Karya: Gutamining Saida
Sabtu sore tepatnya tanggal 19 September 2026 di sisi kolam renang itu riuh oleh tawa dan keceriaan yang menyeruak di antara kecipak air. Sore yang pelan-pelan meredup, Pak Gun, seorang pelatih terapi renang profesional, bersiap memimpin sesi latihan yang berbeda dari biasanya. Jika pada pertemuan sebelumnya para peserta yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu selalu diminta berjalan menyusuri bibir kolam saat hendak menuju area kedalaman dua meter. Pak Gun menyiapkan sebuah tantangan baru.
Beliau meminta peserta untuk langsung menyeberang melintasi permukaan air. Kami harus membelah lintasan dari kedalaman 1,80 meter menuju area dua meter. Bagi yang sudah mahir dan senior berenang, jarak dan kedalaman tersebut mungkin terdengar biasa. Namun, bagi ibu-ibu lainnya melangkah dan meluncur ke area yang melebihi tinggi badan tentu mendatangkan sensasi tersendiri. Ragu, was-was, dan rasa khawatir seketika membayang di wajah ibu-ibu. Air kedalaman dua meter seolah menjadi rintangan besar yang harus ditaklukkan.
Melihat raut cemas yang mulai terlihat di antara senyum ibu-ibu, Pak Gun tidak tinggal diam. Sebagai pelatih profesional yang berpengalaman, beliau paham betul. Kunci utama dalam terapi air bukan hanya mengajarkan teknik fisik, melainkan juga membangun rasa aman dan kepercayaan diri. Pak Gun langsung turun tangan. Dengan sigap dan penuh kesabaran, beliau bersiap mendampingi setiap peserta satu per satu, memastikan tak ada seorang pun yang tenggelam dalam ketakutannya sendiri.
Di sinilah keseruan itu bermula. Dengan posisi tubuh yang siap menopang, bergerak lincah ke kiri dan ke kanan membelah air untuk menjemput dan mengawal para ibu-ibu. Gaya Pak Gun mendadak mengingatkan pada satu tokoh cerita rakyat Jawa yang sangat populer tentang Yuyu Kangkang. Si kepiting raksasa penyeberang sungai dalam kisah Klenting Kuning.
"Saya kayak Yuyu Kangkang niiiih..." ucapan Pak Gun terlontar begitu saja di tengah-tengah air, diiringi gaya tubuhnya yang jenaka saat bersiap 'menyeberangkan' ibu-ibu berikutnya. Kelakar spontan itu seketika pecah di udara. Tawa ibu-ibu melelehkan suasana tegang yang sempat menggantung. Metafora Yuyu Kangkang yang dilemparkan Pak Gun sangat pas menggambarkan perannya. Sosok yang siap mengantar siapa saja menyeberangi 'kolam' kedalaman dua meter.
"Tapi kita Klenting Hitam, Pak!" ujar Bu Yeni sambil tertawa lepas.
Suasana di sekitar kolam renang yang semula tegang kini berubah menjadi panggung komedi air. Celetukan Bu Yeni tentang rombongan "Klenting Hitam" rupanya menjadi pemantik dari obrolan kocak yang terus bersambung di antara kecipak air.
Sautan itu beralasan kuat. Jika dalam cerita rakyat legendaris para gadis yang menyeberang sungai adalah Klenting Kuning dan saudara-saudaranya. Sabtu sore di dalam kolam renang tak ada seorang pun yang memakai baju kuning. Mayoritas ibu-ibu mengenakan baju renang berwarna hitam. Maka, jadilah mereka rombongan "Klenting Hitam" yang siap di bawah pengawalan sang Yuyu Kangkang.
"Waduh, Klenting Hitam ya?" balas Pak Gun sambil memasang muka penuh seloroh, tangannya masih siaga mengapung di kedalaman dua meter. "Tapi inget ya Ibu-ibu, Yuyu Kangkang zaman now itu udah modern! Nggak mau disogok pake ciuman kayak di dongeng legendaris dulu. Sekarang zamannya serba digital!"
"Trus mintanya apa dong, Pak Gun?" sahut Bu Rahayu dari ujung kolam sambil tertawa kekeh, tangannya masih memegang erat tepi kolam.
"Yuyu Kangkang modern minta transferan Bu! Atau minimal di-follow akun TikTok saya biar viral!" jawab Pak Gun sambil memperagakan gerakan capit kepiting dengan kedua tangannya, lalu bergerak lincah mendekati Bu Pur.
Tawa ibu-ibu langsung meledak.. Suara gelak tawa renyah bergema menembus area kolam renang. "Yah, pak Gun! Kalau mintanya transferan mending kita berenang sendiri aja deh, nggak jadi nyebrang!" celetuk Bu Diah dari seberang, disambut sorak-sorai setuju.
"Wah, jangan gitu dong Bu." potong Pak Gun cepat dengan nada bercanda.
"Layanan Yuyu Kangkang ini lengkap lho. Pengawalan VIP, dijamin nggak tenggelam."
Rasa takut yang semula mencengkeram perlahan terangkat, berganti menjadi semangat keberanian yang meluap-luap. Gaya Pak Gun yang bergerak ke sana kemari menuntun peserta yang masih ragu, lalu bergerak cepat ke kiri menjemput peserta lain yang panik. Kondisi aman hingga mendarat di zona dua meter. Tanpa sadar, lewat pendekatan humor dari Pak Gun, ibu-ibu berhasil. Rasa khawatir dikalahkan oleh rasa percaya pada sang pelatih.
Di tangan seorang pelatih yang humoris dan empatik seperti Pak Gun, terapi air berubah menjadi momen pementasan dongeng modern yang penuh gelak tawa. Pak Gun berhasil memerankan "Yuyu Kangkang" yang tidak meminta imbalan apa pun, selain melihat keberanian dan senyum lega dari para "Klenting Hitam". Sampai jumpa episode yang lebih seru. Terimakasih pak Gun.
Cepu, 20 September 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar