Karya: Gutamining Saida
Dalam hidup ini, manusia sering kali dihadapkan pada berbagai kesempatan untuk belajar memperbaiki diri. Kadang kesempatan itu datang dalam bentuk nasihat, pengalaman hidup, ataupun sebuah kegiatan yang tampak sederhana tetapi memiliki makna. Salah satu kesempatan yang Allah Subhanahu Wata'alla hadirkan kepada saya adalah mengikuti terapi menulis dengan tema Keberanian dan Percaya Diri yang dipandu oleh Bapak M. Afif, ST., CHA.
Awalnya saya mengira kegiatan ini hanya sekadar latihan menulis biasa. Menulis huruf demi huruf dengan pena di atas kertas. Setelah mengikuti prosesnya, saya menyadari bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang tulisan yang rapi. Lebih dari itu, terapi menulis ini adalah latihan kesabaran, ketekunan, dan pengendalian diri.
Kegiatan terapi ini terdapat beberapa aturan atau rule yang harus dipatuhi oleh para peserta. Aturan pertama adalah menyediakan alat tulis berupa pena dan buku tulis. Kedua, mengikuti materi yang diberikan dengan sungguh-sungguh. Ketiga, menyetor tulisan setiap pagi dan malam. Keempat, menjaga komitmen selama proses berlangsung. Dan yang kelima adalah melakukan investasi sukarela sebagai bentuk keseriusan dalam mengikuti program.
Aturan-aturan tersebut tampak sederhana, tetapi bagi saya tidak selalu mudah untuk menjalankannya. Dalam keseharian, saya memiliki berbagai aktivitas lain yang juga menuntut perhatian dan waktu. Ada kegiatan keluarga, pekerjaan, serta berbagai urusan lain yang kadang datang bersamaan. Di tengah kesibukan itu, saya harus meluangkan waktu khusus untuk menulis dan menyetorkan tugas sesuai jadwal.
Di sinilah tantangan mulai terasa. Salah satu tantangan terbesar yang saya rasakan adalah keterbatasan waktu. Ketika jadwal sudah penuh dengan berbagai kegiatan, terkadang muncul rasa lelah dan keinginan untuk menunda tugas. Saya teringat bahwa setiap proses belajar pasti membutuhkan pengorbanan.
Selain itu, saya juga menyadari ada sifat dalam diri saya yang sering menjadi penghambat, yaitu kebiasaan tergesa-gesa. Saya sering ingin segera menyelesaikan tugas dengan cepat. Pikiran saya berkata, “Yang penting selesai.” Padahal dalam terapi menulis ini yang ditekankan bukan sekadar selesai, melainkan proses yang benar, teliti, dan penuh kesadaran.
Beberapa kali ketika saya menulis dengan tergesa-gesa, hasil tulisan menjadi kurang rapi. Garis huruf tidak seimbang, bentuknya kurang konsisten, bahkan terkadang ada kesalahan yang seharusnya bisa dihindari jika saya lebih sabar.
Di sinilah peran pembimbing menjadi sangat penting. Bapak M. Afif, ST., CHA selalu dengan sabar mengoreksi setiap tugas yang peserta kirimkan. Beliau tidak hanya menilai, tetapi juga memberikan arahan yang sangat detail. Komentar beliau sering kali sederhana, tetapi sangat bermakna untuk perbaikan kami.
Beberapa komentar yang pernah beliau berikan antara lain, “Good, awas ada rebah variasi.” Ada juga yang berbunyi, “Good, huruf ‘t’ dibuat lurus.” Pernah pula beliau memberikan arahan, “Sekarang coba setinggi dua zona, sekalian tonton video huruf ‘P’.” Masih banyak lagi komentarnya.
Komentar-komentar tersebut membuat saya tersenyum sekaligus berpikir. Ternyata dalam menulis pun ada banyak hal yang harus diperhatikan. Tidak hanya bentuk huruf, tetapi juga keseimbangan, tinggi huruf, dan konsistensi gerakan tangan.
Setiap kali membaca komentar beliau, saya merasa seperti sedang diingatkan untuk lebih teliti dan lebih sabar. Saya juga merasakan bahwa beliau tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga menanamkan nilai kedisiplinan dan ketekunan.
Saat perjalanan mengikuti terapi ini, saya mulai menyadari bahwa menulis sebenarnya bisa menjadi sarana untuk melatih hati. Ketika kita menulis dengan tenang, pikiran menjadi lebih fokus. Ketika kita berusaha memperbaiki kesalahan, kita belajar untuk rendah hati. Ketika kita tetap berusaha meskipun menghadapi kesulitan, kita sedang melatih keberanian dan percaya diri.
Saya juga merasakan bahwa proses ini mengajarkan makna kesungguhan dalam berikhtiar. Dalam agama, kita diajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan niat baik akan bernilai ibadah. Bahkan pekerjaan yang terlihat kecil sekalipun bisa menjadi amal jika dilakukan dengan niat karena Allah Subhanahu Wata'alla.
Begitu pula dengan kegiatan menulis ini. Ketika saya menulis dengan niat memperbaiki diri, melatih kesabaran, dan meningkatkan kualitas pribadi, saya berharap Allah Subhanahu Wata'alla mencatatnya sebagai bagian dari amal kebaikan.
Sering kali saya mengingat sebuah nasihat bahwa Allah tidak menilai hasil semata, tetapi juga usaha dan kesungguhan hamba-Nya. Oleh karena itu, meskipun tulisan saya belum sempurna, saya tetap berusaha untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Hal yang membuat saya semakin bersemangat adalah suasana belajar yang terasa menyenangkan. Ada rasa seru ketika melihat perkembangan tulisan dari hari ke hari. Ada rasa bangga ketika berhasil memperbaiki kesalahan yang sebelumnya sering terjadi.
Yang lebih penting lagi, saya mulai memahami tujuan utama dari terapi ini. Tujuan atau goal dari kegiatan ini bukan sekadar menghasilkan tulisan yang indah, tetapi membentuk karakter yang baik. Kami dilatih untuk menjadi pribadi yang sabar, disiplin, berani mencoba, dan percaya diri. Karakter-karakter inilah yang sangat penting dalam kehidupan.
Dalam perjalanan hidup, seseorang tidak cukup hanya memiliki ilmu. Tetapi harus memiliki karakter yang kuat. Keberanian untuk mencoba, kepercayaan diri untuk melangkah, dan kesabaran untuk menghadapi proses adalah bekal yang sangat berharga.
Saya bersyukur Allah Subhanahu Wata'alla mempertemukan saya dengan kesempatan belajar ini. Dari sesuatu yang terlihat sederhana seperti menulis, ternyata ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik. Semoga dengan mengikuti terapi menulis ini, saya dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih sabar dalam menjalani proses, lebih percaya diri dalam melangkah, dan lebih bersyukur atas setiap kesempatan belajar yang Allah Subhanahu Wata'alla berikan. Semoga menginspirasi.
Cepu, 8 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar