Rabu, 04 Februari 2026

Namakoe "GUTAMINING SAIDA"


Karya : Gutamining Saida

Nama bukan sekadar rangkaian huruf yang melekat pada diri seseorang. Dalam keyakinan saya, nama adalah doa yang panjang, harapan yang dititipkan, dan tanda cinta yang tidak pernah putus dari orang tua kepada anaknya. Setiap kali nama itu dipanggil, sejatinya doa itu kembali diulang, diam-diam mengetuk langit. Begitulah saya memaknai nama yang orang tua sematkan kepada saya adalah "Gutamining Saida."

Orang tua saya tidak memberi nama dengan tergesa-gesa. Nama itu lahir dari perenungan, pertimbangan, dan keyakinan. Bapak saya adalah sosok pemikir. Dalam kesehariannya, beliau terbiasa menghitung, menimbang, dan merangkai sesuatu dengan penuh kehati-hatian. Maka ketika hendak memberi nama anak, beliau melakukannya dengan kesungguhan yang sama. Bukan asal indah di telinga, bukan sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar diolah agar mengandung makna, tujuan, dan harapan hidup.

Dalam Islam, memberi nama yang baik adalah bagian dari tanggung jawab orang tua. Nama yang baik adalah doa, dan doa adalah ibadah. Saya percaya, Bapak saya memahami hal itu meski tidak selalu mengucapkannya dalam kata-kata. Beliau menuangkan niat baiknya melalui rangkaian huruf yang kelak akan saya bawa sepanjang hidup.

Nama Gutamining bukanlah nama yang muncul begitu saja. Ia adalah hasil “otak-atik” yang panjang, sesuai dengan angan-angan dan harapan orang tua saya. “Gu” berasal dari nama Bapak saya, Ghoriman. Sebuah tanda bahwa darah, nilai, dan prinsip beliau mengalir dalam diri saya. “Ta” diambil dari nama Ibu saya, Tatik Sunarti, perempuan hebat yang menjadi sumber kasih sayang, ketulusan, dan kekuatan dalam keluarga kami. Dari dua huruf ini saja, saya belajar bahwa sejak awal hidup saya telah dibingkai oleh cinta dua insan yang Allah Subhanahu Wata'alla satukan dalam ikatan pernikahan.

Kemudian ada “Mi”, yang merujuk pada bulan Mei, bulan kelahiran saya. Bagi saya, ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan pengingat bahwa setiap manusia lahir pada saat yang telah Allah Subhanahu Wata'alla tetapkan. Tidak lebih cepat, tidak pula terlambat. Semua telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Bulan kelahiran bukan kebetulan, melainkan bagian dari takdir terbaik yang Allah Subhanahu Wata'alla siapkan.

Huruf “N” berasal dari kata “Nem”, istilah bahasa Jawa yang identik dengan "enam" dalam bahasa Indonesia, sedangkan “Ng” dari kata “Ngo” yang bermakna sembilan. Angka-angka ini bukan tanpa arti. Dalam budaya Jawa, angka sering dimaknai sebagai simbol keseimbangan dan perjalanan hidup. Dalam perspektif iman, saya memaknainya sebagai pengingat bahwa hidup berjalan dalam hitungan Allah Subhanahu Wata'alla. Umur, rezeki, dan langkah manusia semuanya berada dalam bilangan yang telah ditentukan oleh-Nya. Tidak satu pun meleset.

Sementara itu, nama Saida memiliki arti seorang perempuan yang selalu bahagia. Inilah inti dari harapan Bapak saya. Beliau berharap saya menjalani hidup dengan hati yang lapang, jiwa yang tenang, dan mampu menemukan kebahagiaan dalam berbagai keadaan. Bukan kebahagiaan yang bergantung pada harta atau pujian manusia, melainkan kebahagiaan yang bersumber dari rasa syukur dan kedekatan kepada Allah Subhanahu Wata'alla.

Dalam perjalanan hidup, saya menyadari bahwa bahagia bukan berarti hidup tanpa ujian. Justru di situlah maknanya. Bahagia adalah ketika mampu menerima takdir dengan ikhlas, bangkit dari kesedihan dengan doa, dan menjadikan setiap peristiwa sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Sang Pencipta. Barangkali itulah yang diinginkan Bapak saya berharap agar saya tumbuh menjadi perempuan yang kuat, berserah, dan tidak mudah kehilangan harapan.

Banyak orang mengatakan nama saya unik. Tidak jarang mereka bertanya, “Apa artinya?” atau “Dari daerah mana asal nama itu?” Pertanyaan-pertanyaan itu dulu hanya saya jawab singkat. Seiring bertambahnya usia, saya merasa perlu menjawabnya dengan penuh makna. Bahkan pernah meminta agar saya menuliskan kisah di balik nama ini dalam sebuah artikel. Saat itu, saya belum tergugah. Hingga akhirnya, kini saya merasa inilah waktu yang tepat. Waktu ketika hati saya cukup dewasa untuk memahami betapa besar cinta orang tua yang tersembunyi di balik sebuah nama.

Nama ini mengajarkan saya tentang identitas, tentang asal-usul, dan tentang doa yang tidak pernah putus. Setiap kali saya merasa lelah, saya teringat bahwa nama saya mengandung harapan kebahagiaan. Setiap kali saya ragu melangkah, saya ingat bahwa orang tua saya telah lebih dahulu memohonkan kebaikan hidup saya kepada Allah Subhanahu Wata'alla melalui nama yang mereka pilih.

Saya bangga memiliki orang tua yang hebat. Hebat bukan karena harta atau jabatan, melainkan karena ketulusan dan kesungguhan mereka dalam mendidik dan mendoakan anak-anaknya. Saya percaya, selama doa orang tua masih mengalir, selama ridha mereka saya jaga, maka nama Gutamining Saida akan terus menjadi cahaya penuntun dalam hidup. Cahaya yang mengingatkan bahwa tujuan akhir dari segala kebahagiaan adalah kembali kepada Allah Subhanahu Wata'alla dengan hati yang tenang dan jiwa yang ridha. Aamiin.

Cepu, 5 Pebruari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar