Karya: Gutamining Saida
Suasana sekolah menengah pertama yang terkenal dengan sebutan Esmega. Selalu menyajikan dinamika yang penuh warna. Di antara derap langkah para siswa yang keluar ruang kelas saat bel pergantian jam pelajaran berbunyi. Momen-momen kecil yang diam-diam menyentuh hati seorang pendidik. Di lorong dekat kelas tujuh F, langkah saya terhenti oleh sebuah perjumpaan dengan Caca yang menyulut kehangatan.
Siswi itu bernama Caca. Hampir sebagian besar warga Esmega mengenalnya. Caca adalah sosok yang ceria, pandai bergaul, dan seolah memiliki magnet sosial yang membuat siapa saja nyaman berada di dekatnya. Senyumnya selalu merekah, dan sapaannya tidak pernah ragu. Memori saya kembali berputar pada masa ketika ia masih duduk di kelas tujuh. Saat itu, saya berkesempatan mendampinginya secara intensif sebagai wali kelas. Melihat tumbuh kembangnya dari anak baru yang beradaptasi hingga kini melangkah mantap di kelas delapan adalah sebuah perjalanan emosional.
Saat kami berpapasan, Caca langsung menghampiri saya. Tanpa canggung, ia menyapa, meraih tangan saya untuk berjabat dengan takzim, lalu memberikan sebuah tantangan yang tak disangka-sangka.
"Bu... saya mau dong dibuatkan cerita," ucapnya penuh antusias, mata binar-binarnya memancarkan harapan yang lugu sekaligus menggemaskan.
"Boleh," jawab saya singkat sambil tersenyum. Sebuah respons sederhana yang ternyata langsung disambut dengan permohonan susulan yang tak kalah bersemangat.
"Bu... Bu, sekalian saya difoto ya, untuk ditaruh di ceritanya!" tambahnya lagi.
Saya paham betul alasan di balik permintaannya itu. Caca adalah salah satu pengikut jejak cerita yang kerap saya bagikan di media sosial. Di sela-sela kesibukan mendidik, saya memang suka mengabadikan kisah-kisah kecil tentang siswa-siswi Esmega. Bagi saya, setiap anak memiliki cerita unik yang layak diangkat, dihargai, dan diabadikan. Caca rupanya mengamati dan merindukan giliran namanya diabadikan dalam bentuk narasi.
Setelah mengiyakan permintaannya, pandangan saya tertuju pada sebuah foto. Objek yang dipegang oleh Caca. Benda itu adalah sebuah pistol mainan. Saya sempat tersenyum dalam hati, bercampur sedikit rasa heran yang menggelitik. Anak gadis yang sudah berada di jenjang kelas delapan ternyata masih membawa mainan ke sekolah. Uniknya lagi, yang ia genggam bukanlah mainan umum anak perempuan, melainkan mainan yang biasanya identik dengan anak laki-laki.
Bisikan kelakar melintas di benak saya secara spontan: Sudah besar kok masih membawa mainan? Apalagi pistol mainan anak laki-laki. Oh, barangkali pistol mainan itu nantinya mau dipakai untuk 'nembak' cowok? Tentu saja itu hanya gurauan di dalam hati seorang guru yang melihat tingkah polah muridnya.
Di balik keunikan gagang pistol mainan dan tawa renyahnya. Potret Caca dengan pistol mainannya bukan sekadar momen lucu untuk ditertawakan, melainkan sebuah simbol tentang masa remaja yang begitu indah dan transisi yang sedang bergerak dinamis.
Dunia remaja awal seperti yang dialami anak-anak kelas delapan adalah masa di mana mereka berada di ambang batas antara kepolosan anak-anak dan kedewasaan yang mulai membentuk identitas. Di satu sisi, mereka mulai belajar memahami tanggung jawab, persahabatan yang lebih dewasa, dan dinamika sosial sekolah.
Sebagai guru, momen-momen seperti ini menyadarkan betapa berharganya arti kehadiran kita di mata para siswa. Permintaan Caca agar dibuatkan cerita dan difoto bukan sekadar bentuk pencarian perhatian atau keinginan untuk tampil di media sosial. Lebih dari itu, itu adalah bentuk kerinduan seorang anak untuk diakui, dilihat, dan diapresiasi keberadaannya oleh guru.
Ketika seorang siswa merasa nyaman mendekati gurunya, menyapa dengan santun, lalu tanpa ragu meminta bagian dari perhatian gurunya, di situlah letak keberhasilan hubungan emosional dalam pendidikan. Pendidikan tidak melulu tentang mentransfer teori di dalam kelas atau menuntut nilai akademis di atas kertas evaluasi. Pendidikan yang berjiwa adalah tentang membangun jembatan hati, mendengarkan suara-suara kecil mereka, dan memberikan apresiasi atas keunikan setiap pribadi.
Bahagia itu sungguh sederhana. Rasa hangat mengalir deras di dada saya saat menyadari tindakan kecil seperti mengulas cerita mereka atau memajang foto mereka dengan narasi penuh kasih dapat mengukir senyum bahagia di wajah mereka. Senyuman Caca menjadi pengingat berharga bahwa tugas seorang pendidik tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk merasa berharga dan dicintai.
Caca, teruslah melangkah dan menebar kebahagiaan. Biarkan keberanian, dan keceriaanmu terus mewarnai ruang-ruang sekolah ini. Sebab dari hal-hal kecil dan tulus seperti inilah, kehangatan sebuah proses belajar dan bertumbuh akan selalu menemukan maknanya yang paling sejati.
Cepu, 30 September 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar