Karya: Gutamining Saida
Matahari Sabtu sore merayap turun dengan warna keemasan. Cahaya membakar langit dengan pesona tiada tara. Di usia yang tak lagi belia sebuah fase kehidupan tempat rambut mulai bersalut perak dan sendi-sendi meratapi perjalanan waktu. Jiwa saya menolak untuk layu. Ada sebuah api yang membara di dalam dada. Sebuah tekad untuk mengejar kesehatan. Tekad itu lahir bukan karena keangkuhan, melainkan sebuah ikhtiar sehat. Saya ingin terus berdiri kokoh untuk menemani langkah sang suami tercinta, melukis senyum pada raut wajah anak-anak tersayang, serta melimpahkan kasih tak bertepi kepada cucu-cucu.
Lebih dari sekadar usia panjang, ada rindu yang bergetar di dalam kalbu untuk mempersembahkan ibadah terbaik. Tubuh yang fit adalah bahtera, dan ibadah adalah samudra syukur. Biarlah usia merambat tua, namun semangat dan jiwa ini harus tetap berkobar layak sepeti kawula muda. Sabtu sore, medan perjuangan membentang di hadapan mata. Sebuah kolam renang dengan air biru jernih tampak tenang. Dia menyimpan misteri di kedalamannya yang mencapai dua meter. Kedalaman tak kasat mata yang menantang keberanian siapa pun yang memandangnya.
Desir angin sore mengembuskan sedikit keraguan, menembus pori-pori kulit dan membuat denyut jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Bayangan keraguan itu seketika sirnah diterpa ketenangan sang pelatih yang berdiri siap siaga. Pak Gun, sosok pelindung di kolam siap menjadi penjaga keselamatan seluruh siswanya.
Kini, saatnya pembuktian. Kami berbaris rapi dari ujung hingga ke ujung bibir kolam, membentuk deretan yang siap menaklukkan dinginnya air. Satu per satu siswa mulai mempraktikkan petunjuk yang telah disampaikan sebelumnya. Satu tangan terentang lurus ke depan, sementara tangan satunya mencengkeram erat bibir kolam sebagai tumpuan terakhir sebelum melepas tubuh menuju kebebasan.
"Setelah meluncur, ibu-ibu bisa gaya bebas atau memilih gaya dada dan ketiga jangan pernah berhenti, jangan pernah diam!"
Dengan menahan napas dan dorongan semangat jiwa muda yang meluap-luap, saya menjejakkan kaki. Tubuh saya meluncur! Air dingin menyergap seketika, memeluk seluruh raga dalam keheningan bawah air. Saya memutuskan untuk membelah kedalaman air dengan gaya dada. Gerakan demi gerakan saya kayuh dengan penuh keyakinan. Tangan menguak air dengan keteguhan hati, sementara kaki menendang lurus demi mendorong tubuh yang merindukan garis finis.
Namun, alam memiliki hukumnya sendiri yang tak mampu dilawan oleh prasangka manusia. Baru saja setengah perjalanan terlewati, benteng pertahanan fisik saya mulai goyah secara drastis. Paru-paru saya mendadak seperti kehabisan oksigen. Kepanikan kecil mulai merayap, merobohkan seluruh ketenangan. Tak kuasa menahan nafas.
Sisa-sisa tenaga yang kian terkuras habis, saya menurunkan kedua kaki secara paksa Saya mencari pijakan di dasar kolam demi mengambil seteguk udara untuk bernafas. Di tengah napas yang terengah-engah, sebuah bayangan tegap mendadak muncul tepat di belakang saya. Pak Gun, sang pelatih, telah berada di sana dengan ketangkasan yang luar biasa. Suaranya membelah gemericik air. "Lhooo, tidak boleh berdiri! Lanjut sampai finis!"
Suara itu sejatinya adalah lecutan semangat, sebuah panggilan untuk melampaui batas kemampuan. Kepakan sayap fisik saya benar-benar telah patah di tengah kolam. Tubuh renta ini telah mengerahkan seluruh daya hingga titik darah penghabisan. Dengan tatapan layu, suara yang bergetar hebat, dan napas yang terputus-putus, saya hanya mampu merintih, "Waaah tidak kuat lagi, Pak... Maaf..."
Kata "maaf" itu terlempar ke udara, membawa serta runtuhnya seluruh cita-cita indah. Ada kepedihan mendalam yang mendadak menyeruak. Semangat membara yang tadi meluap-luap kini padam seketika, tergilas oleh kenyataan pahit bahwa batas fisik tak lagi mampu mengejar kehendak jiwa.
Saya berdiri termangu di tengah kedalaman kolam, terisolasi dalam kegagalan yang memilukan. Menatap garis finis di ujung sana yang terasa mustahil untuk dicapai. Impian untuk menuntaskan tantangan dengan sempurna hancur, tenggelam bersama rasa duka, menyisakan kesadaran pedih. Semoga lain hari mampu mencapai finis dan sehat selalu. Salam sehat.
Cepu, 19 September 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar