Kamis, 05 Februari 2026

Sumber Daya Alam Materi Ips Kelas 7

 Karya: Gutamining Saida

CARI JAWABAN DI BAWAH INI DENGAN MENARIK GARIS, BISA KE ATAS BAWAH, KE SAMPING KANAN-KIRI, MIRING.

1.     Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari __________ dan dapat  dimanfaatkan             manusia.
2.    Sumber daya alam yang dapat diperbarui adalah sumber daya yang bisa __________ dalam                     waktu       relatif cepat.
3.       Contoh sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui adalah __________.
4.       Hutan yang berfungsi menjaga kelestarian lingkungan disebut hutan __________.
5.       Hutan produksi digunakan untuk menghasilkan __________ bagi kebutuhan manusia.
6.       Hutan yang digunakan untuk melindungi tumbuhan atau hewan langka disebut hutan __________.
7.       Contoh hasil hutan berupa kayu adalah __________.
8.       Contoh hasil hutan bukan kayu adalah __________.
9.       Tempat tumbuh berbagai jenis flora dan fauna adalah __________.
10.   Hutan membantu mencegah bencana __________.
11.   Hutan dapat menyerap karbon dioksida dan menghasilkan __________.
12.   Hutan memberikan manfaat ekonomi berupa bahan baku seperti kayu, damar, dan __________.
13.   Hutan lindung berfungsi untuk menjaga kualitas __________.
14.   Hutan produksi biasanya dikelola untuk kegiatan __________.
15.   Hewan langka seperti orangutan dilindungi di kawasan __________.
16.   Salah satu manfaat hutan adalah menjaga keseimbangan __________ di bumi.
17.   Hutan mangrove berfungsi untuk mencegah abrasi di daerah __________.
18.   Hutan menjadi tempat tinggal bagi berbagai __________.
19.   Aktivitas penebangan liar dapat menyebabkan kerusakan __________.
20.   Hutan hujan tropis banyak terdapat di pulau __________ di Indonesia.
 

H

U

I

C

E

K

A

L

I

M

A

N

T

A

N

L

A

G

A

S

L

U

A

Z

A

K

I

K

I

L

A

S

A

T

I

N

H

L

A

G

S

E

T

C

R

N

A

G

N

A

B

E

N

E

P

A

N

J

A

I

F

I

N

A

S

D

F

B

G

I

T

E

G

H

J

K

K

J

K

M

Z

U

A

G

N

G

U

A

E

K

O

S

I

S

T

E

M

U

J

I

V

I

P

A

Y

L

A

H

E

R

U

T

I

S

A

M

A

L

I

K

D

U

A

R

I

N

I

A

C

I

T

C

A

C

A

A

N

Y

O

N

S

I

L

A

R

U

I

N

O

B

A

H

A

N

E

L

I

A

N

O

M

A

H

L

U

B

E

T

D

F

M

U

I

G

R

A

S

I

H

K

S

I

T

A

D

I

H

A

N

U

A

G

R

G

N

S

I

S

G

S

E

K

E

M

R

Y

M

M

I

T

N

U

N

U

M

A

H

A

U

I

S

U

P

R

I

F

A

B

U

D

N

G

U

N

I

G

U

R

U

G

C

U

A

R

Y

A

N

A

N

I

A

D

U

D

E

R

A

A

V

E

Z

I

O

V

I

T

A

N

A

H

S

U

Y

I

X

I

B

B

N

N

L

I

N

G

K

U

N

G

A

N

I

T

I

K

U

J

B

U

A

J

J

I

H

A

N

F

U

A

D

R

O

T

A

N

T

A

I

T

W

K

K

A

B

P

A

N

T

A

I

V

N

A

N

A

I

I

B

A

E

J

Z

A

T

S

D

C

Z

C

V

V

A

Y

U

K

Y

R

J

B

H

J

X

S

D

F

S

U

S

A

N

B

L

H

U

S

N

A

D

I

K

A

CS

M

I

N

Y

A

K

B

U

M

I

R

I

S

B

A

N

J

I

R


Selamat Mengerjakan

Rabu, 04 Februari 2026

Namakoe "GUTAMINING SAIDA"


Karya : Gutamining Saida

Nama bukan sekadar rangkaian huruf yang melekat pada diri seseorang. Dalam keyakinan saya, nama adalah doa yang panjang, harapan yang dititipkan, dan tanda cinta yang tidak pernah putus dari orang tua kepada anaknya. Setiap kali nama itu dipanggil, sejatinya doa itu kembali diulang, diam-diam mengetuk langit. Begitulah saya memaknai nama yang orang tua sematkan kepada saya adalah "Gutamining Saida."

Orang tua saya tidak memberi nama dengan tergesa-gesa. Nama itu lahir dari perenungan, pertimbangan, dan keyakinan. Bapak saya adalah sosok pemikir. Dalam kesehariannya, beliau terbiasa menghitung, menimbang, dan merangkai sesuatu dengan penuh kehati-hatian. Maka ketika hendak memberi nama anak, beliau melakukannya dengan kesungguhan yang sama. Bukan asal indah di telinga, bukan sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar diolah agar mengandung makna, tujuan, dan harapan hidup.

Dalam Islam, memberi nama yang baik adalah bagian dari tanggung jawab orang tua. Nama yang baik adalah doa, dan doa adalah ibadah. Saya percaya, Bapak saya memahami hal itu meski tidak selalu mengucapkannya dalam kata-kata. Beliau menuangkan niat baiknya melalui rangkaian huruf yang kelak akan saya bawa sepanjang hidup.

Nama Gutamining bukanlah nama yang muncul begitu saja. Ia adalah hasil “otak-atik” yang panjang, sesuai dengan angan-angan dan harapan orang tua saya. “Gu” berasal dari nama Bapak saya, Ghoriman. Sebuah tanda bahwa darah, nilai, dan prinsip beliau mengalir dalam diri saya. “Ta” diambil dari nama Ibu saya, Tatik Sunarti, perempuan hebat yang menjadi sumber kasih sayang, ketulusan, dan kekuatan dalam keluarga kami. Dari dua huruf ini saja, saya belajar bahwa sejak awal hidup saya telah dibingkai oleh cinta dua insan yang Allah Subhanahu Wata'alla satukan dalam ikatan pernikahan.

Kemudian ada “Mi”, yang merujuk pada bulan Mei, bulan kelahiran saya. Bagi saya, ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat bahwa setiap manusia lahir pada saat yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Tidak lebih cepat, tidak pula terlambat. Semua telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Bulan kelahiran bukan kebetulan, melainkan bagian dari takdir terbaik yang Allah Subhanahu Wata'alla siapkan.

Huruf “N” berasal dari kata “Nem”, istilah bahasa Jawa yang identik dengan "enam" dalam bahasa Indonesia, sedangkan “Ng” dari kata “Ngo” yang bermakna sembilan. Angka-angka ini bukan tanpa arti. Dalam budaya Jawa, angka sering dimaknai sebagai simbol keseimbangan dan perjalanan hidup. Dalam perspektif iman, saya memaknainya sebagai pengingat bahwa hidup berjalan dalam hitungan Allah Subhanahu Wata'alla. Umur, rezeki, dan langkah manusia semuanya berada dalam bilangan yang telah ditentukan oleh-Nya. Tidak satu pun meleset.

Sementara itu, nama Saida memiliki arti seorang perempuan yang selalu bahagia. Inilah inti dari harapan Bapak saya. Beliau berharap saya menjalani hidup dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang, dan mampu menemukan kebahagiaan dalam berbagai keadaan. Bukan kebahagiaan yang bergantung pada harta atau pujian manusia, melainkan kebahagiaan yang bersumber dari rasa syukur dan kedekatan kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Dalam perjalanan hidup, saya menyadari bahwa bahagia bukan berarti hidup tanpa ujian. Justru di situlah maknanya. Bahagia adalah ketika mampu menerima takdir dengan ikhlas, bangkit dari kesedihan dengan doa, dan menjadikan setiap peristiwa sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta. Barangkali itulah yang diinginkan Bapak saya berharap agar saya tumbuh menjadi perempuan yang kuat, berserah, dan tidak mudah kehilangan harapan.

Banyak orang mengatakan nama saya unik. Tidak jarang mereka bertanya, “Apa artinya?” atau “Dari daerah mana asal nama itu?” Pertanyaan-pertanyaan itu dulu hanya saya jawab singkat. Seiring bertambahnya usia, saya merasa perlu menjawabnya dengan penuh makna. Bahkan pernah meminta agar saya menuliskan kisah di balik nama ini dalam sebuah artikel. Saat itu, saya belum tergugah. Hingga akhirnya, kini saya merasa inilah waktu yang tepat. Waktu ketika hati saya cukup dewasa untuk memahami betapa besar cinta orang tua yang tersembunyi di balik sebuah nama.

Nama ini mengajarkan saya tentang identitas, tentang asal-usul, dan tentang doa yang tidak pernah putus. Setiap kali saya merasa lelah, saya teringat bahwa nama saya mengandung harapan kebahagiaan. Setiap kali saya ragu melangkah, saya ingat bahwa orang tua saya telah lebih dahulu memohonkan kebaikan hidup saya kepada Allah Subhanahu Wata'alla melalui nama yang mereka pilih.

Saya bangga memiliki orang tua yang hebat. Hebat bukan karena harta atau jabatan, melainkan karena ketulusan dan kesungguhan mereka dalam mendidik dan mendoakan anak-anaknya. Saya percaya, selama doa orang tua masih mengalir, selama ridha mereka saya jaga, maka nama Gutamining Saida akan terus menjadi cahaya penuntun dalam hidup. Cahaya yang mengingatkan bahwa tujuan akhir dari segala kebahagiaan adalah kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla dengan hati yang tenang dan jiwa yang ridha. Aamiin.

Cepu, 5 Pebruari 2026

Rezeki Tertunda


Karya : Gutamining Saida

Rezeki Allah Subhanahu Wata'alla benar-benar rahasia. Ia datang tanpa aba-aba, tanpa pemberitahuan, bahkan sering kali di saat hati sudah berhenti berharap. Seperti peristiwa yang saya alami pada hari Kamis yang tampak biasa, namun ternyata menyimpan cerita luar biasa tentang kesabaran, keikhlasan, dan janji Allah Subhanahu Wata'alla yang tak pernah ingkar.

Aktivitas saya berjalan seperti biasa. Saya melangkah ke sekolah SMPN 1 Jiken dengan niat menjalankan tugas MGMP IPS sebaik mungkin. Tidak ada firasat apa pun, tidak ada rencana istimewa, tidak pula ada bayangan bahwa hari itu akan menjadi pengingat kuat tentang makna rezeki. Hingga kemudian, seorang teman guru IPS menyapa dengan wajah cerah dan kalimat yang sederhana namun mengejutkan,
“Bu, ada rompi buat njenengan.”

Sejenak saya terdiam. Pikiran saya menolak untuk langsung percaya. Rompi? Rompi apa? Dari mana? Untuk saya? Saya merasa tidak pernah memesan, tidak pula menunggu kiriman apa pun. Bahkan, dalam benak saya sama sekali tidak terlintas bahwa akan ada kiriman rompi dari BBGTK Semarang.

Teman itu melanjutkan ceritanya. Rompi tersebut adalah bagian dari agenda kegiatan yang pernah saya ikuti di Solo pada tanggal 20 November 2025. Sebuah agenda yang kala itu saya jalani dengan penuh tanggung jawab, meski tanpa ekspektasi apa pun selain menambah ilmu dan pengalaman. Agenda itu sudah lama berlalu. Bulan demi bulan telah berganti. Jeda waktunya bukan sebentar. Bahkan, kalau boleh jujur, saya sendiri hampir lupa bahwa dalam agenda tersebut ada hak berupa rompi.

Rompi itu dititipkan melalui peserta lain yang berasal dari Blora. Ia dibawa, disimpan, dijaga, hingga akhirnya sampai juga ke tangan saya. Tidak tertukar. Tidak salah alamat. Tidak hilang. Padahal, sudah begitu lama tertunda. Di titik itulah hati saya bergetar.

Saya tersadar, inilah yang disebut rezeki tertunda. Bukan tertolak. Bukan terlewat. Hanya ditunda waktunya. Allah Subhanahu Wata'alla menahannya hingga waktu yang Dia anggap paling tepat. Dan ketika waktunya tiba, tak satu pun yang mampu menghalangi.

Dalam hati saya berkata lirih, “Kalau memang ini rezekiku, sejauh apa pun jaraknya, selama apa pun waktunya, pasti akan sampai.” Benar, janji Allah Subhanahu Wata'alla terbukti. Rezeki itu tidak tertukar dengan milik orang lain. Tidak menguap meski waktu berjalan. Ia menunggu, sebagaimana saya pun tanpa sadar sedang dipersiapkan untuk menerimanya dengan rasa syukur yang lebih dalam.

Rompi itu mungkin bagi sebagian orang hanyalah sehelai pakaian. Namun bagi saya, ia adalah simbol. Simbol yang ditetapkan Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah salah sasaran. Ia menjadi pengingat lembut bahwa tugas kita hanyalah berusaha dan berserah. Soal hasil, biarlah Allah Subhanahu Wata'alla yang mengatur jalannya.

Sering kali manusia gelisah ketika merasa haknya belum diterima. Kita tergesa-gesa, membandingkan diri dengan orang lain, merasa tertinggal, bahkan berprasangka buruk pada takdir. Padahal, bisa jadi Allah Subhanahu Wata'alla sedang menyimpan rezeki itu agar datang di saat hati kita lebih siap, lebih lapang, dan lebih pandai bersyukur.

Saya teringat satu nasihat yang sering terdengar sederhana, namun dalam maknanya sangat dalam yaitu  “Apa yang menjadi milikmu tidak akan pernah melewatkanmu.” Hari Kamis itu, kalimat tersebut terasa nyata. Tidak hanya sebatas kata-kata.

Ketika rompi itu akhirnya berada di tangan saya, refleks ucapan “Alhamdulillah” meluncur begitu saja. Bukan sekadar basa-basi lisan, melainkan rasa syukur yang lahir dari kesadaran penuh. Syukur karena Allah Subhanahu Wata'alla masih berkenan memperhatikan hamba-Nya dengan cara yang lembut. Syukur karena Dia mengajarkan bahwa sabar tidak pernah sia-sia. Syukur karena iman kembali dikuatkan melalui peristiwa kecil namun bermakna besar.

Peristiwa ini juga mengajarkan saya untuk tidak meremehkan apa pun yang datang. Bisa jadi, hal yang tampak sepele adalah pesan cinta dari Allah Subhanahu Wata'alla. Bisa jadi, sesuatu yang tertunda adalah bentuk penjagaan-Nya. Bisa jadi, apa yang kita anggap biasa justru menjadi penguat keyakinan di tengah lelahnya perjalanan hidup.

Sejak hari itu, saya belajar untuk lebih tenang. Tidak terlalu risau tentang apa yang belum sampai. Tidak berlebihan mengkhawatirkan apa yang belum terjadi. Karena jika memang sudah tertulis sebagai rezeki, ia akan datang dengan caranya sendiri, di waktu yang paling tepat, dan dengan cerita yang kelak membuat kita tersenyum sambil berkata, “Ternyata Allah Subhanahu Wata'alla tidak pernah lupa.” Rezeki memang rahasia. 

Cepu, 4 Pebruari 2026

Minggu, 01 Februari 2026

Lagu Rukun Bersama Teman

 


Karya: Gutamining Saida

Hari Senin pagi tanggal 2 Pebruari 2026 di SMPN 3 Cepu terasa berbeda dari biasanya. Mentari belum sepenuhnya tinggi, namun halaman sekolah sudah dipenuhi semangat yang mengalir dari wajah-wajah warga Esmega. Seragam putih biru tampak rapi, barisan siswa tertata, guru-guru berdiri dengan penuh wibawa, dan suasana upacara bendera siap dimulai. Ada satu hal yang membuat pagi itu terasa istimewa bukan sekadar rutinitas pengibaran Sang Merah Putih, melainkan sebuah penampilan group band.  

Upacara bendera tetap berjalan dengan khidmat. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan dengan penuh penghayatan, bendera perlahan naik mengikuti irama kebangsaan, dan semua hadirin berdiri tegak, menundukkan hati pada nilai-nilai persatuan. Dalam rangkaian inti upacara ada penambahan untuk menyanyikan lagu Rukun Bersama Teman. Suasana berubah menjadi lebih hangat dan penuh antusiasme.

Warga Esmega dibuat terpesona oleh penampilan sebuah grup band sekolah yang bertugas membawakan lagu “Rukun Sama Teman”. Lagu terdengar hidup saat dinyanyikan dengan penuh percaya diri oleh para siswa. Dentingan gitar, alunan keyboard, dan suara vokal yang jernih berpadu harmonis. Lagu tersebut seolah bukan hanya dinyanyikan, tetapi dihidupkan menjadi pesan yang mengalir ke seluruh penjuru lapangan upacara.

Yang membuat penampilan ini semakin membanggakan adalah fakta bahwa SMPN 3 Cepu memiliki banyak grup band. Bukan hanya satu atau dua, tetapi tersebar dari kelas 7, 8, hingga kelas 9. Bahkan ada grup band yang anggotanya merupakan gabungan dari kelas 7 dan kelas 8. Keberagaman usia dan tingkat kelas justru melahirkan kekompakan, saling belajar, dan saling menguatkan. Tidak ada sekat senior atau junior, yang ada hanyalah semangat berkarya bersama.

Sekolah memberikan kesempatan kepada seluruh grup band tersebut untuk tampil secara bergantian pada setiap pelaksanaan upacara bendera. Kesempatan ini bukan sekadar hiburan tambahan, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter. Melalui panggung sederhana di lapangan sekolah, siswa belajar tentang keberanian tampil di depan umum, disiplin latihan, tanggung jawab terhadap peran masing-masing, dan kepercayaan diri atas bakat yang Allah Subhanahu Wata'alla titipkan pada diri mereka.

Setiap penampilan membawa warna yang berbeda. Satu hal yang sama adalah kebanggaan terpancar jelas dari wajah para personel. Mereka berdiri di hadapan ratusan pasang mata teman, guru, dan tenaga kependidikan bukan dengan rasa takut, melainkan dengan keyakinan bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang bermakna.

Saya melihat bagaimana kesempatan tampil ini menjadi ruang tumbuh bagi siswa. Mereka tidak hanya berkembang dalam keterampilan bermusik, tetapi juga dalam sikap mental. Anak-anak yang sebelumnya pendiam, perlahan berani mengekspresikan diri. Anak-anak yang biasa berada di balik bangku kelas, kini berdiri di depan, menunjukkan potensi terbaiknya. Sekolah benar-benar menjadi rumah kedua yang aman untuk belajar dan mencoba.

Kebanggaan tidak hanya dirasakan oleh para siswa yang tampil. Guru-guru yang menyaksikan pun merasakan keharuan tersendiri. Ada rasa syukur melihat anak didik tumbuh sesuai bakatnya. Ada rasa bangga karena sekolah mampu memberi ruang yang bermakna. 

Cepu, 2 Pebruari 2026

Langkah Kakiku


Karya : Gutamining Saida

Minggu pagi di awal bulan Februari 2026 saya awali dengan langkah yang terasa lebih ringan dari biasanya. Udara masih menyisakan dingin malam, embun belum sepenuhnya menguap, dan langit perlahan berubah warna dari hitam pekat menuju biru pucat. Sehabis menunaikan salat Subuh berjamaah, saya melangkahkan kaki menuju Masjid Al Mujahidin. Hati saya sudah menetapkan satu tujuan utama yaitu menuntut ilmu sebagai bekal perjalanan panjang menuju akhirat.

Masjid Al Mujahidin pagi itu tampak berbeda. Dari kejauhan, lampu-lampu masih menyala lembut, seolah menyambut setiap jamaah yang datang dengan niat tulus. Saya melihat ibu-ibu berjalan beriringan, sebagian menggandeng anak, sebagian lagi membawa tas kecil. Bapak-bapak tampak duduk rapi di serambi, bercengkerama pelan, menjaga adab pagi yang penuh berkah. Di sudut lain, tampak anak-anak yatim yang akan menerima santunan, duduk tertib dengan wajah polos yang menenangkan hati siapa saja yang memandang.

Kegiatan pengajian ini bukanlah hal baru. Santunan untuk anak-anak yatim rutin diberikan sebulan sekali, tepat pada hari Minggu Wage. Setiap pertemuan selalu menghadirkan rasa yang berbeda. Ada getar haru, ada rasa syukur, dan ada pengingat halus bahwa hidup bukan sekadar tentang diri sendiri.

Sebelum acara inti berupa tausiah dimulai, jamaah disuguhi sebuah pertunjukan yang meneduhkan jiwa yaitu tarian sufi. Alunan hadroh mulai terdengar, ritmenya perlahan, menghentak lembut, seolah mengetuk pintu-pintu hati yang mungkin selama ini tertutup oleh kesibukan dunia. Penari tampil anggun mengenakan kostum putih bersih, simbol kesucian dan keikhlasan. Jilbab marun yang dikenakan menambah kesan khidmat dan elegan, seakan melambangkan cinta dan pengorbanan dalam perjalanan spiritual seorang hamba.

Gerakan mereka berputar perlahan, konsisten, penuh penghayatan. Tidak ada kata yang terucap, setiap putaran seolah mengajarkan makna: bahwa hidup adalah perjalanan kembali kepada Sang Pencipta. Bahwa sekeras apa pun badai kehidupan, poros hidup seorang manusia seharusnya tetap Allah Subhanahu Wata'alla. Saya merasakan dada ini menghangat, mata terasa berat, dan hati bergetar. Tanpa sadar, doa-doa pendek meluncur lirih dari bibir.

Masjid semakin penuh. Jamaah ibu-ibu dan bapak-bapak memenuhi setiap saf, ditambah anak-anak yatim yang duduk rapi di barisan depan. Pemandangan itu menjadi pengingat nyata bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kepedulian, persaudaraan, dan cinta kasih. Di sanalah iman dipupuk, dan empati ditumbuhkan.

Setelah tarian sufi usai, suasana kembali hening. Hadroh perlahan berhenti, digantikan oleh lantunan salawat yang menggema serempak. Tak lama kemudian, Bapak Jalal naik ke mimbar untuk menyampaikan tausiah. Beliau membuka dengan salam dan pujian kepada Allah Subhanahu Wata'alla. , lalu mengajak jamaah untuk sejenak menundukkan hati, bukan sekadar mendengarkan dengan telinga, tetapi juga menyimak dengan jiwa.

Isi tausiah pagi itu terasa sederhana, namun menghunjam. Tentang pentingnya ilmu sebagai cahaya kehidupan. Tentang waktu yang sering kita sia-siakan, padahal setiap detiknya adalah amanah. Tentang anak-anak yatim yang hadir di hadapan kami, bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai ladang pahala dan pengingat bahwa dunia tidak selalu adil, tetapi Allah Maha Adil.

Saya tersentuh ketika beliau menyampaikan bahwa menyantuni anak yatim bukan hanya tentang memberi materi, tetapi juga tentang menghadirkan rasa aman, cinta, dan perhatian. “Bisa jadi,” kata beliau, “doa tulus dari anak yatim itulah yang kelak menjadi sebab Allah Subhanahu Wata'alla  memudahkan urusan hidup kita.”

Saat santunan dibagikan, suasana menjadi sangat haru. Satu per satu anak yatim maju, menerima dengan wajah polos dan senyum yang tulus. Ada yang menunduk malu, ada yang tersenyum lebar, ada pula yang menggenggam amplop itu erat-erat seolah memegang harapan. Di momen itu, saya merasa Allah Subhanahu Wata'alla.  sedang mengajarkan makna syukur secara nyata. Bahwa apa yang kita keluhkan hari ini, mungkin adalah impian bagi orang lain.

Acara pun ditutup dengan doa bersama. Tangan-tangan terangkat, suara lirih mengalun, memohon ampun, kesehatan, keberkahan, dan husnul khatimah. Saya pulang dengan langkah yang sama seperti saat datang, namun hati yang jauh berbeda. Ada ketenangan yang menetap, ada rasa cukup yang sulit dijelaskan, dan ada tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.

Cepu, 2 Pebruari 2026