Karya: Gutamining Saida
Siapa bilang usia kepala lima harus kehilangan daya pikat dan keceriaan? Angka boleh saja terus bertambah, namun urusan semangat dan jiwa, kami bertiga dengan tegas memilih untuk menolak tua. Kami adalah tiga sahabat yang enggan menyerah pada kaku-kaku sendi atau garis-garis halus di wajah. Jiwa kami masih riuh oleh letup-letup hasrat khas kawula muda penuh rasa ingin tahu, gemar mencoba hal baru, dan tentu saja, selalu punya alasan untuk tertawa bersama.
Setiap kali kami bertiga berkumpul, rentang waktu rasanya melesat balik ke puluhan tahun silam. Memori masa remaja kami mendadak bangkit kembali, membawa kenangan akan betapa berbedanya zaman tempo dulu dengan masa kini. Dulu, ketika darah muda kami sedang bergelora, teknologi belum sedemikian memanjakan seperti sekarang. Khususnya dalam urusan mengabadikan momen melalui potret atau foto.
Masa muda kami adalah era di mana sebuah foto memiliki harga dan proses yang tak murah. Jika ingin memiliki foto yang agak keren, kami harus berjalan rapi menuju studio foto profesional, berdiri atau duduk kaku di depan layar latar berwarna polos, lalu mengikuti aba-aba fotografer dengan senyum yang sering kali tertahan. Alternatif lainnya adalah membeli kamera tustel kami biasa menyebutnya "kamera Kodak" yang bentuknya lumayan berat. Tidak berhenti di situ, kami masih harus membeli rol film secara terpisah.
Setiap kali menekan tombol rana, ada rasa waswas yang menyelip: “Apakah matanya kedip?”, “Apakah gambarnya bakal goyang?”, atau “Apakah cahayanya cukup?” Sebab, isi rol film itu sangat terbatas biasanya hanya 24 atau 36 jepretan. Tidak ada kesempatan untuk melihat hasilnya saat itu juga. Setelah rol film habis diputar kembali ke dalam selongsongnya, kami harus membawanya ke studio cetak foto dan menunggu dengan sabar selama beberapa hari, bahkan kadang hingga berminggu-minggu, hanya demi melihat sekeping kertas gambar. Ketika cetakan dibuka dan ternyata ada foto yang buram atau bergaya aneh, ya apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Foto itu tetap tercetak dan tak bisa diubah.
Betapa jauh berbedanya dengan dunia hari ini. Zaman telah berputar cepat, melompati batas-batas imajinasi masa muda kami dulu. Kini, teknologi genggam telah mengubah segalanya menjadi begitu serba instan, praktis, dan menyenangkan.
Dalam satu hari saja, kami bertiga bisa mencoba puluhan model dan pose tanpa rasa ribet sedikit pun. Tidak ada lagi ketakutan kehabisan rol film. Tidak ada lagi penantian berhari-hari di depan pintu toko cetak foto. Cukup satu sentuhan jari di layar telepon pintar, jepret! Hasilnya langsung terpampang nyata di depan mata dalam hitungan detik.
Dunia fotografi modern benar-benar menjadi arena bermain baru bagi kami bertiga. Jika pose yang kami lakukan terasa kaku, gaya kurang pas, atau senyum terlihat agak memaksa, kami cukup menekan tombol hapus (delete). Sekejap mata, foto itu hilang tanpa meninggalkan bekas atau kerugian materi. Setelah itu, tinggal ganti gaya lagi, sesuaikan posisi tubuh lagi, lalu jepret ulang!
Kami bertiga memanfaatkan kemudahan ini dengan penuh suka cita. Layaknya anak muda zaman sekarang yang tak pernah kehabisan ide, kami sibuk mencari referensi dan contoh-contoh gaya foto yang estetik di internet. Kami saling unjuk layar ponsel, "Nah, coba lihat pose yang ini, sepertinya bagus kalau kita tiru!" atau "Ayo, kita coba berdiri sejajar dengan gaya santai seperti yang di foto ini!"
Proses mengambil foto itu sendiri sudah menjadi pertunjukan komedi yang luar biasa bagi kami. Kami mencoba model yang berbeda-beda dari gaya yang anggun, gaya formal, hingga pose-pose ekspresif yang mengejutkan. Kami mengulang dan mengulang lagi. Menggeser sudut pengambilan gambar, menyesuaikan arah cahaya, hingga menyilangkan tangan atau memiringkan kepala demi mendapatkan angle terbaik.
Letak keajaiban sejati dari kegiatan ini bukan sekadar pada gambar yang tersimpan di memori ponsel, melainkan pada energi bahagia yang terpancar selama prosesnya. Ternyata, urusan foto-memfoto ini sanggup memicu ledakan tawa yang sudah lama tidak kami rasakan.
Setiap kali melihat hasil jepretan di layar, kami bertiga bisa mendadak tersenyum lebar, lalu meledak dalam tawa lepas yang seru. Kami tertawa melihat muka sendiri yang kadang terlalu serius, tertawa melihat gaya salah satu teman yang sedikit kaku, atau tertawa gembira karena akhirnya berhasil menirukan pose yang sulit.
Keseruan itu semakin memuncak ketika kami mulai menjelajahi fitur-fitur penyuntingan dan filter modern. Begitu polesan warna dan sedikit sentuhan efek diterapkan, wajah kami di layar tampak begitu segar, anggun, dan memikat. Hasil gambarnya terlihat tambah cantik, bahkan terkadang terasa melebihi aslinya! Melihat transformasi itu, tawa kami kembali pecah lagi dan lagi, makin kencang dan makin riang.
Di antara derai tawa dan gurauan hangat itu, ada rasa bahagia yang begitu murni mengalir di dalam dada. Kami menyadari bahwa menjadi tua adalah kepastian secara usia, namun merasa bahagia dan berjiwa muda adalah sebuah pilihan. Kamera ponsel dan pose-pose foto ini hanyalah perantara; kuncinya ada pada kebersamaan, rasa syukur, dan keberanian untuk menikmati hidup tanpa beban.
Di bawah kilatan kamera ponsel, kami bertiga tidak melihat tiga orang yang mulai dimakan usia. Yang kami lihat di layar dan di dalam hati kami adalah tiga orang yang menang melawan waktu. Tiga jiwa muda yang selalu tahu cara merayakan hidup dengan senyuman dan tawa yang paling lepas.
Cepu, 29 September 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar