gutaminingsaida SMPN 3 CEPU
Rabu, 31 Desember 2025
Sepincuk Nasi Pecel
Selasa, 30 Desember 2025
Nikmati Pagi Di Akhir Tahun
Senin, 29 Desember 2025
Rahasia Allah
Minggu, 28 Desember 2025
Menjelang Akhir Tahun
Karya: Gutamining Saida
Akhir tahun selalu datang dengan cara yang tenang, namun mengetuk hati paling dalam. Tidak ada suara gaduh, tidak ada perayaan yang benar-benar mampu menandingi suara batin yang tiba-tiba bertanya, “Sudah sejauh mana aku berjalan menuju Allah?” Di antara pergantian angka kalender, ada jeda yang seharusnya kita gunakan untuk merenung, bermuhasabah, dan menata kembali arah hidup. Bukan untuk menyesali masa lalu semata, tetapi untuk memperbaiki langkah agar tahun depan menjadi lebih bermakna di hadapan-Nya.
Beberapa hari menjelang akhir tahun aku memilih berjalan pelan menuju makam. Bukan karena sedang berduka, melainkan karena rindu yang tak pernah benar-benar usai. Makam orang tua dan sanak saudara menjadi tujuan langkah kaki. Tempat ini bukan sekadar hamparan tanah dan batu nisan, tetapi ruang pengingat paling jujur tentang hakikat kehidupan. Di sinilah dunia seakan kehilangan daya tariknya, dan segala yang tampak besar berubah menjadi kecil.
Saat melangkah di antara makam-makam, aku menyadari satu hal yaitu semua yang pernah hidup di dunia ini memiliki cerita. Mereka pernah tertawa, menangis, berharap, kecewa, dan berjuang. Ada yang pernah memiliki harta berlimpah, jabatan tinggi, rumah megah, dan nama yang disegani. Kini, semuanya sama. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara pejabat dan rakyat biasa. Semua berbaring dalam sunyi, menunggu hari kebangkitan.
Aku duduk bersimpuh, menundukkan kepala, dan melantunkan doa. Bukan hanya untuk mereka yang telah mendahului, tetapi juga untuk diriku sendiri. Di tempat seperti ini, manusia diajak jujur kepada dirinya. Tidak ada topeng, tidak ada pencitraan, dan tidak ada pujian manusia yang bisa diharapkan. Semua amal, baik yang terlihat maupun tersembunyi, akan diperhitungkan di hadapan Allah.
Sering kali dalam hidup, kita terlalu berharap kepada manusia. Kita bekerja keras ingin dipuji, berbuat baik agar dikenang, beribadah supaya dianggap saleh. Padahal, berharap kepada manusia sering berujung kecewa, penyesalan, dan luka hati. Manusia memiliki keterbatasan. Pujian bisa berubah menjadi celaan, penghargaan bisa berganti dengan pengabaian. Hanya Allah yang Maha Setia menerima amal hamba-Nya, sekecil apa pun, selama dilakukan dengan ikhlas.
Di depan makam orang tua, ingatan masa kecil kembali hadir. Nasihat sederhana mereka dahulu kini terasa sangat dalam maknanya. Tentang hidup yang tidak boleh sombong, tentang rezeki yang harus disyukuri, dan tentang ibadah yang harus dijaga. Orang tua telah pergi, anak-anak pun suatu hari akan memiliki jalan hidupnya sendiri. Mereka tidak akan membersamai kita di alam kubur. Tidak ada yang bisa menggantikan amal saleh yang kita kumpulkan selama hidup di dunia.
Harta yang selama ini kita kejar dengan penuh ambisi tidak akan ikut terbawa. Jabatan yang dibanggakan akan kita tinggalkan. Rumah megah yang menjadi simbol keberhasilan duniawi akan diganti dengan rumah yang sangat sederhana, bahkan mungkin hanya berukuran dua kali satu. Di sanalah kita tinggal sendiri, tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa sorotan manusia. Yang menemani hanyalah amal baik atau sebaliknya, penyesalan yang tiada guna.
Ziarah kubur mengajarkan bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan akan kembali tanpa membawa apa pun. Yang membedakan hanyalah bekal amal. Salat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, doa yang tulus, sabar dalam ujian, serta kebaikan yang dilakukan tanpa berharap balasan manusia. Semua itulah yang kelak menjadi cahaya di alam kubur.
Akhir tahun bukan tentang pesta atau perayaan berlebihan. Merupakan undangan dari Allah agar kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan melihat ke depan dengan lebih jernih. Sudahkah ibadah kita meningkat? Sudahkah amal kita lebih banyak daripada kelalaian? Sudahkah niat kita lurus hanya untuk Allah semata?
Dalam doa yang lirih, terucap harapan sederhana namun sangat besar maknanya. Semoga Allah memberi kesempatan untuk memperbaiki diri di tahun mendatang. Semoga setiap langkah hidup diarahkan untuk mencari ridho-Nya, bukan sekadar pujian manusia. Semoga ketika waktu kembali itu tiba, kita dipanggil dalam keadaan husnul khotimah, dengan hati yang tenang dan wajah yang berseri.
Makam menjadi saksi bahwa kehidupan dunia akan berakhir. Di sanalah pula tumbuh harapan. Harapan agar kita menjadi hamba yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih dekat kepada Allah. Karena pada akhirnya, tujuan hidup bukanlah seberapa lama kita tinggal di dunia, melainkan bagaimana kita pulang kepada Sang Pencipta dengan membawa amal terbaik dan ridho-Nya.
Cepu, 29 Desember 2025
Sabtu, 27 Desember 2025
Makam, Rumah Sakit dan Silaturahim
Dari Makam ke Makam
Jumat, 26 Desember 2025
Kelas Berkarya
Wisata Naik Dokar
Kamis, 25 Desember 2025
Kebersamaan
Kura-kura
Rabu, 24 Desember 2025
Buah Jeruk Rasa Ketumbar
Selasa, 23 Desember 2025
Rumah Impian Hamzah
Senin, 22 Desember 2025
Semangat Berkarya
Siang itu rumah terasa tenang. Matahari berada tepat di atas kepala, cahayanya jatuh lembut di ruang tengah. Udara memang terasa hangat, tetapi suasana hati terasa sejuk karena tawa kecil Kakak Zaskia yang sibuk menyiapkan diri untuk membuat sebuah karya. Saya sengaja memilih waktu siang, saat aktivitas rumah mulai melambat, agar anak bisa belajar fokus dan menikmati proses tanpa tergesa-gesa.
Kakak Zaskia siang ini sedang membuat karya. Sebuah karya sederhana, namun sarat makna yaitu gambar ikan yang akan diberi taburan tepung roti. Sebelum memulai, saya sudah memilihkan gambar ikan hias. Ada ikan yang berwarna kuning cerah, mengingatkan pada keindahan ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla yang hidup di dalam air. Saya ingin Zaskia mengenal bahwa makhluk Allah tidak hanya hidup di darat, tetapi juga di lautan luas yang menyimpan banyak keajaiban.
Saya sengaja menyediakan gambar ikan dan bahan taburnya adalah tepung roti. Pertimbangannya sederhana yaitu memanfaatkan bahan yang murah, mudah didapat, dan selama ini mungkin hanya dikenal sebagai pelengkap makanan. Saya menduga cucu saya belum pernah menggunakan tepung roti sebagai media berkarya. Saya ingin memberikan pengalaman baru, karena belajar tidak harus selalu dengan alat mahal. Dari hal sederhana pun, kita bisa mengajarkan banyak hal.
Sebelum memulai, saya mengajak Kakak Zaskia membaca basmalah. Saya ingin menanamkan kebiasaan bahwa setiap aktivitas yang baik seharusnya dimulai dengan mengingat Allah Subhanahu Wata'alla. Berkarya pun bisa menjadi bagian dari ibadah jika diniatkan untuk belajar, bersyukur, dan mengasah kesabaran. Saya menjelaskan bahwa ikan adalah makhluk Allah Subhanahu Wata'alla yang hidupnya teratur, berenang tanpa pernah bertabrakan, seolah selalu patuh pada aturan Sang Pencipta.
Proses pembuatan karya itu sangat sederhana. Kakak Zaskia hanya perlu mengoleskan perekat di bagian gambar ikan, lalu menaburkan tepung roti di atasnya. Dalam kesederhanaan itu, tersimpan pelajaran besar. Tepung roti harus ditaburkan perlahan agar menempel dengan baik. Jika terlalu cepat, hasilnya akan berantakan. Saya melihat Zaskia mencoba menahan tangannya, meski sesekali terlihat ingin cepat selesai.
Saya teringat bahwa anak kecil memang mudah bosan. Mereka ingin cepat selesai agar bisa segera beralih ke kegiatan lain. Dugaan saya pun demikian. Namun kali ini, dugaan itu tidak sepenuhnya benar. Kakak Zaskia justru menunjukkan semangat yang berbeda. Ia menikmati setiap taburan tepung roti, memperhatikan bagian-bagian kecil gambar ikan, dan sesekali bertanya apakah sudah rapi.
Saya tidak banyak mencampuri. Saya hanya menemani dari dekat, memberi arahan seperlunya. Saya ingin Zaskia belajar bertanggung jawab atas karyanya sendiri. Saya bersyukur melihat kesungguhan itu. Allah Maha Membolak-balikkan hati. Di usia yang masih sangat belia, Allah Subhanahu Wata'alla sudah menitipkan potensi sabar dan tekun dalam diri cucu saya.
Saat karya hampir selesai, ikan hias berwarna kuning itu tampak semakin hidup. Tekstur tepung roti memberi kesan unik, berbeda dari gambar biasa. Wajah Kakak Zaskia tampak puas. Ia tersenyum, matanya berbinar melihat hasil tangannya sendiri. Saya memuji usahanya, bukan hanya karena hasilnya terlihat bagus, tetapi karena ia mampu menyelesaikan proses sampai akhir.
Saya lalu menyampaikan pelajaran kecil kepadanya. Bahwa hidup juga seperti membuat karya ini. Jika kita tergesa-gesa, hasilnya kurang maksimal. Tetapi jika dikerjakan dengan sabar dan sungguh-sungguh, Allah Subhanahu Wata'allaakan memberikan hasil yang indah. Saya ingin Zaskia memahami bahwa kesabaran adalah kunci dalam belajar.
Saya bersyukur kepada Allah bukan karena karya itu semata, tetapi karena siang ini memberi pelajaran berharga melalui tepung roti yang sederhana. Dari bahan murah, lahir pengalaman baru. Dari aktivitas kecil, tumbuh nilai besar.
Saya berharap, kelak Kakak Zaskia akan mengingat momen ini. Bahwa belajar tidak selalu harus cepat, tidak selalu harus berganti-ganti. Ada kalanya kita perlu bertahan, menyelesaikan satu hal dengan penuh tanggung jawab. Semoga dari karya ikan bertabur roti ini, Allah tanamkan syukur, dan cinta pada hati cucu saya, hingga kelak tumbuh menjadi pribadi yang kuat iman dan akhlaknya.

