Rabu, 08 April 2026

KMB (Konfrensi Meja Bundar)

 


Konferensi Meja Bundar (KMB) 

adalah perundingan antara Indonesia dan Belanda yang dilakukan di Den Haag pada tahun 1949.

Tujuannya adalah untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia dan Belanda setelah Indonesia merdeka.

👉 Singkatnya:
KMB adalah perundingan untuk mengakui kemerdekaan Indonesia secara resmi oleh Belanda.


 Isi Konferensi Meja Bundar

Isi utama KMB antara lain:

  1. Belanda mengakui kedaulatan Indonesia
    → Indonesia diakui sebagai negara merdeka.
  2. Indonesia menjadi negara berbentuk RIS (Republik Indonesia Serikat)
  3. Dibentuk Uni Indonesia-Belanda
    → semacam kerja sama antara Indonesia dan Belanda.
  4. Masalah Irian Barat ditunda
    → belum langsung diserahkan ke Indonesia.
  5. Indonesia harus membayar hutang Belanda
    → peninggalan masa penjajahan.

⚖️ Dampak KMB bagi Indonesia dan Belanda

Bagi Indonesia

Dampak positif:

  • Kemerdekaan Indonesia diakui dunia 
  • Perjuangan diplomasi berhasil
  • Indonesia menjadi negara berdaulat

Dampak negatif:

  • Bentuk negara jadi RIS (bukan NKRI)
  • Harus menanggung hutang Belanda
  • Irian Barat belum kembali

Bagi Belanda

Dampak:

  • Harus mengakui Indonesia merdeka
  • Kehilangan wilayah jajahan
  • Masih punya pengaruh lewat Uni Indonesia-Belanda
  • Mendapat keuntungan dari pembayaran hutang

Keuntungan bagi Indonesia

Beberapa keuntungan utama:

  • Diakui sebagai negara merdeka secara internasional
  • ✅ Konflik dengan Belanda berakhir
  • ✅ Bisa membangun pemerintahan sendiri
  • ✅ Mendapat dukungan dari negara lain

    Soal Isian Singkat KMB

    1. Konferensi Meja Bundar dilaksanakan di kota ________.
    2. KMB dilaksanakan pada tahun ________.
    3. Tujuan utama KMB adalah untuk menyelesaikan konflik antara Indonesia dan ________.
    4. Hasil utama KMB adalah pengakuan ________ Indonesia oleh Belanda.
    5. Setelah KMB, bentuk negara Indonesia menjadi ________.
    6. Salah satu isi KMB adalah pembentukan Uni antara Indonesia dan ________.
    7. Masalah wilayah ________ belum diselesaikan dalam KMB.
    8. Indonesia setuju untuk membayar ________ peninggalan Belanda.
    9. KMB merupakan salah satu bentuk perjuangan melalui jalur ________.
    10. Setelah KMB, Indonesia diakui sebagai negara yang ________ dan berdaulat  
    11. SELAMAT MENGERJAKAN 

Atas Kuasa-Mu


Karya: Gutamining Saida 

Pukul 14.12 WIB, di tengah perjalanan menuju Sambong, sebuah notifikasi masuk ke ponsel saya. Pesan dari panitia seleksi naskah artikel konten budaya lokal. Hati saya seketika berdebar. Pesan singkat itu berbunyi sederhana, “Bagaimana, sudah ada?”

Saya terdiam sejenak. Beberapa menit sebelumnya, saya sempat membuka akun Perpustakaan Kabupaten Blora di Instagram. Belum ada tanda-tanda pengumuman. Rasa penasaran yang sejak pagi saya tahan, kini kembali muncul.

Dalam hati, saya bergumam, “Ya Allah, apakah ini pertanda?”

Saya pun mencoba menenangkan diri. Sebagai manusia biasa, rasa ingin tahu tetap menguat. Saya akhirnya mencari nomor salah satu panitia yang pernah saya simpan beberapa waktu silam. Dengan sedikit ragu, saya memberanikan diri menghubungi, berharap mendapatkan kepastian.

Sambil menunggu jawaban, tangan ini tak berhenti membuka Instagram Perpustakaan. Berkali-kali saya refresh, berharap ada kabar terbaru. Perasaan saat itu benar-benar bercampur aduk antara harap, cemas, dan doa yang terus saya panjatkan dalam diam.

Di tengah perjalanan itu, saya mencoba mengalihkan pikiran. Saya melihat jalanan, pepohonan, dan langit yang seolah ikut menjadi saksi kegelisahan hati. Saya menarik napas perlahan dan beristighfar.

“Ya Allah, saya sudah berusaha. Jika ini baik untuk saya, mudahkanlah. Jika belum, kuatkanlah hati saya untuk menerima.”

Tak lama kemudian, mata saya kembali tertuju pada layar ponsel. Saat itulah sebuah unggahan baru muncul. Pengumuman Seleksi Konten Budaya Lokal. Tanpa sadar, saya langsung mengucap, “Alhamdulillah…”

Ucapan itu keluar begitu saja, bahkan sebelum saya mengetahui hasilnya. Entah mengapa, hati ini merasa lega hanya karena pengumuman akhirnya muncul. Seolah penantian panjang sejak pagi tadi mulai menemukan ujungnya.

Pengumuman itu hanya berupa sebuah tautan yang harus dibuka. Tidak langsung terlihat hasilnya. Sementara saya masih dalam perjalanan menuju Sambong, kondisi tidak memungkinkan untuk membuka dengan tenang dan fokus.

Rasa penasaran kembali memuncak. Saya ingin segera tahu, tetapi juga tidak ingin tergesa-gesa. Dalam situasi seperti itu, saya teringat seseorang rekan, sahabat, yang sudah saya anggap seperti anak sendiri. Tanpa berpikir panjang, saya menghubunginya. “Bisa tolong lihatkan pengumumannya?”chats saya singkat.

"Saya tidak punya IG bu, bisa dikirim linknya?" balasnya.

"Iya bisa." Jawab saya.

Saya kirim link dengan segera. Pesan itu saya kirim dengan penuh harap. Dalam hati, saya berdoa agar apa pun hasilnya, saya diberi kekuatan untuk menerimanya. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Setiap detik seperti memiliki makna. Saya mencoba menenangkan diri dengan dzikir. Mengingat bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata'alla jauh sebelum saya merencanakannya.

Tak berapa lama, balasan pun datang. Sebuah daftar nama. Lima puluh peserta yang lolos seleksi.

Jantung saya berdegup lebih kencang. Mata saya berusaha mencari satu nama di antara puluhan nama lainnya. Namun sebelum saya benar-benar menemukan nama saya sendiri, pesan berikutnya masuk.

“Alhamdulillah kita lolos lagi bu.”

Saya terdiam. Sejenak, dunia terasa hening. Lalu, perlahan, senyum mengembang di wajah saya. Air mata hampir menetes, bukan karena sedih, tetapi karena haru yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Saya membalas dengan singkat, “Alhamdulillah.”

Ucapan itu mungkin sederhana, tetapi di dalamnya ada rasa syukur yang begitu dalam. Saya sadar, ini bukan semata-mata hasil dari usaha saya. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah, yang memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar.

Dalam hati, saya berkata, “Ya Allah, terima kasih atas kesempatan ini.”

Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk belajar bersama para pakar di Perpustakaan Kabupaten Blora. Kesempatan yang tidak semua orang dapatkan. Kesempatan untuk menimba ilmu, memperluas wawasan, dan memperdalam kemampuan menulis, khususnya dalam bidang konten budaya lokal.

Saya menyadari, tanpa kuasa dan ridho Allah, saya tidak mungkin sampai di titik ini. Banyak orang yang mungkin lebih hebat, lebih berpengalaman.  Allah memilih saya untuk ikut dalam perjalanan ini. Di sinilah saya memahami satu hal bahwa  rezeki tidak selalu tentang materi. Rezeki bisa berupa kesempatan, pengalaman, dan ilmu. 

Perjalanan menuju Sambong hari itu terasa berbeda. Angin yang berhembus seolah membawa ketenangan. Langit tampak lebih cerah. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Betapa indahnya cara Allah mengatur segalanya. Dari rasa cemas di pagi hari, penantian panjang di siang hari, hingga kebahagiaan yang datang di sore hari. Semua tersusun begitu rapi.

Hari ini bukan hanya tentang lolos atau tidak. Tetapi tentang perjalanan hati belajar sabar, belajar tawakal, dan akhirnya belajar bersyukur. Saya pun berjanji pada diri sendiri, bahwa kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan. Saya ingin belajar dengan sungguh-sungguh, menggali ilmu sebanyak mungkin, dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena saya percaya, ilmu yang baik adalah ilmu yang diamalkan. Setiap langkah yang diniatkan karena Allah, akan selalu menemukan jalan menuju keberkahan. Aamiin.

Cepu, 8 April 2026

Berburu Harta Karun

 


Karya: Gutamining Saida

Dua jam terakhir pelajaran IPS di kelas 7H sering menjadi waktu yang paling menantang. Rasa lelah mulai datang, kantuk perlahan menyerang, dan semangat belajar siswa biasanya menurun. Bagi saya, setiap waktu adalah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Saya teringat bahwa dalam setiap aktivitas, termasuk mengajar, ada nilai ibadah jika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla.

Siang itu, saya sudah menyiapkan sesuatu yang berbeda: permainan “pencarian harta karun”. Bukan sekadar permainan biasa, tetapi saya ingin menyelipkan pelajaran tentang usaha, kejujuran, kerja sama, dan semangat. Harta karun yang akan mereka cari bukan emas atau perhiasan, melainkan uang rupiah dengan berbagai nominal diantaranya adalah seribu, dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, lima puluh ribu, hingga seratus ribu rupiah.

Sebelum masuk kelas, saya sudah menyiapkan 35 lembar uang dari berbagai jenis nominal tersebut. Di balik setiap uang, saya tempelkan pertanyaan-pertanyaan terkait materi IPS tentang permasalahan sosial budaya. Saya juga sudah menyusun strategi tempat persembunyian di serambi kelas, di balik pot bunga, di sela tanaman, di bawah kursi, bahkan di dekat gasebo.

Ketika saya masuk kelas, beberapa siswa terlihat lesu. Saya tersenyum dan mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“Wa’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” jawab mereka serempak, meski belum sepenuhnya bersemangat.

Saya memulai dengan mengajak mereka meluruskan niat.
“Anak-anak, belajar hari ini kita niatkan karena Allah ya. Semoga apa yang kita lakukan menjadi ilmu yang bermanfaat.”

Mereka mengangguk. Saya kemudian menjelaskan bahwa hari ini mereka akan melakukan pencarian harta karun. Seketika suasana kelas berubah. Mata yang tadinya sayu menjadi berbinar.

Saya membagi mereka menjadi beberapa kelompok, masing-masing terdiri dari empat, lima siswa. Saya tekankan bahwa dalam Islam, kerja sama adalah hal yang dianjurkan. “Kalau bekerja sama dengan baik, InsyaAllah hasilnya juga baik,” pesan saya.

Permainan pun dimulai. Dengan penuh semangat, mereka keluar menuju serambi kelas untuk mencari “harta karun” yang telah saya sembunyikan. Ada yang berlari kecil, ada yang tertawa, ada yang saling memberi petunjuk.

Di tengah keceriaan itu, saya mengingatkan,
“Ingat, jangan berebut ya. Rezeki setiap kelompok sudah Allah atur.” Kalimat itu sederhana, tetapi saya berharap tertanam dalam hati mereka bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wata'alla, dan kita hanya perlu berusaha dengan cara yang baik.

Satu per satu mereka menemukan uang-uang tersebut. “Bu, dapat seratus ribu!” teriak salah satu siswa dengan wajah sumringah. Yang lain tak kalah semangat, “Kami dapat lima puluh ribu, Bu!”

Saya kembali mengingatkan,
“Yang penting bukan besar kecilnya uang, tapi bagaimana kalian menjawab pertanyaannya.”

Setelah semua kelompok mendapatkan beberapa uang, saya memberikan kebebasan kepada mereka untuk menentukan tempat berdiskusi.
“Silakan kalian memilih tempat yang nyaman. Bisa di gazebo, di kelas, atau di lapangan. Yang penting tetap tertib dan fokus.”

Mendengar itu, siswa tampak semakin senang. Ada kelompok yang memilih duduk santai di gazebo sambil berdiskusi, menikmati angin sepoi-sepoi. Ada yang tetap di dalam kelas karena merasa lebih fokus. Ada pula yang memilih di lapangan, duduk melingkar di lapangan sambil saling bertukar pendapat.

Pemandangan itu begitu indah. Mereka belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman. Saya berjalan mengamati setiap kelompok. Di gazebo, saya melihat siswa berdiskusi dengan serius, sesekali tersenyum. Di lapangan, ada yang sempat bercanda, tetapi tetap kembali fokus saat mengerjakan. Di kelas, suasana lebih tenang, penuh konsentrasi.

Saya merasa bahagia melihat mereka belajar dengan cara yang menyenangkan namun tetap bermakna. Dalam hati saya berdoa, semoga ilmu yang mereka dapatkan hari itu benar-benar melekat. Diskusi pun berjalan. Saya melihat ada kelompok yang saling berbagi tugas, ada yang membaca, ada yang menulis, ada yang memberi pendapat. Ada juga yang sempat berselisih kecil karena perbedaan jawaban. Di situlah saya mendekat dan mengingatkan dengan lembut.

“Perbedaan itu biasa. Yang penting diselesaikan dengan musyawarah.”

Saya teringat bahwa dalam ajaran Islam, musyawarah adalah cara terbaik untuk mencapai keputusan bersama. Saya merasa inilah momen yang tepat untuk menanamkan nilai tersebut secara langsung. Setelah waktu diskusi selesai, saya meminta semua kelompok kembali ke kelas. Satu per satu mereka masuk kembali dengan membawa hasil kerja kelompok masing-masing. Wajah mereka terlihat puas, meskipun sebagian tampak lelah setelah beraktivitas di luar.

Di dalam kelas, suasana kembali tertata. Saya meminta mereka mengumpulkan hasil diskusi. Saya melihat wajah-wajah bahagia. Bukan hanya karena menemukan “harta karun”, tetapi karena mereka berhasil bekerja sama dan menyelesaikan tantangan bersama.

Sebelum menutup pelajaran, saya mengajak mereka untuk mengambil hikmah. “Anak-anak, hari ini kita belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus berusaha. Tapi ingat, usaha harus dibarengi dengan semangat, kejujuran, kerja sama, dan doa.”

Saya melanjutkan, “Uang yang kalian temukan hanyalah simbol. Harta yang sebenarnya adalah ilmu. Kalau kalian bersungguh-sungguh mencari ilmu, InsyaAllah itu akan menjadi bekal dunia dan akhirat.”

Suasana kelas menjadi lebih tenang. Beberapa siswa terlihat merenung dan berpikir. Saya menutup dengan doa, berharap apa yang kami lakukan hari itu menjadi amal kebaikan. “Semoga ilmu hari ini bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua.”

Ketika bel berbunyi, saya melihat senyum di wajah mereka. Dua jam terakhir yang biasanya melelahkan, hari itu berubah menjadi penuh makna. Saya bersyukur. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai kehidupan. Saya percaya, sekecil apa pun usaha yang dilakukan dengan niat karena Allah, akan bernilai ibadah. Aamiin, semoga menginspirasi.

Cepu, 8 April 2026

Menunggu

 Karya: Gutamining Saida

Tanggal 8 April 2026 menjadi hari yang begitu saya nantikan. Sejak beberapa hari sebelumnya, hati ini sudah berdebar menunggu saat pengumuman hasil seleksi naskah. Bukan sekadar pengumuman biasa, tetapi sebuah penentu apakah tulisan yang saya kirimkan akan lolos atau tidak.

Saya teringat proses panjang yang telah berlalu. Menyusun kata demi kata, merangkai kalimat menjadi paragraf, hingga menjadi sebuah naskah yang layak dikirimkan. Tidak mudah. Ada waktu yang harus dikorbankan, ada tenaga yang dikeluarkan, bahkan ada keraguan yang sempat datang. Saya terus menguatkan diri bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan sia-sia di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla.

Saya berbisik, “Ya Allah, saya sudah berusaha. Untuk hasilnya, saya serahkan sepenuhnya kepada-Mu.”

Saya sadar, sebagai manusia, tugas saya hanyalah berikhtiar. Sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Jika Allah SubhanahuWata'alla berkehendak, sesuatu yang sulit pun bisa menjadi mudah. Sebaliknya, jika Allah belum mengizinkan, maka apa pun usaha yang telah dilakukan bisa saja belum membuahkan hasil sesuai harapan.

Hari Rabu pun tiba. Tanggal 8 April. Sejak pagi, hati ini terasa berbeda. Ada harap, ada cemas, ada doa yang terus dipanjatkan. Setiap selesai salat, saya sisipkan doa agar diberikan hasil yang terbaik bukan hanya menurut keinginan saya, tetapi menurut kehendak Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Waktu terus berjalan. Jam demi jam berlalu. Saya tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tetapi pikiran sesekali melayang pada pengumuman yang dinanti. Hingga akhirnya jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB.

Namun, belum ada tanda-tanda pengumuman. Hati mulai gelisah. Rasa tidak sabar perlahan muncul. Saya mencoba menenangkan diri, tetapi tetap saja ada rasa ingin segera mengetahui hasilnya. Dalam kondisi seperti itu, saya kembali mengingatkan diri sendiri, “Sabar adalah bagian dari iman.”

Sebagai manusia biasa, rasa penasaran tetap ada. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada panitia. Saya berharap mendapatkan kepastian.

Jawaban yang saya terima sederhana, "Silakan dipantau berita di IG Perpusda."
"Belum ada." balas saya selanjutnya.
“Masih proses, oleh tim.”
"Terima kasih."

Hanya dua kata, tetapi cukup membuat saya terdiam sejenak. Saya menyadari bahwa ternyata saya harus belajar satu hal lagi hari itu: menunggu dengan sabar.

Menunggu bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika yang ditunggu adalah sesuatu yang sangat diharapkan. Dalam penantian itu, saya merenung. Bukankah dalam kehidupan ini, kita sering diminta untuk menunggu? Menunggu doa dikabulkan, menunggu rezeki datang, menunggu hasil dari usaha yang telah dilakukan.

Dan di situlah letak ujian kesabaran. Saya pun mencoba berdamai dengan keadaan. Saya menarik napas panjang, lalu beristighfar. Saya ingat bahwa Allah Subhanahu Wata'alla selalu bersama orang-orang yang sabar. Saya juga percaya bahwa tidak ada yang sia-sia dari setiap usaha yang telah dilakukan.

Dalam hati, saya kembali berdoa,
“Ya Allah, jika naskah ini memang baik untuk saya, mudahkanlah jalannya untuk lolos. Namun jika belum, kuatkanlah hati saya untuk menerima dan jadikan ini sebagai jalan untuk saya belajar lebih baik lagi.”

Saya menyadari bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kemungkinan yaitu lolos atau tidak. Keduanya adalah takdir yang harus diterima dengan lapang dada. Jika lolos, itu adalah bentuk karunia dan nikmat yang patut disyukuri. Jika tidak, itu pun tetap merupakan kebaikan, meskipun mungkin belum saya pahami saat ini.

Saya mencoba melihat dari sudut pandang yang lebih luas. Jika tidak lolos, mungkin Allah sedang mengajari saya untuk lebih giat belajar, lebih banyak membaca, lebih dalam menggali ide, dan lebih tekun dalam menulis. Mungkin Allah ingin saya naik ke level yang lebih tinggi melalui proses yang tidak instan.

Bukankah sering kali kegagalan justru menjadi pintu menuju keberhasilan yang lebih besar? Saya tersenyum kecil. Hati ini mulai terasa lebih tenang. Saya tidak lagi terlalu gelisah seperti sebelumnya. Saya mulai menikmati proses menunggu itu sendiri sebagai bagian dari pembelajaran hidup.

Waktu terus berjalan, tetapi kali ini saya tidak lagi memandangnya sebagai beban. Saya mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Saya yakin, ketika waktunya tiba, pengumuman itu akan datang dengan sendirinya.

Hari itu mengajarkan saya banyak hal. Tentang ikhtiar, tentang tawakal, dan tentang sabar. Saya semakin yakin bahwa sebagai manusia, kita hanya bisa merencanakan dan berusaha. Selebihnya, Allah yang menentukan.

Di penghujung hari, saya kembali berdoa,
“Ya Allah, berikanlah saya hasil yang terbaik menurut-Mu. Jika hari ini belum, maka siapkanlah saya untuk hari esok yang lebih baik.”

Saya pun menutup hari itu dengan perasaan yang lebih damai. Tidak lagi dikuasai rasa cemas, tetapi dipenuhi keyakinan bahwa apa pun hasilnya nanti, itu adalah bagian dari rencana terbaik Allah. Karena saya percaya, apa yang ditetapkan Allah tidak pernah salah, dan apa yang ditunda Allah tidak pernah sia-sia. Aamiin.

Cepu,8 April 2026

Selasa, 07 April 2026

Kera

                                         

Karya: Gutamining Saida

Saya  sore ini mendapat ide cerita dari hal sederhana. Sebuah percakapan ringan di grup Muda Swimming Squad 2. Di sana, saya lebih sering menjadi pengamat.  Saya membaca chats, tersenyum sendiri, kadang ikut merasakan hangatnya kebersamaan meski hanya lewat layar.

Paginya, grup tersebut tampak lebih ramai dari biasanya. Pak Gun, yang dikenal sebagai instruktur terapi sekaligus pelatih renang yang sabar dan telaten, mengirim sebuah foto. Bukan foto kolam, bukan pula aktivitas terapi, melainkan seekor kera kecil.

Sontak saja, anggota grup langsung ada chats masuk serta berkomentar.

“Kok punya monyet, Pak?” tulis bu Ika

Balasan pun cepat muncul, khas candaan akrab di antara mereka.

“Ya, mau dipinang?” jawab Pak Gun.

“Gak pak!” sahut Bu Ika dengan emotikon tertawa.

Obrolan pun berlanjut. Ternyata kera itu dibeli oleh anak Pak Gun saat masih bayi, dengan harga tujuh ratus ribu rupiah. Kini usianya sudah satu tahun. Menurut cerita dari Pak Gun, kera itu sudah “manut”, sudah pintar, bahkan tampak jinak. Namun ada satu kekhawatiran yang beliau sampaikan, “Kalau saya tinggal, tidak ada yang merawat.”

Percakapan sederhana itu membuat saya terdiam sejenak. Entah mengapa, foto kera itu membuka kembali pintu kenangan yang sudah lama terkunci dalam ingatan saya.

Kenangan masa kecil. Saat itu saya masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Setiap sore, saya pergi ke sekolah diniyah. Suasana sore hari terasa hangat, jalanan tidak terlalu ramai, dan langkah kecil saya selalu diiringi semangat untuk belajar mengaji.

Ada satu hal yang selalu membuat saya waspada. Ustadz yang mengajar kami memiliki seekor kera. Kera itu tidak dikurung dalam kandang, hanya diikat dengan tali panjang di halaman. Kadang terlihat tenang, kadang juga bergerak lincah, membuat kami anak-anak sedikit takut namun juga penasaran.

Suatu sore, kejadian itu terjadi. Saya datang seperti biasa, berjalan pelan menuju tempat belajar bersama teman-teman. Tapi entah bagaimana, kera itu tiba-tiba lepas dari kendalinya. Tali yang mengikatnya tidak lagi membatasi geraknya. Dalam sekejap, suasana berubah tegang.

Kera itu berlari ke arah saya. Saya panik. Jantung berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, saya berlari sekencang yang saya bisa. Langkah kecil saya terasa berat, napas tersengal, dan ketakutan memenuhi seluruh tubuh saya. 

Saya tidak ingat persis apa yang terjadi setelah itu. Yang saya ingat hanyalah rasa takut yang luar biasa… lalu gelap. Saat saya membuka mata, saya sudah berada di rumah. Dikelilingi keluarga yang cemas. Ternyata saya pingsan.

Sejak kejadian itu, saya menyimpan trauma. Setiap kali melihat kera, hati saya langsung berdebar. Rasa takut itu muncul begitu saja, bahkan hingga saya dewasa. Saya selalu berusaha menghindar jika melihat hewan tersebut.

Hari ini, melalui foto sederhana yang dikirim oleh Pak Gun, Allah  Subhanahu Wata'alla seperti mengajak saya untuk merenung. Saya berpikir… apakah rasa takut itu masih harus saya pelihara? Bukankah kera itu juga makhluk ciptaan Allah?

Bukankah semua yang Allah  Subhanahu Wata'alla ciptakan memiliki peran dan tempatnya masing-masing di dunia ini? Saya mulai mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Kera itu bukanlah makhluk yang harus ditakuti secara berlebihan. Ia hanyalah hewan, yang bertindak sesuai nalurinya. Mungkin dulu ia lepas bukan karena ingin mencelakai, tetapi karena tidak terkontrol.

Dalam Al-Qur’an dan ajaran agama islam, manusia diajarkan untuk menjadi khalifah di bumi. Artinya, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melindungi seluruh ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla, termasuk hewan.

Rasulullah pun mengajarkan kasih sayang kepada semua makhluk. Bahkan kepada hewan sekalipun. Ada kisah tentang seseorang yang diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Ada pula kisah tentang seseorang yang mendapat azab karena menyiksa hewan.

Dari sana saya sadar, bahwa ketakutan saya selama ini mungkin berlebihan. Trauma masa kecil memang tidak mudah hilang, tetapi bukan berarti harus terus dipelihara. Perlahan, saya belajar menerima. Saya mulai mengubah cara pandang saya. Jika suatu saat melihat kera, saya tidak lagi ingin langsung menjauh dengan rasa panik. Saya ingin belajar melihatnya sebagai makhluk Allah yang juga berhak hidup, berhak dirawat, dan berhak dilindungi.

Percakapan di grup itu ternyata bukan sekadar candaan. Di balik itu, ada pelajaran yang Allah sisipkan untuk saya. Bahwa setiap kenangan, bahkan yang menyakitkan sekalipun, bisa menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Bahwa setiap makhluk memiliki hikmah. Rasa takut pun bisa berubah menjadi pemahaman, jika kita mau merenung. Saya tersenyum sendiri sambil menatap kembali foto kera yang dikirim Pak Gun. Kali ini, tidak ada lagi rasa takut yang berlebihan. Yang ada justru rasa iba dan kesadaran.

Mungkin, kera itu tidak harus ditakuti. Tetapi membutuhkan untuk dipahami. Saya pun berdoa dalam hati, semoga Allah melembutkan hati saya, menghilangkan sisa-sisa ketakutan, dan menggantinya dengan rasa kasih sayang kepada seluruh ciptaan-Nya. Karena pada akhirnya, kita semua hidup di bumi yang sama, sebagai makhluk yang sama-sama bergantung pada kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin

Cepu, 7 April 2026

Pertemuan Singkat


Karya: Gutamining Saida

Saat saya sedang santai di masjid Esmega, menikmati suasana yang tenang selepas aktivitas pagi, tiba-tiba terdengar suara dari seberang. Awalnya samar, seperti orang memanggil dari kejauhan. Saya tidak terlalu menghiraukan, hingga suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Irama langkahnya pelan tapi pasti, seolah membawa kabar yang tidak biasa.

“Bu Saida, ini ada yang nyari,” ujar seseorang dari arah seberang.

Saya sedikit terkejut. Siapa ya yang mencari saya di saat seperti ini? Dengan rasa penasaran, saya langsung melonggok ke arah suara, sedikit mencondongkan badan ke luar untuk memastikan siapa gerangan.

Dari kejauhan, tampak sosok yang berjalan mendekat. Semakin jelas, semakin terasa ada sesuatu yang familiar. Lalu… senyum itu. Senyum yang hangat, yang rasanya sudah lama sekali tidak saya lihat. Bahkan mungkin sudah bertahun-tahun berlalu sejak terakhir kali kami bertemu.

“Oh… Bu Pengawas?” spontan saya berkata, hampir tidak percaya.

Beliau tersenyum lebar, langkahnya dipercepat sedikit. Saya pun segera bangkit dari tempat duduk, menyambut beliau dengan perasaan campur aduk antara kaget, senang, dan haru.

“Bu Saida… masih ingat saya?” tanyanya dengan nada lembut.

“MasyaAllah, tentu saja ingat, Bu. Bagaimana kabarnya?” jawab saya sambil menyalami beliau dengan hangat.

Pertemuan itu terasa seperti membuka kembali lembaran lama. Dulu,  sering bersama di sekolah untuk melakukan kegiatan bersama. Sosoknya tegas penuh perhatian. Banyak cerita yang dilalui bersama, yang hingga kini masih saya ingat.

Kini, ada yang terasa berbeda. Dulu beliau sebagai teman mengajar satu sekolah, sementara beliau sekarang  adalah sebagai pengawas. Ada jarak profesional yang secara tidak langsung tercipta. Tapi hari ini, di serambi masjid yang sederhana ini, semua terasa begitu cair. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Kami duduk berdampingan, berbincang layaknya dua sahabat lama yang dipertemukan kembali oleh waktu.

Kami pun larut dalam cerita-cerita masa lalu. Tentang hari-hari ketika kami sama-sama berjuang mendidik anak bangsa. Tentang kelas-kelas yang penuh dinamika, siswa-siswa dengan berbagai karakter, dan tantangan yang kadang membuat lelah namun selalu ada kebahagiaan di dalamnya. Kami tersenyum, bahkan tertawa kecil, mengingat momen-momen yang dulu terasa biasa, tetapi kini menjadi kenangan yang sangat berharga.

Saya memandang beliau dengan rasa hormat yang sama, bahkan mungkin lebih dalam. Kini saya menyadari, setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing. Beliau diberi amanah sebagai pengawas, sebuah posisi yang tentu penuh tanggung jawab. Itu adalah rezeki yang Allah kehendaki untuk beliau. Tidak ada yang keliru, tidak ada yang tertukar.

Dan saya… tetap di jalan saya sebagai seorang guru. Awalnya mungkin pernah terlintas pertanyaan dalam hati, namun hari ini semua terasa begitu jelas. Menjadi guru pun adalah rezeki, kesempatan yang luar biasa untuk terus berjuang di dunia pendidikan. Setiap hari bertemu siswa, membimbing mereka, menanamkan nilai, dan melihat mereka tumbuh itulah kebahagiaan yang tidak ternilai.

“Ya Allah, terima kasih atas jalan yang Engkau pilihkan.” Saya merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk memberi manfaat, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi lingkungan sekitar. Semua ini semoga menjadi bekal di akhirat kelak.

Obrolan kami semakin hangat, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Hingga akhirnya beliau berpamitan. Sebelum beranjak, beliau berkata, “Tetap semangat mengajar ya, Bu. Guru seperti panjenengan ini sangat dibutuhkan.” Saya tersenyum, kali ini dengan perasaan yang lebih mantap. “InsyaAllah, Bu. Mohon doanya selalu.”

Kami saling berpandangan sejenak, seolah saling memahami tanpa perlu banyak kata. Pertemuan ini bukan sekadar temu kangen, tetapi juga pengingat bahwa setiap langkah dalam hidup sudah diatur dengan sebaik-baiknya.

Saat beliau melangkah pergi, saya kembali duduk di serambi masjid. Angin berhembus pelan, membawa ketenangan yang berbeda. Hati saya terasa lebih lapang. Pertemuan singkat ini benar-benar menjadi penguat langkah saya. Bahwa di manapun posisi kita, selama itu dijalani dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab, maka semuanya akan bernilai ibadah. Saya pun kembali yakin, bahwa jalan saya sebagai guru adalah bagian dari perjuangan yang tidak boleh saya sia-siakan.

Cepu, 7 April 2026

Senin, 06 April 2026

Terapi Air



Karya: Gutamining Saida

Sore langit tampak teduh, seakan ikut menenangkan hati yang sejak lama menyimpan kegelisahan. Langkah kaki saya terasa ringan dan penuh harap. Saat memasuki area kolam renang Bumool Water Park. Tempat ini menjadi saksi perjalanan batin saya untuk sembuh bukan hanya raga, tetapi juga jiwa.

Renang, bagi sebagian orang, hanyalah aktivitas olahraga biasa. Bagi saya, ia adalah terapi. Air yang dahulu terasa menakutkan, perlahan berubah menjadi sahabat yang menenangkan. Saya sering bertanya dalam hati, mengapa renang bisa menghadirkan rasa bahagia? Ternyata, bukan hanya karena tubuh bergerak, tetapi karena di dalam air, kita seperti kembali pada fitrah tenang, ringan, dan dekat dengan Sang Pencipta.

Air adalah salah satu nikmat terbesar dari Allah Subhanahu Wata'alla. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa dari air, Allah menciptakan segala sesuatu yang hidup. Maka ketika tubuh ini bersentuhan dengan air, ada rasa syukur yang tak terucap. Setiap percikan air seolah mengingatkan bahwa hidup ini berasal dari sesuatu yang sederhana.

Di Bumool, suasana terasa hidup. Anak-anak tertawa riang, remaja penuh semangat, orang dewasa menjaga kebugaran, hingga para lansia yang tetap berusaha sehat dengan penuh kesadaran. Pemandangan ini menghadirkan pelajaran bahwa kesehatan adalah tanggung jawab setiap usia. Tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Di antara mereka, ada sosok yang begitu dihormati, yaitu Pak Gun. Beliau dikenal sabar dan telaten. Pagi dan sore, beliau setia membimbing para peserta dengan penuh keikhlasan. Suaranya lembut, tetapi tegas saat memberi arahan. Tidak jarang beliau harus mengulang gerakan berkali-kali demi memastikan setiap peserta memahami teknik yang benar.

Khusus ibu-ibu, jadwal latihan biasanya diadakan setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu sore. Saat itulah saya mulai memberanikan diri untuk bergabung. Awalnya, hati saya dipenuhi ketakutan. Trauma masa lalu terhadap air membuat diri ini takut. Bahkan hanya untuk sekadar mencelupkan kaki saja terasa berat.

Saya teringat satu hal bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan. Kalimat itu menjadi penguat langkah saya. Dengan niat yang lurus ingin sehat dan ingin mengalahkan rasa takut saya lantas ingin mencoba perlahan.

Hari pertama terapi air, saya hanya berdiri di pinggir kolam. Melihat ibu-ibu lain yang sudah lebih dulu berani, hati saya bergetar. Ada rasa malu, tetapi juga ada harapan. Pak Gun mendekati saya, memberikan semangat dengan kata-kata sederhana, “Pelan-pelan saja, Bu. Air ini teman, bukan lawan.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Saya mulai menurunkan kaki ke dalam air. Dingin yang menyentuh kulit terasa seperti menyapa. Saya menarik napas panjang, lalu mencoba melangkah sedikit demi sedikit. Dalam hati, saya terus berzikir, menyebut nama Allah Subhanahu Wata'alla agar hati ini tenang.

Hari demi hari berlalu. Rasa takut yang dulu begitu besar, perlahan memudar. Saya mulai belajar mengapung, menggerakkan tangan, hingga akhirnya bisa terasa biasa meski masih belum bisa. Setiap keberhasilan kecil terasa seperti kemenangan besar.

Yang membuat saya semakin bahagia adalah suasana kebersamaan. Ibu-ibu yang lain saling menyemangati. Tidak ada yang saling merendahkan, justru saling menguatkan. Tawa kami pecah ketika ada yang masih kikuk, tetapi tawa itu bukan ejekan, melainkan bentuk kehangatan.

Secara ilmiah, renang memang dapat meningkatkan hormon endorfin, yaitu hormon yang memicu rasa bahagia. Bagi saya, kebahagiaan itu bukan sekadar reaksi tubuh. Ia adalah perpaduan antara usaha, doa, dan rasa syukur. Ketika tubuh bergerak di dalam air, pikiran menjadi lebih jernih. Beban hidup terasa lebih ringan.

Air seakan menjadi media tafakur. Dalam setiap gerakan, dalam kehidupan. Bahwa seperti halnya berenang, hidup juga membutuhkan keseimbangan. Jika terlalu tegang, kita akan tenggelam. Jika terlalu santai tanpa arah, kita tidak akan sampai tujuan. Maka diperlukan ketenangan, kepercayaan, dan usaha yang terus menerus.

Kini, renang bukan lagi sesuatu yang menakutkan bagi saya. Justru menjadi kebutuhan. Tidak hanya untuk menjaga kesehatan fisik, tetapi juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Setiap kali selesai berenang, saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Seolah-olah segala beban yang saya bawa ikut larut bersama air.

Saya menyadari bahwa keberanian mampu melangkah meski rasa takut itu masih ada. Di Bumool, saya menemukan bukan hanya kesehatan, tetapi juga pelajaran hidup yang sangat berharga. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa setiap trauma bisa disembuhkan, setiap rasa takut bisa dikalahkan, dan setiap usaha yang disertai doa akan membuahkan hasil. Renang telah menjadi jalan saya untuk menemukan kebahagiaan yang hakiki bahagia karena sehat, bahagia karena bersyukur, dan bahagia karena merasa lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta. 

Cepu, 6 April 2026

Halal Bihalal


Karya: Gutamining Saida

Sore itu langit tampak teduh, seolah ikut merestui langkah-langkah kecil kami menuju sebuah kebersamaan yang penuh makna. Saya melangkah menuju Bumool dengan hati yang ringan, meski tubuh terasa lelah setelah aktivitas seharian. Ada rasa rindu yang mengalir, bukan hanya pada air kolam yang menenangkan. Tetapi juga pada kebersamaan dengan teman-teman komunitas terapi, renang yang selalu menghadirkan energi positif.

Kegiatan sore itu diawali dengan renang dan terapi, seperti biasanya. Air menjadi sahabat yang setia, memeluk tubuh kami dengan kesejukan yang tak hanya menyentuh raga, tetapi juga jiwa. Setiap gerakan di dalam air terasa seperti pelepasan beban, seakan segala penat, lelah, dan pikiran yang mengganjal ikut larut bersama riak-riak kecil yang tercipta.

Di sela terapi, saya merenung. Betapa nikmat sehat itu seringkali baru terasa ketika kita hampir kehilangannya. Padahal, setiap helaan napas, setiap gerak tubuh, adalah anugerah yang tak ternilai dari Allah Subhanahu Wata'alla. Dalam doa terucap, “Ya Allah, terima kasih atas tubuh yang masih Engkau kuatkan, atas kesempatan untuk terus memperbaiki diri.”

Setelah sesi renang dan terapi selesai, kami tidak langsung pulang. Tanpa mandi dan tanpa berganti pakaian, kami bergegas menuju tempat yang telah disiapkan untuk acara berikutnya yaitu halal bihalal. Mungkin secara penampilan kami sederhana, bahkan masih basah dan bercampur aroma air kolam, tetapi di situlah letak keindahannya, kebersamaannya, kejujuran, kebersahajaan, dan ketulusan.

Di hadapan kami telah tersaji nasi tumpeng yang tertata rapi. Kuningnya nasi seakan melambangkan harapan dan doa, sementara lauk-pauknya mengingatkan bahwa kehidupan terdiri dari berbagai rasa . Lauknya terdiri dari mie goreng, urab sayuran, sambal goreng kentang, telur gulung, ayam. Semua itu ada manis, asin, gurih, bahkan pedas yang semuanya harus disyukuri.

Sebelum acara makan dimulai, Pak Gun, sebagai pelatih sekaligus sosok yang kami tuakan, diminta untuk memimpin doa. Kami semua hening. Suasana yang tadinya riuh perlahan berubah menjadi khidmat. Tangan-tangan terangkat, kepala tertunduk, dan hati pun mulai berbicara kepada Sang Pencipta.

Doa yang dipanjatkan terasa begitu dalam. Bukan hanya sekadar rangkaian kata, tetapi sebuah pengakuan bahwa kami adalah hamba yang lemah, yang selalu membutuhkan pertolongan-Nya. Dalam doa, terselip harapan agar kami diberikan kesehatan, keselamatan, keberkahan umur, serta keikhlasan dalam menjalani kehidupan.

Saya merasakan getaran haru. Di tengah kesederhanaan acara ini, ada nilai yang begitu tinggi silaturahmi yang terjalin karena Allah Subhanahu Wata'alla, kebersamaan yang dilandasi niat untuk saling menguatkan dalam kebaikan.

Setelah doa selesai, tibalah saat yang dinantikan. Sebagai bentuk penghormatan, pemotongan tumpeng diserahkan kepada Pak Gun. Dengan penuh rasa syukur dan kerendahan hati, beliau memotong bagian puncak tumpeng, sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan.

Kami semua tersenyum. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Semua duduk bersama, menikmati hidangan yang ada. Suasana hangat begitu terasa. Canda tawa mengalir, namun tetap dibalut rasa syukur yang mendalam.

Saat menikmati makanan, saya kembali merenung. Betapa indahnya hidup ini jika dijalani dengan hati yang penuh syukur. Makanan yang mungkin sederhana terasa begitu nikmat karena dimakan bersama orang-orang yang saling peduli.

Halal bihalal bukan sekadar tradisi. Ia adalah momen untuk membersihkan hati, saling memaafkan, dan mempererat tali persaudaraan. Dalam Islam, menjaga silaturahmi adalah salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar. Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki.

Saya memandang teman-teman di sekitar. Mereka bukan hanya teman berenang, tetapi juga sahabat dalam perjalanan menjaga kesehatan dan keimanan. Kami saling mengingatkan, saling menyemangati, dan saling mendoakan.

Di tengah kebersamaan itu, saya menyadari satu hal yaitu sehat bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang hati yang tenang dan pikiran yang damai. Kebahagiaan sejati hadir ketika kita bisa berbagi, tersenyum, dan merasa cukup dengan apa yang Allah berikan.

Alhamdulillah, sore itu menjadi pengingat bahwa hidup ini bukan hanya tentang mengejar dunia, tetapi juga tentang memperbaiki hubungan dengan sesama dan dengan Sang Pencipta. Komunitas kecil ini menjadi ladang amal, tempat kami belajar arti kebersamaan dan keikhlasan.

Semoga langkah kecil kami ini bernilai ibadah. Semoga setiap tawa yang terucap menjadi sedekah. Semoga setiap kebersamaan yang terjalin menjadi jalan menuju ridha Allah Subhanahu Wata'alla. Sehat dan bahagia bukan sekadar harapan, tetapi ikhtiar yang harus dijaga. Karena dengan tubuh yang sehat dan hati yang bahagia, kita bisa terus berbuat baik, memberi manfaat, dan menjadi pribadi yang lebih bermakna bagi lingkungan sekitar.

Sore itu pun berakhir dengan rasa syukur yang tak terhingga. Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, jika Engkau izinkan, pertemukan kami kembali dalam kebersamaan yang lebih indah, dengan iman yang lebih kuat, dan hati yang lebih bersih.” Aamiin

Cepu, 6 April 2026

Minggu, 05 April 2026

Nasi Pecel

 


Karya: Gutamining Saida

Pagi, siang, sore, bahkan malam bagi saya, nasi pecel selalu punya tempat tersendiri di hati. Tidak ada waktu yang terasa salah untuk menikmatinya. Seperti halnya rezeki dari Allah Subhanahu Wata'alla, ia bisa datang kapan saja, dengan cara yang sederhana namun mengenyangkan jiwa. Begitulah kira-kira perasaan saya setiap kali berjumpa dengan sepiring, sepincuk, sebungkus nasi pecel.

Hari itu, langkah motor terhenti ketika melewati sebuah warung nasi pecel di dekat rel kereta api. Warung sederhana, namun selalu ramai. Asap tipis dari dapur kecilnya mengepul pelan, seakan mengirimkan pesan: “Di sini ada kehangatan.” Tanpa banyak pertimbangan, ajakan dalam hati untuk berhenti langsung saya iyakan. “Kenapa tidak?” batin saya. Bukankah ini juga bagian dari nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan di tengah perjalanan?

Anak saya yang menemani langsung sigap memesan dua porsi nasi pecel. Wajahnya tampak berbinar, mungkin sama seperti saya yang sudah membayangkan lezatnya sambal kacang yang khas itu. Tidak lama, satu per satu pesanan datang. Ada yang menarik perhatian saya dua pincuk daun pisang yang kami terima tampil berbeda di kanan kiri tangan anak saya.

Yang satu, nasi tampak lebih banyak dengan sayur diguyur sambal kacang dengan tumpukan beberapa tempe serta ditaburi kriuk tepung. Sedangkan yang satu lagi tampak lebih sederhana dengan taburan melanding tampak hijau segar. Saya hanya tersenyum kecil. Dalam hati, saya berkata, “Inilah kehidupan. Tidak selalu sama, tidak selalu seimbang, tapi selalu ada hikmah di dalamnya.”

Saya melirik ke arah penjual. Seorang nenek tua dengan wajah penuh keriput namun memancarkan ketulusan. Tangannya bergerak lincah, penuh ketelitian. Di sampingnya, dua remaja membantu seorang perempuan dan seorang laki-laki, mungkin cucunya. Mereka berbagi tugas. Yang perempuan tampak menyemat pincuk, sementara yang laki-laki melayani minuman untuk pembeli dan mengoreng tempe. 

Pemandangan itu membuat hati saya hangat. Di tengah kesederhanaan, mereka bekerja sama, saling membantu, tanpa keluhan yang terdengar. Saya jadi teringat bahwa dalam Islam, bekerja adalah ibadah. Setiap keringat yang jatuh, setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang lurus, akan bernilai pahala di sisi Allah Subhanahu Wata'alla..

Antrian pembeli terlihat cukup panjang. Ada ibu-ibu, para remaja, bahkan beberapa orang laki-laki yang tampak seperti baru pulang dari sawah. Mereka semua berdiri dengan sabar, tanpa protes, tanpa desakan. Sungguh pemandangan yang jarang saya temui di tempat lain.

“Sabar itu indah,” gumam saya pelan. Bukankah dalam Al-Qur’an Allah Subhanahu Wata'alla telah menjanjikan bahwa bersama kesabaran akan datang pertolongan? Di warung kecil ini, saya justru melihat praktik nyata dari nilai-nilai kesabaran.

Ketika saya mulai menyantap nasi pecel, rasa syukur tiba-tiba mengalir deras dalam hati. Sambal kacangnya terasa begitu nikmat, sayur kangkung, kecambah segar, dan tempe gorengnya renyah. Tapi lebih dari itu, saya merasakan sesuatu yang berbeda yaitu sebuah keikhlasan yang seolah ikut tersaji dalam setiap suapan.

Saya teringat bahwa makanan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang keberkahan. Dari siapa kita membeli, bagaimana cara mendapatkannya, hingga bagaimana kita menikmatinya semuanya akan mempengaruhi hati.

Melihat nenek penjual itu, saya membayangkan betapa besar perjuangannya. Di usia senja, ia masih berdiri, melayani pembeli, dibantu cucu-cucunya. Tidak mengeluh, tidak menyerah pada keadaan. Saya jadi malu pada diri sendiri, yang kadang masih mengeluh atas hal-hal kecil.

“Ya Allah, berkahilah rezeki mereka,” doa saya dalam hati.

Saya juga belajar satu hal penting hari itu tentang bisa menerima keadaan dengan ikhlas. Dua pincuk nasi pecel yang berbeda tadi mengajarkan bahwa hidup memang tidak selalu sama rata. Bukan berarti tidak adil. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.

Mungkin porsi yang berbeda itu justru menjadi pengingat agar kita tidak terlalu sibuk membandingkan. Karena bisa jadi, apa yang terlihat lebih sedikit justru lebih berkah. Dan apa yang tampak lebih banyak, belum tentu membawa ketenangan.

Suara kereta api yang melintas di dekat warung itu seakan menjadi latar yang pas untuk renungan saya. Hidup ini berjalan seperti rel kereta sudah ada jalurnya, sudah ada takdirnya. Tugas kita hanyalah menjalani dengan sabar, syukur, dan tawakal.

Selesai makan, saya menatap kembali warung itu sebelum pergi. Tempat sederhana, namun penuh pelajaran berharga. Saya datang untuk makan, tapi pulang membawa lebih dari sekadar kenyang. Saya membawa rasa syukur yang lebih dalam, kesadaran untuk lebih sabar, dan tekad untuk lebih ikhlas dalam menjalani hidup.

Ternyata, sepincuk nasi pecel bukan hanya soal rasa di lidah. Ia bisa menjadi wasilah untuk mengingat Allah Subhanahu Wata'alla, merenungi kehidupan, dan memperbaiki hati. Sejak hari itu, setiap kali saya makan nasi pecel, saya tidak hanya berkata, “Enak,” tetapi juga berbisik dalam hati, “Alhamdulillah enak.”

Cepu, 5 April 2026

Sabtu, 04 April 2026

Berburu Nasi Pecel

 


Karya : Gutamining Saida

Pagi Minggu 6 April 2026, mentari belum sepenuhnya tinggi. Udara masih terasa sejuk, seolah alam pun sedang berdzikir dengan caranya sendiri. Hari libur yang dinanti akhirnya tiba. Ada keinginan sederhana yang muncul dari dalam hati yaitu berburu sarapan. Sarapan yang bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi juga menenangkan jiwa. Pilihan pun jatuh pada Pasar Tiban di desa Nglanjuk. Tempat yang tidak jauh dari rumah, namun menyimpan banyak cerita dan kenangan.

Langkah kaki terasa ringan  dan segera naik sepeda motor menuju pasar tersebut. Dalam hati terlintas rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata'alla.  Saya masih diberi kesempatan menikmati pagi, menghirup udara segar, dan melangkahkan kaki dalam keadaan sehat. Tidak semua orang diberi nikmat yang sama. Ada yang pagi ini harus berjuang melawan sakit, ada pula yang disibukkan dengan urusan dunia yang tak kunjung usai. Maka perjalanan sederhana ini terasa begitu istimewa.

Pasar Tiban itu sendiri bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang kehidupan, tempat bertemunya berbagai latar belakang masyarakat. Tempat rezeki dibagikan oleh Allah Subhanahu Wata'alla melalui tangan-tangan para pedagang. Terlintas pula kenangan saat pernah menuliskan tentang pasar ini hingga akhirnya menjadi bagian dari buku antologi yang berjudul Melelusuri Jejak Blora dari Sisi Budaya. Sebuah pencapaian yang tak pernah disangka. Hati ini kembali berucap lirih, “Ya Allah, semua ini karena izin-Mu.” Saya salah satu bersama enam puluh peserta yang lolos. Penyelenggaranya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Blora

Sesampainya di sana, suasana pasar sudah ramai. Suara tawar-menawar, aroma makanan tradisional, bakaran dan senyum para penjual menyambut hangat. Mata ini langsung tertuju pada satu menu yang sederhana namun menggoda yaitu nasi pecel.

Saya pun memesan dua porsi. Penjual dengan cekatan menyiapkan nasi pecel yang dibungkus menggunakan daun pisang dan daun jati, dibentuk menjadi pincuk yang cantik. Di atas pincuk itu tersaji nasi putih hangat yang dipadukan dengan sayuran segar rebusan daun ketela, kecambahm ale lalu disiram sambal kacang yang harum. Lauknya pun lengkap yaitu kering tempe, mie goreng, serundeng, tempe goreng, bakwan, dan peyek. Melihatnya saja sudah membuat air liur ini tak tertahan. Subhanallah, betapa Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kenikmatan melalui hal-hal yang sederhana.

Saat nasi pecel itu disodorkan, tangan ini hampir saja langsung menyendoknya. Namun tiba-tiba anak saya menahan.

“Bentar… bentar, Mi,” ucapnya.

Saya pun sedikit heran. “Kenapa memang?”

“Difoto dulu nasinya,” jawabnya santai.

Ah, anak zaman sekarang. Segala sesuatu seolah belum sah sebelum diabadikan. Saya tersenyum dalam hati. Ada sedikit rasa geli, namun juga sadar bahwa setiap zaman memiliki caranya sendiri. Mungkin ini bagian dari cara mereka mensyukuri nikmat, meskipun dengan cara yang berbeda.

Sambil menunggu, mata ini terus memandang nasi pecel di hadapan. Dalam diam, hati ini berdialog dengan Sang Pencipta. Betapa banyak nikmat yang sering kali terlewat tanpa disadari. Dari sebutir nasi, ada kerja keras petani. Dari sayur mayur, ada tangan-tangan yang merawatnya. Dari sambal kacang, ada proses panjang yang dilalui. Semua itu adalah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu Wata'alla kepada hamba-Nya.

Setelah sesi foto selesai, akhirnya kami pun berdoa bersama. Sebuah kebiasaan kecil yang sarat makna. Mengawali makan dengan menyebut nama Allah, sebagai bentuk pengakuan bahwa semua ini berasal dari-Nya. Suapan pertama masuk ke dalam mulut. Rasanya begitu nikmat. Sambal kacang yang gurih berpadu dengan nasi hangat dan lauk yang beragam. Setiap suapan terasa seperti pengingat bahwa rezeki tidak selalu harus mahal untuk bisa membahagiakan.

Di sela-sela menikmati sarapan, pandangan saya terarah ke sekitar. Hamparan sawah yang menghijau terbentang luas. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut. Di kejauhan, terlihat kolam dengan ikan-ikan yang berenang tenang. Pemandangan itu seolah menjadi lukisan alam yang menenangkan hati.

Saat itulah muncul kesadaran yang begitu dalam, inilah bentuk nikmat yang sering terlupakan. Bukan hanya makanan yang lezat, tetapi juga ketenangan, kebersamaan dengan keluarga, dan kesempatan menikmati ciptaan Allah Subhanahu Wata'alla.

Harga nasi pecel itu pun sangat ramah di dompet hanya lima ribu rupiah. Namun nilai yang dirasakan jauh lebih besar dari sekadar angka. Ada rasa syukur, ada kebahagiaan, ada pelajaran tentang kesederhanaan.

Dalam hati saya berdoa, “Ya Allah, jadikanlah setiap nikmat yang Engkau berikan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai dan kufur nikmat.”

Cepu, 5 April 2026

Rabu, 01 April 2026

NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA

 


Karya : Gutamining Saida

                                     NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA


┌─────────────────────────────┼─────────────────────────────┐
│ │ │
ASAL-USUL MIGRASI JALUR & CARA
│ │ │
├─ Yunnan (utama) ├─ Proto Melayu ├─ Jalur Barat
├─ Out of Taiwan │ - ±1500 SM │ Yunnan→Sumatra
└─ Nusantara │ - Batu (Neolitikum) │
│ - Kapak batu ├─ Jalur Timur
│ │ Yunnan→Sulawesi
└─ Deutero Melayu │
- ±500 SM ├─ Cara:
- Logam │ - Perahu
- Nekara │ - Ikuti angin
│ - Migrasi

┌─────────────────────────────┼─────────────────────────────┐
│ │ │
BUDAYA KEPERCAYAAN DAMPAK
│ │ │
├─ Batu ├─ Animisme ├─ Banyak suku
│ - Kapak ├─ Dinamisme ├─ Budaya beragam
│ │ ├─ Gotong royong
├─ Logam     └─ Tradisi adat
│ - Nekara
│ - Moko

└─ Maritim
- Perahu
- Pelayaran


HASIL BUDAYA PROTO MELAYU

                                        Kapak Batu




Kapak persegi


Kapak Lonjong




HASIL BUDAYA DEUTRO MELAYU

                                        Bejana Perunggu


Nekara

Perhatikan pernyataan berikut:

1. Nenek moyang berasal dari Yunnan

2. Datang dalam dua gelombang migrasi

3. Sudah mengenal teknologi logam4. 4.

4. Hidup nomaden tanpa menetap

Manakah pernyataan yang tepat untuk Deutero Melayu?

A. 1, 2, dan 3
B. 1 dan 3 saja
C. 2 dan 4 saja
D. 3 dan 4 saja

Perhatikan ilustrasi berikut:
“Sebuah daerah di Indonesia memiliki tradisi pembuatan perahu dan perdagangan antar pulau sejak zaman dahulu.”

Analisis yang tepat terhadap kondisi tersebut adalah…

A. Dipengaruhi budaya animisme
B. Warisan budaya maritim nenek moyang
C. Pengaruh langsung bangsa Eropa
D. Tidak ada kaitannya dengan nenek moyang



Cepu, 2 April 2026





Selasa, 31 Maret 2026

THR Lebaran

 


Karya: Gutamining Saida

Pertemuan kedua setelah Hari Raya Idulfitri terasa begitu berbeda. Ada nuansa yang lebih hangat, lebih tenang, sekaligus penuh harapan. Pagi itu saya melangkah menuju kelas 8H dengan hati yang diliputi rasa syukur. Saya masuk tepat pada jam pembelajaran ke 1-2 . Setelah sebulan ditempa dalam madrasah Ramadan, saya percaya setiap anak membawa secercah perubahan dalam dirinya, sekecil apa pun itu.

Saat memasuki kelas, suasana masih terasa riuh, namun berbeda dari biasanya. Wajah-wajah mereka tampak lebih bersih, bukan hanya karena pakaian rapi yang dikenakan, tetapi juga karena hati yang mungkin telah dibersihkan melalui ibadah dan saling memaafkan. Saya membuka pembelajaran dengan mengucap salam, yang dijawab serempak dengan penuh semangat.

“Anak-anak, setelah kita saling memaafkan di hari yang fitri, mari kita isi hari-hari kita dengan ilmu yang bermanfaat,” ucap saya.

Saya memulai pembelajaran dengan membahas keadaan ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan. Saya jelaskan pengertiannya terlebih dahulu, bahwa kondisi ekonomi saat itu sangat memprihatinkan. Negara yang baru saja merdeka harus menghadapi berbagai kesulitan, mulai dari kekurangan sumber daya hingga belum stabilnya pemerintahan.

Kemudian saya lanjutkan dengan sebab-sebabnya. Saya sampaikan bahwa penjajahan yang begitu lama telah menguras kekayaan bangsa. Infrastruktur rusak, produksi menurun, dan rakyat hidup dalam keterbatasan. Ditambah lagi adanya inflasi tinggi karena beredarnya berbagai mata uang secara bersamaan.

Saya melihat beberapa siswa mulai mengangguk, mencoba memahami. Lalu saya ajak mereka merenung sejenak.

“Coba bayangkan, anak-anak, bagaimana rasanya hidup di masa itu? Saat makan saja sulit, pekerjaan tidak menentu, dan negara masih berjuang mencari jati diri,” kata saya pelan.

Suasana kelas menjadi lebih hening. Saya lanjutkan dengan menjelaskan permasalahan ekonomi yang dihadapi, seperti kas negara yang kosong, utang luar negeri, serta kurangnya tenaga ahli. Semua itu membawa akibat yang tidak ringan: kemiskinan merajalela, pengangguran meningkat, dan pembangunan terhambat.

Di balik semua itu, saya tekankan nilai pentingnya: perjuangan dan tawakal.

“Anak-anak, para pendahulu kita tidak menyerah. Mereka tetap berusaha, berikhtiar, dan tentu saja berdoa kepada Allah Subhanahu Wata'alla. Karena mereka yakin, setelah kesulitan pasti ada kemudahan,” ujar saya sambil mengingatkan makna firman-Nya.

Saya ingin mereka tidak hanya memahami sejarah sebagai hafalan, tetapi sebagai pelajaran hidup.

Setelah materi selesai, saya merasa suasana perlu sedikit dicairkan. Namun tetap dalam koridor pembelajaran yang bermakna. Saya pun mengeluarkan beberapa lembar uang mainan yang sudah saya siapkan sebelumnya yaitu pecahan 100 ribu, 50 ribu, 20 ribu, 10 ribu, 2 ribu, dan 1 ribu. Uang tersebut berjumlah 40 biji. Jumlah siswa ada 32 anak. Tujuannya agar yang sudah menyelesaikan bisa langsung mengambil sisa uang yang ada di depan tanpa menunggu temannya selesai.

Mata mereka langsung berbinar.

“Wah, ada THR, Bu?” celetuk salah satu siswa.

Saya tersenyum. “Iya, ini THR… tapi bukan untuk dibelanjakan, melainkan untuk menambah ilmu dan diselesaikan.”

Mereka tertawa kecil, penasaran.

Saya menjelaskan bahwa di balik setiap uang terdapat pertanyaan. Siapa yang mengambil, harus menjawab pertanyaan tersebut. Jika benar, mereka boleh menyimpan uang itu sebagai simbol keberhasilan.

Permainan pun dimulai. Satu per satu siswa maju dengan penuh semangat. Ada yang mendapatkan pertanyaan mudah, ada pula yang harus berpikir lebih keras. Yang membuat saya terharu, mereka mengambil uang sesuai dengan keinginan mereka dan saling membantu. Jika ada teman yang kesulitan, yang lain memberi semangat, bahkan membantu mengingatkan.

Di situlah saya melihat nilai kebersamaan yang indah. Seorang siswa yang biasanya pendiam, hari itu memberanikan diri maju. Ia mendapatkan uang pecahan kecil, namun pertanyaannya cukup menantang. Ia sempat ragu, menunduk sejenak, lalu mencoba menjawab.

“Menurut saya… karena kas negara kosong, Bu,” jawabnya pelan.

“MasyaAllah, benar sekali,” kata saya.

Wajahnya langsung berseri. Teman-temannya memberi tepuk tangan. Saya melihat bukan sekadar permainan, tetapi ada rasa percaya diri yang tumbuh.

Permainan terus berlangsung dengan penuh antusias. Satu per satu siswa maju, menjawab, dan berhasil. Tidak ada yang menyerah, tidak ada yang diam. Bahkan siswa yang biasanya kurang percaya diri hari itu ikut mencoba. Dengan semangat yang luar biasa, akhirnya seluruh siswa berhasil menyelesaikan pertanyaan mereka dengan baik.

Setelah semua selesai, mereka pun dengan tertib mengumpulkan hasilnya kepada saya. Uang-uang mainan yang mereka pegang menjadi bukti usaha mereka. Mereka datang satu per satu, bahkan ada yang berbaris rapi, sambil berkata dengan penuh harap, “Bu, ini sudah saya kerjakan, mohon nilainya.”

Saya tersenyum haru melihat pemandangan itu. Ada kesungguhan, ada tanggung jawab, dan ada keinginan untuk dihargai atas usaha mereka.

“MasyaAllah, luar biasa. Kalian semua hebat hari ini,” ucap saya sambil memberikan penilaian.

Di sela itu, saya menyisipkan pesan. “Anak-anak, uang yang kalian pegang ini hanya kertas. Tapi dalam kehidupan nyata, uang bisa menjadi ujian. Bisa membuat orang lupa diri, bahkan lupa bersyukur. Maka gunakanlah rezeki dengan cara yang baik, halal, dan bermanfaat.”

Mereka terdiam, mendengarkan. Saya lanjutkan, “Seperti para pejuang kita dahulu, meski hidup serba kekurangan, mereka tetap jujur dan berjuang dengan penuh keikhlasan. Itulah yang harus kita teladani.”

Permainan berakhir dengan penuh keceriaan. Tidak ada yang merasa kalah, karena semua telah berusaha dan berhasil. Saya menutup pembelajaran dengan refleksi sederhana.

“Apa yang kalian pelajari hari ini?” tanya saya.

Beberapa tangan terangkat.

“Belajar bersyukur, Bu.”

“Belajar tentang perjuangan.”

“Belajar berani menjawab.”

“Belajar bertanggung jawab, Bu, karena harus mengumpulkan hasil,” tambah salah satu siswa.

Saya tersenyum haru. Saya berdoa, semoga ilmu yang mereka dapatkan hari ini menjadi amal jariyah, tidak hanya untuk saya, tetapi juga untuk mereka di masa depan.

Sebelum keluar kelas pergantian jam pembelajaran, saya mengajak mereka membaca hamdalah bersama. Saya ingin setiap pembelajaran ditutup dengan rasa syukur.

Hari itu saya keluar kelas dengan hati yang senang. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menanamkan nilai. Saya yakin, sekecil apa pun kebaikan yang ditanam, suatu saat akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar, atas izin Allah Subhanahu Wata'alla, Aamiin.

Cepu, 1 April 2026