Kamis, 17 September 2026

Melawan Rasa Takut


Karya: Gutamining Saida

Sebagian orang, melihat hamparan air biru di kolam renang adalah sebuah undangan untuk bersenang-senang, menyegarkan badan, atau sekadar melepas penat. Sekelompok ibu-ibu, air biru yang tampak tenang itu menyimpan tantangan psikologis yang sangat besar. Rasa takut tenggelam, kehilangan pijakan, atau ketidakmampuan mengendalikan diri di dalam air . Bagai tembok tebal yang tidak mudah dirobohkan hanya dalam satu atau dua hari.

Meskipun demikian, keberanian terbesar sebenarnya sudah mereka tunjukkan sejak awal dengan  keberanian untuk mendaftar, melangkah datang, dan masuk ke dalam kelas terapi. Mereka tidak memilih untuk menyerah pada ketakutan, melainkan berikhtiar untuk menaklukkannya.

Proses belajar menghadapi ketakutan di dalam air memang tidak pernah berjalan linear. Setelah melewati beberapa kali pertemuan. Bayang-bayang kecemasan sering kali masih bertahan. Jemari masih mencengkeram erat tepi kolam, napas masih terasa agak memburu saat tubuh mulai terombang-ambing, dan pijakan kaki terasa begitu berharga.

Melihat kondisi tersebut, Pak Gun sang pelatih  sabar dan berpengalaman terus memutar otak. Beliau paham betul bila mengajari orang dewasa, khususnya ibu-ibu yang memiliki trauma atau ketakutan mendalam terhadap air. Beliau membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ini bukan sekadar soal teknik menggerakkan kaki atau mengatur pernapasan, melainkan soal melatih pikiran dan membangun rasa percaya diri dari nol.

Pak Gun mencoba mendorong batas kenyamanan mereka secara bertahap. Beliau menuntun para peserta menuju area kolam dengan kedalaman 140 sentimeter. Sebuah kedalaman yang bagi pemula sudah cukup untuk memicu ketegangan.

"Ayo, lawan rasa takut bu!" seru Pak Gun memberikan dorongan semangat, berharap kalimat itu menjadi pemantik keberanian di dalam dada murid-muridnya.

Mengalahkan rasa takut yang sudah mengakar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bu Isna, salah satu peserta, langsung menyahut dengan jujur, "Naaah, ini saya yang belum bisa, Pak."

Kejujuran Bu Isna adalah cerminan dari perasaan banyak ibu-ibu di dalam kelas terapi. Ada keraguan yang nyata, sebuah pengakuan tubuh dan pikiran mereka belum sepenuhnya siap untuk melepas pegangan.

Mendengar keraguan Bu Isna, Bu Rini melangkah sedikit lebih jauh dalam proses belajar turut membuka suara untuk memberikan dukungan moral.

"Saya dulu juga begitu, Bu," kata Bu Rini menenangkan.

Kalimat sederhana dari Bu Rini memberikan dampak yang sangat besar. Di dalam sebuah kelompok terapi, mengetahui bahwa orang lain pernah berada di posisi yang sama dan berhasil melewatinya. Sebuah dorongan emosional yang sangat kuat. Sebagai bentuk empati murni, menyatakan  rasa takut itu wajar, dan semua orang memulai dari titik yang sama.

Pak Gun kemudian menambahkan penjelasannya untuk memperkuat mental mereka. "Sering datang ke kolam dan mencoba berenang itu adalah sebuah proses," tutur Pak Gun dengan tenang. Beliau menekankan jika keberhasilan di dalam air tidak diukur dari seberapa cepat seseorang bisa berenang ke seberang, melainkan dari konsistensi untuk terus hadir, mencoba, dan tidak menyerah pada rasa cemas.

Dinamika percakapan menjadi semakin menarik ketika Bu Sulikah memberikan tanggapannya. "Saya sering ke kolam ya tetap saja masih takut, Pak," potong Bu Sulikah polos.

Candaan ringan bernada protes itu memicu tawa kecil di antara mereka. Seseorang menyahut singkat bercanda, "Senior kok masih takut?"

Bu Sulikah tidak tinggal diam dan membela diri dengan kalimat yang sangat filosofis, "Takut itu datangnya dari rasa."

Pernyataan Bu Sulikah sangat tepat. Ketakutan bukanlah sesuatu yang bisa dihilangkan hanya dengan instruksi verbal atau logika semata. Ketakutan adalah respons emosional, sebuah "rasa" yang tertanam di dalam sistem saraf manusia untuk melindungi diri dari bahaya. Selama pikiran masih menganggap air sebagai ancaman, rasa takut itu akan tetap ada.

Membaca dinamika tersebut, Bu Rini kembali memberikan komentar di grup obrolan mereka kemudian, menegaskan bahwa ketakutan adalah hal yang sangat manusiawi. "Sama dengan saya, Bu. Kalau sudah di kedalaman dua meter, saya juga takut," tulis Bu Rini.

Membicarakan tema "rasa takut" di dalam grup obrolan ibu-ibu memang seperti membuka pintu percakapan yang tidak ada ujungnya. Semalam saja, ketika baru beberapa anggota yang memberikan tanggapan, diskusi sudah berlangsung begitu hangat dan riuh.

Dapat dibayangkan apabila seluruh anggota grup ikut memberikan komentar secara bersamaan. Diskusi itu pasti akan berlanjut hingga larut malam dan tidak akan selesai dalam satu sesi. Ada ungkapan populer yang menyebutkan bahwa wanita atau ibu-ibu memiliki dua puluh ribu kata per hari. Ketika energi percakapan itu disalurkan ke dalam sebuah topik yang mereka rasakan bersama. 

Di balik riuhnya kata-kata dan ramainya komentar di obrolan tersebut, tersimpan sebuah kekuatan yang luar biasa. Ibu-ibu ini tidak hanya sekadar mengeluh atau membicarakan ketakutan mereka. Lewat setiap kalimat yang diketik, mereka sedang saling mendengarkan,  emosi satu sama lain, dan merayakan setiap perkembangan kecil yang berhasil dicapai. Ketika satu orang merasa ragu, yang lain hadir untuk menceritakan pengalamannya. Ketika satu orang merasa takut, yang lain mengingatkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

Pelajaran terpenting dari dinamika kelas terapi ini adalah memahami arti keberanian. Keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut sama sekali. Keberanian adalah tindakan untuk tetap melangkah dan mencoba, meskipun rasa takut itu masih menggebu-gebu di dalam dada.

Keberhasilan mereka tercermin dari hal-hal kecil yang sangat berarti:

  • Keberanian untuk tetap datang ke kolam renang setiap minggu.

  • Kemampuan untuk menurunkan kaki ke kedalaman dua meter, walau tangan masih memegang tepi kolam.

  • Keikhlasan untuk mengakui ketakutan tanpa merasa malu.

  • Keceriaan untuk saling mendukung dan tertawa bersama di tengah proses terapi.

Proses ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan konsistensi. Selama Pak Gun terus mendampingi dengan telaten, dan selama ibu-ibu ini terus saling menyemangati dengan ribuan kata hangat setiap harinya, hari di mana mereka bisa melayang bebas di atas air tanpa rasa takut pasti akan tiba. Setiap pertempuran kecil melawan rasa ragu sebuah kemenangan besar yang patut dirayakan.

Cepu 18 September 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar