Jumat, 06 November 2026

Di Balik Hitungan Sepuluh

Karya: Gutamining Saida

Jum'at sore kembali menjadi waktu yang menyenangkan bagi saya. Seperti biasanya, setelah menyelesaikan aktivitas di sekolah, saya menyempatkan diri mengikuti ikhtiar sehat di Bumool Dengok, Padangan. Di tempat ini, saya tidak hanya belajar berenang. Saya mendapatkan banyak pengalaman dan makna kehidupan. Ada kebersamaan, kesabaran, keberanian, dan tentu saja tawa yang terkadang muncul dari hal-hal sederhana.

Di bawah bimbingan Pak Gun, kegiatan berenang bersama Muda Swimming Squad2 selalu memiliki cerita tersendiri. Setiap pertemuan menghadirkan pengalaman yang berbeda. Kadang kami dibuat serius, kadang harus berjuang mengatasi rasa takut, dan tidak jarang suasana kolam berubah menjadi gelak tawa.

Ada satu aktivitas yang cukup menarik perhatian saya. Pak Gun memberikan instruksi agar kami semua mencoba melayang di atas air secara bersama-sama. Posisi tubuh diatur sedemikian rupa agar bisa mengapung. Setelah peluit berbunyi, kami harus tetap berada di dalam air dan menunggu hitungan sampai sepuluh. Barulah setelah hitungan selesai, kepala boleh muncul ke permukaan dan kami bisa mengubah posisi.

"Ayo, Bu Ibu semua! Setelah peluit berbunyi, saya hitung sampai sepuluh. Njenengan semua baru boleh muncul kepalanya," instruksi Pak Gun.

Kami pun bersiap mengikuti arahan. Masing-masing berusaha mengambil posisi yang nyaman. Ada yang terlihat sudah percaya diri, ada yang masih sibuk menyesuaikan tubuh, dan mungkin ada pula yang diam-diam bertanya dalam hati, sanggup tidak ya menunggu sampai sepuluh? Tak lama kemudian terdengarlah bunyi peluit.

Priiiiiit!

Hitungan pun dimulai.

"Satu... dua... tiga... empat... lima... enam... tujuh... delapan... sembilan..."

Kami semua masih menunggu. Kepala tetap berada di dalam air. Pikiran mulai memperhatikan hitungan berikutnya. Namun, tiba-tiba Pak Gun memberikan jeda setelah angka sembilan. Tidak langsung menyebutkan angka sepuluh. Saya yang sedang mengikuti instruksi mulai bertanya-tanya dalam hati.

"Kok lama, ya? Bukankah tinggal satu hitungan lagi?"

Saya tetap menunggu. Rasanya hitungan sepuluh itu sudah sangat dekat, tetapi mengapa belum juga diucapkan? Mungkin hanya beberapa detik, tetapi  terasa cukup lama. Saya mulai menyadari bahwa bukan hanya saya yang menunggu. Rupanya teman-teman yang lain juga merasakan hal yang sama. Kami semua menanti satu angka yang belum kunjung terdengar. Sembilan sudah disebutkan, tetapi sepuluh masih disimpan oleh Pak Gun.

Akhirnya, setelah memberikan jeda yang membuat kami penasaran, Pak Gun melanjutkan hitungannya dengan suara yang cukup khas.

"Sembilaaaan setengaaaah..." ucapnya

Barulah kemudian terdengar, "Sepuluuuuh!"

Seketika kepala kami muncul ke permukaan air. Masing-masing mengambil napas dan mengubah posisi. Saat kepala pada muncul dari air. Kami semua spontan tertawa. Tawa yang muncul begitu saja, tanpa perlu direncanakan. Seolah-olah ada kesepakatan diam-diam.  Jeda hitungan Pak Gun tadi memang berhasil membuat kami penasaran.

Saya pun ikut tertawa. Ternyata hal sederhana seperti menunggu angka sepuluh bisa menjadi pengalaman yang  menghibur. Setelah kejadian itu, saya mencoba memikirkan apa sebenarnya yang membuat kami tertawa. Bukankah hitungan satu sampai sepuluh sudah sering kita dengar? Sejak kecil kita mengenal angka tersebut. Tidak ada yang istimewa dari urutan hitungannya.

Ketika hitungan itu dilakukan di dalam air, dengan posisi tubuh melayang dan kepala harus tetap berada di bawah permukaan, suasananya menjadi berbeda. Kami tidak hanya mendengarkan angka. Kami sedang menunggu kesempatan untuk bernapas, mengubah posisi, dan melanjutkan aktivitas. Ternyata, menunggu beberapa detik bisa terasa begitu panjang ketika kita sedang mengharapkan sesuatu.

Dari kejadian kecil itu, saya mendapatkan beberapa pelajaran kehidupan. Pertama, tentang kesabaran. Tidak semua yang kita harapkan harus datang secepat yang kita inginkan. Kadang kita sudah merasa tinggal selangkah lagi, tetapi masih harus menunggu. Seperti hitungan Pak Gun tadi, angka sepuluh sebenarnya sudah dekat. Namun, ada jeda sebelum sampai pada tujuan.

Begitu pula kehidupan. Kita sering berharap segala sesuatu berjalan sesuai keinginan. Ketika berusaha, kita ingin segera berhasil. Ketika berdoa, kita ingin segera mendapatkan jawaban. Ketika menghadapi kesulitan, kita ingin segera menemukan jalan keluar.

Allah Subhanahu Wata'alla memiliki waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya. Allah Subhanahu Wata'alla  berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153,

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesabaran bukan sekadar kemampuan menahan diri, melainkan kekuatan untuk tetap berusaha dan percaya kepada ketentuan Sang Pencipta. 

Kedua, belajar tentang pentingnya mengikuti arahan. Dalam latihan berenang, kami tidak boleh bertindak semaunya. Ada instruksi yang harus diperhatikan dan dipatuhi. Jika belum waktunya mengubah posisi, kami harus menunggu. Jika peluit sudah berbunyi dan hitungan selesai, barulah kami melakukan gerakan berikutnya.

Ketiga, belajar  kebersamaan bisa menghadirkan kebahagiaan. Coba bayangkan jika kegiatan tadi dilakukan sendirian. Mungkin tidak akan ada tawa bersama. Justru jika dilakukan bersama-sama, pengalaman tersebut menjadi lebih menyenangkan.

Beliau sebenarnya bisa saja menghitung satu sampai sepuluh dengan cepat dan biasa-biasa saja. Dengan memberikan jeda setelah angka sembilan, suasana berubah menjadi lebih menarik. Saya melihat sebagai salah satu bentuk kreativitas seorang pembimbing. Beliau mampu membuat latihan yang mungkin terasa berat menjadi  menyenangkan.

Sebagai seorang guru, saya merasa mendapatkan inspirasi berharga dari pak Gun. Seperti hitungan sembilan setengah tadi. Angka yang sebenarnya biasa, tetapi ketika ditempatkan pada situasi yang tepat, mampu menciptakan pengalaman yang berkesan.

Allah telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita. Salah satunya adalah kesempatan untuk berkumpul dengan orang-orang baik, bergerak, tertawa, dan belajar sesuatu yang bermanfaat.

Terima kasih, Pak Gun, atas bimbingan dan suasana latihan yang selalu memiliki cerita. Mungkin bagi beliau, jeda setelah hitungan sembilan hanyalah bagian kecil dari aktivitas latihan. Namun, bagi kami, kejadian itu menjadi hiburan. Kami berenang untuk ikhtiar sehat, tertawa untuk menghadirkan bahagia, dan belajar untuk memperkaya makna kehidupan.

Cepu, 6 November 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar