Kamis, 04 Juni 2026

Silaturrahmi ke Bu Neni


Karya: Gutamining Saida

Kadang Allah Subhanahu Wata'alla menghadirkan kebaikan bukan melalui perencanaan yang matang, melainkan melalui bisikan hati yang sederhana. Begitulah yang saya rasakan. Pada suatu ketika saya keliling Cepu. Tidak ada agenda khusus, tidak ada janji yang dibuat sebelumnya. Tiba-tiba terlintas dalam pikiran untuk bersilaturahmi ke Bu Neni, seorang penjual "Tan Cang Djo". 

Ide itu muncul begitu saja. Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut hanyalah keinginan sesaat. Saya percaya bahwa setiap niat baik yang muncul bisa jadi merupakan jalan yang Allah Subhanahu Wata'alla bukakan untuk mempererat persaudaraan.

"Dik, ayo mampir ke Bu Neni," ucap saya kepada anak yang saat itu mengendarai sepeda motor.

"Oke, siapa takut," jawabnya dengan semangat.

Motor pun melaju membelah jalanan Cepu. Angin malam terasa sejuk menyentuh wajah. Saya sendiri sebenarnya belum mengetahui lokasi rumah Bu Neni. Yang saya tahu hanya perkiraannya saja.  Ketika motor tiba-tiba berbelok memasuki sebuah lorong kecil, saya menjadi penasaran.

"Lho... lho... mau ke mana nich?" tanya saya.

"Katanya mau mampir bu Neni," jawab anak saya singkat.

"Memang masih ingat rumahnya?" tanya saya lagi.

Anak saya hanya diam sambil terus menjalankan motornya. Beberapa saat kemudian motor berhenti di depan sebuah warung sederhana.

"Nah, sudah sampai." ucap dia.

Saya memandang sekeliling. Alhamdulillah, ternyata benar. Kami berhasil menemukan warung "Tan Cang Djo" Bu Neni. Hati saya dipenuhi rasa syukur. Di zaman sekarang, ketika banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing, kesempatan untuk menjalin silaturahmi adalah nikmat yang patut disyukuri. Ketika kami mengucapkan salam, Bu Neni menyambut dengan wajah cerah penuh keramahan.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam. Lho, siapa nich," sambut beliau dengan hangat.

"Mbak Faiz bu." jawab anak saya.

Senyumnya seolah menghapus rasa lelah. Beliau menerima kami dengan penuh kegembiraan. Kami pun berbincang-bincang ringan. Menanyakan kabar, kesehatan, dan berbagai hal sederhana yang justru membuat hati terasa dekat. Tidak ada pembicaraan tentang urusan yang berat. Hanya percakapan penuh kehangatan yang mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan untuk saling menguatkan.

Dalam hati saya teringat sabda Rasulullah bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi. Hadis tersebut bukan sekadar nasihat, tetapi pedoman hidup yang luar biasa. Silaturahmi terkadang cukup dengan berkunjung, menyapa, menanyakan kabar, dan menunjukkan perhatian yang tulus.

Di tengah perbincangan, saya memperhatikan wajah Bu Neni yang tampak bahagia menerima kedatangan kami. Saya pun merasakan kebahagiaan yang sama. Ternyata kebahagiaan itu menular. Ketika datang energi positif kepada orang lain.

Saya semakin yakin bahwa salah satu penyebab hati terasa sempit adalah ketika kita sibuk dengan diri sendiri. Sebaliknya, ketika kita meluangkan waktu untuk mengunjungi saudara, teman, atau kenalan, hati menjadi lebih lapang. Kita hidup ini tidak dijalani sendirian.

Di zaman media sosial seperti sekarang, banyak orang merasa sudah cukup bersilaturahmi hanya dengan memberikan tanda suka atau mengirim pesan singkat. Memang baik, tetapi bertemu langsung memiliki nilai yang berbeda. Ada senyum yang terlihat nyata, ada jabat tangan yang menghangatkan persaudaraan, ada doa yang terucap secara langsung, dan ada kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh layar telepon genggam.

Sebelum berpamitan, saya meminta anak saya untuk mengambil foto bersama Bu Neni.

"Mari Bu, foto sebentar."

Beliau tersenyum dan mengiyakan. Jepretan kamera sederhana itu sebenarnya bukan sekadar untuk mengabadikan momen. Saya memiliki niat lain. Foto tersebut ingin saya kirim ke grup terapi renang yang selama ini menjadi tempat kami saling berbagi semangat dan inspirasi.

Saya berharap ketika teman-teman melihat foto tersebut, mereka juga tergerak untuk melakukan hal yang sama. Mungkin ada yang teringat sahabat lamanya. Ada yang ingin mengunjungi guru yang pernah berjasa. Ada yang ingin menyambung hubungan dengan kerabat yang lama tidak ditemui.

Bukankah kebaikan akan semakin indah jika menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan yang serupa? Perjalanan pulang, hati saya dipenuhi rasa syukur. Saya menyadari bahwa umur manusia memang terbatas. Kesempatan berbuat baik selalu terbuka selama napas masih berhembus. Karena itu, jangan menunda silaturahmi. Jangan menunggu hari raya atau acara khusus. Jika ada kesempatan, datanglah. Jika ada waktu, sempatkanlah.

Siapa tahu, kunjungan sederhana yang kita lakukan hari ini menjadi sebab bertambahnya keberkahan hidup, bertambahnya persaudaraan, dan bertambahnya pahala di sisi Allah Subhanahu Wata'alla.

Semoga Allah Subhanahu Wata'alla. senantiasa menjaga tali persaudaraan di antara kita, melembutkan hati untuk saling memaafkan, melapangkan rezeki, menyehatkan jasmani dan rohani, serta menjadikan setiap langkah silaturahmi sebagai jalan menuju ridha-Nya. Aamiin ya Rabbal 'alamiin

Cepu, 5 Juni 2026





Tidak ada komentar:

Posting Komentar