Jumat, 16 Oktober 2026

Pertemuan Di Gerbang Sekolah

Karya: Gutamining Saida

Waktu menunjukkan sekitar pukul 10.24 WIB sebuah denting pesan WhatsApp masuk ke ponsel saya. Di tengah riuhnya riak ilmu dan antusiasme para siswa kelas 8B, saya belum sempat menyentuh layar kaca tersebut. Seluruh fokus, jiwa, dan ragam pengabdian saya padukan untuk menuntun anak-anak bangsa. Menjalankan amanah, dan menghadirkan hati secara utuh di dalam kelas sebagai bentuk ketakwaan yang berusaha saya jaga.

Setelah bel tanda berahirnya jam pelajaran berbunyi dan suasana kelas kembali tenang, barulah saya menyempatkan diri membuka gawai. Di layar tertera sebuah pesan dari salah satu orang tua siswa

"Assalamu'alaikum, nanti jam 11.00 saya minta ijin bertemu boleh apa tidak?"

Membaca salam tersebut, hati saya berdesir hangat. Salam adalah doa, dan setiap doa yang terucap di antara sesama muslim adalah simpul kebaikan. Tanpa ragu, saya pun segera mengetikkan balasan dengan penuh keikhlasan:

"Wa'alaikumsalam, silakan. Dengan senang hati. Saya tunggu di mana?"

Tak butuh waktu lama, balasan berikutnya datang dengan singkat namun sarat akan kesungguhan:

"Di sekolah saja Bu." jawabnya.

          "Saya tunggu."

         "Saya sudah di gerbang."

Subhanallah. Tanpa saya sadari, tatanan Allah Subhanahu Wata'alla sungguh teramat rapi. Ibu tersebut telah menunggu dengan sabar di gerbang sekolah, menantikan momen kecil ini untuk bersilaturahmi. Saya pun bergegas melangkahkan kaki menuju pintu gerbang, toleh kanan, kiri tertuju tamu yang dihadirkan Sang Maha Mengatur Takdir.

Saya menyambut beliau dengan senyuman terbaik dan sapaan yang hangat. Untuk menciptakan suasana yang nyaman, saya mengajak beliau duduk santai dan berbincang-bincang. Beliau langsung menyapa saya dengan nada suara yang begitu ramah dan penuh keakraban.

"Saya pernah bertemu dengan bu Saida di Kedungtuban Satu," ujar beliau membuka percakapan.

Rasa ingin tahu tumbuh di dalam dada. Saya tersenyum sembari bertanya, "Lho, acara apa Bu?"

"Anak saya dulu sekolah di sana," jawab beliau menjelaskan asal usul kebersamaan kami di masa lalu.

"Ohh, nama siapa Bu?" rasa penasaran saya kian terpanggil untuk mengingat kembali jejak-jejak pengabdian masa lalu.

"Fattah," jawabnya singkat.

Ingatan saya melesat ke masa lalu. Nama Fattah seolah membukakan kembali lembaran kenangan di ruang kelas Kedungtuban satu. Masya Allah, Alhamdulillah! Memori tentang anak bernama Fattah langsung terbayang jelas. Dalam ingatan saya, Fattah adalah sosok anak yang cerdas, santun, dan senantiasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Setiap kali mata pelajaran yang saya ampu berlangsung, Fattah kerap meraih nilai yang sangat memuaskan di antara teman-temannya. Sungguh, anak yang giat belajar selalu meninggalkan jejak indah di hati seorang guru.

Percakapan kami berlanjut dengan hangat. Tiba-tiba, beliau menambahkan sebuah fakta yang membuat hati saya kian tersentuh dan terharu. Beliau berkata dengan lembut.

"Saya pernah beli buku karya Bu Saida."

Alhamdulillah wa syukrulillah... Kalimat tasyakur itu bergema halus di dalam dada saya. Sungguh, bumi Allah ini begitu luas, jika Allah berkehendak mempertemukan dua jiwa yang pernah terikat dalam kebaikan, maka jarak dan waktu bukanlah halangan. Siapa yang menyangka bahwa karya sederhana berupa buku yang pernah saya tulis dapat sampai ke tangan beliau, dan ilmu yang sempat saya bagikan kepada putranya menjadi jembatan silaturahmi yang tak terputus?

Dengan rasa haru yang membuncah, saya menatap wajah seorang ibu dan menyampaikan rasa syukur yang mendalam:

"Alhamdulillah, ternyata kita sudah pernah bertemu dan hari ini dipertemukan kembali," jawab saya penuh rasa syukur. "Saya sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Ibu."

Pertemuan singkat di sudut sekolah itu rasanya bukan sekadar kebetulan biasa. Allah Azza wa Jalla yang menggerakkan hati ibu tersebut untuk berkunjung, Allah pula yang mengatur  hingga kami bisa duduk bersama menyambung tali silaturahmi.

Rasulullah bersabda bahwa silaturahmi dapat melapangkan rezeki dan memanjangkan umur . Pertemuan Jum'at siang menjadi cermin bagi saya tentang betapa indahnya menanam benih kebaikan. Ketika seorang guru mengajar dengan hati dan melahirkan karya berupa buku dengan niat lillahi ta'ala, kebaikan itu akan berputar dan kembali dalam bentuk kasih sayang serta ikatan ukhuwah yang tulus dari masyarakat.

Pertemuan di gerbang sekolah berakhir dengan rasa bahagia dan kedamaian yang membuncah. Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata'alla senantiasa menjaga hubungan baik ini, melimpahkan keberkahan kepada kita. Serta menjadikan setiap langkah kaki kita sebagai ladang pahala jariyah yang tak pernah terputus hingga yaumil akhir. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Cepu, 16 Oktober 2026

1 komentar:

  1. Jazakallah khoiron katsiro,, mmg benar guru adlh pahlawan tanpa tanda jasa,, dan kami tdk akan bisa mmbalas kebaikan itu.

    BalasHapus