Karya: Gutamining Saida
Kolam renang Bumool mendadak menjadi panggung keajaiban arena tempat kebahagiaan. Di tempat ini, sekumpulan ibu-ibu perkasa melebur dalam spontan yang melampaui batas-batas gerak tangan yang meraup air, mengangkatnya ke angkasa, lalu membantingnya
turun demi menutupi wajah masing-masing dalam tirai cair.
Tidak ada satu pun manusia di muka bumi yang mampu menemukan gaya tangan yang sama persis dalam
detik-detik. Ada yang meraup air dengan jemari terkembang bagai
kipas merak, ada yang menggenggamnya erat-erat seolah sedang menggenggam takdir, ada pula yang menciduknya dengan kepalan setengah hati yang justru
memercikkan ke segala penjuru arah angin. Raut wajah
mereka? Dari bibir yang merekah lebar membentuk kebahagiaan tanpa ujung, mata yang terpejam rapat hingga
kerutan dahi yang meleleh pasrah karena gelombang tawa yang teramat
dahsyat.
Dalam satu komando tangan-tangan itu bergerak serempak. Air kehidupan diangkat tinggi-tinggi,
membubung megah menantang matahari, sebelum akhirnya diguyurkan deras
menutupi seluruh wajah. Seketika itu pula, dunia luar yang penuh hiruk-pikuk,
kebisingan rutinitas, dan beban hidup yang menindih pundak mendadak lenyap
tanpa jejak, tertelan oleh kepekatan air yang menyegarkan.
Wajah-wajah tertutup air. Di
balik tabir air yang mengalir turun di dahi, pipi, dan dagu, tercipta sebuah
dimensi tanpa rupa dan tanpa topeng sosial. Kami mendadak menjadi
makhluk tanpa identitas duniawi. Betapa luar biasa sensasi ketika mata terpejam
di balik guyuran air, di mana kita tidak lagi perlu melihat wajah satu sama
lain. Tidak ada lagi penilaian, tidak ada lagi standar kecantikan yang fana,
tidak ada lagi sekat usia atau jabatan. Di dalam air yang membasahi sekujur
raga, kami semua sama.
Di dalam kolam yang ada di dalam cekungan keramik berair biru itu hanyalah
ledakan-ledakan kegembiraan yang membahana, menggetarkan permukaan air hingga
menciptakan riak-riak kebahagiaan yang menjalar sampai ke pusat bumi.
Setiap kali tawa meledak dari mulut-mulut yang tersembunyi di balik guyuran air, suaranya melengking tinggi, menembus awan, menampar angin dengan gelombang energi positif. Tawa itu bukan sekadar pelampiasan. Suara tawa yang berderai-derai itu berbenturan dengan dinding-dinding kolam, memantul berkali-kali lipat, menciptakan gema sukacita . Siap menaklukkan sisa hari dengan senyum yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh badai apa pun di dunia luar.
Cepu, 2 November 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar