Kamis, 06 November 2025

Jasa Kurir di Kelas 7F


Karya: Gutamining Saida

Saat kelompok Fahri Cs mereka maju ke depan kelas, suasana langsung berubah riuh. Semua mata  tertuju pada aksi mereka yang penuh semangat. Fahri dan Alvin berperan sebagai kurir yang mengantarkan paket, lengkap dengan tas punggung berisi “barang kiriman.” yang berupa tambler. Dua kursi kayu mereka susun rapi dan dijadikan motor, alat transportasi andalan para kurir yang berboncengan. Dengan gaya khas pengendara motor, Fahri duduk di kursi depan sambil memegang “setang imajiner”, sementara Alvin membonceng di belakang, sesekali menegur Fahri, “Pelan-pelan, Bro, nanti paketnya jatuh!” Meliuk-liuk dengan kecepatan tinggi. 

Seketika seluruh kelas 7F pecah dalam tawa. Bukan karena menertawakan, tetapi karena cara mereka  sungguh-sungguh menjiwai peran itu. Gerak-gerik mereka tampak begitu natural, seolah benar-benar sedang mengendarai motor di jalanan. Dari ekspresi wajah, intonasi suara, sampai gerakan tangan, semuanya terasa hidup.

Sementara itu, Firras memerankan penerima paket. Ia berdiri di “depan rumah” sambil menatap ke arah dua kurir dengan gaya orang yang sudah lama menunggu. Begitu kurir datang, Firras bertanya dengan nada sedikit cemas,

“Paket , atas nama siapa?” tanya Firras

         "Mohammad Firras." jawab Alvin

        “Ini paketnya, tolong tanda tangan dulu di sini,” jawab Alvin, yang berperan sebagai petugas kurir  ekspedisi. Ia membawa kertas kosong sebagai “nota pengiriman” dan pulpen seolah benar-benar sedang mencatat transaksi.

Adegan mereka mengalir alami. Bahkan tanpa naskah tertulis, mereka mampu menciptakan alur cerita yang utuh. Setelah firras menerima paket, Fahri dengan penuh gaya menutup adegan dengan berkata lantang,

“Terima kasih telah menggunakan jasa kami, semoga tumblernya tidak bocor!”

Satu peran yang dillakukan Mohammad Raihan Fahri sebagai petugas penerima atau administrasi di kantor. Duduk di kursi dilengkapi meja kecil 

Sontak seluruh kelas kembali tertawa, sementara saya yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa tersenyum bangga. Ada kreativitas, kekompakan, dan keberanian yang lahir dari kegiatan sederhana ini.

Saya tidak menyangka, metode drama sederhana tentang produksi bisa menghidupkan suasana belajar sehidup itu. Biasanya, ketika mendengar kata produksi, siswa hanya terbayang tentang pabrik, petani, atau pedagang. Mereka benar-benar memahami makna produksi dibidang jasa. bagaimana seseorang menghasilkan manfaat bagi orang lain tanpa harus menghasilkan barang baru.

Kelompok Fahri cs bukan hanya menunjukkan pemahaman tentang konsep ekonomi, tetapi juga tentang kerja sama. Mereka berbagi peran dengan baik. Saat salah satu lupa dialog, yang lain cepat membantu menimpali. Saat kursi mereka hampir jatuh, Fahri tetap menjaga ekspresi seolah sedang menahan kemudi motor di jalan berlubang. Semua berlangsung spontan dan menghibur.

Selesai mereka tampil, kelas 7F bertepuk tangan meriah. Saya pun memberi apresiasi,

“Luar biasa! Inilah contoh kelompok yang tidak hanya memahami teori, tapi juga bisa menampilkannya dengan penuh semangat.”

Wajah Fahri dan teman-temannya tampak berseri-seri. “Terima kasih, Bu!” ujar mereka serempak. Tampaknya pujian kecil dari guru bisa menjadi bahan bakar besar bagi semangat mereka.

Setelah itu, kelompok lain tampil satu per satu ada yang menjadi petani, penjahit, tukang laundry, bahkan tukang potong rambut. Tapi entah kenapa, penampilan kelompok pengiriman barang tadi masih membekas paling kuat di benak saya. Mereka telah membuktikan bahwa belajar bisa menyenangkan, asalkan dilakukan dengan hati.

Di akhir pembelajaran, saya menutup dengan refleksi singkat,

“Anak-anak, dari kegiatan ini kita belajar bahwa produksi tidak selalu tentang barang yang bisa disentuh. Mengirim paket, mencuci baju, memotong rambut semuanya termasuk kegiatan produksi jasa. Orang yang bekerja di bidang ini disebut produsen juga, karena menghasilkan manfaat bagi orang lain.”

Siswa-siswa mengangguk paham. Beberapa di antaranya masih menirukan gaya Fahri yang seolah sedang naik motor, membuat kelas kembali riuh dengan tawa.

Saya menatap mereka satu per satu wajah-wajah muda yang penuh energi, imajinasi, dan semangat belajar. Di balik kesederhanaan alat peraga, ada pelajaran besar tentang kreativitas dan kebermaknaan belajar. Hari itu, di kelas 7F, saya tidak hanya melihat siswa memahami konsep ekonomi, tapi juga merasakan kebahagiaan yang muncul ketika pembelajaran benar-benar hidup.

Mereka bukan sekadar “bermain drama”, melainkan sedang berproses menjadi pembelajar sejati yang mampu mengubah teori menjadi aksi, dan pelajaran menjadi pengalaman.

“Beginilah seharusnya belajar IPS bukan hanya tentang angka dan istilah, tapi tentang kehidupan yang nyata.” Semoga bermanfaat.

Cepu, 7 November 2025 

 

 




 


 


Cumat

Karya: Gutamining Saida

Langit tampak berwarna jingga lembut, seolah matahari sedang menebar salam perpisahan sebelum tenggelam di balik pepohonan. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap sehabis gerimis siang tadi. Di teras rumah, saya duduk sambil menikmati minuman hangat yang masih mengepul. Rasanya menenangkan setelah seharian mengajar dan menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah.

Tiba-tiba, anak perempuan saya menghampiri dengan wajah berbinar.
“Mi, yuk kita cumat sore ini,” katanya dengan semangat.

Saya mengerutkan dahi, mencoba memahami kata yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Cumat? Apa itu?” tanya saya penasaran.

Dia tertawa kecil, matanya memancarkan keceriaan khas remaja.
“Cumat itu, Mi… singkatan dari cuci mata!” jawabnya sambil menahan tawa.

Saya tertegun sejenak, lalu ikut tertawa. Dalam hati saya berpikir, anak-anak zaman sekarang memang kreatif, bahkan kegiatan sederhana seperti jalan-jalan santai saja bisa disingkat menjadi sesuatu yang terdengar lucu dan unik.

“Cuci mata ya? Tapi ke mana? Kan sudah sore,” kata saya sambil memandang wajahnya.
“Ya nggak harus jauh-jauh, Mi. Keliling taman Cepu aja. Lihat bunga, lihat langit, lihat orang jualan sore. Pokoknya refreshing,” jawabnya mantap.

Saya tersenyum betapa sederhana pandangan anak saya tentang kebahagiaan. Tak perlu kafe mewah, mall besar, atau perjalanan panjang untuk menemukan senyum. Hanya cuci mata di sekitar rumah pun bisa menjadi sumber kebahagiaan.

Akhirnya saya mengangguk. Kami berdua melangkah keluar rumah. Udara sore terasa sejuk, tidak panas, juga tidak dingin. Jalanan kampung mulai ramai oleh orang-orang yang keluar untuk berolahraga ringan, membeli jajanan, atau sekadar menikmati udara segar sebelum malam tiba.

Anak perempuan mengambil motor dan saya membonceng dengan berpegangan pinggangnya, tangannya sesekali menunjuk ke arah tertentu.
“Mi, lihat tuh, bunga kertas di halaman rumah Bu Sumi mulai berbunga lagi. Cantik ya warnanya, pink banget!” katanya antusias.

Saya menatap ke arah yang ditunjuknya. Memang benar, pagar rumah itu kini tampak hidup dengan deretan bunga kertas yang bermekaran cerah. Saya tersenyum. Ternyata naik motor berjalan pelan sambil memperhatikan hal-hal kecil di sekitar bisa menumbuhkan rasa syukur yang sering terlupakan.

Motor kami terus berjalan. Di ujung jalan, terdengar suara anak-anak kecil tertawa sambil bermain sepeda. Ada juga pedagang gorengan yang baru menata dagangannya. Aroma tempe mendoan dan tahu isi menyeruak, menggoda penciuman.

“Mi, beli gorengan yuk, sekalian camilan sore,” ajak anak saya.
Saya mengangguk. Kami berhenti di gerobak sederhana yang sudah dikelilingi beberapa pembeli. Pedagang itu tersenyum ramah.
“Mau beli apa?” tanya sang pedagang.
“Tempe mendoan dua, tahu isi dua, sama bakwan dua ya, Pak,” jawab saya.

Sambil menunggu gorengan diambilkan, saya memperhatikan suasana sekitar. Ada ibu-ibu yang pulang dari warung sayur, bapak-bapak yang sedang melintas, dan beberapa siswa berseragam yang baru pulang les. Hidup memang berjalan sederhana, tapi di setiap kesederhanaan itu ada cerita dan makna yang dalam.

“Mi, ternyata ‘cumat’ itu enak ya,” kata anak saya sambil mengunyah gorengan hangat yang baru dibeli.
Saya tertawa. “Iya, ternyata cuma naik motor keliling taman aja udah bisa bikin hati adem.”

Kami duduk sebentar di bangku taman kecil di pinggir jalan. Dari situ, pemandangan langit sore semakin memukau. Warna oranye bercampur ungu membentuk gradasi yang indah. Beberapa burung terbang rendah, seolah hendak pulang ke sarangnya.

“Mi, ‘cumat’ itu nggak cuma lihat-lihat pemandangan deh,” katanya tiba-tiba.
“Lho, maksudnya?” tanya saya.

Dia tersenyum, menatap langit yang perlahan gelap.
“Cumat itu kayak... menyegarkan hati. Kalau seharian capek bekerja, terus keluar rumah sebentar, lihat langit, lihat orang-orang, hati jadi tenang lagi.”

Saya terdiam, lalu mengangguk pelan. Betul juga. Selama ini, saya sering mengira bahwa untuk merasa bahagia, harus punya waktu liburan panjang atau tempat istimewa untuk dikunjungi. Padahal kebahagiaan bisa hadir dalam bentuk yang sederhana dengan berjalan santai dengan anak sendiri, menatap langit sore, menikmati gorengan hangat sambil berbagi cerita.

Kami melanjutkan langkah pelan menuju rumah. Di sepanjang perjalanan, kami berbagi cerita ringan tentang teman-teman sekolahnya, tentang mimpi masa depannya, bahkan tentang resep baru yang ingin dicoba di akhir pekan nanti. Saya menikmati setiap detik kebersamaan itu.

Saat tiba di rumah, langit sudah mulai gelap. Adzan Magrib berkumandang dari kejauhan, mengingatkan kami untuk segera bersiap shalat. Saya menatap wajah anak yang tampak tenang dan bahagia. Dalam hati saya bersyukur, ternyata sore ini bukan sekadar “cuci mata”, tapi juga cuci hati.

Saya tersenyum sambil bergumam, “Ternyata ‘cumat’ itu bukan cuma singkatan dari cuci mata, tapi juga cara sederhana untuk mencuci lelah dan menyiram kebahagiaan.”

Anak saya tertawa kecil mendengar kalimat itu. “Iya, Mi, cumat bareng Umi paling seru!” katanya sambil memeluk sebelum masuk rumah. Dan di bawah langit senja yang semakin gelap, saya merasakan sesuatu yang hangat di dada. Sebuah rasa syukur karena masih bisa menikmati momen sederhana namun penuh makna bersama sang anak.

Cumat sore itu akhirnya menjadi kenangan manis. Tak perlu pergi jauh, tak perlu menunggu akhir pekan. Hanya beberapa menit naik motor di sekitar rumah sudah cukup membuat hati kembali segar, seperti daun yang tersiram hujan setelah lama kering.

Cepu, 7 November 2025

Rabu, 05 November 2025

Kunjungan Singkat



Karya: Gutamining Saida

Kamis pagi di SMP Negeri 3 Cepu atau yang akrab disebut Esmega, udara pagi terasa hangat dan penuh kesibukan. Langit tampak redup, seolah ikut menunduk menyambut tamu istimewa yang akan datang. Sejak pukul tujuh pagi, beberapa guru dan pegawai tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Halaman sekolah dibersihkan, tanaman hias ditata, ruang tamu disusun rapi, dan papan informasi ditata agar tampak menarik.

Pagi itu bukan pagi yang biasa. Esmega mendapat kehormatan untuk dikunjungi oleh tamu-tamu penting dari berbagai instansi pendidikan. Mereka adalah staf ahli Talenta, Bapak Mariman, kemudian Kepala BPMP Provinsi Jawa Tengah, Direktur Jenderal (Dirjen) SMP, dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora. Kunjungan ini menjadi momen bersejarah bagi Esmega. 

Bel berbunyi menandakan pelajaran pertama dimulai. Perhatian warga sekolah hari itu tidak sepenuhnya tertuju pada pelajaran. Sebagian guru menatap ke arah gerbang sekolah, berharap bisa melihat langsung rombongan tamu yang kabarnya akan tiba sekitar pukul delapan. Sementara itu, para guru berkoordinasi dengan sigap, memastikan setiap bagian sekolah siap untuk dikunjungi.

Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar memasuki halaman depan sekolah. Rombongan tamu tiba disambut hangat oleh Bapak Kepala Sekolah SMPN 3 Cepu, didampingi beberapa guru yang kosong jam. Langit masih teduh, namun kehadiran para tamu seolah menghadirkan sinar tersendiri. Senyum ramah Bapak Mariman, staf ahli Talenta, tampak tulus ketika menyalami Kepala Sekolah dan para guru satu per satu.

Selanjutnya para tamu mulai berkeliling meninjau berbagai ruangan di Esmega. Rombongan berjalan dengan langkah mantap, ditemani kepala sekolah SMPN 3 Cepu yang memaparkan berbagai program sekolah. Ruang pertama yang dikunjungi adalah Sasana Krida selanjutnya menuju ke beberapa ruang lainnya.

Waktu terasa berjalan cepat. Karena padatnya agenda kunjungan, para tamu tidak dapat berlama-lama di Esmega. Mereka masih harus melanjutkan perjalanan ke sekolah lain di wilayah Blora untuk kegiatan pemantauan program pendidikan. Sebelum meninggalkan sekolah, para tamu menyempatkan diri untuk foto bersama di halaman depan. Klik kamera mengabadikan kebersamaan itu bukan sekadar foto biasa, melainkan simbol dari semangat dan harapan.

Kepala sekolah menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan dan perhatian yang diberikan. Para guru juga mengucapkan terima kasih sambil menyalami para tamu satu per satu. Meskipun kunjungan berlangsung singkat, kesan mendalam tertinggal di hati semua yang hadir.

Setelah rombongan tamu meninggalkan area sekolah, suasana kembali tenang.  Beberapa guru berkumpul di teras ruang guru, masih membicarakan pengalaman pagi itu dengan penuh semangat. Harapannya Esmega semakin bersinar di kawasan Kabupaten Blora. Khususnya di dunia pendidikan. Aamiin. 

Cepu, 6 November 2025

Cermin Pribadi Warga Esmega

Karya: Gutamining Saida

Sinar matahari menembus lembut melalui jendela kaca ruang Sasana Krida. Di sela-sela hembusan angin yang menerobos tirai, pandangan saya tertumbuk pada sebuah tulisan besar yang terpajang di kaca jendela bagian depan. Tulisan itu sederhana, tetapi memiliki daya tarik yang luar biasa. Di atas kertas berwarna biru cerah tertulis satu kata yang begitu kuat yaitu SUKSES.

Awalnya saya hanya melirik sekilas, tetapi entah mengapa langkah saya terhenti. Pandangan saya tertuju pada huruf-huruf besar itu. Di bawahnya terdapat penjabaran maknanya yaitu
S = Syukur
U = Unggul
K = Kreatif
S = Sehat
E = Elok
S = Santun

Tulisan itu tampak biasa, namun menyimpan makna luar biasa. Satu kata yang menjadi cerminan cita-cita, panduan, bahkan filosofi hidup bagi seluruh warga Esmega SMP Negeri 3 Cepu. Saya berdiri cukup lama memandangi tulisan sekaligus memfotonya dan pikiran pun mengembara ke berbagai momen yang menggambarkan bagaimana kata SUKSES itu hidup dalam keseharian warga sekolah.

S = Syukur

Rasa syukur adalah pondasi pertama menuju kesuksesan. Di Esmega, setiap kegiatan selalu diawali dengan ucapan syukur. Pagi-pagi sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, suara doa bersama menggema dari tiap-tiap kelas. Semua siswa berdiri tegak, menundukkan kepala, mengucap syukur atas nikmat kesehatan, kesempatan belajar, dan rezeki yang diberikan.
Saya teringat pada sosok Pak Midid, petugas kebersihan sekolah yang setiap pagi datang paling awal. Dengan senyum ramah, ia selalu menyapa kepada siapa pun yang lewat, “Pagi, Alhamdulillah sehat.” Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan bukan karena harta, melainkan rasa syukur yang terus dijaga.

U = Unggul
Keunggulan di Esmega bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga sikap, tanggung jawab, dan kerja keras. Lihat saja setiap Senin pagi ketika lagu “Tiada Hari Tanpa Prestasi” dinyanyikan saat upacara bendera. Suara lantang para siswa menyatu dalam semangat untuk terus berprestasi.
Hampir tiap hari Senin, beberapa siswa membawa piala hasil lomba. Ada rasa bangga terpancar dari wajah mereka, tapi juga kerendahan hati. Mereka sadar bahwa keunggulan bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Unggul berarti tidak cepat puas. Kepala sekolah sering berpesan, “Jadilah bintang yang bersinar tanpa membuat orang lain redup.”

K = Kreatif
Kreativitas adalah napas kehidupan di lingkungan Esmega. Lihat saja kegiatan pembelajaran yang selalu penuh warna. Guru-guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mengajak siswa berpikir, berkreasi, dan berinovasi. Lewat Ekstra kurikuler, siswa dituntut untuk menciptakan karya seni tari. Itulah kreativitas yang menyatukan ilmu dengan pengalaman nyata. Pembelajaran jadi menyenangkan dan bermakna. Tak heran bila banyak ide-ide segar lahir dari siswa Esmega, mulai dari pembuatan komik sejarah, vlog tentang budaya lokal, hingga proyek kewirausahaan kecil-kecilan.

S = Sehat
Kesehatan menjadi kunci untuk bisa belajar dan bekerja dengan optimal. Di Esmega, setiap Jumat pagi dijadikan momen “Jumat Sehat”. Semua warga sekolah dari guru, siswa, hingga staf tata usaha  berkumpul di lapangan untuk senam bersama. Musik ceria mengiringi setiap gerakan.
Selepas senam, ruang guru menikmati bekal sarapan bersama. Ada yang membawa nasi goreng, ada yang membawa telur dadar, mie goreng, bahkan ada yang membungkus bekal dengan daun pisang. Saat akan pulang sekolah siswa bisa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemandangan yang sederhana namun penuh kehangatan.
Melalui kegiatan ini, sekolah tidak hanya menanamkan pentingnya fisik yang kuat, tetapi juga kesehatan jiwa adalah kebersamaan, tawa, dan semangat positif.

E = Elok
Kata elok menggambarkan keindahan, baik dari dalam maupun luar. Sekolah yang elok bukan hanya tampak bersih dan tertata rapi, tetapi juga dipenuhi perilaku baik penghuninya.
Setiap minggu, siswa bergotong royong membersihkan kelas dan halaman sekolah. Pot bunga disusun rapi, dinding dihiasi karya siswa, dan jendela selalu bersih dari debu. Keindahan sejati terlihat dari bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain.
Siswa laki-laki menolong temannya yang jatuh dari sepeda di depan gerbang sekolah. Tanpa diminta, ia membantu, menuntun sepeda, dan memastikan temannya baik-baik saja. Keelokan hati seperti inilah yang membuat suasana Esmega terasa damai.

S = Santun
Santun adalah mahkota kepribadian warga Esmega. Sopan dalam berbicara, hormat kepada guru, ramah kepada teman. Di setiap sudut sekolah, terdengar sapaan hangat, “Selamat pagi, Bu,” atau “Permisi, Pak.”
Kebiasaan ini bukan hal kecil. Ia mencerminkan nilai luhur yang ditanamkan sejak awal. Di dunia yang serba cepat dan penuh tantangan, sikap santun menjadi pembeda antara orang berilmu dan orang beradab.
Guru-guru Esmega selalu memberi teladan. Mereka tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mencontohkan sikap hormat dan kesabaran.

Ketika saya kembali menatap tulisan SUKSES di jendela Sasana Krida, saya tersenyum. Kata itu bukan sekadar hiasan dinding, melainkan jiwa yang hidup di setiap langkah warga Esmega.
SUKSES bukan hanya tentang nilai tinggi, bukan pula tentang banyaknya piala yang terpajang di lemari prestasi. Sukses adalah tentang menjadi manusia yang bersyukur, unggul, kreatif, sehat, elok, dan santun.

Jika setiap warga Esmega menjadikan makna itu sebagai pegangan hidup, maka bukan hanya sekolah ini yang akan maju, tetapi bangsa pun akan memiliki generasi yang tangguh dan berkarakter.
Tulisan sederhana di jendela itu mengajarkan satu hal penting: bahwa kesuksesan sejati bukanlah hasil dari kebetulan, melainkan buah dari karakter yang terus diasah setiap hari di sekolah, di rumah, dan di dalam hati. Sasana Krida dengan semangat baru, sembari berbisik dalam hati,
“Terima kasih, Esmega. Engkau telah mengajarkan arti sejati dari kata SUKSES.”
Cepu, 6 November 2025

Semangatmu Pulih Kembali

 


Karya: Gutamining Saida

Jam pelajaran terakhir selalu punya cerita tersendiri. Di saat sebagian besar guru mungkin sudah merasa lelah, dan para siswa mulai kehilangan semangat, justru di situlah kreativitas seorang guru diuji. Hari itu, saya mendapat jadwal mengajar IPS di kelas 8H, tepat di jam ke-7 dan ke-8, menjelang pelaksanaan MBG (Makan Bergizi Gratis).

Sejujurnya, saya sudah menduga suasana kelas tidak akan terlalu hidup. Pukul sudah hampir menunjukkan pukul 12.30 WIB, dan dari jendela terlihat matahari masih menyengat dengan teriknya. Begitu saya menyelesaikan materi di jam ke tujuh, dugaan saya terbukti  sebagian siswa tampak lesu. Ada yang menopang dagu, ada yang duduk bersandar sambil menatap kosong ke papan tulis, bahkan ada yang sesekali menguap tanpa sempat menutup mulut.

Saya menyelesaikan materi dan menuju meja guru, lalu tersenyum kecil. Dalam hati saya bergumam, “Baiklah, tantangan hari ini bukan hanya mengajar IPS, tapi juga menghidupkan semangat mereka.”

“Anak-anak, masih semangat belajar IPS?” tanya saya mencoba mencairkan suasana. Beberapa menjawab lirih, “Masih, Bu…” tapi suaranya seperti bisikan angin sore. Saya tersenyum, menatap mereka satu per satu. Dalam hati, saya tahu tubuh dan pikiran mereka butuh penyegaran, bukan tambahan teori dan materi panjang. Ide  yang sudah saya siapkan dari rumah harus segera dilakukan. Saya menepuk tangan dan berkata, “Baik, anak-anak, kita sudah belajar satu jam pelajaran. Sekarang Bu Saida punya ide. Kurang satu jam lagi, bagaimana kalau kita… nyeblak bareng?”

Seisi kelas langsung terkejut. Sabila baru duduk dari latihan upacara persiapan besok hari pahlawan. spontan menatap saya dengan mata berbinar, “Apa, Bu? Seblak?”
Saya mengangguk, sambil menahan tawa melihat perubahan wajah mereka yang begitu cepat dari lelah menjadi penuh harapan. “Betul, seblak! Tapi sebelum kita nikmati seblaknya, kita bahas dulu cara menikmatinya bersama kelompok kalian. Setelah itu, baru makan bersama. Setuju?”

“Setujuuuu…!!!” teriak mereka serentak, disertai tepuk tangan dan tawa. Seketika suasana kelas berubah total. Yang tadi mengantuk kini tegak duduk. Yang tadi bersandar kini membuka buku. Saya hanya bisa tersenyum lebar melihat perubahan drastis itu.

“Bu, kalau penjual seblak buka cabang di berbagai kota berarti termasuk contoh mobilitas vertikal ke atas ya? ” Saya pun menjawab sambil tertawa, “Betul sekali." Mereka tertawa kecil, dan beberapa mulai bergurau. “Berarti nanti Bu Saida juga jadi distributor seblak, ya?”

Saya mengangguk, “Betul sekali. Hari ini Bu Saida bukan hanya guru IPS, tapi juga pembawa kebahagiaan lewat seblak!” Kelas pun kembali riuh. Saya bahagia melihat semangat mereka kembali hidup hanya dengan ide sederhana makan bersama. Namun bukan makan seblak sesunggungnya. Di balik gambar seblak ada pertanyaan yang harus diselesaikan bersama kelompoknya. Ada dua pilihan gambar seblak cakar dan gambar seblak komplet.

Mereka memilih anggota kelompok sendiri agar tetap semangat menyelesaikan pertanyaan demi pentanyaan di balik gambar seblak yang mereka pilih. Ada yang bertugas maju mengambil gambar seblak. Dan mengganti dengan gambar lain yang belum diselesaikan. Anggota lain ada yang mencari jawaban di buku catatan  dan buku paket IPS.

Sebelum jam pembelajaran berakhir ada kelompok yang bisa menyelesaikan delapan, tujuh dan enam soal. Saya bahagia dengan kerja keras semua siswa. Sebelum meninggalkan kelas, saya sempat menatap papan tulis yang masih tertulis kata “mobilitas sosial ”. Saya tersenyum dalam hati, “Hari ini, bukan hanya tentang mobolitas sosial vertikal, horisontal, tapi juga semangat, kehangatan, dan rasa kebersamaan.”

Cepu, 6 November 2025

Selasa, 04 November 2025

Saat Beban Berkurang, Peluang Bertambah

 Karya: Gutamining Saida

Setiap guru pasti pernah berada di titik perubahan. Ada kalanya kita harus berpindah kelas, berganti peran, atau menyerahkan sebagian tanggung jawab kepada rekan baru. Begitu pula yang saya rasakan di awal bulan November 2025 ini.

Mulai bulan ini, saya tidak lagi mengajar Pendidikan Pancasila di kelas 7A dan 7B. Guru baru sudah datang ke Esmega (SMP Negeri 3 Cepu) melalui formasi PPPK, siap melanjutkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan moral kepada para siswa.

Ada perasaan haru ketika pertama kali mendengar kabar itu. Rasanya seperti melepas sesuatu yang sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Tapi di balik rasa haru, ada juga rasa syukur yang mendalam. Saya tahu, setiap perubahan pasti membawa hikmah.

Enam jam pelajaran saya kini berkurang. Dan ternyata, berkurangnya enam jam itu terasa begitu berarti. Saya merasa lebih ringan, lebih leluasa, dan bisa mengatur ritme kerja dengan lebih baik. Kini saya bisa fokus sepenuhnya pada mata pelajaran IPS di kelas 7 dan 8,  bidang yang memang menjadi kecintaan saya sejak lama.

🌿 Menikmati Ruang Baru yang Diberi Waktu

Hari-hari pertama tanpa jadwal Pendidikan Pancasila terasa agak janggal. Biasanya, saya sudah bersiap dengan bahan ajar tentang norma dan nilai kehidupan. Tapi kini, di jam yang sama, saya bisa duduk tenang di ruang guru sambil menikmati makan cemilan dan minum air putih.

Saya tersenyum kecil sambil berpikir, mungkin inilah cara Allah memberi jeda. Bukan jeda untuk berhenti, tetapi jeda untuk bernafas, merenung, dan menyusun langkah baru.

Perlahan, saya mulai mengisi ruang kosong itu dengan hal-hal yang bermanfaat. Saya menata ulang jadwal harian, memperkaya bahan ajar IPS, dan mulai membuat ide pembelajaran yang lebih menarik. Saya ingin siswa belajar dengan senang, memahami bahwa IPS bukan sekadar hafalan, tapi ilmu yang menuntun mereka memahami kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.

✍️ Menulis, Cara Saya Mensyukuri Waktu

Sejak lama saya memiliki blog pribadi, namun selama ini sering terbengkalai karena padatnya jadwal mengajar. Kini saya bisa menulis lagi dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih.

Menulis di blog bagi saya bukan hanya soal berbagi ilmu, tetapi juga bentuk rasa syukur. Dari menulis, saya bisa merefleksikan pengalaman sehari-hari di sekolah, berbagi ide pembelajaran, atau sekadar menuliskan cerita kecil yang mungkin bisa menginspirasi pembaca lain.

Saya percaya, setiap tulisan adalah jejak kebaikan. Mungkin tak semua orang membaca, tapi siapa tahu, ada satu orang yang mendapat semangat baru setelah membacanya.

🌼 Waktu, Pedang, dan Kesempatan

Saya teringat pepatah Arab yang begitu dalam maknanya:

“Waktu adalah pedang. Jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan menebasmu.”

Betapa benarnya kalimat itu. Waktu bisa menjadi teman yang setia, tapi juga bisa berubah menjadi musuh jika disia-siakan. Dulu, saya sering merasa waktu begitu cepat berlalu, tapi kini saya belajar untuk menikmatinya dengan penuh kesadaran.

Saya ingin memanfaatkan setiap jam dengan hal-hal yang bernilai. Mengajar IPS dengan cara yang lebih kreatif, menulis ide-ide yang bermanfaat, membuat media pembelajaran sederhana, atau sekadar berbincang santai dengan rekan guru untuk saling berbagi inspirasi.

Berkurangnya jam mengajar bukan berarti berkurangnya pengabdian. Justru dari sinilah saya menemukan makna baru dalam bekerja, bahwa guru tidak hanya berperan di depan kelas, tapi juga bisa berkarya di ruang lain yang lebih luas.

🌸 Menutup Hari dengan Rasa Syukur

Kini setiap sore, saya sering menutup hari dengan rasa syukur. Waktu terasa lebih lapang, hati lebih tenang, dan semangat untuk berkarya semakin besar. Saya belajar bahwa perubahan tidak selalu berarti kehilangan. Kadang justru melalui perubahan, kita menemukan kembali diri kita yang sesungguhnya.

Saya menikmati nikmat waktu ini  bukan untuk berdiam diri, tapi untuk melangkah dengan arah baru. Waktu memang seperti pedang, tapi di tangan yang tepat, pedang itu bisa digunakan untuk menebas kebodohan, kemalasan, dan penundaan.

Saya memilih menjadikannya alat untuk berkarya dan menebar manfaat. Karena sejatinya, waktu bukan untuk dihabiskan  tapi untuk dihidupkan dengan arti.

Cepu, 4 November 2025

Wajah Ceria

Karya : Gutamining Saida 
Suasana di sekolah masih terasa hangat meskipun acara HUT ke-46 SMPN 3 Cepu telah selesai beberapa menit sebelumnya. Di berbagai sudut sekolah, tampak wajah-wajah ceria siswa yang masih larut dalam suasana perayaan. Panggung yang belum sepenuhnya dibongkar menjadi saksi bahwa hari itu adalah hari yang penuh kenangan.

Ketika saya melangkah menuju ruang guru, pandangan saya tertuju pada sekelompok siswa kelas 7A yang sedang berkumpul di outdoor. Mereka terlihat berbeda raut wajahnya begitu segar, matanya berbinar-binar, dan tawa mereka terdengar renyah. Di tangan mereka masing-masing mengenggam benda-benda yang baru saja mereka menangkan dari acara pembagian hadiah lomba.

“Bu Saidaaa… lihat, Bu! Aku dapat hadiah Super PAN!” teriak Rafif, sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah wajan baru yang masih terbungkus kardus. Tangannya kokoh memegangnya, wajahnya begitu sumringah seolah baru saja memenangkan undian besar. Saya tertawa kecil melihat semangatnya. “Wah, hebat, Rafif! Itu tandanya kamu rajin membantu nenek di dapur nanti, ya,” saya menggoda. Rafif langsung tertawa malu, sementara teman-temannya ikut menggoda, “Hati-hati, Fif, nanti disuruh goreng tempe tiap hari!”

Tak jauh dari Rafif, Richi tampak sibuk memperlihatkan tempat minum baru kepada teman-temannya. “Lihat, Bu, warna birunya keren, kan?” katanya sambil memutar botol itu ke segala arah. Botol itu berkilau terkena sinar matahari yang menembus jendela  Saya tahu betul Richi, anak yang sopan dan selalu antusias mengikuti kegiatan sekolah. Meskipun tidak sebesar hadiah Rafif, ia tampak begitu menghargai apa yang diperolehnya. “Bagus sekali, Richi. Itu hadiah yang cocok buat anak rajin sepertimu. Jangan lupa dibawa setiap hari biar nggak beli minum di kantin terus,” ucap saya dengan lembut. Richi mengangguk sambil tersenyum lebar, “Siap, Bu Saida!”

Sementara itu, Lala, siswi dengan senyum manis dan rambut dikuncir ke belakang tampak memeluk erat cangkir minum berwarna hijau toska. Ia menunjukkan cangkir itu kepada teman-temannya dengan penuh kebanggaan. “Aku suka banget warnanya, Bu, mirip warna kesukaanku!” katanya bersemangat.
Saya mendekat dan berkata, “Cangkir itu memang cocok untukmu, Lala. Semoga setiap kali kamu minum dari situ, kamu selalu ingat momen bahagia hari ini.” Lala tertawa kecil, lalu berkata, “Iya, Bu. Aku mau pakai cangkir ini nanti di rumah biar Ibu tahu kalau aku dapat hadiah dari sekolah.”

Tak kalah gembira, Rehan datang sambil membawa air fryer dalam kotak besar. Ia tampak sedikit kewalahan karena ukurannya cukup besar, tapi semangatnya tidak kalah dari yang lain. “Bu, lihat, saya dapat air fryer! Katanya bisa goreng tanpa minyak!” katanya sambil tertawa lebar.
Saya mengangguk kagum. “Wah, Rehan, itu hadiah luar biasa! Nanti bantu Ibu di rumah, ya. Bisa masak kentang goreng tanpa minyak, sehat sekali.”
Rehan menjawab dengan ceria, “Siap, Bu! Nanti saya mau coba bikin ayam goreng untuk keluarga!”

Saya sempat meminta mereka berhenti sejenak untuk berfoto. Mereka berdiri memegang hadiah masing-masing dengan bangga. Saya mengangkat ponsel dan berkata, “Senyum, ya! Tiga, dua, satu…”
Klik! Dalam bidikan kamera itu, terekam wajah-wajah ceria siswa-siswa kelas 7A: polos, bahagia, dan penuh semangat. Tidak ada yang berpura-pura. Semua tawa itu asli dari hati mereka yang gembira karena merasa dihargai dan diperhatikan.

Setelah saya ambil beberapa foto, mereka kembali berjalan ke sana kemari, masih memamerkan hadiah kepada teman kelas lain yang belum sempat melihat. Ada yang memeluk hadiahnya erat, ada pula yang mengangkatnya tinggi-tinggi agar semua orang tahu. 

“Bu, boleh saya bawa pulang sekarang?” tanya Rafif sambil memeluk wajan.
“Tentu saja boleh. Tapi hati-hati di jalan, ya. Jangan sampai jatuh,” jawab saya.
“Iya, Bu. Saya mau langsung kasih lihat ke nenek
di rumah. Pasti beliau senang banget!” katanya sambil berlari kecil menuju gerbang.

Betapa indah kebahagiaan anak-anak ketika mereka mendapat penghargaan, meskipun bentuknya sederhana. Hadiah-hadiah itu mungkin hanya benda biasa seperti wajan, botol minum, cangkir, air fryer tapi makna di baliknya luar biasa besar. Di sana ada semangat, kerja keras, dan rasa bangga yang tumbuh dalam diri mereka.

Saya pun teringat pesan kepala sekolah pagi tadi, “Hadiah tidak selalu harus mahal. Yang penting adalah rasa bahagia yang tertanam di hati anak-anak. Itulah yang akan mereka ingat sampai nanti.” Dan benar saja, melihat senyum Rafif, Richi, Lala, dan Rehan sore itu membuat saya yakin bahwa kebahagiaan di sekolah bisa lahir dari hal-hal kecil yang penuh ketulusan.

Sebelum saya masuk ke ruang guru, saya menoleh sekali lagi. Dari kejauhan, saya melihat keempat anak itu masih berjalan di halaman sekolah sambil membawa hadiah mereka. Sesekali mereka berhenti, tertawa, lalu berjalan lagi dengan langkah ringan. Hadiah-hadiah itu mereka tenteng terus, bukan karena beratnya benda, tetapi karena beratnya rasa bahagia di hati.

Saya tersenyum sendiri. Hari in bukan hanya hari ulang tahun sekolah, tapi juga hari ulang tahun kebahagiaan bagi anak-anak 7A. Mereka mungkin akan lupa siapa yang memenangkan lomba tahun depan, tetapi mereka tidak akan lupa betapa bahagianya hari ini . Terutama saat mereka menerima hadiah, tertawa bersama, dan merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 3 Cepu.
Cepu, 4 November 2025

Senin, 03 November 2025

MOBILITAS SOSIAL

 



1. Pengertian Mobilitas Sosial

Kata mobilitas sosial berasal dari kata “mobilisasi” yang berarti pergerakan atau perpindahan.
Secara umum, mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau kelompok dalam struktur sosial masyarakat, baik naik, turun, maupun berpindah ke posisi yang sejajar.

📘 Menurut sosiologi:
Mobilitas sosial adalah gerak perpindahan individu atau kelompok dari satu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya dalam masyarakat.

Contoh:

  • Anak seorang buruh yang menjadi pengusaha sukses (naik kedudukan).

  • Seorang direktur yang dipecat dan menjadi pegawai biasa (turun kedudukan).


⚙️ 2. Sebab Terjadinya Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial bisa terjadi karena beberapa faktor berikut:

a. Perbedaan kemampuan dan pendidikan

Orang yang memiliki pendidikan tinggi cenderung mendapatkan pekerjaan dan kedudukan sosial lebih baik.
➡️ Contoh: Lulusan S2 menjadi dosen universitas ternama.

b. Keinginan memperbaiki nasib

Dorongan untuk hidup lebih baik membuat seseorang berusaha berpindah kedudukan sosial.
➡️ Contoh: Petani yang bekerja keras dan akhirnya membuka toko pertanian sendiri.

c. Perubahan struktur sosial dan ekonomi

Kemajuan teknologi, industri, dan ekonomi membuka peluang baru.
➡️ Contoh: Tukang pos beralih menjadi kurir jasa online.

d. Kondisi politik

Perubahan kepemimpinan dapat membuka peluang bagi individu untuk naik jabatan.
➡️ Contoh: ASN dipromosikan menjadi pejabat setelah reformasi birokrasi.

e. Perkawinan

Perkawinan bisa mengubah status sosial seseorang.
➡️ Contoh: Perempuan biasa menikah dengan pengusaha kaya.


🔝 3. Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial

a. Mobilitas Vertikal

Adalah perpindahan status sosial naik atau turun.

  1. Vertikal Naik (Social Climbing)
    Terjadi jika seseorang mengalami peningkatan kedudukan sosial.
    ➡️ Contoh:

    • Guru menjadi kepala sekolah.

    • Pegawai menjadi manajer.

  2. Vertikal Turun (Social Sinking)
    Terjadi jika seseorang mengalami penurunan status sosial.
    ➡️ Contoh:

    • Pejabat terkena kasus korupsi dan dipenjara.

    • Pengusaha bangkrut menjadi pengangguran.


b. Mobilitas Horizontal

Adalah perpindahan dari satu kedudukan ke kedudukan lain yang sejajar, tanpa mengubah derajat sosial.
➡️ Contoh:

  • Guru SMP pindah menjadi guru SMA mengajar mata pelajaran yang sama

  • Polisi berpindah tugas dari Cepu ke Blora.


🛤️ 4. Saluran Mobilitas Sosial (Social Mobility Channels)

Saluran mobilitas sosial adalah jalur atau lembaga yang memudahkan seseorang berpindah status sosial.

Berikut beberapa salurannya:

  1. Pendidikan
    Pendidikan membuka peluang seseorang memperoleh pekerjaan dan kedudukan lebih tinggi.
    ➡️ Contoh: Anak tukang becak yang kuliah jadi dokter.

  2. Pekerjaan
    Pekerjaan memberi kesempatan untuk naik jabatan dan memperbaiki status ekonomi.
    ➡️ Contoh: Pegawai naik pangkat menjadi manajer.

  3. Organisasi atau politik
    Aktif di organisasi sosial atau politik bisa menaikkan status sosial.
    ➡️ Contoh: Aktivis masyarakat menjadi anggota DPR.

  4. Perkawinan
    Menikah dengan pasangan dari status sosial lebih tinggi.
    ➡️ Contoh: Petani menikah dengan anak pejabat.

  5. Militer atau birokrasi
    Jabatan di militer dan birokrasi memberi peluang untuk naik pangkat.
    ➡️ Contoh: Tentara berpangkat rendah menjadi perwira tinggi.


⚖️ 5. Dampak Mobilitas Sosial

🔹 Dampak Positif:

  1. Mendorong semangat kerja dan prestasi.
    Seseorang termotivasi untuk meningkatkan kemampuan diri.

  2. Menumbuhkan dinamika sosial.
    Masyarakat menjadi lebih terbuka terhadap perubahan.

  3. Mempercepat pembangunan.
    Banyak orang berusaha memperbaiki kehidupan ekonomi dan pendidikan.

  4. Meningkatkan integrasi sosial.
    Mobilitas memungkinkan interaksi lintas golongan.

🔹 Dampak Negatif:

  1. Terjadinya konflik sosial.
    Karena persaingan untuk mencapai status tinggi.

  2. Kecemburuan sosial.
    Muncul iri hati antara kelompok yang naik dan yang tidak.

  3. Disorganisasi sosial.
    Pergeseran peran sosial yang terlalu cepat menyebabkan ketidakseimbangan.

  4. Tingginya mobilitas membuat masyarakat tidak stabil.
    Banyak orang berpindah pekerjaan atau tempat tinggal tanpa komitmen sosial kuat.

  5. Cepu, 4 November 2025


Sederet Kata Pamit

 


Karya: Gutaminining Saida

Jum’at siang itu suasana sekolah sudah mulai lengang. Beberapa guru masih di ruang guru menuntaskan administrasi, sementara yang lain bersiap pulang lebih awal setelah salat Jumat. Saya menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan ikon pesan di grup mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Sudah beberapa bulan saya menggantikan guru yang purna, dan banyak kenangan yang terselip di setiap pertemuan, tawa, bahkan perbedaan pendapat yang kadang muncul dalam rapat kecil kami.

Dengan hati-hati saya mengetik pesan yaitu 
“Anak-anak semua, Bu Saida mohon maaf bila selama mengajar  Pendidikan Pancasila  ada kata yang salah, sikap yang kurang berkenan, atau marah yang tak pada tempatnya. Terima kasih atas kerja samanya selama ini.” Saya menambahkan emoji senyum kecil, lalu menekan kirim.

Pesan itu tampak sederhana, tapi entah mengapa hati saya bergetar. Seolah ada yang terangkat dari dada. Dalam hitungan detik, balasan mulai bermunculan.
“Bu Saida mau pindah ya?” tulis salah satu siswa 7A dengan cepat.
"Yaaah... kenapa ganti bu?" tanya Richi
"Gara-gara ada guru pindah bu?" lanjut Nadwa
“Kenapa bu? jadi penasaran,” sambung yang lain disertai emotikon peluk.
Saya tersenyum membaca reaksi mereka. Ada rasa haru yang tidak bisa disembunyikan. Rupanya kalimat pamit yang saya tulis dianggap sebagai pertanda perpisahan.

Saya mengetik balasan singkat, “Hehe… bukan pindah kok, cuma mau ganti guru baru yang lebih profesional.”
Beberapa siswa langsung merespons dengan tawa.
“Ah, Bu Saida ini bikin deg-degan aja.”
“Kirain mau ninggalin kami.”
Satu pesan masuk lagi, “Kalau pun ada guru baru, rasanya sulit menggantikan kehangatan Bu Saida.”

Saya terdiam membaca kalimat itu. Sesuatu yang menetes di pipi, campuran antara rasa terima kasih dan keharuan. Saya tidak pernah menyangka bahwa kehadiran saya selama ini begitu bermakna bagi mereka. Saya hanya berusaha menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, mengajar dengan hati, dan menjaga siswa siswi dengan baik. Sore itu saya belajar, bahwa kehangatan dan ketulusan ternyata lebih diingat daripada kesempurnaan.

Grup itu terus ramai hingga menjelang sore. Ada yang bercanda, ada yang menanyakan kabar keluarga, bahkan ada yang sekadar menulis “semangat terus Bu Saida!” meski tanpa konteks. Suasana yang hangat itu membuat saya sadar, betapa indahnya hubungan kerja yang dilandasi rasa saling menghargai.

Di luar, langit mulai redup. Suara adzan Ashar menggema dari kejauhan. Saya menutup ponsel dan menarik napas panjang. Dalam hati saya berdoa, semoga persahabatan di antara kami dengan siswa  terus terjalin erat, meski suatu hari nanti kami tidak lagi dalam satu kelas, tetap satu sekolah.

Saya tersenyum kecil. Jum’at siang itu ternyata bukan sekadar waktu untuk pamit dalam grup, tapi juga saat untuk mensyukuri perjalanan, memetik makna kebersamaan, dan memahami bahwa keikhlasan akan selalu menemukan tempatnya di hati mereka yang tulus.

SEMOGA SUKSES BERSAMA GURU PENDIDIKAN PANCASILA BARU.

Cepu, 4 November 2025

SERIBU PRESTASI ESMEGA

 


Karya : Gutamining Saida

“Tiada hari tanpa prestasi…” begitulah potongan syair lagu kebanggaan SMPN 3 Cepu, yang akrab  disebut Esmega, selalu bergema setiap hari Senin pagi. Lagu itu bukan sekadar nyanyian wajib dalam upacara bendera, melainkan semacam doa dan semangat yang hidup di dada seluruh warga sekolah  dari kepala sekolah, guru, hingga siswa. Setiap baitnya mengandung pesan agar siapa pun yang berada di lingkungan Esmega tak berhenti berjuang, berusaha, dan berprestasi.

Senin pagi di halaman sekolah itu selalu berbeda. Bendera merah putih berkibar gagah diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan Mars Esmega yang menggema penuh semangat. Di barisan belakang, tampak para siswa yang memegang piala dan piagam penghargaan dari berbagai lomba yang diikuti selama akhir pekan. Wajah-wajah mereka memancarkan kebanggaan yang tulus, bukan hanya karena hadiah atau piagam, tapi karena mereka telah membuktikan kerja keras dan semangat pantang menyerah.

Setiap Senin,bapak Kepala Sekolah selalu menyempatkan waktu untuk menyerahkan penghargaan kepada para juara. Kadang penghargaan itu datang dari bidang akademik seperti lomba olimpiade matematika, IPA, IPS, atau bahasa Indonesia. Di minggu lain, giliran siswa yang berprestasi di bidang non-akademik seperti olahraga, seni tari, vokal grup, dan pidato bahasa Jawa. Semua bentuk keunggulan diapresiasi, karena bagi Esmega, setiap kemampuan yang dikembangkan dengan sungguh-sungguh adalah prestasi yang patut dihormati.

“Jangan takut mencoba, karena setiap usaha tak akan pernah sia-sia,” pesan kepala sekolah dalam amanatnya pagi itu. Beliau menatap seluruh siswa yang berbaris rapi, berharap kalimat itu meresap ke hati mereka. Kata-kata itu bukan hanya motivasi biasa. Bagi para siswa, itu adalah dorongan yang membuat mereka yakin bahwa setiap orang punya peluang untuk menjadi juara di bidangnya masing-masing.

Setiap kali siswa-siswa Esmega membawa pulang piala atau piagam, dokumentasi selalu dilakukan. Guru dan tim kesiswaan segera mengabadikan momen itu memotret, menulis kisah singkat, dan memajangnya di papan prestasi sekolah. Tujuannya sederhana: menularkan “virus kebaikan” kepada seluruh siswa agar termotivasi ikut berprestasi. Bahkan beberapa siswa yang awalnya cuek dan kurang semangat mulai menunjukkan perubahan. Mereka mulai berani ikut lomba antar kelas, lomba membaca puisi, atau bahkan lomba menyanyi.

Salah satu momen yang selalu ditunggu adalah ketika nama-nama pemenang diumumkan di upacara. Biasanya, suasana mendadak ramai. Ada teriakan bahagia, tepuk tangan panjang, bahkan sorakan kecil penuh semangat dari teman sekelas yang merasa bangga. Setiap penghargaan menjadi bukti bahwa di Esmega, kerja keras selalu dihargai.

Di balik semua itu, ada kerja sama yang kuat antara guru dan siswa. Para guru bukan hanya pengajar, tapi juga pembimbing yang sabar dan motivator sejati. Mereka mendampingi anak-anak berlatih, memberi semangat, bahkan ikut menyiapkan perlengkapan lomba. Tak jarang, guru rela pulang lebih sore demi mendampingi siswanya. Semua dilakukan demi satu tujuan yaitu agar semangat Tiada Hari Tanpa Prestasi benar-benar hidup dalam keseharian siswa Esmega.

Suatu hari, ketika ditanya apa rahasia keberhasilan sekolahnya, salah satu guru menjawab dengan sederhana, “Kami tidak menuntut semua siswa jadi juara, tapi kami ingin setiap siswa mau berusaha menjadi lebih baik dari kemarin.” Kalimat itu menggambarkan filosofi pendidikan di Esmega: bahwa prestasi bukan sekadar piala dan piagam, tetapi proses panjang yang membentuk karakter tangguh, percaya diri, dan pantang menyerah.

DAFTAR JUARA SISWA SMPN3 CEPU

1.        Lomba FLS3N Jenjang SMP Tingkat Kabupaten Blora

a.      Juara 1 Ansambel Musik an. Alvaro Putra Siswanto 9C, Ardistya Giovanni Yunianto 9G, Rafael Yudhistira 9A.

b.         Juara 2 Mendongeng an. Tasya Rihadatul ‘ Ais Andrea 9H.

c.          Juara 3 Ilustrasi an. Sesya Purnomo Putri 9F.

2.        Lomba O2SN Jenjang SMP Tingkat Kabupaten Blora

a.          Juara 1 Pencak Silat Putri an. Alfia Zahra Diandari.

b.         Juara 3 Karate Putri an. Ramona Muthia Maya 9G.

3.        Lomba FTBI Jenjang SMP Tingkat Kabupaten Blora

a.          Juara 1 Geguritan Putra an. Evan Jason Hardy Priyanto 7G.

b.         Juara 2 Mendongeng Putri an. Tasya Rihadatul ‘ Ais Andrea 9H.

c.          Juara 3 Aksara Jawa Putra an. Nayaka Kenzie Arganta Melani 7F.

4.        Lomba Olimpiade PADMA BANGSA Tingkat Kabupaten Blora Jenjang SMP

Juara 1 Lomba Mapel Matematika an. Muhammad Ihsanuddin Fadhillah 8A.

5.        Lomba MAPSI Jenjang SMP Tingkat Kabupaten Blora

a.          Juara 2 Hadroh (Hadro Mega) an. Ashanaira Insani 9H.

b.         Juara 3 Tahfizh Putri an. Nuraini Nala Ratu Beny 7G.

6.         Lomba Drum Band

a.          Juara 2 LBJP Putri 600m

        Juara 2 LKKB Putri 2000m an. Safa Jelita Oktavia 8A.

b.         Juara 1 LBJP Putri 600m

        Juara 2 LBJP Putri 600m

        Juara 2 LKKB Putri 800m an. Maharani Aqila Diyah Firmansyah 8C.

c.          Juara 1 LBJP 600m

        Juara 2 LBJP 800m

        Juara 2 LKBB 400m an. Quinsa Firdausy Nuzula 9D.

7.      Juara 1 Lomba Tari Kreasi dalam rangka Festival Nglaras Jagat Ngloram an. Ashanaira Insani 9H, Selfa Maulida Febriana 9C, Damar Jati Alvatara 9A, Nazreen Tanaya Cholisya 9A, Jelena Aiko Felda 8D.

8.        Juara 1 Mapel Matematika dalam rangka Event Intan Mutia Competition

Juara 3 Mapel Bahasa Inggris dalam rangka Event Intan Mutia Competition an. Habibi Afuwu Ikhwan 9H.

9.        Juara 3 Mapel Sains dalam rangka Event Intan Mutia Competition an. Lucky Berlian Gumilar Prasetyo 9B.

10.    Juara 4 Mapel Matematika dalam rangka Event Intan Mutia Competition

Juara 4 Mapel Sains dalam rangka Event Intan Mutia Competition

Juara 5 Mapel Bahasa Inggris dalam rangka Event Intan Mutia Competition an. Nayaka Kenzie Arganta Melani 7F.

SEMOGA ESMEGA SEMAKIN JAYA.

Cepu, 4 Nonember 2025

 

           


Minggu, 02 November 2025

Kenangan Minggu Sore

Karya : Gutamining Saida 
Minggu sore udara terasa sejuk setelah gerimis kecil yang turun sejak siang. Embusan angin membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang tertiup lembut di halaman rumah. Saat saya sedang santai di dalam rumah, terdengar suara motor berhenti dan tawa riang dari anak-anak. Terdengarlah sapaan ceria yang membuat hati bergetar, “Assalamualaikum, Bu Saidaaa!”

Delapan anak muncul di depan pagar dengan wajah berseri. Mereka adalah Ayu, Ajeng, Citra, Zahwa, Kukuh, Nico, Erik dan Vino. Seketika saya tertegun, lalu tersenyum lebar. Ternyata mereka adalah alumni siswa siswi Spensaba. Anak-anak yang dulu pernah saya bimbing di kelas. Sudah hampir sepuluh bulan kami tidak bertemu sejak saya mutasi. Kini mereka datang bersama-sama, membawa rindu yang tidak bisa disembunyikan.

Rasa haru dan bahagia menyelimuti hati. Saya persilakan mereka masuk, satu per satu menyalami saya dengan hormat, namun dengan tawa yang khas seperti dulu. “Bu, kami kangen banget,” ucap salah satu dari mereka sambil tersenyum malu-malu. “Kami tadi janjian mau silaturahmi ke rumah Bu Saida. Sudah lama banget enggak ngobrol sama bu Saida. ”

Ruang tamu yang biasanya sepi mendadak ramai. Mereka duduk ada yang bersandar di dinding, ada yang memainkan bantal kecil, ada juga yang sibuk makan jajanan. Saya menatap satu per satu wajah mereka ada yang makin tinggi, makin dewasa, dan beberapa mulai tampak berbeda dari terakhir kali saya melihat mereka.

Rasanya baru kemarin saya menegur mereka karena tidak mengerjakan PR IPS, atau menasihati karena berbicara saat pelajaran berlangsung. Sore itu, kenakalan masa lalu justru menjadi bahan tawa yang menular.

“Bu, ingat enggak waktu saya pura-pura izin ke toilet tapi malah jajan di kantin?” ujar salah satu anak laki-laki sambil tertawa.
Saya tertawa geli, “Oh, jadi kamu yang waktu itu hilang setengah jam? Ibu kira kamu pingsan di jalan.”
Mereka semua tertawa, suaranya bergema di ruang tamu, membuat suasana semakin hangat.

Obrolan berlanjut dengan cerita masa-masa di kelas. Mereka mengenang bagaimana dulu setiap kali ada ulangan IPS, beberapa dari mereka selalu berbisik-bisik mencari jawaban, dan saya pura-pura tidak tahu. 

Kami tertawa lagi. Rasa canggung antara guru dan murid itu sudah hilang sama sekali. Tidak ada jarak. Yang ada hanya kehangatan, nostalgia, dan kebersamaan yang manis. Mereka bercerita tentang sekolah barunya, teman baru, dan perjuangan beradaptasi di lingkungan yang berbeda. Ada yang di SMK Migas, SMAN 2 Cepu, SMAN Ngraho. 

“Waktu awal masuk, saya minder. Tapi saya ingat kata-kata bu Saida bahwa ‘Percaya diri itu awal dari keberhasilan.’ Itu yang membuat saya kuat.”
Si pendiam itu kini berbicara dengan penuh keyakinan, matanya berkilat tanda semangat hidup yang tumbuh. Dalam hati saya berdoa, semoga setiap kata yang pernah saya ucapkan dulu menjadi bekal untuk masa depan mereka.

Sore semakin temaram. Langit mulai berwarna jingga keemasan. Mereka masih asyik bercanda dan bercerita. 
Saya memperhatikan cara mereka berbicara, cara mereka tertawa. Ada sesuatu yang berubah. Mereka bukan lagi anak-anak kecil yang dulu saya tegur karena lupa membawa buku. Mereka kini remaja yang mulai memahami kehidupan. Wajah-wajah mereka tampak lebih matang, dan dalam tatapan mereka ada harapan besar untuk masa depan.

Saya bangga. Bangga karena pernah menjadi bagian kecil dalam perjalanan mereka.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, satu per satu mulai berpamitan. Mereka tahu hari sudah menjelang malam dan harus pulang sebelum magrib. Suasana haru mulai terasa. Yang perempuan mendekat dan memeluk saya erat. “Bu, kami kangen sekali. Rasanya enggak mau lepas,” ucap salah satu diantara mereka. "

Pelukan itu tulus, penuh kasih, tanpa jarak guru dan murid. Saya membalas pelukan itu dengan hangat. Dalam hati saya berdoa lirih, Ya Allah, lindungilah anak-anak ini. Jadikan mereka anak-anak yang sukses, berakhlak, dan bahagia dunia akhirat.

Setelah mereka semua pergi, rumah kembali sepi.  Hati saya justru terasa penuh. Di ruang tamu yang kini kosong, masih terbayang tawa mereka, masih terasa kehangatan kebersamaan yang sederhana tapi begitu berarti.
Ternyata kebersamaan itu tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya beralih bentuk menjadi kenangan yang tersimpan di hati.
Saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar mengajar di kelas, tetapi juga menanam cinta dan membangun kenangan yang kelak tumbuh menjadi rindu. Ketika mereka datang, membawa senyum dan cerita, itu adalah hadiah paling indah yang bisa diterima seorang guru di usia pengabdiannya. Sukses buat kalian semua. Selamat berjuang. 
Cepu, 2 November 2025