Senin, 09 Maret 2026

Cahaya-Mu



Karya : Gutamining Saida

Sore itu langit terlihat lembut. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat memberikan warna keemasan di sekitar tempat saya berada. Angin berhembus pelan, membawa suasana yang tenang. Saya merasa sore itu terasa berbeda, seolah Allah Subhanahu Wata'alla sedang menyiapkan sebuah pertemuan yang istimewa.

Di tengah hiruk pikuk pengunjung, saya melihat seorang anak perempuan berjalan mendekat. Penampilannya rapi dan bersih. Wajahnya ceria, matanya berbinar, dan sikapnya sangat ramah. Ia terlihat aktif dan tidak canggung berada di antara banyak orang. Setiap orang yang dilewatinya disapa dengan senyum hangat.

Saat bertemu dengan saya dan anak saya, ia pun melakukan hal yang sama. Percaya diri ia menyapa kami. Senyumnya tulus, seolah tidak ada beban di hatinya. Ketika ia mulai berbicara, saya menyadari ada sesuatu yang berbeda. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar kurang jelas. Ia tampak kesulitan mengungkapkan kalimat dengan sempurna. Saya mencoba mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi saya berusaha belajar memahami kata demi kata yang ia sampaikan.

Sesaat saya terdiam. Dalam hati saya berkata, “Ya Allah, anak ini memiliki keterbatasan dalam berbicara.” Yang membuat saya terharu, sedikit pun tidak terlihat rasa minder dalam dirinya. Tidak ada rasa malu. Tidak ada raut wajah yang menunjukkan bahwa ia merasa berbeda dari orang lain. Ia tetap tersenyum, tetap ramah, tetap menyapa siapa saja yang ditemuinya.

Sikapnya begitu ringan dan tulus. Saya lalu mencoba mengajaknya berbincang. “Sapa namamu?” tanya saya . Ia menjawab dengan semangat, tetapi sekali lagi saya tidak dapat menangkap dengan jelas kata-kata yang ia ucapkan. Ia berusaha mengulanginya, tetapi tetap saja saya belum memahami.

Akhirnya saya memiliki sebuah ide. “Boleh ditulis di buku?” tanya saya sambil menyodorkan buku dan pena. Ia mengangguk cepat. Dengan wajah penuh semangat ia mengambil pena tersebut lalu mulai menulis. Tulisan tangannya sederhana, tetapi cukup jelas dan bagus. Dari situ akhirnya saya mengetahui namanya.

Ketika saya membaca namanya, spontan saya tersenyum. “MasyaAllah… namanya bagus sekali,” kata saya. Mendengar itu ia tertawa kecil. Tawanya lepas dan polos. Tidak ada kecanggungan sedikit pun. Obrolan kami semakin seru. Ia lebih sering berbicara ketika ingin menyampaikan sesuatu, berbicara meskipun tidak semua kata dapat saya pahami.

Kami tertawa bersama. Kadang ia juga tertawa sendiri ketika melihat saya berusaha menebak maksud ucapannya. Awalnya terasa biasa saja berubah menjadi momen yang hangat. Di tengah percakapan itu, hati saya diam-diam tersentuh. Saya memandang wajah anak perempuan itu dengan penuh rasa kagum.

Betapa luar biasanya anak ini. Ia memiliki keterbatasan dalam berbicara, tetapi hatinya begitu luas. Ia tidak menutup diri dari orang lain. Ia tidak takut berinteraksi. Ia bahkan menyapa siapa saja yang ia lihat.

Saya kemudian teringat sebuah pelajaran penting dalam hidup. Sering kali manusia yang merasa dirinya sempurna justru mudah merasa minder, mudah tersinggung, bahkan enggan bergaul dengan orang lain. Anak ini, yang memiliki keterbatasan, justru memperlihatkan keberanian dan keceriaan yang luar biasa.

“Ya Allah, betapa banyak pelajaran yang Engkau titipkan melalui pertemuan sederhana.” Saya yakin setiap manusia diciptakan Allah Subhanahu Wata'alla dengan cara yang paling sempurna menurut kehendak-Nya. Ada yang diberi kelebihan dalam ilmu, ada yang diberi kekuatan fisik, ada pula yang diberi hati yang sangat tulus.

Anak ini diberi anugerah berupa hati yang lapang dan keberanian untuk tetap tersenyum dalam keterbatasannya. Tanpa sadar saya merasa malu pada diri sendiri. Kadang kita terlalu sibuk mengeluhkan kekurangan kecil dalam hidup, padahal ada banyak orang yang memiliki ujian lebih besar tetapi tetap mampu menjalani hidup dengan penuh syukur.

Sore semakin senja. Langit berubah warna menjadi jingga. Saya mengajak anak itu untuk berfoto bersama. “Boleh foto bersama?” tanya saya. Ia langsung mengangguk dengan wajah gembira. Kami duduk berdampingan. Ia tersenyum lebar ke arah kamera. Senyum yang begitu jujur, tanpa dibuat-buat.

Foto itu bukan sekadar gambar biasa. Foto itu menjadi pengingat tentang sebuah pelajaran kehidupan. Bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kesempurnaan, tetapi sering kali hadir dari hati yang ikhlas menerima diri.

Allah Subhanahu Wata'alla sengaja mempertemukan kami agar saya belajar sesuatu. Belajar tentang ketulusan. Belajar tentang keberanian. Yang paling penting, belajar untuk lebih banyak bersyukur. Karena sesungguhnya setiap manusia adalah ciptaan Allah  Subhanahu Wata'alla yang istimewa. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti tersenyum. Kekurangan bukan alasan untuk menutup diri. Di hadapan Allah Subhanahu Wata'alla, hati yang syukur memiliki nilai yang sangat mulia.

Cepu, 9 Maret 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar