Selasa, 01 April 2025

Cobaan Membawaku Mendekat

Karya : Gutamining Saida 
Manusia hidup di dunia tidak akan pernah terlepas dari ujian dan cobaan. Setiap orang pasti memiliki kisahnya sendiri dalam menghadapi berbagai peristiwa yang mengguncang hati dan perasaan. Demikian juga dengan saya. Ujian demi ujian datang silih berganti, seolah tanpa jeda.  Saya yakin bahwa semua ini adalah bagian dari perjalanan hidup yang telah Allah Subhanahu Wata'ala tetapkan untuk saya. Tidak ada satu pun ujian yang tertukar, karena semuanya telah diukur sesuai dengan kemampuan masing-masing hamba-Nya.

Dulu saya merasa hidup saya cukup nyaman. Kesibukan duniawi begitu menyita waktu dan perhatian. Pagi hingga malam, saya berlarian mengejar kewajiban, memenuhi tugas-tugas dunia yang seolah tak pernah habis. Saya merasa bahagia dengan pencapaian yang saya raih. Tanpa saya sadari, perlahan-lahan saya mulai menjauh dari-Nya. Waktu-waktu yang dahulu sering saya habiskan untuk bermunajat, kini semakin jarang saya lakukan. Sepertiga malam yang dulu menjadi tempat saya mengadu, kini tergantikan oleh lelah yang membawa saya terlelap.

Kemudian, datanglah ujian. Sebuah cobaan yang mengguncang dan menyadarkan saya dari kelalaian. Saya merasa seolah dunia runtuh, dan tidak ada yang bisa saya jadikan tempat bersandar. Saya mencoba mencari solusi dengan kekuatan sendiri, namun semakin saya berusaha, semakin saya merasa terjebak dalam lingkaran yang sama. Saya merasa kehilangan arah, bingung, dan tak berdaya.

Di titik inilah, saya mulai menyadari bahwa saya telah jauh dari Allah Subhanahu Wata'ala. Ujian ini adalah panggilan lembut dari-Nya, mengajak saya kembali mendekat. Saya teringat firman Allah dalam Al-Qur'an:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman', dan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)

Saya pun mulai kembali menghidupkan malam-malam saya dengan munajat. Saya menangis di hadapan-Nya, mengadukan segala kesedihan dan ketakutan yang menghantui hati. Saya membaca kembali ayat-ayat-Nya, mencoba menemukan ketenangan dalam kalam suci-Nya. Dan perlahan-lahan, saya mulai merasakan kedamaian yang selama ini hilang. Saya menyadari bahwa ujian ini bukanlah hukuman, melainkan cara Allah untuk mengembalikan saya kepada jalan yang benar.

Sejak saat itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi menjauh. Saya ingin selalu dekat dengan-Nya, tidak hanya ketika dalam kesulitan, tetapi juga dalam setiap kebahagiaan yang saya rasakan. Saya ingin menjadikan sepertiga malam sebagai waktu terindah, di mana saya bisa berbicara dengan Allah Subhanahu Wata'ala tanpa gangguan. Saya ingin menjadikan doa sebagai kekuatan utama dalam menghadapi setiap ujian yang datang.

Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Justru sering kali, kita sendirilah yang menjauh tanpa sadar. Dia selalu memberikan jalan untuk kembali, entah melalui kesulitan, kehilangan, atau ujian yang menyesakkan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi cobaan tersebut. Apakah kita akan tenggelam dalam kesedihan, atau justru menjadikannya sebagai jembatan untuk semakin mendekat kepada-Nya?

Sekarang, saya bersyukur atas setiap ujian yang datang. Saya ridho dengan segala takdir yang telah ditentukan untuk saya. Sebab saya yakin, Allah Subhanahu Wata'ala tidak akan membebani saya di luar kemampuan. Setiap air mata yang jatuh, setiap doa yang terucap, setiap sujud yang dilakukan, semuanya akan menjadi saksi di hadapan-Nya kelak. Saya berdoa agar bisa terus istiqamah, agar tidak kembali terlena dalam kesibukan duniawi yang bisa menjauhkan saya dari-Nya.

Mungkin saat ini, saya belum sepenuhnya pulih dari cobaan yang saya alami. Namun, saya merasa lebih kuat dari sebelumnya. Saya percaya bahwa setelah kesulitan, pasti akan ada kemudahan. Seperti janji Allah Subhanahu Wata'ala dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)

Saya akan terus melangkah dengan keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata'ala selalu bersama saya. Setiap langkah yang saya ambil, saya ingin selalu dalam ridha-Nya. Saya ingin setiap ujian yang datang tidak lagi menjadi beban, tetapi justru menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada-Nya.  Kini saya tersenyum. Bukan karena ujian itu telah usai, tetapi karena saya tahu, saya tidak pernah sendirian dalam menghadapinya. Allah Subhanahu Wata'ala selalu ada, mendengar setiap doa, melihat setiap usaha dan memberikan ketenangan bagi siapa pun yang kembali kepada-Nya dengan hati yang penuh keikhlasan.
Cepu, 2 April 2025 



Jumat, 28 Maret 2025

Hikmah Menjengguk Bu Eli

Karya: Gutamining Saida

Saya bersama empat ibu-ibu berangkat menuju rumah sakit untuk menjenguk teman. Bu Eli teman kami yang sedang sakit. Kami mendengar bahwa Bu Eli habis dioperasi dan dirawat membuat kami merasa perlu segera menjenguknya. Kami sebagai perwakilan atas nama keluarga besar esmega. Kami tidak membawa buah tangan berupa makanan atau minuman, hanya sebuah amplop sebagai tanda kepedulian dan doa agar Bu Eli lekas sembuh.

Sesampainya di rumah sakit kota Bojonegoro, kami berjalan melewati lorong-lorong. Suasana rumah sakit selalu menghadirkan rasa haru, melihat orang-orang yang sedang berjuang melawan penyakit mereka. Suara perawat yang sibuk bekerja, bau khas rumah sakit, serta wajah-wajah penuh harapan di setiap sudut mengingatkan kami bahwa sehat adalah anugerah yang sangat berharga.

Saat kami sampai di depan kamar perawatan Bu Eli. Kami melirik ke dalam sebelum membuka pintu. Tak seperti kebanyakan pasien yang ditemani keluarganya, Bu Eli hanya sendirian. Tidak ada sanak saudara atau kerabat yang menemaninya. Hanya ada segelas susu, buah, air mineral di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Hati kami langsung terasa nyeri melihatnya dalam keadaan seperti itu. Bu Eli terbaring di tempat tidur hanya ditemani televisi untuk menghilangkan kesunyian.

Begitu melihat kami masuk, Bu Eli tersenyum lemah. Wajahnya tampak pucat, tapi matanya berbinar seakan bahagia karena ada yang datang menemuinya.

"Masya Allah, kalian datang!" katanya dengan suara pelan tetapi penuh kehangatan.

Kami segera mendekat dan duduk di sekitar tempat tidurnya. Kami saling berjabat tangan bergantian, menggenggam tangannya dengan lembut.

"Bagaimana kabarnya, Bu Eli?" tanya bu Yanti.

Bu Eli tersenyum tipis. "Alhamdulillah, sedikit lebih baik. Tapi masih harus banyak istirahat."

Kami melirik sekeliling kamar, memastikan apakah ada keluarganya di luar. Tidak ada. Hanya kesunyian yang terasa.

"Bu Eli, kenapa sendirian? Mana keluarga?" tanya Bu Fitri dengan lembut.

Bu Eli menarik napas pelan. "Suamiku kemarin pulang. Anak-anak di rumah Cepu. Mereka bilang akan datang, tapi mungkin belum bisa saat ini. Sejak kemarin, aku hanya ditemani perawat yang sesekali masuk untuk mengecek kondisiku."

Kami semua terdiam. Ada perasaan haru yang menyelimuti hati kami.

"Apa selama ini keluarga tidak ada yang datang menjenguk?" tanya Bu Isna pelan.

Bu Eli menggeleng. "Tidak ada. Tapi tidak apa-apa, aku mengerti. Mereka pasti sibuk."

Saya merasakan dada sesak. Sungguh, tak bisa dibayangkan bagaimana rasanya sakit dan sendirian di rumah sakit tanpa ada keluarga yang menemani. Rasa sepi dan rindu pasti bercampur menjadi satu.

Bu Ning menggenggam tangan Bu Eli erat. "Bu Eli, sekarang kami di sini. Anggap saja kami keluarga. Kami akan mendoakan selama yang kami bisa."

Air mata Bu Eli tampak menggenang, tapi ia cepat-cepat tersenyum. "Terima kasih. Kehadiran kalian benar-benar menghangatkan hatiku."

Kami pun mengobrol ringan untuk menghiburnya. Bu Eli bercerita tentang awal sakitnya, bagaimana ia mulai merasa linu hingga akhirnya harus dioperasi. Ia mengaku sangat merindukan hari-hari sehatnya, saat bisa beraktivitas bebas tanpa harus bergantung pada orang lain.

"Ternyata sakit itu benar-benar ujian," katanya lirih. "Saya baru sadar betapa berharganya bisa berjalan tanpa rasa sakit, bisa makan tanpa kesulitan, bisa tidur nyenyak tanpa harus terbangun karena nyeri. Dulu, hal-hal kecil itu saya anggap biasa saja. Sekarang saya sadar bahwa sehat adalah nikmat yang sering terlupakan."

Kami semua mengangguk setuju. Memang benar, ketika sehat kita sering kali lupa bersyukur kapada Allah Subhanahu Wata’alla. Saat tubuh diuji, kita menyadari betapa berharganya kesehatan.

Bu Ning kemudian berkata, "Itulah sebabnya kita harus selalu bersyukur. Kadang kita baru menyadari nikmat saat sudah kehilangannya. Sehat itu mahal, Bu Eli, dan sakit ini mungkin cara Allah Subhanahu Wata’alla mengingatkan kita untuk lebih mendekat kepada-Nya."

Bu Eli mengangguk pelan. "Iya, selama di sini aku jadi lebih banyak berdoa, lebih banyak mengingat Allah. Aku sadar bahwa sakit ini bukan hanya cobaan, tapi juga jalan untuk semakin dekat kepada-Nya."

Kami pun menghiburnya dengan kata-kata semangat dan doa. Sebelum berpamitan, kami menyerahkan amplop yang sudah kami siapkan.

"Ini sedikit bantuan dari keluarga esmega, Bu Eli. Semoga bisa membantu keperluan selama di rumah sakit," kata Bu Yanti.

Bu Eli tampak terharu. Ia menggenggam amplop itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih banyak. Bukan hanya karena ini, tapi karena kalian sudah datang, sudah menyempatkan waktu untuk menjengukku. Kehadiran kalian lebih berharga dari apa pun."

Kami semua tersenyum dan menggenggam tangannya satu per satu sebelum berpamitan. Saat berjalan keluar kamar, kami merasa lega bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada Bu Eli.

Di lorong rumah sakit, aku melihat banyak pasien lain. Beberapa hanya ditemani perawat, beberapa tampak termenung menatap langit-langit. Pemandangan itu membuat hatiku semakin sedih.

Di depan rumah sakit, kami berlima duduk sejenak. Banyak motor terparkir dan mobil-m0bil berjajar sepanjang jalan. Tempat parkir penuh.

"Aku jadi berpikir, kita harus lebih sering menjenguk orang sakit," kata Bu Fitri.

"Iya," sahut Bu Ning. "Menjenguk bukan hanya untuk mereka, tapi juga untuk kita sendiri. Agar kita bisa belajar bersyukur dan tidak menyia-nyiakan kesehatan."

"Kita juga harus lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita," tambah Bu Isna. "Mungkin ada tetangga atau saudara yang sakit, tapi tak ada yang menemani. Jangan sampai mereka merasa sendirian."

Kami semua mengangguk setuju. Dengan perasaan penuh hikmah, kami pun melangkah pulang, membawa pelajaran berharga dari kunjungan hari ini. Saya berjanji dalam hati, mulai sekarang akan lebih sering menjenguk orang sakit, bukan hanya sebagai bentuk kepedulian, tapi juga sebagai pengingat bahwa sehat adalah anugerah yang tak boleh disia-siakan. Salam selat.

Cepu, 28 Maret 2025

 



 

Amplop di Bulan Suci

Karya: Gutamining Saida

Selepas tarawih di musala, saya berjalan pulang dengan hati yang tenteram. Udara Ramadan begitu sejuk, bulan bersinar terang dan suara tadarus masih menggema di kejauhan. Dalam perjalanan menuju kamar, saya merasakan ada yang mengikuti dari belakang.

Saya menoleh sekilas dan benar saja, anak perempuan saya dengan senyum yang tersungging di bibirnya, berjalan mendekati saya. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di tangannya dan tatapan matanya penuh makna.

Sesampainya di kamar sebelum saya sempat bertanya. Dia menyelipkan sebuah amplop putih ke tangan saya dengan gerakan cepat.

"Ini untuk Umi. Tidak boleh ditolak. Titik!" katanya tegas, lalu segera berbalik dan pergi ke kamarnya.

Saya hanya terpaku, memandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak. Apa yang sedang anakku lakukan? Kenapa harus ada amplop dan kenapa harus dengan kata-kata seperti itu?

Dengan hati yang berdebar, saya duduk di tepi tempat tidur, memegang amplop putih itu dengan jemari yang sedikit gemetar. Rasanya amplop itu cukup tebal. Seakan berisi sesuatu yang sangat berarti.

Saya menarik napas dalam-dalam, lalu mulai membuka lipatan kertas yang ada di dalamnya. Begitu mata saya menangkap deretan tulisan tangan yang sudah tak asing, air mata langsung menggenang di pelupuk.

Membaca surat itu, dada saya terasa sesak oleh haru. Air mata jatuh tanpa bisa saya tahan, membasahi pipi yang sudah berkerut oleh usia. Saya membaca pelan-pelan dengan meresapi maknanya. 

Saya melirik ke dalam amplop dan menemukan sejumlah uang. Anak saya telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk saya. Ini bukan tentang jumlahnya, tetapi tentang ketulusan yang saya rasakan begitu mendalam.

Saya terisak, bukan karena jumlah uang yang diberikan, tetapi karena rasa syukur yang meluap-luap dalam hati. Allah Subhanahu Wata’alla telah memberikan anak-anak yang bukan hanya tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, tetapi juga penuh kasih sayang.

Saya ingin langsung menemuinya, memeluknya erat dan mengatakan bahwa saya bangga padanya. Saya tahu, jika saya lakukan itu sekarang, mungkin dia akan malah menangis juga.

Saya hanya duduk diam dalam kamar, merenungi betapa besar nikmat yang Allah Subhanahu Wata’alla berikan kepada saya. Saya tidak pernah meminta balasan atas apa yang telah saya lakukan untuk anak-anak. Allah Subhanahu Wata’alla membalasnya dengan cara-Nya yang indah. Allah Subhanahu Wata’alla lewatkan hati dan kasih sayang anak-anak tercinta.

Saya sujud syukur dalam doa yang lebih lama dari biasanya. Saya meminta kepada Allah Subhanahu Wata’alla agar selalu menjaga anak-anak saya, memberikan mereka kebahagiaan, melindungi mereka dari segala kesulitan dan menjadikan mereka anak-anak yang istiqamah di jalan-Nya.

Ketika saya bangkit dari sujud, hati saya terasa lebih ringan, lebih penuh dengan rasa syukur. Ramadan ini terasa begitu istimewa, bukan karena materi, tetapi karena cinta yang terjalin dalam keluarga kami.

Saya akan melihat anak saya dengan senyum yang berbeda. Senyum seorang ibu yang bangga, yang bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata’alla dan yang merasa dicintai dengan begitu tulus.

Saya sengaja mengabadikan momen ini dalam tulisan bukan maksud pamer. Melainkan sebagai kenangan, menginspirasi generasi akan datang. Semoga catatan ini bukan sekedar catatan pribadi tapi sebagai dorongan bagi siapapun yang membaca untuk selalu mengingat, menghormati dan membahagiakan orang tua selagi kesempatan itu masih ada. Semoga anak-anakku menjadi anak sholeh dan sholehah. Aamiin.

Cepu. 28 Maret 2025


 

Kamis, 27 Maret 2025

Materi IPS kelas VII

 Jodohkan pernyataan di Kolom A dengan jawaban yang sesuai di Kolom B.

Kolom A (Pernyataan)Kolom B (Jawaban)
1. Permintaan adalah...A. Harga yang terbentuk ketika jumlah barang yang diminta sama dengan jumlah barang yang ditawarkan.
2. Penawaran adalah...B. Jumlah barang atau jasa yang ingin dibeli konsumen pada tingkat harga tertentu.
3. Harga keseimbangan adalah...C. Jumlah barang atau jasa yang ingin dijual produsen pada tingkat harga tertentu.
4. Faktor utama yang memengaruhi permintaan adalah...D. Harga barang itu sendiri.
5. Faktor utama yang memengaruhi penawaran adalah...E. Harga barang yang ditawarkan.
6. Jika harga suatu barang naik, maka permintaan akan...F. Menurun.
7. Jika harga suatu barang naik, maka penawaran akan...G. Meningkat.
8. Hukum permintaan menyatakan bahwa...H. Jika harga turun, permintaan akan naik, dan jika harga naik, permintaan akan turun.
9. Hukum penawaran menyatakan bahwa...I. Jika harga naik, penawaran akan naik, dan jika harga turun, penawaran akan turun.
10. Faktor yang dapat meningkatkan permintaan adalah...J. Peningkatan pendapatan masyarakat.
11. Faktor yang dapat meningkatkan penawaran adalah...K. Kemajuan teknologi dalam produksi.
12. Jika harga suatu barang berada di atas harga keseimbangan, maka terjadi...L. Surplus atau kelebihan barang.
13. Jika harga suatu barang berada di bawah harga keseimbangan, maka terjadi...M. Kekurangan barang (shortage).
14. Perubahan selera konsumen dapat memengaruhi...N. Permintaan suatu barang atau jasa.
15. Faktor eksternal yang memengaruhi permintaan adalah...O. Iklan dan promosi produk.
16. Biaya produksi yang meningkat akan menyebabkan...P. Penawaran barang menurun.
17. Jika harga barang substitusi meningkat, maka permintaan barang utama akan...Q. Meningkat.
18. Jika harga barang komplementer meningkat, maka permintaan barang utama akan...R. Menurun.
19. Jika pemerintah memberikan subsidi kepada produsen, maka penawaran akan...S. Bertambah.
20. Jika terjadi bencana alam yang merusak bahan baku, maka penawaran akan...T. Berkurang.

Materi Agama Islam Kelas VII

 

Petunjuk:

Jodohkan pernyataan di Kolom A dengan jawaban yang sesuai di Kolom B.

Kolom A (Pernyataan)Kolom B (Jawaban)
1. Gibah adalah...A. Memeriksa atau mencari kejelasan suatu informasi sebelum mempercayainya.
2. Tabayun adalah...B. Menceritakan keburukan orang lain yang benar terjadi tanpa sepengetahuan orang tersebut.
3. Salah satu dampak negatif gibah adalah...C. Menyebabkan perpecahan dan permusuhan dalam masyarakat.
4. Orang yang suka gibah disebut...D. Penyebar fitnah atau penggunjing.
5. Hukum gibah dalam Islam adalah...E. Haram, kecuali dalam keadaan darurat seperti memberikan kesaksian di pengadilan.
6. Perintah untuk bertabayun terdapat dalam surat...F. Al-Hujurat ayat 6.
7. Lawan dari gibah adalah...G. Menjaga lisan dan berkata yang baik.
8. Salah satu cara menghindari gibah adalah...H. Mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih bermanfaat.
9. Jika mendengar berita yang belum jelas kebenarannya, kita harus...I. Bertabayun atau mencari klarifikasi lebih dahulu.
10. Orang yang tidak bertabayun dalam menerima berita bisa menyebabkan...J. Penyebaran hoaks dan kesalahpahaman.
11. Dampak positif tabayun dalam kehidupan bermasyarakat adalah...K. Mencegah kesalahpahaman dan menjaga persatuan.
12. Gibah sering dilakukan ketika...L. Seseorang membicarakan keburukan orang lain tanpa manfaat yang jelas.
13. Berita hoaks banyak menyebar karena...M. Kurangnya sikap tabayun dan terlalu cepat menyebarkan informasi.
14. Seseorang yang bertabayun sebelum berbicara akan...N. Terhindar dari dosa menyebarkan fitnah dan menjaga keharmonisan.
15. Gibah bisa menjadi dosa besar jika...O. Dilakukan dengan niat jahat untuk menjatuhkan orang lain.

Kehebohan di grup TPG Esmega

 Karya: Gutamining Saida

Sekitar pukul 14.23 WIB, suasana di grup TPG Esmega mulai ramai. Beberapa hari terakhir, grup ini memang terasa sunyi. Tidak ada percakapan seru seperti biasanya, hanya sesekali ada pesan informasi resmi yang langsung tenggelam tanpa tanggapan.

Tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul dari Bu Wiwik yaitu "TPG Klunting."

Pesan itu hanya terdiri dari dua kata yang tampak sederhana, namun efeknya luar biasa. Seketika, notifikasi mulai berdatangan. Anggota grup yang biasanya pasif tiba-tiba ikut berkomentar.

"Alhamdulillah!" komen bu Indri

"Alhamdulillah!" komen bu Sus

"Alhamdulillah!" komen bu Endang

"Serius nih? Sajen ne bisa ambil di Sambong.”ujar pak Jum

“Gak usah ikut-ikut.” Jawab bu Sus

"Wah, akhirnya! Sudah lama ditunggu!"komen pak Di

“Puji Tuhan.” Komen Miss Lee

Balasan demi balasan terus berdatangan. Grup yang sebelumnya sunyi mendadak menjadi ramai. Seakan pesan singkat dari Bu Wiwik itu menjadi pemantik semangat yang luar biasa bagi semua anggota.

Beberapa anggota bahkan mengirimkan stiker dan emoji bahagia. Ada yang mengirim gambar orang berjoget. Ada pula yang mengirim meme bertuliskan "Akhirnyaaa cair juga!"

"Bu Wiwik, ini sudah masuk rekening?" tanya salah satu anggota.

"Hehehe, cek aja sendiri di rekening masing-masing," balas Bu Wiwik dengan nada bercanda.

Kami semua tertawa membaca balasan itu. Beberapa anggota langsung buru-buru membuka aplikasi mobile banking untuk mengecek apakah benar dana TPG (Tunjangan Profesi Guru) sudah masuk. Ada yang mengabarkan saldo mereka masih kosong, sementara yang lain sudah memastikan dana benar-benar cair.

"Yes! Sudah masuk! Alhamdulillah!" tulis salah satu anggota dengan penuh semangat.

"Wah, akhirnya kita bisa bernapas lega!"

"Bu Wiwik memang paling bisa bikin heboh!"

Beberapa anggota grup yang biasanya hanya menjadi 'silent reader' juga mulai muncul. Bahkan, ada satu anggota yang biasanya tidak pernah terlihat aktif di grup tiba-tiba berkomentar:

"Saya baru buka HP Ada apa ini?"

Sontak, anggota lain langsung menggoda.

"Hahaha, akhirnya muncul juga!"

"Biasanya tidak pernah komentar, sekarang ikut heboh juga ya!"

Canda tawa semakin memenuhi ruang obrolan. Grup yang beberapa hari lalu terasa dingin kini berubah menjadi ajang bercanda dan berbagi kebahagiaan.

Di sela-sela euforia itu, ada juga yang mulai menanyakan untuk P3K ? Harapannya klunting bersama. Merasa bahagia bersama.

“Aamiin." Komen bu Indri

“Alhamdulillah detik-detik libur cair.”komen bu Chus

“PPG 2024 harap bersabar bu Wiwik.” Komen bu Sry

“Barang siapa sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar, niscaya Allah Subhanahu Wata’alla akan mudahkan kesabaran baginya, sabar itu Cahaya bu Sry.” jawab bu Wiwik

“Tak barengi.”ujar bu Nikmah

Semua anggota grup tambak saling menguatkan, membahagiakan. Saya bersyukur berada ditengah-tengah mereka, banyak hal yang bisa saja dapatkan di grup keluarga Esmega.

Tak terasa, obrolan di grup berlangsung lebih dari satu jam. Kehebohan ini benar-benar membawa suasana baru di grup WhatsApp yang sebelumnya terasa hening.

Bu Wiwik yang awalnya hanya ingin menyampaikan informasi singkat ternyata tanpa sengaja berhasil menciptakan gelombang kebahagiaan di antara anggota grup.

"Bu Wiwik, pesan singkatmu hari ini sungguh legendaris! Mungkin ini chat paling bersejarah di grup!" tulis salah satu anggota dengan candaan.

Bu Wiwik hanya membalas dengan emoji tertawa.

Berkat dua kata singkat "TPG Klunting," grup WhatsApp kami kembali hidup, penuh canda, tawa, dan kebersamaan. Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, hanya dengan pesan sederhana, kebersamaan bisa kembali terjalin dengan hangat. Semoga selalu terjalin kekeluargaan yang erat saklawase. Aamiin.

Cepu, 28 Maret 2025

 

 


Senin, 24 Maret 2025

Tempe Godong Jati

 


Karya: Gutamining Saida

Saya memutuskan untuk berjalan kaki sendirian menikmati udara segar. Biasanya, suasana masih sepi dan belum banyak orang beraktivitas. Kali ini saya pulang agak siang sekitar pukul 08.00 WIB. Jalanan sudah mulai ramai, rumah-rumah pun banyak yang membuka pintunya, menandakan bahwa hari benar-benar telah dimulai aktivitas.

Saat melewati sebuah lorong tempat yang biasa menjadi lokasi penjual berhenti. Penjual tempe, tahu, dan brambang dan lain sebagainya. Saya melihat beberapa orang sedang berbelanja. Saya mengenali salah satu dari mereka yaitu Bu Eli, seorang kenalan yang selama ini saya tahu sebagai orang yang murah senyum dan suka berbagi.

Bu Eli sedang memegang dua bungkus tempe. Tempe memang makanan yang umum di daerah kamidan uniknya. Di Cepu tempe memiliki berbagai macam bungkus. Ada yang dibungkus dengan plastik, ada yang menggunakan daun pisang, dan ada juga yang memakai daun jati. Setiap bungkus memiliki keunikan tersendiri. Bungkus plastik lebih praktis dan tahan lama, tetapi tempe yang dibungkus daun pisang atau daun jati memiliki aroma khas yang lebih sedap saat dimasak.

Saya menyapa Bu Eli dengan ramah, sekadar bertanya kabar dan berbasa-basi seperti biasanya. Selanjutnya membuat saya bingung. Tanpa banyak bicara, Bu Eli tiba-tiba mengulurkan dua bungkus tempe yang dipegangnya kepada saya.

Saya kaget dan langsung berusaha menolak dengan halus. "Wah, saya masih punya stok tahu dan tempe di rumah, Bu. Baru kemarin saya beli di pasar." Bu Eli hanya tersenyum dan berkata singkat, "Ini buat Umi. Mosok tidak mau terima?"

Saya terdiam sejenak. Ada perasaan sungkan, tetapi juga terselip rasa haru. Saya menyadari bahwa ini bukan sekadar pemberian biasa, melainkan sebuah bentuk kebaikan yang tulus. Mungkin bagi Bu Eli, dua bungkus tempe ini tidak seberapa, tetapi bagi saya, ada makna yang lebih dalam di baliknya.

Akhirnya, saya menerima tempe itu dengan penuh syukur. Saya menghormati niat baik Bu Eli dan menganggapnya sebagai rezeki dari Allah Subhanahu Wata’alla yang diberikan melalui tangan orang baik. “Saya terima ya.”ucap saya singkat.

Dengan perasaan campur aduk yaitu antara bahagia, terharu, dan sedikit malu. Tak lupa ucapkan terimakasih pada bu Eli saat akan melanjutkan langkah kaki. Saya melanjutkan jalan kaki menuju rumah. Di tangan saya, ada sebuah kantong plastik berisi tempe yang diberikan dengan penuh keikhlasan.

Dalam perjalanan, saya bertemu dengan seorang tetangga yang juga sedang berjalan kaki. Ia menyapa saya lebih dulu. Saya pun membalas sapaan itu dengan ramah. Tiba-tiba, terlintas dalam pikiran saya untuk meneruskan kebaikan yang baru saja saya terima. Saya ingin berbagi, sebagaimana Bu Eli baru saja berbagi dengan saya.

Saya lalu mengulurkan tempe itu kepada tetangga saya dan berkata, "Ini ada tempe, silakan diambil. Saya baru saja diberi, dan saya ingin berbagi juga." Tetangga saya tampak terkejut, lalu tersenyum. "Wah, terima kasih, tapi saya tidak mau ambil semua. Satu saja cukup."

Saya tersenyum dan menyerahkan satu bungkus tempe kepadanya. Ada rasa lega dan bahagia yang menghangatkan hati saya. Malaikat sudah membagikan rezeki kepada semua manusia, termasuk saya, dalam bentuk tempe. Dan kini, saya juga telah ikut menjadi bagian dari rantai kebaikan itu.


Makna Di Balik Pohon Pepaya

Karya: Gutamining Saida

Sering kali, hal-hal sederhana di sekitar kita tampak biasa saja. Bahkan mungkin dianggap tidak berarti. Bagi saya, ada momen-momen tertentu yang membuat sesuatu yang sederhana menjadi sangat istimewa dan penuh makna. Salah satunya adalah pengalaman saya dengan sebuah pohon pepaya.

Semua bermula ketika saya mampir ke rumah seorang teman kantor setelah jalan-jalan pagi. Beliau adalah guru senior di SMPN 3 Cepu, sosok yang sangat berdedikasi dan memiliki banyak pengalaman dalam dunia pendidikan. Saya cukup sering berbincang dengannya dan setiap percakapan selalu memberikan wawasan serta inspirasi baru.

Kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ketika saya tiba di rumahnya, saya disambut dengan suasana asri. Meski lahannya tidak terlalu luas, beliau berhasil mengelola pekarangannya dengan sangat baik. Ada berbagai jenis tanaman tumbuh di sana. Mulai dari pepaya, terong, cabai, kemangi, dan masih banyak lagi. Saya begitu kagum melihat bagaimana lahan yang terbatas bisa dimanfaatkan untuk berkebun. Bukan hanya sebagai hobi, tetapi juga sebagai bentuk kemandirian dalam memenuhi kebutuhan dapur.

Kami pun mengobrol panjang tentang kegiatan berkebun, manfaat menanam sendiri, hingga bagaimana cara merawat tanaman agar tetap subur. Saya merasa sangat nyaman berbicara dengannya, karena selain memiliki wawasan luas, beliau juga orang yang sangat ramah dan tulus.

Ketika saya hendak pamit pulang, tiba-tiba beliau mencabut pohon papaya. Beliau menyodorkan pohon papaya kepada saya. Pohon pepaya kecil dan Beliau kemudian mencari tas kresek kecil. Awalnya saya terkejut, karena tidak menyangka akan mendapat buah tangan yang begitu unik. "Ini untuk njenengan, tanam di rumah, semoga tumbuh subur dan berbuah lebat," katanya sambil tersenyum.

Saya terdiam sejenak. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Bagi sebagian orang, mungkin pohon pepaya ini hanyalah tanaman biasa. Bagi saya, ini adalah sebuah simbol kebaikan, persahabatan, dan rezeki yang tidak terduga. Rezeki tak terduga adalah segala bentuk pemberian yang datang tanpa direncanakan atau diharapkan sebelumnya. Rezeki tidak selalu berupa uang atau benda. Setiap kebaikan yang datang pada kita adalah rezeki dari Allah Subhanahu Wata’alla.

Tidak semua orang yang mampir ke rumahnya akan diberi pohon pepaya. Itu berarti, pemberian ini bukan sekadar hadiah, tetapi ada makna lebih dalam di baliknya. Mungkin ini adalah bentuk kepercayaan dan rasa sayang dari seorang teman yang ingin berbagi sesuatu yang bermanfaat. Jika sudah menjadi rezeki kita, maka ia tidak akan tertukar.

Saat perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Ada sedikit rasa canggung dan senang. Sepanjang perjalanan banyak yang melihat dan menanyakan. Beberapa tetangga yang berpapasan sedikit melirik kantong kresek saya.  Ada yang langsung bertanya dengan nada penasaran. “Bawa apa bu?”Dari mana?” Saya tersenyum dan menjawab ringan. “ Pohon papaya, tadi diberi teman.” Di gang dua bebpapasan dengan bapak-bapak spontan berkata, ”wah, bawa papaya bu?Nanti bila sudah berbuah jangan lupa berbagi ya!” Sayaa tersenyum dan menjawab, “Insya Allah, nanti datang ke rumah kalau sudah berbuah ya.”

Saya merasa beruntung bisa mengalami kejadian ini. Setiap kali melihat pohon pepaya di halaman rumah saya, saya selalu teringat akan kebaikan teman saya. Saya pun bertekad untuk merawatnya dengan baik hingga tumbuh besar dan berbuah lebat.Kelak, ketika pohon ini mulai menghasilkan buah, saya ingin membagikannya kepada orang lain. Saya ingin meneruskan kebaikan yang sudah diberikan kepada saya, sebagaimana teman saya melakukannya untuk saya.

Karena pada akhirnya, kebaikan itu seperti sebuah tanaman yaitu jika dirawat dengan baik, ia akan tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Semoga menginspirasi

Cepu, 25 Maret 2025

 


 

Minggu, 23 Maret 2025

Takdir Yang Tertulis

Karya: Gutamining Saida

Bimtek di DPK Kabupaten Blora kali ini membuat saya melayang jauh ke masa lalu, ke puluhan tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA. Saat itu, ada satu mimpi yang sering terlintas dalam benak saya yaitu ingin kuliah dan bekerja di perpustakaan. Saya membayangkan diri saya dikelilingi oleh rak-rak buku yang tertata rapi, menyelami dunia literasi setiap hari, dan membantu orang lain menemukan buku yang mereka butuhkan. Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa mimpi itu perlahan memudar dan berganti dengan kenyataan hidup yang berbeda.

Saya berasal dari keluarga guru. Sejak kecil, dunia pendidikan sudah begitu akrab bagi saya. Orang tua saya, yang juga seorang pendidik, selalu menanamkan nilai-nilai pentingnya belajar dan berbagi ilmu. Namun, meskipun mereka sangat mendukung pendidikan, pilihan karier saya tetap terbatas dalam lingkup yang mereka anggap lebih realistis dan sesuai dengan kondisi keluarga.

Saat itu, informasi tentang dunia perpustakaan masih sangat terbatas, terutama bagi anak-anak desa seperti saya. Di sekitar tempat tinggal saya, perpustakaan bukanlah sesuatu yang mudah dijangkau. Hanya ada perpustakaan sekolah, yang koleksi bukunya terbatas, atau perpustakaan kabupaten yang jaraknya cukup jauh dari desa saya. Tidak ada internet untuk mencari informasi lebih banyak seperti sekarang. Jika ingin mengetahui sesuatu, kami harus bertanya kepada orang yang lebih tahu atau membaca buku yang ada.

Keinginan saya untuk bekerja di perpustakaan bertabrakan dengan kenyataan bahwa saya adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga. Orang tua saya memiliki aturan yang cukup ketat. Saya tidak boleh jauh-jauh dari rumah. Mereka ingin saya tetap dekat, tetap dalam pengawasan  mereka dan menjalani kehidupan yang lebih aman dan terjamin. Kuliah di luar kota, apalagi untuk sesuatu yang belum jelas prospeknya, bukanlah pilihan yang bisa saya ambil dengan mudah.

Akhirnya, saya memilih jalan yang lebih "masuk akal" menurut keluarga: menjadi guru. Pilihan ini bukan berarti saya tidak mencintainya. Saya tetap bersemangat dalam dunia pendidikan, karena sejak kecil saya sudah terbiasa melihat bagaimana orang tua saya mengajar dengan penuh dedikasi. Namun, jauh di dalam hati, ada sebuah ruang kosong yang tidak bisa diisi yaitu sebuah kerinduan terhadap dunia perpustakaan yang dulu pernah saya impikan.

Waktu pun berlalu. Saya menjalani kehidupan sebagai guru dengan sepenuh hati. Saya mengajar, mendidik, dan berusaha menanamkan kecintaan terhadap literasi kepada murid-murid saya. Setiap kali saya melihat seorang siswa yang antusias membaca buku atau mencari informasi lebih dalam tentang suatu topik, saya merasa lega. Saya tidak bekerja di perpustakaan seperti yang saya impikan, tetapi saya tetap bisa menjadi bagian dari dunia literasi dengan cara yang berbeda.

Lalu, tibalah hari ini. Saya duduk di ruangan bimtek DPK Kabupaten Blora di lantai empat, mendengarkan materi tentang literasi menulis membuat konten budaya lokal.  Rasanya seperti sebuah kebetulan yang indah dan berkah di bulan suci. Seakan-akan semesta mengingatkan saya pada mimpi lama yang dulu saya simpan rapat-rapat. Saya tidak pernah menyangka bahwa saya akan sampai di titik ini yaitu kembali bersentuhan dengan perpustakaan meskipun dengan cara yang berbeda.

Dalam sesi diskusi, saya mendengar berbagai cerita dari peserta lain. Ada yang sudah lama berkecimpung di dunia literasi dengan karya mereka, ada yang baru memulai, dan ada juga yang, seperti saya, memiliki kecintaan terhadap literasi tetapi mengambil jalan yang berbeda. Saya merasa bahwa saya tidak sendirian. Banyak orang yang, meskipun bukan pustakawan, tetap berkontribusi dalam dunia literasi dengan caranya masing-masing.

Bimtek ini membuka mata saya bahwa mimpi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk yang persis sama seperti yang kita bayangkan. Kadang-kadang, kehidupan membawa kita ke arah yang berbeda, tetapi tetap menghubungkan kita dengan impian lama dalam bentuk lain. Saya mungkin tidak bekerja sebagai pustakawan, tetapi saya tetap bisa menjadi bagian dari dunia literasi dengan cara saya sendiri yaitu melalui mengajar, menulis, dan berbagi ilmu kepada siswa.

Mungkin dulu saya merasa bahwa menjadi pegawai perpustakaan hanyalah sebuah mimpi yang tak pernah menjadi nyata. Sekarang saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Mimpi itu tidak hilang hanya bertransformasi. Saya tetap bisa mendukung dunia literasi, tetap bisa menginspirasi anak-anak untuk mencintai buku, dan tetap bisa belajar tentang menulis seperti hari ini.

Saya bersyukur kepada Allah Subhanahu Wata'ala, atas perjalanan hidup yang telah saya lalui. Semua keputusan yang saya ambil, meskipun tidak selalu sesuai dengan keinginan awal saya, tetap membawa manfaat dalam kehidupan saya. Saya tetap bisa menambah ilmu, tetap bisa berbagi, dan yang paling penting, tetap bisa menjadi bagian dari perubahan dalam dunia pendidikan dan literasi.

Hari ini, saya menyadari satu hal penting yaitu tidak ada mimpi yang benar-benar hilang. Kadang hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali dalam bentuk yang berbeda. Dan ketika saat itu tiba, kita hanya perlu menerimanya dengan hati yang terbuka dan penuh syukur kepada Allah Subhanahu Wata'ala atas nikmatnya. 
Cepu, 24 Maret 2025 

Sabtu, 22 Maret 2025

Amplop buat Zaskia

Karya: Gutamining Saida

Ulang tahun Zaskia yang ke-7 kali ini dirayakan secara sederhana bersama keluarga inti.  Abah, umi, uti, timmi, serta adik-adiknya. Semua untuk memberikan doa dan kebahagiaan bagi gadis kecil itu. Saya yang tinggal di Cepu berusaha datang ke Tegal.

Ada satu hal yang membuat Zaskia sedikit sedih yaitu Akung, kakek tercintanya tidak bisa hadir. Uminya tersenyum lembut dan mengusap kepala putri kecilnya. “Kakak Zaskia, Akung ingin sekali datang. Tapi ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Akung tetap ingat ulang tahunmu, lho.” Mendengar itu, mata Zaskia sedikit berbinar. “Benarkah?” tanyanya penuh harap.

Saya yang datang dari perjalanan kota Cepu mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tas. “Zaskia, Akung menitipkan sesuatu untukmu,” kataku sambil menyodorkan amplop itu.

Mata Zaskia membesar penuh rasa ingin tahu. Dengan penuh semangat, ia meraih amplop itu dan mulai  membolak balik dan mencoba membaca tulisan di amplop. Di dalamnya, terdapat sebuah kado yang sedikit tebal.

Zaskia segera membaca tulisan di amplop itu dengan lantang. Namun, seketika ia mengerutkan kening.

“Metriultah cuku Zaskia,” baca Zaskia dengan suara pelan. Ia lalu menoleh kepadaku dengan ekspresi bingung. “Timmi, metriultah cuku itu apa?”

Aku menahan tawa. “Mungkin maksud Akung adalah ‘Selamat Hari Ulang Tahun cucuku,’ kak.”

“Oh….” Zaskia melanjutkan membaca, tapi kali ini ekspresinya semakin bingung. “Kaya kata moga sebenarnya semoga. Moga kurang kata ‘se’ ya kan timmi? tanya Zaskia sambil ngomong sendiri. Akung ini nulis kok tidak lengkap dan gak bener.

Terus “cerdaz.” Kok pakai hurus “Z” bukannya yang benar huruf “S”

Ia kembali menoleh kepadaku dengan wajah penuh pertanyaan. “Akung kok tulisannya aneh, ya!”

“Sepertinya Akung terburu-buru menulisnya atau mungkin sedang bercanda dengan  kakak Zaskia.”jawabku

“Terkadang, orang dewasa juga bisa salah menulis, kak,” kataku sambil tersenyum. “Atau mungkin Akung ingin mengujimu apakah kamu bisa menemukan kesalahannya.”

Zaskia terkekeh. “Berarti aku lebih pintar dari Akung dalam menulis!” katanya bangga. “Aku mau ajari Akung menulis yang benar nanti.”

Kami semua tertawa mendengar celotehnya. Kemudian, Zaskia membuka amplop kecil yang lebih tebal. Begitu melihat isinya, matanya langsung berbinar.

“Wah, uang!” serunya penuh kegembiraan. “Akung tahu aku ingin membeli buku cerita baru.”

Ia segera menunjukkan uang itu kepada uminya. “Mii, bolehkah aku membeli buku dongeng yang kemarin kita lihat di toko?”

Uminya tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja, kak. Itu hadiah dari Akung untukmu. Kamu bisa memilih buku yang kamu suka.”

Zaskia tampak sangat bahagia. Ia mencium amplop itu dan berkata, “Terima kasih, Akung! Aku akan pilih buku yang bagus dan nanti aku bacakan untuk Akung kalau kita bertemu.”

Meskipun Akung tidak hadir secara fisik, kehadirannya tetap terasa melalui amplop putih kecil itu. Setelah membaca amplop dan menerima hadiah dari Akung. Zaskia menangkupkan kedua tangannya dan berdoa dengan mata terpejam.

“Selamat ulang tahun,kak!” seru adik-adiknya sambil memberi pelukan.

Sore itu penuh dengan tawa dan kebahagiaan. Tidak ada pesta besar, tidak ada banyak tamu, tetapi kehangatan keluarga membuat segalanya terasa sempurna.

“Timmi,” panggilnya pelan. “Aku belajar sesuatu hari ini.”

Aku duduk di samping tempat tidurnya. “Belajar apa,kak?”

Zaskia berpikir sejenak. “Aku belajar bahwa tulisan itu penting. Kalau kita menulis dengan benar, orang bisa membacanya dengan mudah.”

Aku tersenyum. “Benar sekali. Menulis dengan baik itu penting agar pesan kita bisa dimengerti orang lain.”

Zaskia mengangguk pelan. “Aku akan bantu Akung belajar menulis yang benar nanti.”

Aku tertawa kecil dan mencium keningnya. “Itu ide yang bagus, Zaskia.”

Beberapa saat kemudian, Zaskia sudah tertidur dengan senyum di wajahnya. Malam itu, ia tidur nyenyak, memeluk amplop putih dari Akung seolah itu adalah harta paling berharga.

Saya tahu bahwa meskipun Akung tidak bisa hadir hari ini. Akung tetap ada di hati Zaskia. Dan cinta seorang kakek kepada cucunya tidak selalu harus terlihat. Namun bisa dirasakan dalam setiap kata dan setiap hadiah sederhana yang penuh makna. Semoga menjadi anak sholehah.

Cepu, 23 Maret 2025

 

 

Bintek Di Saat Jam Rawan Ngantuk


Karya: Gutamining Saida

Bimbingan teknis sesi terakhir selalu menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika berlangsung pada pukul 13.00 WIB hingga 15.00 WIB. Waktu yang dikenal sebagai jam rawan mengantuk, terlebih di bulan suci Ramadan.  Peserta harus berjuang melawan kantuk dan tetap fokus mengikuti materi yang disampaikan. Namun, sesi kali ini berbeda. Narasumber yang dihadirkan adalah seorang perempuan cantik dan berkarisma. Beliau Bernama ibu Tri Yuli Setyaningrum, M. Pd. Beliau tidak hanya memiliki wawasan yang luas. Beliau menggunakan metode penyampaian yang luar biasa agar para peserta tetap terjaga dan antusias.

Narasumber tidak langsung menyampaikan materi. Ia justru memberikan instruksi unik kepada para peserta. “Bapak dan Ibu sekalian, sebelum kita mulai, silakan cari tiga orang yang belum Anda kenal sebelumnya. Pastikan setiap kelompok terdiri dari penggiat literasi, pustakawan, siswa, dan mahasiswa. Setelah itu, silakan berdiskusi selama beberapa menit,” ujarnya dengan senyum hangat.

Para peserta awalnya tampak bingung, tetapi mereka segera beranjak dari tempat duduk dan mulai mencari rekan baru. Termasuk saya, saya berjalan mendekati peserta yang masih muda. Dia peserta dari mahasiswa Poltekes jurusan perawat semester empat. Saat kami berdua berbincang ada peserta lain mendekat ikut bergabung. Seorang penggiat literasi wakil dari desa Panolan kecamatan Cepu. Ruangan yang semula sunyi mendadak berubah menjadi ramai. Suara perkenalan dan tawa kecil terdengar di berbagai sudut ruangan. Dalam waktu singkat, kami mulai berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mengungkapkan ketertarikan masing-masing terhadap dunia literasi.

Setelah beberapa menit berlalu, narasumber kembali mengambil alih suasana. “Sekarang, kita akan membagi peserta ke dalam tiga kelompok,” katanya. “Silakan berbaris. Baris pertama untuk peserta yang belum memiliki karya, baris kedua untuk peserta yang sudah memiliki karya tetapi belum dipublikasikan, dan baris ketiga bagi mereka yang karyanya sudah terbit.”

Para peserta pun segera bergerak sesuai dengan kategori mereka. Ada yang tampak ragu-ragu memilih posisi, tetapi setelah saling bertanya satu sama lain, mereka akhirnya menemukan tempat yang tepat. Narasumber tersenyum melihat antusiasme yang mulai muncul.

“Sekarang, saya akan memilih beberapa orang secara acak untuk menceritakan karyanya,” ujarnya. “Jangan khawatir, ini bukan ujian. Kita saling berbagi pengalaman.”

Seorang peserta dari kelompok kedua maju ke depan. Ia adalah seorang guru yang sudah menulis beberapa cerpen tetapi belum pernah menerbitkannya. Dengan semangat, ia menceritakan bagaimana ide-ide cerpennya berasal dari pengamatan sehari-hari terhadap siswa di sekolahnya. “Saya sering melihat interaksi mereka dan berpikir, ini bisa menjadi cerita yang menarik,” katanya. “Tetapi saya masih ragu untuk menerbitkannya.”

Di kelompok ketiga, seorang mahasiswa berdiri dan berbagi pengalamannya menerbitkan artikel di media daring. Seorang siswa SMK sudah memiliki banyak karya. Dia pandai berbicara tentang literasi yang sudah dilaluinya. Saya mendengarnya menjadi kagum.

Narasumber kemudian mulai memaparkan materi tentang artikel ilmiah dan artikel populer. Beliau menjelaskan perbedaan mendasar antara keduanya, bagaimana menulis artikel yang baik, serta cara menyesuaikan tulisan dengan target pembaca. Materinya disampaikan dengan gaya yang interaktif dan menyenangkan. Sesekali, ia menyisipkan humor dan kisah inspiratif yang membuat peserta tetap fokus.

“Saya tahu ini adalah jam-jam mengantuk,” katanya sambil tersenyum. “Tapi ingat, menulis adalah perjalanan panjang. Jika kita tidak memulainya sekarang, kapan lagi?”

Menurut beliau ciri-ciri artikel ilmiah adalah objektif, rasional, kritis, gaya bahasa formal, pengutipan sumber jelas disertai daftar Pustaka. Struktur artikel popuer yaitu Judul, pendahuluan, isi dan penutup. Adapun Langkah-langkah Menyusun karya ilmiah popular sebagai berikut Setelah mendapat data kemudian diolah. Bahasa yang digunakan mudah dipahami  dilanjutkan membuat kerangka dan disusunlah karya.

Ketika sesi akhirnya berakhir, para peserta memberikan tepuk tangan meriah. “Terima kasih atas sesi yang luar biasa ini,” ujar salah satu peserta. “Saya benar-benar mendapatkan banyak ilmu dan motivasi.”Narasumber tersenyum. “Ingat, menulis adalah proses. Jangan takut untuk memulai. Saya menantikan karya-karya para peserta.”

Sebelum ditutup panitia mengajak foto bersama para narasumber dengan menggunakan kaos seragam yang berwarna biru. Beberapa detik kemudia para peserta sudah berubah memakai kaos dan sudah siap dengan berbagai posisi untuk difoto. Dengan semangat yang menyala para peserta meninggalkan ruangan.  Semoga berkah ilmunya terimakasih DPK kab. Blora atas kesempatannya bisa bergabung.

Cepu, 23 Maret 2025

 

 

Materi IPS kelas VII


Kerajaan Kutai 
1. Letak Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai Martadipura merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi. Kerajaan ini terletak di tepi Sungai Mahakam, tepatnya di daerah Muara Kaman, Kalimantan Timur. Lokasi ini sangat strategis karena berada di jalur perdagangan yang menghubungkan berbagai daerah di Nusantara.

2. Raja-Raja Kerajaan Kutai
Berikut beberapa raja terkenal dari Kerajaan Kutai:
  • Maharaja Kudungga. Diperkirakan sebagai pendiri Kerajaan Kutai. Awalnya ia adalah kepala suku, lalu berubah menjadi raja setelah mendapat pengaruh Hindu.
  • Maharaja AswawarmanAnak dari Kudungga yang dianggap sebagai raja sesungguhnya karena memperkenalkan sistem pemerintahan kerajaan.Dikenal sebagai "Wangsakarta" atau pendiri dinasti kerajaan.
  • Maharaja Mulawarman . Raja terbesar Kutai yang dikenal sebagai pemimpin bijaksana dan kuat. Ia memberikan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana sebagai tanda kesejahteraan kerajaannya. Pemerintahannya menjadi masa kejayaan Kerajaan Kutai
3. Bukti Keberadaan Kerajaan Kutai
Keberadaan Kerajaan Kutai dibuktikan oleh beberapa peninggalan sejarah, terutama prasasti dan artefak, antara lain:
  • Prasasti Yupa. Batu bertulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta.Merupakan sumber utama sejarah Kutai yang menceritakan silsilah raja dan pemberian hadiah kepada para Brahmana. Ditemukan di Muara Kaman dan berjumlah tujuh buah.
  • Lingga Yoni. Simbol penyembahan kepada Dewa Siwa, menunjukkan bahwa masyarakat Kutai beragama Hindu.
  • Arca dan Manik-ManikBerbagai peninggalan berupa arca Hindu dan manik-manik yang ditemukan di sekitar Muara Kaman.
4. Kejayaan dan Kemunduran
Kejayaan Kerajaan Kutai terjadi pada masa pemerintahan Raja Mulawarman, di mana ekonomi berkembang pesat, perdagangan lancar, dan hubungan dengan India terjalin erat.
Kemunduran Kutai terjadi seiring dengan masuknya pengaruh Islam di Kalimantan. Pada abad ke-13 hingga 16, Kerajaan Kutai Martadipura akhirnya runtuh setelah digantikan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara.
Dengan bukti-bukti sejarah ini, Kerajaan Kutai diakui sebagai kerajaan tertua di Indonesia dan menjadi bagian penting dalam sejarah awal peradaban Hindu di Nusantara.

Jumat, 21 Maret 2025

Dua Hati Satu Rasa

Karya: Gutamining Saida

Ada yang unik dari persaudaraan kami ini. Sesuatu yang tak direncanakan sering kali terjadi begitu saja. Seperti kebetulan yang terlalu sering muncul hingga tak lagi terasa sebagai kebetulan. Kami berdua yaitu saya dan mbak Rini (sapaan yang saya berikan untuknya). Walau dia teman guru namun dulu beliau murid saya. Sewaktu dia sekolah di SMA. Jadi saya lebih enak menyapa dengan mbak. Dia memiliki tanggal dan bulan lahir yang sama, hanya berbeda tahun. Bukan hanya itu, kami juga sering mengenakan pakaian dengan warna atau motif yang sama, tanpa pernah berjanji sebelumnya.

Hari Kamis, kami bertemu dalam sebuah acara bimtek. Biasanya tanpa sadar, ada saja hal yang kami kenakan secara serupa, entah itu jilbab, baju, atau bahkan aksesori kecil seperti bros. Namun kali ini, ada perbedaan yang mencolok. Jilbab yang saya kenakan berwarna biru polos, sedangkan dia memakai jilbab oren polos. Sekilas, tak ada kesamaan di antara kami hari ini.

Saya sempat berpikir, mungkin kali ini tidak ada hal yang "serasi" di antara kami. Tapi entah mengapa, naluri saya mengatakan pasti ada sesuatu yang tetap menyatukan kami. Saya pun mencoba mengingat barang-barang yang saya bawa hari itu. Saat dari tempat parker menuju Gedung saya berbincang dengannya. Ingatan saya tertuju pada rukuh yang saya bawa di dalam tas, saya tersenyum kecil.

"Eh, tahu nggak, hari ini saya bawa rukuh pemberian njenengan," kata saya, mencoba mencari kesamaan kecil di antara kami.

Mbak Rini menoleh dan tersenyum. Lalu, dengan nada yang tak kalah ceria, dia menjawab, "Hahaha, Saya juga bawa rukuh warna hijau dari ibu."

Kami saling menatap sejenak, lalu tertawa. Lagi-lagi ada kesamaan, meskipun kali ini bukan dalam bentuk pakaian yang kami kenakan, tetapi sesuatu yang lebih dalam yaitu benda yang kami bawa, yang punya makna bagi kami masing-masing.

Kami pernah satu tempat instansi yang sama  sebagai guru di SMPN 1 Kedungtuban. Awalnya, saya sebagai gurunya sewaktu sekolah. Saat sama-sama jadi guru baru sadar bahwa kami lahir di tanggal dan bulan yang sama. Itu menjadi titik awal keakraban kami.

Seiring waktu, persaudaraan kami semakin erat. Yang menarik, kami sering kali mengenakan pakaian yang senada tanpa pernah merencanakannya. Saat ada acara sekolah, tiba-tiba saja kami sama-sama memakai jilbab warna senada. Sering juga ketika memiliki ide, pemikiran terhadap suatu permasalahan. Kejadian-kejadian ini sering kali membuat kami tertawa dan merasa seperti ibu dan anak yang terpisah tahun lahirnya.

Ada satu momen yang masih membekas dalam ingatan saya. Suatu ketika, kami di hari Jum’at sehatdi sekolah dengan seragam olah raga bebas. Kami datang dari rumah masing-masing, tanpa berdiskusi soal pakaian yang akan dikenakan. Tapi begitu bertemu di lokasi, kami sama-sama terkejut.

"Ya Allah, kok kaos olah raga kita sama?" komentarku spontan.

Dia pun menatap seragam olah raga dan tertawa. "Iya, ya! Ini benar-benar nggak direncanakan!"

Kami berdua sama-sama mengenakan kaos berwarna merah. Jilbab yang kami kenakan pun memiliki warna yang hampir serupa, hanya beda sedikit dalam warna agak terang dan gelap. Sejak saat itu, kami tak lagi merasa heran jika tanpa sengaja memakai sesuatu yang serasi. Entah itu warna, motif, atau bahkan ide. Kami pun mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar, bagian dari ikatan batin yang kuat.

Namun, bukan hanya dalam hal pakaian dan benda-benda kecil, kesamaan kami juga terasa dalam cara berpikir dan melihat kehidupan. Kami sama-sama lebih suka ketenangan dibanding keramaian. Jika menghadiri acara yang penuh sesak, biasanya kami akan mencari sudut yang tenang untuk berbincang berdua.

Kami juga sering merasakan hal yang sama dalam satu situasi. Pernah suatu kali, dalam sebuah pertemuan, kami mendengar seseorang berbicara dengan cara yang menurut kami berlebihan. Tanpa perlu berkata-kata, kami saling menoleh dan tersenyum kecil, seakan mengerti isi pikiran masing-masing. Setelah acara selesai, kami pun tertawa bersama karena tahu bahwa kami berpikir hal yang sama saat itu.

Selain itu dalam berbagai fase kehidupan, kami selalu mendukung satu sama lain. Ketika saya mengalami kesulitan, dia selalu hadir dengan nasihat yang menenangkan. Begitu pula sebaliknya, ketika dia menghadapi masalah, saya selalu berusaha menjadi tempatnya bersandar.

Meskipun kami memakai jilbab dengan warna yang berbeda, tetap ada sesuatu yang menyatukan kami yaitu rukuh yang kami bawa. Hal kecil ini kembali mengingatkan saya bahwa ikatan batin kami bukan sekadar tentang kebetulan dalam berpakaian, tetapi lebih dari itu.

Kesamaan-kesamaan ini mungkin bukan hal besar bagi orang lain. Bagi kami, ini adalah simbol dari ikatan yang sudah terjalin lama. Bahwa tanpa perlu berjanji, tanpa perlu menyusun rencana ada sesuatu yang selalu membuat kami berada di gelombang yang sama.

Persaudaraan kami bukan hanya tentang pakaian yang sering serasi, tetapi tentang hati yang selalu seirama. Ada pemahaman tanpa perlu banyak kata, ada kebersamaan tanpa perlu banyak alasan. Saya menyadari satu hal yaitu persaudaraan sejati adalah dia yang, tanpa perlu berkata atau berjanji, selalu ada dalam ritme yang sama dengan kita. Saudara sak lawase ya mbak. Aamiin

Cepu, 22 Maret 2025