Jumat, 04 September 2026

Meneng, Mingkem



Karya: Gutamining Saida 
Jum'at sore sudah berlalu. Matahari perlahan tenggelam, suara tawa ibu-ibu di Bumool sudah berganti dengan suasana malam yang lebih tenang. Cerita sore belum benar-benar selesai. Bagi saya ada sesuatu yang masih tertinggal di kepala. Bukan suara air, bukan gerakan renang, bukan pula instruksi Pak Gun.

Tawa yang mungkin bagi orang lain tidak berarti apa-apa, tetapi bagi kami saat di Bumool justru menjadi obat setelah menjalani rutinitas masing-masing. Malam hari saya mencoba menulis. Bukan karena mempunyai tujuan yang muluk-muluk. Saya hanya ingin merefresh kejadian sore hari yang penuh tawa dan bahagia. 

Saya ingin mengabadikannya dalam aksara. Siapa tahu tulisan sederhana itu bisa menjadi hiburan bagi ibu-ibu sambil leyeh-leyeh setelah aktivitas seharian. Bisa dibaca sambil tersenyum, dibaca sambil tertawa. Suatu hari nanti, ketika waktu sudah berjalan begitu jauh, bisa dibuka kembali sebagai sebuah kenangan indah.

“Dulu kita pernah seperti ini…” Betapa bahagianya jika sebuah tulisan mampu mengembalikan kita pada sebuah sore yang sudah lama berlalu. Maka saya menulis,  ceritakan apa yang terjadi, tuliskan tingkah ibu-ibu,  masukkan sedikit kelucuan serta abadikan suasana Bumool. 

Tidak berselang lama, ternyata ada yang membuka. Waaah! Hati saya langsung senang. Ternyata ada yang tertarik. Bagi seorang yang suka menulis, ada pembaca pertama itu rasanya seperti mendapat tepukan kecil di pundak. Apalagi tidak hanya membaca. Tapi ada komentar. Komentar di grup pertama dari Pak Gun. 
“Luar biasa.”
“Pokoke jos jis.”komentar dari bu Isna selanjutnya.

Saya semakin tersenyum. Lalu pak Gun menuliskan sesuatu yang membuat saya berhenti sejenak. “Setiap kata yang muncul bisa jadi tulisan, bisa menjadi sebuah karya istimewa.” Saya membaca kalimat itu berulang-ulang.

Kemudian Bu Pur juga tidak mau ketinggalan. Ikut memberikan komentar di grup. Saya membaca satu demi satu. Saya sengaja tidak langsung membalas. Saya hanya membaca lalu tersenyum. Bahkan beberapa kali senyum-senyum sendiri. Mungkin kalau ada orang melihat saya malam itu, dia akan bertanya, “Bu Saida kenapa tersenyum sendirian?”
Jawabannya sederhana. Saya sedang menikmati kebahagiaan yang berasal dari sebuah tulisan.

Tiba-tiba Pak Gun kembali membuat suasana menjadi semakin menarik. Beliau menulis, “Saya besok mingkem.” Saya langsung membayangkan kejadian esok sore. Mingkem? Benarkah? Pak Gun akan mingkem? Saya mulai berimajinasi. Nanti sore Pak Gun berdiri di pinggir kolam. Ibu-ibu berkumpul. Biasanya suara Pak Gun terdengar memberikan instruksi. “Ayo meluncur…”“Tangan digerakkan…”“Tarik napas…” “Gerakkan kaki…”

Saya membayangkan suasana Bumool nanti sore. Mungkin akan lebih heboh, seru. Mungkin juga akan menjadi cerita baru yang kembali saya tulis malam berikutnya. Karena di Bumool, satu kejadian belum selesai diceritakan, sudah muncul kejadian berikutnya. Begitulah kebersamaan kami.  Cukup kolam, air, teman-teman, dan sedikit humor. Tetapi semakin saya memikirkan semuanya, tiba-tiba hati saya terasa sedikit berbeda.

Suatu saat nanti, yang tersisa hanyalah kenangan dan cerita. Maka biarlah Bumool menyimpan banyak cerita. Biarlah air kolam menjadi saksi. Biarlah tawa kita menjadi bagian dari sore-sore yang pernah indah. Biarlah tulisan-tulisan kecil ini menjadi rumah bagi kenangan. Agar suatu hari nanti, ketika kita membacanya kembali.

Semoga siapa pun yang telah meluangkan waktu membaca tulisan ini diberi kesehatan, umur panjang, kebahagiaan, dan kesempatan menikmati sore bersama orang-orang yang dicintai. Karena mungkin kita tidak pernah tahu…kisah berikut yang kita alami.

Untuk sore nanti… Pak Gun katanya mingkem. Ibu-ibu diperintah tutup mata. Apakah benar? Apakah Pak Gun kuat menahan bicara? Sampai jumpa di Bumool. Mingkemnya Pak Gun, tutup matanya ibu-ibu, dan kejutan apa yang akan terjadi… kita buktikan nanti sore. Bersambung…
Cepu, 5 September 2026

Aura

 


Karya: Gutamining Saida

Lorong-lorong Esmega selalu menyimpan riuh rendah semangat siswa siswi yang tak pernah padam. Sebagai seorang guru IPS yang setiap harinya menempuh perjalanan untuk membersamai para siswa tumbuh dan menemukan jati diri mereka, momen-momen kebetulan di koridor sekolah sering kali menjadi jeda yang paling menyegarkan dari rutinitas mengajar. 

Di sanalah, di antara riuhnya bel pergantian jam dan langkah-langkah kaki yang berlarian, saya sering berpapasan dengan seorang siswi istimewa. Aura namanya. Pertemuan kami belakangan ini memang lebih banyak diwarnai oleh sapaan singkat atau sekadar senyum hangat di antara keramaian selasar kelas. Sebuah rutinitas sederhana yang, entah bagaimana, diam-diam selalu berhasil menerbitkan kehangatan dan rasa syukur di dalam dada.

Melihat Aura yang kini telah berada kelas delapan, tanpa terasa membawa ingatan saya terbang mundur pada setahun yang lalu. Saat itu, ia masih duduk di bangku kelas tujuh dan semesta mempercayakan saya untuk menjadi wali kelasnya. 

Menjadi wali kelas di tingkat Sekolah Menengah Pertama bukanlah sekadar tugas menuntaskan administrasi nilai atau memastikan presensi kehadiran setiap pagi. Jauh dari itu, ia adalah sebuah perjalanan emosional untuk menjadi orang tua kedua bagi mereka yang sedang mencari bentuk kedewasaan. 

Saya mengenali betul bagaimana karakter Aura, keluguannya, senyumnya yang khas, dan ketekunannya yang selalu menonjol saat berada di dalam kelas. Kini, seiring berjalannya waktu dan dinamika penugasan di sekolah, empat orang guru IPS di Esmega yang kebetulan keempatnya adalah perempuan-perempuan tangguh telah berbagi peran. 

Aura tidak lagi berada di kelas tempat saya berdiri di depan papan tulis. Ikatan batin tak kasat mata antara seorang guru dan muridnya sejatinya terbukti jauh lebih kuat daripada sekadar deretan jadwal mata pelajaran di atas kertas.

Aura adalah satu dari sekian banyak sosok yang membuktikan bahwa setiap anak dilahirkan ke dunia dengan warna dan keistimewaannya masing-masing. Di balik sikapnya yang tenang dan bersahaja, ia menyimpan anugerah bakat yang luar biasa dalam menciptakan harmoni garis, warna, dan bentuk. Tangannya begitu terampil menghasilkan karya gambar yang bukan saja memukau secara teknik goresan, tetapi juga terasa sangat hidup dan mampu bercerita tanpa perlu bersuara. 

Hebatnya lagi, ia tidak membiarkan bakat itu mengendap begitu saja atau membiarkannya berlalu menjadi hobi musiman semata. Kesadaran penuh dan semangat yang pantang menyerah, Aura memilih untuk melangkah lebih jauh dengan bergabung dalam ekstrakurikuler melukis di sekolah. Tujuannya sangat jelas dan amat patut diacungi jempol: ia ingin terus bertambah mahir setiap harinya. Menyaksikan hobinya tersalurkan dengan arah yang benar, melihatnya memegang kuas dengan penuh keyakinan dan dedikasi, adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya. Ini adalah pesan motivasi tersirat bagi kita semua, bahwa potensi alami sebesar apa pun tetap membutuhkan wadah yang tepat, disiplin, latihan keras, dan ketekunan panjang agar bisa benar-benar mekar secara paripurna.

D tengah hiruk-pikuk jam istirahat yang berlalu begitu singkat, semesta seolah sengaja mengatur langkah kami untuk saling bertemu. Aura menghampiri saya dengan sepasang mata yang berbinar penuh harap, membawa sebuah tantangan yang tak terduga terasa sangat manis. 

Dengan nada yang sedikit mengiba sarat akan keakraban seorang anak kepada sosok ibunya, ia merajuk pelan, "Bu... tolong buatkan kisah cerita saya dong!" Permintaannya begitu tulus, meluncur tanpa tedeng aling-aling dari bibir seorang anak yang sesungguhnya hanya ingin eksistensi, usaha, dan perjalanannya diakui serta diabadikan. Tanpa perlu menimbang, berpikir panjang, saya langsung mengangguk dan memberikan senyum terlebar. "Boleh!" jawab saya singkat namun dengan penuh kemantapan hati.

Kata "boleh" yang terucap saat itu bukanlah sekadar persetujuan basa-basi untuk menyenangkan hati anak kecil, melainkan sebuah komitmen lisan untuk merangkai kata demi kata, mengabadikan sosok Aura dalam sebuah penceritaan. Ada alasan filosofis yang sangat mendalam di balik jawaban singkat saya siang itu. 

Tujuan saya sebenarnya teramat sederhana. Saya hanya ingin membuat orang-orang di lingkungan saya merasa bahagia, dihargai, dan disadari kehadirannya. Kebahagiaan sejati dalam hidup ini sering kali tidak datang dari pencapaian-pencapaian material atau pengakuan monumental yang dielu-elukan banyak orang, melainkan dari kemampuan tulus kita untuk menghadirkan binar kegembiraan di mata orang lain.

Sebuah kebahagiaan tersendiri mengalir begitu hangat dan menentramkan jiwa saat kita menyadari indakan kecil yang kita lakukan. Seperti menggerakkan pena dan menyusun paragraf cerita mampu menjadi alasan seseorang tersenyum lepas. Bagi saya, menuliskan kisah Aura adalah cara untuk merawat ingatan, sebuah upaya berharga untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kebaikan harian menjadi jejak karya tulis yang kelak bisa dibaca dan dikenang kembali.

Kisah Aura sejatinya adalah cerminan dari semangat pantang menyerah dalam mengasah nilai diri. Perjalanannya mengajarkan kita .Ketika kita telah menemukan hal yang kita cintai, kita harus memiliki keberanian untuk mengambil langkah ekstra dalam menekuninya. 

Kelak saat ia melangkah keluar menghadapi arena kehidupan yang jauh lebih luas dan menantang dari sekadar koridor sekolah Esmega, tulisan ini akan menjadi penanda waktu. Sebuah pengingat abadi ia pernah menjadi sosok anak perempuan teguh yang penuh dengan mimpi besar, yang setiap goresan karyanya dihargai dengan tulus, dan yang keberadaannya selalu sukses membawa sepercik kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Teruslah melukis masa depanmu dengan warna-warna paling berani, Aura, dan biarkan saya merangkai kisahnya untukmu.

Cepu, 5 September 2026


Kertas Putih


Karya: Gutamining Saida

Di penghujung hari, ketika matahari mulai berada di atas dan udara siang terasa semakin panas, kelelahan biasanya menjadi tamu tak diundang. Situasi yang paling sulit diusir dari ruang kelas. Bagi banyak orang, jam pelajaran terakhir adalah waktu di mana kelopak mata terasa seberat timah. Jarum jam dinding seolah enggan bergerak maju. 

Pemandangan yang tersaji di ruang kelas 8B SMPN 3 Cepu sungguh mematahkan segala stigma tersebut. Ada sebuah energi murni yang tak kasat mata, mengalir deras dan mementahkan segala sisa lelah setelah seharian beraktivitas. 

Sebagai seorang pendidik yang rutin menempuh perjalanan membelah angin demi bisa berdiri di depan kelas. Saya menemukan denyut semangat yang begitu hidup dari anak-anak didik adalah pelipur lara dan bayaran yang jauh lebih berharga dari apa pun.

Mereka menyambut pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan mata yang berbinar dan antusiasme yang tak sedikit pun menyurut. Tidak ada satu pun kepala yang tertunduk lesu menahan kantuk di atas meja. 

Sebagai guru yang telah banyak merekam dinamika di ruang kelas. Saya sangat memahami bahwa menjaga ritme konsentrasi anak-anak di usia belasan tahun pada jam-jam rawan membutuhkan kepekaan dan seni tersendiri. 

Ketika saya menangkap adanya sedikit riak penurunan fokus sebuah jeda alami di tengah padatnya materi dan diskusi saya memutuskan untuk mengambil sebuah jalan memutar. Pembelajaran yang sejati tidak selamanya harus terpaku kaku pada teks sejarah atau letak geografis di buku cetak terkadang, ia justru butuh ruang bernapas agar bisa mekar dalam bentuk yang sama sekali tidak terduga.

Tanpa banyak bicara, saya mulai berjalan mengelilingi deretan meja kayu, membagikan selembar kertas kosong kepada setiap siswa. Kertas-kertas putih bersih itu berpindah dari tangan saya ke meja mereka, membawa serta sebuah misteri kecil yang dengan cepat memancing rasa ingin tahu di seluruh penjuru kelas.

"Buat apa, Bu?" tanya Faza, suaranya memecah keheningan yang baru saja terbentuk, mewakili kebingungan teman-temannya yang sedari tadi hanya saling tatap.

Saya hanya tersenyum tipis, menyimpan rapat-rapat rencana ini agar efek kejutnya tidak hilang. 

"Ada deh!" jawab saya dengan nada sedikit menggoda, sengaja membiarkan rasa penasaran mereka tumbuh dan mengambil alih kebosanan.

Setelah memastikan setiap anak mendapatkan bagiannya, saya melangkah kembali ke depan kelas. Sorot mata mereka kini sepenuhnya tertuju pada saya, menunggu instruksi selanjutnya dengan saksama. Saya menatap wajah-wajah belia yang penuh potensi itu dan memberikan sebuah tantangan yang sangat sederhana namun memiliki ruang interpretasi yang sungguh tak terbatas.

"Tolong buatkan gambar sepasang mata di kertas tersebut," instruksi saya perlahan.

Kening mereka sontak berkerut. Tantangan ini terdengar terlalu ganjil untuk sebuah pelajaran IPS. Juna, yang duduk di kursi belakang bersama Alfin, langsung menyahut dengan raut wajah penuh keheranan, "Buat apa, Bu?"

"Setelah kalian menggambar sepasang mata," lanjut saya, sengaja membiarkan pertanyaan Juna menggantung sejenak di udara, "lengkapi sisanya terserah kalian. Kalian bebas mau menggambar apa saja di sekitar dua mata tersebut. Bebas, ya. Biarkan imajinasi kalian yang mengambil alih kemudi."

Selama beberapa detik, suasana kelas terasa hening. Mereka saling berpandangan, mencoba mencerna instruksi yang membebaskan sekaligus menantang tersebut. Kebebasan ruang pikir, terkadang, memang bisa terasa mengintimidasi pada awalnya. 

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mulai merespons. Suara goresan pensil dan pulpen di atas kertas mulai mendominasi ruang kelas, menciptakan sebuah simfoni kecil yang begitu menenangkan hati. Kening yang tadinya berkerut karena kebingungan kini berubah menjadi kerutan konsentrasi yang tajam. Mereka mulai berpikir, merenung, dan perlahan mencoret-coret sketsa mereka masing-masing.

Saya tidak tinggal diam mematung di depan kelas. Langkah perlahan, saya kembali berjalan berkeliling, menyusuri lorong sempit di antara bangku-bangku mereka. Saya ingin melihat dari dekat bagaimana proses magis mereka bagaimana sebuah instruksi yang sangat sederhana bisa diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa visual yang sama sekali berbeda.

Masya Allah. Kalimat pujian itu tanpa sadar bergema berulang kali. Saya dibuat takjub, terenyuh, sekaligus merinding melihat apa yang sedang terjadi di depan mata. Di atas lembaran-lembaran kertas yang sepuluh menit lalu hanya kosong melompong, kini telah tercipta sebuah semesta imajinasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Dari titik tolak yang persis sama hanya sepasang mata. Mereka melahirkan mahakarya yang tidak ada duanya. 

Ada yang menggambar sosok pahlawan super dengan topeng misterius yang gagah, ada yang melukiskan wajah hewan peliharaan dengan detail goresan yang begitu menggemaskan, ada pula yang menciptakan karakter fantasi unik yang seolah baru saja melompat keluar dari buku dongeng. 

Di sudut lain, ada yang mengelilingi sepasang mata itu dengan pola-pola geometris rumit yang memancarkan kesan futuristik, dan ada yang melukiskan pemandangan alam lepas di mana dua mata tersebut menjelma menjadi matahari dan rembulan yang mengawasi hamparan bumi.

Satu kelas, tidak ada satu pun karya yang sama. Setiap lembar kertas adalah cerminan jiwa, alur pikiran, dan karakter masing-masing anak yang sangat unik. Semuanya bagus. Semuanya istimewa. Tidak ada istilah salah, keliru, atau jelek dalam sebuah karya yang lahir dari kejujuran ekspresi dan bebas berpikir.

Sebagai guru IPS, mungkin orang di luar sana akan mengernyitkan dahi dan bertanya, apa hubungannya menggambar bebas dengan pelajaran  interaksi sosial. Bagi saya, momen siang ini, adalah wujud paling murni dari esensi pendidikan itu sendiri. 

Tugas seorang pendidik bukanlah sekadar menjejalkan hafalan fakta dan deretan angka ke dalam ingatan siswa, melainkan memantik percikan api keberanian di dalam dada mereka. Menjadi fasilitator berupaya keras menyediakan ruang aman agar ide-ide mereka tersalurkan dengan merdeka tanpa rasa takut dihakimi.

Berdiri di tengah-tengah ruang kelas 8B, rasa bangga, senang, dan bahagia membuncah memenuhi rongga dada. Saya menyadari bahwa anak-anak ini sejatinya membawa dunia yang begitu luas dan kaya di dalam benak mereka. 

Seringkali, rutinitas akademis yang ketat dan tekanan nilai membuat mereka lupa betapa hebatnya kekuatan imajinasi yang tertidur di dalam diri mereka. Hanya bermodalkan selembar kertas sisa dan sebuah tantangan kecil, mereka telah membuktikan potensi kreativitas itu tidak pernah mati. Ia hanya selalu menunggu momen yang tepat untuk dibangunkan.

Karya-karya mereka hari ini bukanlah sekadar coretan iseng pengisi waktu luang, melainkan sebuah pesan yang sangat kuat tentang keindahan keberagaman dan kebebasan berekspresi. Ini adalah sebuah pengingat yang begitu membekas bagi saya.

Setiap anak terlahir dengan kanvas kosong masing-masing. Adalah tugas kita untuk menyodorkan mereka warna, lalu melangkah mundur sejenak untuk berdiri di samping mereka, mengagumi mahakarya apa pun yang akhirnya berani mereka ciptakan. 

SMPN 3 Cepu, saya sedang bertugas mengajarkan mereka tentang dunia luar yang luas, tetapi pada saat yang bersamaan, merekalah yang sebenarnya sedang mengajarkan tentang betapa indahnya dunia di dalam diri mereka sendiri. 

Kelak, kepingan cerita-cerita kecil dari ruang kelas akan terus saya kumpulkan, saya rawat, dan saya tuliskan menjadi sebuah jejak abadi sebuah warisan bermakna yang akan selalu mengingatkan kita semua bila mendidik adalah tentang menyentuh jiwa.

Cepu, 4 September 2026

Percil

Karya : Gutamining Saida 

Suasana sore di Bumool selalu menyajikan kehangatan yang khas. Bagi banyak orang, menjaga kesehatan adalah sebuah komitmen, dan Jum'at sore, pilihan untuk tetap bugar bermuara di kolam renang. Kesehatan menjadi dambaan setiap insan, baik mereka yang sedang prima maupun yang tengah berikhtiar memulihkan kondisi tubuh. 

Ada beragam cara yang bisa ditempuh untuk merawat kebugaran mulai dari terapi akupunktur, bekam, jalan kaki santai, hingga senam aerobik. Jum'at sore, olahraga renang menjadi pilihan utama untuk menyegarkan badan sekaligus merawat pikiran.

Sesi latihan sore itu terasa istimewa karena kehadiran Pak Gun, sang pelatih yang selalu membawa energi positif. Dengan suara mantap dan penuh keramahan, beliau menyapa para peserta, "Bu ibu sore ini kita berlatih gaya dada nggih!"

Sebelum para ibu masuk ke air dan mempraktikkan gerakan, Pak Gun memberikan contoh terlebih dahulu dengan cermat. Beliau memperagakan posisi tubuh, ayunan tangan, hingga dorongan kaki secara runtut. Untuk mempermudah pemahaman, Pak Gun menyederhanakan penjelasannya dengan analogi yang sangat akrab di telinga. Beliau menjelaskan bahwa gaya dada kerap dikenal juga sebagai gaya katak.

Untuk memastikan perhatian para peserta tetap tercurah, Pak Gun melontarkan pertanyaan ringan, "Ibu ibu tahu katak?"

"Tahulah pak," sahut saya cepat.

Pak Gun kemudian melanjutkan kelakarnya, "Katak itu besar, kalau kecil namanya apa?"

"Percil, Pak," jawab Bu Pur singkat, padat, dan jelas.

Pak Gun kembali memancing keriangan dengan pertanyaan berikutnya, "Ibu ibu tahu percil?"

"Tahuuuu..." jawab Bu Saroh kompak bersama ibu-ibu lainnya.

Tanpa diduga, Pak Gun melontarkan seloroh penutup, "Percil itu pelawak."

Seketika itu juga, tanpa ada aba-aba khusus, gelak tawa pecah secara bersamaan. Candaan spontan mengenai "Percil" sang pelawak berhasil mencairkan suasana. Kolam renang di Bumool sore itu tidak lagi sekadar dipenuhi air dingin yang menyegarkan, melainkan juga bergelombang oleh tawa riang para ibu yang melepaskan beban pikiran.

Kehadiran sosok pelatih seperti Pak Gun membuktikan bahwa proses menjaga kesehatan tidak harus selalu diisi dengan kekakuan atau ketegangan. Canda tawa yang terjalin di antara gerakan renang menjadi obat penyegar jiwa yang tidak kalah ampuhnya dibanding latihan fisik itu sendiri. Tertawa bersama adalah wujud nyata dari rasa bahagia dan pikiran yang sehat.

Melalui momen sederhana di kolam renang ini, tersirat sebuah pesan inspiratif tentang arti sejati dari menjaga kebugaran. Kesehatan bukanlah sebuah beban rutinitas yang berat, melainkan sebuah perayaan kehidupan yang patut dijalani dengan sukacita. Ketika fisik dilatih melalui kayuhan gaya dada dan jiwa disegarkan oleh kebersamaan serta tawa yang tulus, di sinilah keseimbangan hidup yang sejati tercapai. Kehadiran Pak Gun dan kebersamaan para ibu membuktikan bahwa di mana ada kegembiraan, di situ kesehatan dan kebahagiaan akan selalu bertumbuh subur. Aamiin
Cepu, 4 September 2026 





Jarak Bukan Penghalangmu

Karya : Gutamining Saida 
Sebagian anak, pergi ke sekolah mungkin hanyalah rutinitas biasa. Bangun pagi, mandi, sarapan, mengenakan seragam, lalu berangkat. Tetapi bagi Naila, setiap perjalanan menuju sekolah seperti sebuah langkah kecil yang sedang mengantarkannya menuju sebuah impian besar.

Ia siswi kelas 8B Esmega. Ia berasal dari Kedungtuban, sebuah daerah yang cukup jauh jika perjalanan itu harus ditempuh oleh seorang anak usia SMP setiap hari. Jarak bukanlah sesuatu yang membuatnya mundur. Justru dari perjalanan itulah tampaknya tumbuh sebuah keteguhan dalam dirinya. 

Ia memilih Esmega, sekolah yang oleh sebagian orang sering disebut sebagai sekolah sultan. Sebutan itu tentu membawa konsekuensi. Bersekolah di tempat yang memiliki banyak siswa berprestasi berarti harus siap bersaing, siap belajar lebih giat, dan siap menunjukkan kemampuan terbaik.

Ia datang ke Esmega tidak sekadar untuk menjadi bagian dari banyak siswa. Ia datang dengan keyakinan bila jarak rumah dan sekolah bukan alasan untuk membatasi langkah. Ada sesuatu yang menarik dari dirinya. Ia bukan hanya anak yang pandai. Ia juga memiliki kebiasaan yang sederhana, tetapi sebenarnya sangat luar biasa. Ketika mendapatkan tugas mata pelajaran IPS, ia segera mengerjakannya. Tidak ada kata, "Nanti saja, nanti nanti." Tidak ada kebiasaan menunda,  menunggu sampai batas waktu hampir habis. Jika tugas diberikan, ia kerjakan. Setelah selesai, ia kumpulkan. Sederhana, bukan?

Banyak orang memiliki kecerdasan. Banyak siswa memiliki kemampuan yang tidak kalah hebat. Tetapi terkadang kemampuan itu berhenti pada niat.
"Besok saja."
"Nanti kalau sudah sempat."
"Masih lama."
"Masih ada waktu."
Kalimat-kalimat seperti itu sering terdengar tetapi diam-diam bisa menjadi penghambat kesuksesan.

Naila memilih jalan yang berbeda. Ia memahami jika tugas bukan sekadar kewajiban dari guru. Tugas adalah kesempatan untuk belajar. Maka ketika tugas datang, ia menyambutnya dengan tindakan, bukan dengan penundaan. Kebiasaan itu akhirnya menjadi karakter. Karakter yang dilakukan berulang-ulang akan melahirkan hasil. Tidak mengherankan jika kemudian Naila mampu meraih peringkat pertama.

Prestasi itu tentu membanggakan. Lebih menarik bukan hanya angka atau posisi yang tertulis di daftar peringkat. Di balik peringkat pertama itu ada perjalanan panjang, ada waktu yang digunakan dengan baik, ada tugas-tugas yang diselesaikan, ada kesungguhan belajar, dan ada kemauan untuk terus berusaha. Peringkat pertama bukanlah hadiah yang tiba-tiba jatuh dari langit. Tapi buah dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Naila ternyata tidak hanya unggul dalam bidang akademik. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan. Inilah yang membuat sosoknya semakin menarik. Ada siswa yang pintar tetapi cenderung menutup diri. Ada yang aktif tetapi kurang mampu mengatur waktu belajar. Ada pula yang berprestasi tetapi kesulitan bergaul dengan teman-temannya.

Naila seolah mampu memadukan semuanya. Ia mudah bergaul,  mampu beradaptasi,  tidak membatasi pertemanan hanya dengan kelompok tertentu. Di lingkungan sekolah, ia bisa menemukan teman. Ia mampu menyesuaikan diri dengan suasana baru. Ia bisa bekerja sama dan menjadi bagian dari berbagai kegiatan. Kemampuan beradaptasi seperti ini sangat penting. Sebab kehidupan tidak selalu membawa kita ke tempat yang nyaman. Kadang kita harus berada di lingkungan baru, bertemu orang baru, menghadapi karakter yang berbeda, dan bekerja bersama orang yang tidak selalu memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Orang yang mampu beradaptasi akan lebih mudah menemukan jalan.

Naila menunjukkan dirinya menjadi anak pintar tidak berarti harus menjauh dari teman. Justru kepandaian bisa menjadi cahaya yang menerangi sekitar. Prestasi bisa berjalan bersama keramahan. Kesibukan bisa berjalan bersama pertemanan. Belajar bisa berjalan bersama kegiatan. Semua itu membutuhkan satu hal, yaitu kemampuan mengatur diri.

Kadang seseorang tinggal jauh dari sekolah, tetapi memiliki cita-cita yang sangat dekat di hati. Kadang seseorang harus menempuh perjalanan panjang setiap hari, tetapi justru perjalanan itulah yang mengajarkan arti ketekunan. Kadang seseorang memulai dari tempat yang sederhana, tetapi mampu berdiri di posisi yang membanggakan. Yang menentukan bukan hanya dari mana kita berasal. Yang lebih penting adalah ke mana kita ingin pergi dan seberapa sungguh-sungguh kita berjalan menuju ke sana.

Naila masih sebagai siswi SMP. Usianya masih sangat muda. Perjalanannya masih panjang. Prestasi hari ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah tanda bahwa ia berada di jalan yang baik. Kelak ketika ia semakin dewasa. Semoga kesuksesan selalu menyertai perjalanan mu. Aamiin.
Cepu, 4 September 2026 

Dibalik Diamnya Medina


Karya: Gutamining Saida

Ada siswa siswi datang ke sekolah dengan suara riuh, tawa yang memenuhi kelas, dan keberanian tampil di depan banyak orang. Ada pula yang hadir dengan cara yang berbeda. Dia datang dengan tenang. Duduk manis di bangku depan. Tidak banyak bicara. Tidak sibuk mencari perhatian. Bahkan terkadang keberadaannya hampir tidak terdengar di tengah riuhnya suasana kelas.

Di balik diamnya seorang anak, tersimpan potensi besar yang belum sempat ditemukan. Itulah yang saya rasakan ketika mengenal Medina.

“Medina,” begitu biasanya saya menyapanya.

Ia adalah siswa kelas 8B Esmega. Setiap pembelajaran IPS, Medina duduk di bangku depan bersama Alicia. Dari tempat duduknya itu, saya mengenalnya sebagai anak yang pendiam. Tidak banyak bicara, tidak banyak tingkah, dan lebih sering memperhatikan daripada menjadi pusat perhatian. Semakin lama saya mengenalnya, semakin saya menyadari bahwa diamnya Medina bukanlah kekosongan. Diamnya berisi.

Ada satu hal yang membuat saya cukup terkejut ketika mengetahui tentang Medina. Ternyata ayahnya, ketika masih duduk di bangku SMA, pernah menjadi siswa saya. Betapa panjang perjalanan seorang guru. Dahulu saya berdiri di depan kelas dan mengajar ayahnya. Waktu berjalan. Tahun berganti. Anak-anak yang dahulu siswa saya, kini telah menjadi orang tua.

Kemudian, tanpa pernah disangka, saya kembali bertemu dengan generasi berikutnya. Rasanya seperti sebuah pesan kecil dari kehidupan bahwa jejak seorang guru tidak pernah benar-benar berhenti ketika seorang siswa meninggalkan sekolah. Mungkin kita lupa sebagian nama siswa yang pernah kita ajar. Mungkin kita lupa tugas apa yang pernah mereka kumpulkan. Tetapi ternyata, ada sesuatu yang tetap tinggal. Kenangan indah.

Ketika tugas saya diberikan, Medina langsung bergerak. Teman-temannya mungkin masih berbicara, masih memikirkan mau mengerjakan dari mana, atau bahkan ada yang berkata, “Nanti saja, Bu.” Medina sudah mulai menulis. Tangannya bergerak. Pikirannya bekerja. Tugas diselesaikan.

Saya sering berpikir, bukankah sebenarnya seperti itulah karakter yang dibutuhkan dalam kehidupan? Tidak banyak bicara tentang apa yang akan dilakukan. Tetapi langsung melakukan. Tidak sibuk mengatakan dirinya rajin. Tetapi kerajinannya terlihat dari pekerjaannya. Tidak perlu mengatakan ingin berprestasi. Hasilnya sudah berbicara.

Tulisan Medina juga bagus. Rapi dan enak dibaca. Saat ulangan IPS, ia pun hampir selalu memperoleh nilai yang bagus. Di sana saya belajar satu hal,  kadang-kadang mereka hanya memilih berbicara melalui karya.

Ada hal sederhana lain dari Medina yang diam-diam membuat saya kagum. Setiap berangkat sekolah, Medina masih menggunakan sepeda pancal. Di zaman ketika sepeda listrik semakin banyak digunakan anak-anak sekolah, Medina tetap setia mengayuh sepedanya.

Sekarang banyak anak yang merasa lebih nyaman menggunakan sepeda listrik atau diantar orang tua. Tentu tidak ada yang salah dengan itu. Setiap keluarga memiliki pilihan masing-masing. Tetapi melihat Medina mengayuh sepeda menuju sekolah, saya seperti melihat sebuah gambaran tentang kemandirian dan kesederhanaan.

Kisah Medina belum selesai. Ada kejutan yang sampai sekarang masih saya ingat. Ketika menjadi siswa baru, Medina pernah menyumbangkan suara emas di indoor sekolah. Ia membawakan sebuah lagu berbahasa Inggris.

Awalnya saya mungkin tidak memiliki bayangan bahwa anak yang sehari-hari begitu pendiam itu memiliki kemampuan vokal yang istimewa. Tetapi ketika suara itu mulai terdengar...penonton pun terpukau. Suara Medina mengalun dengan percaya diri. Nada demi nada keluar dengan indah.

Peristiwa itu mengingatkan saya sebagai seorang guru terkadang kita terlalu cepat mengenal anak hanya dari apa yang terlihat di kelas. Padahal masih banyak anak yang potensinya tersembunyi. Tetapi ketika seorang guru memberikan ruang dan kesempatan, tiba-tiba sesuatu yang luar biasa muncul. Itulah Medina.

Semoga suara itu kelak menjadi jalan kebaikan, menginspirasi banyak orang, dan membuat namamu dikenang bukan karena seberapa keras kamu bersuara, tetapi seberapa banyak kebahagiaan yang kamu hadirkan melalui suara itu.

Seorang guru hanya ingin melihat satu hal yaitu muridnya tumbuh menjadi manusia baik, menemukan potensinya, berani bermimpi, dan bahagia menjalani hidupnya. Salam sukses selalu buat semua murid-murid saya. Aamiin.

Cepu, 4 September 2026

 


Kamis, 03 September 2026

Oblelix Sea View

 


Karya: Gutamining Saida

Rutinitas di sekolah terkadang membuat kita lupa bila tubuh dan pikiran juga membutuhkan jeda. Setiap hari ada tugas yang harus diselesaikan, siswa yang harus dibimbing, administrasi yang harus dikerjakan, rapat yang harus diikuti, dan berbagai tanggung jawab lain yang menunggu. Sebagai keluarga besar Esmega, kami terbiasa dengan kesibukan itu. Hari-hari berjalan cepat, dipenuhi aktivitas dan tanggung jawab.

Di balik kesibukan itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan iyalah kebersamaan. Karena itulah, sebuah perjalanan sederhana menjadi begitu berarti. Kali ini, keluarga besar Esmega memilih Obelix Sea View sebagai tempat untuk sejenak meninggalkan rutinitas sekolah. Bukan sekadar perjalanan untuk melihat tempat indah, tetapi sebuah kesempatan untuk mengistirahatkan pikiran, menyegarkan hati, dan menikmati waktu bersama.

Dari terminal, kami melanjutkan perjalanan menggunakan sebuah kendaraan yang berisi tujuh penumpang. Kendaraan mulai bergerak meninggalkan terminal. Suasana perjalanan pun perlahan berubah menjadi ruang kecil penuh cerita. Ada percakapan, canda, tawa, dan sesekali saling menggoda. Perjalanan yang sebenarnya hanya menjadi sarana menuju tujuan, justru terasa seperti bagian paling menyenangkan.

Suasana berbeda langsung terasa setelah sampai di lokasi. Pemandangan alam terbuka menyambut kami. Laut terbentang luas di bawah sana. Dari ketinggian, warna laut tampak putih berkilauan diterpa cahaya matahari sore. Mata seakan mendapatkan hadiah setelah sekian lama lebih banyak memandang layar komputer, buku, dokumen, dan aktivitas di dalam ruang kelas.

Kami berkesempatan untuk duduk, berbincang, tertawa, menikmati pemandangan, dan merasakan  hidup ternyata tidak selalu harus berjalan tergesa-gesa. Area tempat duduk pun dibuat begitu nyaman. Di salah satu sudut, tersedia tempat duduk lesehan di alam terbuka. Bantal-bantal warna-warni tersusun rapi, seolah mengajak setiap pengunjung untuk duduk santai dan melupakan sejenak kepenatan. Bunga-bunga berwarna magenta dan kuning menghiasinya. Warna-warni itu memberikan kesan ceria, seolah alam sedang ikut tersenyum menyambut kedatangan kami.

Ada pula berbagai bentuk kursi santai yang bisa dipilih. Ada yang ingin duduk bersama teman, ada yang ingin menikmati pemandangan seorang diri, ada pula yang memilih bercengkerama sambil sesekali tertawa lepas. Di tempat lain tersedia kedai makanan dan minuman. Menikmati makanan bersama ternyata bukan sekadar soal rasa. Ada percakapan yang muncul di sela-sela makan, ada cerita yang sebelumnya belum sempat disampaikan, ada candaan yang membuat suasana semakin hangat. Begitulah kebersamaan.

Menjelang Maghrib, suasana semakin menarik. Sebuah pentas seni telah dipersiapkan. Para pengunjung dapat menikmati berbagai penampilan seni yang disuguhkan. Tidak perlu menjadi bagian dari rombongan tertentu untuk menikmatinya. Siapa pun boleh duduk di sekitar area pertunjukan dan menyaksikan pagelaran tersebut.

Seni kembali mengingatkan kita manusia tidak hanya membutuhkan pekerjaan dan pencapaian. Manusia juga membutuhkan keindahan. Alunan musik, penampilan para seniman, suasana sore yang mulai beranjak menuju malam, serta para pengunjung yang duduk menikmati pertunjukan menciptakan suasana yang sulit digambarkan hanya dengan kata-kata.

Di tengah segala fasilitas yang tersedia, terdapat pula musala. Keberadaan tempat ibadah itu menjadi pengingat bahwa menikmati keindahan dunia tidak berarti melupakan kewajiban kepada Sang Pencipta. Waktu untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, mengingat Allah Subhanahu Wata'alla, serta mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan.

Pemandangan laut yang luas di bawah sana pun seolah memberikan pelajaran tersendiri. Laut tidak pernah terlihat kecil meskipun dipandang dari kejauhan. Ombaknya terus bergerak, kadang tenang, kadang bergelombang. Begitu pula kehidupan kita. Kehidupan harus terus bergerak. Yang penting bukan bagaimana kita menghindari gelombang, tetapi bagaimana kita tetap mampu menjaga diri agar tidak kehilangan arah.

Perjalanan keluarga besar Esmega ke Obelix Sea View akhirnya bukan sekadar jalan-jalan. Ia menjadi sebuah ruang untuk mengisi kembali energi kebersamaan. Sekolah bukan hanya tentang gedung, ruang kelas, guru, siswa, dan pekerjaan. Sekolah juga tentang manusia-manusia yang di dalamnya saling membutuhkan, saling mendukung, dan saling menguatkan.

Kebersamaan seperti ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Tetapi kenangannya bisa tinggal jauh lebih lama. Ketika esok kembali ke sekolah, mungkin pekerjaan akan kembali menunggu. Administrasi kembali harus diselesaikan. Siswa kembali memenuhi ruang kelas dengan berbagai karakter dan cerita. Kesibukan akan kembali datang.

Setelah menikmati sore di Obelix Sea View, ada sesuatu yang ikut kita bawa pulang. Hati yang lebih ringan, pikiran yang lebih segar, dan semangat yang kembali menyala. Sesekali kita memang perlu meninggalkan rutinitas, bukan karena kita ingin lari dari tanggung jawab, tetapi karena kita ingin kembali dengan tenaga yang lebih kuat.

“Terima kasih, Ya Allah. Di tengah kesibukan hidup, Engkau masih memberi kami kesempatan untuk berhenti sejenak, menikmati keindahan, dan merasakan hangatnya kebersamaan.”

Obelix Sea View menjadi saksi  keluarga besar Esmega tidak hanya bekerja bersama, tetapi juga belajar menikmati kebersamaan. Sampai jumpa pada cerita yang lain.

Cepu, 4 September 2026


Rabu, 02 September 2026

Jeritan, Pekikan Dan Tawa

 


Karya: Gutamining Saida

Matahari perlahan mulai condong ke arah barat, memancarkan semburat keemasan yang menghangatkan suasana sore di Kota Yogyakarta. Perjalanan penuh kehangatan diawali dengan kesederhanaan, di mana sebuah bus berwarna kuning setia membersamai rombongan guru dan karyawan Esmega. Bus kuning itu bukan sekadar kendaraan, melainkan saksi bisu kebersamaan, canda tawa, dan ikatan kekeluargaan yang terjalin erat di antara kami para pendidik dan tenaga kependidikan. Tujuan kami sore ini adalah salah satu mahakarya alam yang tersembunyi di pesisir selatan, yakni hamparan Gumuk Pasir.

Sesampainya di lokasi, hamparan pasir luas bak gurun sahara menyambut pandangan kami.  Kami tidak sekadar melakukan perjalanan wisata, melainkan sebuah perjalanan tadabbur alam, membaca ayat-ayat kauniyah Allah Subhanahu Wata'alla yang terhampar luas di bumi-Nya. Salah satu daya tarik utama yang kami pilih untuk menelusuri kebesaran alam dengan menaiki mobil jeep. Mesin-mesin menderu, siap membawa kami membelah lautan pasir yang eksotis.

Satu jeep diisi oleh empat orang penumpang. Tidak ada pengelompokan yang diatur secara kaku, kami memilih teman satu jeep secara spontan saat kendaraan tersebut menghampiri. Spontanitas ini justru menghadirkan keindahan tersendiri. Di hadapan alam yang luas dan di bawah naungan langit  tidak ada batasan status atau jabatan. Kami semua adalah hamba-Nya yang sedang sama-sama mencari sejenak jeda dari penatnya urusan duniawi, duduk berdampingan dengan hati yang lapang.

Saat jeep mulai bergerak meninggalkan titik kumpul, mulailah sebuah pengalaman yang memacu adrenalin sekaligus memantik kesadaran spiritual. Kami dihadapkan pada jalanan pasir yang terjal, bergelombang, dan berliku. Tanpa aba-aba, sang pengemudi memacu jeep melaju kencang di atas medan yang sama sekali tidak mulus. Tubuh kami terguncang ke kanan dan ke kiri, terhempas oleh gravitasi saat kendaraan menukik tajam, lalu kembali terdorong ke belakang saat jeep menanjak gundukan pasir yang tinggi.

Kondisi jalan yang ekstrem ini secara alami mengundang suara-suara keluar secara spontan dari mulut kami. Jeritan tertahan, tawa yang meledak, hingga pekikan takbir "Allahu Akbar!" bersahutan di tengah deru angin dan mesin. Kami sangat menikmati setiap guncangan dan rintangan yang kami lewati. Jalan pasir yang terjal dan berliku itu, alih-alih membuat kami marah, justru menghadirkan kegembiraan dan kebahagiaan yang luar biasa.

Di tengah gelak tawa dan guncangan hebat itulah, terlintas sebuah renungan tajam yang menampar relung kesadaran. Ada sebuah ironi besar dalam sikap kita sebagai manusia. Para guru dan karyawan Esmega dengan sadar, bahkan rela membayar sejumlah uang, sengaja memilih jalan yang berliku, terjal, dan sama sekali tidak nyaman untuk dilewati. Kami tertawa lepas dan bersorak gembira di atas jalanan yang penuh rintangan ini.

Mari kita sejenak bermuhasabah dan menengok kehidupan keseharian kita. Betapa sering kita dianugerahi Allah jalan yang teramat mulus dalam kehidupan ini? Berupa kesehatan, keluarga yang rukun, rezeki yang cukup, tempat kerja yang nyaman, hingga jalan aspal peradaban yang memudahkan setiap langkah kita. Jalan-jalan mulus itu adalah manifestasi dari rahmat dan nikmat Allah yang tak terhingga jumlahnya. Sebagaimana firman-Nya, "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34).

Lalu, apa yang terjadi ketika di tengah jalanan hidup yang mulus itu terdapat satu lubang kecil saja? Entah itu berupa ban kendaraan yang bocor, gaji yang sedikit terlambat, tubuh yang tiba-tiba disapa flu. Hanya karena satu lubang kecil di jalan yang mulus, lisan kita seketika fasih menggerutu. Kita mengeluh, menyalahkan keadaan, dan seolah-olah dunia telah berbuat tidak adil kepada kita. Satu ujian kecil seketika menutup mata kita dari kilometer demi kilometer jalan mulus yang selama ini kita nikmati tanpa henti.

Sifat asli manusia yang sering kali tidak pandai bersyukur terekspos dengan nyata. Allah SWT telah memperingatkan hal ini dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya." (QS. Al-Adiyat: 6). Kita menjadi manusia yang amnesia terhadap ribuan kebaikan hanya karena satu ketidaknyamanan.

Mengapa saat menaiki jeep di jalan yang sengaja dibuat rusak kita bisa menikmati setiap guncangannya, sementara saat menghadapi sedikit "lubang" dalam takdir kehidupan kita begitu mudah berputus asa? Jawabannya ada pada penerimaan dan keikhlasan. Di atas jeep, kita sadar dan menerima guncangan itu bagian dari perjalanan yang pada akhirnya akan membawa kebahagiaan. Seharusnya, demikian pula kita memaknai ujian hidup. Setiap "lubang" dan rintangan yang Allah hadirkan di jalan mulus kehidupan kita bentuk pendidikan dari-Nya. Lubang itu ada untuk menggugurkan dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita, dan mengingatkan kita agar tidak sombong dan lupa daratan saat sedang berada di jalan yang nyaman.

Perjalanan di Gumuk Pasir berakhir, meninggalkan jejak ban di atas pasir yang sebentar lagi akan terhapus oleh angin. Jejak hikmah yang terukir di dalam hati kami para guru dan karyawan Esmega pantang untuk terhapus. Melalui sejuknya angin pesisir dan terjalnya lautan pasir, Allah mengajarkan tentang hakekat syukur yang sesungguhnya. Bahwa baik jalan yang mulus maupun jalan yang berliku, keduanya adalah anugerah yang harus dinikmati dengan prasangka baik kepada Sang Pencipta, agar kita tidak tergolong sebagai hamba-hamba-Nya yang kufur nikmat. Aamiin

Cepu, 3 September 2026

Lepaskan Rindumu

 

Karya : Gutamining Saida

Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk memeluk siapa saja yang singgah. Kami ke Jogja bersama rombongan Esmega. Ketika langkah ini kembali menjejakkan kaki di kota yang sarat akan nilai sejarah dan kenangan. 

Jogja selalu berhasil memantik kerinduan yang mendalam akan wajah-wajah lama, memori masa lalu, dan kehangatan tali persaudaraan. Di tengah jeda waktu istirahat yang tersedia, sebuah dorongan batin yang begitu kuat muncul dari dalam hati untuk merajut kembali silaturahmi yang mungkin sempat merenggang karena jarak, tuntutan profesi, dan rutinitas sehari-hari. 

Jemari ini mulai menyusuri daftar kontak di layar ponsel, mencoba mengirimkan pesan demi pesan kepada kawan maupun kerabat yang menetap di kota istimewa ini. Ada sebuah harapan kecil yang menggantung, sebuah kerinduan murni untuk sekadar berjumpa, duduk bersama, membiarkan cerita mengalir begitu saja, dan menertawakan kepolosan masa lalu. 

Kebahagiaan sejati, terutama pada fase kehidupan yang semakin matang ini, tidak lagi berbentuk materi semata, melainkan momen-momen sederhana di mana kita bisa menatap mata seorang sahabat dan melepaskan rindu yang telah lama mengendap.

Jarum jam seolah bergerak sedikit lebih lambat saat hati menunggu sebuah balasan pesan. Ketika layar kecil itu kembali menyala dan menampilkan rentetan kalimat balasan yang hangat, ada desir kebahagiaan luar biasa yang sulit diuraikan dengan sekadar kata-kata. Rasa bahagia itu membuncah, menghangatkan rongga dada, sekaligus menyadarkan bahwa jarak fisik dan panjangnya bentangan waktu tidak pernah benar-benar mampu memutuskan ikatan emosional sebuah persahabatan. 

Perasaan dihargai, diingat, dan direspons dengan antusias oleh seorang kawan lama memberikan asupan energi positif yang sungguh luar biasa. Tidak berselang lama setelah pesan tersebut saling berbalas, sebuah kepastian yang membahagiakan pun datang.

Ia sedang dalam perjalanan, meluangkan waktunya yang berharga hanya untuk menemui saya. Penantian pasif pun seketika berubah menjadi debar antusiasme yang begitu menyenangkan. Sembari menunggu di area lobi Hotel INDIES, sebuah tempat singgah dengan desain arsitektur yang klasik dan memancarkan aura ketenangan, pikiran ini otomatis melayang terbang jauh menembus lorong waktu ke masa lampau. 

Kawan yang sebentar lagi akan melangkah masuk melewati pintu itu bukanlah sekadar kenalan yang kebetulan lewat dalam hidup. Ia rekan seperjuangan di kala seragam putih-biru dan putih-abu-abu masih menjadi identitas kami sehari-hari. Namanya Nanik. Seorang sahabat karib dari masa Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas, sosok yang menjadi saksi bisu dari fase pencarian jati diri yang penuh dengan dinamika belajar dan canda tawa remaja yang lepas tanpa beban. 

Sudah sekian lama, melewati rentang tahun yang panjang, takdir belum mengizinkan kami bertatap muka secara langsung. Nanik telah mantap memilih jalan kehidupannya di tanah Jogja, menetap di kota budaya ini semenjak momen kelulusan SMA kami dahulu. 

Oleh karena itu, pertemuan hari ini bukanlah sekadar ajang kumpul biasa, melainkan sebuah jembatan emas yang akan menghubungkan dua titik waktu yang berjauhan. Detik-detik yang sangat dinantikan itu pun tiba. Dari kejauhan, di antara lalu-lalang tamu hotel, tampak sesosok wajah yang sangat familier. 

Meski raut wajahnya telah tertup cadar. Ia tetap menyisakan guratan senyum manis serta sorot mata bersahabat yang sangat saya kenal betul. Hal yang membuat momen ini semakin mengharukan adalah kenyataan bahwa Nanik tidak datang menyetir sendiri. Ia diantar oleh anak lelakinya yang kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa. 

Pemandangan itu seketika menjadi cerminan nyata yang menyadarkan saya betapa jauhnya perjalanan hidup yang telah kami lewati di jalan masing-masing. Tanpa perlu aba-aba atau rangkaian kata sambutan yang formal, langkah kaki kami otomatis saling mendekat. 

Di tengah kehangatan nuansa lobi Hotel INDIES, kami berpelukan dengan sangat erat. Pelukan persahabatan itu terasa begitu magis dan syahdu, seolah memiliki kekuatan penyembuh yang mampu meluruhkan semua penat kehidupan dan meleburkan rindu yang menggunung menjadi titik-titik air mata kebahagiaan. Satu dekapan singkat yang tulus itu, tergambar ribuan memori masa lalu yang seolah kembali menari-nari di pelupuk mata.

Meski realitas waktu pertemuan kami sangatlah terbatas, benar-benar hanya berlangsung selama beberapa menit saja. Kualitas dari perjumpaan bernilai tak terhingga. Kami duduk sejenak, saling menatap, dan bertukar kabar dengan ritme yang antusias. 

Suara tawa kami yang khas sesekali memecah keheningan, mengenang kembali sekelumit kisah di lorong-lorong sekolah yang kini terasa begitu berharga untuk diingat. Nanik bercerita sekilas tentang ritme kehidupannya selama di Jogja, sementara saya menyimak setiap tutur katanya dengan penuh rasa syukur. Hati ini merasa sangat lega menyadari bahwa sahabat masa muda saya ini senantiasa berada dalam keadaan baik, sehat, dan menjalani hidup yang bahagia. 

Perjumpaan yang begitu singkat ini seakan menjadi mata air di tengah padang gurun, menyegarkan kembali jiwa yang dahaga akan koneksi manusia yang tulus murni. Rindu kami terobati dengan sempurna, mengukuhkan sebuah kebenaran mutlak bila durasi menit atau jam bukanlah penentu utama dari besarnya makna sebuah pertemuan, melainkan kehadiran hati yang seutuhnya.

Momen singkat  di Hotel INDIES ini menjadi jauh lebih bermakna dari sekadar perjumpaan dua kawan lama. Ia  menjadi sebuah monumen ingatan yang amat berharga, serta penggalan narasi kehidupan yang kelak sangat pantas untuk dirangkai menjadi jejak literasi.

Sebuah warisan cerita yang akan dibaca oleh anak, saudara, hingga cucu-cucu kita di masa depan. Catatan kecil ini menjadi bukti bila kehidupan yang sejati selalu ditopang oleh ikatan cinta kasih dan persahabatan yang tak lekang oleh waktu. Pertemuan dengan Nanik menjadi pengingat yang indah pada akhirnya, kenangan akan perjumpaan-perjumpaan tulus seperti inilah yang akan selalu setia menjadi pelita dan penghangat jiwa. 

Yogyakarta, dengan segala pesona dan keramahannya, sekali lagi telah berbaik hati menjadi saksi bisu sebuah persahabatan sejati memiliki kekuatan luar biasa untuk menembus kerasnya batas waktu, membisikkan sejauh apa pun raga melangkah pergi menempuh takdir, hati kita akan selalu mengingat jalan pulang menuju kehangatan seorang sahabat sejati.

Cepu, 3 September 2026

Nol KM Jogja

 


Karya: Gutamining Saida


Bocor


Karya: Gutamining Saida

Suasana di kolam renang Bumool begitu riuh dan hidup. Suara kecipak air beradu dengan riak tawa yang saling bersahutan. Di sudut dangkal, anak-anak kecil berenang dengan pelampung warna-warni, sementara rombongan remaja asyik berlatih gaya dada, ibu-ibu terapi air. Di area lain, irama musik energetik membahana mengiringi gerak zumba ibu-ibu yang serempak memecah air. Kolam renang itu bukan sekadar tempat olahraga, melainkan sebuah ruang yang sarat energi positif dan kehangatan.

Melihat keramaian itu, ada dorongan kuat dalam diri saya untuk ikut menceburkan diri. Padahal,  sebenarnya tidak ada jadwal terapi khusus untuk ibu-ibu pada Rabu sore. Perasaan rindu yang membuncah setelah absen  Sabtu dan Minggu kemarin. Air seakan mengundang kaki ini tidak bisa ditahan untuk ke kolam. Ada rasa kangen yang menyeruak hanya untuk sekadar berendam, merasakan dinginnya air melingkupi tubuh, dan menyerap keceriaan.

Pusat dari segala keceriaan kami yaitu Pak Gun, sang pelatih renang yang seolah tidak pernah kehabisan energi. Hampir setiap pertemuan, selalu saja ada wajah baru yang bergabung. Hari demi hari, jumlah siswanya terus bertambah pesat, terutama anak-anak yang jumlahnya sungguh luar biasa. Bukan hanya anak-anak yang terikat oleh pesona cara mengajarnya, para ibu pun betah berlama-lama menyerap ilmu dan kegembiraan darinya.

Belajar renang bersama Pak Gun berarti bersiap untuk tertawa sepanjang sesi. Tiada hari yang dilewati tanpa derai tawa yang lepas. Kami tertawa bukan karena ingin menyakiti atau mengejek, melainkan karena kepolosan dan kejadian-kejadian spontan yang menggelitik perut. Bayangkan saja, saat melihat seorang teman yang gerakannya belum pas, atau ketika ada yang berenang miring hingga akhirnya menabrak teman di sebelahnya kejadian-kejadian seperti itu selalu memicu gelak tawa bersama.

Keajaiban dari suasana yang dibangun Pak Gun adalah tidak ada seorang pun yang tersulut emosi saat ditertawakan. Tidak ada rasa gengsi, malu yang berlebihan, apalagi amarah. Sebaliknya, yang ditertawakan justru ikut tertawa paling keras, menyadari kekonyolan gerakannya sendiri. Air kolam seolah melarutkan seluruh beban hidup, ego, dan stres yang biasanya menumpuk di rumah.

Rabu sore kedatangan seorang ibu yang menjadi siswa baru. Pak Gun mulai mengajarkan teknik paling dasar yaitu melatih pernapasan.

"Ayo, Bu, kita latihan menahan napas dulu," ujar Pak Gun dengan nada suaranya yang khas. 

"Atur posisi ya. Tutup mulut rapat-rapat, pejamkan mata, lalu perlahan masukkan kepala ke dalam air."

Siswa baru itu mengangguk paham. Pak Gun mulai bersiap memberi hitungan.

"Saya hitung ya... Satu... Dua... Tiga..."

Belum sempat hitungan ketiga benar-benar usai, kepala sang ibu sudah melesat keluar dari permukaan air. Napasnya terengah-engah, dan matanya berkedip-kedip menahan air.

"Gak kuat, Pak!" ucap siswa baru itu sambil mengusap wajahnya, ngos-ngosan seperti habis berlari marathon.

"Gak apa-apa, Bu! Bagus itu untuk permulaan. Kalau hari ini baru bisa sampai hitungan tiga, besok tambah lagi pelan-pelan. Begitu seterusnya ya, Bu. Yang penting konsisten." ucap pak Gun.

Pak Gun kemudian menambahkan satu petunjuk penting dengan gayanya yang jenaka. 

"Tapi ingat ya, Bu, waktu kepala di dalam air, jangan sampai keluar gelembung air dari mulut atau hidung." kata pak Gun selanjutnya.

"Kalau keluar gelembung air, nanti seperti ban bocor!"

"Lho...itu ada gelembung air, bocor ya!"

"Iya, gak kuat nahan nafas."

Seketika itu juga, ledakan tawa kami pecah di seluruh sudut area berlatih. Analogi "ban bocor" yang diucapkan Pak Gun dengan wajah polosnya benar-benar terlalu menggelitik untuk ditahan. Kami semua tertawa terbahak-bahak, membayangkan sesosok manusia yang mengempis di dalam air seperti ban sepeda.

Ibu-ibu yang baru bergabung sore ini,  kaget mendengar riuhnya suara kami langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya membelalak lucu. "Lho, aku ditertawakan!" serunya.

Pak Gun mendekat dan menepuk air pelan, menyebarkan gelombang kehangatan. "Gak apa-apa, Bu. Tertawa itu sehat. Di kolam ini, kita memang selalu tertawa. Jangan dimasukkan ke hati ya, Bu."

Mendengar ucapan Pak Gun dan melihat ketulusan dari tawa kami semua, raut tegang di wajah ibu perlahan melunak. Senyum mulai terukir di bibirnya, hingga akhirnya ia ikut tertawa terpingkal-pingkal bersama kami. Dalam hitungan detik, rasa canggung sebagai anggota baru musnah tanpa bekas, tergantikan oleh rasa keterikatan yang hangat.

Kejadian sederhana itu membawa kami tidak hanya belajar cara mengapung atau menggerakkan kaki dan tangan di atas air. Secara tidak langsung, Pak Gun sedang mengajarkan kami sebuah terapi kehidupan yang sangat berharga.

Belajar menahan napas di dalam air adalah cerminan dari bagaimana kita menghadapi tekanan hidup. Ada kalanya kita harus menyelam, memejamkan mata dari kebisingan luar, merapatkan mulut dari keluhan, dan bertahan sebentar dalam ketenangan jiwa. Ketika kita merasa tidak kuat dan harus muncul ke permukaan sambil terengah-engah, itu bukanlah sebuah kegagalan. Itu adalah proses bersiap untuk bertahan lebih lama di kesempatan berikutnya.

Dunia di luar sana sering kali begitu keras, menuntut kita untuk selalu sempurna, tidak boleh salah, dan gampang tersinggung jika dikritik. Namun, di kolam renang ini, Pak Gun menciptakan sebuah tempat di mana kesalahan dinikmati sebagai bagian dari proses belajar, dan ketidaksempurnaan dirayakan dengan gelak tawa yang menyembuhkan.

Ketika kita mampu tertawa saat "menabrak" jalan yang salah, tertawa saat arah hidup kita sedikit "serong", atau tertawa saat napas kita terasa bagai "ban bocor", kita sebenarnya sedang menyembuhkan jiwa kita sendiri. Tawa yang lahir dari rasa kebersamaan dan kerendahan hati adalah obat paling mujarab untuk melepaskan penat.

Kolam Bumool akan selalu menjadi saksi bisu bahwa di balik gerakan renang yang sederhana, ada jiwa-jiwa yang sedang disembuhkan oleh hangatnya kebersamaan, ketulusan seorang pelatih, dan terapi terbaik sebuah tawa yang lepas dan tulus.  Semoga kita bahagia bersama. Aamiin.

Cepu, 3 September 2026

Jumat, 28 Agustus 2026

Suara Perutmu Sampai Ke Rumah

Karya : Gutamining Saida 
Jum'at sore ada yang menghabiskan waktu dengan beristirahat di rumah. Ada yang menikmati secangkir teh sambil bercengkerama bersama keluarga. Kami memilih datang ke kolam. Bukan sekadar ingin berenang. Bukan pula ingin menunjukkan siapa yang paling pandai menguasai air. Kami datang membawa satu harapan sederhana yaitu ingin sehat. Kami, ibu-ibu yang sedang belajar mencintai tubuh yang selama ini begitu setia menemani perjalanan hidup. Tubuh yang sudah bekerja keras, mengurus keluarga, menyelesaikan banyak pekerjaan, dan sering kali baru kami perhatikan ketika mulai mengeluh. 

Kami mencoba berikhtiar. Mencari jalan untuk sehat tanpa selalu bergantung pada obat, tentu dengan tetap memahami bahwa obat dan pertolongan medis tetap diperlukan ketika memang dibutuhkan. Kolam menjadi tempat kami berusaha. Air menjadi teman. Pak Gun menjadi pembimbing yang tidak hanya mengajarkan bagaimana tubuh bergerak, tetapi juga bagaimana hati belajar berani. Setelah pemanasan sebentar, Pak Gun memberikan instruksi.
“Pertama meluncur. Kedua gerakan kaki. Ketiga gerakan tangan. Keempat bernapas.”
Kami mencoba. Ada yang lancar, masih kaku, berani, ada pula yang diam-diam masih menyimpan rasa takut.

Begitulah manusia. Tidak semua orang datang dengan keberanian yang sama. Orang memiliki kemampuan yang sama. Pak Gun selalu mempunyai cara untuk membuat kami percaya bahwa belum bisa bukan berarti tidak BISA. “Tidak ada kata tidak bisa.” Kalimat itu berkali-kali kami DENGAR. Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa BEGITU dalam. Di kehidupan, kita sering terlalu cepat mengatakan kepada diri sendiri. Aku tidak bisa. Aku takut. Aku sudah tua. Aku tidak kuat.  Padahal mungkin Allah hanya sedang menunggu kita mencoba sekali lagi.

Saat latihan meluncur, Pak Gun melihat ada yang belum tepat. Ada ibu yang ketika meluncur justru menjatuhkan perut ke air. Tiba-tiba terdengar suara Pak Gun,
“Bu ibu, suara perutnya siapa yang jatuh ke air? Terdengar sampai ke rumah!”
Kami semua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang tidak dibuat-buat.Tawa yang mungkin sederhana bagi orang lain, tetapi terasa mahal bagi kami. Semakin bertambah usia, kita semakin menyadari bahwa tertawa bersama orang-orang yang membuat kita nyaman adalah sebuah nikmat.

Pak Gun kemudian bertanya,  “Yang dijatuhkan ke air apa hayo?" 
“Saya tidak menyalahkan. Saya hanya membenarkan siapa yang belum betul. Membetulkan yang sudah betul.”lanjut pak Gun.
Sebagai seorang guru. Saya setiap hari berdiri di depan siswa dan mengajarkan ilmu. Sore ini di dalam kolam,  saya merasa sedang menjadi murid. Saya belajar dari seorang guru kehidupan. Ternyata membenarkan tidak harus menyakitkan. Menegur tidak harus membuat seseorang malu. Mengoreksi tidak harus membuat orang merasa bodoh.

Pak Gun mengajarkan kesalahan tanpa membuat kami takut pada kesalahan. Dalam hati saya berkata, “Ya Allah, semoga saya bisa menjadi guru seperti beliau.” Guru yang ketika muridnya salah tidak langsung membuatnya merasa gagal. Guru yang mampu mengatakan, “Belum benar, ayo kita coba lagi.”Guru yang membuat anak berani mencoba. Guru yang membuat murid percaya bahwa dirinya mampu.Bukankah tugas seorang guru sesungguhnya bukan hanya memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala murid? Tetapi juga menyalakan keyakinan di dalam hati murid bahwa ia berharga dan mampu bertumbuh.

Pak Gun mengajak kami menuju bagian kolam yang kedalamannya dua meter. Kami berjalan mengikutinya. “Bu ibu, sengaja saya ajak ke kedalaman dua meter,” katanya.
Saya bertanya-tanya dalam hati, Mengapa harus dua meter? Seakan pak Gun mengetahui isi hati ibu-ibu yang tak terucap. Jawaban pak Gun begitu sederhana. “Agar ibu-ibu tidak hanya membaca tulisan dua meter, sambil jarinya menunjuk papan tulisan kedalaman 2 Meter. Sekarang harus merasakan sendiri kedalaman dua meter.” 

Kalimat itu membuat saya berpikir. Bukankah kehidupan juga seperti itu? Ada banyak hal yang hanya kita pahami setelah mengalaminya. Kita bisa membaca tentang kesabaran. Tetapi kita baru memahami arti sabar ketika diuji. Kita bisa membaca tentang keberanian. Kita baru tahu arti berani ketika berada di hadapan sesuatu yang menakutkan. Kita bisa tahu tentang tawakal. Kita memahami tawakal ketika sudah berusaha sekuat tenaga, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Kami diminta merasakan sendiri kedalaman dua meter. “Takuut, Pak!” suara Bu Asih terdengar singkat.
Saya yakin bukan hanya Bu Asih yang takut. Mungkin beberapa di antara kami juga merasakan hal yang sama. Takut tenggelam, takut tidak bisa menggerakkan kaki, takut kehilangan pegangan, takut sesuatu yang buruk terjadi. Pak Gun menjawab dengan tenang, “Gak papa, Bu. Ayo dicoba. Ada saya di sini.” Entah mengapa, kalimat itu terasa lebih tenang daripada kedalaman kolam.

Bukankah kita semua, dalam perjalanan hidup, pernah berada di titik ketika hanya membutuhkan seseorang yang berkata, “Jangan takut. Ada saya di sini.”Seorang anak membutuhkan orang tuanya. Seorang murid membutuhkan gurunya. Seorang sahabat membutuhkan sahabatnya. Seorang manusia membutuhkan keyakinan bahwa dirinya tidak sendirian. Lebih jauh lagi, sebagai orang beriman, kita memiliki Allah Subhanahu Wata/alla. Ketika manusia tidak lagi mampu menemani, Allah tetap ada. Ketika manusia tidak memahami air mata kita, Allah Maha mengetahui.

Ketika manusia tidak mengerti ketakutan yang kita simpan dalam hati, Allah Maha Mengetahui. Karena itu, keberanian kami sore itu bukan semata-mata karena kami hebat. Kami belajar percaya. Allah selalu menyertai ikhtiar hamba-Nya.“Kalau sudah berani, lepaskan pegangan tangan.” ucap pak Gun. Kami mencoba. Sedikit demi sedikit. Kaki digerakkan. Tubuh belajar mengapung. Rasa takut perlahan dikalahkan. 

“Hilangkan rasa takut, Bu ibu.”
Kalimat itu kembali menusuk hati saya. Betapa sering manusia menangis diam-diam karena merasa sendirian. Padahal di sekeliling kita ada orang-orang yang menyayangi. Paling utama, ada Allah yang tidak pernah meninggalkan kita. Lalu suasana yang semula penuh ketegangan kembali berubah menjadi tawa. Pak Gun berkata bahwa jika kaki tidak bisa bergerak, berarti perut ibu-ibu ada masalah.
Saya pun spontan menjawab, “Iya, Pak. Perut saya memang bermasalah.”
Pak Gun langsung bertanya, “Kenapa, Bu?”
Saya menjawab, “Hehehe... perutnya lapar, Pak.”
Kontan ibu-ibu tertawa bersama dengan suara lepas, bahagia serta tanpa beban.

Inilah salah satu bentuk sehat yang sering kita lupakan. Bukan hanya sehatnya tubuh. Tetapi sehatnya hati. Hati yang masih mampu tertawa. Hati yang masih mampu menikmati kebersamaan.Hati yang tidak terlalu sibuk memikirkan kesedihan. Hati yang masih bisa bersyukur atas hal-hal kecil. Kami akhirnya pulang. Tubuh terasa lelah. Anehnya, hati terasa ringan. Ada energi baru yang kami bawa pulang.

Ya Allah... Terima kasih untuk sore yang sederhana ini. Terima kasih masih memberi kami tubuh yang bisa digerakkan. Terima kasih masih memberi kami kesempatan untuk belajar. Terima kasih masih memberi kami teman-teman yang membuat kami tertawa. Terima kasih menghadirkan orang-orang baik yang dengan caranya masing-masing mengajarkan kami arti kehidupan.

Semoga Allah  Subhanahu Wata'alla memberi kami sehat tanpa keluhan, hati tanpa ketakutan, persahabatan tanpa kepura-puraan, dan usia yang dipenuhi kebermanfaatan. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa dalam kita mampu menyelam. Tetapi tentang seberapa dalam kita mampu mensyukuri setiap nikmat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan. .
Cepu, 29 Agustus 2026 

Kamis, 27 Agustus 2026

Pasti Bisa


Karya: Gutamining Saida

Akhir bulan Agustus ternyata belum benar-benar meninggalkan suasana kemerdekaan. Di berbagai daerah, semangat memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia masih terasa begitu kuat. Jalan-jalan dipenuhi warna-warni hiasan merah putih. Suara musik terdengar dari kejauhan. Anak-anak, remaja, orang tua, bahkan para lansia ikut larut dalam kemeriahan.

Di tingkat kecamatan pun suasana tidak kalah ramai. Karnaval masih digelar. Berbagai kelompok menampilkan kreativitas masing-masing. Ada yang mengenakan pakaian adat, pakaian perjuangan, tokoh-tokoh pahlawan, hingga kostum unik hasil kreasi warga. Semua tersenyum, tertawa, dan berjalan bersama dalam satu suasana merayakan kemerdekaan.

Saya yang melihat kemeriahan itu tiba-tiba teringat sebuah momen beberapa hari sebelumnya. Tepat tanggal 17 Agustus, kami anggota Muda Swimming Squad 2 juga tidak ingin melewatkan perayaan kemerdekaan. Bedanya, kami tidak melaksanakan upacara di lapangan. Kami merayakannya di dalam air.

Dengan membawa bendera Merah Putih, kami membentuk berbagai formasi di kolam. Ada rasa bangga ketika melihat warna merah putih berada di tengah birunya air. Kami bergerak bersama, mengikuti arahan Pak Gun. Tidak mudah membuat formasi di air. Setiap orang harus memahami posisi, mengikuti aba-aba, dan menjaga kekompakan.

Kalau satu orang bergerak tidak sesuai arahan, formasi bisa berubah. Tetapi justru di situlah indahnya. Kami belajar kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan juga mengajarkan kita tentang persatuan, keberanian, kebersamaan, dan kemauan untuk melakukan sesuatu bersama-sama.

Di bawah bimbingan Pak Gun, kami mencoba, mengulang, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Tidak ada yang sibuk memikirkan dirinya sendiri. Semua berusaha menyesuaikan diri agar formasi terlihat indah. Bendera Merah Putih berkibar di atas air. Kami tersenyum. Ada kebahagiaan sederhana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kini, ketika melihat karnaval di darat, ingatan saya kembali kepada kolam. Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan di benak saya. Saya pun melontarkannya di grup Muda Swimming Squad 2.

Karnaval di air bisakah, Pak Gun?

Jawaban yang muncul justru membuat saya tersenyum.

Kostum mermaid,” jawab Bu Rini.

Saya membayangkan kami semua memakai kostum putri duyung, lalu berenang bersama dalam sebuah karnaval di dalam air. Rasanya lucu, unik, sekaligus menantang.

Kemudian Pak Gun memberikan jawaban yang jauh lebih kuat.

Tidak ada kamus tidak bisa.

Saya membacanya sekali.

Kemudian membacanya lagi.

Tidak ada kamus tidak bisa.

Kalimat sederhana, tetapi memiliki tenaga yang besar.

Belum selesai sampai di situ, muncul kata penegas dari Pak Gun:

“Pasti bisa!”

Ah, dua kata itu terasa seperti sebuah suntikan semangat.

Kata "pasti bisa” adalah sikap hati selama kita mau berusaha, belajar, bekerja sama, dan memohon pertolongan Allah, selalu ada jalan yang dapat dicoba. Saya kemudian berpikir, mungkin inilah salah satu pelajaran paling berharga yang kami dapatkan dari Swimming Squad 2.

Kita belajar  tubuh yang berbeda kemampuan tetap dapat bergerak dalam satu irama.Kita belajar untuk tidak mudah mengatakan “tidak bisa.” Di kehidupan pun sering kali tantangan datang terlebih dahulu sebelum kemampuan kita terlihat.

Allah Subhanahu Wata'alla mengajarkan manusia untuk berusaha. Kita tidak tahu hasil akhirnya, tetapi kita diperintahkan untuk terus berikhtiar. Ada kalanya sesuatu terlihat mustahil karena kita melihatnya dengan kemampuan kita yang terbatas. Allah Mahakuasa memberikan jalan yang tidak pernah kita bayangkan.

Bukankah banyak hal dalam hidup yang awalnya kita pikir tidak mungkin, ternyata bisa kita lewati? Dulu mungkin takut masuk air. karena mencoba, akhirnya sedikit demi sedikit bisa. Begitu pula dengan ide karnaval di air.

Entah nanti benar-benar akan diwujudkan atau hanya menjadi sebuah ide lucu di grup, saya tidak tahu. Bagi saya, percakapan itu sudah memberikan sebuah pelajaran. Kadang-kadang sebuah gagasan tidak perlu langsung sempurna. Yang penting berani bermimpi.

Kini tugas kita bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah. Tugas kita mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat. Menjaga persatuan. Menjaga kesehatan. Menebarkan semangat. Membahagiakan sesama.

Kita terus berkarya sesuai kemampuan yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Mungkin suatu hari nanti benar-benar akan ada karnaval di air. Bendera Merah Putih kembali hadir di kolam. Kami mengenakan kostum unik. Formasi dibentuk. Musik mengiringi. Senyum menghiasi wajah.

Cepu, 28 Agustus 2016