Karya: Gutamining Saida
Gelisah melingkupi dada, sebuah rasa yang datang di luar perkiraan saya. Sebelum menyentuh dinginnya air di kolam, saya sempat mengukur batas diri dan membayangkan mampu menuntaskan setidaknya setengah dari jarak perjalanan yang ditentukan oleh Pak Gun. Ada bisikan harapan yang membumbung, sebuah kerinduan hati untuk bisa meluncur sejajar dan selincah teman-teman lain yang sudah mahir menaklukkan kedalaman.
Namun, realita kerap mengajarkan ketundukan. Teman-teman yang sudah mahir meluncur bebas tanpa perlu pendampingan. Pak Gun cukup mengawasi dari kejauhan. Sementara saya, sebagai peserta terakhir yang mengarungi lintasan, mendapatkan perhatian khusus. Pak Gun yang sangat paham akan batas kemampuan saya merasa khawatir. Beliau tidak sekadar berdiri di tepi, melainkan rela menunggu dan bereaksi langsung di dalam kolam.
Ternyata kekhawatiran beliau terbukti. Dari kejauhan, gerakan saya benar-benar amburadul dan tak beraturan. Karena jernihnya air kolam sore itu, setiap kepakan tangan dan kayuhan kaki saya terlihat sangat jelas dari permukaan. Teman-teman yang melihat dari tepi kolam pun tak sanggup menahan tawa. Riuh gelak tawa pecah menyelimuti suasana sebuah hal yang sangat biasa dan lumrah terjadi di tengah keakraban kami di kolam renang. Uniknya, alih-alih merasa berkecil hati, saya yang menjadi pusat perhatian dan objek tertawaan justru ikut tertawa lepas bersama mereka. Suasana canggung seketika mencair menjadi kehangatan.
Di tengah perjuangan itu, saya terengah-engah menahan napas hingga tak sengaja menelan air kolam beberapa kali tegukan. Di saat rasa lelah dan tenggorokan yang basah oleh air kolam itu menyapa, spontan saya teringat pada sebuah ucapan yang pernah disampaikan oleh seorang teman: "Kalau sudah merasakan minum air kolam, itu tandanya sebentar lagi bakal bisa berenang!"
Seketika, kalimat sederhana itu terngiang-ngiang indah di telinga dan membuncahkan rasa senang yang luar biasa di dalam dada. Tertelan air kolam bukan lagi sebuah kegagalan, melainkan "syarat" atau tradisi kecil menuju keberhasilan.
Allah Azza wa Jalla mungkin belum mengizinkan jemari, tungkai kaki, dan irama napas saya menyatu sempurna. Yang Maha Kuasa memberi saya hal lain yang tak kalah berharga. Kepedulian seorang pelatih, kehangatan tawa bersama teman-teman, dan semangat yang tak pernah padam. Tantangan dari Pak Gun bukan lagi beban, melainkan proses belajar yang menyenangkan. Dengan rasa senang yang membayang, saya yakin tiap kayuhan basah dan setiap teguk air kolam sore itu adalah bagian dari langkah kecil menuju kemampuan yang saya impikan. Terimakasih Pak Gun dan teman-teman semua.
Cepu, 16 Oktober 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar