Karya: Gutamining Saida
Tanggal 18 November selalu memiliki tempat paling lembut di hati seorang ibu. Bukan sekadar angka di kalender, tetapi penanda hadirnya karunia terbesar dalam hidupnya. Putri pertama yang membuka perjalanan menjadi seorang ibu. Pagi ini sebelum fajar menyentuh bumi, sebelum adzan Subuh berkumandang dari musala, saya selalu menyempatkan diri memanjatkan deretan doa panjang, doa yang hanya seorang ibu mampu rangkai dari kedalaman cinta dan ketulusan.
Udara masih dingin, langit masih pekat, dan kampung masih terlelap. Hati seorang ibu telah terbangun lebih dulu, bergetar lembut oleh ingatan akan kelahiran putrinya bertahun-tahun silam. Dalam keheningan sebelum melangkahkan kaki menuju musala, ia menundukkan kepala. Bibirnya bergerak lirih, memanggil nama putrinya dalam doa yang mengalir seperti sungai yang tak pernah kering.
"Ya Allah, terima kasih Engkau titipkan aku seorang anak perempuan yang telah tumbuh menjadi istri dan ibu yang baik. Panjangkan usianya dalam iman. Lapangkan rezekinya. Indahkan akhlaknya. Tuntun keluarganya menuju ridha-Mu. Jadikan setiap langkahnya sebagai ladang pahala."
Deretan kalimat itu tak pernah sama persis setiap tahun, tetapi rasanya selalu sama: penuh syukur, penuh harapan, dan penuh cinta yang tak terukur. Sejak lahirnya putri pertamanya, ia merasa seperti mendapat pintu baru untuk mengenal dirinya sendiri menjadi lebih kuat, lebih sabar, lebih banyak memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla.
Setiap saat dalam hidupnya, doa itu terus hidup. Di sela kesibukan, di antara pekerjaan rumah, saat lelah, bahkan saat bahagia, selalu ada doa terbang untuk putrinya yang kini telah berkeluarga. Namun pada tanggal 18 November, doa itu terasa lebih istimewa. Doa itu menjadi ungkapan syukur atas perjalanan panjang yang telah dilalui putrinya dari seorang bayi mungil dalam gendongan hingga menjadi perempuan dewasa yang membangun rumah tangganya sendiri.
Di musala, saya tunaikan Subuh dengan hati yang lega. Seolah-olah setiap sujudnya membawa serta nama putrinya ke langit. Hari itu pun dimulai dengan rasa syukur yang tak terhingga. Sebab bagi seorang ibu, ulang tahun bukan hanya hari lahir anaknya, melainkan hari lahir cinta yang akan ia jaga seumur hidup.
Cepu, 18 November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar