini, bayangan tentang bakso iga hanya berputar-putar di kepala, sebatas angan-angan yang terbentuk dari cerita orang dan foto-foto di media sosial. Di benak saya, bakso iga itu pasti berupa potongan iga sapi yang diletakkan begitu saja di dalam mangkuk, berdampingan dengan mie kuning, pentol bakso, bihun, lalu disiram kuah panas yang gurih. Sebuah sajian yang tampak lazim dan tidak jauh berbeda dari bakso pada umumnya hanya saja ditambah iga sapi sebagai pelengkap.

Siang ini anggapan itu runtuh seketika.  Siang ini kami berenam berburu bakso yang sedang viral di media sosial. Entah bagaimana awalnya, satu unggahan muncul, lalu disusul unggahan lain. Komentar demi komentar bermunculan, memuji rasa, harga, dan porsinya. Rasa penasaran pun tumbuh. Bukan sekadar ingin ikut tren, tetapi lebih pada keinginan untuk membuktikan bahwa benarkah bakso ini memang layak diburu?

Ketika kami tiba di warung bakso, suasana sudah ramai. Dari kejauhan terlihat antrean yang cukup panjang. Beberapa orang berdiri sabar, sebagian lainnya duduk di teras depan warung. Penjualnya bahkan hampir tidak terlihat, tertutup oleh banyaknya pembeli dan kesibukan melayani pesanan. Sebagian besar pembeli memilih dibungkus untuk dibawa pulang, mungkin agar bisa dinikmati bersama keluarga di rumah. Sementara pembeli yang ingin makan di tempat, baru bisa masuk ke dalam warung dan duduk lesehan di tikar. 

Pembeli sabar dengan aturan yang ada. Tidak ada keluhan, tidak ada wajah kesal. Justru suasana terasa tertib. Mungkin karena semua orang punya tujuan yang sama yaitu menikmati semangkuk bakso yang katanya istimewa, dengan harga yang terjangkau bahkan bisa dibilang murah.

Pilihan menu terpampang jelas. Ada bakso iga, bakso urat, bakso lava, dan beberapa pilihan lain. Setiap orang bebas memilih sesuai selera. Ada yang mantap memilih bakso iga karena penasaran, ada yang setia dengan bakso urat, dan ada pula yang tertantang mencoba bakso lava yang terkenal dengan sensasi pedasnya. Saya sendiri memperhatikan satu per satu pilihan itu sambil membayangkan rasa dan porsinya.

Ketika pesanan bakso iga bu Wiwik disajikan, saya terdiam sejenak. Ternyata bakso iga tidak seperti yang selama ini saya bayangkan. Iga sapi itu tidak diletakkan begitu saja di dalam mangkuk. Ia dibalut dengan adonan pentol bakso, membungkus daging dan tulangnya. Tulang iga dibiarkan terlihat sebagian, seolah sengaja diperlihatkan sebagai penanda keistimewaan. Akibatnya, pentol bakso itu tampak besar sekali bahkan sangat besar. Sekilas melihatnya saja, saya sudah merasa kenyang.

Mangkuk bakso itu seperti menantang logika perut. “Apa ini bisa dihabiskan?” batin saya bertanya. Kuahnya bening, mengepul, aroma kaldu sapi tercium kuat. Di dalamnya tetap ada mie putih, taoge dan pelengkap lain, namun fokus mata langsung tertuju pada bakso iga raksasa itu. Kami memiliki selera berbeda sehingga pesan bakso yang farian berbeda juga.

Saya perhatikan wajah-wajah di sekitar. Ada yang tersenyum puas begitu mangkuknya datang, ada yang langsung sibuk mengabadikan momen dengan ponsel, dan ada pula yang tertawa kecil melihat ukuran bakso yang tidak biasa. Siang itu, warung bakso tidak hanya menjual makanan, tetapi juga pengalaman.

Saat suapan pertama masuk ke mulut, rasa syukur spontan terucap. Alhamdulillah, enak. Kuahnya gurih, tidak berlebihan. Daging baksonya terasa, tidak didominasi tepung. Iga di dalamnya empuk, mudah dilepaskan dari tulang. Tidak heran jika banyak orang rela antre. Harga yang ditawarkan terasa sepadan, bahkan lebih murah dibanding porsi dan kualitas yang didapatkan.

Saya pun menyadari satu hal penting yaitu rasa nikmat itu bukan hanya soal makanan. Ia hadir karena banyak faktor yang menyertainya. Ada kesehatan yang Allah berikan sehingga kita bisa menikmati. Ada rezeki yang cukup sehingga kita bisa membeli tanpa rasa berat. Ada waktu luang untuk duduk, mengunyah perlahan, dan berbincang. Ada pula kebersamaan yang membuat rasa bakso menjadi berlipat nikmatnya.

Di tengah hiruk pikuk media sosial yang sering memamerkan kemewahan, pengalaman menikmati bakso sederhana ini justru terasa menenangkan. Makanan rakyat, harga terjangkau, rasa yang memuaskan. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang mahal. Terkadang, ia hadir dalam mangkuk bakso hangat di siang hari, ditemani antrean panjang dan senyum orang-orang yang sama-sama menunggu giliran.

Ketika melihat mangkuk mulai kosong, saya kembali berpikir. Benar kata orang, sering kali angan-angan kita berbeda dengan kenyataan. Tidak semua perbedaan berujung kekecewaan. Ada kalanya, kenyataan justru melampaui bayangan. Seperti bakso iga hari ini yang tidak sesuai dengan gambaran di kepala, tetapi justru memberikan pengalaman baru yang mengesankan.

Kami pulang dengan perut kenyang dan hati yang ringan. Viral atau tidak, bakso ini telah memberi pelajaran sederhana yaitu tentang kesabaran saat mengantre, tentang rasa syukur atas nikmat yang ada, dan tentang menikmati hidup apa adanya. Karena selama masih bisa makan dengan lahap dan tersenyum puas setelahnya, itu sudah lebih dari cukup. 

Cepu, 4 Januari 2026

MBG (Makan Bersama Guru-guru)


 

Karya: Gutamining Saida

Sehari sebelum masuk sekolah semester genap, tepatnya hari Minggu, suasana  terasa berbeda. Ada semacam jeda yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan sebelum kembali pada rutinitas mengajar, mendidik, dan membersamai para siswa. Jeda itu tidak diisi dengan tidur panjang atau bepergian jauh, tetapi dengan sesuatu yang sederhana yaitu MBG

MBG di sini bukanlah MBG seperti yang sering terdengar dari program pemerintah. MBG versi kami memiliki kepanjangan yang jauh lebih hangat dan penuh rasa: Makan Bersama Guru-guru.  Memang benar, kata guru-guru sengaja saya tulis dengan tanda hubung, karena yang hadir bukan satu dua orang, melainkan lebih dari dua. Kebersamaan inilah yang justru menjadi inti dari cerita ini.

Semua bermula dari sebuah ajakan sederhana di grup WhatsApp. Bu Wiwik, guru mata pelajaran Bahasa Inggris, menuliskan pesan singkat 
“Jadi nggak nanti?”chats bu Wiwik

Pesan singkat itu seolah mengetuk hati satu per satu anggota grup. Tidak lama, tanggapan pun bermunculan.
“Iya ikut,” jawab Bu Indri.
"Saya ada acara." balas pak Bambang.
"Insya Allah, ikut."chat saya.
“Saya nggak ikut ya?” tulis Bu Isna, dengan gaya khas yang mengundang senyum.
“Lho… gimana kok ....?” timpal Bu Wiwik.

Percakapan sederhana, candaan ringan, namun di situlah terasa keakraban yang Allah tanamkan di antara kami. Bukan semata karena lapar, tetapi karena ada kerinduan untuk bertemu, bercengkerama, dan menguatkan satu sama lain sebelum kembali ke dunia kelas yang penuh dinamika.

Tujuan utama kami siang itu adalah makan bakso bareng. Bakso, makanan rakyat yang sederhana, namun memiliki rasa yang mampu menyatukan banyak orang dari berbagai latar belakang. Di warung bakso itu, pilihan menu begitu menggoda. Ada bakso biasa, bakso urat, bakso kribo, bakso telur, tetelan, iga, lava, hingga urat jumbo. Setiap mangkuk bakso seolah menjadi simbol pilihan hidup yaitu berbeda-beda, namun sama-sama mengenyangkan dan membahagiakan.

Kami memilih sesuai selera masing-masing. Tidak ada paksaan, tidak ada aturan rumit. Yang penting satu yaitu duduk bersama, makan bersama, dan menikmati kebersamaan. Siang itu kami MBG dengan menu pilihan sendiri dan bayar sendiri. Sederhana, mandiri, dan penuh keikhlasan.

Di sela kepulan uap bakso yang hangat, obrolan pun mengalir. Tentang sekolah, tentang murid, tentang keluarga, bahkan tentang harapan di semester genap yang akan segera dimulai. Tawa sesekali pecah, diselingi cerita ringan dan candaan yang membuat hati terasa lapang. Dalam kebersamaan itu, saya merasakan nikmat Allah yang sering kali luput kita sadari.

Betapa tidak, ketika tubuh sehat, menu apa pun terasa nikmat. Bakso yang mungkin biasa saja, hari itu terasa luar biasa. Bukan karena isinya, tetapi karena suasananya. Karena Allah menghadirkan kesehatan, waktu luang, dan teman-teman yang baik. Nikmat ini sungguh patut direnungkan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya diantaranya adalah,
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat ini terlintas kuat di benak saya. Sering kali kita menunggu nikmat besar untuk bersyukur, padahal nikmat kecil yang hadir setiap hari justru lebih banyak jumlahnya. Sehat, bisa makan, bisa tertawa, bisa berkumpul dengan orang-orang baik semua itu adalah nikmat yang jika dihitung satu per satu, niscaya kita tak akan mampu mengingkarinya.

MBG hari itu bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah sumber kekuatan. Sebagai guru, kami sering dituntut untuk kuat di depan siswa. Namun sesungguhnya, kami pun manusia biasa yang membutuhkan penguatan dari sesama. Dalam kebersamaan seperti inilah, hati dikuatkan, semangat diperbarui, dan niat diluruskan kembali.

Saya menyadari, sebelum masuk semester genap, Allah menghadirkan momen ini sebagai bekal batin. Bekal untuk kembali mengajar dengan hati yang lebih lapang, dengan rasa syukur yang lebih dalam. Karena mendidik bukan hanya soal materi pelajaran, tetapi juga tentang menularkan nilai diantaranya adalah kebersamaan, keikhlasan, dan rasa syukur.

Ketika akhirnya kami beranjak pulang, perut kenyang dan hati pun hangat. Tidak ada kemewahan, tidak ada acara besar. Justru dalam kesederhanaan itulah, nikmat Allah terasa begitu dekat. MBG telah usai, tetapi maknanya tinggal dan mengendap dalam hati.

Semoga kebersamaan kecil seperti ini terus Allah jaga. Semoga kami, para guru, selalu diberi kesehatan, keikhlasan, dan kekuatan dalam menjalankan amanah. Semoga kami tidak termasuk golongan orang-orang yang mendustakan nikmat-Nya, sekecil apa pun nikmat itu. Aamiin.

Cepu, 4 Januari 2026