Karya : Gutamining Saida
Ketika seseorang melihat foto menu sahur saya, mungkin akan muncul senyum kecil atau bahkan komentar dalam hati. “Lha, hanya telur mata sapi dan tempe goreng saja kok dibilang spesial?” Sekilas memang terlihat sangat sederhana. Tidak ada lauk mewah, tidak ada hidangan beraneka ragam seperti yang sering terlihat di meja makan saat sahur. Hanya nasi, telur mata sapi, dan dua potong tempe goreng.
Bagi saya, menu sahur itu terasa sangat istimewa. Keistimewaannya bukan terletak pada mahalnya bahan makanan atau banyaknya lauk yang tersaji. Keistimewaan itu justru terletak pada tangan yang memasak dan hati yang menyertainya. Menu sahur itu disiapkan khusus untuk saya oleh suami tercinta.
Di hari-hari biasa, peran di dapur saya yang lebih banyak mengambil bagian. Menyiapkan sarapan, memasak lauk sederhana, atau sekadar membuat minuman hangat untuk keluarga adalah hal yang biasa saya lakukan. Suami biasanya tinggal menikmati hidangan yang sudah siap. Ada sesuatu yang berbeda di hari ini.
Ramadan seolah membawa suasana baru dalam keluarga kami. Bulan yang penuh berkah ini tidak hanya mengajarkan tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menumbuhkan rasa kasih sayang, perhatian, dan pengorbanan di antara anggota keluarga.
Suami malam hari datang menghampiri saya sambil membawa sebuah kotak styrofoam. Dengan wajah penuh ketulusan, beliau menyodorkannya kepada saya. Di dalamnya ada nasi hangat, telur mata sapi, dan dua potong tempe goreng yang baru saja dimasak.
Sederhana, tetapi terasa begitu istimewa. Saya tersenyum haru. Bukan karena makanannya yang mewah, melainkan karena perhatian yang terkandung di dalamnya. Saya tahu, menu itu dibuat dengan penuh ketulusan. Dimasak dengan bumbu cinta, kasih sayang, dan niat ibadah kepada Allahbhanahu Wata'alla.
Ramadan memang bulan yang mengajarkan banyak hal kepada manusia. Salah satunya adalah belajar melayani dan memberi tanpa pamrih. Suami saya biasanya menikmati masakan yang saya buat, kali ini justru mengambil peran sebaliknya. Beliau melayani saya. Menyiapkan makanan sahur dengan tangannya sendiri. Sebuah hal yang sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti.
Mungkin ada yang berpikir, “Apakah saya sedang sakit sehingga harus dilayani seperti itu?”Tidak. Alhamdulillah saya dalam keadaan sehat. Letak keindahan Ramadan. Bulan ini seolah membuka pintu hati manusia untuk lebih peduli, lebih perhatian, dan lebih lembut kepada orang-orang terdekatnya. Suami menjadi lebih perhatian kepada keluarga.
Semua yang dilakukan terasa berbeda ketika diniatkan karena Allah Subhanahu Wata'alla. Dalam Islam, melayani keluarga juga merupakan bentuk ibadah. Bahkan Rasulullah pernah memberi teladan dengan membantu pekerjaan rumah tangga. Dari situlah kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu harus berupa hal besar. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan ikhlas pun memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.
Telur mata sapi dan tempe goreng itu akhirnya saya nikmati dengan penuh rasa syukur. Setiap suapan terasa hangat, bukan hanya karena nasinya yang masih mengepul, tetapi juga karena cinta yang menyertainya.
Saya teringat bahwa nikmat Allah tidak selalu datang dalam bentuk yang besar dan mencolok. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Sepiring nasi hangat di waktu sahur. Suami yang dengan tulus menyiapkannya. Keluarga yang saling menyayangi.
Semua itu adalah karunia yang patut disyukuri. Ramadan memang bulan yang penuh keberkahan. Bukan hanya pahala ibadah yang dilipatgandakan, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri, mempererat hubungan keluarga, dan menumbuhkan rasa kasih sayang.
Suami melakukan semua itu bukan untuk dipuji, bukan pula untuk terlihat hebat. Harapan beliau hanya satu, yaitu mendapatkan ridho Allah Subhanahu Wata'alla. Dengan melayani keluarga, dengan berbuat baik kepada orang terdekat, beliau berharap setiap amal kecil itu menjadi jalan menuju keberkahan hidup.
Kebahagiaan tidak selalu datang dari hal yang besar. Kadang kebahagiaan justru hadir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang tulus. Nasi, telur mata sapi, dan tempe goreng itu menjadi saksi bahwa cinta dalam keluarga tidak selalu harus diungkapkan dengan kata-kata. Ia bisa hadir dalam tindakan kecil yang penuh perhatian. Di dalamnya ada cinta, ada perhatian, dan ada doa yang sama: semoga semua yang kami lakukan menjadi ibadah dan mendapat ridho dari Allah Subhanahu Wata'alla. Aamiin
Cepu, 9 Maret 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar